Anda di halaman 1dari 16

makalah penegakan hukum

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Metode Penulisan
BAB 11 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penegakan Hukum
2.2 Pengertian Aparatur Penegak Hukum
2.3 Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum
2.4 Permasalahan Penegakan Hukum di Indonesia
2.5 Pemberdayaan Masyarakat dan Penegakan Hukum
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah


Bergulirnya iklim reformasi dan demokratisasi di Indoneseia dalam kurun waktu

beberapa tahun terakhir ini telah membawa angin perubahan berupa kebebasan berekspresi yang
sangat bebas. Kebebasan tersebut pada beberapa kesempatan telah kebabalasan bahkan
berujung pada konflik horisontal maupun konflik vertikal. Konflik yang tidak terkelola dengan
baik ditambah dendam masa lalu pada masa Pemerintahan Orde Baru, yang sangat otoriter
berdampak pada kekerasan bahkan telah terjadi konflik bersenjata. Bahkan beberapa daerah telah
jatuh korban berjumlah ratusan bahkan mungkin ribuan. Terjadi pula pengusiran dan
pemusnahan kelompok etnis tertentu (genocide) oleh kelompok etnis lain. Kekerasan, kontak
senjata dan pemusnahan etnis seakan menjadi menu utama berbagai media di tanah air.
Sejarah bangsa Indonesia hingga kini mencatat berbagai penderitaan, kesengsaraan dan
kesenjangan sosial, yang disebabkan oleh perilaku tidak adil dan diskriminatif atas dasar etnik,
ras, warna kulit, budaya, bahasa, agama, golongan, jenis kelamin dan status sosial lainnya.
Perilaku tidak adil dan diskriminatif tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia, baik
yang bersifat vertikal (dilakukan oleh aparat negara terhadap warga negara atau sebaliknya)
maupun horisontal (antarwarga negara sendiri) dan tidak sedikit yang masuk dalam kategori
pelanggaran hak asasi manusia yang berat (gross violation of human rights).
Pada kenyataannya selama lebih lima tujuh tahun usia Republik Indonesia, pelaksanaan
penghormatan, perlindungan atau penegakan hak asasi manusia masih jauh dari memuaskan.
Hal tersebut tercermin dari kejadian berupa penangkapan yang tidak sah, penculikan,
penganiayaan, perkosaan, penghilangan paksa, pembunuhan, pemusnahan kelompok etnis
tertentu, pembakaran sarana pendidikan dan tempat ibadah, dan teror bom yang semakin

berkembang. Selain itu, terjadi pula penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat publik dan aparat
penegak hukum, pemelihara keamanan, dan pelindung rakyat, tetapi justru mengintimidasi,
menganiaya, menghilangkan paksa dan/atau menghilangkan nyawa. Bahkan pada beberapa
kesempatan yang lalu, Pengadilan HAM Ad Hoc Kasus pelanggaran HAM berat Timtim telah
membebaskan sebagian terbesar para Jendaral Angkatan Darat dari segala tuntutan hukum.
Padahal secara jelas dan tegas untuk melaksanakan amanat Undang-undang Dasar 1945, Majelis
Permusyarwaratan Rakyat melalui Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi
Manusia, telah menugaskan kepada Lembaga-lembaga Tinggi Negara dan seluruh aparatur
Pemerintah, untuk menghormati, menegakkan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai hak
asasi manusia kepada seluruh masyarakat. Telah terbentuk juga Undang-undang No. 39 Tahun
1999 tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan
Hak Asasi Manusia, yang diikuti dengan pengukuhan melalui Undang-undang No. 39 Tahun
1999 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

1.2

Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis mendapatkan
hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan beberapa perumusan masalah. Rumusan
masalah itu adalah :
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.

Apakah penegakan hukum itu?

2.

Apakah itu aparatur penegak hukum?

3.

Apakah Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum?

4. Apakah Permasalahan Penegakan Hukum di Indonesia?


5.

Bagaimana Pemberdayaan Masyarakat dan Penegakan Hukum?

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuiah Sistem Hukum Indonesia

2. Untuk menambah pengetahuan tentang Penegakan Hukum


3. Untuk mengetahui berbagai permasalahan Penegakan Hukum di Indonesia

1.3

Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi pustaka atau studi literatur,
yaitu penulis mengambil sumber penulisan dari internet dan jurnal hukum.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penegakan Hukum
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau
berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu
lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ditinjau dari sudut subjeknya, penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang
luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek dalam arti
yang terbatas atau sempit. Dalam arti luas, proses penegakan hukum itu melibatkan
semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan
normatif atau melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dengan mendasarkan diri
pada norma aturan hukum yang berlaku, berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan
hukum. Dalam arti sempit, dari segi subjeknya itu, penegakan hukum itu hanya diartikan
sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan
bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Dalam memastikan
tegaknya hukum itu, apabila diperlukan, aparatur penegak hukum itu diperkenankan
untuk menggunakan daya paksa.
Pengertian penegakan hukum itu dapat pula ditinjau dari sudut objeknya, yaitu
dari segi hukumnya. Dalam hal ini, pengertiannya juga mencakup makna yang luas dan
sempit. Dalam arti luas, penegakan hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang
terkandung di dalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup
dalam masyarakat. Tetapi, dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya menyangkut

penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja. Karena itu, penerjemahan perkataan
law enforcement ke dalam bahasa Indonesia dalam menggunakan perkataan penegakan
hukum dalam arti luas dan dapat pula digunakan istilah penegakan peraturan dalam
arti sempit. Pembedaan antara formalitas aturan hukum yang tertulis dengan cakupan
nilai keadilan yang dikandungnya ini bahkan juga timbul dalam bahasa Inggeris sendiri
dengan dikembangkannya istilah the rule of law versus the rule of just law atau dalam
istilah the rule of law and not of man versus istilah the rule by law yang berarti the
rule of man by law. Dalam istilah the rule of law terkandung makna pemerintahan oleh
hukum, tetapi bukan dalam artinya yang formal, melainkan mencakup pula nilai-nilai
keadilan yang terkandung di dalamnya. Karena itu, digunakan istilah the rule of just
law. Dalam istilah the rule of law and not of man dimaksudkan untuk menegaskan
bahwa pada hakikatnya pemerintahan suatu negara hukum modern itu dilakukan oleh
hukum, bukan oleh orang. Istilah sebaliknya adalah the rule by law yang dimaksudkan
sebagai pemerintahan oleh orang yang menggunakan hukum sekedar sebagai alat
kekuasaan belaka.
Dengan uraian di atas jelaslah kiranya bahwa yang dimaksud dengan penegakan
hukum itu kurang lebih merupakan upaya yang dilakukan untuk menjadikan hukum, baik
dalam arti formil yang sempit maupun dalam arti materiel yang luas, sebagai pedoman
perilaku dalam setiap perbuatan hukum, baik oleh para subjek hukum yang bersangkutan
maupun oleh aparatur penegakan hukum yang resmi diberi tugas dan kewenangan oleh
undang-undang untuk menjamin berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dari pengertian yang luas itu, pembahasan kita
tentang penegakan hukum dapat kita tentukan sendiri batas-batasnya. Apakah kita akan
membahas keseluruhan aspek dan dimensi penegakan hukum itu, baik dari segi
subjeknya maupun objeknya atau kita batasi hanya membahas hal-hal tertentu saja,
misalnya, hanya menelaah aspek-aspek subjektifnya saja. Makalah ini memang sengaja
dibuat untuk memberikan gambaran saja mengenai keseluruhan aspek yang terkait
dengan tema penegakan hukum itu.
PENEGAKAN HUKUM OBJEKTIF
Seperti disebut di muka, secara objektif, norma hukum yang hendak ditegakkan
mencakup pengertian hukum formal dan hukum materiel. Hukum formal hanya
bersangkutan dengan peraturan perundang-undangan yang tertulis, sedangkan hukum
materiel mencakup pula pengertian nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Dalam bahasa yang tersendiri, kadang-kadang orang membedakan antara pengertian
penegakan hukum dan penegakan keadilan. Penegakan hukum dapat dikaitkan dengan
pengertian law enforcement dalam arti sempit, sedangkan penegakan hukum dalam arti
luas, dalam arti hukum materiel, diistilahkan dengan penegakan keadilan. Dalam bahasa
Inggeris juga terkadang dibedakan antara konsepsi court of law dalam arti pengadilan
hukum dan court of justice atau pengadilan keadilan. Bahkan, dengan semangat yang
sama pula, Mahkamah Agung di Amerika Serikat disebut dengan istilah Supreme Court
of Justice.
Istilah-istilah itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa hukum yang harus

ditegakkan itu pada intinya bukanlah norma aturan itu sendiri, melainkan nilai-nilai
keadilan yang terkandung di dalamnya. Memang ada doktrin yang membedakan antara
tugas hakim dalam proses pembuktian dalam perkara pidana dan perdata. Dalam perkara
perdata dikatakan bahwa hakim cukup menemukan kebenaran formil belaka, sedangkan
dalam perkara pidana barulah hakim diwajibkan mencari dan menemukan kebenaran
materiel yang menyangkut nilai-nilai keadilan yang harus diwujudkan dalam peradilan
pidana. Namun demikian, hakikat tugas hakim itu sendiri memang seharusnya mencari
dan menemukan kebenaran materiel untuk mewujudkan keadilan materiel. Kewajiban
demikian berlaku, baik dalam bidang pidana maupun di lapangan hukum perdata.
Pengertian kita tentang penegakan hukum sudah seharusnya berisi penegakan keadilan itu
sendiri, sehingga istilah penegakan hukum dan penegakan keadilan merupakan dua sisi
dari mata uang yang sama.
Setiap norma hukum sudah dengan sendirinya mengandung ketentuan tentang
hak-hak dan kewajiban-kewajiban para subjek hukum dalam lalu lintas hukum. Norma-norma
hukum yang bersifat dasar, tentulah berisi rumusan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang juga dasar dan mendasar. Karena itu, secara akademis, sebenarnya,
persoalan hak dan kewajiban asasi manusia memang menyangkut konsepsi yang niscaya
terkandung di dalamnya dimensi hak dan kewajiban secara paralel dan bersilang. Karena
itu, secara akademis, hak asasi manusia mestinya diimbangi dengan kewajiban asasi
manusia. Akan tetapi, dalam perkembangan sejarah, issue hak asasi manusia itu sendiri
terkait erat dengan persoalan ketidakadilan yang timbul dalam kaitannya dengan
persoalan kekuasaan. Dalam sejarah, kekuasaan yang diorganisasikan ke dalam dan
melalui organ-organ negara, seringkali terbukti melahirkan penindasan dan ketidakadilan.
Karena itu, sejarah umat manusia mewariskan gagasan perlindungan dan penghormatan
terhadap hak-hak asasi manusia. Gagasan perlindungan dan penghormatan hak asasi
manusia ini bahkan diadopsikan ke dalam pemikiran mengenai pembatasan kekuasaan
yang kemudian dikenal dengan aliran konstitusionalisme. Aliran konstitusionalime inilah yang
memberi warna modern terhadap ide-ide demokrasi dan nomokrasi (negara hukum) dalam
sejarah, sehingga perlindungan konstitusional terhadap hak asasi manusia
dianggap sebagai ciri utama yang perlu ada dalam setiap negara hukum yang demokratis
(democratische rechtsstaat) ataupun negara demokrasi yang berdasar atas hukum
(constitutional democracy).
Dengan perkataan lain, issue hak asasi manusia itu sebenarnya terkait erat dengan
persoalan penegakan hukum dan keadilan itu sendiri. Karena itu, sebenarnya, tidaklah
terlalu tepat untuk mengembangkan istilah penegakan hak asasi manusia secara
tersendiri. Lagi pula, apakah hak asasi manusia dapat ditegakkan? Bukankah yang
ditegakkan itu adalah aturan hukum dan konstitusi yang menjamin hak asasi manusia itu,
dan bukannya hak asasinya itu sendiri? Namun, dalam praktek sehari-hari, kita memang
sudah salah kaprah. Kita sudah terbiasa menggunakan istilah penegakan hak asasi

manusia. Masalahnya, kesadaran umum mengenai hak-hak asasi manusia dan kesadaran
untuk menghormati hak-hak asasi orang lain di kalangan masyarakat kitapun memang
belum berkembang secara sehat.
2.2 Aparatur Penegak Hukum
Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak
hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak
hukum yang terlibat dalam proses tegaknya hukum itu, dimulai dari saksi, polisi,
penasehat hukum, jaksa, hakim, dan petugas sipir pemasyarakatan. Setiap aparat dan
aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau
perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan, penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian sanksi, serta upaya
pemasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana.
Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum itu, terdapat tiga elemen
penting yang mempengaruhi, yaitu: (i) institusi penegak hukum beserta berbagai
perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaannya; (ii)
budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya,
dan (iii) perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun
yang mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materielnya
maupun hukum acaranya. Upaya penegakan hukum secara sistemik haruslah
memperhatikan ketiga aspek itu secara simultan, sehingga proses penegakan hukum dan
keadilan itu sendiri secara internal dapat diwujudkan secara nyata.
Namun, selain ketiga faktor di atas, keluhan berkenaan dengan kinerja penegakan
hukum di negara kita selama ini, sebenarnya juga memerlukan analisis yang lebih
menyeluruh lagi. Upaya penegakan hukum hanya satu elemen saja dari keseluruhan
persoalan kita sebagai Negara Hukum yang mencita-citakan upaya menegakkan dan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hukum tidak mungkin akan
tegak, jika hukum itu sendiri tidak atau belum mencerminkan perasaan atau nilai-nilai
keadilan yang hidup dalam masyarakatnya. Hukum tidak mungkin menjamin keadilan
jika materinya sebagian besar merupakan warisan masa lalu yang tidak sesuai lagi dengan
tuntutan zaman. Artinya, persoalan yang kita hadapi bukan saja berkenaan dengan upaya
penegakan hukum tetapi juga pembaruan hukum atau pembuatan hukum baru. Karena
itu, ada empat fungsi penting yang memerlukan perhatian yang seksama, yang yaitu (i)
pembuatan hukum (the legislation of law atau law and rule making), (ii) sosialisasi,
penyebarluasan dan bahkan pembudayaan hukum (socialization and promulgation of law,
dan (iii) penegakan hukum (the enforcement of law).
Ketiganya membutuhkan dukungan (iv) adminstrasi hukum (the administration of
law) yang efektif dan efisien yang dijalankan oleh pemerintahan (eksekutif) yang
bertanggungjawab (accountable). Karena itu, pengembangan administrasi hukum dan
sistem hukum dapat disebut sebagai agenda penting yang keempat sebagai tambahan
terhadap ketiga agenda tersebut di atas. Dalam arti luas, the administration of law itu
mencakup pengertian pelaksanaan hukum (rules executing) dan tata administrasi hukum

itu sendiri dalam pengertian yang sempit. Misalnya dapat dipersoalkan sejauhmana
sistem dokumentasi dan publikasi berbagai produk hukum yang ada selama ini telah
dikembangkan dalam rangka pendokumentasian peraturan-peraturan (regels), keputusankeputusan administrasi negara (beschikkings), ataupun penetapan dan putusan (vonis)
hakim di seluruh jajaran dan lapisan pemerintahan dari pusat sampai ke daerah-daerah.
Jika sistem administrasinya tidak jelas, bagaimana mungkin akses masyarakat luas
terhadap aneka bentuk produk hukum tersebut dapat terbuka? Jika akses tidak ada,
bagaimana mungkin mengharapkan masyarakat dapat taat pada aturan yang tidak
diketahuinya? Meskipun ada teori fiktie yang diakui sebagai doktrin hukum yang
bersifat universal, hukum juga perlu difungsikan sebagai sarana pendidikan dan
pembaruan masyarakat (social reform), dan karena itu ketidaktahuan masyarakat akan
hukum tidak boleh dibiarkan tanpa usaha sosialisasi dan pembudayaan hukum secara
sistematis dan bersengaja.
2.3 Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum
Menurut Soerjono Soekanto, dalam bukunya faktor-faktor yang mempengaruhi
penegakan hukum (2002:5) menyebutkan bahwa masalah pokok dari penegakan hukum
sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya, yaitu :
a.

Faktor hukumnya sendiri yaitu berupa undang-undang

b.

Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun yang menerapkan hukum.

c.

Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

d.

Faktor masyarakat, yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

e.

Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa
manusia di dalam pergaulan hidup.
Kemudian Al. Wisnubroto dalam bukunya yang berjudul Hakim dan peradilan di
Indonesia (1997:88-90) memuat beberapa faktor internal yang mempengaruhi hakim dalam
mengambil

keputusan. Adapun

beberapa

mempertimbangkan suatu keputusan adalah :


1.

Faktor Subjektif

a.

Sikap prilaku apriori

faktor

yang

mempengaruhi

hakim

dalam

Sering kali hakim dalam mengadili suatu perkara sejak awal dihinggapi suatu prasangka
atau dugaan bahwa terdakwa atau tergugat bersalah, sehingga harus dihukum atau dinyatakan
sebagai pihak yang kalah. Sikap ini jelas bertentangan dengan asas yang dijunjung tinggi dalam
peradilan modern, yakni asas praduga tak bersalah (presumtion of innocence), terutama dalam
perkara pidana. Sikap yang bersifat memihak salah satu pihak (biasanya adalah penuntut umum
atau penggugat) dan tidak adil ini bisa saja terjadi karena hakim terjebak oleh rutinitas
penanganan perkara yang menumpuk dan target penyelesaian yang tidak seimbang.
b.

Sikap perilaku emosional


Perilaku hakim yang mudah tersinggung, pendendam dan pemarah akan berbeda dengan
prilaku hakim yang penuh pengertian, sabar dan teliti dalam menangani suatu perkara. Hal ini
jelas sangat berpengaruh pada hasil putusannya.

c.

Sikap Arrogence power


Hakim yang memiliki sikap arogan, merasa dirinya berkuasa dan pintar melebihi orang
lain seperti jaksa, penasihat hukum apalagi terdakwa atau pihak-pihak yang bersengketa lainnya,
sering kali mempengaruhi Keputusannya.

d.

Moral
Faktor ini merupakan landasan yang sangat vital bagi insan penegak keadilan, terutama
hakim. Faktor ini berfungsi membentengi tindakan hakim terhadap cobaan-cobaan yang
mengarah pada penyimpangan, penyelewengan dan sikap tidak adil lainnya.

2.

Faktor Objektif

a.

Latar belakang sosial budaya


Latar belakang sosial hakim mempengaruhi sikap perilaku hakim. Dalam beberapa kajian
sosiologis menunjukkan bahwa, hakim yang berasal dari status sosial tinggi berbeda cara
memandang suatu permasalahan yang ada dalam masyarakat dengan hakim yang berasal dari
lingkungan status sosial menengah atau rendah.

b.

Profesionalisme

Profesionalisme yang meliputi knowledge (pengetahuan, wawasan) danskills (keahlian,


keterampilan) yang ditunjang dengan ketekunan dan ketelitian merupakan faktor yang
mempengaruhi cara hakim mengambil keputusan masalah profesionalisme ini juga sering
dikaitkan dengan kode etik di lingkungan peradilan. Oleh sebab itu hakim yang menangani suatu
perkara dengan berpegang teguh pada etika profesi tentu akan menghasilkan putusan yang lebih
dapat dipertanggungjawabkan.

2.4 Permasalahan Penegakan Huukum di Indonesia


Indonesia tengah mengalami krisis kepatuhan hukum karena hukum
telah kehilangan substansinya. Permasalahan hukum di Indonesia yang saat
ini sedang terjadi disebabkan oleh beberapa hal yaitu sistem peradilannya,
perangkat hukumny, inkonsistensi penegakan hukum, intervensi kekuasaan
maupun perlindungan hukum. Diantara banyaknya permasalahan tersebut
adalah adanya inkonsistensi penegakan hukum yang dilaksanakan oleh
aparat baik polisi, jaksa, hakim maupun pemerintah (eksekutif) yang ada
dalam wilayah peradilan yang bersangkutan. Inkonsistensi penegakan
hukum kadang melibatkan masyarakat itu sendiri dan dalam media
elektronik maupun media cetak. Inkonsistensi penegakan hukum ini secara
tidak disadari telah berlangsung dari hari ke hari. Contoh kecil dari
Inkonsistensi penegakan hukum yang terjadi pada saat berkendaraan dijalan
raya dikota besar seperti di Jakarta yang memberlakukan aturan "three-inone". Aturan ini tidak akan berlaku bagi TNI dan Polri. Bahkan polisi yang
bertugas membiarkan begitu saja mobil dinas TNI atau Polri yang melintas
meski mobil tersebut berpenumpang kurang dari tiga orang atau bahkan
terkadang

polisi

yang

bertugas

memberikan

penghormatan

apabila

penumpangnya berpangkat lebih tinggi. Secara tidak disadari hal tersebut


merupakan diskriminasi terhadap masyarakat awam tapi sayangnya banyak
masyarakat yang tidak menyadari hal tersebut.

Ketimpangan dan putusan hukum yang tidak menyentuh rasa keadilan


masyarakat tetap dirasakan dari hari ke hari. Berikut ini beberapa kasus
inkonsistensi penegakan hukum di Indonesia yang dikelompokan berdasarlan
beberapa alasan yang banyak ditemui oleh masyarakat awam baik melalui
pengalaman pencari keadilan itu sendiri maupun peristiwa lain yang bisa
diikuti melalui media cetak dan media elektronik.
a.

Tingkat kekayaan seseorang.

Tingkat kekayaan seseorang dapat memperingan masa tahan seseorang


yang melakukan pelanggaran. Pelaku pelanggaran bisa menyewa pengacara
mahal yang bisa mementahkan dakwaan kejaksaan untuk memperingan
masa tahanannya atau jika perlu pelaku dapat membayar hakim atau jaksa
agar

memperingan

masa

tahanannya.

Sebaliknya

dengan

pelaku

pelanggaran yang tidak memiliki uang yang banyak maka pelaku hanya bisa
membayar pengacara semampunya atau tidak sedikit pula yang mereka
hanya pasrah menerima putusan hakim. Padahal jika dibandingkan kasus
pelanggarannya tidak merugikan pemerintah milyaran rupiah. Inilah yang
terjadi di Indonesia saat ini. Hukum bisa dibeli dengan uang.

b.

Tingkat Jabatan Seseorang

Mari kita simak kasus berikut ini. Kasus Ancolgate berkaitan dengan studi
banding keluar negri yang diikuti oleh sekitar 40 orang anggota DPRD DKI
Komisi D. Dalam studi banding tersebut anggota DPRD yang berangkat
memanfaatkan dua sumber keuangan yaitu SPJ anggaran yang diperoleh dari
anggaran DPRD DKI sekitar 5,2 M dan uang saku dari PT. Pembangunan Jaya
Ancol sekitar 2,1 M. Dalam kasus ini 9 orang staf Bapedal DKI Bambang
Sungkono dan Kepala Dinas Tata Kota DKI Ahmadin Ahmad tidak dikenai
tindakan apapun. Penyelesaian masalah ini dilakukan setelah media cetak
dan

media

elektronik

menemukan

ketidaksesuaian

dalam

masalah

pendanaan studi banding tersebut. Penyelesaian secara administratif ini


seakan dilakukan agar dapat mencegah tindakan hukum yang mungkin bisa

dilakukan. Rasa ketidakadilan masyarakat terurik ketika sanksi ini hanya


dikenalan pada pegawai rendahan. Pihak kejaksaan pun terkesan mengulurulur janji untuk mengusut kasus ini sampai ke pejabat tinggi DKI yaitu
Gubernur Sutiyoso (saat itu) yang sebagai komisaris PT. Pembangunan Jaya
Ancol ikut bertanggungjawab.
Dari kasus diatas terlihat sekali bahwa seseorang yang memiliki jabatan
tinggi mendapat keringanan hukuman dibanding pegawai rendahannya.
Entah apa penyebabnya sampai hal ini terjadi. Secara tidak langsung hal ini
bisa disebut sebagai ketidakadilan hukum dimana karna jabatan seseorang
yang

tinggi

hukuman

yang

didapat

ketika

melakukan

pelanggaran

hukumannya pun lebih ringan dibandingkan seseorang yang jabatannya


rendah walaupun pada kasus yang sama.
c.

Nepotisme

Terdakwa Letda (Inf) Agus Isrok anak mantan Kepala Staf Angkatan Darat
(KASAD), Jendral (TNI) Subagyo H.S. diperingan hukumannya oldh mahkamah
militer dari empat tahum penjara menjadi dua tahun penjara. Disamping itu,
terdakwa juga dikembalikan ke kesatuannya selama dua minggu sambil
menunggu dan berpikir terhadap vonis mahkamah militer tinggi. Putusan ini
terasa tidk adil dibandingkan dengan vonis-vonis kasus narkoba lainnya yang
terjadi di Indonesia yang didasarkan atas pelaksanaan UU Psikotropika.
Disamping itu, proses pengadilan ini juga memperlihatkan eksklusivitas
hukum militer yang diterapkan pada kasus narkoba. Jelas sekaki kasus ini
mengesankan adanya diskriminasi hukum bagi keluarga bekas pejabat.
d.

Tekanan Internasional

Kasus Atambua, Nusa Tenggara Timur xang terjadi 6 September 2000 yang
menewaskan tiga orang staf NHCR mendapat perhatian Internasional dengan
cepat. Tekanan Internasional ini mengakibatjan pemerintah Indonesia
bertindak dengan melucuti pesenjataan milisi Timor Timor dan mengadiji
beberapa

bekas

anggota

milisi

Timor

Leste

yang

dianggap

bertanggungjawab. Apabila dibandingkan dengan kasus-kasus kekerasan

yamg terjadi di bagian lain di Indonesia seperti Ambon, Aceh, Samlar,


Sampit, kasus Atambua termasuk kasus yang memgalami penyelesaian
secara cepat dan tanggap dari aparat. Dalam enam bulan sejak kasus ini
terjadi, kekerasan berhasil diatasi, milisi berhasil dilucuti dan situasi kembali
aman dan normal. Meskipun kasus lainnya juga mendapat perhatian dari
Internasional, namun tekanan yang diberikn pada kasus ini lebih menekan
pemerintah Indonesia untuk dapat diselesaikan secepatnya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa derajat tekanan Internasional menentukan kecepatan
aparat melakukan penegakan hukum dalam mengatasi kasus kekerasan.
Dari beberapa kasus tadi, dapat menimbulkan masalah yang paling
dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi
kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat menjadi buruk terhadap
penegakan hukum. Hal ini membuat masyarakat tidak mempercayai huktm
sebagai

sarana

penyelesaian

konflik

dan

cenderung

menyelesaikan

permasalahannya diluar jalur hukum. Pemanfaatan inkonsistensi penegakan


hukum

oleh

sekelompok

orang

demi

kepentingannya

sendiri,

selaku

berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang setara.


Akibatnya
masyarakat

rasa

ketidakadilan

Indonesia.

dan

Penegakan

ketidakpuasan
hukum

di

tumbuh

Indonesia

subur

harus

di

terus

diupayakan dengan mulai memperbaiki kinerja dan moral aparat baik polisi,
jaksa, hakim maupun pemerintah (eksekutif) yang ada dalam wilayah
peradilan bersangkutan. Tanpa adanya perbaikan tersebut segala bentuk
KKN akan terus berpengaruh dalam proses penegakan hukum di Indonesia.
Selain itu materi hukum sendiri juga harus terus menerus diperbaiki, peran
DPR sebagai lembaga legislatif untuk lebih aktif dalam memperbaiki dan
menciptakan perundang-undangan yang lebih sesuai dengan perkembangan
zaman dan lebih tegas lagi. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat juga
menjadi faktor kunci dalam penegakan hukum secara konsisten.
Jadi, keterpurukan penegakan hukum di Indonesia terletak pada faktor integritas aparat

penegak hukum, aturan hukum yang tidak responsif, serta tidak diaplikasikannya nilainilai Pancasila khususnya nilai kemanusiaan, nilai musyawarah untuk mufakat dan nilai
keadilan dalam penegakan hukum oleh aparat penegak hukum, sehingga menimbulkan
ketidakpercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum yang ada di Indonesia. Hasil
penelitian, menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum
sangat dipengaruhi oleh keadaan atau situasional suatu daerah, apabila disuatu daerah
penegakan hukumnya baik, maka tingkat kepercayaan masyarakat juga baik di daerah
tersebut, namun apabila penegakan hukumnya kurang baik, maka tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap penegakan hukum di daerah tersebut menjadi kurang baik.
Dalam rangka pembentukan hukum nasional, perlu dibentuk konsepsi sistem
hukum Indonesia, yang penulis sebut dengan Indonesia Juripridence maka nilai-nilai
Pancasila harus diserap dalam pembentukan hukum, sehingga dibutuhkan standar hukum
yang bersifat united legal frame work dan united legal opinion (Kesatuan pandangan) di
antara aparat penegak hukum sehingga perlu dibentuk Undang-Undang sinergitas terpadu
dalam pelaksanaan tugas penegakan hukum. Untuk mengembalikan kepercayaan
masyarakat, maka dibutuhkan aparat penegak hukum yang memiliki integritas baik, aturan
hukum yang responsif yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan selanjutnya
diimplementasikan ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari oleh aparat penegak hukum.

2.5 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PENEGAKAN HUKUM


Suatu hukum hanya dapat dilaksanakan dan diterapkan dengan baik apabila dalam
Masyarakat terdapat suatu struktur yang memungkinkan bagi setiap anggota masyarakat untuk
mewujudkan cita-cita hukum tersebut. Oleh karena itu jika kita mengharapkan perilaku hukum
masyarakat yang baik, maka kita harus menciptakan struktur sosial masyarakat yang baik pula.
Selama struktur sosial masyarakat tidak terkandung kearah susunan masyarakat yang baik
maka selama itu pula perilaku hukum masyarakat sulit untuk mengarah kepada perilaku hukum
yang baik.
Selanjutnya, harus pula dipahami bahwa kesadaran hukum yang menyangkut perilaku
manusia, tidak dapat dilepaskan dari sikap batin. Oleh karena itu kesadaran hukum yang
dimaksudkan haruslah memiliki keterkaitan pula dengan sikap batin pelakunya. Dengan kata
lain, harus terdapat kaitan yang erat antara sikap batin dan tindakan yang dilakukan oleh
seseorang.
Berdasarkan uraian-uraian yang telah kami kemukakan pada bahagian terdahulu, maka
pada bahagian ini dapat kami simpulkan hal-hal sebagai berikut: 1) Bahwa pemberdayaan
masyarakat dalam proses penegakan hukum meliputi peningkatan, pengetahuan masyarakat
terhadap kaedah hukum itu sendiri termasuk pengetahuan dan pemahamannya terhadap isi
kaedah hukum itu, ketaatan dan kepatuhan masyarakat terhadap kaedah hukum itu dan pola

perilaku hukum masyarakat itu sendiri; 2) Bahwa pemahaman hukum masyarakat dipengaruhi
oleh struktur sosial tempat di mana hukum itu berlaku, karenanya untuk mencapai
terpeliharanya tertib hukum melalui kesadaran hukum masyarakat, maka perlu pula dibenahi
struktur masyarakat yang bersangkutan, seperti struktur ekonomi, politik, pendidikan,
pertahanan keamanan dan lain sebagainya yang terdapat dalam sistem sosial; 3) Bahwa
pemberdayaan masyarakat untuk memelihara tertib hukum, tidak hanya dipengaruhi oleh
faktor juridis semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor non juridis seperti sikap penegak
hukum, sarana dan prasarana, budaya hukum dan masyarakat sebagai pemegang peran; 4)
Bahwa perlu kiranya untuk menumbuhkan kesadaran hukum masyarakat agar tertib hukum
terpelihara dengan baik disusun suatu kaedah hukum yang sesuai dengan aspirasi masyarakat
Indonesia, sesuai dengan asas-asas hukum Indonesia dengan kata lain perlu diperhatikan segi
substansialnya, bukan segi formalnya seperti yang berkembang selama ini

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau

berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu
lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak
hukum dan aparat (orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak
hukum yang terlibat dalam proses tegaknya hukum itu, dimulai dari saksi, polisi,
penasehat hukum, jaksa, hakim, dan petugas sipir pemasyarakatan.

Anda mungkin juga menyukai