Anda di halaman 1dari 25

Topik: Obs Febris + Konvulsi + s.

Meningoencephalitis + Pneumonia
Tanggal kasus : 26
Presenter: dr. Ina Soraya
Januari 2016
Tanggal presentasi:

Pendamping: dr. Tina Soelistiawati; dr.


Niken Dewanti PD

Tempat presentasi:
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi : Perempuan berusia 18 tahun kejang sejak 1 hari yang lalu.
Tujuan

: Mendiagnosis konvulsi dengan tepat dan memberikan penanganan yang

tepat.
Bahan Bahasan :
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Audit
Cara Membahas:
Diskusi
Presentasi dan diskusi
Email
Pos
Data pasien :
Nama : Nn. M
No. reg:
Nama klinik : RSUD
Telp : Terdaftar sejak : Soedarsono
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/gambaran klinis : Nn. M 18 tahun kejang.
2. Riwayat pengobatan : 3. Riwayat kesehatan/ penyakit : tidak pernah sakit seperti ini
sebelumnya
4. Riwayat keluarga : 5. Riwayat pekerjaan : 6. Lain- lain :
Daftar Pustaka:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan., 1998. Meningitis. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://www.depkes.go.id
Bulletin of The World Health Organization, Vol. 86, No. 4. Hal: 292-301. Uganda.

Erlena., Jamaiah., 2008. Bacterial meningitis: A five year (2001-2005) Retrospective Study At University Uganda.FK USU.
2012.
Tinjauan
Pustaka
Pneumonia.
(Diakses
27
Januari
2015).
Diunduh
dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33132/4/Chapter%20II.pdf
Harsono., 1996.Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi Pertama.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta..
Harsono., 2003. Kapita Selekta Neurologi, Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Japardi, I., 2002. Meningitis Meningococcus. USU Digital Library. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi23.pdf
Lewis, R., dkk., 2008. Action For child Survival Elimination of Haemophilus Influezae Type b Meningitis in Nur, Markam,
S., 1992. Penuntun Neurologi. Koordinator Pendidikan Dokter. Ahli Syaraf Bagian Neurologi. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.

Muliawan, S., 2008. Haemophilus Influenzae as a Cause of Bacterial Meningitis in Children. Majalah Kedokteran
Indonesia, Vol. 58, No. 11, Hal 438-443. Jakarta.
Muttaqin, A., 2003. Asuhan Keperawatan Meningitis. FK Universitas Airlangga. Surabaya.
Nelson., 1996. Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2. EGC. Jakarta.
Nofareni., 2003. Status Imunisasi BCG dan Faktor Lain yang Mempengaruhi Terjadinya Meningitis Tuberkulosa
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs141/en/index.html
USU Digital Library. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari URL:http://Library.usu.ac.id/download/FK/nofareni.pdf
Rafiq, A., 2001. Daya Lindung Vaksin BCG Terhadap Meningitis Tuberkulosa Anak di Beberapa Rumah Sakit Jakarta.
(Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari http://www.depkes.go.id
Saul, F., 2007. Aseptic Meningitis. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/972179overview
Seamic Health Statistic., 2002. Seamic publication No.85, International Medical Foundation of Japan. Japan.
Sumantri,
B.
2012.
Pneumonia.
(Diakses
http://mantrinews.blogspot.com/2012/02/pneumonia.html

27

Januari

2015).

Diunduh

dari

Suwono, W., 1996.Diagnosis Topik Neurologi, Edisi Kedua.EGC. Jakarta.


Swierzewski, S., 2002. Meningitis, Insidens and, Prevalence.
http://www.neurologychannel.com/meningitis/incidences.html

(Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari

WHO., 2009 . Meningococcal, Staphylococcal and Streptococcal Infections. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://www.who.int/vaccine_research/documents/Meningo20091103.pdf
WHO., 2005. Meningococcal meningitis Fact sheet. (Diakses
http://www.emro.who.int/sudan/media/pdf/FactSheet-Meningitis.pdf

27

Januari

2015).

Diunduh

dari

Hasil Pembelajaran:
1. Mendiagnosis awal pasien dengan Konvulsi
2. Memberikan penanganan dan rujukan yang tepat
Catatan:
Subyektif
Nn. A berusia 18 tahun datang dengan keluhan kejang 1 hari yang lalu. Saat
kejang kedua tangan dan kaki kaku, mata melirik ke atas, keluar busa dari
mulut, kencing -. Kejang kurang lebih selama 15 menit. Setelah kejang
pasien tidak langsung sadar. Pasien panas sejak satu minggu yang lalu.
Keluhan batuk dan pilek disangkal oleh keluarga (pasien santri pondok
Pesantren keluarga tidak tahu pasti). Pasien tidak sadar sejak tadi malam.
Sakit kepala sebelumnya keluarga tidak tahu. Muntah + 1x di Pkm.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kejang disangkal, riwayat trauma kepala 2 tahun yang lalu
pernah jatuh dari kendaraan dan kepala terbentur. MRS - . Riwayat alergi
disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga pasien yang menderita sakit yang sama.
Riwayat Psikososial
Pasien santri pondok pesantren
Status Interna Singkat
1. Keadaan Umum
- Somnolent, GCS 224
- Temperatur : 38.20 Celsius
- Nadi: 84x/menit, teratur
- RR: 22x/menit
- TD: 100/60 mmHg
2. Kepala dan Leher
-Umum:
- Mata:
Anemia (-), Ikterus (-)
-Telinga:
dbN
-Hidung: pernapasan cuping hidung -/-Mulut: dbN
-Leher:
Kesan umum simetris
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Tidak ada peningkatan JVP
Trakea di tengah
Pemeriksaan Kaku Kuduk terdapat tahanan
3. Thorax
- Bentuk Normal
- Paru
Depan
Kanan
Kiri

Pemeriksaan
INSPEKSI
Bentuk
Pergerakan
PALPASI
Pergerakan

Belakang
Kanan
Kiri

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Simetris

Fremitus raba

Simetris

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

PERKUSI
Suara ketok
AUSKULTASI

Suara nafas

Ronkhi

Wheezing

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Depan
Kanan
Kiri
Vesikula
r
Vesikular
Vesikula
Vesikular
r
Vesikular
Vesikula
r
-

Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Sonor
Belakang
Kanan
Kiri
Vesikula
r
Vesikular
Vesikula
Vesikular
r
Vesikular
Vesikula
r
-

4. Jantung dan Kardiovaskuler


Inspeksi : Ictus cordis tidak nampak, Pulsasi jantung (-)
Palpasi
: Ictus teraba di ICS V MCL sinistra
Perkusi
: Batas kanan dan kiri jantung normal
Auskultasi
: S1 S2 tunggal, regular. Murmur (-), Gallop (-)
5. Abdomen
Inspeksi:
Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal
Auskultasi

Bising usus (+) normal


Palpasi
Tonus normal
Turgor normal
Nyeri tekan Massa Hepar lien tidak teraba
Perkusi
Ascites (-)
Timpani (+)

6. Inguinal Genitalia Anus


dbN
7. Ekstremitas
Ekstremitas Atas dan Bawah
o Akral hangat kering merah, Edema (-)
Refleks Fisiologis
22
Refleks Patologis
- 22

- -

Darah Lengkap :
Hb
: 11,5 g/dl
Eritrosit
: 4,49 x106
Leukosit
: 9.660
Trombosit : 309.000
Hct
: 32,4%
Kimia Darah:
GDA
: 118
SGOT/SGPT : 15/12
BUN/SK
: 12,42/0,5
Rontgen
Thorax : Pneumonia

DIAGNOSIS
Obs Febris + Konvulsi + s. Meningoencephalitis + Pneumonia
PLANNING
Diagnostik
Terapi
O2 masker 8 lpm
IVFD RL 1000cc/24 jam
Konsul dr. Mommy Sp.S
Inf. Imipenem 2x1/1 f
Inj.Dexamethason 4x1
Inj. Antrain 3x1 k/p
Inj. Phenitoin 3 ampul dalam 20 cc PZ pelan
Manitol 200cc 14 tpm besok 6x100cc
5

Inj. Diazepam 1 ampul bila kejang pelan


Monitoring
Vital sign, GCS, klinis.
Edukasi
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
pasien dan terapi yang diberikan.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Meningitis

mengelilingi

otak

adalah
dan

penyakit
spinal

infeksi

cord

dari

(Meningitis

cairan

yang

Foundation

of

America). Classic triad dari meningitis adalah demam, leher kaku,


sakit kepala, dan perubahan di status mental (van de Beek, 2004).
Sistem saraf pusat manusia dilindungi dari benda-benda asing oleh
Blood Brain Barrier dan oleh tengkorak, sehingga apabila terjadi
gangguan pada pelindung tersebut, sistem saraf pusat dapat
diserang oleh benda-benda patogen (van de Beek, 2010). Angka
kejadian meningitis mencapai 1-3 orang per 100.000 orang (Centers
for Disease Control and Prevention). Penyebab paling sering dari
meningitis adalah Streptococcus pneumonie (51%) dan Neisseria
meningitis

(37%)

mengurangi

(van

meningitis

de

Beek,

akibat

2004).
infeksi

Vaksinasi

berhasil

Haemophilus

dan

Meningococcal C (Tidy, 2009). Faktor resiko meningitis antara lain:


pasien yang mengalami defek dural, sedang menjalani spinal
procedure, bacterial endocarditis, diabetes melitus, alkoholisme,
splenektomi, sickle cell disease, dan keramaian (Tidy, 2009).
Patogen penyebab meningitis berbeda pada setiap grup umur. Pada
neonatus, patogen penyebab meningitis yang paling sering adalah
Group B beta-haemolitic streptococcus, Listeria monocytogenes, dan
Escherichia coli. Pada bayi dan anak-anak, patogen penyebab
meningitis yang paling sering adalah Haemophilus infuenza (bila
lebih muda dari 4 tahun dan belum divaksinasi), meningococcus
(Neisseria

meningitis),

dan

Streptococcus

pneumonie

(pneumococcus). Pada orang remaja dan dewasa muda, patogen


penyebab meningitis yang paling sering adalah S. pneumonie, H.
infuenza, N. meningitis, gram negative Bacilli, Streptococci, dan
Listeria

monocytogenes.

Pada

dewasa

tua

dan

pasien

immunocompromised, patogen penyebab meningitis yang paling


sering adalah Pneumococcus, Listeria monocytogenes, tuberculosis,
gram negative organis, dan Cryptococcus. Sedangkan penyebab
meningitis bukan infeksi yang paling sering antara lain selsel
malignan (leukemia, limpoma), akibat zat-zat kimia obat (NSAID,
trimetoprim), Sarkoidosis, sistemis lupus eritematosus (SLE), dan
Bechets disease (Tidy, 2009).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
1. Meningoencephalitis
Meningitis adalah infeksi akut pada selaput meningen (selaput yang menutupi
otak dan medula spinalis). Encephalitis adalah peradangan jaringan otak yang dapat
mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis. Meningoencepalitis adalah
peradangan pada selaput meningen dan jaringan otak.
2. Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit saluran napas bawah (lower respiratory tract
(LRT)) akut, biasanya disebabkan oleh infeksi (Jeremy, 2007). Sebenarnya pneumonia
bukan penyakit tunggal. Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada
sumber infeksi, dengan sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai
senyawa kimia maupun partikel. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur,
walaupun manifestasi klinik terparah muncul pada anak, orang tua dan penderita
penyakit kronis (Elin, 2008).
2.2 Etiologi

1. Meningoencephalitis
Meningitis berdasarkan penyebab dapat dibagi menjadi meningitis bakterial: yakni
Bakteri non spesifik : meningokokus, H.Influenzae, S.pneumoniae, Stafilokokus,
Streptokokus, E.Coli, S.Typhosa. Bakteri spesifik yakni M. Tuberkulosa.Meningitis
Virus, beberapa jenis virus dapat menyebabkan meningitis seperti Mumps (gondong),

measles; dll. Menigitis karena jamur. Meningitis karena parasit, seperti toksoplasma,
amoeba. Berdasarkan perlangsungan dan pemeriksaan cairan serebrospinalis dapat
diklasifikasikan menjadi meningitis purulenta/meningitis bakterial akut. Penyebabnya
adalah bakteri non spesifik. Perjalanan penyakit ini berlangsung akut dapat secara
hamatogen

dari

satu

sumber

infeksi

(tonsilitis,

pneumonia,

endokarditis,

tromboplebitis,dll) dan atau perluasan langsung dari peradangan organ didekat selaput
otak (sinusitis, otitis media, mastoiditis, abses otak. Dll). Trauma dikepala dengan
fraktur kranium terbuka, komplikasi tindakan bedah otak.Meningitis serosa pada
umumnya terjadi karena komlikasi penyebaran tuberkulosis paru primer. Secara
hematogen kuman sampai ke otak, sum-sum tulang belakang, vetebra membentuk
tuberkel pecah selaput otak. Cara lain dengan perluasan lansung dari mastoiditis
tuberkulosa. Terakhir adalah meningitis aseptik
2. Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme
yaitu bakteri, virus, jamur, dan protozoa. Streptococcus pneumoniae
Mycoplasma

pneumoniae

Aspergillus

Haemophillus

infuenza

Legionella pneumophillia Histoplasmosis Klebsiella pneumoniae


Coxiella burnetii Candida Pseudomonas aeruginosa Chlamydia
psittaci Nocardia Gram-negatif (E. Coli) Infeksi Virus Infeksi Protozoa
Penyebab Lain Infuenza Pneumocytis carinii Aspirasi Coxsackie
Toksoplasmosis

Pneumonia

lipoid

Adenovirus

Amebiasis

Bronkiektasis Sinsitial respiratori Fibrosis kistik (Jeremy, 2007)


2.3 Manifestasi Klinik

1. Meningoencephalitis
Pada neonatus gejalanya menolak untuk makan, refleks menghisap kurang,
muntah, diare, tonus otot melemah, menangis lemah. Pada anak-anak dan remaja :
terdapat demam tinggi, sakit kepala, muntah, perubahan sensori, kejang, mudah
terstimulasi, foto pobia, delirium, halusinasi, maniak, stupor, koma, kaku kuduk, tanda
kernig dan brudzinski positif, ptechial (menunjukkan infeksi meningococal).
Sedangkan secara umum tanda dan gejala dari meningoencephalitis yaitu
(Nelson, 1992) panas tinggi (gejala kardinal), kesadaran menurun (gejala kardinal),
kKejang fokal maupun umun (gejala kardinal), nyeri kepala, mual, muntah, mengigau
dan berteriak teriak.
9

2. Pneumonia
Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas
akut bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan
demam, menggigil, suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40oC, sakit
tenggorok, nyeri otot, dan sendi. Juga disertai batuk, dengan
sputum purulen, kadang-kadang berdarah (Supandi, 1992). Pada
pasien

muda

atau

tua

dan

pneumonia

atipikal

(misalnya

Mycoplasma), gambaran nonrespirasi (misalnya konfusi, ruam,


diare) dapat menonjol (Jeremy, 2007).
2.4 Komplikasi
1. Meningoenchepalitis
Komplikasi yang terjadi pada pasien dengan Meningoenchepalitis antara lain
komplikasi akut yakni edema otak, hipertensi intracranial, SIAD, ventrikulitis. Untuk
komplikasi intermediate yakni, efusi subdural, abses otak, hidrosefalus. Sedangkan
komplikasi kronis yakni memburuknya fungsi kognitif, ketulian, serta kecacatan
motorik.
2. Pneumonia
Menurut Mansjoer Arif (2000:467), komplikasi dari pneumonia adalah: abses
kulit, abes jaringan lunak, otitis media, sinusitis, meningitis purulenta, bahkan sampai
perikarditis.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
1. Meningoenchepalitis
Interpretasi laboratorium. Pertama melalui pungsi lumbal.
mengabur sampai keruh (tergantung sifat eksudat),

Warna jernih,

tekanan cairan serebrospinal

meningkat, jumlah sel meningkat (100- 60.000) pada kausa bakteri didominasi oleh
sel polimorfonuklear). Reaksi pandi (+), Nonne- Apelt (+). Protein meningkat : 35 mg
%. Kadar gula turun: 40 mg% (bisa sampai 0 ). Kadar gula CSS. Normal = separo
kadar gula darah). Kultur bila prosedur baik 90% biakan positif. Khusus untuk
meningitis tuberkulosis kultur dilakukan 2 kali yaitu setelah 3-4 hari pengobatan
10

dilakukan oleh kultur ulangan hasil positif sulit diperoleh. Kedua melalui darah, darah
normal atau meningkat tergantung etiologi.

Hitung jenis didominasi sel

polimorfonuklear atau limfosit, kultur 80-90% , untuk TBC 2% (+). Ketiga


pemeriksaan lengkap, CRP darah dan cairan serebrospinalis, Peningkatan kadar laktat
cairan cerebrospinalis, Penurunan pH cairan cerebrospinalis, LDH, CPK, GOT.
Khusus kausa TBC Kurasan lambung.Takahashi, PAP,Imuzim. Uji PPD, BCG, Ro
ThoraxCT scan kepala (kalau ada indikasi khusus sepeerti hidrosephalus)
Funduskopi untuk melihat tuberkel di retina.
2. Pneumonia
Pada pemeriksaan laboratorium tes darah rutin terdapat
peningkatan sel darah putih (White blood Cells, WBC) biasanya
didapatkan jumlah WBC 15.000- 40.000/mm3 , jika disebabkan oleh
virus atau mikoplasme jumlah WBC dapat normal atau menurun
(Supandi, 1992; Jeremy, 2007). Dalam keadaan leukopenia laju
endap darah (LED) biasanya meningkat hingga 100/mm3 Gambaran
radiologis pada pneumonia tidak dapat menunjukkan perbedaan
nyata

antara

umumnya

infeksi

virus

menunjukkan

dengan

gambaran

bakteri.
infiltrat

Pneumonia

virus

intertisial

dan

hiperinfasi. Pneumonia yang disebabkan oleh kuman Pseudomonas


sering

memperlihatkan

adanya

infiltrate

bilateral

atau

bronkopneumonia.
2.6 Penatalaksanaan
1. Meningoencephalitis
Tatalaksana penderita rawat inap meliputi, mengatasi kejang adalah tindakan
vital, karena kejang pada ensefalitis biasanya berat, memperbaiki hemostasis: Infus
D5-1/2 S atau D5-1/4S (tergantung umur), dan pemberian oksigen. Injeksi
Deksamethason 0,5-1,0 mg/kgBB/hari, iv, dibagi 3 dosis. Manitol. Antibiotik.
Fisioterapi dan terapi bicara.

Makanan TKTP, kalau perlu MLP. Perawatan yang

baik. Pemantauan keadaan umum, kesadaran, tanda vital, kejang, gizi, pungsi lumbal,
kelainan

THT,

Cushing

sign.

11

2. Pneumonia
a. Terapi antibiotika awal: menggambarkan tebakan terbaik
berdasarkan

pada

klasifikasi

pneumonia

dan

kemungkinan

organisme, karena hasil mikrobiologis tidak tersedia selama 12-72


jam. Tetapi disesuaikan bila ada hasil dan sensitivitas antibiotika
(Jeremy, 2007). b. Tindakan suportif: meliputi oksigen untuk
mempertahankan PaO2 > 8 kPa (SaO2 2.2 Antibiotika < 90%) dan
resusitasi

cairan

intravena

untuk

memastikan

stabilitas

hemodinamik. Bantuan ventilasi: ventilasi non invasif (misalnya


tekanan jalan napas positif kontinu (continous positive airway
pressure), atau ventilasi mekanis mungkin diperlukan pada gagal
napas. Fisioterapi dan bronkoskopi membantu bersihan sputum
(Jeremy, 2007).

12

BAB III
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS
Nama

: Nn. M

Jenis kelamin

: Perempuan

mur

: 18 tahun

Suku/bangsa

: Madura/Indonesia

Agama

: Islam

Alamat

Dsn Bandaran RT/RW 01/04, Jabungsisir,

Paiton,
Probolinggo
Status marital

: Belum Menikah

Tgl Pemeriksaan : 26 Januari 2015


No.Rekam Medis : 250582
II. KELUHAN UTAMA
Kejang sejak 1 hari yang lalu.
III. ANAMNESIS
III.1. Riwayat Penyakit Sekarang
Nn. A berusia 18 tahun datang dengan keluhan kejang 1 hari yang lalu.
Saat kejang kedua tangan dan kaki kaku, mata melirik ke atas,
keluar busa dari mulut, kencing -. Kejang kurang lebih selama 15
menit. Setelah kejang pasien tidak langsung sadar. Pasien panas
sejak satu minggu yang lalu. Keluhan batuk dan pilek disangkal oleh
keluarga (pasien santri pondok Pesantren keluarga tidak tahu pasti).
Pasien tidak sadar sejak tadi malam. Sakit kepala sebelumnya
keluarga tidak tahu. Muntah + 1x di Pkm.
III.2. Riwayat Penyakit Dahulu

13

Riwayat kejang disangkal, riwayat trauma kepala 2 tahun yang


lalu pernah jatuh dari kendaraan dan kepala terbentur. MRS - .
Riwayat alergi disangkal.
III.3. Anamnesis Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami sakit yang sama.
III.4. Anamnesis Psikososial (Pendidikan dan Sosial Ekonomi)
Pekerjaan

: Pasien santri sebuah pondok pesantren

Perkawinan

: Belum menikah

III.5. Anamnesis Keadaan Gizi


Makan

: teratur

Jumlah

: sedikit

Jadwal

: 3 kali sehari

Berat badan

: tidak ada perubahan yang signifikan

III.6. Anamnesis Umum (Review of Systems)


Kulit

: tidak ada keluhan

Paru

: tidak ada keluhan

Kepala

: tidak ada keluhan

Jantung

: tidak ada keluhan

Mata

: tidak ada keluhan

Alat pencernaan: tidak ada keluhan

Telinga: tidak ada keluhan

Saluran kencing: tidak ada keluhan

Mulut

Alat kelamin : tidak ada keluhan

: tidak ada keluhan

Hidung dan sinus: tidak ada keluhan

Alat gerak

Leher

Sistim urat saraf: tidak ada keluhan

: tidak ada keluhan

Endokrin

: tidak ada keluhan


: tidak ada keluhan

IV. PEMERIKSAAN FISIK


IV.1 Keadaan Umum
Kesadaran

: Somnolent, GCS: 224

Suhu badan (aksiler) : 38.2 C


Nadi

: 84 kali /menit,teratur
14

Tekanan darah

: 100/60

Pernapasan

: 22 kali /menit, teratur

Gizi

: gizi baik

IV.2 Kepala dan Leher


Mata

:dalam batas normal


- konjungtiva : anemis (-)
- sklera

: ikterus (-),

- pupil

: bulat, isokor, diameter 3 mm / 3 mm

Telinga

: dalam batas normal

Hidung

:dalam batas normal, tidak ada tanda-tanda perdarahan mukosa.


Pernapasan cuping hidung -/-

Mulut

: dalam batas normal

Leher
- Umum

: simetris

- Kelenjar limfe

: tidak ada pembesaran

- Trakea

: di tengah (tidak ada deviasi)

- Tiroid

: tidak ada pembesaran

- Vena jugularis

: dalam batas normal

- Arteri carotis

: dalam batas normal

IV.3. Thorax
IV.3.a. Umum
Bentuk : normal
ICS

: kanan kiri simetris

Retraksi

: (-)

Kulit

: dalam batas normal

Axilla

: dalam batas normal

IV.3.b. Paru
Pemeriksaan
Inspeksi
Bentuk

Simetris

Depan
Kanan

Kiri

Belakang
Kanan Kiri

15

Pergerakan
Palpasi
Pergerakan
ICS
Perkusi

Simetris

Simetris
Simetris

+
+

+
+

+
+

+
+

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Suara ketok
Auskultasi

Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler


Suara nafas

Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler


Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler
-

Ronkhi

Wheezing

IV.3.c. Jantung dan Sistem Kardiovaskuler


A.

Tekanan Vena Sentral


Tidak diperiksa.

B.

Jantung
Inspeksi
Iktus

: tidak tampak

Pulsasi jantung

: tidak tampak

Palpasi
Iktus

: teraba, pada ICS V midclavicular line sinistra

Pulsasi jantung

: tidak teraba

Suara yang teraba

: tidak ada

Getaran (thrill)

: tidak ada

Perkusi
Batas kanan

: ICS IV parasternal line dextra

Batas kiri

: ICS V midclavicular line sinistra

Auskultasi
16

IV.4.

Suara 1, suara 2

: tunggal

Suara 3, suara 4

: tidak ditemukan

Bising jantung

: tidak ditemukan

Abdomen
Inspeksi:
Flat, Umbilicus masuk merata, Kulit dalam batas normal
Auskultasi

Bising usus (+) normal


Palpasi
Tonus normal
Turgor normal
Nyeri tekan Massa Hepar lien tidak teraba
Perkusi
Ascites (-)
Timpani (+)

IV.5. Ekstremitas
Ekstremitas Atas
Akral

: hangat

Capillary Refill Time

: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-)

Edema

: (-) / (-)

Ptechiae

: (-) / (-)

Ekstremitas Bawah
Akral

: hangat Capillary Refill Time: < 2 detik

Deformitas

: (-) / (-) selulitis (-), gangren (-)

Edema

Refleks Fisiologis

22
22

Refleks Patologis

- - -

IV.6. Inguinal Genitalia Anus


Dalam batas normal

17

V. Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap :
Hb
: 11,5 g/dl
Eritrosit
: 4,49 x106
Leukosit
: 9.660
Trombosit : 309.000
Hct
: 32,4%
Kimia Darah:
GDA
: 118
SGOT/SGPT : 15/12
BUN/SK
: 12,42/0,5
Rontgen
Thorax : Pneumonia
DIAGNOSIS
Obs Febris + Konvulsi + s. Meningoencephalitis + Pneumonia
PLANNING
Diagnostik
Terapi
O2 masker 8 lpm
IVFD RL 1000cc/24 jam
Konsul dr. Mommy Sp.S
Inf. Imipenem 2x1/1 f
Inj.Dexamethason 4x1
Inj. Antrain 3x1 k/p
Inj. Phenitoin 3 ampul dalam 20 cc PZ pelan
Manitol 200cc 14 tpm besok 6x100cc
Inj. Diazepam 1 ampul bila kejang pelan
Monitoring
Vital sign, GCS, klinis.

Edukasi

18

Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit


pasien dan terapi yang diberikan.

19

Resume Perkembangan Pasien Setelah Terapi


Tanggal

Subjektif

Objektif

Assesment

Planning

Pemeriksa
an

26.01.1

Pasien masih

Kesadaran

GCS: Obs Febris +

224

mengalami

Somnolent,

Terapi

Konvulsi + s.

Farmakologi

Meningoenceph

O2 masker 8 lpm

penurunan

Suhu badan (aksiler) : 38.2 C

kesadaran
Kejang Panas +
Muntah -

Nadi

: 84 kali /menit,teratur alitis +

IVFD RL 1000cc/24 jam

Tekanan darah

: 100/60

Konsul dr. Mommy Sp.S

Pernapasan

22

Pneumonia
kali

/menit,

Inf. Imipenem 2x1/1 f


Inj.Dexamethason 4x1

teratur

Inj. Antrain 3x1 k/p


Status Neurologi:

Inj. Phenitoin 3 ampul

Refeks Fisiologis 2 2

dalam 20 cc PZ pelan
2 2

Refeks Patologis

- - -

Manitol 200cc 14 tpm


besok 6x100cc
Inj. Diazepam 1 ampul
bila kejang pelan
Monitoring
Vital sign, GCS, klinis.

26.01.1

Pasien masih

Kesadaran

GCS: s. Epilepsi
+ Pneumonia

224

mengalami

Somnolent,

Terapi
Farmakologi

penurunan

Suhu badan (aksiler) : 36.2 C

O2 masker 8 lpm

kesadaran
Kejang Panas Muntah -

Nadi

: 84 kali /menit,teratur

IVFD RL 1000cc/24 jam

Tekanan darah

: 100/60

Inj. Phenitoin 3x1 ampul

Pernapasan

22

kali

/menit,

Inj. Mecobalamin 2x1


Inj. Diazepam 1 ampul

teratur

bila kejang pelan


Status Neurologi:
Monitoring

Refeks Fisiologis 2 2
2 2
Refeks Patologis

- - -

Vital sign, GCS, klinis.

27.01.1
5

:Somnolent,

GCS: s. Epilepsi

Kejang Panas Muntah


Makan

Kesadaran

Suhu badan (aksiler) : 36.8 C

O2 masker 8 lpm

Nadi

: 80 kali /menit,teratur

IVFD RL 1000cc/24 jam

minum +
Mata juling +

Tekanan darah

: 110/60

Inj. Phenitoin 3x1 ampul

Pernapasan

:20 kali /menit, teratur

Inj. Mecobalamin 2x1

+ Pneumonia

235

Inj. Ceftriaxon 2x1

Refeks Fisiologis 2 2

Inj. Diazepam 1 ampul

Refeks Patologis

Farmakologi

Status Neurologi:

bila kejang pelan

2 2

28.01.1

Terapi

Monitoring

- - :Somnolent,

Vital sign, GCS, klinis.


GCS: s. Epilepsi

Diagnosa

Kejang Panas Muntah


Makan

Kesadaran

Suhu badan (aksiler) : 36.8 C

Terapi

minum +

Nadi

: 80 kali /menit,teratur

Farmakologi

Tekanan darah

: 110/60

Pernapasan

:18 kali /menit, teratur

+ Pneumonia

235

Pro CT Scan RS M Saleh

O2 nasal 4 lpm
IVFD RL 1000cc/24 jam
Inj. Phenitoin 3x1 ampul

Status Neurologi:

Inj. Mecobalamin 2x1

Refeks Fisiologis 2 2
2 2

Inj. Citicolin 3x1

Refeks Patologis

Inj. Ceftriaxon 2x1

- - -

Inj. Diazepam 1 ampul


bila kejang pelan

Kekuatan Motorik 5 5
5 5

Monitoring
Vital sign, GCS, klinis.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan., 1998. Meningitis. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://www.depkes.go.id
Bulletin of The World Health Organization, Vol. 86, No. 4. Hal: 292-301. Uganda.
Erlena., Jamaiah., 2008. Bacterial meningitis: A five year (2001-2005) Retrospective Study At University
Uganda.FK USU. 2012. Tinjauan Pustaka Pneumonia. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33132/4/Chapter%20II.pdf
Harsono., 1996.Buku Ajar Neurologi Klinis, Edisi Pertama.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta..
Harsono., 2003. Kapita Selekta Neurologi, Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Japardi, I., 2002. Meningitis Meningococcus. USU Digital Library. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi23.pdf
Lewis, R., dkk., 2008. Action For child Survival Elimination of Haemophilus Influezae Type b Meningitis in Nur,
Markam, S., 1992. Penuntun Neurologi. Koordinator Pendidikan Dokter. Ahli Syaraf Bagian Neurologi. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Muliawan, S., 2008. Haemophilus Influenzae as a Cause of Bacterial Meningitis in Children. Majalah Kedokteran
Indonesia, Vol. 58, No. 11, Hal 438-443. Jakarta.
Muttaqin, A., 2003. Asuhan Keperawatan Meningitis. FK Universitas Airlangga. Surabaya.
Nelson., 1996. Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2. EGC. Jakarta.
Nofareni., 2003. Status Imunisasi BCG dan Faktor Lain yang Mempengaruhi Terjadinya Meningitis Tuberkulosa
USU
Digital
Library.
(Diakses
27
Januari
2015).
Diunduh
dari
URL:http://Library.usu.ac.id/download/FK/nofareni.pdf
Rafiq, A., 2001. Daya Lindung Vaksin BCG Terhadap Meningitis Tuberkulosa Anak di Beberapa Rumah Sakit
Jakarta. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari http://www.depkes.go.id
Saul,
F.,
2007.
Aseptic
Meningitis.
(Diakses
27
Januari
2015).
Diunduh
dari
http://emedicine.medscape.com/article/972179-overview
Seamic Health Statistic., 2002. Seamic publication No.85, International Medical Foundation of Japan. Japan.
Sumantri,
B.
2012.
Pneumonia.
(Diakses
27
Januari
2015).
Diunduh
dari
http://mantrinews.blogspot.com/2012/02/pneumonia.html
Suwono, W., 1996.Diagnosis Topik Neurologi, Edisi Kedua.EGC. Jakarta.
Swierzewski, S., 2002. Meningitis, Insidens and, Prevalence. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://www.neurologychannel.com/meningitis/incidences.html
WHO., 2009 . Meningococcal, Staphylococcal and Streptococcal Infections. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh
dari http://www.who.int/vaccine_research/documents/Meningo20091103.pdf
WHO., 2005. Meningococcal meningitis Fact sheet. (Diakses 27 Januari 2015). Diunduh dari
http://www.emro.who.int/sudan/media/pdf/FactSheet-Meningitis.pdf

LAMPIRAN