Anda di halaman 1dari 6

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No.

X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)

KLASIFIKASI KEMIRINGAN LERENG DENGAN


MENGGUNAKAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
GEOGRAFIS SEBAGAI EVALUASI KESESUAIAN LANDASAN
PEMUKIMAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG TATA
RUANG DAN METODE FUZZY
(Studi Kasus: Donggala, Sulawesi Tengah)
Mega Wahyu Syah, Teguh Hariyanto
Jurusan Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
Email : teguh_hr@geodesy.its.ac.id
Abstrak Donggala adalah salah satu kota yang berada di
wilayah Propinsi Sulawesi Tengah yang memiliki luas wilayah
sebesar 5,275.69 km2 yang memiliki tingkat kemiringan lereng
yang bervariasi. Menurut Undang-Undang Tata Ruang yang
dibuat oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
(Kimpraswil), kemiringan lereng dibagi menjadi beberapa kelas
yaitu datar (0-8 %), landai (8-15 %), agak curam (15-25 %),
curam (25-45 %), dan sangat curam ( 45 %). Lahan yang
diperbolehkan untuk berdirinya kawasan permukiman adalah
lahan yang memiliki topografi datar sampai bergelombang yakni
lahan yang memiliki kemiringan lereng 0-25 %.

Kelas kemiringan lereng yang dibagi menurut UndangUndang Tata Ruang memiliki ketidakpastian yang
disebabkan oleh ketidaksempurnaan dalam pengambilan
sumber data atau interpretasi data. Untuk mengurangi
masalah ketidakpastian tersebut dapat digunakan metode
fuzzy yang memiliki nilai interval 0 sampai 1. Berdasarkan
penelitian, klasifikasi logika fuzzy menunjukkan hal yang
berbeda dengan hasil klasifikasi berdasarkan UndangUndang Tata ruang. Metode Fuzzy menunjukkan bahwa
tingkat pelanggaran pendirian permukiman lebih sedikit.
Kelas kemiringan lereng dengan nilai pasti dibagi menjadi
(0-4,5)%, (8-15)%, (18,5-21,5)%, (28,5-41,5)%, dan
(>48,5)%.
Peta 3D merupakan hasil konversi data kontur ke format
TIN. Visualisai 3D diperoleh dari representasi citra Ikonos
yang dioverlay dengan TIN.
Kata Kunci : Donggala, Kemiringan Lereng, Undang-Undang
Tata ruang, Metode Fuzzy, SIG 3D

lereng dibagi menjadi beberapa kelas yaitu datar (0-8 %),


landai (8-15 %), agak curam (15-25 %), curam (25-45 %),
dan sangat curam ( 45 %). Lahan yang diperbolehkan
untuk berdirinya kawasan permukiman adalah lahan yang
memiliki topografi datar sampai bergelombang yakni lahan
yang memiliki kemiringan lereng 0-25 % (Departemen
Kimpraswil, 2007).
Untuk mengklasifikasikan kelas kemiringan lereng
diperlukan suatu informasi geografis. Informasi geografis
merupakan informasi mengenai tempat-tempat yang terletak
di permukaan bumi, pengetahuan mengenai posisi dimana
suatu objek terletak di permukaan bumi dan informasi
mengenai keterangan-keterangan (atribut) yang terdapat di
permukaan bumi yang posisinya diketahui. Semuanya
dirangkai dalam suatu sistem yang disebut Sistem Informasi
Geografis atau yang lebih dikenal dengan istilah SIG.
Dengan SIG akan lebih mudah untuk mengklasifikasikan
kelas kemiringan lereng dan memberi informasi mengenai
permukiman yang melanggar kaidah yang berlaku. Dan
untuk menginterpretasikan hasil dapat dilakukan melalui
visualisasi 3D.
Ketidaksempurnaan dalam pengambilan sumber data atau
interpretasi data dapat mengakibatkan ketidakpastian model
yang ditampilkan dari data SIG. Jika ketidakpastian semakin
besar, maka informasi yang diperoleh akan semakin tidak
realistik. Untuk mengurangi masalah ketidakpastian tersebut
dapat digunakan pendekatan dengan metode Fuzzy. Logika
Fuzzy merupakan pengembangan dari logika Boolean.
Logika Fuzzy menyatakan segala hal diekspresikan dalam
istilah derajat keanggotaan.

I. PENDAHULUAN
Kota Donggala adalah salah satu kota yang berada di
wilayah Propinsi Sulawesi Tengah yang memiliki luas
wilayah sebesar 5,275.69 km2. Seperti wilayah Sulawesi
Tengah pada umumnya yang berupa pegunungan dan
dataran tinggi, kota ini memiliki kontur yang cukup
bervariasi dengan berbagai kelas kemiringan lereng. Kelas
kemiringan lereng sangat bervariasi dari kategori datar
sampai sangat curam dimana masing-masing kelas memilik
fungsi yang berbeda. Hanya pada kemiringan tertentu yang
bisa dijadikan sebagai permukiman. Tetapi, ada beberapa
rumah atau permukiman di kota ini yang dibangun di atas
lahan pada kemiringan yang di atasnya tidak diperbolehkan
pendirian suatu permukiman (BPS Donggala, 2009).
Pembangunan perumahan dan pemukiman harus memenuhi
standar yang telah ditetapkan, salah satunya harus
memperhatikan kemiringan lereng yang ada. Kemiringan

A. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah tugas akhir ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana mengklasifikasikan lahan berdasarkan
kemiringan lereng?
2. Bagaimana memetakan lahan permukiman Kota
Donggala yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor
26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang?
3. Bagaimana memetakan lahan permukiman Kota
Donggala berdasarkan metode Fuzzy?
4. Bagaimana membentuk SIG 3D yang berisi informasi
mengenai informasi mengenai kemiringan lereng?
B. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam tugas akhir ini adalah
sebagai berikut:

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
1. Data yang digunakan adalah peta RBI Kota Donggala
skala 1 : 25000 dalam bentuk digital, citra IKONOS
Kabupaten Donggala tanggal 22 Juni 2007, dan data
kemiringan lereng
2. Analisis meliputi klasifikasi kemiringan lereng dan
kesesuaian lahan berdasarkan Undang-Undang Nomor
26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang dan metode
fuzzy
3. Pemodelan 3 dimensi hanya digunakan untuk
mengetahui lokasi kemiringan lereng

Perangkat Lunak (Software)


Sistem operasi windows 7 ultimate
Microsoft Word Office 2007
Microsoft Excel 2007
Matlab 7.0.1
ArcGIS 9.3

C. Tahapan Kegiatan Penelitian


Pada penelitian, kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
Identifikasi Masalah

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan aplikasi SIG untuk mengklasifikasikan
kemiringan lereng dan kesesuaian lahan untuk
permukiman berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang
2. Mengklasifikasikan kemiringan lereng berdasarkan
Metode Fuzzy
3. Membuat peta 3 dimensi kemiringan lereng Kabupaten
Donggala
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah
diperolehnya suatu SIG lahan permukiman berdasarkan
kelas kemiringan lereng sehingga dapat dilakukan evaluasi
terhadap kelayakan berdirinya bangunan atau permukiman
yang ada di Kabupaten Donggala.

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Pengolahan Data

Kemiringan lereng

Peta 3D

Analisa Data

II. METODOLOGI PENELITIAN


A. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini mengambil daerah studi di kota
Donggala, Sulawesi Tengah dengan koordinat 119 50
46,06 - 119 57 19,02 BT dan 0 2 15,57 LU - 0 6
57,29 LS

Pelanggaran
Pendiriam
Permukiman

Perbandingan Hasil
Metode Fuzzy dengan
UU Tata Ruang

Penyusunan Laporan

Gambar 2. Diagram Alir Kegiatan Penelitian

Gambar 1. Peta Donggala Skala 1: 25000


B. Data dan Peralatan
1) Data
Peta RBI Kota Donggala skala 1 : 25000 dalam
bentuk digital
Citra IKONOS Kota Donggala tanggal 22 Juni
2007
2) Peralatan
Perangkat Keras (Hardwere)
Laptop
Printer

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
D. Tahap Pengolahan Data

Peta RBI 1
:25000

4.

Data kontur yang diperoleh belum memiliki nialai


elevasi, maka dilakukan editing kontur dengan
memasukkan nilai elevasi
5. Kontur yang telah mempunyai nilai elevasi
kemudian diconvert ke format raster untuk
pembuatan TIN dan slope\
6. TIN yang telah terbentuk dapat direpresentasikan
dalam bentuk 3D dengan menggunakan ArcScene
7. Reklasifikasi kemiringan lereng dibagi menjadi dua
yaitu dengan berdasarkan Undang-Undang Tata
Ruang dan dengan logika Fuzzy
8. Setelah dilakukan reklasifikasi akan terbentuk Peta
Kriteria Kesesuaian Lahan Terklasifikasi
9. Selanjutnya dilakukan analisa kesesuaian lahan
terhadap kemiringan lereng, terjadi pelanggaran
atau tidak
10. Hasil klasifikasi kemiringan lereng berdasarkan
Undang-Undang Tata ruang dengan Metode Fuzzy
memiliki perbedaan maka diperlukan suatu analisis
untuk memperoleh data yang lebih akurat
11. Setelah proses analisis selesai maka akan diperoleh
suatu SIG kemiringan lereng dan evaluasi
kesesuaian lahan

Undang-Undang
Tata Ruang

Citra
IKONOS

Overlay

Proyeksi dan Transformasi

Editing Kontur

Convert ke raster

Pembuatan TIN

Slope

III. ANALISIS

Peta 3D Kabupaten
Donggala

Reklasifikasi berdasarkan
metode Fuzzy

Reklasifikasi berdasarkan
UU Tata Ruang

A. Hasil Peta
1. Peta Klasifikasi Kemiringan Lereng Kabupaten
Donggala Berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang

Peta Kriteria Kesesuaian


Lahan Terklasifikasi

Analisa kesesuaian lahan

Analisa perbedaan hasil


UU Tata Ruang dengan
metode Fuzzy

Gambar 4. Peta Klasifikasi Kemiringan Lereng Kabupaten


Donggala Berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang
Peta kemiringan lereng berdasarkan kelas Undangundang dibagi menjadi lima kelas yaitu datar (0-8)%,
landai (8-15)%, agak curam (15-25)%, curam (2545)%, dan sangat curam (>45)%.

SIG Kemiringan lereng


dan evaluasi kesesuaian
lahan

Gambar 3. Tahap Pengolahan Data


1.

2.
3.

Peta yang digunakan adalah Peta kabupaten


Donggala skala 1:25000 dalam bentuk digital dan
citra IKONOS Kota Donggala tanggal 22 Juni
2007, selain itu juga diperlukan Undang-Undang
Tata Ruang mengenai kawasan peruntukan
permukiman sebagai acuan penelitian
Peta RBI dan citra IKONOS kemudian di overlay
pada ArcGIS
Layer peta yang diperoleh belum semuanya
memiliki proyeksi dan transformasi yang sama,
maka dilakukan proyeksi UTM dengan sistem
referensi WGS 84 zona 50S

2.

Peta Klasifikasi Kemiringan Lereng Kabupaten


Donggala Dengan Menggunakan Metode Fuzzy

Gambar 5. Peta Klasifikasi Kemiringan Lereng Kabupaten


Donggala Dengan Menggunakan Metode Fuzzy

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
Peta kemiringan lereng berdasarkan logika fuzzy
dibagi menjadi sepuluh kelas yaitu anggota yang
memiliki nilai antara 0 dan 1, untuk yang memiliki
nilai 1 atau nilai pasti dibagi menjadi datar (0-4,5)%,
landai (8-15)%, agak curam (18,5-21,5)%, curam
(28,5-41,5)%, dan sangat curam (>48,5)%.
3.

6.

Peta 3D Klasifikasi Kemiringan Lereng Donggala


Berdasarkan Metode Fuzzy

TIN Kabupaten Donggala

Gambar 9. Peta 3D Klasifikasi Kemiringan Lereng


Donggala Berdasarkan Metode Fuzzy
B. Analisis Klasifikasi Kemiringan Lereng Berdasarkan
Undang-Undang Tata Ruang
Gambar 6. TIN Donggala
TIN diperoleh dari data raster hasil klasifikasi dari
kontur. TIN nampak secara 3D dan selanjutnya diolah
melalui ArcScene.
4.

Peta 3D Kabupaten Donggala

Berdasarkan hasil klasifikasi kemiringan lereng yang


mengacu pada Undang-Undang Tata Ruang, pelanggaran
pendirian permukiman lebih banyak terjadi di sebelah utara
yakni pusat kota dan daerah pinggiran pantai yang
merupakan daerah yang mengalami pertumbuhan
pembangunan lebih cepat.
Pelanggaran terbanyak terdapat di Kelurahan Gunung Bale
dengan jumlah 62 persil bangunan.
Tabel 1. Tingkat Pelanggaran Pendirian Bangunan
berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng Undang-Undang
Tata Ruang
No Nama Kelurahan Prosentase Pelanggaran (%)

Gambar 7. Peta 3D Donggala


Peta 3D merupakan hasil gabungan dari TIN dengan
citra Ikonos, dimana citra Ikonos dicerminkan
terhadap peta 3D dari TIN sehingga nampak
mendekati bentuk aslinya.
5.

Peta 3D Klasifikasi Kemiringan Lereng Donggala


Berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang

Gambar 8. Peta 3D Klasifikasi Kemiringan Lereng


Donggala Berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang

Boneoge

0,867

Boya

3,079

Ganti

2,362

Gunung Bale

11,940

Kabonga Besar

9,200

Kabonga Kecil

0,000

Kolakola

0,000

Labuan Bajo

3,535

Limboro

0,000

10

Lumbudolo

0,000

11

Maleni

5,755

12

Salulomba

0,000

13

Tanjung Batu

18,014

14

Towale

0,000

Tabel 1 menunjukkan prosentase pelanggaran yang ada di


Donggala. Prosentase dilakukan dengan perhitungan
perbandingan jumlah bangunan yang ada pada kemiringan
yang tidak diperbolehkan dengan jumlah bangunan
keseluruhan
yang
ada
pada
masing-masing
kelurahan.Prosentase pelanggaran terbesar ada di Kelurahan
Tanjung Batu dengan 18,014%.
C. Analisa Klasifikasi Kemiringan Lereng Berdasarkan
Metode Fuzzy
Derajat keanggotaan yang ada pada logika Fuzzy berada
pada interval 0 sampai 1. Dan bentuk paling sederhana

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
untuk pendekatan suatu konsep yang kurang jelas adalah
dengan representasi linier. Untuk perhitungan klasifikasi
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Fungsi keanggotaan untuk lahan datar
1, 4.5
M datar (x) = f(x) =

, 4.5

0,

11.5

11.5

, 11.5

18.5

3) Fungsi keanggotaan untuk lahan agak curam


,
.
M agakcuram (x)=f(x)=

4) Fungsi keanggotaan untuk lahan curam


,
.
M curam (x) = f(x) =

.
.

IV. PENUTUP
.

.
.
.

5) Fungsi keanggotaan untuk lahan sangat curam


0, 41,5
, 41,5 48.5
M sangat curam(x)=f(x)=
1,

48.5

Berikut adalah jumlah pelanggaran pendirian bangunan dari


hasil klasifikasi kemiringan lereng berdasarkan metode
Fuzzy.
Tabel 2. Tingkat Pelanggaran Pendirian Bangunan
berdasarkan klasifikasi kemiringan lereng Metode Fuzzy
No

Nama Kelurahan

Prosentase Pelanggaran (%)

Boneoge

0,289

Boya

0,648

Ganti

1,312

Gunung Bale

10,199

Kabonga Besar

4,400

Kabonga Kecil

0,000

Kolakola

0,000

Labuan Bajo

1,010

Limboro

0,000

10

Lumbudolo

0,000

11

Maleni

3,597

12

Salulomba

0,000

13

Tanjung Batu

11,778

14

Towale

0,000

Tabel 2 menunjukkan prosentase dengan metode fuzzy.


Hasil diperoleh dengan mengambil nilai-nilai yang pasti
dalam himpunan fuzzy. Prosentase pelanggaran terbesar ada
di Kelurahan Tanjung Batu dengan 11,778%.
D. Peta 3 Dimensi
Peta kemiringan lereng mengenai tingkat kecuraman dan
kelayakan untuk lahan permukiman direpresentasikan
dengan data visual 3D dalam bentuk TIN. Analisis 3D
dipengaruhi oleh besarnya ukuran pixel yang diberikan pada
saat rendering. Bila ukuran pixel yang diberikan besar maka
tingkat ketelitian akan lebih kecil dan apabila ukuran pixel
yang diberikan kecil maka tingkat ketelitian akan semakin
tinggi.

2) Fungsi keanggotaan untuk lahan landai


0, 8 atau x 15
, 8 11.5
M landai (x)= f(x) =
.

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan Undang-Undang Tata Ruang,
klasifikasi
kemiringan
lereng
Kabupaten
Donggala dibagi menjadi 5 kelas dengan tingkat
kemiringan (0-8)%, (8-15)%, (15-25)%, (2545)%, dan (>45)%. Sedangkan menurut metode
Fuzzy klasifikasi kemiringan lereng dibagi
berdasarkan nilai anggota antara 0 sampai 1, dan
untuk anggota yang memiliki nialai 1 atau nilai
pasti dibagi menjadi (0-4,5)%, (8-15)%, (18,521,5)%, (28,5-41,5)%, dan (>48,5)%. Sedangkan
kelas yang lain merupakan kelas peralihan.
2. Klasifikasi kemiringan lereng berdasarkan
Undang-Undang menunjukkan bahwa tingkat
pelanggaran pendirian permukiman terbanyak
berada pada kelurahan Tanjung Batu dengan
18,014%, kemudian kelurahan Gunung Bale
dengan 11,94% dan kelurahan Maleni dengan
5,755%.
3. Klasifikasi kemiringan lereng berdasarkan
Metode Fuzzy
menunjukkan bahwa tingkat
pelanggaran pendirian permukiman terbanyak
berada pada kelurahan Tanjung Batu dengan
11,778%, kemudian kelurahan Gunung Bale
dengan 10,199% dan kelurahan Kabonga Besar
dengan 4,4%.
4. Untuk merepresentasikan topografi secara 3D
pada SIG diperlukan data berupa kontur atau titktitik yang mewakili ketinggian sebenarnya di
lapangan dan untuk pemodelan bangunan
diperlukan data mengenai tinggi bangunan agar
diperoleh model yang mendekati keadaan
sebenarnya.
B. Saran
1) Penelitian ini dapat ditindak lanjuti dengan
penelitian jenis batuan dan tingkat erosi sehingga
dapat diprediksi lokasi-lokasi yang rawan terhadap
bencana tanah longsor
2) Penelitian dengan menggunakan metode Fuzzy
lebih ditingkatkan karena metode ini menggunakan
representasi linier sehingga hasilnya bisa
meminimalisir kesalahan yang disebabkan ketidak
sempurnaan pengambilan sumber data atau
interpretasi data.

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. X, No. X, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
3) Pemerintah
daerah
seharusnya
lebih
memperhatikan perkembangan permukiman yang
ada, jangan sampai pendirian bangunan berada
pada tempat yang tidak seharusnya.
4) Adanya tindakan tegas pemerintah daerah terhadap
pendirian permukiman yang berada pada
kemiringan lereng yang tidak boleh digunakan
sebagai landasan permukiman.
DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]
[8]

[9]

[10]

[11]

[12]

[13]

[14]
[15]

Anonim. 2011. Inspektorat Daerah Propinsi


Sulawesi
Tengah.
<URL:
http://inspektorat.sulteng.go.id/index.php?option=c
om_content&view=article&id=62&Itemid=72>
Dikunjungi pada tanggal 27 September 2012, jam
09.12
Aronoff, Stan, 1989, Geographic Information
System : A Management Perpective. Ottawa:
WDL Publications
Arsyad, S. 2000. Konservasi Tanah dan Air.
Cetakan Ketiga. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Press.
Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum.
2007. Kriteria teknis penataan ruang Kawasan
Budidaya
Burrough, P. 1986. Principle of Geographical
Information System for Land Resources
Assesment. New York: Oxford Claredon Press.
BPS Donggala, 2009. Keadaan Geografi
Kabupaten
Donggala,.
<URL:
http://donggalakab.bps.go.id/index.php/geografi/19
-keadaan-geografi-kabupaten-donggala>
ESRI. 2006. ArcGIS 9: Using ArcGIS Desktop.
New York: ESRI United States of America
Herman. Eden, J. dan Marnas, A. 2005. Aplkasi
Ekstensi 3D Analyst Arc GIS 9 Dalam Visualisasi
3D Berbasis SIG Kota Jakarta. Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember
Jetten, Victor. 2007. The LISEM Model. <URL :
http://www.erochina.alterra.nl/Lisem_2.htm#image
s> Dikunjungi pada tanggal 28 Mei 2012, jam
20.17
Kainz, W. 2005. Fuzzy Logic ang GIS. Vienna:
Department of Geography and Research University
of Vienna
Kastaman, R., Kendarto, D. R., dan Nugraha, S.
2007. Penggunaan Metode Fuzzy Dalam
Penentuan Lahan Kritis Dengan Menggunakan
Sistem Informasi Geografis Di Daerah Subdas
Cipeles. Bandung : Jurusan Teknik & Manajemen
Industri Pertanian Universitas Padjadjaran
Khomsin. 2004. Buku Ajar Pemetaan Digital.
Surabaya : Teknik Geomatika Institut Teknologi
Sepuluh Nopember
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional.
Peraturan Presiden RI No.88 Tahun 2001 Tentang
Rencana Tata Ruang Pulau Sulawesi
Prahasta, E. 2005. Sistem Informasi Geografis.
Bandung: Informatika

[16]

[17]

[18]

[19]

[20]

[21]

[22]

[23]

[24]

[25]

[26]

[27]
[28]
[29]

[30]

Prahasta, E. 2006. Membangun Aplikasi Webbased GIS dengan Map Server. Bandung:
Informatika
Rozak, A. 2009. Pemanfaatan Aplikasi Google
Maps API Sebagai Dasar Perancangan SIG
Berbasis Web. Surabaya : Teknik Geomatika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Salim, E.H. 1998. Pengelolaan Tanah. Bandung:
Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Padjadjaran.
Saribun, D. S. 2007. Pengaruh Jenis Penggunaan
Lahan Dan Kelas Kemiringan Lereng Terhadap
Bobot Isi, Porositas Total, Dan Kadar Air Tanah
Pada Sub-Das Cikapundung Hulu. Bandung :
Jurusan Ilmu Tanah Universitas Padjadjaran
Star, J. dan Etes, J. 1990, Geography Information
System : An Introduction, Prentice-Hall,
Inc.,Engglewood Cliffs, New Jersey.
Sukamyadi, D. 2000. Model Penyajian Informasi
Geo-spasial 3D di Bakosurtanal. Prosiding Forum
Ilmiah Tahunan Ikatan Surveyor Indonesia Tahun
2000
Sutanta, H. 2008. Model Kota 3 Dimensi
Kawasan Simpang Lima Untuk Eksplorasi Kota
secara Virtual. Media Teknik No.4 Tahun XXX
Edisi Nopember 2008 ISSN 0216-3012
Susetyo, Y. A. Pakereng, M. A. I. dan Prasetyo, S.
Y. J. 2011. Pembangunan Sistem Zona Arkeologi
(ZAE) menggunakan Logika Fuzzy pada Wilayah
Pertanian Kabupaten Semarang Berbasis Data
Spasial. Salatiga : Universitas Kristen Satya
Wacana
Tate, Eric. 1998. Photogrammetry Applications In
Digital Terrain Modeling And Floodplain Mapping
<URL
:
http://www.ce.utexas.edu/prof/maidment/grad/tate/
study/remote/termproj.html> Dikunjungi pada
tanggal 25 Mei 2012, jam 02.35
Terribilini, A. 1999. Maps in Transition:
Development of Interactive Vector Based
Topographic 3D Map. Proceeding 19th
International Cartographic Conference and 11th
General Assembly of International Cartographic
Association: Ottawa
Undang-Undang RI No.4 Tahun 1992 tentang
Permukiman dan Perumahan. Jakarta : Kantor
Sekretariat Negara
Undang-Undang RI N0.26 Tahun 2007 Tentang
Penataan Ruang
Zadeh, L. A. 1965. Fuzzy Sets, Information
Control, vol. 8, pp. 338-353
Yuwono. 2004. Pendidikan dan Pelatihan
(DIKLAT) Teknis Pengukuran dan Pemetaan
Kota. Surabaya: Teknik Geomatika Institut
Teknologi Sepuluh Nopember
Zhou, Q. Lees, B. dan Tang, G. 2008. Advances
in Digital Terrain Analysis. Berlin: SpringerVerlag Berlin Heidelberg