Anda di halaman 1dari 26

Kualitas kepribadian WN yang baik

Menurut
Stanly E. Dimond(1970)

Maulidya Yuniarti Anwar


201510370311109

PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Kepribadian
Kata kepribadian berasal dari kata personality (bhs. inggris) yang berasal dari
kata Persona (bhs. Latin) yang berarti kedok atau topeng. Yaitu tutup muka yang sering
dipakai oleh pemain-pemain panggung, yang maksudnya untuk menggambarkan
perilaku, watak, atau pribadi seseorang. (dikutip dari Agus Sujanto, dkk., Psikologi
Kepribadian, (Jakarta: Bumi aksara, 2009), hlm. 10.)
Menurut Koentjaraningrat (1980) menyebut kepribadian atau Personality
sebagai Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku
atau tindakan dari tiap-tiap individu masing-masing. Sedangkan menurut Woorwoorth
kepribadian adalah kualitas dari seluruh tingkah laku seseorang. Kepribadian adalah
keseluruhan dari sifat-sifat subjektif emosional, serta mental yang mencirikan watak
seseorang terhadap lingkungannya dan keseluruhan dari reaksi-reaksi itu yang sifatnya
psikologis dan sosial, merupakan kepribadian seseorang.
Penulis berpendapat bahwa kepribadian merupakan kualitas dari seluruh tingkah
laku seseorang, baik fisik maupun psikis, baik yang dibawa sejak lahir maupun yang
diperoleh melalui pengalaman dan mempunyai pengaruh terhadap orang lain. Setiap
orang yang akan melaksanakan tugas sebagai pengabdi masyrakat harus mempunyai
kepribadian yang baik. Kepribadian yang baik akan memberikan kesan pelayanan yang
baik kepada masyarakat.
Kriteria warga negara yang baik dapat digali dari beberapa kualitas kepribadian
sebagai perwujudan dari potensi yag melekat dari diri seorang warga negara. Stanley E.
Dimond (1970) memberikan deskripsi kualitas kepribadian warga negara yang baik,
meliputi beberapa atribut yaitu loyal, orang yang selalu belajar,

seorang pemikir,

bersikap demokrasi, gemar melakukan tindakan kemanusiaan, pandai mengatur diri,


seorang pelaksana.
2.2.

Konsep Dasar Tentang Warga Negara


Dalam pengertian Warga negara diartikan dengan orang-orang sebagai bagian dari
suatu penduduk yang menjadi unsur negara serta mengandung arti peserta, anggota atau

warga dari suatu negara, yakni peserta dari suatu perssekutuan yang didirikan dengan
kekuatan bersama.
Dahulu istilah warga negara seringkali disebut hamba atau kawula negara yang
dalam bahasa inggris (object) berarti orang yang memiliki dan mengabdi kepada
pemiliknya.
AS Hikam mendifinisikan bahwa warga negara yang merupakan terjemahan dari
citizenship adalah anggota dari sebuah komunitas yang membentuk negara itu sendiri.
Sedangkan Koerniatmanto S, mendefinisikan warga negara dengan anggota negara.
Sebagai anggota negara, seorang warga negara mempunyai kedudukan yang khusus
terhadap negaranya.Ia mempunyai hubungan hak dan kewajiban yang bersifat timbal
balik terhadap negaranya.
Dalam konteks Indonesia, istilah warga negara (sesuai dengan UUD 1945 pasal
26) dikhususkan untuk bangsa Indonesia asli dan bangsa lain yang disahkan undangundang sebagai warga negara. Dalam pasal 1 UU No. 22/1958 bahwa warga negara
Republik Indonesia adalah orang-orang yang berdasarkan perundang-undangan dan/atau
perjanjian-perjanjian dan/atau peraturan-peraturan yang berlaku sejak Proklamasi 17
Agustus 1945 sudah menjadi warga negara Republik Indonesia.
Asas kewarganegaraan seseorang ditentukan berdasarkan ketentuan yang telah
disepakati dalam negara tersebut. Dalam menerapkan asas kewarganegaraan dikenal dua
pedoman penetapan, yaitu:
Asas kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dijumpai dua bentuk asas yaitu, ius soli
dan ius sanguinis. Dalam bahasa Latin ius berarti hukum, dalih atau pedoman, soli
berasal dari kata solum yang berartinegeri, tanah atau daerah dan sanguinis yang berarti
darah. Dengan demikian, ius soli berarti pedoman kewarganegaraan yang berdasarkan
tempat atau daerah kelahiran,sedangkan ius sanguinis adalah pedoman kewarganegaraan
berdasarkan darah atau keturunan.
Asas kewarganegaraan berdasarkan perkawinan yang dapat dilihat dari sisi
perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan asas persamaan derajat. Asas
kesatuan hukum berdasarkan pada paradigma bahwa suami- isteri ataupun ikatan
keluarga merupakan inti masyarakat yang meniscayakan suasana sejahtera, sehat dan
tidak terpecah dalam suatu kesatuan yang bulat,sehingga perlu adanya kesamaan

pemahaman dan komitmen menjalankan kebersamaan atas dasar hukum yang sama dan
meniscayakan kewarganegaraan yang sama pula. Sedangkan dalam asas persamaan
derajat ditentukan bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status
kewarganegaraan masing-masingpihak. Mereka tetap memiliki status kewarganegaraan
sendiri sama halnya ketika mereka belum diikatkan menjadi suami istri. Asas ini dapat
menghindari

terjadinya

penyeludupan

hukum

sehingga

banyak

negara

yang

menggunakan asas persamaan derajat dalam peraturan kewarganegaraan .


2.3.

Unsur-Unsur Yang Menentukan Kewarganegaraan


Dalam menentukan kewarganegaraan setiap negara memberlakukan aturan yang
berbeda, namun secara umum terdapat tiga unsur yang seringkali digunakan oleh negara negara di dunia, antara lain :
1. Unsur Darah Keturunan (Ius Sanguinis)
Kewarganegaraan dari orang tua

yang

menurunkannya

menentukan

kewarganegaraan seseorang, prinsip ini berlaku diantaranya di Inggris, Amerika,


Perancis, Jepang, dan Indonesia.
2. Unsur Daerah Tempat Kelahiran (Ius Soli)
Daerah tempat seseorang dilahirkan menentukan kewarganegaraan,prinsip ini
berlaku di Amerika, Inggris, Perancis, dan Indonesia, terkecuali di Jepang.
3. Unsur Pewarganegaraan ( Naturalisasi)
Syarat-syarat atau prosedur pewarganegaraan disesuaikan menurut kebutuhan
yang dibawakan oleh kondisi dan situasi negara masing-masing.

Dalam

pewarganegaraan ini ada yang aktif ada pula yang pasif. Dalam pewarganegaraan
aktif, seseorang dapa menggunakan hak opsi untuk memilih atau mengajukan
kehendak

menjadi

warga

negara

dari

suatu

negara.

Sedangkan

dalam

pewarganegaraan pasif,seseorang yang tidak mau dijadikan warga negara suatu


negara, maka yang bersangkutan dapat menggunakan hak repuidasi yaitu hak untuk
menolak pemberian kewarganegaraan tersebut.
2.4.

Karakteristik Warga Negara Yang Demokrat

Untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadaban,


maka setiap warga negara yang disebut sebagai demokrat,yakni antara lain sebagai
berikut:
1. Rasa hormat dan tanggung jawab
2. Bersikap kritis
3. Membuka diskusi dan dialog
4. Bersikap terbuka
5. Rasional
6. Adil
7. Jujur
Beberapa karakteristik warga negara yang demokrat tersebut, merupakan sikap dan
sifat yang seharusnya melekat pada seorang warga negara. Hal ini akan menampilkan
sosok warga negara yang otonom yang mempunyai karakteristik lanjutan sebagai berikut:
1. Memiliki kemandirian
2. Memiliki tanggung jawab pribadi, politik dan ekonomi sebagai warga negara
3. Menghargai martabat manusia dan kehormatan pribadi
4. Berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan denganpikiran dan sikap yang santun.
5. Mendorong berfungsinya demokrasi konstitusional yang sehat.
Pada umumnya ada dua kelompok warga negara dalam suatu negara, yakni warga
negara yang memperoleh status kewarganegaraan melalui stelsel pasif(operation of law)
dan melalui stesel aktif(by registration).
Dalam penjelasan umum Undang-Undang No. 62/1958 bahwa ada tujuh cara
memperoleh kewarganegaraan Indonesia , yaitu karena kelahiran, pengangkatan,
dikabulkannya permohonannya, pewarganegaraan , turut ayah dan atau ibu serta karena
pernyataan.
2.5.

Hak Dan Kewajiban Warga Negara


Dalam konteks Indonesia, hak warga negara terhadap negara telah diatur dalam
Undang-Undang Dasar 1945 dan berbagai peraturan lainnya yang merupakan derivasi
dari hak-hak umum yang digariskan dalam UUD 1945. Diantaranya hak asasi manusia
yang rumusan lengkapnya tertuang dalam pasal 28 UUD ubahan kedua.

Sedangkan contoh kewajiban yang melekat bagi setiap warganegara antara lain
kewajiban membayar pajak sebagai kontrak utama antara negara dengan warga, membela
tanah air (pasal 27), membela pertahanan dan keamanan negara (pasal 29), menghormati
hak asasi orang lain dan mematuhi pembatasan yang tertuang dalam peraturan (pasal 28
J),dan sebagainya.
Prinsip utama dalam penentuan hak dan kewajiban warganegara adalah
terlibatnya warga secara langsung ataupun perwakilan dalam saetiap perumusan dan
kewajiban tersebut sehingga warga sadar dan menganggap hak dan kewajiban tersebut
sebagai bagian dari kesepakatan mereka yang dibuat sendiri.
Pendidikan Kewarganegaraan sangat penting untuk menumbuhkan sikap
kewarganegaraan generasi penerus bangsa. Tentunya studi ini sangat mendukung untuk
membentuk mental dan kepribadian siswa menjadi mental yang berlandaskan Pancasila
dan UUD 1945.

2.6.

Poin-poin dalam Pendapat Stanley E. Dimond mengenai kualitas kepribadian


warga negara yang baik
1. Loyal
Gramer dan Brown (dalam Utomo 2006: 27) memberikan definisi mengenai
Loyalitas (loytalitas jasa), yaitu derajat sejauh mana seorang konsumen menunjukkan
perilaku pembelian berulang dari suatu penyedia jasa, memiliki suatu desposisi atau
kecenderungan sikap positif terhadap penyedia jasa, dan hanya mempertimbangkan
untuk menggunakan penyedia jasa ini pada saat muncul kebutuhan untuk memakai
jasa ini. Dari definisi yang disampaikan Gramer dan Brown, konsumen yang loyal
tidak hanya seorang pembeli yang melakukan pembelian berulang, tetapi juga
mempertahankan sikap positif terhadap penyedia jasa.
Loyalitas berasal dari kata loyal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI, dapat diakses di http://www.kbbi.web.id/loyal) loyal memiliki arti patuh;setia.
Patuh atau setia dalam konteks apapun bisa dalam dunia kerja, kecintaan atau
kesetiaan terhadap sesama manusia maupun terhadap negara. Jadi dapat dikatakan
loyal adalah kepatuhan atau kesetiaan seseorang terhadap sesuatu.

Loyalitas adalah salah satu hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Loyalitas
hanya bisa didapatkan, namun tidak bisa dibeli. Mendapatkan loyalitas dari seseorang
bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Berbanding terbalik dengan
kesulitan mendapatkannya, menghilangkan loyalitas seseorang justru menjadi hal
yang sangat mudah untuk dilakukan.
Sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai loyalitas, terlebih dahulu kita
harus tahu apa pengertian loyalitas. Loyalitas memiliki kata dasar loyal yang berasal
dari bahasa Prancis kuno loial. Menurut Oxford Dictionary, pengertian loyalitas
adalah the quality of being loyal dimana loyal didefinisikan sebagai giving or
showing firm and constant support or allegiance to a person or institution. Jika
diartikan secara bebas, pengertian loyalitas menurut Oxford Dictionary adalah mutu
dari sikap setia (loyal), sedangkan loyal didefinisikan sebagai tindakan memberi atau
menunjukkan dukungan dan kepatuhan yang teguh dan konstan kepada seseorang
atau institusi. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan pengertian
loyalitas sebagai kepatuhan atau kesetiaan.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan loyal adalah salah satu ciri kualitas
warga Negara yang baik karena dengan memiliki sifat loyal maka seorang warga
Negara akan setia dan patuh pada peraturan di Negara dimana dia tinggal. Dengan
adanya sikap setia dan patuh tersebut, warga Negara tahu apa yang seharusnya dia
lakukan untuk Negara tersebut.

2. Orang yang selalu belajar


Disadari atau tidak, kita tidak pernah berhenti belajar. Apakah itu karena
alasan tertentu atau karena keadaan memaksa, kita terus belajar. Namun, proses
belajar ini sering tidak kita arahkan. Kita tidak fokus terhadap apa yang seharusnya
dipelajari. Ada yang memberikan Anda nasehat untuk hal-hal yang perlu dipelajari,
tetapi nasihat-nasihat itu kadang lewat begitu saja.
Belajar memang tidak harus disuruh-suruh. Tidak perlu kita disuruh orang lain
untuk menemukan bijaksana dari kehidupan. Kita mempunyai 'drive' itu dalam diri

kita. Dalam diri kita ada keinginan untuk menjadi lebih baik sekalipun keinginan itu
kadang terjepit oleh karena beberapa hal.
Salah satu sosok yang tidak berhenti belajar adalah Confusius. Pandangan
Confucius, filosof dari Cina yang hidup kira-kira 2500 tahun lalu, menarik dan
inspiratif. Ia mengatakan bahwa Anda selalu bisa mendapatkan pelajaran dari setiap
orang. Apakah ia orang baik atau jahat- selalu Anda dapat memetik pelajaran dari
orang yang Anda temui. Yang baik dari dia menjadi contoh untuk ditiru; yang tidak
baik dari seseorang menjadi contoh untuk tidak diteladani.
Dengan kata lain, selalu ada pelajaran dari setiap peristiwa yang kita alami.
Apakah ketika sedang berbicara dengan orang lain atau mendengar pembicaraan
orang lain, kita dapat belajar dari apa yang mereka ucapkan.
Begitu juga ketika memperhatikan orang melakukan sesuatu; kita bisa belajar
bagaimana mereka melakukan sesuatu. Bahkan bahasa tubuh seseorang bisa juga
diperhatikan agar sebanyak mungkin mendapatkan manfaat dari peristiwa yang
dialami.
Jadi, hampir setiap hari kita bisa belajar. Apakah itu di rumah, tempat kerja,
angkot, bus, caf, jalan atau di mana saja, kita bisa belajar dari orang lain. Begitu
banyak contoh nyata yang dapat dipelajari dari peristiwa yang kita alami. Seandainya
kita memberikan perhatian kepada apa yang terjadi di sekitar kita, kita mempunyai
banyak hal untuk dipelajari. Bagaimana sesuatu bisa dikatakan belajar? Berikut
adalah ciri-ciri belajar.
a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap
(afektif).
b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat
disimpan.
c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha. Perubahan
terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik/ kedewasaan,
tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.

Menurut James O. Whittaker (Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar;


Rineka Cipta; 1999) Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau
diubah melalui latihan.
Sedangkan belajar menurut Djamarah, Syaiful Bahri, (Psikologi Belajar;
Rineka Cipta; 1999) adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar
adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya (1997) mengemukakan ciri-ciri
dari perubahan perilaku, yaitu :
a. Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja
dari individu yang bersangkutan. Begitu juga dengan hasil-hasilnya, individu
yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan,
misalnya pengetahuannya semakin bertambah atau keterampilannya semakin
meningkat, dibandingkan sebelum dia mengikuti suatu proses belajar. Misalnya,
seorang mahasiswa sedang belajar tentang psikologi pendidikan. Dia menyadari
bahwa dia sedang berusaha mempelajari tentang Psikologi Pendidikan. Begitu
juga, setelah belajar Psikologi Pendidikan dia menyadari bahwa dalam dirinya
telah terjadi perubahan perilaku, dengan memperoleh sejumlah pengetahuan,
sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan Psikologi Pendidikan.
b. Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada
dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah
diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang
telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap
dan keterampilan berikutnya. Misalnya, seorang mahasiswa telah belajar
Psikologi Pendidikan tentang Hakekat Belajar. Ketika dia mengikuti

perkuliahan Strategi Belajar Mengajar, maka pengetahuan, sikap dan


keterampilannya tentang Hakekat Belajar akan dilanjutkan dan dapat
dimanfaatkan dalam mengikuti perkuliahan Strategi Belajar Mengajar.
c. Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa
sekarang maupun masa mendatang.
d. Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah
kemajuan.
e. Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif
berupaya melakukan perubahan.
f. Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap
dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya. Misalnya, mahasiswa belajar
mengoperasikan komputer, maka penguasaan keterampilan mengoperasikan
komputer tersebut akan menetap dan melekat dalam diri mahasiswa tersebut.
g. Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai,
baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Berbagai
aktivitas dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
h. Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan
semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan
keterampilannya. Misalnya, mahasiswa belajar tentang Teori-Teori Belajar,
disamping memperoleh informasi atau pengetahuan tentang Teori-Teori Belajar,
dia juga memperoleh sikap tentang pentingnya seorang guru menguasai TeoriTeori Belajar. Begitu juga, dia memperoleh keterampilan dalam menerapkan
Teori-Teori Belajar.
Menurut Gagne (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), perubahan perilaku
yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara
tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda,
definisi, dan sebagainya.

Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi


dengan

lingkungannya

dengan

menggunakan

simbol-simbol,

misalnya:

penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah


kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit,
konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam
menghadapi pemecahan masalah.
3

Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan


pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran,
strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara cara berfikir
agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada
hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada
proses pemikiran.

Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih
macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan
dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam
menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran,
perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.

Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang
dikontrol oleh otot dan fisik.

Berikut beberapa faktor pendorong mengapa manusia memiliki keinginan


untuk belajar:
1. Adanya dorongan rasa ingin tahu
2. Adanya keinginan untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai
tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya.
3. Mengutip dari istilah Abraham Maslow bahwa segala aktivitas manusia didasari
atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan biologis sampai aktualisasi
diri.

4.
5.
6.
7.
8.

Untuk melakukan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuinya.


Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.
Untuk meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri.
Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
Untuk mengisi waktu luang.
Seseorang memiliki kewajiban untuk terus belajar sepanjang hidupnya.

Itulah makna yang melekat dari istilah long life education yang berarti belajar
seumur hidup. Dan tentang proses belajar, manusia bisa melakukan kemana saja,
selama ada sebuah ilmu pengetahuan yang bisa memberikan manfaat untuk dipelajari.
Dari definisi dan juga perintah yang diberikan kepada manusia untuk selalu
belajar, tentuya proses memiliki tujuan yang sangat baik bagi manusia. Dan beberapa
manfaat selalu belajar diantaranya adalah :
1
2
3

Manusia mendapatkan pengetahuan baru yang belum diketahuinya


Adanya peningkatan kualitas hidup manusia yang selalu belajar
Hasil belajar yang dimiliki seseorang, bisa digunakan untuk membantu orang lain

yang membutuhkan
Manusia bisa memecahkan masalahyang dihadapinya, jika mau untuk terus
belajar, terutama jika manusia mau belajar dari sesuatu yang pernah dihadapinya

di masa lalu.
Manusia dapat memanfaakan semua potensi yang ada di sekelilingnya.

3. Seorang Pemikir
Menurut KBBI, definisi seorang pemikir ialah orang cerdik pandai yang hasil
pemikiran kritisnya dapat digunakan orang lain. Berpikir kritis merupakan proses berpikir
intelektual dimana pemikir dengan sengaja menilai kualitas pemikirannya, pemikir
menggunakan pemikiran yang reflektif, indpenden, jernih, dan rasional.
Berpikir kritis membutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi prasangka, bias
(keberpihakan), propaganda (misalnya propaganda perusahaan obat), kebohongan,
penyesatan, misinformasi, egosentrisme, dan sebagainya.
Berpikir kritis mencakup kemampuan untuk mengenali masalah, menemukan cara
yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, mengumpulkan informasi yang
relevan, mengenali asumsi dan nilai-nilai yang ada di balik keyakinan, pengetahuan,

maupun kesimpulan. Seorang yang berpikir kritis tidak akan menelan begitu saja
kesimpulan-kesimpulan atau hipotesis yang dikemukakan dirinya sendiri atau orang lain.
Seorang pemikir kritis mempunyai karakteristik sebagai berikut:
a

Mengemukakan pertanyaan-pertanyaan dan masalah penting, merumuskannya

dengan jelas dan teliti.


Memunculkan ide-ide baru yang berguna dan relevan untuk melakukan tugas.
Pemikiran kritis memiliki peran penting untuk menilai manfaat ide-ide baru, memilih

ide-ide yang terbaik, atau memodifikasi ide-ide jika perlu.


Mengumpulkan dan menilai informasiinformasi yang relevan, dengan menggunakan

gagasan abstrak untuk menafsirkannya dengan efektif


Menarik kesimpulan dan solusi dengan alasan yang kuat, bukti yang kuat, dan

mengujinya dengan menggunakan kriteria dan standar yang relevan.


Berpikir terbuka dengan menggunakan berbagai alternatif sistem pemikiran, sembari
mengenali, menilai, dan mencari hubungan-hubungan antara semua asumsi,

implikasi, akibat-akibat praktis


Mampu mengatasi kebingungan, mampu membedakan antara fakta, teori, opini, dan

keyakinan
Mengkomunikasikan dengan efektif kepada orang lain dalam upaya menemukan
solusi atas masalah-masalah kompleks, tanpa terpengaruh oleh pemikiran orang lain

tentang topik yang bersangkutan


Jujur terhadap diri sendiri, menolak manipulasi, memegang kredibilitas dan integritas
ilmiah, dan secara intelektual independen, imparsial, netral
Konsep dan prinsip berpikir ilmiah bersifat universal. Berpikir kritis membentuk

sebuah sistem pemikiran yang saling terkait dan overlapping, misalnya pemikiran
filosofis, pemikiran sosiologis, pemikiran antropologis, pemikiran historis, pemikiran
politis, pemikiran psikologis, pemikiran matematis, pemikiran biologis, pemikiran
ekologis, pemikiran medis, pemikiran legal, pemikiran etis, pemikiran estetis/ artistik,
dan sebagainya. Berpikir kritis dapat diterapkan kepada kasus di bidang profesi apa saja.
Hanya saja penerapannya perlu merefleksikan konteks bidang profesi dan disiplin yang
bersangkutan.

Berpikir kritis penting, karena memungkinkan seorang untuk

menganalisis, menilai, menjelaskan, dan merestrukturisasi pemikirannya, sehingga dapat


memperkecil risiko untuk mengadopsi keyakinan yang salah, maupun berpikir dan
bertindak dengan menggunakan keyakinan yang salah tersebut.

4. Bersikap Demokrasi
A. Pengertian Sikap
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah sikap, banyak para
ahli yang memberikan definisi mengenai sikap. Diantaranya adalah W.A. Gerungan
(1996 : 149) yang menyebutkan bahwa Sikap atau attitude adalah sikap pandangan
atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk bertindak
sesuai dengan sikap terhadap obyek itu.
Chave dalam bukunya Saifuddin Azwar (2003: 5) memberi batasan sikap
sebagai berikut :
Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek
dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan
merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila
individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.
Sedangkan D. Krech dan RS. Crutchfield dalam bukunya Abu Ahmadi (1990 :
163) memberi batasan sikap sebagai berikut : Sikap adalah suatu organisasi yang
tetap dari proses motivasi, emosi, persepsi, atau pengamatan atas suatu aspek dari
kehidupan individu.
Dari beberapa pengertian sikap diatas, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah
bagian dari kepribadian seseorang yang mendorong untuk bertindak dengan disertai
perasaan mendukung maupun perasaan tidak mendukung di dalam menanggapi obyek
tertentu.
Suatu reaksi atau tingkah laku seseorang ditentukan oleh sikap terhadap suatu
obyek tertentu. Seseorang dapat bersikap positif terhadap suatu obyek apabila
dirasakan menguntungkan, dan bersikap sebaliknya yaitu negative jika dirasakan
merugikan.

Dengan demikian untuk menumbuhkan sikap yang positif perlu

dijelaskan secara menyeluruh terhadap obyek yang akan dihadapi.


Sikap itu sangat dipengaruhi oleh adanya pengalaman dari proses sosialisasi,
baik berupa motivasi, emosi, persepsi dan kognisi dengan dijelaskan tentang
keuntungan-keuntungan dari suatu obyek dapat menumbuhkan sikap positif.
B. Ciri-ciri sikap
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat

mendorong dan menimbulkan suatu tingkah laku tertentu dan sikap itu tergantung
pada obyek yang dihadapi, oleh karenanya obyek sedapat mungkin merupakan suatu
yang menarik dan menguntungkan.
Adapun ciri-ciri sikap menurut W.A. Gerungan (1996 : 151-152) adalah
sebagai berikut :
a

Sikap bukan dibawa sejak lahir, tetapi dibentuk atau diperlajari sepanjang

perkembangan seseorang dalam hubungannya dengan obyek.


Sikap tidak dapat berubah-ubah namun dapat berubah pada seseorang bila
terdapat keadaan syarat-syarat tertentu yang dapat mempermudah sikap

seseorang.
Sikap tidak berdiri sendiri, namun senantiasa mengandung hubungan tertentu
terhadap suatu obyek. Dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari, atau

berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu.


Obyek sikap itu dapat merupakan suatu hal tertentu, dapat juga merupakan suatu
kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap itu berkenaan dengan sutu obyek, tetapi

juga berkenaan dengan sederetan obyek-obyek yang serupa


Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat ini yang
membedakan sikap dari kecakapan atau pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Sikap adalah sesuatu yang bukan dibawa sejak lahir, tetapi terbentuk dalam

perkembangan seseorang selam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Sikap


bertahan lama dan sulit untuk diubah bila sudah terbentuk dan sudah menjadi sistem
nilai dalam hidup seseorang.
Sikap mempunyai kecenderungan tetap sebagaimana pendapat Kimbal Young
dalam bukunya Bimo Walgio (1985 : 54) Attitude tread to have stability and
persistence bahwa sikap adalah mempunyai kecenderungan untuk stabil dan
berlangsung lama, namun dalam kondisi tertentu sikap itu dapat berubah bila ada
situasi yang memungkinkan. Sikap dapat berfungsi sebagai motivasi dalam
bertingkah laku dan tidak dibawa sejak lahir, tetapi berbeda dengan pendororngpendorong lain seperti lapar, haus, kebutuhan istirahat dan lain-lain.
C. Fungsi Sikap
Menurut Abu Ahmadi (1990 : 179) sikap berfungsi sebagai :
a Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikan diri

b Sikap berfungsi sebagai alat untuk mengatur tingkah laku


c Sikap berfungsi sebagai alat untuk pengatur pengalaman-pengalaman
d Sikap berfungsi sebagai penyertaan kepribadian
D. Unsur-unsur sikap
Menurut Marat (1984 : 13) sikap terdiri dari beberapa unsur yang satu
dengan yang lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, adapun unsur- unsurnya
adalah :
a Unsur kognisi yang hubungannya dengan bakat, ide dan konsep
b Unsur afeksi yang menyangkut kehidupan emosional seseorang
c Unsur emosional yang merupakan kecenderungan bertingkah laku
Namun disamping itu, memiliki evaluasi negative dan positif yang bersifat
emosional. Hal ini disebabkan unsur afeksi, pengetahuan dan perasaan merupakan
sikap yang akan menimbulkan tingkah laku.
E. Pembentukan dan perubahan sikap
Secara garis besar pembentukan dan perubahan sikap akan ditentukan oleh
dua faktor pokok, yaitu :
a Faktor individu itu sendiri atau faktor dari dalam, yang dimaksud faktor dari
dalam adalah bahwa apa yang datang dari luar tidak semuanya begitu saja akan
diterimanya tetapi individu mengadakan seleksi mana yang akan diterima dan
mana yang ditolak.
b Faktor luar atau ekstern yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang ada di luar
individu yang merupakan rangsangan atau stimulus atau yang mengubah sikap
(Bimo Walgito, 1987 : 55-56)
Dalam hubungannya dengan masalah ini, faktor-faktor yang dapat mengubah
sikap menurut Bimo Walgito (1985 : 56 ) adalah sebagai berikut :
a Kekuatan atau force dapat memberikan suatu keadaan atau situasi yang dapat
mengubah sikap. Kekuatan dapat bermacam-macam bentunya, misalnya kekuatan
b

fisik.
Berubahnya norma kelompok, bila seseorang telah menginternalisasikan norma

kelompok yang akan diambil oper atau dijadikan normanya sendiri.


Berubahnya membership group, maksudnya individu itu akan bergabung dalam
berbagai macam kelompok yang ada dalan masyarakat, baik karena adanya
dorongan alami, karena membutuhkan, berhubungan dengan individu yang lain,

maupun karena adanya kepentingan atau tujuan yang bersamaan.


Berubahnya reference group adalah terbentuknya norma-norma baru yang
mendesak norma lama. Dengan terbentuknya nilai norma yang baru itu akan

terbentuk pula sikap-sikap yang baru sesuai dengan norma-norma yang ada.
Membentuk kelompok yang sama sekali baru, dimana dengan memberntuk
kelompok yang sama sekali baru dapat pula akan mengubah atau memberntuk
suatu sikap yang baru pula. Dengan penbentukan kelompok baru dan dengan
terbentuknya norma baru akan memungkinkan terjadinya sikap yang baru sesuai
dengan norma yang ada.

F. Hal-hal yang mempengaruhi sikap


Marat (1984 :131) berpendapat bahwa Situasi-situasi yang mempengaruhi
sikap ada dua yaitu dinamika kelompok dan situasi khusus.
Dalam situasi kelompok social sikap individu sebagai anggota suatu
kelompok selalu berusaha menyatakan diri atau menyatakan keberadaannya dalam
suatu pola hubungan antar individu atau kelompok. Sikap merupakan produk kultur
yang sering bersifat situasional. Situasi khusus disebutkan mempengaruhi sikap bisa
dicontohkan dalam suatu situasi perorangan, misalnya situasi peperangan , keadaan
menjadi tegang dan orang-orang panik karena kebutuhan.
G. Pengertian Demokrasi
Pengertian tentang demokrasi dapat dilihat dari tinjauan bahasa (etimologis)
dan istilah (terminologis). Secara etimologis demokrasi terdiri dari dua kata yang
berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat atau penduduk
suatu tempat dan cratein atau cratos yang berarti kekuasaan atau kedaulatan.
Jadi secara bahasa demos-cratein atau demos cratos (demokrasi) adalah keadaan
negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat,
kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa,
pemerintahan rakyat dan dan kekuasaan oleh rakyat.

Sementara Cornelius Castoriadis (2002) dalam menyatakan bahwa,


Democracy means the power ( kratos ) of the people ( demos) . Artinya demokrasi
berarti kekuasaan dari rakyat.
Henry B. Mayo dalam bukunya Winarno (2008 : 91) menyatakan bahwa :
Demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu system yang menunjukkan
bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang
diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan- pemilihan berkala yang
didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana
terjaminnya kebebasan politik.
Sedangkan Sidney Hook memberikan pengertian demokrasi sebagai berikut:
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah
yang penting secara langsung atau tidak langsung didasarkan pada kesepakatan
mayoritas yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa(Badan Pengembangan
Kebudayaan dan Pariwisata, 2003:110).
Ada satu pengertian mengenai demokrasi yang dianggap paling popular,yaitu
pengertian demokrasi dari Abraham Lincoln dalam bukunya Winarno (2001:92) yang
menyatakan bahwa Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan
untuk rakyat (government of the people, by the people, and for the people).
Dengan demikian makna demokrasi sebagai dasar hidup bermasyarakat dan
bernegara mengandung pengertian bahwa rakyatlah yang memberikan ketentuan
dalam masalah-masalam mengenai kehidupannya, termasuk dalam menilai kebijakan
Negara, karena kebijakan tersebut akan menentukan kehidupan rakyat.
Dari beberapa pendapat diatas diperoleh kesimpulan bahwa hakikat
demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta pemerinthan
memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan ditangan rakyat baik dalam
penyelenggaraan negara maupun pemerintahan Kekuasaan pemerinthan ditangan
rakyat mengandung tiga hal : pertama, pemerintahan dari rakyat (government of the
people); kedua, pemerintahan oleh rakyat (government by people); ketiga,
pemerintahan untuk rakyat (government for people).

H. Prinsip-Prinsip Demokrasi
Demokrasi dalam usahanya untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, maka
sudah barang tentu menjalankan prinsip-prinsipnya satu sama lain yang saling
berkaitan sebagai suatu sistem, sehingga apabila salah satu prinsip kurang berjalan
dengan baik akan mempengaruhi prinsip lainnya. Hal

ini dapat memberikan

gambaran atau image bahwa demokrasi itu kurang berjalan sehat, walaupun dalam
demokrasi untuk memuaskan seluruh pihak akan sukar diwujudkan.
Adapun prinsip-prinsip demokrasi menurut Sukarna (1981: 40-43) adalah
sebagai berikut :
a
b
c
d
e
f
g
h
i
j
k
l
m
n

Pembagian kekuasaan : legeslatif, eksekutif dan yudikatif


Pemerintahan konstitusionil
Pemerintahan berdasarkan hokum
Pemerintahan mayoritas
Pemerintahan dengan diskusi
Pemilihan umum yang bebas
Partai politik lebih dari satu dan menjalankan fungsinya
Managemen terbuka
Pers yang bebas
Pengakuan terhadap hak-hak minoritas
Perlindungan terhadap hak asasi manusia
Peradilan yang bebas dan tidak memihak
Pengawasan terhadap administrasi Negara
Mekanisme politik ang berubah antara kehidupan politik masyarakat dengan

o
p
q
r
s
t

kehidupan politik pemerintah


Kebijaksanaan negara dibuat oleh badan perwakilan politik
Penempatan pejabat-pejabat dengan merit system bukan spoil sistem
Penyelesaian perpecahan dengan cara damai atau kompromi
Jaminan terhadap kebebasa individu dalam batas-batas tertentu
Konstitusi/ Undang-Undang Dasar yang demokratis
Persetujuan
Merkl dalam bukunya Sukarna (1981: 44) menunjukkan suatu kondisi yang
baik untuk tumbuhnya demokrasi, ialah sebagai berikut :
a

Kesadaran individu akan hak-hak dan kebebasan dirinya dan hak-hak serta

b
c
d
e

kebebasan orang lain.


Sikap kerjasama
Kemampuan untuk mengemukakan alasan dan kompromi
Suatu standar hidup yang stabil
Persamaan dalam bidang ekonomi dan social yang wajar.

f
g

Sikap kedewasaan yang ditunjukkan karena pengalaman


Suatu masyarakat beraneka ragam tetapi bebas

I. Nilai-Nilai yang terkandung dalam Demokrasi


Kehidupan demokrasi tidak akan datang, tumbuh dan berkembang dengan
sendirinya dalam kehidupan bermasayarakat, berbangsa dan bernegara. Demokrasi
memerlukan usaha nyata setiap warga negara dan perangkat pendukungnya dan
dijadikannya demokrasi sebagai pandangan hidup (way of life) dalam kehidupan
bernegara.
Sebuah pemerintahan yang baik dapat tumbuh dan stabil bila masyarakat pada
umumnya punya sikap positif dan proaktif terhadap norma- norma dasar demokrasi.
Oleh sebab itu, harus ada keyakinan yang luas di masyarakat bahwa demokrasi adalah
sistem pemerintahan yang terbaik dibanding dengan sistem lainnya. Untuk
menumbuhkan keyakinan akan baiknya sistem demokrasi, maka harus ada pola
perilaku yang menjadi tuntunan atau norma/ nilai-nilai demokrasi yang diyakini
masyarakat.
Sedangkan Rusli Karim dalam bukunya Winarno (2001: 99) menyebutkan
perlunya kepribadian yang demokrastis meliputi : inisiatif, disposisi resiprositas,
toleransi, kecintaan terhadap keterbukaan,

komitmen dan tanggung jawab dan

kerjasama keterhubungan.
Dari uraian diatas maka nilai-nilai yang terkandung dalam demokrasi menjadi
sikap dan budaya demokrasi yang perlu dimiliki warga negara . Nilai- nilai demikrasi
merupakan nilai yang diperlukan untuk mengembangkan pemerintahan yang
demokratis, sehingga setiap keputusan dan tingkah laku akan efesien dan efektif serta
pencapaian tujuan masayarakat adil dan makmur akan lebih mudah tercapai.
J. Manfaat Demokrasi
Kehidupan masyarakat yang demokratis, dimana kekuasaan Negara di tangan
rakyat dan dilakukan dengan system perwakilan, dan adanya peran aktif masyarakat
dapat memberikan manfaat bagi perkembangan bangsa, Negara dan masyarakat.
Manfaat demokrasi diantaranya adalah sebagai berikut :

Kesetaraan sebagai warga negara


Demokrasi bertujuan memperlakukan semua orang adalah sama dan
sederajat. Prinsip kesetaraan tidak hanya menuntut bahwa kepentingan setiap
orang harus diperlakukan sama dan sederajat dalam kebijakan pemerintah, tetapi
juga menuntut perlakuan yang sama terhadap pandangan-pandangan atau
pendapat dan pilihan setiap warga negara.

Memenuhi kebutuhan-kebutuhan umum


Dibandingkan dengan pemerintahan tipe lain, pemerintahan yang
demokrastis lebih mungkin untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat biasa.
Semakin besar suara rakyat dalam menentukan kebijakn, senakin besar pula
kemungkinan kebijakan itu mencerminkan keinginan dan aspirasi-aspirasi rakyat.
Rakyat biasalah yang merasakan pengaruh kebijakan-kebijakan pemerintah dalam
praktiknya, dan kebijakan pemerintah dapat mencerminkan keinginan rakyat
hanya jika ada saluran- saluran pengaruh dan tekanan yang konsisten dan efektif
dari bawah.
c Pluralisme dan kompromi
Demokrasi mengandalakan debat terbuka, persuasi, dan kompromi.
Penekanan demokrasi pada debat tidak hanya mengamsusikan adanya perbedaanperbedaan pendapat dan kepentingan pada sebagian besar masalah kebijakan,
tetapi juga menghendaki bahwa perbedaan-perbedaan itu harus dikemukakan d.an
didengarkan. Dengan demikian demokrasi mengisyaratkan kebhinekaaan

dan

kemajemukan dalam masyarakat maupun kesamaan kedudukan di antara para


warga negara.
d Menjamin hak-hak dasar
Demokrasi menjamin kebebasan-kebebasan dasar. Diskusi terbuka sebagai
metode mengungkapkan dan mengatasi masalah-masalah perbedaan dalam
kehidupan social tidak dapat terwujud tanpa kebebasan- kebebasan yang
ditetapkan dalam konvensi tentang hak-hak sipil dan politik: hak kebebasan
berbicara dan berekspresi, hak berserikat dan berkumpul, hak bergerak, dan hak
untuk mendapatkan perlindungan atas keselamatan diri. Negara-negara demokrasi
dapat

diandalakan

untuk

melindungi

hak-hak

tersebut.

Hak-hak

itu

memungkinkan

pengembangan diri

setiap

individu

dan memungkinkan

terwujudnya keputusan-keputusan kolektif yang lebih baik.


e Pembaruan kehidupan social
Demokrasi memungkinkan terjadinya pembaruan kehidupan social.
Penghapusan kebijakan-kebijakan yang telah usang secara rutin dan penggantian
para politisi dilakuakan dengan cara yang santun dan damai, menjadikan system
demokratis mampu mampu menjamin pembaruan kehidupanm social dan
memuluskan proses alih generasi tanpa pergolakan atau kekacauan pemerintahan
yang biasanya mengikuti pemberhentian tokoh kunci dalam rezim nondemokratis
(Sarijanti dkk, 2006 : 51-53).
K. Demokrasi sebagai Sikap Hidup
Perkembangan baru menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dipahami
sebagai bentuk pemerintahan dan system politik, tetapi demokrasi dipahami sebagai
sikap hidup atau pandangan hidup demokratis. pemerintahan atau system politik
demokrastis tidak datang, tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Demokrasi
bukanlah sesuatu yang taken for granted. Demokrasi membutuhkan usaha nyata dari
setiap

warga

Negara

maupun

penyelenggara

Negara

untuk

berperilaku

sedemikianrupa sehingga mendukung pemerintahan atau sistem politik demokratis.


Perilaku yang mendukung tersebut tentu saja merupakan perilaku yang demokratis.
Perilaku demokrasi terkait dengan nilai-nilai demokrasi. Perilaku yang
senantiasa bersandar pada nilai-nilai demokrasi akan membentuk budaya atau kultur
demokrasi. Pemerintahan demokratis membutuhkan kultur demokrasi untuk
membuatnya performed (eksis dan tegak). Perilaku demokrasi ada dalam manusia itu
sendiri, baik selaku warga Negara maupun pejabat Negara.
(Winarno, 2008 : 97) Hal ini sejalan dengan pendapat EPDP Departmen
Informasi dan Kebudayaan (2010) yang menyatakan bahwa, Democracy is more
than just a set of specific government institutions; it rests upon a well-understood
group of principles, values, attitudes, and practices all of which may take different

forms and expressions among cultures and societies around the world. Artinya
bahwa demokrasi adalah lebih dari sekedar seperangkat institusi pemerintah tertentu;
itu terletak pada kelompok baik memahami prinsip, nilai, sikap, dan praktek - yang
semuanya dapat mengambil bentuk yang berbeda dan ekspresi antara budaya dan
masyarakat di seluruh dunia.
Berdasarkan pendapat diatas maka demokrasi tidak hanya dalam sekedar
seperangkat institusi pemerintah, tetapi juga meliputi prinsip, nilai dan praktek yang
harus diterapkan oleh seluruh masyarakat.
L. Tinjauan tentang sikap Demokrasi
Sikap adalah bagian dari kepribadian seseorang yang mendorong untuk
bertindak dengan disertai perasaan mendukung maupun perasaan tidak mendukung di
dalam menanggapi obyek tertentu. Sedangkan hakikat demokrasi adalah sebagai suatu
system bermasyarakat dan bernegara serta pemerintahan memberikan penekanan pada
keberadaan kekuasaan ditangan rakyat baik dalam penyelenggaraan negara maupun
pemerintahan. Perilaku demokrasi terkait dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai
demokrasi.
Berdasarkan kesimpulan dari pengertian sikap dan hakikat demokrasi, maka
sikap demokrasi dapat diartikan sebagai bagian dari kepribadian seseorang untuk
bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai- nilai yang terkandung dalam
demokrasi. Dengan masyarakat bersikap demokratis maka mencerminkan bahwa
pemerintahan memberikan penekanan pada keberadan kekuasaan di tangan rakyat
dengan kebebasan yang diberikan oleh pemerintahan. Sikap demokrasi dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari- hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat,
bangsa dan Negara. kebebasan, persamaan, pengakuan akan hak warga dan kelompokkelompok identitas harus berhadapan dengan keinginan untuk tetap berintegrasinya
sebuah kesatuan kebangsaan.
Dalam hal ini teori Clifford Geert dalam bukunya The Integrative Revolution,
Primordial

Sentiments

and

Civil

Politics

in

(www.demokrasidanintegrasi.com) menyatakan sebagai berikut :

the

New

States

Demokrasi dan integrasi adalah sesuatu yang dilematis, tetapi setiap negara
dapat memenej dirinya sedemikian rupa, sehingga pemenuhan tuntutan demokrasi dan
integrasi itu dapat terpenuhi secara serasi. Dengan demikian demokrasinya dapat tumbuh
secara relatif bagus, sedangkan integrasinya terpelihara dengan kokoh.
Oleh karena itu demokrasi perlu mensyaratkan sikap plural, toleransi,
menghargai perbedaan dan tidak memaksakan kehendak. Inilah sikap dan budaya
demokrasi yang belum terbangun kuat dalam diri masyarakat Indonesia ditengah
keinginan kuat menciptakan Negara kebangsaan yang demokratis. Dengan demikian
sistem politik yang demokratis akan mendorong dan mempertahankan integrasi nasional
sebuah Negara atas dasar prinsip kebebasan, kesetaraan dan toleransi.
Dalam hal ini maka masyarakat Indonesia dituntut untuk bersikap demokratis
sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi, sehingga nantinya dapat
menimbulkan sikap integrasi yang menciptakan persatuan dan kesatuan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk tujuan yang lebih baik.
5. Gemar melakukan tindakan kemanusiaan
Pancasila ialah sebagai dasar negara yang sering disebut dasar falsafah negara
dan ideologi negara. Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan
negara. Dengan tujuan, pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur
penyelenggaraan suatu negara. Gemar melakukan tindakan kemanusiaan adalah
merupakan salah satu dari pengamalan sila kedua pancasila, oleh karena itu sangat
penting setiap manusia untuk saling menghargai, peduli, dan tolong menolong antar
manusia lainnya.
6. Pandai mengatur diri
Menurut kamus psikologi (Chaplin, 2002), definisi kontrol diri atau self control
adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan
kemampuan untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan
Merbaum, mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun,
membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa
individu kearah konsekuensi positif.
Kontrol diri merupakan satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan
individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi

yang terdapat dilingkungan yang berada disekitarnya, para ahli berpendapat bahwa
kontrol diri dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat preventif selain dapat
mereduksi efek-efek psikologis yang negative dari stressor-stresor lingkungan.
Disamping itu kontrol diri memiliki makna sebagai suatu kecakapan individu dalam
kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya serta kemampuan untuk mengontrol
dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk
menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi (Calhoun dan Acocela, 1990).
7. Seorang Pelaksana.
Pelaksanaan adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk melaksanakan semua
rencana dan kebijaksanaan yang telah dirumuskan dan ditetapkan dengan melengkapi
segala kebutuhan alat-alat yang diperlukan, siapa yang akan melaksanakan, dimana
tempat pelaksanaannya dan kapan waktu dimulainya. Arti dari sebagai pelaksana adalah
sebagai motor penggerak kehidupan.

Daftar pustaka
Sujanto, Agus, dkk. 2009. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi aksara.
http://www.gudangmateri.com/2011/04/konsep-dan-asas-kewarganegaraan.html
http://www.slideshare.net/dewii24/makalah-hak-dan-kewajiban-negara
http://www.ciputra-uceo.net/blog/2015/11/19/pengertian-loyalitas-dan-serba-serbi-pengertian-loyalitaskaryawan
http://dokumen.tips/documents/pemasaran-jasa-56b03a6c2fa54.html
http://garasikeabadian.blogspot.co.id/2013/03/pengendalian-diri-self-control.html
http://ahmadareza.blogspot.co.id/
https://www.academia.edu/7008419/MAKALAH_PSIKOLOGI_SOSIAL_amanda
https://diastrianida.wordpress.com/2013/04/26/demokrasi/
http://jurnalkelasb.blogspot.co.id/2015/01/raisa-ropiqoh.html
http://digilib.unila.ac.id/4790/12/BAB%20II.pdf