Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM

INTERVENSI INDIVIDU

Aulia Nur Ihsani


201410230311291
Psikologi F

Dosen Pengampu

: Putri Saraswati, M.Psi

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2016

ABSTRAK
Kehidupan seorang individu tidak dapat dipisahkan dengan waktu. Bagi
para mahasiswa, waktu merupakan suatu hal yang sangat terbatas.
Konseli bercerita bahwa dia merasa tidak mampu mengatur waktunya
denga baik yang ditandai dengan seringnya dia terjaga pada malam
hari dan lelah dipagi hari. Selain itu konseli juga merasa dia sering
merasa sungkan untuk menegur teman yang salah. Perasaan sungkan
yang dialami konseli dapat dihubungkan dengan rendahnya tingat
asertifitas dalam diri konseli. Untuk mengatasi buruknya managemen
waktu dan menghilangkan perasaan sungkan untuk menegur teman
yang salah, pendekatan behavioral merupakan pendekatan yang efektif.
Kata Kunci : managemen waktu, asertifitas, pendekatan behavioral

I.

PENDAHULUAN
Kehidupan seorang individu tidak dapat dipisahkan dengan
waktu. Mahasiswa sebagai individu yang sedang belajar juga
memerlukan pengaturan waktu untuk membagi antara waktu
belajar, waktu

berorganisasi, dan waktu untuk bersantai. Bagi

para mahasiswa, waktu merupakan suatu hal yang sangat


terbatas dan karena waktu tersebut sangat terbatas, banyak
diantara

mahasiwa-mahasiswa

yang

kurang

efektif

dalam

mengelolanya. Perilaku manajemen waktu yang dapat ditunjukkan


dalam hal seperti ketidakmampuan untuk mengalokasikan waktu
dengan baik dan kegagalan dalam membuat skala prioritas.
Hal tersebut dirasakan oleh konseli dimana konseli merasa
tidak mampu mengatur waktunya denga baik yang ditandai
dengan seringnya dia terjaga pada malam hari dan lelah dipagi
hari.

Ketidakmampuan

konseli

dalm

mengatur

waktu

ini

menyebabkan konseli merasa stres dan sering merasa kelelahan.


Selain itu konseli juga menyatakan bahwa dia merasa sungkan
untuk menegur temannya yang tidak mau bekerja saat kerja
kelompok

yang

mengakibatkan

bertambahnya

beban

kerja

managemen

waktu

dan

konseli.
Untuk

mengatasi

buruknya

menghiangkan perasaan ragu yang ada pada diri konseli untuk


mengeur

temannya

yang

salah,

pendekatan

behavioral

merupakan pendekatan yang efektif dimana dalam pendektan


tersebut individu dianggap sepeti mesin yang dapat diatur
perilakunya sedemikian rupa. Dalam pendekatan behavioral juga
konseli perilaku yang dianggap maladaptif akan dihapuskan dan
diganti dengan perilaku adaptif.
II.

METODE DAN IDENTIFIKASI MASALAH


a. Asemsen
.1. Observasi
Waktu dan tempat
Kegiatan
Tanggal 19 Maret 2016 pukul 14.00 Asesmen Awal
di kamar kos konseli

Tanggal 12 April 2016 pukul 08.00 Konseling


di

Lab.

Psikologi

Universitas

Muhammadiyah Malangg
.2. Wawancara
Waktu dan tempat
Kegiatan
Tanggal 19 Maret 2016 pukul 14.00 Asesmen Awal
di kamar kos konseli
Tanggal 12 April 2016 pukul 08.00 Konseling
di

Lab.

Psikologi

Universitas

Muhammadiyah Malangg
b. Identifikasi Masalah Awal
.1. Masalah Utama
Setelah dilakukan assesmen awal, konseli mengaku bahwa
dia mengalami stress dan sering merasa lelah di pagi hari
dikarenakan terjaga sepanjang malam untuk mengerjakan
tugas

dan

berbagai

hal

yang

berhubungan

dengan

organisasi.
.2. Penyebab
Konseli merasa bahwa stress yang dialaminya berawal dari
kesulitannya membagi waktu antara kegiatan satu dengan
kegiatan yang lain dan kesulitan konseli dalam membuat
prioritas. Ditambah lagi tugas perkuliahan yang diberikan
mayoritas adalah tugas kelmpok dan konseli merasa
bahwa saat bekerja kelompok tidak semua anak dapat
bekerja dengan maksimal sehingga membuat beberapa
anak dalam kelompok termasuk konseli harus bekerja
ekstra. Konseli sendiri merasa enggan untuk menegur
anggota

kelompoknya

sungkan
III.INTERVENSI
a. Metode Intervensi
.1. Definisi Konseling

tersebut

karena

dia

merasa

Menurut Tolbert (dalam prayitno, 2003), konseling


adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap
muka antara dua orang dimana konselor akan membantu
konseli melalui kemampuan-kemampuan yang dimilikinya.
Winkel
merupakan

(2005)

mengemukakan

serangkaian

kegiatan

bahwa
paling

konseling
pokok

dari

bimbingan dalam usaha membantu konseli/konseli secara


tatap muka langsung dengan tujuan agar konseli dapat
mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai
persoalan atau masalah khusus maka masalah yang
dihadapi konseli dapat teratasi semuanya.
Pendapat lain dikemukakan oleh Jones (2004) yang
menyatakan bahwa konseling merupakan suatu hubungan
profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan
konseli. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau
seorang-seorang, meskipun kadang melibatkan lebih dari
dua

orang

dan

dirancang

untuk

membantu

konseli

memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang


lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang
bermakna bagi dirinya.
Selain itu Saefuddin dan Bahri (2002) berpendapat
bahwa konseling merupakan proses pemberian informasi
objektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan
panduan komunikasi antar pribadi , teknik bimbingan dan
penguasaan

pengetahuan

klinik

bertujuan

untuk

membantu seorang individu untuk mengenali kondisinya


saat ini, masalah yang sedang dihadapi, dan menentukan
jalan keluar atau upaya mengatasi masalah tersebut.
Dari berbagai pendapat ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan
secara tatap muka antara dua orang, antara seorang
konselor yang terlatih dengan konseli yang memilki proses
sistematik dengan panduan komunikasi antar pribadi
untuk membantu konseli memahami dan memperjelas

pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga


dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
.2. Tujuan Konseling
.2.1

Tujuan Awal
Konseling ini pada

awalnya

bertujuan untuk

membantu konseli memecahkan masalahnya yang


berhubungan dengan time management. Seperti
pada

assesmen

awal,

konseli

memiliki

time

management yang buruk yang menyebabkan konseli


merasa

stress

dan

kekurangan

tidur

sehingga

dengan adanya konseling ini diharapkan konseli


dapat mengubah perilaku yang awalnya tidak dapat
mengatur

waktu

dengan

baik

menjadi

dapat

mengatur waktu dan membuat skala prioritas yang


baik. Dengan adanya konseling diharapkan juga
konseli

dapat

menghilangkan

perilaku

yang

merugikan dirinya sendiri seperti terjaga sepanjang


malam untuk mengerjakan tugas.
.2.2.

Tujuan Konseling
Pada awalnnya tujuan dari konseling ini sama

seperti

saat

tujuan

saat

asesmen

awal

yaitu

bertujuan untuk membantu konseli memecahkan


masalahnya

yang

berhubungan

dengan

time

management. Tetapi setelah konseling berlangsung,


konselor

memutuskan

untuk

menambah

tujuan

konseling yaitu untuk membentuk sikap asertif


dalam diri konseli agar muncul keberanian untuk
menegur

teman

yang

dirasa

konseli

berkonstribusi maksimal saat kerja kelompok.


.3. Pendekatan Konseling
.3.1

Pendekatan Awal

tidak

Pendekatan konseling yang digunakan dalam


menangani kesulitan pengaturan waktu yang dialami
oleh konseli adalah pendekatan behavioral. Dalam
pendekatan ini manusia dipandang sebagai manusia
yang

pasif

sebagai

dan

sesuatu

mekanistis.
yang

Manusia

dapat

dianggap

dibentuk

dan

diprogram.
Selain itu terdapat beberapa asumsi dasar terkait
pendekatan behavioristik. Steven Jay Lynn dan John
P. Garske (1985) mengemukakan bahwa asumsi
dasar dalam pendekatan behavioristik adalah :
a) memilliki konsentrasi pada proses perilaku,
b) menekankan dimensi waktu here and now,
c) manusia berada dalam perilaku maladaptif,
d) proses belajar merupakan cara efektif untuk
mengubah perilaku maladaptif,
e) melakukan

penetapan

tujuan

pengubahan

perilaku,
f) menilai secara empiris dan didukung dengan
berbagai teknik dan metode.
Sedangkan menurut Kazdin (2001), Miltenberger
(2004), dan Spiegler & Guevremont (2003) yang
dikutip oleh Corey (2005) karakteristik dan asumsi
mendasar dalam behavioristik adalah
a) terapi

perilaku

didasarkan

pada

prinsip

dan

prosedur metode ilmiah,


b) terapi

perilaku

permasalahan

konseli

berhubungan
dan

dengan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya,
c) konseli dalam terapi perilaku diharapkan berperan
aktif berkaitan dengan permasalahannya,
d) menekankan

keterampilan

konseli

dalam

mengatur dirinya dengan harapan mereka dapat


bertanggung jawab,

e) ukuran perilaku yang terbentuk adalah perilaku


yang nampak dan tidak nampak, mengidentifikasi
permasalahan dan mengevaluasi perubahan,
f) menekankan pendekatan self-control di samping
konseli belajar dalam strategi mengatur diri,
g) intervensi

perilaku

bersifat

individual

dan

menyesuaikan pada permasalahan khusus yang


dialami konseli,
h) kerjasama antara konseli dengan konselor,
i) menekankan aplikasi secara praktis dan
j) konselor bekerja keras untuk mengembangkan
prosedur

kultural

secara

spesifik

untuk

mendapatkan konseli yang taat dan kooperatif.


Didalam

pendekatan

behavioral

terdapat

beberapa teknik yang dapat digunakan selama


proses

konseling.

menggunakan
dalam

teknik

dalam

teknik
ini

self

konseli

hal

ini,

management
akan

konselor
dimana

mengarahkan,

mengendalikan dan mengubah perilakunya sendiri


melalui pantau diri, kendali diri, dan ganjar diri.
.3.2.

Pendekatan Konseling
Pendekatan

yang

digunakan

oleh

konselor

selama konseling tetap menggunakan pendekatan


yang sama dengan pada saat asesmen awal,tetapi
teknik yang digunakan konselor ditambah satu
teknik, yaitu teknik assertive training atau pelatihan
asertif. Teknik pelatihan asertif ini akan membantu
konseli mengeskpresikan perasaan dan pikiran yang
ditekankan terhadap orang lain secara lugas tanpa
agresif.
.4. Tahapan Konseling
Tahapan konseling yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a) Membangun hubungan atau raport dengan konseli

b) Melakukan identifikasi dan penilaian masalah


c) Memfasilitasi perubahan terapiutis
d) Melakukan evaluasi
a. Hasil Intervensi
Pertanyaan
Konselor
Gimana

Jawaban Konseli
mbak Baik

kabarnya hari ini?

sih,

cuma Pembangunan

kemaren habis jatuh rapport


jadi

agak

enak

nggak konseli

sebenernya

beberapa hari ini


dimana Jatuh di jalan mau

Jatuh
mbak?

ke

Bagaimana

Pantai

tiga

warna.
mbak Jalannya licin kan,

kok bisa jatuh?

jadi kalau belok itu,


bonceng
terus

temenku

kita

Terus

jatuh.

temenku

nggak papa, kalau


aku

kemaren

sempet

tanganku

bengkak

sama

nggak

bisa

digerakin

terus

mata juga bengkak.


Sebenrnya

udah

sembuh, tapi kalau


buat bernafas masih
Udah
mbak?

Interpretasi

agak nggak enak.


kedokter Udah ke poliklinik
sih,
sama
juga.

minta

obat,

udah
Kemaren

pijet
itu

dengan

Tapi

badan

bener-bener

nggak

bisa

digerakin.
temennya Alhamdulillah nggak

nggak apa-apa?
papa
Kemaren sempet Kalo nggak masuk
nggak masuk juga enggak sih, soalnya
atau

bagaimana kita kesana sekalian

mbak?

liputan

bestari

sabtu minggu. Jadi


minggunya
ada

masih

free

dan

seninnya kuliahnya
masih malem, jadi
masih bisa istirahat.
kan Alhamdulillah masih Klien

Dulu
mbaknya,

waktu (klien

tertawa) menyatakan

sesi pertama dulu soalnya


mbak

ya

miftah emang

itu bahwa di masih

ngatur mengalami

pernah cerita kalo waktu emang susah masalah


ada
dalam

masalah ya.

Soalnya... manajemen

waktu.. apalagi

kan

udah waktu

time

semester

management.

tugas lagi banyak,

6,

ini

Apakah

mbak terus lagi uts. Kirain

sekarang

masih kalo uts kan, kalo

merasakannya?

sebelumnya
ngerjain

gitu

ya,

tapi yang semsetr


ini

kebanyakan

tugasnya

take

home,

jadi

nyalin

tugas

itu

bener

bener malah nyita


waktu

dalam

lagi,

tugas

lagi.
Kayak dulu mbak ee...

kalo Konseli

juga cerita susah merasakan


mengatur

ya mengalami

waktu masih ya. Soalnya masalah

antara

ee... kan

organisasi

juga

dua membagi

sama duanya masih aktif. antara

waktu
apakah

sih

masih

kuliah, Kalo

dalam
waktu
waktu

dibestari untuk

sekarang sendiri kan emang berorganisasi

juga

masih kita tuas liputannya dengan

merasakan seperti tiap


itu?

bulan,

waktu

jadi kuliah

nggak kayak, kayak


nggak
buat

ada

waktu

free.

Apalagi

saya, aku tu nggak


tau

ya

kebagian

sering
itu

di

rubrik yang emang


kita sering liputan
yang hampir setiap
hari gitu. Kalaupun
nggak

setiap

hari

ada

aja

pasti

kerjaannya. Jadi ya
masih belom bisa...
Apakah mbak juga kalau rubrik sendiri Klien
bisa

menolak kan

kita

rolling menyatakan

apakah emang itu setiap tugas bulan, bahwa


diwajibkan
mbak ?

untuk aku juga nggak tau yang


kenapa
kebagian

tugas
diberikan

sering kepadanya
itu. merupakan tugas

Mungkin karena aku wajib

dan

dia

basic nya disitu apa merasa


bagaimana.

Ya bertanggung

kalau nolak nggak jawab

untuk

bisa

karena

tanggung

udah menyelesaikan
jawab

kan. Nanti enak sih


kalau dibestari itu
sekalian

nambah

pengalaman,
ketemu

kita
orang

orang, Cuma kalau


akhir kahir ini tu lagi
jenuh

aja

maksudnya

sih,
tugas

kuliahnya juga lagi


banyak

kan

semester 6. Belum
mikir

judul

skripsi

kayak kemaren aku


udah cerita. Jadi ya
kadang

kayak

waktunya tu pengen
tidur gitu kan ya.
Makanya

sekarang

juga

masih

ribet

lah.

heh...

Masalah

waktu emang ...


tadi ada masalah Berusaha sih
managemen

ya Konseli

sudah

pinter pinternya aku mulai

waktu, apakah itu membagi

waktu. menerapkan

sudah

mbak Sebenrnya

berusaha

untuk pinter pinternya anu mana tugas yang

mencari solusi?

sih

sering

kayak

ee... skala
ngasih akan
schedule dulu

buat apa yang di


priritasin

pertama

gitu ya, yang belum

prioritas
dikerjakan

deadline

gitu

ya,

kalau

usaha

sih

udah.

Sejauh

ini

meskipun

masih

kesulitan

dalam

membagi waktu tapi


sejauh ini sih kalau
yang

masalah

sampai

keteteran

itu

enggak,

kalaupun keteteran
enggak, tapi cuman
ya

itu

kayak

istirahatnya kurang.
Gitu-gitu.
Jadi, seperti yang Ini, sekarang
mbak
dulu

lagi Konseli

ceritakan puncak-puncaknya
juga.

mersa

sekarang adalah

Mbak emang tugas yang puncak

dari

kan juga sempet take home ini sih. tugas

yang

mengalami

Tapi kalau sekalinya diterimanya.

masalah

nggak ada tugas ya Ditambah

kekurangan
soalnya
susah

tidur enak. Ee... kalau... banyak

lebih

mbak kalau di bestari kan, banyak

tugas

mengatur ya gimana ya, di kelompok

jadwal. Jadi, mbak organisasi


malam
tidru,
capek.
juga

lagi

susah enaknya
terus

pagi pokoknya

Apakah tanggungan

dari

tu pada

tugas

kalau individu

yang

kalau membuat

klien

udah harus

bisa

sekarang beres kita udah free menyesuaikan

masih

gitu,

merasaknnya?

masih

kalau

yang waktu

bingung

tugas-tugas

dengan

ya teman-temannya
ini yang lain

banyak-banyaknya.
Kayak setiap mata

kuliah tu ada aja


tugas.

Apalagi

tugasnya
kebanyakan
kelompok kan, jadi
kalau

kelompok

kayak project, kita


observasi

kayak

gitu

harus

kan

menyesuaikan
waktu sama tementemen

yang

lain,

nggak

bisa

kita

Cuma,

ee...

apa

mentingin

kita

sendiria.

Bagi

waktunya itu yang


susah antara tugas
kelompok.
Kan mbak banyak Kebanyakan
tugas

kalau Konseli

merasa

kelompok kita bagi kelompok bahwa

teman-

apakah itu teman- kan

yang

aktif teman

teman

cuman

memberikan

itu aja, sementara kurang

konstribusi

yang

maksimal
mereka
mbak
terbebani?

anak-anak kelompoknya
lainnya

ata cuman

itu berkonstribusi

numpang sehingga

malas- nama.

malasan sehingga negur

Kita
juga

mau menambah
temen beban kerja pada

merasa sendiri nggak enak diri


tapi

satu

kalau

konseli.

nggak Tetapi

negur ya kita susah. sendiri


Biasanya
kelompokku
kebanyakan

konseli
enggan

kalau menegur
itu temannya
dari padahal

konseli

lima

anak

yang tahu bahwa apa

ngerjain

cuman yang

dua.

lainnya temannya

Yang

Cuma

dilakukan
itu

salah

konstribusinya kalau
diprosentasikan
sedikit
dibandingkan

kita

berdua.

Nggak

enaknya

tugas

kelompok itu.
Apakah mbak ada Kalau secara tegas Konseli
langkah

untuk bilang

mengingatkan

sih

enggak mengatakan

soalnya

teman bahwa dia tidak

mereka kalau apa sendiri, kita nyindir- menegur secara


yang

mereka nyindir

lakukan itu salah?

halus. tegas

Kadang

mereka temannya

temanyang

ngerasa tapi Cuma tidak


seketika

itu.

kalaupun

Jadi berkonstribusi
kita saat

kerja

kelopokkan lagi itu kelompok.


pasti

kalo

basicnya

udah Konseli

nggak menegur secara

biasa kerja lembur halus


gitu

nggak

enak. temannya

Aku itu tipe orang


yang

lebih

suka

mengerjakan tugas
individu dari pada
kelompok.

Kalo

kelompokkan

kita

nyatuin
ide

beberapa

bareng-bareng

itu susah.

hanya
teman-

Apakah

setiap Aku

orangnya Konseli

kerja

kelompok nggak tegaan . aku mengatakan

mbak

coba tu orangnya nggak bahwa

mengingatkan
atau

bisa marah. Jadi di merupakan

Cuma kelompok

menyindir

dia

itu

ada orang yang tidak

saja aku sama temenku, tega kalau harus

atau pernah sekali temenku


dua kali menegur selalu
secara tegas ?

yang menegur

orang

ngingetin, apalagi

kalau

aku

cuman temannya sendiri

nyindir-nyindir alus,
nggak tegas kayak
temenku.

Aku

basicnya

emang

nggak tegaan sama


temen.
Jadi walaupun di Iya, jadi

kalau

di

orgaisasipun mbak tugas kelompok aku


juga

merasa emang

gitu

nggak tega untuk orangnya


mnegingatkan
temannya

yang

malas

dan

membebani?
Apakah
mbak Sangat,
merasa

karena Konseli

dengan yang punya tugas mengatakan

teman-teman

bukan aku tok, tapi bahwa

mbak yang kurang kita

semua. kurangnya

berkonstribusi

Kalaupun

mempengaruhi

membebani

mbak

dalam soalnya

memanage

satu

waktu ?

yang

konstribusi
pasti teman-temannya

kita

otak
kita

dari dalam

banyak kelompok
pikirin menambah

bukan hanya tugas beban


kelompok.

kerja

Tapi dan

konseli

kalau mereka basic mempengaruhi


nya

begitu.

Udah buruknya

time

sering diingetin juga management


konseli
mencoba, Konseli

Mbak tadi bilang Pernah


bahwa
mulai

sudah kalau

aku

emang mulai

mengatur punya

waktu,

sudah

agenda menerapkan

apakah setiap

tanggal

ini jadwal

untuk

mbak sudah juga apa yang dikerjain setiap

tugas

membuat

harus

skala dulu. Jadi sejauh ini yang

prioritas?

tidak

pernah

ada diselesaikan

tugas

yang

kelewatan.

Cuman

kendalanya
kurang

lelah,

tidur,

kalau

tapi

sampai

kelewatan

tugas

tidak pernah.
Tadi mbak bilang Kadang

pernah, Konseli

sudah menjadwal. pasti

Soalnya mengatakan

Apakah

ya.

mbak kalau

mengerjakan

beruntun

sesuai jadwal atau mungkin


kadang-kadang
juga

langsung

malas Kalaupun

mengerjakan ?

tugasnya bahwa dia belum


nggak bisa menerapkan
kan

kita dengan

kerjain. jadwal
dalam yang

satu hari ada 2, tapi Konseli


kalau

baik
pribadi

dia

buat.
kadang

satunya melanggar

masih bisa dikerjain jadwal


besok.
aku
harusnya

Meskipun telah

yang
dia

buat

jadwalnya dan mengerjakan


hari

itu tugas

di

hari

kadang aku masih selanjutnya yang


kerjain

besok, menyebabkan

asalkan

jangan konseli

samapi

masih

kelewat mengalami

deadline

sih kurang tidur dan

tugasnya.

Jadi kelelahan di pagi

resikonya
kalau

kadang hari

aku

tidur,

harus

besoknya

otomatis
tidur

nggak

kan

sebagai

konsekuensi
Jadi mbak punya Heem.
Membagi
deadline pribadi?

tugas

kuliah,

oragnisasi,

tugas

kelompok

apalagi

itu sudah terjadwal


sih.
Apakah cara yang Kalalu
mbak

kefektifan Konseli

terapkan nggak tau ya, nggak menganggap

sudah

efektif tau aku ngaturnya cara

mengingat

bak tu

kurang

untuk

apa mengatur

wktu

masih mengalami gimana, tapi kadang yang sudah dia


masalah

dalam juga

itu,

time

istirahat

management?

kurang
emmang

waktu terapkan
masih masih

belum

atau dapat

dianggap

tugasnya efektif

kebanyakan. Aku sih


berusaha
semaksimal
mungkin

sih

ngaturnya
sampek

ada

jangan
yang

kelewatan, tapi ya
itu

ini

mengingat

waktu

istirahatnya

kurang,

kayaknya

sih kurang efektif


Jadi mbak merasa Iya..
kalau

itu

kurang

efektif?
Apakah

mbak Kita

pernah

keluhannya Konseli

sama-sama

nggak menganggap

memikirkan

cara bisa

membagi teman-temannya

lain

lebih waktu.

Kalaupun juga

yang

efektif atau mbak mecari


meminta

cara

mengalami

lain masalah

saran sejauh ini ya cuman sama

dari orang lain?

itu

tok

sih

kepikiran.

yang
dengan

yang dia. Dan samaNggak sama

ada cara lain

belum

menemukan cara
yang

efektif

untuk

mengatur

waktu

dengan

baik
Saat

konseling

berlangsung,

pertama-tama

konselor

membangun rapport dengan konseli. Pembangunan rapport


dimulai dari konselor menanyakan kabar konseli yang dibalas
konseli dengan mengatakan bahwa dia merasa kurang baik
karena barus jatuh. Lalu konselor menanggapi dengan berbagai
pertanyaan terkait masalah kecelakaan yang dialami oleh
konseli seperti apakah mbak sudah baik-baik saja dan
apakah mbak sudah ke dokter. Setelah pembangunan
rapport, konselor mulai menanyakan masalah yang diceritakan
oleh klien pada saat asesmen awal. Klien menjawab bahwa dia
masih mengalami masalah dengan manajemen waktu. Setelah
digali lagi, ternyata muncul masalah baru yang menurut
konseli juga berpengaruh terhadap sulitnya dia memanajemen
waktu yaitu teman-teman satu kelompoknya yang kurang

berkonstribusi saat kerja kelompok. Konseli merasa bahwa hal


yang dilakukan oleh teman-temannya tersebut merugikan,
tetapi konseli merasa sungkan menegur karena itu temannya.
Proses konseling yang dilakukan belum memasuki tahap
terminasi dan hanya sampai masalah pengerucutan masalah.
Selama konseling berlangsung konseli bercerita dengan
antusias

dan

lebih

terbuka

dari

pada

saat

asesmen

berlangsung. Konseli menjawab pertanyaan konselor dengan


baik dan sesuai pertanyaan yang diajukan.
IV.

PEMBAHASAN
Konseling yang dilakukan belum sepenuhnya berhasil karena
konseli saat konseling berlangsung bercerita tentang masalah lain
mengenai bagaimana konseli tidak tega menegur temannya yang
tidak mau ikut bekerja saat kerja kelompok. Konseli mengaku
bahwa dirinya memang merupakan orang yang mudah merasa
sungkan jika harus menegur orang lain. hal ini berkaitan dengan
tingkat asertif yang ada dalam diri konseli dimana asertifitas
dalam diri konseli cenderung rendah yang menyebabkan konseli
tidak berani menegur temannya yang salah karena dia merasa
sungkan. Kata asertif sendiri berasal dan bahasa Inggris yaitu
"to

assert"

dengan

yang

berarti positif yaitu menyatakan sesuatu

terus-terang

atau

tegas

serta

bersikap

positif

(Fensterheim dan Baer dalam Syarani, 1995). Menurut Mallot,


dkk (Prabana, 1997), "to assert" artinya sebagai cara menyatakan
sesuatu dengan sopan mengenai hal-hal yang menyenangkan
maupun

yang

dirasa

mengganggu

atau

kurang

berkenan

Sedangkan menurut Ramus dan Nevid (Yogaryjantono,1991) "to


assert" berarti meminta seseorang untuk melakukan sesuatu
dengan

cara

yang

akan

menambah

penghargaan

atau

mengurangi aversi (rasa enggan).


Sedangkan arti asertivitas sendiri menurut Davis (1981) adalah
perilaku yang mengarah langsung kepada tujuan, jujur, terbuka,

penuh percaya diri, dan teguh pendiriannya. Sedangkan menurut


Mulvani

(1989)

perilaku

asertif

adalah

perilaku

pribadi

menyangkut emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, tanpa


perasaan cemas pada orang lain. Taubmaa (Retaaningsih, 1992)
mengartikan

assertiveness

sebagai

ekspresi

dari

perasaan-

perasaan keinginan-keinginan, dan kebutuhan-kebutuhan, belajar


bertindak atas dasar perasaan-perasaan, keinginan-keinginan, dan
kebutuhan- kebutuhan tersebut dan menghormati perasaanperasaan, keinginan-keinginan, dan kebutuhan-kebutuhan orang
lain. Pendapat lain dikemukakan oleh Calhoun (1990) yang
menyatakan bahwa asertivitas berarti bertahan pada hak-hak
pribadi dan mengekspresikan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan,
dan keyakinan secara langsung, jujur, dan tepat. Perilaku asertif
seseorang pada hakekatnya mencakup tiga klasifikasi umum
perilaku, yaitu tepat dalam cara menolak permintaan orang lain,
ekspresi yang tepat dari pikiran-pikiran dan perasaan- perasaan
seria ekspresi yang tepat dari keinginan-keinginan yang dimiliki
(Wood dan Mallinekrodt dalam Prabana, 1997). Menurut Rimm dan
Master (Susanto, 1997) perilaku asertif yaitu suatu perilaku
interpersonal yang berupa pernyataan perasaan yang bersifat
jujur dan relatif langsung. Ada beberapa aspek asertif menurut
Kelly (1997) yaitu :
1.

Permintaan

mengemukakan

haknya

yaitu

kemampuan

sendiri,

meminta

individu

dalam

pertolongan

dan

tanggungjawab orang lain tentang suatu hal;


2.

Penolakan yaitu kemampuan individu untuk menolak

keinginan, ajakan dan saran yang tidak sesuai dengan diri sendiri;
3. Pengekspresian diri yaitu kemampuan individu untuk berani
mengekspresikan perasaan dan pikiran secara tepat;
4.

Pujian yaitu kemampuan individu dalam memberikan

pujian atau penghargaan secara tulus pada orang lain serta sikap
individu yang sewajarnya dalam menerima pujian dari orang lain

5.

Berperan

individu
serta

dalam

pembicaraan

yaitu

kemampuan

untuk memulai atau berinisiatif dalam pembicaraan, ikut


atau

terlibat

sekaligus

dapat

mempertahankan

pembicaraan.
Seperti yang diceritakan oleh konseli, konseli tidak berani
untuk

mengekspresikan

mengemukakan

haknya

perasaan

dirinya

dan

sendiri,

meminta

tidak

berani

pertolongan

dan

tanggungjawab orang lain tentang suatu hal.


Selain

itu

konseli

juga

bercerita

mengenai

masalahnya

mengenai time management yang merupakan masalahnya saat


asesmen awal. Konseli merasa bahwa dia masih mengalami
masalah dalam mengatur waktunya. Manajemen waktu sendiri
menurut

Mulyana

(2004)

merupakan

perencanaan,

pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktifitas


waktu. Sedangkan menurut Forsyth (2009) manajemen waktu
adalah bagaimana membuat waktu menjadi terkendali sehingga
menjamin

terciptanya sebuah efektifitas dan efisiensi juga

produktivitas.

Menurut pendapat Raffoni (2006) manajemen

waktu adalah proses harian yang digunakan untuk membagi


waktu, pembuatan jadwal, daftar hal-hal yang harus dilakukan,
pendelegasian tugas, dan sistem lain yang membantu seseorang
menggunakan waktu secara efektif. Tanpa strategi, visi dan
manajemen

waktu

tidak

akan

membantu

individu

tersebut

mencapai tujuan. Pendapat lain dikemukakan oleh Orr (dalam


Luthfianan,2010)

yang

mengemukakan

manajemen

waktu

merupakan kemampuan menggunakan waktu secara efektif dan


efesien untuk memperoleh manfaat yang maksimal.
Terkait masalah manajemen waktu tersebut, konseli mengaku
sudah mulai memperbaiki diri dengan cara dia membiasakan
untuk menerapkan deadline pribadi saat ada tugas yang diberikan
sehingga tidak terjadi penumpukan tugas dalam satu waktu.
Dengan cara yang telah dilakukan oleh konseli menunjukkan

bahwa konseli sudah mulai menerapkan teknik self management


untuk mengatasi masalah time managementnya. Tetapi konseli
mengaku

bahwa

ia

belum

bisa

menerapkan

perilaku

self

management tersebut dengan maksimal. Dia masih beberapa kali


mengerjakan tugas melewati deadline pribadi yang telah ia
tentukan yang menyebabkan konseli harus terjaga sepanjang
malam karena mengerjakan tugas.
V.

KESIMPULAN
Dari hasil konseling dapat disimpulkan bahwa klien mengalami
masalah dalam hal managemen waktu dan rendahnya tingkat
asertif dalam dirinya. Klien sudah mulai berusaha menerapkan
deadline pribadi dan membuat skala prioritas, tetapi klien
beranggapan

bahwa

cara

tersebut

masih

kurang

efektif.

Sedangkan untuk rendahnya tingkat asertif, kalien masih belum


memiliki cara bagaimana untuk mengatasinya. Karena masih ada
beberapa hal yang belum terselesaikan, maka masih diperlukan
sesi lain untuk menyelesaikan masalah klien.

VI.

LAMPIRAN
A. Verbatim
Pertanyaan
Konselor
Gimana

Jawaban Konseli
mbak Baik

kabarnya hari ini?

sih,

cuma Pembangunan

kemaren habis jatuh rapport


jadi

agak

enak

nggak konseli

sebenernya

beberapa hari ini


dimana Jatuh di jalan mau

Jatuh
mbak?

ke

Bagaimana

Pantai

tiga

warna.
mbak Jalannya licin kan,

kok bisa jatuh?

jadi kalau belok itu,


bonceng
terus

temenku

kita

Terus

jatuh.

temenku

nggak papa, kalau


aku

kemaren

sempet

tanganku

bengkak

sama

nggak

bisa

digerakin

terus

mata juga bengkak.


Sebenrnya

udah

sembuh, tapi kalau


buat bernafas masih
Udah
mbak?

agak nggak enak.


kedokter Udah ke poliklinik
sih,
sama
juga.

Tapi

Interpretasi

minta

obat,

udah
Kemaren

pijet
itu

badan

bener-bener

nggak

bisa

digerakin.
temennya Alhamdulillah nggak

dengan

nggak apa-apa?
papa
Kemaren sempet Kalo nggak masuk
nggak masuk juga enggak sih, soalnya
atau

bagaimana kita kesana sekalian

mbak?

liputan

bestari

sabtu minggu. Jadi


minggunya
ada

masih

free

dan

seninnya kuliahnya
masih malem, jadi
masih bisa istirahat.
kan Alhamdulillah masih Klien

Dulu
mbaknya,

waktu (klien

tertawa) menyatakan

sesi pertama dulu soalnya


mbak

ya

miftah emang

itu bahwa di masih

ngatur mengalami

pernah cerita kalo waktu emang susah masalah


ada
dalam

masalah ya.

Soalnya... manajemen

waktu.. apalagi

kan

udah waktu

time

semester

management.

tugas lagi banyak,

6,

ini

Apakah

mbak terus lagi uts. Kirain

sekarang

masih kalo uts kan, kalo

merasakannya?

dalam

sebelumnya
ngerjain

gitu

ya,

tapi yang semsetr


ini

kebanyakan

tugasnya

take

home,

jadi

nyalin

tugas

itu

bener

bener malah nyita


waktu

lagi,

tugas

lagi.
Kayak dulu mbak ee...
juga cerita susah merasakan
mengatur

kalo Konseli
sih

masih

ya mengalami

waktu masih ya. Soalnya masalah

dalam

antara

ee... kan

organisasi

dua membagi

sama duanya masih aktif. antara

waktu
apakah

juga

kuliah, Kalo

waktu
waktu

dibestari untuk

sekarang sendiri kan emang berorganisasi

juga

masih kita tuas liputannya dengan

merasakan seperti tiap


itu?

bulan,

waktu

jadi kuliah

nggak kayak, kayak


nggak
buat

ada

waktu

free.

Apalagi

saya, aku tu nggak


tau

ya

kebagian

sering
itu

di

rubrik yang emang


kita sering liputan
yang hampir setiap
hari gitu. Kalaupun
nggak

setiap

hari

ada

aja

pasti

kerjaannya. Jadi ya
masih belom bisa...
Apakah mbak juga kalau rubrik sendiri Klien
bisa

menolak kan

kita

rolling menyatakan

apakah emang itu setiap tugas bulan, bahwa


diwajibkan
mbak ?

untuk aku juga nggak tau yang


kenapa
kebagian

tugas
diberikan

sering kepadanya
itu. merupakan tugas

Mungkin karena aku wajib

dan

dia

basic nya disitu apa merasa


bagaimana.

Ya bertanggung

kalau nolak nggak jawab


bisa

karena

tanggung

untuk

udah menyelesaikan
jawab

kan. Nanti enak sih


kalau dibestari itu

sekalian

nambah

pengalaman,

kita

ketemu

orang

orang, Cuma kalau


akhir kahir ini tu lagi
jenuh

aja

sih,

maksudnya

tugas

kuliahnya juga lagi


banyak

kan

semester 6. Belum
mikir

judul

skripsi

kayak kemaren aku


udah cerita. Jadi ya
kadang

kayak

waktunya tu pengen
tidur gitu kan ya.
Makanya

sekarang

juga

masih

ribet

lah.

heh...

Masalah

waktu emang ...


tadi ada masalah Berusaha sih
managemen

ya Konseli

sudah

pinter pinternya aku mulai

waktu, apakah itu membagi

waktu. menerapkan

sudah

mbak Sebenrnya

berusaha

untuk pinter pinternya anu mana tugas yang

mencari solusi?

sih

ee... skala

sering

kayak

ngasih akan
schedule dulu

buat apa yang di


priritasin

pertama

gitu ya, yang belum


deadline

gitu

ya,

kalau

usaha

sih

udah.

Sejauh

ini

meskipun

masih

prioritas
dikerjakan

kesulitan

dalam

membagi waktu tapi


sejauh ini sih kalau
yang

masalah

sampai

keteteran

itu

enggak,

kalaupun keteteran
enggak, tapi cuman
ya

itu

kayak

istirahatnya kurang.
Gitu-gitu.
Jadi, seperti yang Ini, sekarang
mbak
dulu

lagi Konseli

ceritakan puncak-puncaknya
juga.

mersa

sekarang adalah

Mbak emang tugas yang puncak

dari

kan juga sempet take home ini sih. tugas

yang

mengalami

Tapi kalau sekalinya diterimanya.

masalah

nggak ada tugas ya Ditambah

kekurangan
soalnya
susah

tidur enak. Ee... kalau... banyak

lebih

mbak kalau di bestari kan, banyak

tugas

mengatur ya gimana ya, di kelompok

jadwal. Jadi, mbak organisasi


malam
tidru,
capek.
juga

lagi

susah enaknya
terus

pagi pokoknya

Apakah tanggungan

dari

tu pada

tugas

kalau individu

yang

kalau membuat

klien

udah harus

bisa

sekarang beres kita udah free menyesuaikan

masih

gitu,

merasaknnya?

masih

kalau

yang waktu

bingung

tugas-tugas

ya teman-temannya
ini yang lain

banyak-banyaknya.
Kayak setiap mata
kuliah tu ada aja
tugas.
tugasnya
kebanyakan

dengan

Apalagi

kelompok kan, jadi


kalau

kelompok

kayak project, kita


observasi

kayak

gitu

harus

kan

menyesuaikan
waktu sama tementemen

yang

lain,

nggak

bisa

kita

Cuma,

ee...

apa

mentingin

kita

sendiria.

Bagi

waktunya itu yang


susah antara tugas
kelompok.
Kan mbak banyak Kebanyakan
tugas

kalau Konseli

merasa

kelompok kita bagi kelompok bahwa

teman-

apakah itu teman- kan

yang

aktif teman

teman

cuman

memberikan

itu aja, sementara kurang

konstribusi

yang

maksimal
mereka
mbak
terbebani?

anak-anak kelompoknya
lainnya

ata cuman

itu berkonstribusi

numpang sehingga

malas- nama.

malasan sehingga negur

satu

Kita
juga

mau menambah
temen beban kerja pada

merasa sendiri nggak enak diri


tapi

kalau

konseli.

nggak Tetapi

konseli

negur ya kita susah. sendiri


Biasanya
kelompokku
kebanyakan
lima

anak

enggan

kalau menegur
itu temannya
dari padahal

konseli

yang tahu bahwa apa

ngerjain

cuman yang

dua.

lainnya temannya

Cuma

Yang

salah

dilakukan
itu

konstribusinya kalau
diprosentasikan
sedikit
dibandingkan

kita

berdua.

Nggak

enaknya

tugas

kelompok itu.
Apakah mbak ada Kalau secara tegas Konseli
langkah

untuk bilang

mengingatkan

sih

enggak mengatakan

soalnya

teman bahwa dia tidak

mereka kalau apa sendiri, kita nyindir- menegur secara


yang

mereka nyindir

lakukan itu salah?

halus. tegas

Kadang

teman-

mereka temannya

yang

ngerasa tapi Cuma tidak


seketika

itu.

kalaupun

Jadi berkonstribusi
kita saat

kerja

kelopokkan lagi itu kelompok.


pasti

kalo

basicnya

udah Konseli

nggak menegur secara

biasa kerja lembur halus


gitu

hanya

nggak

teman-

enak. temannya

Aku itu tipe orang


yang

lebih

suka

mengerjakan tugas
individu dari pada
kelompok.

Kalo

kelompokkan

kita

nyatuin
ide
Apakah

beberapa

bareng-bareng

itu susah.
setiap Aku
orangnya Konseli

kerja

kelompok nggak tegaan . aku mengatakan

mbak

coba tu orangnya nggak bahwa

mengingatkan

bisa marah. Jadi di merupakan

dia

atau

Cuma kelompok

menyindir

itu

ada orang yang tidak

saja aku sama temenku, tega kalau harus

atau pernah sekali temenku


dua kali menegur selalu
secara tegas ?

yang menegur

orang

ngingetin, apalagi

kalau

aku

cuman temannya sendiri

nyindir-nyindir alus,
nggak tegas kayak
temenku.

Aku

basicnya

emang

nggak tegaan sama


temen.
Jadi walaupun di Iya, jadi

kalau

di

orgaisasipun mbak tugas kelompok aku


juga

merasa emang

gitu

nggak tega untuk orangnya


mnegingatkan
temannya

yang

malas

dan

membebani?
Apakah
mbak Sangat,
merasa

karena Konseli

dengan yang punya tugas mengatakan

teman-teman

bukan aku tok, tapi bahwa

mbak yang kurang kita

semua. kurangnya

berkonstribusi

Kalaupun

mempengaruhi

membebani

mbak

dalam soalnya

memanage

satu

waktu ?

yang

konstribusi
pasti teman-temannya

kita

otak
kita

dari dalam

banyak kelompok
pikirin menambah

bukan hanya tugas beban


kelompok.

kerja

konseli

Tapi dan

kalau mereka basic mempengaruhi


nya

begitu.

Udah buruknya

time

sering diingetin juga management


Mbak tadi bilang Pernah

konseli
mencoba, Konseli

sudah

bahwa
mulai

sudah kalau

aku

emang mulai

mengatur punya

waktu,

agenda menerapkan

apakah setiap

tanggal

ini jadwal

untuk

mbak sudah juga apa yang dikerjain setiap

tugas

membuat

harus

skala dulu. Jadi sejauh ini yang

prioritas?

tidak

pernah

ada diselesaikan

tugas

yang

kelewatan.

Cuman

kendalanya
kurang

lelah,

tidur,

kalau

tapi

sampai

kelewatan

tugas

tidak pernah.
Tadi mbak bilang Kadang

pernah, Konseli

sudah menjadwal. pasti

Soalnya mengatakan

Apakah

ya.

mbak kalau

mengerjakan

beruntun

sesuai jadwal atau mungkin


kadang-kadang
juga

langsung

malas Kalaupun

mengerjakan ?

tugasnya bahwa dia belum


nggak bisa menerapkan
kan

kita dengan

kerjain. jadwal
dalam yang

satu hari ada 2, tapi Konseli


kalau

baik
pribadi

dia

buat.
kadang

satunya melanggar

masih bisa dikerjain jadwal


besok.
aku
harusnya

Meskipun telah

yang
dia

buat

jadwalnya dan mengerjakan


hari

itu tugas

di

hari

kadang aku masih selanjutnya yang


kerjain

besok, menyebabkan

asalkan

jangan konseli

samapi
deadline
tugasnya.
resikonya

masih

kelewat mengalami
sih kurang tidur dan
Jadi kelelahan di pagi
kadang hari

kalau

aku

tidur,

harus

besoknya

otomatis
tidur

nggak

kan

sebagai

konsekuensi
Jadi mbak punya Heem.
Membagi
deadline pribadi?

tugas

kuliah,

oragnisasi,

tugas

kelompok

apalagi

itu sudah terjadwal


sih.
Apakah cara yang Kalalu
mbak

kefektifan Konseli

terapkan nggak tau ya, nggak menganggap

sudah

efektif tau aku ngaturnya cara

mengingat

bak tu

kurang

untuk

apa mengatur

wktu

masih mengalami gimana, tapi kadang yang sudah dia


masalah

dalam juga

itu,

time

istirahat

management?

kurang
emmang

waktu terapkan
masih masih

belum

atau dapat

dianggap

tugasnya efektif

kebanyakan. Aku sih


berusaha
semaksimal
mungkin

sih

ngaturnya
sampek

jangan

ada

yang

kelewatan, tapi ya
itu
waktu
kurang,

mengingat
istirahatnya
kayaknya

sih kurang efektif


Jadi mbak merasa Iya..
kalau

itu

kurang

ini

efektif?
Apakah

mbak Kita

pernah

keluhannya Konseli

sama-sama

nggak menganggap

memikirkan

cara bisa

membagi teman-temannya

lain

lebih waktu.

Kalaupun juga

yang

efektif atau mbak mecari


meminta

cara

mengalami

lain masalah

saran sejauh ini ya cuman sama

dari orang lain?

itu

tok

sih

kepikiran.

yang
dengan

yang dia. Dan samaNggak sama

ada cara lain

belum

menemukan cara
yang

efektif

untuk

mengatur

waktu

dengan

baik
B. LAPORAN HASIL ASESMEN
A. IDENTITAS
1. Identitas Klien
Nama

: Miftha Yuliana

Tempat, Tgl Lahir

: Malang, 24 Juli 1995

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jalan madukara no.28 Ngantang,

Malang
Suku dan Agama

: Jawa / Islam

Pendidikan

: SMA sederajat

Pekerjaan

: Mahasiswa

Status

: Belum menikah

Urutan dalam keluarga : ke 2 dari 2 bersaudara


Hobi / Kegemaran

: Mendengarkan musik, membaca,

Tanggal Pemeriksaan

: Sabtu, 12 Maret 2016

2. Identitas Keluarga
a) Orang tua
Nama

Ayah

Ibu

Sujito

Suprihatin

Umur

59 th

55 th

Alamat

Malang

Malang

S uku Bangs a

Jawa

Jawa

Agama

Islam

Islam

Pendidikan

SMA

S1

Pekerjaan

Wiraswasta

PNS (Guru)

Perkiraan Sosial

Menengah ke atas

menengah

ke

atas
EKonomo
b) Saudara
No Nama
1

Laila
Rahmawati

L/ P Umur Pendidikan
P

Pekerjaa Keteran
n

gan

Pegawai

23 th S1

Honorer

2
3
4
5
B. LATAR BELAKANG KLIEN
1. Pendidikan Klien
Tahun

Tahun

Masuk

Lulus

SDN Kaumrejo 1 Malang

2001

2007

SMP

SMPN

1Malang

2007

2010

SMA

Ngantang
SMAN

1Malang

2010

2013

Malang

2013

Tingkat

Nama Sekolah

SD

Kota

Pergurua Ngantang
n

UMM

Tinggi

2. Pengalaman Kerja

No

Tempat

1.

Bekerja

Jabatan

Tahun

Tahun

Mas uk

Keluar

Keterangan

2.
3.
4.
5.
3. Kegemaran / hobi:
Hobi klien adalah membaca dan mendengarkan musik di
waktu luang
4. Keluhan
Riwayat Keluhan
Merasa tertinggal dari teman-temannya dan Sulit membagi
waktu menyelesaikan tugas kuliah dan organisasi
Riwayat kesehatan
Tidak ada penyakit berat yang diderita klien
Kebiasaan sehari-hari
Kuliah, mengikuti organisasi
5. Keadaan Keluarga
Hubungan klien dengan keluarganya baik. klien dapat
dikatakan

merupakan

anak

dengan

keadaan

ekonomi

menegah ke atas dan hidup secara berkecukupan.


C. Jadwal Assesmen
Hari

& Tempat

Tanggal
Sabtu,
12
2016

Rumah

Maret Klien

Metode

Tujuan

Wawanca Pencarian
ra

&

Observasi

kasus

yang

akan
assesment.
Untuk
mengetahui

di

permasalahan
klien

dan

mengamati
perilaku
keseharian
klien.

D. Kegiatan Asesmen
Observasi
No
1

Observasi
Interpretasi
Klien mengerutkan dahi dan Klien
merasa
berbicara

sambil kesal karena tidak

mengerucutkan

bibir

ketika bisa

membagi

bercerita mengenai susahnya waktu

antara

mengatur waktu pada masa pekerjaan


masa kuliah ini
2

satu

dengan pekerjaan

yang lain
klien beberapa kali tersenyum klien
ketika

membicarakan

temannya

teman- membayangkan
kegiatan-kegiatan
menyenangkan
dengan

teman-

temannya

diluar

pengerjaan tugas
Wawancara
No
1.

Point Verbatim

Intepretasi

Temat

ik
Interviewer : Mungkin subjek merasa Pressur
boleh
mbaknya

tau,

Mungkin tertekan

bisa

cerita dengan

masalahnya apa mbak?


Interviewee :

e
tugas

perkuliahan

Jadi gini dimana

mbak, mbak ninin, saya temanitu kan udah semester 6. temannya

Semseter

kan

udah sudah banyak

mau mau lulus gitu. Saya yang


itu

punya

masalahnya menyelesaikan

gini. Ee salah satu mata sedankan klien


kuliah

saya

Writing

itu

Thesis

belum

menuntut menyelesaikan

saya untuk nyari judul nya


skripsi, sementara saya
itu

masih

belum

kepikiran gitu skripsinya


itu tentang apa. Jadi saya
itu juga bingung suruh
bikin

draft

sementara

temen-temen yang lain


itu sudah punya
2

masing-masing
Selain
tentang

judul
tugas Klien

merasa Stress

Thesis Writing ini, untuk kesulitan


mencari judul ini, saya tu membagi
juga

binging

membagi

waktu

antara waktu

antara

kuliah tugas

satu

kan kalo semster akhir dengan


kan

tugasnya

banget,

tugas

banyak yang

lain,

belum ditambah

presentasi,

lagi

tugas dengan

kelompok, apalagi tugas pengerjaan


kelompok. Saya itu kan tugas
orangnya

yang

cenderung diberikan tidak

gimana ya, lebih suka sesuai dengan


tugas individu ya dari apa

yang

pada kelompok, soalnya diinginkan


kalo kelompokkan ribet, klien
ngumpul sama yang lain,
terus

sharing-sharing

nyesuain
3

jadwal,

rempong banget
Interviewer : terus selain klien

merasa Stress

itu mbak mungkin, apa stress dengan


ada

masalah

selain tugas

hanya

membagi

antara

skripsi

tugas

waktu perkuliahan
sama yang ada dan

kelompok

gitu-gitu.
ada

kayak kegiatan

Apa

mungkin organisasi

masalah

juga yang

dengan membagi waktu diikutinya


dengan organisasi?
Interviewee

: oh iya,

saya itu juga anu apa


saya kan ikut bestari, lha
itu tu juga salah satu ya
salah

satu

kecil

gimana

saya

lah
itu

membagi waktu soalnya


kalau

di

dituntut

bestari

kan

deadline

jadi

kita itu sering ada rapat


terus

apalagi

bestari

itu

sekarang

udah

mau

diklat. Oh iya saya disitu


kan jadi sekretaris jadi tu
tiap

hari

dituntut

kantornya
student

ke

bestari,
Center,

buat

nyari tanda tangan bikin


surat, itu juga salah satu
yang

bikin

bingung

saya

antara

tu

kuliah

terus buat skripsi entar,

terus bestari, jadi saya tu


akhir-akhir ini saya stress
sering

begadang

juga

gitu sih.
E. Deskripsi Hasil Asesmen
Dari hasil asessmen dapat diketahui bahwa klien memiliki
tinggi badan sekitar 155 cm dan berat badan sekitar 50 kg.
Saat bertemu, klien menggunakan baju berwarna hitam dan
celana pendek berwarna coklat muda. Wajah klien terlihat
lelah dan kurang bersemangat. Selama sesi berlangsung
klien banyak menunjukkan ekspresi kesal.
Klien berusia 21 tahun dan belum menikah. Klien
merupakan anak kedua dari 2 bersaudara, Ayahnya bekerja
sebagai Wiraswasta, sedangkan Ibunya bekerja sebagai
seorang guru. Klien berasal dari Malang dan sedang
menempuh pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah
Malang. Klien mengaku selama ini belum pernah mengalami
sakit yang serius hingga harus di rawat di rumah sakit.
Hubungan klien dengan saudara perempuannya sangat
baik, klien bercerita bahwa saudaranya hampir setiap akhir
pekan bermain ke kosnya. Klien mengaku hubungan dengan
kedua orangtuanya juga baik.
Selama sesi berlangsung, klien bercerita bahwa dia
merasa tertekan dikarenakan tugas perkuliahannya dimana
klien

diharuskan

mencari

judul

skripsi.

Klien

merasa

tertinggal diantara teman-temannya karena teman-teman


klien yang lain sudah banyak yang menemukan judul yang
tepat sedangkan klien masih juga belum menemukan judul
yang tepat.
Selain itu klien juga bercerita bahwa dia mengalami
masalah dalam membagi waktu antara tugas satu dengan
tugas lainnya, ditambah lagi dengan kondisi klien yang saat
ini sudah semester 6 dan mulai memikirkan skripsi. Klien

juga

mengaku

dia

tidak

hanya

dibingungkan

dengan

pembagian tugas satu dengan yang lain, tetapi juga


kegiatan organisasi yang saat ini sedang dijalaninya. Klien
merasa posisinya sebagai sekretaris di oragnisasi yang
diikutinya akhir akhir ini menambah beban pikirannya. klien
mengaku hal tersebut menimbulkan stress dalam dirinya.
Selain itu mayoritas tugas yang diberikan oleh para
dosen merupakan tugas kelompok padahal klien merasa
lebih suka mengerjakan tugas secara mandiri. Ketika
ditanya mengenai kenapa lebih suka mengerjakan tugas
secara mandiri, klien menjawab karena pengerjaan tugas
secara kelompok menurut klien malah lebih menghabiskan
waktu dan tenaga dari pada mengerjakan tugas secara
mandiri. Klien merasa kesulitan ketika harus menyatukan
pendapat dari orang orang yang berbeda. Klien juga berkata
bahwa tidak semua temannya enak untuk di ajak bekerja
secara kelompok. Hal tersebut menambah stress dalam diri
klien.
Apa yang dirasakan klien dapat dikaitkan dengan teori
Rice (2002) yang mengatakan bahwa stres adalah suatu
kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan
individu merasa tegang. Stimulus yang dirasakan klien
adalah berupa tekakan dari pikirannya yang merasa bahwa
dia merasa tertingga di antara teman0temannya dan juga
ketidakmampuannya mengatur waktu antara tugas satu dan
tugas lainnya. Selain itu pengerjaan tugas yang tidak sesuai
dengan keinginan klien juga memicu terjadinya stress dalam
diri klien.
Menurut Lazarus & Folkman

(1986)

stressor

dapat

berwujud atau berbentuk fisik (seperti polusi udara) dan


dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial (seperti
interaksi sosial). Pikiran dan perasaan individu sendiri
yang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata
maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.

Menurut Lazarus & Cohen (1977), tiga tipe kejadian yang


dapat menyebabkan stres yaitu:
a.

Daily hassles
berulang-ulang

yaitu kejadian kecil yang terjadi


setiap

hari seperti masalah kerja di

kantor, sekolah dan sebagainya.


b.

Personal stressor yaitu ancaman atau gangguan


yang

lebih

kuat

atau kehilangan besar terhadap

sesuatu yang terjadi pada level individual seperti


kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan,
masalah keuangan dan masalah pribadi lainnya.
Penyebab stress yang dirasakan klien adalah berawal
dari pikiran dan perasaan klien yang merasa bahwa dirinya
tertinggal

dari

pada

teman-temannya

yang

lain

dan

perasaan tidak mampunya dalam mengatur waktu dengan


baik. Selain itu kejadian yang menyebabkan stress pada
klien adalah kejadian daily hassles dimana kejadian itu
merupakan kejadian kecil yang berulang ulang. Kejadian
tersebut adalah berupa masalah dalam hal pembagian
waktu dalam pengerjaan tugas dan kegiatan perkuliahan
lainnya.
Stress

yang

dirasakan

klien

akibat

dari

susahnya

mengatur waktu tersebut klien seringkali merasa sulit tidur


sehinigga ketika menjalani kegiatan di pagi hari sering
merasa kelelahan. itu sejalan dengan pernyataan Setye
(dalam Sarafino, 2006) yang menyatakan bahwa terdiri
atas rangkaian tahapan reaksi fisiologis terhadap stressor
yaitu:
1. Fase reaksi yang mengejutkan ( alarm reaction )
Pada fase ini individu secara fisiologis merasakan
adanya ketidakberesan seperti jantungnya berdegup,
keluar keringat dingin, muka pucat, leher tegang,
nadi

bergerak

cepat

dan

sebagainya.

Fase

merupakan pertanda awal orang terkena stres.


2. Fase perlawanan (Stage of Resistence )

ini

Pada fase ini tubuh membuat mekanisme perlawanan


pada stres, sebab pada tingkat tertentu, stres akan
membahayakan. Tubuh dapat mengalami disfungsi,
bila stres dibiarkan berlarut-larut
3. Fase Keletihan ( Stage of Exhaustion )
Fase disaat orang sudah tak mampu lagi melakukan
perlawanan. Akibat yang parah bila seseorang sampai
pada fase ini adalah penyakit yang dapat menyerang
bagian - bagian tubuh yang lemah.
Klien saat ini sudah memasuki fase keletihan dimana
klien selalu merasa lelah dalam melakukan aktivitasnya di
pagi hari karena klien merasa sulit tidur pada malam hari.
Sedangkan dalam aspek psikologis stress yang dialami oleh
klien mempengaruhi hubungan sosialnya dengan temanteman saat mengerjakan tugas. Tetapi di luar pengerjaan
tugas klien mengaku hubungan dengan teman-temannya
baik-baik saja dan klien merasa nyaman dengan temantemannya.
F. Kesimpulan
Dari hasil data yang didapatkan dapat disimpulkan
bahwa klien mengalami stress, maka dari itu pendekatan
yang

dapat

digunakan

adalah

dengan

memulai

memperkenalkan klien cara menggunakan coping stress


yang baik agar stress yang dialami klien tidak memburuk

Daftar Pustaka
Sanyata, S. (2012). Teori dan Aplikasi Pendekatan Behavioristik dalam
Konseling. Jurnal Paradigma .
Mulyadi, Agus. 2003. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional
Winkel, W.S. 2005. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Edisi
Revisi. Jakarta: Gramedia

Anda mungkin juga menyukai