Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN
Standar untuk suatu keadaan normal dalam lingkungan biologis telah lama
diperdebatkan dari berbagai sudut pandang, khususnya yang berhubungan dengan bagian
dentofasial. Webster memberikan beberapa definisi standar keadaan yang normal yaitu suatu
keadaan atau bentuk yang dianggap normal, suatu pola dasar standar individual yang sesuai,
atau suatu kondisi yang lazim / biasa, yang secara kuantitas menyerupai rata-rata. Gould juga
memberikan definisi yang hampir sama dalam literatur medis, seperti kesesuaian bentuk
alami yang memiliki struktur umum.
Keadaan yang umum ini menunjukkan bahwa sesuatu yang tidak spesifik bisa
dianggap sebagai suatu hal yang normal, disebabkan karena perbedaan dimensi dan
morfologi pada semua struktur dentofasial baik secara anatomi maupun fungsional, dimana
dalam mengkategorikannya tidak bisa diterapkan melalui cara yang kaku.
Broadbent berpendapat bahwa diperlukan suatu standar mengenai keadaan normal yang
berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan dentofasial karena banyaknya variabel yang
terlibat, jenis dan alat ukur yang dipakai harus dapat memberikan akurasi sehingga didapatkan hasil
pengukuran yang tepat dapat dibenarkan secara logika dan ilmiah.
Standar Bolton seperti yang akan dibahas dalam makalah ini adalah nilai rata-rata
dari kasus individual yang memiliki proses tumbuh kembang wajah dan gigi optimal.
Standar Bolton mewakili wajah kaukasoit laki-laki dan perempuan yang telah dikumpulkan
pada keadaan normal, menilai secara langsung untuk membandingkan nilai-nilai garis dan
sudut. Standar Bolton digunakan langsung secara klinis dengan membandingkan hasil dan
perbaikannya selama bertahun-tahun hingga didapat kesimpulan bahwa penelitian ini
merupakan hasil pengalaman klinis dan merupakan suatu alat penelitian yang penting.

BAB 2
SEJARAH BOLTON
Pada tahun 1920, Dr. B. Holly Broadbent, Sr tertarik dalam studi mengenai
pertumbuhan wajah pada anak-anak yang dilakukan dibawah bimbingan Dr. Edward H.
Angle dan kemudian dibantu secara langsung oleh Dr. T. Wingate Todd, sebagai ketua
Departemen Anatomi di Universitas Western Reserve Fakultas Kedokteran.

Gambar 1. Dr. B. Holly Broadbent, Sr.

Pada awal tahun 1920, Dr. Todd dengan cepat menambah koleksi tengkorak kepala
manusia miliknya yang menjadi dasar museum Hamann, sehingga dapat memberikan
kesempatan untuk mempelajari struktur wajah manusia menggunakan kraniostat Todd
hingga saat ini.

Gambar 2. Kraniostat Todd


2

Pada tahun 1924 Dr. Broadbent menambahkan skala matriks pada kraniostat Todd
dan dikonversi pada kraniostat hingga menjadi kraniometer, dan dengan menggunakan alat
ini nilai tengkorak dewasa ras kaukasoid terutama yang berasal dari ekstraksi Eropa tengah
telah digunakan untuk melihat hubungan dentofasial. Hasil dari beberapa penelitian yang
telah dipublikasikan kemudian disatukan dalam hubungan gigi terhadap garis Frankfort dan
bidang orbital serta titik tepi.
Film radiografis x-ray wajah dan kepala berhasil diambil pertama kali pada awal
tahun 1896 oleh Rowland ; kemudian pada tahun 1919 Ketcham dan Ellis mempublikasikan
hasil mereka dan di tahun 1921. Percy Brown membuat desain penahan kepala untuk
melakukan gambaran radiografis angular wajah. Pada tahun 1922 Pacini mempublikasikan
metode akurat dalam pengambilan film radiografis tulang tengkorak dalam posisi lateral dan
teknik radiografis saat itu belum mampu mengambil gambaran radiografis dari penglihatan
frontal.

Gambar 3. Pengambilan film x-ray pertama kalinya dari kepala manusia yang hidup oleh
Sydney Rowland pada tahun 1896

Hasil dari beberapa penelitian terhadap alat-alat baru mengindikasikan bahwa profil
radiografi tulang kepala kering dapat dibuat dengan tepat oleh operator yang berbeda-beda
dan juga dapat membuat gambar lateral yang sama. Hal ini, sangat mempengaruhi desain
bentuk pegangan kepala untuk kepala manusia yang hidup. Sejak tampilan mesin tunggal
dengan produksi dua dimensi diperkenalkan, maka mesin harus didesain ulang sehingga
tidak hanya memungkinkan produksi standar radiografi lateral tetapi juga film radiografi dari
tampilan frontal. Berorientasi pada hal tersebut dalam kenyataan gambaran radiografi
3

ortodontik dari kranium dan wajah, mencatat secara tiga dimensi terutama ruang-ruang
internal sebaik bagian luar, panduan-panduan ini berguna sebagai acuan perkembangan
tumbuh kembang dan perubahan ortodontik.

Gambar 4. Radiografi kraniometri

Pada tahun 1925 dan tahun 1926, penelitian terhadap penahan kepala memungkinkan
dilakukannya radiografi pada kepala dan wajah manusia hidup dan menunjukkan hasil yang
sama baiknya dengan pengambilan radiografis yang dilakukan pada tengkorak kepala
keringpada craniometer. Pada tahun 1926 juga terjadi diskusi mengenai pertumbuhan normal
gigi dan rahang pada anak-anak yang memiliki pola hidup sehat. Frances P. Bolton adalah
seorang wanita yang sangat tertarik mengenai hal ini karena ia memiliki ketertarikan
khususnya pada bidang keperawatan. Atas dedikasinya sekolah keperawatan Frances Payne
Bolton menjadi bagian kesatuan Health Science Center pada Case Western Reserve
University di Cleveland.

Gambar 5. Frances P. Bolton

Awal tahun 1928, ketika anak Bolton yaitu Charles, sedang melakukan perawatan
ortodontik, ia menunjukkan ketertarikan pada penelitian ini dengan menyumbangkan dana
untuk dukungan keuangan penelitian tersebut.
Pada Oktober tahun 1928, perkembangan kesehatan mendapat bantuan dari Charles
Francis Brush di bawah bimbingan Dr. T. Wingate Todd secara langsung pada awal
pengembangan; kemudian Charles Bingham Bolton sebagai anggota bantuan melalui
tanggung jawab Nyonya Bolton dimana program ini telah dilakukan selama lima tahun
secara mandiri, tetapi dikoordinasikan, hasil pengamatannya.
Pada bulan Mei tahun 1929, Dr. Broadbent mempublikasikan tulisannya sebelum
ikatan Eastern dari kelas Angle dan dengan bantuan teman lamanya Dr. Allan G. Brodie,
menunjukkan radiografi sefalometri untuk diproduksi secara radiografi dari lateral dan
frontal untuk pembelajaran dan pengukuran pertumbuhan perkembangan dari kepala.

Gambar 6. Sefalometer Broadbent-Bolton yang asli, diselesaikan pada tahun 1929 dan didesain untuk
mengambil foto radiografi sefalometri frontal dan lateral

Pada bulan Oktober tahun 1930, pada saat pertemuan tingkat remaja, di Cleveland,
sebuah tulisan, dipublikasikan selama proses pertemuan berlangsung, telah dihadirkan,
menjelaskan Studi Bolton tentang perkembangan wajah dari pertumbuhan anak,
menggunakan x-ray untuk hubungan yang pertama dan pengamatan selanjutnya. Pada tahun
itu juga teknik Bolton telah diperlihatkan di laporan pertemuan di Gedung Putih pada
kegiatan kesehatan dan perlindungan anak. Tulisan-tulisan ini dan beberapa seminar sebelum
kelompok-kelompok ortodonti mendahului menyampaikan sebuah teknik baru dan
bagaimana penerapannya di ortodonti.
5

Pada tahun 1931 Hofrath, di Jerman, mempublikasikan artikel yang sangat baik yang
disebut sebagai teleronsenografi, menjelasakan bagaimana metode untuk mendapatkan film
x-ray kepala dari lateral dalam jarak tertentu. Hal ini termasuk menjelaskan fotografi dari
radiografi kraniofasial dengan mengambarkan pola-pola poligonal hubungan dari
komponen-komponen maksila dan mandibula.

Gambar 7. Radiografi sefalometri Broadbent-Bolton yang digunakan pada studi Bolton

Frances P. Bolton dan putranya, Charles Bingham Bolton, berkontribusi sangat besar
tidak hanya dukungan secara pribadi, pendanaan dan fisik tetapi juga keilmuan mereka dan
keuntungan yang mereka dapat dari bekerja untuk penelitian ini. Ditambahkan juga, tahun
1932 mereka memiliki ketetapan keperluan dalam sefalometri yang baik, baik sebagai
hadiah atau lainnya biaya pembuatan pabrik untuk banyaknya lembaga dan penelitian di
Amerika Serikat maupun di luar. Hal ini telah dikerjakan semacam penyelidikan dengan
membandingkan teknik yang tepat untuk mendapatkan keuntungan yang besar dari hasil
penelitian ini yaitu pertumbuhan dan perkembangan anak, sebagian mereka hubungkan
dengan wajah anak-anak di tempat lain.
Dasarnya Studi Bolton dilakukan dengan baik dengan bergabungnya Departemen
Anatomi dari Fakultas Kedokteran di Universitas Western Reserve dan lebih lagi ditempat
yang memiliki fasilitas yang bagus di Fakultas Kedokteran Gigi yang baru di Pusat
Pendidikan di Universitas Case Western Reserve di Gedung Gigi Bolton. Hal ini dapat
terwujud karena peranan besar pemimpin dan filantropi yaitu Charles B. Bolton.
Hubungan yang dekat antara penelitian Bolton dengan Departemen Anatomi
dilanjutkan setelah Dr. Todd meninggal dunia di bawah bimbingan Dr. Normand L Hoerr dan
seiring berjalannya waktu, catatan-catatan dikumpulkan Brush dibawah pengawasan umum
6

dan perlindungan dari Studi Bolton. Melalui kerjasama dari Dr. David R. Weir, ketua cabang
menejer bantuan Brush, sebuah koalisi pengembangan antara dua data yang dikumpulkan
dan dari hubungan ini melanjutkan pusat studi pertumbuhan Bolton-Brush untuk mencari
penelitian-penelitian dalam pertumbuhan perkembangan. Selama bertahun-tahun beberapa
mahasiswa yang mengamati perkembangan maturasi anak dan perkembangan dentofasial
telah dicatat dan kesemuanya mempengaruhi dalam Studi Bolton yang telah diserahkan
untuk mejadi dasar kerja penelitian yang baik dari pengumpulan data Bolton.

Gambar 8. Charles Birmingham Bolton melakukan penandaan sefalometri pada gambaran


dentofasial untuk produksi animasi gambar bergerak pada proses tumbuh kembang wajah.

BAB 2
7

DEFINISI STANDAR BOLTON


Berdasarkan penelitian selama bertahun-tahun mengenai hubungan gigi geligi,
dihasilkan perbedaan konsep standar keadaan normal. Hal tersebut dijabarkan dalam konsep
keadaan normal individu yang dikemukakan oleh Johnsons bahwa setiap orang mempunyai
keunikan dan kompleksitas tersendiri dimana tidak ada standar yang baku, di satu sisi untuk
melihat hubungan sederhana seperti inklinasi aksial insisif sentralis mandibula dengan
dataran mandibula yang normal, di sisi lain bertujuan untuk melihat hasil dari perawatan
ortodonti.
Menurut Broadbent, diperlukan batasan yang dapat dipertimbangkan tentang standar
kenormalan yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan dentofasial karena
banyaknya variabel yang terlibat, jenis ukuran dan alat ukur yang dipakai harus dapat
memberikan akurasi sehingga didapatkan hasil pengukuran yang secara logika dan ilmiah
dapat dibenarkan. Bolton standar digunakan secara klinis dengan membandingkan hasil dan
perbaikan selama bertahun-tahun hinggai diperoleh kesimpulan bahwa penelitian ini
merupakan hasil pengalaman klinis dan alat penelitian yang penting.
Sebagai kualifikasi dasar yang telah ditetapkan, standar Bolton berhubungan dengan
konsep umum tentang kondisi normal, bukan sebagai alat ukur yang dibuat-buat, tetapi
berasal dari kasus-kasus sebenarnya yang menunjukkan kondisi morfologi dentofasial yang
normal sesuai dengan susunannya dalam lengkung rahang. Hal yang yang perlu ditekankan
adalah gambar rata-rata statistik populasi yang ditarik secara acak menunjukkan nilai
optimum.
Salah satu contoh pendekatan yang diambil dalam mendefinisikan suatu kondisi
normal dentofasial adalah Krogman dan Sassoni yang membaginya kedalam 4 kategori
umum yaitu secara statistik, anatomis, fungsional atau secara estetik. Secara statistik dapat
dilihat hubungannya dengan populasi sampel, setiap orang akan menyadari bahwa populasi
yang mempunyai wajah dengan skeletal kelas III jumlahnya terbatas. Sebaliknya yang
memiliki hubungan kelas I atau kelas II jumlahnya lebih banyak.
Berikut sepintas akan dijelaskan kegunaan standar Bolton yang telah dipahami untuk
digunakan oleh praktisi kesehatan:
1. Kegunaan klinis
Perbandingan tiap individu pasien terhadap standar untuk mendapatkan diagnosa
dalam perawatan ortodonti, bedah mulut dan bedah maksilofasial akan memenuhi
beberapa hal sebagai berikut:
8

a. Sebuah

penilaian

mendalam

dari

tulang

kraniofasial,

termasuk

membandingkan ukuran dan hubungan antar tulang-tulang atau kelompok


tulang dalam struktur unit.
b. Sebuah analisa antara hubungan

gigi-geligi

dengan

basis

skeletal

pendukungnya serta lengkung gigi satu sama lain.


c. Perbedaan yang lebih mendalam antara beberapa faktor etiologi intrinsik dan
ekstrinsik.
2. Penelitian
Standar ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menghubungkan studi mengenai
kelainan perkembangan, memilih sampel yang mimiliki karakteristik atau kriteria
dan juga untuk interpretasi perubahan prosedur ortodonti dan intervensi bedah.
3. Pendidikan
Standar Bolton dapat dijadikan sebagai referensi dalam membandingkan kondisi
normal dan abnormal pada proses pertumbuhan dan variasi setiap pola dentofasial.
Hal-hal ini dibahas dalam proses pembelajaran:
a. Bahan pembelajaran mahasiswa dalam materi gigi geligi dan diagosa bedah
bagi praktisi yang telah selesai menjalani pedidikan atau yang masih dalam
tahap pendidikan.
b. Materi penjelasan pada suatu penyajian rencana perawatan untuk memahami
faktor diagnosa, prognosis, batasan spesifik pasien, latar belakang orangtua
dan faktor lainnya.
Materi awal, pembagian secara alami tipe wajah laki-laki dan perempuan dengan
interval-interval kronologis tiga tahun antar tracing secara berturut-turut untuk kemudahan
pengamatan. Penelitian ini dipaparkan dengan jumlah gigi yang terbatas yaitu molar
permanen pertama dan insisivus pertama untuk mengurangi kebingungan visual yang dapat
dialami saat melakukan penandaan dan tumpang tindih (superimposed) pada foto ronsen.

Gambar 9. Standar Bolton pada wanita (atas) dan pria (bawah). Penandaan dilakukan dalam interval
tiga tahun dan dimasukkan dalam relasi Bolton. Catatan pola keduanya hampir sama.

Pemaparan kasus dan pengamatan gambar menggunakan batasan visual dengan


hanya melihat pola gigi molar pertama permanen dan insisivus pertama untuk kejelasan
pemaparan. Tetapi pada ketentuan standar seharusnya seluruh gigi ikut disertakan, sehingga
tiap gigi dapat diamati perkembangannya. Pada gambar kompleks dentofasial dari titik acuan
morfologi, salah satunya menemukan bahwa standar memberikan kemungkinan pembagian
wajah dalam kelompok sederhana.
Masing-masing bagian seperti terlihat pada gambar 10, dapat dipahami bahwa
gabungan dari bagian-bagian tulang atau bagian anatomis; tetapi dalam analisa radiografi
sefalometri, mereka tergabung dalam kelompok dan analisa tersendiri.
Bagian wajah digambarkan secara terpisah-pisah dari basis kranial (1), yang
disingkat dengan CB (cranial base), dari bagian 2 tengah wajah, atau dapat disingkat dengan
MX (maxillary) yaitu maksila. Bagian 3 adalah mandibula atau MN; bagian terakhir
disingkat ST (soft tissue) yaitu profil jaringan lunak.

10

Gambar 10. Komponen kraniofasial; menunjukkkan pemisahan basis kranial dari maksila,
mandibula, dan profil jaringan lunak. Bagian anatomi dapat berbeda ukuran dan pola morfologinya,
dan posisi secara mendasarnya menunjukkan hubungan lengkung giginya.

Penggunaan Standar Bolton sebagai dasar yang dimiliki semua pihak-pihak yang
tertarik untuk melihat sebuah kemudahan dan macam-macam grafik yang bervariasi dari
keadaan optimal yang memberikan petunjuk penting sebagai alasan dari adanya kelainan
dentofasial dan juga untuk memilih rencana perawatan.
Meskipun para klinisi berhati-hati dengan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik yang
sering disebut kelainan kompleks dentofasial, satu kegunaan Standar Bolton akan sering
diterapkan yaitu hubungan morfologi dan ruang dari gigi-geligi setiap segmen yang sangat
tergantung pada organisasi alami dari tiga komponen tulang basis kranial sebagai pengaruh
terhadap ruang tempat gigi-geligi dan bentuk profil jaringan lunak.
Selama bertahun-tahun, penelitian terpusat pada hubungan maksila dengan
mandibula yang merupakan bagian yang sangat berpengaruh dalam hal ini pada basis
kranial. Sebagai contoh, gambar 11A, penandaan radiografi sefalometri pada anak
perempuan berusia 12 tahun yang mengindiasikan keadaan morfologi dengan hubungan gigi
klas 1. Dalam gambar 11B, bagian tulang basis kranial mengalami pemanjangan sebesar 4
mm melalui tulang spenoid. Pemanjangan basis kranial membentuk perubahan pada bagian
tengah wajah dan bagian bawah wajah sehingga membentuk hubungan tipe klas 2 sering
secara klinis dapat diamati pada gigi-geligi dan profil jaringan lunak.

11

Gambar 11. Penandaan anak perempuan ras Kaukasoid berusia 12 tahun. (A). Tanpa
perubahan panjang (B) Dengan perubahan panjang basis kranial pada bagian anterior tulang
sphenoid sebesar 4 mm. Perubahan antara bagian tengah wajah dan mandibula dapat dengan
mudah diamati.
Untuk memudahkan interpretasi komponen-komponen kraniofasial seperti yang telah
dijelaskan, maka disarankan perbandingan berubah-ubah terhadap Standar Bolton, disebut
sebagai Hubungan Standar Bolton (BSC), dibuat untuk membandingkan ketiga komponen
dasar skeletal dengan standar ini secara langsung. Basis kranial yang digunakan terletak
diantara titik Bolton (Bo) dan nasion (gambar 12), kemudian dibandingkan dengan standar
sehingga memberikan hasil yang kronologis. Pada bagian tengah wajah hubungan dimensi
spina nasalis posterior terhadap point A dibandingkan dengan standar maksila seperti yang
telah di super pada proses penandaan kasus yang akan dinilai. Penilaian ini
diikutkansertakan pada hubungan maksila standar bolton (MX.BSC). Pada bagian
mandibula, petunjuk digunakan untuk menentukan panjang efektif dari mandibula yaitu
artikulasi Bolton ke gnasion, yang disingkat MN, BSC.

12

Gambar 12. Korelasi Standar Bolton


Sebagai gambaran penggunaan BSC pada aplikasi klinik dan dalam komunikasi,
gambar 13 adalah penandaan dari radiografi sefalometri laki-laki kaukasoid usia 10 tahun
yang memiliki celah palatal bilateral dengan pengamatan bagian frontal wajah pada tipe ini
terdapat kelainan klinis. Berdasarkan standar ini, terlihat indikasi hubungan basis kranial
yang berkembang optimal, normal pada komponen ini di usia 10 tahun. Mandibula
menunjukkan BSC dari usia 10 tahun. Penilaian pada tahap 5 tahun kemudian untuk maksila
(MX) diindikasikan adanya perkembangan, bagaimanapun juga, keadaan yang signifikan
dan secara logis mengarahkan pada interpretasi bahwa bagian tengah wajah adalah penyebab
malrelasi gigi.

Gambar 14. Penandaan sefalometri lateral pada anak laki-laki ras kaukasoid berusia 10 tahun yang
memiliki bilateral celah palatum

Gambar 15 adalah penandaan pada anak laki-laki yang sama setelah tiga tahun
kemudian yaitu saat anak berusia 13 tahun. Kesamaan bagian yang di nilai dari BSC, seperti
yang diharapkan terlihat peningkatan basis kranial ke tahap perkembangan di usia 13 tahun.
Maksila meningkat ke tahap usia 8 tahun, telah terlihat indikasi perkembangan pola
pertumbuhan dalam 3 tahun. Perubahan ini masih sangat jauh dari standar ukuran untuk usia

13

kronologis laki-laki. Mandibula mengalami perkembangan lebih tinggi yaitu menunjukkan


telah berada di tahap usia 16 tahun.
Gambar 16 merupakan superposed catatan penandaan di usia 10 tahun diatas
penandaan usia 13 tahun yang menunjukkan disproporsi wajah. Mandibula lebih
berkembang daripada maxilla menunjukkan hubungan rahang klas III.
Penggunaan dari pengukuran angka pada bagian-bagian wajah jalas digambarkan
perubahan-perubahan dari pencatatan satu ke pencatatan selanjutnya atau, akan di
perlihatkan contoh-contoh klinik selanjutnya, perbedaan dasar antara kasus-kasus dan
standar berhubungan usia-usia kronologis yang dihubungkan dengan ukuran anatomi yang
ada.
Pada bagian akhir dari bab pertama ini sebuah ringkasa dari dasar cerita Studi
Bolton; selanjutnya masuk dalam diskusi teknik radiografi dan catatan-catatan; selanjutnya
menyajikan interpretasi dari hubungan perkembangan dengan Standar Bolton; selanjutnya
memberikan beberapa ksus-ksus klinik untuk menyesuaikan standar agar menjadi terbiasa
dengan pengaplikasian, dan terakhir menilai usia skeletal sebagai keseluruhan dari evaluasi
klinik.

Gambar 15. Penandaan yang dilakukan 3 tahun kemudian, terlihat peningkatan level BSC oleh ketiga
komponen

14

Gambar 16. Penggabungan kedua penandaan sefalometri pada usia 10 tahun di atas sefalometri pada
usia 13 tahun

BAB 3
TEKNIK RADIOGRAFI SEFALOMETRI BOLTON
3.1 Tracing Radiografi Sefalometri

15

Untuk memudahkan analisis dan pengukuran sefalometri, metode yang paling sering
digunakan adalah tracing detil secara langsung pada kertas asetat 3/1.000 inci. Dengan
tracing, pengukuran linear dan anguler dapat dilakukan dengan akurat dan cepat,
kesalahan- kesalahan interpretasi dapat mudah dikoreksi tanpa merusak film, beberapa
tracing dapat superimposed untuk membandingkan gambaran individual atau serial
catatan individu yang sama dan dapat pula dengan gambaran standar, grids ataupun film
sefalometri yang belum ditracing. Antara film dengan film tidak dapat superimposed
karena densitas tiap film akan mengaburkan film lainnya. Selain itu tumpukan bayangan
yang tidak penting pada sebuah film kadang-kadang mengaburkan struktur yang lebih
penting.
Kualitas film sefalometri dapat memberikan banyak informasi yang dibutuhkan. Hal
ini tergantung ketelitian dan keterampilan teknisi sefalometri, pengaturan posisi kepala
pasien pada sefalometer, menjaga agar pasien tidak bergerak saat pengambilan gambar
lateral dan P-A, pencahayaan yang sesuai dan pencatatan jarak film ke pusat alat.
Pentingnya hal yang terakhir ini dapat dinilai sekali lagi dengan membandingkan hasil
tracing pada Gambar 17. Faktor jarak objek-film yang digunakan pada pembuatan
radiografi sefalometri lateral dan frontal harus diketahui sehingga dapat dilakukan
pembetulan matematis dan jarak secara langsung.
Sebagian besar peralatan sefalometri mengharuskan posisi pasien dapat diputar atau
dirotasi 90 derajat saat tracing lateral dan frontal. Prosedur ini harus dilatih dengan
cermat karena jika kepala relatif bergerak terhadap bidang film, orientasi kedua film
akan lebih sulit. Gambar film lateral yang dua dimensi tidak cukup memberi informasi
kepala yang tiga dimensi. Untuk itu diperlukan gambar P-A yang penting sebagai alat
bantu interpretasi bagi gambar tampak lateral. Gigi-gigi frontal dan akarnya dapat lebih
jelas terlihat pada gambar P-A, informasi ini dapat diaplikasikan pada gambar lateral
dengan cara orientasi.
Mahasiswa yang belajar tracing harus memiliki pengetahuan anatomi kepala
khususnya tengkorak, serta mempunyai kemampuan dasar artistik dan pemahaman
perspektif. Latihan tracing film sefalometri dilakukan secara bertahap bagi pemula
dimulai dengan pengenalan struktur unit-unit gigi dan fasial sebelum dihadapkan pada
bentuk-bentuk yang kompleks. Pendekatan mendasar yang bagus adalah dengan
memulai tracing film dental periapikal untuk mengenal gambaran gigi-geligi. Tahap
selanjutnya adalah tracing gambaran tengkorak yang di dapat dari pemotongan di
bidang midsagital, hal ini akan menghasilkan gambar unilateral yang jelas (supaya detil,
16

gunakan film non screen). Film 3 dimensi juga dapat dibuat untuk digunakan pada
viewer x-ray stereo untuk mengetahui struktur-struktur unilateral yang sangat halus.
Belahan tengkorak tadi harus ada saat tracing untuk menghubungkan bayangan x-ray
secara langsung terhadap struktur tulang tengkorak.

Gambar 17 Tracing superposisi. Terjadi perbedaan perbesaran akibat adanya jarak yang bervariasi
objek-film

3.2 Bahan dan Alat Tracing


Permukaan alat tracing harus berupa kaca oval atau kaca bening yang dilapisi plastik
putih susu. Akan lebih baik bila diletakkan black mask diantara kaca dan plastik untuk
memblokir cahaya yang tidak berguna di sekitar pinggiran film. Permukaan kaca yang
keras memungkinkan penggunaan pisau untuk memotong selotip yang digunakan untuk
melekatkan dan menahan film. Dianjurkan untuk menggunakan pensil gambar H atau 2H
yang lancip.
Film lateral diletakkan pada permukaan tracing menghadap ke kanan sehingga
pandangan tracing meniru posisi anoda. Film kemudian dilekatkan dengan selotip pada 4
sudutnya. Selanjutnya kertas asetat 3/1.000 inci diletakkan pada film dengan tepi atas
berada inci di bawah tepi atas film dan tepi kiri asetat menjorok ke kanan sejauh

17

inci dari tepi kiri (posterior) film. Kertas asetat dilekatkan dengan selotip hanya pada tiga
sudutnya, pojok kanan bawah dibiarkan bebas agar gambar struktur dentofasial
tengkorak tidak tertutup. Selotip harus melekatkan kertas asetat, film dan permukaan
kaca. Metode engsel dalam melekatkan asetat dan film jangan digunakan karena terlalu
longgar sehingga hasil tracing akan tidak baik.
Walaupun pelaksanaannya relatif simpel dan jelas, pada saat tracing telah selesai
sebagian, outline pensil dari unit-unit gigi cenderung mengaburkan unit-unit lainnya.
Supaya lebih jelas, lembar asetat diselotipkan pada daerah dentofasial film di bawah
kertas aset induk. Bagian dari unit-unit gigi yang tersembunyi oleh bagian lain yang
kompleks saat tracing dapat mudah ditelusuri pada setengah lembar yang kemudian
dapat dipindahkan pada tracing akhir. Metode ini diharapkan akan menyingkirkan
keinginan untuk menggambar langsung pada film.

3.3 Struktur Anatomis Lateral yang Di tracing


Dari film sefalometri terdapat detail dengan jumlah yang tak terbatas yang dapat
ditracing, tetapi biasanya informasi yang dibutuhkan klinisi terbatas. Daftar berikut ini
menjelaskan struktur lateral yang biasanya ditracing. Penomorannya sesuai dengan
diagram lateral (Gambar 18).
1. Permukaan luar pinggiran kranium: frontal, parietal dan osipital.
2. Kondilus osipital, seringkali tumpang tindih dan terlihat satu, merupakan prosesus
mastoid dari tulang temporal.
3. Potongan melintang batas anterior foramen magnum, bagian terbawah dari triangular
wedge (yaitu bagian basal tulang osipital).
4. Meatus auditirius eksternal, tidak terlihat karena terhalang ear rod, biasanya yang
digambar adalah ear rod sendiri.
5. Eminensia artikularis, terutama digunakan sebagai alat bantu orientasi karena
umumnya terlihat di kedua pandangan.
6. Permukaan postero superior tulang sphenoid dari sutura spheno occipital ke atas dan
meliputi dorsum sella.
7. Fossa pituitary, termasuk prosesus clinoid anterior dan posterior, serta clinoid media
jika terlihat.
8. Tuberculum sella, planum dan spheno ethmoid junction.
9. Permukaan cerebral dari greater wing tulang sphenoid, yang sebagian membentuk
18

fossa cranial media.


10. Sutura coronal.
11. Permukaan superior lempeng cribiform tulang ethmoid, umumnya tidak jelas dan
jangan keliru dengan medial ridge orbital plate dari tulang frontal.
12. Permukaan inferior atap orbita atau orbital plate tulang frontal.
13. Batas orbital dan dasar orbita.
14. Key ridge yang merupakan potongan melintang dari anterior root arcus zygomaticus.
15. Tulang nasal dan sutura nasofrontal.
16. Tepi anterior tulang maksila dan nasal, yang membentuk batas lateral apertura nasal.
17. Fisura pterygomaxillaris ke bawah sampai meliputi tuberositas maksila.
18. Palatum keras, umumnya terlihat sebagai outline tunggal yang mewakili atap rongga
mulut dan dasar sekat nasal, kadang-kadang berupa dua lempeng bila tinggi tepi
kanan dan kiri berbeda, dikonfirmasikan dengan film P-A.
19. Mandibula, ramus asenden, termasuk prosesus koronoid, body dan symphisis.
20. Profil jaringan lunak.
21. Gigi geligi.

Gambar 18 Tracing lateral, memperlihatkan outline yang biasanya ditapaki. Penomoran


sesuai dengan deskripsi pada teks.

3.4 Film Tengkorak Lengkap, Lateral, dan P-A

19

Tahap selanjutnya setelah menguasai tracing setengah tengkorak adalah tracing


tengkorak lengkap. Pada tahap ini kita harus mengenal film P-A, tidak saja untuk nilai
praktis tapi juga untuk membantu interpretasi film lateral.
Tetapi sebelum menjelaskan struktur-struktur yang dijiplak pada film P-A, kita harus
mengerti faktor-faktor tambahan yang ikut serta dalam interpretasi dan tracing film
lateral maupun P-A.
Korelasi langsung dari kedua film memungkinkan untuk melalui desain dan
penggunaan orientasi Bolton dimana menjembatani gambar lateral ke frontal (Gambar
19). Berikut ini adalah pembahasan singkat mengenai orientator tersebut, juga deskripsi
singkat mengenai perbesaran, perspektif dan teknik rata-rata, dimana akan mendahului
pemaparan dari film P-A serta bagaimana penjiplakannya.

Gambar 19. Orientasi Bolton pada posisi tracing lateral dan frontal.
3.5 Bolton Orientator
Orientator adalah lembaran segi empat transparan, lebarnya kira-kira 20 inci dan
tinggi 8 inci. Pada tiap ujungnya terdapat garis vertikal yang mewakili pertengahan
sefalometer (Gambar 19). Orientator dibagi dua bagian oleh garis vertikal, yaitu untuk
film lateral dan P-A (garis orientasi). Kira-kira pada pertengahan tingginya melintang
garis horizontal yang mewakili sinar sentral. Sepanjang tepi lembaran terdapat garisgaris dengan interval 5 mm di atas maupun di bawah sinar sentral yang merupakan
simulasi garis-garis sinar yang melebar ketika mendekati garis orientasi. Divergensi atau
angulasi garis-garis ini dimulai pada jarak 5 kaki dari tepi akhiran lembaran yang
20

mewakili pusat alat. Garis-garis tersebut sesuai dengan arah pancaran x-ray yang
menghasilkan gambaran kepala atau tengkorak pada film.
Garis sinar sentral mempunyai skala sentimeter dan milimeter sehingga film dapat
diletakkan pada jarak objek-film yang tepat. Untuk prosedur ini, pencatatan jarak yang
akurat saat paparan film sefalometri sangat penting. Bila film telah diletakkan dengan
benar pada orientator dan hubungannnya satu sama lain juga sudah benar, tinggi
sebenarnya dari objek pada gambar lateral maupun P-A dapat diproyeksikan pada film
komplementer. Orientator Bolton dan penggunaannya akan dijelaskan lebih menyeluruh
selanjutnya.

3.6 Saran-saran Tracing (Struktur Frontal)


Dengan menggunakan Orientator Bolton saat melengkapi tracing film lateral dan PA, kita dapat memproyeksikan tinggi objek yang terlihat pada satu film ke film lainnya,
yang mana lokasinya meragukan. Prosedur ini sangat membantu bagi pemula dalam
menginterpretasikan anatomi suatu film.
Ketika diorientasikan ke film yang lain, letakkan kertas asetat di atas film lateral
dengan cara yang telah dijelaskan, dan diatas film P-A tengkorak kira-kira inci di
bawah bagian atas film. Letakan selotip di sudut-sudut atas sehingga dapat meletakan
kertas asetat, film dan kaca viewer. Pinggiran kertas asetat diletakan agak ke bawah di
dekat sinar sentral, biarkan bagian bawahnya bebas, sehingga dapat dibalik untuk melihat
daerah gigi. Seperempat lembar asetat tambahan harus diletakan dibawahnya langsung
yang hanya meliputi daerah gigi. Hal ini berguna sebagai kertas kerja di bawah kertas
tracing induk.
Seperti pada tracing tengkorak, tengkorak penuh serta film tiga dimensi (stereo)
terbukti sangat membantu mengenal bayangan bagian-bagian anatomi yang saling
berkaitan.
Untuk memulainya, kita harus menapaki struktur-struktur di garis tengah yang
tampak di film lateral, yaitu tulang osipital, parietal, frontal, nasal, maksila, sphenoid dan
symphisis mandibula. Film pada orientator, sebagai pelengkap, membantu panapakan
film lainnya. Struktur-struktur berikut ini merupakan dasar untuk tracing film P-A dan
penomorannya sesuai dengan diagram P-A pada Gambar 20. Struktur-struktur lainnya
dapat ditambahkan atau ditiadakan tergantung kebutuhan peneliti.
1. Permukaan luar tepi tulang cranial.
21

2. Sutura mid sagital dan koronal.


3. Prosesus mastoid.
4. Kondilus osipital dan basion jika terlihat.
5. Planum tulang sphenoid dan permukaan superior dasar fossa pituitary
6. Septum nasalis, crista galli dan dasar hidung.
7. Outline orbita dan permukaan inferior lempeng orbital dari tulang frontal.
8. Garis oblik yang dibentuk oleh permukaan luar greater wing tulang sphenoid di
daerah fossa temporal.
9. Arcuate eminence.
10. Permukaan lateral prosesus fronto-sphenoidalis sampai ke key ridge.
11. Potongan melintang arkus zygomatikus.
12. Permukaan infra temporal maksila di daerah tuberositas yang terlihat di lateral
jangkauan bawah key ridge setelah erupsi molar pertama tetap.
13. Body mandibula, ramus asendens, prosesus koronoideus, kondilus jika terlihat.
14. Gigi geligi.

Gambar 20 Tracing P-A. Penomoran sesuai deskripsi pada teks.

22

Banyak sekali informasi yang dapat diperoleh dari sepasang film sefalometri.
Lakukan tracing struktur pada satu film, kemudian lokasikan objek tersebut pada film
lainnya.
Sebagian besar gambaran anatomis pada film P-A dapat ditracing langsung pada
kertas asetat karena prosedur merata-ratakan tidak diperlukan. Garis tracing secara
akurat harus mewakili daerah anatomi yang sedang diteliti. Sebagai contoh, garis yang
mewakili permukaan orbita dari lempeng orbital tulang frontal harus tetap berada pada
permukaan orbita dan jangan menjadi lebih jauh di permukaan tulang yang sama. Contoh
lainnya pada pandangan lateral permukaan atas tulang sphenoid yang membentuk fossa
pituitari, tracing lempeng tulang yang sama akan menggambarkan pula bagian atas sinus
sphenoid.
Bayangan bilateral pada radiograf lateral ditapaki secara terpisah pada lembar
kertas kerja dan kemudian di buat rata-ratanya pada tracing akhir. Metode ini agak
memakan waktu tapi hasilnya akan sangat akurat. Hal ini akan menanggulangi kesulitan
mengidentifikasi bayangan yang secara umum sama.
Dari film P-A, beberapa unit gigi dapat langsung ditapaki pada master tracing. Bila
garis terluarnya mulai mengaburkan gigi-gigi lainnya, baliklah master tracing dan
gambar gigi tersebut pada lembar kertas kerja. Kemudian pindahkan ke tracing akhir.
Gigi geligi pada pandangan lateral dapat digambar dengan cara yang sama seperti
struktur bilateral lainnya. Gigi-gigi yang terpisah dari lainnya ditiru secara berpasangan
pada kertas kerja. Rata-rata tiap pasangan ditapaki pada tracing akhir.
Bila dilakukan dengan benar, teknik tracing ini tidak akan mengurangi ukuran gigi
juga tidak mengurangi bayangan unit-unit berdekatan yang tumpang tindih. Akibat
paparan yang berlebihan atau kurang serta tumpukan bayangan, lokasi gigi dapat
menjadi kabur; sehingga dari pada melokasikan bayangan gigi secara menyeluruh lebih
baik sedikit demi sedikit.
Pada pandangan P-A, kita dapat mulai dari permukaan mesial insisif dan permukaan
lingual kaninus, premolar dan molar, sedangkan pada gigi yang diragukan , lokasinya
diberi tanda. Melalui cara yang sama, lakukan untuk permukaan distal insisif sentral dan
permukaan bukal kaninus, premolar dan molar. Lokasi vertikal mahkota, bonjol dan
apeks dapat diproyeksikan dari pandangan lateral melalui garis-garis orientasi.
Kombinasi kedua cara ini akan dapat menentukan lokasi gigi yang meragukan.

23

3.7 Deskripsi dari Bolton Orientator


Seperti telah sebelumnya dijelaskan secara sepintas, orientator adalah perangkat
yang diproduksi terutama seperti namanya, untuk orientasi satu film dengan yang lain.
Hal ini dimaksudkan untuk menghubungkan dua film sefalometri yang berpasangan yang
memiliki jarak anode-ebjek sebesar 5 kaki. Sefalometri yang berpasangan secara umum
terdiri dari film lateral dan frontal tetapi mungkin berupa bidang pada sudut kanan satu
sama lain. Koreksi akurat dari bayangan dimensi film dapat dicapat dengan orientator.
Nilai terbesar adalah secara akurat terkait dua gambaran dari objek yang sama dan
dengan demikian membantu dalam penempatan yang tepat, interpretasi dan identifikasi
bayangan.
Separuh orientator dirancang untuk menerima film lateral dan frontal, bagian ini pada
gilirannya mengindikasikan kiri dan kanan untuk frontal dan anterior posterior untuk
lateral (Gambar 19). Garis ray sentral (CR) membawa skala milimiter pada setengah
lateral, mewakili jarak film midline-lateral (ML) yang terekam dan bagian frontal
mewakili jarak film porion yang terekam (P+), dimensi keduanya telah tercatat saat film
terpapar.
Skala vertikal di kanan dan ujung kiri orientator mewakili garis tegak lurus terhadap
pusat sinar dan terletak persis 5 meter dari titik asal garis yang memancar. Skala vertikal
di pusat orientator ini merupakan garis persimpangan atau orientasi untuk dua film.
Bayangan sefalogram lateral ear rod ditempatkan pada CR di ML dengan jarak yang
sesuai pada skala karena sefalogram lateral telah diperbesar dalam proyeksi jarak jauh
atau sampai ke derajat tertentu.
Pada P-A sefalogram, pusat gambar nasion rest support ditempatkan pada CR di
jarak P+, semenjak bayangan terlalu besar. Penempatan posisi film, yang berpusat pada
vertikal dari bayangan ear rod pada CR ini juga dipertahankan.
Bagian posterior dari tengkorak sangat dekat dengan sumber radiasi dan sangat jauh
dari film selama terpapar P-A dan oleh sebab itu terjadi pembesaran hingga derajat yang
besar. Sisi kanan dari tengkorak sangat dekat dengan sumber radiasi dan sangat jauh dari
film selama pemaparan lateral dan karena itu terjadi pembesaran hingga derajat yang
besar.
Penempatan sefalogram pada orientator serta pandangan tengkorak posterior lateral
hubungan ini harus dipertahankan dan sisi kanan dari P-A film masing-masing diarahkan
menuju sumber sinar.
BAB IV
SIMPULAN
24

Batasan yang dapat dipertimbangkan tentang standar kenormalan yang menyangkut


pertumbuhan dan perkembangan dentofasial karena banyaknya variabel yang terlibat, jenis
ukuran dan alat ukur yang dipakai harus dapat memberikan akurasi sehingga didapatkan
hasil pengukuran yang secara logika dan ilmiah dapat dibenarkan. Bolton standar digunakan
secara klinis dengan membandingkan hasil dan perbaikan selama bertahun-tahun hinggai
diperoleh kesimpulan bahwa penelitian ini merupakan hasil pengalaman klinis dan alat
penelitian yang penting.

s
DAFTAR PUSTAKA

25

Bolton WA. Disharmony in Tooth Size and Its Relation to the Analysis and Treatment of
Malocclusion. School of Dentistry, Univeristy of Washington 1958; 28(3): 113-30.
Broadbent Sr. BH, Broadbent Jr. BH, Golden WH. Bolton Standards of Dentofacial
Developmental Growth. Saint Louis: Mosby Company, 1975: 1-61.
Lopatiene K, Dumbavraite A. Relationship Between Tooth Size Discrepancies and
Malocclusion. Baltic Dental and Maxillofacial Journal 2009; 11(4): 119-24.
Sulaimani FF, Afify AR. Bolton Analysis in Different Classes of Malocclusion in a Saudi
Arabian Sample. Egyptian Dental Journal 2006; 52(2): 1119-25.

26