Anda di halaman 1dari 31

TUGAS INDIVIDU

TEORI PEMBANGUNAN WILAYAH


Dosen: Abd. Rahman, S.Pd., M.Si.

Disusun oleh :

MULYANA
1396140002
EKONOMI PEMBANGUNAN

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015
TEORI PEMBANGUNAN WILAYAH

1. TEORI SEWA TANAH (VON THUNEN)


Johann Heinrich Von Thunen menguraikan teori sewa
lahan diferensial dalam bukunya yang berjudul Der Isolelerte
Staat,
in
Beziehung
auf
Landwirtschaft
und
Nationalokonomie. Dimana pembahasan Von Thunen adalah
mengenai lokasi dan spesialisasi pertanian. Dalam teorinya ia
memperhatikan jarak tempuh antara daerah produksi dan
pasar, ia menggambarkan bahwa jenis penggunaan tanah
yang ada di suatu daerah dipengaruhi perbedaan ongkos
transportasi tiap komoditas ke pasar terdekat.
Von Thunen mengeluarkan asumsinya mengenai tanah
pertanian, asumsi-asumsi tersebut yaitu:
1. Wilayah model yang terisolasikan (isolated state) adalah
bebas dari pengaruh pasar kota-kota lain.
2. Wilayah
model
membentuk
tipe
pemukiman
perkampungan di mana kebanyakan keluarga petani
hidup pada tempat-tempat yang terpusat dan bukan
tersebar di seluruh wilayah.
3. Wilayah model memiliki iklim, tanah, topografi yang
seragam atau uniform (produktivitas tanah secara fisik
adalah sama).
4. Wilayah model memiliki fasilitas transportasi tradisional
yang relatif seragam.
5. Faktor-faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan
lahan adalah konstan, maka dapat dianalisis bahwa sewa
lahan merupakan hasil persaingan antara berbagai jenis
penggunaan lahan.
Dari asumsi diatas memaksa petani untuk menyewa lahan
dekat dengan pusat pasar atau kota. Dengan begitu akan
diperoleh keuntungan yang maksimal dari hasil pertanian.
Tetapi mereka juga harus rela mengeluarkan banyak uang,
karena semakin dekat dengan pusat pasar harga sewa lahan
akan semakin mahal. Sehingga makin tinggi kemampuan
petani untuk menyewa lahan maka ia akan mendapatkan
lokasi yang semakin dekat dengan pusat pasar.
Menurut Von Thunen, produsen-produsen tersebar di
daerah luas, sedangkan pembeli-pembeli terkonsentrasi pada
titik sentral (buyers concentrated, sellers dispersed). Titik
sentral pada umumnya merupakan kota (pusat pasar), dan
tidak terdapat perbedaan lokasi di antara para pembeli di

dalam kota. Semua pembeli membayar suatu harga tertentu,


tetapi unit penghasilan bersih di antara para produsen
berbeda-beda, tergantung pada jaraknya dari pusat
konsumsi. Jika terdapat kenaikan biaya transport, maka harga
barang akan naik, dan sebaliknya penurunan biaya transport
akan menurunkan harga pasar dan memperbesar penjualan.
Manfaat dari penjualan yang bertambah tersebut akan
dinikmati oleh para penjual yang jaraknya lebih jauh, yang
berarti lebih banyak penjual yang melayani suatu pasar,
maka akibatnya permintaan meningkat pula. Model Von
Thunen ini termasuk dalam kategori satu unit pasar dan
banyak unit produksi.
Jadi, inti dari teori Von Thunen adalah bahwa sewa lahan
akan memiliki harga yang berbeda, tergantung dengan tata
guna lahannya. Lahan yang berada di pusat kota akan
memiliki harga sewa lahan yang jauh lebih tinggi dan biaya
transportasi pun semakin murah dibandingkan dengan sewa
lahan di daerah pedalaman atau pinggiran kota. Karena
makin jauh jarak yang akan ditempuh, maka makin mahal
biaya transportasi yang akan dikeluarkan.
Model ini dapat dikatakan masih sangat sederhana, tetapi
sumbangan pemikirannya terhadap ilmu pengembangan
wilayah adalah cukup penting sampai sekarang yaitu
mengenai penentuan kawasan (zoning) menurut berbagai
jenis kegiatan usaha (pertanian).

2. TEORI LOKASI OPTIMUM DAN AGLOMERASI INDUSTRI (ALFRED WEBER)


Dalam teorinya Alfred Weber menekankan pentingnya
biaya transport sebagai faktor pertimbangan lokasi. Dimana
teori Weber sebenarnya menentukan dua kekuatan lokasional
primer, yaitu orientasi transport dan orientasi tenaga kerja.
Pada dasarnya pengusaha itu mempunyai kebebasan untuk
menempatkan industri atau pabriknya.
Biaya transport dianggap sebagai suatu variabel penting
dalam penentuan lokasi industri. Adapun asumsi sederhana
yang ditetapkan yaitu tingkat biaya transport adalah flat
berdasarkan pada berat muatan dan fasilitas transportasi
tersedia ke segala jurusan. Tetapi asumsi tersebut tidak
sesuai dengan kenyataan karena pada umumnya biaya

transport untuk hasil akhir seringkali lebih tinggi daripada


untuk bahan baku dan fasilitas transport hanya terbatas pada
sejumlah rute.
Dalam
mengembangkan
teorinya,
Weber
mengitroproduksikan beberapa konsep pokok, yakni indeks
material (material index) adalah perbandingan berat bahan
baku dan berat hasil akhir.
Berat lokasional (locational
weight) adalah berat total dari semua barang (meliputi hasil
akhir, bahan baku, bahan bakar, dsb.) yang harus diangkut ke
dan dari tempat produksi untuk setiap satuan keluaran.
Industri-industri dengan berat lokasional tinggi akan tertarik
pada sumber bahan baku, sedangkan industri-industri dengan
berat lokasional rendah cenderung mendekati pasar. Dan
isodapan kritis (critical isodapanes) adalah jika selisih antara
tambahan biaya transport sama dengan keuntungankeuntungan biaya non transport yang dapat diperoleh pada
suatu tempat alternatif.
Kedua konsep berat lokasional dan isodapan kritis dapat
pula digunakan untuk menjelaskan teori Weber tentang
aglomerasi industri. Dimana secara teoretik dijelaskan,
tempat optimal (optimal site) adalah tempat dimana biayabiaya transpor bagi kombinasi keluaran total adalah yang
paling rendah. Dalam praktek, hal ini berarti bahwa yang
terbesar di antara ketiga perusahaan tersebut akan menarik
perusahaan-perusahaan yang lebih kecil ke suatu lokasi di
dalam segmen yang lebih dekat kepada titik biaya transport
minimumnya
perusahaan
terbesar
tersebut.
Karena
perubahan posisi lokasi yang harus dilakukan oleh
perusahaan terbesar adalah lebih kecil kemungkinannya
daripada yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
kecil lainnya, maka deviasi total dari titik-titik biaya transport
minimum dapat dikatakan kecil saja kemungkinannya.
Dalam teori ini Weber berusaha untuk menetapkan lokasi
yang optimal dalam arti pemilihan lokasi yang mempunyai
biaya minimal, meskipun dalam hal ini pengaruh permintaan
tidak diperlihatkan. Lokasi dengan biaya minimal tersebut
mungkin berorientasi pada tersedianya tenaga kerja atau
transportasi ataupun ditentukan oleh keuntungan-keuntungan
yang ditimbulkan oleh aglomerasi.

Dan menjelaskan terjadinya evolusi ekonomi tata ruang


dalam arti strata yang sukses seperti pembangunan industri
(pusat-pusat kegiatan ekonomi), terjadinya urbanisasi dan
struktur masyarakat kota dianggap mempunyai kedudukan
yang lebih tinggi dari strata pertanian.
Tetapi teori Weber ini memiliki kelemahan-kelemahan
yang
dikemukakan
secara
umum:
(1)
keuntungankeuntungan aglomerasi (agglomeration economies) yang
diketengahkan itu tidaklah merupakan suatu daftar yang
lengkap dan menyeluruh, karena tidak mencakup bunga
modal, asuransi, dan pajak. (2) analisis Weber tidak mudah
dioperasionalisasikan karena fungsi aglomerasi adalah
merupakan
suatu
konstruk
teoretik
yang
sukar
dikuantifikasikan, seperti halnya keuntungan-keuntungan
eksternal adalah sukar diukur. (3) menurut pendapatnya,
penghematan biaya aglomerasi yang terbesar adalah dalam
industri-industri yang nilai tambahnya tinggi, semakin
bertambahnya
kepadatan
penduduk
dan
semakin
berkurangnya tarif angkutan, kedua-duanya menambah
kecenderungan aglomerasi dapat dipadukan ke dalam proses
perkembangan ekonomi yang akan berakibat bahwa
perubahan lokasional akan dicerminkan oleh semakin
bertambahnya aglomerasi, tetapi hal ini adalah kurang
relevan.
3. TEORI TEMPAT SENTRAL (WALTER CHRISTALLER)
Walter Christaller mengintroduksikan teori tempat sentral
(central place). Modelnya dinyatakan sebagai suatu sistem
geometrik yang dikenal dengan nama Sistem K=3, dimana
K ditetapkan secara arbitrer sebagai huruf indeks yang
digunakan untuk notasi pola pemukiman. Asumsi-asumsi
yang digunakan Christaller sebagai berikut:
1. Wilayah model merupakan dataran tanpa roman, tidak
memiliki raut tnda khusus baik alamiah maupun buatan
manusia.
2. Perpindahan dapat dilakukan ke segala jurusan, suatu
situasi yang dilukiskan sebagai permukaan isotropik.
3. Penduduk serta daya belinya tersebar merata di seluruh
wilayah.

4. Konsumen bertindak rasional sesuai dengan prinsip


minimisasi jarak
Berdasarkan
asumsi-asumsi
diatas,
Christaller
mengembangkan pemikirannya menyusun suatu model
wilayah perdagangan yang efisien yang berbentuk segi enam
(heksagonal) yang meliputi seluruh dataran tanpa tumpang
tindih menyerupai sarang lebah atau honeycombs dan tiap
wilayah perdagangan heksagonal memiliki pusat. Besar
kecilnya pusat-pusat tersebut adalah sebanding dengan
besar-kecilnya masing-masing heksagonal.
Secara horizontal, model Christaller menunjukkan
kegiatan-kegiatan manusia yang terorganisasikan dalam tata
ruang geografis dan tempat-tempat sentral (pusat-pusat)
yang lebih tinggi ordernya mempunyai wilayah perdagangan
atau wilayah pelayanan yang lebih luas. Tempat-tempat
sentral kecil dan wilayah-wilayah komplementernya tercakup
dalam wilayah-wilayah perdagangan dari pusat-pusat yang
lebih besar.
Secara vertical, model tersebut memperlihatkan bahwa
pusat-pusat yang lebih tinggi ordernya mensuplai barangbarang ke seluruh wilayah, dan kebutuhan akan bahan-bahan
mentah di pusat-pusat yang lebih tinggi ordernya disuplai
oleh pusat-pusat yang lebih rendah ordernya.
Prinsip pemasaran dengan susunan piramidal pada model
tempat sentral dapat menjamin minimisasi biaya-biaya
transport. Namun, teori ini tetap memiliki kelemahankelemahan, diantaranya model tersebut tidak menunjukkan
adanya spesialisasi atau pembagian kerja di antara pusatpusat tersebut. Selain daripada itu menurut Christaller,
seluruh
wilayah
dapat
dilayani,
sedangkan
dalam
kenyataannya sebagian dari wilayah-wilayah yang dimaksud
tidak seluruhnya dapat terlayani karena terbatasnya fasilitas
transportasi dan hambatan-hambatan geografis. Teori tempat
sentral dapat dikatakan kaku dan terlalu sederhana
(oversimplification).
Teori tempat sentral menjelaskan pola geografis dan
struktur hirarkis pusat-pusat kota dan wilayah-wilayah nodal
(pusat-pusat perkotaan), akan tetapi tidak menjelaskan
bagaimana pola geografis tersebut terjadi secara gradual dan
bagaimana pola tersebut mengalami perubahan-perubahan

pada masa depan, atau dengan perkataan lain tidak


menjelaskan gejala-gejala (fenomena) pembangunan.
Disamping kelemahan yang dimiliki teori tempat sentral,
Richardson mengemukakan beberapa keterbatasan yang
dimiliki teori ini yaitu, (1) teori sentral tidak memberikan
penjelasan secara lengkap mengenai pertumbuhan kota
karena
teori
tersebut
diformulasikan
berdasarkan
pembangunan daerah pertanian yang tersusun secara
hirarkis dan berpenduduk secara merata. (2) analisis tempat
sentral menekankan pada peranan sektor perdagangan dan
kegiatan-kegiatan
jasa
daripada
kegiatan-kegiatan
manufaktur. (3) pertumbuhan kota meningkat terus dan
setelah sampai pada suatu tingkat tertentu diperlukan
tambahan sumberdaya-sumberdaya yang berasal dari luar
wilayah nodal. Model tempat sentral ternyata tidak berhasil
menjelaskan timbulnya kecenderungan yang kuat dalam
masyarakat
mengenai
pengelompokkan
perusahaanperusahaan karena pertimbangan keuntungan-keuntungan
aglomerasi dan ketergantungan lokasi.
Meskipun model tempat sentral mempunyai keterbatasanketerbatasan, namun sesungguhnya teori tempat sentral
mengandung paling sedikit tiga konsep fundamental, yaitu
proses penyebaran pertumbuhan mengikuti pola ambang
(trhresold) (jumlah penduduk) dan pola lingkup (range)
(sistem lokasi): kedua faktor tersebut menentukan hirarki
(hierarchy) tempat sentral.
Teori tempat sentral untuk sebagian bersifat positif karena
berusaha menjelaskan pola aktual arus palayanan jasa, dan
untuk sebagian lagi bersifat normatif karena berusaha
menentukan pola optimal distribusi tempat-tempat sentral.
Keduanya mempunyai kontribusi pada pemahaman interrelasi
spasial dan mengenai kota-kota sebagai sistem di dalam
sistem perkotaan. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan
kota, teori tempat sentral menyatakan bahwa fungsi-fungsi
pokok pusat kota adalah sebagai pusat pelayanan bagi
wilayah komplementernya (wilayah belakangnya), yaitu
mensuplai barang-barang dan jasa-jasa sentral seperti jasajasa perdagangan, perbankan, professional, pendidikan,
hiburan dan kebudayaan, dan jasa-jasa pemerintah kota.

Inti pokok teori tempat sentral adalah menjelaskan model


hirarki perkotaan (urban hierarchy) yaitu pertumbuhan hirarki
kota dan ketergantungan antara pusat-pusat kota dan
wilayah-wilayah di sekitarnya.
4. TEORI KERUCUT PERMINTAAN (AUGUST LOSCH)
August Losch telah mengetengahkan suatu model
keseimbangan regional spasial. Ia termasuk yang pertama
menguraikan prinsip-prinsip dasar analisis spasial dan
menginterprestasikan
ekonomi
spasial
dalam
pasar
persaingan monopolistik. Dimana dalam teori ini ditunjukkan
perbedaan-perbedaan antara model Losch dengan model Von
Thunen yang meskipun begitu baik Losch maupun Von
Thunen dalam teorinya menjelaskan tentang interdenpendasi
antara kota dengan daerah-daerah belakangannya, dimana
terdapat arus memusat ke kota-kota dan arus menyebar ke
daerah-daerah belakang. Kemudian teori Losch ini merupakan
perluasan dari teori tempat sentral yang diformulasikan oleh
Christaller.
Dalam mengembangkan modelnya Losch menggunakan
beberapa asumsi, yaitu:
1. Tidak terdapat variasi dalam biaya dan tidak ada
perbedaan-perbedaan
spasial
dalam
sumberdaya,
termasuk tenaga kerja dan modal di seluruh wilayah
(wilayah dianggap homogin) sehingga perusahaan dapat
ditempatkan di mana saja.
2. Penduduk tersebar merata, kepadatan dianggap uniform,
cita rasa konstan, dan perbedaan pendapatan diabaikan,
sehingga dapat dijelaskan bahwa permintaan mempunyai
korelasi negatif terhadap jarak secara langsung, hal ini
berarti semakin jauh jaraknya dari lokasi pabrik, maka
jumlah permintaan menjadi semakin berkurang.
3. Untuk suatu industri baru atau sebuah perusahaan yang
ditempatkan di daerah non industri tidak menimbulkan
kesulitan, akan tetapi hal ini tidak relevan bagi perusahaan
yang menempatkan lokasinya di daerah industri yang
sudah sangat maju, dimana lokasi dan kegiatan
perusahaan yang sudah ada sangat berpengaruh.
Penentuan wilayah pasar dan kerucut permintaan
dijelaskan jika cara hidup petani adalah sama, maka kurva

permintaan seorang petani dianggap dapat mewakili untuk


semua petani. Menurut Losch terdapat tiga jenis wilayah
ekonomi, yaitu wilayah pasar sederhana, jaringan wilayah
pasar dan sistem wilayah pasar. Wilayah pasar individual
tersebut nampaknya sangat sederhana dan sangat
tergangtung pada perdagangan, sedangkan sistem wilayah
pasar sangat kompleks, walaupun merupakan bentuk ideal
yang menekankan pada swasembada, akan tetapi sulit
dijumpai dalam kenyataannya. Kenyataan menunjukkan
bahwa banyak komoditas diproduksikan dan diperdagangkan
mencapai diluar lingkup sistem, maka terjadilah wilayahwilayah suatu Negara.
Antara wilayah sederhana dan sistem regional lengkap
terdapat jaringan trayek transport menghubungkan kota-kota
dalam pengertian pusat sentral. Walapun jaringan dan
daerah-daerah produksi dan konsumsi sudah nyata, akan
tetapi perlu dibedakan dengan sistem wilayah. Sistem
wilayah merupakankesatuan dari banyak wilayah, merupakan
suatu organisme daripada sebagai suatu organ.
Teori Losch mempunyai beberapa keterbatasan. (1)
Sebagian besar keterbatasan berkaitan erat dengan asumsiasumsinya yang sangat sederhana. Dapat dimengerti bahwa
tanpa asumsi yang seragam, misalnya distribusi penduduk
merata secara spasial dan biaya yang sama di seluruh lokasi,
maka analisis akan sangat sulit dilakukan. Tetapi asumsiasumsi tersebut menimbulkan ketidakonsistenan, misalnya
antara distribusi penduduk yang uniform dan pola konsetrasi
hirarki kegiatan-kegiatan ekonomi. Konsetrasi terjadi di
sekeliling
pusat
atau
sebagai
konsekuensi
dari
bertumpangannya
jaringan
wilayah-wilayah
pasar.
Konsentrasi tersebut akan menyebabkan ekspansi penduduk
pada
pusat-pusat dan pengelompokan-pengelompokan
pembeli dapat membentuk wilayah-wilayah pasar secara
tidak
beraturan.
(2)
Analisis
Losch
meremehkan
penghematan-penghematan
aglomerasi
pada
produksi
industri khususnya dalam suatu industri tunggal dan tidak
menjelaskan secara komprehensif mengenai kehadiran titiktitik nodal dalam ekonomi tata ruang.
Sumbangan pemikiran teori Losch dalam pengembangan
wilayah dapat disebutkan yaitu wilayah-wilayah yang

membentuk sistem jaringan wilayah pasar diasosiasikan


sebagai wilayah ekonomi, pusat-pusat wilayah pasar yang
mempunyai kedudukan sebagai unit-unit produksi dapat
diinterpretasikan sebagai pusat-pusat urban, dan hubungan
antar pusat-pusat wilayah pasar dikaitkan dengan perumusan
tentang hirarki dan hubungan fungsional antar pusat-pusat
urban.
Adapun perbedaan model yang dikemukakan oleh Losch
dan Von Thunen. Losch menekankan pada kegiatan-kegiatan
sekunder yaitu lokasi produksi industri dimana wilayah
produksi industri berbentuk titik-titik (punctiform) dan lokasi
terbaik untuk konsumsi barang-barang industri adalah di
kota-kota. Sedangkan Von Thunen menitikberatkan sektor
pertanian yaitu lokasi produksi pertanian dimana wilayah
produksi pertanian merupakan daerah luas (areal) dan lokasi
terbaik untuk konsumsi bahan pangan diperlihatkan oleh
distribusi penduduk yang merata. Perbedaan lain antara
industri dan pertanian dapat ditunjukkan, yaitu industri
menjual
barang-barang
hasilnya
kepada
langgananlangganan di sekitarnya, sebaliknya hasil-hasil pertanian
dijual kepada para pembeli di kota-kota.
Teori Losch merupakan perluasan dari teori tempat sentral
yang diformulasikan oleh Christaller. Asumsi-asumsi yang
digunakan Losch hampir sama dengan asumsi yang
digunakan Christaller diantaranya: (1) wilayah model
merupakan dataran yang homogin, (2) penduduk dan tenaga
belinya tersebar merata di seluruh wilayah, serta (3) tidak
adanya keuntungan-keuntungan eksternal, Christaller dan
Losch menjelaskan susunan pusat-pusat secara spasial.
Meskipun begitu, tetap keduanya mempunyai perbedaan,
baik dalam lingkup dan cara pandang yang dikembangkan
dalam
masing-masing
modelnya.
(1)
Christaller
mengembangkan modelnya dari atas atau skala besar
(nasional) yaitu setiap wilayah perdagangan yang efisien
berbentuk segi enam (heksagonal) memiliki pusat: besar
kecilnya pusat-pusat tersebut adalah sebanding dengan
besar-kecilnya
masing-masing
wilayah
heksagonal.
Sedangkan Losch mengembangkan modelnya mulai dari
bawah yaitu wilayah spasial yang tersempit ruang
lingkupnya. Mula-mula wilayah perdangan berbentuk wilayah

pasar sederhana, kemudian berkembang menjadi suatu


jaringan wilayah pasar, dan akhirnya membentuk sistem
wilayah pasar. (2) Barang-barang yang digunakan dalam
model Losch termasuk dalam golongan barang-barang yang
dapat diangkut (transportable commodities), sedangkan
model Christaller menekankan pada jasa-jasa yang tidak
mobil (immobile service). (3) model Christaller menganalisis
susunan spasial baik dari segi mikro maupun dari segi makro.
Analisis dari segi mikro adalah mengenai distribusi produksi
barang-barang secara individual, dan analisis dari segi makro
menyangkut distribusi spasial dan distribusi aglomerasi.
Sedangkan model Losch tidak menganalisis susunan spasial
secara makro atau agregatif. Karya Losch bukan merupakan
susunan spasial yang overall, tetapi lebih merupakan model
lokasi spesialisasi spasial dan perdagangan barang-barang
individual daripada sebagai model susunan spasial secara
kebulatan.
Inti teori yang dikemukakan Christaller, pusat-pusat yang
lebih tinggi ordernya melayani pusat-pusat yang lebih rendah
oerdernya. Sedangkan inti teori yang dikemukakan Losch,
pusat-pusat yang lebih kecil melayani pusat yang lebih besar.
Bilamana Losch dikaitkan dengan Weber, maka dapat
dikemukakan tanggapan bahwa keduanya mempunyai nama
yang sangat menonjol dalam sejarah analisis lokasi. Meskipun
keduanya menekankan pada kegiatan sekunder, Weber
memberikan
tekanan
pada
faktor-faktor
biaya
dan
kemungkinan
aglomerasi.
Sedangkan
analisis
Losch
didasarkan pada asumsi biaya uniform, maka faktor-faktor
permintaan (analisis wilayah pasar) menentukan lokasi dan
distribusi produsen (yang berbentuk titik-titik pusat wilayah).
5. TEORI KUTUB PERTUMBUHAN (FRANCOIS PERROUX)
Francois Perroux menurut pendapatnya, pertumbuhan
ataupun pembangunan tidak di lakukan di seluruh tata
ruang, tetapi terbatas pada beberapa tempat atau lokasi
tertentu. Tata ruang di identifikasikanya sebagai arena atau
medan kekuatan yang di dalamnya terdapat kutub-kutub atau
pusat-pusat. Setiap kutub mempunyai kekuatan pancaran
pengembangan keluar dari kekuatan tarikan kedalam. Teori
ini menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi dan

khususnya mengenai perusahaan-perusahaan dan industriindustri serta saling ketergantungannya, dan bukan mengenai
pola geografis dan pergeseran industri baik secara intra
maupun secara inter, tetapi pada dasarnya konsep kutub
pertumbuhan mempunyai pengertian tata ruang ekonomi
secara abstrak.
Istilah kutub (pole) dan polarisasi menurut ahli-ahli
Prancis, suatu kutub berarti suatu pengelompokkan atau
konsentrasi unsur-unsur berarti suatu pengelompokan atau
konsentrasi unsur-unsur abstrak, tetapi juga dalam
pengertian tata ruang geografis, dengan demikian suatu
kutub kurang lebih menyerupai suatu puncak kepadatan pada
suatu dataran. Istilah polarisasi digunakan untuk menjelaskan
proses
terbentuknya,
perkembangannya,
dan
kemundurannya. Di lain pihak , menurut ahli-ahli Inggris
polarisasi di artikan sebagai keadaan di mana terdapat dua
kutub saja (yaitu kutub utara dan kutub selatan), sedangkan
menurut pengertian para ahli-ahli prancis mungkin saja
terdapat lebih dari dua kutub dalam waktu yang bersamaan.
Perroux menekankan pada dinamisme industri-industri
dan aglomerasi industri-industri di Bagian-bagian tata ruang
gografis. Secara esensial teori kutub pertumbuhan di
kategorisasikan sebagai teori dinamis. Proses pertumbuhan di
gambarkan sebagai keadaan yang tidak seimbang karena
adanya kesuksesan atau keberhasilan kutub-kutub dinamis.
Inti pokok dari pertumbuhan wilayah terletak pada inovasiinovasi yang terjadi pada perusahaan-perusahaan atau
industri-industri
berskala
besar
dan
terdapatnya
ketergantungan antar perusahaan atau industri.
Dalam kerangka dasar pemikiran Perroux , suatu tempat
merupakan suatu kutub pertumbuhan apabila di tempat
tersebut terdapat industri kecil yang memainkan peranan
sebagain pendorong yang dinamik kerena industri tersebut
mempunyai kemampuan untuk melakukan inovasi.
Istilah industri pendorong dan industri kunci agar
digunakan secara tepat. Industri pendorong adalah yang
mempunyai pengaruh penting terhadap kegiatan-kegiatan
pada industri-indusri lainnya, baik sebagai pensuplai atau
langganan untuk barang-barang atau jasa-jasa, sedangkan
industri kunci adalah industri yang menentukan peningkatan

aktivitas
maksimum.
Industri
pendorong
mempunyai
kemampuan menciptakan dorongan pertumbuhan yang kuat
dan mampu menggerakkannya kepada industri-industri lain
yang berbeda dalam lingkungannya. Jadi faktor utama dalam
ekspansi regional adalah interaksi antar industri-industri kunci
yang merupakan pusat nadi dari kutub pertumbuhan. Kutub
pertumbuhan bukan hanya merupakan lokalisasi dari industri
kunci semata-mata, tetapi kutub pertumbuhan harus juga
mendorong ekspansi yang luas di daerah sekitarnya, oleh
karena itu dampak polarisasi pada umumnya lebih menonjol
dibandingkan dengan keterhubungan antar industri.
Konsep kutub pertumbuhan merupakan suatu konsep
yang sangat menarik bagi para perencanaan wilayah.
Persoalan utama yang dihadapi dalam penerapan konsep
tersebut adalah pemilihan industri kunci atau industri yang
menonjol (leading industry) sebagai penggerak dinamika
pertumbuhan. Suatu kompleks industri yang harus
diperhatikan yaitu mengidentifikasikan ketergantungan di
antara kegiatan-kegiatan ekonomi dan persoalan proses
pemindahan pertumbuhan, serta dimensi lokasional dan
geografis dari kegiatan-kegiatan tersebut.
Penafsiran secara fungsional menggambarkan kutub
pertumbuhan itu sebagai suatu kelompok perusahaan,
cabang
industri,
atau
unsur-unsur
dinamik
yang
meningkatkan kehidupan ekonomi. Dalam hal ini tidak terikat
pada daerah geografis, yang penting adalah adanya
permulaan dari serangkaian perkembangan dengan dampak
pertumbuhan sesungguhnya, lebih banyak merupakan daya
tarik, yang mengundang berbagai kegiatan tertarik
menempatkan usahanya di suatu tempat tanpa adanya
interaksi atau keterkaitan antara usaha-usaha tersebut. Hal
ini tidak berarti bahwa kutub pertumbuhan secara fungsional
tidak
mempunyai
pengaruh
atau
akibat
terhadap
perkembangan geografis. Perroux sesungguhnya belum
memberikan perhatian yang mendasar mengenai dimensi
tata ruang, ia lebih menekankan penelaan tentang gejala
aglomerasi pertumbuhan secara teritorial.
Tiga ciri penting dari konsep kutub pertumbuhan dapat
dikemukakan, yaitu: (a) terdapat keterkaitan internal antara

berbagai industri secara teknik dan ekonomi, (b) terdapat


pengaruh multiplier, dan (c) terdapat konsentrasi geografis.
Teori tempat sentral dan teori kutub pertumbuhan samasama menekankan pentingnya peranan pusat nodal, tetapi
keduanya berbeda dalam cara pandangnya. Menurut
Christaller yang menopang pertumbuhan sesuatu tempat
sentral adalah wilayah pelayanannya, sedangkan menurut
Perroux yang menopang pertumbuhan wilayah pengaruh
adalah kutub pertumbuhan. Perbedaan lainnya, teori tempat
sentral menggunakan metode deduktif dan mendasarkan
teori keseimbangan statik dari perusahaan-perusahaan,
sedangkan teori kutub pertumbuhan menggunakan metode
induktif dan merupakan suatu analisis yang dinamik
berdasarkan pada industri-industri secara makro agregat.
Teori tempat sentral hanya menjelaskan mengenai
pengelompokkan pada tata ruang geografis, sedangkan teori
Perroux lebih berkenaan dengan pembahasan mengenai
perubahan-perubahan struktural pada tata ruang industri
daripada menganalisis pengelompokkan pada tata ruang
geografis dan aspek-aspek pembangunan
Namun teori kutub pertumbuhan Perroux ini menuai
beberapa kritikan, diantaranya: (1) kenyataan menunjukkan
bahwa besarnya suatu industri secara tersendiri tidak cukup
menjamin keberhasilan pertumbuhan ekonomi, (2) peranan
industri pendorong seringkali ditafsirkan terlalu berlebihan,
dan (3) teori kutub pertumbuhan tidak memberikan
penjelasan yang memuaskan mengenai proses aglomerasi.
6. TEORI KUTUB PEMBANGUNAN YANG TERLOKALISASIKAN (BOUDEVILLE)
Boudeville menampilkan teori kutub pembangunan yang
terlokalisasikan (localized poles of development). Mengikuti
pendapat Perroux, ia mendefinisikan kutub pertumbuhan
wilayah sebagai seperangkat industri-industri sedang
berkembang yang berlokasi di suatu daerah perkotaan dan
mendorong pertumbuhan lebih lanjut perkembangan ekonomi
melalui wilayah pengaruhnya.
Teori Boudeville dapat dianggap sebagai pelengkap
terhadap teori-teori tempat sentral, yang diketengahkan oleh
Christaller dan kemudian diperluas oleh Losch, atau dapat
dikatakan bahwa teori Boudeville telah menjembatani

terhadap teori-teori spasial yang terdahulu, yang menekuni


persoalan-persoalan organisasi kegiatan-kegiatan manusia
pada tata ruang.
Teori Boudeville berusaha menjelaskan mengenai impak
pembangunan dari adanya kutub-kutub pembangunan yang
terlokalisasikan pada tata ruang geografis, sedangkan teori
lokasi berusaha untuk menerangkan dimana kutub-kutub
pembangunan fungsional berada atau dimana kutub-kutub
tersebut dilokalisasikan pada tata ruang geografis pada
waktu yang akan datang.
Teori Boudeville merupakan teori kutub pertumbuhan
yang telah dimodifikasi, dan dapat digunakan untuk
menganalisis gejala-gejala dinamis tersebut. Teori Boudeville
adalah berdasarkan teori pembangunan dinamis yang
menggunakan cara induktif dan berkenan dengan tingkat
industri-industri dan besaran makro.
Pengelompokkan pada tata ruang geografis telah
diperlihatkan dalam model tempat sentral. Selanjutnya oleh
Boudeville
pengelompokkan
ini
diterapkan
pada
pembangunan dalam arti fungsional, sedangkan difusi
(penghamburan)
pembangunan tata
ruang geografis
diterapkan pada pembangunan dalam tata ruang melalui tipe
transformasi.
Teori Boudeville meupakan alat yang ampuh untuk
menjelaskan tidak hanya mengenai pengelompokkan
geografis semata-mata, akan tetapi juga mengenai peristiwaperistiwa geografis dan transmisi pembangunan di antara
pengelompokkan-pengelompokkan yang bersangkutan.
Implikasi penting dari hubungan antara teori Boudeville
dan teori tempat sentral dalam konteks perencanaan dan
pengawasan pembangunan yang dihadapi oleh banyak
Negara dapat dikemukakan dua persoalan yang relevan, yaitu
(1) bagaimana merintis proses pembangunan di wilayahwilayah yang terbelakang secara terus-menerus. Persoalan ini
merupakan salah satu usaha mengarahkan pengaruhpengaruh pembangunan dari instalasi-instalasi yang didirikan
pada unit-unit di wilayah terbelakang tersebut ke tempattempat tertentu di sekitarnya. (2) bagaimana mengarahkan
proses urbanisasi sedemikian rupa dapat diciptakan distribusi
pusat-pusat kota secara geografis yang mampu mendorong

pembangunan selanjutnya. Persoalan yang kedua pada


dasarnya merupakan usaha pemilihan lokasi yang tepat atau
cocok untuk pendirian perusahaan-perusahaan industri dan
jasa.
7. TEORI DAMPAK TETESAN KE BAWAH DAN POLARISASI (HIRSCHMAN) SERTA
DAMPAK PENYEBARAN DAN PENGURASAN (MYRDAL)
Albert O. Hirschman adalah seorang penganjur teori
pertumbuhan tidak seimbang (unbalanced growth). Secara
geografis, pertumbuhan ekonomi pasti tidak seimbang.
Dalam proses pertumbuhan tidak seimbang selalu dapat
dilihat bahwa kemajuan di suatu tempat (titik) menimbulkan
tekanan-tekanan, ketegangan-ketegangan, dan dorongandorongan kearah perkembangan pada tempat-tempat (titiktitik) berikutnya. Hirschman menyadari bahwa fungsi-fungsi
ekonomi berbeda tingkat intesitasnya pada tempat-tempat
originalnya sebelum disebarkan ke berbagai tempat lainnya.
Ia menggunakan istilah titik pertumbuhan (growing point)
atau pusat pertumbuhan (growing centre) dan bukan kutub
pertumbuhan (growth pole) seperti yang dipakai oleh Perroux
dan ahli-ahli Perancis lainnya.
Antara
pusat
dan
daerah
belakang
terdapat
ketergantungan dalam suplai barang dan tenaga kerja.
Pengaruh polarisasi yang paling hebat adalah migrasi
penduduk ke kota-kota besar (urbanisasi) akan dapat
mengabsorsikan tenaga kerja yang terampil dan di lain pihak
akan mengurangi pengangguran tidak kentara di daerah
belakang. Hal ini tergantung pada tingkat komplementaritas
antara dua tempat tersebut.
Jika
komplementaritas
kuat
akan
terjadi
proses
penyebaran pembangunan ke daerah-daerah belakang
(trickling down effect), dan sebaliknya jika komplementaritas
lemah akan terjadi dampak polarisasi (polarization effect).
Jika polarisasi lebih kuat dari dampak penyebaran
pembangunan maka akan timbul masyarakat dualistik, yaitu
selain memiliki ciri-ciri daerah perkotaan modern juga
memiliki ciri-ciri daerah perdesaan terbelakang. Walaupun
terlihat suatu kecenderungan yang suram, namun Hirschman
optimis dan percaya bahwa pada akhirnya pengaruh trickling
down akan mengatasi pengaruh polarisasi.

Dalam
jangka
panjang
penghematan-penghematan
eksternal dan tersedianya komplementaris di pusat-pusat
akan menjamin penyebaran pembangunan ke daerah-daerah
di sekitarnya.
Myrdal berdasarkan kerangka konseptual yang serupa
mengenai struktur titik-titik pertumbuhan dan daerah-daerah
belakang, menggunakan istilah backwash effect dan spread
effect yang artinya persis serupa dengan dampak polarisasi
dan dampak trickling down. Namun demikian, dalam hal
penekanan pembahasan dan kesimpulan-kesimpulan terdapat
perbedaan yang cukup besar. Ia berpendapat bahwa
polarisasi akan muncul lebih kuat daripada penyebaran
pembangunan, perpindahan faktor-faktor produksi akan
menumpuk di daerah-daerah perkotaan yang memberikan
manfaat-manfaat kepadanya, dan sebaliknya di daerahdaerah perdesaan yang tidak menguntungkan akan menipis.
Pusat pemikiran Myrdal pada mekanisme kausasi
kumulatif menyebabkan ia tidak dapat melihat dengan jelas
timbulnya kekuatan-kekuatan yang menimbulkan suatu titik
balik apabila perkembangan ke arah polarisasi di suatu
wilayah sudah berlangsung untuk beberapa waktu. Kausasi
sirkuler
kumulatif
selalu
menghasilkan
penyebaran
pembangunan yang lemah dan ketidakmerataan, atai dapat
dikatakan bahwa migrasi akan memperbesar ketimpangan
regional.
Berdasarkan
pada
perbedaan
pandangan,
maka
kebijaksanaan perspektif yang dianjurkan oleh Hirschman dan
Myrdal berbeda pula. Hirschman menyarankan agar
membentuk lebih banyak titik-titik pertumbuhan supaya
dapat
menciptakan
pengaruh-pengaruh
penyebaran
pembangunan yang efektif, sedangkan Myrdal menekankan
pada langkah-langkah kebijaksanaan untuk melemahkan
backwash effect dan memperkuat spread effects agar proses
kausasi sirkuler kumulatif mengarah ke atas, dengan
demikian semakin memperkecil ketimpangan regional.
Konsep dampak tetesan ke bawah atau trickling down
effect yang diformulasikan oleh Hirschman telah diterima dan
ditetapkan di banyak Negara termasuk Indonesia.
Konsep trickling down effect perlu diperbaiki terutama
untuk Negara-negara berkembang dimana pusat-pusat

perkembangan (kota-kota) jumlahnya relatif banyak tetapi


besarnya dan kemampuannya pada umumnya masih relatif
rendah dan lemah. Dalam hubungan ini, Rahardjo Adisasmita
mengintroduksikan konsep Suntikan kepada Wilayah
Pengaruh (Injection to influence region) sebagai konsep
tandingan (counter concept) terhadap konsep trickling down
effect (Hirschman).
Konsep suntikan kepada wilayah pengaruh menggunakan
pendekatan keterkaitan fungsional antara pusat dan wilayah
pengaruhnya, akan tetapi dalam arah sebaliknya, jika ingin
meningkatkan pembangunan suatu pusat atau urban sebagai
pusat pelayanan atau pusat perkembangan, janganlah arah
dan penyediaan anggaran pembangunan difokuskan kepada
daerah urban, tetapi sebaliknya agar memperhatikan kepada
daerah urban, tetapi sebaliknya agar memperhatikan kepada
daerah sekitarnya yang menjadi wilayah pengaruhnya,
dengan melakukan injeksi investasi pada berbagai proyek
pembangunan.
Dengan berhasilnya pembangunan di wilayah pengaruh
surplus komoditas hasil produksi akan dipasarkan ke daerah
perkotaan untuk memenuhi konsumsi penduduk atau
digunakan sebagai bahan baku industri di daerah perkotaan,
ataupun di kirim ke pasar nasional antar Negara, hal ini akan
memberikan dampak pengembangan, perluasan dan
peningkatan berbagai usaha produktif di daerah perkotaan.
Jadi baik wilayah pengaruh maupun pusat pelayanan
keduanya memperoleh dampak keberhasilan pembangunan.
Kota-kota memiliki fasilitas pelabuhan, berbagai kemudahan
dan mempunyai peluang yang lebih besar untuk
memanfaatkan strategi suntikan wilayah pengaruh.
8. TEORI MASUKAN TRANSPOR (WALTER ISARD)
Walter Isard dalam teori lokasi membahas aspek-aspek
orientasi transport. Isard memformulasikan pemikirannya
dalam sebuah model lokasi optimum. Isard menyadari bahwa
biaya transport merupakan determinan utama untuk
menentukan lokasi suatu industri, akan tetapi bukan satusatunya. Ia membahas gejala aglomerasi terutama di kotakota besar, telah mengetengahkan pentingnya penghematan
urbanisasi, yang merupakan salah satu manfaat aglomerasi.

Model Isard lebih fleksibel karena analisinya di anggap


dapat mengakomodasikan struktur biaya transport secara
lebih realistik. Konsep dasar yang di gunakan dalam analisis
Isard adalah masukan transpor (transport input). Masukan
transport di artikan sebagai perpindahan suatu berat unit
atas jarak unit. Berat unit di lukiskan sebagai garis
transformasi (transportmation line). Jarak unit di lukiskan
sebagai garis perbandingan harga (price ratio line) atau
perbandingan transport relatif (relative transport ratio). Jadi
masukan transpor dapat di nyatakan dalam ton-mil. Masukan
transport berkaitan dengan besarnya usaha (man-haurs)
untuk melakukan perpindahan melalui tata ruang.
Dengan bantuan garis transformasi ditunjukan bagaimana
dengan perubahan lokasi dapat disubtitusikan masukan
transport suatu barang (bahan mentah) dengan masukan
transport barang lainnya (produk akhir).
Walaupun model ini dikatakan sederhana, akan tetapi
Isard telah memberikan sumbangan pemikiran yang
bermanfaat, yaitu mengkaitkan analisis lokasi yang
berorientasi pada transportasi dengan teori produksi
tradisional. Dengan menerapkan masukan transport dalam
fungsi transformasi perusahaan, hal ini berarti menambah
dimensi tata ruang ke dalam teori produksi. Sumbangan
pemikiran Isard lainnya yaitu, Ia telah mengintroduksikan
analisis kompleks industri (industrial complex). Dimana
kompleks industri didefinisikan sebagai suatu perangkat
kegiatan-kegiatan
pada suatu lokasi spesifik yang
mempunyai saling keterhubungan secara teknis dan produksi.
Industri-industri
dapat
bekerja
secara
optimal
bila
berkelompok bersama-sama secara tata ruang daripada
mereka melayani sendiri perdagangan yang meliputi daerah
yang luas.
Meskipun suatu kompleks industri tidak mempunyai suatu
industri pendorong seperti yang di katakan pada teori kutub
pertumbuhan, akan tetapi kompleks industri memberikan
perhatian sama pentingnya pada keuntungan-keuntungan
aglomerasi atau konsentrasi tersebut akan menimbulkan
keuntungan-keuntungan,
yaitu
penghematan
skala,
penghematan lokalisasi, dan penghematan aglomerasi.

Penghematan skala, produksi dengan skala besar berarti


dapat membagi beban biaya-biaya tetap pada unit-unit yang
terdapat dalam sistem produksi, dengan demikian unit biaya
produksi dapat ditekan lebih rendah, sehingga perusahaan
tersebut mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan
lainnya.
Penghematan
lokalisasi,
berkelompok
atau
terkonsentrasinya perusahaan-perusahaan dalam suatu
industri yang sejenis pada suatu georafis tertentu misalnya di
daerah-daerah perkotaan akan menciptakan penghematanpenghematan yang dinikmati secara luas oleh semua
perusahaan yang termasuk dalam industri tersebut, dan
selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan kota-kota yang
bersangkutan.
Penghematan
urbanisasi
diasosiasikan
dengan
pertambahan dalam jumlah penduduk (urbanisasi), industri,
pendapatan, dan kemakmuran di suatu daerah urban.
Penghematan ini mengkaitkan kegiatan-kegiatan industriindustri dan dan sektor-sektor secara agresif. Misalnya,
berbagai kegiatan perkotaan yang sangat ditentukan oleh
manajemen yang kreatif dan tenaga kerja yang terampil,
dalam hal ini terdapat resiko bila menempatkan kegiatan
tersebut di suatu daerah perkotaan yang relatif kecil.
Isard menjelaskan hubungan saling ketergantungan dari
kegiatan-kegiatan ekonomi dalam pengertian penghematan
dan pemborosan aglomerasi. Pembahasan ini di kembangkan
sampai pada struktur hirarkis spasial regional. Sebuah urban
metropolis (orde pertama) mempunyai hubungan kebawah
dengan beberapa kota besar (orde ke dua), sebuah kota
besar mempunyai hubungan ke bawah dengan beberapa
kota-kota yang lebih kecil (orde ketiga), demikian seterusnya
dengan nodal-nodal yang mempunyai orde yang lebih
rendah.
9. MODEL DAN TEORI HOOVER (E. M. HOOVER)
E.M Hover dalam teorinya menekankan pentingnya
peranan biaya transport dalam pemilihan lokasi industri.
Hoover membedakan biaya transport yaitu biaya transport
bahan baku yang selanjutnya disebut procurement cost dan
biaya transport produk akhir yang disebut sebagai

distribution cost. Jumlah procurement cost ditambah


distribution cost sama dengan total transfer cost. Disamping
itu Hoover juga mengintroduksikan modelnya tentang
korelasi tingkat biaya transport dan jarak yang ditempuh
menurut beberapa moda (sarana) transport yaitu truk kereta
api dan kapal laut. Seperti pada gambar Tingkat biaya
transport menurut beberapa moda transport dibawah
ini:

Truk

Kereta api

Tingkat
Biaya
Transport
Kapal laut

Jarak

Dari gambar diatas dapat diliahat bahwa tingkat biaya


transport untuk sarana truk (angkutan jalan raya)
menunjukan bahwa untuk jarak pendek, tingkat biaya
transportnya adalah terendah tetapi untuk jarak jauh adalah,
tertinggi dibandingkan dengan kedua jenis sarana transport
lainnya yaitu kereta api dan kapal laut sedangkan tingkat
biaya transport untuk kapal laut menunjukan yang tertinggi
untuk jarak dekat tetapi terendah untuk jarak jauh di
bandingkan sarana transport truk dan kereta api.
Mengenai pemilihan lokasi industri, Hoover membedakan
antara transportasi bahan baku dan produk akhir yang
dilakukan oleh (1) satu jenis sarana angkutan dan (2) yang
dilakukan oleh lebih dari satu jenis sarana angkutan.
Menurut
istilah
Poernomosidi
Hadjisarosa
yang
mengintroduksikan teori simpul jasa distribusi, pemilihan
lokasi menguntungkan dititik pindah muat ataupun

mendekati pasar (konsumen) akan mendorong kelompoknya


industri dan berbagai kegiatan usaha di daerah-daerah
perkotaan atau pusat-pusat jasa distribusi atau simpul-simpul
jasa distribusi akan menikmati berbagai kemudahan yang di
artikan sebagai kesempatan untuk memenuhi berbagai
kebutuhan untuk melakukan kegiatan usaha. Menurut istilah
Weber, semakin tinggi tingkat kemudahan pada suatu
tempat, berarti semakin kuat daya tariknya mengundang
berbagai kegiatan industri untuk datang ke tempat tersebut,
atau terjadi kecenderungan aglomerasi.
Aglomerasi
menimbulkan
keuntungan
berupa
penghematan (kehematan) aglomerasi dengan terjadinya
aglomerasi
dan
penghematan
lokasional
karena
berkelompoknya industri yang sejenis pada suatu lokasi
tunggal tertentu. Jika kegiatan-kegiatan industri dan sektorsektor
lain
secara
agregatif
diperkaitkan
dengan
pengembangan penduduk di perkotaan, akan menimbulkan
keuntungan
urbanisasi.
Gejala
aglomerasi
lokasional
kemudian diperluas oleh Hoover terutama dikaitkan dengan
keuntungan-keuntungan urbanisasi (urbanization economies)
yang ditimbulkan aglomerasi yang dibedakan dengan
keuntungan lokalisasi (localization economies).
10. TEORI DAERAH/WILAYAH INTI (JOHN FRIEDMANN)
John Friedman menganalisis aspek-aspek tata ruang lokasi
serta persoalan-persoalan kebijaksanaan dan perencanaan
pengembangan wilayah dalam ruang lingkup yang general.
Disekitar daerah inti terdapat daerah daerah pinggiran
atau periphery regions. Daerah-daerah pinggiran seringkali
disebut pedalaman atau daerah-daerah sekitarnya.
Pengembangan dipandang sebagai proses inovasi
diskontinu tetapi komulatif yang berasal pada sejumlah kecil
pusat-pusat perubahan yang terletak pada titik interaksi yang
mempunyai potensi interaksi tinggi. Pembangunan inovatif
cenderung menyebar kebawah dan keluar dari pusat pusat
tersebut ke daerah yang mempunyai potensi interaksi yang
lebih rendah.
Pusat-pusat besar pada umumnya berbentuk kota-kota
besar, metropolis, atau megalopolis, dikategorisasikan
sebagai daerah-daerah inti dan daerah-daerah yang relatif

statis
sisanya
merupakan,
subsistem-subsistem
dan
kemajuan pembangunannya ditentukan oleh lembagalembaga di daerah inti dalam arti bahwa daerah-daerah
pinggiran
berada
dalam
suatu
hubungan
yang
ketergantungan yang subtansial. Daerah inti dan wilayah
pinggiran bersama-sama membentuk sistem spasial yang
lengkap.
Pada umumnya daerah-daerah inti melaksanakan fungsi
pelayanan terhadap-terhadap daerah-daerah disekitarnya.
Beberapa daerah inti memperlihatkan fungsi yang khusus,
misalnya sebagai pusat perdagangan atau pusat industri, ibu
kota pemerintah dan sebagainya.
Sehubungan dengan peranan daerah inti dalam
pembangunan spasial, Friedmann mengemukakan 5 buah
preposisi utama yaitu sebagai berikut:
1. Daerah inti mengatur keterhubungan dan ketergantugan
daerah-daerah disekitarnya melalui suplai, pasar dan
daerah administrasi.
2. Daerah inti meneruskan sebagai sistematis dorongandorongan inovasi ke daerah-daerah disekitarnya yang
terletak dalam wilayah pengaruhnya.
3. Sampai pada suatu titik tertentu pertumbuhan daerah inti
cenderung mempunyai pengaruh positif dalam proses
pembangunan sistem spasial, akan tetapi mungkin pula
mempunyai
pengaruh
negatif
jika
penyebaran
pembangunan inti kepada daerah-daaerah disekitarnya
tidak berhasil ditingkatkan, sehingga keterhubungan dan
ketergantungan daerah-daerah disekitarnya terhadap
daerah inti menjadi berkurang.
4. Dalam sistem spasial, hirarki daerah-daerah inti ditetapkan
berdasar pada kedudukam fungsionalnya masing-masing
meliputi karakteristik-karakteristiknya secara terperinci dan
prestasinya.
5. Kemunngkinan inovasi akan ditingkatkan keseluruh daerah
sistem spasial degan cara mengembangkan pertukaran
informasi.
Meskipun hubungan daerah inti-daerah pinggiran sebagai
kerangka
dasar
kebijaksanaan
dan
perencanaan
pembangunan regional danggap kasar dan sederhana, akan
tetapi dapat digunakan untuk menjelaskan keterhubungan

dan ketergantungan antara pusat dan daerah-daerah


sekitarnya.
Kemudian
Friedmann
bersama
Alonso
mengembangkan klasifikasi daerah inti dan daerah-daerah
pinggiran menjadi daerah metropolitan (Metropolitan Region),
Poros pembangunan (Deveplopmant Accses), darerah
perbatasan (Frontier Region) dan daerah tertekan (Depressed
Region).
Secara esensial hubungan antara daerah metropolitan
dengan daerah-daerah perbatasan tidak berbeda dengan
hubungan antara daerah inti dengan daerah-daerah
pinggiran. Poros pembangunan merupakan perluasan dari
daerah metropolitan dan sebagai bentuk embrio untuk
berkembang menjadi megapolis. Wilayah perbatasan
termasuk dalam kategori daerah pinggiran dan didalamnya
terdapat pusat-pusat kecil yang mempunyai potensi
berkembang menjadi pusat-pusat yang lebih besar pada
masa depan.
Dari klasifikasi diatas dapat diperoleh pelajaran yang
bermanfaat,
yakni
suatu
kebijaksanaan
nasional
pengembangan wilayah harus menyadari bahwa masalahmasalah dan metoda pembangunan adalah berbeda-beda
untuk setiap wilayah, selain daripada itu perubahanperubahan ekonomi dan pembangunan pada umumnya yang
terjadi
diseluruh
jenis
wilayah
yang
mempunyai
ketergantungan satu sama lainnya.
Friedmann memberikan perhatian penting pada daerah
inti sebagai pusat pelayanan dan pusat pengembangan.Teoriteori tersebut tidak membahas masalah pemilihan lokasi
optimum industri dan tidak pula menentukan jenis investasi
apa yang sebaiknya di tetapkan pusat-pusat urban, oleh
karena itu mereka diklasifikasikan sebagai tanpa tata ruang.
Walaupun demikian disadari bahwa pusat-pusat urban
walaupun demikian bahwa pusat-pusat urban mempunyai
peranan yang dominan yaitu memberikan pancaran
pengembangan ke wilayah-wilayah disekitarnya: daerah inti
mempunyai daya pengikat yang kuat untuk mewujudkan
integrasi spasial sistem sosial, ekonomi suatu bangsa.
Dampak negatif yaitu munculnya susunan-susunan
ketergantungan dualistik menimbulkan akibat-akibat yang
mendalam bagi pembangunan nasional.

Memperlihatkan kelemahan-kelemahan diatas maka


Friedmann menganjurkan pembentukan agropolis-agropolis
atau kota-kota diladang. Hal ini tidak mendorong perpindahan
penduduk desa ke kota-kota besar tetapi mendorong mereka
untuk tetap tinggal ditempat mereka semula. Dengan
pembangunan agropolitan bistricts, pertentangan abadi
antara kota di desa dapat diredakan terutama di negaranegara berkembang.
Menurut Friedmann, kunci bagi pembangunan kawasan
agropolitan yang berhasil ialah memperlakukan tiap-tiap
kawasan sebagai satuan tunggal dan terintegrasi: kawasan
agropolitan merupakan suatu konsep yang tepat untuk
membuat suatu kebijaksanaan pembangunan tata ruang
melalui desentralisasi perencanaan dan pengambilan
keputusan.
Friedmann
telah
mengembangkan
teori
kutub
pertumbuhan
dalam
sistem
pembangunan
yang
diselenggarakan berdasarkan atas desentralisasi yang
terkonsentrasikan (Concentrated Decentralization) atau
sistem dekonsentrasi.
Ciri-ciri kawasan agropolitan seperti yang dianjurkan
Friedmann mirip dengan kota-kota (ibu kota-ibu kota
kabupaten yang berpenduduk 50.000 orang kebawah.
Kebijaksanaan perspektif yang dianjurkan oleh Hirschman
dan Friedmann adalah: (1) menganjurkan pembentukan lebih
banyak titik-titik pertumbuhan dan (2) merangkai pusat-pusat
agropolitan menjadi suatu jaringan pusat yang serasi secara
regional.
11. TEORI SIMPUL JASA DISTRIBUSI MENGGUNAKAN PENDEKATAN ARUS
BARANG (POERNOMOSIDI HADJISAROSA)
Sebelum membahas teori simpul jasa distribusi secara
komprehensif, maka perlu dijelaskan lebih dahulu tentang
tujuan pengembangan wilayah nasional untuk memperoleh
gambaran yang utuh mengenai Apa Mengapa dan
Bagaimana memahami teori simpul jasa distribusi. Menurut
Poernomosidi Hadjisarosa yang mengembangkan teori ini,
pengembangan wilayah nasional mempunyai tujuan-tujuan
sebgai berikut :

1. Mewujudkan keseimbangan antara daerah dalam hal


tingkat pertumbuhannya.
2. Memperkokoh kesatuan ekonomi nasional.
3. Memelihara efisiensi pertumbuhan nasional.
Ketiga tujuan tersebut saling berkaitan dan berkelakuan
searah. Satu diantara ketiga tujuan tersebut merupakan titik
sentral yakni keseimbangan antar daerah dalam hal tingkat
pertumbuhannya. Keseimbangan antara daerah, selain
memenuhi tuntutan keadilan sosial, juga memungkinkan
berlangsungnya perdagangan antar daerah yang berimbang.
Perdagangan yang berimbang adalah perdagangan yang
efisien. Perdagangan yang efisien, mendorong semakin
intensifnya antar daerah. Pedagangan antar daerah yang
intensif merangsang timbulnya Spesialisasi Daerah, yang
berarti pula membuka kesempatan yang lebih besar lagi bagi
masing-masing untuk berkembang.
Perdagangan yang berpijak pada spesialisasi daerah
merupakan dasar bagi pertumbuhan nasional yang efisien.
Dengan demikian usaha untuk memelihara pertumbuhan
nasional yang efisien jelas sejalan dengan terwujudnya
keseimbangan antar daerah.
Dengan berpijak pada tujuan mewujudkan keseimbangan
antar daerah, akan dapat dicapai 2 tujuan penting lainnya,
yaitu
kokohnya
kesatuan
ekonomi
nasional
dan
terpeliharanya pertumbuhan nasional yang efisien .
Teori ini berpijak pada hasil pengenalan atas faktor
penenentu lokasi kemudahan. Dalam pengertian ini
kemudahan menempati kedudukan yang sentral karena :
1. Merupakan sumber dorongan bagi pengembangan kegiatan
usaha yang bersifat multi sektoral.
2. Disamping memberikan arti pada pendapatan dianggap
pula sebagai sumber rangsangan bagi tumbuhnya
dinamika masyarakat yang memungkinkan terwujudnya
daya pengembangan wilayah yang universal sifatnya.
Poernomosidi menekankan pula pentingnya peranan
pusat-pusat dan selanjutnya di identifikasikannya sebagai
simpul-simpul jasa distribusi. Menurut pendapatnya, peranan
jasa distribusi mempunyai peranan yang sangat penting
dalam
kehidupan
dalam
kehidupan
manusia
dan
pembangunan secara fisik. Oleh karena itu perlu dikaji

tentang ciri-ciri dan tingkah laku jasa distribusi, terutama


dalam kaitannya dengan proses perkembangan wilayah,
terbentuknya simpul-simpul dan satuan-satuan wilayah
pengembangan wilayah.
Dalam
garis
besarnya
Poernomosidi
menjelaskan
kosnsepsinya:
berkembangnya
wilayah
ditandai
oleh
terjadinya pertumbuhan atau perkembangan sebagai akibat
berlangsungnya berbagai kegiatan usaha, baik sektor
pemerintah maupun sektor swasta yang pada dasarnya
bertujuan
untuk
meningkat
pemenuhan
kebutuhan.
Berlangsungnya kegiatan usaha tersebut ditunjang oleh
pertumbuhan modal serta pengembangan sumberdayasumberdaya tersebut berlangsung sedemikian sehingga
menimbulkan arus barang.
Arus barang dianggap sebagai salah satu gejala ekonomi
yang menonjol, arus barang merupakan wujud fisik
perdagangan antar daerah, antar pulau ataupun antar
Negara. Arus barang didukung oleh jasa perdagangan dan
jasa pengangkutan (jasa distribusi). Jadi jasa distribusi
merupakan kegiatan yang sangat penting bagi kehidupan dan
pembangunan
secara
fisik,
terutama
jika
ditinjau
pengaruhnya
dalam
penentuan
lokasi
tempat
berkelompoknya berbagai kegiatan usaha dan kemudahankemudahan, demikian pula fungsinya dalam proses
berkembangnya wilayah.
Simpul mempunyai keistimewaan yaitu sebagai pasar,
barang yang mencapai tingkat harga pasar yang berlaku
pada suatu simpul akan terjamin pemasarannya sampai ada
konsumen akhir.
Ada 2 faktor penting yang harus diperhatikan dalam
pemahaman peranan simpul-simpul yaitu mengenai fungsifungsi simpul dam hirarki simpul dalam sistem spasial. Fungsi
primer suatu simpul adalah sebagai pusat pelayanan jasa
distribusi bagi wilayah pengembangannya atau wilayah
nasional (bersifat keluar) sedangkan fungsi sekundernya
adalah sebagai pusat pelayanan bagi kehidupan masyarakat
disimpulkan yang bersangkutan (bersifat kedalam).
Dibandingkan dengan teori tempat sentral dan teori kutub
pertumbuhan ternyata teori simpul jasa distribusi lebih
akomodatif.

Adapun bantahan Poernomosidi mengenai teori tempat


sentral yang beranggapan bahwa:
1. Seluruh wilayah terbagi habis dan seluruh bagian wilayah
tidak ada yang terlewatkan oleh jasa pelayanan.
2. Selain daripada itu mengenai lokasi sentral menurut
Christaller setiap pusat pasar terletak di tengah-tengah
wilayah pasar demikian pula menurut Losch, sedangkan
Poernomosidi lokasi pusat di tengah-tengah itu untuk
kegiatan-kegiatan usaha penghasil jasa yang orientasinya
tidak luas dan bersifat ke dalam.
3. Teori tempat sentral dapat dinilai pula kurang lengkap
sebab belum memasukkan analisis tentang arah orientasi
secara geografis dari pusat-pusat yang berada di suatu
wilayah justru hal ini diperoleh perhatian pula dalam
konsepsi Poernomosidi.
Teori simpul yang bertitik tolak pada pemahaman struktur
wilayah
tingkat
nasional
(dalam
SPWTN)
telah
mengungkapkan gambaran tentang penyebaran, orientasi
dan tingkat perkembangan masing-masing Satuan Wilayah
Pengembangan (SWP).
Pola distribusi dalam teori simpul dapat dikatakan lebih
lengkap dan mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya
berdasarkan unit produksi dan unit pasar yang terpisah satu
sama lainnya, maka kegiatan-kegiatan distribusi dari masingmasing teori terdahulu dapat di kategorikan dalam 4 pola
yaitu sebagai berikut:
Kate
gori
I
II
III
IV

Unit
Produ
ksi
Satu
Satu
Banya
k
Banya
k

Unit
Pasar

Teori/Konsepsi yang
dikemukakan oleh

Satu
Weber
Banyak Christaller, Losch, Perroux
Von Thunen, Weber, Christaller,
Satu
Losch, Perroux
Banyak Poernomosidi Hadjisarosa

Teori yang mampu menjelaskan sistem perwilayahan jika


mampu menjangkau ruang lingkup yang luas mencakup
pusat urban beserta wilayah pasar dan wilayah produksinya

(Kategori IV) Poernomosidi Hadjisarosa mampu mengisi atau


melengkapi kelemahan pokok sistem perwilayahan.
Dari hasil pembahasan di atas ternyata teori ini memiliki
beberapa kelebihan dibandingkan dengan teori-teori lokasi
dan pengembangan wilayah sebelumnya. Namun demikian,
nampaknya masih terdapat peluang untuk melengkapi dan
memperkuat teori simpul jasa distribusi yaitu pendekatan
arus barang yang dianggap sebagai gejala ekonomi yang
sangat menonjol dikehiduan manusia dan pembangunan
secara fisik itu pada hakikatnya merupakan pendekatan
produk daam rangkaian proses distribusi atau dapat
dikatakan sebagai akibat pada tingkat pengambilan dan
pelaksanaan
suatu
keputusan
suatu
usaha
dalam
perdagangan.

12. TEORI SIMPUL JASA DISTRIBUSI MENGGUNAKAN PENDEKATAN ORIENTASI


PEDAGANG (RAHARDJO ADISASMITA)
Dalam rangka upaya melengkapi serta memperkuat teori
Simpul Jasa Distribusi pengkajian Rahardjo Adisasmita
dilakukan melalui jalur perdagangan yakni dengan mendekati
para pedagang guna memperoleh data primer terutama yang
berkaitan dengan orientasi pedagang. Jika terjadinya arus
barang, segala pertimbangan berada ditangan kaum
pedagang. Elaborasi lebih lanjut mengenai tingkat efisiensi
masing masing simpul akan dilakukan dalam bentuk
penelaan tentang pembentukan harga barang-barang pada
simpul-simpul.
Setelah dapat mengenal karakteristik terbentuknya
simpul-simpul berikut hirarkis yang berlaku Rahardjo
Adisasmita berusaha lebih lanjut untuk mengaitkannya
dengan fungsi-fungsi kota lainnya sehingga dapat diperoleh
gambaran tentang fungsi kota seutuhnya.
Variabel yang dipilih adalah yang dapat digunakan untuk
menyatakan: (1) Besaran simpul, dan (2) Kaitan fungsional
antar simpul serta besarnya pengaruh simpul yang satu
terhadap yang lain. Besaran simpul yang dimaksudkan
haruslah identik dengan ukuran tingkat kemudahan bagi

masyarakat khususnya dalam memperoleh kebutuhankebutuhan berupa barang.


Dalam rangka memenuhi kriteria variabel didesain
dengan mempergunakan orientasi pedagang sebagai unsur
pendukung. Orientasi pndukung mencakup aspek-aspek (1)
Arah Orientasi , (2) Bobot pedagang, dan (3) Jumlah
pedagang.
Banyaknya kota yang berorientasi kearah suatu kota
dapat merupakan ukuran luasnya daya tarik kota yang
bersangkutan. Daya tarik dapat dikaitkan dengan misalnya
yang tercermin dalam hal banyaknya jenis dan pilihan barang
yang diperdagangkan.
Dalam pengkajian teori simpul jasa distribusi melalui jalur
perdagangan
melaui
Rahardjo
Adisasmita
telah
mengintroduksikan 2 peralatan analisis baru selain Luas Daya
Tarik Relatif (LDTR) adalah Bobot Fungsi Distribusi Relatif
(BFDR). Penerapan LDTR dan BFDR digunakan untuk
menelaah gejala karakteristik dan peranan simpul simpul
berikut struktur hirarki yang berlaku di suatu daerah.

REFERENSI

Adisasmita, Rahardjo. 2008. Pengembangan Wilayah (Konsep


dan Teori). Yogyakarta: Graha Ilmu.