Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........


DAFTAR ISI .......
BAB I PENDAHULUAN........
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................3
2.1 Asphyxia
2.1.1 Pengertian asphyxia
2.1.2 Patologi post mortem..
2.1.3 Stadium asphyxia.
2.1.4 Kelainan pada otopsi..
2.1.5 Penyebab asphyxia.
2.1.6 Asfiksia mekanik..
2.1.6.1 Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas.
2.1.6.1.1 Pembekapan (smothering).
2.1.6.1.2 Penyumbatan (gagging dan choking) ..
2.1.6.2 Penekanan dinding saluran pernafasan
2.1.6.2.1 Penjeratan (strangulation) . .
2.1.6.2.2 Pencekikan (manual strangulation) ....
2.1.6.2.3 Gantung (hanging) .
2.1.6.2.4 Inhalation of suffocating gasses ...................................
2.1.7 Asfiksia traumatik.
2.1.7.1Tenggelam.........

i
1
2
3
3
3
4
5
6
6
6
6
7
7
7
8
9
11
11
11

BAB 1
PENDAHULUAN
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang
melalui pengamatan terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan itu
akan terjadi dari mulai terhentinya suplai oksigen. Manifestasinya akan dapat dilihat
setelah beberapa menit, jam dan seterusnya. Terhentinya suplai oksigen bisa juga
menjadi penyebab kematian. Hal ini disebabkan karena adanya hambatan masuknya
oksigen ke dalam sistem respirasi. Hambatan ini juga akan berakibat terganggunya
pengeluaran karbon dioksida dari tubuh sehingga kadarnya dalm darah meningkat.
Keadaan dimana terjadi gangguan dalam pertukaran udara pernafasan yang normal
disebut asfiksia. Asfiksia yang paling sering dijumpai di dalam kasus tindak pidana yaitu
asfiksia mekanik, dimana terjadi obstruksi saluran pernafasan secara mekanik.
Asfiksia dalam bahasa Indonesia disebut dengan mati lemas. Sebenarnya
pemakaian kata asfiksia tidaklah tepat, sebab kata asfiksia ini berasal dari bahasa
Yunani, menyebutkan bahwa asfiksia berarti absence of pulse ( tidak berdenyut),
sedangkan pada kematian karena asfiksia, nadi sebenarnya masih dapat berdenyut
untuk beberapa menit setelah pernapasan berhenti. Istilah yang tepat secara
terminologi kedokteran ialah anoksia atau hipoksia.
Afiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernafasan terhalang
memasuki saluran pernafasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik).
Gangguan tersebut dapat disebabkan karena adanya obstruksi pada saluran
pernapasan dan gangguan yang diakibatkan karena terhentinya sirkulasi. Kedua
gangguan tersebut akan menimbulkan suatu keadaan dimana oksigen dalam darah
berkurang (hipoksia) yang disertai dengan peningkatan kadar karbondioksida
(hiperkapnea). Keadaan ini jika terus dibiarkan dapat menyebabkan terjadinya
kematian. Asfiksia merupakan penyebab kematian terbanyak yang ditemukan dalam
kasus kedokteran forensik. Asfiksia mekanik yang cukup banyak adalah penggantungan
(hanging). Hanging sering dilakukan dalam usaha bunuh diri, tetapi ada juga
pembunuhan dengan cara korban digantung. Asfiksia jenis inilah yang paling sering
dijumpai dalam kasus tindak pidana yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia.
Asfiksia jenis inilah yang paling sering dijumpai dalam kasus tindak pidana yang
menyangkut tubuh dan nyawa manusia.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Asphyxia
2.1.1 Pengertian asphyxia
Asphyxia adalah suatu keadaan terjadinya kekurangan oksigen yang
disebabkan karena terganggunya saluran pernapasan. Secara physiologis anoxia ialah
kegagalan oksigen mencapai sel-sel tubuh dan mengakibatkan persediaan oksigen
pada jaringan tubuh berkurang sampai di bawah batas minimum keperluan untuk hidup.
2.1.2 Macam-macam
Secara fisiologis dapat dibedakan empat bentuk asfiksia (sering disebut
anoksia) :
1. Anoksia anoksik (anoxic anoxia)
Keadaan ini diibaratkan dengan tidak atau kurang pemasokan oksigen untuk
keperluan tubuh. Pada tipe ini O2 tidak dapat masuk ke dalam paru-paru karena :
a. Tidak ada atau tidak cukup O2 bernafas dalam ruangan tertutup, kepala
ditutupi kantong plastik, udara yang kotor atau busuk, udara lembab, bernafas
dalam selokan tertutup atau di pegunungan yang tinggi. Ini disebut asfiksia
murni (suffocation)
b. Hambatan mekanik dari luar maupun dari dalam jalan nafas seperti
pembekapan, gantung diri, penjeratan, pencekikan, pemitingan atau korpus
alienum dalam tenggorokan. Ini disebut sebagai asfiksia mekanik (mechanical
asphyxia)
2. Anoksia anemia (anaemic anoxia)
Dimana tidak cukup hemoglobin untuk membawa oksigen. Ini didapatkan pada
Anemi berat dengan pendarahan yang tiba-tiba.
3. Anoksia hambatan (stagnant anoxia)
Tidak lancarnya sirkulasi darah yang membawa oksigen. Ini bisa karena gagal
jantung, syok, dan sebagainya. Dalam keadaan ini tekanan oksigen cukup tinggi, tetapi
sirkulasi darah tidak lancar.
4. Anoksia jaringan (histotoxic anoxia)
Gangguan terjadi di dalam jaringan sendiri, sehingga jaringan atau tubuh tidak
dapat menggunakan oksigen secara efektif.
2.1.2 Patologi post mortem
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam dua
golongan :

1. Primer (akibat langsung dari asfiksia)


Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung pada tipe dari
asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan O2. Bagian- bagian otak
tertentu membutuhkan lebih banyak O2, dengan demikian bagian tersebut lebih rentan
terhadap kekurangan oksigen. Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel
serebrum, serebelum dan ganglia basalis. Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan
oleh jaringan glial, sehingga pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru-paru, hati,
ginjal dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan O2 langsung atau primer tidak
jelas.
2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh)
Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang rendah
dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena meninggi. Karena
oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk kerja jantung maka terjadi
gagal jantung dan kematian berlangsung dengan cepat. Keadaan ini didapati pada :
a. Penutupan mulut dan hidung (pembekapan)
b. Obstruksi jalan nafas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan dan korpus
alienum dalam saluran nafas atau pada tenggelam karena cairan menghalangi udara
masuk ke paruparu.
c. Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan (traumatic
asphyxia)
d.Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat pernafasan,
misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.

2.1.3 Stadium asphyxia


Pada pembekapan terjadi keadaan asfiksia, dimana terjadi hambatan masuknya
oksigen ke dalam tubuh yang berakibat kadar oksigen (O2) dalam darah berkurang
(hipoksik-hipoksia), dan hambatan dalam pengeluaran karbon dioksida (CO2) dari
dalam tubuh sehingga kadarnya dalam darah meningkat (hiperkapnea).
Kekurangan oksigen, baik sebagian (hipoksia) atau total (anoksia) akan
menyebabkan kematian. Di dalam udara ruangan normal terdapat oksigen (O2) kurang
lebih 21%. Pada konsentrasi oksigen (O2) 10-15% akan mengakibatkan kerusakan
pada fungsi kognitif dan motorik. Konsentrasi oksigen (O2) kurang dari 10% akan
menyebabkan kehilangan kesadaran, dan pada konsentrasi kurang dari 8% akan terjadi
kematian. Meskipun kecepatan terjadinya hipoksia bebeda- beda, orang akan
kehilangan kesadaran dalam 40 detik, dan akan meninggal dalam beberapa menit pada
lingkungan oksigen (O2)yang sangat rendah sekitar 4-6%.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat dibedakan
dalam 4 fase, yaitu :
1. Fase dispnoe
4

Penurunan kadar oksigen sel darah merah da penimbunan CO2 dalam plasma
akan merangsang pusat pernafasan di medulla oblongata, sehingga amplitude
dan frekuensi pernafasan akan meningkat. Nadi cepat, tekanan darah meninggi
dan mulai tampak tanda - tanda sianosis terutama pada muka dan tangan.
2. Fase konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan
saraf pusat sehingga terjadi konvulsi ( kejang ), yang mula - mula berupa kejang
klonik tetap kemudian menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul episode
opistotonik.2,3 Pupil mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah
juga menurun. Efek ini berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi dalam
otak akibat kekurangan O2.
3. Fase apnoe
Depresi pusat pernafasan menjadi lebih hebat, pernafasan melemah dan dapat
berhenti. Kesadaran menurun dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi
pengeluaran cairan sperma, urin dan tinja.
4. Fase akhir
Terjadi paralisis pusat pernafasan yang lengkap. Pernafasan berhenti setelah
kontraksi otomatis otot pernafasan kecil pada leher. Jantung masih berdenyut
beberapa saat setelah pernafasan berhenti.
2.1.4 Kelainan pada otopsi
1. Pemeriksaan luar :
Dimana pada pemeriksaan didapatkan bintik perdarahan pada palpebra,
konjungtiva dan kulit kepala serta didapatkan Trias Asphyxia yaitu petechiae, injected
dan sianosis
2. Pemeriksaan dalam :
Pada pemeriksaan dalam seringkali ditemukan adanya kongesti organ yaitu
pembendungan yang sistemik dan kongesti pada paru-paru yang disertai dengan
dilatasi jantung kanan, merupakan ciri klasik kematian karena asphyxia. Jantung
sebelah kanan membesar dan banyak terisi darah, sebaliknya jantung sebelah kiri
menjadi contracted dan kosong.
Didapatkan darah menjadi lebih encer yang disebabkan aktifitas fibrinolisin dan
faktor-faktor pembekuan yang ada di ekstravaskuler tidak sempat masuk kedalam
pembuluh darah karena cepatnya proses kematian. Disertai ptechiae pada thymus,
laring, epiglottis, perikardia, paru, pleura, permukaan serosa organ dalam, galea dari
scalp pada kepala.
Hyperemia dari lambung, hati dan ginjal, Limpa menjadi contracted atau dikenal
dengan Wrinkled Capsule (pengerutan) ,hal ini terjadi karena proses asphyxia berat
sehingga limpa berkompensasi untuk membuat SDM lebih banyak.
2.1.5 Penyebab asphyxia
5

Dilihat dari sebab terjadinya asphyxia dibagi menjadi :


Wajar (Alamiah) :
- Laryngeal edema
- Ludwig angina
- Laryngitis difteri
- Reaksi anafilaktik
- Pneumothorax
- Complete blocking areteri pulmonalis karena emboli
- Tamponade jantung
- Tumor pada daerah leher
- Asma
Tidak Wajar (Mekanik)
- Trauma pada tungkai -> thrombosis vena pulmonalis -> emboli
- Patah tulang panjang -> emboli lemak pada paru
- Luka tusuk / iris yang mengenai vena jugularis interna -> emboli udara
udara terhalang secara paksa, dibagi atas :
Strangulation :
- Hanging (strangulation by suspension)
- Strangulation by ligerature (jeratan)
- Throttling (manual strangulation)
Suffocation :
- Smothering
- Chocking
- Gagging
Traumatic asphyxia / External pressure on the chest
Drowning (tenggelam)
Inhalation of suffocating gases (CO, CO2, H2S)
- Keracunan
Bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya
barbiturat, narkotika.
2.1.6 ASFIKSIA MEKANIK
Asfiksia mekanik adalah mati lemas yang terjadi bila udara pernafasan terhalang
memasuki saluran pernafasan oleh berbagai kekerasan (yang bersifat mekanik),
misalnya :
2.1.6.1 Penutupan lubang saluran pernafasan bagian atas
2.1.6.1.1 Pembekapan (smothering)
Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan
napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikelpartikel kecil.

Ada 3 penyebab kematian pada pembekapan (smothering), yaitu : Asfiksia ,


Edema paru , dan Hiperaerasi. Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang
lambat dari pembekapan.
Cara kematian pada kasus pembekapan, yaitu Kecelakaan merupakan salah
satu cara kematian paling sering , misalnya tertimbun tanah longsor atau salju,
alkoholisme, bayi tertutup selimut atau mammae ibu. Pembunuhan, misalnya hidung
dan mulut diplester, bantal ditekan ke wajah, serbet atau dasi dimasukkan ke dalam
mulut. Dan bunuh diri.
Hal-hal penting pada pemeriksaan otopsi kasus pembekapan, yaitu :
1) Mencari penyebab kematian.
2) Menemukan tanda-tanda asfiksia.
3) Menemukan edema paru, hiperaerasi dan sianosis pada kematian yang lambat.
Pemeriksaan otopsi :
Mencari bahan yang diduga menjadi penyebab rongga mulut atau lubang hidung,
misalnya kain atau handuk, pasir, bulu yang dimasukkan kedalam kerongkongan mulut
Juga jekalinan dalam bentuk luka lecet atau memar yang terdapat di sekitar
mulut, hidung atau daerah sekitarnya.
Pada anak- anak oleh karena tenaga untuk melakukan pembekapan tersebut
tidak terlalu besar, kelainan biasannya minimal yaitu luka lecet tekan dan atau memar
pada bibir depan yang berhadapan dengan gigi dan rahang.
Tanda asphyxia disertai adanya luka lecet tekan dan memar pada daerah mulut,
hidung dan sekitarnya merupakan petunjuk pasti bahwa pada korban terjadi
pembekapan yang mematikan.
Pembekapan yang dilakukan dengan satu tangan sedangkan tangan lain
menekan kepala korban dari belakang, dapat pula ditemukan pada kasus pensekikan
dengan satu tanga, maka dapat ditemukan lecet atau memar pada ptpt leher bagian
belakang. Untuk membuktikannya kadang diperlukan sayatan untuk melihat otot otot
leher.
Bila alat yang dipakai adalah tangan atau bantal, tersapat sedikit bekas scarffing
di sekitar mulut dan hidung.
Bila smothering berlangsung cepat, maka akan terjadi tanda asfixia berupa darah
gelap dan encer, wajah cyanotic, ekismosis kecil-kecil pada scalp, perdarahan
konjungtiva, Bila smothering berlangsung lebih lama akan terjadi hyperaeration dan
edema paru.
2.1.6.1.2 Penyumbatan (gagging dan choking)
Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang
masuk dan menyumbat lumen jalan udara.
Cara Kematian Pada Kasus Tersedak Ada 2 cara yaitu kecelakaan merupakan
penyebab kematian paling sering, seperti gangguan refleks batuk pada alkoholisme,
pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya,
7

tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter serta
pembunuhan (infanticide)
Hal-hal penting pada pemeriksaan otopsi kasus tersedak (chocking), yaitu :
a. Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada
tanda kekerasan di mulut korban.
b. Menemukan tanda asfiksia.
c. Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat.
d. Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.
2.1.6.2 Penekanan dinding saluran pernafasan:
2.1.6.2.1 Penjeratan (strangulation)
Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada
leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena
berat badan korban.
Etiologi Kematian pada jerat (strangulation by ligature) yaitu asfiksia ,iskemia, dan
karena adanya vagal refleks
Cara kematian pada kasus jeratan (strangulation by ligature), yaitu pembunuhan
pada kasus jeratan dapat kita jumpai pada kejadian infanticide dengan menggunakan
tali pusat, psikopat yang saling menjerat, dan hukuman mati (zaman dahulu).
Sedangkan kecelakaan pada kasus jeratan dapat kita temukan pada bayi yang terjerat
oleh tali pakaian, orang yang bersenda gurau dan pemabuk. Vagal reflex menjadi
penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau. Pada kasus bunuh diri dengan
jeratan, dilakukan dengan melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi
dan ujung lainnya ditarik. Antara jeratan dan leher dimasukkan tongkat lalu mereka
memutar tongkat tersebut.
Hal-hal penting yang perlu kita perhatikan pada kasus jeratan, antara lain :
1. Arah jerat mendatar / horisontal.
2. Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan.
3. Jenis simpul penjerat.
4. Bahan penjerat misalnya tali, kaus kaki, dasi, serbet, serbet, dan lain-lain.
5. Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk
menjerat.
Pemeriksaan otopsi pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mirip kasus
penggantungan (hanging) kecuali pada :
1. Distribusi lebam mayat yang berbeda.
2. Alur jeratan mendatar / horisontal.
3. Lokasi jeratan lebih rendah.
2.1.6.2.2 Pencekikan (manual strangulation)

Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada


leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah.
Pencekikan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
1. Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban.
2. Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
3. Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban.
Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku
maka ini disebut mugging.
Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan, yaitu asfiksia ,iskemia dan vagal
reflex. Cara kematian pada kasus pencekikan, yaitu pembunuhan (hampir selalu) dan
kecelakaan, biasanya mati karena vagal reflex.
Yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan luar kasus pencekikan, antara lain :
1. Tanda asfiksia.
Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar otopsi yang dapat kita temukan antara lain
adanya sianotik, petekie, atau kongesti daerah kepala, leher atau otak. Lebam mayat
akan terlihat gelap.
2. Tanda kekerasan pada leher.
Tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari, yaitu bekas kuku dan bantalan jari.
Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark, yaitu luka lecet berbentuk
semilunar/bulan sabit. Terkadang kita dapat menemukan sidik jari pelaku. Perhatikan
pula tangan yang digunakan pelaku, apakah tangan kanan (right handed) ataukah
tangan kiri (left handed). Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku juga tak luput dari
perhatian kita.
4. Tanda kekerasan pada tempat lain.
Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir, lidah, hidung, dan lainlain. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan.
Hal yang penting pada pemeriksaan dalam bagian leher kasus pencekikan, yaitu:
1. Perdarahan atau resapan darah.
Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot, kelenjar tiroid, kelenjar ludah,
dan mukosa & submukosa pharing atau laring.
2. Fraktur.
Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. Fraktur lain pada kartilago
tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea.
3. Memar atau robekan membran hipotiroidea.
4. Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging.
2.1.6.2.3 Gantung (hanging)
Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada
leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.
Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan, yaitu : Asfiksia, Iskemia otak
akibat gangguan sirkulasi, Vagal reflex, Kerusakan medulla oblongata atau medulla
9

spinalis . Cara kematian pada penggantungan, yaitu Bunuh diri yang paling sering ,
pembunuhan, termasuk hukuman mati dan kecelakaan, misalnya bermain dengan tali
lasso, tali parasut pada terjun payung, dan penggunaan tali untuk mendapat kepuasan
seks.
Untuk mengetahui lebih jelas cara kematian ini, hal yang perlu diperhatikan yaitu
Ada tidaknya alat penumpu korban, misalnya bangku dan sebagainya dan arah serabut
tali penggantung. Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat
memberi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Sebaliknya, bila arah
serabut tali menjauhi korban menjadi bukti korban dibunuh lebih dahulu sebelum
digantung.
Selain itu hal yang perlu diperhatikan pada korban hanging antara lain:
1. Distribusi lebam mayat.
Distribusi lebam mayat harus di perhatikan secara seksama, apakah sesuai dengan
posisi mayat ataukah tidak.
2. Jenis simpul tali gantungan.
Hal ini penting diperhatikan karena dapat kita jadikan sebagai patokan apakah korban
melakukan bunuh diri ataukah korban pembunuhan. Simpul tali, baik simpul hidup
maupun simpul mati, la melewati lingkar kepala korban dapat menunjukkan korban
melakukan bunuh diri. Apabila simpul tali tidak melewati lingkar kepala korban, berarti
korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung. Simpul hidup harus dilonggarkan
secara maksimal untuk membuktikannya.
Gambaran Postmortem pada Penggantungan yang ditemukan pada
pemeriksaan luar :
a. Kepala.
Muka korban penggantungan akan mengalami sianosis dan terlihat pucat karena vena
terjepit. Selain itu, pucat pada muka korban juga disebabkan terjepitnya arteri. Mata
korban dapat melotot akibat adanya bendungan pada kepala korban. Hal ini disebabkan
terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala tidak terhambat.
Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban terjadi akibat pecahnya vena dan
meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia.
Lidah korban penggantungan bisa terjulur, bisa juga tidak terjulur.Lidah terjulur apabila
letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea. Lidah tidak terjulur apabila
letaknya berada diatas kartilago tiroidea.
b. Leher.
Alur jeratan pada leher korban penggantungan berbentuk lingkaran (V shape). Alur jerat
berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri :
1. Alur jeratan pucat.
2. Tepi alur jerat coklat kemerahan.
3. Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.

10

4. Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging)
menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. Alur jeratan
yang asimetris menunjukkan letak simpul disamping leher.
c. Anggota gerak yaitu lengan dan tungkai. Anggota gerak korban penggantungan
dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai.
Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut.
d. Dubur dan Alat kelamin.
Dubur korban penggantungan dapat mengeluarkan feses. Alat kelamin korban dapat
mengeluarkan mani, urin, dan darah (sisa haid). Pengeluaran urin disebabkan kontraksi
otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. Lebam mayat dapat ditemukan
pada genitalia eksterna korban.
Pada Pemeriksaan dalam didapatkan:
1. Kepala.
Kepala korban penggantungan dapat kita temukan tanda-tanda bendungan pembuluh
darah otak, kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. Kedua kerusakan
tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging).
2. Leher.
Leher korban penggantungan dapat kita temukan adanya perdarahan dalam otot atau
jaringan, fraktur (os hyoid, kartilago tiroidea, kartilago krikoidea, dan trakea), dan
robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).
3. Dada dan perut.
Pada dada dan perut korban dapat ditemukan adanya perdarahan (pleura, perikard,
peritoneum, dan lain-lain) dan bendungan/kongesti organ.
4. Darah.
Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan
konsistensinya lebih cair.
2.1.6.4 Inhalation of suffocating gasses
Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban
menghisap gas tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O2 tidak
terpenuhi.
Cara kematian pada kasus Inhalation of suffocating gasses yaitu menghisap gas
CO ,CO2 dan gas H2S. Gas CO banyak pada kebakaran hebat, gas CO2 banyak pada
sumur tua dan gudang bawah tanah sedangkan gas H2S pada tempat penyamakan
kulit.
2.1.7 ASFIKSIA TRAUMATIK
2.1.7.1 TENGGELAM
Kematian akibat mati lemas (asfiksia) disebabkan masuknya cairan ke dalam
saluran pernafasan.
11

Terminologi tenggelam dibagi menjadi:


a. Wet drowning
Pada keadaan ini cairan masuk ke dalam saluran pernafasan setelah korban
tenggelam. Kematian terjadi setelah korban menghirup air. Jumlah air yang dapat
mematikan, jika dihirup paru-paru adalah sebanyak 2 liter untuk orang dewasa dan 3040 ml untuk bayi.
b. Dry drowning
Pada keadaan ini, cairan tidak masuk ke dalam saluran pernafasan, akibat spasme
laring dan kematian terjadi sebelum menghirup air.
c. Secondary drowning
Terjadi gejala bebertapa hari setelah korban tenggelam dan diangkat dari dalam air dan
korban meninggal akibat komplikasi
d. Immersion syndrome
Korban tiba-tiba meninggal setelah tenggelam dalam air dingin akibat refleks vagal
yang menyebabkan cardiac arrest. Keadaan tersebut hanya dapat dijelaskan oleh
karena terjadinya fibrilasi ventrikel dan dapat dibuktikan bahwa pada orang yang masuk
ke air dingin atau tersiram air yang dingin, dapat mengalami ventricular ectopic beat.
Alkohol dan makan terlalu banyak merupakan faktor pencetus.
Patofisiologi akibat tenggelam berbeda antara tenggelam di ait tawar dan air laut
sehingga dibedakan :
a. Dalam air tawar
Pada keadaan ini terjadi absorbsi/aspirasi cairan masif hingga terjadi hemodilusi
oleh karena konsentrasi elektrolit dalam air tawar lebih rendah daripada konsentrasi
dalam darah. Air akan masuk ke dalam aliran darah sekitar alveoli dan mengakibatkan
pecahnya sel darah merah (hemolisis) Akibat pengenceran darah yang terjadi, tubuh
mencoba mengatasi keadaan dengan melepaskan ion kalium dari serabut otot jantung
hingga kadar ion kalium dan plasma meningkat, terjadi perubahan keseimbangan ion
K+ dan Ca++ dalam serabuit otot jantung dapat mendorong terjadinya febrilasi ventrikel
dan penurunan tekanan darah, yang kemudian menyebabkan timbulnya kematian
akibat anoksia otak. Kematian dapat terjadi dalam waktu 5 menit.
b. Dalam air asin
Konsentrasi elektrolit cairan asin lebih tinggi daripada dalam darah, sehingga air
akan ditarik dari sirkulasi pulmonal ke dalam jaringan interstitial paru yang akan
menimbulkan edema pulmoner, hemokonsentrasi, hipovolemi dan kenaikan kadar
magnesium dalam darah. Hemokonsentrasi akan mengakibatkan sirkulasi menjadi
lambat dan menyebabkan terjadinya payah jantung. Kematian terjadi kira-kira dalam
waktu 8-9 menit setelah tenggelam.
Adapun mekanisme kematian pada orang tenggelam dapat berupa :
a) Asfiksia akibat spasme laring
b) Asfiksia karena gagging dan choking
12

c) Refleks vagal
d) Fibrilasi ventrikel (dalam air tawar
e) Edema pulmoner (dalam air asin)
Pemeriksaan Luar Korban Tenggelam :
1) Pakaian / mayat basah, kadang bercampur pasir, lumur dan benda-benda asing lain
yang terdapat dalam air.
2) Cutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh, terutama pada ekstremitas
akibat kontraksi otot errector pilli yang dapat terjadi karena rangsang dinginnya air
(sebagai gambaran seperti saat seseorang berdiri bulu kuduknya / merinding)
3) Kulit telapak tangan dan kaki, kadang menyerupai washer woman hand/skin, yakni
berwarna
4) Keputihan dan berkeriput yang disebabkan imbibisi cairan ke dalam kulit dan
biasanya membutuhkan waktu lama (sebagai gambaran sepert tangan / kulitnya orang
setelah mencuci)
5) Cadaveric spasm, merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban
berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja benda-benda disekitarnya,
seperti rumput atau benda lain dalam air. (sebagai gambaran : tangan korban
menggenggam erat hingga sulit dibuka dan biasanya terdapat benda air, misalnya
rumput/lumut dalam genggamannya).
6) Buih halus dari mulut dan hidung berbentuk seperti jamur (mushroom-like mass)
yang terbentuk akibat edema pulmo akut, berwarna putih dan persisten (tetap
diproduksi terus, meskipun korban sudah meninggal). Buih semakin banyak jika dada
ditekan.
7) Luka memar/lecet/robek bisa ditemukan pada beberapa bagian tubuh, akibat
benturan dengan benda-benda keras dalam air (misalnya
batu sungai atau karang laut) pada saat tenggelam.
Pemeriksaan Dalam Korban Tenggelam:
1. Pada saluran nafas (trakhea & bronkhus) terdapat buih.
2. Emphysema aquosum, yakni keadaan paru-paru membesar dan pucat seperti paruparu penderita asma tetapi lebih berat dan basah, di banyak bagian terlihat gambaran
seperti marmer, bila permukaannya ditekan meninggalkan lekukan dan bila diiris terlihat
buih berair.
3. Bercak hemolisis pada dinding aorta. Bercak paltauf yaitu bercak perdarahan yang
besar (diameter 3-5 cm), terjadi karena robeknya partisi inter alveolar dan sering
terlihatn di bawah pleura.
4. Pemeriksaan berat jenis dan kadar elektrolit pada darah yang berasal dari bilik
jantung kiri dan kanan. Bila tenggelam di air tawar, berat jenis dan kadar elektrolit dalam
13

darah jantung kiri lebih rendah dari jantung kanan, sedangkan pada tenggelam di air
asin terjadi sebaliknya
5. Lambung dan esofagus terisi air beserta pasir dan benda air lain.
6. Benda air (diatom) di jaringan paru, darah, ginjal, tulang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Binarupa Aksara.
1997.p: 170
2. Apuranto H, Asphyxia. In: Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.
Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga.2007.p:71-99
3. http://skydrugz.blogspot.com/2012/01/refarat-patofisiologi-asfiksia_28.html
4. http://www.slideshare.net/mohanad09/simpsons-forensic-medicine (107)
5. Knight B. Asphyxia and pressure on the neck and chest. In: Simpsons forensic
medicine, eleventh ed. London, Oxford University Press,Inc. 2001. p:87-90

14