Anda di halaman 1dari 9

Laporan Pendahuluan Multiple Fraktur

A. PENGERTIAN
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Syamsuhidayat. 2004: 840).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
(Brunner & Suddarth. 2001 : 2357). Multipel fraktur adalah terputusnya kontinuitas
jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Akibat
trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Fraktur
Multipel adalah garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya,
misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan sebagainya. Fraktur Multiple
adalah fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
B. MANIFESTASI KLINIS
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai tulang dimobilisasi.
b. Deformitas disebabkan karena pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau
tungkai.
c. Pemendekan tulang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah
tempat fraktur.
d. Krepus, teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
e. Pembengkakan lokal dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan gangguan sirkulasi yang mengikuti fraktur.
C. PATHOFISIOLOGI
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma. Baik itu
karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper mobil, atau tidak
langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan menyangga. Juga
bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan olekranon,
karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. (Doenges, 2000:629)
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke
dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah
putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darahketempat
tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah
terbentuk fibrin (hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan
sel-sel baru. Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang
disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami
remodeling untuk membentuk tulang sejati Carpenito (2000:50)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas
dan mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan
dapat mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat
berakibat anoksia jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan
otot. Komplikasi ini dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002:
2387).

Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari
yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan
rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan
pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang
membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan
terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan
ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi
terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan
leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari
proses penyembuhan tulang nantinya (Doenges, 2000:629).
D. PATHWAY
E.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
2.
Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan
mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak
3.
Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (pendarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multipel), Peningkatan Sel darah putih adalah respon stres normal setelah
trauma.
4.
Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.
F. KOMPLIKASI
a. Komplikasi awal

1. Syok: Syok hipovolemik atau traumatik akibat pendarahan (baik kehilangan


darah eksterna maupun yang tidak kelihatan) dan kehilangan cairan eksternal
kejaringan yang rusak.
2. Sindrom emboli lemak: Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk
kedalam pembuluh darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari
tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stres
pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula
lemak dalam aliran darah.
3. Sindrom kompartemen: merupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan
dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa
disebabkan karena penurunan ukuran kompartemen otot karena fasia yang
membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gips atau balutan yang menjerat
ataupun peningkatan isi kompartemen otot karena edema atau perdarahan
sehubungan dengan berbagai masalah (misal : iskemi, cidera remuk).
b. Komplikasi lambat
1. Delayed union: proses penyembuhan tulang yang berjalan dalam waktu yang
lebih lama dari perkiraan (tidak sembuh setelah 3-5 bulan)
2. Non union: kegagalan penyambungan tulang setelah 6-9 bulan.
3. Mal union: proses penyembuhan tulang berjalan normal terjadi dalam waktu
semestinya, namun tidak dengan bentuk aslinya atau abnormal.
G. PENATALAKSANAAN
Empat prinsip penanganan fraktur menurut Chaeruddin Rasjad tahun 1988adalah:
1.

Recognition: mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis,


pemeriksaan klinik dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan:
lokasi, bentuk fraktur, menentukan teknnik yang sesuai untuk pengobatan,
komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.
2. Reduction: reduksi fraktur apabila perlu, restorasi fragment fraktur sehingga
didapat posisi yang dapat diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi
anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah
komplikasi seperti kekakuan, deformitas serta perubahan osteoartritis dikemudian
hari. Posisi yang baik adalah: alignment yang sempurna dan aposisi yang
sempurna. Fraktur yang tidak memerlukan reduksi seperti fraktur klavikula, iga,
fraktur impaksi dari humerus, angulasi <5>
3. Retention, immobilisasi fraktur: mempertahankan posisi reduksi dan
memfasilitasi union sehingga terjadi penyatuan, immobilisasi dapat dilakukan
dengan fiksasi eksterna meliputi pembalut gips, bidai, traksi, dan fiksasi interna
meliputi inplan logam seperti screw.
4. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.
H. Pengkajian fisik
Pengkajian
a) Aktivitas/istirahat
1. Tanda : Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
(mungkin segera, fraktur itu sendiri, terjadi secara sekunder dari
pembengkakan jaringan, nyeri).

b) Sirkulasi
1.
Tanda : Hipertensi (kadang-kadang terlihat sebagai respon terhadap
nyeri/ansietas) atau hipotensi (kehilangan darah). Takikardi
(respon stres, hipovolemia). Penurunan/tak ada nadi pada bagian
distal yang cedera; pengisian kapiler lambat, pucat pada
bagian yang terkena.Pembengkakan jaringan atau massa
hematoma pada sisi cedera.
c) Neurosensori
1.
Gejala : Hilang gerakan/sensasi, spasme otot, parestesis.
2.
Tanda : Deformitas lokal, angulasi abnormal dan pemendekan, rotasi,
krepitasi (bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan atau
hilang fungsi. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri
ansietas atau trauma lain).
d) Nyeri/ketidaknyamanan
1.
Gejala : Nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera. (mungkin terlokalisasi
pada area jaringan atau kerusakan tulang; dapat berkurang pada
imobilisasi); tak ada nyeri akibat kerusakan saraf. Spasme/kram
otot (setelah imobilisasi).
e) Keamanan
1.
Tanda : Laserasi kulit, avulsi jaringan, perdarahan, perubahan
warna.Pembengkakan lokal (dapat meningkat secara
bertahap/tiba-tiba).
f) Penyuluhan/pembelajaran
1.
Gejala : Lingkungan cedera.
2.
Pertimbangkan rencana pemulangan : DRG menunjukan rerata lama
dirawat: femur 7,8 hari; panggul/pelvis, 6,7 hari; lainnya 4,4 hari bila
memerlukan perawatan di rumah sakit. Memerlukan bantuan dengan
transportasi, aktivitas perawatan diri dan tugas pemeliharaan/perawatan
rumah.
I. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik (fraktur)
2. Resiko terhadap cidera berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, tekanan
dan disuse
3. Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan hilangnya kemampuan
menjalankan aktivitas.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma, imunitas tubuh primer menurun,
prosedur invasive
5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan patah tulang
6. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang paparan
terhadap informasi, terbatasnya kognitif
RENPRA FRAKTUR
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1 Nyeri akut b/d Setelah
dilakukan Manajemen nyeri :
agen
injuri Asuhan keperawatan .
Kaji
nyeri
secara

fisik, fraktur

jamtingkat
kenyamanan klien
meningkat, tingkat nyer
i terkontrol dg KH:
Klien melaporkan nyeri
berkurang dg scala 2-3
Ekspresi wajah tenang
klien dapat istirahat dan
tidur
v/s dbn

komprehensif
termasuk
lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi,
kualitas
dan
faktor presipitasi.
Observasi reaksi
nonverbal
dari
ketidak
nyamanan.
Gunakan
teknik
komunikasi terapeutik untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri klien sebelumnya.
Kontrol faktor lingkungan
yang mempengaruhi nyeri
seperti
suhu
ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
Kurangi faktor presipitasi
nyeri.
Pilih
dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologis/non
farmakologis).
Ajarkan
teknik
non
farmakologis
(relaksasi,
distraksi
dll)
untuk
mengetasi nyeri..
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
Evaluasi
tindakan
pengurang
nyeri/kontrol
nyeri.
Kolaborasi dengan dokter
bila ada komplain tentang
pemberian analgetik tidak
berhasil.
Administrasi analgetik :.
Cek program pemberian
analgetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
Cek riwayat alergi.
Tentukan analgetik pilihan,
rute pemberian dan dosis
optimal.
Monitor TV
Berikan analgetik tepat
waktu terutama saat nyeri
muncul.
Evaluasi
efektifitas
analgetik, tanda dan gejala
efek samping.

Resiko
terhadap cidera
b/d kerusakan
neuromuskuler,
tekanan
dan
disuse

Setelah dilakukan askep

jam
terjadipeningkatan

Status
keselamatan
Injuri fisik Dg KH :
Bebas dari cidera
Pencegahan Cidera

Sindrom defisit
self care b/d
kelemahan,
fraktur

Setelah dilakukan akep


jam kebutuhan ADLs
terpenuhi dg KH:
Pasien dapat

melakukan
aktivitas
sehari-hari.
Kebersihan diri pasien
terpenuhi

Memberikan posisi yang


nyaman untuk Klien:
Berikan posisi yang aman
untuk
pasien
dengan
meningkatkan
obsevasi
pasien,
beri
pengaman
tempat tidur
Periksa sirkulasi periper
dan status neurologi
Menilai ROM pasien
Menilai integritas kulit
pasien.
Libatkan banyak orang
dalam memidahkan pasien,
atur posisi
Bantuan perawatan diri
Monitor
kemampuan
pasien terhadap perawatan
diri
Monitor kebutuhan akan
personal
hygiene,
berpakaian, toileting dan
makan

Beri
bantuan
sampai
pasien
mempunyai
kemapuan untuk merawat
diri

Bantu
pasien
dalam
memenuhi kebutuhannya.

Anjurkan pasien untuk


melakukan aktivitas seharihari sesuai kemampuannya

Pertahankan
aktivitas
perawatan diri secara rutin

Risiko infeksi
b/d
imunitas
tubuh primer
menurun,
prosedur
invasive,
fraktur

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan jam
tidak
terdapat faktor
risiko
infeksi dan infeksi
terdeteksi dg KH:
Tdk ada tanda-tanda
infeksi

AL normal

V/S dbn

Konrol infeksi :
Bersihkan
lingkungan
setelah dipakai pasien lain.
Batasi pengunjung bila
perlu.
Intruksikan
kepada
pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan
sesudahnya.
Gunakan
sabun
anti
miroba
untuk
mencuci
tangan.
Lakukan cuci tangan

Kerusakan
mobilitas fisik
berhubungan
dengan patah
tulang

Setelah dilakukan askep

jam
terjadipeningkatan
Ambulasi
:Tingkat
mobilisasi,
Perawtan
diri Dg KH :

Peningkatan aktivitas
fisik

sebelum
dan
sesudah
tindakan keperawatan.
Gunakan baju dan sarung
tangan
sebagai
alat
pelindung.
Pertahankan lingkungan
yang
aseptik
selama
pemasangan alat.
Lakukan perawatan luka,
dainage, dresing infus dan
dan kateter setiap hari.
Tingkatkan intake nutrisi
dan cairan
berikan antibiotik sesuai
program.
Jelaskan tanda gejala
infeksi dan anjurkan u/
segera lapor petugas
Monitor V/S
Proteksi terhadap infeksi
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal.
Monitor hitung granulosit
dan WBC.
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi..
Pertahankan
teknik
aseptik
untuk
setiap
tindakan.
Inspeksi kulit dan mebran
mukosa
terhadap
kemerahan, panas, drainase.
Inspeksi kondisi luka,
insisi bedah.
Ambil
kultur,
dan
laporkan bila hasil positip
jika perlu
Dorong istirahat yang
cukup.
Dorong
peningkatan
mobilitas dan latihan sesuai
indikasi
Terapi ambulasi
Kaji kemampuan pasien
dalam melakukan ambulasi
Kolaborasi dg fisioterapi
untuk perencanaan ambulasi
Latih pasien ROM pasifaktif sesuai kemampuan
Ajarkan pasien berpindah

Kurang
pengetahuan
tentang
penyakit dan
perawatannya
b/d
kurang
paparan

terhadap
informasi,
keterbatan
kognitif

Setelah dilakukan askep


. Jam pengetahuan
klien meningkat dg KH:
Klien
dapat
mengungkapkan kembali
yg dijelaskan.
Klien kooperatif saat
dilakukan tindakan

tempat secara bertahap


Evaluasi pasien dalam
kemampuan ambulasi
Pendidikan kesehatan
Edukasi pada pasien dan
keluarga
pentingnya
ambulasi dini
Edukasi pada pasien dan
keluarga tahap ambulasi
Berikan
reinforcement
positip atas usaha yang
dilakukan pasien.
Pendidikan kesehatan :
proses penyakit
Kaji pengetahuan klien.
Jelaskan proses terjadinya
penyakit, tanda gejala serta
komplikasi yang mungkin
terjadi
Berikan informasi pada
keluarga
tentang
perkembangan klien.
Berikan informasi pada
klien dan keluarga tentang
tindakan
yang
akan
dilakukan.
Diskusikan pilihan terapi
Berikan penjelasan tentang
pentingnya ambulasi dini
jelaskan komplikasi kronik
yang mungkin akan muncul

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn., et.all. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC Jakarta

Engram Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, volume 2,


EGC Jakarta

Suddarth Brunner, 2001, Buku Ajaran Keperawatan Medikal Bedah, volume 3,


EGC Jakarta

Wim de Jong, Sjamsuhidayat R 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah, Revisi, EGC, Jakarta