Anda di halaman 1dari 23

FILSAFAT ILMU

PENGETAHUAN
Prof. Dr. Albiner Siagian
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

PENGERTIAN
Filsafat ilmu pengetahuan diambil dari
dua istilah yang berbeda, yaitu filsafat
dan ilmu pengetahuan (science).
Dari kedua istilah yang berbeda itu
kemudian digabungkan menjadi satu
istilah yang baru yaitu filsafat + ilmu
pengetahuan sehingga disebut sebagai
Filsafat Ilmu Pengetahuan atau Filsafat
Sains.
Filsafat titik tekan kajiannya adalah
ontologi sementara Ilmu Pengetahuan
titik tekannya adalah epistemologi.

Gambar 1. Kaitan antara Filsafat, Ilmu, dan


Filsafat Ilmu

Ontologi berbicara tentang benda atau


objeknya. Objek ontologis itu sendiri ada
dua, yang pertama disebut sebagai objek
materi phisik dan yang kedua disebut
sebagai objek materi non-phisik.
Epistemologi berbicara tentang
subjeknya, yaitu berbicara tentang si
orang yang menilai atau yang
mempelajari atau yang mengamati si
objek ontologi melalui indra, akal dan hati.

Jadi bisa dikatakan bahwa pengetahuan


itu melekat di diri sipengamat atau
subjek sehingga jika si subjek berbeda
tafsir terhadap objek yang sama maka
yang perlu diperiksa adalah seberapa
jauh pengetahuan si subjek terhadap
objek tersebut.

Pengetahuan
Pengetahuan pada garis besarnya
dibagi menjadi dua, yaitu:
Knowledge by Present
Knowledge by Correspondence

Knolwedge by Present
Knolwedge by Present adalah pengetahuan
yang diperoleh secara langsung dan tidak
memerlukan landasan teori apapun.
Contohnya:
Pengetahuan tentang rasa lapar. Rasa
lapar diketahui selalu bersamaan dengan rasa
lapar itu sendiri, pengetahuan ini tidak
membutuhkan pengetahuan luar. Untuk
mengetahui rasa lapar kita tidak memerlukan
penjelasan dan pengetahuan tentang rasa
lapar dari orang lain dan ataupun dari bukubuku teori.

Knowledge by
Correspondence
Knowledge by Correspondence adalah
pengetahuan yang diperoleh harus
melalui perantaran, misalnya melalui
perantaran indra dan lain-lain.
Knowledge by correspondence dibagi
dua bagian, yaitu: pengetahuan
rasional dan pengetahuan empiris.

Pengetahuan rasional:
Contoh: pengetahuan tentang
matematika, politik, dan filsafat, dll.
Pengetahuan empiris:
Contoh: pengetahuan tentang
biologi, kimia, fisika dll.

Alat Pengetahuan
Bagaimanan manusia bisa tahu? ---ALAT
Alat yang diperlukan untuk mengetahui
kesemuaannya itu salah satunya
adalah indra.
Manusia memiliki beberapa macam
indra, yaitu penglihatan, pendengaran,
perasa, peraba dan penciuman.
Jika saja manusia kehilangan semua
indra tersebut niscaya manusia akan
kehilangan bentuk
pengetahuan/epistemologinya.

Orang yang terlahir buta sejak lahir tidak


akan pernah bisa membayangkan aneka
warna dan bentuk lahiriah segala sesuatu
sebagaimana layaknya orang normal
melihatnya. Orang yang kehilangan satu
indra maka dia telah kehilangan satu ilmu.
Kita tidak akan mampu menjelaskan
dengan cara apapun bagaimana warna
pelangi, warna danau, warna langit, warna
awan dan lain-lain kepada orang yang
telah kehilangan penglihatannya sejak
lahir.

Jika kita tanyakan kepada orang yang


sudah buta sejak lahir, tahukah kau
bagaimana indahnya awan yang berarak
putih di langit sana?, maka kita akan
menemukan situasi yang sulit dan
mendapati si buta hanya melonggo lucu.
Kita tidak akan bisa menjelaskan
indahnya awan putih berarak dilangit nan
biru itu kepada sibuta karena sibuta telah
kehilangan satu alat epistemologinya.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah


jika semua indra kita berfungsi normal
maka secara otomatis kita bisa mengetahui
hakikat dari sesuatu? Jawabannya tentu saja
tidak.
Dalam banyak hal pancaindra tidak bisa
dijadikan sebagai patokan untuk
mengetahui keapaan objek yang ingin kita
ketahui. Tidak semua hal bisa diteliti dan
dibawa ke laboratorium untuk dilihat
dengan mikroskop.

Orang tidak akan sanggup memperlihatkan


bukti bagaimana bentuknya rindu, marah,
sedih, cinta dan lain-lain kecuali hanya
menunjukkan gejala atau perumpamaanperumpamaan yang bisa dimengerti
sebagai rasa rindu, marah, sedih dan cinta.
Jikapun sains ingin meneliti bukti-bukti dari
sesuatu yang bersifat abstrak, maka sains
hanya bisa meneliti kepada effek atau
kecenderungan melekul, hormon, darah
atau semacamnya yang berhubungan
dengan bagian-bagian fisik atau organ
tubuh seseorang.

Melihat persoalan ini, maka tentunya kita


membutuhkan alat lain sebagai pendamping
indra, yaitu akal atau rasio.
Dengan rasio kita akan mampu memilah dan
menguraikan semua informasi yang sudah
terekam oleh pancaindra. Dalam mengolah
informasi tersebut kita biasanya membuat
katagori-katagori untuk mempermudah
mengenali semua persoalan yang telah
dimediasi oleh indra tersebut. Yang ini kita
masukkan kedalam katagori kuantitas dan yang
itu kita masukkan dalam katagori kualitas,
misalnya.

Misalnya, untuk ukuran luas persegi kita


namai meter persegi, untuk ukuran jarak
kita namai meter, untuk berat kita namai
kilogram dan kesemuaanya itu kita
masukkan kedalam katagori kuantitas.
Ramah, suka senyum, galak dan lain-lain
kita masukkan kedalam katagori kualitas.

HATI
Apakah kita hanya memiliki 2 alat itu
saja (indra dan rasio) untuk bisa
mendapatkan pengetahuan dan
mengetahui kebenaran serta hakikat
dari kebenaran?
Ada yang menjawab Ya, kita hanya
memiliki 2 alat tersebut dan yang
lainnya mengatakan Tidak, kita tidak
memiliki 2 alat melainkan hanya 1 alat
saja yaitu indra saja atau rasio saja.

Plato dan Descartes misalnya, berpendapat


bahwa alat untuk mendapatkan
pengetahuan hanyalah satu yaitu rasio.
Menurut Descartes, indra hanyalah berupa
alat yang digunakan sebagai pelengkap
kerja, tidak ubahnya seperti kendaraan
bermotor hanya diperlukan untuk
mengantar tetapi tidak untuk mendapatkan.
Dengan kata lain Descartes ingin
menegaskan bahwa indra hanyalah alat
kerja, bukan alat untuk mendapatkan
pengetahuan.

Dipihak lain ada juga yang berpendapat


serupa tapi tak sama dengan Plato dan
Descartes. Serupa karena merekapun
percayai bahwa hanya ada satu alat yang
dimilik oleh manusia untuk mendapatkan
pengetahuan.
Berbeda karena mereka percaya bahwa
alat yang dimaksud adalah indra bukan
rasio sebagaimana yang dikatakan oleh
Plato dan Descartes.

Menurut mereka sesungguhnya semua


pengetahuan itu tidak bisa tidak harus
berhubungan secara langsung dengan indra.
Termasuk kedalam kelompok yang mengatakan
satu-satunya alat epistemologi itu indra antara
lain John Locke, Hume dan Hobbes.
Namun demikian ada juga yang tidak
berpendapat diantara kedua pendapat
tersebut, tidak mengatakan indra dan juga
tidak mengatakan rasio, melainkan ada alat
yang ke 3 yaitu hati (baca: hati dalam istilah
spiritual).

Ada beberapa ilmuwan barat yang sangat


terkenal mempercayai bahwa satu-satunya alat
epistemologi yaitu hati. Diantara mereka yang
percaya dengan alat hati ini ada nama-nama
besar seperti William James (ahli jiwa dan filsuf
terkenal dari Amerika), Pascal (ahli matematika
Francis), Alexis Carrel dan Bergson.
Menurut mereka, apa yang dikatakan tentang
indra dan rasio tersebut sebenarnya bukanlah
alat epistemologi, melainkan hanya sekedar
alat untuk mengarungi kehidupan.
Dengan kata lain, rasio dan indra yang
dibicarakan oleh Descartes dan John Locke itu
sesungguhnya bukanlah alat untuk menambah
pengetahuan. Alat untuk menambah
pengetahuan hanyalah hati.

Sekarang kita sudah melihat ada 3


pendapat dan pendapat yang manakah
sesungguhnya yang paling bisa dipercaya?
Kalau kita buka ulang buku-buku para filsuf
besar kita hanya akan menemukan 1
jawaban diantara 3 pendapat tersebut.
Jawaban mereka tentang alat untuk
mengetahui yaitu kalau bukan indra,
berarti rasio, kalau bukan salah satu dari
ke 2 itu berarti yang ke 3, yaitu hati.

TERIMA KASIH