Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

ANALISIS STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN


Disusun untuk memenuhi mata kuliah Kapita Selekta
yang diampu oleh Prof. Sulistyo Saputro, M.Si., Ph.D.

disusun oleh :
Agustin Dwi Cahya Merdekawati
NIM. S831502035

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS (MINAT KIMIA)


PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2016

PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan dalam segala aspek
bidang. Begitupula dengan perundang-undangan yang mengatur tentang sistem
pendidikan

nasional

yang

mengamanahkan

pemerataan

pendidikan

dan

kesempatan dalam memperoleh pendidikan yang diberlakukan untuk seluruh


masyarakat Indonesia, dan lapangan pekerjaan yang terbuka bagi mereka yang
berpotensi dan mampu bersaing. Kurikulum selalu dianalisis dan diperbarui sesuai
kebutuhan dan menjawab tantangan perkembangan dunia. Tuntutan inilah yang
melatarbelakangi bagaimana Pemerintah harus terus membangun pendidikan yang
bermutu yaitu pendidikan yang memenuhi harapan masyarakat untuk mampu
bersaing seiring dengan perkembangan zaman.
Pada prosesnya, pendidikan ini memang cenderung mengedepankan
pendidikan yang berlangsung disekolah, atau pendidikan formal. Sekolah sebagai
wadah dalam membentuk karakter peserta didik dan ilmu pengetahuan,
menjadikan tolak ukur keberhasilan dalam membangun pendidikan. Sekolah
bermutu dan telah memenuhi standar nasional pendidikan inilah masih harus terus
ditingkatkan. Dijelaskan dalam Undang-undang SISDIKNAS No.20 tahun 2003
pada pasal 5 bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk
memperoleh pendidikan yang bermutu, oleh karena itulah kebutuhan akan
sekolah yang bermutu di masyarakat saat ini sedang menjadi perhatian bagi para
pemerhati pendidikan.
Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan acuan bagi seluruh sekolah
di Indonesia untuk dapat mencapai target pencapaian mutu. Standar yang menjadi
acuan untuk dapat meningkatkan setiap aspek manajemen sekolah telah diatur
dalam Undang-undang Standar Nasional Pendidikan, dan peraturan lainnya yang
memuat hal tersebut. Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan kriteria
minimal tentang berbagai aspek yang relevan dalam pelaksanaan sistem
pendidikan nasional dan harus dipenuhi oleh penyelenggara dan/atau satuan
pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan
nasional yang bermutu.

Berdasarkan PP Nomor 19 Tahun 2005, Standar Nasional Pendidikan (SNP)


terdiri dari 8 aspek yaitu Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar
Proses,

Standar

Kompetensi

Lulusan,

Standar

Pendidik

Dan

Tenaga

Kependidikan, Standar Sarana Dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar


Pembiayaan, dan Standar Penilaian. Kedelapan standar tersebut berfungsi sebagai
dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka
mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar Nasional Pendidikan
bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat.
Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan
berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan
global. Namun dalam kenyataannya, kedelapan standar nasional tersebut bisa saja
terealisasi secara penuh sesuai perencanaan atau kurang terealisasi tergantung dari
pelaksana kegiatan dan pengelola sekolah masing-masing. Berikut akan dibahas
mengenai analisis pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan di Sekolah
Menengah Atas, standar pada aspek mana yang mempunyai selisih antara kondisi
riil dan ideal dan upaya mengatasi selisih tersebut.

PEMBAHASAN

Analisis pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan yang akan dibahas


dalam makalah ini adalah mengacu pada beberapa penelitian yang telah dilakukan
dan telah dilaporkan dalam bentuk jurnal maupun penelitian skripsi dan thesis di
beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Hasil penelitian tentang pemetaan
pendidikan melalui pemenuhan delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP)
berbagai Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri di Surakarta menggambarkan
bahwa capaian pemenuhan standar proses (standar 2) dan standar penilaian
(standar 8) menunjukkan adanya gap yang terbesar antara skor ideal dan skor riil
(Sajidan et al., 2013). Gambar 1 menunjukkan gap antara skor ideal dan skor riil
pemenuhan Standar Nasional Pendidikan SMA di Surakarta.

Gambar 1. Histogram realisasi Standar Nasional Pendidikan SMA di Surakarta


Laporan lain dalam tesis yang disusun oleh Nurjanah (2015) menyatakan
bahwa berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, SMA N 1 Magelang
diketahui perolehan nilai implementasi 8 SNP adalah 94,79 % dan gap sebesar
5,21 %. Nilai gap terbesar terletak pada standar proses yaitu sebesar 1,90 % dan
standar penilaian yang menyumbang gap sebesar 0,95%. Gap pada standar proses
berasal dari beberapa indikator yaitu pelaksanaan pembelajaran mengacu pada
RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), pemantauan proses pembelajaran oleh
Kepala Sekolah dan implementasi tindak lanjut hasil supervisi. Adanya gap

mengindikasikan bahwa masih terdapat kekurangan dalam implementasi standar


pendidikan di tingkat sekolah utamanya dalam proses pembelajaran.
Sejalan dengan kedua laporan diatas, analisis pemenuhan 8 SNP di SMA
Muhammadiyah Wonosobo juga mengindikasikan bahwa standar proses dan
standar penilaian adalah dua standar nasional pendidikan yang persentase
ketercapaiannya adalah paling rendah dibanding 6 SNP yang lain. Standar proses
di SMA Muhammadiyah Wonososbo belum maksimal terlihat pada proses
pembelajaran yang belum memenuhi standar nasional pendidikan yaitu baru 70%
guru yang melaksanakan pembelajaran kontekstual dan guru yang menggunakan
media ICT dalam pembelajaran adalah sebesar 40%. Sementara pada standar
penilaian guru dan sekolah telah 95 % melaksanakan sistem penilaian sesuai
dengan tuntutan kurikulum (Praptoutomo, 2013).
Hasil dari ketiga penelitian yang telah dipaparkan diatas mengamini bahwa
kesenjangan terbesar antara kondisi ideal dan kondisi riil yang terjadi di sekolah
terkait pemenuhan 8 standar nasional pendidikan adalah pada standar proses dan
standar penilaian. Standar proses adalah terkait dengan berlangsungnya proses
pembelajaran, dimana program pendidikan diimplementasikan. Bryk dan
Hermanson menjelaskan bahwa inti dari persekolahan adalah peningkatan
akademik serta proses yang secara instrumental terkait didalamnya (1993). Proses
pembelajaran yang belum lancar dan kurang baik di beberapa sekolah tersebut
yang melaporkan bahwa terdapat gap besar pada standar prosesnya, menyebabkan
rendahnya mutu pendidikan.
Pemenuhan standar proses dan standar penilaian adalah tugas utama guru
profesional, dengan demikian kualitas pembelajaran dan evaluasi yang
dilaksanakan guru perlu ditingkatkan, sehingga guru profesional mampu
melaksanakan tugas yang telah diamanatkan oleh UUGD No. 14 tahun 2005
bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta
didik pada jalur pendidikan formal, serta pada jenjang pendidikan dasar dan
pendidikan menengah, termasuk pendidikan anak usia dini.
Setiap standar memiliki indikator ketercapaiannya dan setiap indikator
merupakan acuan mutu pendidikan di Indonesia. Berikut ini adalah daftar

indikator pemenuhan standar pada standar nomor dua yaitu standar proses dan
standar nomor delapan yaitu standar penilaian sebagai acuan mutu yang harus
diupayakan dipenuhi oleh setiap sekolah di berbagai jenjang dan jenis pendidikan.
Standar Proses:
No
1.

Komponen
Perencanaan

Sub Komponen
1.1. Kualitas silabus

1.2 Kualitas RPP

1.3 Sumber Belajar

2.

Pelaksanaan
Pembelajaran

Pemantauan,
Pengawasan,
dan Evaluasi

2.1 Kualitas Pengelolaan


kelas
2.2 Pelaksanaan
Pembelajaran

3.1 Pelaksanaaan
Pemantauan,
Pengawasan, dan
Evaluasi

Indikator Esensial
1.1.1 Kegiatan untuk merencanakan
pembelajaan
1.1.2 Kepemilikan silabus
1.1.3 Komponen silabus
1.1.4 Keterkaitan antar komponen dalam
silabus
1.2.1 Kepemilikan RPP
1.2.2 Komponen RPP
1. 2.3 Keterkaitan antar komponen RPP
1.2.4 Keterkaitan RPP dengan silabus
1.2.5 Kelayakan kegiatan pembelajaran
1.3.1 Ketersedian buku teks, buku
panduan, sumber belajar lain
1.3.2 Pemanfaatan buku teks, buku
panduan, sumber belajar lain
2.1.1 Pengelolaan kelas
2.2.1 Kesesuaian pelaksanaan
pembelajaran dengan RPP untuk
pendahuluan
2.2.2 Kesesuaian pelaksanaan
pembelajaran dengan RPP untuk
inti
2.2.3 Kesesuaian pelaksanaan
pembelajaran dengan RPP untuk
penutup
3.1.1 Pelaksanaan Pemantauan,
Pengawasan, dan Evaluasi
(persiapan, proses, penilaian)
3.1.2Tindak Lanjut

Standar Penilaian:
No
1

Komponen
Teknik, mekanisme dan
prosedur penilaian

Sub Komponen
1.1. Teknik-teknik
penilaian

Indikator Esensial
1.1.1.Guru membuat rancangan
penilaian yang
menggunakan berbagai
teknik penilaian, misal tes
untuk prestasi belajar,
pengamatan untuk perilaku,
lembar penilaian untuk
proses pencapaian

kompetensi
No

Komponen

Pelaksanaanpenilaian

Sub Komponen
1.2. Prosedurpenillaian

2.1. Penilaian oleh


pendidik

2.2. Penilaian oleh


sekolah

Indikator Esensial
1.2.1.Guru menyusun instrumen
yang memenuhi syarat
substansi, konstruksi, dan
bahasa
1.2.2.Satuan pendidikan
melakukan validitas empiric
terhadap instrument
penilaian
1.2.3. Satuan pendidikan memiliki
instrumen yang berkualitas
2.1.1. Siswa menerima informasi
hasil ulangan harian
2.1.2.Guru menyampaikan hasil
penilaian akhir kepada
peserta didik dalam bentuk
satu nilai disertai deskripsi
2.1.3.Guru memberikan remidi
pada siswa yang belum
mencapai KKM
2.1.4.Guru menggunakan
berbagai teknik penilaian
untuk menilai hasil belajar
kognitif, keterampilan, dan
afektif
2.1.5.Guru menggunakan
berbagai teknik untuk
menilai hasil belajar kognitif
siswa
2.1.7.Guru mengolah/
menganalisis hasil penilaian
untuk mengetahui kemajuan
dan kesulitan belajar siswa
2.1.8. Guru memanfaatkan hasil
penilaian
2.1.9.Setiap akhir semester, guru
melaporkan hasil penilaian
2.1.10.Guru melaporkan hasil
penilaian akhlak kepada
guru agama
2.1.11.Guru melaporkan hasil
penilaian kepribadian
kepada guru PKN
2.2.1. Satuan pendidikan
mengadakan rapat dewan
guru untuk menentukan nilai
akhir peserta didik

No

Komponen

Sub Komponen

2.3. Penilaian oleh


Pemerintah

Pemantauan penilaian
yang berkualitas dan
tindaklanjutnya

3.1.Pemantauan
penilaian yang
berkualitas

(termasuk kenaikan kelas


dan kelulusan)
2.2.2.Satuan pendidikan
melaksanakan: kriteria
kenaikan kelas, KKM
Indikator Esensial
2.2.3. Satuan pendidikan
melaporkan hasil penilaian
setiap akhir semester
kepada semua
orangtua/wali siswa.
2.3.1.Satuan pendidikan
memanfatkan hasil UN
untuk seleksi masuk,
2.3.2. Satuan pendidikan memiliki
rata-rata UN setinggi UN
SSN
2.3.3. Satuan pendidikan
memanfaatkan hasil analisis
daya serap
3.1.1.Pemantauan terahadap
kualitas soal
3.1.2.Pemantauan terhadap
pelaksanaan ujian

Sumber: Kemdikbud (2012)


Munculnya permasalahan terkait standar proses dan penilaian di
beberapa sekolah disebabkan karena komponen yang terdapat di kedua standar
tersebut tidak terpenuhi indikatornya dengan baik. Berikut adalah contoh
pemenuhan indikator pada standar proses dan standar penilaian.
Standar Proses:
No

Komponen
Perencanaan
1. Silabus

2. RPP

Kondisi Ideal

Kondisi Riil

Pada silabus harus memuat:


identitas mata pelajaran, SK,
KD, kegiatan pembelajaran,
indikator, penilaian, alokasi
waktu, sumber/bahan/alat.
Penyusunan silabus
berdasarkan hasil pemetaan
Standar Isi.
RPP memuat: identitas, MP,
SK, KD, indiaktor, alokasi
waktu, metode pembelajaran,
kegiatan pembelajaran,

Dalam pengembangan
silabus masih banyak guru
yang belum melakukan
analisis SK-KD.
Masih banyak guru yang
mengadopsi dan
mengadaptasi silabus yang
sudah ada.
Masih banyak guru yang
menyusun RPP tidak
melampirkan instrumen
penilaian dan/atau soal

penilaian belajar dan sumber


belajar.
Mengacu pada prinsip-prinsip
penyusunan RPP.
No
Komponen
Kondisi Ideal
3. Sumber
buku teks pelajaran yang
Belajar
akan digunakan oleh
sekolah/madrasah dipilih
melalui rapat guru dengan
pertimbangan komite
sekolah/madrasah dari bukubuku teks pelajaran yang
ditetapkan oleh Menteri,
rasio buku teks pelajaran
untuk peserta didik adalah 1:1
per mata pelajaran,
guru membiasakan peserta
didik menggunakan bukubuku dan sumber belajar lain
yang ada di perpustakaan
sekolah/madrasah.
II Pelaksanaan Pembelajaran
1.Persyaratan
Jumlah maksimal peserta
Pelaksanaan: didik setiap rombongan
Rombongan belajar adalah 32 peserta
Belajar
didik
2.Pelaksanaan
Kegiatan pembelajaran sesuai
pembelajaran dengan RPP

II
I
1

yang tercantum dalam RPP


tidak mempresentasikan
tujuan pada RPP
Kondisi Riil
rasio buku teks pelajaran
untuk peserta didik adalah
tidak memenuhi
perbandingan 1:1 per mata
pelajaran, hanya sebagian
mata pelajaran saja yang
siswa mempunyai buku
nya. Siswa kurang
dibiasakan mencari
sumber belajar alternatif.
Guru tidak menyediakan
dan/atau mengembangkan
sumber belajar alternatif.

Jumlah peserta didik per


rombongan belajar adalah
lebih dari 32 orang
Kegiatan pembelajaran
tidak konsisten dengan
pemetaan waktu yang
direncanakan pada RPP.
Contoh: dalam pemetaan
waktu pada RPP
mengalokasikan 15 menit,
namun pelaksanaanya
melampaui dari waktu
yang telah ditetapkan
sehingga tujuan
pembelajaran tidak
tercapai.

Penilaian Hasil Pembelajaran


Pemantauan,
pengawasan
dan evaluasi

Penilaian dilakukan oleh guru


terhadap hasil pembelajaran
untuk mengukur tingkat
pencapaian kompetensi

Hasil penilaian
pembelajaran tidak
dilakukan analisis seagai
bahan acuan dalam

peserta didik serta digunakan


sebagai bahan penyusunan
laporan kemajuan hasil
belajar dan memperbaiki
proses pembelajaran.

program perbaikan proses


pembelajaran bagi guru.

Standar Penilaian:
No
1

Komponen
Prinsip penilaian

Kondisi Ideal
Sahih, objektif, adil, terpadu,
terbuka, menyeluruh dan
berkesinambungan,
sistematis, beracuan kriteria
dan akuntabel

Teknik dan
instrumen penilaian

Mekanisme dan
prosedur penilaian

Instrumen penilaian hasil


belajar yang digunakan
pendidik memenuhi
persyaratan substansi,
konstruksi dan bahasa.
Penilaian hasil belajar
dilakukan oleh pendidik,
satuan pendidikan, dan
pemerintah dengan teknik
dan mekanisme yang telah
ditentukan

Penilaian oleh satuan Penilaian hasil belajar oleh


pendidikan
satuan pendidikan dilakukan
untuk menilai pencapaian
kompetensi peserta didik

Kondisi Riil
Prinsip penilaian sudah
mendekati sahih, objektif, adil,
terpadu, terbuka, menyeluruh
dan berkesinambungan,
sistematis, beracuan kriteria dan
akuntabel
Belum ada data penelaah
instrumen penilaian hasil belajar.

Kesenjangan
Sekolah belum pernah mengukur
tingkat pelaksanaan prinsip
penilaian

belum semua guru membuat


rancangan penilaian secara
menyeluruh yang menggunakan
berbagai teknik penilaian, misal
tes untuk prestasi belajar,
pengamatan untuk perilaku,
lembar penilaian untuk proses
pencapaian kompetensi

Tidak semua guru mengerti


mengenai mekanisme dan prosedur
penilaian

Belum teridentifikasi pemenuhan


persyaratansubstansi, konstruksi,
dan bahasa pada instrumen
penilaian hasil belajar.

Penilaian oleh satuan pendidikan Penilaian oleh satuan pendidikan


sudah terlaksana terutama pada
belum maksimal
kenaikan kelas dan UN/UAS

pada semua mapel.

Uraian diatas menunjukkan bahwa standar proses dan standar penilaian


bergantung pada guru sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pembelajaran dan
proses penilaian hasil belajar peserta didik. Dalam standar proses, guru dituntut
untuk mewujudkan pembelajaran yang kondusif, menyenangkan, berorientasi
tujuan yang sesuai dengan silabus dan RPP serta mampu mengarahkan
penggunaan sumber belajar oleh peserta didik bahkan mampu mengembangkan
dan menyediakan alternatif sumber belajar bagi peserta didik yang diampunya.
Sementara pada aspek standar penilaian, guru sebagai salah satu agen penilaian
juga harus melaksanakan penilaian secara berkesinambungan, bertujuan untuk
memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan
efektivitas kegiatan pembelajaran, dengan tidak hanya melaksanakan ulangan
harian di setiap akhir pembelajaran dan hanya memperoleh angka sebagai nilai
namun tidak mengevaluasinya.
Sehingga, jika standar proses dan standar penilaian di suatu sekolah
mempunyai gap yang besar antara kondisi ideal dan kondisi riilnya adalah
terdapat kontribusi dari guru sebagai pelaksana proses dan penilaian pendidikan
tersebut. Untuk mengatasi gap yang terjadi dapat dilakukan upaya-upaya
terkait dengan komponen standar proses dan standar penilaian, yaitu:
No.
Komponen
Standar Proses
I
Perencanaan
1. Silabus

2. RPP
3. Sumber Belajar

Upaya/ Tindak Lanjut


Perlu diprogramkan bimbingan
dan
pendampingan
teknik
membuat silabus mulai dari
analisis Standar Isi sehingga
menghasilkan silabus yang dapat
sesuai dengan karakteristik belajar
siswa.
Perlu diadakan workshop dan
bimbingan pembuatan RPP
Perluasan
wawasan
guru
mengenai sumber belajar dan
pelatihan pengembangan sumber
belajar alternatif seperti modul
serta membiasakan guru dan
siswa untuk aktif mencari sumber
belajar pendukung pembelajaran.

No.
Komponen
Standar Proses
II
Pelaksanaan Pembelajaran

III

Penilaian Hasil Pembelajaran

Standar Penilaian
1
Prinsip penilaian

Teknik dan Instrumen


penilaian

Mekanisme dan prosedur


penilaian

Penilaian oleh satuan


pendidikan

Upaya/ Tindak Lanjut


Dalam kegiatan pembelajaran, guru
wajib menyusun RPP dan membawanya
sebagai kontrol dalam pelaksanaan
pembelajaran.
Guru
wajib
mengkondisikan
pembelajaran yang efektif dan membuat
siswa mudah untuk mencapai tujuan
pencapaian kompetensinya.
Guru juga harus aktif meng-upgrade
pengetahuannya
mengenai
model,
metode maupun strategi pembelajaran
yang dapat digunakan di kelas untuk
mewujudkan pembelajaran yang efektif
dan bermakna bagi siswa sesuai
kurikulum yang berlaku tentunya.
Kepala sekolah melakukan pemeriksaan
dan pemantauan perkembangan hasil
belajar peserta didik dari guru sebagai
info/data ketidakberhasilan peserta
didik
Sekolah harus menyediakan dan
menyiapkan format prinsip penilaian
yang baik dan diedarkan ke semua guru
untuk dilaksanakan
Sekolah menyiapkan format penelaahan
butir soal dan meminta guru melakukan
telaah butir soal sebelum disajikan
kepada peserta didik
Melakukan
pembimbingan
dan
pengarahan dengan mendatangkan
narasumber yang kompeten dengan
materi mekanisme dan prosedur
penilaian.
Guru juga diwajibkan untuk selalu
memperluas wawasannya mengenai
berbagai teknik penilaian yang dapat
mengukur hasil belajar maupun
mengamati perkembangan kemajuan
(progress) belajar siswa.
Perlu
evaluasi
yang
mendalam
mengenai penilaian oleh satuan

pendidikan, misal pada UAS atau UN.


Penilaian diharapkan juga mampu
menumbuhkan rasa percaya diri pada
peserta didik.
SIMPULAN
Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan kriteria minimal tentang
berbagai aspek yang relevan dalam pelaksanaan sistem pendidikan nasional dan
harus dipenuhi oleh penyelenggara dan/atau satuan pendidikan di seluruh wilayah
hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun ternyata terdapat dua
standar nasional pendidikan yang dari hasil analisis pemenuhan SNP di berbagai
SMA yang masih menjadi permasalahan karena mempunyai gap yang lebih besar
antara kondisi riil dan kondisi idealnya dibandingkan 6 SNP yang lain, 2 SNP
tersebut adalah standar proses dan standar penilaian.
Standar proses dan standar penilaian sebagian besar bergantung pada guru
sebagai ujung tombak pelaksanaan proses pembelajaran dan proses penilaian hasil
belajar peserta didik. Upaya-upaya penanggulangan masalah terkait standar proses
dan standar penilaian harus digalakkan dan dilaksanakan dengan baik agar
kedepannya semua SNP terpenuhi oleh setiap satuan pendidikan di Indonesia.
Komponen dalam standar proses dan standar penilaian adalah sinergi antara
kinerja guru dan kepala sekolah sebagai administrator dan evaluator, sehingga
upaya meminimalisir gap antara kondisi riil dan kondisi ideal pada kedua SNP
tersebut harus fokus dan mengarah pada upaya peningkatan profesionalisme guru
dan kepala sekolah yang bermuara pada tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Nurjanah, Annisa Kartika. 2015. Pengembangan Modul Biologi Berbasis Model
Guided Inquiry Laboratory pada Materi Bioteknologi. Tesis. FKIP UNS.
Kemdikbud. 2012. Pedoman Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan pada
SMA/MA. Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496)
Praptoutomo, S. 2013. Analisis Pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan di
SMA Muhammadiyah Wonosobo.
Sajidan, Sugiharto B, dan Prasetyani, N.M. 2013. Penerapan dan pengembangan
mutu pendidikan melalui lesson studi pada mata pelajaran biologi berbasis
pemetaan ketuntasan UN Biologi. Laporan Hibah Guru Besar. LPPM UNS.