Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH AGAMA

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA MENURUT DALIL NAQLI


DAN AQLI SERTA ALASAN MENGAPA MANUSIA
MEMBUTUHKAN AGAMA

Disusun oleh :
Nama

: Nafiah Khoirul Latifah

No.Absen

: 13

Kelas

: TK-3A

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
TAHUN 2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan
dibandingkan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal untuk berfikir
yang membedakannya dengan binatang. Mengenai proses kejadian manusia, dalam AlQuran (QS. Al-Hijr (15) : 28-29) diterangkan bahwa manusia diciptakan dari tanah
dengan bentuk yang sebaik-baiknya kemudian ditiupkan ruh kepadanya hingga menjadi
hidup.
Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung teori evolusi yang mengatakan bahwa
manusia berasal dari makhluk yang mempunyai bentuk maupun kemampuan yang
sederhana kemudian mengalami evolusi dan kemudian menjadi manusia seperti sekarang
ini. Di lain pihak banyak ahli agama yang menentang adanya proses evolusi manusia
tersebut. Khususnya agama Islam yang meyakini bahwa manusia pertama adalah Nabi
Adam a.s. disusul Siti Hawa dan kemudian keturunan-keturunannya hingga menjadi
banyak seperti sekarang ini. Hal ini didasarkan pada berita-berita dan informasi-informasi
yang terdapat pada kitab suci masing-masing agama yang mengatakan bahwa Adam
adalah manusia pertama.
Penciptaan manusia di bumi tidak lain adalah untuk menjadi khalifah, untuk itu manusia
di dunia ini hendaknya memiliki sebuah pegangan atau pedoman untuk mempermudah
hidupnya. Salah satu pegangan dan pedoman hidp di dunia ini adalah agama, dan agama
merupakan pedoman yang mutlak. Untuk itu dalam makalah ini akan dijelaskan
bagaimana proses kejadian manusia menurut akal manusia atau dalil Aqli dan menurut
Al-Quran serta hadist atau dalil naqli, selain itu alasan mengapa manusia membutuhkan
agama dalam kehidupannya.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang diangkat dalam program makalah ini adalah:

1. Bagaimana proses pembentukan manusia menurut teori evolusi?


2. Bagaimana proses pembentukkan manusia menurut agama Islam didasari dengan
kandungan ayat-ayat yang terdapat pada kitab suci Al-Quran ?
3. Mengapa manusia membutuhkan agama ?
C. Tujuan
Tujuan dituliskan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui proses pembentukan manusia menurut teori evolusi oleh Charles Darwin.
2. Mengetahui proses pembentukan manusia menurut agama Islam berdasarkan bukti
yang terdapat pada ayat Al-Quran.
3. Mampu memberikan penjelasan mengenai alasan manusia membutuhkan agama
selama hidupnya didasari dengan ayat Al-Quran.

BAB II
PEMBAHASAN

I.

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA MENURUT DALIL AQLI DAN NAQLI

Manusia adalah makhluk-Nya yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan dibandingkan
makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia dilengkapi akal untuk berfikir yang
membedakannya dengan binatang. Banyak ahli ilmu pengetahuan mendukung

Charles

Darwin dengan teori Evolusinya, manusia merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami
perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama. Dalam perjalanan waktu yang
sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. Semua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan
organisme-organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan
dirinya. Dalam teorinya ia mengatakan : Suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari
yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan.
Teori ini mempunyai kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang tidak
mengalami evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya sejenis
biawak/komodo yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada.
Jadi dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak mutlak karena
antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.
Lain halnya dengan apa yang tertulis dalam kitab, khususnya Al-Quran. Dalam Al-Quran
jika dipadukan dengan hasil penelitian ilmiah menemukan titik temu mengenai asal usul
manusia ini. Terwujudnya alam semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam
waktu enam masa. hal ini sesuai dengan firman Allah :

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam
masa, kemudian Dia bersemayam diatas Arsy (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka
tanyakanlah itu kepada Yang Maha Mengetahui. (QS. Al Furqan (25) : 59)
Allah telah menciptakan manusia melalui empat macam proses. Tiga di antaranya adalah
proses penciptaan yang sangat istimewa, dan hanya dapat dipahami dan dimengerti oleh
orang-orang yang beriman kepada Allah, bahwa segala sesuatu bisa terjadi bila Allah
menghendakinya. Ketiga jenis penciptaan ini, hanya terjadi sekali atau untuk satu orang saja
untuk masing-masing penciptaan.
Sedangkan yang satu macam penciptaan lagi adalah semua manusia yang diciptakan Allah
selain dari yang tiga orang tadi, yaitu kita semua anak cucu Adam dan Hawa, yang prosesnya
dapat diterima secara nalar oleh akal manusia. Dan dapat dipelajari oleh ilmu kedokteran.
Inilah keempat macam proses penciptaan manusia tersebut:
1. Proses Kejadian Manusia Pertama (Nabi Adam)
Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering
kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna
maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan
oleh Allah di dalam firman-Nya :

Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. (QS. As Sajdah (32) : 7)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan
telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud. (Q.S. al-Hijr [15]: 28-29)
Selain firman Allah SWT, Rasulullah saw juga bersabda dalam Hadits :
Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah.
(HR. Bukhari)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!
(Albaqarah:31)
Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.
Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman:
Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia
langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan ? (Albaqarah:33)
Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal
(kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah
mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). (Alanam:2)

2. Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)


Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam
keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak

menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh
Allah dalam salah satu firman-Nya :
Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari
apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak
mereka ketahui (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa
ayat 1 yaitu :

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu
dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat
banyak (QS. An Nisaa (4) : 1)

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam (HR. BukhariMuslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung
hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk
menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam
bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan
meneruskan generasinya.
3. Proses Kejadian Manusia Ketiga Nabi Isa Putra Maryam

Narasi Quran tentang Isa dimulai dari kelahiran Maryam sebagai putri dari Imran,
berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Zakariya, serta kelahiran Yahya.
Kemudian Al Quran menceritakan kejaiban kelahiran Isa sebagai anak Maryam tanpa
ayah atas kenedak Allah, bukan dengan perzinahan dengan seorang laki-laki, karena
Maryam sendiri tidak pernah disentuh laki-laki..

Ingatlah ketika Malaikat berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan


kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan Kalimat yang datang
daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seoarang terkemuka di dunia dan
di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah (Ali Imran : 45)
Muslim percaya pada konsep kesucian Maryam, yang telah diceritakan dalam beberapa
ayat dalam Al Quran. Menurut kisah di Al-Quran, Maryam selalu beribadah dan telah
dikunjungi oleh Malaikat Jibril. Jibril mengatakan kepada Maryam tentang akan
diberikan calon anak yang bernama Isa, Maryam sangat terkejut, karena ia telah
bersumpah untuk menjaga kesuciannya kepada Allah dan tetap mempertahankan hal itu
dan bagaimana pula dia bisa hamil tanpa seorang lelaki atau suami, lalu Jibril
menenangkan Maryam dan mengatakan bahwa perkara ini adalah perkara yang mudah
bagi Allah, yang ingin membuat dia sebagai tanda untuk manusia dan rahmat dari-Nya.
Seperti halnya dalam konsep penciptaan Adam tanpa ibu dan bapak.
Pembicaraan mereka terekam dalam salah satu surah didalam Al-Quran: Jibril berkata:
Demikianlah Tuhan-mu berfirman: Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar dapt Kami
menjadiknnya suatu tanda bagi manusia dan sebgai Rahmat dari Kami, dan hal itu
adalah suatu perkara yang telah diputuskan (Maryam : 21).

Beberapa ayat lain terkait dengan kelahiran Isa antara lain: Sesungguhnya penciptaan
Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam darai tanah,
kemudian Allah berfirman kepaadanya: Jadilah, maka jadilah dia (Ali Imran 59).
Juga Allah berfirman: Dan ingtalah kisah Maryam yang telah memelihara
kehormatnnya, lalu Kami tiupkan ruh dari Kami ke dalam tubuhnya, dan Kami jadikan
dia dan anknya tanda Kekuasaan Allah yang besar bagi semesta alam (Al Anbiya : 21)
Setelah Isa berada didalam rahimnya, Maryam lalu mengasingkan diri dari keluarganya
ke suatu tempat di sebelah timur. Disana ia melahirkan dan beristirahat di dekat sebuah
batang pohon kurma. Isa kemudian berbicara memerintahkan ibunya dari buaian, untuk
mengguncangkan pohon untuk mengambil buah-buah yang berjatuhan, dan juga untuk
menghilangkan rasa takut Maryam dari lingkungan sekelilingnya Maryam berzinah,
kemudian Maryam menunjuk kepada anaknya yang baru lahir itu, maka Isa pun
menjawab
Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Alkitab (Injil) dan Dia menjadikan
aku seorang nabi; dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku
berada dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat
selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang
yang sombong lagi celaka . (Maryam: 30-32)
4. Proses Kejadian Manusia Keempat (semua keturunan Adam dan Hawa)

Kejadian manusia keempat adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali
Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Quran dan Al Hadits
dapat pula ditinjau secara medis.
Allah berfirman:Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka bagimu
ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda
kebesaran Kami kepada orang-orang yang nengetahui (Al Anam 98)

Di dalam Al Quran proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci
melalui firman-Nya :

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah ,
Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al Muminuun (23) : 12-14).

Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :


Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya
seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim
ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari)
dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan
sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh
kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal
(umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya). (HR. Bukhari-Muslim)

Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Quran dengan saripati berasal dari tanah
sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita
makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses
metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma),
kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara
sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga
mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur (QS.
Addahr: 2)
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (QS 96. Al-Alaq: 2)
Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun
para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan
aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf
dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit )
kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan
fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage). Mulbry stage
adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah
tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena
terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di
atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong
daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah
(rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan
kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan
anggota-anggotanya.

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna


(mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat
tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak
sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih
besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu,
sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain
belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung
belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai
tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah Ijz `ilmiy
(mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy
al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Quran.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati
air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Assajdah:7-9)

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama
embrioberada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding
abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di
dalam

perut,

kegelapan

dalam

rahim,

dan

kegelapan

dalam

selaput

yang

menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa
yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran
"...Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam
selaput yang menutup anak dalam rahim)..." (QS. Az Zumar (39) : 6).

II.

ALASAN MANUSIA MEMBUTUHKAN AGAMA

Adalah suatu pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Namun, kita melihat potensipotensi yang dimiliki manusia, maka kita akan menemukan beberapa jawaban terhadap
pertanyaan tersebut, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Manusia sebagai makhluk Allah memiliki banyak kelebihan dibanding dengan makhluk
yang yang lain; tetapi dibalik kelebihan yang banyak itu, manusia juga tidak luput dari
banyak kekurangan, kelemahan dan kemampuan yang terbatas. Manusia terbatas pada
alam sekitarnya, warisan keturunan dan latar belakang kebudayannya/hidupnya,; yang
menyebabkan adanya perbedaan pandangan dalam menghadapi suatu masalah, bahkan
seringkali bertentangan antara satu dengan yang lainnya.
Pandangan yang simpang siur tersebut (subyektif) tidak akan dapat menimbulkan
keyakinan atas kebenaran, tetapi senantiasa diliputi oleh kabut keragu-raguan (dzanny),
sehingga manusia senantiasa gagal dalam menentukan kebenaran secara mutlak, ia tidak
sanggup menentukan kebaikan dan keburukan (haq dan batil), ia tidak dapat menentukan
nilai-nilai semua hal yang demikian itu adalah di luar bidang ilmu pengetahuan manusia.
Untuk mengatasi ataupun memberikan solusi terhadap kegagalan manusia sebagai akibat
dari kelemahannya, itu maka diperlukan agama/wahyu yang berasal dari luar manusia,
yakni Allah swt. melalui para Nabi dan Rasul-Nya. Hal ini dapat terjadi karena Allah swt.
adalah Maha Sempurna, sehingga wahyu yang diturunkan-Nya merupakan kebenaran
mutlak dan bersifat universal yang tak perlu diragukan lagi, sebagaimana firman Allah
dalam Q.S. al-Baqarah (2) : 147,

Kebenaran itu adalah berasal dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu
meragukannya

2. Dalam diri manusia terhadap hawa nafsu, yang senantiasa mengajak manusia kepada
kejahatan, apalagi kalau hawa nafsu tersebut sudah dipengaruhi oleh syaitan/iblis yang
senantiasa menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Jika manusia dapat mengalahkan
pengaruh hawa nafsu dan syaitan tersebut, maka ia akan lebih tinggi derajatnya daripada
malaikat; tetapi, jika ia mengikuti ajakan hawa nafsunya dan syaitan tersebut, maka ia
akan turun derajatnya lebih rendah daripada binatang.
Untuk mengatasi pengaruh hawa nafsu dan syaitan itu, manusia harus memakai senjata
agama (iman), karena hanya agama (imanlah) yang dapat mengatasi dan mengendalikan
hawa nafsu dan syaitan/iblis itu; sebab agama merupakan sumber moral dan akhlak
dalam Islam. Itulah sebabnya, missi utama manusia, sebagaimana hadits beliau yang
menyatakan: Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Melawan hawa nafsu dan syaitan adalah jihad akbar, sebagaimana dikatakan oleh Nabi
saw. sewaktu kembali dari perang Badar: Kita kembali dari jihad (perang) yang paling
kecil menuju jihad yang paling besar, para sahabat bertanya: adakah perang yang lebih
besar dari perang ini ya Rasulullah? Nabi menjawaab : ada, yakni melawan hawa nafsu.
Di samping itu, ada hadits lain yang mengatakan: Tidak sempurna iman seseorang di
antara kamu sehingga hawa nafsunya semata-mata mengikuti agama Islam yang
kaubawa.
3. Manusia dengan akalnya semata, tidak mampu mengetahui alam metafisika, alam akhirat
yang merupakan alam gaib, dan berada di luar jangkauan akal manusia, sebagaimana
firmana Allah dalam Q.S. al-Nahl (27) : 65,

Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi
yang tadinya sudah mati. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)
Akal manusia mempunyai batas-batas kemampuan tertentu, sehingga tidak boleh
melampaui batas dan wewenangnya. Oleh karena itu, banyak masalah yang tidak mampu
dipecahkan oleh akal manusia, terutama masalah alam gaib; dan di sinilah perlunya
agama/wahyu untuk meberikan jawaban terhadap segala masalah gaib yang berada di
luar jangkauan akal manusia. Di sinilah letak kebutuhan manusia untuk mendapat
bimbingan agama/wahyu, sehingga mampu mengatasi segala persoalan hidupnya dengan
baik dan menyakinkan.
4. Para sainstis yang terlalu mendewakan ilmu pengetahuan banyak yang kehilangan
idealisme sebagai tujuan hidupnya. Mereka dihinggapi penyakit risau gelisah, hidupnya
hambar dan hampa, karena dengan pengetahuan semata, mereka tidak mampu memenuhi
hajat hidupnya; sebab dengan bekal ilmu pengetahuannya itu, tempat berpijaknya makin
kabur, karena kebenaran yang diperolehnya relatif dan temporer, sehingga rohaninya
makin gersang, sebagaimana bumi ditimpa kemarau, sehingga membutuhkan siraman
yang dapat menyejukkan. Di sinilah perlunya agama untuk memenuhi hajat rohani
manusia, agar ia tidak risau dan gelisah dalam menghadapi segala persoalan hidup ini.
5. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberikan kebahagiaan dan
kesejahteraan bagi umat manusia. Namun, dibalik semuanya itu, kemajuan ilmu
pengetahuann dan tehnologi pula yang banyak menimbulkan kecemasan dan ancaman
keselamatan bagi umat manusia. Berbagai konflik yang maha dahsyat terjadi diberbagai
belahan dunia dewasa ini merupakan dampak negatif dari pada kemajuan ilmu
pengetahuan dan tehnologi itu, dengan ilmu dan tehnologi, manusia memproduksi
senjata, namun dengan senjata itu pula manusia banyak menjadi korban. Di sinilah
perlunya agama, karena hanya agama (iman) lah yang dapat mencegah agar ilmu dan
tekhnologi tersebut tidak berubah menjadi senjata makan tuan/pagar makan tanaman.
Agamalah yang mampu menjinakkan hati manusia yang sesat, untuk berbuat baik
kepada diri sendiri dan kepada orang lain.

Agama sangat penting dalam kehidupan manusia antara lain karena agama merupakan :
sumber moral, petunjuk kebenaran, sumber informasi tentang masalah metafisika, dan
bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka maupun duka. Pada hakekatnya
manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di bumi, untuk itu manusia
membutuhkan pedoman untuk hidup di bumi. Pada hakekatnya agama merupakan
pedoman mutlak yang berasal dari Tuhan, terlepas benar atau tidaknya agama yang
dianut oleh masing-masing manusia. Namun agama yang baik adalah agama yang selalu
mengajarkan kebaikan kepada umatnya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Penciptaan manusia dari teori evolusi yang disampaikan oleh Charles Darwi dapat
dibantah oleh Al-Quran.
2. Dalam Al-Quran dijelaskan 4 proses penciptaan manusia, dengan 3 proses
diantaranya adalah proses yang istimewa serta hanya bisa dipahami dan dimengerti
oleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.
3. Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Nabi Adam a.s. dari tanah kering yang
diberi bentuk dengan sebaik-baiknya.
4. Proses penciptaan manusia yang merupakan keturunan Nabi Adam a.s dan Siti Hawa
dapat ditinjau dari segi medis.

5. Proses penciptaan manusia dijelaskan secara rinci oleh Al-Quran.


6. Manusia membutuhkan agama sebagai pedoman hidup di dunia sebagai khalifah
Allah di bumi.

DAFTAR PUSTAKA

https://abdain.wordpress.com/2010/01/03/kebutuhan-manusia-terhadap-agama/ diakses

pada (19 April 2016)


http://www.kompasiana.com/ditarahayu/makalah-asal-usul-manusia-menurut-sains-dan-

islam_54f7ae10a33311641e8b4794 diakses pada (19 April 2016)


https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/makalah-proses-penciptaan-manusia-

menurut-islam/ diakses pada (19 April 2016)


https://www.academia.edu/7113262/Makalah_Pendidikan_Agama_islam_Asal_Usul_Ma

nusia_dan_Perannya_dalam_kehidupan diakses pada (19 April 2016)


https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/awal-penciptaan-manusia-teorievolusi-darwin-vs-teori-penciptaan-nabi-adam/ diakses pada (19 April 2016)