Anda di halaman 1dari 27

Perkosaan

Albert Chandra Wijaya / 102010249


Email : darkfilipi92@yahoo.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara 6 Jakarta Barat

Skenario
Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore hari datang
seorang laki-laki berusia 45 tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14 tahun
menyatakan bahwa anaknya tersebut baru saja pulang dibawa lari oleh teman laki-laki
yang berusia 18 tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi
sesuatu pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah
disetubuhi laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan
berbagai hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.

Pendahuluan
Perkosaan ialah tindakan menyetubuhi wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan. Persetubuhan sendiri didefinisikan sebagai penetrasi penis ke dalam
kemaluan wanita (mulai dari labia minor). Pada kasus akut/dini (dalam 7 hari setelah kejadian)
masih dapat dicari adanya sperma sebagai bukti. Sedangkan bila korban diperiksa lebih dari 7
hari setelah kejadian, kemungkinan ditemukannya sperma lebih sulit dan pemeriksaan lebih
ditujukan untuk mengetahui terjadinya kehamilan.
Kejahatan terhadap kesusilaan dapat berupa persetubuhan, prcabulan maupun pelecehan seksual.
Dewasa ini kejahatan susila atau kejahatan seksual makin marak terjadi, terutama anak-anak di
bawah umur sebagai korbannya. Dengan alas an tindak kejahatan yang beraneka ragam, tidak
dipungkiri anak-anak merupakan korban yang paling rentan namun juga paling mudah menjadi
korban kejahatan susila. Dampak yang diakibatkan pasca kejahatan susila terhadap seorang anak

sangatlah berbahya, baik dalam segi fisik maupun psikis. Hal tersebut lah yang menyebabkan
rusaknya kepribadian dan terjadinya gangguan perkembangan dari anak tersebut. 1

Anamnesa
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal dan tempat lahir, status
perkawinan, siklus haid, untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin dan
penyakit kandungan serta adanya penyakit lain: epilepsi, katalepsi, sinkop, dsb. Cari tahu pula
apakah korban pernah bersetubuh, persetubuhan terakhir, menggunakan kondom.
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu antara
kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat
diperkirakan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan.
Karena berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau
selang beberapa hari baru diketahui oleh ayah/ibu dan karena ketakutan mengaku bahwa ia
disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor.
Tetapi jika korban terlambat melapor mungkin juga karena korban diancam untuk tidak melapor
kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak menemukan lagi
spermatozoa atau tanda-tanda lain dari persetubuhan.
Tanyakan pula dimana tempat kejadian. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace evidence yang
berasal dari tempat kejadian misalnya rumput, tanah, dan sebagainya yang mungkin melekat
pada pakaian atau tubuh korban. Sebaliknya petugas pun dapat mengetahui di mana harus
mencari trace evidence yang ditinggalkan oleh korban/pelaku.
Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian mungkin
ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan
pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan
adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pemerkosa/penyerang.
Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena
ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemberian
obat tidur atau obat bius. Dalam hal ini jangan lupa mengambil urin dan darah untuk
pemeriksaan toksikologik.

Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian, korban mencuci,
mandi, dan mengganti pakaian.

Pemeriksaan pakaian
Pakaian diteliti helai demi helai, apakah terdapat, robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau
melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, Lumpur dsb.
yang berasal dari tempat kejadian. Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, bendabenda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium
kriminologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 1

Pemeriksaan tubuh korban


Pemeriksaan tubuh meliputi pemeriksaan umum; lukiskan penampilannya (rambut dan wajah),
rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau sedih dsb. Adakah tanda-tanda bekas kehilangan
kesadaran atau diberikan obat tidur/bius. Dicatat pula pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint, tinggi
dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru dan abdomen.

Pemeriksaan genital
Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema, memar, dan luka
lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema. Dengan kapas lidi mengambil
bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
Periksa jenis selaput dara, adakah rupture atau tidak. Bila ada tentukan rupture baru atau lama
dan catat lokasi rupture tersebut, teliti apakah sampai ke insertion atau tidak. Tentukan besar
orifisium, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk atau 2 jari. Sebagai gantinya juga boleh
ditentukan ukuran lingkaran orifisium, dengan cara ujung kelingking atau telunjuk dimasukkan
dengan hati-hati ke dalam orifisium sampai terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri

tanda pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada serang perawan kirakira 2.5 cm. Lingkaran yang memungkinkan persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah
minimal 9 cm.
Harus diingat bahwa pada persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada ruptur lama,
robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan di bawahnya. Ruptur
yang tidak sampai ke insertio, bila sudah sembuh tidak dapat dikenal lagi.
Periksa pula apakah frenulum labiorum pudendi dan commisura labiorum posterior utuh atau
tidak. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat genital mengijinkan.
Adakah tanda penyakit kelamin.
Pada daerah genitalia juga diperiksa ada/ tidaknya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi
satu karena air mani yang mengering, gunting untuk pemeriksaan laboratorium. Selain itu juga
dapat dilakukan penyisiran rambut kemaluan dan kemudian mengumpulkan rambut kemaluan
yang terlepas, untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium,apakah benar milik korban atau
kemungkinan milik pelaku. 1

Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Swab Vagina, Oral, dan Anal (Anus)
Cairan mani merupakan cairan agak putih kekuningan, keruh dan berbau khas. Cairan mani pada
saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam waktu yang singkat
(10 20 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3 5 ml pada 1 kali ejakulasi
dengan pH 7,2 7,6.
Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam
cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermion dan beberapa enzim sepertri
fosfatase asam. Spermatozoa mempunyai bentuk yang khas untuk spesies tertentu dengan jumlah
yang bervariasi, biasanya antara 60 sampai 120 juta per ml.

Sperma itu sendiri didalam liang vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4 5 jam postcoitus; sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam post coital dan
bila wanitanya mati masih akan dapat ditemukan 7-8 hari.2

Identifikasi Spermatozoa
Vaginal dan cervic swab
Merupakan cara yang terbaik untuk mendapatkan bukti telah terjadinya
persetubuhan yang masih baru.Akan tetapi, terkadang pada beberapa kasus
sperma bisa tidak diketemukan, misalnya pada orang yang sudah vasektomi
atau cairan maninya sendiri tidak mengandung sperma.
Oral / anal swab
Swab pada bagian rectum rectum/bukal/palatum dengan lidi yang dililiti kapas
lalu diolesi ke kaca objek untuk diperiksa apakah sperma +/-

Teknik Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan cairan mani dan
sel mani dalam lendir vagina, yaitu dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur
atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila
mungkin dengan spekulum. Pada anak-anak atau bila selaput darah masih utuh, pengambilan
bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja.2
Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi :
1. Penentuan spermatozoa (mikroskopis)
Tujuan : Menentukan adanya sperma
- Bahan pemeriksaan : cairan vagina, oral atau anal
- Metode pemeriksaan :
Tanpa pewarnaan
Untuk melihat motilitas spermatozoa. Pemeriksaan ini paling bermakna untuk
memperkirakan saat terjadinya persetubuhan

Cara pemeriksaan :
Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup. Periksa dibawah
mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Perhatikan pergerakkan spermatozoa
Hasil :
Umumnya disepakati dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini sampai 3
4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih
dapat ditemukan 3 hari, kadang kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Pada orang
mati, spermatozoa masih dapat ditemukan hingga 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan
mungkin lebih lama lagi.
Dengan Pewarnaan
Cara pemeriksaan :
Buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala
api. Pulas dengan HE, biru metilen atau hijau malakit
Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah pulasan dengan
hijau malakit dengan prosedur sebagian berikut :
Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada gelas objek, keringkan diudara, dan fiksasi
dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api, warnai dengan Malachitegreen 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan larutan Eosin
Yellowish 1 % dalam air, tunggu selama 1 menit, cuci lagi dengan air, keringkan dan
periksa dibawah mikroskop.

Hasil :

Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi, sel
epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Kepala spermatozoa
tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya berwarna hijau. Bila persetubuhan
tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat karena kemungkinan
azoosperma atau pascavasektomi. Bila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan penentuan
cairan mani dalam cairan vagina.
2. Penentuan Cairan Mani (kimiawi)
Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari ditemukan cairan mani
dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan
mani, yaitu dengan pemeriksaan laboratorium :
a. Reaksi Fosfatase Asam
Merupakan tes penyaring adanya cairan mani, menentukan apakah bercak tersebut
adalah bercak mani atau bukan, sehingga harus selalu dilakukan pada setiap
sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Reaksi
fosfatase asam dilakukan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan sel spermatozoa.
Tes ini tidak spesifik, hasil positif semu dapat terjadi pada feses, air teh,
kontrasepsi, sari buah dan tumbuh-tumbuhan.
Dasar reaksi (prinsip) :
Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar
prostat. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa naftil fosfat. Alfa naftol
yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamin menghasilkan zat warna
azo yang berwarna biru ungu. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah cairan
vaginal.
Reagen :
Larutan A
Brentamin Fast Blue B 1 g (1)
Natrium asetat trihidrat 20 g (2)

Asam asetat glasial 10 ml (3)


Askuades 100 ml (4)
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan
pH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut.
Larutan B
Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml.
89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke dalam botol yang
berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini dapat bertahan bermingguminggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi.
Cara pemeriksaan :
Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih dahulu
dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring
diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi
dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas warna
maksimal tercapai secara berangsur-angsur.
Hasil :
Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak
dengan intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut
memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur.
Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Bila 30 65
detik, masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Waktu reaksi >
65 detik, belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena
pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif.
Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi
rata-rata 90 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan jamur, dapat
mempercepat waktu reaksi.

b. Reaksi Florence
Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan spermatozoa atau
cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan.
Dasar :
Menentukan adanya kolin.
Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari :
Kalium yodida 1,5 g
Yodium 2,5 g
Akuades 30 ml
Cara pemeriksaan :
Cairan vaginal ditetesi larutan reagen, kemudian lihat dibawah mikroskop.
Hasil :
Bila terdapat mani, tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk jarum dengan
ujung sering terbelah.
Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal dari tumbuhan
atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa tetapi hasil postif pada test
ini dapat menentukan kemungkinan terdapat cairan mani dan hasil negative
menentukan kemungkinan lain selain cairan mani.
c. Reaksi Berberio
Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan
spermatozoa.
Dasar reaksi :
Menentukan adanya spermin dalam semen.

Reagen : Larutan asam pikrat jenuh.


Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) :
Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek,
biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet
dibawah kaca penutup.
Hasil :
Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum
dengan ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak
longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid.

3. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani


Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi), substansi golongan
darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani,
dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada
air liur (2 100 kali). Hanya golongan sekretor saja yang golongan darahnya dapat
ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi.
Table. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang
berasal dari forniks posterior vagina.

Hasil :

Adanya substansi asing menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut terdapat


cairan mani.

Pemeriksaan Kerokan Kuku


Sample pemeriksaan diambil dari jaringan epidermis dan darah (bila ada) dari bawah
kuku korban. Terkadang bisa ditemukan adanya epitel jaringan kulit di bawah kuku si
korban atau bercak darah untuk mekanisme pertahanan.

Pemeriksaan Trace Evidence


Pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas
untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di kepolian atau bagian ilmu
kedokteran Forensik, dibungkus, segel serta membuat berita acara pembungkusan dan
penyegelan. 1
Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian
Secara visual
Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak yang
sudah agak tua berwarna kekuningan.
-

Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap
daripada sekitarnya.

Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan


mengkilat dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan
akan berwarna kuning sampai coklat.

Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang
berangsur-angsur menguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan

Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Bercak


pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. Flouresensi terlihat
jelas pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. Bahan

makanan, urin, sekret vagina, dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian
sering berflouresensi juga.
Secara taktil (perabaan)
Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak
teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.

Uji pewarnaan Baecchi


Reagen dapat dibuat dari :
-

Asam fukhsin 1 % 1 ml

Biru metilen 1 % 1 ml

Asam klorida 1 % 40 ml

Cara Pemeriksaan :
Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian pusat bercak.
Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 5 menit, dicuci dalam HCL 1 % dan
dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %, 80 % dan 95 100 %
(absolut). Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan keringkan di antara kertas saring.
Ambillah 1 2 helai benang dengan jarum.Letakkan pada gelas objek dan uraikan
sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan kaca penutup dan balsem
Kanada. Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x.
Hasil : Serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah
dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut
benang.

Pemeriksaan rambut kelamin


Pemeriksaan rambut maupun rambut kelamin dapat memakai identifikasi pada manusia.
Rambut manusia dapat dibedakan denga serat-serat yang mirip rambut, bahkan masih dapat

dibedakan dari rambut (bulu) hewan. Dari rambut dapat ditentukan golongan darah sipemilik
rambut. Bahkan masih dapat ditentukan jenis kelamin, meskipun secara teknis agak sulit
dikerjakan. Namun demikian, pemeriksaan rambut ini masih dapat dipergunakan untuk
membantu identifikasi seseorang.

Pemeriksaan Golongan Darah Rambut


Cara penentuan golongan darah rambut
- Ambil sehelai rambut, dicuci dengan aquadest dan kemudian dengan aceton.
- Setelah dikeringkan, lalu dipotong-potong kira-kira dalam ukuran 1-2 cm.
- Semua potongan dimasukkan dalam mortir, laludigurus, supaya lapisan luarnya rusak.
- Gurusan rambut tersebut dimasukkan dalam 3 tabung reaksi.
Tabung pertama ditambah dengan anti serum A
Tabung kedua ditambah dengan anti serum B
Tabung ketiga ditambah dengan anti serum H (O).
Ketiga tabung tersebut didiamkan di dalam es (tempetatur 40c) selama satu malam.
- Anti serum dibuang, lalu dicuci dengan Nacl dan ditempatkan pada suhu 560c, selama 10
menit.
- Cairan dipindahkan ke tabung lian dan pada masing-masing tabung dimasukkan suspensi
erithrosit yang sesuai.
- Tunggu lima menit, lalu dipusign dalam sentrifuge dengan kecepatan 1.000 putaran
permenit, selama satu menit.
- Lihatlah apakah ada aglunitasi.

1. Tanda kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang menunjukkan
adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan bibir, jejas cekik
pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau bokong akibat
penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara paksa, luka lecet
pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb.

Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada
persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher, daerah payudara atau
sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat orgasme) dsb.
Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi bukan kekerasan yang
dimaksud pada delik perkosaan. Adanya luka-luka jenis ini harus dinyatakan secara jelas
dalam kesimpulan visum et repertum untuk menghindari kesalahan interpretasi oleh
aparat penegak hukum.
Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan sebagai
perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan untuk
membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan, karena tindakan membuat
orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai kekerasan. Obatobatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang, alkohol, obat tidur, obat perangsang
(termasuk ecstasy) dsb. 3

2. Tanda persetubuhan
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda
ejakulasi.
Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau
belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat
menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5
sampai 7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir
kemaluan maupun daerah perineum. Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida
misalnya dapat menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet

oleh pemeriksa yang kurang berpengalaman. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada
korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi.
Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan, meskipun
adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi
persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan
komponen cairan mani.
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang
menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus diambil
dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di daerah luar
vagina.
Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan pemeriksaan
mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan preparat tipis yang
diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree.
Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret
kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji Florence),
cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan berupa sel sperma
negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan kemungkinan ejakulasi oleh pria
yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau telah menjalani sterilisasi atau
vasektomi. 3

DAMPAK PSIKOSOSIAL
Perubahan Psikologis pada Korban Penganiayaan Seksual : 4

1. Fase pertama atau akut (beberapa hari setelah kejadian) :


-

Korban sering menangis atau diam sama sekali.

Korban merasa tegang, takut, khawatir, malu, terhina, dendam dan sebagainya

2. Fase kedua atau adaptasi :


-

Rasa takut atau marah dapat dikendalikan dengan represi atau rasionalisasi

3. Fase ketiga atau fase reoganisasi


-

Depresi yang dapat berlangsung lama

Sering sulit tidur, mimpi buruk dan sulit melupakan kejadian yang telah
menimpanya

Takut melihat orang banyak atau orang yang berada dibelakangnya

Takut terhadap hubungan seksual

Prosedur Medikolegal
Dalam menangani berbagai kasus yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia, seorang dokter
dapat mempunyai peranan ganda yaitu peranan pertama adalah sebagai ahli klinik sedangkan
peran kedua adalah sebagai ahli forensik yang bertugas membantu proses peradilan.
Kewajiban dokter untuk melakukan pemeriksaan kedokteran forensik ke atas korban apabila
diminta secara resmi oleh penyidik (polisi) dan jika menolak untuk melakukan pemeriksaan
forensik tersebut di atas dapat dikenai pidana penjara, selama-lamanya 9 bulan.

I. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan


Pasal 133 KUHAP (mengatur kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli)
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.

2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

Pasal 134 KUHAP


1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban.
2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang
maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang
perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.

Pasal 179 KUHAP


1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya menurut pengetahuan
dalam bidang keahliannya.
II. Hak Menolak Menjadi Saksi/Ahli
Pasal 120 KUHAP
1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.

2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.

III. Bentuk Bantuan Dokter bagi Peradilan dan Manfaatnya


Pasal 184 KUHAP
1) Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.

Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 187 KUHAP


Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau
dikuatkan dengan sumpah, adalah:
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang
jelas dan tegas tentang keterangannya itu.
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tatalaksana yang menjadi
tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan.
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.

d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.
Pasal 65 KUHAP
Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan atau seseorang
yang mempunyai keahlian khusus guna memberikan keterangan yang menguntungkan bagi
dirinya.
IV. Sangsi bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam
dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak
Sembilan ribu rupiah.
2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan
umum.
3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah
sepertiga.

Pasal 222 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Pasal 224 KUHP


Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa,
dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus
melakukannya:

1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.


2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.

Pasal 522 KUHP


Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak dating
secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak Sembilan ratus rupiah.

V. Rahasia Jabatan dan Pembuatan SKA/ V et R


Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 1960 tentang lafal sumpah dokter
Saya bersumpah/berjanji bahwa:
Saya akan membuktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan
martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dank arena
keilmuan saya sebagai dokter..dst.
Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1966 tentang wajib simpan rahasia kedokteran
Pasal 1 PP No 10/1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang
tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan
kedokteran.
Pasal 322 KUHP
1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang wajib disimpannya karena jabatan
atau pencariannya baik yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu
rupiah.
2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat
dituntut atas pengaduan orang itu.

Aspek serta Prosedur Hukum


KUHP pasal 285

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara
paling lama dua belas tahun.
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan
dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah
persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tanda kekerasan. Tetapi ia tidak
dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.
KUHP pasal 286
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawiinan, padahal diketahui bahwa
wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa perempuan berada dalam keadaan pingsan atau
tidak berdaya ketika terjadi persetubuhan. Dokter harus mencatat dalam anamnesa apakah
korban sadar ketika persetubuhan, adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu
dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya, misalnya epilepsi, katalepsi, sinkop,
dsb. Jika korban mengatakan ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana terjadinya
pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi makanan atau minuman.
KUHP pasal 89
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan
KUHP pasal 287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun,
atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk kawin, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita itu belum sampai
dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita menurut undang-undang belum cukup
umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru
dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu perrsetubuhan

tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan. Tetapi keadaan
akan berbeda jika :
a. Umur korban belum 12 tahun
b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan
itu (KUHP pasal 291)
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya anak
yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (KUHP pasal 294)
Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan, walaupun tidak ada pengaduan karena
bukan lagi merupakan delik aduan.

UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN ANAK.


BAB XII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 77
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan :

diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil

maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya; atau


penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan,

baik fisik, mental, maupun sosial,


dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Pasal 78
Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas
dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang
diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika,
dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak
korban kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan

pertolongan dan harus dibantu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
Pasal 80
1) Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau
penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6
(enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta
rupiah).
2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana
dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya.
Pasal 81
1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun
dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp
60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang
yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk
anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa,
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau
membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima

belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
Pasal 83
Setiap orang yang memperdagangkan, menjual, atau menculik anak untuk diri sendiri atau untuk
dijual, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3
(tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling
sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
Pasal 84
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh
anak untuk pihak lain dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
Pasal 85
1) Setiap orang yang melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan pengambilan organ tubuh dan/atau
jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak, atau penelitian kesehatan yang
menggunakan anak sebagai objek penelitian tanpa seizin orang tua atau tidak
mengutamakan kepentingan yang terbaik bagi anak, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah).

Pasal 88
Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10
(sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). 5

Visum et Repertum

Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup atau mati ataupun
bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah,
untuk kepentingan peradilan.
Visum et Repertum dibuat sesegera mungkin dan diberikan kepada (instansi) penyidik
pemintanya, dengan memperhatikan ketentuan tentang rahasia jabatan bagi dokter serta
ketentuan kearsipan. 6
Formulir visum et repertum perkosaan
Formulir visum et repertum luka tidak sesuai untuk kasus perkosaan. Pada peristiwa
persetubuhan yang merupakan tindak kejahatan, dokter diminta mengemukakan pendapatnya
apakah persetubuhan telah terjadi. Misalnya pada perempuan bukan perawan, persetubuhan
mungkin tidak menimbulkan luka dan tidak ada kualifikasi luka yang akan dikemukakan.
Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan visum et repertum kesusilaan adalah:
instansi polisi yang meminta pemeriksaan, nama dan pangkat polisi yang mengantar korban,
nama, umur, alamat dan pekerjaan korban seperti tertulis dalam surat permintaan, nama dokter
yang memeriksa, tempat, tanggal dan jam pemeriksaan dilakukan serta nama perawat yang ikut
serta menyaksikan pemeriksaan.
Visum et repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari
penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia pemeriksaan korban
persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter
ahli ilmu kebidanan dan penyakit kandungan, kecuali di tempat yang tak ada ahli demikian,
dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan itu.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan paksaan, mungkin
juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula jika
dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan
tidak terjadi. Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang terdapat pada
tindak pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan telah
terjadi.

Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena perkosaan adalah
pengertian hukum bukan istilah medis, sehingga dokter jangan menggunakan istilah perkosaan
dalam visum et repertum.
Dalam bagian kesimpulan visum et repertum hanya dituliskan (1) ada tidaknya tanda
persetubuhan dan (2) ada tidaknya tanda kekerasan, serta jenis kekerasan yang menyebabkannya.

Daftar Pustaka
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Munim A, Sidhi et al. Ilmu
Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Edisi I, tahun 1997: 147-59.
2. Budiyanto, A., Widiatmaka, W., Sudiono, S., Winardi, T., Idries, AM., Sidhi, dkk.
Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana. Ilmu kedokteran forensik. Edisi I. Jakarta:
FKUI, 1997.p.184 96.
3. Anonym. Issues in Human and Animal Bite Mark Analysis. 2009. Diunduh dari:
http://www.forensic.to/webhome/bitemarks/. 12 Januari 2012
4. Dampak Psikososial Korban Perkosaan. Diunduh dari
www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF. 12 Januari 2012
5. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Bagian Kedokteran Forensik
Universitas Indonesia. Edisi I, tahun 1994: 11-25, 33-6.
6. Staf pengajar bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran Universitas Indonesia.

Teknik Autopsi Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas


Indonesia. Edisi I, tahun 2000: 72-3.