Anda di halaman 1dari 41

Dibawah ini gambar penampang sungai secara sederhana dimana terlihat sungai

yang menjulur berwarna biru, serta adanya tangggul alami (levees). Disebelah
kiri kanannya terdapat tempat datar yang disebut dataran banjir berwarna hijau
tua. Dataran banjir ini tersusun oleh endapan-endapan sungai yang terendap
dengan mekanisme utamanya adalah banjir.

Lah kalau mekanisme pengendapannya banjir berarti sejak dulu daerah itu
memang daerah banjir donk, Pakde?
Lah hiyo Thole. Makanya ojo kagetan ngono kalau denger ada banjir di
dataran banjir ini
Dataran banjir atau flood plain ini lebarnya bisa ratusan meter hingga puluhan
kilometer, tergantung besar kecilnya sungai. Untuk Sungai/Bengawan Solo ini
dibatasi tinggian Kendeng disebelah utara dan tinggian jalur gunung api
disebelah selatannya, mengalir sepanjang Jawa Timur.
Geomorfologi
19.26 chaphity
Geomorfologi merupakan suatu studi yang mempelajari asal (terbentuknya)
topografi sebagai akibat dari pengikisan (erosi) elemen-elemen utama, serta
terbentuknya material-material hasil erosi. Melalui geomorfologi dipelajari

cara-cara terjadi, pemerian, dan pengklasifikasian relief bumi. Relief bumi


adalah bentuk-bentuk ketidakteraturan secara vertikal (baik dalam ukuran
ataupun letak) pada permukaan bumi, yang terbentuk oleh pergerakanpergerakan
pada
kerak
bumi.
Konsep-konsep dasar dalam geomorfologi banyak diformulasikan oleh W.M.
Davis. Davis menyatakan bahwa bentuk permukaan atau bentangan bumi
(morphology of landforms) dikontrol oleh tiga faktor utama, yaitu struktur,
proses, dan tahapan. Struktur di sini mempunyai arti sebagai struktur-struktur
yang diakibatkan karakteristik batuan yang mempengaruhi bentuk permukaan
bumi.

Proses-proses yang umum terjadi adalah proses erosional yang dipengaruhi oleh
permeabilitas, kelarutan, dan sifat-sifat lainnya dari batuan. Bentuk-bentuk pada
muka bumi umumnya melalui tahapan-tahapan mulai dari tahapan muda
(youth), dewasa (maturity), tahapan tua (old age).Pada tahapan muda umumnya
belum terganggu oleh gaya-gaya destruksional, pada tahap dewasa
perkembangan selanjutnya ditunjukkan dengan tumbuhnya sistem drainase
dengan jumlah panjang dan kedalamannya yang dapat mengakibatkan bentuk
aslinya tidak tampak lagi. Proses selanjutnya membuat topografi lebih mendatar
oleh gaya destruktif yang mengikis, meratakan, dan merendahkan permukaan
bumi sehingga dekat dengan ketinggian muka air laut (disebut tahapan tua).
Rangkaian pembentukan proses (tahapan-tahapan) geomorfologi tersebut
menerus dan dapat berulang, dan sering disebut sebagai Siklus Geomorfik.

Selanjutnya dalam mempelajari geomorfologi perlu dipahami istilah-istilah


katastrofisme,
uniformiaterianisme,
dan
evolusi.
1. Katastrofisme merupakan pendapat yang menyatakan bahwa gejala-gejala
morfologi terjadi secara mendadak, contohnya letusan gunung api.

2. Uniformitarianisme sebaliknya berpendapat bahwa proses pembentukkan


morfologi cukup berjalan sangat lambat atau terus menerus, tapi mampu
membentuk bentuk-bentuk yang sekarang, bahkan banyak perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa lalu juga terjadi pada masa sekarang, dan seterusnya
(James
Hutton
dan
John
Playfair,
1802).

3. Evolusi cenderung didefinisikan sebagai proses yang lambat dan dengan


perlahan-lahan membentuk dan mengubah menjadi bentukan-bentukan baru.

A.

PROSES-PROSES

GEOMORFIK

Proses-proses geomorfik adalah semua perubahan fisik dan kimia yang terjadi
akibat proses-proses perubahan muka bumi. Secara umum proses-proses
geomorfik
tersebut
adalah
sebagai
berikut
:

a.

Proses-proses

epigen

(eksogenetik)

1. Degradasi ; pelapukan, perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi


(termasuk transportasi) oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami),
angin,
dan
glasier.
2. Aggradasi ; pelapukan, perpindahan massa (perpindahan secara gravity), erosi
(termasuk transportasi) oleh : aliran air, air tanah, gelombang, arus, tsunami),
angin,
dan
glasier.
3.
Akibat
organisme
(termasuk
manusia)
b.

Proses-proses

hipogen

(endogenetik)

1.
2.

Diastrophisme

(tektonisme)
Vulkanisme

c. Proses-proses ekstraterrestrial, misalnya kawah akibat jatuhnya meteor.


A.1.

Proses

Gradasional

Istilah gradasi (gradation) awalnya digunakan oleh Chamberin dan Solisbury


(1904) yaitu semua proses dimana menjadikan permukaan litosfir menjadi level
yang baru. Kemudian gradasi tersebut dibagi menjadi dua proses yaitu
degradasi (menghasilkan level yang lebih rendah) dan agradasi (menghasilkan
level
yang
lebih
tinggi).
Tiga

proses

utama

yang

terjadi

pada

peristiwa

gradasi

yaitu

1. Pelapukan, dapat berupa disentrigasi atau dekomposisi batuan dalam suatu


tempat, terjadi di permukaan, dan dapat merombak batuan menjadi klastis.
Dalam
proses
ini
belum
termasuk
transportasi.

2. Perpindahan massa (mass wasting), dapat berupa perpindahan (bulk transfer)


suatu massa batuan sebagai akibat dari gaya gravitasi. Kadang-kadang
(biasanya)efek dari air mempunyai peranan yang cukup besar, namun belum
merupakan
suatu
media
transportasi.

3. Erosi, merupakan suatu tahap lanjut dari perpindahan dan pergerakan masa
batuan. Oleh suatu agen (media) pemindah. Secara geologi (kebanyakan)
memasukkan
erosi
sebagai
bagian
dari
proses
transportasi.

Secara umum, series (bagian/tahapan) proses gradisional sebagai berikut


landslides (dicirikan oleh hadirnya sedikit air, dan perpindahan massa yang
besar), earthflow (aliran batuan/tanah), mudflows (aliran berupa lumpur),
sheetfloods, slopewash, dan stream (dicirikan oleh jumlah air yang banyak dan
perpindahan massa pada ukuran halus dengan slope yang kecil).

A.1.1.

Pelapukan

Batuan

Pelapukan merupakan suatu proses penghancuran batuan manjadi klastis dan


akan tekikis oleh gaya destruktif. Proses pelapukan terjadi oleh banyak proses
destruktif,
antara
lain
:
1. Proses fisik dan mekanik (desintegrasi) seperti pemanasan, pendinginan,
pembekuan; kerja tumbuh-tumbuhan dan binatang , serta proses-proses
desintegrasi
mekanik
lainnya

2. Proses-proses kimia (dekomposisi) dari berbagai sumber seperti : oksidasi,


hidrasi, karbonan, serta pelarutan batuan dan tanah. Proses dekomposisi ini
banyak didorong oleh suhu dan kelembaban yang tinggi, serta peranan
organisme
(tumbuh-tumbuhan
dan
binatang).
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pelapukan

antara

lain

1. Jenis batuan, yaitu komposisi mineral, tekstur, dan struktur batuan

2. Kondisi iklim dan cuaca, apakah kering atau lembab, dingin atau panas,
konstan
atau
berubah-ubah.

3.

Kehadiran

dan

kelebatan

vegetasi

4. Kemiringan medan, pengaruh pancaran matahari, dan curah hujan.


Proses pelapukan berlangsung secara differential weathering (proses pelapukan
dengan perbedaan intensitas yang disebabkan oleh perbedaan kekerasan, jenis,
dan struktur batuan). Hal tersebut menghasilkan bentuk-bentuk morfologi yang
khas
seperti
:
1. Bongkah-bongkah
memperlihatkan

desintegrasi (terdapat
retakan-retakan

pada batuan masif yang


atau
kekar-kekar),

2. Stone lattice (perbedaan kekerasan lapisan batuan sedimen yang


membentuknya),
mushroom
(berbentuk
jamur),

3. Demoiselles (tiang-tiang tanah dengan bongkah-bongkah penutup),

4. Talus (akumulasi material hasil lapukan di kaki tebing terjal),

5. Exfoliation domes (berbentuk bukit dari batuan masif yang homogen, dan
mengelupas dalam lapisan-lapisan atau serpihan-serpihan melengkung).

A.1.2.

Perpindahan

massa

(mass

wasting)

Gerakan tanah sering terjadi pada tanah hasil pelapukan, akumulasi debris
(material hasil pelapukan), tetapi dapat pula pada batuan dasarnya. Gerakan
tanah dapat berjalan sangat lambat hingga cepat. Menurut oleh Sharpe (1938)
kondisi-kondisi yang menyebabkan terjadinya perpindahan masa adalah :

1.

Faktor-faktor

pasif

a. Faktor litologi : tergantung pada kekompakan/rapuh material


b. Faktor statigrafi : bentuk-bentuk pelapisan batuan dan kekuatan (kerapuhan),
atau
permeabel-impermeabelnya
lapisan
c. Faktor struktural : kerapatan joint, sesar, bidang geser-foliasi
d.
Faktor
topografi
:
slope
dan
dinding
(tebing)
e.
Faktor
iklim
:
temperatur,
presipitasi,
hujan
f.
Faktor
organik
:
vegetasi

2.

Faktor-faktor

a.
b.
c.

Proses
lereng
oleh

A.2.

Pengikisan
Tingkat
pelarutan
Proses

air

Diastromisme

aktif

perombakan
aliran
air
pengisian
retakan

oleh
atau
dan

Vulkanisme

Diastromisme dan vulkanisme diklasifikasikan sebagai proses hipogen atau


endapan karena gaya yang bekerja berasal dari dalam (bagian bawah) kerak
bumi. Proses-proses diastropik dapat dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu :
1.
2.

Orogenik
Epirogenik
(proses

(pembentukkan
pengangkatan

secara

pegunungan)
regional).

Vulkanisme termasuk pergerakan dari larutan batuan (magma) yang menerobos


ke permukaan bumi. Akibat dari pergerakan (atau penerobosan) magma tersebut
akan memberikan kenampakan yang muncul di permukaan berupa badan-badan
intrusi, atau berupa deomal folds (lipatan berbentuk dome) akibat terobosan
massa batuan tersebut), sehingga perlapisan pada batuan di atasnya menjadi
tidak
tampak
lagi
atau
telah
terubah.

B.

SATUAN

MORFOLOGI

Bentuk-bentuk pada permukaan yang dihasilkan oleh peristiwa-peristiwa


geomorfik berdasarkan kesamaan dalam bentuk dan pola aliran sungai dapat
dikelompokkan ke dalam satuan yang sama. Tujuan dari pengelompokkan ini
adalah untuk dapat memisahkan daerah konstruksional dengan daerah
detruksional. Kemudian masing-masing satuan dapat dibagi lagi menjadi
subsatuan berdasarkan struktur dan tahapan (untuk konstruksional) serta
berdasarkan
deposisional
(untuk
destruksional).

B.1.

Sungai

Pada hakekatnya aliran sungai terbentuk oleh adanya sumber air (hujan,
mencairnya es, dan mata air) dan adanya relief dari permukaan bumi. Sungaisungai juga mengalami tahapan geomorfik yaitu perioda muda, dewasa, dan tua.
Sungai muda dicirikan dengan kemampuan untuk mengikis alurnya, dimana hal

ini dapat terjadi jika gradien sungai cukup terjal. Sungai muda biasanya sempit,
dengan tebing terjal yang terdiri dari batuan dasar. Gradien sungai yang tidak
teratur (seragam) disebabkan oleh variasi struktur batuan (keras-lunak).
Sungai pada stadium dewasa akan mengalami pengurangan gradien sungai
sehingga kecepatan aliran dan daya erosi (pengikisan) berkurang, sehingga
mulai terjadi pengendapan. Sungai demikian disebut dengan graded. Jika sungai
utama mengalami graded berarti telah tercapai kedewasaan awal, dan jika
cabang-cabang sungai tersebut juga telah mengalami graded maka telah
mencapai kedewasaan lanjut, dan jika alur-alur sungai juga telah mengalami
graded,
maka
sungai
tersebut
telah
mencapai
perioda
tua.
Pada umumnya aliran sungai dikendalikan oleh struktur batuan dasar, kekerasan
batuan, dan struktur geologi, serta beberapa hal lainnya membentuk pola-pola
aliran
sungai
,
antara
lain
:
1. Pola dendritik, dengan pola aliran menjari dan menyebar seperti dahan-dahan
pohon, mengalir ke semua arah, dan menyatu di induk sungai. Umum terdapat
pada daerah dengan struktur batuan yang homogen atau pada lapisan endapan
sedimen
yang
horizontal.
2. Pola aliran rektangular, dibentuk oleh cabang-cabang sungai yang berbelok,
berliku-liku, dan menyambung dengan membentuk sudut-sudut tegak lurus,
yang umumnya dikendalikan oleh pola kekar dan sesar yang berpola
berpotongan secara tegak lurus. Umum terdapat pada daerah batuan kristalin,
serta
perlapisan
batuan
keras
yang
horizontal.
3. Pola aliran trelis, berbentuk pola trali pagar. Sungai-sungai yang lebih besar
cenderung mengikuti singkapan dari batuan lunak. Pola ini umum pada daerah
yang
terlipat
dan
miring
kuat.
4. Pola aliran radial, dengan pola sentrifugal dari suatu puncak, misalnya aliran
sungai
pada
pegunungan
kubah
atau
gunung
api
muda.
5. Pola aliran anular, merupakan aliran dimana sungai-sungai besarnya mengalir
melingkar mengikuti struktur dan batuan yang lunak, dan umum terbentuk pada

daerah kubah struktural yang telah terkikis dewasa. Pola aliran anular dengan
demikian
merupakan
variasi
dari
pola
aliran
trelis.

Pada sungai yang telah mencapai stadium dewasa terdapat dataran banjir yang
terbentuk dari pengendapan material klastis yang diendapkan pada daerah di
dekat sungai membentuk point bar. Pada sisi kiri kanan sungai sering terbentuk
akumulasi yang tebal sedimen sepanjang sungai dan membentuk tanggul alam
(natural levees). Jika arus aliran sungai makin melemah, material klastis yang
terbawa oleh aliran sungai akan terendapkan pada tekuk lereng, sisi dalam
meander, pertemuan antara dua aliran sungai, dan perubahan gradien. Jika
endapan aluvial sungai yang telah terbentuk kemudian terkikis kembali oleh
aliran sungai akan terbentuk undak-undak sungai, dan merupakan peremajaan
sungai
pada
masa
dewasa
atau
tua.
Jika aliran sungai dari mulut lembah di daerah pegunungan dan kemudian
memasuki wilayah dataran, maka material klastis yang dibawanya akan
terendapkan dan kemudian menyebar meluas dengan sudut kemiringan makin
melandai. Fraksi kasar akan terakumulasi di dekat mulut lembah dan fraksi
halus akan terdapat pada dataran, dan dikenal dengan kipas aluvial. Kipas
aluvial dapat terjadi pada kaki-kaki gunung api, kaki tebing dari gawir, dll.
Selanjutnya material klastis yang terbawa oleh aliran sungai hingga laut, dan
membentuk delta. Bentuk-bentuk delta dipengaruhi oleh banyak faktor antara
lain bentuk sungai, gradien sungai, besarnya beban, kuat arus laut, arah arus
laut,
dsb.

B.2.

Dataran

dan

Plateau

Dataran dan plateau adalah wilayah-wilayah dengan struktur yang relatif


horizontal. Dataran mempunyai relief rendah dengan lembah-lembah dangkal,
sedangkan plateau mempunyai relief yang tinggi dengan lembah-lembah yang
dalam. Secara umum beberapa jenis dataran, antara lain :
1. Dataran pantai (coostal plains) yang terbentuk oleh timbulnya dasar laut
2. Interior plains, yang mirip dengan dataran pantai tetapi yang terletak sudah
jauh
dari
laut
3. Dataran danau (lake plains), terbentuk oleh timbulnya dasar danau karena
pengeringan
danau
4. Dataran lava (lava plains) dan plateau lava (lava plateau), terbentuk oleh
aliran
lava
encer
5. Dataran endapan glasial (till plains), terdiri dari endapan glacial yang
menutupi
topografi
tidak
rata
6. Dataran aluvial (alluvial plains), yang terbentuk dari endapan aluvial dari
kipas aluvial di kaki pegunungan hingga jauh ke dataran banjir dan dataran
pantai.
Plateau pada stadium muda merupakan daerah dengan lapisan horizontal dan
kebanyakan telah terkikis dalam oleh aliran sungai. Daerah plateau dapat lebih
tinggi terhadap sekitarnya dan dibatasi oleh gawir atau dapat pula lebih rendah
dari pegunungan disekitarnya. Plateau dewasa mempunyai kenampakan umum
mirip dengan pegunungan biasa namun kecenderungan lapisan batuannya
horizontal. Plateau tua umumnya merupakan daerah dataran yang luas yang
telah mengalami pengikisan dengan perlapisan yang horizontal. Bukit-bukit sisa
erosi, yang juga berstruktur horizontal disebut mesa (dengan ketinggian 150200 m). Dimensi yang lebih kecil dinamakan butte, dan jika lebih sempit dan
tinggi seperti pilar-pilar disebut dengan pinnacles atau needles.
B.3.
Pegunungan
kubah
(dome
mountains)

Kubah diartikan sebagai struktur dari suatu daerah yang luas dengan sifat
lipatan regional dengan sudut kemiringan yang kecil. Ada beberapa sebab

terjadinya kubah, antara lain oleh intrusi garam atau diapir, intrusi lakolit, dan
intrusi
batuan
beku
seperti
batolit.
Dalam tahapan muda pegunungan kubah akan dikikis oleh sungai-sungai namun
belum dalam, bentuk kubah masih utuh, pengikisan dimulai di puncak dengan
membentuk cekungan erosi. Kadang-kadang inti kubah yang keras tampak di
dasar cekungan erosi kubah. Pada tahapan dewasa, pengikisan di puncak makin
meluas dan mendalam. Undak-undak gawir terbentuk sesuai dengan banyaknya
lapisan-lapisan yang resistan, serta punggungan-punggungan dengan lapisan
miring
(hogbacks)
terbentuk.
Pada tahapan tua, mempunyai bentuk akhir dari pengikisan kubah akan
membentuk peneplane. Pola aliran annular hampir-hampir hilang. Kubah besar
dan tinggi dihasilkan oleh intrusi-intrusi batolit; yang lebih kecil dihasilkan oleh
intrusi lakolit, dan berbentuk kubah landai yang dihasilkan oleh sill. Kubahkubah kecil dapat dihasilkan oleh intrusi garam atau diapir lempung.

Punggungan-punggungan lapisan miring (hogbacks) dapat terbentuk oleh


beberapa kejadian antara lain kubah, antiklin, sesar, intrusi, dan sebagainya.
Faltion merupakan hogbacks yang terletak terdekat dengan inti kubah yang
keras seperti batuan kristalin dengan ujung atas umumnya runcing.

Inti kubah yang terdiri dari batuan kristalin sering memberi arti sebagai sumber
mineral logam; pertambangan sering dijumpai kubah-kubah garam tentunya
memberi makna sebagai sumber garam. Jika tidak berpotensi akan mineral, inti
kubah yang bertekstur kasar sering merupakan daerah hutan dan sekaligus
merupakan daerah tadah hujan. Juga lereng-lereng terjal dari hogbacks
sebaiknya merupakan daerah hutan untuk mencegah longsoran dan untuk tujuan
konservasi
air.
B.4.
Pegunungan
Lipatan
(Folded
Mountains)

Istilah pegunungan lipatan digunakan untuk suatu jenis pegunungan dengan


struktur lipatan yang relatif sederhana. Pada tahapan muda morfologinya masih
menggambarkan adanya lingkungan antiklin dan sinklin. Bila erosi melanjut
maka pengikisan sungai lateral dapat menajam ke hulu dan juga sepanjang
puncak
antiklin.

Pada tahapan dewasa pengikisan di puncak antiklin dapat melanjut, melebar ke


arah dalam sepanjang puncak antiklin dan akhirnya terbentuk lembah antiklin
dengan kenampakan morfologi terhadap struktur geologi menjadi terbalik
(interved relief), bukit-bukit antiklin (anticlinal ridges), dan lembah-lembah
sinklin (sinclinal ridges), serta bukit-bukit yang terbentuk oleh lapisan-lapisan
yang miring searah disebut bukit-bukit homoklin (homoclinal ridges). Pada
tahapan tua, daerah pegunungan lipatan oleh pengikisan menjadi peneplane dan
sungai mengalir di dataran tersebut seolah tanda mengindahkan adanya lapisan
lunak
ataupun
keras.
Daerah pegunungan lipatan umumnya berbukit-bukit terjal, dengan lembahlembah yang panjang, adanya perulangan antara lembah lebar dan lembah
sempit akibat perbedaan kekerasan batuan, adanya gawir terjal dan pegunungan
landai pada hogbacks atau homoclinal ridges. Daerah pegunungan lipatan yang
terdiri dari batuan-batuan sedimen sering pula mengandung nilai-nilai ekonomis
seperti batugamping, batulempung, batupasir kuarsa, gipsum, dan sebagainya.
B.5.

Pegunungan

Patahan

(Block

Mountains)

Pegunungan ini merupakan hasil deformasi oleh sesar. Pada tahapan muda
pegunungan patahan memperlihatkan gawir-gawir terjal yang memisahkan
antara satu blok pegunungan dengan blok yang lain atau antara blok
pegunungan dengan blok lembah. Umumnya bidang gawir tajam relatif rata,
belum tersayat oleh lembah-lembah. Bentuk blok dapat persegi, berundak, atau
membaji
tergantung
kepada
pola
sesar.

Pada tahapan dewasa menyebabkan adanya pengikisan pada bagian muka atau
punggungan blok dengan beberapa kenampakan bagian muka dari blok masih
lebih terjal dari pada bagian punggungan, masih terlihat adanya kelurusan garis
dasar sesar, adanya triangular facets yang merupakan sisa-sisa bidang sesar
setelah terkikis, adanya dataran aluvial berupa kipas aluvial yang terletak
berjajar dalam garis lurus sepanjang kaki bidang muka dan blok, serta
munculnya mata air. Pada tahapan tua, daerah pegunungan patahan menjadi
mendatar dan kehilangan bentuk simetrinya, dengan daerah aluvial yang
meluas.
B.6.
Gunung
Api

Pertumbuhan gunung api merupakan salah satu dari bentuk konstruksional,


dimana pembentukannya dapat terjadi melalui letusan, longsoran, injeksi kubah
lava, dan sebagainya diselingi dengan erosi. Pada umumnya proses erosi
berjalan lebih lambat dari proses pembentukan gunung api. Disamping itu
gunung api dapat pula mengalami proses konstruksi lain seperti sesar dan
lipatan.
Gunung api yang telah mencapai tahapan dewasa oleh letusan baru dapat segera
menjadi muda kembali. Perubahan-perubahan bentuk oleh kegiatannya dapat
terjadi seperti pembentukan kubah lava, aliran lava, aliran lahar, pembentukan
kerucut
porositer,
pembentukan
kaldera.
Bentuk-bentuk gunung api dipengaruhi oleh letusan dan aliran lava. Pada
letusan gunung api akan menghasilkan tufa dan breksi vulkanik membentuk
cinder
cones.
Compasite cones terbentuk jika kegiatan erupsi letusan dan aliran lava terjadi
secara bergantian. Kerucut gunung api sederhana mempunyai kawah (crater),
pada letusan-letusan yang berulang pada titik yang berbeda dalam suatu kawah
dapat menghasilkan kawah ganda (nested craters), dan pada letusan dahsyat
dapat menghasilkan kaldera (kawah yang sangat besar, berdinding terjal, dan
umumnya
mempunyai
dasar
kawah
yang
rata).
Gunung api baru dapat tumbuh di dasar kaldera, dan disebut gunung api
sekunder. Gunung api di dalam tahapan tua sudah tidak memperlihatkan bentuk

kerucut lagi. Hanya sisa diatrema saja yang kadang-kadang terlihat mencuat
diantara
dataran,
dan
disebut
volcanic
necks.

C.

ANALISIS

MORFOLOGI

Analisis pada suatu daerah (secara regional) dapat dilakukan pada foto udara
atau pada peta topografi. Analisis morfologi dapat dilakukan dengan pemisahanpemisahan unsur-unsur morfologi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Analisis dilakukan dengan memperhatikan tujuan semula, mungkin berupa
tujuan-tujuan ilmiah atau tujuan-tujuan aplikasi. Analisis morfologi yang lazim
diadakan adalah: elevasi, sudut lereng, pola kontur, bentuk bukit, pola bukit,
bentuk aliran, pola aliran, kerapatan sungai, luas DAS, tekuk lereng/gradien,
dan
lain-lain.
Dalam melakuan pemerian geomorfologi pada suatu daerah (wilayah) dapat
dilakukan secara empiris atau deskriptif. Pemerian empiris dilakukan dengan
mengemukakan apa adanya; seperti bukit, lembah, atau pegunungan dan
diuraikan menurut bentuk, ukuran, posisi, dan warna. Contohnya sederet
perbukitan yang terdiri dari batugamping dan batulempung, dengan lebar
wilayah perbukitan tersebut lebih kurang 5 km dan panjang 20 km, dengan
puncak-puncaknya
setinggi
900-1250
m
dpl
...
dst.
Sedangkan pemerian secara deskriptif (explanation) dilakukan dengan
menggunakan istilah-istilah yang lebih tepat karena mengandung arti genetik
dari permasalahan morfologi dan sekaligus mengandung arti bentuk, ukuran,
komposisi, lokasi, dan sebagainya. Contoh : terdapat sederet pegunungan

lipatan selebar 5 x 20 km membentuk bukit-bukit hogback dan lembah-lembah


homoklin, terdiri dari batugamping dan batulempung, dst.
Pada pengamatan melalui peta topografi, analisis dilakukan terhadap pola
kontur (tata letak, bentuk-bentuk lengkungan dan kelurusan, kerapatan garis
kontur, dan pola-pola kontur yang khas). Daerah di muka bumi yang
mempunyai kesamaan dalam bentuk-bentuk dan pola aliran sungai dimasukkan
ke
dalam
satuan
yang
sama.
Satuan morfologi pada orde satu dapat dikelompokkan sebagai pegunungan dan
dataran. Pada orde kedua, pegunungan dapat diuraikan lagi sebagai pegunungan
plateu, pegunungan kubah, pegunungan lipatan, pegunungan kompleks, dan
gunung api. Sedangkan dataran, pada orde kedua dapat diuraikan lagi sebagai
dataran pantai, dataran banjir, dataran danau, dataran aluvial, dan dataran
glasial.

D. PENERAPAN GEOMORFOLOGI SEBAGAI SALAH SATU ALAT


DALAM
EKSPLORASI

Sebelum pelaksanaan kegiatan (survei) lapangan, sebaiknya dilakukan terlebih


dahulu pengenalan bentang alam (landform) melalui analisis foto udara atau
analisis peta topografi (berdasarkan pola kontur). Kegiatan ini akan sangat
membantu untuk memberikan gambaran (interpretasi awal) tentang sejarah
geologi, struktur, dan litologi regional daerah yang akan diobservasi.
McKinstry (1948) dalam tulisannya membahas tentang penggunaan petunjuk
geomorfik dalam pekerjaan eksplorasi, dan mengelompokkan tiga petunjuk
dalam
pencarian
endapan
mineral,
yaitu
:
1. Beberapa endapan mineral akan memperlihatkan suatu bentuk topografi yang
khas.
2. Topografi suatu daerah dapat memberikan suatu struktur geologi dimana
suatu
endapan
mineral
dapat
terakumulasi.

3. Dengan mempelajari sejarah geomorfik suatu daerah memungkinkan untuk


dapat memperkirakan kondisi-kondisi fisik dimana mineral-mineral
terakumulasi
atau
terkayakan.
Tidak semua tubuh bijih mempunyai ekspresi permukaan (topografi) yang khas,
namun ada beberapa diantaranya dapat diprediksikan dari kenampakan
permukaan (topografi) seperti singkapan bijih, gossan, atau mineral-mineral
residual, serta kenampakan struktur geologi seperti fractures, sesar, dan zonazona breksiasi. Sebagai contoh : sebaran Pb-Zn di Broken Hill Australia
membentuk suatu punggungan yang menyolok, urat-urat kuarsa masif di Santa
Barbara Meksiko memperlihatkan bentuk yang menyolok karena cenderung
lebih resistan terhadap pelapukan dari batuan-batuan di sekitarnya. Menurut
Schmitt (1939), ekspresi topografi merupakan suatu akibat dari laju oksidasi,
termasuk
daya
tahannya
terhadap
pelapukan
dan
erosi.
Pada endapan residual, konsep-konsep geomorfologi yang dapat diterapkan
antara
lain
:
1. Pelapukan dan erosi merupakan proses yang mutlak dan selalu terjadi di
muka
bumi.
2. Hasil pelapukan suatu batuan mungkin dapat menghasilkan suatu konsentrasi
endapan
mineral
ekonomis.
3. Produk dari tahap akhir siklus morfologi pada umumnya tertinggal
membentuk
suatu
endapan
residual
yang
insitu.
4. Tahapan-tahapan awal dari siklus geomorfik pada umumnya bersifat
mengikis, mengerosi, tertransport, dan terendapkan pada suatu tempat.
Sedangkan pada endapan placers (residual, kolovial, eluvial, aluvial, dan
endapan pantai), konep-konsep geomorfologi yang dapat diterapkan antara lain ;
masing-masing tipe endapan placers merupakan hasil dari siklus geomorfik
yang terbatas, dan diendapkan pada kondisi topografi tertentu, dan mempunyai
ekspresi topografi yang khas.

GEOMORFOLOGI FLUVIAL

Fluvial Geomorfologi adalah bentuk- bentuk bentang alam yang terjadi akibat dari proses fluvial.
Atau dengan kata lain Semua bentuk lahan yang terjadi akibat adanya proses aliran air baik yang
terkosentrasi yang berupa aliran sungai maupun yang tidak terkosentrasi yang berupa limpasan
permukaan.
BENTUKLAHAN FLUVIAL
SUNGAI adalah permukaan air yang mengalir mengikuti bentuk salurannya.

SEJARAH HIDUP SUNGAI


Youth (Sungai Muda)
Terjal, gradient besar dan berarus sangat cepat. Kegiatan erosi sangat kuat, khususnya erosi
kebawah. Terdapat air terjun, penampang longitudinal tak teratur, longsoran banyak terjadi pada
tebing tebingnya.
Mature (Sungai Dewasa)
Pengurangan gradient, sehingga kecepatan alirannya berkurang. Daya angkut erosi berkurang.
Tercapai kondisi keseimbangan penampangnya graded hanya cukup untuk membawa beban (load),
terdapat variasi antara erosi dan sedimentasi, terus memperlebar lembahnya, dan mengembangkan
lantai datar.

Old Stream (Sungai Tua)


Dataran banjir, dibantaran yang lebar sungai biasanya mengembangkan pola berkelok(meander),
oxbow lakes, alur teranyam (braiding), tanggul alam, dan undak undak sungai menunjukan kondisi
graded.
bentang alam fluvial adalah semua bentuklahan yang terjadi karena adanya proses aliran air, baik
yang terkonsentrasi berupa aliran sungai maupun tidak terkonsentrasi yang berupa limpasan
permukaan.

Proses Pengendapan Sungai


Sedimen diendapkan ketika kecepatan arus menurun hingga dibawah kecepatan minimum yang
diperlukan untuk membawa partikel dengan ukuran tertentu. Jadi, bila ada sungai yang membawa
lanau, pasirdan gravel mengalami pelambatan dikarenakan gradien menjadi lebih landai atau
karena memasuki danau atau laut. Partikel berukuran terkasar akan diendapkan lebih dahulu dan
selanjutnya secara progresif diikuti pengendapan partikal halus ketika kecepatan arusnya menjadi
menurun. Pengendapan muatan sedimen pada pengangkutan bagian lebih bawah memberikan
bentuklahan (landform) seperti dataran banjir (foodplain), lembah aluvial (alluvial valleys), delta
dan kipas aluvial (alluvial fans) dan lain-lain.

(A)

(B)

Gambar 11. Perampokan sungai (A) belum terjadi. (B) mengerosi kearah hulu dan memotong
sungai lainnya (Monroe & Wicander, 1997).

1. Dataran banjir
Daerah yang berada pada lereng landai dan pada paparan stabil yang membatasi suatu sungai
disebut sebagai dataran banjir yang terbentuk ketika banjir besar menutupinya dengan air.
Perbedaan konfigurasi kanal merefleksikan variasi tipe muatan sedimen dan fluktuasi dalam
volume air. Lihat gambar 12. yang menjelaskan model grafik sederhana dari sedimentasi dataran
banjir.

Gambar 12. Kenampakan utama pada dataran banjir termasuk didalamnnya adalah meander, point
bar, oxbow lakes, natural levees, backswamp dan stream channels (Hamblin & Christiansen, 1995).

Semua sungai berkecenderungan mengalir membentuk pola berliku-liku (sinuous pattern). Air yang
mengalir

cenderung

turbulen

sehingga

lengkungan

dan

ketidakseragaman

dalam

kanal

membelokkan aliran air ke sisi lain tepian sungai. Gaya air yang menghantam tepian sungai
menyebabkan erosi dan pelemahan dan membuat lekukan kecil pada kanal sungai. Karena terus
menerus dihantam oleh arus, maka lekukan menjadi besar membentuk kelokan (meander) yang
besar. Pada bagian dalam kelokan, kecepatannya menjadi minimum sehingga muatan sedimen
menjadi terendapkan. Endapan yang terjadi pada puncak kelokan disebut sebagai point bar. Dua
proses utama disekitar kelokan sungai adalah erosi pada sisi luar kelokan dan pengendapan
(depositional) pada sisi dalam kelokan sungai sehingga menyebabkan putaran kelokan (meader
loops) bermigrasi secara lateral.

Erosi

efektif

berjalan

pada

tekukan

kelokan

sungai

sehingga

kelokan

akan

bermigrasi.

Perkembangan lekukan kelokan kemudian menjadi lebih melingkar hingga pada akhirnya akan
memotong putaran kelokan dan sungai menjadi lurus kembali. Kelokan yang terpotong (cut off)
membentuk lingkaran kelokan yang ditinggalkan menjadi crescent-shaped lake yang lebih dikenal
sebagai oxbow lake (gambar 13.).

Gambar 13. Evolusi meander sungai terjadi karena kombinasi dua proses, yakni proses erosi di sisi
luar kelokan dan proses pengendapan di sisi dalam kelokan sungai (Hamblin & Christiansen, 1995).

Tanggul alami (natural levees) proses lain di dataran banjir adalah terbangunnya tanggul
atau pematang yang tinggi (high embankment) yang disebut sebagai natural levees yang
terbentuk pada kedua sisi sungai. Tanggul alami ini terbentuk ketika sungai meluap selama banjir.
Aliran yang keluar kanal sangat signifikan mereduksi kecepatan aliran sehingga diendapkannya
sedimen. Material kasardiendapkan dekat dengan kanal sehingga terbangun tanggul yang tinggi.
Tanggul alami berkembang pada setiap banjir sehingga beberapa terbentuk cukup tinggi terhadap
daerah disekitarnya (gambar 14).

Rawa belakang (backswamp) merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan tanggul


alami sehingga banyak dataran banjir yang lebih rendah dari sungai sungai yang memotongnya.
Area ini dikenal sebagai backswamp yakni daerah dengan pengaliran yang buruk dan umumnya
adalah daerah rawa-rawa.

Bila sungai dipasok lebih banyak sedimen dari pada kemampuan sungai untuk membawa
sedimen tersebut, maka akan diendapkan material berlebih pada dasar kanal sebagai sand and
gravel bars. Pengendapan ini mendorong sungai untuk memecah kanal menjadi dua atau lebih
kanal sehingga terbentuklah pola sungai teranyam (braided river) (lihat gambar 15.).

Gambar 14. Tanggul alami (natural levees) adalah endapan berbentuk membaji yang terbentuk
selama tahapan banjir. Air sungai yang meluap (banjir) melampaui tepian sungai menyebabkan
kecepatan aliran menjadi melambat dan terjadi pengendapan lanau. Ketika tanggul menjadi tinggi,
maka sungai dapat lebih tinggi dari dataran banjir disekitarnya (Hamblin & Christiansen, 1995).

Gambar 15. Braided stream dekatSanta Fe,New Mexico (Monroe & Wicander, 1997).

2. Lembah alluvial
Banyak sungai terisi pada bagian lembahnya oleh sedimen pada periode waktu tertentu dan
kemudian terpotong sepanjang sepanjang sedimen yang terisi selama periode selanjutnya.
Fluktuasi proses yang demikian padasungai menghasilkan teras sungai (stream terraces). Adapun
dasar evolusi teras sungai adalah adanya penggerusan dan pemunduran lereng. Perubahan seperti
pengangkatan regionaldan naiknya base level membentuk endapan dataran banjir yang luas.
Perubahan selanjutnya adalah penggerusan pada dataran banjir sehingga terbentuk teras tunggal
pada kedua tepi sungai. Erosi selanjutnya dapat membentuk teras tambahan (Gambar 16).

(A)

(B)

Gambar 16. Asal mula teras sungai. (A) Sungai memiliki daratan banjir yang luas dan
berdampingan dengan kanalnya. (B) bidang teras sungai terjadi karena sungai yang mengerosi
lebih dalam lagi membentuk dataran banjir yang baru (Monroe dan Wicander, 1997)

Bentangalam Denudasional
1 Pengertian
Denudasi berasal dari kata dasar nude yang berarti telanjang, sehingga denudasi
berarti proses penelanjangan permukaan bumi. Bentuk lahan asal denudasional dapat
didefinisikan sebagai suatu bentuk lahan yang terjadi akibat proses-proses pelapukan, erosi,
gerak masa batuan (mass wating) dan proses pengendapan yang terjadi karena agradasi atau.
Proses degradasi cenderung menyebabkan penurunan permukaan bumi, sedangkan agradasi
menyebabkan kenaikan permukaan bumi.

morfologi berupa conical hill yang umum dijumpai di daerah sepanjang Wonosari, Yogyakarta-Pracimantoro,
Jawa Tengah. Mekanisme utama pembentukannya adalah proses pelarutan kimiawi oleh air

Ciri-ciri dari bentuk lahan yang asal terjadi secara denudasioanal, yaitu:
1. Relief sangat jelas: lembah, lereng, pola aliran sungai.
2. Tidak ada gejala struktural, batuan massif, dep/strike tertutup.
3. Dapat dibedakan dengan jelas terhadap bentuk lain.
4. Relief lokal, pola aliran dan kerapatan aliran menjadi dasar utama untuk merinci satuan
bentuk lahan.
5. Litologi menjadi dasar pembeda kedua untuk merinci satuan bentuk lahan. Litologi
terasosiasi dengan bukit, kerapatan aliran,dan tipe proses.

columnar joint ini dahulu merupakan bagian korok gunungapi. Proses denudasi yang
berlangsung intens di seluruh permukaan tubuh gunung memungkinkan tereksposnya bagian
korok yang beresistensi tinggi
2 Faktor-faktor Pengontrol Bentang Alam Denudasional
Denudasi meliputi proses pelapukan, erosi, gerak masa batuan (mass wating) dan
proses pengendapan/sedimentasi.
1.

Pelapukan
Pelapukan (weathering) dari perkataan weather dalam bahasa Inggris yang berarti

cuaca, sehingga pelapukan batuan adalah proses yang berhubungan dengan perubahan sifat
(fisis dan kimia) batuan di permukaan bumi oleh pengaruh cuaca. Secara umum, pelapukan
diartikan sebagai proses hancurnya massa batuan oleh tenaga Eksogen, pelapukan adalah
proses penyesaian kimia, mineral dan sifat fisik batuan terhadap kondisi lingkungan di
sekitarnya.

batugamping non klastik yang mengalami pelapukan kimia oleh air. Permukaan yang berlubang-lubang
merupakan bukti jalur air yang terabsorpsi dan melarutkan mineral-mineral di dalam batuan tersebut

Akibat dari proses ini pada batuan terjadi perubahan warna, misalnya kuning-coklat
pada bagian luar dari suatu bongkah batuan. Meskipun proses pelapukan ini berlangsung
lambat, karena telah berjalandalam jangka waktu yang sangat lama maka di beberapa tempat
telah terjadi pelapukan sangat tebal. Ada juga daerah-daerah yang hasil pelapukannya sangat
tipis, bahkan tidak tampak sama sekali, hal ini terjadi sebagai akibat dari pemindahan hasil
pelapukan pada tempat yang bersangkutan ke tempat lain. Tanah yang kita kenal ini adalah
merupakan hasil pelapukan batuan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pelapukan adalah:
1. Jenis batuan (kandungan mineral, retakan, bidang pelapisan, patahan dan retakan).
Batuan yang resisten lebih lambat terkena proses eksternal sehingga tidak mudah lapuk,
sedangkan batuan yang tidak resisten sebaliknya. Contoh :
a.

Limestone, resisten pada iklim kering tetapi tidak resisten pada iklim basah.

b. Granit, resisten pada iklim basah tetapi tidak resisten pada iklim kering.

granit yang mengalami pelapukan hingga mengalami perubahan warna dan menjadi rapuh

2.Iklim, terutama tenperatur dan curah hujan sangat mempengaruhi pelapukan.Contoh


a.

Iklim kering, jenis pelapukannya fisis

b. Iklim basah, jenis pelapukannya kimia


c.

Iklim dingin, jenis pelapukannya mekanik.

menara karst di daerah Yangshuo, China bagian selatan. Keindahan morfologi daerah karst ini mengundang
banyak wisatawan dan sering dijadikan objek fotografi pemandangan. Berdasarkan bentuklahannya morfologi
daerah ini termasuk berstadia tua.

3.Vegetasi, atau tumbuh-tumbuhan mempunyai peran yang cukup besar terhadap proses
pelapukan batuan. Hal ini dapat terjadi karena:
a.

Secara mekanis akar tumbuh-tumbuhan itu menembus batuan, bertambah panjang dan
membesar menyebabkan batuan pecah.

b. Secara kimiawi tumbuh-tumbuhan melalui akarnya mengeluarkan zat-zat kimia yang dapat
mempercepat proses pelapukan batuan. Akar, batang, daun yang membusuk dapat pula
membantu proses pelapukan, karena pada bagian tumbuhan yang membusuk akan
mengeluarkan zat kimia yang mungkin dapat membantu menguraikan susunan kimia pada
batuan. Oleh karena itu, jenis dan jumlah tumbuhan yang ada di suatu daerah sangat besar
pengaruhnya terhadap pelapukan. Sebenarnya antara tumbuh-tumbuhan dan proses pelapukan
terdapat hubungan yang timbal balik.

pelapukan oleh tanaman. Pada ujung akar tanaman, bagian tudung akar, terdapat sejenis cairan yang mampu
untuk melunakkan batuan menjadi soil, sehingga akar leluasa untuk berkembang. Mekanisme ini yang
menyebabkan tanaman mampu tumbuh pada tubuh batuan yang minim soil sekalipun

4.

Topografi

Topografi yang kemiringannya besar dan menghadap arah datangnya sinar matahari atau arah
hujan, maka akan mempercepat proses pelapukan.
3 Macam-Macam Bentuk Lahan Asal Denudasional
1.

Pegunungan Denudasional
Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng sangat

curam (55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi (relief) > 500
m.Mempunyai lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V karena proses yng dominan
adalah proses pendalaman lembah (valley deepening).
2.

Perbukitan Denudasional
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar antara 15 >

55%, perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m. Terkikis sedang hingga kecil
tergantung pada kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup daik alami maupun tata guna lahan.
Salah satu contoh adalah pulau Berhala, hamper 72,54 persen pulau tersebut merupakan
perbukitan dengan luas 38,19 ha. Perbukitan yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan
denudasional terkikis sedang yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga
terbentuk lereng-lereng yang sangat curam.

perbukitan denudasional dengan litologi penyusun batugamping terumbu di daerah Oesapa, Kupang,
NTT

3.

Dataran Nyaris (Peneplain)


Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus menerus,

maka permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya dan membentuk
permukaan yang hamper datar yang disebut dataran nyaris (peneplain). Dataran nyaris
dikontrol oleh batuan penyusunan yang mempunyai struktur berlapis (layer). Apabila batuan
penyusun tersebut masih dan mempunyai permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut
permukaan planasi.
4.

Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)


Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses

denudasi dan lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan bentuk
sisa dengan lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselbergtersebut berbatu
tanpa penutup lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan (outcrop). Kenampakan ini
dapat

terjadi

pada

pegunungan/perbukitan

terpisah

maupun

pada

sekelompok

pegunungan/perbukitan, dan mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya relatif


memanjang dengan dinding curam tersebut monadnock.

monadnock salah satu contoh morfologi perbukitan sisa terpisah

5.

Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van)


Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350). Secara

individu fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada

besarnya cliff dan batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian
atas kerucut (apex) sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah dan terendapkan di
bagian bawah kerucut talus.

colluvial fan atau kerucut talus pada sebuah tekuk lereng. Morfologi serupa dapat kita jumpai di sekitar kaki
gunung Lawu, Wonogiri

6.

Lereng Kaki (Foot slope)


Mempunyai

daerah

memanjang

dan

relatif

sermpit

terletak

di

suatu

pegunungan/perbukitan dengan topografi landai hingga sedikit terkikis. Lereng kaki terjadi
pada kaki pegunungan dan lembah atau dasar cekungan (basin). Permukaan lereng kaki
langsung berada pada batuan induk (bed rok). Dipermukaan lereng kaki terdapat fragmen
batuan hasil pelapukan daerah di atasnya yang diangkut oleh tenaga air ke daerah yang lebih
rendah.

lereng kaki gunung

7.

Lahan Rusak (Bad land)


Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam hingga sangat

curam dan terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk lembah-lembah yang dalam dan
berdinding curam serta berigir tajam (knife-like) dan membulat. Proses erosi parit (gully
erosion) sangat aktif sehingga banyak singkapan batuan muncul ke permukaan (rock
outcrops).
Satuan Bentuk Lahan Asal Denudasioal
1. Pegunungan Denudasional
Karakteristik umum unit mempunyai topografi bergunung dengan lereng sangat curam
(55>140%), perbedaan tinggi antara tempat terendah dan tertinggi (relief) > 500 m.Mempunyai
lembah yang dalam, berdinding terjal berbentuk V karena proses yng dominan adalah proses
pendalaman lembah (valley deepening).
2. Perbukitan Denudasional
Mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan lereng berkisar antara 15 > 55%,
perbedaan tinggi (relief lokal) antara 50 -> 500 m.Terkikis sedang hingga kecil tergantung pada
kondisi litologi, iklim, vegetasi penutup daik alami maupun tata guna lahan. Salah satu contoh
adalah pulau Berhala, hamper 72,54 persen pulau tersebut merupakan perbukitan dengan luas
38,19 ha. Perbukitan yang berada di pulau tersebut adalah perbukitan denudasional terkikis
sedang yang disebabkan oleh gelombang air laut serta erosi sehingga terbentuk lereng-lereng
yang sangat curam.
3. Dataran Nyaris (Peneplain)
Akibat proses denudasional yang bekerja pada pegunungan secara terus menerus, maka
permukaan lahan pada daerah tersebut menurun ketinggiannya dan membentuk permukaan
yang hamper datar yang disebut dataran nyaris (peneplain). Dataran nyaris dikontrol oleh batuan
penyusunan yang mempunyai struktur berlapis (layer). Apabila batuan penyusun tersebut masih
dan mempunyai permukaan yang datar akibat erosi, maka disebut permukaan planasi.
4. Perbukitan Sisa Terpisah (inselberg)
Apabila bagian depan (dinding) pegunungan/perbukitan mundur akibat proses denudasi dan
lereng kaki bertambah lebar secara terus menerus akan meninggalkan bentuk sisa dengan
lereng dinding yang curam. Bukit sisah terpisah atau inselberg tersebut berbatu tanpa penutup
lahan (barerock) dan banyak singkapan batuan (outcrop(. Kenampakan ini dapat terjadi pada
pegunungan/perbukitan terpisah maupun pada sekelompok pegunungan/perbukitan, dan
mempunyai bentuk membulat. Apabila bentuknya relative memanjang dengan dinding curam
tersebut monadnock.
5. Kerucut Talus (Talus cones) atau kipas koluvial (coluvial van)
Mempunyai topografi berbentuk kerucut/kipas dengan lereng curam (350). Secara individu
fragmen batuan bervariasi dari ukuran pasir hingga blok, tergantung pada besarnya cliff dan
batuan yang hancur. Fragmen berukuran kecil terendapkan pada bagian atas kerucut (apex)
sedangkan fragmen yang kasar meluncur ke bawah dan terendapkan di bagian bawah kerucut
talus.
6. Lereng Kaki (Foot slope)
Mempunyai daerah memanjang dan relatif sermpit terletak di suatu pegunungan/perbukitan
dengan topografi landai hingga sedikit terkikis. Lereng kaki terjadi pada kaki pegunungan dan
lembah atau dasar cekungan (basin). Permukaan lereng kaki langsung berada pada batuan

induk (bed rok). Dipermukaan lereng kaki terdapat fragmen batuan hasil pelapukan daerah di
atasnya yang diangkut oleh tenaga air ke daerah yang lebih rendah.
7. Lahan Rusak (Bad land)
Merupakan daerah yang mempunyai topografi dengan lereng curam hingga sangat curam dan
terkikis sangat kuat sehingga mempunyai bentuk lembah-lembah yang dalam dan berdinding
curam serta berigir tajam (knife-like) dan membulat. Proses erosi parit (gully erosion) sangat aktif
sehingga banyak singkapan batuan muncul ke permukaan (rock outcrops).
E.

Dampak Proses Bentuk Lahan Asal Denudasional


Proses bentuk lahan denudasional adalah erosi, mass wasting, dan juga pelapukan. Ketiga
proses tersebut memberikan dampak atau pengaruh bagi lahan di permukaan bumi. Selain,
menyebabkan terbentuknya lahan baru seperti yang telah dijelaskan di atas (contoh satuan
bentuk lahan asal denudasional), ketiga proses tersebut juga membawa dampak lain.
F. Cara Mengatasi Dampak Proses Bentuk Lahan Asal Denudasional
a. Upaya Pengendalian Erosi
Erosi tidak dapat dicegah secara sempurna karena merupakan proses alam. Pencegahan erosi
merupakan usaha pengendalian terjadinya erosi yang berlebihan sehingga dapat menimbulkan
bencana. Ada banyak cara untuk mengendalikan erosi antara lain :
Pengolahan Tanah.
Areal tanah yang diolah dengan baik dengan penanaman tanaman, penataan tanaman yang
teratur akan mengurangi tingkat erosi
Pemasangan Tembok Batu Rangka Besi
Dengan membuat tembok batu dengan kerangka kawat besi di pinggir sungai dapat mengurangi
erosi air sungai
Penghutanan Kembali
Yaitu mengembalikan suatu wilayah hutan pada kondisi semula dari keadaan yang sudah rusak
Penempatan Batu Batu Kasar sepanjang Pinggir Pantai untuk mengurangi erosi akibat air
laut.
Pembuatan Pemecah Angin atau Gelombang
Pohon pohonan yang ditanam beberapa garis untuk mengurangi kekuatan angin atau
gelombang.
Pembuatan Teras Tanah Lereng
Teras tanah berfungsi untuk memperkuat daya tahan tanah terhadap gaya erosi
An olistostrome is a sedimentary deposit composed of a chaotic mass
of heterogeneous material, such as blocks and mud, known asolistoliths, that accumulates as a
semifluid body by submarine gravity sliding or slumping of the unconsolidated sediments. It is a
mappable stratigraphic unit which lacks true bedding, but is intercalated amongst
normal bedding sequences, as in the Cenozoic basin of central Sicily. The term olistostrome is
derived from the Greek olistomai (to slide) and stroma (accumulation).[1]
Olistostromes are mlanges formed by gravitational sliding under water and accumulation of flow
as a semi fluid body with no bedding
Ejaanyangbenarmelange(epertamasebenarnyadenganapostrofPrancis,
sebab

ituartinyamixture)danolistostrome.Baikmelangemaupunolistostrome
adalah
percampuranbatuananekajenisdananekaasal.Maka,keduanyaselalu
mempunyai
strukturblocksinmatrixblok2fragmenbatuananekaukuran(sampai
skala
bukitfragmennyaitu)anekajenisterkepungolehmatrixhalus.
Kejadiannyabisa
asallongsorandilerengpalung(innerwalloftrench)melaluiproses
lengseran/longsoran/delapsisampaistatusiniiadisebut
olistrostrome.
Kemudian,bilasudahtertektonisasi,makaiajadimelange.Matrixnya
sudahjadi
scallyclayserpihyangmengersik,shearedmatrix.Sebagianfragmen
dan
matrixsudahmengalamimetamorfosadanboudinage(fragmen).

Baikolistostromedanmelangebisaditemukandiwilayahyangsama.Dan
keduanya
adalahfosilconvergentzoneantarlempeng.DiKarangSambung,
misalnya,paper2
terbarumenyebutduajenisendapan/tektonitituada.

Melange merupakan kelompok campuran batuan


Pra Tersier dari berbagai jenis dan umur batuan yang berbeda beda (berkisar antara 120 65 jt th), yang
telah mengalami proses deformasi (ubahan) baik pada struktur maupun komposisinya. Kelompok batuan
yang disebut tektonik mlange terdiri atas percampuran dari berbagai satuan batuan dengan hubungan
struktur dan stratigrafi yang tidak koheren, terdiri dari fragmen atau blok batuan ofiolitik, batuan metamorfik
derajat rendah danmetasedimen yang tercampur dalam massa dasar lempung yang tergerus (pervasively
sheared). Kenampakan rekahan gerus dengan permukaan berupa cermin sesar (slickenside), blok batuan
exotic dan native berukuran dari ratusan meter hingga dapat dipetakan, mengambang dalam massa dasar
yang lebih halus, yakni terdiri dari lempung abu abu gelap hitam yang mempunyai sifat tergerus.
Batuan penyusun mlange umumnya terdeformasi secara intensif dari berbagai kejadian, fasies dan umur
yang tersingkap berulang dan berubah secara tiba tiba pada jarak yang relatif dekat. Adanya gejala
tumbukan lempeng litosfer menyebabkan terbentuknya kelompok tatanan geologi yang kompleks dan
menghasilkan percampuran kelompok batuan tersebut

Karangsambung, Kebumen, Jawa


Tengah 16-19 November 2012
BY CERESSAJJAH NOVEMBER 23, 2012 KATANGSAMBUNG

Tanggal 16-19 november 2012 kemaren, ia bersama teman-teman


satu angkatan geologi 2009 ada di Karangsambung nih. Daerah
Karangsambung-Kebumen dan sekitarnya ini, merupakan salah satu
dari dua daerah di Pulau Jawa yang tersusun oleh batuan Pra-Tersier
(batuan tertua di Jawa berumur lebih dari 60 juta tahun yang lalu)
dengan kondisi geologi yang sangat kompleks. Disana ia dan tementemen yang lain menginap di asrama Kampus Lipi. Jauh dari yang
dibayangkan sebelumnya, asrama dan suasana di tempat ini sangat
amat nyaman, apalagi ditambah masakan yang telah disediakan
untuk kami makan 3x sehari selama disana yang enak-enak,
walaupun cuaca disana saat kami kesana sangat panas menyengat
yang menyebabkan kami tidak bisa berada jauh dari kipas angin.
Padahal lagi musim hujan loh.
Berikut akan dijelaskan sedikit mengenai daerah Karangsambung ini
yang diambil dari beberapa sumber. selamat menikmati.

Daerah ini menjadi menarik perhatian para ahli geologi, karena ada beberapa
fenomena geologi yang jarang tersingkap di Pulau Jawa, yaitu antara lain :

1.

Tersingkap berbagai jenis batuan mulai dari yang berumur Pra-Tersier


(Kapur Atas) hingga Kuarter. Untuk daerah Pulau Jawa, batuan berumur praTersier sangat jarang dijumpai.

2.

Adanya percampuran berbagai jenis batuan Pra-Tersier hingga Paleosen,


yang proses pembentukannya dikontrol oleh aktifitas tektonik.
Bercampurnya berbagai jenis batuan oleh proses tektonik ini dikenal
sebagai batuan bancuh atau Melange.

3.

Ukuran dan jenis bongkah di dalam Melange ini sangat bervariasi.


Ukuran komponen mulai dari yang berukuran kerikil hingga bongkah
bahkan di beberapa lokasi bongkah tersebut membentuk bukit yang soliter.
Seluruh bongkah tersebut tertanam dalam masa dasar lempung bersisik
yang berwarna hitam dan mengkilap (Scally clay). Selanjutnya jenis batuan
(jenis bongkah) di dalam melange ini juga bervariasi, terdiri atas batuan
ofiolit (batuan beku basa dan ultra basa), sedimen laut dalam (Pelagik),
sedimen laut dangkal hingga transisi dan sedimen darat.

Fenomena geologi tersebut diatas sangat jarang ditemukan di Pulau Jawa.


Hingga saat ini hanya ada tiga lokasi yang memiliki karaketristik yang sama
yaitu daerah Bayat (Jawa Tengah), Ciletuh (Jawa Barat) dan Karangsambung
sendiri.
Dari seluruh peneliti ini semuanya sepakat bahwa batuan pra-tersier hingga
Paleosen merupakan batuan bancuh (Melange), yang pembentukannya
dipengaruhi oleh aktivitas tektonik yang sangat kuat. Dikaitkan dengan teori
tektonik lempeng, salah satu proses pembentukan melange ini disebabkan
oleh adanya tumbukan dua buah lempeng atau lebih, yang akhirnya di dalam
zona tumbukan (Trench) terjadi percampuran berbagai macam batuan yang
satu sama lain saling tergeruskan.

Menurut hsu tahun 1968, Mlange merupakan suatu kompleks


batuan hasil percampuran secara tektonik dan percampuran secara
melengser yang berlangsung dibawah gaya berat, yang dapat
dipetakan sebagai satu satuan batuan, mengalami deformasi terdiri
atas kepungan-kepungan tektonik (tektonik inclution) yang berwujud
bongkahan bongkahan dengan ukuran mulai dari beberapa cm
hingga puluhan km yang terkepung dalam massa dasar halus
(lempung/serpih) yang tergerus (pervasively sheared).
Mlange pertama kali diperkenalkan oleh greenly (1919) dalam
bahasannya yang berjudul geology of angelsey). Mlange ini terdiri
dari batuan aneka jenis dan aneka asal. Blok-blok fragmen batuan
aneka ukuran (sampai skala bukit) dan aneka jenis terkepung oleh
matrix halus. Jadi selalu mempunyai struktur blocks in matrix.
Kejadiannya bisa dari asal longsoran di lereng palung (inner wall of
trench) melalui proses lengseran/longsoran/delapsi (mlange
sedimenter/plistrostrome) atau tercampur melalui proses tektonik,
maka ia disebut mlange tektonik /mlange. Matrixnya telah menjadi
scaly clay-serpih yang mengersik, sheared matrix. Sebagian fragmen
dan matrix sudah mengalami metamorfosa dan boudinage (fragmen).
Berdasarkan peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa (S. Asikin, A.
Handoyo, H. Busono, S. Gafoer (1992), dapat diketahui bahwa batuan
di daerah ini mulai dari yang tertua (Paleosen) hingga termuda
(Pliosen) terdiri dari :

1.

Kompleks Melange Luk Ulo yang berupa bongkah-bongkah


batuan Pra Tersier dengan massa dasar serpih hitam (berumur
Kapur Atas)

2.

Formasi Karangsambung yang tersusun oleh batulempung


bersisik dengan bongkah batugamping , konglomerat, batupasir,
batugamping dan basal (berumur Eosen). Dalam formasi ini
terdapat pula batugamping terumbu yang berupa olistolit.

3.

Formasi Totogan yang tersusun oleh breksi dengan komponen


batulempung, batupasir, batugamping dan basal (berumur OligoMiosen)

4.

Formasi Waturanda yang tersusun oleh batupasir kasar, makin


ke atas berubah menjadi breksi dengan komponen andesit, basal
dan massa dasar batupasir tuf. Dalam Formasi ini terdapat
anggota tuf yang tersusun oleh perselingan tuf kaca, tuf kristal,
batupasir gampingan dan napal tufaan (berumur Miosen Awal).

5.

Formasi Penosogan yang teridiri dari perselingan batupasir


gampingan, batulempung, tuf, napal dan kalkarenit (berumur
Miosen Tengah).

6.

Diabas yang merupakan batuan beku intrusi hasil aktivitas


volkanik (Miosen Tengah)

7.

Formasi Halang yang tersusun oleh perselingan batupasir,


batugamping, napal dan tuf dengan sisipan breksi (berumur
Pliosen)

8.

Formasi Peniron yang terdiri dari breksi dengan komponen


andesit, batulempung, batugamping, serta massa dasar batupasir
tufan bersisipan tuf.

9.

Endapan Pantai yang berupa pasir lepas

10. Alluvium yang berupa lempung, lanau, pasir, kerikil dan kerakal.

Untuk menjelaskan genetik pembentukan Melange di Pulau Jawa, khususnya di


daerah Karangsambung, maka wajib bagi kita memahami terlebih dahulu
geologi regional Pulau Jawa. Geologi Pulau Jawa dipengaruhi oleh aktifitas
tumbukan dua lempeng, yaitu antara Lempeng Asia dan Lempeng Hindia
Australia. Lempeng Asia berada di bagian utara dan bergerak relatif ke selatan
sedangkan Lempeng Hindia-australia yang berada di bagian selatan bergerak
relatif ke utara. Kedua lempeng tersebut pada saat ini membentuk jalur
tumbukan di selatan Pulau Jawa (Hamilton, 1979). Dari rekaman sejarah

tumbukannya, ternyata posisi jalur tumbukan ini berubah-ubah. Pada Jaman


Kapur posisi jalur tumbukan berada di poros Pulau Jawa sekarang, sedangkan
jalur volkaniknya berada di utaranya. Selanjutnya pada Kala Oligo-Miosen, jalur
tumbukan berubah posisinya lebih ke arah selatan demikian pula posisi jalur
volkaniknya bergeser ke arah selatan lagi. Selanjutnya Pada Kala Plio-Plistosen
hingga sekarang posisi jalur subduksi bergeser ke arah utara hal ini dibuktikan
dengan bergesernya posisi jalur volkanik Kuarter lebih ke arah utara dari jalur
volkanik Oligo-Mio. Namun demikian pendapat yang terakhir ini ada yang
menyanggahnya, karena tidak mungkin jalur penunjaman kembali lagi ke arah
utara. Di dalam tulisan ini pembahasan mengenai perubahan jalur tunjaman ini
tidak akan dibahas secara detail.
Dari sejarah tumbukan antar lempeng yang terjadi di Jawa, dapat disimpulkan
bahwa setiap terjadi perubahan jalur tunjaman selalu diikuti oleh meningkatnya
aktifitas tektonik. Dari rekaman tektonik tersebut jelas ada tiga peristiwa
tunjaman terpenting, yaitu yang terjadi pada Jaman Kapur, Oligo-Mio dan PlioPlistosen (Kuarter). Namun demikian tidak berarti bahwa aktivitas tektonik
diantara ketiga periode tersebut tidak penting, karena tektonik ini sifatnya tidak
pernah berhenti.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa dengan terjadinya tumbukan antar
lempeng tersebut memungkinkan untuk bercampurnya berbagai macam jenis
batuan di dalam suatu tempat tertentu (trench).
Batuan campur aduk atau bancuh ini kenyataannya dapat dibedakan
berdasarkan genetiknya. Apabila batuan bancuh tersebut murni akibat proses
tektonik maka dinamakan sebagai melange tektonik atau melange saja.
Sedangkan apabila batuan bancuh tersebut terjadi akibat proses sedimentasi
(sedimentasi lebih dominan, walaupun kejadiannya dipicu oleh tektonik) maka
endapannya dinamakan sebagai melange sedimenter atau olistostrom.
Bongkah batuan di dalam melange ada yang berasal dari daerah selingkungan
yang dinamakan sebagai Native block dan ada pula yang berasal dari luar
lingkungan yang dinamakan sebagai bongkah asing atau Exotic block. Di
dalam Olistostrom bongkah batuan baik yang sifatnya Native
block maupun Exotic block dinamakan sebagai olistolit.
Tersingkapnya batuan melange di daerah Karangsambung disebabkan oleh
adanya tektonik kompresional yang menyebabkan daerah tersebut dipotong
oleh sejumlah sesar-sesar naik disamping adanya pengangkatan dan proses
erosi yang intensif. Apabila diperhatikan bahwa posisi batuan melange ini
dijumpai di sekitar inti lipatan antiklin dan di sekitar zona sesar naik dan
kenyataannya pada saat sekarang posisi inti lipatan ini berada di bagian
lembah yang didalamnya mengalir aliran sungai Luk Ulo yang menunjukan
bahwa di daerah tersebut proses erosi berlangsung lebih intensif.

Morfologi perbukitan disusun oleh endapan melange, batuan beku, batuan


sedimen dan endapan volkanik Kuarter, sedangkan morfologi pedataran
disusun oleh batuan melange dan aluvium. Seluruh batuan penyusun yang
berumur lebih tua dari Kuarter telah mengalami proses pensesaran yang cukup
intensif terlebih lagi pada batuan yang berumur Kapur hingga Paleosen.
Morfologi perbukitan dapat dibedakan menjadi dua bagian yang ditentukan
berdasarkan bentuknya (kenampakannya), yaitu perbukitan memanjang dan
perbukitan prismatik. Perbukitan memanjang umumnya disusun oleh batuan
sedimen Tersier dan batuan volkanik Kuarter, sedangkan morfologi perbukitan
prismatik umumnya disusun oleh batuan yang berasal dari melangetektonik
dan batuan beku lainnya (Intrusi). Perbedaan kedua morfologi tersebut akan
nampak jelas dilihat, apabila kita mengamatinya di puncak bukit Jatisamit.
Bukit Jatisamit terletak di sebelah barat Karangsambung (Kampus LIPI). Tubuh
bukit ini merupakan bongkah batuan sedimen terdiri atas batulempung merah,
rijang, batugamping merah dan chert yang seluruhnya tertanam dalam masa
dasar lempung bersisik. Pada bagian puncak bukit inilah kita dapat melihat
panorama daerah Karangsambung secara leluasa sehingga ada istilah khusus
yang sering digunakan oleh para ahli geologi terhadap pengamatan morfologi
di daerah ini yaitu dengan sebutan Amphitheatere. Istilah ini mengacu
kepada tempat pertunjukan dimana penonton berada di atas tribune
pertunjukan. Memang tidak berlebihan istilah ini digunakan karena di tempat
inilah kita dapat mengamati seluruh morfologi secara lebih jelas.
Ada beberapa fenomena geologi yang dapat dijelaskan di tempat ini, yaitu :

1.

Daerah bermorfologi pedataran terletak di sekitar wilayah aliran Sungai


Luk Ulo. Sungai ini merupakan sungai utama yang mengalir dari utara ke
selatan mengerosi batuan melange tektonik,melange sedimenter, sedimen
Tersier (F. Panosogan. F. Waturanda, F. Halang ). Di sekitar daerah
Karangsambung, morfologi pedataran ini terletak pada inti antiklin
sehingga tidak mengherankan apabila di daerah ini tersingkap
batuan melange yang berumur tua, terdiri atas konglomerat, lava bantal,
rijang, lempung merah, chert dan batugamping fusulina. Bongkah batuan
tersebut tertanam dalam masa dasar lempung bersisik (Scally clay).

2.

Morfologi perbukitan disusun oleh batuan melange tektonik, batuan


beku, batuan sedimen Tersier dan batuan volkanik Kuarter. Perbukitan yang
disusun oleh melange tektonik dan intrusi batuan beku umumnya
membentuk morfologi perbukitan dimana puncak perbukitannya terpotongpotong (tidak menerus/terpisah-pisah). Hal ini disebabkan karena masingmasing tubuh bukit tersebut (kecuali intrusi) merupakan suatu blok batuan
yang satu sama lainnya saling terpisah yang tertanam dalam masa dasar
lempung bersisik (Scally clay). Morfologi perbukitan dimana batuan

penyusunnya terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan volkanik


Kuarter nampak bahwa puncak perbukitannya menerus dan relatif teratur
sesuai dengan sumbu lipatannya. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ada perbedaan bentuk perbukitan antara batuanmelange dengan
batuan sedimen Tersier/volkanik.

Berdasarkan sejarah pembentukannya melange tektonik akan terbentuk lebih


dahulu dibandingkan dengan melange sedimenter (olistostrom), dengan
demikian batuan tertua yang tersingkap di daerah Karangsambung
adalah melange tektonik (Asikin, 1974).
Melange tektonik atau melange Luk Ulo didefinisikan oleh Asikin (1974),
sebagai percampuran tektonik dari batuan yang mempunyai lingkungan
berbeda, sebagai hasil dari proses subduksi antara Lempeng Indo-Australia
yang menunjam di bawah Lempeng Benua Asia Tenggara, yang terjadi pada
Kala Kapur Atas-Paleosen. Melange tektonik ini litologinya terdiri atas batuan
metamorf, batuan basa dan ultra basa, batuan sedimen laut dalam (sedimen
pelagic) yang seluruhnya mengambang di dalam masa dasar lempung hitam
yang tergerus (Scally clay). Selanjutnya penulis ini membagi
kompleks melange menjadi dua satuan berdasarkan sifat dominansi
fragmenya, yaitu Satuan Seboro dan Satuan Jatisamit. Kedua satuan tersebut
mempunyai karakteristik yang sama yaitu masa dasarnya merupakan lempung
hitam yang tergerus (Scally clay). Bongkah yang berada di dalam masa dasar
berupa boudin dan pada bidang permukaan tubuh bongkahnya juga tergerus.
Beberapa macam dan sifat fisik komponen melange tektonik ini, antara lain
batuan metamorf, batuan sedimen dan batuan beku. Masing-masing jenis
batuan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

1.

Batuan metamorf, terdiri atas filit, sekis, marmer.

Filit merupakan batulempung yang telah mengalami metamorfisma


tingkat rendah. Kenampakan di lapangan berwarna abu-abu kehitaman,
lunak, mengalami deformasi yang cukup kuat yang dicirikan oleh
pembentukan lipatan-lipatan kecil (micro fold). Singkapan yang baik
dijumpai di sisi tebing Sungai Luk Ulo di sebelah utara singkapan lava
bantal.

Sekis merupakan kelanjutan proses metamorfisma filit. Kenampakan di


lapangan menunjukan sifat berlapis, dibeberapa tempat mengandung
garnet. Berdasarkan hasil penanggalan radioaktif K-Ar terhadap mineral
Mika, diketahui batuan ini mengalami metamorfisma pada 117 juta tahun

yang lalu atau setara dengan Jaman Kapur hingga Awal Tersier (Ketner dkk,
1976).

Marmer merupakan ubahan dari batugamping yang telah mengalami


metamorfisma regional. Singkapan yang baik dijumpai di sekitar Desa
yang merupakan lokasi bekas penambangan. Sifat fisik batuannya antara
lain berwarna putih (dominan) dan abu-abu kemerahan yang
mencerminkan adanya proses oksidasi, di beberapa tempat masih
menampakan adanya bidang perlapisan, disusun oleh mineral kalsit yang
sebagian sudah mengkristal. Adanya bidang lapisan pada tubuh batuan ii
menunjukan bahwa asal mula batuannya berasal dari batugamping klastik.
Tubuh batuan ini dipotong oleh sejumlah sesar baik minor maupun major,
hal ini dicerminkan dengan banyaknya bidang-bidang sesar dengan
berbagai macam arah jurus serta berbagai macam sifat pergerakannya
(Dijelaskan lebih lanjut pada pembahasan struktur).

2.

Batuan sedimen, terdiri atas sedimen laut dalam, sedimen laut


dangkal dan sedimen darat.

Sedimen laut dalam (Sedimen Pelagik), terdiri atas lempung merah


dan batugamping merah. Sedimen laut dalam ini terbentuk dibawah CCD,
artinya sedimen diendapkan di bawah kedalaman 3000 meter dari
permukaan air laut. Pada kondisi ini bahan kimia yang mengandung kalsit
akan larut sehingga tidak mungkin batuannya bersifat karbonatan. Seluruh
endapan sedimen yang terbentuk di dalam kondisi ini bersifat silikaan.
Lokasi yang baik dari singkapan batugamping merah dan lempung merah
ini dijumpai di daerah Watukelir, lereng bukit Jatisangit dan di dasar sungai
Luk Ulo. Berdasarkan pengamatan batuan di beberapa lokasi tersebut
diketahui bahwa kedua jenis batuan tersebut telah mengalami tektonik
kompresi yang cukup kuat, hal ini dicerminkan dengan banyaknya bidang
gerus (cermin sesar) yang memotong bidang lapisan disamping adanya
cermin sesar pada batas antara bidang lapisan batuannya. Karakteristik
litologi batugamping merah dan batulempung merah, yaitu :

Batugamping merah seluruhnya dibentuk oleh cangkang radiolaria,


bersifat silikaan, keras dan berlapis tipis.

Lempung merah seluruhnya bersifat silikaan, berlapis tipis, keras.

Sedimen laut dangkal, ditemukan di dalam kelompok batuan ini


adalah batugamping terumbu (Sunarti, 1973, di dalam Handoyo 1996).
Berdasarkan lokasi typenya, batugamping ini dinamakan sebagai
Batugamping Jatibungkus (Asikin, 1974). Batugamping Jatibungkus terdiri
atas batugamping terumbu (dominan), batugamping foram, batugamping
klastik, batugamping talus dengan fragmen konglomeratan, kuarsa, rijang
dan fragmen batuan (Sunarti, 1973, dalam Handoyo 1996). Berdasarkan
kandungan fosilnya batuan ini berumur Eosen Bawah-Tengah (Sunarti,
1973, dalam Handoyo 1996).

Sedimen Darat, merupakan endapan sungai yang didominasi oleh


konglomerat polimik dengan masa dasar batupasir berselingan dengan
batupasir, batulanau dan serpih. Singakapan kolonglomerat antara lain
dijumpai di Bukit Pesanggrahan, bibir sungai Loh Ulo depan Kampus LIPI
dan dibeberapa tempat lainnya ke arah hulu sungai Loh Ulo. Konglomerat
terdiri atas berbagai macam batuan, diantaranya adalah rijang, kuarsa,
basalt, sekis, batuan silika lainnya, dan dibeberapa tempat dijumpai fosil
kayu dan batubara. Lapisan batupasir, dijumpai sebagai sisipan dicirikan
oleh butiran yang kasar hingga halus; struktur sedimen berupa laminasi
sejajar, silang siur planar, gelembur gelombang, sole mark, dan jejak
binatang. Serpih yang juga dijumpai sebagai sisipan mempunyai
karakteristik berupa non karbonatan, mengandung butiran karbon dan
dijumpai bioturbasi.

3.

Batuan beku bersifat basaltis atau lebih dikenal sebagai ofiolit


(Ophiolites). Batuannya terdiri atas basalt, peridotit, serpentinit gabro dan
diabas.

Basalt, merupakan batuan beku basa yang umumnya memperlihatkan


struktur bantal (Pillow lava). Sifat fisik batuannya antara lain : berwarna
hitam, keras, tekstur afanitik, secara umum tubuh batuan ini
memperlihatkan struktur bantal dan dibeberapa tempat tubuh batuannya
sudah terkoyak yang dicerminkan dengan adanya breksi sesar. Singkapan
yang baik dijumpai di dinding sungai (Daerah Watukelir).

Peridotit merupakan batuan beku ultra basa.

Serpentinit, merupakan hasil ubahan dari peridotit, pada sayatan tipis


namapk adanya bentuk pseudomorph piroksen dan olivin.
Gabro merupakan batuan beku berkomposisi basa.

Batuan Pra-Tersier terdiri atas batuan beku basalt (ofiolit) yang


pembentukannya berasal dari zona punggungan tengah samudra (Mid Oceanic
Ridge), batuannya terdiri atas lava bantal, diabas, sekis. Batuan asal laut
dangkal terdiri atas batugamping fusulina dan batugamping yang telah
mengalami metamorfisma (marmer); batuan asal daratan terdiri atas
konglomerat (hasil sedimentasi fluviatil).
Batuan Tersier yang menutupi secara tidak selaras batuan berumur Pra-tersier,
terdiri atas Formasi Totogan, Formasi Waturanda dan Formasi Halang.
Batuan Kuarter terdiri atas endapan volkanik dan aluvium.
Mlange, istilahnya ditemukan oleh Greenly (1919), adalah kompleks batuan yang bancuh,
campur aduk, mengandung fragmen atau blok besar dan kecil dengan sifat litologi berbeda dari
batuan pengepungnya (matriksnya) dan abnormal terhadap hukum-hukum geologi seperti hukum
superposisi. Kompleks ini dihasilkan oleh proses tektonik, sehingga gejala-gejala tektonik
dengan kuat terekam di kompleks batuan ini. Sebagian orang menegaskan istilah ini sebagai
mlange tektonik.
Olistostrom, diajukan oleh Flores (1959), adalah kompleks batuan bancuh yang masih bersifat
sedimenter dan tak mengalami gejala tektonik yang signifikan. Kenampakannya seperti mlange,
ada fragmen (olistolit) ada matriks yang mengepungnya, tetapi tak tertektonikkan. Sebagian
orang menyebutnya mlange sedimenter.
Delapsi, istilah ini diajukan Hoedemaeker (1973), untuk menjelaskan proses terjadinya kompleks
bancuh ini akibat longsoran/lengseran gaya berat pada palung subduksi dalam tahap-tahap
proses yang meliputi: erosi, sedimentasi, delapsi, tektonisasi. Massa yang terbentuk oleh proses
delapsi disebutnya oliston.
Delapsi lalu menjadi sebuah kontroversi karena teori longsoran/lengseran gaya berat ini oleh
beberapa ahli telah dianggap sebagai proses utama yang mengendalikan proses-proses geologi
yang lain, termasuk sedimentasi dan struktur. Sehingga menurut teori delapasi bahwa percuma
mengukur jurus (strike) dan kemiringan (dip) lapisan batuan itu, termasuk percuma juga
menentukan keberadaan struktur-struktur seperti antiklin dan sinklin atau sesar itu, sebab semua
itu hanya manifestasi permukaan delapsi. Yang terpenting adalah mengukur ke arah mana
lengseran gaya berat delapsional terjadi