Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

KOMA MIKSEDEMA

OLEH:
KELOMPOK 4 / AJ1
NI NYOMAN MUNI

131411123043

KATHLEEN ELVINA H

131411123046

TRIYANA PUSPA DEWI

131411123047

TITIS EKA A

131411123049

INAS HUSNUN H

131411123051

ACHMAD ALI BASRI

131411123053

INDRIANI KENCANA W131411123055

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Hipotiroidisme adalah gangguan umum disertai gambaran klinis yang luas,
pasien dapat asimptomatik atau dapat mengalami sakit berat disetai koma
miksedema. Hipotiroidisme sering terjadi pada wanita dan insidennya
meningkat sesuai usia. Sekitar 10% sampai 15% pasien lansia mengalami
peningkatan TSH akibat hipotiroidisme dan penapisan rutin kelompok
berisiko tinggi sering dilakukan pada lingkungan keperawatan primer.
(Morton, 2011)
Koma miksedema biasanya dijumpai pada lansia yang mengalami
hipotiroidisme dan tidak mendapat pengobatan yang adekuat. Koma
miksedema lebih sering terjadi pada wanita lansia yang mengalami tiroiditis
otoimun. Koma miksedema juga dapat terjadi setelah penyakit akut pada
populasi ini. Pajanan yang lama terhadap cuaca dingin pada individu lansia
dapat menimbulkan gangguan ini. (Corwin, 2009)
Menurut data insiden pada umumnya penyakit ini mengenai individu
berusia 30-50 tahun. Hipotiroidisme sering terjadi pada wanita memiliki
jumlah prevelensi 1-2% dan meningkat dengan usia (10% dewasa > 65
tahun). Koma mixedema merupakan hipotiroidisme paling serius dan sering
di picu oleh penyakit lain. Dan meningkatkan Mortalitas 100 % jika tidak
diobati. (Smeltzer, Suzanne, 2002). Dengan tirotoksikosis yang terkendali dan
penanganan dini krisis tiroid, angka kematian dapat diturunkan hingga kurang
dari 20%. Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiroidisme yang
paling ekstrim dan berat, di mana pasien mengalami hipotermia dan tidak
sadarkan diri. Pasien dapat mengalami gejala depresi respiratorik sehingga
timbul hipoventilasi alveolar, retensi CO2 progresif, keadaan narcosis dan
koma, disertai dengan kolaps kardiovaskuler dan syok. Hal ini memerlukan
terapi yang agresif dan intensif jika kita ingin pasien tetap hidup. Meskipun
demikian, dengan terapi yang intensif sekalipun, angka mortalitasnya tetap
tinggi (Brunner & Suddarth. 2002).

Buruknya kondisi pasien dengan koma mixedema bila tidak ditangani


lebih awal dapat berakibat fatal karena dalam keadaan ini dijumpai
dekompensasi satu atau lebih system organ. Sebagaimana telah kita lihat
dalam data sebelumnya karena mortalitas amat tinggi, kecurigaan dengan
diagnosis yang dini dan penanganan yang adekuat prognosis biasanya akan
lebih baik. Oleh karena itu diperlukan perawatan yang intensif dan
pengawasan terus menerus dan juga yang terpenting adalah pemahaman yang
tepat

tentang

kasus

tersebut

terutama

mengenai

diagnosis

dan

penalaksanaannya baik secara medis maupun keperawatan. Sehingga dengan


pemahaman tersebut dapat lebih meningkatkan kuliatas dan kuantitas asuhan
keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan koma miksedema.
2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kelompok angkat dalam makalah ini,
antara lain:
1) Bagaimana konsep Koma Miksedema?
2) Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Koma Miksedema?

Tujuan
1.3.1 Tujuan umum

1)

Menjelaskan konsep Koma Miksedema.

2)

Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan Koma Miksedema.


1.3.2 Tujuan Khusus
1) Menjelaskan anatomi dan fisiologi kelenjar tiroid
2) Menjelaskan definisi Koma Miksedema.
3) Menjelaskan etiologi Koma Miksedema
4) Menjelaskan patofisiologi Koma Miksedema
5) Menjelaskan manifestasi klinis Koma Miksedema.
6) Menjelaskan pemeriksaan diagnostic pada Koma Miksedema.
7) Menjelaskan penatalaksanaan Koma Miksedema.
8) Menjelaskan WOC Koma Miksedema
9) Menjelaskan asuhan keperawatan pada klien dengan Koma Miksedema
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi


2.1.1 Anatomi

Gambar 2.1.1 Kelenjar Tiroid (Pustaka Sekolah, 2013)

Gambar 2.1.2 Kelenjar Tiroid (Pustaka sekolah, 2013)


Kelenjar tiroid terdiri atas dua buah lobus yang terletak di sebelah kanan
dan kiri trakhea, dan diikat bersama oleh secarik jaringan tiroid yang disebut
istmus tiroid dan yang melintasi trakhea di sebelah depannya.
Struktur. Kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel yang dibatasi
oleh epitelium silinder , mendapat persediaan darah berlimpah-limpah dan yang
disatukan oleh jaringan ikat. Sel itu mengeluarkan sekret cairan yang bersifat lekat

yaitu koloida tiroid, yang mengandung zat snyawa yodium; zat aktif yang utama
dari senyawa yodium ini adalah hormon tiroksin. Sekret ini mengisi vesikel dan
dari sini berjalan ke aliran darah darah, baik langsung ataupun melalui saluran
limfe. (Pearce, 2008)
Hormon tiroid (thyroid hormon, TH) adalah hormon amina yang di sintesis
dan dilepaskan dari kelenjar tiroid. Hormon ini dibentuk ketika satu atau dua
molekul iodin disatukan dengan glikoprotein besar disebut tiroglobulin, yang
disintesis di kelenjar tiroid dan mengandung asam amini tirosin. Kompleks yang
mengandung iodin disebut iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian menyatu untuk
membentuk dua jenis TH yang bersirkulasi disebut T3 dan T4. T3 dan T4 berbeda
dalam jumlah total molekul iodin yang dikandungnya. Sebagian besar (90%) HT
yang dilepaskan ke dalam aliran darah adalah T4 tetapi T3 secara fisiologis lebih
poten (Corwin,2009)
2.1.2 Fisiologi
Sekresi tiroid diatur oleh sebuah hormon dari lobus anterior kelenjar
hipofisis, yaitu oleh hormon tirotropik. Fungsi kelejar tiroid sangat erat bertalian
dnegan kegiatan metabolik dalam hal pengaturan susunan kimia dalam jaringan;
bekerja sebagairangsang proses oksidasi, mengatur penggunaan oksigen dan
dengan sendirinya mengatur pengeluaran karbon dioksida.
Hiposekresi (hipotiroidisma). Bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan
sekret pada waktu bayi maka mengakibatkan suatu keadaan yang dikenal sebagai
kretinisme, berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik. Pada orang dewasa,
kekurangan sekresi mengakibatkan miksedema; proses metabolik mundur dan
terdapat kecendenrungan untuk bertambah berat, gerakannya lamban, cara
berpikir dan bicara lamban dan kulit menjadi tebal dan kering, rambut rontok dan
menjadi jarang. Suhu badanya di bawah normal, dan denyut nadi perlahan.
(Pearce, 2008)
Jika gangguan berupa hipotiroid tidak segera ditangani, maka akan dapat
mengakibatkan terjadinya koma miksedema yang menggambarkan hipotiroid
yang paling ekstrem dan berat, dimana pasien mengalami hipotermia dan tidak
sadarkan diri. Sedangkan jika hipertiroid tidak segera ditangani, maka akan dapat
mengakibatkan krisis tiroid berupa hipertiroid berat yang biasanya terjadi dengan

awitan mendadak dan ditandai dengan hiperpireksia, takikardia yang ekstrim serta
perubahan status mental yang sering terlihat sebagai delirium (Smeltzer &
Susanne, 2002).
2.2 Pengertian
Koma miksedema adalah kedaruratan yang membahayakan jiwa akibat
hipotiroidisme ekstrem yang jarang terjadi. Koma miksedema biasanya terjadi
pada pasien lansia selama musim dingin setelah faktor pencetus seperti stress,
peajanan terhadap suhu dingin yang ektrem, atau trauma. Selain koma,
komplikasi koma miksedemaadalah efusi perikardium dan pleura, megakolon
disetai ileus paralitik, dankejang. Kematian dapat terjadi jika hipoksia dan
hipokapnea berar tidak terobati. (Hudak, 2012)
Miksedema adalah keadaan lebih lanjut yang diakibatkan oleh karena
kadar hormon tiroid dalam darah berkurang. Karena kurang aktifnya kelenjar
tiroid dalam menghasilkan hormon tiroid atau hormon tiroid yang dihasilkan
terlalu sedikit (Hipotiroidisme). Miksedema merupakan bentuk hipotiroid
terberat, pasien menjadi letargi dan bisa berlanjut pada keadaan stupor atau
Koma Miksedema (John A. Boswick, 1988).
Koma Miksedema adalah keadaan yang mengancam nyawa yang ditandai
oleh eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk
hipotermia tanpa menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan
penurunan kesadaran yang menyebabkan koma (Corwin, 2009).
2.3 Etiologi
Koma tercetus pada pasien hipotiroid kronis karena terpajan dingin,
infeksi, hipoglikemia, agen depresan pernafasan, reaksi alergi, atau stres
metabolik lainnya. (Graber,dkk.2006)
Koma miksedema lebih sering terjadi pada wanita lansia yang mengalami
tiroiditis otoimun, pajanan yang lama terhadap cuaca dingin pada individu
lansia dapat juga menimbulkan gangguan tersebut (Corwin, 2009).
Faktor predisposisi menurut Hudak, 2012 :
a. Usia
b. Stress

c. Pajanan terhadap suhu dingin yang ektrem


d. Trauma
2.4 Patofisiologi
Pada hipotiroidisme terjadi penurunan metabolism basal dan pasien mudah
merasa kedinginan. Penggunaan oksigen, ventilasi, dan eritropoiesis akan
berkurang. Berkurangnya lipolisis mendorong peningkatan berat badan dan
hiperlipidemia sedangkan berkurangnya pemecahan kolesterol menjadi asam
empedu dengan segera menyebabkan hiperkolesterolemia sehingga memudahkan
terjadinya aterosklerosis. Gangguan glikogenolisis dan glukoneogenesis dapat
menyebabkan

hipoglikemi.

Berkurangnya

pemecahan

glukosaminoglikan

menyebabkan penumpukan senyawa tersebut diberbagai jaringan dan di kulit


dengan konsistensinya menyerupai adonan yang merupakan alasan mengapa
penyakit ini disebut miksedema. Selain itu fibronektin, kolagen, dan albumin
plasma juga ditimbun di kulit. Berkurangnya perubahan karoten menjadi vitamin
A menyebabkan hyperkeratosis. Demikian juga berkurangnya sekresi keringat dan
sebasea kulit menjadi kering dan produksi panas yang berkurang membuat kulit
terasa dingin. Pasien seringkali memiliki suara parau. Menurun perangsangan
jantung oleh hormone tiroid menyebabkan penurunan kontraktilitas, frekuensi
denyut jantung, volume sekuncup, curah jantung dan kadang-kadang juga tekanan
darah diastolic. Pada defisisiensi hormone tiroid yang nyata dapat terjadi gagal
jantung, efusi pleura, dan perikard. Frekuensi pernapasan melambat dan reaksi
ventilasi

terhadap

hiperkapnia

dan

hipoksia

terganggu.

Laju

filtrasi

glomerulus,aliran plasma ginjal,dan kapasitas transport tubulus berkurang.


Ekskresi ginjal menurun menyebabkan retensi air dan natrium. Penurunan
perangsangan otot-otot usus menyebabkan konstipasi. Gangguan fungsi pada otot
esophagus dapat menyebabkan refluks lambung dan esofagitis. Aktivitas dan
efektivitas saraf otonom akan berkurang pada hipotiroidisme. Eksitabilitas
neuromuskuler juga berkurang sehingga menyebabkan gangguan fungsi sensorik,
hiporefleksia, kehilangan nafsu makan, kehilangan ingatan, depresi dan kesadaran
berkabut yang bahkan berlanjut menjadi koma. Selain itu pertumbuhan tulang
menjadi terlambat pada anak-anak. Retardasi pertumbuhan dan kemampuan

mental yang terganggu menyebabkan gambarab kreatinisme yang khas (Lang,


2006).
Hipotiroidisme disebabkan oleh defisiensi pembentukan hormon tiroid
oleh kelenjar tiroid. Kondisi ini dapat primer atau sekunder. Pembentukan hormon
tiroid yang rendah mengakibatkan keadaan klinis yang disebut hipertiroidisme.
Koma miksedema merupakan kegawatan yang megancam hidup, jarang terjadi
yang disebabkan pada pada keadaan hipotiroidisme ekstrim. Keadaan ini biasanya
terjadi pada pasien lansia selama musim dingin. Hipotiroidisme adalah penyakit
kronis, dengan insiden 10 kali lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dan
terjadi pada semua golongan usia di atas 50 tahun; keadaan ini kurang umur
dibanding hipotiroidisme. Hipotiroidisme dapat primer atau sekunder. Penyebab
primer termasuk kelainan kongenital, kehilangan jaringan tiroid setelah
pengobatan hipertiroidisme, kelainan sintesis hormon karena proses otoimun, dan
pemberian obat antitiroid atau defisiensi iodin. Penyebab sekunder termasuk
resistensi perifer terhadap hormon tiroid, tumor atau infark pituitari, dan gangguan
hipotalamus.

Hipotiroidisme

transien

dapat

terjadi

setelah

penghentian

pengobatan T3 dan T4 jangka panjang. Hipotiroidisme umumnya mempengaruhi


semua sistem tubuh; rendahnya laju metabolik basal, penurunan energi
metabolisme, dan pembentukan panas merupakan ciri-cirinya. Miksedema yang
diakibatkan oleh perubahan komposisi dermis dan jaringan lain. Jaringan ikat
dipisahkan oleh peningkatan jumlah protein dan mukopolisakarida; jaringan ini
mengikat air, menyebabkan edema nonpitting, boogy, terutama di sekitar mata,
tangan, dan kaki juga bertanggung jawab terhadap penebalan lidah dan laring dan
membran mukosa faring, mengakibatkan bicara tidak jelas dan sakit tenggorok.
Selain gejala-gejala klinis dari hipotiroidisme, penurunan T3 dan T4 bebas adalah
temuan yang umum.
(Hudak & Gallo,2012)
2.5 Manifestasi Klinis
a. Gejala dini umum yang tidak spesifik
b. Keletihan ekstrem

c. Kulit menjadi menebal, rambut menipis dan rontok; wajah menjadi tanpa
ekspresi dan seperti topeng
d. Suara parau dan serak
e. Pasien dengan miksedema lanjut mengalami hipotermik . secara abnormal
sensitif pada sedaif, opiat dan preparat anastetik; obat-obat ini diberikan
dengan kewaspadaan penuh.
(Baughman, 2000)
Gambaran dominan yang dapat muncul menurut Stillwell (2011) antara lain :
a. Hipotermia
b. Bradikardia
c. Bradipnea
d. Hipertensi
e. Kulit : kasar dan kering, kemungkinan warna karotena, edema
periorbital dan edema pada wajah
f. Neurologis : tumpul, koma, atau kejang, refleks lambat
g. Gastrointestinal : penurunan bising usus
h. Endokrin : tiroid mungkin tidak dapat dipalpasi, membesar, atau
berbentuk nodular
i. Hipoventilasi
j. Penurunan fungsi mental
k. Keletihan yang berat
l. Intoleransi aktivitas
m. Hiporefleksia
n. Gagal jantung dan gagal nafas
Menurut Linda (2009), manifestasi klinis koma miksedema adalah sebagai
berikut:

1) Kulit pucat, dengan warna kekuningan yang dihasilkan dari peningkatan


deposito karoten.
2) Penurunan metabolic rate ditandai dengan hipotermia, hypoventilasi,
hypoxemia, hyponatremia, hipoglikemia, bradicardia, hipercolesterol,
hyperlipidemia dan anemia.
3) Output urine menurun
4) Peristaltic usus menurun,anoreksia,kelebihan BB,konstipasi
5) Kelemahan,somnolen,suara parau,depresi,apatis,letargi.
6) Penurunan reabsorpsi tulang
2.6 Pemeriksaan Diagnostik
Penurunan T3 dan T4 bebas adalah hal yang paling umum terjadi,
sedangkan natrium biasanya menurun dan kalium meningkat. TSH meningkat
secara mencolok pada hipotiroidisme primer. Analisis gas darah arteri (GDA)
biasanya menunjukkan hiperkapnea berat disertai penurunan tegangan
oksigen arteri (PaO2) dan peningkatan tegangan karbon dioksida arteri
(PaCO2). (Morton, 2011)
Diagnosis yang ditegakkan berdasarkan indeks kecurigaan yang tinggi.
Pemeriksaan tiroid yang mengindikasikan hipotiroidisme primer adalah :

Peningkatan kadar hormon perangsang tiroid (TSH) (Tes Standar


Emas) dan indeks tiroksin bebas yang rendah (jika hasil pemeriksaan
TSH tidak definitif).

Hiponatremia dan hipoglikemia mungkin terjadi

EKG menunjukkan voltase rendah, interval QT memanjang, dan


gelombang T datar atau invers.

Kadar kortisol juga mungkin rendah.


(Stillwell, 2011)

2.7 Penatalaksanaan
Komplikasi hipertiroidisme yang paling serius adalah perkembangan
penyakit menjadi koma miksedema dan kematian, jika hipotiroidisme
10

tidakdiobati. Pendekatan multisistem harus digunakan dalam perawatan


kedaruratan dalam kondisi ini. Ventilasi mekanik digunakan mengendalikan
hipoventilasi, hiperkapnea, dan henti nafas. Pemberian salin normal hipertonik
dan glukosa secara intravena mengoreksi keadaan hiponatremia dan
hipoglikemia. Pemberian cairan disertai terapi vasopressor dapat diperlukan
untuk mengoreksi hipotensi. Terapi farmakologis meliputi pemberian hormon
tiroid dan kortikosteroid. Terdapat banyak pendekatan untuk aspek
penatalaksanaan medis ini. Terapi obat awal meliputi 300 500 g T4 secara
intravena

untuk

menjenuhkan

sema

protein

yang

berikatan

dan

mempertahankan kadar T4 tetap relatif normal. Dosis lanjutan dapat meliputi


100 g setiap hari. T3 oral atau inravena merupakan instruksi alternatif.
Panduan penggantin T3 adalah25 g secara intravena setiap 8 jam untuk 24
jam sampai 48 jam pertama. Dosis T3 oral setiap 8 jam juga diresepkan.
Penggantian hormon harus diberikan perlahan-lahan dan pasien harus dipantau
terus-menerus selama pengobatan untuk menghindari peningkatan kebutuhan
metabolik yang tiba-tiba dan infark miokard. Penggantian cairan dan
menghangatkan kembali pasien juga harus dilakukan dengan urutan teratur
untuk menghindari komplikasi. (Morton, 2011)
Intervensi tambahan meliputi penanganan distensi abdomen dan impaksi
feses dan penatalaksanaan hipotermia dengan penghangatan pasien kembali
secara bertahap menggunakan selimut dan kaos kaki. Alat mekanis tidak
digunakan. Status neurologis dan perubahan tingkat kesadaran pasien dipantau.
Dilakukan tindakan pencegahan kejang. Ketika pasien dalam keadaan koma,
perawatan meliputi pencegahan komplikasi akibat aspirasi, imobilitas,
kerusakan kulit, dan infeksi. Fungsi jantung dan pernafasan dibantu.
Pemeberian cairan juga harus dipantau karena terdapat risiko kelebihan beban
cairan. Aspek perawatan yang penting adalah mendeteksi tanda-tanda awal
komplikasi. Seiring penyembuhan pasien, fokus intervensinya adalah
perawatan mandiri dan penyuluhan. Tindak lanjut pasien meliputi pemeriksaan
menyeluruh bagaimana hipotiroidisme berat dan bagaimana cara terbaik untuk
menghindarinya agar tidak terjadi pada masa yang akan datang. Penyuluhan
pasien, tindak lanjut keluarga, pelaksanaan kewaspadaan medis, dan pelibatan
11

dukungan masyarakat mungkin diperlukan untuk pasien kompleks ini.


(Morton, 2011)
Beberapa penanganan pada pasien koma miksedema diantaranya:
a. Penggantian tiroid, untuk meningkatkan kadar hormon tiroid
b. Oksigen tambahan dan intubasi/ventilasi mekanis, untuk memperbaiki
ventilasi/oksigenasi.
c. Metode pemanasan, untuk memperbaiki ventilasi/oksigenasi.
d. Kristaloid dan agen vasopresor, untuk memperbaiki stabililitas
hemodinamik.
e. 500 mikrogram tiroksin (T4) IV yang diikuti dengan tiroksin oral 0,1 mg
setiap hari. T4 IV dapat digantikan dengan 40 mikrogram T3 IV jika
tersedia.
f. Hiponatremia dan hipoglikemia sering terjadi dan harus diobati dengan
benar.
g. Hipotermia atau kehilangan panas harus dihindari. (Graber,dkk.2006)

2.8 WOC
Faktor Predisposisi:
Pasien hipotiroid kronis akibat terpajan suhu dingin, infeksi, hipoglikemia,
agen depresan pernafasan, reaksi alergi, atau stres metabolic, tiroiditis
otoimun, trauma, usia
Penurunan hormon tiroid
12

Sekresi keringat
menurun

Sebasea kulit menjadi


kering

Produksi panas
menurun
Penurunan
metabolisme basal

MK: Hipotermia

Penurunan
perangsangan jantung

Penurunan
kontraktilitas
Penurunan volume
sekuncup
MK: Penurunan
curah jantung
MK: Gangguan
pertukaran gas

13

Aktivitas dan
Penurunan
laju
efektivitas
menurun
filtrasi glomerulus
Penurunan aliran
Eksitabilitas
plasmamenurun
ginjal
neuromuskular
Kapasitas
Gangguan
fungsi
sensorik
tubulus
Frekuensi nafas transport
menurun
melambat
Penurunan
kesadaran
Eksresi
ginjal
Gangguan reaksi
menurun
ventilasi
MK: Risiko
Cideraair
Retensi
dan natrium
MK: Kekurangan
volume cairan tubuh

2.9 Konsep asuhan keperawatan


1) Pengkajian
Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk
memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai dasar
untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien.
a. Biodata /identitas klien meliputi: nama, umur, jenis kelamin, agama, bahasa,
pekerjaan, kebangsaan, alamat, pendidikan, tanggal MRS, nomor register
dan diagnosa medis.
b. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji.
Biasanya klien mengeluh : tampak lelah, loyo, tidak tahan dingin, daya ingat
menurun, sembelit, menstruasi tidak teratur.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari pertolongan,
misalnya gejala awal sakit, keluhan utama. Pada orang dewasa, paling sering
mengenai wanita dan ditandai oleh peningkatan laju metabolik basal,
kelelahan dan letargi, kepekaan terhadap dingin, dan gangguan menstruasi.
Bila tidak diobati, akan berkembang menjadi miksedema nyata. Pada bayi,
hipotiroidisme hebat menimbulkan kretinisme. Pada remaja hingga dewasa,
manifestasinya merupakan peralihan dengan retardasi perkembangan dan
mental yang relatif kurang hebat serta miksedema disebut demikian karena
adanya edematus, penebalan merata dari kulit yang timbul akibat
penimbunan mukopolisakarida hidrofilik pada jaringan ikat di seluruh tubuh.
d. Riwayat penyakit sebelumnya
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit yang sama, riwayat
ketergantungan terhadap makanan/minuman, zat dan obat-obatan. Apakah
sebelumnya klien pernah mengalami hipotiroidisme.
e. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan
klien.
f. Kebiasaan hidup sehari-hari, seperti:

14

1) pola makan (misal: mengkonsumsi makanan yang kadar yodiumnya


rendah, dan nafsu makan menurun)
2) pola tidur (misal: klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur, sering
tidur larut malam)
3) pola aktivitas (misal: klien terlalu memforsir pekerjaan sehingga sering
mengeluh kelelahan).
g. Pengkajian psikososial
Klien sangat sulit membina hubungan sosial dengan lingkungannya,
mengurung diri/bahkan mania. Klien sangat malas beraktivitas, dan ingin
tidur sepanjang hari. mengkaji bagaimana konsep diri klien mencakup
kelima komponen konsep diri.
h. Pengkajian fungsi seksual
1. Penurunan libido
2. Impotensi, infertilitas
3. Abnormalitas menstruasi (amenorea atau perdarahan menstruasi lama)
2) Pemeriksaan fisik persistem
a. B1 (Breathing)
Terdapat penurunan pernapasan seperti hipoventilasi, penahanan CO2,
dispnea, edema, penahanan air, bisa terjadinya efusi pleura. Selain itu
terdapat juga tanda-tanda adanya gerakan dada, retraksi atau otot bantu
pernafasan, pada saat auskultasi terdengar adanya bunyi nafas
tambahan (Gurgling, Krakels, ronkhi, wheezes).
b. B2 (Blood)
Terdapat penurunan fungsi jantung seperti penurunan kontraktilitas
jantung, penurunan stroke volume, penurunan HR, dan penurunan
cardiac output. Pasien dapat berkembang menjadi efuse pericardial
sehingga adanya perubahan atau penurunan listrik jantung pada EKG.
Terjadinya hipotensi karena stimulasi adrenergic menurun akibat
penurunan tiroid.
Terdapat juga tanda berupa ekstermitas pucat, dingin, nadi lambat dan
lemah, waktu pengisian kapiler >3 detik, tekanan darah turun, dan
sianosis

15

c. B3 (Brain)
Terdapat

tanda

gejala

akibat

penurunan

metabolism

yang

menghasilkan penurunan kesadaran, depresi, letargi, somnolen, kurang


berkonsentrasi, suara parau, hiporefleksia. Pengaturan panas tubuh
menurun sehingga terjadinya hipotermia (26,7oC) dan bisa terjadi
kegawatan. Diagnosa koma miksedema tergantung pada gejala gejala
klinis dan identifikasi faktor pencetus yang mendasari. Faktor pencetus
yang paling umum adalah infeksi paru; yang lain meliputi trauma,
stress, infeksi, obat obatan seperti barbiturate, pembedahan, dan
gangguan metabolic
d. B4 (Bladder)
Penurunan keluaran urine akibat fungsi ginjal terganggu dengan
penurunan kecepatan filtrasi glomerulus dan kegagalan kemampuan
untuk mengekskresikan beban cairan.
e. B5 (Bowel)
Terdapat tanda dan gejala berupa penurunan bising usus, anoreksia,
konstipasi, ileus paralisis, peningkatan berat badan dan asites.
f. B6 (Bone)
Penurunan refleks otot, kulit kering dan bersisik, rambut kepala tipis
dan rapuh, pertumbuhan kuku buruk, kuku menebal, rambut rontok,
edema kulit terutama dibawah mata
3) Diagnosa Keperawatan
a. Hipotermia berhubungan dengan terpajan lingkungan yang dingin atau
kedinginan (dalam waktu lama)
b. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan kelemahan otot
pernapasan dan respons pernapasan sentral yang tumpul terhadap
hipoksemia dan hiperkapnea
c. Penurunan curah jantung berhubungan dengan bradikardia dan
penurunan isi sekuncup (IS)
d. Risiko cedera berhubungan dengan perubahan tingkat kesadaran dan
kekurangan volume cairan sekunder akibat gangguan bersihan air bebas

16

4) Intervensi Keperawatan
NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Hipotermia berhubungan dengan

KRITERIA HASIL
(NOC)
Setelah dilakukan tindakan

terpajan lingkungan yang dingin

keperawatan selama 2x24 jam

atau kedinginan (dalam waktu

diharapkan klien mampu:

lama)

Menunjukkan termoregulasi,

IN
1.
2.
3.
4.

Pengkajian
Catat nilai dasar
Lakukan peman
Kaji gejala hipo
Kaji kondisi me

menyebabkan h
5. Regulasi suhu.
Peningkatan suhu kulit
- Pasang alat
0
Suhu mulai normal 36,5 C
- Pantau suhu
Tidak menggigil
Penyuluhan un

yang dibuktikan oleh indikator:


-

1.
-

Ajarkan kep

pasien lanju
-

hipotermia a
Ajarkan indi

tindakan ked

jika perlu
2. Anjurkan klien

pakaian yang h

memungkinka

ruangan, bahk

perlu
Kolaboratif
1. Untuk hipoterm
2

Gangguan pertukaran gas yang

Pasien sadar dan terorientasi

berhubungan dengan kelemahan

RR 12-20 kali/menit, eupnea

otot pernapasan dan respons

PaO2 80-100 mm Hg

pernapasan sentral yang tumpul

PaCo2 35-45 mm Hg

terhadap hipoksemia dan

pH 7,35-7,45

hiperkapnea

Saturasi O2 95 %

teknik mengha
Pemantauan Pa
a. Pantau saturasi

dengan oksimet
aktivitas pasien

berpengaruh bur
b. Pantau EKG sec

mengetahui ada

berhubungan de

ketidakseimban

17

Pengkajian Pas

a. Kaji status pern

irama, dan keda

biasanya diintub

dipasang ventila
b. Kaji pasien untu

perkembangan s

Pengkajian Dia

Tinjau GDA ser

oksigenasi dan k

Penatalaksanaa

a. Berikan oksigen

(untuk penatalak

ventilasi)
b. Berikan levotiro

diresepkan
c. Ubah posisi pas

oksigenasi dan m

respons pasien t

dengan SpO2 ata

posisi terbaik un
d. Jika pasien stab
berikan higinie

komplikasi
e. Hindari pember

obat tersebut dim


3

Penurunan curah jantung


berhubungan dengan bradikardia
dan penurunan isi sekuncup (IS)

Pasien sadar dan berorientasi


TDS 90-140 mm Hg
MAP 70-105 mm Hg
FJ 60-100 kali/menit
Haluaran urine 30 ml/jam atau
0,5-1 ml/kg/jam
Denyut nadi perifer dapat
dipalpasi
SAP 15-30 mm Hg
DAP 5-15 mm Hg

18

oleh pasien hipo


Pemantauan Pas
a. Pantau EKG
mengetahui

bradikardia be

buruk pada c
yang

mema

torsade de p
segmen

ST

IJ 2,5-4 L/menit/m2

komplikasi is
merugikan
levotiroksin.

b. Pantau tekana

(jika dapat dil

hasil pemerik
mengevaluasi

pasien terhada

< 60 mm Hg

perfusi serebal
c. Pantau statu

haluaran urin

keseimbangan

bandingkan be

yang cepat (0

ketidakseimba

Pengkajian Pasi

a. Kaji status ka

denyut nadi p

Observasi ad
vena

jugula

paradoksus, y
efusi

pericar

jantung, frek
napas untuk
gagal

jantu

takikardia dan

terapi penggan
b. Kaji
pasie

perkembangan

Pengkajian Diag

Tinjau pemeri

TSH harus me
19

terapi dan ha
terapi.

Penatalaksanaan

a. Berikan caira

untuk memper

pantau secara

kelebihan cair

jantung.
b. Agens vasopr

hipotensi refr

volume cairan

tidak mempun
Pantau
4

Risiko
dengan
kesadaran

cedera

berhubungan

perubahan
dan

tingkat

kekurangan

volume cairan sekunder akibat


gangguan bersihan air bebas

Kriteria Hasil
Pasien sadar dan berorientasi
Tidak ada kejang
Pasien tidak akan mencederai
diri sendiri
Asupan seimbang dengan
haluaran
Natrium serum 135-145 mEq/L
Osmolalitas serum 275-295
mOsm/L
Berat jenis urine 1,010-1,030

pasie

mengetahui di
Pemantaua
a. Pantau sta
asupan

da

tentukan ke

jam. Band
perubahan

menunjukk

cairan. Ke

edema mun
b. Pantau tin

menggunak
Penurunan

berkaitan de

Pengkajian Pas

a. Kaji adan

keletihan, a
b. Kaji status
pada paha

observasi m

adanya rasa

20

c. Kaji

pa

mengetahui
kaji bunyi

perkembang

jantung)
d. Kaji
pai

perkembang

Pengkajian Dia
Tinjau
serum,

Hiponatrem

status tump

Penatalaksanaa
a. Jika kadar

isotonic da

dibatasi.
b. Berikan ca

cermat. Jela

retriksi cair
c. Lakukan tin
d. Hidrokortis
setiap 6-8

fungsi adren
e. Pertahankan

Orientasika

kebingunga

21

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus semu:
Ny. K usia 55 tahun, BB 48 kg, TB 160 cm, klien datang diantar oleh keluarga ke
RSUD dr. Sutomo dalam kondisi letargi. Sebelumnya klien mengeluh kedinginan
dan menggigil walaupun udara di lingkungan panas. Riwayat penyakit: dua tahun
yang lalu pasien pernah melakukan pengobatan hypotiroid, nafsu makan klien
menurun, rambut rontok, dan sering sesak nafas, klien juga sering merasakan dada
sering berdebar-debar meski tidak melakukan aktivitas berat. Dalam 2 bulan ini
berat badannya sudah menurun drastis dari 65kg menjadi 48kg, nafsu makan tetap
menurun, sesak nafas, pembengkakkan atau edema kulit di bawah mata dan pada
pergelangan kaki .
Hasil pemeriksaan fisik jantungnya membesar, nadi <60 x/menit,
matanya exofthalmus, suhu 30,5c, RR 14 x/menit, TD 150/90 x/menit,
urin < 500cc/hari. Pemeriksaan laboratorium TSH <0,004IU/ml, FT4
20g/dl, FT3 15pg/dl . Kemudian oleh dokter disarankan untuk melakukan
pemeriksaan iodium radioaktif dan fineddle aspiration biopsy (FNAB).
1. Pengkajian
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan kedinginan dan menggigil walau udara di lingkungan
panas
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan dalam 2 bulan ini berat badannya sudah menurun drastis
dari 65kg menjadi 48kg, nafsu makan tetap mnenurun, sesak
nafas,pembengkakkan atau edema kulit di bawah mata dan pada
pergelangan kaki.
c. Riwayat penyakit dahulu
Klien mengatakan dua tahun yang lalu klien pernah melakukan
pengobatan hypotiroid, nafsu makan klien menurun, rambut rontok, dan

22

sering sesak nafas, klien juga sering merasakan dada sering berdebar-debar
meski tidak melakukan aktivitas berat
d. Riwayat kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit
keturunan
e. Pemeriksaan fisik
B1 (Breathing)
Dispnea, terdapat suara nafas tambahan wheezing (+), RR 14x/m
B2 (Blood)
Terdapat penurunan curah jantung, terdapat kardiomegali TD 150/90
x/menit, nadi <60 x/menit, suhu 30,5C, pemeriksaan laboratorium TSH
<0,004IU/ml, FT4 20g/dl, FT3 15pg/dl
B3 (Brain)
Klien tampak letargi, suara parau, suhu 30,5oC
B4 (Bladder)
Urin < 500 cc/hari, status hidrasi: dehidrasi ringan
B5 (Bowel)
Klien anoreksia, bising usus lambat, konstipasi (+)
B6 (Bone)
Klien terdapat penurunan refleks otot, kulit kering dan bersisik, rambut
kepala tipis dan rapuh, , kuku menebal, rambut rontok, edema kulit
terutama dibawah mata dan pergelangan kaki
2. Analisa data
N
O
1

DATA
DS:
Klien mengatakan
kedinginan walau
suhu lingkungan
panas
DO:
Klien tampak
menggigil
Suhu : 30,5o C, TD
150/90 x/menit, nadi
<60 x/menit

DS :
Keluarga klien

ETIOLOGI

PROBLEM

Penurunan hormon
tiroid

Hipotermia

Sebasea kulit
menjadi kering
Produksi panas
menurun
Terpajan suhu
dingin
Hipotermia
Penurunan hormon
tiroid
23

Penurunan curah
jantung

mengatakan klien
lemas, dada berdebar
saat beraktivitas
DO:
Klien tampak letargi,
terdapat kardiomegali,
RR 14x/m, TD 150/90
x/menit, nadi <60
x/menit, suhu 30,5C,
pemeriksaan
laboratorium TSH
<0,004IU/ml, FT4
20g/dl, FT3 15pg/dl

Penurunan
rangsangan jantung
Penurunan
kontraktilitas
Penurunan volume
sekuncup
Penurunan curah
jantung

3. Diagnosa keperawatan
a. Hipotermia berhubungan dengan terpajan lingkungan yang dingin atau
kedinginan (dalam waktu lama)
b. Penurunan curah jantung berhubungan dengan bradikardia dan penurunan
isi sekuncup (IS)

4. Intervensi keperawatan
NO

DIAGNOSA
KEPERAWATAN

KRITERIA HASIL
(NOC)

24

INTERVENSI
(NIC)

Hipotermia

Setelah dilakukan

berhubungan dengan

tindakan

terpajan lingkungan

keperawatan selama

yang dingin atau

2x24 jam diharapkan

kedinginan (dalam

klien mampu:

waktu lama)

Menunjukkan
termoregulasi, yang
dibuktikan oleh
indikator:
-

Peningkatan

suhu kulit
Suhu mulai

normal 36,50C
Tidak
menggigil

Pengkajian
1. Catat nilai dasar tandatanda vital
2. Lakukan pemantauan
jantung pada pasien
3. Kaji gejala hipotermia
4. Kaji kondisi medis yang
dapat menyebabkan
hipotermia
5. Regulasi suhu.
- Pasang alat pantau
-

inti tubuh kontinu


Pantau suhu setiap 2
jam bila perlu

Penyuluhan untuk
pasien/keluarga
1. Regulasi suhu
- Ajarkan kepada
pasien, khususnya
pasien lanjut,
tindakan untuk
mencegah
hipotermia akibat
-

terpajan suhu dingin


Ajarkan indikasi
hipotermia dan
tindakan
kedaruratan yang
diperlukan, jika

perlu
3. Anjurkan klien untuk
mengenakan pakaian
yang hangat jika tidak
memungkinkan untuk
menaikkan suhu
ruangan, bahkan
25

gunakan jaket, topi


bila perlu
Kolaboratif
1. Untuk hipotermia
berat bantu dengan
teknik menghangatkan
2

Penurunan curah

Pasien tidak sadar

jantung berhubungan

dan berorientasi
TD 90-140 mm Hg
MAP 70-105 mm

dengan bradikardia
dan penurunan isi
sekuncup (IS)

Hg
FJ 60-100
kali/menit
Haluaran urine 30

suhu inti tubuh


Pemantauan Pasien
a. Pantau EKG secara
kontinu

untuk

mengetahui

adanya

disritmia

atau

bradikardia berat yang


dapat

berpengaruh

ml/jam atau 0,5-1

buruk

ml/kg/jam
Denyut nadi perifer

jantung. Internal QT

dapat dipalpasi
SAP 15-30 mm Hg
DAP 5-15 mm Hg
IJ 2,5-4 L/menit/m2

pada

yang

curah

memanjang

berkaitan
torsade

dengan
de

Pantau
segmen

pointes.
perubahan

ST-T

yang

menunjukkan
komplikasi

iskemia

miokardium

yang

merugikan

pada

permulaan

terapi

levotiroksin.
b. Pantau tekanan

AP

secara kontinu, CVP


(jika dapat dilakukan),
dan TD. Dapatkan hasil
pemeriksaan

26

IJ

dan

PAWP

untuk

mengevaluasi

fungsi

jantung

dan

respons

pasien terhadap terapi.


Pantau MAP, MAP <
60 mm Hg berpengaruh
buruk

pada

perfusi

serebal

dan

perfusi

ginjal.
c. Pantau status volume
cairan: ukur haluaran
urin setiap jam dan
tentukan keseimbangan
cairan setiap 8 jam,
bandingkan berat badan
serial, perubahan yang
cepat (0,5-1 kg/hari)
menunjukkan
ketidakseimbangan
cairan.
Pengkajian Pasien
a. Kaji

status

kardiovaskular:

catat

kualitas

nadi

perifer

denyut
dan

pengisian

kapiler.

Observasi

adanya

peningkatan

tekanan vena jugularis


(JVP)

dan

pulsus

paradoksus, yang dapat


mengidikasikan

efusi

pericardium. Auskultasi
bunyi jantung, frekuensi
jantung, dan suara napas
untuk
27

mengetahui

perkembangan
jantung.

gagal
Observasi

adanya takikardia dan


iskemia

miokardium

pada terapi penggantian


hormone tiroid.
b. Kaji
pasien

untuk

mengetahui
perkembangan

sekuele

klinis
Pengkajian Diagnostik
Tinjau pemeriksaan
tiroid jika ada. Kadar
TSH

harus

menurun

dalam waktu 24 jam


terapi dan harus normal
setelah 7 hari terapi.
Penatalaksanaan Pasien
a. Berikan cairan intravena
sesuai

intruksi

untuk

mempertahankan TDS >


90

mm

secara

Hg,

pantau

cermat

untuk

mengetahui

kelebihan

cairan

dan

perkembangan

gagal

jantung.
b. Agens vasopresor dapat
digunakan jika hipotensi
refraktori

terhadap

pemberian

volume

cairan

dan

jika

penggantian tiroid tidak

28

mempunyai waktu untuk


bekerja. Pantau pasien
secara

cermat

mengetahui

untuk

disritmia

letal.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Gangguan sekresi hormone tiroid berupa hipotiroid dapat mengakibatkan
keadaan yang dapat mengarah ke kematian jika tidak diberikan manajemen
penatalaksanaan.

Koma

miksedema

merupakan

suatu

kondisi

yang

menggambarkan stadium hipotiroidisme yang paling ekstrim dan berat, dimana


pasien mengalami hipotermia dan tidak sadarkan diri. Koma miksedema bisa
disebabkan oleh penyebab primer berupa faktor kongenital dan penyebab
sekunder berupa resistens perifer terhadap hormone tiroid. Penyakit ini perlu
penanganan segera karena berhubungan dengan konsentrasi oksigen di otak
yang mengakibatkan koma.
Sehingga salah satu bentuk penanganan segera yang diberikan kepada
pasien koma miksedema adalah berupa pemberian ventilasi mekanik yang
digunakan untuk mengontrol hipoventilasi, hiperkapnea dan henti napas.
Pemberian cairan intravena normal salin hipertonik dan glukosa juga dapat
diberikan untuk mengoreksi pengenceran hiponetremia dan hipoglikemia.

29

Pemberian cairan ditambah terapi vasopressor diperlukan untuk mengoreksi


hipotensi.
4.2 Saran
Sebagai seorang perawat sebaiknya kita harus memahami asuhan
keperawatan pada klien dengan koma miksedemia dengan jelas agar dapat
memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara tepat, sehingga
pelayanan yang diberikan sesuai dan dapat mengurangi serta memperbaiki
kondisi klien. Selain itu dengan pentingnya pengetahuan berupa teori bagi
mahasiswa keperawatan untuk dapat diaplikasikan dalam bentuk praktik
keperawatan maka makalah Asuhan keperawatan pada klien dengan koma
miksedema ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk menambah
pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane. C. (2000). Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk


Brunner & Suddarth. Jakarta: EGC
Brunner & Suddart. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 2
Edisi 8. Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi ed: 3. Jakarta: EGC
Hudak, Carolyn. M. (2012). Keperawatan kritis: Pendekatan Holistik ed: 6 vol. 2.
Jakarta: EGC
Jevon, Philip. (2009). Pemantauan Pasien Kritis: Seri Keterampilan Klinis
Esensial untuk Perawat ed: 2. Jakarta: ERLANGGA
Lang,F (2006). Teks dan atlas berwarna Pathofisisologi. Jakarta: EGC
Linda, dkk. (2009). Critical care nursing diagnosis and management. The Point
St. Louis : Mosby Elsevier, New York.
Mary, Baradero. (2009). Klien Gangguan Endokrin. Jakarta: EGC
Morton, Patricia Gonce. (2012). Keperawatan kritis: Pendekatan Asuhan Holistik.
Jakarta: EGC

30

Pearce, Evelyn. C. (2008). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT.
GRAMEDIA
Price, Sylvia A., Wilson, Lorrraine M.(2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses
proses Penyakit. Jakarta: EGC
Saputra, Lyndon. (2012). Intisari Ilmu Penyakit Dalam. Tangerang: BINARUPA
AKSARA
Stillwell, Susan. B. (2011). Pedoman Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC

31