Anda di halaman 1dari 23

PRINSIP DASAR PEMBUATAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI

BIOGAS merupakan proses produksi energi berupa gas yang berjalan melalui proses
biologis. Hal ini menyebabkan terdapatnya berbagai komponen penting yang berpengaruh
dalam proses pembuatan biogas. Komponen biokimia (biochemist) dalam pembuatan
biogas memerlukan perhatian penting. Proses kerja dari komponen tersebut dapat dijelaskan
secara ilmiah, sehingga membuka peluang untuk diadakannya penelitian lebih lanjut.
Gas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi dari pembuatan biogas adalah berupa gas
metan. Gas metan ini diperoleh melalui proses dekomposisi bahan-bahan organik oleh
mikroorganisme. Bahan-bahan organik yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan sangat
mudah, bahkan dapat diperoleh dalam limbah. Proses produksi peternakan menghasilkan
kotoran ternak (manure) dalam jumlah banyak. Di dalam kotoran ternak tersebut terdapat
kandungan bahan organik dalam konsentrasi yang tinggi.
Gas metan dapat diperoleh dari kotoran ternak tersebut setelah melalui serangkaian proses
biokimia yang kompleks. Kotoran ternak terlebih dahulu harus mengalami dekomposisi
yang berjalan tanpa kehadiran udara (anaerob). Tingkat keberhasilan pembuatan biogas
sangat tergantung pada proses yang terjadi dalam dekomposisi tersebut.
Salah satu kunci dalam proses dekomposisi secara anaerob pada pembuatan biogas adalah
kehadiran mikroorganisme. Biogas dapat diperoleh dari bahan organik melalui proses "kerja
sama" dari tiga kelompok mikroorganisme anaerob. Pertama, kelompok mikroorganisme
yang dapat menghidrolisis polimer-polimer organik dan sejumlah lipid menjadi
monosakarida, asam-asam lemak, asam-asam amino, dan senyawa kimia sejenisnya.
Kedua, kelompok mikroorganisme yang mampu memfermentasi produk yang dihasilkan
kelompok mikroorganisme pertama menjadi asam-asam organik sederhana seperti asam
asetat. Oleh karena itu, mikroorganisme ini dikenal pula sebagai mikroorganisme penghasil
asam (acidogen).
Ketiga, kelompok mikroorganisme yang mengubah hidrogen dan asam asetat hasil
pembentukan acidogen menjadi gas metan dan karbondioksida. Mikroorganisme penghasil
gas metan ini hanya bekerja dalam kondisi anaerob dan dikenal dengan nama metanogen.
Salah satu mikroorganisme penting dalam kelompok metanogen ini adalah mikroorganisme
yang mampu memanfaatkan (utilized) hidrogen dan asam asetat.
Metanogen terdapat dalam kotoran sapi yang akan digunakan sebagai bahan pembuatan
biogas. Lambung (rumen) sapi merupakan tempat yang cocok bagi perkembangan
metanogen. Gas metan dalam konsentrasi tertentu dapat dihasilkan di dalam lambung sapi
tersebut. Proses pembuatan biogas tidak jauh berbeda dengan proses pembentukan gas
metan dalam lambung sapi. Pada prinsipnya, pembuatan biogas adalah menciptakan gas
metan melalui manipulasi lingkungan yang mendukung bagi proses perkembangan
metanogen seperti yang terjadi dalam lambung sapi.
Metanogen membutuhkan kondisi lingkungan yang optimal untuk dapat memproduksi gas
metan. Metanogen sangat sensitif terhadap kondisi di sekitarnya. Bahan organik dalam
kotoran sapi dapat menghasilkan gas metan apabila metanogen bekerja dalam ruangan
hampa udara. Oleh karena itu, proses pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dilakukan
dalam sebuah reaktor atau digester yang tertutup rapat untuk menghindari masuknya
oksigen. Reaktor harus bebas dari kandungan logam berat dan sulfida (sulfides) yang dapat

mengganggu keseimbangan mikroorganisme.


Jumlah metanogen dalam kotoran sapi belum tentu dapat menghasilkan gas metan yang
diinginkan. Gas metan diperoleh melalui komposisi metanogen yang seimbang. Jika jumlah
metanogen dalam kotoran sapi masih dinilai kurang, maka perlu dilakukan penambahan
metanogen tambahan berbentuk strater atau substrat ke dalam reaktor.
Metanogen dapat berkembang dengan baik dalam tingkat keasaman (pH) tertentu.
Lingkungan cair (aqueous) dengan pH 6,5 sampai 7,5 di dalam reaktor merupakan kondisi
yang cocok bagi pembentukan gas metan oleh metanogen. Tingkat keasaman di dalam
reaktor harus dijaga agar tidak kurang dari 6,2.
Untuk memperoleh biogas yang sempurna, ketiga kelompok mikroorganisme tadi harus
bekerja secara sinergis. Keadaan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan
ketiganya menjadi tidak optimal dalam menjalankan perannya masing-masing. Contohnya,
jumlah kandungan bahan organik yang terlalu banyak dalam kotoran sapi akan membuat
kelompok mikroorganisme pertama dan kedua untuk membentuk asam organik dalam
jumlah banyak sehingga pH akan turun drastis. Hal itu akan menciptakan lingkungan yang
tidak cocok bagi kelompok mikroorganisme yang ketiga. Akhirnya, gas metan yang
dihasilkan akan sedikit, bahkan tidak menghasilkan gas sama sekali.
Untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembuatan biogas diperlukan ketelitian untuk
memberikan lingkungan yang optimal bagi pembentukan gas metan. Hal tersebut dapat
dilakukan dengan pengontrolan terhadap berbagai aspek, seperti tingkat keasaman,
kandungan dalam kotoran sapi (C/N), temperatur, hingga kadar air. Selain itu, reaktor yang
digunakan harus memenuhi syarat dan kapasitasnya sesuai dengan jumlah kotoran sapi
sebagai input.
Manfaat lainnya
Sisa kotoran sapi yang telah digunakan dalam proses pembuatan biogas dapat dimanfaatkan
menjadi pupuk. Jika kandungan gas metan dalam kotoran sapi telah diperoleh, maka
kotoran tersebut dapat diambil dari reaktor dan digunakan sebagai kompos. Pupuk kompos
dapat menyuburkan tanah dan tidak mengandung bahan kimia, sehingga penggunaannya
dapat mendukung gerakan pertanian organik (organic farming).
Teknologi pembuatan biogas ini sangat ramah terhadap lingkungan karena tidak
meninggalkan residu dan emisi gas berbahaya. Pengembangan teknologi biogas sangat
mendesak untuk dilakukan, mengingat kebutuhan energi yang semakin mendesak pula.
Berbagai penelitian pun sangat dibutuhkan untuk kemajuan teknologi biogas di masa depan.
Teknologi ini harus semakin disosialisasikan sebagai alternatif bahan bakar bagi masyarakat
Indonesia, tentunya melalui dukungan kuat dari pemerintah.
sebagaimana telah diterangkan diatas, membuat biogas dengan kotoran sapi cukup mudah.
Hanya dengan memasukkan kotoran sapi kedalam digester anaerob, dan mendiamkannya
beberapa lama, Biogas akan terbentuk. Hal ini bisa terjadi karena sebenarnya dalam kotoran
sapi yang masih segar terdapat bakteri yang akan men-fermentasi kotoran tersebut. Tanpa
dimasukkan ke dalam digester pun biogas sebanarkan akan terbentuk pada proses
dekomposisi kotoran sapi, namun prosesnya berlangsung lama dan tentu saja biogas yang
dihasilkan tidak dapat kita gunakan.

Ada tiga jenis digester yang telah dikembangkan selama ini, yaitu:
Fixed dome plant, yang dikembangkan di china,
Floating drum plant, yang lebih banyak dipakai di India dengan varian plastic cover biogas
plant, dan
Plug-flow plant atau balloon plant yang banyak digunakan di Taiwan, Etiopia, Kolombia,
Vietnam dan Kamboja. Jenis ini juga yang banyak digunakkan oleh petani kita di daerah
Lembang dan Cisarua.
Bagian-bagian pokok digester gas bio adalah:
bak penampung kotoran ternak,
digester,
bak slurry,
penampung gas,
pipa gas keluar,
pipa keluar slurry,
pipa masuk kotoran ternak.
Fixed dome plant
Pada fixed dome plant, digesternya tetap. Penampung gas ada pada bagian atas digester.
Ketika gas mulai timbul, gas tersebut menekan slurry ke bak slurry. Jika pasokan kotoran
ternak terus menerus, gas yang timbul akan terus menekan slurry hingga meluap keluar dari
bak slurry. Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran.
Keuntungan: tidak ada bagian yang bergerak, awet (berumur panjang), dibuat di dalam
tanah sehingga terlindung dari berbagai cuaca atau gangguan lain dan tidak membutuhkan
ruangan (diatas tanah).
Kerugian: Kadang-kadang timbul kebocoran, karena porositas dan retak-retak, tekanan
gasnya berubah-ubah karena tidak ada katup tekanan.
Floating drum plant
Floating drum plant terdiri dari satu digester dan penampung gas yang bisa bergerak.
Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas
berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya.
Keuntungan: Tekanan gasnya konstan karena penampung gas yang bergerak mengikuti
jumlah gas. Jumlah gas bisa dengan mudah diketahui dengan melihat naik turunya drum.
Kerugian: Konstruksi pada drum agak rumit. Biasanya drum terbuat dari logam (besi),
sehingga mudah berkarat, akibatnya pada bagian ini tidak begitu awet (sering diganti).
Bahkan jika digesternya juga terbuat dari drum logam (besi), digeseter tipe ini tidak begitu
awet.
Baloon plant
Konstruksi balloon plant lebih sederhana, terbuat dari plastik yang pada ujung-ujungnya
dipasang pipa masuk untuk kotoran ternak dan pipa keluar peluapan slurry. Sedangkan pada
bagian atas dipasang pipa keluar gas.

Keuntungan: biayanya murah, mudah diangkut, konstruksinya sederhana, mudah


pemeliharaan dan pengoperasiannya.
Kerugian: tidak awet, mudah rusak, cara pembuatan harus sangat teliti dan hati-hati (karena
bahan mudah rusak), bahan yang memenuhi syarat sulit diperoleh.

Alat Dan Bahan Pembuatan Biogas Sederhana


Pada tahap ini dilakukan pembelian peralatan yang dibutuhkan untuk membuat rektor
ini, peralatan tersebut antara lain :
Volume reaktor (plastik) : 300 liter
Besi Siku, Mur & Baut : 10 buah
Kompresor : 1 buah
Pengaman gas (Regulator) : 3 buah
Selang saluran gas : + 10 m
Kebutuhan bahan baku : kotoran ternak dari 2-3 ekor sapi/ kerbau, atau 6 ekor babi.
Roda : 5 buah
Tabung LPG : 3 tabung ukuran kecil

Rangkaian Elektrik
Pada bagian ini dilakukan pembelian komponen elektronika yang dibutuhkan untuk
membuat rangkaian elektriknya, peralatan tersebut antara lain :
Solder & Pasta Solder : 2 buah

Cutter : 1 buah
Multi Meter : 1 buah
Bor PCB : 1 buah
Gunting : 1 buah
Tang Potong : 1 buah
Penyedot Timah : 1 buah
Timah : 5 buah

Pemasangan Reaktor Biogas Serta Pembuatan Rangkaian Elektrik

Pada pemasangan reaktor biogas dan pembuatan rangkaian elektrik ini adapun
langkah langkahnya antara lain sebagai berikut :
Pembuatan reaktor, menggunakan plastik penampung air (tandon air dengan kapasitas
300 liter)
Pembuatan meja tabung plastik : panjang = 2 m, lebar = 1,2m.
Kotoran sapi (fases) awal sebanyak 12 karung kantong semen atau karung seukurannya
(12 kantong semen = 240 lt). Persiapan awal ini untuk mempercepat produksi gas
yang siap untuk digunakan.
Drum untuk tempat pencampuran kotoran (fases) dengan air (1:1) masing 1 buah (120
liter)
Merangkai rangkaian power suplly (catu daya) 5V, 12V dan 24V
Merangkai rangkaian sensor serta rangkaian SC (signal conditioning)
Merangkai rangkaian driver relay dan driver motor.
Merangkai rangkaian mikrokontoller ATMEGA8535 serta rangkaian downloadernya.
Membuat Software untuk di displaykan pada PC (Personal Computer)

CARA PENGOPERASIAN REAKTOR BIOGAS


Adapun cara cara mengoprasikan reaktor biogas ini antara lain sebagai berikut :
Buat campuran kotoran ternak dan air dengan perbandingan 1 : 1 (bahan biogas)
Masukkan bahan biogas ke dalam reaktor melalui tempat pengisian sebanyak 240 liter,
selanjutnya akan berlangsung proses produksi biogas di dalam reaktor.

Setelah kurang lebih 10 hari reaktor biogas dan penampung biogas akan terlihat
mengembung dan mengeras karena adanya biogas yang dihasilkan. Biogas sudah
dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Sekali-sekali reaktor biogas digoyangkan supaya terjadi penguraian yang sempurna
dan gas yang terbentuk di bagian bawah naik ke atas, lakukan juga pada setiap
pengisian reaktor.
Pengisian bahan biogas selanjutnya dapat dilakukan setiap hari, yaitu sebanyak + 40 liter
setiap pagi dan sore hari. Sisa pengolahan bahan biogas berupa sludge (lumpur) akan keluar
dari reaktor setiap kali dilakukan pengisian bahan biogas. Sisa hasil pengolahan bahan biogas
tersebut dapat digunakan langsung sebagai pupuk organik, baik dalam keadaan basah maupun
kering.

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN REAKTOR BIOGAS


Berikut ini merupakan cara untuk merawat dan memelihara reaktor biogas antara lain
sebagai berikut :
Apabila reaktor tampak mengencang dan indikator pada pressure gauge mengalami
perubahan hal ini di karenakan adanya gas tetapi gas tidak mengisi penampung gas,
maka luruskan selang dari pengaman gas sampai reaktor, karena uap air yang ada di
dalam selang dapat menghambat gas mengalir ke penampung gas. Lakukan hal
tersebut sebagai pengecekan rutin.
Cegah air masuk ke dalam reaktor dengan menutup tempat pengisian disaat tidak ada
pengisian reaktor. Serta dilakukan pengecekan rutin jika kandungan air di dalam
reaktor berlebih.
Pengolahan Limbah Tahu Menjadi Biogas
Selasa, 01 Maret 2011 18:32
Berbagai kasus pencemaran lingkungan dan memburuknya kesehatan masyarakat yang
banyak terjadi dewasa ini diakibatkan oleh limbah cair dari berbagai kegiatan industri, rumah
sakit, pasar, restoran hingga rumah tangga. Hal ini disebabkan karena penanganan dan
pengolahan limbah tersebut kurang serius. berbagai teknik pengolahan limbah baik cair
maupun padat unutk menyisihkan bahan polutannya yang telah dicoba dan dikembangankan
selama ini belum memberikan hasil yang optimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka
diperlukan suatu metode penanganan limbah yang tepat, terarah dan berkelanjutan. Salah

satu metode yang dapat diaplikasikan adalah dengan cara BIO-PROSES, yaitu mengolah
limbah organik baik cair maupun organik secara biologis menjadi biogas dan produk
alternatif lainnya seperti sumber etanol dan methanol. Dengan metode ini, pengolahan
limbah tidak hanya bersifat penanganan namun juga memiliki nilai guna/manfaat.
Teknologi pengolahan limbah baik cair maupun padat merupakan kunci dalam memelihara
kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan limbah cair dan limbah padat
baik domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara
masyarakat setempat. Jadi teknologi yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi
masyarakat yang bersangkutan.
Salah satu limbah yang akan kita bahas di sini adalah limbah cair dari produksi tahu.
Tahu adalah salah satu makanan tradisional yang biasa dikonsumsi setiap hari oleh orang
Indonesia. Proses produksi tahu menhasilkan 2 jenis limbah, limbah padat dan limbah cairan.
Pada umumnya, limbah padat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah cair
dibuang langsung ke lingkungan. Pada umumnya, limbah padat dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, sedangkan limbah cair dibuang langsung ke lingkungan. Limbah cair pabrik tahu ini
memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Tanpa proses penanganan dengan baik,
limbah tahu menyebabkan dampak negatif seperti polusi air, sumber penyakit, bau tidak
sedap, meningkatkan pertumbuhan nyamuk, dan menurunkan estetika lingkungan sekitar.
Banyak pabrik tahu skala rumah tangga di Indonesia tidak memiliki proses pengolahan
limbah cair. Ketidakinginan pemilik pabrik tahu untuk mengolah limbah cairnya disebabkan
karena kompleks dan tidak efisiennya proses pengolahan limbah, ditambah lagi
menghasilkan nilai tambah. Padahal, limbah cair pabrik tahu memiliki kandungan senyawa
organik tinggi yang memiliki potensi untuk menghasilkan biogas melalui proses an-aerobik.
Pada umumnya, biogas mengandung 50-80% metana, CO2, H2S dan sedikit air, yang bisa
dijadikan sebagai pengganti minyak tanah atau LPG. Dengan mengkonversi limbah cair
pabrik tahu menjadi biogas, pemilik pabrik tahu tidak hanya berkontribusi dalam menjaga
lingkungan tetapi juga meningkatkan pendapatannya dengan mengurangi konsumsi bahan
bakar pada proses pembuatan tahu.
Biasanya biogas dibuat dari limbah peternakan yaitu kotoran hewan ternak maupun sisa
makanan ternak, namun pada prinsipnya biogas dapat juga dibuat dari limbah cair. Biogas
sebenarnya adalah gas metana (CH4). Gas metana bersifat tidak berbau, tidak berwarna dan
sangat mudah terbakar. Pada umumnya di alam tidak berbentuk sebagai gas murni namun
campuran gas lain yaitu metana sebesar 65%, karbondioksida 30%, hidrogen disulfida
sebanyak 1% dan gas-gas lain dalam jumlah yang sangat kecil. Biogas sebanyak 1000 ft3
(28,32 m3) mempunyai nilai pembakaran yang sama dengan 6,4 galon (1 US gallon = 3,785
liter) butana atau 5,2 gallon gasolin (bensin) atau 4,6 gallon minyak diesel. Untuk memasak
pada rumah tangga dengan 4-5 anggota keluarga cukup 150 ft3 per hari.

Bahan baku yaitu limbah tahu cair menjadi Biogas


Sebagian besar limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan
kental yang terpisah dari gumpalan tahu yang disebut air dadih. Cairan ini mengandung
kadar protein yang tinggi dan dapat segera terurai. Limbah cair ini sering dibuang secara
langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk dan
mencemari sungai. Sumber limbah cair lainnya berasal dari pencucian kedelai, pencucian
peralatan proses, pencucian lantai dan pemasakan serta larutan bekas rendaman kedelai.
Jumlah limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuat tahu kira-kira 15-20 l/kg bahan
baku kedelai, sedangkan bahan pencemarnya kira-kira untuk TSS sebesar 30 kg/kg bahan
baku kedelai, BOD 65 g/kg bahan baku kedelai dan COD 130 g/kg bahan baku kedelai
(EMDI & BAPEDAL, 1994).
Pada industri tempe, sebagian besar limbah cair yang dihasilkan berasal dari lokasi
pemasakan kedelai, pencucian kedelai, peralatan proses dan lantai. Karakter limbah cair
yang dihasilkan berupa bahan organik padatan tersuspensi (kulit, selaput lendir dan bahan
organik lain).
Industri pembuatan tahu dan tempe harus berhati-hati dalam program kebersihan pabrik dan
pemeliharaan peralatan yang baik karena secara langsung hal tersebut dapat mengurangi
kandungan bahan protein dan organik yang terbawa dalam limbah cair.
Penerapan Prinsip 3R pada Proses Pengolahan Limbah Tahu
Reduce :

Pengolahan Limbah Secara Fisika

Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan
agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahanbahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara
yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan
tersuspensi yang mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses
pengendapan. Parameter desain yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan
mengendap partikel dan waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.

Pengolahan Limbah Secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat
organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan
bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan
tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi),
baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi
oksidasi.

Pengolahan Limbah Secara Biologi

Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai pengolahan
sekunder, pengolahan secara nbiologi dipandang sebagai pengolahan yang paling murah dan
efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode pengolahan biologi
dengan segala modifikasinya.
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:

o Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);


o Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam
keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor
jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain:
oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif
konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan
BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih
sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai
kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam). Proses kontakstabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki
kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan
pendahuluan.
Reuse :

Limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu dapat digunakan sebagai alternatif
pakan ternak. Hal tersebut dilakukan karena dalam ampas tahu terdapat kandungan gizi.
Yaitu, protein (23,55 persen), lemak (5,54 persen), karbohidrat (26,92 persen), abu (17,03
persen), serat kasar (16,53 persen), dan air (10,43 persen). Salah satu alasannya, selain untuk
mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan.
Recycle :
Larutan bekas pemasakan dan perendaman dapat didaur ulang kembali dan digunakan
sebagai air pencucian awal kedelai. Perlakuan hati-hati juga dilakukan pada gumpalan tahu
yang terbentuk dilakukan seefisien mungkin untuk mencegah protein yang terbawa dalam air
dadih.
MATERI
Perombakan (degradasi) limbah cair organik akan menghasilkan gas metana, karbondioksida
dan gas-gas lain serta air. Perombakan tersebut dapat berlangsung secara aerobik maupun
anaerobik. Pada proses aerobik limbah cair kontak dengan udara, sebaliknya pada kondisi
anaerobik limbah cair tidak kontak dengan udara luar.
Biasanya biogas dibuat dari limbah peternakan yaitu kotoran hewan ternak maupun sisa
makanan ternak, namun pada prinsipnya biogas dapat juga dibuat dari limbah cair. Biogas
sebenarnya adalah gas metana (CH4). Gas metana bersifat tidak berbau, tidak berwarna dan
sangat mudah terbakar. Pada umumnya di alam tidak berbentuk sebagai gas murni namun
campuran gas lain yaitu metana sebesar 65%, karbondioksida 30%, hidrogen disulfida
sebanyak 1% dan gas-gas lain dalam jumlah yang sangat kecil. Biogas sebanyak 1000 ft3
(28,32 m3) mempunyai nilai pembakaran yang sama dengan 6,4 galon (1 US gallon = 3,785
liter) butana atau 5,2 gallon gasolin (bensin) atau 4,6 gallon minyak diesel. Untuk memasak
pada rumah tangga dengan 4-5 anggota keluarga cukup 150 ft3 per hari.
Proses dekomposisi limbah cair menjadi biogas memerlukan waktu sekitar 8-10 hari. Proses
dekomposisi melibatkan beberapa mikroorganisme baik bakteri maupun jamur, antara lain :

Bakteri selulolitik

Bakteri selulolitik bertugas mencerna selulosa menjadi gula. Produk akhir yang dihasilkan
akan mengalami perbedaan tergantung dari proses yang digunakan. Pada proses aerob
dekomposisi limbah cair akan menghasilkan karbondioksida, air dan panas, sedangkan pada
proses anaerobik produk akhirnya berupa karbondioksida, etanol dan panas.

Bakteri pembentuk asam

Bakteri pembentuk asam bertugas membentuk asam-asam organik seperti asam-asam butirat,
propionat, laktat, asetat dan alkohol dari subtansi-subtansi polimer kompleks seperti protein,
lemak dan karbohidrat. Proses ini memerlukan suasana yang anaerob. Tahap perombakan ini
adalah tahap pertama dalam pembentukan biogas atau sering disebut tahap asidogenik.

Bakteri pembentuk metana

Golongan bakteri ini aktif merombak asetat menjadi gas metana dan karbondioksida. Tahap
ini disebut metanogenik yang membutuhkan suasana yang anaerob, pH tidak boleh terlalu
asam karena dapat mematikan bakteri metanogenik.
BIAYA
* Biaya Langsung
Biaya bahan baku : Kacang Kedelai, mikroorganisme atau bakteri pendukung proses
pengolahan
* Biaya tidak Langsung : upah pekerja, perawatan peralatan.
ENERGI
Penggunaan limbah tahu cair sebagai bahan baku pembuatan biogas memanfaatkan bahanbahan yang dapat diperbaharui seperti penggunaan bakteri atau mikroorganisme pada proses
pengolahannya. Sehingga pada proses pengolahan tersebut dapat mengemat energi.
PRODUK BARU
Produk yang dihasilkan dari pengolahan limbah tahu cair adalah biogas. Bio gas sangat
bermanfaat bagi alat kebutuhan rumah tangga/kebutuhan sehari-hari, misalnya sebagai bahan
bakar kompor (untuk memasak), lampu, penghangat ruangan/gasolec, suplai bahan bakar
mesin diesel, untuk pengelasan (memotong besi), dan lain-lain. Sedangkan manfaat bagi
lingkungan adalah dengan proses fermentasi oleh bakteri anaerob (Bakteri Methan) tingkat
pengurangan pencemaran lingkungan dengan parameter BOD dan COD akan berkurang
sampai dengan 98% dan air limbah telah memenuhi standard baku mutu pemerintah
sehingga layak di buang ke sungai. Bio gas secara tidak langsung juga bermanfaat dalam
penghematan energi yang berasal dari alam, khususnya sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui (minyak bumi) sehingga sumber daya alam tersebut akan lebih hemat dalam
penggunaannya dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahanbahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, limbah domestik (rumah
tangga), sampah biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam
kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.
Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan listrik.

Biogas dan aktivitas anaerobik


Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan untuk mengolah
limbah biodegradable karena bahan bakar dapat dihasilkan sambil menghancurkan bakteri
patogen dan sekaligus mengurangi volume limbah buangan. Metana dalam biogas, bila
terbakar akan relatif lebih bersih daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih
besar dengan emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang
peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang
lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon
dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman,
sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon diatmosfer
bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang dihasilkan baik dari
limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan dari sistem pengolahan biologi
mekanis pada tempat pengolahan limbah.

Gas landfill
Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang dibuang di landfill. Sampah
ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan dari lapisan diatasnya. Karena kondisinya
menjadi anaerobik, bahan organik tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan. Gas ini
semakin berkumpul untuk kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini menjadi
berbahaya karena:

Dapat menyebabkan ledakan

Pemanasan global melalui metana yang merupakan gas rumah kaca

Material organik yang terlepas (volatile organic compounds) dapat


menyebabkan (photochemical smog)

Rentang komposisi biogas umumnya


Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik yang terjadi. Gas
landfill memiliki konsentrasi metana sekitar 50%, sedangkan sistem pengolahan limbah maju
dapat menghasilkan biogas dengan 55-75%CH4 [1].
Komposisi biogas[2]
Komponen

Metana (CH4)

55-75

Karbon dioksida (CO2)

25-45

Nitrogen (N2)

0-0.3

Hidrogen (H2)

1-5

Hidrogen sulfida (H2S)

0-3

Oksigen (O2)

0.1-0.5

Kandungan energi
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah
liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun
bahan-bahan lain yang berasal dari fosil.

Pupuk dari limbah biogas


Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk
organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsurunsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk
kimia. Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan
padi.

Siloksan dan gas engines (mesin berbahan bakar gas)


Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses pembakaran, silikon
yang terkandung dalam siloksan tersebut akan dilepaskan dan dapat bereaksi dengan oksigen
bebas atau elemen-elemen lain yang terkandung dalam gas tersebut. Akibatnya akan
terbentuk deposit (endapan) yang umumnya mengandung silika (
) atau silikat (
, tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung kalsium, sulfur belerang, zinc (seng), atau

fosfor. Deposit-deposit ini (umumnya berwarna putih) dapat menebal hingga beberapa
millimeter di dalam mesin serta sangat sulit dihilangkan baik secara kimiawi maupun secara
mekanik.
Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran internal), deposit pada piston
dan kepala silinder bersifat sangat abrasif, hingga jumlah yang sedikit saja sudah cukup untuk
merusak mesin hingga perlu perawatan total pada operasi 5.000 jam atau kurang. Kerusakan
yang terjadi serupa dengan yang diakibatkan karbon yang timbul selama mesin diesel bekerja
ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan menurukan efisiensi charger tersebut.
Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan, walaupun deposit pada tabungnya dapat
mengurangi efisiensi[3][4]

Biogas terhadap gas alam


Jika biogas dibersihkan dari pengotor secara baik, ia akan memiliki karakteristik yang sama
dengan gas alam. JIka hal ini dapat dicapai, produsen biogas dapat menjualnya langsung ke
jaringan distribusi gas. Akan tetapi gas tersebut harus sangat bersih untuk mencapai kualitas
pipeline. Air (H2O), hidrogen sulfida (H2S) dan partikulat harus dihilangkan jika terkandung
dalam jumlah besar di gas tersebut. Karbon dioksida jarang harus ikut dihilangkan, tetapi ia
juga harus dipisahkan untuk mencapai gas kualitas pipeline. JIka biogas harus digunakan
tanpa pembersihan yang ektensif, biasanya gas ini dicampur dengan gas alam untuk
meningkatkan pembakaran. Biogas yang telah dibersihkan untuk mencapai kualitas pipeline
dinamakan gas alam terbaharui.

Penggunaan gas alam terbaharui


Dalam bentuk ini, gas tersebut dapat digunakan sama seperti penggunaan gas alam.
Pemanfaatannya seperti distribusi melalui jaringan gas, pembangkit listrik, pemanas ruangan
dan pemanas air. Jika dikompresi, ia dapat menggantikan gas alam terkompresi (CNG) yang
digunakan pada kendaraan.
Pranala luar Biogas, the best alternatives

Setelah harga BBM naik beberapa hari yang lalu, kehidupan masyarakat baik di desa maupun
di kota semakin sulit. Warga berlomba-lomba mencari sumber energi alternatif, ada yang
menggunakan energi matahari, energi air, maupun energi angin. Tapi sampai sejauh ini masih
belum ditemukan sumber energi yang benar-benar bisa menggantikan bahan bakar minyak.
Kebanyakan sumber energi alternatif tidak bisa menghasilkan energi sebesar energi yang
dihasilkan bahan bakar minyak. Tapi, sebenarnya ada sumber energi alternatif yang relatif
sederhana dan sangat cocok untuk masyarakat pedesaan, energi alternatif itu adalah energi
biogas.
Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh proses fermentasi dari bahan-bahan organik,
termasuk kotoran manusia dan hewan, limbah rumah tangga, dan sampah-sampah organik
secara anaerobik. Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar dan juga dapat menghasilkan
listrik. Ada beberapa alasan mengapa biogas merupakan bahan bakar alternatif terbaik, di
antaranya biogas memproduksi bahan bakar ramah lingkungan, biogas memiliki kandungan
energi dalam jumlah yang besar, dan limbah biogas dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Biogas menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan. Biogas terbuat dari bahan-bahan alami,
seperti kotoran manusia dan hewan, serta limbah-limbah organik lain. Karbon dalam biogas
merupakan karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila
dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di atmosfer bila
dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Biogas juga tidak menghasilkan limbah yang bisa
mencemari lingkungan. Gas metana dalam biogas bisa terbakar sempurna. Sebaliknya, gas
metana dalam bahan bakar fosil tidak bisa terbakar sempurna dan akan membahayakan
lingkungan. Seperti kita ketahui, metana termasuk dalam gas-gas rumah kaca yang bisa
menyebabkan pemanasan global (global warming). Sehingga penggunaan biogas bisa
mencegah resiko terjadinya global warming.
Biogas memiliki kandungan energi tinggi yang tidak kalah dari kandungan energi dalam
bahan bakar fosil. Nilai kalori dari 1 m3 biogas sekitar 6000 watt jam, setara dengan setengah
liter minyak diesel. Oleh karena itu biogas sangat cocok menggantikan minyak tanah, LPG,
butana, batu bara, dan bahan bakar fosil lainnya. Biogas mengandung 75% metana. Semakin
tinggi kandungan metana dalam bahan bakar, semakin besar kalor yang dihasilkan. Oleh
karena itu, biogas juga memiliki karakteristik yang sama dengan gas alam. Sehingga jika
biogas diolah dengan benar, biogas bisa digunakan untuk menggantikan gas alam. Dengan
demikian jumlah gas alam bisa dihemat.
Limbah biogas dapat digunakan sebagai pupuk. Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang
telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsure-unsur
yang sangat dibutuhkan tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, dan
lignin tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Dengan demikian kita juga bisa mengurangi
anggaran untuk membeli pupuk.
Dari alasan-alasan dapat disimpulkan bahwa biogas adalah bahan bakar alternatif terbaik,
khususnya untuk masyarakat pedesaan yang memiliki peternakan. Penulis berharap setelah
teman-teman membaca essay saya ini, teman-teman bisa mulai menggunakan teknologi
biogas sebagai sumber energi alternatif di daerah masing-masing.
Home > Biogas > Manfaat Biogas lebih besar daripada apa yang kita
pernah bayangkan?

Manfaat Biogas lebih besar daripada apa yang kita


pernah bayangkan?
Berdasarkan laporan penelitian terbaru, produksi biogas yang berasal dari sampah dapat
menghasilkan lebih sedikit rendah 95% gas emisi rumah kaca (green house gas) daripada
bensin. Dengan sedikit improvement pada Biogas Plant, nilai ini dapat naik menjadi 120%.
Hal ini dapat dibandingkan dengan angka standar yang digunakan saat ini, yang
mengindikasikan bahwa biogas menghasilkan emisi 80 persen lebih rendah daripada bensin.
Sebuah kelompok riset di Universitas Lund telah menghitung angka-angka atas nama Badan
Energi Swedia yang dianalisa di sebuah pabrik biogas di Skne. Studi kasus akan membuat
lebih mudah untuk mempelajari dan mengoptimalkan peralatan komponen biogas lainnya . Di
Swedia ada sekitar 20 pabrik biogas sejenis, memproduksi biogas untuk digunakan sebagai
bahan bakar mobil dan kendaraan lainnya. Sebagai bahan bakar gas kendaraan banyak
dihasilkan oleh pengolahan limbah yang menghasilkan biogas dari kotoran limbah.
Pabrik kita telah mempelajari cukup representatif dari pabrik biogas yang rata-rata
mengolah sampah dan kotoran. Dalam penelitian kami, kami telah menghitung emisi untuk
seluruh rantai produksi dan termasuk emisi baik langsung maupun tidak langsung. Apa yang

khusus untuk penelitian kami adalah yang kita miliki, meliputi faktor tidak langsung yang
sebelumnya tidak pernah diperhitungkan, misalnya bagaimana tanah yang terpengaruh ketika
pupuk mineral diganti dengan bio-pupuk. Selain itu, pembersihan metana dari tanaman
diukur dan tidak didasarkan pada data standar yang sebaiknya sering digunakan dalam
menganalisis pada jenis ini, poin penting yang disampaikan Mikael Lantz, mahasiswa
doktoral di Lingkungan dan Energi Sistem Studi di Universitas Lund.

biogas plant in sweden


Para peneliti juga mengamati bahwa biogas mengahasilkan 16 gram biogas kWh / dari
metana gas rumah kaca, emisi karbon dioksida dan gas. Emisi ini sekitar 95 persen lebih
rendah dibandingkan dari bensin dan secara signifikan lebih baik dari standar nilai yang
digunakan saat ini. Dalam rangka untuk membuat biogas lebih ramah lingkungan, para
peneliti mengusulkan bahwa tanaman harus dipanaskan menggunakan kayu, yang juga bisa
menjadi lebih murah bagi produsen biogas.
saran lain adalah untuk mendorong produsen bio-pupuk untuk mengurangi kerugian
nitrogen dan mengurangi pengenceran dengan air hujan. Pabrik telah menerapkan
pengukuran ini Dengan menggunakan beberapa rekomendasi lainnya juga., emisi dapat
dikurangi sampai 120 persen lebih rendah daripada bensin, tanpa meningkatkan biaya
produksi lebih dari beberapa bijih per kWh gas kendaraan, jelas Mikael Lantz.

Facts about Biogas


Biogas can be used to substitute fossil fuels such as oil, coal and natural gas. In
Denmark most of the biogas is sold to district heating plants and power plants,
but the biogas can also be used for other purposes, such as transport. Biogas
can moreover be used in the natural gas grid after upgrading.
For the agricultural climate budget biogas is of considerable importance, as the
digestion of animal manure in a biogas plant can substantially reduce the
emission of greenhouse gases.
The storage and field application of undigested slurry releases methane to the
atmosphere. By digesting slurry in a biogas plant, the methane produced during

digestion is extracted and utilised with the result that atmospheric emissions of
methane are reduced.
Biogas
Biogas is a mixture of methane and carbon dioxide and a very small proportion of
other gases. Biogas is produced during the anaerobic digestion of organic
material and is produced naturally in, for example, bogs.
The commercial production of biogas for human use goes back a long time. In
this country, biogas plants have been built since the 1920s, but despite having a
large livestock farming sector, biogas production in Denmark never really caught
on.
The lack of economic profitability and technical problems associated with the
production kept the interest at bay, but an increased focus on and political will to
use renewable and ecofriendly energy sources have lately generated a lot of
interest in biogas.
Nutrients and odour
The nutrients, in particular nitrogen, remain in the slurry. The digested slurry can
be applied in the field where it causes far fewer odour problems than untreated
slurry. The emission of nitrous oxide, a potent greenhouse gas, is also
substantially reduced compared to the application of untreated slurry. Risk of the
leaching of nitrogen to watercourses is likewise reduced.
For agriculture the digestion of animal manure in a biogas plant also carries the
advantage that problems with weed seeds and infectious agents are significantly
reduced.

Sampah
Sampah adalah material sisa suatu aktivitas yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah didefinisikan menurut derajat keterpakaian
dan kegunaannya. Makin majunya ilmu pengetahuan akan makin banyak
material ditemukan kemanfaatannya bagi manusia, dan dengan itu akan makin
sedikit material sisa yang dikatagorikan sampah. Sampah organik bisa
digunakan pada pembuatan pupuk organik, berguna bagi pemberian zat hara
tanaman. Sementara sampah anorganik dapat didaur ulang menjadi barang
bernilai ekonomi baru.
Panen Energi (Bioelektrik) dan pupuk dari sampah Organik

Tren kenaikan angka konsumsi akan bahan bakar konvensional


(premium, solar) terus berlangsung. Bahan bakar (BBM) yang berasal dari minyak bumi tersebut
adalah sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui (unrenewable), sedangkan permintaan naik
terus. Demikian pula harganya cenderung meningkat, karena tidak ada stabilitas keseimbangan
permintaan dan penawaran. Salah satu jalan untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) adalah
mencari sumber energi yang dapat diperbarui (renewable), antara lain biogas. Biogas adalah hasil
penguraian secara anaerobik dari material organik, umumnya terdiri dari metana (CH4),
karbondioksida (CO2) dan sedikit gas lainnya H2, N2, O2 dan H2S).

Gas methan (CH4) terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa
udara) oleh bakteri pembangkit metana (methan) atau disebut juga bakteri
anaerobik dan atau bakteri biogas. Hasil fermentasi oleh bakteri ini mampu
mengurangi sampah, yang banyak mengandung bahan organik (biomassa) sehingga
terbentuk gas methan (CH4), yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi
panas. Gas methan sama dengan gas elpiji ( liquidified petroleum gas/LPG).
Perbedaannya adalah gas methan mempunyai satu atom C, sedangkan elpiji lebih
banyak.

Biogas sebagai hasil dari suatu proses fermentasi aneka material organik
( semua bahan berasal dari makhluk hidup) adalah sumber energi baru terbarukan (renuwable
energy) yang dapat diperoleh dengan biaya murah, dari bahan yang selama ini dikatagorikan sebagai
sampah. Gas yang terbentuk dalam tabung kedap (tanpa oksigen) Digester Biogas BD 5000L, dibuat
dari fiber glass berbahan resin eternal 2504, jenis mat Wr 200 ( mat anyam) dan mat 300 ( acak),
ketebalan 3 - 5 mm, mampu memfermentasi 5 m3 per siklus. Sampah dan berbagai bahan organik
dapat terus menerus ditambahkan ke lobang pemasukan (intake chamber) dan akan diurai oleh
bakteri anaerobic Green Phoskko (GP-7), untuk pertama kalinya hanya 5 hari telah mulai
mengeluarkan gas methana (CH4) dan tersimpan di bagian atas tabung ( gas holder). Selanjutnya,
biomassa organik dapat terus menerus ditambahkan setiap hari, sepanjang tekanan dalam gas holder
berkurang karena penggunaan bagi bahan bakar panas ( kompor, tungku) maupun bahan bakar gas
oleh genset modifikasi Bio elektrik

Kapasitas input material 5 m3, ditambah gas holder 2 m3 atau keseluruhan kapasitas 7 m3, memiliki
PLT ( diameter 200 cm, tinggi 390 cm), akan bertahan hingga diatas 10 tahun hingga 20 tahun.
Diproduksi secara terurai (complete knock down) sehingga mudah dipindah, mobilisasi ke lokasi
lebih murah serta dapat dilakukan perbaikan ketika terdapat kerusakan. Biogas digester (BD)
dilengkapi dengan instalasi pipa gas, kompor standar pabrikan dan peralatan penunjang ( pengukur
tekanan/ pressure meter) bagi pemanfaatan gas metana (methan) sebagai bahan bakar ramah
lingkungan bagi keperluan pembakaran (kompor) maupun menjalankan aneka perkakas elektronik
( penerangan, penggerak mesin, perkakas rumah tangga dan seterusnya).

Dengan menempatkan sampah organik secara terpisah,


kemudian dibangkitkan gas metananya dalam digester kedap udara, dengan bakteri
anaerobik seperti Green Phoskko (GP-7), maka kemudian gas (CO2 dan CH4) yang
diproduksinya dapat ditampung dalam gas holder di bagian atas digester. Dengan
dialirkan ke inlet genset (generator biogas), gas akan didikonversi menjadi energi
listrik, dan sisa akhir prosesnya, lumpur sisa hasil pencernaan (slurry) menjadi
pupuk kompos yang baik bagi tanaman. Sampah organik sungguh sangat memberi
manfaat bagi manusia ( penerangan, penggerak mesin maupun daya listrik bagi
perkakas rumah tangga), disamping sisa prosesnya menjadi pupuk dan penyubur
tanaman dan tanah pertanian.

Sayangnya,hingga kini sampah katagori organik ( dari pasar induk, sisa masakan
dan makanan di Food Beverages Hotel serta restoran, feces manusia di septic tank,
kotoran ternak peternakan, sampah perumahan, sampah pasar induk) seringkali
tanpa pengelolaan secara baik. Karenanya bukan memberi berkah sebagai energi
listrik ( bioelektrik) maupun pupuk organik, melainkan, malahan, jadi penimbul
masalah kepada makin memburuknya sanitasi lingkungan dan, bahkan, setiap saat
menjadi bencana yang mengintai. Karenanya, dengan keberadaan digester dan
genset biogas secara complete knock down (CKD) ini diharapkan makin banyak
pihak melakukan panen energi listrik (bioelektrik) dan pupuk organik dari bahan
sampah dan limbah organik.*)

1. mengapa biogas kurang berkembang, padahal manfaatnya sangat besar ?


apalagi dengan bisa dihasilkan listrik dan lumpurnya jadi pupuk organik.
mungkin karena informasi atau juga kualitas biogas yang selama ini ada
masih kurang efisien. Diketahui, gas metana (CH4) sebagai bahan bakar,
seringkali terkandung rendah dari setiap pembangkitan dalam digester.
Karena itu, kualitas biogas sangat bergantung kpd bakteri aktivator (jenis
dan populasi)dan kualitas digester yang seharusnya benar-benar kedap
udara.

2. apakah tatacara menyiapkan bahan baku biogas sama dengan membuat


kompos ? apa yang bisa dijadikan ukuran kualitas suatu instalasi biogas satu
lebih baik dari lainnya ? Mohon pencerahannya dong.............
menyiapkan bahan baku bagi pembangkitan biogas tidak persis sama dengan
pengolahan sampah menjadi kompos. Perbedaannya pada ukuran sampah agar sekecil
mungkin agar tidak memiliki porositas, berbeda dengan kompos aerob justru harus
besar rongga antar material bagi masuknya oksigen. Pengadukan juga relatif tidak
perlu, berbeda dengan pembuatan kompos secara aerob.
Namun yang paling pasti, dalam pembangkitan metana pada pembuatan biogas
dilakukan oleh bakteri anaerob ( kedap udara tanpa oksigen) sementara pembuatan
kompos aerob dilakukan bakteri pengurai berbeda.
3. jenis sampah apa saja yang bisa dibuat biogas ? apakah untuk menghasilkan
listrik bisa digunakan genset biasa bukan genset bio elektrik ?
mau nanya nech..............bisa gak ya biogas diandalkan buat industriku garmen yg
pakai perlu listrik buat mesin jahit. Terus sampahnya bagaimana klu di kota kan gak
ada tahi sapi
bagi pembangkitan bio elektrik ini bisa digunakan aneka bahan organik, sepanjang
berasal dari makhluk hidup, misalnya sisa makanan, kotoran hewan (kohe), limbah
pertanian, limbah pabrik makanan, dan aneka bahan yang bisa membusuk atau terurai
(biodegradable) lainnya. Namun, menurut Kementan RI, diantara kotoran hewan
sebagai bahan baku yang terbaik adalah kohe ayam. Limbah peternakan ayam bisa
hasilkan 0,065 - 0,116 gas/ kg (m3) bahan, sementara kohe sapi malahan hanya 0,023
sampai 0,040 gas/kg (m3)
hasil pembangkitan gas bio yang bagus jika kadar metana (CH4) dominan
> 70 % sangat baik dijadikan bahan bakar, seperti LPG, bernyala biru
bersih tanpa residu. Gas bio juga bisa dimasukan ke inlet genset yang
sudah dimodifikasi dari bahan bakar minyak (bbm) bensin ke gas metana,
disebut genset bioElektrik. Setelah jadi daya listrik, bebas digunakan bagi
perkakas rumah (TV, radio, lampu penerangan, komputer, soun system,
dll) maupun bagi Industri Kecil ( rice cooker, oven pengering,
menggerakan mesin melalui elektro motor, dll).

4. boleh tahu aktivator bakteri agar gas metana bisa dapat banyak ? apa saja yang
bisa pengaruhi hasil gas nya itu
bakteri yang menjadi pembangkit gas metana adalah jenis anaerob, bakteri yang
bekerjanya tidak memerlukan oksigen (kedap udara). Pencernaan dalam digester
biogas dipengaruhi antara lain: kondisi PH, temperatur, ukuran bahan, kandungan air,
dan C/N ratio bahan