Anda di halaman 1dari 73

FILSAFAT

FILSAFAT
PHILOS
+
SOPHIA

PHILOS
RINDU
INGIN
CINTA

SOPHIA=
Pemikiran
Pengetahuan
Kebijaksanaan

FILSAFAT adalah
Upaya manusia untuk merindukan ,

menginginkan, atau mencintai akan:


Pemikiran atau Pengetahuan yang
benar,
Sehingga membuat dirinya menjadi
bijaksana

Dengan pengetahuan yang benar,

dapat menjadikan orang bijaksana.

Apa yang mendorong diri manusia


agar dirinya dapat bijaksana?

3 (tiga) faktor, antara lain


yakni:
adanya rasa ragu, jadi berupaya untuk
mencari kepastian.
adanya rasa heran, jadi berupaya
untuk mengungkap kenyataan
(realitas) yang ada.
adanya kesadaran akan keterbatasan
dirinya, jadi berupaya untuk
menjelaskan segala kenyataan yang
ada.

Dengan upaya bagaimana


kemungkinan itu semua dapat
dicapai manusia?

BERPIKIR

Apakah kalau
manusia sudah
berpikir, sudah
pasti
berfilsafat?

Berpikir, belum tentu berfilsafat.


Tetapi orang BERFILSAFAT sudah
pasti dirinya Berpikir.

Ciri-ciri Berpikir Kefilsafatan:

Radikal
Universal
Konseptual
Koheren dan
konsisten

Sistematis
Komprehensif
Bebas
Bertanggungjawab

Berpikir Radikal
artinya:
Berpikir sampai ke akarakarnya, sampai kepada inti,
substansi, atau essensi yang
dipikirkan

Berpikir secara
Universal
artinya:
Berpikir sesuai dengan

pengalaman umumnya
umat manusia ketika
dirinya menyatakan
sesuatu itu benar adanya.

Sesuatu itu benar adanya,


karena manusia dapat
membuktikan dengan:
Indra (empiri)-nya,
Pikiran (rasio)-nya,

adakah cara
lain?

Ada !
Yaitu dengan perasaan,
feeling, atau intuisi

Sesuatu itu benar adanya,


karena manusia dapat
membuktikannya juga dengan:
Perasaannya, feelingnya,
atau
Intuisinya?
Apakah dengan cara ini
bersifat universal?

Tidak !

Mereka memang
dianugrahi Tuhan
Tetapi hanya beberapa orang saja
memiliki
diantara umat manusia. Oleh sebab
itu, tidak dapat dikatakan
kemampuan
yang
pengalaman umumnya umat
manusia.
luar biasa.

Tentu saja intuisi, tidak


dapat dijadikan
pegangan
Sebab, benar yang
bagi perasaan
seseorang, belum tentu benar
bersifat
universal
pula bagi perasaan
orang lain.

Jadi yang secara


adalah dengan:

Indra

(empiri)nya: Sebuah

benda jika dilihat


oleh seseorang
bisa sama dengan
apa yang di lihat
oleh orang lain.

Universal
Pikiran

(rasio)-nya:

Sesuatu yang
dipikirkan oleh
seseorang, bisa sama
pula apa yang
dipikirkan oleh orang
lain.

Berpikir
secara
Dapat berpikir kendatipun kenyataan
yang dihadapi itu, sudah melampaui
Konseptual
batas pengalaman/kenyatan hidup
sehari-hari. Atau peristiwanya sudah
berlalu
dihadapan kita.
artinya:

Sebuah Ilustrasi:
Sekelompok kawanan kera
yang sedang tenang
beristirahat di siang hari. Tibatiba di dalam suasana
keheningan tersebut,

Sekelompok kera-kera tadipun


kaget sehingga menjadi hiruk
pikuk. Susana hening pun
berubah menjadi riuh.

Untung saja, tidak seekor kera


pun menjadi mangsa serigala
tadi. Akhirnya, serigala pun
putus asa dan pergi
meninggalkan sekelompok
kawanan kera tadi, untuk
mencari mangsa lain di tempat

Dengan perginya serigala tadi,


akhirnya sekelompok kawanan
kera pun tenang dan hening
kembali seperti semula.

Dengan peristiwa tadi,


kita heran, mengapa tak
seekor kera pun punya
ide, untuk mengajak
Makhluk apa
sih yang
temannya
berdiskusi:
datang tadi, ayo kita
bicarakan, mana tahu dia
datang lagi kemari.

Hasil dari diskusi kita ini


nanti kan dapat kita
sampaikan kepada anakcucu kita. Bukankah hal itu
sangat bermanfaat bagi
kehidupan mereka nanti ?

Demikianlah kenyataanya,
kera tidak dapat
mewariskan

pengertian, makna,
ataupun nilai-nilai

Umumnya hewan hanya


pandai bereaksi, tetapi disaat
keberadaan sesuatu atau
faktanya secara konkret dia
hadapi. Namun, bila hal yang
konkret ini telah lenyap dari
hadapannya, peristiwa yang
pernah dialaminya tadi tidak

Mereka tidak pernah berpikir:


sewaktu-waktu kan dapat
diajarkannya, sebagai
pengalaman pengetahuan
yang tentu saja nantinya
sangat berguna bagi
kehidupan anak-cucunya.

Manusia sejak kecil sudah


dilatih untuk membuat
konsep (memori
pengertian), dari yang
paling sederhana: seperti

imitasi; hingga pada halhal yang paling rumit:

Dalam perjalanan
mempelajari Filsafat ini kita
juga nanti akan
membicarakan hal khusus
yang berkaitan antara

konsep dengan

LOGIKA

KONSEP adalah pengertian


yang terdapat di dalam
pikiran kita. Sedang
BAHASA adalah tanda
lahiriah atau penamaan
dari pengertian yang
terdapat dalam pikiran

Untuk pengertianpengertian inilah nanti kita


mendalaminya pada
pelajaran LOGIKA.

Berpikir kefilsafatan bersifat


KOHEREN dan KONSISTEN
artinya:
Berpikir kefilsafatan harus sesuai
dengan kaedah (hukum) berpikir
dan tidak terdapat kontradiksi
(pertentangan) di dalamnya.

Manusia adalah makhluk pengada, pada umumnya ada dua


cara manusia menyatakan
bahwa sesuatu itu benar
adanya, yaitu dengan:
Indera (empiri), dan
Rasio (akal budinya)

Secara empiri contohnya, kita


dapat menyatakan benar
adanya:
Meja,
Kursi,
Gedung,
Manusia secara fisik,
Dan benda-benda konkret lainnya, dengan
indera kita.

Secara rasio contohnya, kita


dapat menyatakan benar
adanya:
Segala sesuatu yang wujudnya

abstrak seperti:
Pengetahuan,
Kebenaran,
Kesejahteraan, dan lain-lain
sebagainya, dengan akal-budi kita.

Kita harus sadar bahwa kedua


domein itu ada perbedaannya
Yang konkret, kebenaran adanya harus
dicerna melalui indera (empiri),
Yang abstrak, kebenaran adanya harus
dicerna melalui akal-budi (rasio)

Memang adakalanya kita dapat


merobah yang:

Yang konkret menjadi hal yang abstrak

lewat penalaran INDUKTIF, dan


Yang abstrak menjadi hal yang konkret
lewat penalaran DEDUKTIF.
Proses perobahan tersebut dapat dilakukan,
asalkan kita memahami METODOLOGI-nya.

Kita jangan terjebak ke dalam


pemikiran yang radikal, seperti
paham:
Empirisme, ataupun
Rasionalime

Orang yang berpaham


EMPIRISME, sering kali
bersikukuh, bahwa:
Bagiku segala sesuatu itu
benar adanya, asalkan dapat
dibuktikan secara empiri. Di
luar dari pada itu aku tidak
mempercayai akan
kebenaran adanya.

Bagiku segala sesuatu itu


benar adanya, asalkan dapat
terbukti memiliki fakta
empiri
Orang yang berpaham empiri
seringkali mengagungkan halhal yang bersifat materi

Oleh sebab itu, orang yang


berpaham empirisme dapat
mengarah ke paham
MATERIALISME.

TUHAN itu tidak ada, karena


kebenaran adanya, tidak
dapat dibuktikan secara
EMPIRI

Orang yang berpaham empiri


seringkali mengagungkan
inderanya, mereka tidak
Indera kita memiliki
menyadari
bahwa:
keterbatasan, ketika
menangkap segala sesuatu
yang ada.

Indera kita tidak dapat


memastikan secara jelas
kebenaran segala sesuatu itu,
jika sesuatu itu keber-adaannya:
Terlampau dekat, ataupun

Terlampau jauh.

Kita sadar INDERA yang


kita punyai memiliki
keterbatasan
Tidak dapat menangkap

keluasan seluruh keberadaan


benda

Seseorang pandai
menggambarkan gunung, kirakira seperti ini:

Gunung, ternyata tidak


demikian fakta realitasnya
Ini disebabkan karena indera kita

terbatas, indera kita tidak dapat


menangkap realitas gunung tersebut
secara keseluruhannya.
Indera kita hanya menangkap kesan
dari gunung tersebut, dan terbatas
hanya pada posisi tertentu saja dari
gunung tadi.

Seandainya kita disuruh


menggambar sebuah

komputer

Tiada lain kita dapat


menggambarkannya berkat
bantuan RASIO juga.

Belum lagi segala sesuatu


yang bersifat
FATAMORGANA

Sebaliknya, bagaimana pula


orang yang terlampau radikal
terhadap rasionya? Atau
Bagiku segala
sesuatu
itu benar
orang
yang
berpaham
adanya, asalkan dapat dicerna oleh akal
sehat. Di luar dari pada
itu aku selalu
tidak
RASIONALISME
,
Yang
mempercayai akan kebenaran adanya.
bersikukuh:

RASIO

Dapatkah
diupayakan menjadi dasar
Bukankahsegala
juga memiliki
kebenaran
sesuatu
keterbatasan?
yang ada ?

Rasio kita mengatakan


bahwa : sebuah pesawat
dengan konstruksi tertentu
Apakah
jika berada
di demikian
angkasa tidak
kenyataannya?
Bagaimana
mungkin akan
jatuh.
pengalaman hidup kita?

Kita harus sadar, bahwa:


Kekuatan Empiri dan Rasio
keduanya saling
mendukung, dan saling berRELASI, antara satu sama
lainnya

Immanuel Kant telah

mengingatkan pada kita,


bahwa kita dapat mengetahui
kebenaran adanya segala
sesuatu,
memang
dengan
dua
Dapat melalui empiri terlebih dahulu,
cara:
tetapi juga
Dapat melalui rasio lebih dahulu.

Pengetahuan yang didapat


melalui empiri terlebih
dahulu,
Disebut dengan pengetahuan
setelah pengalaman (purnapengalaman)

Sedangkan pengetahuan
yang didapat melalui rasio
lebih dahulu.
Disebut dengan pengetahuan
sebelum pengalaman (prapengalaman)

Siapa diantara kita yang


pernah mengalami disengat
oleh serangga kala
Bukankah
hal tersebut
jengking
? betapa
sakitnya ?

Apakah Bapak, Ibu, Saudarasaudari menjadi seorang


perawat, merawat pasien
yang berpenyakit tertentu,
memang dulunya diawali
karena pernah juga mengalami
penderitaan penyakit seperti

berpikir kefilsafatan harus


bersifat sistematis, yang
artinya:
dalam berpikir kefilsafatan antara satu konsep
dengan konsep yang lain harus memiliki
keterkaitan berdasarkan azas keteraturan
untuk mengarah suatu tujuan tertentu.
Sebuah sepeda motor dapat dipergunakan,
disebabkan seluruh komponen, unsur,
ataupun suku cadangnya saling berkaitan
secara teratur satu dengan lainnya.

berpikir kefilsafatan harus


bersifat komprehensif,
artinya:
dalam berpikir kefilsafatan hal,
bagian, atau detail-detail yang
dibicarakan harus mencakup secara
menyeluruh sehingga tidak ada lagi
bagian-bagian yang tersisa ataupun
tercecer berada di luar
pembicaraan.

Orang yang sedang berpikir filsafat,

secara tidak disadari dirinya menyinggung


tiga hal komponen kefilsafatan, yakni:
epistemologi, ontologi, dan aksiologi.
Atau, kalau orang berpikir sudah barang
tentu ada hal yang dia pikirkan. Tidaklah
mungkin orang berpikir tanpa ada yang
dipikirkan. Pada gilirannya juga, secara
tidak disadari melibatkan persoalan nilai.
Bernilai apakah kita memikirkan hal
tersebut?

berpikir kefilsafatan harus


bersifat bebas, artinya:
dalam berpikir kefilsafatan tidak
ditentukan, dipengaruhi, atau
diintervensi oleh pengalaman sejarah
ataupun pemikiran-pemikiran yang
sebelumnya, seperti nilai-nilai
kehidupan sosial-budaya, adat-istiadat,
maupun hal-hal yang berifat religius.

Berpikir kefilsafatan harus


bertanggung-jawab,
artinya:
dalam berpikir kefilsafatan
harus bertanggung-jawab
terutama terhadap hati nurani
sendiri.