Anda di halaman 1dari 12

JUMP 7

Diagnosis kerja dan komplikasi, jelaskan!


a Fraktur Pelvis
Fraktur pelvis merupakan 5% dari seluruh fraktur, 2/3 fraktur pelvis
terjadi akibat kecelakaan lalu lintas. 10% diantaranya disertai trauma pada
alatalat dalam rongga panggul seperti uretra, buli buli, rektum serta
pembuluh darah.
Mekanisme trauma
Trauma biasanya terjadi secara langsung pada panggul karena tekanan
yang besar atau karena jatuh dari ketinggian.
Mekanisme trauma pada cincin panggul terdiri atas:
1.

Kompresi anteroposterior

Hal ini biasanya akibat tabrakan antara seorang pejalan kaki dengan
kendaraan. Ramus pubis mengalami fraktur, tulang inominata terbelah dan
mengalami rotasi eksterna disertai robekan simfisis. Keadaan ini disebut
sebagai open book injury.
2.

Kompresi lateral

Kompresi dari samping akan menyebabkan cincin mengalami keretakan.


Hal ini terjadi apabila ada trauma samping karena kecalakaan lalu lintas
atau jatuh dari ketinggian. Pada keadaan ini ramus pubis bagian depan pada
kedua sisinya mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat strain dari
sendi sakroiliaka atau fraktur ilium atau dapat pula fraktur ramus pubis pada
sisi yang sama.
3.

Trauma vertikal

Tulang inominata pada satu sisi mengalami pergerakan secara vertikal


disertai fraktur ramus pubis dan disrupsi sendi sakroiliaka pada sisi yang
sama. Hal ini terjadi apabila seseorang jatuh dari ketinggian pada satu
tungkai
4.

Trauma kombinasi

Pada trauma yang lebih hebat dapat terjadi kombinasi kelainan diatas.
Gambaran klinis
Fraktur pelvis harus dicurigai apabila ada riwayat trauma yang
menekan tubuh bagian bawah atau apabila terdapat luka serut (degloving),

memar, atau hematom di daerah pinggang, sacrum, pubis, atau perineum.


Diagnosis ditegakkan bila ditemukan nyeri subjektif dan objektif, serta
gerakan abnormal pada gelang panggul. Untuk itu, pelvis ditekan ke
belakang dan ke medial secara hati-hati pada kedua spina illiaca anterior
superior, ke medial pada kedua trochanter mayor, ke belakang pada
simphisis pubis, dan ke medial pada kedua crista illiaca. Apabila
pemeriksaan ini menyebabkan nyeri, patut dicurigai adanya fraktur pelvis.
Kemudian dicari adanya gangguan penyerta lain seperti retensi urine atau
hematuria, dan dilakukan pemeriksaan rectal toucher untuk menilai tulang
sacrum dan tulang pubis. Fraktur pelvis sering merupakan bagian dari salah
satu trauma multipel yang dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul.
Komplikasi
Komplikasi Segera

Trombosis vena ilio-femoral, komplikasi ini sering ditemukan dan

sangat berbahaya.
Robekan kandung kemih, robekan dapat terjadi apabila ada trauma

simfisis pubis atau tusukan dari tulang panggul yang tajam.


Robekan uretra, robekan ini terjadi karena ada trauma simfisis pubis

pada daerah uretra pars membranosa.


Trauma rektum dan vagina.
Trauma pembuluh darah besar akan menyebabkan perdarahan masif

sampai syok.
Trauma pada syaraf :
a. Lesi saraf skiatik dapat terjadi pada saat trauma atau pada saat
operasi. Apabila dalam jangka waktu enam minggu tidak ada
perbaikan, sebaiknya lakukan eksplorasi.
b. Lesi pleksus lumbosakralis, biasanya terjadi pada fraktur sakrum
yang bersifat vertikal disertai pergeseran. Selain itu, dapat terjadi
gangguan fungsi seksual apabila mengenai pusat saraf.

Komplikasi Lanjut

Pembentukan tulang heterotrofik, biasanya terjadi setelah trauma


jaringan lunak yang hebat atau setelah operasi. Dalam keadaan ini
pasien dapat diberikan indometasin untuk profilaksis.

Nekrosis avaskular, dapat terjadi pada caput femur beberapa waktu

setelah trauma.
Gangguan pergerakan sendi serta osteoatritis sekunder, apabila terjadi
fraktur pada daerah asetabulum dan tidak dilakukan reduksi yang
akurat, sedangkan sendi ini menopang berat badan, ketidaksesuaian
sendi sehingga terjadi gangguan pergerakan serta osteoatritis di

kemudian hari.
Skoliosiskompensatoar.

Trauma Ginjal
Ginjal terletak di rongga retroperitonium dan terlindung oleh otot-otot
punggung di sebelah posterior dan oleh organ-organ intraperitoneal di
sebelah anteriornya. Karena itu trauma ginjal tidak jarang diikuti oleh
trauma organ-organ yang mengitarinya. Trauma ginjal merupakan trauma
terbanyak pada sistem urogenital, lebih kurang 10% dari trauma pada
abdomen mencederai ginjal. Trauma ginjal dapat menjadi problem akut
yang mengancam nyawa, namun sebagian besar trauma ginjal bersifat
ringan dan dapat dirawat secara konservatif.
Cedera ginjal dapat terjadi secara langsung akibat benturan yang
mengenai daerah pinggang atau tidak langsung yaitu merupakan cedera
deselerasi akibat pergerakan ginjal secara tiba-tiba di dalam rongga
retroperitonium. Goncangan ginjal di dalam rongga retroperitonium
menyebabkan regangan pedikel ginjal sehingga menimbulkan robekan
tunika intima arteri renalis. Robekan ini akan memacu terbentuknya
bekuan-bekuan darah yang selanjutnya dapat menimbulkan trombosis arteri
renalis beserta cabang-cabangnya.
Klasifikasi
Menurut derajat berat ringannya kerusakan pada ginjal, trauma ginjal
dibedakan menjadi cedera minor, cedera mayor, dan cedera pada pedikel
atau pembuluh darah ginjal. Sebagian besar (85%) trauma ginjal merupakan
cedera minor (derajat I dan II), 15% termasuk cedera mayor (derajat III dan
IV), dan 1% termasuk cedera pedikel ginjal.
Klasifikasi trauma ginjal :

Grade I, kontusio ginjal; terdapat perdarahan di ginjal tanpa adanya


kerusakan jaringan, kematian jaringan, maupun kerusakan kaliks.

Hematuria dapat mikroskopik atau makroskopik. Pencitraan normal.


Grade II, hematom subkapsular atau perineal yang tidak meluas, tanpa

adanya kelainan parenkim.


Grade III, laserasi ginjal tidak melebihi 1 cm, tidak mengenai

pelviokaliks, dan tidak terjadi ekstravasasi.


Grade IV, laserasi lebih dari 1 cm dan tidak mengenai pelviokaliks atau
ekstravasasi urine. Laserasi yang mengenai korteks, medulla, dan

pelviokaliks.
Grade V, cedera pembuluh darah utama, avulsi pembuluh darah yang
mengakibatkan gangguan perdarahan ginjal, laserasi luas pada
beberapa tempat/ginjal yang terbelah.

Gambar:
klasifikasi trauma ginjal
Diagnosis
Kecurigaan terhadap adanya trauma ginjal jika terdapat:

Trauma di daerah pinggang, punggung, dada sebelah bawah, dan perut


bagian atas dengan disertai nyeri atau didapatkan adanya jejas pada
daerah itu.

Hematuria.

Fraktur costa sebelah bawah (T8-T12) atau fraktur prosesus spinosus


vertebra.

Trauma tembus pada daerah abdomen atau pinggang.

Cedera deselerasi yang berat akibat jatuh dari ketinggian atau


kecelakaan lalu lintas.
Gambaran klinis yang ditunjukkan oleh pasien trauma ginjal sangat

bervariasi tergantung pada derajat trauma dan ada atau tidaknya trauma
pada organ lain yang menyertainya. Perlu ditanyakan mekanisme cedera
untuk memperkirakan luas kerusakan yang terjadi.
Pada trauma derajat ringan mungkin hanya didapatkan nyeri di daerah
pinggang, terlihat jejas berupa ekimosis, dan terdapat hematuria
makroskopik ataupun mikroskopik. Pada trauma mayor atau ruptur pedikel
seringkali pasien datang dalam keadaan syok berat dan terdapat hematom di
daerah pinggang yang makin lama makin membesar.
Komplikasi
Komplikasi awal yang dapat terjadi pada satu bulan pertama berupa
perdarahan, fistula arteri-vena renalis, hipertensi, ekstravasasi urin, dan
urinoma. Komplikasi lambat yang terjadi hidronefrosis, pembentukan batu,
pyelonefritis akut, hipertensi, fistula arteri-vena, dan pseudoaneurisma.
Kejadian hipertensi post-trauma sebesar <5%. Hipertensi dapat terjadi
segera sebagai akibat kompresi eksternal oleh hematom perirenal, atau
muncul kemudian akibat kompresi dari terbentuknya scar. Hipertensi yang
dimediasi oleh renin dapat terjadi sebagai komplikasi jangka panjang, hal
ini diakibatkan trombosis arteri renalis, trombosis arteri segmental, stenosis
arteri renalis, dan fistula arterivena. Arteriografi akan memberikan
informasi

yang

bermanfaat

pada

kasus

hipertensi

post-trauma.

Penatalaksanaan hipertensi berupa terapi medical, eksisi parenkim yang


iskemik, rekonstruksi vaskular, atau bahkan total nefrektomi.
Arteri-vena fistula biasanya muncul kemudian dengan gejala hematuri,
hipertensi, gagal jantung, dan gagal ginjal yang progresif dan banyak terjadi
pada kasus trauma tembus ginjal. Embolisasi perkutaneus atau stenting
arteri renalis mungkin efektif untuk menangani masalah ini, walaupun
kebanyakan kasus dilakukan operasi terbuka. Pseudoaneurisma merupakan
komplikasi yang jarang. Beberapa penulis melaporkan keberhasilan
embolisasi transkateter untuk menangani pseudoaneurisma.

Trauma Uretra
Berdasarkan anatomi, ruptur uretra dibagi atas ruptur uretra anterior
yang terletak distal diafragma urogenital dan ruptur uretra posterior yang
terletak proksimal diafragma urogenital.
Ruptur Uretra Anterior
Mekanisme trauma
Trauma tumpul atau tembus dapat menyebabkan trauma uretra anterior.
Trauma tumpul adalah diagnosis yang sering pada segmen uretra pars
bulbosa (85%), karena fiksasi uretra pars bulbosa dibawah dari tulang
pubis, tidak seperti uretra pars pendulosa yang mobile. Trauma tumpul pada
uretra pars bulbosa biasanya disebabkan oleh straddle injury atau trauma
pada daerah perineum. Uretra pars bulbosa terjepit diantara ramus inferior
pubis dan benda tumpul, menyebabkan memar atau laserasi pada uretra.
Tidak seperti trauma pada uretra pars prostatomembranous, trauma
tumpul uretra anterior jarang berhubungan dengan trauma organ lainnya.
Kenyataannya, straddle injury menimbulkan cedera cukup ringan, membuat
pasien tidak mencari penanganan pada saat kejadian. Pasien biasanya
datang dengan striktur uretra setelah kejadian yang intervalnya bulan atau
tahun.
Klasifikasi
Klasifikasi ruptur uretra anterior dideskripsikan oleh McAninch dan
Armenakas berdasarkan atas gambaran radiologi

Kontusio : Gambaran klinis memberi kesan cedera uretra, tetapi


uretrografi retrograde normal

Incomplete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi, tetapi


masih ada kontinuitas uretra sebagian. Kontras terlihat mengisi uretra
proksimal atau vesika urinaria.

Complete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi dengan


tidak ada kontras mengisi uretra proksimal atau vesika urinaria.
Kontinuitas uretra seluruhnya terganggu.

Gambaran Klinis
Pada ruptur uretra anterior terdapat memar atau hematom pada penis
dan skrotum. Beberapa tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda
klasik cedera uretra. Bila terjadi rupture uretra total, penderita mengeluh

tidak bisa buang air kecil sejak terjadi trauma dan nyeri perut bagian bawah
dan daerah suprapubik. Pada perabaan mungkin ditemukan kandung kemih
yang penuh.
Kecurigaan ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera
kangkang atau instrumentasi dan darah yang menetes dari uretra. Jika
terjadi ruptur uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari
uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat
hematoma yang terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek,
ekstravasai urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah
dapat menjalar hingga skrotum atau dinding abdomen. Oleh karena itu
robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut
butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu.
Ruptur Uretra Posterior
Mekanisme trauma
Trauma tumpul merupakan penyebab dari sebagian besar ruptur pada
uretra pars posterior. Gangguan pada uretra terjadi sekitar 10% dari fraktur
pelvis tetapi hampir semua gangguan pada uretra membranasea yang
berhubungan dengan trauma tumpul terjadi bersamaan fraktur pelvis.
Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan menimbulkan
kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostatomembranasea. Fraktur pelvis dan robekan pembuluh darah yang berada di
dalam cavum pelvis menyebabkan hematoma yang luas di cavum retzius
sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum ikut terobek, prostat akan
terangkat ke kranial.
Cedera uretra terjadi sebagai akibat dari adanya gaya geser pada
prostatomembranosa junction sehingga prostat terlepas dari fiksasi pada
diafragma urogenitalia. Dengan adanya pergeseran prostat, maka uretra pars
membranasea teregang dengan cepat dan kuat. Uretra posterior difiksasi
pada dua tempat yaitu fiksasi uretra pars membranasea pada ramus
ischiopubis oleh diafragma urogenitalia dan uretra pars prostatika ke
simphisis oleh ligamentum puboprostatikum.
Klasifikasi
Melalui gambaran uretrografi, derajat trauma uretra posterior terbagi
dalam 3 jenis :

Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching


(perengangan). Uretrografi tidak menunjukkan adanya ekstravasasi dan
uretra hanya tampak memanjang

Uretra posterior terputus pada perbatasan prostat-membranasea,


sedangkan

diafragma

urogenitalia

masih

utuh.

Uretrografi

menunjukkan ekstravasai kontras yang masih terbatas di atas diafragma


3

Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa


sebelah proksimal ikut rusak. Uretrografi menunjukkan ekstvasasi
kontras meluas hingga di bawah diafragma sampai ke perineum

Gambaran Klinis
Trias diagnostik dari trauma uretra posterior adalah fraktur pelvis,
darah pada meatus dan urin tidak bisa keluar dari vesica urinaria. Keluarnya
darah dari orificium uretra eksternum merupakan tanda yang paling penting
dari trauma uretra. Adanya darah pada orificium uretra eksternum
mengindikasikan pentingnya uretrografi untuk menegakkan diagnosis.
Pada pemeriksaan rektum bisa didapatkan hematoma pada pelvis
dengan pengeseran prostat ke superior. Bagaimanapun pemeriksaan rektum
dapat diinprestasikan salah, karena hematoma pelvis bisa mirip denagan
prostat pada palpasi. Pergeseran prostat ke superior tidak ditemukan jika
ligament

puboprostikum

tetap

utuh.

Disrupsi

parsial

dari

uretra

membranasea tidak disertai oleh pergeseran prostat.


Prostat dan buli-buli terpisah dengan uretra pars membranasea dan
terdorong ke atas oleh penyebaran dari hematoma pada pelvis. High riding
prostat merupakan tanda klasik yang biasa ditemukan pada ruptur uretra
posterior. Hematoma pada pelvis, ditambah dengan fraktur pelvis kadangkadang menghalangi palpasi yang adekuat pada prostat yang ukurannya
kecil. Sebaliknya terkadang apa yang dipikirkan sebagai prostat yang
normal mungkin adalah hematoma pada pelvis. Pemeriksaan rektal lebih
penting untuk mengetahui ada tidaknya jejas pada rektal yang dapat
dihubungkan dengan fraktur pelvis. Darah yang ditemukan pada jari
pemeriksa menunjukkan adanya suatu jejas pada lokasi yang diperiksa.
Komplikasi

Komplikasi
hematoma,

abses

dini

setelah

periuretral,

rekontruksi
fistel

uretra

uretrokutan,

adalah
dan

infeksi,

epididimitis.

Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi adalah striktur uretra. Striktur,
impotensi, dan inkotinensia urin merupakan komplikasi ruptur uretra
posterior paling berat. Striktur yang mengikuti perbaikan primer dan
anastomosis terjadi sekitar 50% dari kasus. Jika dilakukan sistotomi
suprapubik, dengan pendekatan delayed repair maka insidens striktur
dapat dikurangi sampai sekitar 5%. Insidens impotensi setelah primary
repair, rata-rata sekitar 50%. Hal ini dapat dikurangi hingga 30-35%
dengan drainase suprapubik pada rekontruksi uretra tertunda. Jumlah pasien
yang mengalami inkotinensia urin <2 % biasanya bersamaan dengan fraktur
tulang sakrum yang berat dan cedera nervus S2-4.
1

Pemeriksaan penunjang apa yang dilakukan dalam kasus ini?


Berdasarkan keluhan, regio jejas, dan pemeriksaan yang telah dilakukan,
pasien dicurigai mengalami trauma pelvis, ruptur ren, dan ruptur urethra.
Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk mengetahui diagnosis pasti pada pasien
sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat.
Ruptur Ren
Pemeriksaan laboratorium
Urinalisa, darah rutin dan kreatinin merupakan pemeriksaan laboratorium
yang penting. Urinalisa merupakan pemeriksaan dasar untuk mengetahui adanya
cedera pada ginjal. Hematuria mikroskopis pada pasien trauma dapat didefinisikan
sebagai adanya >5 sel darah merah per-lapang pandang besar, sementara pada
gross hematuria telah dapat dilihat langsung pada urin.
Hematuria merupaka poin diagnostik penting untuk trauma ginjal. Namun
tidak cukup sensitif dan spesifik untuk membedakan apakah suatu trauma minor
ataukah mayor. Beratnya hematuria tidak berkorelasi lurus dengan beratnya trauma
ginjal. Bahkan untuk trauma ginjal yang berat, seperti; robeknya ureteropelvic
junction, trauma pedikel ginjal, atau trombosis arteri dapat tampil tanpa disertai
dengan hematuria.
Hematokrit

serial

merupakan

pemeriksaan

yang

digunakan

untuk

mengevaluasi pasien trauma. Penurunan hematokrit dan kebutuhan akan transfusi


darah merupakan tanda kehilangan darah yang banyak, dan respon terhadap

resusistasi

akan

menjadi

pertimbangan

dalam

pengambillan

keputusan.

Peningkatan kreatinin dapat sebagai tanda patologis pada ginjal.


Pemeriksaan radiologis
Indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan radiologis pada trauma ginjal antara
lain adalah gross hematuri, hematuri mikroskopik yang disertai shok, atau adanya
trauma multi organ.
Ultrasonografi Abdomen
USG merupakan modalitas pencitraan yang populer untuk penilaian awal suatu
trauma abdomen. USG dapat dilakukan dengan cepat, tidak invasif, biaya murah,
dan dapat menilai adannya cairan bebas tanpa paparan radiasi atau zat kontras.
Namun penggunaan USG pada trauma ginjal cukup banyak dipertanyakan,
disamping pemakaiannya sangat bergantung pada operator.
USG dapat mendeteksi adanya laserasi pada ginjal, namun tidak mampu secara
tepat memastikan seberapa dalam dan luas laserasi yang terjadi, dan tidak mampu
menampilkan data yang mendukung untuk menilai ekskresi ginjal dan ada tidaknya
kebocoran urin. USG doppler dapat digunakan untuk menilai aliran darah yang
menuju ke ginjal.
USG dapat digunakan untuk mengevaluasi resolusi urinoma dan hematom
retroperitoneal pada kasus pasien trauma ginjal yang stabil. USG juga dapat
digunakan pada pasien yang hamil dan berguna untuk follow-up rutin dalam
menilai lesi parenkim atau hematom pada pasien yang dirawat di ruang intensive
care unit (ICU). Kesimpulannya, USG berguna pada saat triase pasien dengan
trauma tumpul abdomen dan membantu untuk menentukan modalitas diagnostik
yang lebih agresif. USG abdomen tidak memberikan data yang akurat untuk
menilai derajat trauma ginjal.
One shot-Intraoperative Intraveous Pyelography
Kontras disuntikkan selama resusitasi, dilakukan pengambilan foto 1x pada 10
menit setelah penyuntikan. Pemeriksaan akan memberikan informasi untuk
tindakan laparotomi segera dan data mengenai normal atau tidaknya fungsi ginjal

kontralateral. Pemeriksaan IVP dapat menghindari eksplorasi ginjal yang tidak


perlu.
Computed Tomography
CT scan merupakan standar baku pemeriksaan radiologi pada pasien trauma ginjal
dengan hemodinamik stabil. Pada banyak penelitian CT scan lebih unggul
dibandingkan pencitraan lain seperti IVP, USG atau angiografi. CT scan lebih
akurat untuk menilai lokasi trauma, mendeteksi kontusio dengan jelas, memberikan
gambaran retroperitoneum dan hematom, dan secara simultan memberikan
gambaran abdomen dan pelvis. CT scan juga memberikan keunggulan dalam
gambaran detail anatomi, yang mencakup; laserasi ginjal, ada tidaknya trauma
penyerta, dan gambaran ginjal kontralateral. Luasnya hematom yang tampak pada
CT scan dapat dijadikan dasar evaluasi pada kasus trauma tumpul dan penentuan
terapi lebih lanjut.
Magnetic Resonance Imaging
Walaupun MRI tidak banyak digunakan pada sebagian besar kasus trauma ginjal,
namun beberapa penelitian telah menunjukkan beberapa manfaat MRI. MRI (1,0
tesla) dapat dengan akurat mangambarkan hematom perirenal, viabilitas fragmen
ginjal,

dan

mendeteksi

kelainan

ginjal

sebelumnya,

namun

gagal

memvisualisasikan ekstravasasi urin pada pemeriksaan awal. Namun demikian


MRI bukan pilihan diagnostik pertama pada pasien trauma karena waktu
pemeriksaannya yang lama dan biayanya yang mahal.
Angiografi
CT scan telah menggantikan penggunaan angiografi dalam menilai derajat trauma
ginjal, hal ini dikarenakan angiografi kurang spesifik, waktu pemeriksaan yang
lama, dan lebih invasif. Namun demikian, angiografi lebih spesifik dalam
menentukan lokasi pasti dan derajat trauma vaskular. Angiografi dapat menentukan
lacerasi ginjal, ekstravasasi, dan trauma pedicle.
Indikasi utama angiografi pada trauma ginjal adalah ginjal yang nonvisual pada
pemeriksaan IVP setelah trauma yang berat dan tidak memiliki fasilitas CT scan.
Angiografi juga diindikasikan pada pasien dengan hemodinamik stabil, untuk

menilai trauma pedicle yang tidak begitu jelas pada CT scan atau pada pasien
dengan hematuri yang persisten.
Ruptur Uretra
Pemeriksaan radiologis
Uretrografi retrograde menjadi pilihan pemeriksaan karena akurat, sederhana, dan
cepat dilakukan pada keadaan trauma. Pemeriksaan radiologik dengan uretrografi
retrograde dapat memberi keterangan letak dan tipe ruptur uretra. Uretrografi
retrograde akan menunjukkan gambaran ekstravasasi bila terdapat laserasi uretra,
sedangkan kontusio uretra tidak tampak adanya ekstravasasi. Bila tidak tampak
adanya ekstravasasi maka kateter uretra boleh dipasang.
Fraktur Pelvis
Pemeriksaan radiologis
Setiap penderita trauma panggul harus dilakukan pemeriksaan radiologis
dengan prioritas pemeriksaan rongent posisi AP. AP Axial Outlet Projection
untuk tulang pelvis anterior/inferior (Taylor Method), proyeksi ini sangat bagus
untuk memperlihatkan pubis bilateral, ischium pada fraktur pelvis dan
displacement dan AP Axial Inlet Projection Pelvis yang akan memperlihatkan
proyeksi axial dari pelvic ring ( rongga pelvis ) untuk menentukan trauma pelvis
pada posterior displacement rotasi kedalam atau keluar dari pelvis anterior.
Pemeriksaan rongent posisi lain yaitu oblik, rotasi interna dan eksterna bila
keadaan umum memungkinkan.