Anda di halaman 1dari 2

jabar.pojoksatu.

id
http://jabar.pojoksatu.id/cianjur/2016/03/17/ini-yang-akan-terjadi-jika-alih-fungsi-lahan-di-cianjur-tak-segera-diatasi/

Ini yang Akan Terjadi Jika Alih Fungsi Lahan di Cianjur Tak
Segera Diatasi
Depa

POJOKJABAR.com, CIANJUR Menurut hasil pantauan dan investigasi Forum Masyarakat Peduli Cianjur
(FMPC) di Cianjur yang menelisik keberadaan alih fungsi lahan pertanian untuk penggunaan bidang non-pertanian
seperti pembangunan perumahan, industri, jasa, infrastruktur, dan kegiatan ekonomi lainnya, pengalihan fungsi
lahan pertanian secara besar-besaran di Cianjur dinilai sudah tak terkendali. Peraturan mengenai permasalahan yg
timbul dan keresahan yang dialami sebagian besar warga Kecamatan Ciranjang dan Sukaluyu, menurut FMPC,
memerlukan perhatian yang lebih serius, karena ternyata setelah berdirinya kawasan industri di wilayah mereka,
masih ada anggota masyarakat yang secara konsisten tetap menolak keras pembangunan tersebut.
Ketua FMPC, Farid Sandy, mengatakan bahwa pihaknya ikut berpikir tentang dampak negatif yang ditimbulkan
pembangunan industri, di antaranya polusi udara, serapan air, kesenjangan sosial, dan kemacetan lalulintas.
Kami juga berpedoman terhadap Perda (Peraturan Daerahred) Nomor 17 Tahun 2012 Tentang RTRW (Rencana
Tata Ruang Wilayahred). Meskipun kabarnya Perda itu dikembalikan untuk dilengkapi oleh pihak Pemkab
(Pemerintah Kabupatenred) Cianjur, tetapi kami akan tetap konsisten memperjuangkan apa yang menjadi hak
masyarakat. Data di Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Kementerian Pertanian tahun 2005
menunjukkan bahwa setiap tahun sekitar 187.720 hektar sawah telah beralih fungsi ke penggunaan non-pertanian,
terutama di Pulau Jawa. Sejalan dengan data tersebut, Direktorat Penataguna Tanah BPN (Badan Pertanahan
Nasionalred) tahun 2005 menyatakan bahwa RTRW perlu ditinjau kembali, jelasnya.
Farid menambahkan, jika hal ini tidak diperhatikan, dari total lahan sawah irigasi seluas 7,3 hektar, maka hanya
sekitar 4,2 juta hektar, atau hampir sekitar 57,6 persen yang dapat dipertahankan fungsinya.
Nah, sedangkan sisanya sekitar 3,01 juta hektar atau 42,4 persen akan terancam beralih fungsi ke penggunaan
lainnya, lanjutnya.
Pihaknya juga mempertegas dengan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kemungkinan 60.000
hektar lahan pertanian dikonversi setiap tahunnya. Berbagai peraturan perundang-undangan telah dibuat guna
mencegah dimanfaatkannya lahan pertanian untuk kegiatan non-pertanian. Misalnya Peraturan Menteri Dalam
Negeri (PMDN) Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Ketentuan-ketentuan Mengenai Penyediaan dan Pemberian Tanah
untuk Keperluan Perusahaan, PMDN Nomor 3 Tahun 1987 Tentang Penyediaan dan Pemberian Hak atas Tanah
untuk Keperluan Pembangunan Perumahan, berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 53 Tahun 1989
Tentang Kawasan Industri, Keppres Nomor 54 Tahun 1980 Tentang Kebijaksanaan Mengenai Pencetakan Sawah.
Itu merupakan contoh-contoh aturan yang melarang digunakannya lahan pertanian subur untuk penggunaan nonpertanian. Namun pada pelaksanaannya peraturan perundang-undangan tersebut tak efektif, karena kurang
didukung oleh data dan sikap proaktif pemerintah yang memadai. Terdapat tiga kendala mendasar yang menjadi
penyebab peraturan tentang pengendalian konversi lahan sulit dilaksanakan, yakni kebijakan yang kontradiktif,
cakupan kebijakan yang terbatas, dan kendala konsistensi perencanaan, terang Farid.
(radar cianjur/mat)

1/2

2/2