Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PERBAIKAN EVALUASI TENGAH

SEMESTER

Oleh:
Nama : Santi Nur Aini
NRP : 14131000048
Kelas : SKMA (B)
Dosen : Drs. Djoko Hartanto

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2016

TUGAS PERBAIKAN UTS SKMA


1. Pengertian Sintesis Hidrotermal
Sintesis hidrotermal merupakan teknik atau cara kristalisasi
suatu bahan atau material dari suatu larutan dengan kondisi suhu
dan tekanan tinggi. Sintesis hidrotermal secara umum dapat
didefinisikan sebagai metode sintesis suatu kristal yang sangat
ditentukan oleh kelarutan suatu mineral dalam air yang bersuhu
(temperatur maksimum pada alat 400oC) dan bertekanan tinggi
(tekanan maksimum pada alat 400 Bar).

Proses pelarutan dan

pertumbuhan kristalnya dilakukan dalam bejana tertentu yang


disebut otoklaf (autoclave), yaitu berupa suatu wadah terbuat dari
baja yang tahan pada suhu dan tekanan tinggi. Pertumbuhan kristal
terjadi karena adanya gradient temperature yang diatur sedemikian
rupa sehingga pada bagian yang lebih panas akan terjadi reaksi
larutan, sedangkan pada bagian yang lebih dingin terjadi proses
supersaturasi dan pengendapan kristal. Teknologi ini dikenal dengan
istilah metode hidrotermal.
2. Perbedaan hasil sintesis dengan cara konvensional dan
dengan cara microwave
Radiasi gelombang mikro (microwave) dapat dipergunakan
dalam

proses

sintesis

material

anorganik.

Pada

penggunaan

gelombang mikro untuk pemanas dalam sistem padat maka paling


tidak terdapat satu komponen dalam campuran yang dapat
mengabsorp radiasi gelombang mikro. Kecepatan reaksi meningkat
dengan meningkatnya laju reaksi zat padat dan meningkatnya laju
difusi.
Metode sintesis microwave mempunyai beberapa kelebihan
dibandingkan metode konvensional, yaitu dapat menurunkan waktu
reaksi dan tidak terjadi perengkahan pada senyawa hasil sintesis
karena pemanasannya dari dalam ,

signifikan menurunkan biaya

produksi karena hemat energi dan waktu proses, memperbaiki


keseragaman produk, memperbaiki mikrostruktur dan sifat produk,
dan prosesnya berlangsung sangat cepat (2-50 kali lebih cepat

dibandingkan metode konvensional). Adapun kelemahan metode


microwave adalah tidak mengatasi masalah ketidakhomogenan
komposisi kimia dan memerlukan temperatur tinggi.
Sintesis konvensional adalah suatu metode sintesis yang menggunakan refluks
dengan pengaturan suhu dan kondisi yang lainnya.Sintesis konvensional mempunyai
keuntungan kondisi reaksi terkontrol dengan baik, rendemen bisa cukup banyak,
reaksi berlangsung bisa bertahap, dalam sintesis polimer, produk yang dihasilkan
memiliki masa molekul yang tidak kecil dan memiliki kekurangan seperti. Waktu
reaksi,bisa 7-72 jam, bergantung reaksi, suhu yang bisa berubah sehingga waktu tidak
efektif, dan diperlukan pelarut yang cukup banyak
Berikut adalah perbedaan hasil sintesis dengan cara konvensional dan dengan
microwave :
Sintesis Senyawa

Dengan Cara Konvensional

Isopropa
nol

Asam
Sitrat

Dengan Microwave

Hidrotermal

Pada sintesis dengan microwave menghasilkan produk yang lebih bagus ditandai dengan
bentuk yang lebih bagus dan detail. Pada sintesis cara konvensional hasilnya kurang
sempurna.
3. Bagaimana Identifikasi mineral hasil sintesis dari :
a) XRD (X-RAY DIFFRACTION)
Dasar dari prinsip pendifraksian sinar X yaitu difraksi sinar-X
terjadi pada hamburan elastis foton-foton sinar-X oleh atom dalam
sebuah kisi periodik. Hamburan monokromatis sinar-X dalam fasa
tersebut memberikan interferensi yang konstruktif. Dasar dari
penggunaan difraksi sinar-X untuk mempelajari kisi kristal adalah
berdasarkan persamaan Bragg:
n. = 2.d.sin ; n = 1,2,...
Berdasarkan persamaan Bragg, jika seberkas sinar-X di
jatuhkan

pada

sampel

kristal,maka

bidang

kristal

itu

akan

membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama


dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar yang dibiaskan
akan ditangkap oleh detektor kemudian diterjemahkan sebagai
sebuah puncak difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat
dalam

sampel,

makin

kuat

intensitas

pembiasan

yang

dihasilkannya. Tiap puncak yang muncul pada pola XRD mewakili


satu bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu
tiga dimensi. Puncak-puncak yang didapatkan dari data pengukuran
ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi sinar-X untuk
hampir semua jenis material. Standar ini disebut JCPDS.
Prinsip kerja XRD secara umum adalah sebagai berikut :
XRD terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, tempat
objek yang diteliti, dan detektor sinar X. Sinar X dihasilkan di tabung
sinar

yang

menghasilkan

berisi
elektron.

katoda

memanaskan

Perbedaan

tegangan

filamen,
4

sehingga

menyebabkan

percepatan

elektron

akan

menembaki

objek.

Ketika

elektron

mempunyai tingkat energi yang tinggi dan menabrak elektron


dalam objek sehingga dihasilkan pancaran sinar X. Objek dan
detektor berputar untuk menangkap dan merekam intensitas
refleksi sinar X. Detektor merekam dan memproses sinyal sinar X
dan mengolahnya dalam bentuk grafik.
b) IR (Infra Merah)
Spektrofotometer IR adalah Instrumen yang digunakan
untuk mengukur penyerapan radiasi inframerah pada berbagai
panjang gelombang. Inframerah adalah radiasi elektromagnetik dari
suatu panjang gelombang yang lebih panjang dari cahaya tampak,
tetapi lebih pendek dari radiasi gelombang mikro. Metode ini banyak
digunakan pada laboratorium analisis industri dan laboratorium riset
karena dapat memberikan informasi yang berguna untuk analisis
kualitatif dan kuantitatif, serta membantu penerapan rumus bangun
suatu senyawa.
Spektrofotometer infra merah terdiri atas 5 bagian utama,
yaitu sumber radiasi, wadah sampel, monokromator, detektor dan
rekorder. Terdapat dua macam spektrofotometer infra merah, yaitu
dengan berkas tunggal (single beam) dan berkas ganda (double
beam)
Prinsip kerja spektrofotometer infra merah adalah sama
dengan spektrofotometer yang lainnya yakni interaksi energi
dengan suatu materi. Spektroskopi inframerah berfokus pada radiasi
elektromagnetik pada rentang frekuensi 400-4000cm-1, di mana
cm-1 yang dikenal sebagai wavenumber (1/wavelength), yang
merupakan ukuran unit untuk frekuensi. Untuk menghasilkan
spektrum inframerah, radiasi yang mengandung semua frekuensi di
wilayah IR dilewatkan melalui sampel. Mereka frekuensi yang
diserap muncul sebagai penurunan sinyal yang terdeteksi. Informasi
ini ditampilkan sebagai spektrum radiasi dari% ditransmisikan
bersekongkol melawan wavenumber.
Spektroskopi inframerah sangat

berguna

untuk

analisis

kualitatif (identifikasi) dari senyawa organik karena spektrum yang


unik yang dihasilkan oleh setiap organik zat dengan puncak

struktural yang sesuai dengan fitur yang berbeda. Selain itu,


masing-masing kelompok fungsional menyerap sinar inframerah
pada frekuensi yang unik.
c) TEM (Tansmission Electron Microscopy)
Tem adalah alat untuk mengamati bentuk, struktur serta
distribusi pori padatan. Prinsip kerja TEM sama seperti proyektor
slide dimana elektron ditansmisikan ke dalam obyek pengamatan
dan hasilnya diamati melalui layar. Mekanisme kerja TEM yaitu pistol
elektron berupa lampu tungsten dihubungkan dengan sumber
tegangan tinggi (100-300 kv) ditransmisikan pada sampel yang
tipis, pistol akan memancarkan elektron secara termionik maupun
emisis medan magnet ke sistem vakum. Interaksi antara elektron
dengan medan magnet menyebabkan elektron bergerak sesuai
aturan tangan kanan, sehingga memungkinkan elektromagnet
untuk memanipulasi berkas elektron. Penggunaan medan magnet
akan membentuk sebuah lensa magnetik dengan kekuatan fokus
variabel

yang

baik.

Selain

itu,

medan

elektrostatik

dapat

menyebabkan elektron didefleksikan melalui sudut yang konstan.


Dua pasang defleksi yang berlawanan arah dengan intermediate
gap akan membentuk arah elektron yang menuju lensa yang
selanjutnya dapat diamati melalui layar.

Gambar 1. Skema Instrumen TEM


d) SEM-EDX (Scanning Electron Microscopy - Energy Dispersive
Spectroscopy)
Scanning Electron Microscope adalah suatu tipe mikroskop
electron yang menggambarkan permukaan sampel melalui proses
scan dengan menggunakan pancaran energy yang tinggi dari
electron dalam suatu pola scan raster. Elektron berinteraksi dengan
atom atom yang akan membuat sampel menghasilkan sinyal dan
memberikan informasi mengenai permukaan topografi sampel,
komposisi dan sifat sifat lainnya seperti konduktivitas listrik.
Tipe sinyal yang dihasilkan oleh SEM dapat meliputi elektron
sekunder, sinar X karakteristik dan cahaya (katoda luminisens).
Sinyal tersebut datang dari hamburan elektron permukaan unsur
yang berintaraksi dengan specimen. Sem
dengan

resolusi

yang

tinggi

dari

suatu

menghasilkan gambar
permukaan

sampel,

menangkap secara lengkap dengan ukuran sekitar 1 5 nm. SEM


dapat menghasilkan karakteristik bentuk 3 dimensi sehingga
mampu memberikan data yang lebih mudah tentang sample yang

dianalisa. Agar menghasilkan gambar yang diinginkan maka SEM


mempunya sebuah lebar focus 25 250.000 kali.
Pada sebuah mikroskop elektron (SEM) terdapat beberapa
peralatan utama antara lain:
Pistol elektron, biasanya berupa filamen yang terbuat dari
unsur yang mudah melepas elektron misal tungsten.
Lensa untuk elektron, berupa lensa magnetis karena elektron
yang

bermuatan

negatif

dapat

dibelokkan

oleh

medan

magnet.
Sistem vakum, karena elektron sangat kecil dan ringan maka
jika ada molekul udara yang lain elektron yang berjalan
menuju sasaran akan terpencar oleh tumbukan sebelum
mengenai sasaran sehingga menghilangkan molekul udara
menjadi sangat penting.
Prinsip kerja dari SEM adalah sebagai berikut:
Sebuah pistol elektron memproduksi sinar elektron dan
dipercepat dengan anoda.
Lensa magnetik memfokuskan elektron menuju ke sampel.
Sinar elektron yang terfokus memindai (scan) keseluruhan
sampel dengan diarahkan oleh koil pemindai.
Ketika elektron mengenai sampel maka
mengeluarkan

elektron

baru

yang

akan

sampel

akan

diterima

oleh

detektor dan dikirim ke monitor (CRT).


Sebagian besar alat SEM dilengkapi dengan kemampuan EDS
(Energy Dispersive Spectroscopy), namun tidak semua SEM
punya fitur ini. EDS dihasilkan dari Sinar X karakteristik, yaitu
dengan menembakkan sinar X pada posisi yang ingin kita
ketahui komposisinya. Maka setelah ditembakkan pada posisi
yang diinginkan maka akan muncul puncak puncak tertentu
yang mewakili suatu unsur yang terkandung. Dengan EDS kita
juga bisa membuat elemental mapping (pemetaan elemen)
dengan memberikan warna berbeda beda dari masing
masing elemen di permukaan bahan.

e) TGA-DTA (Thermo Gravimetric Analyzer-Differential Thermal


Analysis)
Dua jenis teknik analisa termal yang utama adalah analisa
termogravimetrik (TGA), yang secara otomatis merekam perubahan
berat sampel sebagai fungsi dari suhu maupun waktu, dan analisa
diferensial termal (DTA) yang mengukur perbedaan suhu, T, antara
sampel dengan material referen yang inert sebagai fungsi dari suhu.
TGA merupakan suatu teknik mengukur perubahan jumlah
dan laju dalam berat dari material sebagai fungsi dari temperatur
atau waktu dalam atmosfer yang terkontrol. Pengukuran digunakan
untuk menentukan komposisi material dan memprediksi stabilitas
termalnya pada temperatur mencapai 1000 oC. Teknik ini dapat
mengkarakterisasi material yang menunjukkan kehilangan atau
pertambahan berat akibat dekomposisi, oksidasi, atau dehidrasi.
Hasilnya biasanya berupa rekaman diagram yang kontinu. TGA
biasanya

digunakan

karakteristik
penurunan

riset

material

dan

seperti

temperatur,

pengujian
polymer,

kandungan

untuk
untuk

material

menentukan
menentukan

yang

diserap,

komponen anorganik dan organik di dalam material, dekomposisi


bahan yang mudah meledak, dan residu bahan pelarut. TGA juga
sering digunakan untuk kinetika korosi pada oksidasi temperatur
tinggi.
Prinsip kerja TGA
Preparasi sampel TGA
Memaksimalkan luas

permukaan

dari

sampel

untuk

meningkatkan resolusi kehilangan berat dan reprodusibilitas


temperatur.
didukung

TGA

oleh

ditempatkan

terdiri

sebuah

dalam

dari

sebuah sample

precision

balance.

suatu furnace dan

pan yang

Pan tersebut

dipanaskan

atau

didinginkan selama eksperimen. Massa dari sampel dipantau


selama eksperimen. Sampel dialiri oleh suatu gas untuk
mengontrol lingkungan sampelnya. Gas yang digunakan dapat
berupa gas inert atau gas reaktif yang mengalir melalui
sampel dan keluar melalui exhaust

Gambar 2. Skematis sistem kerja TGA


Differential Thermal Analysis (DTA) adalah suatu teknik
analisis termal dimana perubahan material diukur sebagai fungsi
temperatur. DTA digunakan untuk mempelajari sifat thermal dan
perubahan fasa akibat perubahan entalpi dari suatu material.
Selain itu, kurva DTA dapat digunakan sebagai finger print
material sehingga dapat digunakan untuk analisis kualitatif.
Metode ini mempunyai kelebihan antara lain instrument dapat
digunakan pada suhu tinggi, bentuk dan volume sampel yang
fleksibel, serta dapat menentukan suhu reaksi dan suhu transisi
sampel.
Prinsip

analisis

DTA

adalah

pengukuran

perbedaan

temperatur yang terjadi antara material sampel dan pembanding


sebagai hasil dari reaksi dekomposisi. Sampel adalah material
yang akan dianalisis, sedangkan material referensi adalah
material dengan substansi yang diketahui dan tidak aktif secara
termal. Dengan menggunakan DTA, material akan dipanaskan
pada suhu tinggi dan mengalam reaksi dekomposisi. Dekomposisi
material ini diamati dalam bentuk kurva DTA sebagai fungsi
temperatur yang diplot terhadap waktu. Reaksi dekomposisi
dipengaruhi oleh efek spesi lain, rasio ukuran dan volume, serta
komposisi materi

f) Silikon dan Alumunium MAS NMR


Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah salah satu
metode analisis untuk menentukan struktur dari komponen alami
dan sintetik yang baru, kemurnian dari komponen, dan arah reaksi
kimia sebagaimana hubungan komponen dalam larutan yang dapat
mengalami reaksi kimia. NMR (Nuclear Magnetic Resonance),
berhubungan dengan sifat magnet dari inti atom. Pada kondisi yang
sesuai, suatu sampel dapat mengabsorpsi radiasi elektromagnetik
daerah frekuensi radio, pada frekuensi yang tergantung dari sifatsifat sampel. Suatu plot dari frekuensi puncak-puncak absorbsi
versus

intensitas

puncak

memberikan

suatu

spektrum

NMR.

Spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) didasarkan pada


medan magnet yang berasal dari spin inti atom yang bermuatan
listrik.
Spektra NMR pada dalam kimia anorganik (padatan) berupa
puncak melebar yang kurang karakteristik dan hanya sedikit
informasi struktural bisa didapat. Dengan teknik magic angle
spinning (MAS) sampel diputar dengan kecepatan tinggi pada sudut
kritis 54,74o diarahkan ke medan magnetik. Dengan cara ini didapat
puncak yang tajam. Teknik NMR didasarkan atas perubahan energi
spin magnetik inti atom. Untuk unsur dengan spin inti non-zero
seperti 1H, 2H, 6Li,
28

13

C dan

29

Si tetapi tidak untuk unsur

12

C,

16

O atau

Si medan magnetik akan mempengaruhi energi inti.Tingkat energi

magnetik akan terbagi dua, apakah spin inti paralel atau tidak
dengan medan magnetik yang diberikan. Selisih kedua jenis kecil
~0,01 j mol-1 untuk medan magnetik 104G (1 T). Studi structural
telah menerapkan teknik MAS pada NMR untuk membedakan SiO 4
tetrahedra terisolasi dan SiO4 tetrahedra terhubung ke pojok
bersama (atom oksigen).Nilai Q mewakili jumlah SiO4 tetrahedra
bersebelahan yang terikat secara langsung. Range nilai Q dari nol
(seperti pada Mg2SiO4) hingga empat (seperti pada SiO2 struktur 3
dimensi dengan semua empat pojoknya berbagi). Posisi puncak
NMR

29

Si merupakan pergeseran kimia relatif terhadap standar

internal dan tergantung pada nilai Q. Posisi puncak NMR


fungsi dari derajat kondensasi.

Gambar 3. Posisi dari puncak

29

Si NMR

29

Si sebagai

TUGAS MENJELASKAN PROSEDUR DAN KARAKTERISASINYA DARI


SEBUAH JURNAL TENTANG SINTESIS HIDROTERMAL
Judul Jurnal : Sintesis dengan Metode Hidrotermal dan Karakterisasi
Senyawa Berstruktur Aurivillius Bi4Ti3O12
: Muhammad Rizal dan Ismunandar

Author

Prosedur Penelitian
Dua kombinasi prekusor yang digunakan yaitu Bi2O3/TiO2 dan
Bi(OH)3/TiO2 digunakan untuk mensintesis Bi4Ti3O12. Kedua kombinasi
prekusor tersebut dicampurkan dengan perbandingan Bi/Ti:4/3 kemudian
ditambahi larutan NaOH hingga mencapai 60% ( 25 mL). Campuran
kemudian dimasukkan ke dalam autoklaf (Parr Inst.). Autoklaf berupa
suatu wadah terbuat dari baja yang tahan pada suhu dan tekanan tinggi.
Pada praktiknya, metode hidrotermal ini melibatkan pemanasan reaktan
dalam wadah tertutup (autoclave) menggunakan air. Autoklaf tersebut
kemudian dipanaskan pada suhu tertentu, sehingga terbentuk tekanan
autogenous dalam autoklaf. Serbuk yang diperoleh dicuci dengan air
bebas mineral untuk menghilangkan ion Na+ dan dikeringkan pada suhu
ruang.
Pada penelitian ini dilakukan beberapa variasi kondisi reaksi seperti tercantum pada
Tabel 1.
Tabel 1. Berbagai kombinasi pereaksi, konsentrasi NaOH dan suhu reaksi

Karakterisasi Material
Karakterisasi serbuk yang diperoleh dilakukan dengan teknik Difraksi Sinar-X (XRD)
dan Fourier Transform Infrared (FTIR). Analisis FTIR juga digunakan dalam penelitian ini
untuk melihat puncak serapan TiO6 yang terdapat pada struktur Bi4Ti3O12.
Pola

difraksi

sinar-X

serbuk

direkam

dengan

menggunakan

difraktometer sinar-X PW 1050/ 25 yang berada di Laboratorium Difraksi


Sinar-X FMIPA ITB. Sumber radiasi yang digunakan adalah Cu-K dengan
filter Ni. Proses difraksi dilakukan pada rentang sudut 2 antara 10
sampai 80 dengan interval kenaikan sudut sebesar 0,05 per tahap. Pola
difraksi yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan database PDF
(ICDD) yang ditelusuri dengan program Phasanx. Pengukuran spektrum IR
dilakukan dengan menggunakan spektrometer FTIR ONE Perkin-Elmer
pada daerah bilangan gelombang 1500 cm-1400 cm-1.

(a)

(c)

(b)
Gambar 3. Pola difraksi Bi4Ti3O12 hasil reaksi Bi2O3/TiO2, pada berbagai suhu (a), pada
suhu 240 oC selama 72 jam pada variasi konsentrasi NaOH (b), dan pola difraksi
Bi4Ti3O12 standar (PDF No. 35-0795) (c).

Spektrum IR untuk sampel yang diperoleh dari reaksi dengan NaOH


1 M dan 3 M ditunjukkan pada Gambar 4. Spektrum dengan jelas
menunjukkan adanya dua buah puncak serapan pada daerah bilangan
gelombang 587 dan 825 cm -1. Puncak-puncak ini ditandai sebagai serapan
sistem oktahedral TiO6 yang terdapat pada struktur Aurivillius Bi4Ti3O12.
Dari analisis modus vibrasi yang mungkin ada dalam unit oktahedral,
modus yang aktif
inframerah adalah 3 dan 4, pada bilangan gelombang 587 dan 825 cm -1.
Serapan pada 685
cm-1 diperkirakan merupakan puncak serapan dari fasa pengotor.

Gambar 4. Spektrum IR Bi4Ti3O12 hasil reaksi Bi2O3/


TiO2 pada suhu reaksi 240oC selama 72 jam.

Sintesis senyawa Aurivillius dari pereaksi awal Bi(OH) 3/TiO2 juga


telah dilakukan. Hasil orientasi waktu dan suhu reaksi menunjukkan
bahwa waktu reaksi selama 72 jam merupakan waktu reaksi yang
optimum, dan suhu optimum adalah 240 C. Pada sistem reaksi ini
digunakan konsentrasi NaOH yang bervariasi yaitu sebesar 1, 3, dan 5 M.
Pola difraksi yang diperoleh menunjukkan bahwa dengan konsentrasi
NaOH sebesar 3 M diperoleh sistem satu fasa Bi 4Ti3O12 sedangkan pada
konsentrasi NaOH 1 dan 5 M diperoleh sistem multifasa dengan fasa
utama Bi4Ti3O12 dan pengotor berupa Bi12TiO20 dan Bi2Ti2O7 (Gambar 5).

Gambar 5. Pola difraksi senyawa dari kombinasi reaksi Bi(OH)3/ TiO2, suhu 240 C selama 72 jam, pada
berbagai variasi konsentrasi NaOH. () puncak terkuat pengotor Bi12TiO20.
o

Seperti dalam spektrum IR pada produk system Bi2O3/TiO2, spektrum


IR dari produk yang diperoleh pada sistem Bi(OH) 3/TiO2 menunjukkan dua
modus vibrasi 3 dan 4, yakni dua buah puncak serapan pada daerah
bilangan gelombang 587 dan 827 cm-1 (Gambar 6).

Gambar 6. Spektrum IR Bi4Ti3O12 hasil reaksi Bi(OH)3/TiO2, pada suhu reaksi 240oC selama 72
jam.