Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan dapat digunakan sebagai media komunikasi antara data keuangan atau
aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan.
Bagi pihak-pihak tersebut, sangat penting mengetahui kondisi dan perkembangan keuangan
perusahaan. Informasi ini dapat dari laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen
perusahaan. Melalui analisis laporan keuangan, akan dapat diketahui kemampuan perusahaan
dalam memenuhi kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mengukur struktur
modal, distribusi aset, likuiditas, profitabilitas, serta nilai buku per lembar saham (bagi
perusahaan berskala besar). Analisis laporan keuangan perlu dilakukan karena laporan keuangan
yang disusun perusahaan masih bersifat umum dan untuk menganalisis laporan keuangan
dibutuhkan teknik, salah satunya dengan teknik analisis rasio laporan keuangan.
Analisis laporan keuangan merupakan penggunaan informasi akuntansi untuk membuat
atau merancang keputusan bisnis dan investasi oleh investor, pengusaha, serta kreditur, dimana
mereka harus memahami bagaimana membaca dan mengartikan laporan keuangan. Menurut
Foster (1986), analisis laporan keuangan adalah aktivitas mempelajari hubungan satu bagian
dengan bagian lain yang ada didalam satu set laporan keuangan pada suatu waktu tertentu serta
kecenderungan-kecenderungan dari hubungan itu sepanjang waktu. Dengan melakukan analisis
keuangan, akan dapat diketahui hasil pencapaian perusahaan di waktu yang lalu dan di waktu
yang sedang berjalan. Selain itu, dengan analisis keuangan juga dapat diketahui kelemahankelemahan perusahaan yang nantinya di waktu mendatang kelemahan tersebut dapat diperbaiki.
Bagi investor, analisis keuangan akan sangat membantu mengetahui tingkat pengembalian dana
yang akan diinvestasikan dalam surat-surat berharga yang akan diterbitkan perusahaan.
Tujuan utama analisis laporan keuangan ialah menambah informasi yang ada dalam
laporan keuangan. Selain itu kegunaan analisis laporan keuangan antara lain memberikan
informasi yang lebih luas dan dalam, menggali informasi-informasi lain yang bersangkutan dan
tidak tampak secara kasat mata (eksplisit) dari laporan keuangan, mengatahui kesalahan yang
terjadi dalam penyusunan/pembuatan laporan keuangan, mengetahui hubungan antara satu
bagian dengan bagian lain dalam laporan keuangan (sebab-akibat), membandingkan kinerja satu
perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis, membandingkan kinerja perusahaan antar
periode waktu (sebelum dan sesudah), dan yang paling penting ialah memberikan informasi yang
diinginkan oleh pihak-pihak yang membutuhkan informasi untuk pengambilan keputusan.
Beberapa langkah yang ditempuh dalam menganalisis laporan keuangan yaitu (1)
memahami latar belakang data keuangan perusahaan, (2) memahami kondisi yang berpengaruh
pada perusahaan, (3) mempelajari dan mereview laporan keuangan, dan (4) menganalisis laporan
keuangan. Secara umum metode analisis laporan keuangan dibagi menjadi dua, yaitu metode
analisis horizontal dan vertikal. Metode analisis horizontal merupakan metode analisis yang
dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode, sehingga
dapat diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Sedangkan metode analisis vertikal

adalah metode analisis laporan keuangan yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan
keuangan periode tertentu, dengan membandingkan antara satu pos dengan pos lainnya pada
laporan keuangan yang sama.

MODAL (EKUITAS)
Modal dapat diartikan sebagai hak atas perusahaan yang timbul sebagai akibat dari investasi
yang dilakukan oleh para pemilik. Bila dilihat dari sumber penerimaannya, maka modal terdiri
dari modal pinjaman dan modal sendiri (ekuitas). Ekuitas ialah modal yang berasal dari pemilik
perusahaan dan tertanam didalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya. Sumber
dari ekuitas dapat berasal dari dalam perusahaan yaitu hasil operasi (laba ditahan), maupun dari
luar perusahaan yaitu dalam bentuk saham biasa. Berdasarkan hal teserbut, maka ekuitas yang
berasal dari sumber internal yaitu keuntungan yang dihasilkan perusahan, sedangkan ekuitas
yang berasal dari sumber eksternal yaitu modal yang berasal dari pemilik perusahaan.
Modal merupakan salah satu faktor penting karena modal dipergunakan untuk membiayai
berbagai aktivitas perusahaan. Modal dinyatakan sebagai bagian hak pemilik dalam perusahaan
dimana selisih antara aset dan kewajiban yang ada. Pada dasarnya modal berasal dari investasi
pemilik dan hasil usaha perusahaan. Modal akan berkurang terutama dengan adanya penarikan
kembali penyertaan pemilik, pembagian keuntungan atau kerugian.
Penyajian dan Pengungkapan
Penyajian modal dalam neraca harus dilakukan sesuai dengan ketentuan pada akta pendirian
perusahaan dan peraturan yang berlaku, serta menggambarkan hubungan keuangan yang ada.
Modal dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor, nilai nominal dan banyaknya
saham untuk setiap jenis saham harus dinyatakan dalam neraca. Bila terdapat lebih dari satu jenis
saham, hak preferen dari suatu golongan saham atas dividen dan pelunasan modal pada saat
likuidasi harus dicantumkan dalam laporan keuangan. Dalam hal terdapat tunggakan dividen atas
saham preferen dengan hak dividen kumulatif, jumlah tunggakan tiap saham dan jumlah
keseluruhan dividen periode sebelumnya harus diungkapkan dalam catatan atas laporan
keuangan. Perubahan atas modal yang ditanam dalam tahun berjalan harus diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan.
Modal disajikan dalam neraca setelah kewajiban. Bentuk penyajiannya sesuai akta
pendirian badan usaha tersebut, misalnya: saham adalah penyertaan modal dalam kepemilikan
perseroan terbatas. Pada perusahaan yang terdaftar pada bursa efek, saham dapat ditempatkan
dengan dasar pesanan. Dengan dasar ini saham hanya akan dikeluarkan jika pemesan telah
membayar penuh harga saham yang bersangkutan. Pesanan saham dicatat dengan mendebet akun
piutang kepada pemesan saham dan mengkredit akun modal saham yang dipesan. Akun modal
saham yang dipesan disajikan dalam kelompok modal di bawah akun modal saham. Akun

piutang kepada pemesan saham sebesar sisa harga saham yang belum dilunasi dalam transaksi
semacam ini lazimnya disajikan dalam kelompok aset lancar. Apabila piutang ini tidak
dimaksudkan untuk ditagih dalam waktu dekat, akun ini dapat disajikan dalam kelompok
mengurangi akun modal saham yang dipesan. Pada saat harga saham sudah dibayar penuh, akun
modal saham yang dipesan akan didebit dan akun modal saham dikredit. Dalam hal pemesan
gagal melunasi sisa pembayarannya, maka tergantung pada kebijakan perusahaan dan
dilandaskan pada peraturan hukum yang berlaku, perusahaan dapat mengambil salah satu
tindakan dibawah ini:
1) Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan.
2) Mengembalikan jumlah pembayaran yang telah dilakukan dikurangi dengan jumlah
tertentu.
3) Jumlah pembayaran yang telah dilakukan diakui sebagai unsur penambahmodal dan
disajikan sebagai tambahan modal dari pembatalan penjualan saham.
4) Mengeluarkan saham yang sebanding dengan jumlah pembayaran yang telah dilakukan.
Tujuan Penyajian Ekuitas
Pengungkapan informasi ekuitas pemegang saham akan sangat dipengaruhi oleh tujuan
penyajian informasi tersebut kepada pemakai laporan keuangan. Pada umumnya, tujuan
pelaporan informasi ekuitas pemegang saham adalah menyelidiki akan informasi kepada yang
berkepentingan tentang efisiensi dan kepengurusan (stewardship) manajemen serta menyediakan
informasi tentang riwayat serta prospek investasi pemilik dan pemegang ekuitas lainnya.
Informasi tentang kewajiban yuridis perseroan terhadap para pemegang saham dan pihak lainnya
juga merupakan tujuan penyajian ekuitas pemegang saham ini.
Analisis Ekuitas
Investor menyediakan dana kepada perusahaan sebagai balasan atas risiko dan imbalan
kepemilikan. Investor merupakan penyedia terbesar pendanaan perusahaan. Investor berhak atas
berdistribusi aset perusahaan hanya setelah klaim dari pengklaim yang lebih utama telah
dipenuhi, termasuk bunga dan dividen preferen. Sebagai akibatnya, investor mendapatkan bunga
residu. Hal ini mengimplikasikan bahwa investor menjadi pihak pertama yang menyerap
kerugian jika perusahaan terlikuidas. Analisis ekuitas bersifat asimetri, dimana harus menilai dua
sisi risiko dan potensi. Karena investor dipengaruhi oleh seluruh aspek kondisi dan kinerja
keuangan perusahaan, kebutuhan analisis mereka paling banyak dan komprehensif. Individu
yang menerapkan strategi investasi aktif menggunakan terutama analisis teknis, analisis
fundamental, atau kombinasi keduanya.
Analisis teknis atau charting, mencari pola dalam sejarah harga atau volume sebuah
memprediksi pergerakan harga saham di masa depan.
Analisis fundamental, yang lebih luas diterima dan diaplikasikan, merupakan proses
menentukan nilai perusahaan dengan menganalisis dan menginterpretasikan faktor-faktor

kunci untuk ekonomi, industri, dan perusahaan. Tujuan utama analisis fundamental
adalah menentukan nilai intrinsik, yang disebut juga nilai fundamental. Nilai intrinsik
adalah nilai sebuah perusahaan (atau sahamnya) berdasarkan analisis fundamental, tanpa
mengacu pada nilai pasar (atau harga saham).
Bila kita ingin menilai bagaimana prospek perusahaan, bagaimana perputaran modalnya, kita
dapat menggunakan analisis rasio. Beberapa rasio menggunakan jumlah yang berkaitan dengan
ekuitas pemegang saham untuk mengevaluasi profitabilitas dan solvensi jangka panjang terdiri
dari:
1. Return of Equity (ROE).
Rasio ini menunjukkan keberhasilan atau kegagalan pihak manajemen dalam
memaksimumkan tingkat hasil pengembalian investasi pemegang saham. Rasio ini
mengukur tingkat pengembalian investasi pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini
semakin baik karena memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar pada pemegang
saham. Rumus ROE:
laba bersih
ROE=
x 100
ekuitas
2. Earning per Share (EPS)
Rasio ini menggambarkan besarmya pengembalian modal untuk setiap satu lembar
saham. Semakin tinggi nilai EPS maka semakin besar laba yang disediakan bagi
pemegang saham. Artinya EPS merupakan ukuran tingkat kesejahteraan para pemegang
saham. Oleh karena itu, investor lebih memilih berinvestasi pada perusahaan yang
menawarkan saham dengan nilai EPS tertinggi. Rumus EPS:
laba bersih
EPS=
x 100
jumlah saham yang beredar
3. Payout Ratio (PR)
Rasio ini menggambarkan presentase deviden kas yang diterima pemegang saham
terhadap laba bersih yang diperoleh perusahaan. Semakin tinggi rasio maka semakin
menguntungkan bagi pemegang saham karena memiliki tingkat pengembalian atas saham
yang semakin besar. Rumus PR:
penjualan bersih
PR=
x 100
ratarata aset
4. Book Value (BV)
Rasio ini menggambarkan perbadingan total dana pemegang saham terhadap jumlah
saham. Rumus BV:
total ekuitas
BV =
jumlah saham

5. Price to Book Value (PBV)


Rasio ini menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu
perusahaan. Semakin tinggi rasio ini artinya pasar percaya akan proserk perusahaan.
Rumus PBV:
hargasaham
PBV =
nilai buku saham/ BV
Penilaian Ekuitas Berbasis Laba
Penilaian perusahaan merupakan tujuan penting bagi banyak pengguna laporan keuangan.
Karena estimasi nilai yang dapat diandalkan dapat digunakan untuk membuat keputusan.
Deskripsi penilaian ekuitas perusahaan tradisional dilakukan berdasarkan metode diskonto arus
kas (discounted cash flow DCF). Berdasarkan metode ini, nilai ekuitas perusahaan dihitung
berdasarkan ramalan arus kas yang tersedia bagi investor ekuitas. Ramalan ini lalu didiskonto
menggunakan biaya modal perusahaan.