Anda di halaman 1dari 26

BUKU

SAKU
IKP
(INSIDEN KESELAMATAN
PASIEN)

PENDAHULUAN
Progam Keselamatan Pasien Rumah Sakit merupakan kegiatan yang
cikal bakalnya telah lama ada, yakni dijaman Hippocrates 400 tahun
sebelum Masehi, namun gerakan global baru dimulai oleh WHO tahun 2004
dengan di bentuk nya Global Alliance for Patient Safety. Dalam publikasinya
tahun 2000 intitute of Medicine, A.S. yang bertopik too err is human,
diperkirakan antara 44.000 98.000 kematian tiap tahun di Amerika Serikat
disebabkan oleh kesalahan medis, ini membuktikan bahwa problem
keselamatan pasien adalah nyata dan tersebar luas.
Non blaming culture (budaya tidak menyalahkan ) merupakan
pendekatan baru dalam mencari akar masalah atas insiden/kejadian yang
tak diharapkan pada pasien, penghayatan dan pengalaman prinsip seperti ini
tidak selalu mudah dilakukan, perlu pendekatan komprehensif dari pimpinan
rumah sakit untuk mengadakan perubahan menuju keselamatan pesien di
rumah sakit untuk mengadakan perubahan menuju keselamatan pasien di
rumah sakit seperti yang diharapkan.

LATAR BELAKANG
Pembentukan Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) oleh
PERSI dan Pencanangan Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit tahun
2005 oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia merupakan awal sejarah
berdirinya Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Budi Rahayu (KKPRS)
pada tanggal 31 Agustus 2007.
Kegiatan KKPRS secara berthap telah dilaksanakan di semua bagian
rumah sakit, dalam pelaksanaan progam tersebut , salah satu hambatan
yang sering terjadi adalah ketidak tahuan staf dan karyawan rumah sakit
tentang progam Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS), termasuk tata cara
penanganan insiden, pencatatan dan pelaporannya, mengingat bahwa hal ini

tidak saja mencakup karyawan ditingkat bawah tapi juga jajaran pimpinan
rumah sakit, maka sebuah bukun saku tentang KPRS dirasa amat perlu untuk
segerab di susun, sebagai wujud sosialisasi progam KPRS.

TUJUAN UMUM
Untuk dipergunakan sebagai panduan kerja seggenap staf rumah sakit
dalam mencapai tujuan, yakni memberikan asuhan pelayanan kesehatan
yang lebih aman dan pencegahan cedera melalui progam keselamatan
pasien rumh sakit.

TUJUAN KHUSUS
1. Sosialisasi progam KPRS secara aktif pada semua staf rumah sakit.
2. Mempermudah proses penanganan, pencatatan dan pelaporan insiden
keselamatan pasien rumah sakit.
3.
Membantu staf/ karyawan rumah sakit supaya lebih mudah
memahami cara mencegah Kejadian Tak Diharapkan agar tidak
berkembang menjadi litigasi (tuntunan hukum).

RUANG LINGKUP
Buku saku ini mencakup hal hal yang menjadi tugas dan wewenang
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit, yakni pencegahan dan
penanganan insiden keselamatan pasien dirumah sakit, termasuk tat cara
pencatatan, pelaporan dan analisis insiden, metode untuk menentukan
kapan diperlukan suatu RCA (Root Cause Analisis).

PENGERTIAN DAN ISTILAH


TABEL 1: ISTILAH-ISTILAH YANG SERING DI PAKAI DALAM PROGAM
KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT
No
1
2

Istilah
Keselamatan / Safety
Hazard / Bahaya

Cedera

Definisi / Penjelasan
Bebas / aman dari bahaya atau risiko
Suatu keadaan, perubahan atau tindakan
yang dapat meningkatkan risiko pada pasien
a. Keadaan adalah semua faktor yang
berhubungan atau mempengaruhi
suatu peristiwa keselamatan pasien
b. Agent adalah substansi, obyek atau
sistem yang menyebabkan perubahan
Dampak yang terjadi akibat gangguan stuktur
atau penuruan fungsi tubuh, dapat berupa
fisik, psikologis dan sosial.
Yang termasukcedera adalah : penyakit,
cedera fisik/ psikologis/ sosial, penderitaan,
cacad, dan kematian.
a. Penyakit: disfungsi fisik atau psikis
b. Cedera: kerusakan jaringan yang
diakibatkan keadaan
c. Penderitaan: pengalaman atau gejala
yang tidak menyenangkan termasuk
nyeri, malaise, mual, muntah, depresi,
ketakutan
d. Cacad: segala bentuk kerusakan
struktur atau fungsi tubuh,
keterbatasan aktifitas dalam pergaulan

Keselamatan pasien/
Patient safety

Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (Hospital
Pantient Safety)

Insiden Keselamatan
Pasien (IKP) / Patient
Safety Incident

Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD)
Kejadin Nyaris Cedera
(KNC)
Kejadian Tidak Cedera
(KTC)
Kejadian Potensial
Cedera (KPC)/
reportable
circumstance

8
9
10

11

KTD Tidak Dapat

sosial yang berhubungan dengan


cedera yang terjadi sebelumnya atau
saat ini
Penurunan resiko sampai sekecil mungkin
sampai batas yang bisa di terima bagi pasien,
dari cedera yang tidak seharusnya terjadi
atau cedera yang pontensial, terkait dengan
pelayanan kesehatan (WHO-ICPS, 2009)
Suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pesien lebi aman. Hal ini termasuk
assesmen risiko, identifikasi dan pengolahan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien
pelaporan dan analisis insiden, kemampuan
belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya resiko. Sistem ini mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil
Setiap kejadian atau situasi yang dapat
mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera yang tidak
seharusnya terjadi, meliputi:
KDT: (Kejadian Tak Diharapkan)
KNC: (Kejadian Nyaris Cedera)
KTC: (Kejadian Tidak Cedera)
KPC:(Kejadian Potensial Cedera)
Insiden yang mengakibatkan pasien cedera
Insiden belom sampai / terpapar ke paisen,
pasien tidak cedera
Insiden terpapar ke pasien, tetapib pasien
tidak cedera
Kondisi yang sangat potensial untuk
menimbulkan cedera, tapi belum terjadi
insiden.
Contoh :
Alat defibrilator standby di ICU tapi tidak
berfungsi
Suatu KTD akibat komplikasi yang tidak dapat

12

13

Dicegah
(Unpreventable
adverce event)
KTD dapat dicegah
(Preventable adverse
event)
Kejadian Sentinel
(sentinel event)

14

Kesalahan Medis
(Medical error)

15

Pelapor Kejadian
keselamatan pasien
rumah sakit (incident
report)

16

Analisa akar masalah


(root cause analysis)

17

Manajemen resiko (risk


management)

18

KKPRS (komite
keselmatan Pasien
Rumah Sakit)

dicegah dengan pengetahuan yang mutakhir

Suatu KTD yang tidak seharusnya terjadi

Suatu KTD yang mengakibatkan kematian


atau cedera yang serius, biasanya dipakai
untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan
atau tidak dapat di terima
Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan
medis yang mengakibatkan cedera pada
pasien.
Kesalahan termasuk gagal melaksanakan
sepenuhnya suatu rencana atau
menggunakan rencana yang salah satu untuk
mencapai tujuannya.
Dapat akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak.
Suatu sistem untuk mendokumentasikan
insiden / kejadian yang tidak di sengaja yang
dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cidera pada pasien.
Sistem ini juga mendokumentasikan kejadiankejadian yang tidak konsisten dengan
operasional rutin rumah sakit atau asuhan
pasien
Suatu proses untuk mengidentifikasi faktor
penyebab atau faktor yang mempengarugi
terhadap terjadinya penyimpangan
kinerja,termasuk KDT
Dalam hubungannya dengan operasional
rumah sakit, istilah manajemen resiko
dikaitkan kepada aktifitas perlindungan diri
yang berarti mencegah ancaman yang nyata
atau berpotensi nyata terhadap kerugian
keuangan akibat kecelakan, cedera atau
malpraktik medis
Koimite yang bertanggung jawab mengelola
asuhan pasien yang lebih aman di dalamnya
termasuk assesmen risiko,identifikasi dan

19

Litigasi
(litigation,lawsuit)

pengelolaan hal yang berhubungan dengan


resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden
dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya resiko.
Tuntutan hukum , dalam kegiatan
keselamatan pasien litigsi mencerminkan
kegagalan komunikasi dengan
pasien/keluarga pasien pada insiden
keselamatan pasien

SASARAN
Sasaran yang igin di capai dalam program keselamatan pasien rumah
sakit adalah keberhasilan mencegah cidera pada pasien, ini di wujudkan
dengan langkah-langkah sederhana yang di landasi kejujuran dan rasa saling
percaya dan kebersamaan dalam sistem keselamatan pasien sehingga
akhirnya pencegahan KDT bisa menjadi bagian dari perilaku seluruh staf.

CARA MENCAPAI SASARAN :


a. Pencatatan dan pelaporan semua insiden keselamatan pasien
rumasakit.
b. Meninjau kembali insiden-insiden yang telah terjadi untuk mencari akar
masalah kemudian memperbaiki sistem berdsar prioritas.
c. Sosialisasi hasil perubahan sistem sebagai bagian dari kewaspadaan
akan KDT.

STANDAR KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT


Standar yang di pakai mengacu pada Hospital patient safety
standards yang di keluarkan oleh joint commision of Acceditation of health
organiszations, llinois , USA , tahun 2002, yang disesuaikan dengan kondisi
perumasakitan kita, standar wajib di terapkan di rumah sakit serta dievaluasi
sakit yang diselenggarakan oleh komite akreditasi rumah sakit (KARS)
Standar keselamatan pasien tersebut terdiri dari tujuh stndar, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Hak pasien
Mendidik pasien dan keluarga
Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan
eveluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien
Uraian lebih lanjut mengenai hal diatas dapat dilihat di buku
Pedomn Komite keselamatan pasien rumah sakit, dan buku panduan
nasional keselamatan pasien rumah sakit depkes RI , tahun 2008.

TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN


RUMAH SAKIT
Berdasarkan standar keselamatan pasien yang harus dilaksanakan
oleh rumah sakit, perlu di susun rancangan baru atau perbaikan dari
pross/sistm yang ada , perancangan tersebut di sesuaikan dengan visi, misi
dan kondisi rumah sakit, langkah-langkah dalam proses
eprancangan
tersebut disebut tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit
dengan uraian sebagai berikut :
1. Membangun kesadaran akan pentingnya (nilai) keselamatan
pasien
2. Memimpin dan mendukung staf dalam melaksanakan program
keselamatan pasien
3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko
4. Mengembangkan sistem pelaporan
5. Melibatkan serta berkomunikasi dengan pasien
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
7. Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan
pasien
Uraian lebih lanjut tentang langkah-langkah di atas dapat dilihat pada
kerangka acuan program KKPRS dan buku panduan nasional keselamatan
pasien rumah sakit Depkes RI edisi-2 tahun2008.

PENANGANAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN


Insiden keselamatan pasin (IKP), harus di tangani , dicatat dan
dilaporkan dengan segera. Penanganan diutamakan untuk menyelamatkan
pasien daari cidera lebih lanjut dan mencegah cedera selanjutnya.
Pihak yang bertanggung jawab menangani insiden adalah seluruh staf
rumah sakit sesuai dengan bidang an kemampuannya.
Pelaporan insiden dilakukan oleh individu yang pertama melihat
kejadian (tidak harus perawat atau dokter), tindak lanjut proses pelaporan
insiden keselamatan pasien rumah sakit.

TATA CARA PELAPORAN DAN PEMBAHASANINSIDEN KESELAMATAN


PASIEN (IKP):
a. Apabila terjadi suatu insideen baik KTD (Kejadian Tidak Diharapkan),
KNC (Kejadian Nyaris Cidera), KTC (Kejadian Tidak Cidera), maupun KPC
(Kejadian Potensial Cidera) dirumah sakit, wajib segera di tindak lanjuti
untuk mengurangi atau mencegah dampak/ akibat yang tidak
diharapkan.
b. Kejadian tersebut wajib segera dilaporkan dengan cara segera
membuat laporan insiden dengan mengisi Formulir Laporan tersebut
dengan ketentuan paling lambat 2 X 24 Jam dan jangan menunda
laporan.
c. Laporan yang telah selesai dibuat, di serahkan pada atasan langsung
untuk di sepakati.
d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading
resiko terhadap insiden yang di laporkan.
e. Hasil grading kan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang
akan dilakukan sebagai berikut :
f. Grade Biru
: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 1 minggu.
Grade Hijau
: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 2 minggu.
Grade Kuning
: Investigasi Komprehensif/ Analisis akar
masalah/ RCA oleh Tim ad hoc KKPRS, waktu maksimal 45 hari.
Grade Merah
: Investigasi Komprehensif/ Analisis akar
masalah/ RCA oleh Tim ad hoc KKPRS, waktu maksimal 45 hari.
g. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil
investigasi dan laporan insiden dilaporkan ke KKPRS.
h. Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit akan menganalisa kembali
hasil investigasi dan laporan insiden untuk menentukan apakah perlu
di lakukan investigasi lanjutan (RCA) dengan melakukan regrading.
i. Bila dari hasil investigasi ternyata grading matriks nya kuning atau
merah, maka KKPRS akan melakukan analisis akar masalah Root Cause
Analysis (RCA)
j. Setelah melakukan RCA, KKPRS akan membuat laporan dan membuat
rekomendasi untuk perbaikan dan pembelajaran (bila perlu membuat
buku petunjuk) untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali
k. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepaa Direksi .

l. Rekomendasi untuk perbaikan dan pembelajaran diberikan umpan


balik kepada unik kerja terkait.
m. Unit kerja membuat analisa dan trend kejadian disatuan kerjanya
masing-masing
n. KKPRS melakukan monitoring dan evaluasi perbaikan.

Bagan 1 :ALUR PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN


hhhhh

KKPR

Unit/Bag
ian

DIREK

Ka.

Insiden

Laporan
kejadian
2x24 jam

KTD/KN
C

Atasan
Langsung

Segera
Ditang
ani

Grading

Biru
Hija
u

Merah
Kuning

Investig
asi
Rekomend
asi

Lapora
n

Analisa
Regrad
RCA
Umpan
Balik Ke
Bag.

Pembelajaran/Rekom
endasi

Lapor

ANALISIS MATRIKS GRADING RESIKO


Penilaian matriks resiko adalah suatu metode analisa kualitatif untuk
menentukan derajad resiko suatu insiden berdasarkan dampak dan
probabilitasnya.
a. Dampak (consequences)
Penilaian dampak/akibat suatu insiden adalah seberapa berat akibat
yang di alami pasien mulai dari tidak ada cidera sampai meninggal.
b. Probabilitas/Frekwensi/Likelihood
Penilaian tingkat probabilitas/frekwensi risiko adalah seberapa
seringnya insiden tersebut terjadi.
Tabel 2 : PENILAIAN DAMPAK KLINIS/KONSEKWENSI/SEVERITY
Tingkat
Resiko
1
2

Deskripsi
Tidak signifikan
Minor

Moderat

Dampak

Mayor

Katastropik

Tidak ada cidera


Cidera ringan, misal : luka lecet
Dapat diatasi dengan tolongaan pertama
Cidera sedang, misal : luka robek
Berkurangnya fungsi
motorik/sensorik/psikologis atau
intelektual (reversibel), tidak
berhubungan dengan penyakit.
Setiap kasus yang memperpanjang
perawatan.
Cidera luka/berat, misal : cacad, lumpuh
Berkurangnya fungsi
motorik/sensorik/psikologis atau
intelektual (reversibel), tidak
berhubungan dengan penyakit.
Kematian yang tidak berhubungan
dengan perjalanan penyakit.

Tabel 3 : PENILAIAN PROBABILITAS/FREKWENSI


Tingkat
Resiko
1
2
3

Deskripsi
Sangat Jarang/Rare (> 5 thn/kali)
Jarang/Unlikely (> 2 5 thn/kali)
Mungkin/Posible (1 2 thn/kali)

4
5

Sering/Likely (beberapa kali/thn)


Sangat Sering/Almost certain (tiap minggu/bulan)

SKOR RESIKO
Setelah nilai dampak dan probabilitas diketahui, di masukkan dalam Tabel
Matriks Gradik Resiko untuk menghitung skor resiko dan mencari warna
Bands resiko.

SKOR RESIKO =
Cara menghitung skor risiko :
Untuk menentukan skor risiko di gunakan matriks grading risiko (Tabel.4) :
1. Tetapkan Frekwensi pada kolom kiri.
2. Tetapkan Dampak pada baris kearah kanan.
3. Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara frekwesi
dan dampak.

BANDS RISIKO
Bands risiko adalah derajad risiko yang digambarkan dalam empat warna
yaitu : biru, hijau, kuning, merah. Warna bands akan menentukan ivestigasi
yang akan dilakukan (Tabel 4).
Bands BIRU dan HIJAU

: Investigasi sederhana

Bands KUNING dan MERAH

: Investigasi Komprehensif/RCA

WARNA BANDS: HASIL PERTEMUAN


ANTARA NILAI DAMPAK YANG DI
URUT KE BAWAH DAN NILAI
PROBABILITASYANG DI URUT KE
SAMPING KANAN

Tabel 5: TINDAKAN SESUAI TINGKAT DAN BANDS RISIKO

(>5 thn/kali)

Sangat jarang terjadi

Jarang terjadi

Mungkin terjadi

(>2-5thn/kali)

(1-<2 thn/kali)

Sering terjadi

Sangat sering terjadi

(beberapa kali/thn)

(Tiap minggu/bulan)

Probabilitas

Rendah

Rendah

Rendah

Moderat

Moderat

Tidak Signifikan

Rendah

Rendah

Moderat

Moderat

Moderat

2 Minor

Moderat

Moderat

Tinggi

Tinggi

Tinggi

3 Moderat

Tinggi

Tinggi

Ekstrim

Ekstrim

Ekstrim

4 Mayor

Ekstrim

Ekstrim

Ekstrim

Ekstrim

Ekstrim

5 Katastropik

Tabel 4: MATRIKS GRADING RISIKO

Level/ Bands
Ekstrem (Sangat tinggi)

Tindakan
Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling
lama 45 hari membutuhkan tindakan
segera, perhatian sampai ke Direktur

High (tinggi)

Risiko tinggi, dilakukan RCA paling


lama 45 hari kaji dengan detail &
perlu tindakan segera serta
membutuhkan perhatian Top
Managemen

Moderate (sedang)

Risiko sedang, dilakukan investigasi


sederhana palinglama 2 minggu.
Manager/ Pimpinan Klinis sebaiknya
menilai dampak terhadap biaya dan
kelola risiko

Low (rendah)

Risiko rendah, dilakukan investigasi


sederhana paling lama 1 minggu
diselesaikan dengan prosedur rutin

KOMUNIKASI DENGAN PASIEN/ KELUARGA BILA TERJADI INSIDEN


Pihak yang paling berwenang memberitahu tentang terjadinya insiden
adalah Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) sebagaimana diatur
dalam kebijakan pimpinan rumah sakit.

BILA INSIDEN YANG TERJADI BERSIFAT SENTINEL/ KATASTROFIK/


FATAL
Sambil melakukan pertolongan kepada pasien, perawat paling senior di
unit dimana insiden terjadi menerangkan tentang keadaan pasien dan
pertolongan pertama yang di lakukan, kemudian menghubungi DPJP untuk
melaporkan insiden yang terjadi serta saran terapi sementara (darurat), DPJP
diminta menerangkan secara langsung kepada pasien/keluarga pasien
tentang apa yang terjadi, baik secara tatap muka atau bila tidak
memungkinkan sementara bisa lewat telepon.
Apabila terjadi kepanikan pada pasien/keluarga pasien, maka perawat
di bantu staf rmah sakit yang lain menenangkan keluarga yang panik, dan
melakukan usaha pencegahan agar insiden keselamatan pasien yang terjadi
tidak berkembangmenjadi masalah medikolegal/litigasi.
Apabila keluarga pasien masih menghendaki litigasi (tuntutan hukum),
staf rumah sakit (perawat senior/kepala ruangan/dokter) melaporkan ke
manager on duty (MOD) atau manajer rawat inap untuk selanjutnya
diteruskan dke direksi rumah sakit secara langsung atau melalui costumer
care dan manajer hospital relation.

BILA INSIDEN BERSIFAT KDT CEDERA RINGAN/KNC/KTC/KPC


Pihak yang mengetahui melaporkan ke perawat di unit setempat,
perawat yang pertama mengetahui insiden kemudian meneruskan ke DPJP
dan kepala ruangan/unit. Penjelasan insiden yang tidak bersifat sentinel
kepada pasien/keluarga pasien hanya diberikan oleh DPJP secara langsung.
DPJP menjelaskan insiden dengan cara berkomunikasi yang baik, serta
berusaha mencegah insiden yang terjadi tidak berakhir diranah mediko legal
seperti halnya KTD sentinel.

CARA MENCEGAH IKP/ KTD AGAR TIDAK MENJADI MASALAH MEDIKO


LEGAL/ LITIGASI
DOKTER:
1. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan/ DPJP selalu menjelaskan dan
menuliskan rencana pelayanan medis yang diberikan kepada pasien
dan atau keluarganya di berkas rekam medis yang tersedia (RM-1h)
2. Dalam menjelaskan rencana pelayanan selalu diungkapkan
kemungkinan terjadinya Kejadian Tak Diharapkan (KTD), baik yang
dapat di cegah (medical error), maupun yang tidak dapat di cegah
(mis. Efek samping obat, ketidakberhasilan pengobatan, dll.)
3. Dokter tidak menjanjikan hasil pelayanan yang terlalu optimistik diluar
literatur atau pengetahuan berbasis bukti (evidence-based)
4. Memberi keleluasaan kepada pasien untuk ikut menentukan
pelayanan yang di berikan sesuai dengan pengetahuan dan
kemampuan finansial pasien, hal ini dilakukan saat DPJP mendidik
pasien/ keluarga pasien tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien
dalam asuhan pesien, dan dituliskan dalam berkas rekam medis yang
ada (RM-1i)
5. Bila pasien dirawat lebih dari satu dokter, diusahakan pelayanan
bersifat tim, tidak sendiri-sendiri dan penjelasan masing-masing
berprofesi ditulis dilembar rencana pelayanan agar dapat di mengerti
oleh DPJP utama (dokter primer menurut istilah lama).
6. Bila telah terjadi IKP/ KTD, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan dapat
memilih beberapa opsi dalam berkomunikasi dengan pasien atau
keluarganya antara lain:
a. Full disclosure (menerangkan apa adanya)
b. Partial disclosure (menerangkan dengan cara di perhalus)
c. No disclosure (menyamarkan causa prima dari KTD)
Pilihan tergantung dari situasi dan kondisi saat itu, bila situasi sangat
konduktif, opsi pertama adalah yang terbaik, bila tidak memungkinkan
opsi yang lain dikerjakan.

PERAWATAN / BIDAN:
1. Setiap rencana perawatan di jelaskan kepada pasien dan
keluarganya, dan dituliskan di lembar perawatan yang ada
2. Setiap tindakan perawatan (suntik, ambil darah dll), didahului
komunikasi dengan dengan pasien sesuaidengan standar
prosedur operasional yang ada
3. Apabila terjadi insiden, petugas yang pertama mengetahui harus
bersikap tenang dan tidak memprovoksi kepanikan pasien/
keluarganya, serta tidak mengeluarkan komentar yang tidak
perlu.
4. Apabila pasien/ keluarganya telah diduga sebelumnya akan
banyak tuntutan dan komplain, semua rencana perawatan harus
dimintakan persetujuan tertulis dari pihak pasien, termasuk bila
pasien/ keluarga menolak rencana pelayanan yang diberikan.
5. Selalu mengingatkan DPJP agar mendidik pasien tentang
kewajibannya terhadap rumah sakit, dan mengisi form tentang
hal itu (RM-1i)
6. Bila telah terjadi IKP/KTD, perawat diharapkan mengikuti metoda
pilihan DPJP dalam berkomunikasi dengan pasien/ keluarga
pasien (full disclosure, partial disclosure, atau no disclosure)
PEMBANTU KEPERAWATAN DAN STAF/ KARYAWAN LAIN:
1. Pembantu keperawatan (dulu disebut POS atau PP) dan staf non
keperawatan lain dapat berperan serta mencegah berkembangnya
IKP/ KTD menjadi ligitasi (tuntutan hukum) dengan selalu bersikap
santun, berempati dan membantu meneruskan informasi/ keluhan dari
pasien maupun keluarganya ke perawat atau dokter.
2. Bila terjadi IKP/ KTD, pembantu keperawatan dan non keperawatan
dapat membantu mencegah usaha provokasi pihak luar yang mungkin
sedang berada di tempat terjadinya IKP/ KTD dengan cara persuasif.

PENUTUP
Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap
pelayanan di rumah sakit maka kegiatan pelaksanaan kegiatan keselamatan
pasien rumah sakit sangatlah penting. Melalui kegiatan ini terjadi
penekanan/ penurunan insiden sehingga dapat lebih meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit.
Program keselamatan pasien merupakan proses tiaa henti, karena itu
diperlukan motivasi yang tinggi untuk bersedia melaksanakan program
secara berkesinambungan. Buku saku ini diharakan membantu segenap staf
menjalankan visi untuk mewujudkan RSK Budi Rahayu menjadi rumah sakit
pilihan dengan menjamin asuhan pelayanan kesehatan yang lebih aman
untuk pasien.

RAHASIA
FORM LAPORAN
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN (IKP)
Tidak boleh diperbanyak
Terdiri dar dua halaman
Paling lambat dibuat dalam 2X 24 jam
setelah kejadian
Item bertanda* harus diisi

IDENTITAS PASIEN
Nama*
Usia*

th bln hri (kolom bln & hri untuk

bayi)
Jenis kelamin*
Alamat*

perempuan

laki-laki

Nomor regestrasi/ No RM

nomor register
rawat

nomor rekam medis


inap

poli klinik

UGD lain-lain
KEJADIAN
Hari/ tanggal kejadian* Hari Tgl Bln Thn

Jam kejadian*
Lokasi kejadian
Jenis kejadian
Potensial Cedera

Kejadian Tidak Cedera


Kejadian Nyaris Cedera

Diharapkan
Kronologi kejadian*

Kejadian

Kejadian Tidak

FORM LAPORAN
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN (IKP)
Orang yang pertama mengetahui kejadian*
Karyawan RSK
Pihak RSK non karyawan (Cleaning Service, Suster SSpS non
karyawan, Konsultan RSK)
Pasien
Pengunjung (bukan orang tua, anak, atau saudara kandung pasien)
Keluarga pasien
Suster jaga/ penuggu pasien (bukan orang tua, anak, atau saudara
kandung pasien)
Dokter yang menangani (dokter yang merawat/ dokter jaga)
Akibat kejadian yang sudah diketahuisaat dilaporkan ke Komite Keselamatan
Pasien* (boleh lebih dari satu)

Kematian
Cedera
Perpanjangan perawatan
Keluhan pasien atau keluarga
Biaya tambahan
Tidak ada akibat

TINDAKAN SETELAH KEJADIAN (boleh dilanjutkan dihalaman tambahan)


No
.

Waktu

Tindakan*

Pelaksanaan*

Hasil

Apakah laporan lisan 1 X 24 jam ke pengurus KKP sudah dilakukan? Ya/


Tidak

Grading sementara (biru, hijau, kuning, merah)


Tanggal Laporan diserahkan*
Laporan Diterima*

Nama Pembuat Laporan*


Penerima Laporan*

Tanggal

NIK

Nama

Tanda Tangan Pembuat Laporan*


Tangan Penerima Laporan

No.
Arsip

Nama

Tanda

NIK
Diisi oleh KKP:

RAHASIA
FORM PEMBAHASAN
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN (IKP)
Tidak boleh diperbanyak
Terdiri dari 2 halaman

1. Nomor arsip

1
2

3
4

2. Nama
3. Nomor register/ No RM

nomor register nomor rekam medik


rawat inap
poliklinik UGD lain-lain:
4. Jenis kejadian
KTC KPC KNC KTD
Bukan Insiden Keselamatan Pasien
5. Kategori Kejadian IKP
Kesalahan sisi tindakan
Infeksi nosokomial
Kesalahan identitas
KTD karena
Kesalahan pengobatan
keterlambatan/
Pasien jatuh
penundaan (tidak
Reaksi transfusi
berhubungan
Dengan alat)
KTD berhubungan
dengan

6.

1 Tak
Tidak ada cedera
bermakna Kerugian keuntungan kecil
2 Minor
Dapat diatasi dengan pertolongan
pertama
Kerugian keuangan sedang
3 Moderate Berkurangnya fungsi motorik/
sensorik/ psikologis/
intelektualpermanen, tak
berhubungan dengan penyakit
Setiap kasus yang memperpanjang
perawatan
4 Major
Ceders luas
Kehilangan fungsi utama permanen
(motorik/ sensorik/ psikologis/
intelektual), tak berhubungan
dengan penyakit
Kerugian keungan besar
5 Catastrop Kematian yang tidak berhubungan
hic
dengan penyakit
Kerugian keuangan besar

alat
Dampak

7.

1 Sangat jarang
terjadi
2 Jarang terjadi
3 Mungkin terjadi
4 Sering terjadi

5 Sangat sering
terjadi
Probabilitas/ Frekuensi

8. Risk grading
Merah
9. Follow up
Akar Masalah
10.
N
Kepada
o

Rekomendasi

Dapat terjadi sekali dalam lebih


dari 5 tahun
Dapat terjadi sekali dalam 2-5
tahun
Dapat terjadi sekali dalam 1-2
tahun
Dapat terjadi beberapa kali
dalam setahun
Terjadi tiap minggu/ bulan

Biru

Hijau

Investigasi sederhana
Isi Rekomendasi

Kuning
Analisis

Jangka waktu
Tindak lanjut oleh
KKP

11. Jika investigasi sederhana, penanggung jawab adalah


Nama penanggung jawab
Unit
12. Jika analisis akar masalah, panitia ad hoc adalah
No

Nama

Alasan dipilih

Unit

NIK
NIK

Tanggal pembahasan
Tanggal persetujuan

Notulis
Keselamatan Pasien

Ketua Tim Pembahas

Ketua Komite

No arsip pembahasan
Pengarsip

NIK