Anda di halaman 1dari 86

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Proyek

1.1.1

Latar Belakang Pembangunan Proyek


Sejalan dengan pesatnya permintaan pendidikan di Indonesia, maka sangat dibutuhkan

sarana dan prasarana yang baik guna mendukung aktivitas pendidikan tersebut. Sarana dan
prasarana yang baik dapat dilihat dengan kelengkapan fasilitas pendidikan seperti
laboratorium praktek, ruang kelas yang memadai dan nyaman, perlengkapan pengajaran,
serta tenaga pengajar yang profesional dan berkompeten. Untuk memaksimalkan kegiatan
perkuliahan, universitas pancasila selaku pemilik Fakultas Teknik Universitas Pancasila
( FT-UP ) melakukan perluasan gedung guna meningkatkan kegiatan perkuliahan saat ini.
Dalam proyek perluasan gedung tersebut terdapat banyak bermacam-macam metode struktur
yang digunakan seperti metode pekerjaan pondasi, metode pekerjaan pemasangan baja,
metode pekerjaan pengecoran, dan masih banyak lagi.
Beton merupakan salah satu bahan yang digunakan pada suatu struktur konstruksi.
Dalam proses pengadaan beton diproyek dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; cara
konvensional (mengaduk manual ) dan cara pabrikasi ( memesan dari pabrik ). Sesuai dengan
berkembangnya zaman dan teknologi yang semakin canggih khususnya pada dunia konstruksi
sangat banyak sekali mempengaruhi proyek-proyek seperti sekarang ini. Maka dengan
perkembangan itu proses pelaksanaan suatu proyek dapat diselesaikan secara cepat. Salah satu
contoh pengadaan beton, dimana dulu pengadaan beton itu hanya dapat dilaksanakan dengan
cara konvensional (mengaduk manual) tetapi sekarang diproyek-proyek pengadaan beton itu
dengan cara pabrikasi ( memesan dari pabrik ).

Dengan adanya beton pabrikasi dapat

menghemat waktu dan juga tenaga manusia sehinnga proyek tersebut terlaksana dengan cepat.

Bahan-bahan yang digunakan pada beton adalah air, agregat dan semen, dicampur
sesuai perbandingan tertentu. Agregat terdiri dari agregat halus ( pasir ) dan agregat kasar
(kerikil). Air untuk campuran beton harus air yang bersih atau air yang dapat diminum oleh
manusia. Semen merupakan bahan perekat hidrolis yaitu bahan perekat yang dapat mengeras
bila bersenyawa dengan air dan berbentuk benda padat yang tidak larut dalam air pada beton.
Salah satu sifat beton adalah tidak kuat menahan gaya tarik tetapi kuat terhadap gaya tekan.
Untuk meningkatkan gaya tarik tersebut dibutuhkan bahan tambah pada beton yaitu baja
tulangan yang berfungsi untuk menahan gaya tarik dan mencegah retak beton agar tidak
melebar. Semua yang telah disebutkan diatas apabila dicampur menjadi satu kesatuan maka
pada konstruksi dikatakan konstruksi beton bertulang.
Pada umumnya struktur yang terdapat dikonstruksi gedung bertingkat yaitu; struktur
kolom, balok, pelat lantai, shearwall dan corewall. Struktur tersebut mempunyai fungsi
masing-masing yang berbeda. Proses pelaksanaanya tidak dapat dilaksanakan secara sekaligus
harus secara berurutan atau dimulai dari pekerjaan bawah hingga pekerjaan atas. Disamping
itu ada juga metode pelaksanaan yang akan diterapkan dilapangan pada saat bekerja. Misalnya
pekerjaan pengecoran, pekerjaan ini dilaksanakan sesuai dengan tahap pekerjaan seperti,
pemasangan bekisting, dilanjutkan pemasangan tulangan kemudian dilakukan pengecoran.
Sebelum dilaksakan pengecoran terlebih dahulu diperiksa oleh pengawas, setelah dikatakan
ok baru dapat dimulai pengecoran. Jadi semua pekerjaan struktur itu mempunyai metode
tertentu.
Untuk melaksanakan pekerjaan pembetonan struktur tidak dapat diselesaikan hanya
dengan tenaga manusia saja. Selain tenaga manusia harus dibantu dengan peralatan baik
peralatan manual ataupun peralatan mekanikPekerjaan struktur dibutuhkan pelaksanaan yang
cermat dan para pekerja yang ahli, untuk mendapat hasil yang direncanakan. Karena sruktur
diatas merupakan titik kuat suatu konstruksi gedung bertingkat. Maka pada saat pelaksanaan

harus decontrol secara terus-menerus. Sehingga gedung yang dibangun pada proses
pengoperasianya kelak nyaman untuk digunakan atau ditempati oleh manusia.

1.1.2

Maksud dan Tujuan Pembangunan Proyek


Maksud dan tujuan proyek Perluasan ruang perkuliahan FT-UP Jakarta adalah untuk

memaksimalkan kegiatan perkuliahan di FT-UP guna mencapai visi dan misi yang di
targetkan.

1.2 Kerja Praktek


1.2.1

Latar Belakang Kerja Praktek


Pada subbab sebelumnya telah dijelaskan bahwa pembangunan merupakan kegiatan

yang terus berjalan di Indonesia. Oleh sebab itu, untuk dapat membangun fasilitas fasilitas
tersebut dibutuhkan tenaga tenaga ahli yang bergerak di bidangnya, salah satunya adalah
Insinyur Teknik Sipil.
Seorang Insinyur Teknik Sipil tidak lahir begitu saja lalu dapat membangun fasilitas
fasilitas tersebut melainkan harus melalui proses yang sangat panjang dan waktu yang cukup
lama. Proses yang harus dilalui antara lain dengan mempelajari segala macam ilmu dan teori
yang berhubungan dengan teknik sipil di bangku kuliah, praktikum di laboratorium dan
praktikum di lapangan. Salah satu bentuk praktikum di lapangan yaitu Kerja Praktek ( KP )
atau Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) di proyek proyek milik perusahaan konstruksi
tertentu.
Kerja Praktek ( KP ) sangat diperlukan oleh seorang mahasiswa/i teknik sipil karena
merupakan sarana untuk mengamati dan mempelajari aplikasi segala ilmu yang diperoleh di
bangku kuliah sebelum mengerjakan tugas akhir ( skripsi ), yang pada akhirnya bila akan
bekerja di bidang konstruksi mahasiswa/i yang telah berhasil meraih gelar sarjana mampu

bekerja dengan baik untuk dapat terus membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan
oleh masyarakat dengan tetap memperhatikan segala sesuatu yang menjadi aspek - aspek
dalam pembangunan.

1.2.2

Maksud dan Tujuan Kerja Praktek


Kerja praktek ini dimaksudkan sebagai sarana latihan sebelum memasuki dunia kerja

agar kelak ketika bekerja di bidang teknik sipil ( konstruksi ) pada khususnya maupun bidang
lain pada umumnya, kami akan lebih siap dan mampu memberikan kinerja yang baik karena
telah dibekali ilmu yang tidak kami peroleh di kampus.
Tujuan yang diharapkan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah :
1. Mempelajari penerapan di lapangan dari teori-teori yang didapat dari perkuliahan;
2. Memprediksi dampak yang ditimbulkan suatu pembangunan kawasan terhadap lalu lintas
sekitar;
3. Mengidentifikasi masalah-maalah yang dapat mempengaruhi putusan pengembang dalam
melanjutkan proyek yang diusulkan;
4. Memperoleh gambaran yang menyeluruh dalam pelaksanaan pembangunan suatu proyek
berikut permasalahan permasalahan yang dihadapi serta solusi untuk menyelesaikan
permasalahan yang terjadi.
5. Mengetahui struktur organisasi proyek dan pembagian tugas dari tiap personil yang
terlibat.
6. Mempelajari proses pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan manajemen dan
rekayasa lalu lintas;
7. Mempelajari dan mendokumentasikan tiap langkah pekerjaan dan hal hal lain yang
dianggap perlu, misalnya foto peralatan atau foto proses pengecoran dan lain sebagainya

8. Mempelajari penerapan manajemen POAC ( Planning, Organizing, Actuating, dan


Controlling ) yang sesuai dengan kondisi dan spesifikasi proyek

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan


Laporan ini merupakan laporan kerja praktek yang dilakukan pada proyek perluasan
ruang perkuliahan FT-UP Universitas Pancasila Jakarta. Laporan ini berisi penjelasan
mengenai manajemen proyek dan struktur organisasi, material dan peralatan yang digunakan,
penjelasan singkat tentang tahapan pekerjaan konstruksi secara umum, serta pengawasan dan
pengendalian proyek.
Selain itu, laporan ini juga berisi hasil pengamatan pelaksanaan yang bersifat teknis di
lapangan selama kerja praktek. Pekerjaan yang diamati adalah pengecoran pelat lantai dan
perawatan beton.

1.4 Data Proyek


1. Nama Proyek

: Proyek Perluasan Ruang Perkuliahan Fakultas


Teknik Universitas Pancasila Jakarta

2. Alamat Proyek

: Jl. Srengeng Sawah, Jagakarsa, Jakarta selatan


12640, Jakarta

3. Jenis Bangunan

: Gedung

4. Jenis Pekerjaan

: Struktur

5. Jenis Kontrak

: Lumpsum Fixed Price

6. Nilai Kontrak

: -

7. Pemilik Proyek

: Universitas Pancasila Jakarta

8. No. SPK

: -

9. Kontraktor Pelaksana

: PT. Sanijaya Makmur Mandiri

10. Konsultan

a. Konsultan Perencana

: Fakultas Teknik Universitas Pancasila

b. Konsultan MK

: Fakultas Teknik Universitas Pancasila

11. Luas Lantai Bangunan

: - 1096,2 m2

12. Waktu Pelaksanaan

: - hari kalender

13. Tanggal Mulai

14. Tanggal Selesai

15. Sistem Pembayaran

: Uang Muka

16. Cara Pembayaran

: 24 kali cicilan

17. Masa Pemeliharaan

: 365 hari kalender

: 10 %

1.5 Metode Penulisan Laporan Kerja Praktek


Berdasarkan penjelasan umum di atas, penyajian laporan kerja praktek yang berupa
jalannya pelaksanaan proyek perluasan ruang perkuliahan

Fakultas Teknik Universitas

Pancasila (FT-UP) Jakarta, informasinya diperoleh dari hasil :


1. Studi Kepustakaan
Dimana bahan penulisan laporan ini diperoleh dari mengumpulkan materi materi
melalui buku buku literatur penunjang dari perpustakaan atau sumber lain, catatan
kuliah, serta artikel artikel dari media cetak maupun elektronik.
2. Studi Lapangan
Yaitu dengan melakukan pengamatan langsung semua aktivitas konstruksi berdasarkan
data data aktual yang berhubungan dengan proyek.
3. Interview / Wawancara
Yaitu dengan melakukan kegiatan tanya jawab dengan orang orang atau pekerja yang
terlibat dalam kegiatan proyek dan orang orang yang ahli di bidang konstruksi
bangunan.

4. Dokumentasi
Yaitu mendokumentasikan kegiatan-kegiatan proyek dengan melakukan pengambilan
foto-foto saat kegiatan proyek sedang berlangsung.

1.6 Sistematika Penulisan Laporan Kerja Praktek


BAB I

: PENDAHULUAN
Membahas mengenai latar belakang dan tujuan pembangunan proyek
perluasan ruang perkuliahan

Fakultas Teknik Universitas Pancasila

(FT-UP) Jakarta, latar belakang dan tujuan kerja praktek, ruang lingkup
pembahasan, data proyek, metode penulisan laporan kerja praktek, dan
sistematika penulisan laporan kerja praktek.
BAB II : MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI DAN ORGANISASI PROYEK
Membahas mengenai manajemen dan organisasi proyek khususnya pada
proyek perluasan ruang perkuliahan FT-UP Jakarta. Dalam bab ini,
pembahasan mengenai organisasi proyek meliputi penjelasan tugas masing
masing personil yang terdapat di dalamnya mulai dari pemilik, konsultan
perencana, kontraktor pelaksana, tenaga kerja, dan hubungan kerja yang
terkait dalam pelaksanaan proyek.
BAB IIII : MATERIAL DAN PERALATAN
Membahas mengenai material dan peralatan yang digunakan pada waktu
pelaksanaan pekerjaan yang masing masing terbagi lagi atas subbab
subbab untuk memberikan penjelasan secara terperinci.
BAB IV : PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR
Membahas mengenai pelaksanaan pekerjaan konstruksi secara umum
sebagai pengantar, kemudian pembahasannya akan lebih difokuskan lagi

pada pelaksanaan pekerjaan pemasangan casing, pelat lantai dan perawatan


beton sesuai dengan pengamatan selama mengikuti kerja praktek.
BAB V : PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK
Membahas mengenai pengawasan dan pengendalian proyek yang
mencakup pengawasan dan pengendalian biaya pekerjaan ( cost control ),
pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan ( quality control ),
pengawasan dan pengendalian waktu pekerjaan ( time control ), dan
pengawasan dan pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja ( safety
control ).
BAB VI : PENUTUP
Merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran dari laporan kerja
praktek ini.

BAB II
MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI DAN ORGANISASI PROYEK

2.1

Umum
Sebuah susunan komponen-komponen (unit kerja) dalam organisasi. Struktur

organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi-fungsi atau kegiatan
-kegiatan yang berbeda-beda tersebut dapat diintegrasikan (berkoordinasi). Selain dari pada
itu, struktur organisasi juga menunjukkan spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, saluran perintah
dan penyampaian laporan. Pengorganisasian merupakan fungsi kedua dalam manajemen dan
itu didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan
tujuan-tujuan, sumber-sumber dan lingkungannya. Dengan demikian, hasil pengorganisasian
adalah sebuah struktur organisasi.
Pemilik / Owner

Konsultan
Perencana
Kontraktor
Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi Perencanaan Proyek
Proyek perluasan ruang kuliah Fakultas Teknik Universitas Pancasila Jakarta Selatan
sebagai suatu proyek konstruksi terdiri atas unsur-unsur yang saling berinteraksi diantaranya
adalah pihak-pihak yang saling terkait dalam pembangunan proyek tersebut. Untuk
memperjelas kedudukan, tugas dan wewenang masing-masing pihak dalam struktur organisasi
dan juga untuk menghindari hambatan karena adanya benturan kepentingan dalam
pelaksanaan pekerjaan, maka dibentuklah suatu struktur organisasi perencanaan proyek.

10

2.1.1

Pemilik / Owner
Pemilik/owner adalah pihak yang memiliki inisiatif awal dalam merencanakan proyek

atau seseorang yang memiliki proyek dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu
mengerjakannya atau melaksanakannya sesuai dengan perjanjian kontrak kerja. Umumnya
inisiatif awal ini masih berupa draft atau berupa konsep. Pilihan ini bisa berupa menambah
unit produksi baru ataupun meningkatkan kapasitas dari unit produksi yang lama. Pilihan ini
akan dibicarakan di tingkat manajemen yang melibatkan unit produksi maupun engineering.
Di tahap ini, bisa jadi konsultan perencana sudah mulai terlibat. Untuk merealisasikan proyek,
owner mempunyai kewajiban pokok, yaitu menyediakan dana untuk membiayai proyek
tersebut. Adapun tugas dan wewenang dari pemilik proyek atau owner adalah sebagai berikut:
1. Tugas pemilik proyek atau owner:
a. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek.
b. Mengadakan kegiatan administrasi.
c. Mengeluarkan instruksi kepada kontraktor.
d. Meminta pertanggungjawaban pada pengawas atau direksi.
e. Mempunyai wewenang penuh terhadap proyek.
2. Wewenang pemilik proyek atau owner:
a. Membuat Surat Perintah Kerja ( SPK ).
b. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan.
c. Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas hasil dari pekerjaan.
d. Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak dapat
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perjanjian kontrak kerja.

11

2.1.2

Konsultan
Konsultan, setidaknya ada 2 jenis konsultan. Pertama adalah konsultan perencana,

bertugas untuk merencanakan detail pekerjaan proyek, mulai dari skup pekerjaan, bill of
material (rincian material yang akan dipergunakan), jadwal pekerjaan sampai perkiraan
anggaran. Jenis konsultan yang kedua adalah konsultan pengawas. Konsultan pengawas
bekerja atas perintah pemilik proyek berdasarkan jadwal dan metode kerja yang telah
disiapkan sebelumnya. Namun seringkali fungsi pengawasan ini dilakukan langsung oleh
pemilik proyek, tergantung ketersediaan sdm dan biaya.
Adapun tugas dan wewenang konsultan perencana adalah sebagai berikut:
1. Tugas konsultan perencana:
a.

Memproyeksikan keinginan-keinginan atau ide-ide pemilik proyek


ke dalam bentuk rancangan / desain.

b.

Mengadakan penyesuaian keadaan di lapangan dengan keinginan


pemilik proyek.

c.

Melakukan

perubahan

desain

bila

terjadi

penyimpangan

pelaksanaan pekerjaan di lapangan yang tidak memungkinkan desain tersebut untuk


diwujudkan.
d.

Memberikan konsultasi tentang segala sesuatu yang berhubungan


dengan pembangunan proyek.

e.

Memonitoring pekerjaan.

2. Wewenang
Wewenang konsultan perencana yaitu mempertahankan desain dalam hal adanya pihak pihak pelaksana yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana.

2.1.3

Kontraktor Pelaksana

12

Kontraktor adalah pihak pelaksana pekerjaan. Kontraktor biasanya mendapatkan


pekerjaan dari tender atau penunjukkan langsung oleh pemilik proyek. Sifat pekerjaan
kontraktor mengarah ke pekerjaan konstruksi. Kontraktor bertanggung jawab atas ketetapan
dan fungsi bangunan, kekuatan sesuai konsep bangunan ruang secara fungsional maupun
secara keseluruhan.
Tugas kontraktor utama adalah sebagai berikut:
1. Perencanaan dan perhitungan konstruksi.
2. Perencanaan gambar konstruksi.
3. Perecanaan anggaran biaya ( RAB ).
4. Menyediakan segala bahan, tenaga kerja, peralatan kerja dan segala sesuatu yang
digunakan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pembangunan proyek yang
telah disepakati.
5. Mempertanggung jawabkan pekerjaan yang telah dilaksanakan kepada pemilik
atau owner.
6. Wewenang kontraktor utama yaitu mengadakan dan memutuskan hubungan kerja
dengan subkontraktor yang tidak sesuai dengan perjanjian kerja ( kontrak ).

2.2.

Uraian Uraian Tugas Dari PT. SANIJAYA MAKMUR MANDIRI

2.2.1

Operation Direction
Seseorang tertinggi di sebuah perusahaan yang tanggung jawab utamanya meliputi:
1. membuat keputusan perusahaan besar.
2. mengembangkan dan menerapkan strategi tingkat tinggi.
3. mengelola operasi secara keseluruhan dan sumber daya perusahaan.
4. Bertindak sebagai titik utama komunikasi antara dewan direksi dan perusahaan
operasi.

13

14

2.2.2

Koordinator Proyek
1. Pendalaman persoalan, pembuatan jadwal induk dan anggaran, penyusunan
strategi dan pembelian awal.
2. Desain dan engineering: analisis fungsi dan desain engineering, desain
engineering terinci dan pengembangan produk.
3. Pengembangan dan integrasi sistem: studi integrasi fasilitas dan alat.
4. Pembuatan prototype: membuat prototype dan testing.
5. Manufaktur dan produksi: pembelian material dan alat serta fabrikasi komponen
produk.
6. Perakitan dan instalasi: merakit, menginstal, tes, inspeksi dan uji coba sebelum
diserahkan kepada pemesan.

2.2.3. Project Manager


Seseorang yang bertanggung jawab dalam mengurus sebuah proyek dari awal
berjalannya proyek hingga akhir dari perjalanan proyek tersebut. Project manager (PM) harus
mengontrol proyek dan mengumpulkan data progres dari lapangan. Beberapa bagian dari
tugas Project manager (PM) diantaranya:
Merumuskan dan menetapkan rencana kerja proyek untuk mencapai sasaran
proyek:
Membuat

Perencanaan

Proyek

dan

Bangunan

(PPB)

berdasarkan dokumen kontrak.

Merumuskan dan menetapkan Satuan Kerja Khusus (SKK) / Sasaran


Kerja

(Individu) SKI proyek:

Membuat SKK proyek berdasarkan SKK Divisi.

Menetapkan SKI personil proyek berdasarkan SKK Proyek.

15

Mengevaluasi SKK / SKI proyek secara periodik.

Menetapkan sistem manajemen pengelolaan aktivitas proyek:


o Merumuskan struktur organisasi proyek.
o Menetapkan tugas dan tanggung jawab berdasarkan job description masing masing personil proyek.

Menjamin

Visi,

Misi,

Kebijakan,

Sasaran,

SKK

dan

SKI

dikomunikasikan dan dipahami oleh seluruh personil proyek:


o Mensosialisasikan Visi, Misi, Kebijakan, Sasaran, SKK, SKI kepada seluruh
staf proyek.
o Mereview hasil pemahaman terhadap Visi, Misi, Kebijakan, Sasaran
Perusahaan serta SKK dan SKI pada setiap pelaksanaan MRM proyek.

Menetapkan schedule pelaksanaan proyek meliputi:


o

Schedule pelaksanaan fisik.

Schedule bahan.

Schedule sub kontraktor.

Schedule tenaga.

Schedule alat.

Menetapkan metode pelaksanaan dan mengevaluasinya.

Menetapkan RAP proyek dan mengendalikannya.

Menetapkan sasaran mutu proyek dan mengendalikannya.

Menjamin penerapan dan keefektifan sistem manajemen proyek:


o

Menetapkan rencana AMI proyek.

Memonitor dan mengevaluasi hasil AMI proyek.

Menetapkan tindak lanjut perbaikan hasil AMI jika terjadi penyimpangan.


16

Melaksanakan tinjauan manajemen secara berkala pencapaian sasaran proyek, SKI


& Customer satisfaction:
o Mengevaluasi hasil / realisasi pencapaian sasaran proyek ( BMWS ).
o Mengevaluasi dan mereview SKI proyek secara periodik.
o Mengevaluasi customer satisfaction.
o Mengevaluasi hasil pelaksanaan sistem mutu & K3.

Menetapkan perencanaan dan pelaksanaan pengadaan barang dan


jasa serta alat sesuai dengan PPB.

Memverifikasi dan menyetujui BP/Pemesanan dan pengadaan bahan


dan alat - alat yang dibutuhkan untuk proyek.

Melakukan negoisasi dan menetapkan supplier/mandor proyek, atau


mendelegasikan kepada bawahan yang berwenang.

Menyetujui/menetapkan prestasi sub kontraktor.

Membangun komunikasi dan hubungan baik dengan pihak - pihak terkait untuk
mendukung kelancaran pelaksanaan / proses produksi:
o

Menjalin hubungan baik dengan konsultan / owner.

Menjalin hubungan baik dengan pejabat setempat.

Menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar.

Memanage dan mengembangkan SDM proyek secara berkesinambungan:


o
o

Penyusunan rencana kebutuhan SDM proyek.


Pelaksanaan recruitment, selection, orientation, mutasi, promosi dan
resignment karyawan Kontrak Proyek.

Evaluasi dan pengembangan kompetensi serta pengendalian pelaksanaan job


assignment (dari job value grading personil s/d penetapan sasaran).

17

Pelaksanaan bimbingan (coaching dan counseling).

Penilaian karya ( Performance Appraisal ).

Pengembangan personil berupa perencanaan karir individu, penyusunan


kebutuhan pelatihan, pelaksanaan dan evaluasinya.

2.2.4. Site Engineering


Membantu Pembuatan Rencana Mutu Proyek, di bawah koordinasi Project
Manager dan Site Manager pada awal proyek.
Memahami dan menguasai isi dokumen kontrak kerja yang terdiri atas gambar gambar pelaksana dan spesifikasi berupa Rencana Kerja Teknis ( RKT ) dan
Rencana Kerja Umum ( RKU ).
Membuat desain / shop drawing.
Membuat detail / potongan setiap pekerjaan.
Menyusun progres / time schedule.
Menyusun rencana pembuatan detail pekerjaan engineering yang sesuai dengan
jadwal dan waktu yang telah disepakati dalam Master Schedule.
Mengkoordinir rencana kerja engineering antara pihak kontraktor utama dan sub
kontraktor.
Menyiapkan kebutuhan contoh material yang akan diajukan ke pihak owner /
konsultan untuk mendapatkan persetujuan.
Membantu penyiapan data - data yang perlu ditanyakan ke pihak owner / konsultan
apabila ada masalah teknis yang belum jelas ( request for information ).
Membantu mengarahkan dan memotivasi secara langsung setiap personil tim
engineering untuk mencapai target / memenuhi persyaratan mutu, waktu dan biaya
yang telah disepakati.
18

Membantu mengantisipasi setiap masalah yang timbul selama proses kegiatan


engineering berlangsung terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Membantu memonitor proses kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lapangan dan
segera mengusulkan adanya langkah koreksi bila terjadi penyimpangan kepada
Project Manager.
Membantu Project Manager dan Site Manager dalam mengevaluasi penawaran penawaran dari supplier, sub kontraktor dan mandor sesuai dengan kebutuhan
Rencana Anggaran Pelaksanaan.

2.2.5. Manager Konstruksi ( MK )


Suatu badan atau orang yang dipercaya oleh pemilik proyek ( Owner ) untuk
mengawasi jalannya pelaksanaan proyek yang bersifat multi disiplin. Namun harus mampu
bekerja sama dengan Konsultan Perencana juga Kontraktor guna hasil yang optimum dari
proyek tersebut.
Sementara fungsi dari Konsultan Pengawas adalah:

Mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor.

Mensahkan setiap pekerjaan yang dijalankan oleh Kontraktor untuk masuk ke


pekerjaan berikutnya.

Melaporkan hasil pekerjaan Kontraktor pada Proyek perluasan ruang kuliah


Fakultas Teknik Universitas Pancasila Jakarta kepada pemilik proyek ( Owner ).

Membentuk tim kerja dalam pengawasan proyek agar tidak terjadi kesalahan kesalahan dalam pelaksanaan pembangunan perluasan ruang kuliah Fakultas
Teknik Universitas Pancasila Jakarta.

Membuat keputusan terhadap perubahan gambar perencanaan bila diperlukan


untuk pelaksanaan di lapangan.
19

2.2.6. Safety K 3

Mengidentifikasi resiko kecelakaan pelaksanaan pekerjaan dan melakukan


tindakan pencegahan sesuai dengan safety plan.

Melakukan pengawasan rutin terhadap pelaksanaan K - 3 dan merecord dalam


laporan harian K - 3.

Menyusun laporan K - 3 dan lingkungan serta membuat laporan kecelakaan jika


terjadi kecelakaan.

Identifikasi aspek K - 3 dan lingkungan.

Penetapan rencana mutu pengendalian aspek K - 3 dan lingkungan di proyek.

Sosialisasi dan implementasi pemahaman aspek K - 3 dan lingkungan ke segenap


personil yang ada di proyek.

Pelaksanaan pengendalian aspek K - 3 dan lingkungan dengan membuat schedule


inspeksi atau patroli lapangan, identifikasi jalur aman dan rawan, pemasangan
rambu - rambu K - 3 serta penetapan sangsi bagi yang melanggarnya.

Penyusunan laporan / record K - 3 dan lingkungan untuk dilaporkan ke Divisi


sebelum tanggal 25 setiap bulannya.

Evaluasi dan penyempurnaan pengendalian K - 3 dan lingkungan.

Tool Box Meeting


Tool Box Meeting adalah rapat dalam proyek yang membahas hasil atau laporan
dan Safety Patrol maupun Safety Supervisory. Hal - hal yang dibahas antara lain:
Perbaikan pelaksanaan kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan K3L.
Perbaikan sistem kerja untuk mencegah supaya penyimpangan yang terjadi
tidak terulang kembali.

Sarana peralatan untuk K3L seperti yang melekat pada orang, misalnya:

20

Topi atau helm.


Sepatu lapangan.
Sabuk pengaman untuk pekerja di tempat yang tinggi.
Sarung tangan untuk pekerja tertentu.
Masker pengaman.
Kaca mata las ( goggle ).
Obat - obatan ( P3K ).

Pelaporan dan penanganan kecelakaan kerja.


Pelaporan kecelakaan terdiri dari:
Pelaporan dan penanganan kecelakaan ringan.
Pelaporan dan penanganan kecelakaan berat.
Pelaporan dan penanganan kecelakaan dengan korban meninggal.
Pelaporan dan penanganan kecelakaan alat berat.

Gambar 2.2 Rambu Rambu Peringatan

21

Rambu - rambu peringatan


Fungsi rambu - rambu peringatan adalah untuk:
1) Peringatan bahaya benda jatuh.
2) Peringatan bahaya benturan kepala.
3) Peringatan bahaya longsoran.
4) Peringatan bahaya api / kebakaran.
5) Peringatan tersengat listrik.
6) Peringatan untuk memakai alat pengaman kerja.
7) Peringatan ada alat mesin yang berbahaya.
8) Peringatan larangan untuk memasuki ke lokasi generator listrik.
9) Petunjuk ketinggian ( untuk bangunan yang lebih dari dua lantai ).
10) Petunjuk area fabrikasi besi.
11) Petunjuk jalur ketinggian penumpukan material.
12) Petunjuk untuk melapor (saat keluar masuk proyek).
13) Larangan memasuki areal tertentu.
14) Larangan membawa bahan-bahan berbahaya.

Gambar 2.3 Rambu Rambu Larangan

22

2.2.7. QC
Membantu memberikan penjelasan dan pengarahan pokok - pokok persyaratan
dalam standar ISO agar dapat dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran unit
kerja.
Menjamin mutu dan keselamatan kerja.
Melakukan pengecekan terhadap kualitas material yang datang dan apabila
diperlukan melakukan pengujian sesuai dengan spesifikasi teknik yang berlaku.
Melakukan hasil pekerjaan maupun tahap pekerjaan apakah sudah sesuai dengan
spesifikasi teknis.
Menyusun materi untuk rapat koordinasi dan administrasi proyek.

2.2.8. Engineering
Menganalisa masalah perancangan sistem yang ada dan yang akan dibangun,
mengkodekan desain pada gambar.
Menghitung struktur bangunan dan merencanakan struktur struktur pada
bangunan proyek.
Mengelola

sumber

daya,

merencanakan,

mengadakan,

mengawasi

dan

mengoptimalkan pemanfaatan komunikasi.

2.2.9. Drafter
Membuat gambar pelaksanaan atau gambar shop drawing.
Menyesuaikan gambar perencanaan dengan kondisi yang nyata di lapangan.
Menjelaskan kepada pelaksana lapangan atau surveyor.

23

Membuat gambar akhir pekerjaan atau asbuilt drawing.


Membuat gambar kerja sesuai pengarahan engineer proyek.
Memeriksa kelengkapan dan sistem gambar sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan.
Menyusun dan menyiapkan dokumen asbuilt drawing dalam bentuk terjilid.
Memelihara semua gambar - gambar yang menjadi arsip di proyek.
Membuat detail / potongan untuk memperjelas gambar konstruksi dari Konsultan
Perencana.

2.2.10. QS
Membantu Chief Engineer terhadap volume material, tersedianya back up data Mco
dan evaluasinya ( RAB & RAP ):
o

Mereview perhitungan dan analisa ( RAP & RAB ) gambar kontrak.

Mengevaluasi analisa RAB dan RAP kontrak.

Terlaksananya pengendalian klaim / tagihan mandor / sub kontraktor.

Memverifikasi klaim / tagihan mandor terhadap kontrak dan realisasi di lapangan.


Memonitor klaim / tagihan mandor / sub kontraktor.
Terlaksananya tagihan / klaim ke Owner tepat waktu.
Membuat klaim / tagihan ke Owner sesuai dengan yang telah tercantum di dalam
kontrak.
Memonitor tagihan / pembayaran termin.
Terlaksananya kegiatan / proposal pekerjaan tambah / kurang.
Membuat klaim pekerjaan tambah / kurang ke Owner berdasarkan hasil evaluasi
RAB dan RAP ( Mco ).
24

Membuat proposal pekerjaan tambah / kurang ke Divisi berdasarkan pekerjaan


tambah / kurang yang telah disetujui Owner.

25

2.2.11. Pelaksana
Untuk menentukan dan memilih langkah langkah kegiatan yang akan datang yang
diperlukan untuk mencapai sasaran.
Bertugas menyiapkan, merencanakan, dilanjutkan dengan pengendalian biaya dan
jadwal, seperti: memantau kemajuan pelaksanaan pekerjaan, membuat perkiraan
keperluan dana dan jadwal penyelesaian proyek.
Bertanggung jawab kepada kepala lapangan untuk setiap pekerjaan yang
dipimpinnya.
Mengatur dan mengawasi para pekerja yang berada di bawahnya, supaya dapat
menyelesaikan volume pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh
Pelaksana dan mengikuti semua instruksi dari Pelaksana.
Bertanggung jawab terhadap mutu pekerjaan.
Pelaksana mempunyai asisten yang membantu dalam pelaksanaan di lapangan.

2.2.12. Surveyor

Membuat schedule alat survey dan kalibrasi.

Pengadaan alat survey:

- Proyek.
- Divisi.

Pengendalian alat ukur dan melakukan kalibrasi.

Melakukan pengukuran awal dan existing ( jika proyek lanjutan ).

Melakukan pengukuran sesuai dengan schedule pelaksanaan Supervisor.

Membuat laporan harian pelaksanaan pengukuran ( log book ).

Melakukan pemeliharaan rutin alat ukur.

Membuat laporan bulanan alat ukur.


26

2.2.13. Mechanical / Electrical ( M / E )

Penyediaan alat siap pakai sesuai schedule:


o

Membuat BP alat sesuai schedule.

Memonitor kedatangan alat sesuai BP.

Membuat schedule pemeliharaan alat.

Melakukan pemeliharaan alat sesuai schedule pemeliharaan.

Evaluasi realisasi pemeliharaan alat.

Memastikan kondisi keamanan pemakaian alat:


o Mengidentifikasi resiko kecelakaan penggunaan alat.
o Melakukan tindakan pencegahan pada setiap pemakaian alat.
o Melakukan pengawasan rutin pemakaian alat sesuai dengan safety plan (PPB).

Menguasai secara detail shop drawing.

Merencanakan pipa / plumbing.

Memberi tanda untuk jalur pipa / kabel di lapangan dan berkoordinasi dengan
Supervisor.

Menjalankan tugas lapangan sesuai mingguan / bulanan yang telah dibuat oleh
Site Manager

Membuat laporan / memonitor pekerjaan di lapangan sesuai dengan format yang


telah disepakati.

Membuat / memonitor jadwal kebutuhan alat, tenaga dan bahan.

Menjamin terlaksananya pekerjaan sesuai dengan persyaratan mutu dan waktu


yang telah ditentukan.

27

Melakukan pengawasan pelaksanaan pekerjaan yang dikerjakan oleh sub


kontraktor berdasarkan shop drawing dan kondisi di lapangan.

Membuat daily / weekly progress report ( laporan harian / mingguan ) pekerjaan


terpasang yang dilakukan oleh sub kontraktor untuk diberikan ke Chief Supervisor
/ QS.

Mengkoordinasikan penempatan material maupun tempat pabrikasi serta


kebersihan di lapangan.

Menjamin pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang berlaku.

Menginstruksikan pekerjaan ke mandor berdasarkan SPK yang dibuat oleh QS


dan yang telah disetujui oleh Project Manager.

2.2.14. Assistant Project ADM


Masing - masing pihak tersebut wajib menjalankan tugas lain yang berkaitan dengan
proyek yang telah diberikan oleh atasannya yang lebih tinggi sesuai dengan bidang dan
keahliannya masing - masing.

Membantu pengetikan surat - surat yang diperlukan di proyek.

Menyimpan dan membuat arsip / dokumen yang ada di proyek.

Membantu menerima tamu / telepon.

Membantu tugas - tugas umum yang diberikan oleh Project Manager.

Selain memiliki tugas dan wewenang, masing - masing pihak tersebut di atas juga
memiliki hak. Secara umum hak mereka adalah:

Memperoleh upah atas pekerjaan yang telah mereka kerjakan.

Menerima perlakuan yang baik dari sesama atau dari atasan yang lebih tinggi
jabatannya dan memperoleh jaminan keselamatan kerja.

28

2.2.15. Koordinator Security

Mengawasi situasi di dalam proyek.

Menerima setiap tamu yang akan datang ke dalam lingkungan proyek.

Menjaga keamanan selama proyek berjalan.

Memonitoring setiap bagian bagian keamanan.

Menerima absensi pada setiap karyawan dan staf perusahaan.

2.2.16. Gudang
Pengadaan bahan sesuai schedule ( volume, spesifikasi dan waktu ) :

Memonitoring & koordinasi dengan pihak Divisi untuk kedatangan bahan


berdasarkan PO (verifikasi surat jalan dan PO) atau kedatangan bahan yang
dipasok pelanggan.

Melakukan incoming inspection terhadap barang datang dan melakukan evaluasi


terhadap supplier.

Melakukan penyimpanan bahan sesuai dengan prosedur.

Penanganan dan pemeriksaan permintaan material / barang ( Membuat DPB dan


Rekap DPB ).

Menyusun laporan pengendalian material/barang (mengupdate & mengendalikan


kartu gudang).

Mengeluarkan barang berdasarkan BKG/Bon Keluar Gudang dan rekap kebutuhan


bahan per lokasi.

Melakukan opname sisa bahan di lapangan dan verifikasi terhadap kartu gudang &
mengevaluasinya.

29

Membuat daftar sisa bahan berdasarkan hasil verifikasi sisa bahan di lapangan dan
kartu gudang.

30

2.2.17 Mandor

Bertanggung jawab dalam proses produksi dari gambar konstruksi menjadi


bangunan nyata.

Sebagai perantara manajemen keselamatan kerja kepada pekerja proyek.

Mengawasi seseorang atau sekelompok pekerja dalam sebuah pekerjaan dan


mengetahui dengan tepat sifat dan metode pekerjannya.

Mempunyai hubungan yang dekat terhadap para pekerja.

Mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai segala sesuatu yang berhubungan


dengan mesin, alat dan proses kerja yang berada di dalam pengawasannya.

Mengerti, memahami peraturan dan prosedur program keselamatan kerja untuk


segala operasi aktivitas konstruksi yang berada didalam pengawasannya.

Menempatkan dirinya sebagai perantara atau penghubung langsung antara pekerja


dan perusahaan kontraktor.

2.2.18. Tenaga Kerja


Orang-orang yang terdapat di dalam struktur organisasi proyek tersebut hanya
segelintir dari semua orang yang terlibat di dalam proses pelaksanaan suatu proyek. Ada pihak
yang tidak tercantum di dalamnya tetapi sangat mempengaruhi kualitas hasil suatu proyek,
mereka adalah para tenaga kerja. Dalam bab ini, masalah tenaga kerja hanya dibahas pada
aspek jenis, tugas dan waktu kerjanya. Sedangkan hal - hal lain yang berkaitan dengan
pengawasan dan pengendaliannya akan dibahas pada bab 5, yaitu tentang pengawasan dan
pengendalian proyek.

31

2.2.19. Jenis Jenis Tenaga Kerja


Untuk menyelesaikan pekerjaan suatu proyek, maka akan melibatkan berbagai jenis
tenaga kerja. Berdasarkan periode pembayaran gaji, terdapat berbagai jenis tenaga kerja
antara lain:
1. Tenaga kerja tetap
Yaitu karyawan tetap dari unsur - unsur kontraktor utama yang memiliki keahlian
tersendiri serta pengalaman yang cukup dan mempunyai jabatan dalam struktur
organisasi pemborong. Mereka bekerja sampai proyek selesai dan sesudah itu
bekerja lagi pada proyek dari kontraktor yang sama.
2. Tenaga kerja borongan
Yaitu tenaga kerja yang dipekerjakan di proyek itu, karena adanya perjanjian
kontrak dengan pihak pemborong. Harga borongan pekerja ditentukan sebelum
pekerjaan dimulai dan setelah proyek selesai, mereka tidak ada hubungan kerja
lagi.
3. Tenaga kerja harian
Yaitu tenaga kerja yang dipekerjakan setiap hari dengan sistem pembayaran yang
jelas. Pada proyek perluasan ruang kuliah Fakultas Teknik Universitas Pancasila
Jakarta, tenaga kerjanya adalah tenaga tenaga kerja harian.

2.2.20. Uraian Tugas Tenaga Kerja


Tenaga kerja dalam hal ini buruh bangunannya juga memiliki tugas. Adapun
tugasnya adalah:
1. Mengerjakan seluruh pekerjaan yang ditugaskan oleh Mandor atau atasan lain
yang lebih tinggi jabatannya sesuai dengan keahlian masing - masing dengan
sebaik baiknya.

32

2. Mematuhi seluruh peraturan perusahaan yang berlaku.


3. Menanyakan segala sesuatu yang tidak jelas mengenai pekerjaannya kepada
Mandor agar tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat fatal.
4. Bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang telah dikerjakannya.
5. Menjaga keselamatan diri sendiri.
Sedangkan haknya sama seperti para staf, yaitu menerima upah, memperoleh
perlakuan yang baik dan mendapat jaminan keselamatan kerja selama bekerja.

2.2.21. Waktu Kerja


Jam kerja pada proyek perluasan ruang kuliah Fakultas Teknik Universitas Pancasila
Jakarta yang sudah menjadi ketentuan dari PT. Sanijaya Makmur Mandiri :
1. Jam kerja:
a. Senin - Jumat

: pukul 08.00 - 18.00 WIB.

b. Sabtu

: pukul 08.00 - 18.00 WIB.

Jam kerja ini berlaku untuk semua staf tenaga kerja yang terdapat di dalamnya.
2. Waktu istirahat:
a. Senin - Kamis : pukul 12.00 - 13.00 WIB.
b. Jumat

: pukul 11.30 - 13.30 WIB.

33

2.3.

Gambar Proyek Pembangunan Perluasan Ruang Kuliah FT-UP Jakarta

Gambar 2.4 Proyek Pembangunan Perluasan Ruang Kuliah FT-UP Jakarta

2.4.

Peta Lokasi Proyek Pembangunan Perluasan Ruang Kuliah FT-UP Jakarta

Gambar 2.5 Peta Lokasi Proyek Pembangunan Perluasan Ruang Kuliah FT-UP Jakarta
34

BAB III
MATERIAL DAN PERALATAN

3.1

Material
Dalam pelaksanaan pekerjaan proyek berdasarkan jadwal yang telah dibuat, maka

pengadaan dan pengalokasian material yang cukup sesuai dengan waktu yang dibutuhkan
merupakan hal yang sangat penting. Pengorganisasian yang baik dan benar akan
memperlancar terlaksananya proyek dan pengeluaran biaya menjadi lebih efektif dan efisien
karena sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan. Kurangnya atau tidak tersedianya
material hanya akan memperlambat pelaksanaan pekerjaan pada suatu proyek. Material yang
berlebihan juga tidak baik sebab akan membutuhkan tempat penyimpanan yang lebih besar
dan juga menjadi tidak efektif sehingga akan membuat material tersebut rusak atau dalam
kondisi tidak baik.
Berikut ini adalah material dan peralatan yang digunakan pada proyek perluasan ruang
perkuliahan FT-UP Jakarta berdasarkan spesifikasi teknis.
3.1.1

Beton
Beton merupakan suatu material yang menyerupai batu yang diperoleh dengan cara

membuat suatu campuran yang mempunyai proporsi tertentu dari semen, pasir, kerikil, dan
air. Untuk membuat campuran tersebut menjadi lebih kuat,cepat mengeras dalam cetakan
sesuai dengan bentuk dan dimensi struktur yang diinginkan, maka ditambahkan larutan kimia.
Semen dan air berinteraksi secara kimiawi untuk mengikat partikel partikel agregat
tersebut menjadi suatu massa yang padat. Tambahan air yang melampaui jumlah yang
dibutuhkan untuk reaksi kimia ini diperlukan untuk membuat campuran tersebut bersifat
mudah diolah, yang memungkinkan campuran beton dapat mengisi cetakan sebelum menjadi
keras.
35

Beton dalam berbagai variasi sifat kekakuan dapat diperoleh dengan pengaturan yang
sesuai dari perbandingan jumlah bahan material pembentuknya. Semen khusus seperti semen
berkekuatan tinggi, agregat-agregat khusus atau metode metode khusus memungkinkan
untuk mendapatkan variasi sifat sifat beton yang lebih banyak lagi.
3.1.2

Semen Portland (Portland Cement)


Material semen adalah material yang mempunyai sifat-sifat adhesif dan kohesif yang

diperlukan untuk mengikat agregat-agregat menjadi suatu massa yang padat dan mempunyai
kekuatan yang cukup. Untuk membuat suatu struktur beton, paling utama digunakan bahan
yang disebut sebagai semen hidrolis. Semen memerlukan air untuk membantu proses kimiawi
(hidrasi), dimana pada proses tersebut bubuk semen akan mengeras menjadi suatu massa yang
padat dan keras. Dari berbagai jenis semen hidrolis yang telah dikembangkan, semen portland
merupakan semen yang paling banyak digunakan.
Semen portland merupakan material yang berbentuk bubuk yang sangat halus,
berwarna abu abu yang terdiri dari kalsium dan alumunium silikat. Bahan mentah utama
untuk membuat semen portland adalah batu kapur yang mengandung CaO dan tanah liat atau
endapan batu yang terdiri dari SiO2 dan A2O3. Material ini digiling, diaduk, dilebur hingga
menjadi butiran di dalam sebuah tanur, didinginkan, dan kemudian digiling hingga mencapai
kehalusan sesuai dengan yang dibutuhkan.
Semua semen portland yang digunakan harus semen portland yang memenuhi
standard internasional dan memenuhi persyaratan Portland Cement Type 1 yang ditentukan
dalam ASTM C-150, NI-8, PUBI 1982 atau sesuai SII0013-82.
Semen portland harus disimpan secara baik, dihindarkan dari kelembaban, tidak
berhubungan langsung dengan tanah, dan terlindung dari pengaruh cuaca sampai tiba saatnya
untuk dipakai. Semen portland yang telah menggumpal / membatu atau yang telah disimpan

36

lebih dari 60 hari tidak boleh digunakan. Semen portland harus disimpan sedemikan rupa
sehingga mudah untuk diperiksa dan diambil contohnya.
Material tersebut diangkut dalam satuan volume yang besar atau dalam kantong
kantong semen seberat 40 kg. Beton yang dibuat dari semen portland biasanya memerlukan
waktu kurang lebih dua minggu (14 hari) untuk mencapai kekuatan yang cukup pada saat
cetakan cetakan (bekisting) dari gelagar dan pelat lantai dapat dibuka untuk dapat memikul
beban yang sesuai. Struktur beton tersebut akan mencapai kekuatan rencana setelah 28 hari
kemudian. Setelah masa tersebut, kekuatannya akan terus bertambah sedikit demi sedikit.
Kontraktor harus menggunakan jenis dan merk semen yang digunakan dalam
menentukan rencana campuran beton dan telah diuji pada saat percobaan pembuatan
campuran beton ( trial mix design).
Tabel 3.1 Faktor Air Semen
Jumlah semen
minimum per m3
beton ( kg )

Nilai faktor air


sementisius
maksimum

a. Keadaan keliling non korosif

300

0,50

b. Keadaan keliling disebabkan


oleh kodensasi atau uap korosif

325

0,50

a. Tidak terlindung dari hujan dan


terik matahari langsung

325

0,50

b. Terlindung dari hujan dan terik


matahari langsung

300

0,50

a. Mengalami keadaan basah dan


Kering berganti ganti

325

0,40

b. Mendapat pengaruh sulfat alkali


dari tanah atau air tanah

375

0,40

a. Air tawar

325

0,40

b. Air asin / laut

375

0,40

Beton di dalam ruang bangunan :

Beton di luar ruang bangunan :

Beton yang berhubungan dengan tanah :

Beton yang berkelanjutan berhubungan


dengan air :

37

Gambar 3.1 Semen

3.1.3

Air
Selain memiliki banyak kegunaan pada suatu proyek, keberadaan air juga dapat

merepotkan pekerjaan. Pekerjaan pekerjaan galian pada kedalaman tertentu akan


menyebabkan munculnya air tanah yang membuat pekerjaan tanah menjadi tambah rumit.
Pada proyek perluasan ruang perkuliahan FT-UP Jakarta, muka air tanah ( m.a.t ) berada jauh
dari dasar paling rendah bangunan kurang lebih - 5,00 m, sehingga tidak sampai merepotkan
pekerjaan tanah. Penggunaan air pada suatu proyek biasanya digunakan untuk memenuhi
kebutuhan air untuk mandi, cuci baju, dan lainnya bagi para pekerja yang tinggal di
lingkungan proyek.
Pada saat pembuatan adukan beton yang akan digunakan pada struktur utama harus
dihindari penggunaan air tanah, karena kadar garam pada air tanah yang dikandung belum
teruji. Kadar garam merupakan salah satu penyebab terjadinya karat pada besi beton yang
dapat mengakibatkan perlemahan pada struktur beton.
Keperluan air dalam suatu proyek selain memanfaatkan dari air tanah juga
memerlukan pasokan air dari luar proyek bila kebutuhan air sangat besar, seperti dari PDAM.
38

Air harus bersih, tidak mengandung minyak, dan bebas dari bahan organik, asam, alkali,
garam dan kotoran lain dalam jumlah yang cukup besar yang dapat merusak beton dan besi
tulangan. Sebaiknya dipakai air yang dapat diminum. Apabila terdapat keraguan mengenai
kualitas air harus dilakukan test laboratorium untuk mendapatkan kepastian tentang kelayakan
air.

3.1.4

Agregat
Dalam struktur beton biasanya agregat menempati kurang lebih 70 % sampai

75 %

dari volume massa yang telah mengeras, sisanya terdiri dari adukan semen yang telah
mengeras, air yang belum bereaksi, dan rongga rongga udara. Air yang belum bereaksi dan
rongga rongga udara kenyataannya tidak memberikan sumbangan kekuatan terhadap
struktur beton. Pada umumnya, semakin padat agregat agregat itu tersusun, semakin kuat
pula beton yang akan dihasilkannya yaitu memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca.
Atas dasar inilah gradasi dari ukuran ukuran partikel dalam agregat mempunyai
peranan yang sangat penting untuk menghasilkan susunan beton yang padat. Faktor penting
lainnya adalah agregat tersebut juga harus mempunyai kekuatan yang baik, tahan lama, dan
tahan terhadap cuaca. Selain itu, permukaan agregat juga harus bebas dari kotoran, seperti
tanah liat, lumpur, dan zat organik yang akan memperlemah ikatannya dengan adukan semen,
dan juga tidak boleh terjadi reaksi kimia yang tidak diinginkan antara material tersebut
dengan semen.
Agregat alami umumnya diklasifikasikan sebagai agregat halus dan agregat kasar.
Agregat yang halus atau pasir adalah material yang dapat lolos saringan no. 4, yaitu saringan
yang setiap 1 inchi panjang mempunyai 4 lubang. Sedangkan material yang lebih kasar dari
ukuran itu digolongkan sebagai agregat kasar atau kerikil.

39

Apabila ingin mendapatkan gradasi yang baik, agregat agregat dipisahkan dengan
saringan menjadi dua atau tiga kelompok ukuran dari pasir dan beberapa kelompok ukuran
agregat kasar. Ukuran ukuran ini bisa dikombinasikan dalam penggunanya sesuai dengan
grafik gradasi untuk menghasilkan suatu susunan agregat yang padat. Ukuran maksimum dari
agregat kasar dalam beton bertulang diatur berdasarkan kebutuhan bahwa agregat tersebut
harus dengan mudah dapat mengisi cetakan dan lolos dari celah celah yang terdapat di
antara batang batang besi baja. Untuk tujuan ini, maka ukuran agregat tidak boleh lebih
besar dari seperlima dimensi cetakan yang paling kecil atau sepertiga dari tinggi pelat, atau
tiga perempat dari jarak minimum yang terdapat di antara batang batang besi baja.
Agregat kasar dapat berupa kerikil hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan atau
berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu dengan besar butir lebih dari 5 mm.
Selain itu, agregat kasar lainnya yaitu koral juga harus keras, bersih, tidak berpori, dan jumlah
butir-butir pipih tidak lebih dari 20 %, bersifat kekal (tidak pecah atau hancur oleh pengaruh
cuaca) dan tidak mengandung lumpur lebih dari 1 % (terhadap berat kering) dan bahan lain
yang merusak beton, seperti zat - zat reaktif alkali.
Agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alami
dari batuan - batuan atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat - alat pemecah batu.
Pasir harus terdiri dari butir - butir yang tajam, keras, tahan lama, dan bersih, serta tidak
mengandung lumpur lebih dari 5 % (terhadap berat kering ) atau bahan - bahan organis
lainnya dalam jumlah yang cukup banyak yang dapat merusak bentuk dan akan memperlemah
kekuatan beton. Contoh pasir yang tidak boleh digunakan karena kandungan lumpur yang
cukup besar yaitu pasir laut.
Agregat kasar dan agregat halus harus memenuhi syarat - syarat yang terdapat pada
bab 5.3 dari SNI 032847-2002 pada daftar berikut :

40

Tabel 3.2 Klasifikasi Agregat


AGREGAT KASAR
Ayakan

3.1.5

% lewat ayakan
( berat kering )

AGREGAT HALUS
Ayakan

% lewat ayakan
( berat kering )

30,0 mm

100

10,00 mm

100

25,0 mm

95 100

5,00 mm

90 100

15,0 mm

25 60

2,50 mm

80 100

5,0 mm

0 10

1,20 mm

50 90

2,5 mm

05

0,60 mm

25 60

0,30 mm

10 30

0,15 mm

2 10

Besi Beton dan Kawat Beton


Besi beton adalah material yang digunakan dalam konstruksi beton dengan fungsi

utama untuk menahan gaya tarik (sebagai pelengkap struktur beton bertulang dimana gaya
tekan ditahan oleh beton, sementara gaya tarik ditahan oleh besi beton). Dalam prakteknya di
lapangan, besi beton ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu besi polos dan besi ulir. Sehingga
dalam penulisan untuk menyatakan diameter dari besi beton juga harus dibedakan, yaitu untuk
penulisan besi polos = , sedangkan untuk penulisan besi ulir = D (deformed ).
Besi beton harus disimpan dengan cara berkelompok berdasarkan ukurannya masing
masing dan diberi alas agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah lembab maupun basah
untuk menghindari terjadinya karat. Akan tetapi, apabila masih terjadi karat pada besi beton,
maka sebelum digunakan harus dibersihkan dengan cara disikat dengan sikat kawat tanpa
harus mengurangi diameternya.

41

Gambar 3.2 Besi Beton


Selain besi beton, kawat beton juga sangat penting untuk mengikat rangkaian besi
besi beton terutama untuk mengikat besi beton yang disebut tulangan geser dimana fungsinya
untuk menahan gaya geser akibat gaya normal. Besi beton yang dipakai proyek Perluasan
ruang perkuliahan FT-UP Jakarta adalah besi beton ulir (deformed bar) D 19 mm (BJTD 40).
3.1.6

Baja
Keseluruhan struktur pada bangunan ini menggunakan baja, baik itu untuk kolom dan

juga balok. Ada pun jenis baja yang di gunakan adalah untuk balok menggunakan baja IWF
400 dan untuk kolom baja ANIKOM 350.
Walaupun seluruh struktur utama dari bangunan ini adalah baja tetapi penggunaan besi
tulangan tidak dapat dipisahkan dari struktur bangunan ini. Besi tulangan pada bangunan ini
gunakan untuk plat lantai, dag beton, kolom-kolom praktis, dll.

42

Gambar 3.3 Baja


3.2 Peralatan
Pemilihan dan penentuan alat alat berat yang akan digunakan sangat penting artinya
dalam pelaksanaan proyek. Pemilihan alat yang sesuai dengan kondisi lapangan dan
kebutuhan pekerjaan turut membantu suksesnya proyek tersebut. Penggunaan alat mekanis
sangat diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang sangat sulit dikerjakan oleh manusia.
Penentuan banyaknya jumlah alat perlu dipertimbangkan secara tepat, dengan tujuan
untuk menghasilkan sasaran yang dinginkan dalam batasan waktu, biaya, dan kualitas yang
telah disepakati. Pembelian alat dapat dipertimbangkan dari segi ekonomisnya apakah
menguntungkan atau hanya cukup dengan cara menyewa alat tersebut. Pertimbangan
didasarkan pada nilai guna alat tersebut dan keuntungan yang diperoleh dengan memilikinya.
Dalam pelaksanaan proyek digunakan bermacam macam alat mekanis sesuai dengan
kebutuhan masing masing jenis pekerjaan.

43

3.2.1

Peralatan Berat

3.2.1.1 Concrete Mixer Truck


Concrete mixer truck adalah jenis truk yang dilengkapi dengan drum mixer yang
berfungsi sebagai pengangkut beton siap pakai ( ready mix concrete ) yang dalam hal ini
dipesan dari PT. Adhimix Precast dari batching plant ( tempat pengadukan beton ) ke lokasi
proyek. Truk ini selama perjalanan dari batching plant menuju lokasi proyek selalu
memutarkan drum yang berisi adukan beton yang dimaksudkan agar adukan beton di
dalamnya tidak mengeras dan kondisi adukan beton tetap dalam keadaan merata. Kapasitas
dari suatu mixer truck adalah 7 m3 namun ada juga yang 5 m3.
Prinsip kerja concrete mixer truck ini secara sederhana adalah sebagai berikut : Dalam
drum terdapat bilah bilah baja, ketika dalam perjalanan menuju lokasi proyek, drum ini
berputar perlahan lahan searah putaran jarum jam sehingga adukan mengarah ke dalam.
Perputaran di dalam bertujuan agar tidak terjadi pergeseran ataupun pemisahan agregat
sehingga adukan tetap homogen. Dengan demikian, mutu beton akan selalu terjaga sesuai
dengan kebutuhan rencana.
Ketika sampai di lokasi proyek dan pengecoran berlangsung, arah putaran drum
dibalikkan berlawanan arah putaran jarum jam dan percepatan putaran diperbesar sehingga
adukan beton keluar. Proses pengiriman beton ready mix diatur dengan memperhatikan jarak,
kondisi lalu lintas, cuaca, dan kondisi suhu, karena hal hal tersebut dapat mempengaruhi
waktu dalam pelaksanaan pekerjaan pengecoran.

44

Gambar 3.4 Concrete Mixer Truck


3.2.1.2 Concrete Pump
Concrete pump ini berfungsi untuk memompakan adukan dari mixer truck ke tempat
pengecoran melalui pipa besi yang dapat disambung-sambung. Alat ini dilengkapi dengan
mesin pemompa adukan beton dan sangat tepat untuk pengecoran yang berlokasi cukup jauh
dan sulit, serta volume pekerjaan yang besar.
Akan tetapi hal ini juga harus didukung oleh pengaturan atau penyebaran pengecoran
yang baik sehingga pengadukan dan pengaturan pipa-pipa besi concrete pump dapat
digunakan secara efisien. Semakin tinggi daerah pengecoran, maka kekuatan concrete pump
yang dibutuhkan semakin besar. Untuk pengecoran kolom dengan alat ini agak sulit karena
semprotan beton yang keluar dari pipa-pipa besi dapat menyebabkan pergeseran cetakan
kolom sehingga kolom yang dihasilkan tidak baik (miring). Nilai slump beton harus sesuai
dengan yang diisyaratkan agar concrete pump tidak rusak.

45

Gambar 3.5 Concrete Pump

3.2.1.3 Concrete mixer (Molen)


Alat ini digunakan untuk mengaduk campuran beton agar lebir rata dari pada di aduk
secara manual.

Gambar 3.6 Concrete Mixer (Molen)

3.2.1.4 Truck
46

Peralatan yang digunakan untuk memindahkan material seperti pengangkutan tanah


maupun puing puing ke dalam maupun keluar dari lokasi proyek, yang kemudian dibuang
atau dipindahkan ke tempat lain.

Gambar 3.7 Truck

3.2.2

Peralatan Ringan

3.2.2.2 Bar Bender


Bar bender adalah suatu alat mekanis yang digunakan untuk membengkokkan baja
tulangan setelah dipotong dengan bar cutter. Pembengkokan ini biasanya bentuk dan
ukurannya telah ditentukan sesuai dengan hasil perhitungan yang dibuat oleh perencana serta
berdasarkan pada BBS (Bar Bending Schedule). Pada bagian atas alat tersebut terdapat lubang
lubang yang berguna untuk menentukan sudut pembengkokan dengan cara memberi
penahan sesuai dengan sudut yang diinginkan. Kemudian besi siap untuk dibengkokan.

47

Gambar 3.8 Bar Bender

3.2.2.3 Bar Cutter


Bar cutter adalah suatu alat mekanis yang digunakan untuk memotong baja tulangan.
Alat potong ini berupa pisau blok yang dilakukan secara otomatis atau manual. Cara kerja alat
ini adalah dengan meletakkan baja tulangan yang akan dipotong pada celah dengan posisi
yang dibutuhkan. Bar cutter kemudian diletakkan ke bawah sampai pisau blok mengenai baja
tulangan tersebut hingga baja tulangan tersebut terpotong.

Gambar 3.9 Bar Cutter


48

3.2.2.4 Waterpass dan Theodolite + Tripod


Waterpass adalah suatu alat yang digunakan untuk menentukan atau mengukur
ketinggian (elevasi) bangunan. Sedangkan theodolite digunakan untuk menentukan letak as
bangunan, as kolom, membuat sudut, mengecek kolom dan balok sebelum dan sesudah
pengecoran. Sedangkan tripod digunakan untuk tempat berdirinya alat ukur, baik waterpass
maupun theodolite.

Gambar 3.10
Waterpass + Tripod ( Kaki Tiga )

Gambar 3.11
Theodolite

49

3.2.2.5 Peralatan lain


Alat-alat lain yang digunakan pada proyek perluasan ruang perkuliahan FT-UP Jakarta
selain yang disebutkan di atas adalah alat alat seperti sekop, kereta dorong (troller), tang,
palu, meteran, gergaji, serta alat alat manual lainnya yang secara tidak langsung juga
membantu pelaksanaan pekerjaan.

BAB IV
PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR

4.1

Tinjauan Umum
Bab ini berisikan hal - hal yang kami lihat di lapangan selama melaksanakan kerja

praktek. Pada saat kami mulai kerja praktek, pekerjaan struktur bawah sudah dilakukan yaitu
pekerjaan pondasi dengan menggunakan mesin bore pile. Pekerjaan yang kami temui
merupakan pekerjaan yang meliputi:
4.2

Pekerjaan Kolom
Kolom yang dimaksud adalah kolom struktur atas bangunan. Kolom ini berfungsi

untuk menahan beban vertikal, horizontal dan momen lentur. Kolom dari suatu bangunan
merupakan salah satu elemen dari struktur rangka yang mengalami desak dan lentur serta
pemakaiannya selalu dihubungkan dengan elemen struktur yang lain yaitu balok sebagai satu
kesatuan. Kolom berfungsi menahan gaya - gaya yang bekerja pada balok dan meneruskannya
ke pondasi. Sebagai bagian dari suatu kerangka bangunan dengan fungsi tersebut maka kolom
menempati posisi penting di dalam sistem struktur bangunan.
50

Semakin langsing atau semakin panjang suatu kolom, kekuatan penampangnya akan
berkurang bersamaan dengan timbulnya masalah tekuk yang dihadapi. Kolom umumnya
mengalami pembebanan eksentris tertentu (yaitu beban yang tidak bekerja pada pusat berat
penampang melintang). Oleh karena itu, dalam merencanakan struktur kolom harus
diperhitungkan secara cermat dengan memberikan kekuatan cadangan kekuatan lebih tinggi
daripada untuk komponen struktur lainnya. Hal ini dikarenakan tuntutan arsitektural sekarang
ini menuntut bangunan yang tidak selalu simetris. mengakibatkan momen yang menimbulkan
terjadinya tegangan tarik, dengan demikian penampang kolom akan menjadi daerah tekan dan
tarik.
4.2.1

Persiapan Pekerjaan
Beton tidak diperbolehkan dicor apabila seluruh pekerjaan bekisting, pekerjaan

penulangan dan pemasangan benda - benda yang tertanam di dalam beton yang berdasarkan
gambar kerja belum selesai dilakukan dan persiapan serta pembersihan seluruh permukaan
tempat pengecoran belum disetujui oleh Pengawas.

4.2.2

Pembesian
Di laporan kerja praktek ini data mengenai diameter besi yang digunakan untuk

pembesian pondasi sebagai berikut:


Untuk pembesian pondasi tiap titik pondasi besi yang digunakan adalah besi dengan 19 mm
dengan besi beugel dengan 8 mm.
Alat-alat yang digunakan adalah:
1.

Bar Bender.

2.

Bar Cutter.

3.

Tang Gegep.

51

Gambar 4.1 Pembesian Pada Pondasi


4.2.3

Perakitan, Pengeboran Dan Pengecoran Pondasi


Beton yang digunakan adalah beton siap pakai (Ready Mix) sesuai dengan spesifikasi

Bill of Quantity (BQ). Sebelum beton tersebut digunakan, terlebih dahulu diadakan pengujian
slump dan pembuatan benda uji sesuai dengan ketentuan.
Alat-alat yang digunakan:
1. Concrete Pump.
2. Vibrator / alat getar.
3. Tremi.
4. Truk Mixer.
Hal - hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Lokasi harus sudah dibersihkan.
2. Menentukan jumlah volume dan melakukan uji slump pada mutu beton yang akan
dipakai di dalam pengecoran.
3. Pelaksanaan pengecoran dapat dilakukan

setelah adanya check list dan

persetujuan oleh MK.

52

Cara Pelakasanaan:
1. Pekerjaan pengecoran kolom dilakukan dengan Concrete Pump. Beton yang akan
dituang ke dalam kolom terlebih dahulu dituang ke dalam Concrete Pump dari
Concrete Mixer Truck, setelah itu baru ditembakkan ke dalam kolom yang akan
dicor. Pada proyek ini, dilakukannya pengecoran dengan Concrete Pump karena
pengecoran tidak terlalu tinggi dan masih terjangkau dengan alat tersebut. Perlu
diperhatikan bahwa beton yang ada di dalam Concrete Pump tidak boleh sampai
terjadi setting, bilamana terjadi kekurangan beton dari Concrete Mixer Truck yang
belum dituang. Apabila hal ini terjadi, maka sisa beton yang ada di dalam Concrete
Pump harus dibuang, baru kemudian diisi dengan beton baru yang dituang dari
Concrete Mixer Truck berikutnya. Ini untuk menjaga kualitas dari beton tersebut.
2. Melaksanakan pemadatan beton dengan vibrator dengan cara memasukan ke
dalam adukan beton secara tegak lurus dibantu dengan menggetarkan atau
mengetuk bekisting bagian luar dengan palu karet.
Dalam menggunakan Vibrator yang harus diperhatikan:
a. Vibrator tidak boleh mengenai/menempel dengan bekisting karena akan
mempengaruhi posisi bekisting.
b. Vibrator tidak boleh mengenai/menempel dengan tulangan karena akan
menyebabkan di sekitar tulangan hanya terdapat air dan semen, sedangkan
agregat menjauh dari tulangan, akibatnya tulangan kurang menyatu dengan
agregat.
3. Menghentikan pengecoran dengan meratakan permukaan beton pada batas cor atau
stop cor.

53

Gambar 4.2 Perakitan, Pengeboran Dan Pengecoran Pondasi


Pada pekerjaan pengeboran khususnya untuk pemakaian casing sebagai penahan
dinding agar tanah tidak longsor ketika melakukan pengecoran beton tidak digunakan pada
Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP. Padahal dalam pengamatan
dilapangan kami temukan bahwa kondisi tanah pada saat proyek berlangsung tidak cukup
baik dan disertai adanya hujan. Berikut kami akan berikan beberapa contoh gambar
dilapangan terkait dengan dengan hal ini.

54

Gambar 4.3 Pengeboran Dan Pemasukan Tulangan Kedalam Lubang Bor


Berdasarkan pengamatan di lapangan maka kami menyarankan baiknya dengan
kondisii muka air tinggi dan keadaan tanah yang tidak memungkinkan, apalagi dalam
proses pelaksanaan hujan maka kondisi tanah yang awalnya direncanakan baik sehingga
tidak perlu menggunakan casing sebaiknya menggunakan casing sebagai penahan dinding.

4.3

Pekerjaan Plat Lantai


Plat lantai ini merupakan bagian struktur penting untuk memikul beban mati dan

beban hidup pada bangunan yang terhubung dengan balok yang selanjutnya diteruskan ke
kolom. Yang dimaksud dengan plat beton bertulang yaitu struktur tipis yang dibuat dari beton
bertulang dengan bidang yang arahnya horizontal dan beban yang bekerja tegak lurus pada
struktur tersebut. Ketebalan bidang plat ini relatif sangat kecil apabila dibandingkan dengan
bentang panjang / lebar bidangnya. Plat beton ini sangat kaku dan arahnya horisontal,
sehingga pada bangunan gedung, plat ini berfungsi sebagai diafragma / unsur pengaku
horizontal yang sangat bermanfaat untuk mendukung ketegaran balok portal. Plat beton
bertulang banyak digunakan pada bangunan sipil, baik sebagai lantai bangunan, lantai atap
dari suatu gedung, lantai jembatan maupun lantai pada dermaga. Beban yang bekerja pada
plat umumnya diperhitungkan terhadap beban gravitasi (beban mati dan / atau beban hidup).
Beban tersebut mengakibatkan terjadinya momen lentur. Di laporan kerja praktek ini data
mutu beton yang kami peroleh dari tempat proyek untuk tiap balok dan plat adalah:K350

Tumpuan plat
Untuk merencanakan plat beton bertulang, yang perlu dipertimbangkan
tidak hanya pembebanannya saja, tetapi juga jenis perletakan dan jenis

55

penghubung di tempat tumpuan. Kekakuan hubungan antara plat dan tumpuan


akan menentukan besar momen lentur yang terjadi pada plat.
Untuk bangunan gedung, umumnya plat tersebut ditumpu oleh balok balok secara monolit, yaitu plat dan balok dicor bersama - sama sehingga menjadi
satu - kesatuan, seperti pada gambar (a) atau ditumpu oleh dinding - dinding
bangunan seperti pada gambar (b). Kemungkinan lainnya, yaitu plat didukung oleh
balok - balok baja dengan sistem komposit seperti pada gambar (c), atau didukung
oleh kolom secara langsung tanpa balok, yang dikenal dengan plat cendawan,
seperti pada gambar (d).

Gambar 4.4 Jenis Perletakan Plat Pada Balok

4.3.1

Pembesian plat lantai


Pembesian pada plat lantai setelah bekisting plat lantai dipasang. Pekerjaan ini

meliputi pemotongan dan pemasangan sesuai dengan gambar rencana / Shop Drawing. Di
laporan kerja praktek ini data mengenai diameter besi yang digunakan untuk pembesian tiap
lantai adalah sebagai berikut:.

56

Untuk pembesian plat tiap lantai besi yang digunakan adalah besi dengan diameter
10 mm dengan pembesian yang dibuat dua lapis dan dua arah.
Alat - alat yang digunakan:
1. Bar Bender.
2. Bar Cutter.
3. Tang Gegep.
Hal - hal yang harus diperhatikan:
1. Besi tulangan diusahakan bersih dari kotoran dan karat karena akan mengurangi
daya lekat besi dengan beton.
2. Pemotongan harus sesuai dengan gambar rencana / Shop Drawing.
3. Menyiapkan material - material besi serta material pendukung lainnya.
Cara pelaksanaannya:
1. Memahami gambar kerja.
2. Mempersiapkan bahan dan alat-alat yang digunakan.
3. Tulangan untuk plat lantai baik atas maupun bawah, menggunakan wermesh atau
tulangan jadi dengan cara pesan langsung dari toko material.
4. Wermesh yang digunakan adalah jenis deformed atau ulir dengan jarak antar
tulangan sesuai dengan bestek.
5. Untuk menjaga jarak antara tulangan atas dengan tulangan bawah agar tidak
berubah, maka perlu dipasang cakar ayam dari besi yang diletakkan pada daerah
tumpuan.
6. Beton decking digunakan untuk mendapatkan selimut beton 25 mm, yang dipasang
antara alas bekisting dengan wermes bagian bawah.

57

Gambar 4.5 Pembesian Plat Lantai

4.3.2

Pengecoran Plat Lantai


Pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan pembesian plat lantai selesai. Pengecoran

dilakukan dengan menggunakan Concrete Pump seperti yang terlihat pada gambar. Beton
yang digunakan adalah beton siap pakai (ready mix) yang memenuhi persyaratan mutu.
Sebelum beton digunakan, diadakan pengujian slump beton dan pembuatan benda uji sesuai
dengan ketentuan yang disyaratkan dalam SNI 03-2847-2002, kecuali ditentukan lain oleh
Pengawas. Bila dipakai pompa beton, slump harus didasarkan pada pengukuran di
pelepasan pipa, bukan di truck mixer. Maximum slump harus 100 mm sampai 150 mm.
Rekomendasi slump untuk variasi beton konstruksi pada keadaan atau kondisi normal (tanpa
admixtures), yaitu sebagai berikut:

Slump Test

58

Slump Test adalah tes yang langsung diadakan di lapangan untuk mengetahui
kekentalan adukan beton yang akan digunakan.
Adapun cara melakukan slump test adalah sebagai berikut:
1. Sediakan Kerucut Abrams yaitu kerucut terpancung yang memiliki diameter
atas 10 cm, diameter bawah 20 cm, dan tinggi 30 cm. Kerucut ini diletakkan di
atas bidang yang rata dan tidak menyerap air.
2. Ambil adukan yang berasal langsung dari truck mixer dengan menggunakan
ember atau alat lain yang tidak menyerap air. Bila diperlukan, adukan beton
diaduk lagi terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian slump.
3. Kemudian isi kerucut tersebut dengan adukan yang telah diambil melalui 3
tahapan atau 3 lapis, dengan ketentuan sebagai berikut:

Tahap atau lapis ke 1


Adukan beton dimasukkan ke dalam kerucut sebanyak 1/3 bagian dari
volume kerucut, kemudian adukan dipadatkan dengan cara menusuk adukan
dengan tongkat baja yang memiliki diameter 16 mm dan panjang 60 cm
sebanyak 25 kali.

Tahap atau lapis ke 2


Masukkan kembali adukan beton ke dalam kerucut hingga mencapai 2/3
volume kerucut dan padatkan dengan cara ditusuk tusuk sebanyak 25 kali.

Tahap atau lapis ke 3


Isi kerucut dengan adukan beton hingga penuh dan padatkan dengan cara
ditusuk tusuk sebanyak 25 kali.

4. Setelah kerucut penuh, permukaan adukan pada diameter atas diratakan,


kemudian dilakukan pengujian dengan cara menarik kerucut ke atas secara
perlahan lahan.

59

5. Ukur penurunan adukan beton terhadap tinggi kerucut, maka didapatlah nilai
slump test.

Gambar 4.6 Pelaksanaan, Pengukuran Slump Test dan Pengujian Beton

Tabel 4.1. Penurunan Pada Slump


Slump pada ( cm )
Konstruksi Beton
Pile Cap Raft (Mat Foundation)
Pile Cap, Slab dan Tie Beam
Basement Wall
Wall dan Column
Slab, Beam dan Prestress Beam

Maksimum
14.00
14.00
17.00
17.00
14.00

Minimum
10.00
10.00
13.00
13.00
10.00

Pada saat di proyek,hasil slump test yang di dapat adalah:12 cm.proses slumpt test di
lakukan dua kali yaitu pertama di pabrik PT.ADHIMIX dan kedua dilakukan di tempat
proyek.
Alat - alat yang digunakan untuk pengecoran:

60

1. Concrete Pump.
2. Truck Mixer.
3. Vibrator / alat getar.
4. Compressor.
5. Trowel Machine untuk meratakan cor-an.
Hal - hal yang perlu diperhatikan:
1. Pemasangan relat cor pada top rebar yang menunjukkan batas berhentinya
pengecoran.
2. Daerah yang akan dicor dibersihkan terlebih duhulu dengan menggunakan air
compressor agar kotoran yang ada pada daerah yang akan dicor nantinya tidak
menyatu dengan agregat.
3. Dicek lagi kekuatan form work dengan penambahan pipe support.
4. Diperhatikan juga adanya daerah Necking, karena jika ada penyusutan / Shrinkage
dapat menyebabkan terjadinya crack / retak.
5. Stop cor menggunakan besi siku dan kawat ayam.
6. Pengaturan waktu datangnya truck mixer yang satu dengan yang lainnya.
Cara pelaksanaannya:
1. Membersihkan area yang akan dicor terlebih dahulu dengan mengunakan air
compressor sampai seluruh permukan yang akan dituang beton bersih dari kotoran.
2. Menghidupkan mesin vibrator sebelum beton dituang.
3. Mengatur atau mengarahkan penuangan beton sesuai dengan metode pelaksanaan,
dimana pengecoran dilakukan dengan mengunakan concrete pump.
4. Melaksanakan pemadatan dengan vibrator mengikuti pekerjaan penuangan beton.
5. Mengontrol elevasi ketinggian beton pada saat pelaksanaan pengecoran.

61

6. Menghentikan pengecoran dan meratakan permukaan beton dengan menggunakan


alat perata atau jidar sesuai dengan stop cor yang telah ditentukan.
7. Melaksanakan curing beton pada saat umur beton telah mencapai 6 jam.
Perawatan beton juga perlu dilakukan. Dengan cara meletakkan karung basah di atas
permukaan yang baru dicor. Ini bertujuan agar beton baru tetap basah dan kering alami bukan
kering karena matahari.

Gambar 4.7 Pengecoran Plat Lantai

4.3.3

Pembongkaran Bekisting
Setelah pekerjaan pengecoran selesai, selanjutnya dilakukan pembongkaran cetakan

beton (bekisting). Pembongkaran cetakan harus sesuai dengan ketentuan dari SNI 03-28472002 yaitu seluruh bagian dari cetakan yang sudah dapat dibongkar harus dilepas dengan
tenaga statis, tanpa goncangan, getaran atau kerusakan pada beton.
Pembongkaran bekisting / cetakan dan perancah yang memikul berat beton tergantung
dari kekuatan yang telah dicapai oleh beton berdasarkan hasil pemeriksaan benda uji.

62

Bekisting / cetakan pelat dan elemen struktur lainnya hanya boleh dibongkar setelah beton
mencapai minimal 75 % kekuatan yang dipersyaratkan.

4.4

Perawatan Beton
1. Secara umum harus memenuhi persyaratan didalam SNI 03-2847-2002 dan ACI
301.
2. Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap proses pengeringan yang belum tiba
saatnya yaitu dengan cara mempertahankan kondisi dimana kehilangan
kelembaban adalah minimal dan suhunya konstan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan untuk proses hidrasi semen serta pengerasan beton.
3. Masa perawatan dan cara perawatan beton:
a. Perawatan beton dimulai segera setelah pengecoran selesai dilaksanakan dan
harus berlangsung terus - menerus selama paling sedikit 2 minggu, jika tidak
ditentukan lain. Suhu beton pada awal pengecoran harus dipertahankan tidak
lebih dari 300C.
b. Dalam jangka waktu tersebut, cetakan dan acuan beton harus tetap dalam
keadaan basah, apabila masa pelaksaanan perawatan beton tetap dilakukan
dengan membasahi permukaan beton secara terus menerus dengan
menutupinya dengan karung karung basah atau dengan cara lain yang telah
disetujui oleh Pengawas.
c. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap bertekanan udara luar dan
pemanasan atau proses - proses lain untuk mempersingkat waktu pengerasan
dapat dipakai tetapi harus disetujui terlebih dahulu oleh Pengawas.

63

4. Selama masa pemeliharaan, beton harus dilindungi dari kerusakan akibat mekanik,
tegangan - tegangan akibat beban utama, kejutan besar (heavy shock) dan getaran
yang berlebihan.

64

BAB V
PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PROYEK

5.1 Tinjauan Umum


Sebagai suatu proses, manajemen mengenal suatu urutan pelaksanaan yang logis, yang
menggambarkan bahwa ada tindakan tindakan manajemen yang semata mata diarahkan
pada pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Salah satu tindakan manjemen yang berkaitan
dengan pencapaian tujuan / sasaran yang diinginkan dengan pemanfaatan sumber daya yang
tersedia secara efektif dan efisien adalah melalui pengawasan dan pengendalian proyek.
Pengawasan (supervising) adalah suatu proses pengevaluasian atau perbaikan terhadap
pelaksanaan kegiatan dengan berpedoman pada standard dan peraturan yang berlaku dengan
tujuan agar hasil dari kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan proyek.
Pengendalian (controlling) adalah tindakan pengukuran penampilan kualitas dan
penganalisaan serta pengevaluasian penampilan yang diikuti dengan tindakan perbaikan yang
harus diambil terhadap penyimpangan yang terjadi (di luar batas toleransi) atau proses
penetapan apa yang telah dicapai, evaluasi kinerja, dan langkah perbaikan bila diperlukan.
Proses ini dapat dilakukan jika sebelumnya telah ada kegiatan perencanaan, karena
esensi pengendalian adalah membandingkan apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang
telah terjadi. Variansi dari kedua kegiatan ini mencerminkan potret diri dari proyek tersebut.
Bertitik tolak pada hal di atas, secara singkat proses pengendalian proyek dapat
diuraikan menjadi langkah langkah berikut :
1. Menentukan sasaran berupa produk atau instalasi dengan batas anggaran, jadwal,
dan mutu yang telah ditentukan
2. Menentukan standar dan kriteria sebagai patokan dalam rangka mencapai tujuan

65

3. Merancang / menyusun sistem informasi, pemantauan, dan pelaporan hasil


pelaksanaan pekerjaan
4. Mengumpulkan data info hasil implementasi ( pelaksanaan dari apa yang telah
dilaksanakan )
5. Mengkaji dan menganalisis hasil pekerjaan terhadap standard, kriteria, dan sasaran
yang telah ditentukan
6. Mengadakan tingkat pembetulan
Ada tujuan
Menyiapkan

rencana

Melaksanakan

tujuan

Menerapkan standar

rencana
Mengukur hasil pelaksanaan

Mengukur hasil pelaksanaan

Langkah - langkah koreksi

Hasil
pelaksanaan
dgn standar

tdk

ya
Hasil pelaksanaan diterima

Gambar 5.1 Bagan Proses Pengendalian Proyek

Adapun hal-hal atau unsur-unsur yang harus senantiasa diawasi dan dikendalikan di
dalam proses pencapaian tujuan atau sasaran proyek adalah :
1. Besarnya biaya ( anggaran ) yang dialokasikan ( cost control ).
2. Jadwal / waktu ( time control ).
3. Mutu yang harus dipenuhi ( quality control )

66

Gambar 5.2 Bagan Unsur unsur Pengawasan dan Pengendalian Proyek


Biaya, mutu, dan waktu biasa disebut kendala ( triple constraint ). Ketiga batasan
tersebut bersifat tarik - menarik. Artinya, jika ingin meningkatkan kinerja produk yang telah
disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini
selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga melebihi anggaran. Sebaliknya jika ingin
menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal. Dari segi
teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut
dapat dipenuhi.
Namun pada Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP, selain
ketiga kendala tersebut masih ada kendala yang dianggap perlu untuk selalu diawasi dan
dikendalikan dengan sebaik baiknya yaitu masalah keselamatan dan kesehatan kerja ( safety
control ) atau disingkat K - 3 karena proses kerja yang aman sangat berpengaruh terhadap
pencapaian tujuan. Bagaimana hubungan antara kendala kendala tersebut dengan tujuan
proyek akan dibahas pada subbab selanjutnya.
5.2 Pengawasan dan Pengendalian Biaya Pekerjaan ( Cost Control )
Pengawasan dan pengendalian biaya harus bertujuan untuk menjamin bahwa biaya
akhir proyek (final cost) tidak melebihi anggaran proyek yang telah direncanakan atau yang
telah disepakati dalam kontrak. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah
besar dan jadwal pengerjaan bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total,
tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau per periode yang jumlahnya disesuaikan
dengan keperluan.
67

Pengendalian biaya memusatkan diri pada faktor kuantitas dan harga satuan
komponen biaya. Demikian pula mengenai pemilihan waktu (timing) status ikatan pembelian
(commitment), karena faktor faktor tersebut sering menjadi sumber terjadinya varians biaya.
Adapun komponen biaya di atas dapat terdiri dari :
-

Biaya kantor pusat dengan kegiatan utama desain engineering

Pengadaan material dan peralatan

Biaya sub-kontraktor

Pada proses awal suatu proyek, jenis kontrak dan pembuatan rencana biaya atau
anggaran proyek merupakan bagian dari suatu rencana yang terkait dengan masalah
pengawasan dan pengendalian proyek terutama dalam hal biaya.
Di dalam pembangunan proyek konstruksi pada dasarnya terdapat 2 jenis kontrak,
yaitu :
1. Kontrak dengan Harga Tetap ( Fixed Price Contract )
Kontrak dengan harga tetap mewajibkan kontraktor untuk melaksanakan
pekerjaan hingga selesai sesuai dengan kontrak. Jika total biaya yang dikeluarkan
kontraktor di akhir pembangunan lebih besar dari biaya dalam kontrak, maka
kontraktor tersebut menderita kerugian. Jika kontraktor mengalami sebaliknya,
maka kontraktor memperoleh keuntungan.
Kontrak dengan harga tetap dibagi lagi menjadi 3 macam, yaitu :
a. Kontrak dengan Lump Sum ( Lump Sum Contract )
Pada kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan seluruh
pekerjaan dengan biaya tetap meskipun terjadi perubahan volume. Oleh sebab
itu, kontraktor harus melengkapi seluruh gambar dan spesifikasi pekerjaan
yang akan dilaksanakan.

68

b. Kontrak Jadwal Harga Satuan ( Schedule of Rates Contract )


Pada kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai jenis
pekerjaan dimana masing masing pekerjaan mempunyai harga satuan yang
tetap tetapi jumlah sebenarnya dari tiap pekerjaan hanya berupa taksiran.
c. Kontrak Daftar Volume ( Bill of Quantity Contract )
Dengan kontrak ini, kontraktor menawarkan untuk menyelesaikan berbagai
pekerjaan dengan masing masing jenis pekerjaan mempunyai harga satuan
yang tetap dan volume pekerjaan berdasarkan gambar rencana.
2. Kontrak Berdasarkan Biaya ditambah Jasa ( Cost Plus Fee Contract )
Jenis kontrak ini mewajibkan pemilik membayar biaya nyata yang dikeluarkan
untuk menyelesaikan pekerjaan ditambah biaya atas jasa yang dilakukan
kontraktor. Jenis kontrak ini hanya digunakan untuk jenis pekerjaan yang kecil
atau sulit untuk menentukan harga satuan pekerjaan.
Berdasarkan data yang diperoleh, pembangunan Proyek Perluasan Gedung
Perkuliahan FT-UP menggunakan jenis kontrak lump sump. Oleh sebab itu, untuk menjaga
agar proyek ini tidak mengalami kerugian, maka perlu pengawasan dan pengendalian biaya
yang ekstra ketat dari pihak kontraktor.
Dalam perencanaan biaya diperlukan seorang estimator. Estimator adalah orang yang
melakukan kegiatan estimasi, yaitu salah satu proses utama dalam proyek konstruksi untuk
menjawab pertanyaan Berapa besar dana yang harus disediakan untuk sebuah bangunan ?.
Kegiatan estimasi merupakan dasar untuk membuat sistem pembiayaan dan jadwal
pelaksanaan konstruksi. Kegiatan estimasi dilakukan dengan terlebih dahulu mempelajari
gambar rencana dan spesifikasi untuk mengetahui kebutuhan material yang akan digunakan
dan biasanya dilakukan untuk keperluan tender.

69

Kegiatan estimasi berhubungan dengan biaya, sementara biaya merupakan variabel


tidak tetap, artinya mudah berubah jika ada sesuatu yang mempengaruhinya. Adapun hal hal
yang ikut mengkontribusi biaya, yaitu :
1) Produktifitas tenaga kerja.
2) Ketersediaan material dan peralatan.
3) Cuaca.
4) Jenis kontrak .
5) Kemampuan manajemen.
Sedangkan selama proses pembangunan, pengawasan dan pengendalian biaya
dilakukan oleh project manager dengan bantuan QS (Quantity Surveyor). Dimana tugasnya
adalah membantu project manager menyusun laporan anggaran proyek dan menghitung harga
(sesuai dengan volume pekerjaan) yang diberikan oleh sub-kontraktor, kemudian
membandingkannya dengan anggaran proyek.
Selain membuat ramalan biaya perlu juga membuat riwayat biaya. Riwayat biaya
adalah alat bantu untuk menjaga agar ramalan biaya tetap relevan. Pembuatan riwayat biaya
sama artinya dengan membuat jadwal aliran keuangan proyek yaitu dengan membuat arus kas
atau cash flow. Adapun fungsinya adalah agar likuiditas keuangan dapat tetap terjaga demi
kelancaran proyek ( penyesuaian biaya yang dikeluarkan dengan pemasukan ).

70

Tabel 5.1. Ilustrasi Ramalan Biaya Proyek


Tahap

Tahap

Tahap

Tahap

Tahap Sebelum

Briefing

Rancangan

Tender

Konsultasi

Pembangunan

Taksiran biaya

* Periksa biaya

* Gambar spesifikasi

* Kontrak

dengan rancangan

* Daftar kuitansi

* Pekerjaan tambah

* Konsultasi dengan

* Bentuk kontrak

konsultan

Perhitungan akhir

kurang
* Kemungkinan perubahan
harga

Catatan Harian Biaya Tiap Pos


Anggaran Proyek
Ramalan Biaya Akhir

Dibandingkan dengan Periode Tertentu

Arus kas proyek memberikan gambaran mengenai jumlah dana yang tersedia setiap
saat yang dapat dipakai bagi berbagai kebutuhan operasional pelaksanaan proyek. Dalam
pelaksanaannya, arus kas memuat jumlah pemasukan dan jumlah pengeluaran.
Langkah langkah membuat rencana arus kas sederhana guna membantu
mengendalikan biaya proyek konstruksi adalah sebagai berikut :
1. Tentukan karakteristik proyek yang berkaitan dengan finansial, seperti : jenis
kontrak proyek, kontrak kredit bank, dan pemodalan lainnya.
2. Buat diagram jaring proyek untuk membuat diagram batang.
3. Buat diagram batang proyek untuk membuat kurva S.
4. Buat kurva S lengkap dengan rencana distribusi biaya sesuai dengan satuan waktu
dan rencana progres pekerjaan.
5. Buat tabel arus kas yang sesuai dengan kebutuhan.
6. Masukkan nilai nominal pengeluaran biaya sesuai dengan rencana distribusi biaya
dari diagram batang pada arus kas keluar.
7. Masukkan nilai nominal pendapatan dari pembayaran kontrak, yang apabila
berkaitan dengan prestasi pekerjaan dapat diambil dari rencana progress kurva S.

71

5.3 Pengawasan dan Pengendalian Mutu Pekerjaan (Quality Control)


Untuk memperoleh hasil pekerjaan suatu proyek konstruksi yang sesuai atau paling
tidak mendekati dengan standard yang diharapkan, maka perlu juga dilakukan pengawasan
dan pengendalian terhadap mutu pekerjaan ( quality control ).
Pengendalian mutu meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pemantauan apakah
proses dan hasil kerja proyek tersebut memenuhi standard mutu atau memenuhi spesifikasi
dan kriteria yang dipersyaratkan atau tidak.
Adapun hal-hal yang menyangkut pengawasan dan pengendalian mutu pekerjaan,
antara lain pengawasan dan pengendalian terhadap gambar, pekerjaan form work (pembuatan
bekisting), pekerjaan pembesian, mutu beton, dan lain lain.

5.3.1

Pengawasan dan Pengendalian terhadap Gambar


Pada sebuah proyek konstruksi, gambar memegang peranan yang sangat penting.

Seluruh ide dan imajinasi dituangkan dalam sebuah gambar yang diawali dengan gambar
arsitektur kemudian diikuti dengan gambar struktur. Dari gambar inilah dapat ditentukan
metode konstruksi, material dan peralatan yang akan digunakan, serta biaya yang dibutuhkan
untuk mewujudkan ide tersebut menjadi sebuah bentuk bangunan yang nyata.
Terdapat beberapa jenis gambar pada suatu proyek konstruksi, yaitu :
1. Gambar for tender
Gambar for tender adalah gambar yang dimiliki pemberi tugas ( owner ) yang
dibuat untuk menganalisa dan membuat Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) dan
penawaran pada suatu proyek yang akan dikerjakan.
2. Gambar for construction
Gambar for construction adalah gambar yang digunakan sebagai pedoman untuk
membuat gambar detail pelaksanaan konstruksi (shop drawing).

72

3. Gambar shop drawing


Gambar shop drawing adalah gambar yang dibuat oleh kontraktor dengan
pedoman gambar for construction yang digunakan sebagai pedoman atau dasar
pelaksanaan pekerjaan lapangan.
4. Gambar as built drawing
Gambar as built drawing adalah gambar aktual pelaksanaan setelah proses
pekerjaan lapangan selesai dikerjakan.
5. Gambar for information
Gambar for information adalah gambar informasi kepada kontraktor untuk
dijadikan gambar detail ( shop drawing ) kembali.
Pengawasan terhadap gambar sangat perlu untuk dilakukan karena setiap pekerjaan di
lapangan harus sesuai dengan spesifikasi yang terdapat di dalam gambar. Oleh sebab itu,
setiap proses pembuatan gambar harus melalui proses pemeriksaan. Pembuatan gambar shop
drawing dilakukan oleh kontraktor pelaksana, kemudian dilakukan pemeriksaan oleh
pengawas. Terdapat tiga parameter yang menyatakan status gambar shop drawing yang telah
melalui tahap pemeriksaan, yaitu :
1. Approved
Artinya gambar shop drawing disetujui untuk dijadikan pedoman pelaksanaan di
lapangan.
2. Approved as note
Artinya gambar shop drawing disetujui dengan catatan catatan yang ada untuk
dijadikan pedoman pelaksanaan di lapangan.
3. Not approved
Artinya gambar shop drawing tidak disetujui untuk dijadikan pedoman
pelaksanaan di lapangan sehingga kontraktor harus melakukan perbaikan sesuai
dengan kebutuhan.

73

Setelah melalui tahap pemeriksaan dan dinyatakan disetujui, maka gambar gambar
tersebut boleh diperbanyak untuk keperluan pekerjaan dan selebihnya disimpan serta disusun
secara sistematis sesuai dengan jenis gambar sebagai arsip.

5.3.2 Pengawasan dan Pengendalian terhadap Form Work


Pengawasan dan pengendalian terhadap pekerjaan form work adalah pengawasan dan
pengendalian terhadap pelaksanaan pembuatan bekisting. Pada bab sebelumnya, yaitu tentang
pemasangan bekisting telah dijelaskan mengenai standard kualitas (pedoman), bahan yang
digunakan, serta syarat syarat pemasangan dan pembongkaran cetakan, baik pada retaining
wall, kolom, pelat, dan balok. Keseluruhan hal tersebut harus senantiasa diperiksa oleh
pengawas apakah cetakan yang telah selesai dibuat dan dipasang sesuai dengan gambar kerja.
Jika tidak dilakukan, maka akan terjadi kesalahan yang fatal saat proses pengecoran yaitu
terjadinya perubahan bentuk struktur yang berakibat kerugian dari segi biaya, waktu, estetika,
dan kekuatan bangunan.
Selain mengenai bekisting, pengawasan dan pengendalian pekerjaan form work juga
meliputi pengawasan dan pengendalian terhadap elevasi lantai, pinjaman as, dan kekokohan
perancah ( scaffolding ).

5.3.3 Pengawasan dan Pengendalian terhadap Pekerjaan Pembesian


Pengawasan dan pengendalian terhadap pekerjaan pembesian sangat perlu dilakukan
dengan seksama karena besi beton yang digunakan dalam struktur beton bertulang berfungsi
untuk menahan gaya tarik akibat beban yang bekerja.
Karena besi beton sangat berpengaruh pada kekuatan struktur beton bertulang
maka seluruh persyaratan teknis yang telah ditetapkan oleh kontraktor utama berdasarkan
standard kualitas yang ada harus dipenuhi.

74

Oleh sebab itu diperlukan pengawasan, yaitu dengan melakukan pemeriksaan rutin
terutama sebelum proses pengecoran atau pada saat proses fabrikasi besi di proyek (proses
pembengkokan dan pemotongan besi) serta menyediakan tempat yang baik untuk menyimpan
besi beton agar tidak mudah korosi. Pemeriksaan rutin sebelum dan sesudah proses
pengecoran dilaporkan dalam format tertulis dengan mengisi form seperti yang terlampir pada
lampiran yang telah disetujui pengawas.

5.3.4

Pengawasan dan Pengendalian terhadap Mutu Beton


Karena sebagian besar pekerjaan struktur pada Proyek Perluasan Gedung Perkuliahan

FT-UP menggunakan beton (beton ready mix ), maka beton tersebut perlu diperiksa dengan
seksama sebelum digunakan yaitu dengan melakukan uji kekentalan adukan beton (slump
test), setelah itu baru diambil contoh adukan beton tersebut ke dalam kubus atau silinder (pada
proyek ini menggunakan benda uji berupa silinder) untuk diperiksa kekuatan beton tersebut
terhadap gaya tekan.

5.3.4.1 Mix Design


Mix design adalah perencanaan campuran komposisi bahan pembentuk beton untuk
digunakan di suatu proyek. Perancangan komposisi bahan pembentuk beton merupakan
penentu kualitas beton yang berarti pula kualitas sistem struktur total. Parameter parameter
yang mempengaruhi kualitas beton antara lain :
1. Kualitas dan proporsi semen terhadap air dalam campurannya
2. Kekuatan dan kebersihan agregat
3. Interaksi atau adhesi antara pasta semen dan agregat
4. Pencampuran yang cukup dari bahan bahan pembentuk beton
5. Penempatan yang benar, penyelesaian, dan kompaksi beton segar

75

6. Perawatan pada temperatur yang tidak lebih rendah dari 5 F pada saat beton
hendak mencapai kekuatannya
Mix design ini dibuat di laboratorium atau pada batching plant yang sudah dipesan
oleh kontraktor. Seluruh material yang digunakan dalam campuran beton harus memiliki
kualitas yang baik sesuai standar yang diajukan oleh kontraktor. Adapun persyaratan
materialnya, yaitu semen, agregat kasar dan halus, dan air serta bahan pembantu (admixture ).
Karena kontraktor tidak mengetahui proses mix design tersebut, namun sebagai pihak
pengguna kontraktor berhak menerima laporan atas komposisi zat - zat dan material yang
digunakan untuk membuat beton tersebut seperti yang terlampir pada lampiran. Sehingga dari
laporan inilah dapat diketahui apakah beton tersebut menggunakan material sesuai dengan
yang disyaratkan. Atau laporan ini dapat diberikan pada waktu penawaran, sehingga
kontraktor dapat memutuskan untuk menggunakan beton yang direncanakan oleh perusahaan
yang bersangkutan atau tidak.

5.3.4.2 Test Kekuatan Beton (Crushing Test)


Test kekuatan beton (crushing test) dimaksudkan untuk menentukan kekuatan tekan
beton berbentuk silinder dan kubus yang dibuat dan dirawat (cured) yang dilakukan di
laboratorium. Kekuatan tekan beton adalah beban per satuan luas yang menyebabkan beton
hancur.
Cara melakukan test kekuatan beton adalah :
1. Ambil sebagian adukan beton yang berasal dari mixer truck yang telah melalui uji
slump ke dalam alat cetak berupa silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30
cm. Jumlah benda uji silinder tersebut harus sesuai dengan bab 7.3 dari SNI 032847-2002.

76

2. Pengisian adukan beton haruslah bersifat padat, yaitu dengan cara menusuk
nusuk adukan dengan tongkat baja.
3. Setelah cetakan beton sudah dianggap padat, pukul sisi sisi silinder dengan palu
dari karet agar cetakan beton dalam silinder makin padat lagi, setelah itu baru
ratakan permukaan atas cetakan beton.
4. Kemudian lakukan pengujian kekuatan beton setelah umur beton mencapai 14, 21,
dan 28 hari dengan cara sebagai berikut :
a. Ambil benda uji dari bak perendam yang direndam selama 14, 21, dan 28 hari,
bersihkan dengan kain untuk menghilangkan kotoran yang menempel
b. Lalu timbang beratnya
c. Letakkan benda uji pada mesin tekan secara centris
d. Jalankan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan berkisar antara
2 sampai 4 kg / cm2 per detik
e. Lakukan pembebanan sampai benda uji menjadi hancur dan catatlah beban

Gambar 5.3 Proses Crushing Test Secara Manual dan Otomatis

77

5.3.4.3 Perawatan Beton


Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, perawatan beton pada Proyek
Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP baik pada struktur pondasi, kolom, dan pelat pada
dasarnya adalah sama. Sehingga pada proses pengawasannya yang perlu dilakukan adalah
memeriksa dengan teliti apakah pekerjaan perawatan dengan metode curing compound telah
dilakukan dengan baik dan benar. Intinya adalah pengawas harus benar benar yakin bahwa
beton dalam proses perawatan yang intensif demi menjaga mutu beton itu sendiri.

5.3.5 Pengawasan dan Pengendalian Waktu Pekerjaan (Time Control)


Pengawasan dan pengendalian terhadap waktu bisa kita sebut dengan penjadwalan.
Unsur utama penjadwalan adalah peramalan ( forecasting ), walaupun perlu disadari bahwa
perubahan perubahan dapat saja terjadi di masa mendatang yang akan mempengaruhi
rencana yang telah terjadwal.
Faktor faktor yang harus diperhatikan untuk membuat jadwal yang cukup efektif
yaitu :
1. Secara teknis, penjadwalan tersebut dapat dipertanggungjawabkan (technically
feasible)
2. Disusun berdasarkan perkiraan yang akurat (reliable estimate), dimana perkiraan
waktu, sumber daya, serta biaya dibandingkan dengan kegiatan pada proyek
sebelumnya
3. Fleksibel terhadap perubahan, misalnya perubahan pada spesifikasi proyek
4. Jadwal dibuat sedetail mungkin karena jadwal merupakan alat pengukur hasil yang
dicapai dan alat pengendalian terhadap kemajuan proyek
5. Dapat menampilkan kegiatan pokok yang kritis

78

Teknik penjadwalan proyek dapat dibuat dengan menggunakan metode bar chart
( diagram batang ) atau gant chart. Bar chart adalah sekumpulan daftar kegiatan yang disusun
dalam kolom arah vertikal, sedangkan kolom arah horizontal menunjukkan skala waktu. Saat
mulai dan akhir dari sebuah kegiatan dapat terlihat dengan jelas. Sedangkan durasi kegiatan
digambarkan oleh panjangnya diagram batang. Dewasa ini, diagram balok dibuat setelah
diagram jaring dihitung.
Proses penyusunan bar chart atau diagram batang dilakukan dengan langkah langkah
sebagai berikut :
Daftar item kegiatan
Berisi seluruh jenis kegiatan pekerjaan yang ada dalam rencana pelaksanaan
pembangunan.
1. Urutan pekerjaan
Daftar kegiatan itu disusun urutan pelaksanaan pekerjaan berdasarkan prioritas
item kegiatan yang akan dilaksanakan tanpa mengesampingkan kemungkinan
pelaksanaan pekerjaan secara bersamaan.
2. Waktu pelaksanaan pekerjaan
Jangka waktu pelaksanaan dari seluruh kegiatan yang dihitung dari permulaan
kegiatan sampai dengan akhir seluruh kegiatan.
Walaupun demikian, metode penjadwalan dengan bar chart memiliki beberapa
kelemahan, yaitu :
1. Tidak menunjukkan secara spesifik hubungan ketergantungan antara satu kegiatan
dengan kegiatan lain sehingga sulit untuk mengetahui dampak yang diakibatkan
oleh keterlambatan suatu kegiatan terhadap jadwal keseluruhan proyek
2. Sukar mengadakan perbaikan karena umumnya harus dilakukan dengan membuat
bagan balok yang baru

79

3. Untuk proyek berukuran besar dan bersifat komplek, penggunaan bagan balok
akan menghadapi kesulitan
Namun pada saat ini dengan adanya teknologi komputer, kelemahan kelemahan di
atas dapat di eliminir.
Selain metode bar chart, terdapat juga metode penjadwalan lainnya yaitu dengan
metode kurva S yang merupakan hasil plot dari bar chart yang bertujuan untuk mempermudah
melihat kegiatan kegiatan yang masuk dalam suatu jangka waktu pengamatan progress
pelaksanaan proyek.
Kurva S merupakan gambaran diagram % ( persen ) kumulatif biaya yang diplot pada
suatu sumbu dimana sumbu x menyatakan satuan waktu sepanjang durasi proyek dan sumbu y
menyatakan nilai % (persen) kumulatif biaya selama durasi proyek tersebut. Cara membuat
kurva S adalah :
1. Melakukan pembobotan pada setiap item pekerjaan
2. Bobot item pekerjaan itu dihitung dengan cara :
bobot item pekerjaan

biaya item pekerjaan


100 %
total biaya

3. Setelah bobot masing masing item dihitung, kemudian bobot item tersebut
didistribusikan selama durasi masing masing aktivitas
4. Setelah itu, jumlah bobot dari aktivitas tiap periode waktu tertentu dijumlah secara
kumulatif
5. Angka kumulatif pada setiap periode ini diplot pada sumbu y ( ordinat ) dalam
grafik dan waktu pada sumbu x ( absis )
6. Dengan menghubungkan semua titik titik maka akan didapatkan kurva S
Dengan kurva S dapat dilihat intensitas pekerjaan pada proyek. Kemiringan curam
menunjukkan pada saat itu volume pekerjaan besar (intensitas tinggi) dan kemiringan landai
menunjukkan pekerjaan pada saat itu sedikit. Dan dari grafik hasil pembuatan kurva S juga
80

dapat dilihat apakah proyek tersebut mengalami keterlambatan atau tidak. Jika realisasi
prestasi kegiatan melebihi prestasi rencana, maka dikatakan bahwa proyek dalam keadaan
lebih cepat (up schedule). Akan tetapi, apabila terjadi hal sebaliknya, maka dikatakan bahwa
proyek terlambat (behind schedule).
Pada Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP sampai berakhirnya
masa kerja praktek (bulan juli) mengalami keterlambatan. Khusus untuk Proyek
Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP kami tidak meminta kurva S proyek
tersebut di karenakan pada pembuatan laporan kerja praktek kami tidak membahas tentang
intensitas pekerjaan pada proyek.

5.3.6 Pengawasan dan Pengendalian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

(Safety

Control)
Dalam pelaksanaan suatu proyek pembangunan, masalah tenaga kerja merupakan
masalah yang penting, karena baik dan buruknya mutu pekerjaan sangat dipengaruhi oleh
faktor tenaga kerja itu sendiri. Maka pengendalian dan pengaturan tenaga kerja harus
dilakukan dengan sebaik - baiknya.
Untuk merencanakan pengendalian tenaga kerja proyek perlu memperhatikan
bermacam - macam faktor, antara lain :
1. Produktivitas kerja.
2. Tenaga kerja periode puncak ( peak ).
3. Jumlah tenaga kerja.
4. Perkiraan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak kebutuhan tenaga kerja
yang tiba tiba.
Kontraktor harus mengurus asuransi segala resiko pekerjaan (contractors all risk
insurance) termasuk di dalamnya aturan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk

81

menjamin keselamatan dan kesehatan tenaga kerja, maka kontraktor wajib memenuhi semua
peraturan dan hukum yang berlaku mengenai ketenagakerjaan di Indonesia.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K - 3) adalah sistem yang digunakan dalam suatu
lingkungan/kawasan/proyek dimana hal itu bertujuan untuk melindungi tenaga kerja dan
karyawan yang berada di lingkungan proyek dari bahaya yang ditimbulkan pada saat proses
pekerjaan sedang berlangsung.
Dalam pelaksanaannya, langkah - langkah yang ditempuh untuk menjaga keselamatan
dan kesehatan kerja di Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP adalah :
1. Membuat peraturan umum tentang keselamatan kerja, yang isinya antara lain :
a. Semua karyawan harus mematuhi tanda-tanda larangan dan ketentuan
keselamatan kerja.
b. Tidak diperkenankan tidur, main-main (horse playing), bersenda gurau
(practical joking), dan berkelahi di lapangan sewaktu jam kerja.
c. Tidak diperkenankan mengubah alat pemadam kebakaran.
d. Tidak diperkenankan berdiri dan berjalan di bawah beban yang menggantung.
e. Para pengawas harus menjelaskan peraturan ini kepada semua karyawan dan
karyawan harus kenal dengan pimpinan bagian keselamatan kerja.
f. Peraturan keselamatan kerja yang paling penting adalah Berpikirlah Sebelum
Anda bekerja, apabila ragu maka Bertanyalah
2. Mengikutsertakan para tenaga kerja dalam asuransi ( dalam hal ini adalah
Jamsostek ).
3. Tersedianya fasilitas K - 3, antara lain :
a. Alat Pelindung Diri ( APD ) : helm proyek, safety belt ( sabuk pengaman ),
sepatu proyek ( safety booth ), sarung tangan, kaca mata, dan masker.
b. Kotak Pertolongan Pertama pada Kecelakaan ( PPPK atau P3K ).

82

c. Tersedianya alat pemadam kebakaran untuk pencegahan awal bila terjadi


kebakaran.
d. Poster / spanduk K 3.
e. Rambu rambu larangan / peringatan yang dapat dilihat pada lampiran.
f. Rumah sakit rujukan.
g. Bila perlu sediakan kamar mandi dan kantin khusus pekerja.
4. Menegakkan sanksi yang tegas bagi yang melanggar, seperti denda yang sesuai
dengan besarnya pelanggaran.
5. Menjaga kebersihan di lingkungan proyek

83

BAB VI
PENUTUP

Dari pembahasan laporan Kerja Praktek yang berjudul Pelaksanaan Pekerjaan Plat
Lantai dan Perawatan Beton yang ditinjau, kami dapat membuat kesimpulan dan saran yaitu
sebagai berikut :
6.1

Kesimpulan
1. Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP terdiri dari 5 lantai
dengan menggunakan struktur atas rangka baja
2. Tujuan dibangunnya gedung ini adalah untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan
yang semakin tahun presentase mahasiswa semakin bertambah.
3. Proyek Pembangunan Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP menggunakan jenis
kontrak lump sump. Oleh sebab itu perlu adanya pengawasan dan pengendalian
biaya yang ekstra ketat dari pihak kontraktor.
4. Terkadang terjadi keterlambatan pengiriman bahan material bangunan yang akan
di kirim ke area proyek. Faktor yang membuat keterlambatan itu disebabkan oleh
situasi lalu lintas yang cukup padat, sehingga terjadinya kemacetan yang
berdampak kepada pengiriman bahan dan material ke area tersebut.
5. Ilmu yang selama ini hanya dapat dipelajari secara teoritis di perkuliahan, kami
dapat mempraktekannya secara langsung dalam pelaksanaan Proyek Pembangunan
Perluasan Gedung Perkuliahan FT-UP.

6.2

Saran

84

Sebagai saran yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan di bidang
konstruksi gedung adalah :
1. Dalam pekerjaan pembesian, pemasangan bekisting, maupun pengecoran
merupakan pekerjaan yang dapat menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, sebaiknya
para pekerja disarankan menggunakan perlengkapan keselamatan kerja.
2. Perlu adanya pemasangan casing sebagai dinding penahan tanah.
3. Perlu koordinasi yang baik antara pemilik proyek ( owner ), konsultan perencana,
konsultan pengawas dan kontraktor pelaksana dalam proses pembangunan
perluasan gedung perkuliahan FT-UP sehingga mencapai target yang telah
direncanakan.
4. Mempelajari penerapan manajemen pengelolaan 5 M ( Money, Material, Machine,
Man Power and Method ) yang sesuai dengan kondisi dan spesifikasi proyek
sehingga tidak mengalami keterlambatan pekerjaan.
5. Kerja sama tim dalam satu organisasi proyek sangat dibutuhkan melalui
komunikasi yang baik karena masing-masing pihak saling membutuhkan satu sama
lain sehingga dapat menyelesaikan permasalahan yang terjadi di proyek dengan
cepat dan tepat. Salah satunya dengan diadakannya rapat koordinasi proyek secara
berkala.
6. Proses pengawasan dan pengendalian proyek harus dilaksanakan dengan sebaikbaiknya agar diperoleh hasil yang optimal, baik dari segi biaya, mutu, waktu, dan
keselamatan kerja.

DAFTAR PUSTAKA
85

1. Tim Penulis Dosen.1998. Ilmu Manajemen Konstruksi untuk Perguruan Tinggi. Jakarta:
UPT Penerbitan Universitas Tarumanegara.
2. Wulfram I. Ervianto.2002. Manajemen Proyek Konstruksi. Yogyakarta : Andi Offset.
3. Soeharto, Iman.1997. Manajemen Proyek dari Konseptual sampai Operasional. Jakarta:
Erlangga.
4. Nawy,

Edward

G.

1990.

Beton

Bertulang

Suatu

Pendekatan

Dasar.

Jakarta : PT Eregco.
5. L. J. Murdock, K. M. Brook, dan Stephanus Hendarko.1986. Bahan dan Praktek Beton.
Jakarta : Erlangga.
6. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1970 NI-2 Bab IV hal.38
7. Dipohusodo, Istimawan. 1996. Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid 1. Yogyakarta:
Kanisius (Anggota IKAPI).

86