Anda di halaman 1dari 4

Nama : Otniel Frederik

NIM

: 155040100111041

Kelas : B-Agribisnis

RESUMAN TENTANG PERUBAHAN SOSIAL

Indonesia merupakan negara yang memiliki adat istiadat yang berbedabeda. Dengan adanya perubahan sosial yang terjadi, maka terbentuklah desa.
Hampir sebagian wilayah di Indonesia adalah desa. Desa itu sendiri terbentuk atas
dasar prakarsa masyarakat dengan memperhatikan asal-usul desa dan kondisi
sosial budaya masyarakat setempat. Masyarakat desa identik dengan sebutan
masyarakat tradisional yang masih memegang erat nilai-nilai kebudayan dan adat
istiadat leluhur. Karena terbatasnya pendidikan, pengetahuan dan fasilitas, kondisi
desa semakin memburuk. Namun, kekayaan sumber daya alam di desa membuat
desa tersebut menjadi sasaran utama masuknya pembangunan dan teknologi di
berbagai bidang.
Pariwisata dianggap sebagai salah satu aset yang strategis untuk
mendorong pembangunan di wilayah-wilayah terntentu yang memiliki objek
wisata. Kehadiran objek wisata ditengah masyarakat pedesaan akan membawa
perubahan-perubahan yang berarti. Pola mata pencaharian masyarakat akan
berubah secara signifikan dimana seorang petani akan menjadi karyawan atau
pedagang di objek wisata tersebut.
Beralih bercocok tanam kakao juga menimbulkan perubahan sosial.
Contohnya masyarakat di kecamatan Lilirilau yang penduduknya merupakan suku
Bugis yang pola bercocok tanam mereka semusim seperti padi, jagung, palawija
dan tembakau. Pengelolaan tanaman kakao lebih mudah daripada tanaman
tembakau yang memerlukan tenaga yang lebih dan fisik yang kuat. Peralihan ini
membawa perubahan pada komunitas petani kakao, yang berdampak pula pada
pendapatan atau hasil panen. Yang dulunya hanya mampu memanen satu kali
setahun, sehingga di antara musim terjadi kevakuman. Setelah menanam kakao
mampu memamem tiga kali dalam setahun, yang mengakibatkan petani menjadi
lebih aktif dalam usaha pertaniannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan
masyarakat khususnya di wilayah pedesaan. Salah satunya adalah peniruaan
teknologi dalam bidang pertanian yang merupakan orientasi utama pembangunan
di Indonesia. Menurut Munandar (1996) penerimaan teknologi bagi masyarakat

desa baik itu dipaksakan maupun inisiatif sendiri akan mempengaruhi perubahan
perilaku dalam skala yang besar. Lebih dari itu, introduksi teknologi yang tidak
tepat dapat membawa implikasi terhadap perubahan sosial kultural masyarakat.
Seperti perubahan struktur, kultur, dan interaksional di pedesaan. Analisis
Munandar (1998) perubahan dalam satu aspek akan merembet keaspek lain.
Struktur keluarga berubah, dimana buruh wanita tani biasanya menumbuk padi
sekarang tinggal dirumah dan kehilangan pekerjaan. Keadaan demikan dapat
menyebabkan urbanisasi yang nantinya akan berimplikasi pada perubahan
karakteristik masyarakat desa. Bila sebelumnya masyarakat desa memiliki sifat
solidaritas yang tinggi diantara sesamanya, karena melihat perkembangan
kehidupan masyarakat yang rumit dan kompleks, sehingga akan menggeser tata
nilai yang telah lama terbentuk.
Berdasarkan penelitian di Desa Buhu Kecamatan Kabupaten Gorontalo
telah mengalami perubahan atau pergeseran kehidupan masyarakat, seperti
perubahan budaya huyula menjadi tiayo, bila sebelumnya kegiatan tiayo
dilaksanakan dengan baik dan tanpa mempertimbangkan nilai-nilai materi (uang),
hal yang demikian telah bergeser, dimana bila ada anggota yang sedang
merenovasi rumah, maka orang yang diundang tidak sekedar membantu namun
kehadiran tenaganya kini dinilai dengan materi (uang).
Perubahan sosial kultural masyarakat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti perkembangan pengetahuan dan teknologi, perkembangan transportasi dan
komunikasi serta perpindahan penduduk dari desa ke kota.
Kegagalan kebijakan industrialisasi modern dan kegagalan pembangunan
pertanian di satu sisi membawa berbagai permasalahan seperti kerusakan berbagai
infrastruktur kota, ketiadaan ruang public dan berbagai masalah sosial lainnya.
Akibatnya kota-kota di Negara-negara berkembang seperti Indonesia mengalami
kecenderungan untuk kehilangan identitas kulturnya karena pengaruh kapitalisme
global yang terus menekan karakteristik lokal yang unik. Permasalahan ini harus
dicarikan jalan keluarnya secara komprehensif, termasuk memperhatikan
pembangunan kawasan pedesaan dan kawasan-kawasan pinggiran yang
berbatasan dengan kota-kota besar.
Berdasarkan hasil penelitian budaya perdesaan yang kental dengan
perilaku guyup (pantembayan), berjiwa sosial tinggi dan semangat kebersamaan
tinggi, akibat perluasan kota dan dampak langsung dari proses megaurban tata
hidup masyarakat yang masih memegang budaya perdesaan pun turut berubah
seiring dengan pengaruh budaya perkotaan yang lebih individualis, perhitungan

profit dan berkiblat kepada budaya barat. Pengaruh perkotaan ini juga menjadi
penyebab pergeseran mata pencaharian dari agraris ke non agraris.
Masuknya pendatang dengan bebagai latar sosial dan budaya memberikan
nuansa baru bagi kehidupan sosial dan budaya penduduk sehari-hari. Dalam hal
ini terjadi proses akulturasi budaya, yaitu penyelarasan budaya dan sosial antara
pendatang dan penduduk asli. Proses akulturasi ini mempengaruhi kebiasaan dari
beragam aktivitas sehari-hari khususnya dari pendatang yang mungkin berbeda
dengan penduduk asli. Selain kebiasaan, faktor aktivitas juga memberikan
pengaruh kehidupan bersosial. Dimana aktivitas non pertanian semakin meningkat
sebagai ciri perkotaan.
Keserasian atau harmoni dalam masyarakat merupakan keadaan yang
diidam-idamkan setiap masyarakat. Keserasian masyarakat dimaksudkan sebagai
suatu keadaan di mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok benarbenar berfungsi dan saling mengisi. Setiap kali terjadi gangguan terhadap keadaan
keserasian, masyarakat dapat menolaknya dengan maksud menerima unsur baru.
Apabila masyarakat tidak dapat menolaknya karena unsur baru tersebut tidak
menimbulkan kegoncangan, pengaruhnya tetap ada. Norma-norma dan nilai-nilai
sosial tidak akan berpengaruh olehnya dan dapat berfungsi secara wajar.

Faktor-faktor Perubahan Sosial dan Budaya Masyarakat di Desa


1

Bertambah atau Berkurangnya Penduduk


Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat di pulau Jawa menyebabkan
terjadinya perubahan struktur masyarakat. Seperti, orang lantas mengenal
hak milik individual. Berkurangnya penduduk mungkin disebabkan oleh
perpindahan penduduk akan mengakibatkan kekosongan, misalnya, dalam
bidang pembagian kerja dan stratifikasi sosial, yang mempengaruhi
lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Penemuan-penemuan Baru
Penemuan-penemuan baru sebagai sebab terjadinya perubahanperubahan dapat dibedakan dalam pengertian discovery atau penemuan
unsur kebudayaan yang baru, baik berupa alat, ataupun yang berupa
gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian ciptaan
para individu. Penemuan-penemuan ini dapat menjadi faktor pendorong
oerubahan bagi masyarakat karena setiap masyarakat tentu ada individu
yang sadar akan adanya kekurangan dalam kebudayaan masyarakatnya.
Disamping penemuan-penemuan baru di bidang jasmaniah, terdapat pula
penemuan-penemuan baru di bidang unsur-unsur kebudayaan rohaniah
misalnya ideologi baru, aliran-aliran kepercayaan baru, dan seterusnya.

Kontak dengan budaya lain


Pertemuan antara individu dari satu masyarakat dengan individu dari
masyarakat lainnya akan memungkinkan terjadinya difusi. Difusi adalah
proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu kepada individu
lain, dan dari suatu masyarakat ke masyarakat lain. Sebagai contoh, unsurunsur kebudayaan asing yang di bawa oleh para pedagang
Sistem pendidikan formal yang maju
Pendidikan mengajarkan manusia untuk dapat berfikir secara objektif,
yang akan memberikan kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan
masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan zaman atau
tidak.