Anda di halaman 1dari 147

Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut (Bunga Rampai)

Editor:

Jamaluddin Jompa Natsir Nessa Muhammad Lukman

Kontributor:

Andriani|Dining|Jamaluddin Jompa |Muhammad Lukman | Naomi| Natsir Nessa Rahmi | Sudirman | Syamsu Alam Ali | Yusran Nur Indar dkk

Jompa |Muhammad Lukman | Naomi| Natsir Nessa Rahmi | Sudirman | Syamsu Alam Ali | Yusran
i
i
Jompa |Muhammad Lukman | Naomi| Natsir Nessa Rahmi | Sudirman | Syamsu Alam Ali | Yusran

Daftar Isi

Daftar Isi

URGENSI KONSERVASI LAUT (KAWASAN DAN JENIS) DALAM

i

PENGELOLAAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA

1

Natsir Nessa, Jamaluddin Jompa, Muhammad Lukman1

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI YANG EFEKTIF DAN ADAPTIF

7

Yusran Nur Indar dan Jamaluddin Jompa

 

7

KONEKTIVITAS KAWASAN KONSERVASI

35

Jamaluddin Jompa et

 

35

STATUS KEBERLANJUTAN PENYU LAUT DI PULAU KAPOPOSANG

14

Syamsu Alam Ali dan Deasy Ariani

 

14

MODEL-MODEL PENGELOLAAN KONSERVASI

33

Dining, Jamaluddin Jompa dkk

 

33

PERIKANAN DAN KONSERVASI: SINERGIS ATAU KONTRADIKTIF?

54

Sudirman dan Natsir Nessa

 

54

KAWASAN

KONSERVASI

LAUT

DAN

PEMULIHAN

KEANEKARAGAMAN

LARVA

68

Muhammad Lukman, Andriani

 

68

KAWASAN KONSERVASI LAUT DAN PREVALENSI PENYAKIT KARANG DI

INDONESIA

83

Rahmi, Jamaluddin Jompa

83

i

URGENSI KONSERVASI LAUT (KAWASAN DAN JENIS) DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA

Natsir Nessa, Jamaluddin Jompa, Muhammad Lukman

Pendahuluan

Memimpikan Indonesia di tahun 2020 memiliki kawasan konservasi dengan luas 20 Jt Ha merupakan sebuah keniscayaan yang akan segera terwujud. Hingga akhir tahun 2012, KKP telah merilis 10,7 Jt Ha kawasan konservasi (KKP, 2012). Luas KKP itu sudah menjadi 1.84% dari luas lautannya, 580 Jt Ha (KKP, 2009). Indonesia dengan kawasan konservasi itu menjadi cita-cita besar bagi sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17,540 dan panjang garis pantai 95,000 Km yang membentang dari ujung barat ke timur. Ini yang mendapat apresiasi dari berbagai stakeholder baik . dalam negeri maupun komunitas luar negeri. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau 17.540 dan panjang garis pantai 95 ribu kilometer yang membentang dari ujung barat ke timur. Karunia sumber daya alam yang melimpah dan keanekaragaman hayati yang besar membuat Indonesia menjadi bangsa yang diperhitungkan di dunia. Indonesia menjadi Center of Excellent keanekaragaman sumber daya hayati. Hal tersebut didukung oleh potensi kelautan dan perikanan, pertambangan, perhubungan laut, industri maritime, ekowisata, jasa kelautan dan energy sumber daya mineral yang yang melimpah. Sumber daya hayati terumbu karang mencapai 500 jenis spesies dan spesies ikan 2000 jenis, budidaya (12,4 juta hektar), perikanan tangkap (6,8 juta ton), cadangan minyak bumi (9,1 milyar barel), cekungan minyak dan gas/migas sampai 70 persen. Potensi tersebut akan memberi manfaat jika dibarengi dengan pengembangan konservasi sumber daya ikan, wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

Pendayagunaan potensi sumber daya laut terus berkembang. Berbagai kegiatan dilakukan untuk mengeksplorasi sumber daya laut tersebut. Data BPS 2014 menyebutkan bahwa potensi kelautan memberikan kontribusi terhadap Produk Domesti Bruto tahun 2013 sebesar 3,21 % atau 291,799 trilliun rupiah. Upaya peningkatan pendapatan dari sector kelautan terus ditingkatkan dan akan memberi dampak positif terhadap akses pertumbuhan ekonomi di bidang

1

kelautan. Disisi lain, pembukaan lapangan pekerjaan akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja di sector kelautan.

Tabel 1. Jenis dan Luas Kawasan Konservasi Perairan

No

Lokasi/ Nama KKP

Luas (Ha)

Keterangan

1

KKPN/TNP Laut Sawu, NTT

3,521,130.01

KKJI+UPT

2

KKPN/TWP Gili Matra, NTB

2,954.00

KKJI+UPT

3

KKPN/TWP Laut Banda, Maluku

25,000.00

KKJI+UPT

4

KKPN/TWP P. Pieh, Sumbar

39,900.00

KKJI+UPT

5

KKPN/TWP Padaido

183,000.00

KKJI+COREMAP+UPT

6

KKPN/TWP Kapoposang, Sulsel

50,000.00

KKJI+COREMAP+UPT

7

KKPN/SAP Aru Tenggara, Maluku

114,000.00

KKJI+UPT

8

KKPN/SAP Raja Ampat, Papua Barat

60,000.00

KKJI+COREMAP+UPT

9

KKPN/SAP Waigeo, Papua Barat

271,630.00

KKJI+COREMAP+UPT

10

KKPD/Raja Ampat, Papua Barat

970,900.00

KKJI+COREMAP+UPT+PEMDA

11

KKPD/Sukabumi, Jawa Barat

1,771.00

KKJI+PEMDA

12

KKPD/Berau, Kaltim

1,271,749.00

KKJI+PEMDA

13

KKPD/Pesisir Selatan, Sumbar

733.00

KKJI+PEMDA

14

KKPD/Bonebolango, Gorontalo

2,460.00

KKJI+PEMDA

15

KKPD/Batang, Jawa Barat

6,800.00

KKJI+PEMDA

16

KKPD/Lampung Barat, Lampung

14,866.87

KKJI+PEMDA

17

KKPD/Alor, NTT

400,008.30

KKJI+PEMDA

18

KKPD/Indramayu, Jawa Barat

720.00

KKJI+PEMDA

19

KKPD/Batam, Kepri

66,867.00

KKJI+PEMDA

20

KKPD/Bintan, Kepri

472,905.00

KKJI+PEMDA

21

KKPD/Natuna, Kepri

142,997.00

KKJI+PEMDA

22

KKPN/Anambas, Kepri

1,842,960.27

KKJI+PEMDA

23

KKP Lainnya (54-12=42 KKPD)

1,262,686.20

KKJI+PEMDA

 

Jumlah

10,703,537.65

 

Sumber. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan, 2012

Mendorong pertumbuhan ekonomi dari sector kelautan seperti pisau bermata dua. Pemanfaatan sumber daya yang tidak mengacu pada prinsip keberlanjutan dan mengabaikan asas pelestarian menjadi ancaman serius. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Menurut Selig and Bruno (2010) bahwa segala kegiatan manusia akhirnya mempengaruhi struktur bangunan terumbu karang. Aktivitas

2

manusia pada akhirnya akan menghasilkan pencemaran dan berdampak pada kerusakan sumber daya hayati laut. Sumber pencemaran bersumber dari pembangunan kawasan pemukiman, pertambangan, pelayaran, industri perikanan, budidaya. Selain itu, aktivitas masyarakat pesisir yang melakukan alih fungsi lahan mangrove menjadi lahan tambak dan kawasan pemukiman membuat kawasan pesisir makin terdegradasi. Penyebab kerusakan sumber daya hayati laut juga akibat dari penangkapan ikan yang berlebihan (over-exploitation). Laju penangkapan ikan yang berlebihan mengakibatkan stok populasi ikan menurun. Kehidupan nelayan akan mengalami kerugian akibat sumber daya ikan yang makin berkurang. Berkurangnya sumber pendapatan ekonomi akan mengakibatkan nelayan mencari ikan di wilayah lain. Sumber daya yang makin berkurang itu membuat nelayan memilih jalan singkat menangkap ikan. Penangkapan secara destruktif menjadi pilihan yang cepat dan menghasilkan ikan yang banyak. Namun demikan, cara tersebut mengakibatkan kerusakan habitat ikan dan lingkungan laut semakin meningkat.

Lemahnya peran pemerintah mendorong kebijakan pemanfaatan sumber daya alam menjadi celah bertambahnya tingkat kerusakan. Apalagi masyarakat pesisir yang makin terhimpit secara ekonomi. Keadaan ini membuat kesadaran mengelola lingkungan pesisir semakin rendah. Situasi itu kemudian mendorong masyarakat pesisir terjebak pada ruang kemiskinan. Hasil kajian Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa penduduk miskin di Indonesia kebanyakan di wilayah pesisir dengan jumlah 7,9 juta atau 25 persen dari penduduk miskin di Indonesia. (Kabarbisnis.com, 30 Mei 2014). Pada saat bersamaan, kerusakan lingkungan pesisir dan laut juga terus meningkat. Hasil kajian Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan sekitar 30,4 persen kondisi terumbu karang mengalami kerusakan. Hanya 5,29 persen yang berada dalam kondisi baik. (Koran Sindo, 16 April 2014).

Membumikan Konservasi Laut Upaya penyelamatan ekosistem dan konservasi laut sudah dilakukan sejak dahulu. Melalui program Marine and Coastal Resources Managemen Program (MCRMP), pemerintah mendorong pengelolaan sumber daya alam yang bertujuan pada pelestarian ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Setelah program MCRMP, pemerintah Indonesia kemudian memprakarsai program COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), atau Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang. Program Coremap I dan Coremap II dilaksanakan untuk mendorong peningkatan rehabilitasi, melindungi dan mengelola terumbu karang secara lestari. Program Coremap menggambarkan peningkatan perlindungan kawasan yang cukup signifikan. Seiring dengan itu, nilai manfaat program Coremap secara ekonomi dirasakan oleh masyarakat pesisir. Walhasil

3

masyarakat semakin menyadari pentingnya upaya perlindungan terhadap ekosistem laut. Meski demikian, ancaman kerusakan ekosistem laut juga makin serius. Melihat dampak yang akan ditimbulkan membuat Indonesia dan negara- negara yang berkepentingan dengan laut menginisiasi pertemua kelautan dunia. Indonesia kemudian mejadi tuan rumah World Ocean Conference dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit 2009. Dukungan dunia internasional dibuktikan dengan hadirnya 121 negara. Sementara CTI Summit secara khusus dilakukan oleh negara negara yang mencakup segitiga terumbu karang dunia yakni Filipina. Indonesia, Papua Nugini, Malaysia, Timor Leste, Kepulauan Solomon, utusan khusus pemerintah Australia dan Amerika Serikat. CTI merupakan upaya kerja sama negara-negara di segitiga karang dunia untuk melakukan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dengan mewujudkan kawasan Kawasan Perlindungan Laut (Marine Protected Area-MPA). Kawasan ini merupakan pusat keanekaragaman hayati di dunia yang memiliki pengaruh terhadap keseimbangan ekosistem secara global. Setiap negara sangat berkepentingan agar kawasan ini tetap lestari, dengan 500 spesies karang, 3.000 spesies ikan dan kawasan hutan mangrove yang paling besar di dunia, kawasan CTI menjadi harapan manusia di masa mendatang. Dukungan internasional untuk meningkatkan pengelolaan laut yang berkelanjutan melalui penetapan kawasan konservasi laut terus berkembang. Harapannya konservasi laut mampu memberikan manfaat secara ekonomi kepada masyarakat pesisir. Untuk mencapai hal itu, pemerintah bersama bersama Deputy Administrator of United States Agency for International Development (USAID), secara resmi menyatakan dimulainya program Marine Protected Areas Governance (MPAG) di Indonesia.

MPA bukan hanya tentang melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati laut, tetapi juga untuk mendukung perikanan berkelanjutan, ekowisata bahari, dan keperluan lainnya untuk kesejahteraan masyarakat pesisir. Dukungan terhadap MPA cukup kuat dengan adanya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.17 / MEN / 2008 yang mengatur kawasan konservasi daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 60/ 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Perikanan menjadi dasar program MPA. Hal tersebut mengatur sistem zonasi perairan yang dibutuhkan dalam MPA. Sistem Zonasi yang digunakan dalam mengelola MPA terbagi atas empat zona yakni zona inti, zona pemanfaatan, zona perikanan berkelanjutan, dan zona lainnya. Pembagian zona tersebut merupakan satu kesatuan kawasan yang dikelola secara efektif, dengan harapan mampu memajukan industri kelautan dan perikanan.

4

Solusi Pengelolaan Terumbu Karang

Pendekatan kawasan konservasi laut sangat signifikan dalam mengurangi arus kerusakan terumbu karang. Secara perlahan terumbu karang mampu melakukan recovery dengan berkembangnya konsep pengelolaan kawasan konservasi. Pilar pengelolaan kawasan konservasi yakni perlindungan, pelestarian dan pengelolaan yang berkelanjutan menjadi faktor yang cukup menentukan dalam pengelolaan terumbu karang. Untuk mendukung target pencapaian 20 juta Ha Luas Kawasan Konservasi di tahun 2020, sesuai dengan Konferensi Biodiversity yang menyatakan bahwa target Marine Protected Area (MPA) sebesar 10% dari luas Perairan Dunia. Olehnya itu, pemerintah Indonesia menetapkan pola jejaring kawasan konservasi. Aturan pelaksanaan tersebut telah diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2007 Tentang Konservasi Sumber Daya Ikan yang menyebutkan bahwa Dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan dapat dibentuk jejaring kawasan konservasi perairan, baik pada tingkat lokal, nasional, regional, maupun global. Pembentukannya berdasarkan keterkaitan biofisik antar kawasan konservasi perairan disertai dengan bukti ilmiah yang meliputi aspek oceanografi, limnologi, bioekologi perikanan, dan daya tahan lingkungan. Tahun 2013, Kawasan Konservasi perairan di Indonesia telah mencapai 15.764.210.85 Hektar yang berjumlah 131 kawasan, diantaranya terdiri dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah, Taman nasional, Taman Wisata Perairan, Cagar Alam dan Suaka Alam Perairan. Sulawesi Selatan memiliki empat kawasan Konservasi yang semuanya terletak di Selat Makassar dan memanjang kearah selatan selat dengan luas kawasan Konservasi mencapai 757,020 Ha atau +5% dari total luas Kawasan Konservasi saat ini di Indonesia. (Direktorat Konservasi Kawasan Dan Jenis Ikan, 2014). Mengembangkan kawasan MPA mejadi tanggung jawab secara social semua pihak. Pemerintah, masyarakat, NGO, perusahaan swasta mesti memiliki visi yang sama tentang MPA. Sehingga tahun 2020 target pencapaian 20 juta Ha bisa tercapai.

Menembus Dimensi Kawasan Konservasi Laut Buku ini membahas gambaran konservasi laut dari berbagai dimensi. Sebagai bahan bacaan yang disajikan secara ilmiah namun tetap renyah untuk dibaca. Setiap Bab membahas tema berbeda yang mendukung pengelolaan kawasan konservasi laut. Bab II, dibahas bagaimana mengevaluasi efektivitas pengelolaan kawasan taman wisata perairan dan kawasan konservasi laut khususnya di daerah Kabupaten Pangkep. Bab III memaparkan aspek hubungan dan keterkaitan secara biofisik antar kawasan konservasi untuk mendukung jalinan jejaring kawasan konservasi. Pada Bab IV dan V secara khusus mengupas pengelolaan kawasan konservasi jenis penyu. Dari

5

Bab ini akan diperoleh status keberlanjutan setiap dimensi dalam pengelolaan

penyu di Pulau Kapoposang. Bab V membahasa berbagai macam Bagan yang perannya dianggap menjadi ancaman dalam pengelolaan MPA. Sementara itu Bab

VII dan Bab VIII secara khusus membahas konservasi laut kaitannya dengan

pemulihan keanekaragaman larva dan perevelnsi terhadap penyakit karang.

6

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI YANG EFEKTIF DAN ADAPTIF

Yusran Nur Indar dan Jamaluddin Jompa

Pendahuluan

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dikelilingi oleh konfigurasi pulau-pulau yang berjumlah 17.480 terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik dengan panjang garis kurang lebih 95.186 km yang merupakan garis pantai tropis terpanjang di dunia setelah Kanada. Luas daratan Indonesia sebesar 1.922.570 km 2 dan luas perairannya 3.257.483 km 2 . Di dalam wilayah tersebut terkandung berbagai potensi perikanan tangkap lestari sebesar 6,4 juta ton, lahan budidaya sekitar 1,1 juta ha, dan potensi lain baik dari udang-udangan, kerang-kerangan, maupun mamalia laut. Sekitar 80% industri dan 75% kota besar di Indonesia berada di wilayah pesisir. Potensi lain yang tidak kalah pentingnya adalah jasa transportasi laut, industri maritim, wisata bahari, industri alternatif dan sumber obat-obatan (Ruchimat, 2012).

Sumber daya alam pulau-pulau kecil bila dipadukan dengan sumber daya manusia yang handal serta di dukung dengan iptek yang di tunjang dengan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan yang tepat bisa menjadi modal yang besar bagi pembangunan nasional. Peluang yang dimiliki adalah kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang potensial untuk ditumbuhkembangkan pendayagunaannya. Sumber daya alam pulau-pulau kecil mempunyai arti penting bagi kegiatan perikanan, konservasi dan preservasi lingkungan, wisata bahari dan kegiatan jasa lingkungan lain yang terkait.

Kawasan konservasi perairan di Indonesia tidak kurang dari 16 juta hektar (Ruchimat dalam Pedoman Teknis E-KKP3K, 2012) yang kini menghadapi ancaman dan persoalan pengelolaan yang sangat berat. Ancaman tersebut dapat berupa ancaman langsung maupun tidak langsung. Ancaman langsung meliputi praktik penebangan liar, penyerobotan dan konversi lahan, penangkapan hewan langka, pengeboman ikan, maupun yang disebabkan oleh faktor-faktor alam seperti kebakaran hutan dan fenomena pemanasan global yang mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Ancaman tidak langsung meliputi hal-hal yang disebabkan oleh adanya kebijakan yang berkonotasi dua (ambiguity), ketidakjelasan akan hak-hak dan akses masyarakat, peraturan perundang-undangan yang kurang memadai dan tumpang tindih, serta penegakan hukum yang lemah sehingga

7

pengelolaan kawasan konservasi termasuk yang berkategori taman wisata alam laut tidak efektif.

Pada pertemuan internasional Convention on Biological Diversity pada tahun 2006 di Brazil, pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk memperluas kawasan konservasi laut seluas 10 juta hektar pada tahun 2010 dan berkomitmen memperluasnya menjadi 20 juta hektar pada tahun 2020 (UNEP-WCMC, 2008). Komitmen didasarkan selain pada tingginya kebutuhan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan juga untuk menghadapi ancaman tekanan terhadap sumberdaya laut. Kepulauan Spermonde memiliki keragaman ekosistem dan keanekaragaman jenis biota laut yang tinggi. Kepulauan ini terbentuk dan muncul di atas dangkalan Spermonde (Spermonde Shelf) yang terletak di pesisir barat Propinsi Sulawesi Selatan (Selat Makassar) membentang dari utara ke selatan sepanjang kurang lebih 300 km dengan luas 16.000 km 2 . Kabupaten Pangkep dicirikan oleh wilayah perairan lautnya yang luas dengan taburan 117 pulau-pulau merupakan ekosistem dengan keragaman hayati yang sangat tinggi terutama pada habitat terumbu karang (Ditjen KP3K http://kkji.kp3k.kkp.go.id/, diakses pada tanggal 25 Desember 2013).

Wilayah pesisir dan laut Kabupaten Pangkep dicirikan dengan produktivitas ekosistem yang tinggi sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian. Ekosistem pesisir utama Kabupaten Pangkep adalah terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Salah satu upaya dalam menyelamatkan ekosistem wilayah pesisir di Kabupaten Pangkep adalah dengan membetuk Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang telah diinisiasi oleh COREMAP II. DPL merupakan wilayah perlindungan laut yang dibentuk berdasarkan aspirasi masyarakat. Hingga saat ini hampir di setiap desa kecamatan pesisir memiliki DPL. Akan tetapi, permasalahan kerusakan ekosistem pesisir tidak secara otomatis telah terpecahkan dengan terbetuknya DPL tersebut.

Selain itu, kemampuan resistensi dan resiliensi dari setiap DPL belum teruji karena belum ada mekanisme konektivitas antar DPL yang dijadikan pertimbangan dalam pemilihan lokasi tersebut. Oleh karena itu, dibentuklah Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep berdasarkan Surat Keputusan Bupati No. 180 Tahun 2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep dan Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan untuk menjamin daya resistensi dan resiliensi dari setiap lokasi terpilih melalui mekanisme konektivitas antar habitat, biota, dan kondisi ekologinya. Berdasarkan SK Bupati tersebut, KKLD Pangkep mencakup wilayah administrasi Kecamatan Liukang Tupabbiring dan Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara.

8

Kepulauan Kapoposang merupakan bagian dari Kepulauan Spermonde dan secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan. SK Menteri Kehutanan No. 588/KPTS- VI/1996 tanggal 12 September 1996 menetapkan Kepulauan Kapoposang sebagai Taman Wisata Alam Laut dengan luas sebesar 50.000 hektar dan memiliki panjang batas 103 km. Saat ini Pengelolaan Kepulauan Kapoposang dan perairan sekitarnya telah diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan sesuai dengan Berita Acara Serah Terima No. BA.108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 Maret 2009. Kawasan ini lalu ditetapkan sebagai Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang (TWP Kepulauan Kapoposang) sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.66/MEN/2009 (Haslindah, 2012).

Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan terjadinya tekanan ekologis terhadap sumberdaya pesisir dan laut. Setiap tahunnya terjadi penurunan kualitas dan daya dukung ekosistem pesisir dan laut terutama akibat dari penangkapan ikan secara destruktif. Demikian halnya terjadi di wilayah kawasan konservasi TWP Kapoposang maupun KKLD Kabupaten Pangkep dimana Tingkat PITRaL masih sering terjadi (Saleh. A, 2010). Oleh karenanya, pengelolaan kawasan konservasi bertujuan untuk mendapatkan bentuk penataan ruang dan arah pengelolaan kawasan konservasi yang optimal sehingga dapat meningkatkan fungsi dari kawasan konservasi itu sendiri serta untuk mencegah timbulnya kerusakan lingkungan.

Keputusan Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil nomor KEP/44/KP3K/2012 tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K) adalah pedoman teknis yang diterbitkan untuk menilai capaian kinerja pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia, tujuannya adalah untuk mendukung komitmen pemerintah dalam proses perluasan kawasan konservasi sampai 20 juta hektar pada tahun 2020.

Taman Wisata Perairan Kapoposang dan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep adalah kawasan konservasi yang dikelola oleh Pemerintah untuk menjamin ketersediaan sumberdaya laut. Pengelolaan kawasan konservasi tersebut ditujukan untuk menselaraskan kepentingan perlindungan sumberdaya laut dan kepentingan pemanfaatan sumberdaya sehingga proses pemanfaatan sumberdaya dapat berlangsung secara berkelanjutan. Proses pengelolaan kedua kawasan konservasi tersebut tentunya harus terus ditingkatkan sehingga pada akhirnya pengelolaan secara mandiri dan berkelanjutan dapat segera terwujud. Untuk mendorong percepatan kinerja pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang dan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep

9

tentunya harus dievaluasi agar upaya peningkatan kinerja pengelolaannya didasarkan pada hasil-hasil evaluasi tersebut dan dengan berdasarkan hal tersebut sehingga penelitian ini ditujukan untuk Mengkaji capaian kinerja pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang dan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep dengan menggunakan Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K) sesuai keputusan Kementerian Kelautan Perikanan melalui Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil nomor 44 /KP3K/2012 serta mengetahui persepsi nelayan setempat terhadap keberadaan kawasan TWP Kapoposang dan KKLD Kabupaten Pangkep.

Gambaran Umum

Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang pada awalnya berada dalam pengelolaan Kementerian Kehutanan dimana berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan No. 588/KPTS-VI/1996 tanggal 12 September 1996 ditetapkan Kepulauan Kapoposang sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) seluas 50.000 ha. Kemudian TWAL Kapoposang diserahterimakan pengelolaannya dari Kementerian Kehutanan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Berita Acara nomor 01/Menhut-IV/2009 dan BA 108/MEN.KP/III/2009 pada tanggal 4 Maret 2009. Nomen klaturnya kemudian berubah menjadi Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Kapoposang dan Laut di Sekitarnya melalui keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 66/MEN/2009 tentang penetapan kawasan konservasi perairan nasional Kepulauan Kapoposang dan Laut di sekitarnya di Propinsi Sulawesi Selatan (Ditjen KP3K http://kkji.kp3k.kkp.go.id , diakses pada tanggal 12 Mei 2014).

10

Gambar 6 : Peta Zonasi Taman Wisata Perairan Kapoposang . Sumber : Balai Kawasan Konservasi

Gambar 6 : Peta Zonasi Taman Wisata Perairan Kapoposang. Sumber :

Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kota Kupang (2014)

Secara geografis Kawasan konservsi TWP Kepulauan Kapoposang terletak pada koordinat 4°37’ sampai 4°52’ Lintang Selatan dan 118°54’00” sampai 119°10’00” Bujur Timur. Secara administratif, Kepulauan Kapoposang termasuk dalam wilayah Kecamatan Liukang Tupabbiring dengan batas-batas wilayah administrasinya adalah sebagai berikut:

Sebelah utara berbatasan dengan Selat Makasar

Sebelah timur berbatasan dengan Desa Mattiro Walie

Sebelah selatan berbatasan dengan Perairan Kota Makasar

Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Liukang Kalmas dan Selat Makasar.

Pada TWP Kapoposang terdapat 2 desa yaitu Desa Mattiro Ujung yang meliputi Pulau Kapoposang dan Pulau Papandangan dan Desa Mattiro Matae yang meliputi Pulau Gondongbali, Pulau Pamanggangan, Pulau Tambakulu dan Pulau Suranti. Dari keenam pulau tersebut, 3 diantaranya berpenduduk yaitu Pulau Kapoposang, Pulau Papandangan dan Pulau Gondongbali (Rencana Pengelolaan dan Zonasi TWP Kapoposang, 2013).

11

Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep

Kawasan Konservasi laut daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep baru diekspose dengan adanya program COREMAP II, namun sesungguhnya beberapa kawasan di kabupaten ini telah lama di tetapkan oleh masyarakat sebagai kawasan yang tidak boleh dijamah oleh manusia, Kawasan seperti ini dapat ditemukan di daerah Kecamatan Liukang Tupabbiring misalnya daerah terumbu karang Kalaroang yang dikenal sejak tahun 60an yang tidak bisa dijamah oleh masyarakat disekitar tersebut karena dikeramatkan (Management Plan KKLD Kab.Pangkep, 2010).

Bila mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan, maka status KKLD Kabupaten Pangkep masih bersifat pencadangan kawasan oleh Pemerintah Daerah dimana belum mendapatkan pengesahan secara resmi oleh Menteri mengingat beberapa persyaratan yang dibutuhkan belum terpenuhi. Dalam hal penataan batas kawasan dimana luasan dan batas-batas titik koordinat kawasan sudah ditentukan namun saat ini belum ada penandaan dan penempatan batas kawasan berdasarkan zona yang telah ditentukan. Selain itu, status Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang masih dalam status pencadangan kawasan Konservasi juga ditetapkan melalui Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan.

12

Gambar 7 : Peta Zonasi Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep . Sumber : Dinas

Gambar 7 : Peta Zonasi Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep. Sumber : Dinas Kelautan Dan Perikanan Kabupaten Pangkep (2014).

Berdasarkan Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan Nomor 32 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan bahwa kewenangan Pengelolaan KKLD dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Pangkep dimana kewenangan pengelolaannya dilaksanakan oleh instansi terkait yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan.

Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Taman Wisata Perairan Kapoposang Dan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep

Capaian Kinerja Pengelolaan Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang

Berdasarkan hasil perhitungan capaian kinerja pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang dengan menggunakan rumus E-KKP3K diperoleh nilai persentase yang variatif menurun dari setiap peringkat. Pada peringkat merah (kawasan konservasi diinisiasi) diperoleh persentase capaian kinerja senilai 100 %, peringkat kuning (kawasan konservasi didirikan) dengan capaian 100 %, peringkat hijau (kawasan konservasi dikelola minimum) dengan capaian 76,19 %, peringkat biru (kawasan konservasi dikelola optimum) dengan capaian 57,14 % dan peringkat emas (kawasan konservasi mandiri) dengan capaian 33,33 %.

13

Pada peringkat hijau, kinerja pengelolaan baru mencapai 76,19 %, hal ini disebabkan karena unit pengelola memiliki SDM yang fungsinya belum sesuai dengan fungsi pengelolaan dimana fungsi yang dimaksud berupa fungsi pengawasan, monitoring sumberdaya dan penguatan sosial ekonomi budaya. Selain dokumen rencana pengololaan belum disahkan, juga belum ada dokumen- dokumen tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan administrasi perkantoran, SOP sarana-prasarana minimum dan SOP yang mengatur tentang penguatan kelembagaan, patroli bersama, pengelolaan sumberdaya kawasan, dan penguatan sosial ekonomi dan budaya.

Pada peringkat biru, kinerja pengelolaan baru mencapai 57,14 %, hal ini disebabkan karena kualifikasi SDM pada unit organisasi pengelola belum sesuai dengan kompetensi yang ada dalam artian bahwa sejumlah SDM belum pernah mengikuti pelatihan pengelolaan kawasan konservasi. Selain itu, anggaran pengelolaan kawasan konservasi belum terpenuhi sesuai kebutuhan perencanaan pengelolaan sehingga kebutuhan terhadap sarana dan prasarana pengelolaan juga belum terpenuhi. Persoalan lain yang timbul akibat dari keterbatasan anggaran pengelolaan adalah belum adanya inisiasi kegiatan pengawasan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Unit pengelola TWP Kapoposang sampai saat ini juga belum menetapkan data ekologis mana yang akan digunakan sebagai garis dasar (t 0 ) untuk melakukan pemantauan secara berkala perubahan-perubahan kondisi habitat, kualitas fisika, kimia, biologi dan goelogi, kondisi populasi ikan, dan dampak kawasan konservasi TWP Kapoposang terhadap peningkatan hasil tangkapan ikan sehingga belum dapat dinilai perubahan-perubahannya. 1

Pada peringkat emas, kinerja pengelolaan TWP baru mencapai 33,33 %, hal ini disebabkan karena unit pengelola TWP Kapoposang belum pernah melakukan kegiatan-kegiatan pengkajian berupa pengkajian tentang dampak kegiatan pariwisata terhadap kawasan konservasi, kajian dampak kegiatan budidaya terhadap kawasan konservasi, kajian dampak kegiatan perikanan terhadap kawasan konservasi, kajian peningkatan pendapatan masyarakat sebagai dampak dari pengelolaan, dan kajian tentang kesadaran masyarakat dalam mendukung pelestarian sumberdaya kawasan. Selain itu, sistem pendanaan berkelanjutan yang melibatkan stakeholder juga belum ada.

Dalam upaya melakukan pengelolaan kawasan konservasi yang efektif, unit pengelola juga telah melakukan banyak hal dalam memenuhi persyaratan- persyaratan yang telah ditetapkan. Diantaranya mengusulkan dokumen pencadangan calon kawasan konservasi kepada Kementerian Kelautan dan

1 Keterangan lisan Koordinator Unit Pengelola TWP Kapoposang.

14

Perikanan sesuai Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor PER.02/MEN/2009 tentang tata cara

Penetapan kawasan konservasi perairan, identifikasi, inventarisasi, sosialisasi dan konsultasi publik calon kawasan konservasi perairan. Hasil dari upaya inisiasi pencadangan kawasan kawasan konservasi tersebut adalah diterbitkannya Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor KEP.66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang Dan Laut Di Sekitarnya Di Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 3 September 2009 dengan luas kawasan 50.000 ha. Sebagai tindak lanjut dari Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor KEP.66/MEN/2009 adalah mengumumkan dan mensosialisasikan kawasan konservasi TWP Kapoposang kepada masyarakat.

Capaian Kinerja Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkep Hasil perhitungan capaian kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep dengan menggunakan rumus E-KKP3K diperoleh nilai persentase capaian kinerja pengelolaan yang tidak jauh berbeda dengan hasil perhitungan E-KKP3K TWP Kapoposang pada setiap peringkat. Pada peringkat merah (kawasan konservasi diinisiasi) diperoleh persentase capaian kinerja senilai 100 %, peringkat kuning (kawasan konservasi didirikan) dengan capaian 81,81 %, peringkat hijau (kawasan konservasi dikelola minimum) dengan capaian 61,90 %, peringkat biru (kawasan konservasi dikelola optimum) dengan capaian 35,71 % dan peringkat emas (kawasan konservasi mandiri) dengan capaian 0 % (tidak ada pencapaian kinerja).

Pada peringkat kuning, kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep baru mencapai 81,81 %, hal ini disebabkan karena Dinas Kelautan Perikanan Kabupaten Pangkep sebagai unit organisasi pengelola memiliki jumlah SDM yang belum memadai untuk melakukan pengelolaan kawasan konservasi. Selain itu, dokumen rencana pengelolaan masih dalam bentuk draft tentative dan masih dalam proses penyusunan, belum memadainya sarana dan prasarana pengelolaan minimum seperti alat monitoring dan alat komunikasi.

Pada peringkat hijau, kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep baru mencapai 61,90 %, hal ini disebabkan karena dokumen rencana pengelolaan belum disahkan, belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) sarana prasarana standar minimum dan SOP penguatan kelembagaan, patroli bersama, pengelolaan sumberdaya kawasan, dan penguatan sosial ekonomi budaya.

Pada peringkat biru, kinerja pengelolaan baru mencapai 35,71 %, hal ini disebabkan karena kapasitas SDM pengelola belum sesuai dengan kompetensi

15

yang dibutuhkan seperti SDM dengan kualifikasi perencanaan, monitoring sumberdaya, evaluasi, pengawasan, penelitian, dan SDM yang memiliki kualifikasi untuk mengkaji kondisi sosial ekonomi budaya. Selain itu, dukungan terhadap pembiayaan pengelolaan juga masih sangat minim, belum adanya dokumen- dokumen SOP misalnya SOP penelitian dan pendidikan, SOP pelaksanaan kegiatan pariwisata, SOP pelaksanaan kegiatan budidaya, dan SOP pelaksanaan kegiatan perikanan tangkap. Dalam hal pengelolaan sumberdaya kawasan, unit pengelola KKLD Kabupaten Pangkep juga belum menetapkan data ekologis mana yang akan digunakan sebagai garis dasar (t 0 ) untuk melakukan pemantauan secara berkala perubahan-perubahan kondisi habitat, kualitas fisika, kimia, biologi dan goelogi, kondisi populasi ikan, dan dampak kawasan konservasi TWP Kapoposang terhadap peningkatan hasil tangkapan ikan sehingga belum dapat dinilai perubahan-perubahannya.

Pada peringkat emas, kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep tidak menunjukkan capaian kinerja apapun (0 %), hal ini disebabkan karena belum tersedianya data tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai dampak dari adanya pengelolaan KKLD dan peningkatan kesadaran masyarakat dalam mendukung pelestarian sumberdaya kawasan, serta belum adanya sistem pendanaan berkelanjutan yang melibatkan stakeholder dalam mendukung pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep.

Meskipun masih banyak yang belum dilakukan oleh unit pengelola KKLD Kabupaten Pangkep dalam meningkatkan level/peringkat pengelolaan KKLD namun layak mendapatkan apresiasi karena kinerja pengelolaan telah mencapai peringkat merah dengan status pencadangan kawasan konservasi. Hal ini dibuktikan dengan terbitnya Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan

Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan. Hal yang paling mendasar yang harus dilakukan oleh unit pengelola KKLD Kabupaten Pangkep adalah menginisiasi penetapan dokumen Rencana Pengelolaan KKLD.

Perbandingan Capaian Kinerja Pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Kapoposang Dengan KKLD Kabupaten Pangkep

Kawasan Konservasi TWP Kapoposang dan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep adalah kawasan konservasi yang dikelola oleh pemerintah namun dalam proses inisiasi pencadangan kawasan tersebut dilakukan dengan proses yang berbeda. Inisiasi pencadangan Kawasan Konservasi TWP

16

Kapoposang dilakukan dengan perencanaan kebijakan secara top-down sedangkan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep inisiasi pencadangan kawasannya dilakukan secara kolaboratif antara masyarakat dan pemerintah dengan melalui proses perencanaan kebijakan secara bottom-up. Selain itu, pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Kapoposang dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kota Kupang lingkup Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan

Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan sedangkan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep pengelolaan kawasannya dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pangkep yang melekat pada Bidang Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep.

Pada grafik yang divisualisasikan di bawah terlihat kedua kawasan konservasi yaitu TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep telah mencapai kinerja pengelolaan 100 % namun pada peringkat kuning hanya TWP Kapoposang yang telah mencapai kinerja pengelolaan 100 % sedangkan kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep baru mencapai 81,81 %.

Pada Peringkat hijau, kinerja pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang mencapai 76,19% dan kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep mencapai 61,90 %. Pada peringkat biru, kinerja pengelolaan kawasan konservasi mencapai 57,14 % dan kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep mencapai 35,71 %, dan pada peringkat emas kinerja pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang mencapai 33,33 % dan kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep belum ada capaian apapun (0 %).

17

Gambar 12 : Grafik Perbandingan Presentase Capaian Kinerja Pengelolaan Kawasan Konservasi Berdasarkan Analisis E-KKP3K

Gambar 12 : Grafik Perbandingan Presentase Capaian Kinerja Pengelolaan Kawasan Konservasi Berdasarkan Analisis E-KKP3K

.Pengelola TWP Kapoposang : BKKPN Kota Kupang. Pengelola KKLD Kab. Pangkep : Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.Pangkep. Peringkat : (1) Merah kawasan konservasi diinisiasi; (2) Kuning: kawasan konservasi didirikan; (3) Hijau: kawasan konservasi dikelola minimum; (4) biru : kawasan konservasi dikelola optimum; dan (5) Emas : kawasan konservasi yang dikelola secara efektif dan berfungsi penuh atau disebut mandiri. Diolah berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Nomor KEP. 44 /KP3K/2012 Tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K).

Adanya perbedaan capaian kinerja pengelolaan kedua kawasan konservasi tersebut dimana kinerja pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang memiliki capaian kinerja dengan persentase yang lebih besar dibanding capaian kinerja pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep pada peringkat kuning, hijau, biru dan emas diduga disebabkan karena porsi anggaran pengelolaan TWP Kapoposang lebih besar dari pada KKLD Kabupaten Pangkep. Hipotesis pendugaan ini didasarkan pada kelembagaan pengelolaan kawasan konservasi dimana proses pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang berada di bawah naungan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kota Kupang lingkup Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) yang anggaran pengelolaannya melekat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sedangkan pengelolaan KKLD Kabupaten Pangkep berada di bawah naungan Bidang Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep yang

18

anggaran pengelolaannya hanya melekat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pangkep dan APBD Propinsi Sulawesi Selatan.

Status Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Kapoposang Dan KKLD Kabupaten Pangkep Berdasarkan hasil Evaluasi Efektifitas Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K) untuk kawasan konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang yang telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan Perikanan pada tahun 2012 diperoleh status efektif (100%) pada peringkat merah (Ditjen KP3K http://kkji.kp3k.kkp.go.id diakses pada tanggal 12 Mei 2014) sedangkan berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kemajuan capaian kenerja pengelolan kawasan konservasi dengan persentase tertinggi 100 % pada peringkat merah dan peringkat kuning.

 

KINERJA PENGELOLAAN

 
 

PERINGKAT

TWP Kapoposang

KKLD Kab. Pangkep

 

Capaian (%)

Ket

Capaian

Ket

(%)

MERAH

KAWASAN

       

(1)

KONSERVASI

100

Efektif

100

Efektif

DIINISIASI

KUNING

KAWASAN

       

(2)

KONSERVASI

DIDIRIKAN

100

Efektif

81,81

Belum

Efektif

HIJAU

(3)

KAWASAN KONSERVASI DIKELOLA MINIMUM

76,19

Belum

61,90

Belum

Efektif

Efektif

BIRU

(4)

KAWASAN KONSERVASI DIKELOLA OPTIMUM

57,14

Belum

35,71

Belum

Efektif

Efektif

EMAS (5)

KAWASAN KONSERVASI MANDIRI

 

Belum

 

Belum

33,33

Efektif

0

Efektif

Tabel 1 : Status Efektifitas Pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep.

Diolah berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau- Pulau Kecil Nomor KEP. 44 /KP3K/2012 Tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K).

19

Berbeda dengan capaian kenerja pengelolan kawasan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep yang baru mencapai kinerja pengelolaan 100 % pada peringkat merah. Hasil E-KKP3K tersebut membuktikan bahwa kinerja pengelolaan TWP Kapoposang telah mencapai pengelolaan efektif pada peringkat kuning dengan status kawasan konservasi didirikan sedangkan kinerja pengelolaan KKLD Kab.Pangkep baru mencapai pengelolaan efektif pada peringkat merah dengan status telah dicadangkan.

Capaian kinerja pengelolaan TWP Kapoposang pada peringkat hijau, biru, emas dan capaian kinerja pengelolaan KKLD Kab.Pangkep pada peringkat kuning, hijau, biru, emas masih berada di bawah 100 % sehingga dapat dikategorikan belum efektif. Hal ini disebabkan karena belum sempurnanya aktivitas pelaksanaan rencana pengelolaan, penguatan kelembagaan, dan belum adanya pendanaan yang mandiri dan berkelanjutan.

Persepsi Nelayan Terhadap Keberadaan Kawasan Konservasi Menurut Walgito (2000), Persepsi merupakan aktivitas yang integrated, maka seluruh apa yang ada dalam diri individu seperti perasaan, pengalaman, kemampuan berpikir, kerangka acuan dan aspek-aspek lain yang ada dalam diri individu masyarakat akan ikut berperan dalam persepsi tersebut, sehingga berdasarkan hal tersebut menjadi penting untuk menggambarkan pengetahuan nelayan terhadap keberadaan TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep yang kemudian dapat dijadikan pertimbangan kebijakan khususnya dalam proses pengelolaan menuju kawasan konservasi laut yang mandiri dan berkelanjutan.

Persepsi responden disampaikan melalui wawancara yang terbagi dalam 2 lokasi penelitian, yaitu kawasan konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Kapoposang dan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep. Untuk mengetahui persepsi nelayan setempat terhadap keberadaan Taman Wisata Perairan maka ditentukan Desa Mattiro Matae (Pulau Gondongbali) sebagai lokasi penelitian sedangkan untuk mengetahui persepsi nelayan setempat terhadap keberadaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep maka ditetapkan Desa Mattiro Uleng (Pulau Kulambing), Desa Mattiro Walie (Pulau Samatellu Lompo), dan Desa Mattiro Dolangeng (Pulau Pala) sebagai lokasi penelitian.

20

Gambar 13 : Peta Lokasi Penelitian . Keterangan : (a) Lokasi Penelitian di wilayah TWP

Gambar 13 : Peta Lokasi Penelitian. Keterangan : (a) Lokasi Penelitian di wilayah TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali); (b) Lokasi Penelitian di wilayah KKLD Kab. Pangkep (Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo, Pulau Pala).

Pengetahuan Terhadap Keberadaan Kawasan Konservasi. Pada umumnya responden (91,4%) di Pulau Gondongbali sudah mengetahui keberadaan Kawasan Konservasi TWP Kapoposang. Berbeda dengan tingkat pengetahuan responden di Pulau Samatellu Lompo dan Pulau Pala dimana tidak ada yang mengetahui keberadaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Pangkep dan hanya 2,9% responden di Pulau Kulambing yang mengetahui keberadaan KKLD Kabupaten Pangkep. Pada kasus ini responden lebih banyak mengetahui keberadaan Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang dikelola oleh Coremap dari pada KKLD Kab.Pangkep. Hal ini diduga karena tidak adanya atribut sosialisasi KKLD Kab. Pangkep seperti atribut sosialisasi TWP Kapoposang yang ada di Pulau Gondongbali. Dugaan lain terkait rendahnya pengetahuan responden terhadap keberadaan KKLD Pangkep adalah karena sosialiasi mengenai KKLD Pengkep yang difasilitasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan hanya dilakukan sekali pada tahun 2010 dan hanya melibatkan stakeholder tertentu saja. 2

2 Berdasarkan keterangan lisan staf unit pengelola KKLD Kab.Pangkep bahwa sosialisasi KKLD Kab.Pangkep baru sekali dilaksanakan pada tahun 2010 setelah diterbitkannya Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi

21

Menurut keterangan lisan mantan ketua LPSTK Desa Mattiro Uleng bahwa unit pengelolaa KKLD Kab.Pangkep tidak pernah melakukan sosialisasi edukatif terkait keberadaan KKLD Kab. Pangkep sehingga nelayan sebagai entitas yang menerima manfaat langsung sumberdaya laut tidak mengetahui keberadaan KKLD Kab.Pangkep. 3

Pengetahuan Tentang Aturan Di Kawasan Konservasi Tingkat pengetahuan responden terhadap aturan pemanfaatan sumberdaya di kawasan konservasi cukup bervariasi namun umumnya respoden baik di wilayah TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) maupun wilayah KKLD Kab.Pangkep (Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo) sudah mengetahui aturan pemanfaatan sumberdaya berupa larangan penggunaan bom dan racun/bius. Nelayan yang berada di TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) dan KKLD Kab Pangkep (Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo) yang masing-masing sebanyak 88,6%; 97,1%; 91,4%; dan 91,4% sudah mengetahui adanya aturan termasuk aturan pelarangan aktivitas Penangkapan Ikan Tidak Ramah Lingkungan (PITRaL).

Sanksi Atas Pelanggaran Yang Terjadi di Kawasan Konservasi Persepsi responden (Pulau Gondongbali) terhadap sanksi atas pelanggaran yang terjadi di kawasan konservasi di kawasan TWP Kapoposang seperti yang terlihat pada gambar di bawah dimana umumnya menyatakan bahwa sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan sumberdaya laut hanya berupa peringatan lisan (82,9), namun sebanyak 5,7% responden menyatakan bahwa sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan sumberdaya laut pernah sampai pada proses hukum penjara, namun penegakan aturan yang lebih berat tersebut pernah dilakukan oleh Lantamal VI Wilayah Makassar.

Berbeda dengan persepsi responden yang ada di KKLD Kab. Pangkep dimana umumnya menyatakan tidak ada pemberian sanksi terhadap pelanggaran pemanfaatan sumberdaya laut dan peringatan lisan hanya disampaikan oleh kepala desa atau nelayan setempat yang melihat praktek destructive fishing.

Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan dan karena keterbatasan anggaran sehingga hanya mengundang beberapa tokoh-tokoh masyarakat pada spot desa tertentu. Sosialisasi ini sekaligus ditujukan untuk mengetahui gambaran umum resistensi masyarakat terhadap keberadaan KKLD Kab. Pangkep. Dari hasil sosialisasi ini ditemukan banyak tanggapan unlinear dari masyarakat terkait luasan zona inti sehingga akan diupayakan untuk dilakukan pengurangan zona inti KKLD Kab.Pangkep. 3 Keterangan lisan mantan ketua Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Desa Mattiro Uleng.

22

Persepsi Terhadap Aktivitas Penangkapan Ikan Tidak Ramah Lingkungan (PITRaL) di Sekitar Wilayah Kawasan Konservasi.

Penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (PITRaL) merupakan aktivitas penangkapan yang sifatnya eksploitatif dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah konservasi (Saleh, 2010). Alat PITRaL yang paling sering dipergunakan adalah racun sianida (bius), bahan peledak (bom ikan), trawl, bubu tindis, dan muroami. Berdasarkan laporan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia (2003) dalam Saleh (2010), untuk kepulauan Spermonde diperkirakan 64,88% nelayannya adalah pelaku PITRaL.

Persepsi nelayan terhadap aktivitas Penangkapan Ikan Tidak Ramah Lingkungan (PITRaL) menggambarkan bahwa aktivitas PITRaL masih terjadi baik di wilayah TWP Kapoposang maupun di wilayah KKLD Kab.Pangkep meski intensitasnya sudah menurun. Indikasinya terlihat dimana sebanyak 17,1% responden di wilayah TWP Kapoposang menyebutkan aktivitas PITRaL pernah terjadi sekali dalam kurun waktu 6 bulan; dan 11,4% menyatakan aktivitas PITRaL sering terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

Demikian hanya di wilayah KKLD Pangkep dimana tergambarkan masih ada indikasi terjadinya aktivitas PITRaL. Responden di Pulau Kulambing sebanyak 74,3% menyatakan aktivitas PITRaL pernah terjadi sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 20% menyatakan aktivitas PITRaL masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan. Sebanyak 14,3% responden di Pulau Samatellu Lompo menyatakan aktivitas PITRaL pernah terjadi sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 20% menyatakan aktivitas PITRaL masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan. Responden di Pulau Pala umumnya (80%) menyatakan aktivitas PITRaL pernah terjadi sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan 8,6% aktivitas PITRaL masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

Laporan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep 2006 (Coremap II, 2006) menjustifikasi bahwa nelayan yang berada di kepulauan Kab.Pangkep terutama nelayan yang berasal dari Pulau Karanrang masih melakukan aktivitas PITRaL dalam proses pemanfaatan sumberdaya laut. Senada dengan itu, Saleh (2010) mengungkapkan bahwa nelayan yang berada di kepulauan Kab.Pangkep terutama nelayan penangkap ikan sunu menggunakan alat tangkap pancing sunu yang selalu berbarengan dengan penggunaan sianida. Hal ini disebabkan pancing sunu dimaksudkan untuk mendapatkan target dalam keadaan hidup, sedang ikan target sendiri berada di dalam celah karang, sehingga untuk dapat ditangkap target harus dipaksa keluar dari lubang persembunyiannya dengan cara menyemprotkan sianida (bius).

23

Persepsi Terhadap Eksploitasi Kima Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa menjustifikasi perlindungan terhadap berbagai jenis Bivalvia, diantaranya Kima Tapak Kuda (Hippopus hippopus), Kima Cina (Hippopus porcellanus), Kima kunia (Tridacna crocea), Kima selatan (Tridacna derasa), Kima raksasa (Tridacna gigas), dan Kima sisik (Tridacna squamosa). Berdasarkan hal tersebut sehingga menjadi penting untuk menggambarkan aktivitas eksploitasi Kima di wilayah TWP Kapoposang dan KKLD Kab, Pangkep.

Talibo’ adalah nama local (local common name) untuk jenis biota Kima bagi masyarakat kepulauan di Kab. Pangkep. Sudah menjadi tradisi masyarakat kepulauan di Kab. Pangkep untuk menyajikan hidangan Kima pada saat acara- acara hajatan dan atau pesta pernikahan. Meski belum ada data tentang menurunnya tingkat populasi Kima yang digambarkan dalam deret waktu, namun masyarakat kepulauan di Kab.Pangkep cukup merasakan berkurangnya hasil tangkapan Kima.

Baik di Wilayah TWP Kapoposang maupun di wilayah KKLD Kab. Pangkep tergambarkan masih adanya indikasi eksploitasi Kima meski intensitasnya sudah menurun. Responden di wilayah TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) sebanyak 20% masih melihat adanya aktivitas eksploitasi Kima sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 17,1% responden menyatakan eksploitasi Kima masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

Demikian halnya juga di wilayah KKLD Kab.Pangkep (Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo) dimana terindikasi masih adanya eksploitasi Kima. Responden di Pulau Kulambing sebanyak 17,1% masih melihat adanya aktivitas eksploitasi Kima sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 11,4% responden menyatakan aktivitas eksploitasi Kima masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan.

Di Pulau Samatellu Lompo, 14,3% responden menyatakan masih melihat adanya aktivitas eksploitasi Kima sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 22,9% menyatakan aktivitas eksploitasi Kima masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan. Responden di Pulau Pala sebanyak 14,3% juga masih melihat aktivitas eksploitasi Kima sekali dalam kurun waktu 6 bulan dan sebanyak 8,6% responden menyatakan aktivitas eksploitasi Kima masih terjadi lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 6 bulan. Masih adanya indikasi eksploitasi Kima di wilayah kawasan konservasi laut diduga kemungkinan disebabkan karena pengawasan terhadap sumberdaya laut masih belum terlalu ketat.

24

Persepsi Terhadap Aktivitas Penambangan Karang.

Penambangan karang adalah aktivitas yang dilarang apalagi dilakukan di wilayah kawasan konservasi laut. Kebanyakan masyarakat yang berada di daerah kepulauan di Indonesia yang wilayahnya jauh dari daratan dimana sulit untuk mendapatkan material bahan bangunan untuk pembangunan sementara kebutuhan untuk mendapatkan atau membangun rumah semakin tinggi sehingga kadang secara terpaksa melakukan penambangan karang yang biasanya ditujukan untuk membangun fondasi bangunan. Tak terkecuali masyarakat yang berada di wilayah TWP Kapoposang dan KKLD Kab. Pangkep seperti yang tervisualisasikan pada grafik di bawah menggambarkan masih adanya aktivitas penambangan karang meski responden umumnya menyatakan sudah tidak ada lagi atau sudah tidak pernah melihat lagi aktivitas penambangan karang.

Sebanyak 17,1% responden di Pulau Gondongbali menyatakan pernah melihat aktivitas penambangan karang lebih dari 3 kali selama kurun waktu 1 tahun. Di Pulau Kulambing, sebanyak 14,3% responden pernah melihat aktivitas penambangan karang dengan aktivitas kurang dari 3 kali selama kurun waktu 1 tahun dan sebanyak 11,4% responden pernah melihat aktivitas penambangan karang lebih dari 3 kali dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Sebanyak 8,6% respoden di Pulau Samatellu Lompo pernah melihat aktivitas penambangan kurang dari 3 kali dalam setahun terakhir dan 20% menyatakan aktivitas penambangan karang lebih dari 3 kali dalam setahun terakhir. Demikian halnya di Pulau Pala bahwa sebanyak 31,4% responden menyatakan aktivitas penambangan karang terjadi kurang dari 3 kali dalam setahun dan 8,6% responden menyatakan aktivitas penambangan karang terjadi lebih dari 3 kali dalam setahun terakhir. Terlepas dari rendahnya pendapatan nelayan dalam hal memenuhi kebutuhan, terutama dalam hal pembangunan pemukiman.

Persepsi Tentang Dampak Setelah Adanya Zonasi Kawasan Konservasi Pengelolaan kawasan konservasi laut mengharuskan adanya penataan zonasi yang ditujukan untuk mengantisipasi terjadinya konflik kepentingan dalam hal pemanfaatan sumberdaya laut. Selain itu, pengelolaan kawasan konservasi laut juga ditujukan untuk menselaraskan antara kepentingan pemanfaatan sumberdaya laut dengan kepentingan perlindungan sumberdaya laut sehingga sumberdaya laut dapat memberikan manfaat kepada nelayan dalam jangka waktu yang panjang dan berkelanjutan (sustainable use).

TWP Kapoposang telah dicadangkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan Perikanan melalui Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor KEP.66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang Dan Laut Di Sekitarnya

25

Di Provinsi Sulawesi Selatan dan KKLD Kabupaten Pangkep juga telah

dicadangkan melalui Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan. Setelah dicadangkannya TWP Kapoposang pada tahun 2009 dan KKLD Kab. Pangkep pada tahun 2010, kedua kawasan konservasi ini tentunya harus dikelola efektif agar dapat memberikan manfaat banyak kepada nelayan setempat.

Secara umum responden baik responden yang berada di kawasan TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) maupun yang berada di wilayah KKLD Kab. Pangkep (Pulau Kulambbing, Pulau Samatellu Lompo, dan Pulau Pala ) menyatakan bahwa sejak ditetapkannya kawasan konservasi TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep hasil tangkapan tidak mengalami perubahan peningkatan atau sama saja. Pendugaan sementara kemungkinan disebabkan oleh faktor daya jangkauan trip armada tangkap nelayan yang hanya sebagian besar hanya menjangkau daerah-daerah yang dekat dengan pulau. Menurut kepala desa Mattiro Dolangeng 4 bahwa daerah fishing ground nelayan sebagian besar berada di sekitar pulau yang kaya akan karang dikarenakan armada tangkap nelayan hanya mampu menjangkau wilayah perairan dangkal yang dekat dengan pulau sehingga ekosistem karang semakin rusak dikarenakan aktivitas PITRaL.

Di saat ekosistem karang sudah banyak yang rusak, nelayan mulai merasakan

bahwa semakin hari ikan hasil tangkapan tidak meningkat bahkan dirasakan

semakin berkurang, sementara nelayan secara ekonomi tidak mampu meningkatkan kapasitas armada tangkap yang lebih besar untuk menjangkau wilayah fishing ground yang lebih jauh

Dugaan kedua kemungkinan disebabkan oleh sejak ditetapkannya TWP Kapoposang dan KKLD Kabupaten Pangkep oleh Pemerintah sampai sekarang belum ada penataan tapal batas zona-zona yang ada dalam wilayah kawasan konservasi sehingga kegiatan-kegiatan ekstraktif tetap dilakukan oleh nelayan pada daerah-daerah yang kaya akan karang. Kegiatan ekstraktif tersebut secara teoritis akan memberikan dampak negative yaitu terganggunya rekrutmen ikan karang sehingga kestabilan rantai makanan, aliran energi dan siklus materi dalam ekosistem terumbu karang tidak terjadi secara optimal. Menurut staf unit pengelola KKLD Kab. Pangkep 5 bahwa isu pengurangan luasan zona inti KKLD Kab.Pangkep sedang bergulir dikarenakan beberapa stakeholder (Pengusaha Bisnis Perikanan) yang mengetahui keberadaan KKLD Kab.Pangkep merasa wilayah fishing groundnya semakin terbatasi.

4 Keterangan lisan Kepala Desa Mattiro Dolangeng

5 Keterangan lisan staf Unit Pengelola KKLD Kab. Pangkep

26

Stakeholder yang dekat dengan kekuasaan dan memiliki ketergantungan politik secara vertikal menggulirkan isu tersebut secara vertikal. Resistensi beberapa stakeholder tersebut dikarenakan kekhawatiran akan berkurangnya penghasilan akibat berkurangnya hasil tangkapan karena terlalu luasnya zona inti KKLD Kab.Pangkep. Karena adanya resistensi dari stakeholder tersebut sehingga penataan tapal batas KKLD Kab.Pangkep belum bisa dilakukan. Hal inilah yang mendasari sehingga dinamika otonomi daerah dirasakan sangat berpengaruh terhadap proses pengelolaan kawasan konservasi laut. Kepentingan stakeholder yang bertabrakan diupayakan untuk disinkronisasi secara harmonis agar tidak terjadi konflik kepentingan. Disadari atau tidak, sistem demokrasi politik di Indonesia belum dewasa sehingga kebijakan selalu disandarkan pada kepentingan sebagian kecil orang yang memiliki kekuatan ekonomi politik meski harus mengorbankan kepentingan perlindungan sumberdaya laut.

Persepsi Responden Terhadap Kondisi Terumbu Karang di Sekitar Wilayah Kawasan Konservasi Sebanyak 62,9% responden di Pulau Gondongbali menjawab mulai terdapat kerusakan terumbu karang di sekitar TWP Kapoposang, demikian halnya dengan responden yang berada di sekitar wilayah KKLD Kab. Pangkep dimana responden di Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo, dan Pulau Pala yang masing-masing sebanyak 65,7%, 65,7%, dan 68,6% menyatakan mulai terdapat kerusakan terumbu karang di sekitar wilayah KKLD Kab. Pangkep. Hal ini bisa digeneralisasikan bahwa baik di sekitar wilayah

TWP Kapoposang maupun di sekitar wilayah KKLD Kabupaten Pangkep sudah terjadi kerusakan terumbu karang.

Berdasarkan laporan monitoring tren kondisi terumbu karang Kabupaten Pangkep tahun 2012 yang direlease oleh Dinas Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa persentase terumbu karang dengan kondisi rusak berfluktuasi meningkat. Pada tahun 2008 kondisi karang yang rusak sebesar 18,60 % meningkat menjadi 48,84 % pada tahun 2010 kemudian menurun menjadi 41,86 % pada tahun 2011 sementara kondisi terumbu karang yang sangat baik persentasenya sangat sedikit dimana pada tahun 2008 hanya sebesar 4,65 % dan mengalami sedikit peningkatan pada tahun 2011 sebesar 9,30 %. Pada laporan tersebut juga disebutkan bahwa meningkatnya persentase kerusakan terumbu karang pada tahun 2010 disebabkan oleh fenomena pemutihan karang (Bleaching) dan aktivitas antropogenik yang destruktif seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak.

27

Persepsi Terhadap Manfaat Terumbu Karang Sebagai Daerah Tempat Tinggal (Nursery Ground), Tempat Mencari Makan (Feeding Ground) dan tempat Beregenerasi Berbagai Macam Ikan Laut (Spawning Ground). Responden yang ada di kawasan konservasi laut Kab. Pangkep baik di wilayah TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) maupun di wilayah KKLD Kab. Pangkep (Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo, Pulau Pala) pada umumnya adalah adalah nelayan dengan armada tangkap yang sederhana sehingga hanya bisa mengakses fishing ground yang dekat dimana sebagian besar daerah fishing groundnya adalah perairan dangkal daerah ekosistem karang tumbuh berkembang. Coremap telah memberikan banyak pelajaran dan pengetahuan kepada nelayan tentang manfaat terumbu karang sebagai Nursery Ground, Feeding Ground, dan Spawning Ground. Sehingga dengan demikian dapat menjustifikasi bahwa responden baik di wilayah TWP Kapoposang maupun KKLD Kab. Pangkep pada umumnya sudah mengetahui manfaat terumbu karang sebagai Nursery Ground, Feeding Ground, dan Spawning Ground.

Hal ini tergambarkan dimana sebanyak 77,1% responden di TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) menjawab bahwa terumbu karang bermanfaat sebagai Nursery Ground, Feeding Ground, dan Spawning Ground. Demikian halnya wilayah KKLD Pangkep dimana sebanyak 68,6% responden di Pulau Kulambing, 60% responden di Pulau Samatellu Lompo dan 54,3% responden di Pulau Pala sudah mengetahui manfaat terumbu karang sebagai Nursery Ground, Feeding Ground, dan Spawning Ground. Hal ini dapat digeneralisasi bahwa masyarakat nelayan di baik di wilayah TWP Kapoposang maupun di KKLD Kab.

Pangkep sudah mengetahui manfaat terumbu karang sebagai Nursery Ground, Feeding Ground, dan Spawning Ground.

Persepsi Terhadap Perlunya Aturan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan (SDI) Wilayah Terumbu Karang Pada dasarnya pengelolaan kawasan konservasi perairan ditujukan untuk menselaraskan kepentingan pemanfaatan sumberdaya laut dengan kepentingan perlindungan laut sehingga pemanfaatan sumberdaya laut dapat berkelanjutan. Nelayan di kepulauan Kabupaten Pangkep mayoritas adalah nelayan kecil yang memanfaatkan terumbu karang sebagai daerah fishing ground karena jarak aksesnya yang dekat. Modernisasi yang mengejar pertumbuhan telah mengakselerasi pemanfaatan pengggunaan teknologi penangkapan ikan yang tidak memberikan keadilan secara merata kepada nelayan dalam hal pemanfaatan sumberdaya laut sementara tingkat kepentingan pemanfaatan sumberdaya laut semakin meningkat. Semakin meningkatnya pemanfaatan sumberdaya laut tentunya harus diharmonisasikan dengan penegakan aturan. Olehnya itu,

28

pengelolaan kawasan konservasi adalah juga merupakan upaya penegakan aturan (hukum) yang diharapkan dapat memberikan keadilan kepada seluruh nelayan dalam hal pemanfaatan sumberdaya laut. Upaya penegakan aturan pemanfaatan sumberdaya laut tersebut harus disandarkan pada kepentingan mayoritas nelayan dengan tetap mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

Dari hasil penelitian menggambarkan tingginya harapan mayoritas nelayan terhadap perlunya mensegerakan optimalisasi penegakan aturan pemanfaatan sumberdaya laut, baik di wilayah TWP Kapoposang maupun di wilayah KKLD Kab. Pangkep. Sebanyak 68,6% responden di wilayah TWP Kapoposang (Pulau Gondongbali) menganggap perlu ada aturan pemanfaatan sumberdaya di wilayah terumbu karang dan sebanyak 20% menyatakan sangat perlu ada aturan pemanfaatan sumberdaya. Responden yang berada di wilayah KKLD kabupaten pangkep, yaitu Pulau Kulambing, Pulau Samatellu Lompo, dan Pulau Pala masing-masing sebanyak 62.9%, 62.9% dan 57.1% mengharapkan perlu ada aturan pemanfaatan sumberdaya dan masing-masing sebanyak 28.6%, 14.3%, dan 25.7% menyatakan sangat perlu adanya aturan dalam hal pemanfaatan sumberdaya laut. Berdasarkan hal tersebut sehingga dapat menjustifikasi bahwa secara umum responden berharap adanya penegakan aturan secara optimal agar dapat memberikan keadilan dalam hal pemanfaatan sumberdaya laut.

Issue Discussion ; Problematika Silang Singkarut Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut di Wilayah Perairan Kab. Pangkep Dari hasil E-KKP3K ditemukan bahwa kinerja pengelolaan TWP Kapoposang telah mencapai pengelolaan efektif pada peringkat kuning dengan status kawasan konservasi didirikan sedangkan kinerja pengelolaan KKLD Kab.Pangkep baru mencapai pengelolaan efektif pada peringkat merah dengan status telah dicadangkan. Status kawasan konservasi TWP Kapoposang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor KEP.66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang Dan Laut Di Sekitarnya Di Provinsi Sulawesi Selatan. Demikian halnya dengan KKLD Kab. Pangkep dimana status pencadangannya diterbitkan melalui Peraturan Bupati Pangkajene Dan Kepulauan nomor 32 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan.

Hasil wawancara dengan staf unit pengelola TWP Kapoposang menyatakan bahwa management plan TWP Kapoposang masih sementara dalam proses pengusulan untuk ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Namun, dalam proses upaya penetapan managemen plan tersebut ditemukan kekeliruan dalam penentuan titik koordinat kawasan dimana konsekuensi dari kekeliruan

29

tersebut menyebabkan luasan kawasan menjadi 90.000 hektar sementara dalam Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia nomor KEP.66/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Kapoposang Dan Laut Di Sekitarnya Di Provinsi Sulawesi Selatan tercantum luasan kawasan 50.000 hektar. Hal ini memungkinkan akan dilakukan peninjauan kembali Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan tersebut. 6

Demikian halnya dengan management plan KKLD Kab. Pangkep masih belum ditetapkan karena masih dalam proses sinkronisasi dengan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Propinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, pertimbangan lain sehingga management plan KKLD Kab. Pangkep masih belum ditetapkan adalah karena luas zona inti (no take zone) KKLD Kab.Pangkep masih ingin dikurangi. Hipotesis sementara terkait rencana pengurangan luas zona inti KKLD Kab.Pangkep adalah diduga sedikit banyaknya terkait dengan dinamika otonomi daerah.

Lambatnya progresifitas pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang dan KKLD Kab. Pangkep yang dikarenakan oleh belum ditetapkannya Management Plan TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep menyebabkan lemahnya pengawasan terhadap pemanfaatan sumberdaya laut di wilayah perairan Kab.Pangkep sehingga memberi ruang kepada para pemanfaat sumberdaya laut untuk tetap melakukan aktivitas PITRaL, penambangan karang dan eksploitasi biota dilindungi (Kima). Sejak tahun 2006-2011 melalui pengelolaan Daerah Perlindungan Laut (DPL), Coremap telah banyak memberikan pengetahuan dan pembelajaran kepada masyarakat nelayan di wilayah Kepulauan Kab.Pangkep sehingga masyarakat nelayan umumnya mengetahui manfaat terumbu karang namun realitas menunjukkan kondisi yang un-linear dimana masih ada indikasi terjadinya pelanggaran pemanfaatan sumberdaya laut yang terindikasi dengan masih adanya aktivitas PITRaL, penambangan karang, eksploitasi biota dilindungi (Kima). Hipotesis sementara kemungkinan disebabkan oleh : (1) rendahnya pengawasan terhadap pemanfaatan sumberdaya laut yang dikarenakan belum ditetapkannya Management Plan kawasan konservasi laut TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep; (2) Rendahnya dukungan Pemerintah dalam hal meningkatkan kapasitas (teknologi dan daya tampung hasil tangkapan) armada tangkap nelayan untuk menjangkau fishing ground yang lebih jauh sehingga sebagian besar nelayan secara determinan melakukan penangkapan ikan di wilayah terumbu karang sekitar pulau; (3) Rendahnya dukungan pemerintah dalam upaya mengembangkan mata pencaharian alternative bagi masyarakat nelayan. Dugaan ini masih perlu dikaji lebih jauh agar dapat menjadi landasan ilmiah dalam proses

6 Keterangan lisan Koordinator Pengelola TWP Kapoposang.

30

pengambilan keputusan untuk mewujudkan pemanfaatan sumberdaya laut secara berkeadilan dan berkelanjutan.

Rekomendasi Berdasarkan hasil penelitian, penulis merekomendasikan beberapa hal, yaitu : (1) Segera menetapkan dan mensosialisasikan management plan TWP Kapoposang dan KKLD Kab.Pangkep; (2) Untuk mempercepat pencapaian efektifitas kinerja pengelolaan pada peringkat emas, diperlukan keseriusan dari masing-masing pengelola untuk memenuhi persyaratan-persyaratan dokumen pengelolaan sesuai dengan Pedoman Teknis E-KKP3K; (3) Meningkatkan kapasitas (teknologi dan daya tampung hasil tangkapan) armada tangkap nelayan untuk menjangkau fishing ground yang lebih jauh serta meningkatkan kapasitas teknologi pasca panen untuk menjaga kualitas hasil tangkapan; (4) Mengembangkan mata pencaharian alternative dan memberikan jaminan pasar terhadap hasil produksi mata pencaharian alternative bagi masyarakat nelayan di kepulauan Kab.Pangkep; (5) Diperlukan penelitian lanjutan tentang partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi TWP Kapoposang dan KKLD Kab. Pangkep sebagai landasan teoritis dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan berbasis masyarakat.

31

DAFTAR PUSTAKA Anggoro, S., 2000. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43. Universitas Diponegoro. Semarang.

Anggoro, S. 2006. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. Universitas Diponegoro, Semarang. Budiharsono, S., Asbar., E Triwibowo., F Sutopo. 2003. Strategi Pengembangan Konservasi Laut. Dalam Lokakarya Nasional Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Konservasi Laut. Bogor, Oktober 2003. Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, DKP. Jakarta.

2002. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut

serta Prinsip Pengelolaannya. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (IPB). Bengen, D.G. 2002. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. PKSPL. IPB. Bogor. Bengen D dan A. Retraubun . 2006. Menguak Realitas Dan Urgensi Pengelolaan Berbasis Eko-Sosial Sistem Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil. Bogor :

Pusat Pembelajaran dan Pengembangan Pesisir dan Laut (P4L). Coremap II. 2006. Rencana Pengelolaan Terumbu Karang Kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep Tahun 2006. Coremap II. 2011. Dokumen Percontohan Perikanan Berkelanjutan di TWP Kapoposang Tahun 2011. Clark, J.R.1996. Coastal Zone Management Handbook. Lewis Publisher, Boca Raton , FL. Daerah Dalam Angka. 2012. Kabupaten Pangkep Dalam Angka 2012. BPS Propinsi Sulawesi Selatan. Makassar. Dahuri, R. 1996. An analysis of Enviromental Threath to Marine Fisheries in Indonesia. Paper Submited for Asia Pasific Fisheries Commision APFIC) Symposium on Enviromental Aspects of Responsible Fisheries, Soul Republic of Korea. 15-18 Oct 1996. Dahuri, R., J. Rais., S.P. Ginting., M. J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Jakarta : Penerbit Pradnya Paramita. Dian Ayunita dan Trisnani Dwi Hapsari. 2012. Analisis Persepsi Dan Partisipasi Masyarakat Pesisir Pada Pengelolaan KKLD Ujungnegoro Kabupaten Batang. Jurnal SEPA : Vol. 9 No.1 September 2012 : 117 – 124. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro.

Bengen, D.G

32

Ditjen KP3K. 2012. Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K). Keputusan Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil nomor KEP.44/KP3K/12. Jakarta. Ditjen KP3K. Basis Data Kawasan Konservasi. http://kkji.kp3k.kkp.go.id/ (Diakses pada tanggal 25 Desember 2013) Ditjen KP3K. Eksotisme Kapoposang. Publikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan seri Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Jakarta Pusat. http://kkji.kp3k.kkp.go.id (Diakses pada tanggal 12 Mei 2014) Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002, tanggal 4 September 2002. Jakarta. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, 2003. Jakarta Elida, F. 2005. Pola Pengembangan Pariwisata Yang Berbasis Masyarakat Di Kepulauan Karimunjawa. Tesis. Program Pasca Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro Semarang. Gay,L.R. and Diehl, P.L. 1992. Research Methods for Business and Management. Macmillan Publishing Co., NewYork Gubbay, S. 1995. Marine Protected Areas. Chapman & hall. London-Glssgow- Weinheim-New York-Tokyo-Melbourne-Madras. Ghofar, A., 2004, Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Secara Terpadu dan Berkelanjutan, Cipayung-Bogor. Haslindah. 2012. Valuasi Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang Taman Wisata Perairan Kapoposang Kabupaten Pangkep. Tesis. PPs Universitas Hasanuddin. Hockings, M., S. Stolton, F. Leverington, N. Dudley, J. Courrau. 2006. Evaluating Effectiveness : A Framework For Assessing Management Effectiveness of Protected Area 2 nd Edition. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK. IUCN, 1994. Guidelines for Protected Area Management Categories CNPPA with assistance of WC,WM, IUCN,.Gland, Switzerland and Cambridge, UK. Kartono, Kartini & Gulo, Dali. 1987. Kamus Psikologi. Pionir Jaya. Bandung Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil nomor KEP. 44 /KP3K/2012 Tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil (E-KKP3K)

33

Latupapua, Y. 2011. Persepsi Masyarakat terhadap Potensi objek daya tarik wisata Pantai di kecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara. Jurnal Agroforestri Volume VI Nomor 2 Juni 2011. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura – Ambon Locally-Managed Marine Management Area. www.Lmmanetwork.org Mackinnon, J. dan Mackinnon, K. 1990. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. Terjemahan. Yogyakarta:Gajahmada University Press. Mardijono. 2008. Persepsi Dan Partisipasi Nelayan Terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Kota Batam. Tesis. Program Pasca Sarjana Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro Semarang. McNeely, J.A., 1992. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta Nawawi, H.H. 2005. Metode Penelitian Bidang Sosial. Gadjah Mada University Press. Bulaksumur. Yogyakarta National Research Council., 1999. Sustaining Marine Fisheries. National Academy Press. Washington D.C. Ruchimat, Dkk. 2012. Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia ; Paradigma, Perkembangan dan Pengelolaannya. Publikasi Ditjen KP3K KKP. Jakarta. http://kkji.kp3k.kkp.go.id (Diakses pada tanggal 12 Mei 2014) Robbins, Stephen P. (2003). Perilaku organisasi. PT. Indeks Kelompok Gramedia. Jakarta Saleh, A. 2010. Strategi Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Perairan Kecamatan Liukang Tuppabiring Kabupaten Pangkep. Tesis. PPs Universitas Hasanuddin. Makassar. Supriharyono, 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

2007. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah

Pesisir Dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Susanto, H. A. 2011. Progres Pengembangan Sistem Kawasan Konservasi Perairan Indonesia: A Consultancy Report. Kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Coral Triangle Support Partnership (CTSP). Jakarta. UNEP-WCMC. 2008. Nasional and Regional Networks of Marine Protected Areas : A Review of Pregress. Cambridge: UNEP-WCMC Walgito, Bimo. 2001. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Andi Offset. Yogyakarta.

34

KONEKTIVITAS KAWASAN KONSERVASI

Jamaluddin Jompa et al.

Pendahuluan

Jejaring Konservasi diperkenalkan oleh IUCN yang menyatakan bahwa Jaringan MPA merupakan kumpulan Kawasan Konservasi individu atau daerah Pencadangan sinergis pada berbagai skala spasial, dan dengan kisaran tingkat perlindungan yang dirancang untuk memenuhi tujuan dimana perlindungan kawasan tidak cukup pada tingkatan yang lebih kecil (IUCN-WCPA, 2008). Saat ini Jejaring Konservasi juga dikembangkan di Indonesia guna mengejar target 20 juta Ha Luas Kawasan Konservasi di tahun 2020, sebagaimana hasil Konferensi Biodiversity yang menyarankan akan target Marine Protected Area (MPA) sebesar 10% dari luas Perairan Dunia. Tahun 2013 luas Kawasan Konservasi perairan di Indonesia telah mencapai 15.764.210.85 Hektar yang berjumlah 131 kawasan. Sulawesi Selatan memiliki empat kawasan Konservasi yang semuanya terletak di Selat Makassar dan memanjang kearah selatan selat dengan luas kawasan Konservasi mencapai 757,020 Ha atau +5% dari total luas Kawasan Konservasi saat ini di Indonesia. Peluang untuk mencapai target kawasan konservasi sebagaimana yang disyaratkan 20 juta Ha ditahun 2020 yang saat ini masih kurang 4,215,870.48 masih dapat dilakukan. Kekurangan tersebut dapat ditambahkan salah satunya dengan membuat jejaring kawasan konservasi di Ecoregion Selat Makassar. Kebutuhan untuk peningkatan kawasan konservasi, kepentingan dalam menjamin berkembangnya diversitas biologi dan keberlansungan proses ekologi di Perairan, maka dilakukan pengkajian pembentukan Jejaring Konservasi di Kepulauan Spermonde dan Kabupaten Selayar. Selain itu, kesiapan pembentukan Jejaring konservasi juga perlu mendapat perhatian dari sisi Kelembagaan, hal ini menjadi factor dalam berjalannya pengelolaan kawasan serta dinamika kelembagaan sosial yang berpengaruh dalam pengembangan Jejaring Konservasi. Oleh karenanya keterkaitan biofisik dan kelembagaan menjadi kajian dalam Penelitian ini.

Peningkatan Luas Kawasan Konservasi dan berkembangnya diversitas biologi melalui Jejaring Konservasi memerlukan langkah penilaian biofisik dan penilaian kelembagaan dalam inisiasi dan pengelolaan kawasan. Penelitian ini akan melihat (1) Bagaimana Kondisi dan Keterkaitan Biofisik Perairan Kepulauan Spermonde dan Perairan Kabupaten Selayar sebagai daerah pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan (2) Apakah terdapat wilayah penting untuk perlindungan di Perairan Kepulauan Spermonde dan Perairan Kabupaten Selayar (3) Bagaimana

35

aspek Ekologi dan Kelembagaan dalam Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Spermonde dan Perairan Kabupaten Selayar

Adapun Tujuan Penelitian adalah (a) Mengetahui Kondisi dan Keterkatian Biofisik Perairan Kepulauan Spermonde dan Kabupaten Selayar sebagai daerah Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Peraian (b) Menghasilkan Wilayah penting untuk perlindungan di Perairan Kepulauan Spermonde dan Perairan Kabupaten Selayar (c) Mengetahui aspek Ekologi dan Kelembagaan dalam Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Peraian,

Sementara itu manfaat penelitian ini yakni (a) Mengetahui keadaan Kondisi Biofisik Perairan Kepulauan Spermonde dan Kabupaten Selayar, (b) Dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan dalam mengelola Kawasan Konservasi Perairan, (c) Tersedianya kajian ilmiah dalam perencanaan pembentukan Jejaring Konservasi di Kepulauan Spermonde dan Kabupaten Selayar

Ecoregion Laut Sulawesi

Selat Makassar memiliki kelimpahan organisme dari proses pencampuran air dari Samudra pasifik melewati Laut Sulawesi dan masuk ke Selat Makassar. Dari hasil penelitian G Allen (Huffard, Erdmann, & Gunawan, 2012), Ecoregion Laut Sulawesi Selat Makassar memiliki kelimpahan jenis ikan karang tertinggi diantara ecoregion lainnya yaitu 1785 jenis ikan karang, namun tidak ditemukan ikan karang endemic di perairan tersebut. Untuk jenis karang keras ditemukan 511 jenis karang keras (khusus ecoregion Karang Selat Makassar), jenis fungi memiliki 46 spesies, Stomatopod yang berasosiasi dengan Karang 37 jenis spesies, 23 jenis vegetasi mangrove dan 2 spesies Penyu. Komposisi yang melimpah di Selat Makassar ini menjadi saluran air dari samudra pasifik. Ecoregion ini juga memfasilitasi penyebaran larva sehingga memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi dan berpotensi tinggi sebagai konektivitas koridor masa depan yang mendistribusikan varian genetic yang telah mentolelir berbagai kondisi lingkungan seperti dengan perubahan iklim global(Huffard, Erdmann, & Gunawan, 2012). Kelimpahan spesies mangrove di Selat Makassar juga memberikan kontribusi bagi berkembangnya larva dengan ketersediaan serasah dalam jumlah banyak. Hal ini juga diikuti dengan jumlah spesies burung laut yang mencari makan dan berkembang di hutan mangrove. Di kepulauan Spermonde baru baru ini juga telah ditemukan lamun dengan spesies baru yaitu Halophila Sulawesii(Huffard, Erdmann, & Gunawan, 2012).

36

Gambar.2.1Pembagian Ecoregion Laut (MEOW) di Indonesia (Huffard, Erdmann, & Gunawan, 2012). Pendekatan Biofisik dan

Gambar.2.1Pembagian Ecoregion Laut (MEOW) di Indonesia (Huffard, Erdmann, & Gunawan, 2012).

Pendekatan Biofisik dan Pembentukan Kawasan Konservasi

Jenis Penelitian adalah Kuantitatif dengan pendekatan Penilaian terhadap Keadaan Wilayah Perairan terhadap komponen biotic dan abiotic pada habitat laut dangkal kedalaman kurang dari 200 meter. Diharapkan bahwa dengan data sekunder juga mampu tergambarkan daerah spesifik seperti daerah dengan keanekaragaman tinggi ikan karang, daerah lamun, terumbu karang, mangrove, daerah pemijahan dan migrasi, daerah peneluran penyu, jalur migrasi, daerah upwelling dan lainnya. Untuk data sebaran mangrove, lamun dan karang didapatkan dari hasil data sekunder dan pengolahan Citra Landsat ETM yang telah ada.

Untuk pengambilan data Primer, maka titik yang telah ditentukan dilakukan pengecekan di lapangan untuk kebutuhan data biotic dan abiotic, Kawasan Konservasi Perairan yang telah ada dan pengambilan data kelembagan. Setelah masing masing wilayah tergambarkan dengan kondisi tersebut, maka selanjutnya dilakukan pengelompokan data untuk dianalisis. Dengan tergambarnya keadaan perairan selanjutnya dilakukan pengambilan keputusan terhadap wilayah penting perlindungan sebagai calon daerah Konservasi. Pengambilan data primer untuk Kelembagaan dilakukan di masing masing Wilayah Kawasan Perairan Spermonde dan Perairan Selayar. Penelitian ini dilaksanakan di Kepulauan Spermonde dan Kabupaten Selayar. Kepulauan Spermonde meliputi wilayah perairan dari Kabupaten Takalar hingga Kabupaten Barru. Lokasi pengambilan data ditentukan berdasarkan informasi data sekunder terhadap daerah yang melimpah

37

keanekaragaman hayatinya. Waktu penelitian akan dilakukan dari Bulan Februari Hingga April. Pengambilan data dilakukan pada Bulan Februari 2014

Biofisik Kawasan Perlindungan

Kesamaan biofisik menjadi factor penting dalam kegiatan dalam perlindungan. Di perairan Selayar dan Spermonde, salah satu indikasi untuk melihat kesamaan biofisik di kedua perairan ini data jenis terumbu karang. Data jenis terumbu karang yang digunakan adalah data tahun 1984 7 yang merupakan data hasil identifikasi jenis karang di beberapa daerah bagian Indonesia timur. Data tersebut digunakan karena menunjukkan adanya tingkat biodiversitas yang tinggi di kedua perairan dibandingkan dengan hasil identifikasi karang saat ini. Dari hasil perbandingangan sebelumnya dimana hasil identifikasi jenis karang saat ini mengalami penurunan jenis karang. Sebagaimana hasil penelitian Edinger,

Jurek Kolasa, & Michael J. Risk, (2000) dimana

sedikit dibandingkan hasil studi tahun 1980 (Moll, 1983). Kesamaan biofisik ini dibagi menjadi tiga yakni kesamaan jenis karang, konektivitas dan keterwalikan wilayah.

Jumlah jenis karang yang ditemukan di kedua peraian berbeda, dimana Spermonde lebih banyak dibanding dengan Selayar dan Takabonerate. Jenis yang ditemukan di ketiga perairan tersebut Faviidae dengan 43 jenis, Fungiidae dengan 25 jenis, Acroporidae dengan 22 jenis dan total jenis yang ditemukan untuk seluruh family 138 jenis. Jenis karang yang tidak ditemukan di Selayar tetapi ditemukan di Spermonde sebanyak 31 jenis karang. Jenis karang ini seperti Acroporidae Jenis Montipora informis Bernard, Fungiidae Halomitra spec. nov. Fungiidae Halomitra spec.nov.Sekitar 25 spesies hanya ditemukan di Selayar. Sementara Semua spesies lain juga ditemukan di perairan Spermonde (MOLL, 1983). Di perairan Takabonerate daerah identifikasi Taka Garlarang, Taka Lamungan dan karang di sekitar Tinanja terumbu ditemukan sekitar 200 jenis karang dan ditemukan spesies Spesies langka atau baru (Montipora spec. 1, Acropora spec. 2 dan Acropora spec. 6). Phy-sophyllia patula Hodgson & Ross, sejauh ini hanya dijelaskan dari Filipina, juga ditemukan di daerah ini(Best, et al., 1989).

ditemukan genera 25% lebih

7 M. Borel Best et all, Recent Scleractinian Coral Species Collected During The Snellius-Ii Expedition In Eastern Indonesia (1984)Netherlands Journal of Sea Research 23 (2): 107-115

(1989)

38

Gambar 4.4 Trend tutupan karang hidup di Perairan Spermonde dan SelayarSesuai dengan tabel 5.1, berdasarkan

Gambar 4.4 Trend tutupan karang hidup di Perairan Spermonde dan SelayarSesuai dengan tabel 5.1, berdasarkan data kehadiran dan ketidakhadiran jenis karang pada ketiga perairan tersebut, didapatkan tingkat kesamaan jenis karang diatas 70% dengan tingkat kesamaan tertinggi yaitu Selayar-Takabonerate. Perbedaan tingkat kesamaan jenis karang dipengaruhi oleh factor jarak dan isolasi perairan. Jarak yang semakin jauh maka tingkat kesamaan akan rendah sebagaimana antara Spermonde dan Takabonerate

Tabel 5.1 Analisis persentase kesamaan jenis karang di Selayar dan Spermonde

 

(A)

(A) Sepermonde- (B)Takabonerate

 

Perbandingan

Spermonde-

(B)Selayar

(A)

(B)Takabonerate

Selayar-

No. of spp. Area A

241

241

200

No. of spp. Area B

200

202

202

Common sp.

165

160

159

No. of spp. Area A only

56

81

29

No. of spp. Area B only

32

50

43

Percentage similarity

75%

72%

79%

Sumber Data : Hasil Analisis dan data Sekunder Best, et al., (1989)

Selain jenis karang, factor fisik perairan juga memiliki hubungan dimana adanya aliran arus yang mentransport, nutrient dan element lainnya yang berasal dari utara ke selatan perairan maupun sebaliknya. Hal ini sebagaimana kedua perairan

39

ini pada bulan Maret dimana arus dari Spermonde dari utara menuju keselatan yaitu ke perairan Selayar dan bercampur dengan arus yang berasal dari Laut Jawa. Arah arus bergerak menjauhi pesisir takalar dan bergerak Ke arah barat. Sementara pada bulan Juli arus bergerak dari Selatan yaitu dari laut flores menuju perairan selayar dan kemudian menyisir pesisir pulau Sulawesi dan menuju ke Spermonde dengan kecepatan hingga 60 cm/det, factor perubahan ini terkait dengan perubahan Musim. Kedua perairan ini menujukkan adanya hubungan keterkaitan karena factor arus yang bolak balik sepanjang tahun, dan kedua daerah ini tidak terhalangi oleh daratan dan juga tidak terisolasi, sehingga memungkinkan rekruitmen/transper larva dapat terjadi diantara keduanya.

Konektivitas di perairan dipengaruhi oleh factor massa air, namun untuk melihat apakah kedua perairan memiliki konektivitas salah satunya dengan mengetahui sebaran larva dan kemiripan secara genetic antara populasi. Sebaran larva Heliofungia actiniformis (Scleractinia:Fungiidae) rata rata tersebar hingga jarak 52 Km di Kepulauan Spermonde (Knittweis, Kraemer, Timm, & Kochzius, 2009), sementara Seriatopora hystrix memiliki diferensiasi genetic hingga 90 km di Great BarrierReef(Ayreand Dufty 1994).

hingga 90 km di Great BarrierReef(Ayreand Dufty 1994). Gambar 4.3 Pola Pergerakan Arus Bulan Juli (diatas

Gambar 4.3 Pola Pergerakan Arus Bulan Juli (diatas ) dan Agustus (bawah)

Sumber Data : Hasil Analisis

Faktor oceanography di perairan Spermonde dan Selayar yang terjadi pada bulan Juli memperlihatkan adanya arah arus dominan dari utara keselatan. Hal ini juga didukung dengan tingkat kesamaan jenis karang semakin rendah seiring dengan jarak yang makin jauh dari perairan Spermonde. Diantara daerah Spermonde dan

40

Selayar seperti pesisir Jeneponto, Bantaeng jarang ditemukan daerah terumbu karang, hal bisa saja mendapat pengaruh local seperti sedimentasi dan arus. Arus yang bergerak dari Spermonde menuju selayar, tidak melalui perairan tersebut, melainkan menjauh kearah bagian luar jauh dari pesisir, kemudian berbelok menuju perairan selayar. Selain pergerakan biota laut jenis karang, pergerakan penyu juga telah diketahui bahwa penyu merupakan hewan dengan kemampuan bergantung tinggi terhadap habitat peneluran, dan migrasi. Spermonde dan selayar merupakan dua tempat habitat peneluran dan habitat migrasi penyu hijau. Pergerakan penyu yang memanfaatkan habitat tersebut menujukkan adanya konektivitas habitat yang memberi ketergantungan tinggi terhadap penyu hijau. Oleh karena karakteristik migrasi yang panjang dengan jarak ribuan kilometer (Raja Ampat- Kalimantan) maka migrasi ini akan menunjukkan jalur maupun tujuan yang relatif konsisten.

KKPD Pangkep dan TWP Kapoposang berada di satu gugusan kepulauan yaitu Spermonde, sebagian besar pulaupulaunya terdapat karang tepi (fringing reefs) dengan rataan terumbu karang umumnya memiliki lebar 100 200 meter. Bilamana mengacu pada rekomendasi perlindungan 20-30% pada berbagai level komunitas di daerah ‘’no take area”(Zona inti), maka spermonde sebagai satu kesatuan sterumbu karang yang saling berhubungan belum mencapai persentase tersebut yang baru 5% perlindungan untuk terumbu karang. Hal ini juga sama di Perairan Selayar dimana perlindungan habitat terumbu karang yang mencapai 7.0% di daerah Zona inti.

Di dalam kawasan yang telah ada, replikasi telah dilakukan seperti di TNBT, dan KKPD Pangkep. TWP Kapoposang, luas zona inti hanya 2% dari luas kawasan dan tersebar dalam dua lokasi zona inti, untuk kawasan tersebut maka terlihat bahwa replikasi perlindungan habitat masih rendah sehingga memiliki ancaman terhadap gangguan pemanfaatan dan pemulihan habitat. Selain factor zona inti, untuk pengembangan jejaring, replikasi menjadi hal yang penting. Replikasi atau melindungi lebih dari satu habitat yang sama. Replikasi perlindungan meminimalkan risiko ketika habitat mengalami gangguan yang sama. Jika beberapa daerah habitat yang dilindungi bertahan terhadap dampak, maka daerah tersebut dapat bertindak sebagai sumber larva untuk pemulihan bagi daerah lain.

Kelembagaan Kawasan Konservasi

Perkembangan kelembagaan pengelola kawasan ditunjukkan dengan meningkatnya tingkatan kelembagaan pengelola seiring dengan perubahan tingkatan kawasan konservasi. KKPD yang ada di Pankep dan Selayar juga demikian berawal dari kawasan konservasi yang dikelola dan dibentuk tingkat

41

desa yaitu DPL kemudian dari kawasan ini berkembang menjadi KKPD yang dilanjutkan dengan kajian inisiatif pembentukan KKPD. Perkembangan tingkatan kelembagaan menunjukkan adanya upaya untuk mengefektifkan pengelolaan dengan melakukan penyelenggaraan konservasi secara otonom sebagaimana pada TNBTR hal ini tentunya berdampak pada alokasi anggaran yang juga semakin tinggi. Dari hasil laporan lakip TNBTR 2013, menunjukkan bahwa anggaran yang tinggi untuk pengelolaan telah menghasilkan kinerja yang baik sebagaimana target pengelolaan. Permasalahan juga masih terdapat didalam kawasan TNBTR, misalnya aktivitas Illegal fishing dan destructive fishing masih terjadi, dan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum. Permasalahan tersebut merupakan pengaruh external kelembagaan yang muncul sebagai akibat dari usaha perikanan yang tidak terkontrol, juga melibatkan berbagai stakeholder lain. Khusus di Perairan Selayar, usaha perikanan melibatkan banyak pihak dan politik local sehingga TNBTR perlu meningkatkan dan menjalin komitmen dan kemitraan yang kuat dengan instansi terkait.

Hasil evaluasi E-KKP3K tahun 2013 menunjukkan bahwa rapor merah untuk KKPD Pangkep dan Selayardan TWP Kapoposang Kuning. Kesimpulan merah berarti berarti kawasan telah memiliki SK pencadangan, dan kuning atau tingkat 2 berarti lembaga pengelola telah terbentuk dan rencana pengelolaan tersedia. TWP Kapoposang dengan pencapaian tingkat dua,memiliki permasalahan anggaran dan kapasitas pengawasan kawasan yang masih minim. Permasalahan untuk KKPD, dengan hasil rapor merah, Kelembagaan pengelola KKPD Selayar belum memiliki SK Bupati, namunmemilikiLembaga pengelola (SK Kepala Organisasi).Saat ini Baik KKPD Selayar maupun Pangkep telah memasuki 4 tahun masa pencadangan.

Penguatan Kapasitas Kelembagaan

Konsekuensi dari besarnya permasalahan kelembagaan yang dimana faktornya adalah internal terutama di KKPD dan TWP, maka pilihannya adalah meningkatkan kapasitas kelembagaan. Pilihan untuk peningkatan kapasitas salah satunya dengan peningkatan tipe kelembagaan karena kelembagaan dengan tipe yang tinggi juga memiliki kewenangan mengelola anggaran yang lebih besar. Oleh karenanya, kelembagaan perlu ditingkatkan. Misalnya kelembagaan dapat berbentuk Unit Pelaksana Teknis yang di ditetapkan oleh Bupati. Sementara untuk TWP Kapoposang maka dapat ditingkatkan menjadi UPT Pengelola untuk memperkuat penyelenggaraan konservasi di Perairan Spermonde.

42

Tabel 5.2 Hasil Analisis Upgrading Kelembagaan Pengelola Kawasan Perlindungan Perairan di Selayar dan Spermonde

Kawasan

KKPD Sel.

KKPD Pangkep

TWP Kap

Bentuk

Lembaga

Seksi

Pengawasan

Satker BKKPN

Lembaga

Pengelola

dan Konservas

Upgrading

UPT

UPT

UPT

Alasan dan

Mendorong

Alokasi

Anggaran

Dapat mengelola anggaran dan menyelenggarakan kegiatan konservasi secara baik tanpa harus kordinasi dengan BKKPN Kupang

Peluang

yang rutin

Kesempatan

untuk

mendapatkan

pendapatan

di

dalam kawasan

Dapat

mengembangkan

Memiliki kesempatan untuk meningkatkan anggaran dan peningkatan infrastruktur dan SDM

kegiatan

membuka

Peluang

kerjasama

lebih mudah

Peningkatan

SDM

dan

 

Kapasitas

Peluang membuka kerjasama lebih mudah

1

Sumber Data : Hasil Analisis

Tabel 5.3 Hasil Analisis pengembangan Jejaring Konservasi Perairan Kawasan Perlindungan Perairan di Selayar dan Spermonde

Kawasan

KKPD Sel.

KKPD Pangkep

TWP Kap

 

Bentuk Lembaga

Lembaga Pengelola

Seksi

Pengawasan

Satker BKKPN

dan Konservas

Jejaring

Jejaring Tata kelola bersama dengan TNBTR

Jejaring

Tata

Kelola

Perairan

Spermonde

Konservasi

melibatkan TWP, KKPD (Pangkep,

Takalar, Makassar, Barru)

 

Bentuk Lembaga

Forum

Forum

 

Alasan

dan

Meningkatkan kerjasama penguatan penegakan hukum perairan

Pengembangan program berorientasi pada satu ecoregion dan kawasan yang saling berhubungan. Spermonde merupakan satu kesatuan terumbu di lima kabupaten.

Peluang

Memiliki

kesempatan

untuk

meningkatkan

Dapat mengelola perencanaan pariwisata bahari secara bersama

Luas Kawasan perlindungan Memberikan Kemudahan terhadap pembentukan kawasan baru di kabupaten lain, dimana jejaring biofisik spermonde sebagai

Membuka

 

rujukan.

peluang

untuk

Memperluas daerah cakupan pengawasan

2

 

mengembangkan

sehingga mengurangi Aktifitas Destructive fishing dan illegal fishing yang melibatkan pelaku antar daerah

Kawasan

yang

lebih luas.

Meningkatkan

pendanaan

bagi

Pengelola

KKPD

Peluang membuka kerjasama lebih mudah dan efektif dalam berbagai monitoring habitat

Melindungi lebih banyak daerah migrasi dan daerah pemijahan

Peluang untuk Restorasi habitat dapat berkembang pada tingkat yang lebih luas

Dasar Biofisik

Kesamaan

jenis

Spermonde melingkupi perairan 5 kab, dan merupakan satu kesatuan hamparan terumbu beserta pulau pulanya

karang

yang

tinggi

Sebagai

habitat

Diferensiasi Genetik Heliofungia actiniformis hingga jarak 65 Km

Penyu

Memiliki

biota

Merupakan daerah kritis seiring dengan penurunan jumlah jenis karang 25%

lindung

yang

sama

seperti

Arus Lintas Indonesia

yang

melewati

Kep.

Kima, Napoleon

Spermonde

memperkaya

keragaman

genetic

 

3

 

dan lain lain

berbagai spesies karang dan biota lainnya.

 

Sasaran Jejaring Konservasi

Penguatan

Peningkatan Kawasan Perlindungan yang mewakili habitat di Kep. Spermonde

Kapasitas

 

Kelembagaan

Restorasi habitat di Perairan Spermonde

 

Pengelola

Peningkatan

Penyelenggaraan

Konservasi

di

Kawasan

Kep. Spermonde

 

Peningkatan

 

Penegakan

Hukum

di

Kawasan

Konservasi

Tujuan

Memperkuat

Mendorong peningkatan perlindungan dan pengelolaan biodiversitas habitat komunitas, spesies dengan kapasitas pengelola yang juga meningkat untuk mencapai restorasi habitat yang seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian

positioning penyelenggara perlindungan perairan agar dapat mendorong

penegakan

hukum

 

yang

sinegis

serta

mengasimilasi

pemahaman

konservasi

kedalam

budaya

dan

sosial

4

masyarakat

di

Selayar.

Sumber Data : Hasil Analisis

5

KKPD Selayar mengalami hambatan dalam penyelenggaran konservasi oleh karena kelembagaan yang belum memadai (lembaga pengelola), akan tetapi kegiatan pengawasan terbantu dengan dukungan dari TNBTR dan Kapolres yang juga aktif dalam pengawasan. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang untuk menyelenggarakan jejaring kerjasama dalam pengelolaan kawasan di Perairan Selayar karena memiliki sasaran perlindungan biofisik yang relative sama yaitu terumbu karang dan berada dalam satu wilayah ekoregion. Kegiatan kerjasama saat ini baru sebatas dalam kegiatan pengawasan, akan tetapi dalam bentuk non formal juga terlibat kegiatan kegiatan seperti kegiatan pariwisata bahari (Festival Takabonerate), kampanye perlindungan biota lindung dan lain lain.

Dari kondisi tersebut, maka Peluang untuk membentuk jejaring tata kelola di perairan selayar dapat lebih mudah dan dapat dikembangkan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia melalui pertukaran informasi dan penguatan terhadap kinerja kelembagaan. Kondisi ini mungkin didapatkan karena dengan adanya TNBTR yang sudah memiliki kapasitas pengelolaan kawasan yang baik dan proses pembelajaran yang panjang dalam mengelola kawasan. Khusus untuk penegakan hukum, maka jejaring dapat dibentuk lebih luas dengan melibatkan unsur Kejaksaan, TNI Angkatan laut untuk memperkuat penegakan hukum. Pembentukan jejaring telah dijelaskan Laumann, Knoke, & Kim, 1985; Provan & Milward, 1995; Knoke et aL, 1996), dalam Weible& Paul A. Sabatier, 2005),alasan untuk membentuk jaringan adalah untuk bertukar berbagai sumber daya, seperti uang, staf, atau layanan.

Kesatuan biofisik perairan di beberapa kabupaten yang berada dalam kepulauan Spermonde, sepatutnya juga menyediakan daerah untuk perlindungan. KKPD pangkep lahir karena difasilitasi melalui project Coremap II, dimana kegiatan ini hanya dilakukan di satu kabupaten di Spermonde yaitu di pangkep. Hal ini dirasa sebagai kekurangan, dimana sedapat mungkin program didorong untuk mencakup Kepulauan Spermonde agar dapat mendorong perlindungan kawasan dengan kesatuan biofisik yang saling berhubungan. Factor kesatuan biofisik ini dapat menjadi pertimbangan dalam pembentukan jejaring perlindungan. Namun melihat dari belum tersedianya kawasan konservasi di Kab. Makassar, Maros, dan Takalar maka, dasar berfikir jejaring ekologi dapat menjadi rujukan dalam pembentukan kawasan konservasi di daerah tersebut. Sebenarnya di Kota Makassar dengan 12 pulau pulau kecil dan rataan terumbu, telah menginventaris data biofisik dan sosial ekonomi untuk menjadi daerah rencana perlindungan, namun dari hasil kajian tersebut belum menggambarkan kompleksitas data yang kuat untuk menjadi daerah rujukan sebagai daerah rencana pencadangan.

1

Membangun Jejaring Pengelolaan Kawasan Perlindungan

Keterkaitan dan kesamaan biofisik di perairan selayar dan spermonde, menempatkan Spermonde sebagai daerah supply atau sebagai hulu dikarenakan arus dominan bergerak dari utara ke selatan, dan dengan jenis spesies karang yang lebih melimpah dibandingkan dengan Selayar dan Takabonerate. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterkaitan biofisik kedua perairan dipengaruhi oleh Arus local dan Arus lintas Indonesia yang keduanya dominan menuju Selatan, walaupun jarak antara spermonde dan selayar cukup jauh (+ 150 Km Tanakeke- Selayar). Kondisi ini dapat menjadi dasar dalam menetapkan jejaring ekologi. Khususnya untuk pengembangan kerangka Konservasi di Provinsi Sulawesi Selatan dapat dikembangkan dengan menambahkan gugusan terumbu karang di teluk Bone terutama di perairan bone dan sinjai sebagai satu kesatuan pengelolaan jejaring ekologi terumbu karang. Yaitu Kep. Spermonde sebagai satu jejaring dan Kep. Selayar-Perairan Bone-Sinjai juga sebagai jejaring karena perbedaan ecoregion. Sementara untuk kerangka penguatan perairan, jejaring ekologi ditingkat kepulauan yang sama dalam satu ecoregion dapat dibentuk yaitu jejaring kawasan konservasi tingkat lokal di kepulauan Spermonde, dimana daerah ini terdiri atas 5 kabupaten dalam satu hamparan daerah terumbu karang yaitu Barru, Pangkep, Maros, Makassar dan Takalar

Aspek keterkaitan biofisik menjadi dasar pembentukan jejaring, seperti Oseanography, limnology, bioekologi perikanan, daya tahan lingkungan dan daya lenting lingkungan. Kondisi biofisik dan keterkaitan ecologi didalam kawasan Spermonde menjadi pertimbangan untuk penyelenggaraan konservasi dengan model Jejaring Konservasi lokal, namun masalah terbesar adalah kesamaan pandangan pelaku dan pentingnya jejaring bagi para pemangku kepentingan di wilayah tersebut. Di beberapa daerah ada yang mengerti dan memahami secara baik, namun ada yang belum memahami dan bahkan tidak mengetahui manfaat tersebut. Komitmen para pelaku untuk berjejaring juga ditunjukkan, namun bagaimana komitmen tersebut dapat diukur dan terimplementasi akan banyak variabel dan faktor yang mempengaruhinya. Oleh karenanya dalam mendorong konsep penyelenggaran perlindungan perairan dengan model jejaring perairan lokal Spermonde sangat perlu dilakukan dengan kehati hatian melalui kajian kelembagaan, ecologi, sosial dan ekonomi yang saling terkait dan interdisplin agar tiap sistem dan subsistem tersebut dapat mencapai tujuannya .

Dalam mendorong penyelenggaran konservasi berbasis kawasan di perairan spermonde, maka perhatian terhadap manfaat yang didapatkan bagi daerah dapat terukur sehingga tiap pelaku memiliki kemauan untuk berkoalisi atau berjejaring guna mendapatkan yang lebih, terutama pada desan kelembagaan. Permen KKP 13 tahun 2014 tentang Jejaring Kawasan Konservasi Perairan mengisyaratkan

2

bahwa kelembagaan untuk Jejaring kawasan konservasi lokal dapat dibentuk forum atau sekretariat yang dibentuk melalui kerjasama satuan pengelola organisasi.Perbedaan mendasar tentang forum dan sekertariat, tergambar pada tujuan pembentukan kelembagaan apakah hanya berfungsi sebagai media kordinasi antara para pengelola atau menjadi pendorong percepatan pengelolaan yang efektif (tata kelola, ecology, dan sosial ekonomi) secara bertanggungjawab.

Di Spermonde, kebutuhan kelembagaan adalah mendorong peningkatan

perlindungan dan pengelolaan biodiversitas habitat komunitas, spesies dengan kapasitas pengelola yang juga meningkat untuk mencapai restorasi habitat yang seimbang antara pemanfaatan dan pelestarian. Sementara di Selayar kebutuhan kelembagaan adalah saling memperkuat positioning penyelenggara perlindungan perairan agar dapat mendorong penegakan hukum yang sinegis serta mengasimilasi pemahaman konservasi kedalam budaya dan sosial masyarakat di Selayar. Untuk mengakomodasi tujuan tersebut, baik di selayar maupun di spermonde, kelembagaan untuk jejaring tidak hanya sebatas mengelola program jangka pendek atau pusat informasi, sebagaimana pada kelembagaan sekertariat, hal ini berbeda dengan forum. Forum menjadi pilihan dalam pengelolaan jejaring konservasi, oleh karena keanggotaan dalam forum memiliki tanggung jawab dalam pencapaian tujuan kelembagaan tersebut. Sejumlah ruang lingkup tentang jejaring telah dijabarkan dalam Peraturan Menteri, seperti kegiatan restorasi, pengelolaan perikanan berkelanjutan, perlindungan biota bermigrasi dan terancam, hingga pada pembiayaan.

Kelembagaan forum sangat baik dalam hal perencanaan, namun implementasnya mendapat sejumlah masalah(Saptana, 2004).Kelembagaan forum memiliki kelemahan seperti kesadaran para pengelola yang rendah terhadap tanggung jawab, sebagian besar forum diisi oleh birokrat, belum adanya dana operasional khusus, sistem informasi dan kantor pengelola tidak tersedia. Selain itu hal yang paling mendasar adalah aspek legal kelembagaan, misalnya legalitas dari pemerintah Provinsi atau kementerian atau kerjasama antara Satuan pengelola. Strategi dalam mendorong kerjasama jejaring dapat didorong dengan menjalin Hubungan saling ketergantungan fungsional ( Chisholm , 1989) atau ketergantungan sumber daya ( Pfeffer & Salancik , 1978)dalam(Weible & Paul A. Sabatier, 2005).

Moll, et.al, (1981)menyatakan bahwa daerah ini (Spermonde) bisa diselamatkan

dari eksploitasi yang berlebihan. Sebuah rencana manajemen yang baik akan

mampu mengendalikan industri dengan pertumbuhan dan tuntutan pariwisata. Langkah untuk mendorong forum jejaring konservasi untuk tujuan restorasi dan

pengelolaan biodiversitas habitat, komunitas, dan jenis di Spermonde, merupakan

hal yang cukup sulit mengingat kondisi kelembagaan dan pendanaan bagi

3

pengelola, namun jika hal ini berhasil maka dapat menjadi contoh atau pembelajaran bagi daerah lain dalam hanya sebatas pada kegiatan pengawasan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada hasil dan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat ditarik kesimpulan penelitian yakni (1) Perairan Spermonde dan Selayar memiliki keterkaitan biofisik sebagai pengaruh dari arus local dan Arus lintas Indonesia (Arlindo) yang dominan bergerak dari utara ke Selatan, sehingga memberikan pengaruh terhadap aliran larva dan kesamaan jenis karang yang tinggi. Kondisi perairan ditunjukkan dengan keanekaragaman jenis karang menurun 25% di Spermonde dalam 33 tahun. Sementara di Selayar dan Takabonerate berbeda, dimana Takabonerate keanekaragaman jenis karang meningkat seiring dengan kegiatan perlindungan. (2) Pengembangan daerah perlindungan dapat dilakukan di kedua perairan, guna mencapai perlindungan habitat hingga 20%. Pengembangan jejaring dengan dasar ekologi dikembangkan secara terpisah dikedua perairan oleh karena berbeda ecoregion. (3) Di Spermonde dapat dikembangkan Jejaring pengelolaan perairan untuk mendapatkan zona inti hingga 20% perlindungan habitat dan mendorong restorasi habitat. Pendekatan jejaring ini menjadi rujukan terhadap pengembangan kawasan konservasi perairan didaerah lain di Spermonde yang belum memiliki Kawasan perlindungan. Factor kelembagaan sangat berpengaruh terhadap penyelenggaran konservasi, semakin besar kapasitas kelembagaan akan semakin baik, dimana kelembagaan juga bergantung pada Jenis Kawasan Konservasi perairan.

Saran

Untuk pengembangan jejaring Kawasan konservasi, maka pendekatan kompleksitas dan kehati hatian perlu digunakan agar dapat mengetahui manfaat dan berbagai kemungkinan implikasi yang muncul dalam jejaring Konservasi. Dimana bukan hanya pendekatan ekologi, social ekonomi, dan kelembagaan tetapi bagaimana hubungan antara keduanya saling mempengaruhi agar tidak menimbulkan konflik, melainkan disusun untuk menciptakan pencapaiannya.

Factor kelembagaan menjadi masalah dalam penyelenggaran konservasi, bukan pada penegakan hukum atau kesadaran masyarakat, tetapi sejauh mana kinerja dan kapasitas kelembagaan dalam penyelenggaraan konservasi. Oleh karenanya seiring dengan pembelajaran di TNBTR, maka sepatutnya Kementerian Kelautan Perikanan untuk memperbanyak pembelajaran pada kelembagaan tersebut karena telah memiliki pengalaman yang panjang dan juga berhasil menciptakan kapasitas yang besar dan menjadi “rezim” perlindungan. Sebagaimana Kapolres Selayar dalam Visi Misinya yang kurang lebih mengatakan bahwa “ kita harus menyelamatkan

4

lingkungan dan manusia yang tidak bisa melihat kebenaran dan tersesat dalam kegiatan pengrusakan”

5

Daftar Pustaka

Akbar, I. A. (2008). Keragaman Suhu Dan Kecepatan Arus Di Selat Makassar Periode Juli 2005 – Juni 2006 (Mooring INSTANT) [ Skripsi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Alder, J., N. A. Sloan, & Henk Uktolseya. (1994). A Comparison of Management Planning and Implementation in Three Indonesian Marine Protected Areas. Ocean & Coastal Management 24, 179-198.

Balai Taman Nasional Takabonerate. (2012). Review Rencana Pengelolaan Taman Nasional Takabonerate Tahun 1997-2022 Kabupaten Kepulauan Selayar. Selayar:

TN Takabonerate.

Ban, N. C. (2009). Minimum data requirements for designing a set of marine protected areas, using commonly available abiotic and biotic datasets. Biodivers Conserv (2009) 18 Springer, 1829-1845.

Barber, P. H. (2000). Biogeography A Marine Wallace's line ? Nature Vol 406,

692-693.

Best, M., B.W. Hoeksema , W. Moka , H. MOLL , Suharsono , & I Nyoman Sutarna. (1989). Recent Scleractinian Coral Species Collected During The Snellius-II Expedition In Eastern Indonesia. Netherlands Journal of Sea Research 23 (2), 107-115.

BPSPL. (2010). dan diolah dari Buku Inventarisasi Data Potensi Penyebaran Biota Perairan Laut yang masuk Appendiks Cites dan yang dilindungi di Sulawesi . Makassar: BPSPL.

BPSPL. (2011). Identifikasi Dan Pemetaan Jenis Ikan Yang Dilindungi Dan Tidak Dilindungi Yang Masuk Appendiks Cites Di Sulawesi Selatan . Makassar:

BPSPL.

Burke, L., Reytar, K., Spalding, M., & Perry, A. (2012). Menengok Kembali Terumbu Karang yang Terancam di Segitiga Terumbu Karang (Terjemahan). World Reseources Institute.

Callum M, & Roberts. (2001). Designing Marine Reserve Networks Why Small, Isolated Protected Areas Are Not Enough . Summer Vol 2 no. 3 .

Callum, Roberts, & al, e. (2003). Application Of Ecological Criteria In Selecting Marine Reserves And Developing Reserve Networks. Ecological Applications 13, 215–228.

6

Clifton, J. (2003). Prospects for co-management in Indonesia's marine protected areas. MarinePolicy 27, 389–395.

Cowen, R. (2002). Larval dispersal and retention and consequences for population connectivity. Ecology of Coral Reef Fishes: Recent Advances. , 149–

170.

Denny, W. (2010). Karakteristik Habitat Mamalia Laut di Kepulauan Seribu Jakarta Utara [ Skripsi ]. Bogor: Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

Diamond , J. (1972). Biogeographic kinetics: estimation of relaxation times for avifaunas of southwest Pacific islands. Proc. natn. Acad. Sei. , (pp. 199-203). USA.

Diamond, J. (1975). The Island Dilemma : Lessons of Modern Biogeographic Studies For The Design of Natural reserves. Biology Conservation, 129-146.

Direktorat Konservasi Kawasan Dan Jenis Ikan. (2014, Januari 2). Retrieved from

Ikan:

Direktorat

Konservasi

Kawasan

Dan

Jenis

http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-

konservasi/details/1/92

Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. (2014, Februari 16). Capaian 2013: Pengelolaan Efektif KKP-3K Capai 3,647 juta Hektar, luasan KKP-3K bertambah 689 ribu hektar. Retrieved from Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan: http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/en/beritabaru/186-

capaian-2013-pengelolaan-efektif-kkp-3k-capai-3,647-juta-hektar,-luasan-

kkp-3k-bertambah-689-ribu-hektar

Direktorat Konservasi Kawasan Dan Jenis Ikan. (2014, Januari 29). Capaian 2013:

Pengelolaan Efektif KKP-3K Capai 3,647 juta Hektar, luasan KKP-3K bertambah 689 ribu hektar. Retrieved from Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan:

http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/beritabaru/186-capaian-2013-

pengelolaan-efektif-kkp-3k-capai-3,647-juta-hektar,-luasan-kkp-3k-

bertambah-689-ribu-hektar

Dit. KKJI. (2013). Strategi Pengembangan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Edinger, E., Jurek Kolasa, & Michael J. Risk. (2000). Biogeographic variation in coral species diversity on coral reefs in three regions of Indonesia. Diversity and Distributions 6, 113-127.

7

Erftemeijer PLA, O. R. (1993). Primary production of seagrass beds in South Sulawesi (Indonesia): a comparison of habitats, methods and species. , . Aquat Bot : 46, 67-90.

Fernandes. L, A. G. (2012). Biophysical principles for designing resilient networks of marine protected areas to integrate fisheries, biodiversity and climate change objectives in the Coral Triangle. The Nature Conservancy for the Coral Triangle Support Partnership.

Fernández,M, & Castilla, J. C. (2005). Marine Conservation in Chile: Historical Perspective, Lessons, and Challenges. Conservation Biology 19(6):, 1752-1762.

Groonbridge, B., & Jenkins, M. (2002). Wordl Atlas of Biodiversity Prepared by the UNEP World Conservation Monitoring Centre. Barkeley USA: University of California.

Gustiar, C. (2005). Analisis Kelembagaan Dan Peranannya Dalam Penataan Ruanc Di Teluk Pangpang Kabupaten Banyuwangi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Handoko, E. Y. (2004). Satelit Altimetri dan Aplikasinya dalam Bidang Kelautan. Pertemuan Ilmiah Tahunan I. Surabaya: Teknik Geodesi ITS Surabaya.

Heliani, L. S. (2009, 6 23). Dinamika Fisis Perairan Indonesia Dari Data Altimeter (I).

Huffard, C., Erdmann, M., & Gunawan, T. (2012). Geographic Priorities For Marine Biodiversity Conservation In Indonesia. Jakarta: Ministry of Marine Affairs and Fisheries and Marine Protected Areas Governance Program.

Huffard, C., Erdmann, M., & Gunawan, T. (2012). Goegraphic Priorities for Marine Biodiversity Conservation In Indonesia. Jakarta: Ministry of Marine Affairds and Fisheries and Marine Protected Areas Governance Program.

Hutomo, M. (1985). Sumber daya ikan terbang. Jakarta: LIPI .

Ilahude, A. (1970). On the Occurrence of Upwelling in the Southern Makassar Strait. Mar. Res. Indonesia, 10, 3-53.

Imran, A., Kaharuddin, M., Suriamihardja, D., & Sirajuddin, H. (2013). Geology Of Spermonde Platform. Proceedings of the 7th International Conference on Asian and Pacific Coasts (APAC 2013), (p. 1062). Bali.

Inaku, D. F. (2011). Analisis Pola Sebaran Dan Perkembangan Area Upwelling Di Bagian Selatan Perairan Selat Makassar [ Tesis ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

8

Indar, Y. N., Munsi, L., & Kahar, L. (2002). Sistem Sistem Tradisional Sebagai Pranata Institusi Dalam Pemanfaatan dan Pengelolaan Sumberdaya Di Wilayah Pesisir. Makassar: Universitas Hasanuddin 2002.

IUCN-WCPA, I. W. (2008). Establishing Marine Protected Area Networks—Making It Happen. Washington, D.C: IUCN-WCPA, National Oceanic and Atmospheric Administration and The Nature Conservancy 118 p.

Jalil, A. R. (2013). Distribusi Kecepatan Arus Pasang Surut Pada Muson Peralihan Barat-timur Terkait Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil Di Perairan Spermonde . Depik 2 (1), 26-32.

Jamaluddin Jompa, Willem Moka , & Dewi Yanuarita. (2007). Kondisi Ekosistem Perairan Kepulauan Spermonde: Keterkaitannya dengan Pemanfaatan Sumberdaya Laut di Kepulauan Spermonde. 265.

Jentoft , S., Thijs C. van Son, & Maiken Bjurkan. (2007). Marine Protected Areas:

A Governance System Analysis. Hum Ecol 35, 611-622.

Jones, G. (1991). Postrecruitment Processes in the Ecology of Coral Reef Fish Population. A Multivactorial Perspective dalam The Ecology of Fishes on Coral Reef. Durham:

Departement of Zoology University of New Hamspire.

kepselayarkab.go.id. (2014, January 11). Redaksi: Jl. Jend. Ahmad Yani No. 1 Benteng, Kepulauan Selayar. Retrieved from kepselayarkab.go.id:

http://kepselayarkab.go.id/2013/09/781/

Kikutchi, T. (1980). Faunal Relationship in Temperate Seagrass Bed. In R. C. Phillips, Handbook of Seagrass Biology. An Ecosystem Approach (pp. 153 -172). New York,: Garland Press.

KLH.

(2014,

January

1).

Kementerian

Lingkungan

Hidup.

Retrieved

from

Kementerian

 

Lingkungan

Hidup:

http://www.menlh.go.id/DATA/Peta%20lampiran%20factsheet.pdf

Knittweis, L., Kraemer, W. E., Timm, J., & Kochzius, M. (2009). Genetic structure of Heliofungia actiniformis (Scleractinia:Fungiidae) populations in the Indo-Malay Archipelago: implications for live coral trade management efforts. Conserv Genet 10, 241–249.

Kuo,

sulawesii

J.

(2007).

New

monoecious

seagrass

of

Halophila

(Hydrocharitaceae) from Indonesia. Aquatic Botany 87 , 171-175.

9

Kurniawan, E. P. (2003). Bathimetri, Komposisi sedimen Dan Acoustic Bottom Backscattering Strength Dasar Laut Dalam Diselat Makassar [ Skripsi ]. Bogor:

Institut Pertanian Bogor.

Laevastu, T. d. (1981). Fisheries Oceanography and Ecology. New York: Fishering News Book Ltd.

Lampe, M. (2008). Kajian Masyarakat Maritim [Buku Bahan AJar]. Makassar:

Politik

Program

Universitas Hasanuddin.

Studi

Antropologi

Fakultas

Ilmu

Sosial

dan

Ilmu

lllahude , G. (1978). On The Effecting The Productivity of The Southern. Makassar Strait. Marine Research in Indonesia. 21:, 81-107.

McConnell, R. (1987). Ecological Studies in Tropical Fish Communities. Cambridge University Press.

Miller, G., & Spoolman, S. (2009). Essentials of Ecology 5 Edition. United States:

Cengage Learning.

Moka, A. (2001). Bentuk Kepulauan Spermonde (Sangkarang). Materi Pendidikan dan Latihan Metodologi Penelitian Terumbu Karang. Puslitbang Oseanologi LIPI-UNHAS-BAPPEDA SULAWESI SELATAN-COREMAP-POSSI.

.

Moll, H., Maya Wijsman-Best , & L.G. de Klerk. (1981). Present Status Of The Coral Reefs In The Spermonde Archipelago (South Sulawesi, Indonesia). Proceedings of the Fourth International Coral Reef Symposium Manila, (pp. 265- 267). Manila.

Mona - Raja Ampat Sea-Turtle Tracking Project. (2014, Mey 31). Retrieved from http://www.seaturtle.org/:

http://www.seaturtle.org/tracking/index.shtml?tag_id=60648

Moran, J. (1990). The Acanthasterplancii (L); Biographical Data. Coral Reefs 9, 95-

96.

Mutmainnah. (2012). Kajian Model Kesesuaian Pemanfaatan Sumberdaya Pulau-Pulau Kecil Berbasis Kerentanan dan Daya Dukung di Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan [ Disertasi ]. Bogor:

Institut Pertanian Bogor.

10

Nontji, A. (1993). Laut Nusantara [ Cetakan Kedua ]. Jakarta: Djambatan.

Nuitja , I., & Uchida, I. (1983). Studied in The Sea Turtle II ( The Nesting Site Characteristics of The Hawksbill and Green Turtle). A Journal of Museum Zoologicium Bogor.

Nurjaya, I., & Surbakti, H. (2009). Sludi Pcndahuluan Kondisi OseanogMfi Fisik pada Musim Baral di Perairan Pantai Timur Kalimantan antara Balikpapan dan Delta Mahakam. Jurnal Kelautan Nasional Vol. 1. Retrieved from

http://eprints.unsri.ac.id/584/5/Pages_from_Heron_Surbakti-2.pdf

Ogden, J. C. (1983). Coral Reefs, Seagrass Beds and Mangroves: Their Interaction

UNESCO Reports in Marine Science

in Coastal Zones of the No. 23.

Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar. (2013). Fasilitasi Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil Kabupaten Kepulauan Selayar . Selayar:

Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar.

PMU Coremap II Kab. Pangkep. (2009). Management Plan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kab. Pangkep. Pangkep.

Rani, C. (2001). Pemutihan Karang : Pengaruhnya terhadap Komunitas Terumbu Karang. Hayati Vol 8. No. 3, 86-90.

Rauf, A. (2008). Pengembangan Terpadu Pemanfaatan Ruang Kepulalan Tanakeke Berbasis Daya Dukung [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Saptana, S. K. (2004). Integrasi Kelembagaan Forum Kass Dan Program Agropolitan Dalam Rangka Pengembangan Agribisnis Sayuran Sumatera. AKP Volume 2, 257-276.

Satria, F. (2009). Karakteristik Sumberdaya, Peluang dan Pola Pemanfaatan Ikan Demersal Laut Dalam [ Disertasi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sinurat, M. R. (2000). Analisis Kelembagaan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Di Wilayah Pesisir Timur Rawa Sragi Kabupaten Lampung Seiatan [Tesis]. Bogor:

Institut Pertanian Bogor.

Soekanto, S. (1997). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Soenardjo,

N.

(1999).

Produksi

dan

Laju

Dekomposisi

Serasah

Mangrove

dan

Hubungannya dengan

Rembang Jawa Tengah [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Struktur

Komunitas

Mangrove

di

Kaliutu

Kabupaten

11

Souhoka , J., Hendra F. Sihaloho , & Djuwariah . (2011). Monitoring Kesehatan Terumbu Karang Kabupaten Pangkep. Jakarta: LIPI.

A

Spalding,

M.

D.,

&

all,

e.

(2007).

Marine

Ecoregions

of

the

World:

Bioregionalization of Coastal and Shelf Areas. BioScience, 573-583.

Starger, C. (2007). Coral Population Genetics in the Indonesian Seas [Thesis]. Columbia:

Columbia University.

Subiyanto, & Niniek Widyorini, I. (2009). Pengaruh Pasang Surut Terhadap Rekruitmen Larva Ikan di Pelawangan Timur Segara Anakan Cilacap. Saintek Perikanan Vol 5, No.1, 44-48.

Sukoraharjo, S. S. (2012). Variabilitas Massa Air Permukaan Dari Data Satelit di Perairan Selat Makassar [ Disertasi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Sultan, M. (2004). Pengembangan Perikanan Tangkap Dikawasan Taman Nasional Laut Taka Bonerate [ Disertasi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Susandi, F. (2004). Pendugaan Nilai dan Sebaran Target Strength Ikan Pelagis di Selat Makassar Pada Bulan Oktober 2003 [ Skripsi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Susanto, H. A. (2011). Progres Pengembangan Sistem Kawasan Konservasi Perairan Indonesia Development And Progress Of Marine Protected Area Systems In Indonesia. Jakarta: Coral Triangle Support Partnership.

Ubeng, A. (1999). Variasi Tahunan Upwelling Di Perairan Selatan Sulawesi Selatan [ Skripsi ]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Ulumudin , Y., Frensly D. Hukom , & Susetiono . (2011). Monitoring Kesehatan Terumbu Karang Kabupaten Pangkep. Jakarta: LIPI.

UNEP-WCMC. (2008). National and Regional Network of Marine Protected Areas; A Review of Progress. Cambridge: UNEP-WCMC.

Verheij, E. (1993). Marine plants on the reefs of the Spermonde Archipelago, SW Sulawesi, Indonesia: aspect of taxonomy, fl on sties and ecology. [Dissertation]. Leiden:

Rijksherbarium Hortus Botanicus.

Weible, C., & Paul A. Sabatier. (2005). Comparing Policy Networks: Marine Protected Areas in California. The Policy Studies Journal, Vol. 33, No. 2, ,

181-202.

White, A. P. (2006). Creating and managing marine protected areas in the Philippines. Fisheries Improved for Sustainable Harvest Project, Coastal Conservation and

12

Education . Philippines: Foundation, Inc. and University of the Philippines Marine Science Institute, Cebu City Coastal Conservation and Education .

Wilson, J., Darmawan , A., Subijanto, J., Green, A., & Sheppard, S. (2011). Rancangan Ilmiah Jejaring Kawasan Konservasi Laut yang Tangguh Ecoregion Sunda Kecil, Segitiga Karang [ Laporan ]. Australia: The Nature Conservancy, Program Kelautan Asia Pasifik.

Woodruff, D. (2010). Biogeography and conservation in Southeast Asia: how 2.7 million years of repeated environmental fluctuations affect today's patterns and the future of the remaining refugial-phase biodiversity. Biodivers Conserv 19, 919-941.

Wyrtki, K. (1961). Physical Oceanography of The Southeast Asian Waters. California:

University of California .

Yusuf, S. (2008). Laporan Monitoring Terumbu Karang Berkala 2005-2008 KePulauan Spermonde Sulawesi Selatan. Makassar: Pusat Penelitian Terumbu Karang Universitas Hasanuddin.

Zacharias, M., Howes, D., Harper, J., & al, e. (1998). The British Columbia marine ecosystem classification: rationale, development, and Coast Manage, 105-124.

Zamani, N., & Hawis H. Madduppa. (2001). A Standard Criteria for Assesing the Health of Coral Reefs: Implication for Management and Conservation. Journal of Indonesia Coral Reefs 1(2), 137-146.

13

STATUS KEBERLANJUTAN PENYU LAUT DI PULAU KAPOPOSANG

Syamsu Alam Ali dan Deasy Ariani

Pendahulua

Penyu laut (sea turtle) merupakah kekayaan biota laut langka sehingga dilindungi oleh peraturan dan perundang undangan di Indonesia. Dari tujuh jenis penyu di dunia, tercatat enam jenis penyu yang hidup di perairan Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), serta penyu tempayan (Caretta caretta). Jumlah ini sebenarnya masih diperdebatkan karena Nuitja (1992) menyebutkan hanya lima jenis yang ditemukan, dimana Caretta caretta dinyatakan tidak ada. Namun demikian, beberapa peneliti mengungkapkan bahwa Caretta caretta memiliki daerah jelajah yang meliputi Indonesia (Limpus et al. 1992, Charuchinda et al. 2002).

Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah salah satu dari enam spesies penyu laut yang ada di perairan laut Indonesia. Sebagai spesies migran spesies penyu paling intensif dieksploitasi masyarakat Indonesia. Populasi penyu hijau dikelompokkan sebagai endangered species dalam IUCN Red List yakni spesies yang dalam waktu dekat sangat beresiko mengalami kepunahan. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 yang melindungi penyu hijau. Pemerintah Indonesia yang memiliki kewenangan mengelola spesies langka dan terancam kepunahan gagal menghentikan eksploitasi penyu hijau. Indikasi kegagalan Pemerintah ditunjukkan oleh penurunan populasi penyu hijau secara terus menerus hingga saat ini (Wibowo dkk. 2007).

Di banyak tempat, khususnya di kawasanSunda Kecil (Jawa Barat, JawaTimur,

Bali dan NTB) mulai mengembangkan inisiatif pariwisata berbasis penyu. Ada peluang konservasi disana, tapi di perlukan suatu kebijakan, petunjuk teknis dan pelaksanaan yang relevan dengan kebutuhan biologi penyu laut agar pelaksanaan wisata berbasis penyu dapat memberi lebih banyak manfaat ketimbang kerugian.

Dalam kesempatan ini berhasil di inisias iterbentuknya Jejaring Kelompok Praktisi Konservasi Penyu di Wilayah JawaTimur dan Sunda Kecil bagian barat. Jejaring

ini dikoordinir oleh Ikram M. Sangaji, Kepala Badan Pengelolaan Sumberdaya

Pesisirdan Laut (BPSPL) KKP Denpasar. Penangkapan penyu laut masih sering

terjadi disebabkan oleh karena kurangnya pengawasan, lemahnya penegakan hukum dan peraturan, kurangnya sosialisasi peraturan perikanan yang

14

berhubungan dengan larangan penangkapan dan perlindungan spesies ETP (endanggered, treatned, dan protected), sehingga tingkat kesadaran masyarakat terhadap perlindungan spesies ETP khususnya penyu laut masih sangat rendah.

Ada beberapa bentuk ancaman terhadap populasi penyu antara lain adalah eksploitasi penyu untuk memenuhi kebutuhan protein bagi sebagian masyarakat lokal, dipasarkan untuk menambah pendapatan nelayan, memenuhi kebutuhan konsumsi dalam upacara tradisional, permintaan plastron (cangkang penyu) untuk kebutuhan pemasaran internasional, pengambilan telur untuk diperdagangkan dan dikonsumsi masyarakat lokal. Ancaman lain adalah gangguan habitat peneluran karena aktifitas masyarakat disekitarnya serta adanya konflik kepemilikan lahan daerah peneluran, serta pengaruh perubahan iklim, kegagalan inkubasi dan penetasan telur akibat adanya abrasi pada habitat peneluran.

Ancaman yang bervariasi ini, menyebabkan pengelolaan kawasan konservasi penyu di Pulau Kapoposang memerlukan adaptasi strategi. Ancaman dari luar kawasan, seperti perdagangan plastron internasional, tidak bisa ditangani hanya kegiatan penegakan hukum setempat, tetapi harus lewat berbagai inisiatif regional, nasional dan internasional. Ada pula ancaman dari praktek perikanan yang sering menyebabkan tangkapan sampingan. Dalam upaya mitigasi tangkapan sampingan ini tampak jelas keberhasilan upaya konservasi penyu, karena jumlah tangkapan sampingan penyu yang bisa dilepaskan dalam keadaan hidup mencapai 98% pada perikanan tuna longline yang menggunakan pancing lingkar.

Berdasar uraian tersebut di atas, maka keberlanjutan sumberdaya penyu tidak hanya ditentukan oleh satu faktor tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor yang memiliki keterkaitan antar faktor (konektivitas) dalam suatu sistem yang kompleks. Sistem perikanan yang sangat kompleks memerlukan pendekatan multidimensi sehingga penilaian terhadap keberlanjutan sumberdaya perikanan tidak dapat dipetakan pada satu dimensi saja tetapi harus dianalisis secara multidimensional. Salah satu pendekatan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas adalah pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan berbasis ekosistem atau EAFM (ecological approach to fisherie management). EAFM telah dikembangkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Australia, Filipina dan lain-lain. Pengelolaan sumberdaya perikanan bersifat kompleks mencakup aspek biologi, lingkungan, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan kelembagaan. FAO (1995) menyatakan tujuan umum pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi aspek biologi, ekologi, ekonomi, dan sosial. Tujuan biologi untuk menjaga sumberdaya pada level berkelanjutan, tujuan ekologi meminimalkan dampak lingkungan dan sumberdaya non-target (by-catch) serta sumberdaya lainnya yang terkait, tujuan ekonomi untuk memaksimalkan

15

pendapatan nelayan, dan tujuan sosial untuk memaksimalkan peluang kerja dan mata pencaharian nelayan. Dalam implementasi EAFM harus diperhatikan adalah : (1) perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem; (2) interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga; (3) perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan; (4) prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan; (5) tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi dan sistem manusia (FAO, 2003).

Pulau Kapoposang

Pulau Kapoposang diketahui sebagai salah satu habitat atau area pendaratan penyu untuk melakukan peneluran. Di pulau tersebut terdapat 2 spesies dari 6 spesies yang terdapat di Indonesia yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Tekanan populasi penyu laut di Pulau Kapoposang disebabkan karena masih adanya kebiasaan masyarakat Pulau Kapoposang maupun masyarakat Pulau lain yang ada disekitar Pulau Kapoposang yang mengambil telur penyu dari lubang sarangnya untuk dikonsumsi sebagai salah satu sumber protein atau di jual pada masyarakat di luar pulau Kapoposang. Sumberdaya penyu walaupun sudah menjadi barang terlarang untuk dieksploitasi namun masyarakat nelayan masih tetap mengambil telurnya maupun menangkap induknya untuk diambil daging dan cangkangnya. Penangkapan penyu sisik maupun penyu hijau dewasa pada umumnya tertangkap secara tidak sengaja (spesis bukan target) pada jaring insang atau pukat nelayan yang seharusnya dilepas kembali ke laut

Pulau Kapoposang adalah bagian dari Kepulauan Spermonde atau Kepulauan Singkarang di Selat Makassar yang terletak disebelah Barat Sulawesi Selatan. Pulau Kapoposang adalah merupakan salah satu pulau di gugusan Kepulauan Kapoposang. Pulau ini berada dibawah otoritas kecamatan Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan. Pulau Kapoposang merupakan salah satu dari delapan kawasan konservasi yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Mentri Kelautan dan Perikanan No.66/Men/2009 dengan status Taman Wisata Perairan. Taman Wisata Kepulauan Kapooposang terdiri dari 6 pulau kecil yaitu: Pulau Kapoposang 10 ha, Pulau Papandangan 13 ha, Pulau Gondongbali 5 ha, Pulau Pamanggangan 5 ha, Pulau Tambakulu 5, dan Pulau Saranti 4 ha. Tiga pulau berpenduduk paling padat adalah Gondongbali 1.807 jiwa, Papandangan 898 jiwa, dan Kapoposang 454 jiwa. Tiga pulau lainnya yaitu Suranti, Tambakulu dan Pamanggangan tidak berpenduduk. (Kecamatan Liukang Tupabbiring, 2013).

16

Pulau Kapoposang merupakan salah satu dusun dari Desa Mattiro Ujung Kecamatan Liukang Tupabbiring. Pulau ini menjadi salah satu pulau yang selalu dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Pulau Kapoposang memiliki jarak cukup jauh dari Kota Makassar maupun dari Ibu Kota Kabupaten Pangkep. Pulau Kapoposang dapat ditempuh dalam waktu 6 jam dari Pelabuhan Paotere Kota Makassar dengan menggunakan Kapal Motor. Pelayaran ke pulau Kapoposang pada musim Barat dan musim Pancaroba cukup berbahaya karena cuaca yang buruk seperti angin yang kencang dan gelombang besar, sehingga pada musim tersebut sulit untuk mendapatkan transportasi ke pulau Kapoposang. Para wisatawan yang akan berkunjung ke Pulau Kapoposang pada umumnya menggunakan agen wisata yang ada di Makassar. Sarana dan prasarana di Pulau Kapoposang sangat terbatas hanya terdapat sebuah SD, beberapa buah cottage tempat menginap pengunjung, sebuah generator listerik untuk sarana penerangan bagi beberapa rumah penduduk. Pulau Kapoposang di tumbuhi banyak pohon kelapa, sukun, pohon kelor, pisang sebagai salah satu sumber pendapatan. Hasil tumbuhan ini dijual di pulau-pulau terdekat dengan harga yang cukup murah, namun jika dapat dijual di Makassar dan Pangkep harganya cukup tinggi.

Mata pencaharian penduduk adalah nelayan dengan alat tangkap jaring insang, pancing, bubu, dan cantrang. Jaring insang, pancing dan bubu digunakan untuk menangkap ikan karang. Cantrang digunakan untuk menangkap kepiting rajungan dan udang. Sumberdaya yang banyak diitangkap nelayan adalah ikan-ikan karang seperti kerapu, kakap, lencam, serta kepiting rajungan dan udang. Daerah penangkapan nelayan pulau Kapoposang tidak jauh dari Taman Wisata Perairan Kapoposang terutama pada musim Barat dan Musim Pancaroba karena cuaca yang buruk. Pada musim Barat pada umumnya nelayan hanya menangkap ikan di daerah terumbu karang disekitar pulau. Kawasan Taman Wisata Perairan Kapoposang juga dihuni oleh beberapa jenis biota ETP (endanggered, threatned, dan protected) seperti penyu laut, dugong, berbagai jenis kima (Tridacna spp), dan kuda laut.

Penangkapan terhadap biota ETP (endangered, threatnet, dan protected) sebagai target utama sudah tidak dilakukan oleh nelayan di Pulau Kapoposang. Namun yang terjadi adalah masih sering ditemukan biota ETP tertangkap oleh alat tangkap jaring secara tidak sengaja atau hasil tangkapan sampingan. Misalnya penyu laut tertangkap oleh jaring insang dan cantrang, dugong biasa tertangkap dengan jaring di daerah padang lamun, sedangkan kima masih sering dieksploitasi oleh nelayan untuk konsumsi rumah tangga. Keberdaan penyu di sekitar Pulau Kapoposang pada musim pemijahan atau musim peneluran karena sebagian dari pesisir pantai dengan substrat berpasir Pulau Kapoposang merupakan habitat

17

peneluruan penyu. Telur penyu di Pulau Kapoposang masih sering ditemukan dan dimanfaatkan oleh nelayan sebagai salah satu sumber pendapatan dan sumber protein.

Pendekatan Ekosistem dalam analisis Keberlanjutan penyu.

Karya tulis ini disusun berdasarkan hasil penellitian status keberlanjutan penyu melalui pendekatan ekosistem yang telah dilakukan di Pulau Kapoposang mulai Bulan Agustus sampai Oktober 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status keberlanjutan setiap dimensi dan status keberlanjutan secara agregat (multidimensi) terhadap pengelolaan penyu berdasarkan pendekatan ekosistem, serta merumuskan strategi pengelolaan penyu secara berkelanjutan di Pulau Kapoposang. Data yang dikumpulkan meliputi Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer diperoleh langsung dari responden sebagai pemangku kepentingan di Pulau Kapoposang melalui wawancara, observasi, PRA, dan FGD. Data sekunder diperoleh dari studi pustaka, hasil penelitian, dan dokumen laporan yang tersedia pada instansi pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Metode analisis satatus keberlanjutan dilakukan melalui pendekatan MDS (multi dimensional scaling) dengan menggunakan program RAPFISH (Rapid Assesment Techniques For Fisheries) yang dikembangkan oleh University of British Columbia yang telah dimodifiikasi. Analisis status keberlanjutan melalui pendekatan ekosistem menggunakan 6 dimensi sesuai petunjuk penialaian indikator pengelolaan perikanan dengan modifikasi beberapa atribut (indikator). Pendekatan ekosistem melalui 6 dimensi yaitu: biologi, habitat dan ekosistem, penangkapan, sosial, ekonomi, dan kelembagaan dengan (KKP, 2014). Metode MDS merupakan teknik pendugaan keberlanjutan secara sederhana dengan menggunakan 6 dimensi dan 30 atribut. Nilai pembobotan setiap atribut berkisar antara 1-3 dimana nilai 1 adalah nilai minimum dan 3 adalah nilai maksimum.

Keberlanjutan Dimensi Biologis Sumberdaya Penyu

Analisis keberlanjutan dimensi biologi sumberdaya penyu di Pulau Kapoposang dilakukan dengan menggunakan 5 indikkator atau atribut yaitu: komposisi jenis, jumlah tukuik yang dihasilkan di penangkaran, frekwensi peneluran setiap musim, range collaps, dan status eksploitasi penyu. Hasil analisis atribut pengugkit (leverage of atribut) menunjukkan atribut yang sensitif pada dimensi biologi sumberdaya adalah jumlah tukik di penangkaran dengan nilai 12,44 (Gambar 1). Indikator tersebut sebagai indikasi bahwa jumlah tukik yang dihasilkan di tempat penangkaran perlu lebih diperhatikan karena masih rendahnnya tingkat survival rate pada tukik. Kejadian ini dapat disebabkan oleh karena kegagalan proses inkubasi dan perkembangan embriologis karena

18

manipulasi lingkungan yang kurang tepat. Secara umum penyu laut dapat menghasilkan sekitar 150 butir telur dan diambil untuk ditetaskan pada tempat tertentu namun tukik yang dihasilkan hanya berkisar antara 50-100 ekor tukik. Kejadian ini diduga karena kualitas telur sudah rusak sedangkan telur-telur yang mau ditangkarkan memerlukan telur yang berkualitas baik.

Sensitivitas atribut dan Indeks keberlanjutan dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Leverage of Attributes Status Eksploitasi 7.10 Rang Collapse 7.23 Frekuensi 6.72 Peneluran/Musim Jumlah Tukik
Leverage of Attributes
Status Eksploitasi
7.10
Rang Collapse
7.23
Frekuensi
6.72
Peneluran/Musim
Jumlah Tukik di
Penangkaran
12.44
Janis Spesies Yang
Ada
10.16
0
2
4
6
8
10
12
14
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Attribute

Other Distingishing Features

RAPFISH Ordination

60 UP 40 20 0 BAD GOOD 0 20 40 60 80 100 120 73.90
60
UP
40
20
0
BAD
GOOD
0
20
40
60
80
100
120
73.90
-20
Real Fisheries
-40
References
DOWN
Anchors
-60

Fisheries Sustainability

Gambar 1. Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada Dimensi Sumberdaya

Faktor yang dapat menjadi pengungkit pada dimensi biologi sumberdaya adalah "jumlah tukik yang dihasilkan di tempat penangkaran" merupakan indikator yang perlu mendapat perhatian. Pengelola konservasi penyu di Pulau Kapoposang baik pemerintah, swasta dan masyarakat perlu memperhatikan dengan baik kondisi habitat peneluran, demplot penangkaran penyu, serta kualitas telur penyu yang diambil dari lapangan atau yang dibeli dari nelayan. Pemeliharaan yang baik terhadap demplot tersebut serta perlakuan yang tepat terhadap telur-telur yang akan ditetaskan akan menghasilkan tukik yang lebih banyak dan berkualitas. Pengembangan penetasan telur penyu perlu didukung program penelitian lingkungan fisik terhadap keberhasilan penetasan dan sintasan tukik. Hasil analisis Rapfish menunjukkan nilai keberlanjutan biologi sumberdaya penyu sebesar 73.90 menunjukkan kategori baik (berkelanjutan) (Allahyari,

2010).

19

Keberlanjutan Dimensi Habitat dan Ekosistem Analisis keberlanjutan dimensi habitat dan ekosistem berdasarkan indikator tutupan lamun, tutupan karang, jenis substrat, perubahan garis pantai, kekeruhan, dan kecerahan. Hasil analisis atribut pengugkit (leverage of atribut) menunjukkan atribut paling sensitif adalah kondisi tutupan karang dengan nilai 11,17 (Gambar 2). Hal ini menunjukkan kondisi tutupan karang hidup merupakan faktor pengungkit untuk meningkatkan kondisi habitat dan ekosistem penyu laut di pulau kapoposang. Begitupula atribut perubahan garis pantai dengan nilai 9,74 menunjukkan bahwa di pulau Kapoposang terjadi kecenderungan perubahan garis pantai yang dapat berpengaruh terhadap posisi peneluran penyu secara alami.

Attribute

Leverage of Attributes

Kecerahan

Kecerahan 5.09

5.09

Kekeruhan

6.57

6.57

 

Perubahan Garis

   

Pantai

9.74

Janis substrat

 

8.40

Kondisi Terumbu

   

Karang

11.17

Kondisi tutupan lamun

Kondisi tutupan lamun 2.41

2.41

0

2

4

6

8

10

12

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

RAPFISH Ordination 60 UP 40 20 0 BAD GOOD 0 20 40 60 80 100
RAPFISH Ordination
60
UP
40
20
0
BAD
GOOD
0
20
40
60
80
100
120
72.79
-20
-40
Real Fisheries
References
DOWN
Anchors
-60
Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features

Gambar

2. Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada Dimensi Habitat dan Ekosistem

Secara ekologi, kondisi terumbu karang di daerah reef flat di Pulau Kapoposang tergolong rusak. Kerusakan terumbu karang diakibatkan oleh pemangsaan bintang laut bermahkota duri Acanthaster planci. Populasi binatang pemakan karang ini memuncak pada tahun 2005 di hampir semua titik di sisi Utara dan Barat (PPTK-Unhas, 2006). Hasil penelitian Spice-PPTK (2006) mengungkapkan bahwa populasi Acanthaster planci mencapai 120 ekor per 100 m 2 . Dalam jangka waktu 6 bulan, kondisi terumbu karang menurun dari 60 % tutupan karang hidup

20

menjadi 10-25 %. Pada tahun 2006 terumbu karang didominasi oleh komponen karang mati dan tertutup algae. Di satu sisi tutupan terumbu karang pada kawasan ini yang masih tersisa, sekarang sedang diserang pula oleh bintang berduri ini. Selanjutnya, skor atribut lain yang tinggi merupakan indikasi bahwa kondisi biologi dan lingkungan perairan mendukung keberlanjutan Habitat dan Ekosistem di Pulau Kapoposang. Nilai keberlanjutan Habitat dan Ekosistem sebesar 72.79 (Gambar 2) menunjukkan kategori baik (keberlanjutan). Kerusakan terumbu karang telah mendapat perhatian melalui program pengembangan TWP, zonasi daerah pemanfaatan, serta pengawasan dan penegakan peraturan.

Keberlanjutan Dimensi Penangkapan Analisis keberlanjutan dimensi penangkapan dengan menggunakan indikator, selektifitas alat tangkap, penangkapan destruktif dan ilegal, jenis alat tangkap ramah lingkungan, dan ukuran mata jaring. Hasil analisis atribut pengugkit (leverage of atribut) memperlihatkan atribut paling sensitif sebagai faktor pengungkit adalah ukuran mata jaring alat tangkap ikan sangat berpengaruh terhadap tertangkapnya spesies penyu laut.

Attribute

Ukuran mata jaring

Janis alat tangkap yang digunakan

Met ode Penangkapan destruktif dan Ilegal

Selektifitas

Penangkapan

Leverage of Attributes

 

4.68

2.28

2.28

 

3.07

 

3.71

0

0.5

1

1.5

2

2.5

3

3.5

4

4.5

5

Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)

RAPFISH Ordination

60 UP 40 20 45.15 0 BAD GOOD 0 20 40 60 80 100 120
60
UP
40
20
45.15
0
BAD
GOOD
0
20
40
60
80
100
120
-20
-40
Real Fisheries
References
DOWN
Anchors
-60
Other Distingishing Features

Fisheries Sustainability

Gambar 3. Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada Dimensi Alat Tangkap

21

Ukuran mata jaring yang digunakan nelayan dalam penangkapan ikan sangat bervariasi bergantung jenis ikan yang menjadi tujuan penangkapan. Penyu laut yang tertangkap merupakan hasil tangkapan sampingan (tidak menjadi sasaran utama penangkapan). Semua jenis jaring yang dipakai nelayan dapat menangkap penyu mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar. Jenis jaring yang dioperasikan di terumbu karang yang sering menangkap penyu adalah jaring atau pukat baronang dan pukat kakap. Beberapa nelayan telah memiliki tingkat kesadaran terhadap peraturan sehingga melepaskan penyu laut yang tertangkap secara tidak sengaja pada jaring ikan mereka dilepaskan ke laut, sehingga populasi penyu masih dapat dipertahankan di pulau Kapoposang. Namun sebagian nelayan dari luar Pulau Kapoposang masih mengambil penyu yang tertangkap untuk dijual sebagai hewan peliharaan dan untuk hiasan akuarium atau kolam- kolam. Hasil analisis Rapfish (Gambar 3) menunjukkan nilai keberlanjutan dimensi penangkapan sebesar 45.15 menunjukkan keberlanjutan kategori sedang (berkelanjutan). Walaupun alat tangkap yang mereka gunakan dapat menjaring penyu namun perilaku nelayan yang melepaskan kembali penyu yang terjaring sehingga populasi penyu dapat dipertahankan di Pulau Kapoposang.

Keberlanjutan Dimensi Ekonomi

Keberlanjutan dimensi ekonomi mencerminkan kemampuan dari suatu kegiatan pemanfaatan sumberdaya penyu untuk memperoleh hasil yang secara ekonomis dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berkelanjutan (Hartono, et al, 2005). Analisis keberlanjutan dimensi ekonomi dengan menggunakan atribut atau indikator kepemilikan asset, pendapatan rumah tangga, harga jual penyu, pemasaran, dan kegiatan pariwisata. Hasil analisis atribut pengugkit (leverage of atribut) menunjukkan atribut paling sensitif adalah pendapatan rumah tangga perikanan dengan nilai 7,72 (Gambar 4). Pemanfaatan penyu di Pulau Kapoposang memang hanya terbatas pada pengambilan telur di alam untuk konsumsi rumah tangga dan beberapa nelayan mengambil penyu yanng tersangkut dijaring untuk dijual. Hasil analisis Rapfisih menunjukkan nilai keberlanjutan dimensi ekonomi sebesar 38,49 kategori cukup (kurang berkelanjutan) (Gambar 4). Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan dimensi ekonomi di Pulau Kapoposang tergolong rendah, selain sumberdaya penyu tidak memiliki prospek ekonomi karena hewan dilindungi juga disebabkan karena hasil tangkapan ikan nelayan di pulau tersebut masih tergolong rendah.

22

Leverage of Attributes Pariwisata 5.41 Pemasaran 5.26 Pendapatan Rumah 7.72 Tangga Kepemilikan Aset 6.19 0
Leverage of Attributes
Pariwisata
5.41
Pemasaran
5.26
Pendapatan Rumah
7.72
Tangga
Kepemilikan Aset
6.19
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on
Sustainability scale 0 to 100)

Attribute

Harga Jual/Ekor

Attribute Harga Jual/Ekor 6.01

6.01

RAPFISH Ordination

60 UP 40 20 0 BAD GOOD 0 20 40 60 80 100 120 38.49
60
UP
40
20
0
BAD
GOOD
0
20
40
60
80
100
120
38.49
-20
-40
Real Fisheries
References
DOWN
Anchors
-60
Other Distingishing Features

Fisheries Sustainability

Gambar

4. Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada Dimensi Ekonomi

Harga penyu per ekor berkisar antara Rp. 150.000 – Rp. 200.000 jauh lebih rendah dibanding dengan harga ikan tangkapan nelayan seperti kakap, kerapu, dan baronang. Selain itu, pemasaran penyu yang sulit karena pengawasan yang ketat, dimana pemasaran yang banyak hanya ada di Pulau Bali untuk memenuhi kebutuhan upacara adat mereka. Konstribusi penyu terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sangat rendah bahkan tidak ada di di Pulau Kapoposang kecuali telurnya dikonsumsi untuk kebutuhan protein. Untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat dari sumberdaya penyu dapat dilakukan melalui pengembangan pariwisata ekologi penyu dengan tujuan pelestarian penyu dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui kegiatan pariwisata. Kegiatan pariwisata untuk menyaksikan musim peneluran penyu dapat menjadi daya tarik terendiri bagi wisatawan, selain tujuan wisata lainnya seperti memancing, selam, perahu layar dan beberapa objek menarik di beberapa pulau disekitarnya. Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap eksploitasi telur penyu perlu pengembangan mata pencaharian alternatif sebagai sumber pendapatan lain seperti budidaya ikan laut, budidaya rumput laut, dan pengembangan industri rumah tangga perikanan.

23

Keberlanjutan Dimensi Sosial

Atribut dimensi sosial mencerminkan bagaimana sistem sosial masyarakat kepulauan berada dalam kegiatan pengelolaan penyu yang saling berinteraksi untuk mendukung kegiatan pengelolaan penyu secara berkelanjutan (Hartono et al, 2005). Analisis status keberlanjutan dimensi sosial berdasarkan atribut:

partisipasi pemangku kepentingan, tingkat partisipasi, konflik pemanfaatan, pemanfaatan pengetahuan lingkungan tradisional, jumlah rumah tangga nelayan.

Leverage of Attributes Rumah Tangga 7.12 Nelayan Pengetahuan 3.31 Lingkungan Konflik Pemanfaatan 11.12 Tingkat
Leverage of Attributes
Rumah Tangga
7.12
Nelayan
Pengetahuan
3.31
Lingkungan
Konflik Pemanfaatan
11.12
Tingkat Partisipasi
6.80
Partisipasi Pemangku
6.48
Kepentingan
0
2
4
6
8
10
12
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Attribute
RAPFISH Ordination 60 UP 40 20 0 BAD GOOD 0 20 40 60 80 100
RAPFISH Ordination
60
UP
40
20
0
BAD
GOOD
0
20
40
60
80
100
120
-20
60.89
-40
Real Fisheries
References
DOWN
Anchors
-60
Fisheries Sustainability
Other Distingishing Features

5. Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada Dimensi Sosial

Hasil analisis atribut pengugkit menunjukkan atribut paling sensitif pada dimensi sosial adalah konflik pemanfaatan sumberdaya dengan nilai 11,12 (Gambar 5). Hal ini menandakan bahwa atribut konflik pemanfaatan sumberdaya perlu mendapat perhatian. Konflik yang terjadi karena keperluan yang berbeda terhadap telur penyu yaitu masyarakat pelestari penyu memerlukan telur untuk ditangkarkan sedangkan sekelompok masyarakat manfaatkan telur penyu untuk keperluan konsumsi dalam rumah tangganya. Selain itu konflik pemanfaatan lahan atau ruang untuk kepentingan sarang atau tempat peneluran penyu dengan pemanfaatan lahan untuk kepentingan penduduk seperti pemukiman, perkebunan yang dapat mengganggu aktivitas peneluran penyu secara alami. Penanganan konflik tersebut memerlukan penyadaran masyarakat agar tidak mengkonsumsi

Gambar

24

telur penyu karena dibutuhkan untuk penetasan agar menghasilkan tukik untuk penangkaran

Selain itu menghindari aktivitas masyarakat pulau yang dapat menganggu proses peneluran pada musim pemijahan, menganggu atau merusak habitat peneluran penyu. Hasil analisis Rapfish menunjukkan status keberlanjutan dimensi sosial adalah 60,89 (Gambar 5) atau tergolong baik (keberlanjutan). Untuk itu dimensi sosial ini perlu mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan pengelolaan penyu seperti memberikan kesempatan yang sama terhadap anggota masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pengelolaan penyu baik anggota kelompok pelestari penyu maupun yang bukan. Selain itu, peniingkatan penyuluhan pada masyarakat tentang peraturan dan kebijakan pengelolaan penyu secara berkelanjutan.

Keberlanjutan Dimensi Kelembagaan

Atribut dimensi kelembagaan merupakan cerminan dari tingkat organisasi, ketersediaan peraturan, implementasi peraturan, dalam pengelolaan sumberdaya penyu di Pulau Kapoposang. Atribut yang digunakan dalam analisis keberlanjutan dimensi kelembagaan ini adalah: dukungan kelembagaan, program pengelolaan, keberadaan dan sosialisasi peraturan, kepatuhan, dan bantuan kelembagaan. Hasil analisis atribut pengugkit (leverage of atribut) menunnjukkan peraturan dan sosialisasi peraturan menunjukkan faktor pengungkit denggan nilai 19,99 (Gambar 6).

Leverage of Attributes Bantuan Kelembagaan 2.78 Kepatuhan 4.73 Keberadaan dan 15.99 Sosialisasi Aturan Program
Leverage of Attributes
Bantuan Kelembagaan
2.78
Kepatuhan
4.73
Keberadaan dan
15.99
Sosialisasi Aturan
Program Pengelolaan
3.54
Dukungan
2.64
Kelembagaan
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute
Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
Attribute

Other Distingishing Features

RAPFISH Ordination

60 UP 40 20 0 GOOD 84.01 0 BAD 20 40 60 80 100 120
60
UP
40
20
0
GOOD
84.01
0
BAD
20
40
60
80
100
120
140
-20
-40
Real Fisheries
References
DOWN
Anchors
-60

Fisheries Sustainability

Gambar

Dimensi Kelembagaan

6.

Hasil Analisis Sensitivitas Atribut dan Indeks Keberlanjutan Pada

25

Menurut Charles et al. (2002), terdapat 2 kunci bagi keberlanjutan kelembagaan yaitu : (1). Adanya aturan yang rasional untuk ditegakkan, dan (2) Keseimbangan antara tingkat pengaturan sumberdaya yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan tingkat kinerja yang diperlukan untuk menjalankan aturan secara efektif. Peraturan tentang pengelolaan dan pelestarian penyu sudah banyak dan cukup lengkap baik peraturan daerah, provinsi, maupun peraturan nasional dan internasional. Masalahnya adalah minimnya sosialisasi peraturan sehingga kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan dan perlindungan penyu sehingga ada kesan bahwa masyarakat tidak patuh karena tiidak mengetahui adanya peraturan-peraturan pelestarian penyu. Pemerintah atau kelompok masyarakat swasta (LSM) pemerhati penyu perlu menempatkan petugas khusus selain memberikan pendampingan teknis dalam proses penangkaran dan pengelolaan penyu juga melakukan sosialisasi peraturan terkait pengelolaan dan pelestarian penyu. Hasil analisi status keberlanjutan dimensi kelembagaan sebesar 84.01 menunjukkan status dimensi kelembagaan sangat baik (sangat berkelanjutan). Hal ini menjelaskan bahwa dimensi ini perlu dipertahankan eksistensinya karena dapat menjadi landasan utama dalam pengelolaan sumberdaya penyu di Pulau Kapoposang Secara berkelanjutan.

Keberlanjutan Multidimensi (Secara Agregat)

Indeks keberlanjutan setiap dimensi belum menggambarkan status keberlanjutan dari kegiatan keseluruhan. Untuk itu, nilai indeks setiap dimensi perlu digabungkan untuk menentukan nilai status keberlajutan multidimensi. Penggabungan dilakukan dengan mengalikan nilai indeks dari hasil perhitungan (existing condition) dengan hasil perhitungan bobot dari masing-masing dimensi berdasarkan penilaian dari tiga (3) orang ahli pengelolaan sumberdaya penyu (need assessment). Hasil pembobotan menempatkan dimensi Habitat dan Ekosistem, serta dimensi Sumberdaya pada urutan teratas diikuti oleh Dimensi kelembagaan, sosial, dan ekonomi serta nilai terendah pada teknik penangkapan. Berdasarkan jumlah nilai tersebut maka didapatkan nilai indeks multidimensi 67.04 yang menunjukkan bahwa status keberlanjutan multidimensi pengelolaan penyu di pulau Kapoposang berada dalam kategori baik (berkelanjutan). Hal ini mengindikasikan bahwa untuk meningkatkan status keberlanjutan kegiatan secara menyeluruh, diperlukan penataan terhadap berbagai atribut yang sensitivitasnya tinggi khususnya teknik penangkapan, sosial, dan ekonomi. Pengembangan pengelolaan penyu di Pulau Kapoposang memerlukan strategi dan interfensi kebijakan terhadap berbagai permasalahan yang ada secara simultan dan terarah dengan mengacu kepada berbagai aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan di berbagai tingkatan (daerah, provinsi, dan nasional). Selain itu perlu dilakukan

26

pemberian prioritas kepada aspek pengelolaan yang memiliki nilai indeks keberlanjutan yang berada pada kategori kurang berkelanjutan, yaitu dimensi ekonomi, dan teknik penangkapan, sebagaimana Charles et.al (2002) menyatakan bahwa pengelolaan akan banyak berhadapan dalam kompromi dan membuat pilihan dan penetapan skala prioritas terhadap alternatif yang tersedia untuk menetapkan penggunaan alokasi sumberdaya yang terbatas.

Fitness, Tingkat Kepercayaan dan Stabilitas Atribut Nilai Stress kelima dimensi <0.20 menunjukkan hasil analisis yang baik. Nilai stress menggambarkan goodness of fitness dalam multi-dimensional scaling, yaitu ukuran ketepatan suatu konfigurasi dapat mencerminkan data aslinya. Nilai stress yang rendah mencerminkan nilai goodness of fitness yang sempurna, dengan batas tertinggi menurut Kruskal dan Wills (1979) in Kavanagh et al. (2000) adalah maksimal sebesar 0.20.

Tabel 1. Nilai Stress, Kuadrat Korelasi dan Indeks Keberlanjutan

 

Indeks

Dimensi

Stre

Squarred

Keberl

Keterangan

Keberlanjutan

ss

Correlation

anjuta

 

n

Dimensi

0.1

0.9400

73.90

Baik/Berkelanjut

Sumberdaya

532

an

Dimensi Sosial

0.1

0.9375

60.89

Baik/Berkelanjut

499

an

Dimensi Ekonomi

0.1

0.9365

38.49

Cukup/Kurang

594

Berkelanjutan

Dimensi

0.1

Sangat

Kelembagaan

657

0.9209

84.01

Baik/Sangat

Berkelanjutan

Dimensi Teknik Penangkapan Dimensi Habitat dan Ekosistem

0.1

0.9234

45.15

Sedang/Berkelanj

770

utan

0.1

0.9314

72.79

Baik/Berkelanjut

424

an

Nilai Kuadrat Korelasi (R 2 ) untuk semua dimensi diatas 85%, juga menujukkan tingkat kepercayaan (koefisien determinasi) terhadap hasil analisis multidimensi untuk penilaian status keberlanjutan pengelolaan penyu di Pulau Kapoposang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan dimana hasil estimasi proporsi ragam data dapat terjelaskan oleh teknik analisis ini secara memadai, dimana nilai R 2 yang digunakan > 80% (Kavanagh, 2000).

27

DIAGRAM LAYANG-LAYANG

Dimensi Habitat dan Ekosistem

72.79

Dimensi Teknik Penangkapan

45.15

Dimensi Sumberdaya 73.90 100 80 60 40 20 0 84.01
Dimensi Sumberdaya
73.90
100
80
60
40
20
0
84.01

Dimensi Kelembagaan

Dimensi Sosial

60.89

Dimensi Ekonomi

38.49

Gambar 10. Diagram

Layang

Pengelolaan Penyu

Nilai

Indeks

Keberlanjutan

Setiap

Dimensi

Diagram diatas menunjukkan indeks kebelanjutan setiap dimensi dalam pengelolaan penyu di Pulau Kapoposang. Indeks keberlanjutan Dimensi dengan niai terendah yaitu dimensi ekonomi dengan nilai 38.49 (kurang berkelanjutan). Selanjutnya dimensi yang memiliki kategori berkelanjutan adalah teknik penagkapan dengan nilai 45.15, dimensi dosial denga nilai 60.89, dimensi Habitat dan ekosistem dengan nilai 72.79, dan dimensi sumberdaya dengan nilai 73.90, sedangkan yang tertinggi adalah dimensi kelembagaan dengan nilai 84.01 (sangat berkelanjutan). Untuk itu diperlukan perhatian yang lebih tinggi pada dimensi dengan nilai keberlanjutan yang rendah dimensi ekonomi, terutama dalam hal pengembangan mata pencaharian alternatif ramah lingkungan.

Kesimpulan

Status keberlanjutan setiap dimensi yang berpengaruh dalam pengelolaan penyu melalui pendekatan ekosistem di Pulau Kapoposang adalah dimensi ekonomi (kurang berkelanjutan), dimensi teknik penangkapan, sosial, ekonomi, habitat dan ekosistem (berkelanjutan), sedangkan dimensi kelembagaan (sangat berkelanjutan), sedangkan status keberlanjutan secara agregat atau multidimensi memiliki kategori baik atau berkelanjutan.

28

Hasil analisis multidimensi aplikasi Rapfish (modifikasi) menujukkan nilai stress dan koefisien determinasi cukup baik dan hasilnya dapat dipercaya.

Rekomendasi

(1) Perlu melindungi habitat peneluran penyu, demplot peneluran penyu, dan perlindungan proses peneluran pada musim pemijahan, penangan telur yang berasal dari nelayan dengan baik sebelum ditangkarkan. (2) Pelibatan anggota masyarakat dalam kegiatan pengelolaan dan penangkaran penyu di Pulau Kapoposang selain anggota kelompok pelestari penyu (Bahari Lestari) agar tidak terjadi konflik. (3) Pengembangan wisata ekologi di Pulau Kapoposang sebagai salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi sumberdaya penyu yaitu promosi daya tarik untuk menyaksikan penyu bertelur pada musim pemijahan. (4) Peningkatan sosialisasi peraturan yang sudah ada baik peraturan pada level kabupaten, provinsi, nasional, maupun internasional pada masyarakat di Pulau Kapoposang. (5) Pengawasan dan pengendalian alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, dan penyadaran masyarakat untuk melakukan pelepasan penyu. (6) Melindungi terumbu karang, padang lamun yang ada disekitar daerah peneluran penyu (sarang penyu) Memberikan perhatian terhadap habitat penyu, khususnya kondisi terumbu karang dengan mengintensifkan pengawasan terhadap penerapan program dan aturan yang telah berjalan saat ini.

29

DAFTAR PUSTAKA Alder, J. TJ Pitcher. Preikshot D, Kaschner K, Ferris B. 2000. "How Good Is Good?": A Rapid Appraisal Technique for Evaluation of The Sustainability Status of Fisheries of North Atlantic. Sea Around Us Methodology Review: 136-182. Allahyari MS. 2010. Social Sustainability Assessment of Fisheries Cooperatif in Guilan Province, Iran. J.Of Fisheries and Aquatic Science 5(3):216-222 Arianto, A. 1999. Studi Karakteristik Habitat Peneluran Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) dan Pengelolaan di Pantai Tampang-Belimbing TN bukit Barisan Selatan. Skripsi (tidak dipublikasikan). Jurusan konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor Awaloeddinnoer. 2012. Prevalensi Penyakit Pada Karang sclerectinia di Kepulauan Spermonde. Tesis. Jurusan Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah, Program studi Manajemen Kelautan. Pasca Srajana Universitas Hasanuddin. Makassar. Cicin-Sain and R.W. Knecht, 1998. Integrated Coastal and Marine Management. Island Press, Washington DC Charles AT. 2001. Sustainable Fishery System. Blackwell Sciences. London. UK Dahuri, R,J. Rais, SP Ginting dan M.J. Sitepu, 1996. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradniya Paramita. Jakarta Dayanti,S.R.2010.Survey Kesadaran dan Dukungan Masyarakat terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi TWP Pulau Kapoposang.Laporan Praktek Kerja Lapang.Jurusan Ilmu Kelautan.Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.Universitas Hasanuddin.Makassar Dermawan Agus, Ir, dkk. 2009. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan RI. DKP. 2009b. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Departemen Kelautan Dan Perikanan. Jakarta FAO Fisheries Department. 2004. The state of world fisheries and aquaculture. FAO Rome, pp 153. Fletcher, W.J. 2008. “A Guide to Implementing an Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) for the tuna fisheries of the Western and Central Pacific Region”. Forum Fisheries Agency, Honiara, Solomon Islands. Version 5 March 2008: 70. Haslindah. 2012. Valuasi Ekonomi Ekosistem Terumbu Karang di Taman Wisata Perairan Kapoposang Kabupaten Pangkep. Tesis. Jurusan Perencanaan

30

dan Pengelolaan Wilayah, Program studi Manajemen Kelautan. Pasca Srajana Universitas Hasanuddin. Makassar. Indrawasih, Ratna. 2008. “Co-Management Sumberdaya Laut Pelajaran Dari Pengelolaan Model COFISH Di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat”. Jurnal Kebijakan Dan Riset Sosial Ekonomi, Volume I No.2 Irwan Noor. "Keberlanjutan Sumberdaya Perikanan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan ZEEI Samudera Hindia Selatan Jawa Timur" Disertasi Program Doktor. Universitas Hasanuddin. Makassar 2012. Kavanagh. P. 2001. Rapid Appraisal for Fisheries (Rapfish) Project. Rapfish Software Description (for Microsoft Exel). University of British Columbia Kay, R and J. Alder, 1999. Coastal Planning & Management E & FN Spon, London Kementrian Kelautan Dan Perikanan. 2011. Laporan Akhir Monitoring Kondisi Kesehatan Terumbu Karang di TWP Kapoposang. Direktorat Jendral Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil: Satker Rehabilitasi dan Terumbu Karang. Kruskal, J. B., & Wish, M. (1978). Multidimensional scaling. Beverly Hills, CA: Sage Publications. Marasco, R. J., Goodman, D., Grimes, C. B., Lawson, P. W., Punt, A. E. and Quinn II, T. J.2007. “Ecosystem-based fisheries management: some practical suggestions”. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Science, 64, pp. 928-939. Márquez-M., R. 1990. FAO Species Catalogue Vol. 11: Sea Turtles of The World: An Annotated and Illustrated Catalogue of Sea Turtle Species Known To Date. FAO. Roma. iv + 81 h. Metcalf, J. Sarah. 2009. “Qualitative Modelling To Aid Ecosystem Analyses For Fiheries Management In A Data-Limited Situation”. Dissertation. University of Tasmania. Australia. Notohadikusumo.T. 2005. Implikasi Etika Dalam Kebijakan Pembangunan Kawasan. Jurnal Forum Perencanaan Pembangunan. Edisi Khusus, Januari 2005 Nuitja, I.N.S. 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. IPB Press. Bogor. xii + 127 h. Nur, N. 2004. Sea Turtle Conservation in Malaysia. www.wildasia.net. [18 Maret

2005]

PERSGA/GEF. 2004. Standard survey methods for key habitats and key species in the Red Sea and Gulf of Aden. PERSGA Technical Series No.10. PERSGA, Jeddah.

31

Pitcher, T.J. and Preikshot, D.B. 2001. “Rapfish: A Rapid Appraisal Technique to Evaluate the Sustainability Status of Fisheries”. Fisheries Research, 49(3):

pp. 255-270 Pikitch, E.K., Santora, C., Babcock, E.A., Bakun, A., Bonfil, R.,Conover, D.O., Dayton, P., Doukakis, P., Fluharty, D., Herman,B., Houde, E.D., Link, J., Livingston, P.A., Mangel, M.,McAllister, M.K., Pope, J., and Sainsbury, K.J. 2004. Ecosystembased fishery management. Science (Washington, D.C.), 305:346–347. Pomeroy, Robert, Len Garces, Micahel Pido, Geronimo Silvestre. 2009. “Ecosystem-based Fisheries Management in Small-Scale Tropical Marine Fisheries: Emerging Models of Governance Arrangements in The Philippines”. Journal of Elsevier: Marine Policy, Vol 34: pp. 298-308. PPTK Unhas. 2006. Monitoring Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan Spermonde. RAPFISH Group. 2006. Standart Attributes For Rapfish Analysis Evaluation Fields for Ecological, Technological, Economic, Sosial and Ethnic Status. Fisheries Centre, UBC. Vancaouver. Rebel, T. P. 1974. Sea Turte and Turtle Industry of The Western Indies, Florida, and The Gulf of Mexico. University of Miami Press. Florida. 250 h. Saaty, T. L. 1995. Decision Making for Leaders. The Analytical Hierarchy Process for Decisions in A Complex World. RWS Publication, Pittsburgh. Sekaran, Uma 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta: Salemba Empat.

USAID.1996. Track

 

a

Turtle.

Wiyono,

Eko

Sri.

2006.

“Mengapa

Sebagaian

Besar

Perikanan

Dunia

Overfishing? (Suatu Telaah Manajemen Perikanan Konvensional)”. Inovasi Online, ISSN : 0917-8376 | Edisi Vol.6/XVIII/Maret 2006 www.ioseaturtles.org Zaldi, S.J. 2010. Survei Sosial Ekonomi dan Ketaatan Masyarakat terhadap Kawasan Konservasi Laut (KKL) Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Kapoposang Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.Laporan Praktek Kerja Lapang. Jurusan Ilmu Kelautan.Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.Universitas Hasanuddin.Makassar. Zamani, N.P. 1998. Penyu Laut Indonesia. Lestarikan atau Punah Selamanya. WWF Indonesia-Bali Office. Bali. iv + 27 h. Zulfakar. 1996. Studi Habitat Peneluran Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate) di Pulau Dapur, Kecamatan Toboali, Kabupaten, Bangka Propinsi Sumatera Selatan. Skripsi (tidak dipublikasikan). Jurusan Konservasi Sumberdaya Alam. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

32

MODEL-MODEL PENGELOLAAN KONSERVASI

Dining, Jamaluddin Jompa dkk

Pendahuluan

Terumbu karang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi, Isishippuris adalah salah satu biota yang terdapat di dalamnya. Isishippuris merupakan salah satu jenis oktokoral yang hidup di perairan tropis indo pasifik. Di Indonesia jenis ini mendominasi perairan Indonesia bagian timur, terutama Perairan Maluku dan Papua. Jenis ini dikelompokan dalam kelompok Gorgonia, yaitu kelompok oktokoral yang tumbuh dan muncul dari substrat dasar dan mempunyai kerangka dalam (aksial) yang kokoh. Kerangka aksial terdiri dari gorgoin yang keras dan padat, sama dengan zat tanduk yang mengandung substansi kolage dan senyawa protein. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terutama di bidang kedokteran dan farmasi telah dilakukan isolasi senyawa-senyawa aktif yang terkandung di dalam jaringan tubuh biota yang hidup di laut. Senyawa–senyawa tersebut telah diuji dan berkhasiat sebagai senyawa– senyawa antibakteri, anti kanker maupun anti virus. Dalam hal ini oktokoral jenis Isishippuris diketahui mengadung senyawa antivirus (Tanaka,1981).

Sebelum terjadi kontroversial dalam perdagangan bambu laut yang nantinya akan berujung pada keputusan CITES (Convention on International Trade in Endangared Species) dalam status appendix bambu laut, seperti kasus permata laut (Corallium), pemerintah perlu merespon hal ini lebih cepat untuk menentukan perangkat regulasi atau code of conduct untuk eksploitasi dan ukuran panen bambu laut. Lebih detail lagi kelompok gorgonian ini meskipun sudah dimanfaatkan secara umum oleh masyarakat namun belum diketahui status biologi dan/atau status populasinya. Mengantisipasi permasalahan ini, Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil telah mengeluarkan surat edaran No 233/KP3K/III/2013 tentang Pengelolaan Bambu Laut dan Habitatnya yang meminta perhatian seluruh Dinas Kelautan dan Perikanan segera mengkoordinasikan langkah – langkah sebagai berikut : 1) Pencegahan dan pengawasan terkait pemanfaatan bambu laut; 2) Mensosialisasikan peraturan perundangan – undangan yang terkait, sekaligus pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi potensi dan sumber daya ikan di wilayah negara Republik Indonesia

33

Namun demikan, surat edaran Dirjen tersebut belumlah cukup mencegah terjadinya eksploitasi yang berlebihan dan degradasi kerusakan ekosistem terumbu karang. Sehingga salah satu jalan yang ditempuh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Periikanan (KKP) adalah menyiapkan strategi perlindungan terhadap bambu laut.Hal ini dilakukan, selain untuk menjawab permasalahan keberlanjutan pengelolaan perikanan, juga mendukung perlindungan ikan secara global. Menurunnya populasi bambu laut yang terus menerus perlu di lakukan kajian atau analisis tentang aspek sosial (peran dan pemahaman masyarakat), ekonomi (tingkat pendapatan), budaya masyarakat (tradisi) dan aspek hukum (formal dan nonformal), serta peran lembaga-lembaga yang berwewenang dalam hal pengelolaan terhadap sumberdaya alam pesisir dan laut. Selanjutnya keseluruhan hasil kajian atau analisis dari aspek-aspek yang dikemukakan di atas, akan menjadi data dan informasi bagian alisis model pengelolaan terhadap sumber daya alam pesisir dan laut secara umum dan terhadap bambu laut secara khususnya.

Langkah awal dimulainya analisis tentang pengelolaan terhadap sumber daya bambu laut, bermula dari beberapa data sebagai informasi dasar yang menyatakan bahwa telah terjadi penurunan populasi sumber daya bambu laut pada beberapa lokasi di Indonesia timur. Tingginya tingkat penangkapan atau eksploitasi terhadap sumber daya bambu laut diduga akan menurunkan populasi sumber daya ini di alam. Selain itu berbagai upaya eksploitasi terhadap sumber daya alam perairan pesisir dan laut yang selama ini dilakukan di sekitar ekosistem terumbu karan gdengan menggunakan alat tangkap destruktif, akhirnya akan merusak terumbu karang. Hal ini juga menjadi salah satu masalah serius yang dapat menurunkan populasi bambu laut di alam.

Selain itu penurunan populasi sumber daya bambu laut adalah juga karena Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat seperti tingkat pendidikan,tingkatpendapatan, maupun latarbelakang pekerjaan dapat mempengaruhi juga pola pikir atau pun pemahaman tentang bagaimana mengelola sumberdaya alam yang lestari atau berkelanjutan bagi peningkatan taraf hidup Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat strategi pengelolaan bambu laut di Indonesia yang berbasis pada kondisi pupulasi, sosekbud, hukum dan kelembagaan guna kepentingan pengelolaan sumber daya bambu laut secara berkelanjutan

34

Gambaran Umum Populasi

Status Populasi

Status populasi bambu laut belum dilakukan secara menyeluruh, namun dari beberapa hasil survey yang telah dilakukan,kepadatan alaminya tidak merata pada setiap daerah. Kelimpahan yang ada di setiap daerah berbeda – beda tergantung kondisi wilayah dan kondisi terumbu karang di setiap daerah tersebut.Kelimpahan jumlah koloni didasarkan pada kriteria Haris, dkk. (2010) membaginya kedalam lima kategori sebagaimana disajikan pada Tabel 1.Kriteria kelimpahan bambu laut berdasarkan jumlah koloni (Haris, dkk. 2010)

No

KELIMPAHAN (Jumlah Koloni)

KATEGORI

1.

3

-

44

jarang

2.

45 – 84

sedikit

3.

85 – 126

sedang

4.

127 – 167

banyak

5.

168 - 209

melimpah

Berdasarkan hasil penelitian Haris, Abdul .Jompa dkk (2010), pada perairan Spermonde Kota Makassar, Sulawesi Selatan, berdasarkan jumlah koloni yang ditemukan hanya terdapat tiga dari lima kategori kelimpahan, yaitu jarang, sedikit dan melimpah seperti pada Tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Kelimpahan Bambu Laut di Perairan Spermonde, Kota Makassar

No

Lokasi

Jumlah

Kategori

Koloni

1

P.

Samalona

11

- 26

Jarang

2

P.

Kodingarenglompo

7

– 17

Jarang

3

P.

Kodingarengkeke

3

– 32

Jarang

4

P.

Bonetambung

15 – 209

Melimpah

5

Gs. Bonebattang

42

– 44

Jarang

6

P.

Barranglompo

26

– 45

Sedikit

Jika kita melihat tabel 2. Jumlah bambu laut hanya melimpah pada Perairan di P. Bonetambung yaitu 209 koloni/500 m2. Hal ini di mungkinkan karena pada lokasi tersebut merupakan daerah yang agak terlindung (Leeward). P.Bone tambung merupakan lokasi yang memilki kondisi terumbu karang yng masih

35

baik.Dari hasil survey tahun 2013 P.Bone tambung memiliki jumlah koloni bambu laut yang masih melimpah di bandingkan dengan pulau – pulau lain sekitarnya.P Bone tambung sangat terjaga terumbu karangnya karna merupakan

Daerah Perlindungan Laut (DPL) oleh masyarakat setempat sehingga kondisi terumbu karangnya terjaga. Tokoh masyarakat di Pulau tersebut sangat menjaga

laut mereka.Sedangkan pada perairan lainnya koloninya sangat jarang , bahkan di

beberapa pulau seperti di P.Barrang Lompo dan P.Samalona tidak di temukan lagi bambu laut. imprep (Dining A Candri Dkk). Data bambu laut di Kabupaten Parigi Moutong menunjukan status populasi dari biota bambu laut (Isis hippuris) pada stasiun pertama memiliki kepadatan populasi sebesar 852 koloni / 500 m,menunjukan jumlah yang melimpah, sedangkan pada stasiun kedua memiliki populasi 514 koloni / 500 m menunjukan kategori melimpah. Sedangkan sebaran koloni Isis hippuris ditemukan hidup lebih besar berada pada kedalaman 5 meter dengan persentase 38,14% dan rata-rata ukuran yang dominan hidup adalah ukuran 30-50 cm dengan persentase 44,66%. Data yang lain yang di lakukan oleh BPSPL Makassar antara lain data bambu laut pada Tahun 2012 di beberapa daerah Sulawesi, yaitu Perairan Gorontalo, Selayar, Konawe dan Parigi Moutong.

Adapun sebaran kelimpahan bambu laut di Perairan Kabupaten Goronatlo Utara berdasarkan jumlah koloni bambu laut , dari data tersebut, dapat diketahui rata- rata sebaran kelimpahan adalah 73,5 koloni dengan ukuran kelimpahan yang didominasi oleh kelompok dengan jumlah koloni yang kecil (1 – 10) . Menurut Haris, dkk.(2010), kelimpahan koloni bambu laut ini termasuk kategori sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa bambu laut di perairan pulau Saronde ini tingkat pertumbuhannya masih rendah, meskipun merupakan daerah yang agak terlindung (atol). Di samping itu Perairan di Kabupaten Gorontalo Utara khususnya perairan Pulau Saronde belum ada kegiatan pengambilan bambu laut sehingga dapat dikatakan bahwa ukuran komposisi dan kelimpahan bambu laut yang ada ini masih merupakan ukuran alamiah yang belum dimanfaatkan oleh nelayan.

Berdasarkan hasil survey BPSPL Makassar di Kabupaten Konawe, Kelimpahan koloni bambu laut di perairan Kabupaten Konawe termasuk kategori sedikit sampai kategori melimpah (berdasarkan kategori Haris, dkk., 2010), tetapi penyebarannya tidak merata dan ukuran individu didominasi dengan yang kecil (0 – 30 cm). Populasi dan sebaran bambu laut sudah sangat terbatas akibat eksploitasi berlebihan yang dilakukan di perairan Konawe.

Di Kabupaten Bima dan Kota Bima survey di lakukan oleh BPSPL Bali

menunjukan bahwa di daerah tersebut bambu laut penyebaran tidak merata.Di Kota Bima (P.Kolo, P.Soronehe 1 dan P.Soronehe 2 dan P.Bonto) tidak di temukan sama sekali bambu laut sedangkan di kabupaten Bima yaitu di Pulau

36

(Lariti I, Lariti 2, Tosa, Lampa Jara dan Pasir Putih).Survey juga di lakukan di pulau Lombok yaitu Kepulauan Gili Matra :Gili Air, Gili Meno dan Gili trawangan tidak di temukan bambu Laut di daerah tersebut.Dining Candri,Dkk (In Prep). Data terbaru tahun 2013 dan 2014 yang sudah di lakukan di Kepulauan Spermonde menunjukan penurunan jumlah yang signifikan.

Kepulauan Wakatobi

Survey yang di lakukan di Pulau Hoga di daerah perlindungan laut di temukan bambu laut dalam kondisi melimpah tetapi di beberapa pulau yang lain di temukan bambu laut dalam kondisi jarang .Di Pulau Wanci survey menunjukan bambu laut dalam kategori sedikit, jarang bahkan tidak di temukan. Dining Candri,dkk (In Prep)

Tingkat Pemanfaatan

Biota bamboo laut ini termasuk dalam karang lunak yang banyak diperdagangkan dan diekspor ke Eropa, Amerika, dan sebagian Asia. Permintaan pasar terbesar adalah dari Cina dan memiliki harga yang tinggi.Dari data hasil laporan bulanan kegiatan operasional tindakan karantina Tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Stasiun Karantina Ikan Kelas I Wolter Monginsidi, bahwa sepanjang tahun 2011 telah terjadi pengiriman bambu laut sebanyak 230.000 kg, dengan tujuan utama Makassar dan Surabaya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pengambilan bambu laut maka akan semakin tinggi pula ancaman terhadap terumbu karang disebabkan cara pengambilan atau pemanenan yang tidak ramah lingkungan.

Dari hasil wawancara yang diperoleh, sistem pemasaran Isis hippuris yang dilakukan di Kecamatan Moutong yakni pedagang pengumpul mendatangi masyarakat kemudian dilakukan transaksi dengan harga jual Rp.1.500,- per- kilogram dalam bentuk bambu laut yang telah dikelupas. Sedangkan di Kabupaten Konawe, harga bambu laut di tingkat nelayan sangat murah yaitu rata-rata Rp 500,- per kilogram bambu laut kering, sedangkan harga ditingkat eksportir Rp 5.000 perkilogram. Untuk harga jual bambu laut di Kabupaten Gorontalo Utara selama ini berkisar antara Rp2.000,00/kg – Rp3.000,00/kg. Nelayan pengambil bambu laut tidak mengetahui secara jelas jalur pemasaran di tingkat pedagang pengumpul hingga ke konsumen. Begitu juga dari data yang di kumpulkan di Kepulauan Togean dan kepulauan Wakatobi, dari wawancara yang di lakukan kepada narasumber kunci, harga bambu laut berkisar antara Rp 2000 – Rp.5000./ kg.

37

Tingkat Pengelolaan

Bambu laut sampai saat ini belum termasuk dalam jenis yang dilindungi dan masuk dalam Appendiks CITES. Sehingga pengelolaannya harus berdasarkan Undang – Undang 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Dalam Pasal 7 UU 31 Tahun 2004 telah jelas disebutkan bahwa IKAN adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan (Pisces, Crustacea, Mollusca, Coeloenterata (bambu laut), Echinodermata, Amphibia, Reptilia, Mamalia dan Algae)Bambu laut (Isis hippuris) yang termasuk kedalam phylum Coelenterata termasuk dalam definisi ikan menurut UU 31 Tahun 2004.Dan didalam Pasal 53 PP 60 Tahun 2007 juga telah disebutkan bahwa Otoritas Pengelola (Management Authority) Konsevervasi Sumberdaya Ikan adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan

Di beberapa tempat, khususnya di Propinsi Sulawesi Tengah melalui Surat Edaran Gubernur Sulawesi Tengah Nomor S.23/596/DISKANLUT tanggal 27 Oktober 2009, bambu laut telah dilarang dieksploitasi untuk kepentingan apapun dan beberapa hasil telah disita dalam usaha pengapalannya. Sebaliknya di beberapa tempat, BKSDA telah mengeluarkan izin pemanfaatannya mengikuti aturan CITES dan Undang Undang Nomor 50 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati, padahal jenis ini belum termasuk jenis yang dilindungi dan masuk kedalam Appendiks CITES. Sehingga pengelolaannya harus berdasarkan Undang – Undang 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan

Dalam rangka pengelolaan berkelanjutan, Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil telah mengeluarkan surat edaran No 233/KP3K/III/2013 tentang Pengelolaan Bambu Laut dan Habitatnya yang meminta perhatian seluruh Dinas Kelautan dan Perikanan segera mengkoordinasikan langkah – langkah sebagai berikut : 1) Pencegahan dan pengawasan terkait pemanfaatan bambu laut; 2) Mensosialisasikan peraturan perundangan – undangan yang terkait, sekaligus pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi potensi dan sumber daya ikan di wilayah negara Republik Indonesia.

38

Landasan Hukum Penetapan Status Perlindungan

(1)

Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009.

(2)

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dalam Undang-Undang Nomor 27/2007 ini secara gamblang disampaikan bahwa kegiatan penambangan terumbu karang ataupun kegiatan yang secara langsung maupun secara tidak langsung dapat menyebabkan kerusakan terumbu karang DILARANG dilakukan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengambilan bambu laut (bambu laut merupakan bagian ekosistem terumbu karang dan menempati habitat yang sama dengan ekosistem terumbu karang, sehingga pengelolaan terumbu karang tidak bias dipisahkan dengan pengelolaan terumbu karang).

(3)

Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;

Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang konservasi sumber daya ikan merupakan aturan turunan dari Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dan perubahannya Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009.

Pada Pasal 21 disebutkan bahwa konservasi sumber daya ikan dilakukan dengan tujuan untuk melindungi jenis ikan yang terancam punah, Penetapan status perlindungan jenis ikan merupakan salah satu upaya dalam rangka implementasi program konservasi jenis ikan.

(4) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER- 03/MEN/2010 tentang Tata Cara Penetapan Status Perlindungan Jenis Ikan.

Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.03/MEN/2010 merupakan aturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan perubahannya UU No. 45 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan yang mengatur tahapan-tahapan yang dilakukan dalam rangka penetapan status perlindungan jenis ikan yang mengalami ancaman kepunahan, langka dan endemik. Verifikasi dan analisis kebijakan pada dasarnya merupakan kegiatan

39

pengumpulan data dan kegiatan analisis dari data-data yang dihasilkan selama proses verifikasi. Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan verifikasi di antara di

Rekomendasi Ilmiah dari LIPI selaku otoritas ilmiah diperlukan sebagai bahan pertimbangan dari sisi keilmuan terhadap spesies ikan yang diusulkan untuk ditetapkan status perlindungannya. Dalam tahapan ini selain pertimbangan ilmiah LIPI juga diharapkan dapat memberikan saran pengelolaan terhadap spesies ikan yang akan dilindungi. Rekomendasi LIPI ini merupakan salah satu dasar dalam melaksanakan program tindak lanjut setelah penetapan status perlindungan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan.

Menteri menetapkan SK perlindungan jenis ikan berdasarkan tingkat keterancaman dan kebutuhan pengaturan, dapat ditetapkan dengan status perlindungan penuh atau status perlindungan terbatas.Pada dasarnya penetapan status perlindungan penuh dan terbatas tersebut merupakan salah satu upaya untuk menghindari bahaya kepunahan dan program peningkatan populasinya di habitat alam.

Di dalam Permen di atas juga diatur mekanisme perubahan status perlindungan, sehingga berdasarkan data hasil monitoring dan evaluasi populasi apabila kondisi populasi menjadi semakin baik, serta kemampuan dalam melakukan pengelolaan, maka spesies ikan yang sudah dilindungi dapat dibuka status perlindungannya menjadi tidak dilindungi ataupun menjadi perlindungan terbatas. Setelah ditetapkannya status perlindungan ini, maka perlu dilakukan program sosialisasi sehingga aturan yang sudah ditetapkan dapat diketahui secara luas, terutama oleh stakeholder-stakeholder yang terkait dengan mata rantai penangkapan dan perdagangan.Monitoring populasi dan upaya-upaya untuk menambah jumlah individu dalam populasi serta pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum dilakukan dalam rangka penegakan aturan dan pencapaian tujuan perlindungan.

40

Pemenuhan Terhadap Indikator

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, Pasal 23 menyebutkan kriteria jenis ikan dilindungi di antaranya meliputi: terancam punah, langka, daerah penyebaran terbatas (endemik), terjadinya penurunan populasi di alam secara drastis dan tingkat kemampuan reproduksi yang rendah.

Pengambilan dan perdagangan bambu laut sudah berlangsung secara masif, khususnya di wilayah perairan Kepulauan Sulawesi. Bambu laut umumnya hidup di perairan pesisir yang dangkal, sehingga sangat rawan akan terjadinya pemanfaatan yang berlebih. Berdasarkan hasil survey populasi bambu laut pada beberapa lokasi di perairan Sulawesi menunjukkan besarnya tekanan penangkapan terhadap populasi bambu laut.

Dalam melakukan pengambilan bambu laut yang dilakukan oleh masyarakat nelayan umumnya tidak dilakukan dengan metode khusus, lokasi pengambilan yang berada di kawasan pesisir yang dangkal tidak membutuhkan peralatan yang modern, umumnya pengambilan dilakukan dengan cara mencabut atau dibabat menggunakan parang. Dengan metode ini hampir semua koloni bambu laut tercabut, baik yang berukuran kecil maupun yang berukuran besar.

Sosial Budaya dan Dukungan Masyarakat

Perlu adanya upaya untuk menyamakan visi antara pemerintah dan masyarakat bahwa regulasi tentang penetapan status perlindungan bambu laut bukanuntuk menutup sumber penghidupan masyarakat, tetapi dilakukan agar masyarakat mempunyai sumber penghidupan yang berkelanjutan, tidak hanya bagi masyarakat di masa sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

Dampak Penetapan Status Terhadap Sumber Pendapatan Masyarakat

Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir mempunyai ketergantungan yang besar terhadap sumberdaya yang ada di pesisir dan laut, dimana sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang terkait dengan sumberdaya ikan. Saat ini, berdasarkan hasil kajian yag dilakukan di wilayah perairan di Indonesia khususnya di indonesia Timur dapat diketahui bahwa penyebab utama kerusakan ekosistem bambu laut disebabkan oleh kegiatan pengambilan bambu laut dengan menggunakan cara-cara yang belum mempertimbangkan aspek kelestarian bambu laut itu sendiri. Masyarakat mengambil dengan cara mencabut dan mencungkil karang, sehingga apabila kegiatan ini berlangsung secara terus menerus tanpa adanya pengaturan yang jelas maka dikhawatirkan kegiatan pengambilan bambu laut ini tidak hanya akan

41

mengancam kelestarian bambu laut, tetapi juga akan mengancam ekosistem terumbu karang.

Penetapan status perlindungan bambu laut yang nantinya akan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan ini tidak akan memberikan dampak secara signifikan pada pendapatan masyarakat. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pernyataan tersebut adalah :

a. Pengambilan bambu laut bukan merupakan mata pencaharian utama masyarakat, profesi masyarakat yang mengambil bambu laut adalah nelayan. Penghentian pengambilan bambu laut pada dasarnya hanya untuk menambah pendapatan masyarakat dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang jusru akan memiskinkan masyarakat, karena kerusakan ekosistem bambu laut akan

b. mengancam kelestarian ekosistem dan kelimpahan sumber daya ikan yang justru menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.

c. Pengambilan bambu laut sampai dengan saat ini ditemukan di perairan pesisir Sulawesi, terutama di Sulawesi , Pengambilan bambu laut ini hanya melibatkan sebagian kecil masyarakat pesisir, sehingga penghentian pengambilan bambu laut tidak akan memberikan dampak yang besar kepada masyarakat pesisir secara keseluruhan.

d. Secara nasional pengambilan bambu laut ini baru teridentifikasi di perairan pesisir Sulawesi sedangkan di daerah lainnya belum dtemukan. Penghentian sementara pengambilan bambu laut hanya akan berdampak pada sebagian kecil masyarakat pesisir di perairan Sulawesi.

e. Nilai jual bambu laut yang diterima oleh masyarakat sangat rendah, sehingga nilai manfaat ekonomi yang diterima oleh masyarakat dari pengambilan bambu laut tidak seimbang dengan nilai kerusakan yang ditimbulkan, termasuk kerugian jangka panjang yang berupa ancaman kehilangan sumber daya ikan yang menjadi sumber pendapatan utama masyarakat.

Dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan di atas dan untuk menjaga keberlanuutan sumber daya ikan bagi kelangsungan sumber pendapatan masyarakat, maka penetapan status perlindungan bambu laut melalui penghentian kegiatan pengambilan selayaknya segera dilakukan, sehingga dampak kerusakan yang lebih besar tidak terjadi. Status perlindungan bambu laut harus segera di tetapkan mengingat tidak ada aturan yang mengatur tentang hal ini, di mana ancaman kerusakan terumbu karang dan keberlanjutan bambu laut ini terus mengancam.

42

Dari data yang di peroleh di dearah kepulauan Wakatobi dari tahun 2000 sampai tahun 2002 terjadi pengambilan bambu laut dalam skala besar, saat ini setelah 12 tahun kondisi bambu laut belum pulih, terbukti dari survey di lakukan jumlah bambu laut dalam kategori sedikit bahkan tidak ada sama sekali, kecuali di daerah DPL dalam kategori melimpah.Dining Candri,Dkk (In Prep)

Arah Kebijakan Pemerintah

Undang-Undang No. 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil dengan tegas menyampaikan larangan penambangan terumbu karang, walaupun pada bagian penjelasan disampaikan bahwa kegiatan yang dilarang tersebut apabila menyebabkan tutupan terumbu karang kurang dari 50%. Disisi lain berdasarkan data survey status terumbu karang di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar kondisi terumbu karang berada dalam kondisi yang memprihatinkan, dan apabila tidak dilakukan langkah yang tegas maka hampir dipastikan laju kerusakan terumbu karang, termasuk juga di dalamnya bambu laut akan terus mengalami peningkatan. Program Coral Reef Rehabilitation and Management Project yang dilaksankan di Indoensia merupakan salah satu program penyelaman terumbu karang terbesar di dunia bakan terumbu karang.Segala aspek yang menjadi penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang coba disentuh melalui program ini, baik dari sisi sosial ekonomi, penyadaran masyarakat, public awareness, dan juga aspek pengawasannya.Kegiatan pengambilan bambu laut yang merupakan salah satu penyusun ekosistem terumbu karang merupakan fakta yang kontradiktif dengan arah kebijakan pemerintah, dimana kegiatan pengambilan bambu laut ini juga merupakan salah satu faktor yang dapat memperparah kerusakan ekosistem terumbu karang, khususnya di wilayah perairan pesisir.

Dukungan Pemerintah Daerah

Pengambilan bambu laut pada awalnya marak terjadi di perairan Sulawesi Tengah, aktivitas pengambilan bambu laut tersebut dikhawatirkan akan memberikan dampak yang besar pada ancaman kepunahan bambu laut dan ancaman kerusakan yang lebih besar pada ekosistem terumbu karang. Seperti telah disampaikan pada bagian-bagian sebelumnya bahwa terumbu karang merupakan ekosistem penting yang mendukung keberlangsungan sumber daya ikan yang merupakan sumber penghidupan dan sumber pangan utama masyarakat pesisir.

Dukungan pemerintah daerah yang merupakan wujud pemahaman tentang pentingnya menjaga kesinambungan sumber daya guna menjaga sumber penghidupan masyarakat pesisir pemerintah Daerah Sulawesi Tengah telah mengeluarkan surat edaran, diantaranya yaitu :

43

Surat Edaran Gubernur Sulteng kepada Bupati/Walikota Seluruh Sulteng Nomor

: 523/529/DISKANLUT tanggal 27 Oktober 2009 perihal : pelarangan

pengumpulan dan pemasaran bambu laut (Isis hippuris) dan batang merah

(Melitodes/Sealipress)

Surat Edaran Bupati Sinjai Nomor : 660/943/SET, tanggal 23 Juni 2005 tentang pelarangan pengambilan bambo laut dan sejenisnya;

Dukungan pemerintah daerah dalam bentuk surat edaran tersebut secara substansi merupakan langkah penyelamatan untuk menghindari ancaman yang lebih besar, namun demikian karena kebijakan ini hanya bersifat lokal sehingga tidak akan mempu untuk mengantisipasi pengambilan bambu laut dalam skala yang lebih luas. Walaupun sudah ada surat edaran yang dikeluarkan oleh

pemerintah daerah Sulawesi Tengah, namun kegiatan pengambilan dan perdagangan bambu laut masih tetap terjadi di wilayah lainnya, seperti yang terjadi

di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

bambu laut di Indonesia cukup luas, dan umumnya hidup pada daerah yang sama

dengan daerah penyebaran terumbu karang. Pasar bambu laut yang cukup luas merupakan ancaman serius bagi kelangsungan bambu laut secara nasional, walaupun saat ini baru terjadi di perairan Sulawesi namun tidak menutup kemungkinan bahwa kegiatan pengambilan bambu laut ini akan meluas ke daerah lainnya di Indonesia.Data terakhir yang di di lakukan BPSPL Bali (2013) menemukan di kabupaten Bima NTB ada aktivitas pengambilan bambu laut.

Kondisi Yang Diharapkan

Bambu laut merupakan salah satu jenis sumberdaya yang dimiliki bangsa Indonesia, dan tentu saja setiap sumberdaya yang dimiliki tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat dalam arti luas. Dalam konteks ini masyarakat dipahami sebagai generasi manusia yang ada pada saat sekarang dan generasi yang akan datang, oleh karena itu sumber daya bambu laut ini masih tetap diusahakan kelestariannya sampai waktu yang akan datang sehingga dapat juga memberikan manfaat kepada generasi berikutnya.

Dalam konteks pemanfaatan sumberdaya, ada jenis sumberdaya yang dapat dimanfaatkan secara langsung melalui kegiatan pengambilan atau penangkapan tanpa menyebabkan ancaman kepunahan, namun ada juga jenis sumber daya lainnya yang karena berbagai faktor akan lebih memberikan manfaat secara tidak langsung kepada masyarakat. Kondisi yang diharapkan dengan adanya status perlindungan bambu laut ini diantaranya adalah :

(1)