Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I

1. Latar Belakang Masalah


Pengaruh menurut Purwadarminta adalah: daya yang ada atau
timbul dari sesuatu ( orang, benda ) yang membentuk watak, kepercayaan,
atau perbuatan manusia. Kamus besar bahasa indonesia edisi empat Balai
Pustaka Departemen Pendidikan Nasional, halaman 1045
Budaya belajar yang terorganisir, terarah, terawasi, terpantau dan
sebagainya: merupakan motivasi preestasi siswa.
Menurut Purwadarminta, budaya adalah:Sesuatu yang sudah menjadi
kebiasaan dan sukar dirubah1.
Menurut Purwadarminta, belajar adala Berusaha ( berlatih dsb ) supaya
mendapatkan kepandaian2
Dunia pendidikan sedang diguncang oleh berbagai perubahan dengan
tuntutan dan kebutuhan

masyarakat, serta ditantang untuk dapat menjawab

bebagai permasalahan lokal dan dan perubahan global yang begitu pesat.
Perubahan dan permasalahan tersebut seperti pasar bebas, perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan informasi, seni, budaya, yang sangat dahsyat. Maka i
Purwadarminta, Kamus Besaar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai
Pustaka,2008) cet.ke 4 h 214
2 Purwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta ,Balai Pstak) ed 3 h
121
ii

dengan perkembangan tersebut harus dibarengi dengan perkembangan di

dunia pendidikan mulai dari mutu pendidikan baik mutu guru, siswa, kurikulum,
dan sarana prasarana yang berkualitas, sehingga akan mengahsilkan sumberdaya
manusia yang berkualitas pula.

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

Pendidikan sangatlah penting dalam kehidupan manusia dan tidak terbatas


pada umur. Suatu negara yang mutu pendidikannya rendah akan mengakibatkan
terhambatnya kemajuan suatu negara. Dalam UU No. 20 / 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional, tercantum pengertian bahwa pendidikan adalah usaha dasar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.
Fungsi dan tujuan pendidikan Indonesia yang tertuang dalam UndangUndang No. 20 Tahun 2003 (Sidiknas, Pasal 3) yang berbunyi pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang
demokratis.
Dalam

meningkatakan

kualitas

pendidikan

dipengaruhi

oleh

penyempurnaan seluruh komponen pendidikan seperti peningkatan kualitas dan


pemerataan penyebaran guru, kurikulum yang disempurnakan, sumber belajar,
sarana dan prasarana, kebijakan pemerintah. Namun disini guru merupakan
komponen paling menentukan, karena ditangan gurulah komponen-komponen lain
menjadi sesuatu yang berarti bagi kehidupan peserta didik. Guru pula yang
menjadi perhatian utama bagi peserta didik sehingga guru harus bisa menjadi
sosok figur bagi anak didiknya. Oleh sebab itu, guru harus memiliki empat
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi


profesional, dan kompetensi sosial.
Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah untuk memperbaiki mutu
pendidikan di Indonesia. Upaya-upaya yang telah dilakukan antara lain
melakukan perubahan kurikulum secara teratur, dengan maksud agar isi
kurikulum tidak ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu
pengetahuan serta kebutuhan masyarakat yang berkembang dengan cepat. Di
samping itu, juga dilakukan upaya melaksanakan penataran-penataran guru,
mengirim tenaga-tenaga kependidikan keluar negeri untuk mengikuti berbagai
kegiatan workshop, seminar, latihan, studi lanjut dan sebagainya.
Setiap orang bisa menjadi atau menempati posisi sebagai pendidik. Orang
tua, disadari atau tidak adalah pendidik bagi anak-anaknya. Para mubaligh, tokoh
masyarakat atau anutan umat adalah pendidik bagi masyarakatnya. Para pemimpin
bangsa seharusnya juga menjadi pendidik bagi bangsa yang dipimpinnya. Bahkan
para selebritispun menempati posisi sebagai pendidik, karena mereka menjadi
panutan bagi yang mengidolakannya. Namun tidak setiap pendidik adalah guru,
akan tetapi setiap guru mutlak dia adalah pendidik. Oleh karena itu guru harus
memiliki kompetensi sebagai pendidik yang profesional.
Sebagai guru profesional, ada sepuluh kemampuan guru yang harus dikuasai.
Guru merupakan agen perubahan dalam pola pikir generasi bangsa dan
mengemban tugas untuk meluruskan pola pikir irasional menuju cara berpikir
rasional. Jika dilihat di masyarakat, tidak bisa dipungkiri bahwa guru dianggap
sebagai orang yang serba bisa khususnya di pedesaan. Penguasaan sepuluh
kemampuan guru akan sangat menunjang terhadap motivasi berprestasi siswa

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

sekaligus sebagai motivator. Berikut ini adalah sepuluh kemampuan dasar yang
harus dimiliki oleh guru.
1. Punya kemampuan untuk mengembangkan kepribadian.
Disini guru dituntut untuk bertakwa kepada Tuhan, turut berperan dalam
masyarakat sebagai warga yang berjiwa Pancasila serta mengembangkan
sifat-sifat terpuji yang menjadi syarat bagi guru.
2. Menguasai semua landasan pendidikan
Landasan pendidikan yang harus dikuasai adalah dengan mengenal tujuan
pendidikan untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional, mengenal sekolah
di dalam masyarakat serta mengenal prinsip-prinsip psikologi yang bisa
dimanfaatkan dalam pembelajaran.
3. Mampu untuk menguasai bahan pengajaran
Seorang guru diharapkan mempunyai kemampuan untuk menguasai bahan
pengajaran, kurikulum dan menguasai bahan pengayaan.
4. Mampu untuk menyususn program pengajaran
Kemampuan ini adalah untuk menetapkan tujuan pengajaran, memilih dan
menetapkan bahan pengajaran, memilih dan mengembangkan strategi
pengajaran, memilih dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia dan
memilih serta mengembangkan media pengajaran yang sesuai.
5. Melaksanakan semua program pengajaran
Dalam hal ini guru diharuskan menciptakan iklim belajar mengajar yang
sehat, mengelola interaksi belajar mengajar dan mengatur ruang belajar.
6. Menilai hasil serta proses mengajar yang sudah dilaksanakan
Guru harus dapat menilai prestasi siswa dan menilai proses belajar menajar
yang telah dijalankan.
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

7. Program bimbingan belajar


Guru harus bisa membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar siswa
yang berkelainan dan berbakat serta bisa membimbing siswa untuk
menghargai pekerjaan di masyarakat.
8. Melaksanakan administrasi instansi
Guru harus mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah sekaligus
melaksanakan kegiatan tersebut.
9. Berinteraksi degan teman sejawat serta masyarakat
Guru harus bisa berinteraksi dengan rekan sejawat untuk meningkatkan
kemampuan profesional dan berinteraksi dengan masyarakat untuk memenuhi
misi pendidikan.
10. Melakukan penelitian yang sederhana
Kemampuan guru ini adalah untuk mengkaji konsep dasar penelitian ilmuwan
dan melakukan penelitian sederhana.
Faktor lain yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan suatu
pendidikan adalah motivasi berprestasi. Mc Clelland seperti yang di kutip
Martaniah (dalam Tenaya, 2008 : 40) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai
suatu usaha untuk mencapai sukses yang bertujuan untuk berhasil dalam
kompetensi dengan suatu standar keunggulan
Mc Clelland (dalam Tenaya, 2009 : 39), menerangkan bahwa antara
manusia yang satu dengan manusia yang lainnya berbeda dalam hal motif
berprestasi yang dimiliki yang merupakan suatu pendorong untuk mencapai
sukses. Bahwa individu yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan
memiliki sifat sifat sebagai berikut: (a) menyukai pekerjaan yang menuntut
kemampuan dan usaha diri sendiri, (b) memiliki antisipasi yang baik terhadap
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

aktivitas yang akan dilakukan, (c) selalu memperhitungkan terlebih dahulu setiap
aktivitas apakah ia mampu atau tidak, (d) selalu ingin mengetahui hasil dari usaha
yang telah dilakukannya. Berdasarkan hal ini mengembangkan indicator-indikator
yang merupakan indikasi atau ciri-ciri orang yang mempunyai motif berprestasi
tinggi yaitu: (1) keinginan yang tinggi untuk berprestasi, (2) percaya pada diri
sendiri, tidak senanng pada bantuan orang lain, (3) pemikiran atau antisipasi
kedepan, (4) keinginan untuk mengetahui hasil pekerjaan yang dilakukan, (5)
aspirasi tingkatan sedang yang sesuai dengan kapasitas diri, (6) orientasi pada
masa yang akan dating, (7) tidak suka membuang waktu, (8) kepercayaan pada
diri sendiri, (9) ketangguhan dan keuletan dalam bekerja dan (10) tanggung jawab
yang tinggi.
Motivasi berprestasi termasuk dalam katagori motivasi intrinsik. Lima
aspek belajar yang mempunyai motivasi intrinsik yaitu belajar dimotivasi oleh
rasa ingin tahu, insentif bekerja untuk memuaskan diri sendiri, memilih pekerjaan
yang menantang, keinginan kerja secara mandiri, dan memakai kriteria internal
untuk menentukan sukses dan gagal (Ambile, 1983 : 375).Jadi dapat disimpulkan
bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan atau kebutuhan dalam diri
seseorang untuk meraih hasil atau prestasi tertentu. Motivasi ini ditandai dengan
adanya dorongan untuk berusaha keras mencapai prestasi, berusaha melakukan
perbuatan yang sukses dan pengharapan untuk meraih atau mencapai suatu
kompetensi yang memiliki standar keunggulan.
Selain faktor kemampuan guru dan motivasi berpresatasi, untuk mencapai
kesuksesan dalam pelaksanaan pendidikan, seorang guru harus memahami
terhadap kesuksesan dalam mengajar. Salah satu aspek penting yang menentukan
terhadap keberhasilan adalah manajemen pembelajaran.
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak


dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa
manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal,
efektif dan efisien. Konsep tersebut berlaku di sekolah yang memerlukan
manajemen yang efektif dan efisien.
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan
kualitas pendidikan, hasil penelitian Balitbangdikbud pada Tahun 1991,
menunjukkan

bahwa

manajemen

merupakan

salah

satu

faktor

yang

mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen sekolah secara langsung akan


mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan
belajar, waktu mengajar, dan proses pembelajaran. Dengan demikian, upaya
peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan pembenahan manajemen
sekolah, disamping peningkatan kualitas guru dan pengembangan sumber
pendidikan.Agar semua unsur terlibat dalam proses pembelajaran dapat bersinergi
diperlukan manajemen untuk mengelola, mengatur dan menata semua unsur
pembelajaran,

dengan

kata

lain

manajemen

pembelajaran.

Manajemen

pembelajaran merupakan tugas yang dilakukan oleh seorang guru yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.
Begitu pentingnya proses pembelajaran dalam peningkatan kualitas
pendidikan maka proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan baik dan
motivasiberprestasi siswa dapat dicapai jika fungsi perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi dapat diimplementasikan dengan baik dan benar.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa ketiga faktor antara budaya belajar,
extra kurikulerdan motivasi berprestasi
dalam dunia pendidikan.

memiliki peran yang sangat penting

Walaupun di lapangan semua lembaga pendidikan

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

mempunyai budaya belajar dan motivasi berprestasi

yang sama dalam

melaksanakan pendidikannya. Kadang suatu sekolah, khususnya disini adalah


madrasah tsanawiyah, mempunyai budaya belajar lebih tinggi dibanding
madrasah lain tetapi disisi lain madrasah ini melaksanakan extra kurikuler yang

yang artinya : Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masingmasing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya 3
Dari sini dapat dipahami bahwa setiap madrasah berhak mengelola
madrasah sesuai dengan kemampuannya untuk mencapai tingkat prestasi siswa
yang tinggi.
Oleh karena itu berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis
ingin meneliti lebih jauh tentang Pengaruh Budaya Belajar dan Ekstra
Kurikuler Terhadap Motivasi Berprestasi Siswa di MTS N Singaparna dan
MTs Al Furqon Singaparna.
2. Permasalahan
a. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, menurut peneliti ada beberapa
permasalahan yang muncul, diantaranya :
1) Perhatian siswa terhadap materi pelajaran di kelasPres
3 Alquran dan terjemahnya dengan transliterasi arab latin CP Cemara Risalah Pres Bdg h 555

2) Perhatian siswa terhadap belajar sekitar sekolah


3) Aktiivitas belajar siswa dirumah
4) Aktivitas belajar siswa di tempat kos
5) Aktivitas belajar sjswa yang dipesantren
6) Perhatian belajar stswa terhadap ekstra kurikuler
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

7) Kelompok .belajar siswa tehadap ekstra kurikuler berpariasi


8) Guru membimbing belajar siswa dalam ekstra kurikuler
9) Penempatan personalia pendidikan yang sesuai dengan kemampuan
10) Kontrol terhadap tenaga guru masih lemah
b. Konstelasi Masalah
Agar penelitian terfokus pada suatu permasalahan, serta cakupan tidak
terlalu luas, maka peneliti membatasi masalah pada pengaruh budaya belajar dan
ekstra kurikuler terhadap motivasi berprestasi siswa di MTS N dan MTS Afurqon
Singaparna
X1
Y
X2

c. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, maka yang menjadi
fokus kajian dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Berapa besar pengaruh budaya belar terhadap ekstra kurikuler di MTS
N Singaparna dan MTS Al Furqon Singaparna?
2) Berapa besar pengaruh ekstra kurikuler terhadap motivasi berprestasi
siswa di MTS N Singaparna dan MTS Al Furqon Singaparna?
3) Berapa besar pengaruh budaya belajar dan ekstra kurikuler terhadap
motivasi berprestasi siswa di MTS N Singaparna dan MTS Al Furqon
Singaparna?

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

10

3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka
peneliti ini bertujuan untuk mengetahui :
1) Pengaruh budaya belajar di MTS N Singaparna dan MTS Al Furqon
Singaparna.
2) Pengaruh ekstra kurikuler di MTS N Singaparna dan MTS Al Furqon
Singaparna.
3) Motivasi berprestasi di MTS N Singaparna dan MTS Al Furqon
Singaparna.
4. Kegunaan Penelitian
a. Secara Teoritis
1) Peneliti ini dapat memberikan masukan atau sumbangan pemikiran
atau ide untuk mengembangkan teori-teori budaya belajar, ekstra
kurikuler terhadap motivasi berprestasi siswa.
2) Hasil penelitian dapat berguna sebagai bahan referensi bagi peneliti
sejenis

sebagai

salah

satu

bahan

pustaka

dalam

rangka

mengembangkan ilmu pengetahuan. Khususnya yang berkenaan


dengan budddaya belajar dan program ekstra kurikuler terhadap
motivasi berprestasi siswa
b. Secara Praktis
1) Bagi mahasiswa, hasil penetian dapat dijadikan acuan untuk
melakukan penelitian lebih mendalam mengenai budaya belajar dan
program extra kurikuler,terhadap motivasi berprestasi siwa.Bagi guru,
hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai refleksi untuk dapat

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

11

meningkatkan budaya belajar, extra kurikuler terhadap

motivasi

berprestasi siswa dan mengelola pembelajarannya.


2) Bagi kepala sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan
dalam usaha meningkatkan manajemen pendidikan agar dapat bersaing
dalam menghadapi kemajuan pendidikan di masa depan.
5. Landasan Toritik
a Pengertian pembelajaran
a. Pengertian ekstra kurikuler
b. Pengertian Motivasi Berprestasi siswa
1) Pengertian Motivasi Berprestasi
Istilah Need for achievement pertama kali dipopulerkan oleh Mc
Clellanddengan sebutan n-ach sebgai singkatan dari need for achievement. Mc
Clellandmenganggap n-ach sebagai virus mental. Virus mental tersebut
merupakansuatu fikiran yang berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu
denganbaik, lebih cepat lebih efisien dibanding dengan apa yang telah
dilakukansebelumnya. Kalau virus mental tersebut bertingkah laku secara
giat(Weiner,1985: 35).
Menurut

Mc

Clelland

(1987:

40)

pengertian

motivasi

berprestasididefinisikan sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam


kompetisidengan suatu ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain
maupunprestasi sendiri. Lindgren (1976: 67) mengemukakan hal senada
bahwamotivasi

B. Suryobroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 35.

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

12

berprestasi sebagai suatu dorongan yang ada pada seseorangsehubungan dengan


prestasi, yaitu menguasai, memanipulasi serat mengaturlingungan sosial maupun
fisik, mengatasi segala rintangan dan memeliharakualitas kerja yang tinggi,
bersaing melalui usaha-usaha untuk melebihi hasilkerja yang lampau, serta
mengungguli hasil kerja yang lain.
Senadadengan pendapat di atas, Santrork (2003: 103) menjelaskan
bahwamotivasi berprestasi merupakan keinginan untuk menyelesaikan sesuatu
untuk mencapai suatu standar kesuksesan, dan untuk melakukan suatu usaha
dengan tujuan untuk mencapai kesuksesan. Gagne dan Barliner (1975: 77)
menambahkan bahwa motivasi berprestasi adalah cara seseorang untuk berusaha
dengan baik untuk prestasinya.
Menurut Heckhausen (1967: 54) motif berprestasi diartikan sebagai usaha
untuk meningkatkan atau melakukan kecakapan pribadi setinggi mungkin dalam
segala aktivitas dan suatu ukuran keunggulan tersebut digunakan sebagai
pembanding, meskipun dalam usaha melakukan aktivitas tersebut ada dua
kemungkinan yakni gagal atau berhasil. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa
motivasi berprestasi merupakan motif yang mendorong individu untuk mencapai
sukses dan bertujuan untuk berhasil dalam kompetisi dengan beberapa ukuran
keunggulan (standard of excellence). Ukuran keunggulan digunakan untuk standar
keunggulan prestasi dicapai sendiri sebelumnya dan layak seperti dalam suatu
kompetisi.
Dalam teori expectancy-value Atkinson (1960: 56) mengemukakan bahwa
motivasi berprestasi seseorang didasarkan atas dua hal yaitu, adanya tendensi
untuk meraih sukses dan adanya tendensi untuk menghindari kegagalan. Pada
dasarnya keadaan motif itu dimiliki oleh individu, namun keduanya mempunyai
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

13

keadaan berbeda-beda dalam berbagai situasi dan kondisi menurut adanya


prestasi. Lebih jelasnya Atkinson (1958: 34) mengemukakan bahwa persaingan
berdasarkan standar keunggulan, sangat terkait dengan tipekepribadian yang
memiliki motif berprestasi lebih tinggi daripada motif untuk menghindari
kegagalan begitu pula sebaliknya, apabila motif menghindari terjadinya kegagalan
lebih tinggi daripada motif sukses, maka motivasi berprestasi seseorang
cenderung rendah. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi
berprestasi atau achievement motivation merupakan suatu dorongan yang
berhubungan dengan bagaimana melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih
cepat, lebih efisien dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan sebelumnya,
sebagai usaha mencapai sukses atau berhasil dalam kompetisi dengan suatu
ukuran keunggulan yang dapat berupa prestasi orang lain maupun prestasi sendiri.
2) Karakter Motivasi Berprestasi
McClelland (1978: 77) mengemukakan bahwa ada 6 karakteristik
individuyang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, yaitu :
a) Perasaan

yang

kuat

untuk

mencapai

tujuan,

yaitu

keinginan

untukmenyelesaikan tugas dengan hasil yang sebaik-baiknya.


b) Bertangungjawab, yaitu mampu bertanggungjawab terhadap dirinyasendiri
dan menentukan masa depannya, sehingga apa yang dicitacitakanberhasil
tercapai.
c) Evaluatif, yaitu menggunakan umpan balik untuk menentukantindakan
yang lebih efektif guna mencapai prestasi, kegagalan yangdialami tidak
membuatnya putus asa, melainkan sebagai pelajaranuntuk berhasil.
d) Mengambil

resiko

sedang,

dalam

arti

tindakan-tindakannya

sesuaidengan batas kemampuan yang dimilikinya.


3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

14

e) Menyukai tantangan, yaitu senang akan kegiatan-kegiatan yangbersifat


prestatif dan kompetitif.
f) Kreatif dan inovatif, yaitu mampu mencari peluang-peluang dan
menggunakan kesempatan untuk dapat menunjukkan potensinya.
c. Manajemen Pembelajaran
1) Pengertian Manajemen pembelajaran
Manajemen pembelajaran terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan
pembelajaran. Secara bahasa (etimologi)b manajemen berasal dari kata kerja to
manage yangberarti mengatur.6
Adapun menurut istilah (terminologi) terdapatbanyak pendapat mengenai
pengertian manajemen salahsatunya menurut George R. Terry Manajemen adalah
suatuproses

khas

yang

terdiri

atas

tindakan-tindakan

perncanaan,

pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian untukmenentukan serta


mencapai tujuan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya.7
Sedangkan menurut Hanry L. Sisk mendefinisikanManagement is the
coordination of all resources throughthe processes of planning, organizing,
directing andcontrolling in order to attain stted objectivies. Artinyamanajemen
adalah Pengkoordinasian untuk semua sumber-sumber melalui proses-proses
perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengawasan di dalam
ketertiban untuk tujuan.8
6

Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen; Dasar, Pengertian, danMasalah, (Jakarta: PT Bumi Aksara,
2007), hlm. 1.
7
Malayu S.P. Hasibuan, Manajemen; Dasar..., hlm. 2-3.
8
Hanry L. Sisk, Principles of Management a System Appoach to The Management Proces,
(Chicago: Publishing Company, 1969), hlm. 10.

Selanjutnya, mengenai pembelajaran berasal darikata instruction yang


berarti pengajaran. Pembelajaranpada hakikatnya adalah suatu proses interaksi
antara anakdengan anak, anak dengan sumber belajar, dan anak denganpendidik.9
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

15

Menurut Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003Tentang Sistem


pendidikan. Pembelajaran adalah prosesinteraktif peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajarpada suatu lingkungan belajar.10
Dari beberapa pengertian diatas dapat dikatakanbahwa manajemen
pembelajaran merupakan usaha untukmengelola pembelajaran yang meliputi
perencanaan,pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran guna mencapaitujuan
pembelajaran secara efektif dan efesien.
2) Fungsi-fungsi Manajemen Pembelajaran
a) Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan adalah proses penetapan danpemanfaatan sumber
daya secara terpadu yang diharapkandapat menunjang kegiatan-kegiatan
dan upaya-upaya yangakan dilaksanakan secara efisien dan efektif
dalammencapai

tujuan.Dalam

konteks

pembelajaran

perencanaan

dapatdiartikan sebagai proses penyusunan materi pelajaran,penggunaan


media pembelajaran, penggunaan pendekatanatau metode pembelajaran,
dan penilaian dalam suatualokasi waktu yang akan dilaksanakan pada
masa tertentuuntuk mencapai tujuan yang ditentukan.11
9

Mansur, Muslich, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Konstekstual, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2007), hlm. 163.
10
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan.
11
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran : Mengembangkan Standar Kompetensi Guru,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005 ) hlm. 17.

PP RI no. 19 th. 2005 tentang standar nasionalpendidikan pasal 20


menjelaskan bahwa; Perencanaanproses pembelajaran memiliki silabus,
perencanaan

pelaksanaan

pembelajaran

yang

memuat

sekurangkurangnyatujuan pembelajaran, materi ajar, metodepengajaran,


sumber belajar, dan penilaian hasil belajar.12
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

16

Sebagai perencana, guru hendaknya dapat mendiagnosa kebutuhan


para siswa sebagai subyekbelajar, merumuskan tujuan kegiatan proses
pembelajarandan

menetapkan

strategi

pengajaran

yang

ditempuh

untukmerealisasikan tujuan yang telah dirumuskan.13


Perencanaan itu dapat bermanfaat bagi gurusebagai kontrol
terhadap diri sendiri agar dapatmemperbaiki cara pengajarannya.14 Agar
dalampelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik untuk ituguru perlu
menyusun komponen perangkat perencanaanpembelajaran antara lain:
(1) Menetukan Alokasi Waktu dan Minggu efektif
Menentukan alokasi waktu pada dasarnyaadalah menetukan minggu
efektif dalam setiapsemester pada satu tahun ajaran. Rencana alokasiwaktu
berfungsi untuk mengetahui berapa jam waktuefektif yang tersedia untuk
dimanfaatkan dalamproses pembelajaran dalam satu tahun ajaran.
Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan standar kompetensi dan
kompetensi dasar minimal yang harus dicapai dengan rumusan standar isi yang
ditetapkan.
(2) Menyusun Program Tahunan (Prota)
Program tahunan (Prota) merupakan rencanaprogram umum setiap mata
pelajaran untuk setiapkelas, yang dikembangkan oleh guru mata
pelajaranyang bersangkutan, yakni dengan menetapkan alokasidalam
waktu satu tahun ajaran untuk mencapai tujuan(standar kompetensi dan
kompetensi dasar) yang telahditetapkan. Program ini perlu dipersiapkan
dandikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran,karena merupakan
pedoman bagi pengembanganprogram-program berikutnya
12

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan, hlm. 15.
13
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, hlm. 91.
14
Suryobroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2009), Cet. II, hlm.
27.

(3) Menyusun Program Semesteran (Promes)


3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

17

Program semester (Promes) merupakanpenjabaran dari program tahunan.


Kalau

Programtahunan

disusun

untuk

menentukan

jumlah

jam

yangdiperlukan untuk mencapai kompetensi dasar, makadalam program


semester diarahkan untuk menjawab minggu keberapa atau kapan
pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar itu dilakukan.
(4) Menyusun Silabus Pembelajaran
Silabus adalah bentuk pengembangan danpenjabaran kurikulum menjadi
rencana pembelajaranatau susunan materi pembelajaran yang teratur
padamata pelajaran tertentu pada kelas tertentu.Komponen dalam
menyusun silabus memuatantara lain identitas mata pelajaran atau
temapelajaran, standard kompetensi (SK), kompetensidasar (KD), materi
pelajaran, kegiatan pembelajaran,indikator, pencapaian kompetensi,
penilaian, alokasiwaktu, dan sumber belajar.
(5) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana

pelaksanaan

pembelajaran

(RPP)disusun

untuk

setiap

Kompetensi dasar (KD) yangdapat dilaksanakan dalam satu kali


pertemuan ataulebih.15 Komponen-komponen dalam menyusun RPP
meliputi: a) Identitas Mata Pelajaran; b) Standar Kompetensi; c)
Kompetensi Dasar; d) Indikator Tujuan Pembelajaran; e) Materi Ajar; f)
Metode Pembelajaran; g) Langkah-langkah Pembelajaran; h) Sarana dan
Sumber Belajar; i) Penilaian dan Tindak Lanjut.
b) Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan proses berlangsungnya
belajar mengajar di kelas yang merupakan inti dari kegiatan di sekolah.
Jadi pelaksanaan pengajaran adalah interaksi guru dengan murid dalam
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

18

rangka menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa dan untuk mencapai


tujuan pengajaran. Dalam fungsi pelaksanaan ini memuat kegiatan
pengelolaan dan kepemimpinan pembelajaran yang dilakukan guru di
kelas dan pengelolaan peserta didik.
Selain itu juga memuat kegiatan pengorganisasian yang dilakukan
oleh kepala sekolah seperti pembagian pekerjaanke dalam berbagai tugas
khusus yang harus dilakukan guru, juga menyangkut fungsi-fungsi
manajemen lainnya. Oleh karena itu dalam hal pelaksanaan pembelajaran
mencakup dua hal yaitu, pengelolaan kelas dan peserta didik serta
pengelolaan guru. Dua jenis pengelolaan tersebut secara rinci akan
diuraikan sebagai berikut:
(a) Pengelolaan kelas dan peserta didik
Pengelolaan kelas adalah satu upayamemperdayakan potensi kelas yang
ada

seoptimalmungkin

untuk

mendukung

proses

interaksi

edukatifmencapai tujuan pembelajaran.Berkenaan dengan pengelolaan


kelas sedikitnyaterdapat tujuh hal yang harus diperhatikan, yaitu
ruangbelajar, pengaturan sarana belajar, susunan tempatduduk, yaitu ruang
belajar, pengaturan sarana belajar,susunan tempat duduk, penerangan,
suhu,

pemanasansebelum

masuk

ke

materi

yang

akan

dipelajari(pembentukan dan pengembangan kompetensi) dan binasuasana


dalam pembelajaran.
(b) Pengelolaan guru
Pelaksanaan sebagai fungsi manajemen diterapkan oleh kepala sekolah
bersama guru dalam pembelajaran agar siswa melakukan aktivitas belajar
untuk

mencapai

tujuan

pembelajaran

yang

telah

direncanakan.

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

19

Sehubungan dengan itu, peran kepala sekolah memegang peranan penting


untuk menggerakkan para guru dalam mengoptimalkan fungsinya sebagai
manajer di dalam kelas.
Guru adalah orang yang bertugas membantu murid untuk mendapatkan
pengetahuan

sehingga

ia

dapat

mengembangkan

potensi

yang

dimilikinya.Guru sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar


mengajar (KBM), memiliki posisi sangat menentukan keberhasilan
pembelajaran, karena fungsi utama guru ialah merancang, mengelola,
melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Guru harus dapat
menempatkan diri dan menciptakan suasana kondusif, yang bertanggung
jawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak.
Dalam rangka mendorong peningkatan profesionalitas guru, secara tersirat
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 35
ayat 1 mencantumkan standar nasional pendidikan meliputi: isi, proses,
kompetensi lulusan, tenaga kependidikan,

sarana

dan prasarana,

pengelolaan, pembiayaan dan penilaian.


Standar yang dimaksud dalam hal ini adalah suatu kriteria yang telah
dikembangkan dan ditetapkan oleh program berdasarkan atas sumber,
prosedur dan manajemen yang efektif sedangkan kriteria adalah sesuatu
yang menggambarkan keadaan yang dikehendaki. Kompetensi yang
dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang
sebenarnya, kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan
pengetahuan dari perbuatan secara profesional dalam menjalankan
tugasnya sebagai guru.
c) Evaluasi Pembelajaran
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

20

Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris yaituevaluation. Menurut


Wand dan Gerald W. Brown evaluasiadalah suatu tindakan atau suatu
proses untuk menentukannilaidari sesuatu. Evaluasi merupakan suatu
upaya untukmengetahui berapa banyak hal-hal yang telah dimiliki
olehsiswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru.
Evaluasi merupakan suatu upaya untuk mengetahuiberapa banyak hal-hal
yang telah dimiliki oleh siswa dari halhalyang telah diajarkan oleh
guru.Evaluasi pembelajaranmencakup evaluasi hasil belajar dan evaluasi
prosespembelajaran. Evaluasi hasil belajar menekankan padadiperolehnya
informasi tentang seberapakah perolehan siswadalam mencapai tujuan
pengajaran yang ditetapkan.
Sedangkan evaluasi pembelajaran merupakan prosessistematis untuk
memperoleh informasi tentang keefektifanproses pembelajaran dalam
membantu siswa mencapai tujuanpengajaran secara optimal.
Dengan demikian evaluasi hasil belajar menetapkan baik buruknya hasil
dari kegiatan pembelajaran. Sedangkanevaluasi pembelajaran menetapkan
baik buruknya proses darikegiatan pembelajaran.
6. Kerangka Pemikiran
Penelitian ini menjelaskan tentang perbedaan kemampuan guru, motivasi
berprestasi dan manajemen pembelajaran antara MTs N Singaparna dan MTs Al
Furqon. Perbedaan ini secara nyata hanya untuk membandingkan antara MTs N
Singaparna yang dalam pelaksanaan pembelajaran siswa-siswinya tidak
diboardingkan dengan MTs Al Furqon yang siswa-siswinya diboardingkan.

7. Hasil Penelitian yang Relevan


3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

21

Salah satu yang memegang peranan penting dalam melakukan penelitian


adalah kajia-kajian penelitian sebelumnya. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat
dijadikan sebagai acuan dan perbandingan dengan penelitian yang akan dilakukan.
1) Sari Julianti(2015) yang melakukan penelitian Hubungan Antara
Kemampuan MengajarDengan MotivasiBerprestasi Guru. Berdasarkan
hasil perhitungan diperoleh hasil koefisien korelasi rxy= 0,317 dengan
sig= 0,02 (p 0,05).Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
positif yang signifikan antara kemampuan mengajar dengan motivasi
berprestasi. Sumbangan efektif (SE) kemampuan mengajar dengan
motivasi berprestasi sebesar 10,1% ditunjukkan oleh koefisien determinasi
(r)

sebesar

0,101.Tingkat

kemampuan

mengajar

gurutergolong

cukupsedangkantingkat motivasi berprestasi tergolong rendah.


2) Yuanita

Dwi

Listyoningrum

(2012)Hubungan

antara

Manajemen

Pembelajaran dan Kompetensi Mengajar Guru dengan Prestasi Belajar


Siswa di SMPN Kota Malang.Berdasarkan hasil analisis data ditemukan
bahwa (1) terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen
pembelajaran dengan prestasi belajar siswa dengan nilai rhitung = 0,812 >
rtabel = 0,185 dan nilai rsquare 65,9%; (2) terdapat hubungan yang
signifikan antara kompetensi mengajar guru dengan prestasi belajar siswa
dengan nilai rhitung = 0,998 > rtabel = 0,185 dan nilai rsquare 99,6%;
serta (3) terdapat hubungan yang signifikan antara manajemen
pembelajaran dan kompetensi mengajar guru dengan prestasi belajar siswa
dengan nilai Fhitung = 14480 > Ftabel = 3,079.Berdasarkan hasil
penelitian tersebut dapat diperoleh kesimpulan (1) terdapat hubungan yang
signifikan antara manajemen pembelajaran dengan prestasi belajar siswa;
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

22

(2) terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi mengajar guru


dengan prestasi belajar siswa; dan (3) terdapat hubungan yang signifikan
antara manajemen pembelajaran dan kompetensi mengajar guru dengan
prestasi belajar siswa.
3) Arifatul Khikmah (2009) yang melakukan penelitian Manajemen
Pembelajaran untuk Peningkatan Prestasi Belajar PAI di MIN Kalibuntu
Wetan Kendal.Hasil penelitian menujukan bahwa. (1) Kondisi objektif
prestasi belajar PAI di MIN Kalibuntu Wetan Kendal cukup baik, prestasi
belajar sebagai hasil yang dicapai oleh peserta didik yang mencakup ranah
kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik, hal ini ditandai Nilai
Pelajaran PAI siswa sudah memenuhi target KKM dengan nilai rata-rata
PAI 76.16. Penerapan amalan agama sudah dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari. Siswa MIN Kalibuntu Wetan telah menjuarai lomba-lomba
PAI dalam even-even dengan predikat baik. (2) Pelaksanaan Manajemen
Pembelajaran

sudah

cukup

baik

yang

mencakup

Perencanaan,

Pembelajaran dan Evaluasi, dengan upaya meningkatkan kemampuan diri,


dedikasi (loyalitas),meningkatkan proses pembelajaran, mengoptimalkan
peran keluarga, dan lingkungan, dan dengan adanya manajemen
pembelajaran dapat meningkatkan prestasi belajar PAI.
8. Hipotesis
Berdasarkan kerangka konseptual, penelitian ini dapat dirumuskan ke
dalam tiga hipotesis penelitian sebagai berikut :
H-1 : Terdapat perbedaan kemampuan guru antara MTs N Singaparna dengan
MTs Al Furqon Singaparna

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

23

H-2 : Terdapat perbedaan motivasi berprestasi antara MTs N Singaparna dengan


MTs Al Furqon Singaparna
H-3 : Terdapat perbedaan manajemen pembelajaran antara MTs N Singaparna
dengan MTs Al Furqon Singaparna.
9. Metodologi Penelitian
a. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah MTs N Singaparna dan MTs Al Furqon
Singaparna. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan mulai dari penyusunan
proposal, observasi awal, penyusunan instrument penelitian, pelaksanaan
penelitian dan penyusunan hasil penelitian sehingga menjadi tesis sebagai tugas
akhir Program Pascasarjana Institut Agama Islam Cipasung (IAIC) Singaparna
Tasikmalaya.
b. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dimana
masalah pengumpulan data mengacu pada data empiris yakni dengan data dan
fakta yang diperoleh di lapangan selama kegiatan penelitian dikembangkan,
kemudian data diolah menggunakan metode statistic untuk menjawab
permasalahan yang ada.
c. Populasi dan Sampel
1) Populasi
Populasi adalah sebagian semua orang, semua kelompok, kejadian atau
objek yang telah dirumuskan secara jelas. Populasi adalah wilayah
generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan (Sugiono, 2004). Populasi yang digunakan
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

24

dalam penelitian ini adalah guru MTS N Singaparna dan guru MTs Al
Furqon Singaparna Tasikmalaya.
2) Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai karakteristik tertentu
atau ciri keadaan yang diukur.
d. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
a) Angket
Angket merupakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain
dengan maksud agar orang yang diberi tersebut bersedianmemberikan
respon

sesuai

dengan

permintaan

pengguna

(Suharsimi

Arikunto;2005).
Untuk teknik angket, instrument yang digunakan adalah sejumlah
pertanyaan angket yang berstruktur, yaitu berisi pertanyaan-pertanyaan
yang

disertai

sejumlah

alternative

jawaban

yang

disediakan.

Responden dalam menjawab terikat pada sejumlah kemungkinan


jawaban yang sudah disediakan. Disediakan angket berstruktur agar
responden tinggal memilih pilihan yang tepat menurut pengalamannya,
jadi tidak perlu berfikir sulit dan tidak perlu mencari alternative
jawaban yang membingungkan, juga akan lebih memudahkan
penelitian dalam mengecek hasil angket.
b) Studi Pustaka
Studi pustaka dipergunakan untuk mendapatkan teori-teori, konsepkonsep sebagai bahan pembanding, penguat atau penolak terhadap
temuan hasil penelitian untuk menarik kesimpulan.
e. Teknik Analisis Data
3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka
Cipta 1997,h 35

25

Analisis yang akan digunakan adalah analisis komparatif independent,


artinya sampel-sampel yang menjadi objek penelitian dapat dipisahkan secara
tegas ( Syofian Siregar ; 2012). Untuk menganalisis dua sampel independent
dengan jenis data interval/rasio digunakan uji t-dua sampel. Perhitungannya
dengan menggunakan bantuan software SPSS 17. Dalam hal ini nanti akan
dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, uji-t dan uji hipotesis.

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

26

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.C dan E.R Hilgar. (1958). Pengantar Psikologiditejemahkan oleh


Nurjanah Taufik dan Rukmini. Burhana ( Jakarta : Erlangga).
Hanry L Sisk. (1969). Priciples of Management a System Apporach to The
Management Process. Chicago : Publishing Company.
http://lib.unnes.ac.id/16882/1/1103502043.pdf
http://pasca.undiksha.ac.id/ejournal/index.php/jurnal_ap/article/viewFile/693/478
http://adischinta.blogspot.com/2013/03/pengaruh-kemampuanmengajar-guru-dalam.html#.VpHPr095r1U
https://iahsolikhah.wordpress.com/2011/12/01/pengaruh-kompetensiguru-terhadap-pembelajaran/
https://www.google.co.id/#q=Pengaruh+kemampuan+guru+terhadap
+manajemen+pembelajaran
https://www.google.com/search?
q=penelitian+tentang+manajemen+pembelajaran&ie=utf8&oe=utf-8
http://sultonimubin.blogspot.co.id/2012/11/al-isra-ayat-81-90-danterjemah.html

John M Echol dan Hasan Shadily. (1984). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta :
Gramedia.
Majid, Abdul. (2005). Perencanaan Pembelajaran : mengembangkan Standar
Kompetensi Guru. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Malayu SP Hasibuan. (2007). Manajemen ; Dasar, Pengertian, dan Masalah.
Jakarta : PT Bumi Aksara.
Mansur, Muslich. (2007). KTSP Pembelajaran Brbasis Kompetensi dan
Kontekstual. Jakarta : Bumi Aksara.
Suryobroto. (1997). Proses Belajar mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 Tentanng Guru dan
Dosen. Surabaya : Kasindo Utama.

3B.Sunyobroto Proses Belajar Mengajar di sekolah, (Jakarta Rineka


Cipta 1997,h 35

i
ii