Anda di halaman 1dari 14

paradigma penelitianmerupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang

peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori.
Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta
criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian[1].
Secara umum, paradigma penelitian diklasifikasikan dalam 2 kelompok yaitu penelitian kuantitatif dan
penelitian kualitatif (Indiantoro & Supomo, 1999: 12-13). Masing-masing paradigma atau pendekatan
ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau
paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di
antaranya :
(1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail
yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai
adalah paradigma kualitatif.
(2) Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian
didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma
kuantitatif, dan
(3) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian
yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin
menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja,
maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan. Hasil penelitian akan memberi kontribusi
yang lebih besar jika peneliti dapat menggabungkan kedua paradigma atau pendekatan
tersebut.
Penggabungan paradigma tersebut dikenal istilah triangulation. Penggabungan kedua
pendekatan ini diharapkan dapat memberi nilai tambah atau sinergi tersendiri karena pada
hakikatnya kedua paradigma mempunyai keunggulan-keunggulan.
Sedangkan dalam tulisan Sambas Ali M pada http://sambasalim.com/metode-penelitian/paradigmapenelitian.html., paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana
cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori,
yang dikonstruksi sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang
menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari.
Mengacu pada definisi paradigma tersebut, terungkap bahwa paradigma ilmu itu amat beragam, hal
ini didasarkan pada pandangan dan pemikiran filsafat yang dianut oleh masing-masing ilmuwan
berbeda-beda. Dimana, masing-masing aliran filsafat tersebut memiliki cara pandang sendiri tentang
hakikat sesuatu serta memiliki ukuran-ukuran sendiri tentang kebenaran. Perbedaan aliran filsafat
yang dijadikan dasar berpikir oleh para ilmuwan tersebut, kemudian berakibat pada
perbedaanparadigma yang dianut, baik menyangkut tentang hakikat apa yang harus dipelajari, obyek
yang diamati, atau metode yang digunakan.
Perbedaan paradigma yang dianut para ilmuan ternyata tidak hanya berakibat pada perbedaan
skema konseptual penelitian, melainkan juga pada pendekatan yang melandasi semua proses dan
kegiatan penelitian.
Dalam praktek penelitian ilmiah, setidaknya terdapat dua pendekatan untuk menjawab
permasalahanpenelitian yang timbul sebagai suatu fenomena yang harus dicari jawabannya,
yaitu: penelitiankuantitatif dan penelitian kualitatif.
Pendekatan kuantitatif dibangun berlandaskan paradigma positivisme dari August Comte (17981857), sedangkan
penelitian kualitatif dibangun berlandaskan paradigma fenomenologis dari Edmund Husserl
(1859-1926).
Pendekatan kuantitatif merupakan satu pendekatan penelitian yang dibangun berdasarkan filsafat
positivisme. Positivisme adalah satu aliran filsafat yang menolak unsur metafisik dan teologik dari
realitas sosial. Paradigma ini disebut juga dengan paradigma tradisional (traditional), eksperimental
(experimental), atau empiris (empiricist). Dalam penelitian kuantitatif diyakini, bahwa satu-satunya
pengetahuan (knowledge) yang valid adalah ilmu pengetahuan (science), yaitu pengetahuan yang

berawal dan didasarkan pada pengalaman (experience) yang tertangkap lewat pancaindera untuk
kemudian diolah oleh nalar (reason).
Sementara i penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang
menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosialatau budaya. Sifat humanis dari
aliran pemikiran ini terlihat dari pandangan tentang posisi manusia sebagai penentu utama perilaku
individu dan gejala sosial. Pendekatan kualitatif lahir dari akar filsafat aliran fenomenologi hingga
terbentuk paradigma post positivisme.
Pendekatan ini memandang bahwa realitas sosial yang tampak sebagai suatu fenomena dianggap
sesuatu yang ganda (jamak). Artinya realitas yang tampak memiliki makna ganda, yang
menyebabkan terjadinya realitas tadi. McMillan dan Schumacher (2001:396) menyebut realitas sosial
dalam penelitian kualitatif ini sebagai: reality as multilayer, interactive, and a shared social
experience interpreted by indviduals.
Dengan demikian dalam penelitian kualitatif, realitas sosial yang terjadi atau tampak, jawabannya
tidak cukup dicari sampai apa yang menyebabkan realitas tadi, tetapi dicari sampai kepada makna
dibalik terjadinya realitas sosial yang tampak. Oleh karena itu, untuk dapat memperoleh makna dari
realitas sosial yang terjadi, pada tahap pengumpulan data perlu dilakukan secara tatap muka
langsung dengan individu atau kelompok yang dipilih sebagai responden atau informan yang
dianggap mengetahui atau pahami tentang entitas tertentu seperti: kejadian, orang, proses, atau
objek, berdasarkan cara pandang, persepsi, dan sistem keyakinan yang mereka miliki.

Ontologi
Ontologi adalah reori dari cabang filsafat yang membahas tentang realitas. Realitas ialah kenyataan
yang selanjutnya menjurus pada suatu kebenaran. Bedanya realitas dalam ontologi ini melahirkan
pertanyaan-pertanyaan : apakah sesungguhnya hakikat dari realitas yang ada ini; apakah realitas
yang ada ini sesuatu realita materi saja; adakah sesuatu di balik realita itu; apakah realita ini
monoisme, dualisme, atau pluralisme. Menurut Bramel, interprestasi tentang suatu realita itu dapat
bervariasi.
Di dalam pendidikan,pandangan ontologi secara praktis, akan menjadi masalah yang utama.
Membimbing anak untuk memahami realita dunia dan membina kesadaran tentang kebenaran yang
berpangkal atas realita itu merupakan stimulus untuk menyelami kebenaran itu. Dengan sendirinya
potensi berpikir kritis anak-anak untuk mengerti kebenaran itu telah dibina. Di sini kewajiban pendidik
adalah untuk membina daya pikir yang tinggi dan kritis.
2. Epistemologi
Istilah epistemologi pertama kali dicetuskan oleh L. F. Ferier pada abad 19 di Institut of Methaphisycs
(1854). Buku Encyclopedia of Phylosophy, dan Brameld mempunyai pengertian yang hampir sama
tentang epistemologi. Epistemologi aalah studi tentang pengetahuan, bagaimana kita mengetahui
benda-benda. Contoh beberapa pernyataan yang menggunakan kata tahu yang berdeda sumber
maupun validitasnya:
a. Tentu saja saya tahu ia sakit, karena saya melihatnya;
b. Percayalah, saya tahu apa yang saya bicarakan;
c. Kami tahu mobilnya baru, karena baru kemarin kami menaikinya.

Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan


dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan
yang dimiliki. Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas beberapa point

diantaranya
adalah
: Pengertian
Epistemologi,Metode
Induktif,Metode
Deduktif, Metode Positivisme,Metode Kontemplatif, Metode Dialektis
istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti
teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau
sumber,
struktur,
metode
dan
sahnya
(validitasnya)
pengetahuan.
Source: http://www.eurekapendidikan.com/2014/10/hakikat-epistimologi-dalam-kajian-FilsafatIlmu.html
Disalin dan Dipublikasikan melalui Eureka Pendidikan

Jadi, Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula
atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.

Filsafat Ilmu (Epistemologi)

EPISTEMOLOGI
1.

PENGERTIAN EPISTEMOLOGI
Istilah epistemologi didalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Theory of
knowledge. Epistemologi berasal dari kata episteme dan logos. Episteme berarti
pengetahuan dan logos berarti teori. Ada beberapa pengertian epistemologi yang
diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya
epistemologi itu.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Istilah
epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori.
Menurut Musa Asyarie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan
mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik
untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.
Menurut Dagobert D.Runes epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas
sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra
menambahkan, bahwa epistemologi sebagai ilmu yang membahas tentang keaslian,
pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan.
Jadi, Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal
mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
2. OBJEK DAN TUJUAN ESTIMOLOGI
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan
dengan tujuan, sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara
cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran, sedang
tujuan hampir sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi objek dan tujuan memiliki
hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan
Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa segenap proses yang
terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Proses untuk memperoleh

pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi
mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara
yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa
terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Jacques Martain mengatakan: Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk
menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat
yang memungkinkan saya dapat tahu. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan
untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang
menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin
memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
3. LANDASAN EPISTEMOLOGI
Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah; yaitu cara yang dilakukan ilmu
dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam
mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan
pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut
ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa
disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. Dengan demikian, metode ilmiah
merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi
yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. Metode ilmiah telah dijadikan
pedoman dalam menyusun, membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu.
Menurut Burhanudin Salam Metode ilmiah dapat dideskripsikan dalam langkahlangkah sebagai berikut :
(1)

Penemuan atau Penentuan masalah. Di sini secara sadar kita menetapkan masalah yang
akan kita telaah denga ruang lingkup dan batas-batasanya. Ruang lingkup permasalahan ini
harus jelas. Demikian juga batasan-batasannya, sebab tanpa kejelasan ini kita akan
mengalami kesukaran dalam melangkah kepada kegiatan berikutnya, yakni perumusan
kerangka masalah;

(2)

Perumusan Kerangka Masalah merupakan usaha untuk mendeskrisipakn masalah dengan


lebih jelas. Pada langkah ini kita mengidentifikasikan faktor-faktor yang terlibat dalam
masalah tersebut. Faktor-faktor tersebut membentuk suatu masalah yang berwujud gejala
yang sedang kita telaah.

(3)

Pengajuan hipotesis merupakan usaha kita untuk memberikan penjelasan sementara


menge-nai hubungan sebab-akibat yang mengikat faktor-faktor yang membentuk kerangka
masalah tersebut di atas. Hipotesis ini pada hakekatnya merupakan hasil suatu penalaran
induktif

deduktif

dengan mempergunakan pengetahuan

yang sudah

kita ketahui

kebenarannya.
(4)

Hipotesis dari Deduksi merupakan merupakan langkah perantara dalam usaha kita untuk
menguji hipotesis yang diajukan. Secara deduktif kita menjabarkan konsekuensinya secara
empiris. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan identifikasi

fakta-fakta apa saja yang dapat kita lihat dalam dunia fisik yang nyata, dalam hubungannya
dengan hipotesis yang kita ajukan.
(5)

Pembuktian hipotesis merupakan usaha untuk megunpulkan fakta-fakta sebagaimana telah


disebutkan di atas. Kalau fakta-fakta tersebut memag ada dalam dunia empiris kita, maka
dinyatakan bahwa hipotesis itu telah terbukti, sebab didukung oleh fakta-fakta yang nyata.
Dalam hal hipotesis itu tidak terbukti, maka hipotesis itu ditolak kebenarannya dan kita
kembali mengajukan hipotesis yang lain, sampai kita menemukan hipotesis tertentu yang
didukung oleh fakta.

(6)

Penerimaan Hipotesis menjadi teori Ilmiah hipotesis yang telah terbukti kebenarannya
dianggap merupakan pengetahuan baru dan diterima sebagai bagain dari ilmu. Atau dengan
kata lain hipotesis tersebut sekarang dapat kita anggap sebagai (bagian dari) suatu teori
ilmiah dapat diartikan sebagai suatu penjelasan teoritis megnenai suatu gejala tertentu.
Pengetahuan ini dapat kita gunakan untuk penelaahan selanjutnya, yakni sebagai premis
dalam usaha kita untuk menjelaskan berbagai gejala yang lainnya. Dengan demikian maka
proses kegiatan ilmiah mulai berputar lagi dalam suatu daur sebagaimana yang telah
ditempuh dalam rangka mendapakan teori ilmiah tersebut.

3.1. Beberapa Jenis Metode Ilmiah


Menurut Burhanudin Salam beberapa jenis metode ilmiah yaitu :
1.

Observasi
Beberapa ilmu seperti astronomi dan botani telah dikembangkan secara cermat dengan
metode observasi. Didalam metode observasi melingkupi pengamatan indrawi seperti :
melihat, mendengar, menyentuh, meraba.

2.

Trial and Error


Teknik yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan baik metode, teknik, materi,
parameter-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu, memerlukan waktu yang lama
dan biaya yang tinggi.

3.

Metode eksperimen
Kegiatan ekperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat dan
pengajuan hipotesis. Peranan metode ini adalah hanya untuk membedakan satu faktor atau
kondisi pada suatu waktu, sedangkan faktor-faktor lainnya diusahakan tidak berubah atau
tetap.

4.

Metode Statistik
Istilah

statistik

berarti

pengetahuan

tentang

mengumpulkan,

menganalisis

dan

menggolongkan data sebagai dasar induksi. Metode statistik telah ada sejak lama, yaitu
untuk membantu pemimpin dan penguasa mengumpulkan data tentang penduduk,
kematian, kesehatan dan perpajakan. Metode statistik ini telah berkembang dan lebih
menarik minat lagi, sehingga metode statistik dipakai dalam kehidupan sehari-hari misalnya
perdagangan, peredaran uang dan lain sebagainya. Statistik memungkinkan kita untuk

menjelaskan sebab dan akibat dan pengaruhnya, melukiskan tipe-tipe dari fenomenafenomena dan kita dapat membuat perbandingan-perbandingan dengan mempergunakan
tabel-tabel dan grafik. Statistik juga dapat meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang
dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
5.

Metode Sampling
Terjadinya sampling, yaitu apabila kita mengambil beberapa anggota atau bilangan tertentu
dari suatu kelas atau kelompok sebagai wakil dari keseluruhan kelompok tersebut dapat
mewakli secara keseluruhan atau tidak. Seandainya bahan yang akan kita uji itu
menunjukkan kesamaan jenisnya melalui sebuah sampel dapatlah diperoleh hasil dengan
ketepatan yang tinggi.

6.

Metode Berpikir Reflective


Metode reflective thinking pada umumnya melalui enam tahap, yaitu :
a. Adanya kesadaran kepada sesuatu masalah
b. Data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan
c. Data yang terorganisasi
d. Formulasi Hipotesis
e. Deduksi Hipotesis
f. Deduksi harus berasal dari hipotesis
g. Pembuktian kebenaran verifikasi
3.2. Teori-Teori Kebenaran
Menurut Endang Saifuddin Anshari (dalam H. Mumuh M. Zakaria, 2008) Teori
kebenaran dapat ditentukan dengan :

1.

Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) :

a.

Kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan


lainnya yang sudah lebih lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar.

b.

Suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusanputusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya.
Contoh: Semua manusia akan mati. Si Polan adalah seorang manusia.Si Polan pasti akan
mati. Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah
puteri Sukarno.
Teori ini dianut oleh mazhab idealisme. Penggagas teori ini adalah Plato (427-347 S.M.) dan
Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Hegel dan F.H. Bradley (18641924).

2.

Teori Korespondensi (The Correspondence Theory of Thruth):


Kebenaran adalah kesesuaian antara pernya-taan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri.
Contoh: Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Teori ini digagas oleh Aristoteles (384-322 S.M.), selanjutnya dikembangkan oleh Bertrand
Russel (1872-1970). Penganut teori ini adalah mazhab realisme dan materialisme.
3.

Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth):


Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat
fungsional dalam kehidupan praktis; dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar jika
pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kata kunci teori ini
adalah: kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang
memuaskan (satisfactory consequencies).
Pencetus

teori

ini

adalah

Charles

S.

Pierce

(1839-1914)

dan

William

James.

Kritik: betapa kabur dan samarnya pengertian berguna (usefull) itu.


4.

RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI


M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas
pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam,
tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa
epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya,
apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa
kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan
sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah
pokok ; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara
ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha
menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan
apa yang diketahui dibidang tertentu.
Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-aspek tertentu
yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa seolaholah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu.
Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas
pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis.
Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang
membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam
pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Namun,

penyederhanaan

makna

epistemologi

itu

berfungsi

memudahkan

pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat,
khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan
pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi
sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan
yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan bangunan
pengetahuan.

5.

EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN
Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya dalam
hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan
pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan dan
cara menyempaikannya seperti apa? Semua itu adalah epistemologinya pendidikan.
Lahirnya KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah salah satu usaha baik dari
pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik dari segi kognitif,
afektif, dan psikomotor.
Melihat kondisi ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah seharusnya pengetahuan
apa yang harus diberikan kepada anak didik?. Hal ini tentu terkait dengan pengetahuan
kita akan kebutuhan yang diperlukan anak didik. Harus mengetahui dan memahami
berbagai kemampuan atau kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak. tidak bisa semua
siswa diberlakukan sama.
Bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Pada dunia pendidikan cara
memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan justru pada sekolah-sekolah
swasta yang pada dasarnya tidak ingin tergantung pada kapitalisme semata. Mereka
mendidik anak-anak dengan mengembangkanpotensi yang ada dengan harapan anak-anak
bisa berkembangan secara maksimal. Cara tradisional, guru dianggap sebagai pusat
segala-galanya. Guru yang paling pandai dan gudang ilmu. Siswa adalah penerima. Cara
model sekarang, banyak diantaranya mengembangkan metode active learning untuk
memacu kreativitas dan daya inisiatif siswa. Guru hanya sebagai fasiltator saja. Guru
mengarahkan siswa. Siswa dapat memperolehnya melalui diskusi, problem based
learning (PBL), pergi ke perpustakaan, belajar dengan e-learning (internet), membaca dan
sebagainya. Cara-cara seperti ini akan memacu potensi siswa daripada siswa diperlakukan
hanya sebagai objek yag pasif saja.
Bagaimana cara menyampaikannya?. Pertanyaan ini terkait dengan kompetensi
guru serta metode atau gaya pengajaran yang mereka terapkan. Cara penyampaian cukup
mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar. Salah satu contoh SD Kreatif. SD ini
memberikan pengajaran yang unik. Kadang guru memberikan pendidikan dengan outbound,
dengan bentuk dongeng atau cerita, atau dengan memberikan pesan moral dan mengajak
untuk berpikir rasional.
6.

EPISTEMOLOGI MATEMATIKA
Kajian epistemologi matematika adalah sekelompok pertanyaan mengenai apakah

matematika itu (pertanyaan yang diperbincangkan oleh para ahli matematika selama lebih
daripada 2000 tahun),
termasuk jenis pengetahuan apa (pengetahuan empirik ataukah pengetahuan prapengalaman),
bagaimana ciri-cirinya (deduktif, abstrak, hipotesis, eksak, simbolik, universal,
rasional, dan kemungkinan ciri lainnya), serta

lingkupan dan pembagian pengetahuan matematika (matematika murni dan


matematik terapan serta berbagai cabang matematika yang lain).
Demikian pula persoalan tentang kebenaran matematika seperti misalnya sifat
alaminya dan macamnya. Jadi, matematika jika ditinjau dari aspek epistemologi, matematika
mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran
secara kuantitatif.
Problem dasar pendidikan matematika kita di Indonesia adalah siswa atau
mahasiswa tidak dibiasakan untuk menginterpretasikan sebuah persoalan. Padahal,
matematika itu adalah interpretasi manusia terhadap fenomena alam. Dampaknya, siswa
bahkan mahasiswa, pandai mengerjakan soal, tetapi tidak bisa memberikan makna dari soal
itu. Matematika hanya diartikan sebagai sebuah persoalan hitung-hitungan yang siap untuk
diselesaikan atau dicari jawabannya. Ini akibat tidak diajarkannya filsafat atau latar belakang
ilmu matematika.

aradigma berurusan dengan prinsip-prinsip pertama, atau prinsip-prinsip


dasar. Paradigma adalah konstruksi manusia. Paradigma menentukan
pandangan dunia peneliti sebagai bricoluer. Suatu paradigma meliputi tiga
elemen : Epistemologi, ontologi,dan metodologi. Epistemologi
mengajukan pertanyaan, bagaiman kita mengetahui dunia ? hubungan
apa yang muncul antara pentiliti dengan yang diketahui ? Ontologi
memunculkan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hakikat realitas.
Metodologi memfokuskan diri pada cara kita meraih pengetahuan tentang
dunia. Guba dan Lincoln, menunjukan garis besar perbedaan utama
paradigma antara kaum positivis, post-positivis, teori kritis dan kaum
konstruktivis.
Warisan Kaum Positivisi
Epistemologi, Ontologi, Metodologi
Kaum positivis konvensional menerapkan empat kriteria guna
menertibkan penlitian : Validitias internal, derajat ketepatan hasil
penelitian dalam memetakan fenomena yang dikaji; Validitas eksternal,
derajat hasil penelitian yang dapat digeneralisasikan untuk berbagai
setting lain yang sama dengan setting tempat berlangsungnya penelitian
tersebut; reliabilitas, sejauh mana hasil penelitian dapat diulang, atau
dihasilkan kembali, oleh peneliti yang lain; dan objektivitas, sejauh mana
hasil penlitian bebas dari bias. Warisan kaum positivis dan post-positivis
baru-baru ini telah menuai banyak kecaman. Guba dan Lincoln meninjau
ulang kecaman-kecaman ini, menyatakan bahwa kedua paradigman
tersebut tidak cukup mampu menjawab isu-isu berdimensi etis, emik,
nomotetik, dan idiografik yang mengelilingi penelitian. Terlalu banyak
makna lokal ( emic ) dan makna berbasis kasus ( idiografik ) yang
dikesampingkan oleh posisi positivis nomotetik ( etik ) yang serba
menggenarilisasi.
Konstruktivisme dan Teori Kritis.

Konstruktivisme, seperti yang dipaparkan oleh Guba dan lincoln,


mengadopsi ontologi kaum relativis ( ontologi relativisme ), epistemologi
transaksional, dan metodologi hermeneutis atau dialetis. Tujuan-tujuan
penelitian dari paradigma ini diarahkan untuk menghasilkan berbagai
pemahaman yang bersifat rekonstruksi, yang didalamnya kriteria kaum
positivis tradisional tenang validitas internal dan ekesternal digantikan
dengan terma-terma sifat layak dipercaya ( trustworthiness ) dan
otentisitas ( authenticity ). Thomas Schwandt tentang pendekatan
konstruktivis dan interpretivis dalam bab 7 mengidentifikasi perbedaan
dan aliran pemikiran utama yang ada dalam kedua pendekatan ini, yang
dipersatukan oleh penentang keduanya terhadap positivisme dan
komitmennya untuk mempelajari dunia dari sudut pandang individu yang
berinteraksi. Namun kedua perspektif ini, seperti yang diyakini oleh
Schwandt, lebih dibedakan oleh komitmennya pada soal-soal tentang cara
mengetahui ( epistemologi ) dan wujud ( ontologi ) daripada oleh
metodologi spesifiknya, yang pada dasarnya menegakkan pendekatan
emik dan idiografik daripada oleh metodologi spesifiknya, yang pada
dasarnya menegakkan pendekatan emik dan idiografik terhadap
penelitian.
Dalam bingkai Guba dan Lincoln, paradigma ini, dalam berbagai
macam bentukanya, menegaskan sebuah ontologi yang didasarkan pada
realisme historis, sebuah epistemologi, yang bersifat transaksional dan
sebuah metodologi yang bersifat dialogis dan dialektis.
Perspektif Interpretif
Masing-masing dari ketiga teori feminisme yang diidentifikasi oleh
Virginia Olesan dalam Bab 9 ( epistemologi sudut pandang, kajian empiris,
post-modernisme ), mengambil sikap berbeda terhadap tradisi kaum postpositivis. Para pakar Epistemologi sudut padang menolak metologi baku
ilmu sosial yang baik ( karena mereka ) menjadikan manusia sebagai
objek.. Jika ( para ahli sosisologi ) bekerja dengan metode berpikr dan
metode penelitian baku, mereka memasukkan relasi-relasi kekuasaan ke
dalam teks yang mereka hasilkan.Dengan menggunakan studi kasus,
observasi partisipan, wawancara, dan analisis kritis terhadap teks-teks
sosial.
Sebaliknya , feminisme empiris sejalan dengan bahasa kaum postpositivis tentang validitas, reliabitilitas, kredebelitias, berbagai strategi
penelitian multimetode, dan sebagainya. Pada pengujian hipotesis,
penjelasan, prediksi , hubungan sebab-akibat, dan standar keketatan
konvensional, termasuk di dalamnya validitas iternal dan eksternal. Di sini
tujuannya adalah untuk mengaplikasikan sepenuhnya metodologi
kualitatif pada isu-isu feminis.
Teori dan pemikiran feminis sedang menyusun ulang praktikpraktik penelitian kualitatif. Inilah yang terutama berlangsung pada
pendekatan-pendekatan yang dibentuk oleh epistomologi sudut padang
dan model-model kajian kebudayaan.

Model-model penelitian etnis sekurang-kurangnya juga bergerak


menuju tiga arah yang berbeda. Kaum empiris etnis tradisional
menggunakan metode observasi partisipan, wawancara, dan studi kasus
untuk menguji pengalaman pengalaman nyata dari minoritas etnis
tertentu.
Model-model etnis Marxis dibangun di atas brbagai epistemologi
sudut pandang smith dan lainnya unutk menguji secara eksplisit seberapa
besar kebudayaan lokal dan ilmu pengetahuan lokal dapat menetralkan
berbagai kecenderungan hegemonik dari ilmu pengetahuan yang disifati
sebagai objek . Model model etnis post-modern mengelaborasi
berbagai macam mdel kajian kebudayaan yang berbeda ntuk mengkaji
cara-cara ras dan etnisitas secara paksa dimasukkan ke dalam kehidupan
sosial sehari-hari.
Berbagai Paradigma yang Bersaing dalam Penelitian Kualitatif

Perbedaan kuantitaif / Kualitatif


Pandangan yang di terima tentang ilmu ( positivisme, berubah
menjadi post positivisme sepanjang berjalanan abad ini ) memfokuskan
diri pada usaha-usaha untuk memverifikasi atau memfalsifikasi berbagai
hipotesis a priori, yang paling bermanfaat dinyatakan sebagai proposisi
( kuantitatif ) matematus ata berbagai proposisi yang dapat dengan
mudah dirubah ke dalam rumus-rumus eksak matematika yang
menunjukkan hubungan fungsional ketepatan perumusan sangatlah
bermanfaat ketika tujuan ilmu adalah untuk memprediksi dan
mengendalikan fenomena alam
John Stuart Mill di sebut sebut sebagai orang pertama yang
mendorong para ahli ilmu sosial untuk mengungguli sepupu mereka yang
lebih tua dan lebih keras , dengan menjanjikan bahwa apabila sarannya
dituruti, maka pematangan pesat bidang bidang keilmuan ini, sekaligus
kebangkitan dari kungkungan filosifis dan teologis yang membatasi
mereka, akan menyusul. Para ahli ilmu sosial benar-benar mengikuti saran
tersebut.
Sifat Paradigma
Paradigma sebagai Sistem kepercayaan dasar yang didasarkan
pada asumsi-asumsi ontologis, Epistemologis, dan metodologis.
Sebuah Paradigma bisa dipandang sebagai
sekumpulan kepercayaan dasar ( atau metafisika ) yang berurusan
dengan prinsip-prinsip puncak atau pertama. Paradigma
mewakili pandangan dunia yang menentukan, bagi pemakainnya, sifat
dunia , tempat individu di dalamnya, dan rentang hubungannya yang
dimungkinkan dengan dunia tersebut dan bagian bagiannya, seperti
misalnya , yang dilakukan oleh kosmologi dan teologi .

Para peneliti, berbaga paradigma penelitian memberikan


penjelasan tentang apa yang hendak mereka lakukan dan apa saja yang
masuk dalam dan di luar batas-batas penilitian yang sah. Berbagai
paradigma penelitian dapat diringkas berdasarkan jawaban-jawaban yang
diberikan oleh para penganut sebuah paradigma tertentu untuk menjawab
tiga pertanyaan fundamental, yang saling berkaitan erat sedemikian rupa
sehingga jawaban yang diberikan untuk satu pertanyaan, apa pun
susunannya , memaksa pola jawaban bagi dua pertanyaan lainnya.
1. Pertanyaan Ontologis. Apakah bentuk dan sifat realitas dan, oleh karena
itu, apakah ang ada di sana yang dapat diketahui tentangnya ? jika
diasumsikan sebuah dunia nyata , sesuatu yang dapat diketahui
tentangnya merupakan bagaimana keadaan segala sesuatu itu yang
sesungguhnya dan bagaimana cara kerja segala sesuatu itu yang
sesungguhnya .
2. Pertanyaan Epistemologis. Apakah sifat yang terjalin antara yang
mengetahui atau calon yang mengetahui dengan sesuatu yang dapat
diketahui ? jawaban yang dapat diberikan untuk pertanyaan ini dibatasi
oleh jawaban yang ditelah diberikan untuk pertayaan ontologis,
diasumsikan suatu realitas yang nyata , sikap yang mengetahui
haruslah berupa sikap keterpisahan objektif atau bebas nilai agar mampu
menemukan bagaimana keadaan segala sesuatu itu yang sesungguhnya
dan bagaimaan cara kerja segala sesuatu itu yang sesungguhnya .
3. Pertanyaan metodologis. Apa saja cara yang ditempuh penliti ( calin yang
akan mengetahui ) untuk menemukan apapu yang ia percaya dapat
diketahui ? sekali lagi jawaban yang dapat diberikan terhadap pertanyaan
ini dibatasi oleh jawaban-jawaban yang telah diberikan untuk dua
pertanyaan ; artinya, tidak sembarangmetode yang sesuai. Misalnya ,
sebuah realitas nyata yang dikaji oleh seorang penliti yang obejektif
memberikan kontrol terhadap faktor-faktor yang mungkin campur aduk,
apakah metode tersebut merupaka metode kualitatif atau metode
kuantitaif.
Tiga pertanyaan ini berperan sebagai fokus utama yang menjadi sumber
analisis kami terhadap masing-masing dari keempat paradigma yang
hendak dipertimbangkan.
Paradigma sebagai konstruksi Manusia
Kami telah mengemumakan bahwa paradigma, sebagai
sekumpulan kepercayaan dasar, sulit dibuktikan dalam pengertian
konvesional; tidak ada cara untuk meningkatkan satu paradigma di atas
paradigma yang lain berdasarkan kriteria puncak atau fundamen. Dengan
mempertimbangkan cara yang mereka pilih untuk menjawab tiga
pertanyaan pokok tersebut. Kami berpendapat sederet jawaban yang
diberikan dipandang dari semua sisi adalah kontruksi manusia; artinya,
sederet jawabann tersebut adalah cipataan pikiran manusia dan
karenanya tunduk pada kesalahan manusia. Tidak ada konstruksi yang
benar atau dapat menjadi benar tanpa memunculkan perdebatan; para
pendukung konstruksi apa pun harus lebih bersandar pada sifat

kepahaman dan kemanfaatan daripada pembuktian dalam mempertahankan


posisi mereka

Kepercayaan kepercayaan dasar dalam paradigma penelitian yang


diterima dan paradigma alternative
terma positivisme mengacu pada pandangan yang diterima yang telah
mendominasi wacana formal dalam ilmu ilmu social dan ilmu ilmu fisik ,
sementara post-positivisme mewakili upaya upaya beberapa dasar warna
lalu (untuk memberikan jawaban secara terbatas yakni pada saat masih
berada dalam sederet kepervcayaan dasar yang sama) terhadap kritik
yang paling probablematis dalam positivism , terma umum yang yang
mengacu pada beberapa paradigma alternative yang
mencakupdidalamnya namun tidak terbatas pada neo marxisme ,
feminisme , materialisme dan sendiri serta bermanfaat jika dibagi dalam
tiga aliran
analisis Intraparadigma
kolom 1 : positivisme
ontology : realisme (secara umum disebut realisme naf) sebuah
realitas yang bisa dipahami diasumsikan hadir , yang dikendalikan oleh
hukum hukum alam mekanisme yang tak dapat diubah .
sedangkan dalam epitemologi : dualis dan objektivis , peneliti dan objek
yang diteliti dianggap sebagai entitas yang terpisah , sedangkan peneliti
dipandang mampu mempelajari objek tanpa mempengaruhi atau
dipengaruhi olehnya
kolom 2 : post positivisme
ontology: realisme kritis . realitas diasumsikan ada namun tidak bisa
dipahami secara sempurna karena pada dasarnya mekanisme intelektual
manusia memiliki kecendrungan kekurangan sedangkan fenomena itu
sendiri secara fundamental memiliki sifat yang tidak mudah diatur.
Ontology disebut dengan realisme kritis
epistemology : dualis/objektifitas yang dimodifikasi dualisme sudah
banyak ditinggalkan karena tidak mungkin lagi dipertahankan , tetapi
objek tetap menjadi cita cita pemandu penekan khusus
metodologi eksperimental/ manipulative yang di modifikasi. Penekan
diberikan kepada keragamaan keritis satu cara untuk mengklasifikasikan
hipotesis
Kolom 3 : teori krits dan ideologis terkait

Ontology: realisme Historis. Sebuah realitas dianggap bisa dipahami


pernah suatu berciri lentur, namun dari waktu ke waktu dibentuk oleh
serangkaian factor social ,politik, budaya dan ekonomi, etnik gender, yang
kemudian mengkristalkan kedalam serangkaian sebagai nyata
Epistomologi : transaksional dan subjektivitas peneliti dan objek yang
diteliti terhubung secara interaktif, dengan nilai nilai peneliti
mempengaruhi penelitian secara tak terhindarkan
Metodologi : dialogis dan dialektis. Sifat transaksional peneliti
membutuhkan dialog antara peneliti dan subjek subjek penelitian