Anda di halaman 1dari 10

Laporan Praktikum

Hari, tanggal : Senin, 12 Oktober 2015

Biokimia

Waktu

: 11.00 13.00 WIB

PJP

: Ukhradiya M Safira, SSi

Asisten

: Akrom Effendi, SSi


M Maftuchin Soleh, SSi

LIPID II
(UJI KETENGIKAN, SALKOWSKI, DAN LIEBERMAN
BUCHARD)
Kelompok 5

1. Andi Rahmanto
2. Faisal Mahdi Harahap
3. Mellida Yani
4. Rengga Al Fajri
5. Rini Sulistyowati
6. Shella Kurnia Rizki

ANALISIS KIMIA
PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

1 PENDAHULUAN

Salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan,


hewan, atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia adalah
lipid. Lipid adalah senyawa organik berminyak atau berlemak yang tidak larut di
dalam air, yang dapat diekstrak dari sel dan jaringan oleh pelarut nonpolar, seperti
kloroform dan eter. Jenis lipid yang paling banyak adalah lemak atau
triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua
mikroorganisme (Lehninger 1982). Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat
dibagi dalam beberapa golongan, Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar
yakni: (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol,
contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes); (2) lipid gabungan yaitu ester
asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, serebrosida;
(3) derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh proses hidrolisis lipid,
contohnya asam lemak, gliserol, dan sterol. Disamping itu berdasarkan sifat
kimia, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat
disabunkan dan lipid yang tidak dapat disabunkan (Poedjiadi 2009).
Kolesterol adalah salah satu sterol yang penting dan terdapat banyak di
alam. Berdasarkan strukturnya dapat dilihat bahwa gugus hidroksil yang terdapat
pada atom C nomor 3 mempunyai posisi yang dihubungkan dengan garis penuh.

Gambar 1. Struktur Kolesterol


Kolesterol terdapat pada hampir semua sel hewan dan semua manusia. Pada tubuh
manusia kolesterol terdapat di dalam darah, empedu, kelenjar adrenal bagian luar
dan jaringan syaraf.
Senyawa-senyawa golongan sterol selain kolesterol di antaranya ada 7Dehidrokolesterol,

Ergosterol,

dan

asam-asam

empedu.

Senyawa

7-

Dehidrokolesterol terdapat dibawah kulit dan hanya berbeda sedikit dengan


kolesterol, yaitu terdapat ikatan rangkap antara atom C nomor 7 dan nomor 8.
Senyawa ini terdapat dengan kolesterol dalam jaringan-jaringan. Ergosterol
mempunyai struktur inti sama dengan dengan 7-Dehidrokolesterol, tetapi berbeda
pada rantai sampingnya. Ergosterol dapat juga membentuk vitamin D apabila
dikenai sinar ultra violet dan biasanya disebut provitamin D. Sedangkan asamasam empedu terdapat didalamnya suatu cairan empedu yang dibuat oleh hati dan
disimpan dalam kantung empedu. Asam-asam empedu yang terdapat dalam cairan
empedu antara lain asam kolat, asam deoksikolat, dan asam litokolat. Asam-asam
ini dibuat dalam hati dari kolesterol melalui serangkaian reaksi-reaksi kimia
(Poedjiadi 2009).
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan ketengikan pada minyak/lemak
dan membuktikan adanya kolesterol melalui uji Salkowski dan Lieberman
Buchard.

2 METODE PRAKTIKUM

2.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum dilaksanakan pada pukul 11.00 13.00 WIB bertempat di GG


KIM 01 Kampus Diploma.

2.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada percobaan ini di antaranya pipet mohr, pipet
tetes, bulb hitam, bulb merah, tabung reaksi, rak tabung reaksi, sudip, gelas
piala,erlenmeyer, dan botol semprot.

Bahan yang digunakan pada percobaan ini di antaranya minyak kelapa


sawit, minyak jelantah, HCl pekat, CaCO3, floroglusinol, kloroform, H2SO4 pekat,
kolesterol, dan CH3COOH anhidrat.

2.3 Prosedur Percobaan

Uji ketengikan dilakukan dengan cara memasukkan 5 ml bahan uji ke


dalam erlenmeyer. Ditambahkan 5 ml HCl pekat secara perlahan ke dalam
erlenmeyer. Kertas saring dicelupkan ke dalam floroglusinol. Setelah itu
dimasukkan serbuk CaCO3 dan ditutup dengan sumbat karet yang dijepitkan
kertas saring. Dibiarkan selama 10-20 menit dan diamati perubahan warna yang
terjadi pada kertas.
Uji Salkowski untuk kolesterol dilakukan dengan cara memasukkan 3 ml
larutan kolesterol ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan H2SO4 pekat sebanyak 3
ml. Dikocok dan dibiarkan lapisan cairan terpisah. Diamati warna yang terjadi.
Uji Lieberman Buchard dilakukan dengan cara memasukkan 3 ml larutan
kolesterol. Ditambahkan CH3COOH anhidrat sebanyak 10 tetes dan H2SO4
sebanyak 2 tetes. Dikocok dan diamati perubahan warna yang terjadi.

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Uji ketengikan


Bahan uji

Warna

Hasil

Minyak

kertas
Merah muda

pengamatan
++

kelapa sawit

Gambar

Minyak

Merah muda

jelantah

Keterangan

: (+) : Tengik
(++) : Lebih tengik

Uji ketengikan adalah uji kualitatif yang dilakukan terhadap suatu sampel
untuk mengetahui tengik atau tidaknya suatu bahan uji. Ketengikan merupakan
proses rusaknya senyawa lemak karena teroksidasi oleh oksigen bebas sehingga
menghasilkan bau yang tidak sedap. Uji ketengikan dilakukan dengan diawali
oleh bahan uji yang ditambahkan HCl pekat, fungsi dari HCl pekat ini sebagai
katalisator yaitu untuk mempercepat proses terjadinya ketengikan. HCl pekat yang
ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion hidrogen yang dapat memecah unsur
lemak sehingga akan terbentuk lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas,
keadaan ini bersifat sangat reaktif yang kemudian akan dioksidasi oleh oksigen
bebas dan akan menghasilkan suatu peroksida. Tahap selanjutnya adalah
ditambahkannya CaCO3 ke dalam larutan tersebut, penambahan CaCO3 ini
sebagai sumber oksigen yang akan mengoksidasi bahan uji. Minyak yang telah
teroksidasi akan menguap dan dideteksi oleh kertas saring yang telah dibasahi
floroglusinol. Floroglusinol ini berfungsi sebagai indikator atau penanda
terbentuknya warna merah muda. Warna merah muda yang terbentuk dari reaksi
antara oksigen yang telah mengoksidasi bahan uji dengan floroglusinol
menandakan bahwa bahan uji tersebut telah tengik. Berikut adalah mekanisme
reaksi ketengikan yang terjadi pada lemak atau minyak :

Gambar 2. Reaksi ketengikan

Berdasarkan reaksi di atas, suatu asam lemak tidak jenuh akan di ubah
menjadi bentuk radikal bebasnya yang dilakukan oleh HCl sebagai pemberi energi
atau panas dengan menyumbangkan ion-ion hidrogennya. Kemudian bentuk
radikal bebas ini akan dioksidasi oleh oksigen yang akan membentuk suatu
peroksida aktif. Kemudian peroksida ini akan menghasilkan hidroperoksida dan
bentuk radikal bebas dari asam lemak tidak jenuh sehingga akan terasa bau yang
tidak sedap yaitu bau tengik. Untuk memastikan bahan tersebut tengik maka dapat
menggunakan indikator floroglusinol yang akan menghasilkan warna merah
muda.
Berdasarkan hasil dari percobaan yang telah dilakukan pada minyak
kelapa sawit dan minyak jelantah, kedua bahan tersebut menghasikan warna
merah muda yang menandakan bahan tersebut telah tengik. Namun ketengikan
dari kedua bahan tersebut berbeda, pada sampel minyak kelapa sawit dihasilkan
warna merah muda yang lebih pekat disbanding dengan minyak jelantah. Hal ini
menandakan bahwa minyak kelapa sawit tersebut lebih tengik daripada minyak
jelantah.
Faktor-faktor yang dapat menyebakan ketengikan pada minyak selain oleh
proses oksidasi dapat juga disebabkan oleh absorbsi bau dan kontaminasi, aksi
enzim, aksi mikroba, serta hidrolisis. Ketengikan oleh absorbsi bau dan
kontaminasi terjadi karena adanya kontaminasi disaat penyimpanan minyak
seperti dari wadah penampung minyak. Adanya absorbsi dari kontaminasi wadah
ini akan menyebabkan kerusakan pada minyak yang menghasilkan bau tengik dan
akan menurunkan kualitas dari minyak tersebut. Ketengikan oleh aksi enzim
terjadi karena adanya aktivitas enzim yang akan menghidrolisis minyak sehingga
menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol. Kandungan asam lemak bebas yang
tinggi akan menyebabkan timbulnya bau tengik dan rasa yang tidak enak.
Ketengikan oleh aksi mikroba disebabkan oleh adanya aktivitas mikroba yang
dapat merusak lemak sehingga kualitasnya menurun dan menimbulkan bau tengik.
Ketengikan oleh hidrolisis disebabkan karena adanya proses hidrolisis minyak
yang mengandung asam lemak jenuh berantai pendek yang akan diubah menjadi
asam lemak bebas dan gliserol, hal ini akan merusak minyak dan menghasilkan
bau yang tengik (Pahan 2006).

Tabel 2. Uji Salkowski dan Uji Lieberman Buchard


Uji
Salkowski

Bahan uji

Hasil

Perubahan

Kolesterol

pengamatan
+

warna
2 lapisan (Atas :

Gambar

ungu kemerahan
Bawah : jingga)

Lieberman

Kolesterol

Buchard

Keterangan

Tidak berwarnahijau kekuningan

: (+) : Ada kolesterol


(-) : Tidak ada kolesterol

Adanya kolesterol dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi


warna, salah satunya ialah reaksi Salkowski. Apabila kolesterol yang memiliki
konfigurasi tidak jenuh di dalam molekulnya direaksikan dengan asam kuat dalam
kondisi bebas air, maka akan memberikan warna yang karakteristik. Warna yang
dihasilkan bervariasi dengan kondisi percobaan yang awalnya muncul di bagian
kloroform warna biru kemudian akan berubah menjadi merah. Sedangkan di
bagian asam berwarna kuning dengan flouresensi hijau bila dilihat melalui sinar
reflaksi (Poedjiadi 2009). Uji Salkowski merupakan uji yang bersifat kualitatif
karena dapat menetukan ada tidaknya kandungan kolestrol dalam suatu sampel.
Uji Salkowski tidak dinyatakan sebagai uji kuantitatif, karena uji Salkowski tidak
dapat menunjukan banyaknya kandungan kolestrol yang dinyatakan dalam jumlah
atau nominal.
Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu dengan volume yang
sama di tambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan
ester lipid. Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolestrol, maka lapisan

kolestrol di bagian atas menjadi berwarna biru-merah dan asam sulfat terlihat
berubah menjadi kuning dengan warna fluorosens hijau. Berdasarkan literatur
hasil percobaan akan menunjukan terbentuknya beberapa lapisan yang
menunjukan adanya ikatan kolestrol yang kehilangan gugus karboksilnya dan
menunjukan terjadinya reaksi anatara kolesterol dengan asam sulfat pekat, namun
pada percobaan yang dilakukan hanya menghasilkan dua lapisan yaitu lapisan
berwana jingga dan lapisan ungu pekat pada bagian atas.
Penggunaan kloroform anhidrat pada uji Salkowski berfungsi untuk
melarutkan kolestrol. Kloroform anhidrat adalah bagian dari kloroform yang yang
memiliki bentuk molekul tetrahedral yang banyak digunakan sebagai pelarut non
polar di laboratorium sehingga tepat digunakan untuk melarutkan kolestrol. Di
dalam kolestrol terkandung molekul H2O, kloroform anhidrat memiliki
kecenderungan berikatan dengan molekul H2O yang cukup tinggi, sehingga
penggunaan kloroform anhidrat dapat mempermudah pemecahan molekul
kolestrol.
Kolestrol adalah lemak yang terdapat didalam aliran darah atau sel tubuh
yang sebenarnya dibutuhkan untuk pembentukan dinding sel dan sebagai bahan
baku beberapa hormon. Namun, apabila kadar kolestrol dalam darah berlebih,
maka akan mengakibatkan beberapa penyakit diantaranya penyakit jantung
koroner. Kolestrol secara alami dapat dibentuk oleh tubuh dan selebihnya didapat
dari asupan makanan. Kolestrol tidak larut dalam darah sehingga perlu berikatan
dengan pengangkutnya yaitu lipoprotein. Oleh karena itu kolestrol dibedakan
menjadi Low Density Lipoprotein (LDL) atau biasa disebut kolestrol jahat karena
bisa menimbun pada dinding dalam dari pembuluh darah, terutama pembuluh
darah kecil yang menyuplai makanan ke jantung dan otak. Jenis lain dari kolestrol
adalah High Density Lipoprotein (HDL) atau biasa di sebut juga kolestrol baik
karena dapat membersihkan dan mengangkut timbunan lemak dari dinding
pembuluh darah ke hati. Fungsi kolesterol bagi tubuh manusia adalah sebagai
penyusun membran sel, mensintesis senyawa asam empedu dalam tubuh, substrat
untuk proses sintesis hormone steroid, dan sebagai prekursor dalam proses sintesis
vitamin D3 yang terjadi di jaringan kulit.

Uji Lieberman Buchard adalah uji kualitatif dan kuantitatif untuk


kolesterol.
Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan
asam sulfat ke dalam campuran. Mekanisme yang terjadi dalam uji ini adalah
ketika asam sulfat ditambahkan ke dalam campuran yang berisi kolesterol, maka
molekul air berpindah dari gugus C3 kolesterol, kemudian teroksidasi membentuk
3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung
kromofor yang akan menghasilkan warna hijau. Uji Lieberman dilakukan dengan
penambahan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat ke dalam larutan
kolesterol. Fungsi penambahan asam asetat anhidrat ini untuk menarik molekul air
yang terdapat dalam larutan kolesterol tersebut. Sedangkan fungsi penambahan
asam sulfat ini untuk memutuskan ikatan rangkap pada kolesterol sehingga akan
terbentuk senyawa yang menghasilkan warna hijau. Berikut adalah reaksi dari uji
Lieberman Buchard :

Gambar 3. Reaksi uji Lieberman Buchard

4 SIMPULAN

Berdasarkan percobaan uji ketengikan pada minyak kelapa sawit dan


minyak jelantah didapatkan hasil yang positif tengik. Minyak kelapa sawit lebih
tengik dibandingkan minyak jelantah. Pada uji Salkowski diperoleh hasil yang
positif untuk kolesterol dengan terbentuknya dua lapisan berwarna jingga pada

lapisan bawah dan ungu pekat pada lapisan atas dan pada uji Lieberman Buchard
diperoleh hasil positif kolesterol dengan terbentuknya warna hijau.

5 DAFTAR PUSTAKA

Lehninger AL. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Thenawijaya M, Penerjemah.


Jakarta (ID): Erlangga. Terjemahan dari:Principles Of Biochemistry.
Pahan I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis Dari Hulu
Hingga Hilir. Bogor (ID): IPB Press.
Poedjiadi A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta (ID): UI Press.