Anda di halaman 1dari 30
Topik: Striktur Uretra; Benign Prostat Hiperplasia Tanggal kasus : 4 Presenter: dr. Ina Soraya Agusutus 2015
Topik: Striktur Uretra; Benign Prostat Hiperplasia
Tanggal kasus : 4
Presenter: dr. Ina Soraya
Agusutus 2015
Tanggal presentasi:
Pendamping: dr. Tina S; dr. Niken DPD
Tempat presentasi: Ruang Komite Medik
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Tinjauan Pustaka
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Laki-laki berusia 72 tahun tidak bisa buang air kencing sejak1 hari yang
lalu.
Tujuan
: Mendiagnosis BPH serta striktur uretra dengan tepat dan memberikan
penanganan yang tepat.
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas:
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Email
Pos
Data pasien :
Nama : Tn. A
No. reg:
Nama klinik : RSUD
Telp : -
Terdaftar sejak : -
Soedarsono
Data utama untuk bahan diskusi:
1.
Diagnosis/gambaran klinis : Tn. A 72 tahun tidak bisa buang air kecil.
2.
Riwayat pengobatan : terpasang selang kencing 2 minggu yang lalu
3.
Riwayat kesehatan/ penyakit : riwayat HT +
4.
Riwayat keluarga : -
5.
Riwayat pekerjaan : -
6.
Lain- lain :
Daftar Pustaka:
Barbagli Guido, Lazerri Masimo.Surgical treatment of anterior urethral stricture disease: brief overview.
International Braz J Urol. 2007; 33. P. 461-469
Doenges, M.E., Marry, F
M
and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Kotb A. Fouad. Post-traumatic posterior urethral stricture: clinical consideration.Turkish Journal of Urology.
2010; 36. P. 182-189.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga /
RSUD. dr. Soetomo.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Peterson Andrew, Webster George. Management of urethral stricture disease: developing option for surgical
intervention BJU International. 2004; 94. P. 971-976
Purnomo B. Basuki.Dasar-dasar urologi. Edisi ketiga. Jakarta: CV Sagung Seto; 2011
Santucci Richard, Joyce Geoffrey, Wisse Matthew. Male Urethral Stricture Disease. Urologic Disease in
America.(Diakses 15 Januari 2015). Diunduh dari

URL: http://kidney.niddk.nih.gov/statistics/uda/male_urethral_stricture_disease-chapter16.pdf

Selius Brian, Subedi Rajesh. Urinary retention in adults: diagnosis and initial management. American Family Physician. 2008; 77. P. 643-650.

Shet Vasant. Stricture uretra. Department of Urology. Bellary. (Diakses 15 Januari 2015). Diunduh dari URL:

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta. Menunjukkan Peningkatan Mutu Hidup Untuk Pasien di Bawah Umur.

Hasil Pembelajaran:

  • 1. Mendiagnosis awal pasien dengan BPH

  • 2. Memberikan penanganan dan rujukan yang tepat

Catatan:

Subyektif

Tn. A berusia 72 tahun datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil sejak 1

hari yang lalu. Keluar darah dari lubang kencing sejak 1 hari yang lalu.

Sebelumnya terpasang kateter 2 minggu yang lalu dan dilepas 1 hari

yang lalu. Muntah + sejak 1 hari yang lalu. Perut dirasa mual. Nyeri di

bagian perut bawah di atas kemaluan. Pancaran kencing melemah sudah lebih dari

sebulan yang lalu. rasa tidak puas sehabis kemcing, kalau mau kencing harus menunggu lama

dan mengejan kadang kencing sedikit terputus-putus dan semakin sering kencing, kadang

terbangun untuk kecing pada malam hari dan nyeri pada saat kencing. Badan dirasa panas

sejak 1 hari yang lalu. Riwayat sering anyang-anyangan di sangkal. Pernah dulu, namun lupa

kapan. Riwayat pernah dipasang kateter 2 minggu yang lalu karena keluhan serupa dan

dilepas 1 hari yang lalu. Sesak disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi + (lupa sejak kapan). Riwayat Diabetes Mellitus disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga pasien yang menderita sakit yang sama.

Riwayat Psikososial

Pasien sehari-hari berada di rumah.

 

Status Interna Singkat

 
  • 1. Keadaan Umum

  • - Cukup, GCS 456

  • - Temperatur : 39 0 Celsius

 
  • - Nadi: 100x/menit, teratur

  • - RR: 22x/menit

 
  • - TD: 180/100 mmHg

  • 2. Kepala dan Leher

-Umum: bibir tampak pucat

 
  • - Mata:

Anemia (-), Ikterus (-)

 

-Telinga:

 

dbN -Hidung: pernapasan cuping hidung -/- -Mulut: dbN -Leher:

 

Kesan umum simetris

 

Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

Tidak ada peningkatan JVP Trakea di tengah

 
  • 3. Thorax

  • - Bentuk Normal

 
  • - Paru

Pemeriksaan

 

Depan

Belakang

 
 

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

INSPEKSI

Bentuk

Simetris

+

+

+

+

Pergerakan

Simetris

+

+

+

+

PALPASI

Pergerakan

Simetris

+

+

+

+

   

+

 

+

+

 

+

 

Fremitus raba

Simetris

+

+

+

+

+

+

+

+

PERKUSI

 

Sonor

 

Sonor

Sonor

 

Sonor

 

Suara ketok

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

AUSKULTASI

 

Depan

Belakang

 

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

   

Vesikula

   

Vesikula

 

r

r

Suara nafas

 

Vesikula

Vesikular

Vesikular

Vesikular

Vesikular

Vesikula

 

r

Vesikular

Vesikular

r

Vesikula

Vesikula

r

   

r

 

-

-

-

-

Ronkhi

-

-

-

-

-

-

-

-

 

-

-

-

-

Wheezing

 

-

-

-

-

-

-

-

-

  • 4. Jantung dan Kardiovaskuler

 

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

: Ictus cordis tidak nampak, Pulsasi jantung (-)

Auskultasi

 

: Ictus teraba di ICS V MCL sinistra

: Batas kanan dan kiri jantung normal

: S1 S2 tunggal, regular. Murmur (-), Gallop (-)

  • 5. Abdomen

 

Inspeksi:

 

Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal

 
 

Auskultasi

 
 

Bising usus (+) normal

 
 

Palpasi

 
 

Tonus normal

 

Turgor normal

Blast penuh

Nyeri tekan (+) suprapubik

Massa -

Hepar lien tidak teraba

 

Perkusi

 
 

Ascites (-)

Timpani (+)

 
  • 6. Inguinal – Genitalia – Anus

 

Meatus Uretra Externa pembengkakan – fistel -

 

Pasang DC gross hematuri + Rectal Touche: prostat teraba 2 -3 cm

 
  • 7. Ekstremitas

 

Ekstremitas Atas dan Bawah Akral hangat kering pucat, Edema (-)

o

 

Darah Lengkap :

 
 

Hb

: 12,6 g/dl

Eritrosit

: 4,98 x10 6

Leukosit

: 20.330

Trombosit

: 177.000

Hct

: 34,6%

Kimia Darah:

 

GDA

: 83

SGOT/SGPT : 19/26

BUN/SK

: 12,42/0,9

Rontgen Thorax :Cor dan pulmo dalam batas normal

 

BOF

: Tampak kalsifikasi prostat

DIAGNOSIS

 

Retensi Urine + Obs. Hematuri suspek BPH dd Striktur Uretra + HT stage

II

PLANNING

 

Diagnostik

USG Abdomen

Terapi

 

IVFD RL 1000cc/24 jam

 

Inj. Cefotaxim 3x1 (skin test)

Inj. Ranitidin 2x1

 

Inj. Ondansetron 2x1 k/p

Inj. Kalnex 3x1

Inj. Pragesol 3x1

p.o Captopril 3x12,5mg

Monitoring

Vital sign, klinis.

Edukasi

 

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit

pasien dan terapi yang diberikan.

Berita acara presentasi portofolio

Pada hari ini tanggal: ……………………………………

............

telah dipresentasikan

portofolio oleh:

Nama: ……………………………………………………………………… No. registrasi penataran: ………………………………………………… ... Dengan judul:

………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………………. Tempat Presentasi:…………………………………………………………………… Hadirin:

Nama: No. Reg penataran Tanda tangan
1. ..............................

  • 2. ..............................

  • 3. ..............................

  • 4. ..............................

  • 5. ..............................

  • 6. ..............................

  • 7. ..............................

  • 8. ..............................

  • 9. ..............................

    • 10. ..............................

    • 11. ..............................

………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… ………………………… …………………………

  • 12. .............................. Berita acara ini ditulis dan disampaikan dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

Dr. Totok Mardiyanto Sp.B

BAB I

PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genital pria yang terletak di bawah

kandung kencing dan mengelilingi uretra(saluran kencing). Normal bentuknya sebesar

buah kenari dengan berat pada orang dewasa sekitar 20 gram. Kelenjar prostat juga

memproduksi cairan prostat yang juga merupakan salah satu unsur pembentuk semen

pada ejakulasi(Saraswati,2006).

Pembesaran kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada

populasi pria lanjut usia. Gejalanya merupakan keluhan yang umum dalam bidang

bedah urologi. Hiperplasia prostat merupakan salah satu masalah kesehatan utama

bagi pria diatas usia 50 tahun dan berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang.

Suatu penelitian menyebutkan bahwa sepertiga dari pria berusia antara 50 dan 79

tahun mengalami hyperplasia prostat. Adanya hiperplasia ini akan menyebabkan

terjadinya obstruksi saluran kemih dan untuk mengatasi obstruksi ini dapat dilakukan

dengan berbagai cara mulai dari tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif

(non operatif) sampai tindakan yang paling berat yaitu operasi (Smeltezr, 2000).

Dengan teknologi dan kemajuan ilmu yang semakin canggih dalam kehidupan ini

banyak membawa dampak negatif pada kehidupan masyarakat terhadap peningkatan

kualitas hidup, status kesehatan, umur dan harapan hidup. Dengan kondisi tersebut

merubah kondisi status penyakit infeksi yang dulu menjadi urutan pertama kini

bergeser pada penyakit degeneratif yang menjadi urutan pertama. Di Amerika Serikat,

terdapat lebih dari setengah (50%) pada laki-laki usia 60-70 tahun mengalami gejala-

gejala BPH dan antara usia 70-90 tahun sebanyak 90% mengalami gejala-gejala BPH.

Hasil riset menunjukkan bahwa laki-laki di daerah pedesaan sangat rendah terkena

BPH dibanding dengan laki-laki yang hidup di daerah perkotaan. Hal ini terkait

dengan gaya hidup seseorang.Laki-laki yang bergaya hidup modern kebih besar

terkena BPH dibanding dengan laki-laki pedesaan (Madjid dan Suharyanto, 2009).

Di Indonesia pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat

benigna. Keadaan ini di alami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih

80% pria yang berusia 80 tahun (Nursalam dan Fransisca,2006).

Urine di keluarkan melalui uretra. Uretra wanita jauh lebih

pendek dari pada uretra pria hanya 4 cm panjangnya di bandingkan

dengan panjang sekitar 20 cm pada pria. Perbedaan anatomis

menyebabkan insiden infeksi saluran kemih asendens lebih tinggi

pada wanita. dengan demikian hitung koloni yang lebih dari 100.000

sel bakteri permililiter urin di anggap bermakna patologis. Sfingter

internal bagian atas di tempat keluar dari kandung kemih, terdiri

atas otot polos dan dibawah pengendalian otonom. Sfingter

eksternal adala otot rangka dan berada di bawah pengendalian

folunter. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda sebagai saluran

untuk urin dan spermatozoa melalui koitus.

Striktur urethra merupakan penyakit atau kelainan yang berupa

penyempitan atau konstriksi dari lumen urethra akibat adanya

obstruksi . Striktur urethra di sebut juga penyempitan akibat dari

adanya pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada urethra

atau daerah urethra.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

1. BPH

Hiperplasia prostat adalah pembesanan prostat yang jinak bervariasi berupa

hiperplasia kelenjar atau hiperplasia fibromuskular. Orang sering menyebutnya

dengan hipertropi prostat namun secara histologi yang dominan adalah hyperplasia

(Sabiston, David C,1994)

Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan.

Price&Wilson (2005)

Hiperplasi prostat adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat ( secara

umum pada pria > 50 tahun) yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretra dan

pembiasan aliran urinarius. (Doenges, 1999)

BPH adalah suatu keadaan dimana prostat mengalami pembesaran memanjang

keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi

orifisium uretra. (Smeltzer dan Bare, 2002)

Jadi BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu penyakit yang disebabkan

oleh faktor penuaan, dimana prostat mengalami pembesaran memanjang keatas

kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan cara menutupi orifisium

uretra. Prostatektomy merupakan tindakan pembedahan bagian prostate

(sebagian/seluruh) yang memotong uretra, bertujuan untuk memeperbaiki aliran urin

dan menghilangkan retensi urinaria akut.

2. Striktur Uretra

Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan

kontraksi. Penyakit ini lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita karena adanya

perbedaan panjang uretra. Uretra pria dewasa berkisar antara 23-25 cm, sedangkan

uretra wanita sekitar 3-5 cm. Karena itulah uretra pria lebih rentan terserang infeksi

atau terkena trauma dibanding wanita. Beberapa faktor resiko lain yang diketahui

berperan dalam insiden penyakit ini, diantaranya adalah pernah terpapar penyakit

menular seksual, berusia diatas 55 tahun, dan tinggal di daerah perkotaan.

2.2 Etiologi

1. BPH

Menurut Purnomo (2000), hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab

prostat hiperplasi, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasi prostat

erat kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses

penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasi

prostat adalah :

  • 1. Adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen

pada usia lanjut;

  • 2. Peranan dari growth factor (faktor pertumbuhan) sebagai pemicu pertumbuhan stroma kelenjar prostat;

  • 3. Meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel yang

mati;

  • 4. Teori sel stem, menerangkan bahwa terjadi proliferasi abnormal sel stem

sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar prostat

menjadi berlebihan. Pada umumnya dikemukakan beberapa teori :

  • 1. Teori Sel Stem, sel baru biasanya tumbuh dari sel srem. Oleh karena suatu

sebab seperti faktor usia, gangguan keseimbangan hormon atau faktor

pencetus lain. Maka sel stem dapat berproliferasi dengan cepat, sehingga

terjadi hiperplasi kelenjar periuretral.

  • 2. Teori kedua adalah teori Reawekering (Neal, 1978) menyebutkan bahwa

jaringan kembali seperti perkembangan pada masa tingkat embriologi

sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh lebih cepat dari jaringan

sekitarnya.

  • 3. Teori lain adalah teori keseimbangan hormonal yang menyebutkan bahwa

dengan bertanbahnya umur menyebabkan terjadinya produksi testoteron

dan terjadinya konversi testoteron menjadi setrogen. ( Kahardjo, 1995).

2. Striktur Uretra

Striktur dapat terjadi pada semua bagian uretra, namun kejadian yang paling sering

pada orang dewasa adalah di bagian pars bulbosa-membranasea, sementara pada pars

prostatika lebih sering mengenai anak-anak. Infeksi yang paling sering menimbulkan

striktur uretra adalah infeksi oleh kuman gonokokus, yang sempat menginfeksi uretra

sebelumnya. Trauma yang dapat menyebabkan striktur uretra adalah trauma tumpul

pada selangkangannya (straddle injury), fraktur tulang pelvis, atau cedera pasca bedah

akibat insersi peralatan bedah selama operasi transurethral, pemasangan kateter, dan

prosedur sitoskopi. Striktur kongenital sangat jarang terjadi. Striktur ini disebabkan

karena penyambungan yang tidak adekuat antara ureta anterior dan posterior, tanpa

adanya faktor trauma maupun peradangan. Proses radang akibat trauma atau infeksi

pada uretra akan menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada uretra. Jaringan parut

ini berisi kolagen dan fibroblast, dan ketika mulai menyembuh jaringan ini akan

berkontraksi ke seluruh ruang pada lumen dan menyebabkan pengecilan diameter

uretra, sehingga menimbulkan hambatan aliran urine. Karena adanya hambatan, aliran

urine mencari jalan keluar di tempat lain dan akhirnya mengumpul di rongga

periuretra. Karena ekstravasasi urine, daerah tersebut akan rentan terjadi infeksi akan

menimbulkan abses periuretra yang kemudian bisa membentuk fistulauretrokutan

(timbul hubungan uretra dan kulit). Selain itu resiko terbentuknya batu buli-buli juga

meningkat, timbul gejala sulit ejakulasi dan gagal ginjal. Derajat penyempitan lumen

uretra dibagi menjadi 3 tingkatan. Termasuk tingkat ringan jika oklusi yang

terjadikurang dari 1/3 diameter lumen, tingkat sedang jika terdapat oklusi mencapai ½

lumen uretra, dan tingkat berat oklusi lebih dari ½ diameter lumen uretra.

2.3 Manifestasi Klinik

1. BPH Gambaran klinis pada hiperplasi prostat digolongkan dua tanda gejala yaitu

obstruksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan detrusor gagal berkontraksi dengan

cukup lama dan kuat sehingga mengakibatkan: pancaran miksi melemah, rasa tidak

puas sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus

mengejan (straining) kencing terputus-putus (intermittency), dan waktu miksi

memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow. Gejala iritasi, terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna atau pembesaran

prostat akan merangsang kandung kemih, sehingga sering berkontraksi walaupun

belum penuh atau dikatakan sebagai hipersenitivitas otot detrusor dengan tanda dan

gejala antara lain: sering miksi (frekwensi), terbangun untuk miksi pada malam hari

(nokturia), perasaan ingin miksi yang mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi

(disuria) (Mansjoer, 2000)

Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium :

  • 1. Stadium I

Ada obstruktif tapi kandung kemih masih mampu mengeluarkan urine sampai

habis.

  • 2. Stadium II

Ada retensi urine tetapi kandung kemih mampu mengeluarkan urine walaupun tidak

sampai habis, masih tersisa kira-kira 60-150 cc. Ada rasa ridak enak BAK atau disuria

dan menjadi nocturia.

  • 3. Stadium III Setiap BAK urine tersisa kira-kira 150 cc.

  • 4. Stadium IV Retensi urine total, buli-buli penuh pasien tampak kesakitan, urine menetes secara

peri odik (over flow inkontinen).

Menurut Brunner and Suddarth (2002) menyebutkan bahwa :

Manifestasi dari BPH adalah peningkatan frekuensi penuh, nokturia, dorongan ingin

berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang, volume urine yang turun dan harus

mengejan saat berkemih, aliran urine tak lancar, dribbing (urine terus menerus setelah

berkemih), retensi urine akut. Adapun pemeriksaan kelenjar prostat melalui pemeriksaan di bawah ini :

  • 1. Rectal Gradding

Dilakukan pada waktu vesika urinaria kosong :

Grade 0 : Penonjolan prostat 0-1 cm ke dalam rectum. Grade 1 : Penonjolan prostat 1-2 cm ke dalam rectum. Grade 2 : Penonjolan prostat 2-3 cm ke dalam rectum.

Grade 3 : Penonjolan prostat 3-4 cm ke dalam rectum. Grade 4 : Penonjolan prostat 4-5 cm ke dalam rectum.

  • 2. Clinical Gradding

Banyaknya sisa urine diukur tiap pagi hari setelah bangun tidur, disuruh kencing

dahulu kemudian dipasang kateter. Normal : Tidak ada sisa Grade I : sisa 0-50 cc Grade II : sisa 50-150 cc Grade III : sisa > 150 cc Grade IV : pasien sama sekali tidak bisa kencing.

  • 2. Striktur Uretra

Gejala penyakit ini mirip seperti gejala penyebab retensi urine

tipe obstruktif lainnya. Diawali dengan sulit kencing atau pasien

harus mengejan untuk memulai kencing namun urine hanya keluar

sedikit-sedikit. Gejala tersebut harus dibedakan dengan inkontinensia overflow, yaitu

keluarnya urine secara menetes, tanpa disadari, atau tidak mampu ditahan pasien.

Gejala-gejala lain yang harus ditanyakan ke pasien adalah adanya disuria, frekuensi

kencing meningkat, hematuria, dan perasaan sangat ingin kencing yang terasa sakit.

Jika curiga menyebabnya adalah infeksi, perlu ditanyakan adanya tanda-tanda radang

seperti demam atau keluar nanah. Pemeriksaan fisik dilakukan lewat inspeksi dan

palpasi. Pada inspeksi kita perhatikan meatus uretra eksterna, adanya pembengkakan

atau fistel di sekitar penis, skrotum, perineum, dan suprapubik. Kemudian kita palpasi

apakah teraba jaringan parut sepanjang uretra anterior pada ventral penis, jika ada

fistel kita pijat muaranya untuk mengeluarkan nanah di dalamnya. Pemeriksaan colok

dubur berguna untuk menyingkir diagnosis lain seperti pembesaran prostat

  • 2.4 Komplikasi

    • 1. BPH Komplikasi yang sering terjadi pada pasien BPH antara lain: sering dengan

semakin beratnya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih, karena urin tidak

mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan

apabila tidak diobati, dapat mengakibatkan gagal ginjal. (Corwin, 2000)

Kerusakan

traktus

urinarius

bagian

atas

akibat

dari

obstruksi

kronik

mengakibatkan penderita harus mengejan pada miksi yang menyebabkan peningkatan

tekanan intraabdomen yang akan menimbulkan hernia dan hemoroid. Stasis urin

dalam vesiko urinaria akan membentuk batu endapan yang menambah keluhan iritasi

dan hematuria. Selain itu, stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan media

pertumbuhan mikroorganisme, yang dapat menyebabkan sistitis dan bila terjadi

refluks menyebabkan pyelonefritis (Sjamsuhidajat, 2005).

2. Striktur Uretra

Komplikasi yang dapat terjadi pada striktur urethra, yaitu :

Infeksi saluran kemih.

Gagal ginjal.

Refluks vesio uretra.

Retensi urine.

  • 2.5 Pemeriksaan Penunjang

    • 1. BPH

Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang mesti dilakukan pada pasien

dengan BPH adalah :

Laboratorium

1). Sedimen Urin

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi saluran kemih.

2). Kultur Urin

Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi atau sekaligus menentukan

sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.

Pencitraan

1). Foto polos abdomen

Mencari kemungkinan adanya batu saluran kemih atau kalkulosa prostat dan kadang

menunjukan bayangan buii-buli yang penuh terisi urin yang merupakan tanda dari

retensi urin.

2). IVP (Intra Vena Pielografi)

Mengetahui kemungkinan kelainan ginjal atau ureter berupa hidroureter atau

hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat, penyakit pada buli-buli.

3). Ultrasonografi (trans abdominal dan trans rektal)

Untuk mengetahui, pembesaran prostat, volume buli-buli atau mengukur sisa urin dan

keadaan patologi lainnya seperti difertikel, tumor.

4). Systocopy

Untuk mengukur besar prostat dengan mengukur panjang uretra parsprostatika dan

melihat penonjolan prostat ke dalam rektum.

2. Striktur Uretra

1.

Laboratorium

Urine dan urine kultur untuk melihat adanya infeksi

Ureum dan kreatinin untuk melihat faal ginjal

  • 2. Radiologi

Diagnosa pasti dapat di buat dengan uretrogafi Retrogade uretrografi untuk melihat urethra anterior Anterograde uretrogafi untuk melihat urethra posterior Bipoler uretrogafi adalah kombinasi ari pemeriksaan antegrade dan retrogade Dengan pemeriksaan ini diharapkan dismping dapat dibuat diagnosis striktura

urethra juga dapat ditentukan panjang striktura, ini penting untuk

perancanaan terapi/operasi

  • 3. Uretroskopi

Pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat secara langsung andanya

striktura

4.

Uroflowmetri Pemeriksaan untuk menentukan jumlah urine yang dipancarkan per detik

normal flow maksimum laki – laki adalah 15 ml/det wanita 25 ml/det.

  • 5. Uretrosistografi Uretrosistografi kedalam lumen uretra dimasukan kontras kemudian difoto sehingga dapat terlihat seluruh saluran uretra dan buli-buli. Dari foto tersebt

dapat ditentukan :

Lokalisasi struktur : apakah terletak proksimal atau distal dari sfingter sebab

ini penting untuk tindakan operasi Besar kecilnya striktura Panjangnya stiktura Jenis striktura

2.6 Penatalaksanaan

1. BPH Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung

pada stadium-stadium dari gambaran klinis

  • 1. Stadium I

Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan

pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti

alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera

terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat.

Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian

lama.

  • 2. Stadium II

Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya

dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)

  • 3. Stadium III

Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan

prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.

Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat

dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

  • 4. Stadium IV

Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari

retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu,

dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian

terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka. Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan

pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat

penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan

memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.

2. Striktur Uretra

  • 1. Terapi

Jika penderita datang dengan retensio urine maka pertolongan pertama

dengan cystostomi kemudian baru dibuat pemeriksaan uretrogafi untuk

memastikan adanya striktura urethra. Kalau penderita datang dengan infiltrat urine atau abses dilakukan insisi

infiltrat dan abses dan dilakukan cystostomi baru kemidian dibuat

uretrografi.

  • 2. Trukar Cystostomi

Kalau penderita datang dengan retensio urine atau infiltrat urine, dilakukan

cystostomi Tindakan cystostomie dilakukan dengan trukar, dilakukan dengan lokal

anestesi, satu jari di atas pubis di garis tengah, tusukan membuat sudut 45

derajat setelah trukar masuk, dimasukan kateter dan trukar dilepas, kateter

difiksasi dengan benar sutra kulit.

  • 3. Uretraplasti Indikasi untuk uretroplasti adalah membarikan dengan setriktura urethra

panjang lebih 2 cm atau dengan fistel urethrokutan atau penderita residif

striktur pasca urethratomi sachse Operasi urethroplasti ini bermacam – macam , pada umunya setelah daerah

striktur diexsisi, urethra diganti dengan kulit preputium atau kulit penis dan

dengan free graf atau pedikel graf yaitu dibuat tambung urethra baru dari

kulit preputium atau kulit penis dengan menyertakan pembuluh darahnya.

  • 4. Bedah endoskopi

Setelah dibuat diagnosis striktura urethra ditentukan lokasi dan panjang

striktura Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi dengan alat sachse adalah

striktura urethra anterior atau posterior masih ada lumen walaupun kecil dan

panjang tidak lebih 2 cm serta tidak fistel kateter dipasang selama 2 hari

pasca tindakan Setelah penderita dipulangkan, penderita harus kontrol tiap minggu sampai 1

bulan kemudian.Tiap bulan sampai 6 bulan dan tiap 6 bulan seumur

hidup.Pada waktu kontrol dilakukan pemeriksaan uroflowmer kalau Q

maksimal <10 dilakukan bauginasi

5.

Otis uretomie

Tindakan otis uretrotomi di kerjakan pada striktura urethra anterior terutama

bagian distal dari pendulan urethra dan fossa manicularis. Otis uretrotomi ini juga dilakukan pada wanita dengan striktura urethra

  • 6. Striktura urethra pada wanita

Etiologi striktura pada wanita berbeda dengan laki – laki , etiologi striktura

urethra pada wanita radang kronis.Biasanya diderita oleh wanita diatas 40

tahun dengan syndroma systitis berulang yaitu dysuria, frekuensi dan

urgency. Diagnosa striktura urethra dibuat dengan bougie aboul’e, tanda khas dan

pemeriksaan bougie aboul’e adalah pada waktu dilepas terdapat flik atau

hambatan. Pengobatan dari striktura urethra pada wanita dengan dilatasi, kalau gagal

dengan otis uretromi

BAB III

LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS

Nama

: Tn. A

 

Jenis kelamin

: Laki-laki

 

Umur

: 72 tahun

Suku/bangsa

: Madura/Indonesia

 

Agama

: Islam

 

Alamat

:

Jl

Ir.

H.

Juanda

RT

003 RW

005 Patokan,

Kraksaan

Status marital

: Menikah

 

Tgl Pemeriksaan : 8 Januari 2015

No.Rekam Medis : 249345

II. KELUHAN UTAMA

Tidak bisa buang air kecil.

III. ANAMNESIS

III.1. Riwayat Penyakit Sekarang

Tn. A berusia 72 tahun datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil

sejak 1 hari yang lalu. Keluar darah dari lubang kencing sejak 1 hari

yang lalu. Sebelumnya terpasang kateter 2 minggu yang lalu dan

dilepas 1 hari yang lalu. Muntah + sejak 1 hari yang lalu. Perut

dirasa mual. Nyeri di bagian perut bawah di atas kemaluan. Pancaran

kencing melemah sudah lebih dari sebulan yang lalu. rasa tidak puas sehabis kemcing,

kalau mau kencing harus menunggu lama dan mengejan kadang kencing sedikit

terputus-putus dan semakin sering kencing, kadang terbangun untuk kecing pada

malam hari dan nyeri pada saat kencing. Badan dirasa panas sejak 1 hari yang lalu.

Riwayat sering anyang-anyangan di sangkal. Pernah dulu, namun lupa kapan. Riwayat

pernah dipasang kateter 2 minggu yang lalu karena keluhan serupa dan dilepas 1 hari

yang lalu. Sesak disangkal.

III.2. Riwayat Penyakit Dahulu

  • - Riwayat HT+

  • - Riwayat DM disangkal

III.3. Anamnesis Penyakit Keluarga

Penyakit keturunan

: Tidak ada keluarga yang mengalami sakit yang sama.

Penyakit menular- tropik

: Tidak ada

Penyakit kongenital

: Tidak ada

Penyakit tumor

: Tidak ada

Penyakit lain

: Tidak ada

III.4. Anamnesis Psikososial (Pendidikan dan Sosial Ekonomi)

Pekerjaan

: Pasien dulunya seorang petani

Perkawinan

: Pasien menikah 1x dan sudah memiliki 3 orang anak.

Kebiasaan

: Pasien dulu merokok, minum jamu kadang-kadang.

III.5. Anamnesis Keadaan Gizi

Makan

: teratur

Jumlah

: sedikit-sedikit

Jadwal

: 3 kali sehari

Berat badan

: tidak ada perubahan yang signifikan

III.6. Anamnesis Umum (Review of Systems)

Kulit

: tidak ada keluhan

Paru

: tidak ada keluhan

Kepala

: tidak ada keluhan

Jantung

: tidak ada keluhan

Mata

: tidak ada keluhan

Alat pencernaan: tidak ada keluhan

Telinga: tidak ada keluhan

Saluran kencing: tidak ada keluhan

Mulut

: tidak ada keluhan

Alat kelamin

: sulit buang air kecil

Hidung dan sinus: tidak ada keluhan

Alat gerak

: tidak ada keluhan

Leher

: tidak ada keluhan

Sistim urat saraf: tidak ada keluhan

 

Endokrin

: tidak ada keluhan

IV. PEMERIKSAAN FISIK

IV.1 Keadaan Umum

Kesadaran

: kompos mentis, GCS: 456

Suhu badan (aksiler)

: 39 ºC

Nadi

: 100 kali /menit,teratur

Tekanan darah

: 180/100

Pernapasan

: 22 kali /menit, teratur

Suara bicara

: normal

Gizi

: gizi baik

IV.2 Kepala dan Leher

Mata

:dalam batas normal

 

-

konjungtiva

: anemis (-)

-

sklera

: ikterus (-),

-

pupil

: bulat, isokor, diameter ± 3 mm / ± 3 mm

Telinga

: dalam batas normal

Hidung

:dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda perdarahan mukosa.

 

Pernapasan cuping hidung -/-

Mulut

: tampak pucat, tidak ada tanda-tanda perdarahan mukosa, gusi,

maupun lokasi lain

 

Leher

 

-

Umum

: simetris

-

Kelenjar limfe

: tidak ada pembesaran

-

Trakea

: di tengah (tidak ada deviasi)

-

Tiroid

: tidak ada pembesaran

-

Vena jugularis

: Jugular Venous Pressure tidak diperiksa.

-

Arteri carotis

: dalam batas normal

IV.3. Thorax

 

IV.3.a. Umum

 

Bentuk: normal

 

ICS

: kanan kiri simetris

Retraksi

: (-)

Kulit

: dalam batas normal

 

Axilla

: dalam batas normal

IV.3.b. Paru

Pemeriksaan

 

Depan

Belakang

Kanan

Kiri

Kanan

Kiri

Inspeksi

Bentuk

Simetris

+

+

+

+

Pergerakan

Simetris

+

+

+

+

Palpasi

Pergerakan

Simetris

+

+

+

+

ICS

Simetris

+

+

+

+

Perkusi

 

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Suara ketok

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Auskultasi

 

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Suara nafas

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

Vesikuler

 

-

-

-

-

Ronkhi

-

-

-

-

-

-

-

-

 

-

-

-

-

Wheezing

-

-

-

-

-

-

-

-

IV.3.c. Jantung dan Sistem Kardiovaskuler

  • A. Tekanan Vena Sentral

Tidak diperiksa.

  • B. Jantung

Inspeksi

Iktus

: tampak, pada ICS V midclavicular line sinistra

Pulsasi jantung

: tidak tampak

 

Palpasi

Iktus

: teraba, pada ICS V midclavicular line sinistra

Pulsasi jantung

: teraba, pada apeks

Suara yang teraba

: tidak ada

Getaran (thrill)

: tidak ada

Perkusi

Batas kanan

: ICS IV parasternal line dextra

Batas kiri

: ICS V midclavicular line sinistra

Auskultasi

Suara 1, suara 2

: tunggal

Suara 3, suara 4

: tidak ditemukan

Bising jantung

: tidak ditemukan

IV.4.

Abdomen

Inspeksi:

Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal

Auskultasi

 

Bising usus (+) normal

Palpasi

 

Tonus normal

Turgor normal

Blast Penuh

Nyeri tekan (+) suprapubik

Massa -

Hepar lien tidak teraba

Perkusi

 

Ascites (-)

Timpani (+)

IV.5. Ekstremitas

Ekstremitas Atas

Akral

: hangat

Capillary Refill Time

: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-)

Edema

: (-) / (-)

Ptechiae

: (-) / (-)

Ekstremitas Bawah

 

Akral

: hangat

Capillary Refill Time

: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-) selulitis (-), gangren (-)

Edema

:

– – – –

Petechiae

: (-)

IV.6. Inguinal – Genitalia – Anus Meatus Uretra Externa pembengkakan – fistel - Pasang DC gross hematuri + Rectal Touche: prostat teraba 2 -3 cm

V. Pemeriksaan Penunjang

 

Darah Lengkap :

Hb

: 12,6 g/dl

Eritrosit

: 4,98 x10 6

Leukosit

: 20.330

Trombosit

: 177.000

Hct

: 34,6%

Kimia Darah:

GDA

: 83

SGOT/SGPT : 19/26

 

BUN/SK

: 12,42/0,9

Rontgen Thorax :Cor dan pulmo dalam batas normal

BOF

:Tampak kalsifikasi prostat

DIAGNOSIS

Retensi Urine + Obs. Hematuri suspek BPH dd Striktur Uretra + HT

stage II

PLANNING

Diagnostik

USG Abdomen

Terapi

IVFD RL 1000cc/24 jam

Inj. Cefotaxim 3x1 (skin test)

Inj. Ranitidin 2x1

Inj. Ondansetron 2x1 k/p

Inj. Kalnex 3x1

Inj. Pragesol 3x1

p.o Captopril 3x12,5mg

Monitoring

Vital sign, klinis.

Edukasi

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit

pasien dan terapi yang diberikan.

Resume Perkembangan Pasien Setelah Terapi

Tanggal

Subjektif

 

Objektif

Assesment

Planning

Pemeriksa

an

     

08.01.1

-

Tidak

bisa

buang air

VS: TD 180/100

Retensi Urine +

Terapi

5

kecil

sejak

1

hari

yang

T: 39 0 C

Obs. Hematuri

IVFD RL 1000cc/24 jam

lalu.

Inj. Cefotaxim 3x1 (skin

-

Keluar

darah dari

Abdomen:

suspek BPH dd

lubang kencing sejak 1

Nyeri tekan (+) suprapubik

Striktur Uretra +

test)

hari yang lalu.

 

Inguinal – Genitalia – Anus:

HT stage II

Inj. Ranitidin 2x1

-

Muntah + , mual sejak

Meatus Uretra Externa

1 hari yang lalu.

 

pembengkakan – fistel -

 

Inj. Ondansetron 2x1 k/p

-

Pancaran kencing me -lemah

Pasang DC gross hematuri +

Inj. Kalnex 3x1

sudah lebih dari sebulan yang lalu.

Rectal Touche: prostat teraba 2 -3 cm

Inj. Pragesol 3x1

Badan dirasa panas sejak 1 hari yang lalu.

-

p.o Captopril 3x12,5mg

-

Nyeri

di bagian perut

bawah

di

atas

kemaluan.

 

-

Pernah dipasang kateter 2

minggu

yang

lalu karena

keluhan serupa

 

09.01.1

-

Terpasang

selang

VS: TD 160/90

Retensi Urine +

Terapi

5

kencing

 

T: 38,3 0 C

Obs. Hematuri

IVFD D5:NaCl 1:1

-

Keluar

darah dari

Abdomen:

suspek BPH dd

Inj. Cefotaxim 3x1

lubang kencing +

Nyeri tekan (+) suprapubik

Hb: 10,7

Striktur Uretra +

Inj. Kalnex 3x1

-

Muntah - mual –

Inj. Ranitidin 2x1

-

Badan dirasa panas

 

HT stage II

-

Nyeri di bagian perut

Spoel PZ

bawah di atas kemaluan

+

-

Pernah

dipasang

kateter 2 minggu yang

lalu karena keluhan

serupa

 

10.01.1

-Terpasang selang

VS: TD 160/90

Retensi Urine +

Terapi

5

kencing

 

T: 37,8 0 C

Obs. Hematuri

Terapi

-

Keluar darah dari

Abdomen:

suspek BPH dd

IVFD D5:NaCl 1:1

lubang kencing +

Nyeri tekan (+) suprapubik

Striktur Uretra +

Inj. Cefotaxim 3x1

-

Badan dirasa panas -

Hb: 9,7

Inj. Kalnex 3x1

-

Nyeri

di

bagian

HT stage II

perut bawah di atas

Inj. Ranitidin 2x1

kemaluan +

 

Spoel PZ

-

Nafsu makan baik

Diet bebas Pro USG Abdomen

11.01.1

-Terpasang selang

VS: TD 150/90

Retensi Urine +

Terapi

5

kencing

 

T: 37,8 0 C

Obs. Hematuri

IVFD D5:NaCl 1:1

-

Keluar darah dari

Abdomen:

suspek BPH dd

Inj. Cefotaxim 3x1

lubang kencing +

Nyeri tekan (+) suprapubik

Striktur Uretra +

Inj. Kalnex 3x1

-

Badan dirasa panas -

Hb: 9,7

Inj. Ranitidin 2x1

-

Nyeri

di

bagian

HT stage I

Hasil USG Abdomen: BPH vol

Spoel PZ

perut bawah di atas

52,8ml + Blood clot di dalam buli-

 

Diet bebas

kemaluan +

 

buli

Banyak minum

12.01.1

-Terpasang selang

VS: TD 150/90

Retensi Urine +

Terapi

5

kencing

 

T: 36,9 0 C

Obs. Hematuri

IVFD D5:NaCl 1:1

-

Keluar darah dari

Abdomen:

suspek BPH dd

Inj. Cefotaxim 3x1

lubang kencing +

Nyeri tekan (+) suprapubik

Striktur Uretra +

Inj. Kalnex 3x1

-

Badan dirasa panas -

Inj. Ranitidin 2x1

-

Nyeri di bagian

HT stage I

Spoel PZ

perut bawah di atas

Diet bebas

kemaluan +

 

Banyak minum

 

Lab DL

         

13.01.1

-Terpasang selang

VS: TD 140/90

Retensi Urine +

Pro Cystotomi

5

kencing

 

T: 36,8 0 C

Obs. Hematuri

Puasa

-

Keluar darah dari

Hb: 9,7

suspek BPH dd

Inform consent

lubang kencing +

Abdomen:

Striktur Uretra +

Instruksi post op

-

Nyeri

di

bagian

perut bawah di atas

Nyeri tekan (+) suprapubik

HT stage I

IVFD

D5:RL 2:1

kemaluan +

 

Diagnosa pra

Inj. Cefotaxim 3x1 Inj. Pragesol 3x1

 

bedah: retensi

urin

Inj. Kalnex 3x1

Diagnosa pasca

Spoel PZ Cek Hb

bedah: Stiktur

Uretra

DAFTAR PUSTAKA

Barbagli Guido, Lazerri Masimo.Surgical treatment of anterior urethral stricture disease: brief overview. International Braz J Urol. 2007; 33. P. 461-469

Doenges, M.E., Marry, F

..

M

and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk

Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya Kotb A. Fouad. Post-traumatic posterior urethral stricture: clinical consideration.Turkish Journal of Urology. 2010; 36. P. 182-189. Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo. Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Peterson Andrew, Webster George. Management of urethral stricture disease: developing option for surgical intervention BJU International. 2004; 94. P. 971-976 Purnomo B. Basuki.Dasar-dasar urologi. Edisi ketiga. Jakarta: CV Sagung Seto; 2011. Santucci Richard, Joyce Geoffrey, Wisse Matthew. Male Urethral Stricture Disease. Urologic Disease in America.(Diakses 15 Januari 2015). Diunduh dari URL: http://kidney.niddk.nih.gov/statistics/uda/male_urethral_stricture_disease-chapter16.pdf Selius Brian, Subedi Rajesh. Urinary retention in adults: diagnosis and initial management. American Family Physician. 2008; 77. P. 643-650. Shet Vasant. Stricture uretra. Department of Urology. Bellary. (Diakses 15 Januari 2015). Diunduh dari URL: http://www.kua.in/stricture_urethra.pdf. Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta. Menunjukkan Peningkatan Mutu Hidup Untuk Pasien di Bawah Umur.

LAMPIRAN

LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN