Anda di halaman 1dari 20

1

KAWIN KONTRAK PERPEKTIF SYIAH DAN SUNNI

A. Konteks Penelitian
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1
menyebutkan bahwa: Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1
Kemudian di dalam penjelasannya disebutkan bahwa: ... Membentuk keluarga
yang bahagia rapat hubungan dengan keturunan, yang pula merupakan tujuan
perkawinan....2 Dari bunyi undang-undang dan penjelasannya tersebut dapat
diketahui bahwa dari perkawinan diharapkan akan lahir keturunan (anak) sebagai
penerus dalam keluarga, sehingga orang tua berkewajiban memelihara serta
mendidiknya untuk tumbuh dan berkembang secara wajar dalam lingkungan
keluarga maupun masyarakat.
Kehadiran seorang anak adalah suatu hal yang sangat diidam-idamkan.
Kebahagiaan dan keharmonisan suatu keluarga ditandai dengan lahirnya seorang
anak, karena salah satu tujuan perkawinan adalah untuk meneruskan keturunan.
Sebagaimana firman Allah swt.:



Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 1.


Penjelasan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal
1.
2

Allah menjadikan bagimu jodoh (istri) dari dirimu (bangsamu) dan menjadikan
anak-anak dan cucu-cucu dari istrimu itu, serta memberi rizki yang baik, apakah
mereka percaya yang batil (tidak benar) dan ingkar akan nikmat Allah3

Keinginan untuk mempunyai anak adalah naluri manusiawi dan alamiah,


karena memang Allah SWT menciptakan manusia disertai potensi kehidupan
(thaqatul hayawiyah) pada dirinya berupa naluri (al-gharizah) yang terdiri dari
Naluri beragama (Gharizatut Taddayun), Naluri mempertahankan diri (Gharizatul
Baqa) dan Naluri melangsungkan keturunan (Gharizatun Nau).4
Naluri beragama (Gharizatut Tadayyun) mendorong manusia untuk
mensucikan sesuatu yang mereka anggap sebagai wujud dari Sang Pencipta, maka
dari itu dalam diri manusia ada kecenderungan untuk beribadah kepada Allah,
perasaan kurang, lemah dan membutuhkan kepada yang lainya. Naluri
mempertahankan diri (Gharizatul Baqa) mendorong manusia untuk melaksanakan
berbagai aktivitas dalam rangka melestarikan kelangsungan hidup. Dan naluri
melangsungkan keturunan (Gharizatun nau) mendorong manusia untuk
melestarikan jenis manusia. Sebagai wujud dari naluri ini, manusia memiliki
kecenderungan seksual, rasa kebapakan, rasa keibuan, rasa cinta pada anak-anak,
cinta pada orang tua, cinta pada orang lain dan sebagainya.
keinginan untuk mempunyai anak tidak hanya dimiliki oleh manusia awam,
akan tetapi juga oleh para Nabi. Al-Quran menyebutkan beberapa doa yang

Q.S. al-Nahl (16): 72.


N. Faqih Syarif H., al-Quwwah ar-Ruhiyah: Kekuatan Spirit Tanpa Batas, (Yogyakarta: Albirr
Press, 2009), 100.
4

dipanjatkan oleh para nabi agar dikaruniai keturunan, yaitu antara lain doa Nabi
Ibrahim:


Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk
orang-orang yang saleh.5
dan doa Nabi Zakariya:

Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya
Engkau Maha Pendengar doa6
Memang keinginan untuk mempunyai anak adalah naluri yang manusiawi dan
alamiah, akan tetapi kadang-kadang naluri ini terbentur pada takdir ilahi, dimana
keinginan untuk mempunyai anak tidak tercapai. Pada umumnya manusia tidak
akan puas dengan apa yang dialaminya, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk
memenuhi keinginan tersebut. Dalam hal keinginan memiliki anak, usaha yang
bisa mereka lakukan adalah dengan mengangkat anak (adopsi). Pengangkatan
anak disini merupakan alternatif untuk menyelamatkan perkawinan atau untuk
mencapai kebahagiaan rumah tangga, karena Tujuan dari perkawinan yang
dilakukan, pada dasarnya adalah untuk memperoleh keturunan, yaitu anak. Begitu
pentingnya hal keturunan (anak) ini, sehingga menimbulkan berbagai peristiwa
hukum, karena, misalnya, ketiadaan keturunan (anak), perceraian, poligami dan
pengangkatan anak merupakan beberapa peristiwa hukum yang terjadi karena
alasan tidak memperoleh keturunan di dalam perkawinan. Tingginya frekuensi
5
6

QS. Ash-Shaaffaat [37]: 100


QS. Ali Imran [3]: 38.
3

perceraian, poligami dan pengangkatan anak yang dilakukan didalam masyarakat


mungkin merupakan akibat dari perkawinan yang tidak menghasilkan keturunan,
maka tujuan perkawinan itu tidak tercapai.7
Tujuan seseorang melakukan pengangkatan anak antara lain adalah untuk
meneruskan keturunan, manakala di dalam suatu perkawinan tidak memperoleh
keturunan. Ini merupakan motivasi yang dapat dibenarkan dan salah satu jalan
keluar sebagai alternatif yang positif serta manusiawi terhadap naluri kehadiran
seorang anak dalam pelukan keluarga, bertahun-tahun belum dikaruniai seorang
anakpun. Dengan mengangkat anak diharapkan supaya ada yang memelihara di
hari tua, untuk mengurusi harta kekayaan sekaligus menjadi generasi penerusnya.
Mengangkat anak merupakan suatu perbuatan hukum, oleh kerena itu
perbuatan tersebut mempunyai akibat hukum. diantara akibat hukum dari
peristiwa pengangkatan anak adalah mengenai status anak angkat tersebut, yaitu
dalam hal nasab, kemahraman, nafkah, perwalian nikah, wasiat dan waris.
Berdasarkan surat edaran Mahkamah Agung tanggal 7 April 1979 no.2 tahun
1979 tentang Pengangkatan Anak dikatakan antara lain bahwa; Pengesahan
Pengangkatan Anak Warga Negara Indonesia hanya dapat dilakukan dengan suatu
penetapan di Pengadilan Negeri, dan tidak dibenarkan apabila pengangkatan anak
tersebut dilakukan dengan akta notaris yang di legalisir oleh Pengadilan Negeri.8
Dengan demikian, setiap kasus pengangkatan anak harus melalui Penetapan
Pengadilan Negeri.
7

Soerjono Soekanto dan Soleman B. Takeko, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1983,
275.
Muderis Zaini, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika,
1995), 112..

Menurut Hukum Islam, anak angkat tidak dapat diakui untuk bisa dijadikan
dasar dan sebab mewarisi, karena prinsip pokok dalam kewarisan Islam adalah
hubungan darah / nasab / keturunan. 9 Dengan kata lain bahwa peristiwa
pegangkatan anak menurut hukum kawarisan Islam, tidak membawa pengaruh
hukum terhadap status anak angkat, yakni bila bukan merupakan anak sendiri,
tidak dapat mewarisi dari orang yang setelah mengangkat anak tersebut. Hal ini,
tentunya akan menimbulkan masalah dikemudian hari apabila dalam hal warisan
tersebut tidak dipahami oleh anak angkat, dikarenakan menurut hukum Islam,
anak angkat tidak berhak mendapatkan pembagian harta warisan dari orang tua
angkatnya, maka sebagai solusinya menurut Kompilasi Hukum Islam adalah
dengan jalan pemberian Wasiat Wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 (sepertiga)
harta warisan orang tua angkatnya. Sebagaimana telah diatur di dalam Kompilasi
Hukum Islam pasal 209 ayat 2 yang berbunyi : Terhadap anak angkat yang tidak
menerima wasiat maka diberi wasiat wajibah sebanyak-banyaknya 1/3 dari harta
warisan orang tua angkatnya. Permasalahan pengangkatan anak dan status anak
tersebut menurut Kompilasi Hukum Islam tersebut diatas menarik bagi penulis
untuk membahasnya terutama jika dikomparasikan dengan KUH perdata dan
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

A. Fokus Penelitian

Hadikusuma, Hilman, Hukum Waris Adat, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1985), 78.

Dari pemaparan di atas, maka yang akan dibahas oleh peneliti dalam
penelitian ini adalah STATUS ANAK ADOPSI PERSPEKTIF HUKUM ISLAM
DAN HUKUM POSITIF dengan fokus masalah penelitian sebagai berikut:
1. Status anak adopsi perspektif Hukum Islam;
2. Status anak adopsi perspektif Hukum Positif;
3. Persamaan dan perbedaan antara Hukum Islam dan Hukum Positif tentang
status anak adopsi.
B. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui status anak adopsi perspektif Hukum Islam;
2. Mengetahui status anak adopsi perspektif Hukum Positif;
3. Mengetahui persamaan dan perbedaan antara Hukum Islam dan Hukum Positif
tentang status anak adopsi.
C. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat dikemukakan menjadi dua sisi, yaitu
manfaat teoritis dan manfaat praktis;
1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi khazanah
intelektual, sebagai sumbangan pemikiran mengenai status anak adopsi perspektif
hukum

islam

dan

hukum

positif

bagi

dunia

akademis.

2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis, akademisi,
praktisi dan masyarakat secara umum mengenai status anak adopsi perspektif
hukum islam dan hukum positif, untuk selanjutnya dijadikan sebagai acuan dalam
mengambil keputusan atau menjawab permasalahan terkait status anak adopsi.

D. Definisi Istilah
1. Anak adopsi
Anak adopsi adalah anak orang lain yang diambil dan disamakan dengan
anaknya sendiri
2. Hukum Islam
adalah seperangkat kaidah-kaidah hukum yang didasarkan pada wahyu Allah
SWT dan Sunnah Rasul mengenai tingkah laku mukallaf yang diakui dan
diyakini, yang mengikat bagi semua pemeluk agama islam.
3. Hukum Positif
Hukum Positif adalah hukum yang berlaku di Wilayah Negara Republik
Indonesia.

E. Kajian Pustaka
1. Pengertian Anak Adopsi
Istilah anak angkat atau pengangkatan anak berkembang di Indonesia
sebagai terjemahan dari bahasa Inggris adoption yang telah mengalami proses
asimilasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi adopsi (mengangkat anak) yang
berarti mengangkat anak orang lain untuk dijadikan anak sendiri dan mempunyai
hak yang sama dengan anak kandung.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah pengangkatan anak
disebut juga dengan istilah adopsi yang berarti pengambilan (pengangkatan)
anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri.10
10

Tim Redaksi, Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, VI, 1996), 27.
7

Dalam bahasa Arab pengangkatan anak dikenal dengan kata tabanni, sama
dengan ittakhadza ibnan yang berarti mengambil anak. Pada saat Islam
disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW pengangkatan anak telah menjadi
tradisi di kalangan mayoritas masyarakat Arab yang dikenal dengan istilah
tabanni yang berarti mengambil anak angkat. Rasulullah sendiri mempunyai anak
angkat yaitu Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah pernah juga dinikahkan oleh
Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy namun akhirnya bercerai. Dan Rasulullah
sendiri diperintah oleh Allah menikah dengan Zainab binti Jahsy, bekas istri anak
angkatnya itu.11
Secara

terminologis

tabanni

menurut

Wahbah

al-Zuhaili

adalah

pengangkatan anak yang dilakukan oleh seseorang terhadap anak yang jelas
nasabnya kemudian anak itu dinasabkan kepada dirinya. Dalam pengertian lain,
tabanni adalah seseorang baik laki-laki maupun perempuan yang dengan sengaja
menasabkan seorang anak kepada dirinya padahal anak tersebut sudah punya
nasab yang jelas pada orang tua kandungnya.12
2. Pengertian Anak Angkat menurut Hukum Positif
Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 1 ayat 9 memberikan
pengertian bahwa anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan
kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung
jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam
lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan
pengadilan.13
11
12

Wahbah az-Zuhaily, Fiqhul Islami wa Adillatuhu, X, (Damaskus: Darul Fikri, 2011), 2.


Ibid., 21.

13

Undang Undang (UU) RI No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak


8

Kemudian dalam Peraturan Pemerintah No. 54 Th. 2007 Pasal 1 ayat 1


dengan redaksi bahasa yang sama menyebutkan bahwa anak angkat adalah anak
yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang
sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan
membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya
berdasarkan keputusan atau penetapan pengadilan.14

3. Pengertian Anak Angkat menurut Kompilassi Hukum Islam (KHI)


Di samping itu dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 171 huruf h,
dengan redaksi yang sedikit berbeda mendefinisikan anak angkat adalah anak
yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan
sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua
angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan.15
Dari berbagai pengertian tersebut di atas dapat dipahami bahwa pengangkatan
anak ada dua pengertian, yaitu pengangkatan anak yang tidak memutus nasab
dengan orang tua kandung dan yang kedua pengangkatan anak dengan memutus
nasab orang tua kandung. Hal ini dapat disimak pendapat Mahmud Syaltut yang
mengemukakan bahwa setidaknya ada dua pengertian pengangkatan anak.
Pertama, mengambil anak orang lain untuk diasuh dan dididik dengan penuh
perhatian dan kasih sayang, tanpa diberikan status anak kandung kepadanya.
Cuma ia diperlakukan oleh orang tua angkatnya sebagai anak kandung sendiri.
Kedua, mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri dan ia diberi status
14
15

Peraturan Pemerintah no. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak


Kompilasi Hukum Islam
9

10

sebagai anak kandung, sehingga ia berhak memakai nama keturunan (nasab)


orang tua angkatnya dan saling mewarisi harta peninggalan, serta hak-hak lain
sebagai akaibat hukum antara anak nagkat dan orang tua angkatnya itu.16
Jika diperhatikan dari pengertian-pengertian yang dikemukakan para ahli
tersebut suatu prinsip persamaan dan perbedaan. Persamaan dari dua jenis
pengertian tersebut adalah dari aspek perlindungan dan kepentingan anak serta
pengalihan tanggung jawab, seperti pemeliharaan, pengasuhan, kasih sayang,
pendidikan, masa depan dan kesejahteraan anak. Titik perbedaannya terletak pada
penentuan nasab dengan segala akibat hukumnya. Anak angkat yang tidak
dinasabkan kepada orang tua angkatnya tidak berhak waris mewarisi, menjadi
wali dan lain sebagainya. Sedang anak angkat yang dinasabkan dengan orang tua
angkatnya berhak saling mewarisi, menjadi wali, dan hak-hak lain yang
dipersamakan dengan anak kandung. Pengertian yang pertama ini sejalan dengan
ketentuan hukum Islam sebagaimana firman Allah:

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran17
Anak angkat dalam pengertian kedua telah lama dikenal dan berkembang di
berbagai negara tidak terkecuali di Indonesia sebagaimana yang diterapkan oleh
Pengadilan Negeri terhadap permohonan pengangkatan anak bagi warga negara
Indonesia keturunan Tionghoa dan bagi mereka yang menundukkan diri pada

16
17

Dewan Redaksi, Ensiklopedi, ..., 29


Q.S. al-Maidah [5]: 2.
10

11

hukum tersebut. Pengertian yang kedua atau yang terakhir ini bertentangan dan
dilarang oleh Islam sebagaimana firman Allah:



( 4)






Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam
rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai
ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu
(sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah
mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak
mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui
bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu
seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang
kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.18
Ayat (4) berisi larangan anak angkat dijadikan sebagai anak kandung, dan
ayat (5) mengenai panggilan anak angkat dilarang mencantumkan bin/binti
dengan nama orang tua angkat, sebaliknya harus dipanggil dengan nama orang tua
kandungnya sendiri. Dari pengertian yang pertama tersebut, yaitu pengangkatan
anak yang tidak memutus nasab dengan orang tua kandung, hanya menentukan
beralih tanggung jawab dari orang tua kandung kepada orang tua angkat.
18

Q.S. al-Ahzab [33]: 4-5.


11

12

4. Sejarah Adopsi Anak


Secara historis, pengangkatan anak (adopsi) sudah dikenal dan berkembang
sebelum kerasulan Nabi Muhammad saw. Mahmud Syaltut, mantan Rektor
Universitas Al-Azhar Kairo Mesir menjelaskan bahwa tradisi pengangkatan anak
sebenarnya sudah dipraktekkan oleh masyararkat bangsa-bangsa lain sebelum
kedatangan islam, seperti yang dipraktek kan oleh bangsa Yunani, Romawi, India
dan beberapa bangsa pada zaman kuno. Dikalangan bangsa arab sebelum islam
(masa jahiliyyah) istilah pengangkatan anak dikenal dengan at-tabanni dan sudah
ditradisikan secara turun-menurun.19
Rasulullah SAW sendiri pernah mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak
angkatnya, bahkan tidak lagi memanggil Zaid berdasarkan nama ayahnya
(Haritsah), tetapi dengan nama Zaid bin Muhammad. Pengangkatan Zaid sebagai
anak Rasulullah ini diumumkan oleh Rasulullah di depan kaum Quraisy, Nabi
Muhammad SAW juga menyatakan bahwa dirinya dan Zaid saling mewarisi. Zaid
kemudian dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy, putri Aminah binti Abdul
Munthalib, bibi Nabi Muhammad SAW. Oleh karena Nabi SAW telah
menganggap sebagai anak, maka para sahabat pun kemudian memanggilanya
dengan Zaid bin Muhammad. Setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi rasul,
kemudian Allah menurunkan ayat tentang larangan perbuatan tersebut dalam
firmanNya:



( 4)


19

Andi Syamsu Alam dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, (Jakarta:
Kencana, 2008), 22.

12

13





Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam
rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai
ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu
(sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah
mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak
mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui
bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu
seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang
kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.
dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.20
Dalam ayat tersebut dijelaskan yang pada intinya melarang pengangkatan
anak dengan akibat hukum yang memanggilnya sebagai anak kandung dan saling
mewarisi seperti yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW.Dari asbabun nuzul
ayat Al-Quran tersebut dapat dipahami bahwa pengangkatan anak itu boleh
dilakukan, karena Nabi Muhammad saw telah mempraktikkannya, tetapi
pengangkatan anak itu tidak mengubah status nasab seseorang, karena Allah swt
telah menyatakannya dalam al-Quran bahwa status nasab Zaid tidak boleh
dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Imam ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya berkata, sesungguhnya ayat ini turun
(untuk menjelaskan) keadaan Zaid bin Haritsah, mantan budak Rasulullah saw.
20

Q.S. al-Ahzab [33]: 4-5.


13

14

sebelum diangkat sebagai nabi, Rasulullah SAW mengangkatnya sebagai anak,


Hingga dipanggil Zaid bin Muhammad.21
Rasulullah saw. kemudian menikah dengan Zainab binti Jahsy, mantan istri
anak angkatnya tersebut. Hal yang demikian ini dapat dijadikan justifikasi
kebolehan menikahi mantan istri anak angkat. Hal ini berdasarkan firman Allah:








Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan
nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: Tahanlah
terus istrimu dan bertawakalah kepada Allah. Sedang kamu menyembunyikan
didalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada
manusia, sedang Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala
Zaid telah mengakhiri kepeluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami
kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk
(mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu
telah menyelasaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah
itu pasti terjadi.22
Ayat diatas menjelaskan tentang perkawinan Nabi Muhammad saw dengan
bekas istri anak angkatnya yang menegaskan bahwa adanya hubungan
pengangkatan anak tidak serta merta menciptakan hubungan nasab yang
mengakibatkan statusnya sama dengan anak kandung, karena menikahi bekas istri
21
22

Ibnu Katsir, Tafsirul Quranil Adzim, VI, (Damaskus, Dar Thayyibah, 1999), 376.
Q.S. al-Ahzab [33]: 37.
14

15

anak angkat itu dibolehkan, sedangkan menikahi bekas istri anak kandung
diharamkan untuk selama-lamanya.

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian adalah metode atau cara mengadakan penelitian. 23 Dari
ungkapan konsep tersebut jelas bahwa yang dikehendaki adalah suatu informasi
dalam bentuk deskripsi dan menghendaki makna yang berada di balik bahan
hukum.
Sesuai dengan jenis penelitiannnya yakni penelitian hukum normatif (yuridis
normatif), maka dapat digunakan lebih dari satu pendekatan. 24 Dalam penelitian
ini

digunakan

pendekatan

perundang-undangan

(Statute

Approach)

dan

pendekatan konsep (conceptual approach).25


Pendekatan perundang-undangan dilakukan untuk meneliti aturan perundangundangan yang mengatur mengenai status anak adopsi, yakni Undang-undang No.
1 Tahun 1974, UndangUndang (UU) RI No.23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak, Peraturan Pemerintah no. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan
Pengangkatan Anak dan Kompilasi Hukum Islam. Sedangkan pendekatan
perbandingan dilakukan untuk melihat bagaimana antara satu hukum yang
mengatur ketentuan yang serupa namun tidak searah dengan hukum lainnya,
23

24

25

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rieneka Cipta,
2002), 23.
Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia
Publishing, 2006), 300.
Abdulkadir Muhammad, Hukum Dan Penelitian Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti,2004), 113.

15

16

sehingga nantinya akan ditemukan sebuah titik temu baik kesamaan maupun
perbedaan yang akan sangat membantu dalam proses analisis.

2. Bahan Hukum
Dalam penelitian hukum tidak dikenal adanya data, sebab dalam
penelitian hukum, khususnya yuridis normatif, sumber penelitian hukum
diperoleh dari kepustakaan, bukan dari lapangan. Untuk itu istilah yang
dikenal adalah bahan hukum.26 Dalam penelitian hukum normatif bahan
pustaka merupakan bahan dasar yang dalam ilmu penelitian umumnya disebut
bahan hukum sekunder.27
Kemudian bahan hukum terbagi menjadi dua, yaitu bahan hukum primer
dan sekunder.
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif,
artinya
mempunyai otoritas. Adapun bahan hukum primer di dalam penelitian ini terdiri
dari:
1) al-Quran
2) as-Sunnah
3) Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
4) Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

26

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2008), 41.


Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Tinjauan Singkat,
(Jakarata: Rajawali Pers, 2006), 24.

27

16

17

b. Bahan Hukum Sekunder


Merupakan bahan hukum yang bersifat membantu atau menunjang bahan
hukum primer dalam penelitian yang akan memperkuat penjelasan di dalamnya.
Diantara bahan-bahan hukum sekunder dalam penelitian ini adalah kitab-kitab,
buku-buku, thesis, jurnal dan dokumen-dokumen yang mengulas tentang status
anak adopsi perspektif hukum Islam dan hukum positif.
c. Bahan Hukum Tersier
Merupakan bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan
terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia,
dan lain-lain.

3. Metode Pengumpulan Bahan Hukum


Pengumpulan bahan hukum dalam penelitian library research adalah teknik
dokumenter, yaitu dikumpulkan dari telaah arsip atau studi pustaka seperti kitabkitab, buku-buku, makalah, artikel, majalah, jurnal, koran atau karya para pakar.
Selain itu, wawancara juga merupakan salah satu dari teknik pengumpulan bahan
hukum yang menunjang teknik dokumenter dalam penelitian ini serta berfungsi
untuk memperoleh bahan hukum yang mendukung penelitian jika diperlukan.

4. Metode Pengolahan Bahan Hukum


Dalam penelitian ini digunakan pengolahan bahan hukum dengan cara
editing, yaitu pemeriksaan kembali bahan hukum yang diperoleh terutama dari
kelengkapannya, kejelasan makna, kesesuaian, serta relevansinya dengan

17

18

kelompok yang lain. Setelah melakukan editing, langkah selanjutnya adalah


coding, yaitu memberi catatan atau tanda yang menyatakan jenis sumber bahan
hukum (Nash, literatur, Undang-undang, atau dokumen), pemegang hak cipta
(nama penulis, tahun penerbitan) dan urutan rumusan masalah.
Selanjutnya adalah rekonstruksi bahan (reconstructing), yaitu menyusun
ulang bahan hukum secara teratur, berurutan, logis, sehingga mudah dipahami dan
diinterpretasikan. Dan langkah terakhir adalah sistematis bahan hukum
(systematizing), yakni menempatkan bahan hukum berurutan menurut kerangka
sistematika bahasan berdasarkan urutan masalah.28

5. Metode Analisis Bahan Hukum


Dalam penelitian ini, setelah bahan hukum terkumpul maka bahan hukum
tersebut dianalisis untuk mendapatkan konklusi, bentuk dalam teknik analisis
bahan hukum adalah Content Analysis. Sebagaimana telah dipaparkan
sebelumnya, bahwa dalam penelitian normatif tidak diperlukan data lapangan
untuk kemudian dilakukan analisis terhadap sesuatu yang ada di balik data
tersebut. Dalam analisis bahan hukum jenis ini dokumen atau arsip yang
dianalisisb disebut dengan istilah teks . Content analysis menunjukkan pada
metode analisis yang integratif dan secara konseptual cenderung diarahkan untuk
menemukan, mengidentifikasi, mengolah, dan menganalisis bahan hukum untuk
memahami makna, sgnifikansi, dan relevansinya.29

28
29

Abdulkadir Muhammad, Op.Cit., 126


Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologi Ke arah Ragam
Varian Kontemporer, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), 203.
18

19

G. Sistematika Pembahasan
Bab I, dalam bab ini peneliti akan memaparkan konteks penelitian, focus
penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi istilah.
Bab II, dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kajian kepustakaan yang meliputi
konsep mengenai anak adopsi dan akibat hukumnya.
Bab III, di sini peneliti akan menjelaskan metodologi penelitian yang meliputi ;
jenis dan pendekatan penelitian, bahan hukum, metode pengumpulan bahan
hukum, metode pengolahan bahan hukum, dan metode analisis bahan hukum.
Bab IV, penulis akan memaparkan dan menganalisis data yang telah diperoleh
mengenai status anak adopsi menurut hukum Islam dan hukum positif.
Bab V, merupakan penutup yang mencakup kesimpulan dari seluruh kegiatan
penelitian dan juga saran-saran yang berkaitan dengan hasil penelitian yang telah
dicapai.

19

20

DAFTAR PUSTAKA
Syarif, N. Faqih., al-Quwwah ar-Ruhiyah: Kekuatan Spirit Tanpa Batas, (Yogyakarta: Albirr
Press, 2009.
Soekanto, Soerjono dan Soleman B. Takeko, Hukum Adat Indonesia, Jakarta: Rajawali, 1983,.
Zaini, Muderis, Adopsi Suatu Tinjauan Dari Tiga Sistem Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 1995),
Hadikusuma, Hilman, Hukum Waris Adat, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1985
Tim Redaksi, Ensiklopedia Hukum Islam, Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, VI, 1996
Wahbah az-Zuhaily, Fiqhul Islami wa Adillatuhu, X, (Damaskus: Darul Fikri, 2011
Syamsu Alam, Andi dan M. Fauzan, Hukum Pengangkatan Anak Perspektif Islam, (Jakarta:
Kencana, 2008
Ibnu Katsir, Tafsirul Quranil Adzim, VI, (Damaskus, Dar Thayyibah, 1999
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rieneka Cipta,
2002
Ibrahim, Jhonny, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang: Bayumedia
Publishing, 2006
Muhammad, Abdulkadir, Hukum Dan Penelitian Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti,2004
Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2008
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Tinjauan Singkat, (Jakarata:
Rajawali Pers, 2006
Bungin, Burhan, Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologi Ke arah Ragam Varian
Kontemporer, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), 203.

20