Anda di halaman 1dari 11

MODUL 5

HUKUM KEDUA TERMODINAMIKA

5.1. Hukum Kedua Termodinamika

Gambar 5-1 di bawah ini memperlihatkan dua sistem yang berbeda, masing-masing
dilingkungi oleh dinding adiabatik. Pada gambar (a) sebuah benda yang suhunya T1
bersinggungan dengan benda lain (reservoir) yang suhunya T2 lebih tinggi daripada T1 maka
sesuai dengan hukum alam, sejumlah panas akan mengalir dari reservoir masuk ke dalam
benda pertama, sampai akhirnya dicapai keadaan seimbang, suhu benda pertama menjadi
sama dengan suhu reservoir. Seperti diketahui reservoir adalah benda yang karena ukurannya
besar atau karena mendapat masukkan energi panas dari sistem lain, maka walaupun sejumlah
panas mengalir ke luar atau masuk ke dalamnya, suhunya tidak berubah.

T1

T2

(a) (b)

Gambar 5.1. (a) sejumlah panas mengalir reservoar ( T2) ke benda dengan suhu T1 (T2 > T1 )
(b) gas pada bagian kiri mengalami ekspansi bebas saat diafragme /penyekat
dihilangkan

Proses di atas terjadi secara spontan dan irreversibel. Keadaan awal, kedua benda
mempunyai suhu yang berbeda, setelah bdisentuhkan dan mencapaui keseimbangan , maka
keadaan akhirnya benda mempunyai suhu yang sama dengan suhu reservoar. Jika sistem ingin
dikembalikan lagi ke keadan semula, dimana benda kembali mempunyai suhu T1 yang lebih
rendah, tidaklah mungkin terjadi. Andaikata proses ini dapat berlangsung maka hal ini sama
sekali tidak bertentangan dengan hukum pertama, yang tidak lain adalah hukum kekekalan
tenaga. Tetapi ternyata sesuai dengan pengalaman proses itu tidak pernah terjadi, walaupun
jumlah tenaganya tetap saja, karena sistem itu dilingkungi dengan dinding adiabatik. Mengapa
tidak dapat tertjadi ?
Pada gambar (b) dilukiskan suatu bejana yang terbagi oleh dua diafragma. Bagian kiri
berisi sejumlah gas dan bagian kanan hampa. Jika diafragma dirobek, maka sejumlah molekul

Modul 5 - 1
gas dari bagian kiri akan bergerak memasuki bagian kanan sampai akhirnya dicapai keadaan
seimbang dengan kedua bagian mempunyai tekanan yang sama. Proses inipun tak dapat
berlangsung ke arah sebaliknya. Dari keadaan seimbang dengan molekul-molekul gas
menempati kedua bagian dengan tekanan yang sama kemudian sejumlah molekul bergerak ke
kiri sampai akhirnya bagian kanan menjadi hampa. Andaikata hal ini dapat terjadi maka inipun
tidak bertentangan dengan hukum pertama. Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa ekspansi
bebas, dimana dalam hal ini walaupunvolume sistem bertambah, sistem dikatakan tidak
melakukan usaha.
Dari kedua peristiwa itu timbul pertanyaan mengapa suatu peristiwa yang sebenarnya
tidak bertentangan dengan sesuatu hukum tetapi tidak juga dapat terjadi. Di alam ternyata ada
peristiwa-peristiwa yang terjadi secara spontan ke satu arah saja.. Menghadapi kenyataan
seperti ini maka haruslah diambil kesimpulan bahwa pastilah ada satu hukum alam lain di luar
hukum pertama termodinamika dan yang tak dapat dijabarkan dari hukum pertama itu,
lagipula dapat menentukan ke arah mana proses alami itu akan terjadi. Hukum ini selanjutnya
akan disebut kedua termodinamika.
Penyusunan hukum kedua ini tidak lepas dari usaha untuk mencari sifat atau besaran
sistem yang merupakan fungsi keadaan. Ternyata orang yang menemukannya adalah Clausius
dan besaran itu disebut entropi. Hukum kedua ini dapat dirumuskan sbb.:
Proses suatu sistem terisolasi yang disertai dengan penurunan entropi tidak mungkin
terjadi. Dalam setiap proses yang terjadi pada sistem terisolasi, maka entropi sistem
tersebut selalu naik atau tetap tidak berubah.
Lebih lanjut, jika suatu sistem terisolasi dalam keadaan demikian rupa sehingga
entropinya maksimum, maka sistem itu dalam keadaan seimbang. Hal ini disebabkan karena
setiap proses yang akan terjadi berkaitan dengan penurunan entropi, sehingga tidak mungkin
terjadi. Dengan perkataan lain, syarat untuk keseimbangan ialah bahwa entropinya harus
maksimum.
Pernyataan di atas hanya berlaku untuk sistem yang terisolasi. Jadi mungkin saja
bahwa suatu sistem yang tak terisolasi akan menjalani proses yang berkaitan dengan
penurunan entropi. Namun selalu dapat diketemukan bahwa entropi sistem lain yang
berinteraksi dengan sistem itu naik paling sedikit dengan jumlah yang sama dengan penurunan
entropinya.

Second Law of Thermodynamics


Modul 5 - 2
Second
Law
The second law of thermodynamics is a general principle which places statements
constraints upon the direction of heat transfer and the attainable efficiencies of Heat engine
heat engines. In so doing, it goes beyond the limitations imposed by the first
Refrigerator
law of thermodynamics. It's implications may be visualized in terms of the
waterfall analogy. Entropy
Heat
transfer

The maximum efficiency which can be achieved is the Carnot efficiency.

Qualitative statements of the Second Law of Thermodynamics

5.2. Entropi

Dalam pembicaraan tentang siklus Carnot Pasal 4.5, disebutkan bahwa Q2 adalah
panas yang masuk kedalam sistem dan Q1 panas yang keluar dari sistem. Ada faedahnya
apabila masing-masing diberi tanda yang berbeda. Panas yang masuk ke dalam sistem yaitu Q2
diberi tanda positif dan panas Q1 yang keluar dari sistem diberi tanda negatif. Karena itu untuk
siklus Carnot
T2 Q
=− 2
T1 Q1
atau
Q1 Q2
+ =0
T1 T2

Modul 5 - 3
Jika suatu siklus kecil beroperasi antara suhu T2 dan T1 dengan arus panas yang
bersangkutan ΔQ2 dan ΔQ1 , maka untuk siklus itu berlaku persamaan
ΔQ1 ΔQ2
+ =0
T1 T2
Jika dijumlahkan untuk semua siklus, diperoleh
ΔQr
∑ =0 (5.1)
T
Indeks r digunakan untuk menunjukjkan bahwa proses itu reversibel.
Besaran Q seperti sudah dijelaskan, bukanlah fungsi keadaan, sehingga d’Q bukan diferensial
d ' Qr
eksak. Tetapi adalah diferensial eksak yang untuk selanjutnya akan diberi lambang dS.
T
Besaran S ini disebut entropi yang adalah fungsi keadaan. Jadi
d ' Qr
dS = (5.2)
T
Persamaan (5-2) dapat ditulis menjadi

∫ dS = 0 (5.3)

Satuan S dalam sistem SI atau MKS adalah J K-1. Entroipi adalah besaran ekstensif yang bila
dibagi dengan jumlah massa m atau jumlah mol n menjadi entropi jenis s.
S S
s= atau s=
m n

Energy and Order in Biological Systems


The concept of entropy and the second law of thermodynamics suggests that systems naturally
progress from order to disorder. If so, how do biological systems develop and maintain such a
high degree of order? Is this a violation of the second law of thermodynamics?

Modul 5 - 4
Order can be produced with an expenditure of energy, and the order associated with life on the
earth is produced with the aid of energy from the sun.

For example, plants use energy from the sun in tiny energy factories called chloroplasts. Using
chlorophyll in the process called photosynthesis, they convert the sun's energy into storable
form in ordered sugar molecules. In this way, carbon and water in a more disordered state are
combined to form the more ordered sugar molecules.

In animal systems there are also small structures within the cells called mitochondria which
use the energy stored in sugar molecules from food to form more highly ordered structures.

Second Law: Entropy


Second Law of Thermodynamics: In any cyclic process the entropy will either increase or
remain the same.

a state variable whose change is defined for a reversible process at T


Entropy:
where Q is the heat absorbed.
Entropy: a measure of the amount of energy which is unavailable to do work.
Entropy: a measure of the disorder of a system.

Entropy: a measure of the multiplicity of a system.

Since entropy gives information about the evolution of an isolated system with time, it is said
to give us the direction of "time's arrow" . If snapshots of a system at two different times
shows one state which is more disordered, then it could be implied that this state came later in
time. For an isolated system, the natural course of events takes the system to a more
disordered (higher entropy) state.

Modul 5 - 5
Alternative statements: Second Law of Thermodynamics

Entropy and the Carnot Cycle


The efficiency of a heat engine cycle is
given by

For the ideal case of the Carnot cycle, this


efficiency can be written

Using these two expressions together

If we take Q to represent heat added to the system, then heat taken from the system will have a
negative value. For the Carnot cycle

which can be generalized as an integral around a reversible cycle

Clausius Theorem

For any part of the heat engine cycle, this can be used to define a change in entropy S for the
system

Modul 5 - 6
or in differential form at any point in the cycle

For any irreversible process, the efficiency is less than that of the Carnot cycle. This can be
associated with less heat flow to the system and/or more heat flow out of the system. The
inevitable result is

Clausius Inequality

Any real engine cycle will result in more entropy given to the environment than was taken
from it, leading to an overall net increase in entropy.

5.2.1 Menghitung Perubahan Entropi dalam Proses Reversibel.

Dalam proses adiabatik, d’Q = 0, dan dalam proses adiabatik reversibel, ds = 0. Olaeh
karena itu dalam setiap proses adiabatik reversibel, ds = 0 atau ini berarti bahwa entropi S
tetap. Proses demikian ini disebut pula sebagai proses isentropik. Jadi
d‘Qr = 0 dan dS = 0
Dalam proses isotermal reversibel, suhu T tetap, sehingga perubahan entropi
2 d 'Q 12 Q
S 2 − S1 = ∫ r = ∫ d ' Qr = r (5.4)
1 T T1 T
Untuk melaksanakan proses semacam ini maka sistem dihubungkan dengan sebuah reservoir
yang suhunya berbeda. Jika arus panas mengalir masuk kedalam sistem, maka Qr positif dan
entropi sistem naik. Jika arus panas keluar dari sistem, Qr negatif dan entropi sistem turun.
Dalam kebanyakan proses suatu arus panas yang masuk kedalam sistem secara
reversibel umumnya disertai oleh perubahan suhu, sehingga perhitungan perubahan entropi
dari persamaan (5-4) suhu T tidak boleh dikeluarkan dari tanda integral. Jika proses terjadi
pada volume tetap, maka d ‘ q = cv dT, sehingga

Modul 5 - 7
T2
dT
S 2 − S1 = ∫ cv (5.5)
T1 T

Jika proses terjadi pada tekanan tetap, d ‘ q = cp dT, dan


T2
dT
S 2 − S1 = ∫ c p (5.6)
T1 T

(S 2 − S1 )v = cv ln T2 (5.7)
T1

(S 2 − S1 ) p = c p ln T2 (5.8)
T1
Jika dalam suatu proses terdapat arus panas antara sistem dengan lingkungannya secara
reversibel, maka pada hakekatnya suhu sistem dan suhu lingkungan adalah sama. Besar arus
panas ini yang masuk ke dalam sitem atau yang masuk kedalam lingkungan di setiap titik
adalah sama, tetapi harus diberi tanda yang berlawanan. Karena itu perubahan entropi
lingkungan sama besar tetapi berlawanan tanda tanda dengan perubahan entropi sistem dan
jumlahnya menjadi nol. Karena sistem bersama dengan lingkungannya membentuk dunia,
maka boleh dikatakan bahwa entropi dunia adalah tetap. Hendaknya diingat bahwa pernyataan
ini hanya berlaku unatuk proses reversibel saja.

5.2.2. Diagram T-S

Entropi adalah fungsi keadaan, nilainya pada suatu keadaan seimbang dapat
dinyatakan dalam variabel-variabel yang menentukan lkeadaan sistem. Dalam sistem pVT,
entropi dapat dinyatakan sebagai fungsi p dan V, atau T dan V atau p dan T.
Siklus Carnot mempunyai bentuk yang lebih sederhana bila dilukiskan dalam diagram
T-S. Hal ini disebabkan karena siklus Carnot dibatasi oleh dua isoterm dan dua isentrop (
adiabatik rewversibel) berupa garis lurus pada sumbu S.
T

T2 a b

Qr

Tr c
d

S
0
S1 S2
Modul 5 - 8
Gambar 5.2 Siklus Carnot dalam diagram T-S

Luas kawasan yang dikelilingi oleh kurva siklus Carnot ( pada Gambar 5.2) adalah
panas total yang masuk dan keluar sistem
'
∫ TdS = ∫ d Qr = Qr
5.2.3 Perubahan Entropi dalam Proses Tak-terbalikkan

Perubahan entropi seperti yang dirumuskan dalam pers ( 6.2) berlaku untuk proses
reversibel. Namun karena entropi S adalah variabel keadaan, dan nilai perubahannya hanya
ditentukan oleh keadaan awal dan akhir proses apapun, maka untuk proses irreversibel boleh
digunakan rumus untuk proses reversibel asalkan keadaan awal dan akhir proses tersebut
sama.
Ditinjau lagi prroses irreversibel seperti terlukis dalam gambar 6.1 (a) Suhu benda
pertama setelah berhubungan dengan benmda kedua ( reservoar) berubah dari T1 menjadi T2.
Walaupun proes ini irreversibel, namun dapat digunakan persamaan untuk p[roses reversibel
asaklkan keadaan awal dan keadaan akhirnya juga sama. Jika prose sterjadi pada tekanan tetap
( isobar) dan Cp juga dapat dianggap tetap, maka
T
ΔSbenda = S 2 − S1 = C p ln 2 (5.9)
T1
T
Karena T2 > T1, maka arus panas masuk kedalam benda dan ln 2 positif. Jadi entropi benda
T1
naik. Perubahan entropi reservoar dapat dihitung seperti menghitung entropi pada proses
isotermal reversibel. Jadi perubahan entropi reservoar
2 d ,Q 1 2 T −T
ΔS res = ∫ = C p ∫ dT = Cp 2 1
1 T T2 1 T2
karenma arus panas tersebut keluar dari reservoar, maka sesuai dengan perjanjian tentang
tanda, harus diberi tanda negatif, artinya entropi reservoar berkurang.
T −T
ΔSres = −Cp 2 1 (5.10)
T2
Perubahan entropi total sistem

Modul 5 - 9
T T −T
ΔS = ΔSbenda + ΔS res = C p (ln 2 − 2 1 ) (5.11)
T1 T2
Sesuai dengan Hukum II Termodinamika , Perubahan entropi suatu sistem

5.2.4 Azas Kenaikan Entropi

Dari pembahasan proses-proses ireversibel dalam bagian terdahulu, diketahui bahwa


entropi duania ( universe) selalui naik. Hal ini juga benar untuk semua proses ireversibel yang
sudah dapat dianalisa. Kesimpulan ini dikenal sebagai azas kenaikan entropi dan dianggap
ebagai bagian dari hukum kedua termodinamika. Azas ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Entropi dunia selalu naik pada tiap proses irreversibel.
Juka semua sistem yang berinteraksi di dalam proses dilingkungi dengan dinding
adiabatik yang tegar, maka semua itu membentuk sistem yang terisolasi sempurna dan
membentuk dunianya sendiri. Karena itu dpaat dikatakan bahwa entropi dari suatu sistem yang
terisolasi sempurna selalu naik dalam tiap proses ireversibel yang terjadi dalam proses itu.
namun jika sistem mengalami proses reversibel, entropi sistem tetap.Secara lengkap hukum
kedua termodinbamika dpar dirumuskan :
Pada setiap proses yang terjadi di dalam sistem yang terisolasi, entropi sistem
tersebut selalu naik atau tetap tidak berubah.

5.3 Pernyataan Clausius dan Kelvin Planck tentang Hukum kedua

Dalam uraian terdahulu telah diberikan pernyataan tentang hukum kedua sebagai
pernyataan yang dikaitkan dengan jkemungkinan perubahan entropi pada sebarang proses.
Dua pernyataan juga sering dipakai sebagai titik awal untuk merumuskan hukum kedua.
Pernyataan clausius tentang hukum kedua adalah sbb . tidak ada proses yang
mungkin terjadi bila satu-satunya hasil adalah adanya aliran panas dari suatu sistem pada
suhu tertentu dan panas yang sama jumlahnya dialirkan pada sistem lain yang mempunyai
suhu lebih tinggi .
Pernyataan Clausius ini dapat dilihat secara langsung pada prinsip kenaikan entropi.
Perubahan entropi masing-masing sistem :
Q Q
ΔS A = − , ΔS B = ( 5.12)
TA TB

Modul 5 - 10
Q Q
ΔS = ΔS A + ΔS B = − + <0 ( 5.13)
T A TB
Proses dengan jumlah entropi semesta menjadi berkurang bertentangan dengan hukum ke II
sehingga tidak ungkin terjadi.
Pernyataan Kelvin-Planck tentang hukum kedua adalah : tidak ada proses yang
mungkin terjadi bila satu-satunya hasil adalah adanya aliran panas satu reservoar pada suhu
tertentu dan mengubah seluruhnya menjadi menghasilkan kerja W ( usaha mekanik).
Pada pernyataan ini hanya terjadi penurunan entropi dari suatu reservoar tanpa
diikuti dengan lkenaikan entropi pada sistem lain, sehingga perubahan entropi semestanmya
negatif. Hal ini tidak sesuai dengan hukum kedua termodinamika.

Modul 5 - 11