Anda di halaman 1dari 71

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU


DALAM MENYUSUN KELENGKAPAN MENGAJAR
MELALUI IN-HOUSE TRAINING PADA SMK BHAKTI MULYA SAMPIT
Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas
Diklat Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan Pengawas
Kabupaten Kotawaringin Timur di LPMP Propinsi Kal-Teng
22
29 Agustus 2010
DISUSUN OLEH:
NAMA : DRS. INYOMAN SUETA
NIP : 19681205200003 1 002
INSTANSI : SMK BHAKTI MULYA SAMPIT
SMK BHAKTI MULYA SAMPIT
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR
2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahma
t dan
karuniaNya Laporan Penelitian Tindakan Sekolah ini dapat terselesaikan tepat wak
tu. Laporan
Penelitian ini disusun guna memenuhi tugas Diklat Penguatan Kemampuan Kepala Sek
olah dan
Pengawas yang dilaksanakan di LPMP Propinsi Kalimantan Tengah dari tanggal 22 sa
mpai dengan 29
Agustus 2010.
Penelitian Tindakan Sekolah ini berjudul Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusu
n
Kelengkapan Mengajar Melalui In-House Training pada SMK Bhakti Mulya Sampit . Hal
ini dilakukan
mengingat sebagaian besar guru masih belum memahami dan menguasai cara menyusun
kelengkapan mengajar yang standar padahal merupakan salah satu kemampuan yang ha
rus dimilki
oleh guru guna meningkatkan mutu pengajaran sesuai dengan mata pelajaran yang di
ajarkan.
Terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Seluruh Nara Sumber/Fasilitator Diklat Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah dan
Pengawas
yang telah memberikan arahan dalam penelitian tindakan sekolah ini.
2. Seluruh Guru SMK Bhakti Mulya Sampit yang telah mendukung pelaksanaan In-Hous
e Training
penyusunan kelengkapan mengajar.
3. Teman-teman seprofesi yang juga memberi masukan dalam penyusunan laporan pene
litian
tindakan sekolah ini.
4. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah menduku
ng pelaksanaan
PTS ini.

Penulis menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna. Hal tersebut diseb
abkan karena
keterbatasan pengetahuan penulis dan waktu yang disediakan juga sangat terbatas.
Untuk itu saran
dan kritik demi kesempurnaan laporan PTS ini sangat diharapkan.
Sampit, 3 Oktober 2010
Penulis,

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................
..... i
LEMBAR PENGESAHAN ..............................................................
......... ii
ABSTRAK .......................................................................
iii
KATA PENGANTAR .................................................................
...... iv
DAFTAR ISI .....................................................................
.. v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................
....... vi
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................
......... 1
A. Latar Belakang ..............................................................
......... 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................
............... 3
C. Pembatasan Masalah ..........................................................
............. 3
D. Perumusan Masalah ...........................................................
............ 3
E. Tujuan Penelitian ...........................................................
............ 3
F. Manfaat Penelitian ..........................................................
............. 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ..........................................................


............. 5
A. Teori Mengajar ..............................................................
......... 5
B. Kelegkapan Mengajar .........................................................
.............. 6
C. In-House Training ...........................................................
............ 9

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..................................................


.................... 11
A. Waktu dan Tempat Penelitian .................................................
......... 11
B. Personalia ..................................................................
..... 11
C. Rencana Tindakan ............................................................
........... 12
D. Pelaksanaan Tindakan ........................................................
............... 13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................
.................. 17
A. Hasil Angket Sebelum In-House Training ......................................
...... 17

B. Hasil yang Diperoleh pada Siklus 1 .........................................


............. 20
C. Hasil yang Diperoleh pada Siklus 2 ..........................................
............ 22
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..................... ................................
.................. 25
A. Kesimpulan ..................................................................
...................... 25
B. Saran .......................................................................
........................... 25

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

ABSTRAK
I Nyoman Sueta, Drs. 2010 Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun Kelengkapan
Mengajar Melalui In-House Training pada SMK Bhakti Mulya Sampit .
Sebagai sekolah baru banyak kendala yang dihadapi SMK Bhakti Mulya Sampit sepert
i
sulitnya memperoleh tenaga pengajar sesuai bidangnya, terbatasnya guru tetap, ku
rangnya
pengalaman mengajar bagi Guru karena banyak Guru kontrak yang baru diangkat,
terbatasnya sarana prasarana sekolah, sementara itu ketuntasan belajar sesuai KK
M juga
rendah berkisar antara 40-60%. Oleh karena itu perlu peningkatan diberbagai bida
ng
khususnya peningkatan kualitas Guru. Peningkatan kualitas yang mendesak dilakuka
n adalah
kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar agar pembelajaran lebih terar
ah
sehingga diharapkan mampu meningkatkan prosentase ketuntasan belajar siswa. Sala
h satu
upaya yang dilakukan adalah melakukan kegiatan In-House Training penyusunan
kelengkapan mengajar sebagai penelitian tindakan sekolah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan Guru SMK Bhakti Mulya
Sampit dalam menyusun kelengkapan mengajar dan menentukan langkah yang tepat unt
uk
meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun kelengkapan mengajar. Dengan In-House
Training diharapkan semua Guru memiliki pengetahuan, pemahaman dan pengalaman ya
ng
memadai khususnya dalam penyusunan kelengkapan mengajar yang meliputi Program
Tahunan (Prota), Program Semester (Promes) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP)
selain kelengkapan penunjang lainnya seperti silabus, kalender pendidikan, jadwa
l mengajar
dan daftar nilai siswa.
Penelitian dilakukan di SMK Bhakti Mulya Sampit selama kurang lebih satu bulan d
imulai
tanggal 22 September sampai dengan tanggal 4 Oktober 2010. Pengumpulan data dila
kukan
melalui angket, observasi dan dokumentasi. Dari angket diperoleh hasil bahwa sec
ara
keseluruhan Guru SMK Bhakti Mulya Sampit menyatakan penting untuk memiliki
kelengkapan mengajar. Sebagian besar Guru SMK Bhakti Mulya Sampit merasa bahwa
pengalaman mengajarnya masih minim pada mata pelajaran yang diajarkan, latar bel
akang
pendidikan tidak begitu sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan pengetah
uan
tentang penyusunan kelengkapan mengajar masih kurang. Seluruh Guru SMK Bhakti Mu
lya
Sampit menghendaki adanya In-House Training penyusunan kelengkapan mengajar dan
100% Guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti In-House Training dan me
miliki
keinginan yang kuat untuk membuat kelengkapan mengajar dan akan menggunakan
kelengkapan mengajar tersebut sebagai penunjang proses pembelajaran.
Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus. Pada siklus 1 diperoleh 58,23% Guru berh
asil
menyelesaikan penyusunan kelengkapan mengajar dan pada Siklus 2 terdapat 91,66%
Guru
berhasil menyelesaikan penyusunan kelengkapan mengajar. Jadi ada peningkatan
kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar setelah dilakukan In-House
Training tahap 1 yaitu sebesar 33,43% dan masing-masing Guru menunjukkan peningk

atan
yang signifikan.
In-House Training adalah salah satu pola yang sangat efektip untuk meningkatkan
kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Salah satu masalah pokok yang dihadapi SMK Bhakti Mulya Sampit adalah hasil bela
jar
yang cenderung masih rendah. Hal ini diindikasikan dari rendahnya nilai ujian na
sional
dan nilai uji kompetensi pada tahun pelajaran 2009-2010. Untuk meningkatkan pres
tasi
belajar sekolah telah berupaya melalui proses pembelajaran dengan system ganda s
esuai
KTSP yaitu di sekolah dan di industry dan telah melalui proses penilaian secara
berkelanjutan oleh pendidik dalam hal ini Guru. Namun demikian tetap saja presta
si
belajar peserta didik saat dievaluasi baik ulangan harian, ulangan tengah semest
er
maupun ulangan akhir semester menurut data yang diinventarisir oleh bagian kurik
ulum
masih cenderung rendah dan belum memuaskan. Rata-rata siswa yang dapat tuntas se
suai
KKM berkisar antara 40 - 60%, sedangkan sisanya untuk menuntaskan harus menempuh
remedial.
Keberhasilan sebuah pembelajaran setidaknya dipengaruhi oleh 5 komponen kunci,
yaitu: (1) Guru, (2) Sumber dan Media Belajar, (3) Lingkungan, (4) Siswa dan (5)
proses
pembelajaran. Guru dalam pembelajaran memiliki peran yang sangat strategis karen
a
akan berkaitan dengan pengelolaan 4 komponen kunci lainnya. Bahkan dalam konsep
tentang sumber belajar yang ditulis oleh Sudjarwo dikutip oleh (Rahmat Saripudin
,2008)
guru dapat dikategorikan sebagai sumber belajar.
Atas dasar hal tersebut dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran, SMK Bhakti
Mulya berkomitmen untuk: meningkatkan mutu Guru karena Guru merupakan salah satu
kunci keberhasilan proses pendidikan. Ditangan Guru-lah cita-cita pembangunan,
pendidikan nasional, kurikulum nasional, visi-misi lembaga penyelenggara pendidi
kan
hingga visi-misi sekolah dapat terwujud. Guru yang baik akan mampu mengoptimalka
n
seluruh potensi sumber dan media belajar yang ada di lingkungannya untuk
pembelajaran yang optimal. Dengan mengacu kepada strategisnya peran guru pada
sebuah lembaga pendidikan maka SMK Bhakti Mulya memberikan perhatian yang besar
bagi terwujudnya Guru professional.

Untuk mewujudkan guru yang profesional sehingga mampu meningkatkan kompetensi


dan mutu Guru yang bersangkutan, maka SMK Bhakti Mulya merancang programprogram dan kegiatan yang mengarah pada peningkatan mutu Guru misalnya dengan
mengikutsertakan Guru dalam pelatihan-pelatihan dan salah satunya melalui In-Hou
se
Training penyusunan kelengkapan mengajar. Hal ini mendesak dilakukan karena dari
angket yang diberikan kepada guru untuk mengetahui respon Guru terhadap pentingn
ya
memiliki kelengkapan mengajar 57,4% menyatakan sangat setuju dan 42,6% setuju
artinya seluruh Guru menyatakan setuju/sepakat untuk memiliki kelengkapan mengaj
ar.
Selanjutnya dari angket juga terungkap bahwa pengalaman mengajar, ketidaksesuaia
n
latar belakang pendidikan dan kurangnya pengetahuan tentang penyusunan kelengkap
an
mengajar menyatakan bahwa 48% sangat setuju, 33% setuju 66% cukup setuju itu
artinya bahwa sebagian besar Guru merasa bahwa pengalaman mengajarnya masih
minim pada mata pelajaran yang diajarkan, latar belakang pendidikan tidak begitu
sesuai
dengan mata pelajaran yang diajarkan dan pengetahuan tentang penyusunan kelengka
pan
mengajar masih kurang.
Lebih lanjut dari angket juga terungkap tentang perlunya diadakan In-House Train
ing
dengan data hanya 18% tidak setuju yang mengindikasikan bahwa hampir seluruh Gur
u
menghendaki adanya In-House Training penyusunan kelengkapan mengajar.
Selain itu angket juga mengungkap bahwa Guru memiliki kemauan yang kuat untuk
memiliki kelengkapan mengajar dengan data 33% menjawab sangat setuju dan 66%
menjawab setuju yang artinya seluruh Guru menyatakan jika diadakan In-House
Training maka mereka akan mengikuti dengan sungguh-sungguh dan akan
mengaplikasikannya dalam kegiatan pembelajaran.
Atas dasar hal tersebut di atas maka SMK Bhakti Mulya menyatakan sangat perlu
mengadakan In-House Training. Dengan adanya kegiatan In-House Training penyusuna
n
kelengkapan mengajar diharapkan semua guru memiliki kelengkapan mengajar yang
lengkap dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran sehingga proses
pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah karena tujuan pembelajaran, mater
i yang

akan diajarkan, metode dan penilaian yang akan digunakan telah direncanakan deng
an
berbagai pertimbangan.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang timbul dapat diidentifikas
i
sebagai berikut:
- Rendahnya prestasi belajar peserta didik, ketuntasan mengajar berkisar antara
40% s/d
60%
- Rendahnya kemampuan guru dalam menyusun kelengkapan mengajar
- Pengalaman mengajar masih minim dan latar belakang pendidikan sebagian besar
tidak sesuai dengan bidangnya

C. Pembatasan Masalah
Dari masalah-masalah yang diuraikan di atas, pada penelitian ini dibatasi pada m
asalah
rendahnya kemampuan guru dalam menyusun kelengkapan mengajar
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah seperti yang diuraikan di atas
, maka
masalah pokok dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apakah in-house training dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun
kelengkapan mengajar?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini bertujuan untuk:
- Meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun kelengkapan mengajar
- Menentukan langkah yang tepat untuk meningkatkan kemampuan guru dalam
menyusun kelengkapan mengajar

F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kepala
sekolah dalam memecahkan masalah guru, meningkatkan kemampuan guru dalam
menyusun kelengkapan mengajar sehingga lebih professional, dengan demikian pada

akhirnya diharapkan dapat meningkatkan mutu pengajaran dan berdampak pada


peningkatan mutu sekolah.
Disamping itu dengan menemukan langkah yang tepat dalam meningkatkan kemampuan
guru dalam menyusun kelengkapan mengajar dapat menjadi referensi untuk kasus yan
g
sama bagi peneliti lain.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Mengajar
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cuk
up
berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawab
an guru
dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) yang dikutip oleh Rastodio (2009)
mengatakan guru adalah kreator proses belajar mengajar . Ia adalah orang yang akan
mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya,
mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang
ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi
pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan aktivitas
siswa dalam belajar.
Gambaran aktivitas itu tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam
kegiatan proses belajar mengajar yang memungkinkan siswa aktif belajar. Oleh kar
ena itu
mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan informasi yang sudah jadi dengan menun
tut
jawaban verbal melainkan suatu upaya integratif ke arah pencapaian tujuan pendid
ikan.
Dalam konteks ini guru tidak hanya sebagai penyampai informasi tetapi juga berti
ndak
sebagai director and facilitator of learning.
Lebih lanjut Usman (1994:3) yang dikutip oleh Rastodio (2009) mengemukakan menga
jar
pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau
mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingku
ngan
dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjad
inya
proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat
berperan
sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan
lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terh
adap
kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kes
impulan
bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan
pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks ya
ng

dimaksud antara lain adalah (1) mengatur kegiatan belajar siswa, (2) memanfaatka
n
lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, dan (3) memberikan
stimulus,
bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa.
B. Kelengkapan Mengajar
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, mengamanatkan tersusunnya kurikulum pada tingkat sa
tuan
pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah, mengacu kepada Standar Isi dan
Standar
Kompetensi Lulusan, serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standa
r
Nasional Pendidikan (BSNP).
Komponen kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan meneng
ah
terdiri dari 1) Tujuan pendidikan sekolah, 2) Struktur dan muatan kurikulum, 3)
Kalender
pendidikan dan 4) Silabus dan RPP. Silabus dan RPP merupakan perencanaan proses
pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, me
tode
pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Peraturan Pemerintah No
mor 19
tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 20). Berdasarkan hal terseb
ut
diharapkan setiap pendidik pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat menyusun
kurikulum yang akan diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbi
ng,
mengarahakn, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan an
ak usia
dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU No.
14 tahun
2005 : 2) Dengan demikian, dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru
berkewajiban :
1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, ser
ta
menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran;
2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara
berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
3) bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kela
min, agama,
suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status
sosial ekonomi
peserta didik dalam pembelajaran;

4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hokum, dan kode etik guru, se


rta nilainilai agama dan etika; dan
5) memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Berdasarkan penjelasan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut di
atas
bahwa setiap pendidik dalam hal ini Guru sebelum melaksanakan proses pembelajara
n wajib
memiliki kelengkapan mengajar yang umumnya disusun diawal semester atau diawal t
ahun
pelajaran. Kelengkapan mengajar tersebut mulai dari kalender pendidikan, silabus
, program
pengajaran tahunan (prota), program pengajaran semester (promes), dan rencana pe
laksanaan
pembelajaran (RPP) yang mengacu pada BSNP.
Hal tersebut dipertegas bahwa setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban me
nyusun
RPP secara lengkap dan sistematis serta menerapkannya pada kegiatan pembelajaran
.
Kegiatan pembelajaran yang dirancang pada RPP diharapkan dapat mewujudkan
pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi pe
serta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kre
ativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta
didik (PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 19)
1. Pengertian RPP
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedu
r
dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang dite
tapkan
dalam Standar Isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Rencana pelaksanaan pembel
ajaran
memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode
pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (PP No. 19 Tahun 2005
tentang
Stndar Nasional Pendidikan Pasal 20). Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas
mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa indi
kator untuk 1
(satu) kali pertemuan atau lebih. Untuk mata pelajaran Kelompok Program Produkti
f, RPP
dapat mencakup lebih dari satu kompetensi dasar. RPP dijabarkan dari silabus unt
uk
mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar
(KD).
2. Tujuan penyusunan RPP adalah:

1).Memberi kesempatan kepada pendidik untuk merencanakan pembelajaran yang inter


aktif
dan dapat digunakan untuk mengeksplorasi semua potensi kecakapan majemuk (multip
le
intellegencis) yang dimiliki setiap peserta didik.
2).Memberi kesempatan bagi pendidik untuk merancang pembelajaran sesuai dengan
kebutuhan peserta didik, kemampuan pendidik, dan fasilitas yang dimiliki sekolah
.
3). Mempermudah pelaksanaan proses pembelajaran.
4).Mempermudah pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran, sebagai input guna perb
aikan
pada penyusunan RPP selanjutnya (improvement proses).
3. Manfaat
1).Meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran sebagai bagian dari
kompetensi paedagogik yang harus dimiliki guru.
2).Proses pembelajaran yang dilakukan akan lebih terarah karena tujuan pembelaja
ran, materi
yang akan diajarkan, metode dan penilaian yang akan digunakan telah direncanakan
dengan
berbagai pertimbangan.
3).Meningkatkan rasa percaya diri pendidik pada saat pembelajaran, karena seluru
h proses
sudah direncanakan dengan baik.
4. Prinsip Pengembangan RPP
RPP disusun berdasarkan rancangan yang terdapat pada silabus atau dengan kata la
in RPP
merupakan uraian lebih lanjut dari silabus. Oleh karena itu prinsip pengembangan
silabus
juga merupakan prinsip pengembangan RPP yaitu:
1).Ilmiah, keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam RPP harus b
enar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2).Relevan, cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi da
lam RPP
sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan sp
iritual peserta
didik.
3).Sistematis, komponen-komponen RPP saling berhubungan secara fungsional dalam
mencapai kompetensi.
4).Konsisten, adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi
dasar,
indikator, materi pembelajaran, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumb
er belajar,
dan sistem penilaian.

5).Memadai, cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajaran, sumber belaj


ar, dan
sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6).Aktual dan kontekstual, cakupan indikator, materi pokok, kegiatan pembelajara
n, sumber
belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan se
ni
mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7).Fleksibel, keseluruhan komponen RPP dapat mengakomodasi variasi peserta didik
serta
dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8).Menyeluruh, materi RPP mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afekt
if, dan
psikomotor) yang akan dicapai untuk mendukung ketercapaian Standar Kompetensi da
n
Kompetensi Dasar.
C. In-House Training
Pelatihan dibagi dalam dua pengertian; IT (In-House Training) dan PT (Public Tra
ining). InHouse Training adalah pelatihan yang terjadi atas permintaan suatu komunitas ter
tentu
apakah itu lembaga profit ataupun nonprofit. Istilah In-House Training sama peng
ertiannya
dengan in-servis training menurut Hadari Nawawi (1983:113) yang dikutip oleh Dad
ang
Dahlan menyatakan in-servis training sebagai usaha untuk meningkatkan pengetahua
n dan
keterampilan guru dalam bidang tertentu sesuai dengan tugasnya agar dapat mening
katkan
efisiensi dan produktivitas dalam bidang tersebut. Lebih lanjut dikemukakan bahw
a program
in-servis training ini diperlukan karena banyak guru-guru muda yang belum mendap
at
pengalaman dan bekal yang cukup dalam menghadapi pekerjaannya.
Agar program in-servis training ini efektif memerlukan manajemen pelatihan seper
ti
dikemukakan Gaffar (1993) yang dikutip oleh Dadang Dahlan pengembangan mutu sumb
er
daya manusia memerlukan manajemen yang secara logis perlu mengikuti tahapan need
assesment, merumuskan tujuan dan sasaran, mengembangkan program, menyusun action
plan, melaksanakan program, monitoring dan supervise serta evaluasi program.
Secara umum, tujuan In-House Training yaitu untuk meningkatkan kualitas sumberda
ya
manusia yang didayagunakan instansi terkait, sehingga pada akhirnya dapat lebih
mendukung
dalam upaya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Selain hal tersebut di ata
s, sasaran
pelatihan internal ini antara lain : menciptakan interaksi antara peserta diling
kungan instansi
yang terkait serta mempererat rasa kekeluargaan/kebersamaan, meningkatkan motiva
si baik

bagi peserta maupun bagi narasumber untuk membiasakan budaya pembelajaran yang
berkesinambungan, untuk mengeksplorasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi d
i
lapangan yang berkaitan dengan peningkatan efektifitas kerja, sehingga dapat dif
ormulasikan
solusi pemecahannya secara bersama-sama
Merujuk pada pendapat tersebut, pada dasarnya In-House Training adalah Program p
elatihan
yang diselenggarakan di tempat peserta pelatihan. Menggunakan peralatan kerja pe
serta
pelatihan dengan materi yang relevan dan merupakan permasalahan yang sedang diha
dapi.
Dengan program ini peserta akan lebih mudah menyerap dan mengaplikasikan materi
pelatihan untuk menyelesaikan dan mengatasi permasahan kerja yang sering dialami
dan
mampu secara langsung meningkatkan kualitas dan kinerja dari sumber daya manusia
dilingkungan instansi peserta pelatihan.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan selama satu bulan yang dimulai dari ta
nggal 3
September sampai dengan tanggal 4 Oktober tahun 2010. Dalam waktu satu bulan
tersebut masih diselingi dengan libur Idul Fitri selama dua minggu sehingga penu
lis
berusaha menggunakan waktu seepektif mungkin dengan melakukan dua siklus tindaka
n.
Pada siklus 1 terbagi menjadi empat tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksana
an
tindakan (Inhouse-training Tahap 1), tahap pengumpulan data tahap analisis data
(refleksi).
Sedangkan pada siklus 2 terbagi menjadi empat tahap pula yaitu tahap perencanaan
tindakan , pelaksanaan tindakan (Inhouse-Training Tahap 2), pengumpulan data, an
alsis
data dan diakhiri dengan penyusunan laporan.
2. Tempat
Penelitian dilakukan di SMK Bhakti Mulya Sampit Bidang Studi Keahlian Teknologi
Informasi dan Komunikasi Program Studi Keahlian Teknik Komputer dan Informatika
yang beralamat di Jl. Jenderal Sudirman KM. 2,7 Sampit Kelurahan Mentawa Baru Hu
lu
Ketapang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Kabupaten Kotawaringin Timur.
B. Personalia
Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan oleh peneliti sendiri Drs. I Nyoman Su
eta
selaku kepala sekolah pada SMK Bhakti Mulya Sampit bersama-sama dengan
kolaborator yaitu Wakil Kepala Sekolah David Mulyana,S.ST dan Teti Sumaini, S.Pi
Koordinator Kurikulum dan Humas sebagai fasilitator.

C. Rencana Tindakan
SIKLUS
LANGKAH
RENCANA KEGIATAN
HASIL
Siklus 1
Perencanaan
- Identifikasi masalah dan penetapan
tindakan
- Perumusan scenario tindakan
- Persiapan tindakan ( Instrumen,
jadwal )
- Penentuan data dan cara
memperolehnya
- Identifikasi guru-guru yang akan di
IHT

Masalah kemampuan
guru menyusun
kelengkapan mengajar
Tindakan :
In House Training
Apakah pelaksanaan
In-House Training
dapat meningkatkan
kemampuan guru
menyusun
kelengkapan mengajar
Rencana Tindakan:
Memeriksa hasil
kelengkapan mengajar
guru setelah
mengikuti In House
Training 1
Melakukan In-House
Training 2 bagi guru
yang belum mampu
menguasai
penyusunan
kelengkapan
mengajar.
Memeriksa
kelengkapan mengajar
guru

Pelaksanaan
Tindakan dilakukan sesuai rencana
selama 2 minggu
Tindakan dilakukan melibatkan
semua guru yang ikut In-House
Training
Tindakan dapat
dilaksanakan sesuai
scenario
Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan
instrument
Seluruh kejadian dalam proses
tindakan dicatat dalam lembar
Data kualitatif dengan
catatan peristiwa
selama proses
tindakan

observasi
Refleksi
Evaluasi tindakan dan data-data yang
diperoleh
Pertemuan membahas hasil evaluasi
Merencanakan langkah-langkah
siklus 2
Masalah yang dialami
Peristiwa yang terjadi
di luar scenario
Rencana langkahlangkah siklus 2
Siklus 2
Perencanaan
Pelaksanaan In-House Training
Tahap 2
Rencana langkah tindakan sesuai
hasil refleksi 1

Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai scenario siklus 2

Pengamatan
Sesuai rencana siklus 2

Refleksi
Evaluasi sesuai siklus 2

Kesimpulan, Saran dan Rekomendasi

D. Pelaksanaan Tindakan

Seperti telah dijelaskan pada perencanaan tindakan di atas maka penelitian tidak
an sekolah

ini dilakukan dalam 2 siklus. Berikut ini adalah penjelasan tentang masing-masin
g siklus
yang telah penulis lakukan
1. Siklus 1
a. Perencanaan
1) Identifikasi Masalah dan Penetapan Tindakan
Pada siklus ini diawali dengan mengidentifikasi masalah yaitu melihat data pada
dokumen
evaluasi diri sekolah, program tahunan sekolah, visi dan misi sekolah dan berdas
arkan
pengamatan selama ini kemudian mendata masalah-masalah yang mendesak untuk diata
si.
Ada beberapa masalah yang teridentifikasi diantaranya:
- Kedisiplinan siswa masih perlu ditingkatkan
- Prestasi belajar siswa perlu ditingkatkan

Motivasi belajar siswa perlu ditingkatkan


Inovasi pembelajaran perlu ditingkatkan
Pembelajaran berbasis TIK perlu ditingkatkan
Kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar perlu ditingkatkan
Supervisi akademik perlu ditingkatkan
Sarana dan prasarana pembelajaran perlu ditingkatkan
Pencitraan lingkungan sekolah perlu ditingkatkan
Praktik kewirausahaan perlu ditingkatkan

Dari masalah-masalah tersebut yang paling mendesak untuk segera diatasi menurut
penulis adalah masalah yang ada pada Guru terutama kemampuan Guru dalam menyusun
kelengkapan mengajar.
Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengadakan kegia
tan
In-House Training penyusunan kelengkapan mengajar kepada seluruh Guru SMK Bhakti
Mulya Sampit. Diharapkan setelah dilakukan kegiatan In-House Training kemampaun
Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar akan meningkat.
2) Perumusan Skenario Tindakan
Sebelum kegiatan In-House Training dilakukan terlebih dahulu penulis menetapkan
scenario tindakan sebagai berikut:
- Menyebarkan angket kepada seluruh Guru untuk mengetahui respon Guru terhadap
pentingnya memiliki kelengkapan mengajar, latar belakang pendidikan dengan mata
pelajaran yang diajarkan, pengalaman mengajar, perlu atau tidak In-House Trainin
g
dilakukan, dan untuk mengetahui motivasi Guru dalam menyusun kelengkapan
mengajar.
- Mendata Guru yang akan mengikuti kegiatan In-House Training berdasarkan data h
asil
pemeriksaan kelengkapan mengajar pada masing-masing Guru dari hasil pemeriksaan
tersebut penulis memutuskan seluruh Guru perlu mengikuti kegiatan In-House Train
ing
yang terdiri dari 5 orang Guru normative, 2 orang Guru adaptif dan 2 orang Guru
produktif.
- Melaksanakan kegiatan In-House Training
- Tugas individu penyusunan kelengkapan mengajar
- Melakukan refleksi kelengkapan mengajar yang telah disusun oleh Guru
- Menentukan program tindak lanjut

Lebih jelasnya seperti pada bagan berikut:

Mendata Peserta
IHT
Pelaksanaan IHT
Tugas Individu
Tindak Lanjut
Refleksi
3) Persiapan Tindakan
Setelah menetapkan scenario tindakan penulis melakukan persiapan untuk melaksana
kan
kegiatan In-House Training penyusunan kelengkapan mengajar yang meliputi:
- Menentukan fasilitator penyusunan kelengkapan mengajar yang menguasai teknik
penyusunan Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes) dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam hal ini penulis menunjuk satu orang Wakil
Kepala Sekolah dan satu orang Koordinator Kurikulum dan Humas.
- Menyiapkan kalender pendidikan, menyiapkan format Prota, Promes dan RPP
- Membuat surat undangan perihal mengikuti kegiatan In-House Training penyusunan
kelengkapan mengajar beserta jadwal pelaksanaan
- Mempersiapkan lembar observasi

4) Pelaksanaan Tindakan
Setelah semua persiapan dilakukan dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan In-Hou
se
Training penyusunan kelengkapan mengajar. Pada siklus 1 ini kegiatan In-House Tr
aining
dilaksanakan selama dua hari yaitu pada tanggal 3 s.d 4 September 2010 dengan wa
ktu 17
jam yang materinya meliputi:
- Teknik penghitungan pekan epektif, Teknik penyusunan Program Tahunan (Prota),
Teknik penyusunan Program Semester (Promes), Teknik penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
- Penyampaian materi berakhir dilanjutkan dengan tugas individu penyusunan
kelengkapan mengajar
Setelah In-House Training berakhir, penulis meminta seluruh peserta mengumpulkan
kelengkapan mengajar dalam bentuk file yang terdiri dari Program Tahunan (Prota)
,
Program Semester (Promes) dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

- Kegiatan berikutnya penulis melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan mengaja


r
yang telah disusun oleh Guru dalam bentuk file tersebut kemudian menganalisis da
ta
sesuai dengan lembar observasi yang telah dipersiapkan.
- Dari hasil analisis tersebut kemudian penulis melakukan refleksi untuk menentu
kan
program tindak lanjut

2. Siklus 2
Setelah siklus 1 berakhir dan telah melakukan refleksi terhadap hasil yang diper
oleh pada
siklus 1 tersebut, pada siklus 2 ini penulis melakukan kegiatan In-House Trainin
g Tahap 2
karena:
a. Prosentase Guru yang menyelesaikan kelengkapan mengajar belum mencapai 100%
b. Kelengkapan mengajar yang telah disusun oleh Guru ternyata masih belum
sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan yaitu masih perlu penyempurnaan. Hal
tersebut disebabkan karena setelah penyusunan kelengkapan mengajar dilakukan ter
nyata
mengalami permasalahan-permasalahan teknis sehingga perlu penyamaan persepsi.
In-House Training Tahap 2 dilakukan selama satu hari yaitu pada tanggal 22 Septe
mber
2010 dilanjutkan dengan tugas individu untuk menyelesaikan tugas tersebut bagi b
eberapa
peserta yang belum selesai dan menyempurnakan bagi beberapa peserta yang sudah s
elesai
namun masih ada kesalahan-kesalahan kecil. Lama waktu penyelesaian tugas individ
u
tersebut penulis tetapkan selama 5 hari terhitung mulai tanggal 22 September 201
0. Hasil
tugas individu tersebut dikumpul dalam bentuk print out kepada Wakil Kepala Seko
lah
pada tanggal 27 September 2010.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan sekolah yang berjudul Penin
gkatan
Kemampuan Guru dalam Menyusun Kelengkapan Mengajar Melalui In-House Training pad
a
SMK Bhakti Mulya Sampit, dapat penulis jelaskan sebagai berikut:
E. Hasil Angket Sebelum In-House Training Dilakukan
Tabel 1: Pentingnya memiliki kelengkapan mengajar Guru SMK Bhakti Mulya Sampit
No
Alternatif Jawaban
%
1
Sangat Setuju
57.4
2
Setuju
42.6
3
Cukup Setuju
0.00
4
Tidak Setuju
0.00
5
Sangat Tidak Setuju
0.00

100

Dari table di atas menyatakan bahwa 57.4% Guru menyadari bahwa sebagai seorang G
uru
sangat penting memiliki kelengkapan mengajar sebelum melaksanakan proses pembela
jaran
dan 42.6% menyatakan penting memiliki kelengkapan mengajar. Hal tersebut berarti
secara
keseluruhan Guru SMK Bhakti Mulya Sampit menyatakan penting untuk memiliki
kelengkapan mengajar.
Hal ini sanghatlah beralasan karena dengan memiliki kelengkapan mengajar yang ba
ik sangat
membantu kelancaran dalam proses pembelajaran. Selain itu dengan kelengkapan men
gajar
akan memberi kesempatan bagi Guru sebagai pendidik untuk merancang pembelajaran
sesuai
dengan kebutuhan peserta didik, kemampuan peserta didik dan fasilitas yang dimil
ki sekolah.
Demikian pula dengan memiliki kelengkapan mengajar proses pembelajaran yang dila
kukan
akan lebih terarah, karena tujuan pembelajaran, materi yang akan diajarkan, meto
de dan
penilaian yang digunakan telah dirancang dengan berbagai pertimbangan.

Tabel 2: Ketidaksesuaian mata pelajaran yang diajarkan dengan latar belakang pe


ndidikan
Guru SMK Bhakti Mulya Sampit
No
Alternatif Jawaban
%
1
Sangat Setuju
11.2
2
Setuju
33.4
3
Cukup Setuju
44.2
4
Tidak Setuju
11.2
5
Sangat Tidak Setuju
0.00

100

Tabel diatas menyatakan bahwa hanya 11.2% guru yang merasa mata pelajaran yang
diajarkan sesuai dengan latar belakang pendidikannya. 44.2% menyatakan cukup set
uju atau
ragu-ragu hal ini mungkin Guru merasa mata pelajaran yang diajarkan memang tidak
sesuai
dengan latar belakang pendidikannya namun mereka merasa mampu mengajarkan mata
pelajaran yang diajarkan mungkin karena mata pelajaran yang diajarkan tersebut m
asih satu
rumpun dengan latar belakang pendidikannya. Selebihnya menjawab setuju yang bera
rti

sekitar 44.6% merasa mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Hal ini
terjadi karena SMK Bhakti Mulya pada awal berdirinya sangat kesulitan mencari te
naga
pengajar sehingga pada waktu itu berlaku pepatah tidak ada rotan akarpun jadi.
Tabel 3: Kurangnya Pengalaman Mengajar Guru SMK Bhakti Mulya Sampit
No
Alternatif Jawaban
%
1
Sangat Setuju
0.00
2
Setuju
33.3
3
Cukup Setuju
22.3
4
Tidak Setuju
44.4
5
Sangat Tidak Setuju
0.00

100

Dari table tersebut diatas dapat diartikan bahwa 44.4% menyatakan tidak setuju k
alau
pengalaman mengajarnya dikatakan kurang, dengan kata lain 44.4% tersebut Guru me
rasa
sudah berpengalaman dalam mengajar sedangkan sisanya 55.6% Guru merasa dirinya b
elum
berpengalaman mengajar. Hal ini dikarenakan mungkin mereka belum lama diangkat s
ebagai

Guru dan mungkin juga beberapa diantaranya bukan berlatar belakang dari kependid
ikan.

Tabel 4: Perlunya In-House Training Penyusunan Kelengkapan Mengajar


Pada SMK Bhakti Mulya Sampit
No
Alternatif jawaban
%
1
Sangat Setuju
22.7
2
Setuju
47.7
3
Cukup Setuju
11.6
4
Tidak Setuju
18.0
5
Sangat Tidak Setuju
0.00

100

Tabel diatas mengindikasikan bahwa hanya 18.0% saja Guru merasa tidak perlu In-H
ouse
Trainiing Penyusunan kelengkapan mengajar hal ini terjadi mungkin karena mereka
sudah
cukup berpengalaman dalam mengajar sehingga tanpa In-House Training mereka meras
a
sudah bisa menyusun kelengkapan mengajar. 11.6% menjawab cukup setuju/ragu-ragu
mungkin mereka belum mengetahui dengan jelas tentang materi yang akan disampaika
n
dalam In-House Training sehingga mereka merasa tidak yakin apakah sudah bisa ata
u belum

bisa materi tersebut.


Sedangkan sisanya 70.0% menyatakan perlu diadakan In-House Training penyusunan
kelengkapan mengajar, Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebagian besar Guru
SMK
Bhakti Mulya Sampit mengharapkan adanya In-House Training penyusunan kelengkapan
mengajar. Hal ini mungkin dikarenakan sebagian besar Guru menyadari bahwa diriny
a belum
memiliki kelengkapan mengajar dan merasa pengalaman mengajarnya masih kurang ser
ta
mata pelajaran yang diajarkan kurang sesuai dengan latar belakang pendidikannya
sehingga
masih kesulitan dalam menyusun kelengkapan mengajar.
Tabel 5: Motivasi Guru dalam Menyusun Kelengkapan Mengajar
Pada SMK Bhakti Mulya Sampit
No
Alternatif Jawaban
%
1
Sangat Setuju
33.3
2
Setuju
66.7
3
Cukup Setuju
0.00
4
Tidak Setuju
0.00
5
Sangat Tidak Setuju
0.00

100

Dari table tersebut diatas 100% Guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mengiku
ti InHouse Training dan memiliki keinginan yang kuat untuk membuat kelengkapan mengaj
ar
bahkan akan menggunakan kelengkapan mengajar tersebut sebagai penunjang proses
pembelajaran. Hal ini berarti seluruh Guru SMK Bhakti Mulya Sampit menyadari pen
tingnya
memiliki kelengkapan mengajar. Dengan demikian In-House Training penyusunan
kelengkapan mengajar memang perlu dilakukan dan mendapat dukungan yang kuat dari
para
Guru. Dengan demikian diharapkan setelah In-House Training dilakukan kemampuan G
uru
dalam menyusun kelengkapan mengajar akan meningkat.
F. Hasil yang diperoleh pada Siklus 1
Tabel 6: Hasil In-House Training Tahap 1

NO.
NAMA GURU/
KELAS X
KELAS XI
KELAS XII
%
MATA PELAJARAN
Pro
Ta
Pro
Mes
Pro
Pem
RPP
Pro
Ta
Pro
Mes
Pro
Pem
RPP
Pro
Ta
Pro
Mes
Pro

Pem
RPP
1
David Mulyana, S.St
v
v
v
v

v
v
v
75,0
Produktif (X,XI,XII)

2
Teti Sumaini, S.Pi
v
v
v
v

v
v
v

v
75,0
Matematika (X,XI,XII)

3
Drs. I Gusti Made Adi. M
v
v
v
v

v
41,0
Fisika (X,XI,XII)

Debora Katharina, SE
v
v

v
v
v

v
v
v

v
75,0
Bhs. Indonesia (X,XI,XII)

5
Susanti, SE

v
v

v
41.6
Kewirausahaan (X,XI,XII)

6
Wahyu Tri Suryani, S.Pd
v

v
v
v
v
v

v
v
v

v
83.3
PKN (X,XI,XII)

7
Ranto Gunawan, S.Sos
v
v

V
v
v

v
v

v
66.6
Agama Hindu (X,XI,XII)

8
Seri Suhari, S.Pd
v
v

16.6
IPS (X,XI,XII)

9
Agung Jaelani, S.ST

v
v

50,0
Muatan Lokal (XI)

Jumlah
8
8
5
7
4
5

1
8
3
4
1
7

Prosentase (%)
88,89
88,89
55,56
77,78
44,44
55,56
11,11
88,89
33,33
44,44
11,11
77,78
58,23

Pada siklus 1 berdasarkan data dari table diatas dapat dijelaskan bahwa seluruh
Guru sudah
mulai menyusun kelengkapan mengajar walaupun belum ada seorangpun Guru yang berh
asil
menyelesaikan kelengkapan mengajar dengan lengkap namun demikian sudah ada satu
orang

Guru menyelesaikan 83%, tiga orang Guru menyelesaikan 75% dan yang lainnya masih
dibawah 70% dan yang paling rendah (paling sedikit) berhasil menyusun kelengkapa
n
mengajar adalah sebesar 16,6%.
Kelengkapan mengajar yang paling banyak terselesaikan pada siklus 1 adalah Prota
(Program
Tahunan) dan Promes (Program Semester) kelas X yaitu sebesar 88,89%. Ini berarti
ada
kecenderungan Guru memulai menyusun kelengkapan mengajar dari siswa yang terbaru
yaitu
siswa kelas X kemungkinan Guru memprioritaskan siswa baru karena dianggap lebih
perlu
diperhatikan terutama dalam proses belajar mengajar dibanding kelas diatasnya ka
rena masih
dalam tahap penyesuaian sehingga perlu dirancang terlebih dahulu. Kemungkinan la
in ada
kecenderungan terbiasa memulai sesuatu dari yang terendah kemudian meningkat ke
yang
lebih tinggi seperti halnya berhitung selalu mulai dari satu.
Selain data seperti telah dijelaskan diatas, terdapat satu data yang menggambark
an bahwa ada
seorang Guru yang baru menyelesaikan kelengkapan mengajar hanya 16,6%. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal diantaranya, mungkin yang bersangkutan
belum
lancar menggunakan computer karena dalam mengerjakan tugas tersebut tugas (kelen
gkapan
mengajar) dikumpul dalam bentuk file. Kemungkinan lain yang bersangkutan masih b
elum
begitu paham cara menyusun kelengkapan mengajar tersebut sehingga menjadi lambat
dalam
mengerjakannya. Atau mungkin juga karena yang bersangkutan tidak meluangkan wakt
u
untuk focus pada penyelesaian tugas tersebut.
Selanjutnya dari table terlihat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) kelas XI
juga 88,9%
tersusun oleh Guru. Bahkan ada Guru yang belum menyusun Prota (Program Tahunan)
dan
Promes (Program Semester) untuk kelas XI namun sudah menyusun RPP (Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran) untuk siswa kelas XI. Hal ini kemungkinan disebabkan k
arena
Guru tersebut menganggap bahwa Prota dan Promes untuk kelas X sama saja dengan P
rota
dan Promes kelas XI sehingga bisa saja disusun belakangan yang penting sudah ada
RPPnya
Secara umum, pada siklus 1 sudah seluruh Guru mulai menyusun kelengkapan mengaja
r
(58,23% ) namun demikian masih perlu dilakukan tindak lanjut terhadap kegiatan I
n-House
Training tersebut karena indicator keberhasilan In-House Training ini adalah 100
% Guru
berhasil menyelesaikan penyusunan kelengkapan mengajar.

Setelah dilakukan refleksi terhadap siklus 1 ternyata ada dua hal yang perlu me
ndapat
perhatian sebagai tindak lanjut yaitu:
1. Prosentase Guru yang menyelesaikan kelengkapan mengajar belum mencapai 100%
2. Kelengkapan mengajar yang telah disusun oleh Guru ternyata masih belum sepenu
hnya
sesuai dengan panduan/pedoman sehingga masih perlu penyempurnaan seperti termuat
pada lampiran (table refleksi siklus 1)

G. Hasil yang diperoleh pada Siklus 2.


Pada siklus 2, In-House Training dilakukan untuk menyempurnakan hasil yang diper
oleh
pada siklus 1 karena setelah dilakukan refleksi ternyata ada dua hal yang perlu
ditingkatkan
yaitu:
3. Prosentase Guru yang menyelesaikan kelengkapan mengajar belum mencapai 100%
4. Kelengkapan mengajar yang telah disusun oleh Guru ternyata masih belum sepenu
hnya
sesuai dengan yang diharapkan yaitu masih perlu penyempurnaan.
Setelah melalui In-House Training tahap 2 yang dilakukan pada tanggal 22 Septemb
er 2010
dan diberi waktu tambahan selama 5 hari untuk menyelesaikan tugas penyusunan
kelengkapan mengajar yang terdiri dari Prota (Program Tahunan) Promes (Program
Semester), Propem (Program Pembelajaran) dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajar
an),
maka hasil dari kegiatan tersebut adalah seperti table berikut:

NO.
NAMA GURU/
KELAS X
KELAS XI
KELAS XII
%
MATA PELAJARAN
Pro
Ta
Pro
Mes
Pro
Pem
RPP

Pro
Ta
Pro
Mes
Pro
Pem
RPP
Pro
Ta
Pro
Mes
Pro
Pem
RPP
1
David Mulyana, S.St
v
v
v
v
V
v
v
v
v
v
v
v
100,0
Produktif (X,XI,XII)

2
Teti Sumaini, S.Pi
v
v
v
v
V
v
v
v
v
v
v
v
100,0
Matematika (X,XI,XII)

3
Drs. I Gusti Made Adi. M
v
v
v
v
V
v
v
v
v
v
v
v
100,0
Fisika (X,XI,XII)

4
Debora Katharina, SE
v
v
v
v
V
v
v
v
v
v
v
v
100,0
Bhs. Indonesia (X,XI,XII)

5
Susanti, SE
v
v
v
v
V
v
v
v
v
v
v
v
100,0
Kewirausahaan (X,XI,XII)

6
Wahyu Tri Suryani, S.Pd
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
100,0

Tabel 7: Hasil In-House Training Tahap 2

PKN (X,XI,XII)

7
Ranto Gunawan, S.Sos
v
v
v
v
v
v

v
v
v

v
83,0
Agama Hindu (X,XI,XII)

8
Seri Suhari, S.Pd
v
v

v
v

42,0
IPS (X,XI,XII)

9
Agung Jaelani, S.ST

v
v
v
v

100,0
Muatan Lokal (XI)

Jumlah:

91,66

Prosentase (%)
100

100
87,5
100
77,7
100
88,8
88,8
88,8
87,5
75
87,5

Dari table 7 di atas terlihat bahwa telah terjadi peningkatan prosentase Guru ya
ng berhasil
menyelesaikan penyusunan kelengkapan mengajar yaitu 58,23% menjadi 91,6%. Dari t
able

juga terlihat bahwa seluruh Guru telah meningkat kemampuannya dalam menyusun
kelengkapan mengajar hal tersebut dapat dilihat dari prosentase kelengkapan meng
ajar yang
diselesaikan pada siklus 1 dan dibandingkan dengan prosentase kelengkapan mengaj
ar yang
diselesaikan pada siklus 2.
Agar lebih jelas, peningkatan prosentase tersebut seperti pada table berikut:
Tabel 8: Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menyusun Kelengkapan Mengajar
NO.
NAMA GURU
PROSENTASE
PADA SIKLUS 1
PROSENTASE
PADA SIKLUS 2
PENINGKATAN
1
David Mulyana,S.ST
75,0%
100%
25,0%
2
Teti Sumaini,S.Pi
75,0%
100%
25,0%
3
Drs. I Gusti Made Adi
M
41,0%
100%
59,0%
4
Debora Katharina, SE
75,0%
100%

25,0%
5
Susanti, SE
41,6%
100%
58,4%
6
Wahyu Tri
Suryani,S.Pd
83,3%
100%
16,7%
7
Ratno Gunawan, S.Sos
H
66,6%
83,0%
16,4%
8
Seri Suharti, S.Pd
16,6%
42,0%
25,4%
9
Agung Jailanie,S.ST
50,0%
100%
50,0%

Secara umum seluruh Guru telah terjadi peningkatan kemampuan dalam penyusunan
kelengkapan mengajar. Namun seperti data yang terlihat pada table 8 di atas masi

h ada dua

orang Guru belum berhasil menyelesaikan keseluruhan kelengkapan mengajar yang


ditargetkan. Menurut pengamatan penulis, salah satu dari dua orang Guru tersebut
dikarenakan belum menguasai keterampilan komputer sehingga dalam mengerjakan tug
as
tersebut sangat terhambat. Sedangkan seorang lagi, menurut pengamatan penulis se
benarnya
cukup menguasai keterampilan komputer namun yang bersangkutan kebetulan pada saa
t
tugas diberikan ada masalah keluarga sehingga belum sempat menyelesaikan tugas y
ang
diberikan.
Tindak lanjut dari siklus 2 adalah:
1. Peserta (Guru) yang belum menguasai keterampilan komputer tersebut dilakukan
mentoring dan diberi tambahan waktu untuk menyelesaikan penyusunan kelengkapan
mengajar.
2. Peserta yang ada masalah keluarga tersebut diberi kebijakan berupa tambahan w
aktu untuk
menyelesaikan penyusunan kelengkapan mengajar tersebut.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan data yang dihimpun serta diinterpretasikan oleh
penulis,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Secara keseluruhan Guru SMK Bhakti Mulya Sampit menyatakan penting untuk memi
liki
kelengkapan mengajar.
2. Sebagian besar Guru SMK Bhakti Mulya Sampit merasa bahwa pengalaman
mengajarnya masih minim pada mata pelajaran yang diajarkan, latar belakang
pendidikan tidak begitu sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan
pengetahuan tentang penyusunan kelengkapan mengajar masih kurang.
3. Seluruh Guru SMK Bhakti Mulya Sampit menghendaki adanya In-House Training
penyusunan kelengkapan mengajar.
4. 100% Guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mengikuti In-House Training dan
memiliki keinginan yang kuat untuk membuat kelengkapan mengajar dan akan
menggunakan kelengkapan mengajar tersebut sebagai penunjang proses pembelajaran.
5. Pada Siklus 1 terdapat 58,23% Guru berhasil menyelesaikan penyusunan kelengka
pan
mengajar dan pada Siklus 2 terdapat 91,66% Guru berhasil menyelesaikan penyusuna
n
kelengkapan mengajar. Jadi ada peningkatan kemampuan Guru dalam menyusun
kelengkapan mengajar sebesar 33,43%
6. Untuk meningkatkan kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajat pada
SMK Bhakti Mulya Sampit dapat dilakukan melalui kegiatan In-House Training.

B. Saran
Sebagai bagian akhir dari penulisan ini, ada beberapa saran yang perlu penulis k
emukakan
berkaitan dengan peningkatan kemampuan Guru dalam menyusun kelengkapan mengajar
melalui In-House Training pada SMK Bhakti Mulya Sampit yaitu:
1. Bagi kepala sekolah hendaknya secara berkala melakukan pemeriksaan terhadap
kelengkapan mengajar Guru, agar para Guru senantiasa melaksanakan proses
pembelajaran secara terencana.
2. Kepala sekolah perlu melakukan bimbingan kepada para Guru khususnya dalam
penyusunan kelengkapan mengajar terutama kepada Guru yang masih pemula atau Guru

yang mengajar bukan pada bidangnya karena ada kecenderungan mengalami kesulitan
dalam menyusun kelengkapan mengajar.
3. Kepala sekolah perlu melakukan kegiatan penyegaran kepada para Guru agar dapa
t
mengikuti perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam penyusunan
kelengkapan mengajar. Hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan In-House Training
4. Bagi Guru hendaknya setiap awal tahun pelajaran menyusun kelengkapan mengajar
sesuai
dengan standarisasi yang berlaku. Selanjutnya, kelengkapan mengajar yang telah d
isusun
hendaknya digunakan sebagai acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
5. Guru yang pengetahuan dan pengalamannya masih kurang agar dapat meminta bimbi
ngan
atau berkoordinasi dengan teman sejawat yang lebih berpengalaman atau meminta
bimbingan kepada kepala sekolah atau yang ditunjuk.

DAFTAR LAMPIRAN
(1) Angket Penelitian
(2) Surat Undangan In-House Training Tahap 1
(3) Jadwal In-House Training Tahap 1
(4) Daftar Hadir In-House Training Tahap 1
(5) Lembar Observasi Siklus 1
(6) Lembar Refleksi Siklus 1
(7) Surat Undangan In-House Training Tahap 2
(8) Daftar Hadir In-House Training Tahap 2
(9) Lembar Observasi Siklus 2
(10) Lembar Refleksi Siklus 2
(11) Contoh Prota, Promes dan RPP

DAFTAR PUSTAKA
Rahmat Saripudin, Tuesday, 28 October 2008 14:51, Peningkatan Mutu Pembelajaran.
Media Kita. Nurulfikri.sch.id/index.php
http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-mengajar.html (diakses tanggal 2 Septe
mber 2010)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasi
onal
Pendidikan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
BSNP.2007.Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta.Depdiknas.
Dadang Dahlan, In-house Training sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Guru Tsanaw
iyah,
file.upi.edu/al.php
Dhony Firmansyah,S.Si.2008.Karya Tulis disampaikan dalam Pelatihan Sukses Membuat
Proposal Penelitian yang Bermutu

Kumiko Education Centre.