Anda di halaman 1dari 16

UNIT OPERASI I : PROSES MEKANIK

PNEUMATIC CONVEYOR

Disusun oleh :
Kelompok 2
Dinda Labibah Ubay
Farel Abdala Shiddiq
Louis Claudia Marpaung
Riski Amalia

(21030113130196)
(21030113130195)
(21030113130201)
(21030113120103)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2014
1

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Unit Operasi I : Proses Mekanik
dengan judul Pneumatic Conveyor dengan lancar dan sesuai harapan.
Ucapan terimakasih juga kami ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah
Unit Operasi I : Proses Mekanik, Ir. Herry Santosa, M.T., yang telah membimbing kami
sehingga tugas makalah ini dapat terselesaikan. Kepada orang tua kami yang selalu
mendukung kami. Kepada teman-teman yang telah membantu baik dalam segi waktu
maupun motivasi apapun kami ucapkan terimakasih.
Makalah dengan judul Pneumatic Conveyor ini merupakan salah satu makalah
yang kami buat guna memenuhi tugas mata kuliah Unit Operasi I : Proses Mekanik.
Makalah ini berisi tentang pneumatic conveyor meliputi definisi, konstruksi alat, prinsip
kerja, kelebihan dan kekurangan serta tata cara perhitungan alat tersebut.
Makalah ini merupakan makalah yang kami kerjakan semaksimal mungkin
namun kami menyadari pasti ada kekurangan yang perlu kami perbaiki. Maka dari itu,
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Semarang, Desember 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................
KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI.......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................
I.1. Latar Belakang Masalah..........................................................................
I.2. Rumusan Masalah....................................................................................
I.3. Tujuan......................................................................................................
BAB II ISI...........................................................................................................
II.1. Definisi...................................................................................................
II.2. Konstruksi Alat.......................................................................................
II.3. Kelebihan dan Kekurangan....................................................................
II.4. Prinsip Kerja...........................................................................................
II.5.Perhitungan Prancangan..........................................................................
BAB III PENUTUP............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................

i
ii
iii
1
1
1
1
2
2
2
5
5
9
12
13

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang Masalah


Unit Operasi adalah suatu tahapan dasar dalam suatu proses. Unit operasi
tidak hanya mengubah suatu zat seperti reaksi di dalam reaktor kimia namun
juga terjadi perubahan fisik maupun fasa seperti pemisahan, kristalisasi,
penguapan, filtrasi dan beberapa contoh lainnya. Secara garis besar dapat dibagi
dalam lima kelas yaitu, proses aliran fluida, proses perpindahan panas, proses
perpindahan massa, proses termodinamis, dan proses mekanis.
Proses mekanik adalah proses yang dilakukan secara mekanis untuk
materi berbentuk padatan. Proses mekanik termasuk pengecilan dan pembesaran
ukuran, pemilahan ukuran, aglomerasi, pencampuran padatan, dan transportasi
zat padat. Salah satu proses mekanik yaitu transportasi zat padat yang merupakan
suatu sistem untuk memindahkan material padat dari suatu tempat ke tempat
yang lain. Salah satu contoh dari transportasi zat padat yang akan dibahas dalam
makalah ini adalah pneumatic conveyor.

I.2

Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pneumatic conveyor?
2. Bagaimanakah gambar konstruksi alat pneumatic conveyor?
3. Bagaimana kelebihan dan kekurangan alat pneumatic conveyor ini?
4. Bagaimana prinsip kerja dari pneumatic conveyor?
5. Bagaimana perhitungan perancangan pneumatic conveyor?

I.3

Tujuan
1. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan pengertian pneumatic
conveyor.
2. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan gambar konstruksi alat
pneumatic conveyor.
3. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kelebihan dan kekurangan
alat pneumatic conveyor.
4. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan prinsip kerja dari pneumatic
conveyor.
5. Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan perhitungan perancangan
pneumatic conveyor.

BAB II
ISI
4

II.1.

DEFINISI
Pneumatic conveyor atau conveyor udara berfungsi untuk memindahkan
bahan curah (bulk load) di dalam suatu aliran udara yang bergerak melalui pipa.
Penggunaan pneumatic conveyor banyak diterapkan pada industri makanan dan
minuman untuk mengangkut berbagai material kering dan material bubuk.
Kapasitas pneumatic conveyor bisa mencapai 300 ton/jam untuk satu pipa, dan
jarak perpindahan bisa mencapai 1,8 km dengan ketinggian 100 m tanpa
perpindahan antara.
Karakteristik conveyor untuk bahan yang berbeda dapat bervariasi secara
signifikan. Khususnya untuk bahan yang diangkut dalam fase padat. Setiap
sistem pneumatik, yang menggunakan pipa atau saluran yang disebut jalur
transportasi yang membawa campuran bahan dan aliran udara. Bahan-bahan ini
seperti bahan bubuk mengalir ditumbuk seperti semen, fly ash, dll. Bahan-bahan
ini dapat diangkut dengan mudah ke berbagai tujuan dengan menggunakan aliran
udara kecepatan tinggi melalui jalur pipa. Produk dipindahkan melalui berbagai
tabung melalui tekanan udara,

II.2.

KONSTRUKSI ALAT
A. Sistem Komponen

Gambar 1. Sistem komponen pada pneumatic conveyor

Berikut ini bagian-bagian pada pneumatic conveyor :


1. Rotary blower/centrifugal fan
Merupakan alat yang digunakan sebagai pembangkit tenaga udara/angin
untuk penghembusan dan penghisapan produk.
2. Conveyor pipe

Merupakan alat yang berbentuk pipa yang mengalirkan produk dari bawah
ke atas dengan sistem vacum.
3. Cyclone
Merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan produk dari udara yang
bebentuk cones dan dilengkapi dengan air lock. Produk dan udara yang
masuk kedalam cyclone secara tragensial akan membentuk gerakan spiral
yang mengakibatkan adanya gaya sentrifugal, sehingga terjadi pemisahan
produk dengan kecepatan konstan. Udara akan keluar melalui outlet
sedangkan produk akan keluar melalui air lock.
4. Filter
Merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan udara dari produk yang
tidak berhasil dibersihkan oleh cyclone karena efisiensi cyclonehanya antara
70% hngga 90%. Dalam sistem pneumatik, tekanan udara diubah dengan
penggerak udara (air mover), yang menghasilkan tekanan atau vacuum.
Ketika berada di awal sistem, air mover mendorong udara melalui sistem
dan sistem beroperasi di bawah tekanan. Ketika berada di akhir sistem,
penggerak udara menarik udara melalui sistem dan sistem berjalan di bawah
vakum. Dengan mengendalikan tekanan atau vakum dan aliran udara di
dalam sistem, maka sistem dapat mentransfer material.
B. Metode
Pneumatic conveying sistem dibagi menjadi dua yaitu dilute phase dan dense
phase. Dimana keduanya dapat bekerja secara under pressure atau vacuum.
1. Dilute Phase

Gambar 2. Sistem pneumatic conveying tipe dilute phase


System ini bergantung pada kecepatan aliran udara. Di awal system,
kecepatan aliran udara (dimana material diambil, tertahan di feedpoint),
umumnya dianggap sebagai daerah kritis karena udara pada kecepatan
terendah dalam seluruh system terdapat pada titik ini. Material turun dari
keadaan statis ke dalam aliran udara. Kecepatan udara yang dibutuhkan
untuk mengambil bahan tergantung pada masing-masing partikel ukuran dan
padatan, tetapi dapat berkisar 3,000 untuk 8.000 fpm (feet per menit). Dilute
phase beroperasi pada kecepatan yang relative tinggi di perbedaan tekanan
6

yang relative rendah. Untuk merancang pneumatic dilute phase harus


menggunakan perhitungan massa (pon bahan/ pon udara). Sedangkan untuk
mempertimbangkan suhu udara ambient lokasi, kelembaban, dan altitude
(ketinggian tempat).
2. Dense Phase

Gambar 3. Sistem pneumatic conveying tipe dense phase


Dalam system ini, bahan dari penyimpanan dimuat oleh gravitasi ke
transporter. Setelah transporter penuh, katup inlet bahan dan ventilasi katup
ditutup dan dikompresikan udara lalu dicampurkan ke dalam transporter.
Dikompresi udara ekstrud material transporter ke conveyor line dank e
destination. Saat transporter dan conveyor line kosong, udara terkompresi
dimatikan dan transporter reloaded. System ini terus terjadi sampai semua
material yang dibutuhkan untuk proses tersebut telah ditransfer.

II.3.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN


A. Kelebihan
Perawatan yang relative murah.
Konsumsi daya yang kecil.
Fleksibilitas pengangkutan.
Proses pemindahan terjadi hampir tanpa losses karena material dipindah.
dalam pipa yang ditutup rapat.
Memiliki kemampuan untuk memindahkan material berdebu.
7

Menghemat uang dan ruang.


B. Kekurangan
Pemakaian energinya lebih besar dibanding jenis konveyor lainnya
untuk jumlah pengangkutan yang sama.
Perhitungan- perhitungan pada konveyor pneumatik memuat faktorfaktor yang tidak terdapat di luar data-data peralatan pabrik.
II.4.

PRINSIP KERJA
A. Sistem Tekanan Positif (Positive Pressure System)
Sistem tekanan positif beroperasi di atas tekanan atmosfer dan digunakan
untuk memindahkan bahan dari sumber tunggal atau ganda untuk satu atau
beberapa tujuan, jarak yang digunakan menengah dengan kapasitas lebih
besar dari yang mungkin dilakukan dengan menggunakan sistem vakum.
Terdiri dari rotary airlock, penyaring/ pemisah, susunan siklon, dan blower.
Bahan memasuk pipa conveyor dengan tekanan lebih tinggi, melalui
perangkat umpan khusus, biasanya katup (rotary airlock valve). Bahan ini
sering tersuspensi dalam aliran udara dan bergerak dengan kecepatan yang
relatif tinggi tergantung pada ukuran partikel padat. Bahan yang tersuspensi
dengan udara dipisahkan pada titik terminal dengan suatu penyaring /
pemisah siklon, lalu bahan langsung ke masuk ke pipa proses yang dibuang
ke perangkat berkumpulnya debu hilir.
Dalam sistem semacam ini, bahan tidak melalui fan / blower. Maka ada
dua keuntungan ini. Pertama, roda kipas tidak merusak bahan. Kedua, kipas
tidak mengalami keausan karena bahan. Sistem ini umumnya beroperasi
secara terus menerus (continue) bahan terus dimasukan pada titik awal, dan
tiba di tempat tujuan tanpa gangguan. Hal ini memungkinkan sistem
semacam ini mudah diadaptasi untuk kapasitas dan aplikasi berat terus
menerus.

Skema di bawah ini menunjukkan pengaturan dari komponen sistem


tekanan positif :

Gambar 4. Sistem Tekanan Positif Pneumatic Conveyor


B. Sistem Tekanan Negatif atau vakum (Negative Pressure Or Vacuum
System)
Sistem conveying tekanan negatif beroperasi dengan tekanan di bawah
tekanan atmosfer. Tekanan negatif (vakum) umumnya digunakan untuk
memindahkan materi dari berbagai sumber seperti tangki penyimpan,
peralatan proses, truk dan mobil, ke satu atau beberapa tujuan. Sistem vakum
sangat baik untuk beberapa sisi masuk, produk melalui katup pengalir
sederhana, tetapi mahal jika produk memiliki beberapa tempat tujuan karena
masing-masing harus memiliki receiver penyaring sendiri dengan
kemampuan vakum parsial.
Sistem tekanan negatif umumnya menggunakan penghisap hingga 50 %
vakum untuk memindahkan materi melalui pipa ke tujuan dimana udara dan
produk dipisahkan di tempat dengan receiver penyaringan , atau siklon.
Produk memasuki conveyor secara langsung, atau dengan metering jika
diperlukan, melalui katup (rotary airlock valve). Bahan dibuang secara terus
menerus oleh airlock rotary atau sesekali oleh katup hopper, ke tangki
penyimpanan atau titik pembuangan lainnya. Dalam sistem vakum, tidak ada
yang menyentuh bahan dan tidak ada debu dapat melarikan diri ke atmosfer.
Untuk menghindari kebocoran maka dibuat penahanan yang kuat, terutama
ketika digunakan untuk bahan berbahaya.
Kelemahan dari sistem ini adalah bahwa jika tempat tinggi atau jauh
jaraknya, komponen harus dirancang untuk vakum tinggi. Hal ini menambah
biaya untuk komponen dan harus dipertimbangkan ketika membandingkan
metode transportasi.
Skema di bawah ini menunjukkan pengaturan dari komponen sistem
tekanan negatif :

Gambar 5. Sistem Tekanan Negatif Pneumatic Conveyor


C. Kombinasi Positif - Negatif Sistem (Combination Of Positive Negative
System)
Sistem tarik-dorong menggabungkan keuntungan dan manfaat dari kedua
sistem tekanan negatif dan positif dalam satu sistem. Sistem ini digunakan di
mana ada beberapa titik masuk materi, dan beberapa titik pengiriman. Dapat
digunakan untuk mentransfer bahan dari berbagai sumber ke beberapa lokasi
pembuangan dan dengan demikian dapat memperpanjang jarak sistem
vakum.
Perlindungan dibuat untuk pengisap atau blower dari kemungkinan
masuknya material, seperti dengan sistem tekanan negatif. Daya yang
tersedia untuk sistem tersebut harus dibagi antara dua bagian, dan jaringan
pipa untuk dua bagian harus diukur hati-hati untuk memperhitungkan
tekanan operasi yang berbeda.
Beberapa penggerak udara, seperti blower beroperasi pada rasio tekanan
tertentu ini berarti mesin tidak akan mampu beroperasi selama rentang
tekanan yang sama dengan tugas gabungan dibandingkan dengan operasi
masing-masing. Meskipun penggerak udara dibagi antara dua sistem,
masing-masing bagian dari sistem akan membutuhkan unit filtrasi sendiri.\
Skema di bawah ini menunjukkan pengaturan dari komponen sistem
kombinasi positif-negatif :

10

Gambar 6. Sistem Kombinasi Positif-Negatif Pneumatic Conveyor


D. Vakum Ganda Dan Sistem Tekanan Positif (Dual Vacuum And Positive
Pressure Systems)
Jika pengangkutan bahan membutuhkan sistem vakum lebih dari
kombinasi sistem tekanan negatif dan positif, khususnya dalam hal jarak,
maka sistem dual harus dipertimbangkan. Dalam kombinasi ini dua elemen
conveying dipisahkan dan dua penggerak udara disediakan. Dengan ini
berarti penggerak udara disesuaikan agar dapat digunakan untuk sistem
vakum dan sistem tekanan positif yang paling tepat dapat digunakan untuk
transfer material seterusnya.
Dengan kemampuan menggunakan udara bertekanan tinggi untuk
membawa bahan, conveying fase padat memungkinkan untuk beberapa
bahan yang tepat. Jika bagian off loading vakum hanya berjarak pendek,
memungkinkan bahwa bahan dapat dibawa dalam fase padat. Sekali lagi
karena ada dua sistem yang terpisah, dua perangkat pemisahan gas-padat
juga harus disediakan.
Skema di bawah ini menunjukkan pengaturan dari komponen sistem
Vakum Ganda :

Gambar 7. Sistem Dual Vakum Pneumatic Conveyor

11

II.5.

PERHITUNGAN PERANCANGAN

Contoh :
Calculate a minimum requirement to convey 2400 lbs/hr of wood shavings heavy
through 200 of horizontal pipe.
Langkah-langkah perhitungan pneumatic conveyor
1. Tentukan masa yang akan dipindahkan menggunakan pneumatic conveyor
(lbs/hr). Contoh 2400 lbs/hr.
2. Ubah satuan dalam bentuk lbs/min. 2400 lbs/hr 60 min/hr = 40 lbs/min.
3. Tentukan tipe material yang akan dipindahkan. Dengan tabel 47-1.
Ambil contoh wood shavings heavy.

4. Tentukan berat material perkubik foot (lbs/ft3) dengan tabel 47-1. Digunakan
untuk material ini 15lbs/ft3.
5. Tentukan CFM (cubic feet per minute) pada tabel 47-1. Digunakan 80 CFM.
6. Tentukan kecepatan konveyor minimal (FPM) dengan tabel 47-1. Digunakan
5600 FPM.
7. Tentukan suction pick up dengan tabel 47-1. Sama dengan 3 wg.
8. Hitung total minimum CFM dengan :langkah 2 dikalikan dengan langkah 5.
80 CFM/lb of material x 40 lbs/min = 3200 CFM
Langkah 9 hingga 11 dapat dihitung dalam satu operasi mengikuti:
Tentukan sistem static pressure yang dibutuhkan dan ukuran duct, tentukan FPM
(langkah 6). Gunakan tabel 47-2 untuk menentukan kecepatan yang dihubungkan
dengan CFM, dapat bernilai lebih atau samadengan langkah 8.
9. Tentukan CFM yang actual terhadap ukuran duct. Dengan tabel 47-2
10. Tentukan friction loss (FL) dengan tabel 47-2
11. Tentukan ukuran duct.

12

Contoh
untuk langkah 9 hingga 11 dengan menggunakan contoh lanjutan.Baca mendatar
pada kecepatan 5600 FPM, temukan CFM minimum yang melebihi atau
samadengan 3200 (langkah 8).Didapatkan 3696 CFM, friction loss 3.88 per 100
feet duct, dan ukuran duct 11 inch.
12. Tentukan equivalent feet of straight duct untuk pipa horizontal maupun vertical.
Dengan 1 pipa horizontal samadengan 1 straight duct, 1 pipa vertical
samadengan 2 straight duct. Contoh dengan 200 pipa horizontal = 200
straight duct.
13. Tentukan equivalent feet of straight duct untuk semua elbow, menggunakan table
48-1 dengan menalikan kuantitas (jumlah elbow) dikali dengan resistensnya
terhadap sudut dan radius pipa. Contoh tidak memiliki elbow.

14. Tentukan
equivalent
straight
dengan menjumlah langkah 12 dengan langkah 13. 200 + 0 = 200

total
feet of
duct
13

15. Tentukan sistem friction loss, membagi langkah 14 dengan 100, kemudian
dikalikan dengan langkah 11. Contoh (200 100) x 3.88 = 7.76
16. Suction pickup = langkah 7 = 3 wg
17. Hitung Total SP(static pressure) sistem loss dengan menjumlah langkah 15 dan
16. = 10.76
18. Tambahan safety factor 10% dengan mengalikan langkah 17 dengan 1.1. Pada
diameter fan inlet 11 ,dengan SP sistem loss 11.836 dengan minimum 3696
CFM.
Sistem fan minimum requirements
1. Minimum CFM
(langkah 10)
2. Minimum suction pickup (langkah 18)
3. Fan inlet
(langkah 9)

BAB III
PENUTUP
14

1. Pneumatic conveyor atau conveyor udara berfungsi untuk


memindahkan bahan curah (bulk load) di dalam suatu aliran udara
yang bergerak melalui pipa. Bagian-bagian pneumatic conveyor
antara lain rotary blower, conveyor pipe, cyclone, dan filter.
2. Berdasarkan prinsip operasinya, Pneumatic conveying sistem
dibagi menjadi dua yaitu dilute phase dan dense phase. Dimana
keduanya dapat bekerja secara under pressure atau vacuum.
Sedangkan pronsip kerjanya dibagi empat sitem yaitu system
tekanan positif, system tekanan negative atau vakum, system
kombinasi positif-negatif, serta vakum ganda dengan system
tekanan positif.
3. Untuk menentukan desain conveyor jenis dilute phase harus
mempertimbangkan beberapa hal, antara lain spesifikasi material
(ukuran partikel, bentuk partikel, massa jenis, permeabilitas,
kohesi, toxicity, reaktifitas, dan efek elektrostatik) dan atribut
sistem yang termasuk dalam ketahanan pipa dan kecocokan
reaktifitas dan abrasi dari senyawa kimia.

15

DAFTAR PUSTAKA

A. Bhatia. Pneumatic Conveying Systems. Greyridge Farm Court Stony Point, NY:
Continuing Education and Development, Inc.
Caesar. 2012. Macam-macam Conveyor. Diakses dari http://caesarvery.blogspot.
com/2012/11/macam-macam-conveyor.html pada 3 Desember 2013 pukul 20:22
WIB.
Ikhsanudin, Anwar. 2010. Proses Produksi Tepung Terigu. Program Studi DIII Teknologi
Hasil Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Mills, David. 2004. Pneumatic Conveying Design GuideSecond Edition. Linacre House,
Jordan Hill, Oxford : Elsevier Butterworth-Heinemann.
Mills, David, Mark G. Jones, dan Vijay K. Agarwal. 2004. Handbook of Pneumatic
Conveying Engineering. Madison Avenue, New York: Marcel Dekker, inc.
Stuart, John.2002.Pneumatic Conveying, Dilute-Phase Design Guideline.
Engineering Standar.Nova Chemical.

16