Anda di halaman 1dari 5

PELAPORAN PENGARUH PERUBAHAN HARGA

Hampir semua negara mengalami inflasi. Laju inflasi yang berbeda di antara
negara-negara mengakibatkan kurs tukar berfluktuasi. Oleh karena itu,
diperlukan penyesuaian saat memperhitungkan transkasi diantara negara yang
berbeda dan saat mengkonsolidasikan laporan anak perusahaan luar negeri ke
dalam induk perusahaan. FASB mengemukakan pengaruh inflasi dalam SFAS 52
(sebelumnya SFAS 8). Namun banyak pihak yang mengkritik pernyataan
tersebut.
Inti perdebatan tentang bagaimana memperhitungkan unit moneter tidak stabil
yang disebabkan oleh perubahan harga adalah suatu kendala pengukuran yang
tertanam di dalam pendekatan struktural pada teori akuntansi. Apabila ukuran
keuangan yang didasarkan pada harga historis, atau bila perbandingan dibuat
untuk harga yang diagregatkan di antara tahun-tahun berbeda, hubungan biasa
yang diasumsikan dalam laporan keuangan berubah. Idealnya adalah mengambil
pendekatan yang radikal dan membentuk struktur akuntansi baru yang akan
menghindarkan perbandingan dan agregasi harga pada tahun-tahun yang
berbeda. Sebaliknya, satu-satunya usulan yang tebukti dapat diterima akuntan
dan masyarakat bisnis hanyalah memodifikasi atau menetapkan kembali ukuranukuran akuntansi tradisional.

SIFAT PERUBAHAN HARGA


Harga mencerminkan nilai tukar dari barang dan jasa dalam perekonomian.
Secara umum, harga-harga ini dapat diklasifikasikan sebagai harga masukan
(harga faktor produksi atau barang dan jasa pada tahap antara, yang diperoleh
untuk produksi selanjutnya atau penjualan kembali) atau harga keluaran (harga
barang dan jasa yang dijual sebagai produk perusahaan).
Perubahan harga terjadi hanya bila harga barang dan jasa berbeda dari yang
sebelumnya ada pada pasar yang sama (pasar masukan, pasar keluaran, atau
keduanya). Perubahan ini dapat dibagi menjadi perubahan harga umum,
perubahan harga spesifik, dan perubahan harga relatif.
Perubahan Tingkat Harga Umum
Perubahan tingkat harga umum terjadi sebagai hasil dari perubahan nilai unit
moneter selama periode inflasi atau deflasi. Dengan tidak adanya pergerakan
harga struktural atau relatif, semua harga akan bergerak bersama dengan
persentase yang sama. Akan tetapi, jika semua harga bergerak pada tingkat
yang berbeda, yang merupakan kasus yang biasa, ukuran perubahan harga
umum dapat diperoleh hanya dengan menghitung rata-rata atau indeks harga
untuk menyatakan tingkat umum harga kini dibandingkan dengan beberapa
periode dasar. Rasio indeks harga sekarang pada indeks periode dasar
mencerminkan perubahan relative dalam semua harga yang termasuk dalam
indeks. Kebalikan dari rasio ini mencerminkan perubahan nilai dolar atau
perubahan daya beli.

Istilah daya beli mengacu pada kemampuan untuk membeli barang dan jasa
dengan sejumlah uang tertentu dibanding dengan apa yang telah dibeli dengan
sejumlah uang yang sama pada waktu yang lalu. Daya beli umum mengacu pada
kemampuan untuk membeli semua jenis barang dan jasa yang tersedia dalam
perekonomian, dan itu diukur dengan perubahan dalam tingkat harga umum.
Daya beli spesifik mengacu pada kemampuan untuk membeli barang dan jasa
tertentu pada tanggal-tanggal yang berbeda. Jadi, daya beli spesifik dapat diukur
dengan perubahan dalam harga spesifik.
Perubahan Harga Spesifik
Perubahan harga dalam suatu pasar masukan menimbulkan kenaikan atau
penurunan dalam biaya atau beban perusahaan. Sedangkan perubahan harga
keluaran menimbulkan pergeseran pendapatan (dengan asumsi perubahan
harga itu tidak mempengaruhi kuantitas yang dijual). Dalam pendekatan
transaksi tradisional pada akuntansi, harga semula barang atau jasa yang
diperoleh ditandingkan dengan pendapatan yang bersangkutan dengan periode
itu atau barang yang dijual.
Perubahan harga masukan spesifik dari barang yang dijual karenanya mencakup
perhitungan laba bersih yang dilaporkan untuk periode itu. Penandingan yang
lebih relevan dianggap harus didapatkan dengan melaporkan sebagai beban,
harga kini dari barang yang digunakan dalam proses untuk memperoleh
pendapatan. Jadi penandingan harga masukan kini dengan harga keluaran kini
(pendapatan) dianggap lebih relevan sebagai ukuran efisiensi dan sebagai dasar
yang lebih baik untuk meramalkan hasil-hasil transaksi masa depan.
Biaya kini merupakan harga tukar kini, dan karenanya penggunaannya
menghasilan penyimpanan dari dasar biaya historis. Suatu keberatan seringkali
diajukan mengenai penggunaan biaya kini, dengan alasan bahwa nilai subjektif
menggantikan harga pertukaran yang dapt diuji (biaya historis). Akan tetapi,
harga masukan kini dapat diasumsikan mencerminkan biaya kini bagi
perusahaan hanya jika perusahaan itu umumnya membeli jenis aktiva yang
sama dan terus melakukannya.
Perubahan Harga Relatif
Sejauh mana harga spesifik bergerak pada tingkat yang berbeda atau pada arah
yang berbeda dari indeks seluruh harga menggambarkan perubahan harga
relatif. Dalam akuntansi tradisional, dengan menggunakan biaya historis, tidak
ada perubahan harga yang dipisahkan untuk pelaporan terpisah; semua
perubahan harga termasuk dalam laba sebagai hasil dari transaksi. Akun dan
laporan dapat disesuaikan untuk perubahan tingkat harga umum tanpa
membuat penyesuaian untuk perubahan harga spesifik, yaitu dimana biaya dan
beban akan disesuaikan untuk perubahan dalam nilai uang dan pengaruh tingkat
harga dari penetapan kembali ini akan dikeluarkan dari perhitungan laba. Tetapi
keuntungan dan kerugian yang ditahan akibat perubahan harga relative tidak
akan diukur atau dipisahkan dari laba bersih yang dilaporkan.

Jika harga kini digunakan sebagai pengganti biaya historis, laba bersih operasi
dapat dihitung tanpa memasukkan setiap pengaruh perubahan harga. Teteapi
keuntungan dan kerugian yang ditahan tidak dapat diukur kecuali jika akun-akun
disesuaikan untuk erubahan harga spesifik dan peubahan tingkat harga umum.
KLASIFIKASI MONETER DAN NON-MONETER
Aktiva moneter adalah klaim pada kuantitas tetap dari unit moneter yang
menggambarkan daya beli umum. Aktiva moneter mencakup kas, klaim
kontraktual pada sejumlah uang tertentu di masa depan (seperti piutang usaha
dan wesel tagih), serta investasi yang memberikan sejumlah bunga atau dividen
yang tetap dan akan dilunasi pada jumlah yang tetap di masa depan.
Kewajiban moneter merupakan kewajiban untuk membayar sejumlah tetap dolar
pada suatu waktu di masa depan, tanpa memperhatikan apa yang terjadi pada
nilai unit moneter. Ini mencakup utang usaha dan wesel bayar, akrual seperti
upah dan utang bunga, serta kewajiban jangka panjang yang harus dibayar
dalam suatu jumlah tetap.
Aktiva nonmoneter mencakup pos-pos di mana harga-harga dalam satuan unit
moneter dapat berubah sewaktu-waktu, atau klaim atas jumlah unit moneter
yang berubah mencerminkan jumlah yang ditentukan terlebih dahulu dari daya
beli. Ini mencakup semua hak atas barang dan jasa serta semua hak lain untuk
manfaat masa depan selain dari klaim atau hak yang dinyatakan dalam nilai
dolar tetap pada suatu waktu di masa depan.
Kewajiban nonmoneter mencakup kewajiban untuk memberikan sejumlah
tertentu barang dan jasa atau suatu jumlah ekivalen dari daya beli, sekalipun
pembayarannya mungkin dalam bentuk kas. Misalnya, suatu kewajiban untuk
membayar kas yang sama dengan harga sejumlah tertentu barang dan jasa akan
bersifat nonmoneter.
Keuntungan dan Kerugian pada Pos-Pos Moneter
Inflasi diketahui bermanfaat bagi debitor dan merugikan bagi kreditor. Kenaikan
tingkat harga biasanya berarti keuntungan dolar, yang membuat pelunasan
utang menjadi lebih mudah dalam satuan pengorbanan ekonomi yang terlibat.
Keuntungan atau kerugian dari penahanan aktiva moneter bersih oleh suatu
perusahaan tidak begitu mudah dievaluasi. Lazimnya suatu perusahaan akan
mempunyai kas dan piutang yang melebihi kewajiban lancar moneter. Dengan
posisi moneter bersih kini yang positif, suatu kerugian ekonomi terjadi bila
tingkat harga naik dan keuntungan ekonomi terjadi bila tingkat harga turun.
Selama periode inflasi, jika volume perusahaan tetap konstan dalam satuan real,
modal kerja biasanya harus dinaikkan.
Keuntungan atau kerugian juga terjadi karena penahanan aktiva moneter jangka
panjang, seperti piutang jangka panjang dan investasi dalam obligasi pemerintah
dan saham preferen, dan juga karena utang jangka panjang yang beredar. Jika

utang jangka panjang melebihi aktiva moneter jangka panjang, keuntungan


ekonomi akan terjadi bila tingkat harga naik, dan kebalikannya jika harga turun.
Perhitungan keuntungan dan kerugian daya beli pada pos-pos moneter
melibatkan dua langkah yang berbeda;
1. Jumlah klaim pertama-tama ditetapkan kembali untuk perubahan dalam
daya beli dolar selama periode akuntansi bersangkutan, atau selama
periode hal itu ditahan atau beredar jika kurang dari satu tahun.
2. Jumlah yang ditetapkan kembali kemudian dibandingkan dengan nilai kini
dari aktiva atau kewajiban pada akhir periode atau pada waktu pos-pos itu
berkurang. Perbedaannya adalah keuntungan atau kerugian dalam daya
beli.
Perhitungan ini serupa dengan penetapan kembali pos-pos nonmoneter untuk
perubahan dalam nilai uang dan revaluasi berikutnya untuk perubahan dalam
harga-harga spesifik. Akan tetapi, pos-pos moneter telah dinyatakan dalam
satuan kini, jadi perhitungannya diperlukan hanya untuk mengukur keuntungan
atau kerugian dari perubahan nilainya yang dinyatakan dalam satuan daya beli.
Namun banyak pihak yang tidak sepakat mengenai sifat keuntungan atau
kerugian ini atau mengenai metode pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Kenyataan bahwa keuntungan dan kerugian ini tidak mempunyai padanan dalam
akuntansi konvensional menjadi penyebab dari banyaknya ketidaksepakatan
atas topik ini.
Deupree mengemukakan suatu pandangan alternatif yaitu bahwa keuntungan
daya beli dari penahanan kewajiban merupakan pengurangan dalam biaya aktiva
yang diperoleh dengan pendanaan utang. Salah satu interpretasinya yakni
karena perputaran yang cepat dari pos-pos modal kerja moneter, keuntungan
dan kerugian daya beli pada pos-pos ini dapat dipandang harus direalisasikan
pada saat itu terjadi, tetapi keuntungan dan kerugian daya beli dari penahanan
utang jangka panjang tidak boleh tampak dalam laporan operasi kini sampai hal
itu direalisasi melalui pembayaran obligasi tersebut.
Pandangan lain, dari sudut pandang perusahaan, keuntungan dan kerugian atas
utang jangka panjang bukan merupakan determinan dari laba, tetapi lebih
merupakan penyesuaian atas total ekuitas perusahaan bersangkutansuatu
pergeseran dari ekuitas pemegang obligasi ke total ekuitas perusahaan.
Beberapa kesulitan dalam melaporkan keuntungan dan kerugian daya beli pada
pos-pos moneter berkaitan dengan logika dari kerangka struktural akuntansi.
Pertama, perbedaan arbitrer antara pos-pos moneter dan nonmoneter
memperlemah struktur yang sudah lemah dalam pengertian definisi yang tepat.
Kedua, tujuan dasar dari penetapan kembali daya beli adalah untuk
memanfaatkan skala pengukuran yang konsisten, bukan untuk mengukur
perubahan nilai dari pos-pos spesifik.
Dari sudut pandang interpretasi dunia nyata, keuntungan dan kerugian daya beli
juga mempunyai kekurangan. Kekurangan yang signifikan berasal dari kenyataan

bahwa banyak komitmen moneter masa depan dibuat dengan harapan inflasi
yang berkepanjangan. Dengan jumlah transaksi yang besar selama tahun yang
berkaitan dengan aktiva dan kewajiban moneter, perbedaan yang besar dalam
jumlah keuntungan atau kerugian daya beli yang dilaporkan mungkin dihasilkan
dari pergeseran tanggal-tanggal di mana perubahan dalam pos-pos moneter
diasumsikan terjadi.
Penyajian laba sebagai gambaran perubahan nilai perusahaan bagi pemegang
saham mengalami banyak kesulitan teoritis dan praktis. Nilai suatu perusahaan
tergantung pada pengharapan mengenai arus kas masa depan dan preferensi
kegunaan masing-masing pemegang saham, laporan akuntansi hanya dapat
memberikan dasar-dasar untuk membuat mrediksi dan mengevaluasi risiko.
Keberatan lainnya yakni asumsi bahwa hal itu tidak relevan dalam sebagian
besar keputusan investasi dan pemakai lain dari laporan eksternal.