Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kesehatan adalah kebutuhan dasar dan modal utama bagi setiap manusia
untuk hidup. Walaupun kenyataannya tidak semua orang memperoleh atau
memiliki derajat kesehatan yang optimal, karena suatu penyakit. Penyakit atau
kelainan pada sistem perkemihan diantaranya adalah batu nefrolitiasis atau batu
ginjal.
Sistem perkemihan merupakan organ vital dalam melakukan ekskresi dan
melakukan eliminasi sisa-sisa hasil metabolisme tubuh. Aktivitas sistem
perkemihan dilakukan secara hati-hati untuk menjaga komposisi darah dalam
batas yang bisa diterima. Setiap adanya gangguan dari fisiologis di atas akan
memberikan dampak yang fatal.
Penyakit yang terjadi pada sistem perkemihan bervariasi, salah satunya
yaitu Nefrolitiasis. Nefrolitiasis adalah suatu keadaan terdapatnya batu dalam
saluran kemih baik dalam ginjal,ureter maupun buli-buli. Kondisi ini
memberikan gangguan pada sistem perkemihan dan memberikan masalah
keperawatan pada pasien.
Batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup signifikan, baik di
Indonesia maupun di dunia. Prevalensi penyakit ini diperkirakan 13% pada lakilaki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa, dengan puncak usia dekade ketiga
dan keempat. Angka kejadian batu ginjal berdasarkan data yang dikumpulkan
dari rumah sakit di seluruh Indonesia tahun 2002 adalah sebesar 37.636 kasus
baru, dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Selain itu jumlah pasien
yang dirawat mencapai 19.018 orang, dengan mortalitas 378 orang.
Batu ginjal menyebabkan obstruksi pada ginjal sehingga menjadi
hidronefrosis, lalu apabila hidronefrosis tidak ditangani maka akan terjadi

LBM 3. Kolik

|1

komplikasi-komplikasi, diantaranya adalah gagal ginjal, infeksi, hidronefrosis,


avaskuler ischemia yang akhirnya dapat menyebabkan gagal ginjal serta akan
mengakibatkan ancaman kematian bagi penderita.

LBM 3. Kolik

|2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Skenario
KOLIK
Seorang pasien laki-laki bernama Pak Xio, usia 38 tahun dibawa ke
instalasi gawat darurat dengan keluhan sakit hebat yang mendadak pada
pinggang kiri yang disertai mual dan muntah sejak 3 hari ini. Keluhahan ini
sudah sering dirasakan pasien sejak 1 bulan yang lalu yang hilang timbul dan
sekarang semakin bertambah. Pasien juga mengeluh nyeri disertai rasa mual dan
juga muntah. Pada awalnya nyeri dirasakan pada perut kiri bagian bawah
menjalar ke selangkangan, kemudian beberapa hari ini memberat sampai nyeri
terasa hingga ujung kemaluan. Nyeri yang dirasakannya tersebut hanya sedikit
menghilang dengan obat anti nyeri dan kemudian timbul lagi. Tetapi sejak 1
minggu terakhir, nyeri pinggang yang dialami Pak Xio disertai dengan kencing
yang berwarna kemerahan. Selain itu pasien juga mengeluhkan demam, rasa
cepat lelah, dan badan terasa lemah.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38,9C dan nyeri ketuk pada
daerah pinggang kiri. Dari anamnesis diketahui bahwa Pak Xio berprofesi
sebagai pegawai kantoran dengan aktivitas duduk lama lebih dominan. Dalam 1
hari ia dapat menghabiskan 10 jam dalam posisi duduk. Pasien dalam satu hari
hanya minum air kurang lebih 3-5 gelas ukuran kecil. Dengan beberapa
penemuan tersebut, maka dokter menyarankan untuk pemeriksaan laboratorium
USG dan Radiologi untuk membantu menegakkan diagnosis.
Kira-kira apa yang terjadi dengan Pak Xio ?

2.2

Teminologi
1) USG

LBM 3. Kolik

|3

USG itu adalah kepanjangan dari Ultrasonography yang artinya adalah alat
yang prinsip dasarnya menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang
tidak dapat didengar oleh telinga kita. Dengan alat USG ini sekarang
pemeriksaan organ-organ tubuh dapat dilakukan dengan aman (tidak ada
Efek radiasi).
2) Radiologi
Radiologi adalah ilmu kedokteran untuk melihat bagian tubuh manusia
dengan menggunakan pancaran atau radiasi gelombang, baik gelombang
elektromagnetik maupun gelombang mekanik, dengan hasil pemeriksaan
berupa foto/gambar/imaging yang dapat membantu dokter dalam merawat
pasien.

2.3

Permasalahan
1
2

3
4
5
6

Jelaskan anatomi saluran kemih ?


Interpretasi keluhan pasien pada skenario :
- Bagaimana mekanisme nyeri mendadak pada pinggang kiri pasien ?
- Mengapa nyeri yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu hilang timbul dan
-

sekarang semakin memberat ?


Bagaimana proses nyeri yang awalnya dirasakan pada perut kiri bawah

kemudian menjalar ke selangkangan hingga ujung kemaluan ?


Kenapa pasien mengeluhkan mual dan muntah ?
Apa hubungan penyakit yang dialami pasien dengan keluhan demam,

rasa cepat lelah, dan badan terasa lemah ?


Bagaimana mekanisme kencing kemerahan pada pasien ?
Mengapa nyeri pinggang pada pasien timbul lagi walau nyerinya hilang

sedikit setelah diberi obat ?


Apa hubungan pekerjaan pasien yang sering duduk lama dan minum

hanya 3-5 gelas kecil perhari dengan penyakit yang dialami pasien ?
Interpretasi hasil pemeriksaan :
- Mengapa terdapat nyeri ketuk pada pinggang kiri pasien ?
Apa saja diagnosa banding yang mungkin diderita oleh pasien tersebut ?
Pemeriksaan apa saja yang dapat dilakukan pada kasus tersebut ?
Bagaimana penatalaksanaan pada pasien tersebut ?

2.4 Pembahasan

LBM 3. Kolik

|4

2.4.1 Anatomi Saluran Kemih

LBM 3. Kolik

|5

a.

Ginjal

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang yang


terletak di kedua sisi kolumna vetrebalis. Ginjal terletak di bagian
belakang abdomen atas, di belakang peritoneum, di depan dua iga
terakhir, dan tiga otot besar-transversus abdominsalis, kuadratus
lumborum,dan psoas mayor.

Ginjal sebelah kanan lebih rendah

dibandingkan dengan gijal kiri karena tertekan kebawah oleh hati.


Kutub atasnya terletak setinggi iga kedua belas. Sedangkan kutub
atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas.
Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan
lebar 2,5 cm pada bagian paling tebal dan berbentuk seperti kacang.
Terletak pada bagian belakang abdomen. Ginjal kanan terletak lebih
rendah dari ginjal kiri karena ada hepar di sisi kanan. Ginjal memiliki
tiga bagian penting yaitu korteks, medulla dan pelvis renal.
Bagian paling superfisial adalah korteks renal, yang tampak
bergranula. Di sebelah dalamnya terdapat bagian lebih gelap, yaitu
medulla renal, yang berbentuk seperti kerucut disebut piramid renal,
dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks
atau papilla renal. Di antara piramid terdapat jaringan korteks,
disebut kolum renal (Bertini).
Ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar
disebut pelvis renal. Pelvis renal bercabang dua atau tiga, disebut

LBM 3. Kolik

|6

kaliks mayor yang masing-masing bercabang membentuk beberapa


kaliks minor, yang langsung menutupi papilla renal dari piramid.
Kaliks minor ini menampung urin yang terus-menerus keluar dari
papila. Dari kaliks minor, urin masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renal
kemudian ke ureter, sampai akhirnya ditampung di dalam kandung
kemih.
Setiap ginjal terdapat satu juta atau lebih nefron, masing-masing
nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen
vaskuler terdiri atas pembuluh-pembuluh darah, yaitu glomerulus dan
kapiler peritubuler, yang mengitari tubuli. Komponen tubuler berawal
dengan kapsula Bowman (glomerular) dan mencakup tubuli
kontortus proksimal, ansa Henle dan tubuli kontortus distal. Dari
tubuli distal, isinya disalurkan ke dalam duktus koligens (saluran
penampung atau pengumpul). Kedua ginjal menghasilkan sekitar 125
ml filtrat per menit; dari jumlah ini, 124 ml diabsorpsi dan hanya 1
ml dikeluarkan ke dalam kaliks-kaliks sebagai urin (Guyton, 2007).
Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit
berupa ekskresi kelebihan air dan elektrolit, mempertahankan
keseimbangan asam basa, mengekskresi hormon, berperan dalam
pembentukan vitamin D, mengekskresi beberapa obat-obatan dan
mengekskresi renin yang turut dalam pengaturan tekanan darah.

Fungsi ginjal :
1) Pembentukan urine
Ginjal membentuk urine mengalir melalui ureter ke kandung
kemih untuk disimpan sebelum diekskresi. Komposisi urine
menunjukkan pertukaran zat antara nefron dan darah di kapiler
renal. Produk sisa metabolisme protein diekskresikan, kadar
elektrolit

dikontrol

dan

pH

(keseimbangan

asam-basa)

dipertahankan dengan ekskresi ion hidrogen. Terdapat tiga proses

LBM 3. Kolik

|7

yang terlibat dalam pembentukan urine. (Nurachmah dan Rida,


2011).
Proses
Filtrasi

Tempat
Glomerulus

Hasil
Urin primer

Zat-zat yang diproses


Disaring; sel-sel darah,
keping darah, potein

Reabsorps

Pembuluh

proksimal

asam amino, ion-ion

Lengkung Henle

Urin sekunder

organik, air
Diserap kembali: ion

Urin sekunder

natrium, air
Diserap kembali: ion

Urin sekunder

natrium, air
Diserap kembali: ion

Urin sekunder

natrium, urea, air


Ditambahkan: ion-ion H+,

Urin sekunder

urea, ion-ion K+, kreatinin


Ditambahkan: ion-ion H+,

Pembuluh distal
Pembuluh
Sekresi

pengumpul
Pembuluh
proksimal
Pembuluh distal

Urin sekunder

plasma
Diserap kembali: glukosa,

NH3
2) Filtrasi
Filtrasi terjadi di dinding semipermeabel glomerulus dan kapsul
Bowman. (Nurachmah dan Rida, 2011).
3) Mengatur keseimbangan keluaran air dan urine
Volume urine diatur terutama oleh hormon antidiuretik yang
dilepaskan di dalam darah oleh lobus posterior kelenjar hipofisis.
(Nurachmah dan Rida, 2011).
Saat volume darah menigkat, reseptor regangan di atrium
jantung melepaskan hormon ANP. Hormon ini menurunkan
reabsorpsi natrium dan air oleh tubulus kontortus proksimal dan
duktus kolektivus, yang berarti bahwa lebih banyak natrium dan
air yang diekskresi. (Nurachmah dan Rida, 2011).
4) Keseimbangan elektrolit
LBM 3. Kolik

|8

a) Keseimbangan natrium dan kalium


Natrium merupakan kation (ion bermuatan positif) yang
paling umum terdapat dalam cairan ektraselular dan kalium
merupakan kation intaselular yang paling umum. Normalnya,
ion ini direabsorpsi di kolon (Nurachmah dan Rida, 2011).
b) Sistem-Renin-Angiotensin-Aldosteron
Natrium merupakan konstituen normal dari urine dan jumlah
yang diekskresi diatur oleh hormone aldosteron yang
disekresi oleh korteks adrenal. Sel di dalam arterior aferen
nefron distimulasi untuk memproduksi enzim renin oleh
stimulasi simpatik, volume darah yang rendah, atau tekanan
darah yang rendah. Renin mengubah protein plasma
angiotensinogen,

yang

diproduksi

oleh

hati,

menjadi

angiotensin 1. Renin dan peningkatan kadar kalium darah


juga menstimulasi kelenjar adrenal untuk menyekresi
aldosteron. (Nurachmah dan Rida, 2011).
c) Keseimbangan kalsium
Pengaturan kadar kalsium dicapai dengan sekresi hormon
paratiroid yang terkoordinasi. (Nurachmah dan Rida, 2011).
d) Keseimbangan pH
Untuk mempertahankan pH normal darah (keseimbangan
asam-basa), sel tubulus kontortus proksimal menyekresi ion
hidrogen. Dalam filtrat, sel ini bergabung dengan penyangga:
Bikarbonat, membentuk asam karbonat:
(H+ + HCO3 H2CO3)
Amonia, membentuk ion ammonium:
(H+ + NH3 NH4+)
Hidrogen fosfat, membentuk dihidrogen fosfat:
(H+ + HPO32- H2PO3-)
b. Ureter
Ureter terdiri dari dua saluran pipa yang masing-masing
menyambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria).
Berfungsi untuk menyalurkan urin yang telah di bentuk di dalam
ginjal

ke

vesica

urinaria.

Panjangnya

kira-kira
LBM 3. Kolik

25|9

30cm,..dengan..penampan
g

0,5

cm.

Ureter

sebagian terletak dalam


rongga

abdomen

dan

sebagian terletak dalam


rongga

pelvis.

mempunyai
mukosa

Ureter
membran

yang

dilapisi

dengan epitel kuboid dan


dinding otot yang tebal.
Urin disemprotkan ke bawah ureter oleh gelombang peristaltik, yang
terjadi sekitar 1-4 kali per menit dan urin memasuki kandung kemih
dalam bentuk pancaran.
Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan
disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis.
Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding
vesika urinaria pada sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu
menembus vesika urineria, dinding atas dan dinding bawah ureter
akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk
katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dan vesika urinaria.
Ureter pada wanita terdapat di belakang fossa ovarika dan
berjalan ke bagian medial dan ke dapan bagian lateral serviks uteri
bagian atas , vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam
perjalanannya, ureter didampingi oleh arteri iterina sepanjang 2,5 cm
dan sellanjutnya arteri ini menyilang ureter dan mmenuju ke atas di
antara lapisan ligamentum. Ureter mempuunyai 2 cm dari sisi.
c. Kandung Kemih (Vesica Urinaria)

LBM 3. Kolik

| 10

Vesica urinaria merupakan suatu kantong berotot yang dapat


mengempis, terletak dibelakang simfisis pubis. Vesica urinaria
mempunyai tiga muara: dua dari ureter dan satu menuju uretra. Dua
fungsi vesica urinaria adalah: (1) sebagai tempat penyimpanan urin
sebelum keluar dari tubuh dan (2) berfungsi mndorong urine keluar
dari tubuh (dibantu uretra).
Ketika kandung kemih kosong atau terisi setengahnya kandung
kemih tersebut terletak di dalam pelvis, ketika kandung kemih terisi
lebih dari setengahnya maka kandung kemih tersebut menekan dan
timbul ke atas dalam abdomen di atas pubis. Dinding kandung kemih
terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), Tunika muskularis
(lapisan otot), Tunika sabmukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian
dalam) (Ethel, 2003).
d. Uretra
Uretra adalah saluran kecil yang dapat mngambang, berjalan
dari vesica urinaria sampai ke luar tubuh. Uretra pria sangat berbeda
dari uretra wanita. Pada laki-laki, sperma berjalan melalui uretra
waktu

ejakulasi.

Uretrapada>laki-laki>merupakan>tuba..dengan

panjang sekitar 8 inci (20cm) dan memanjang dari kandung kemih ke

LBM 3. Kolik

| 11

ujung penis. Uretra pada laki-laki mempunyai tiga bagian yaitu :


uretra prostatika, uretra membranosa dan uretra spongiosa. Uretra
wanita jauh lebih..pendek..daripada..pria,..karena pada perempuan
1
sekitar 1 2

inci (4 cm) dan memanjang dari kandung kemih ke

arah ostium diantara labia minora kira-kira 2,5 cm di sebelah


belakang klitoris. Uretra ini menjalar tepat di sebelah depan vagina.
Lapisan uretra wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar),
lapisan spongiosa dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).
Muara uretra keluar dari tubuh disebut meatus urinarius.
1.

2.4.2 Interpretasi Keluhan Pasien Pada Skenario


Bagaimana mekanisme nyeri mendadak pada pinggang kiri pasien ?
Pasien mengeluhkan nyeri pada pinggang sebelah kiri dikarenakan
adanya aktivitas peristaltik otot polos sistem calices ataupun ureter
meningkatkan dalam usaha mengeluarkan batu saluran kemih. Akibatnya
terjadi peningkatan tekanan intraluminal yang akan membuat peregangan
saraf-saraf terminal dan memberikan sensasi nyeri.
Semua batu pada saluran kemih dapat menyebabkan nyeri, namun
sifat atau karakteristik nyeri yang timbul tergantung pada lokasi batu.
Gejala umum yang dirasakan pasien batu ginjal adalah nyeri kolik, yaitu
rasa amat nyeri yang hilang dan timbul di daerah usus dan sekitarnya,
akut di daerah pinggul, dan biasanya menjalar ke inguinal dan kantung

LBM 3. Kolik

| 12

buah pelir. Jika batu turun ke saluran kemih bagian dalam atau ureter,
nyeri mungkin akan terpusat pada rongga perut atau abdomen, tetapi
tergantung juga pada letak batunya. Kolik renal atau ureter dirasakan
pasien sebagai keadaan yang sangat nyeri. Jika batu ureter mendekati
ureterovesikal junction, keluhannya dapat berupa nyeri pada seperempat
lingkaran bawah perut, sering kemih, kemih tidak tertahan, dan nyeri saat
kemih.
Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan
pada wanita mendekati kandung kemih, sedangkan pria mendekati testis.
Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar
biasa, akut, dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia.
Apabila batu berasa di dalam pelvis ginjal, penyebab nyerinya
adalah hidronefrosis dan nyeri ini tidak tajam, tetap, dan dirasakan di area
sudut kostovertebra. Apabila batu turun ke dalam ureter, pasien akan
mengalami nyeri yang hebat, kolik, dan rasa seperti ditikam.

Mengapa nyeri yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu hilang timbul
dan sekarang semakin memberat ?
Nyeri yang hilang timbul pada pasien diakibatkan oleh aktivitas
peristaltik otot polos sistem calices ataupun ureter meningkatkan dalam
usaha mengeluarkan obstruksi pada saluran kemih. Dimana saat terjadi
gerakan peristaltik tekanan intraluminal disekitar obstruksi akan
mangakibatkan peregangan saraf terminal yang memberi saraf nyeri.
Sedangkan saat otot polos berelaksasi nyerinya akan berkurang bahkan
hilang karena tekanan intraluminalnya menurun. Sehingga nyeri yang
dirasakan pasien hilang timbul.
Adanya batu atau obstruksi pada saluran kemih dalam waktu
satu bulan akan memperberat rasa nyerinya, hal ini dikarenakan semakin
besarnya obstruksi dan menyumbat saluran kemih sehingga dapat

LBM 3. Kolik

| 13

menimbulkan hidronefrosis maupun infeksi. Hal ini mengakibatnya nyeri


menetap pada pasien tersebut.
Bagaimana proses nyeri yang awalnya dirasakan pada perut kiri
bawah

kemudian

menjalar

ke

selangkangan

hingga

ujung

kemaluan ?
Perut kiri bawah di persarafi oleh saraf yang melekat pada T10 T12,
saat adanya rangsangan nyeri atau rasa nyeri pada bagian tersebut akan
mengirim impuls umpan balik ke T10 T12, dimana akibatnya impuls
tersebut akan menjalar dan di teruskan ke bagian yang di persarafi oleh
T10 T12, yaitu organ colon, ginjal, vesika urinaria, retum, dan organ
genitalia, yang merukan persarafan dari T12, kemudian setelah impulnya
berjalan ke organ tersebut, akan terjadi umpan balik kembali yaitu ke
bagian persarafan lain yang juga mempersarafi organ-organ tersebut yaitu
ke L1-L2 melalui n. splanica lumbalis, akibatnya daerah yang dipersarafi
oleh L1-L2 akan merasakan nyeri, seperti pada skenario dirasakan nyeri
menjalar pada bagian selangkangan karena bagian selangkangan tersebut
di persarafi oleh L1, sedangkan bisa dirasakan nyeri pada ujung kemalua
karena, organ-organ tadi seperti rectum, ginjal, vesica urinaria, dan organ
genitalianya, juga dipersarafi oleh persarafan dari S2-S4 melalui n. pelvic,
sehingga dapat terjadi umpuls umopan balik juga ke S2-S4, dimana pada
bagian ujung kemaluan tersebut di persarafi oleh S2 sehingga dapat
dirasakan nyeri pada bagian ujung kemaluan pada skenario.
Kenapa pasien mengeluhkan mual dan muntah ?
Batu yang tersimpan lama dalam ginjal dapat menyebabkan infeksi pada
saluran kemih. Semakin lama penyumbatan terjadi, maka urine akan
kembali mengalir ke dalam ginjal yang dapat menimbulkan penekanan
yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) yang menyebabkan
timbulnya

rasa

mual

ingin

muntah

dan

perut

bagian

bawah

LBM 3. Kolik

| 14

menggembung. Gejala yang dialami pasien tersebut berhubungan dengan


kontraksi lambung yang dipengaruhi oleh kontraksi di ginjal yang letak
anatominya di bagian inferior lambung.
Apa hubungan penyakit yang dialami pasien dengan keluhan
demam, rasa cepat lelah, dan badan terasa lemah ?
Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal.
Obstruksi pada saluran kemih yang cukup lama dapat mengakibatkan
infeksi. Hal ini dikarenakan residu urin akibat dari obstruksi tersebut akan
menurunkan resistensi terhadap kuman dan bakteri. Sehingga bakteri
lebih mudah menginvasi. Kemudian bakteri tersebut akan menghasilkan
pirogen eksogen yang akan menstimulasi sel-sel darah putih. Sel-sel
darah putih tersebut akan mengeluarkan zat kimiayang dikenal dengan
pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-, dan IFN). Pirogen eksogen dan
pirogen endogen akan merangsang endotelium hipotalamus untuk
membentuk prostaglandin. Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan
meningkatkan patokan termostat di pusat termoregulasi hipotalamus.
Sementara rasa cepat lelah dan lemah yang dialami pasien
dikarenakan adanya gangguan fungsi pada ginjal baik itu hidronefrosis
ataupun infeksi yang diakibatkan oleh obstruksi. Adanya gangguan ginjal
menyebabkan menurunnya hormon eritropoietin yang berperan dalam
proses pembentukan sel darah merah. Sehingga pasien akan mengalami
anemia dan menyebabkan pasien merasa lelah dan lemah.
Bagaimana mekanisme kencing kemerahan pada pasien ?
Kencing kemerahan merupakan salah satu akibat dari adanya batu.
Adanya obstruksi yang disebabkan oleh tersangkutnya kristal tersebut di
saluran perkemihan membuat pasien berkemih secara terputus-putus atau
tidak puas. Obstruksi ini dapat menimbulkan lesi pada membran mukosa

LBM 3. Kolik

| 15

saluran sehingga terjadi perdarahan yang menyebabkan hematuria atau


adanya darah di dalam urine.
Mengapa nyeri pinggang pada pasien timbul lagi walau nyerinya
hilang sedikit setelah diberi obat ?
Nyeri yang timbul lagi pada pasien tersebut dikarenakan obat yang
diberikan hanyalah untuk mengatasi nyeri pinggangnya saja. Sementara
penyebab atau faktor pencentus dari rasa nyeri tersebut tidak ditangani.
Sehingga walau pasien sudah diberi obat untuk menghilangkan nyeri
hanya akan berefek sementara. Setelahnya akan timbul kembali nyeri
tersebut karena penyebabnya belum diatasi.
Apa hubungan pekerjaan pasien yang sering duduk lama dan minum
hanya 3-5 gelas kecil perhari dengan penyakit yang dialami pasien ?
Kurang mengkonsumsi air putih menyebabkan sistem metabolisme tubuh
tidak berjalan dengan optimal. Ginjal memerlukan cairan dalam jumlah
yang cukup banyak untuk menguraikan zat-zat terurai dalam tubuh.
Kurangnya asupan cairan akan mengakibatkan terjadinya pengkristalan
bahan organik maupun anorganik yang terlarut dalam urin. Selanjutnya
kristal-kristal tersebut akan mengadakan presipitasi membentuk inti batu
(nukleasi), mengadakan agregasi, dan membentuk retensi kristal.
Selain itu, faktor pekerjaan dan olahraga dapat mempengaruhi
terbentuknya batu ginjal. Risiko penyakit ini bertambah tinggi pada orang
dengan aktivitas yang jarang berolahraga atau tidak banyak bergerak, serta
pada orang yang pekerjaannya terlalu banyak duduk. Hal ini dikarenakan
aktivitas yang kurang aktif menyebabkan kurang lancarnya peredaran
darah maupun urine, sehingga mudah terbentuk batu ginjal. Selain itu,
pola hidup yang aktif dapat membantu pembentukan kalsium menjadi
tulang. Sebaliknya, gaya hidup yang kurang bergerak dapat mendorong
kalsium beredar dalam darah dan berisiko menjadi kristal kalsium.

LBM 3. Kolik

| 16

2.4.3 Interpretasi Pemeriksaan Fisik dan Vital Sign


Mengapa terdapat nyeri ketuk pada pinggang kiri pasien ?
Adanya nyeri ketuk pada sudut kostovertebra, biasanya menunjukan
adanya pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal. Pada
kasus di skenario kemungkinan pasien mengalami hidronefosis akibat
obstruksi. Dimana obstruksi itu akan mengakibatkan gangguan aliran urin
dan akhirnya urin akan mengalami refluks hingga menyebabkan ginjal
membesar. Ginjal yang membesar ini akan mengakibatkan fasia renalis
meregang berlebihan dan rangsangan terhadap ketukan meningkat.
Sehingga akan terasa nyeri saat dilakukan ketukan pada sudut
kostovertebra.
2.4.4 Diagnosa Banding
1. UROLITHIASIS
a. Definisi
Urolithiasis adalah penyakit dimana didapatkan masa keras
seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran
kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (kandung
kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan,
penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di
dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu
kandung kemih). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam
kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.
Urolithiasis dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar
buah

anggur. Batu

yang

berukuran

kecil

biasanya

tidak

menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar bersama dengan


urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih atas
(ginjal dan ureter) menimbulkan kolik dan jika batu berada di
saluran kemih bagian bawah (kandung kemih dan uretra) dapat

LBM 3. Kolik

| 17

menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat ureter, pelvis


renalis maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung
atau kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang
rusuk dan tulang pinggang yang menjalar ke perut juga daerah
kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini disebabkan karena
adanya respon ureter terhadap batu tersebut, dimana ureter akan
berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram yang hebat.
b. Etiologi
Secara epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah
terjadinya urolithiasis pada seseorang. Faktor-faktor tersebut adalah
faktor intrinsik, yaitu keadaan yang berasal dari tubuh seseorang
dan faktor ekstrinsik, yaitu pengaruh yang berasal dari lingkungan
disekitarnya.
Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam individu
sendiri. Termasuk faktor intrinsik adalah umur, jenis kelamin,
keturunan, riwayat keluarga.
1) Umur
Umur terbanyak penderita urolithiasis di negara-negara Barat
adalah 20-50 tahun, sedangkan di Indonesia terdapat pada
golongan umur 30-60 tahun. Penyebab pastinya belum
diketahui, kemungkinan disebabkan karena adanya perbedaan
faktor sosial ekonomi, budaya, dan diet. Menurut Basuki,
penyakit urolithiasis paling sering didapatkan pada usia 30-50
tahun.
2) Jenis kelamin
Kejadian urolithiasis berbeda antara laki-laki dan wanita.
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan
dengan pasien perempuan. Tingginya kejadian urolithiasis pada
laki-laki disebabkan oleh anatomis saluran kemih pada laki-laki

LBM 3. Kolik

| 18

yang lebih panjang dibandingkan perempuan, secara alamiah


didalam air kemih laki-laki kadar kalsium lebih tinggi
dibandingkan perempuan, dan pada air kemih perempuan kadar
sitrat (inhibitor) lebih tinggi, laki-laki memiliki hormon
testosterone yang dapat meningkatkan produksi oksalat
endogen di hati, serta adanya hormon estrogen pada perempuan
yang mampu mencegah agregasi garam kalsium.
3) Heriditer/ Keturunan
Faktor keturunan
terjadinya

dianggap

penyakit

mempunyai

urolithiasis.

peranan dalam

Walaupun

demikian,

bagaimana peranan faktor keturunan tersebut sampai sekarang


belum diketahui secara jelas.

Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah faktor yang berasal dari lingkungan luar
individu seperti geografi, iklim, serta gaya hidup seseorang.
1) Geografi
Prevalensi urolithiasis banyak diderita oleh masyarakat yang
tinggal di daerah pegunungan. Hal tersebut disebabkan oleh
sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat dimana
sumber air bersih tersebut banyak mengandung mineral seperti
phospor, kalsium, magnesium, dan sebagainya. Letak geografi
menyebabkan perbedaan insiden urolithiasis di suatu tempat
dengan tempat lainnya. Faktor geografi mewakili salah satu
aspek lingkungan dan sosial budaya seperti kebiasaan
makanannya, temperatur, dan kelembaban udara yang dapat
menjadi predoposisi kejadian urolithiasis.
2) Faktor Iklim dan Cuaca

LBM 3. Kolik

| 19

Faktor iklim dan cuaca tidak berpengaruh langsung, namun


kejadiannya banyak ditemukan di daerah yang bersuhu tinggi.
Temperatur yang tinggi akan meningkatkan jumlah keringat
dan meningkatkan konsentrasi air kemih. Konsentrasi air kemih
yang meningkat dapat menyebabkan pembentukan kristal air
kemih. Pada orang yang mempunyai kadar asam urat tinggi
akan lebih berisiko menderita penyakit urolithiasis.
3) Jumlah Air yang di Minum
Dua faktor yang berhubungan dengan kejadian urolithiasis
adalah jumlah air yang diminum dan kandungan mineral yang
terdapat dalam air minum tersebut. Bila jumlah air yang
diminum sedikit maka akan meningkatkan konsentrasi air
kemih, sehingga mempermudah pembentukan urolithiasis.
4) Diet/Pola makan
Diperkirakan diet sebagai faktor penyebab terbesar terjadinya
Urolithiasis. Misalnya saja diet tinggi purine, kebutuhan akan
protein dalam tubuh normalnya adalah 600 mg/kg BB, dan
apabila

berlebihan

maka

akan

meningkatkan

risiko

terbentuknya urolithiasis. Hal tersebut diakibatkan, protein


yang tinggi terutama protein hewani dapat menurunkan kadar
sitrat air kemih, akibatnya kadar asam urat dalam darah akan
naik, konsumsi protein hewani yang tinggi juga dapat
meningkatkan

kadar

kolesterol

dan

memicu

terjadinya

hipertensi.
5) Jenis Pekerjaan
Kejadian urolithiasis lebih banyak terjadi pada orang-orang
yang banyak duduk dalam melakukan pekerjaannya.
6) Kebiasaan Menahan Buang Air Kemih
Kebiasaan menahan buang air kemih akan menimbulakan statis
air kemih yang dapat berakibat timbulnya Infeksi Saluran

LBM 3. Kolik

| 20

Kemih (ISK). ISK yang disebabkan oleh kuman pemecah urea


dapat menyebabkan terbentuknya jenis batu struvit.
c. Klasifikasi Batu Saluran Kemih
Komposisi kimia yang terkandung dalam batu ginjal dan saluran
kemih dapat diketahui dengan menggunakan analisis kimia khusus
untuk mengetahui adanya kalsium, magnesium, amonium, karbonat,
fosfat, asam urat oksalat, dan sistin.
1) Batu kalsium
Kalsium adalah jenis batu yang paling banyak menyebabkan
urolithiasis yaitu sekitar 70%-80% dari seluruh kasus
urolithiasis. Batu ini kadang-kadang di jumpai dalam bentuk
murni atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan
batu kalsium oksalat, batu kalsium fosfat atau campuran dari
kedua unsur tersebut. Terbentuknya batu tersebut diperkirakan
terkait dengan kadar kalsium yang tinggi di dalam urine atau
darah dan akibat dari dehidrasi. Batu kalsium terdiri dari dua
tipe yang berbeda, yaitu:
a) Whewellite (monohidrat) yaitu , batu berbentuk padat,
warna cokat/ hitam dengan konsentrasi asam oksalat yang
tinggi pada air kemih.
b) Kombinasi kalsium dan magnesium menjadi weddllite
(dehidrat) yaitu batu berwarna kuning, mudah hancur
daripada whewellite.
2) Batu asam urat
Lebih kurang 5-10% penderita urolithiasis dengan komposisi
asam urat. Pasien biasanya berusia > 60 tahun. Batu asam urat
dibentuk hanya oleh asam urat. Kegemukan, peminum alkohol,
dan diet tinggi protein mempunyai peluang lebih besar
menderita penyakit urolithiasis, karena keadaan tersebut dapat

LBM 3. Kolik

| 21

meningkatkan ekskresi asam urat sehingga pH air kemih


menjadi rendah. Ukuran batu asam urat bervariasi mulai dari
ukuran kecil sampai ukuran besar sehingga membentuk
staghorn (tanduk rusa). Batu asam urat ini adalah tipe batu
yang dapat dipecah dengan obat-obatan. Sebanyak 90% akan
berhasil dengan terapi kemolisis.
3) Batu struvit (magnesium-amonium fosfat)
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu
ini disebabkan oleh adanya infeksi saluran kemih. Kuman
penyebab infeksi ini adalah golongan kuman pemecah urea atau
urea splitter yang dapat menghasilkan enzim urease dan
merubah urine menjadi bersuasana basa melalui hidrolisis urea
menjadi amoniak. Kuman yang termasuk pemecah urea di
antaranya

adalah

Proteus

spp,

Klebsiella,

Serratia,

Enterobakter, Pseudomonas, dan Staphiloccocus. Ditemukan


sekitar 15-20% pada penderita urolithiasis.
Batu struvit lebih sering terjadi pada wanita daripada
laki-laki. Infeksi saluran kemih terjadi karena tingginya
konsentrasi ammonium dan pH air kemih >7. Pada batu struvit
volume air kemih yang banyak sangat penting untuk membilas
bakteri dan menurunkan supersaturasi dari fosfat.
4) Batu Sistin
Batu Sistin terjadi pada saat kehamilan, disebabkan karena
gangguan ginjal. Merupakan batu yang paling jarang dijumpai
dengan frekuensi kejadian 1-2%. Reabsorbsi asam amino,
sistin, arginin, lysin dan ornithine berkurang, pembentukan batu
terjadi saat bayi. Disebabkan faktor keturunan dan pH urine
yang

asam.

Selain

karena

urine

yang

sangat

jenuh,

pembentukan batu dapat juga terjadi pada individu yang


memiliki riwayat batu sebelumnya atau pada individu yang

LBM 3. Kolik

| 22

statis karena imobilitas. Memerlukan pengobatan seumur


hidup,

diet

mungkin

menyebabkan

pembentukan

batu,

pengenceran air kemih yang rendah dan asupan protein hewani


yang tinggi menaikkan ekskresi sistin dalam air kemih.
d. Patogenesis
Proses terbentuknya batu ginjal di nefron tepatnya di tubulus
distal dan pengumpul, yaitu saat urin dipekatkan. Pembentukan
Kristal atau batu ini membutuhkan supersaturasi, dan inhibitor
pembentukan ini ditemukan di dalam urin normal. Terbentuknya
batu kalsium dapat dipicu oleh reaktan asam urat, tetapi dapat juga
dihambat oleh inhibitor sitrat dan glikoprotein. Aksi reaktan dan
inhibitor belum diketahui sepenuhnya. Namun, ada dugaan proses
ini berperan pada pembentukan awal atau nukleasi kristal, progresi
kristal atau agregatasi kristal. Misalnya penambahan sitrat dalam
kompleks kalsium dapat mencegah agregatasi kristal kalsium
oksalat. Bila komponen batu di ginjal ditelusuri, satu atau lebih
dapat ditemukan reaktan yang menimbulkan agregatasi pembetukan
batu. Diperkirakan bahwa agregatasi kristal di tubulus distal cukup
besar sehingga tertimbun di kolektikus akhir (pengumbul). Secara
perlahan, timbunan akan semakin membesar akibat penyatuan dari
timbunan-timbunan

selanjutnya

sehingga

batu

ginjal

yang

ditemukan bervariasi di setiap duktus kolektikus. Pengendapan ini


diperkirakan timbul pada bagian sel epitel yang mengalami lesi, dan
kemungkinan lesi ini juga disebabkan oleh kristal itu sendiri.
Adanya lesi di saluran kemih menyebabkan iritasi membran
mukosa saluran dan menyebabkan perdarahan sehingga terjadi
hematuria (urin beserta darah). Lesi ini juga bisa disebabkan oleh
gesekan kristal terhadap membran mukosa ureter dan/atau uretra.

LBM 3. Kolik

| 23

Batu ginjal merupakan penyebab terbanyak kelainan, baik pada


ginjal maupun saluran kemih. Namun penyebab dari batu ginjal
sendiri masih idiopatik. Batu ginjal lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita yang mungkin dipengaruhi oleh ukuran uretra pria
lebih panjang dari wanita. Adapun beberapa faktor risiko yang
menjadi faktor utama predisposisi batu ginjal, yaitu sebagai berikut.
1. Hiperkalsiuria
Meningkatnya kadar kalsium di urin. Hal ini bisa disebabkan
oleh beberapa faktor, seperti meningkatnya absorpsi kalsium dari
lumen usus, atau penguraian kalsium yang berasal dari tulang,
serta kelainan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal.
2. Hipositraturia
Kadar sitrat yang peran sebagai inhibitor pembentukan kalsium
di

urin

berkurang.

Peningkatan

reabsorsi

sitrat

akibat

peningkatan asam di proksimal menyebabkan berkurangnya


sitrat di urin sehingga proses agregatasi kalsium berjalan dengan
mudah. Inhibitor kalsium selain sitrat juga ditemukan pada
glikoprotein yang disekresi oleh sel epitel tubulus distal seperti
nefrokalsin yang dapat mengabsorpsi permukaan kristal dan
memicu interaksi antar kristal.
3. Hiperurikosuria
4. Hiperoksaluria
Peningkatan di kadar oksalat yang diekskresikan ke dalam urin.
Peningkatan kecil kadar oksalat dapat memberi pengaruh yang
besar

terhadap

pembentukan

kristal

kalsium

oksalat

dibandingkan peningkatan ekskresi kalsium.


e. Manifestasi Klinis
Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi,
menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala

LBM 3. Kolik

| 24

ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang


disertai menggigil, demam dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu
yang terus menerus. Beberapa batu menyebabkan sedikit gejala
namun secara perlahan merusak unit fungsional (nefron) ginjal.
1) Batu di piala ginjal
a) Nyeri dalam dan terus-menerus di area kastovertebral.
b) Hematuri dan piuria dapat dijumpai.
c) Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan
pada wanita nyeri ke bawah mendekati kandung kemih
sedangkan pada pria mendekati testis.
d) Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan di
area kostoveterbal, dan muncul Mual dan muntah.
e) Diare dan ketidaknyamanan abdominal dapat terjadi.
Gejala gastrointestinal ini akibat dari reflex renoinstistinal
dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung pancreas dan
usus besar.
2) Batu yang terjebak di ureter
a) Menyebabkan gelombang Nyeri yang luar biasa, akut, dan
kolik yang menyebar ke paha dan genitalia.
b) Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urine yang
keluar
c) Hematuri akibat aksi abrasi batu.
d) Biasanya batu bisa keluar secara spontan dengan diameter
batu 0,5-1 cm.
3) Batu yang terjebak di kandung kemih
Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya
menyebabkan iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher
kandung

kemih

menyebabkan

retensi

urin

atau

bisa

menyebabkan sepsis, kondisi ini lebih serius yang dapat


mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita lihat tanda
seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung
(Smeltzer, 2002:1461).

LBM 3. Kolik

| 25

a) Sakit berhubungan dengan kencing (terutama diakhir


kencing)
b) Lokasi sakit terdapat di pangkal penis atau suprapubis
kemudian dijalarkan ke ujung penis (pada laki-laki) dan
klitoris (pada wanita).
c) Terdapat hematuri pada akhir kencing
d) Disuria dan frequensi.
e) Aliran urin berhenti mendadak bila batu menutup orificium
uretra interna.

2. ISK
a. Definisi
ISK adalah suatu kondisi dimana satu atau lebih bagian traktus
urinarius terinfeksi oleh bakteri yang mampu melemahkan
pertahanan tubuh. Kriteria ISK yang disederhanakan menurut CDC
adalah bila kultur urin positif 10colony forming unit (cfu)/ml urin
dan ditemukan 1 atau 2 spesies mikroorganisme, dengan atau tanpa
disertai gejala klinis.
b. Epidemiologi
ISK tergantung banyak faktor; seperti usia, gender, prevalensi
bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan
struktur saluran kemih termasuk ginjal. Selama periode usia
beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan cenderung
menderita ISK dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki
jarang dilaporkan, kecuali disertai faktor predisposisi (pencetus).
Prevalensi bakteriuria asimtomatik lebih sering ditemukan pada
perempuan. Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1 %
meningkat menjadi 5% selama periode aktif secara seksual.
Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30%, baik lakilaki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi seperti
berikut litiasis, obstruksi saluran kemih, penyakit ginjal polikistik,
nekrosis papilar, diabetes mellitus pasca transplantasi ginjal,
LBM 3. Kolik

| 26

nefropati analgesik, penyakit sickle-cell, senggama, kehamilan dan


peserta KB dengan table progesterone, serta kateterisasi (Sukandar,
E., 2004).

c. Etiologi
Pada keadaan normal urin adalah steril. Umumnya ISK
disebabkan oleh kuman gram negatif. Escherichia coli merupakan
penyebab terbanyak baik pada yang simtomatik maupun yang
asimtomatik yaitu 70 - 90%. Enterobakteria seperti Proteus
mirabilis (30 % dari infeksi saluran kemih pada anak laki-laki tetapi
kurang dari 5 % pada anak perempuan ), Klebsiella pneumonia dan
Pseudomonas aeruginosa dapat juga sebagai penyebab. Organisme
gram

positif

seperti

Streptococcus

faecalis

(enterokokus),

Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus viridans jarang


ditemukan. Pada uropati obstruktif dan kelainan struktur saluran
kemih pada anak laki-laki sering ditemukan Proteus species. Pada
ISK nosokomial atau ISK kompleks lebih sering ditemukan kuman
Proteus dan Pseudomonas (Lumbanbatu, S.M., 2003).
Tabel: Famili, Genus dan Spesies mikroorganisme (MO) yang
Paling Sering Sebagai Penyebeb ISK (Sukandar, E., 2004)

LBM 3. Kolik

| 27

d. Klasifikasi
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Bawah
Presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender. Pada
perempuan, terdapat dua jenis ISK bawah pada perempuan yaitu
sistitis dan sindrom uretra akut. Sistitis adalah presentasi klinis
infeksi kandung kemih disertai bakteriuria bermakna. Sindrom
Uretra Akut (SUA) adalah presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis bakterialis.
Penelitian terkini SUA disebabkan mikroorganisme anaerob. Pada
pria, presentasi klinis ISK bawah mungkin sistitis, prostatitis,
epidimidis, dan uretritis.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas
1. Pielonefritis akut (PNA). Pielonefritis akut adalah proses
inflamasi parenkim ginjal yang disebabkan infeksi bakteri.
2. Pielonefritis kronik (PNK). Pielonefritis kronik mungkin akibat
lanjut dari infeksi bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak
masa kecil. Obstruksi saluran kemih dan refluks vesikoureter
dengan

atau

tanpa

bakteriuria

kronik

sering

diikuti

pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai


LBM 3. Kolik

| 28

pielonefritis kronik yang spesifik. Bakteriuria asimtomatik


kronik pada orang dewasa tanpa faktor predisposisi tidak
pernah menyebabkan pembentukan jaringan ikat parenkim
ginjal.
e. Patofisiologi
ISK hampir secara eksklusif disebabkan oleh bakteri.
Gejalanya meliputi sering merasa ingin berkemih, nyeri saat
berkemih, dan warna urin yang keruh. Agen penyebab ISK adalah
golongan

kuman

gram

negatif

terutama

Escherichia

coli,

Enterococcus, Pseudomonas aeruginosa,dan Klebsiella. Di luar


negeri dilaporkan kuman E. coli merupakan penyebab terbanyak
infeksi saluran kemih. Jumlah E. coli mencapai 85 % untuk infeksi
community-acquired dan 60% infeksi hospital-acquired. Meskipun
urin berisi berbagai cairan, garam, dan produk hasil ekskresi, di
dalam urin biasanya tidak ditemukan bakteri, tetapi saat bakteri
masuk ke vesica urinaria dan ginjal dan bermultiplikasi di urin
maka akan menyebabkan terjadinya ISK.
Saluran kemih dalam keadaan normal adalah steril kecuali
pada bagian akhir uretra. Kemampuan tubuh untuk mengosongkan
kandung kemih merupakan salah satu mekanisme penting untuk
menjaga agar urin tetap steril dan mencegah ISK. Jika kandung
kemih dapat langsung mengosongkan seluruh isinya selama proses
berkemih maka bakteri tidak mempunyai kesempatan untuk
menginfeksi jaringan atau tumbuh dan mengadakan multiplikasi di
kandung kemih. Mekanisme pertahanan terhadap infeksi saluran
kemih adalah uretra yang tidak obstruktif, proses berkemih yang
baik serta mukosa kandung kemih dan uretra yang utuh. Masuknya
kateter

akan

mengganggu

mekanisme

pertahanan

tersebut,

membawa masuk bakteri dari luar uretra dan memberikan jalan


baginya untuk mencapai kandung kemih.

LBM 3. Kolik

| 29

Bakteri dapat mencapai kandung kemih melalui dua jalan,


yaitu melalui bagian dalam kateter (intra luminal) dan melalui ruang
antara dinding luar kateter dan mukosa (ekstra luminal). Cara
memasukkan kateter, gerakan bolak-balik dari kateter dan
pengumpulan urin pada sistem terbuka harus dihindari.
Selain karena pemasangan kateter, infeksi saluran kemih juga
dapat disebabkan oleh tindakan dilatasi uretra, cystoskopy, dan
pyelography retrograde.
f. Manifestasi Klinis
ISK

adalah

infeksi

yang

diakibatkan

karena

invasi

mikroorganisme pada jaringan traktus urinarius dari orifisium uretra


sampai ke korteks ginjal. Spektrum gejala klinisnya sangat
bervariasi dari tanpa gejala/ keluhan sampai kelainan sistemik yang
berat. Berdasarkan lokasi anatomisnya, ISK dibagi menjadi ISK
atas dan ISK bawah. ISK atas yaitu pielonefritis menimbulkan
gejala antara lain demam, menggigil, nyeri pinggang, mual dengan
atau tanpa muntah, penurunan berat badan, serta dapat pula disertai
dengan gejala ISK bawah.
ISK bawah yaitu ureteritis, cystitis, prostatitis, epididimitis,
dan uretritis menimbulkan gejala antara lain nyeri supra pubis,
disuria, frekuensi berkemih meningkat, urgensi, dan hematuria.
Tanda dari terjadinya ISK adalah ditemukan bakteri dalam
urin (bakteriuria). Spesimen urin dikatakan bakteriuria signifikan
apabila ditemukan jumlah kuman pada kultur urin 105 cfu/ml
urin.

2.4.5 Pemeriksaan yang Dapat Dilakukan


Anamnesis

LBM 3. Kolik

| 30

1) Identitas penderita
a) Meliputi nama, umur (penyakit urolithiasis paling sering
didapatkan pada usia 30 sampai 50 tahun),
b) Jenis kelamin (urolithiasis banyak ditemukan pada pria dengan
perbandingan 3 kali lebih banyak dari wanita),
c) Alamat, agama/kepercayaan, pendidikan, suku/bangsa (beberapa
daerah menunjukkan angka kejadian urolithiasis yang lebih
tinggi dari daerah lain),
d) Pekerjaan (urolithiasis sering dijumpai pada orang yang
pekerjaannya banyak duduk atau kurang aktifitas) (Purnomo,
2000).
2) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan utama yang sering terjadi pada pasien batu ginjal adalah
nyeri pinggang akibat adanya batu pada ginjal, berat ringannya nyeri
tergantung lokasi dan besarnya batu, dapat pula terjadi nyeri
kolik/kolik renal yang menjalar ke testis pada pria dan kandung
kemih pada wanita. Pasien dapat juga mengalami gangguan saluran
gastrointestinal dan perubahan dalam eliminasi urine.
3) Riwayat penyakit dahulu
Keadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh penderita
yang mungkin berhubungan dengan urolithiasis, antara lain infeksi
saaluran kemih, hiperparatiroidisme, penyakit inflamasi usus, gout,
keadaan-keadaan yang mengakibatkan hiperkalsemia, immobilisasi
lama dan dehidrasi.
4) Riwayat penyakit keluarga
Beberapa penyakit atau kelainan yang sifatnya herediter dapat
menjadi penyebab terjadinya batu ginjal antara lain riwayat keluarga
dengan renal tubular acidosis (RTA), cystinuria, Xanthinuria dan
dehidroxynadeninuria.
5) Riwayat psikososial
Pasien dapat mengalami masalah kecemasan tentang kondisi yang
dialami,

juga

berkenaan

dengan

rasa

nyeri,

dapat

juga

mengekspresikan masalah tentang kekambuhan dan dampak pada


pekerjaan serta aktifitas harian lainnya.

LBM 3. Kolik

| 31

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan berdasarkan data/informasi yang diperoleh
saat melakukan pengkajian tentang riwayat penyakit. Pemeriksaan
meliputi sistem urinari disertai review sistem yang lain dan status umum.
1) Keadaan umum
Meliputi tingkat kesadaran, ada tidaknya defisit konsentrasi, tingkat
kelemahan (keadaan penyakit) dan ada tidaknya perubahan berat
badan. Tanda vital dapat meningkat menyertai nyeri, suhu dan nadi
meningkat mungkin karena infeksi serta tekanan darah dapat turun
apabila nyeri sampai mengakibatkan shock.
2) Ginjal, ureter, buli-buli dan uretra
Pemeriksaan ini dilakukan bersama dengan pemeriksaan abdomen
yang lain dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
Inspeksi
Inspeksi dilakukan dengan posisi duduk atau supine dilihat adanya
pembesaran di daerah pinggang atau abdomen sebelah atas; asimetris
ataukah adanya perubahan warna kulit. Pembesaran pada daerah ini
dapat

disebabkan

karena

hidronefrosis

atau

tumor

pada

retroperitonium.
Palpasi
Palpasi pada ginjal dilakukan secara bimanual yaitu dengan memakai
dua tangan, tangan kiri diletakkan di sudut kosta-vertebra untuk
mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba dari
depan dengan sedikit menekan ke bawah (pada ginjal kanan), bagian
bawah dapat teraba pada orang yang kurus. Adanya pembesaran pada
ginjal seperti tumor, kista atau hidronefrosis biasa teraba dan terasa
nyeri. Ureter tidak dapat dipalpasi, tetapi bila terjadi spasme pada
otot-ototnya akan menghasilkan nyeri pada pinggang atau perut
bagian bawah, menjalar ke skrotum atau labia. Adanya distensi buli-

LBM 3. Kolik

| 32

buli akan teraba pada area di atas simphisis atau setinggi umbilikus,
yang disebabkan adanya obstruksi pada leher buli-buli.
Perkusi
Perkusi dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut
kostavertebra, adanya pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau
tumor ginjal akan terasa nyeri ketok. Pada buli-buli diketahui adanya
distensi karena retensi urine dan terdengar redup, dapat diketahui
batas atas buli-buli serta adanya tumor/massa.
Auskultasi
Auscultasi dilakukan dengan menggunakan belt dari stetoskop di atas
aorta atau arteri renal untuk memeriksa adanya bruit. Adanya bruit
di atas arteri renal dapat disebabkan oleh gangguan aliran pada
pembuluh darah seperti stenosis atau aneurisma arteri renal.
Pemeriksaan Lab
1) Urinalisa : warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah; secara
umum menunjukkan SDM, SDP, kristal (sistin, asam urat, kalsium
oksalat), serpihan, mineral, bakteri, pus; pH mungkin asam
(meningkatkan magnesium, fosfat amonium atau batu kalsium
fosfat).
2) Urine (24 jam) : kreatinin, asam urat, kalsium, fosfat, oksalat atau
sistin mungkin meningkat.
3) Kultur urine : mungkin menunjukkan ISK (Staphilococcus aureus,
proteus, klebseila, pseudomonas).
4) Survei biokimia : peningkatan kadar magnesium, kalsium, asam urat,
fosfat, protein, elektrolit.
5) BUN/kreatinin serum dan urine : abnormal (tinggi pada serum/rendah
pada urine) sekunder tingginya batu obstruktif pada ginjal
menyebabkan iskemia/nekrosis.

LBM 3. Kolik

| 33

6) Kadar klorida dan bikarbonat serum : peningkatan kadar klorida dan


penurunan kadar bikarbonat menunjukkan terjadinya asidosis tubulus
ginjal.
7) Hitung darah lengkap : SDP mungkin meningkat menunjukkan
infeksi/septikemia.
8) Hormon paratiroid : mungkin meningkat jika ada gagal ginjal (PTH
merangsang reabsorpsi kalsium dari tulang meningkatkan sirkulasi
serum dan kalsium urine).
Pemeriksaan Penunjang
1) Foto Polos Abdomen
Pembuatan foto polos

Abdomen

bertujuan

untuk

melihat

kemungkinan adanya batu radio-opak disaluran kemih. Batu batu


jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat radio-opak dan
paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu asam
urat bersifat non radio-opak (radio-lusen).
2) Foto Rontgen KUB
Menunjukkan adanya kalkuli dan atau perubahan anatomik pada area
ginjal dan sepanjang ureter
3) Pielografi intra vena (IVU)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai keadaan anatomi dan fungsi
ginjal. Selain itu IVU dapat mendeteksi adanya batu semi opak
ataupun batu non opak yang tidak bias dilihat dengan foto polos
perut.
4) IVP
Memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri
abdominal atau panggul. Menunjukkan abnormalitas pada struktur
anatomik (distensi ureter) dan garis bentuk kalkuli.
5) Sistouterkopi
Visualisasi langsung kandung kemih dapat menunjukkan batu dan
atau efek obstruksi.
6) USG
Dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP,
yaitu keadaaankeadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal

LBM 3. Kolik

| 34

menuruun, sedang hamil. Pemeriksaan usg dapat menilai adanya batu


di ginjal atau dibuli-buli (yang ditunjukkan sebagai echoic sadhow),
hidronefrosis, pionefrosis, atau pengkerutan ginjal.
2.4.6 Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan medis Urolithiasis adalah untuk
menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron,
mengendalikan infeksi, dan mengurangi obstruksi yang terjadi. Batu
dapat dikeluarkan dengan cara medikamentosa, pengobatan medik
selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa operasi, dan pembedahan
terbuka.
Non Medikamentosa
1. Pengurangan nyeri
Tujuan dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk
mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan. Mandi air
panas atau hangat di area panggul, pemberian cairan, kecuali untuk
pasien muntah atau menderita gagal jantung kongestif. Tujuan dari
pemberian cairan adalah untuk mengurangi konsentrasi kristaloid
urine, mengecerkan urine, dan menjamin haluaran yang besar serta
meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang di belakang batu
sehingga mendorong masase batu ke bawah.
2. Terapi nutrisi dan medikasi
Tujuan terapi adalah untuk membuat pengenceran karena batu
sering terbentuk dan membatasi makanan yang memberikan
kontribusi pada pembentukan batu serta anjurkan pasien untuk
bergerak agar mengurangi pelepasan kalsium dari tulang. Pemberian
terapi diet rendah protein, rendah garam adalah untuk memperlambat
pertumbuhan batu ginjal atau membantu mencegah pembentukan
batu ginjal.
Medikamentosa

LBM 3. Kolik

| 35

Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih


kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu
dapat keluar tanpa intervensi medis. Dengan cara mempertahankan
keenceran urine dan diet makanan tertentu yang dapat merupakan bahan
utama pembentuk batu ( misalnya kalsium) yang efektif mencegah
pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan ukuran batu yang telah
ada. Setiap pasien urolithiasis harus minum paling sedikit 8 gelas air
sehari.
Infus cairan kemolitik, misal : agens pembuat basa (alkylating) dan
pembuat asam (acidifying) untuk melarutkan batu dapat dilakukan
sebagai alternatif penanganan untuk pasien kurang berisiko terhadap
terapi lain dan menolak metode lain atau mereka yang memiliki batu yang
mudah larut (struvit).
Analgesia

dapat

diberikan

untuk

meredakan

nyeri

dan

mengusahakan agar batu dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid


seperti injeksi morfin sulfat yaitu petidin hidroklorida atau obat anti
inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan naproxen dapat diberikan
tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat digunakan untuk
mengatasi spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat infeksi
saluran kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi
sekunder. Setelah batu dikeluarkan, urolithiasis dapat dianalisis untuk
mengetahui komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk
mencegah atau menghambat pembentukan batu berikutnya.
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada
tindakan ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui
tubuh untuk memecah batu. Alat ESWL adalah pemecah batu yang
diperkenalkan pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat
memecah batu ginjal, batu ureter proximal, atau menjadi fragmen-

LBM 3. Kolik

| 36

fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih. ESWL


dapat mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif dan terbukti
dapat menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.
Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk
mengeluarkan urolithiasis yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian
mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan
langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra
atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa tindakan
endourologi tersebut adalah :
a. PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha mengeluarkan
batu yang berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukan
alat endoskopi ke sistem kalies melalui insisi pada kulit. Batu
kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu menjadi fragmenfragmen kecil.
b. Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan
memasukan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c. Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan alat
ureteroskopi per-uretram. Dengan memakai energi tertentu, batu yang
berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat dipecah
melalui tuntunan ureteroskopi/ureterorenoskopi ini.
d. Ekstrasi

Dormia

adalah

mengeluarkan

batu

ureter

dengan

menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.


Tindakan Operasi
Penanganan urolithiasis, biasanya terlebih dahulu diusahakan
untuk mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi.
Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk
penanganan lainnya. Ada beberapa jenis tindakan pembedahan, nama dari

LBM 3. Kolik

| 37

tindakan pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada,


yaitu :
a. Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di dalam ginjal
b. Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di ureter
c. Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang
berada di vesica urinearia
d. Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu
yang berada di uretra

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa Pak Xio menderita Batu Ginjal atau
Nefrolithiasis yang disertai infeksi dan hidronefrosis. Hal ini ditandai oleh
keluhan nyeri yang awalnya terasa di pinggang kiri, adanya nyeri ketuk pada
daerah pinggang kiri, demam dan sebagainya yang mendukung diagnosa. Adapun
penanganan yang dapat dilakukan meliputi terapi non medikamentosa,
medikamentosa, ESWL, endourologi dan bedah.

LBM 3. Kolik

| 38

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2007. Buku ajar patologi. Edisi 7 , Vol. 1. Jakarta :
EGC.
Lumbanbatu, S.M.. 2003. Bakteriuria Asimtomatik pada Anak Sekolah Dasar Usia 912 Tahun. Bagian Ilmu Kesehatan Anak : FK USU.
Nurachmah, elly, dan Rida angriani. 2011. Dasar-dasar Anatomi dan Fisiologi.
Jakarta: Salemba Medika.
Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : CV Sagung Seto.
Sjamsuhidajat, dan Wim de jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC.
Sudoyo, Aru W, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I Edisi V. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI.
Sukandar, E., 2004, Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.

LBM 3. Kolik

| 39