Anda di halaman 1dari 31

makalah anatomi fisiologi ginjal

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan
kosentrasi garam, asam, dan elektrolit lain di lingkungan cairan internal. Kelangsungan hidup sel
juga bergantung pada pengeluaran secara terus menerus zat-zat sisa metabolism toksik dan
dihasilkan oleh sel pada saat melakukan berbagai reaksi semi kelangsungan hidupnya. Traktus
urinarius merupakan system yang terdiri dari organ-organ dan struktur-struktur yang
menyalurkan urin dari ginjal ke luar tubuh. Ginjal berperan penting mempertahankan
homeostasis dengan mengatur konsentrasi banyak konstituen plasma, terutama elektrolit dan air
dan dengan mengeliminasi semua zat sisa metabolisme.
Tujuan penyajian makalah ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Anatomi
dan Fisiologi Ginjal. Pemahaman yang lebih baik akan membantu dalam memahami sistem
ekskresi.
B.
1.
2.
3.

Permasalahan
Bagaimana Anatomi dari Ginjal?
Bagaimana Fisiologi dari Ginjal?
Bagaimana Autoregulasi dari Ginjal?

C. Tujuan
Pembaca memahami Anatomi dan Fisiologi Ginjal serta Autoregulasi dari Ginjal.
D. Manfaat
Pembaca dapat mengerti dan memahami Anatomi dan Fisiologi serta Autoregulasi Ginjal.
Sehingga memberikan pengetahuan yang lebih mengenai sistem ekskresi dalam tubuh.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

ANATOMI

Pengertian:
Ginjal berjumlah 2 buah, berat + 150 gr (125 170 gr pada Laki-laki, 115 155 gr
pada perempuan); panjang 5 7,5 cm; tebal 2,5 3 cm. Pada posisi berdiri letak
ginjal kanan lebih rendah daripada ginjal kiri.
Struktur Ginjal
Bila dibuat irisan memanjang dari medial ke lateral tampak dua bagian
Cortex/substantia kortekalis sebelah luar dan medulla/substantia medullaris sebelah
dalam.
a.

Corteks

1)

Tampak agak pucat

2)

Terdapat :

a)

Corpusculi Renalis/korpus renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman)

b)

Tubuli Contorti

c)
Perm
ulaan
Tubulus Collectus
d)

Tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distalis.

b.

Medulla

Terdiri dari 9-14 bangunan berbentuk piramid disebut Piramid Renalis, ujung piramid
akan menjadi Colix Minor, beberapa Colix Minor bergabung menjadi Colix Major,
beberapa Colix Major bergabung menjadi Pelvis Renalis dan berlanjut sebagai
ureter. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus, lengkung Henle/Ansa Henle,
sebagian pars descendens dan pars ascendens tubulus Henle dan tubulus
pengumpul (ductus colligent).

c.

Nefron

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Secara mikroskopis ginjal terdiri


dari Nefron berjumlah + 2,4 Juta. Nefron terdiri dari :

Glomerolus, dimana terjadi proses filtrasi

Tubulus, dimana cairan filtrasi diubah menjadi urin

Tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal yang


bermuara pada tubulus pengumpul(ductus colligent). Di sekeliling tubulus ginjal
tersebut terdapat pembuluh kapiler, yaitu arteriol (yang membawa darah dari dan
menuju glomerulus) serta kapiler peritubulus (yang memperdarahi jaringan ginjal).
Secara morfologis, ada 2 macam nefron:

Nefron Cortical

Terdapat di 2/3 bagian luar Cortex, +85% jumlah Nefron mempunyai Loop Henle
pendek dikelilingi kapiler disebut Peritubuler Kapiler, atau degan kata lain nefron di

mana korpus renalisnya terletak di korteks yang relatif jauh dari medula serta hanya
sedikit saja bagian lengkung Henle yang terbenam pada medula.

Nefon Juxta Medullary

Dekat ke arah Medulla + 15% dari Nefron. Glomerolus lebih besar, loop Henle lebih
panjang dikelilingi kapiler peritubulus disebut Vasa Retca atau dengan kata
lain, nefron di mana korpus renalisnya terletak di tepi medula, memiliki lengkung
Henle yang terbenam jauh ke dalam medula dan pembuluh-pembuluh darah
panjang dan lurus yang disebut sebagai vasa rekta.
1)

Glomerolus

Renalis memvascularisasi ginjal setelah bercabang-cabang akhirnya menuju


masing-masing Nefron dalam bentuk Arteriolle Afferent dan memasuki tubulus yang
mengalami invagensesi yang disebut Capsula Bowmani dan membentuk kapiler.
Capsula Bowmani dan capiler ini disebut Glomerolus. Capiler ini meninggalkan
Glomerolus dan membentuk Arteriolle Efferent, Arteriolle Efferent ini membentuk
kapiler yang mengelilingi tubulus
2)

Tubulus Ginjal

Setelah mengalami filtrasi, cairan akan ditampung dan mengalami berbagai proses
di tubulus ginjal.
(a)

Tubulus Proximalis

Menampung hasil filtrasi Glomerolus, berkelok-kelok disebut Tubulus Contortus


Proximalis
(b) Loop of Henle : kelanjutan tubulus proximalis tidak berkelok, terdiri dari :
(1) Pars Descenden, dibagi bagian tebal dan tipis
(2) Pars Ascenden, dibagi 2 bagin tebal dan tipis
(3) Ansa Henle : pertemuan pars Ascenden dan Descenden berupa lengkungan.
(c) Tubulus Distalis, berkelok-kelok dan berakhir menjadiTubulus Arcuatus yang
bermuara ke dalam Tubulus Colectivus bergabung menjadi Ductus Papillaris
Bellini dan menjadi Calix Minor
(d) Aparatus Justa Glomerolus merupakan sel ginjal yang menghasilkan Renin. Sel
ini terdapat pada epithel tunik,media arteriole afferent di tempat arteriole ini
memasuki glomerolus.

d.

Ureter

1)
Terdiri dari 2 pipa yang masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung
kemih.
2)

Lapisan dinding ureter terdiri dari :


(a)
(b)

Lapisan luar (Jaringan ikat/fibrosa)


Lapisan tengah (otot polos)

3)
Lapisan dinding ureter terjadi gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang
mendorong urine melalui ureter.
4)
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica
urinaria. Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal (organ pencernaan
berada posterior dari peritoneum parieta ; pankreas, ginjal, sebagian duodenum
dan kolon, serta aorta abdominal.), masing-masing satu untuk setiap ginjal.

e.

Vesika Urinaria/Kandung kemih/ Buli-buli

1)
Sebuah kantung dengan otot yang mulus dan berfungsi sebagai penampung
air seni yang berubah-ubah, untuk selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan
eksternal tubuh melalui mekanisme relaksasi sphincter. Karenanya kandung kemih
dapat mengembang dan mengempis.
2)
Vesica urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic floor), bersama-sama dengan
organ lain seperti rektum, organ reproduksi, bagian usus halus, serta pembuluhpembuluh darah, limfatik dan saraf.
f.

Uretra

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih.Berfungsi


menyalurkan air kemih keluar.
Dalam anatomi, uretra adalah saluran yang menghubungkan kantungkemih ke
lingkungan luar tubuh. Uretra berfungsi sebagai saluran pembuang baik pada
sistem kemih atau ekskresi dan sistem seksual. Pada pria, berfungsi juga dalam
sistem reproduksi.

B.

FISIOLOGI

1.

Fungsi Ginjal :

a.

Ginjal mengatur pH, konsentrasi ion mineral, dan komposisi air dalam darah.

b.
Ginjal mempertahankan pH plasma darah pada kisaran 7,4 melalui pertukaran
ion hidronium dan hidroksil. Akibatnya, urin yang dihasilkan dapat bersifat asam
pada pH 5 atau alkalis pada pH 8.
c.
Kadar ion natrium dikendalikan melalui sebuah proses homeostasis yang
melibatkan aldosteron untuk meningkatkan penyerapan ion natrium pada tubulus
konvulasi.
d.
Kenaikan atau penurunan tekanan osmotik darah karena kelebihan atau
kekurangan air akan segera dideteksi oleh hipotalamus yang akan memberi sinyal
pada kelenjar pituitari dengan umpan balik negatif.Kelenjar pituitari mensekresi
hormon antidiuretik (vasopresin, untuk menekan sekresi air) sehingga terjadi
perubahan tingkat absorpsi air pada tubulus ginjal. Akibatnya konsentrasi cairan
jaringan akan kembali menjadi 98%.

2.

Mekanisme dasar fungsi ginjal

Pada dasarnya fungsi utama ialah membersihkan plasma darah dari zat-zat
yang tidak berguna bagi tubuh dengan cara :

a.

Filtrasi

1)
Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di
kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan
permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.
2)
Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel
darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang
terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium,
klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari
endapan.
3)
Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer,
mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya

b.

Reabsorbsi

Mekanisme reabsorbsi:
Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di
tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi
penambahan zat-zat sisa dan urea. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua

cara. Gula dan asam amino meresap melaluiperistiwa difusi, sedangkan air
melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan
tubulus distal. Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino
dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam
dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin. Setelah terjadi reabsorbsi
maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan
tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang
bersifat racun bertambah, misalnya urea.

c.

Sekresi

Sekresi tubular melibatkan transfor aktif molekul-molekul dari aliran darah melalui
tubulus kedalam filtrat. Banyak substansi yang disekresi tidak terjadi secara
alamiah dalam tubuh (misalnya penisilin). Substansiyang secara alamiah terjadi
dalam tubuh termasuk asam urat dan kalium serta ion-ion hidrogen.

d. Augmentasi
Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di
tubulus kontortus distal. Urine yg telah terbentuk (urine sekunder), dari tubulus
kontortus distal akan turun menuju saluran pengumpul (duktus
kolektivus), selanjutnya urine dibawa ke pelvis renalis. Dari pelvis renalis, urine
mengalir melalui ureter menuju vesika urinaria (kantong kemih) yang merupakan
tempat penyimpanan sementara bagi urine. Jika kantong kemih telah penuh terisi
urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air
kecil. Urin akan keluar melalui uretra. Komposisi urine yang dikeluarkan meliputi air,
garam, urea, dan sisa substansi lainnya seperti pigmen empedu yang berfungsi
memberi warna dan bau pada urine. Warna urine setiap orang berbeda dan
biasanya dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi, aktivitas yang
dilakukan, ataupun penyakit. Warna normal urine adalah bening hingga kuning
pucat.

Hal-hal yang mempengaruhi produksi urine:


1.

Jumlah air yang diminum

Jika seseorang banyak minum air maka kosentrasi protein darah akan turun. Darah
menjadi terlalu encer, sehingga sekresi ADH terhalang. Maka penyerapan air oleh
dinding tubulus kurang efektif, sehingga, terbentuk urin yang banyak.Dan Apabila
kita tidak minum air seharian, maka konsentrasi (kadar) air dalam darah menjadi

rendah. Hal ini akan merangsang hipofisis mengeluarkan ADH. Hormon ini akan
meningkatkan reabsorpsi air di ginjal sehingga volume urine menurun.
2.

Hormone Anti Deuretik

Hormon ini dihasilkan kelenjar hipofisis bagian posterior. Sekresi ADH dikendalikan
oleh konsentrasi air dalam darah.Hormon antidiuretik mempengaruhi proses
penyerapan air oleh dinding tubulus. Bila sekresi ADH banyak, penyerapan air oleh
dinding tubulus akan meningkat, sehingga urin yang terbentuk sedikit. Sebaliknya
jika sekresi ADH kurang, maka penyerapan air oleh dinding tubulus menurun,
sehingga dihasilkan banyak urin.
3.

Suhu

Jumlah dan type makanan merupakan faktor Ketika suhu panas atau banyak
mengeluarkan keringat, konsentrasi air dalam darah turun mengakibatkan
sekresi ADH meningkat sehingga urin yang di hasilkan sedikit. Sebaliknya jika suhu
udara dingin konsentrasi air dalam darah naik sehingga menghalangi
sekresi ADH maka produksi urin banyak.
4.

Diet dan intake

Jumlah dan type makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output
urine, seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang keluar, kopi
meningkatkan pembentukan urine intake cairan dari kebutuhan, akibatnya output
urine lebih banyak.
5.
Saraf,rangsang saraf renalis akan menyempitkan arteriole aferent,aliran darah
berkurang,filtrasi kurang afektif,urine sedikit.
6.
C.

Stress dan emosi dapat menimbulkan produksi urine menjadi meningkat.


AUTOREGULASI GINJAL

Perubahan arteri menyebabkan perubahan jelas dalam pengeluaran urine, tekanan


ini dapat berubah dari sekecil 75mmHg sampai setinggi 160mmHg. Hal ini
menyebabkan perubahan yang sangat kecil atas laju filtrasi glomerolus, karena
nefron memerlukan laju filtrasi glomerolus yang optimum jika ia melakukan
fungsinya. Laju filtrasi glomerolus lebih besar/kecil 5% dapat menyebabkan
pengaruh yang besar yaitu kehilangan cairan yang berlebihan kedalam urine.
Eksresi produk produk yang diperlukan sangat kecil. Fungsi
autoregulasi:Mencegah perubahan drastic pada GFR.

BAB III
PENUTUP

A.
1.

Kesimpulan
Anatomi ginjal

a.

Korteks

b.

Medulla

c.

Nefron

1)

Glomerulus

2)

Tubulus Ginjal

d.

Ureter

e.
f.
2.
a.

Vesika Urenaria
Uretra
Fisiologi Ginjal :
Fungsi Ginjal :

Mengatur keseimbangan air dalam tubuh

Mengatur keseimbangan elektrolit

Mengatur keseimbangan asam basa

Turut mengatur tekanan darah

Sebagai Eritrhopoetic System

b.

Mekanisme dasar fungsi ginjal

Pada dasarnya fungsi utama ialah membersihkan plasma darah dari zat-zat yang
tidak berguna bagi tubuh dengan cara :

Filtrasi

Reabsorbsi

Augmentasi

Sistem Perkemihan (Urinaria)


Posted by Tarlis Irawan on April 19, 2012

2.1. Pengertian
Sisitem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga dara bebas dari zat-zat
yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang
dipergunakan oleh tubuh larutan dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih).

Sistem urinaria terdiri atas:

Ginjal, yang mengeluarkan sekret urine.

Ureter, yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kencing.

Kandung kencing, yang bekerja sebagai penampung.

Uretra, yang menyalurkan urine dari kandung kencing.


2.2. Ginjal
Ginjal adalah suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua
sisi vertebra lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang,
jumlahnya ada dua buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki
lebih panjang dari ginjal wanita.

Fungsi ginjal:
1.

Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.

2.

Mempertahankan suasana keseimbangan cairan

3.

Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.

4.

Mempertimbangkan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.

5.

Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari ureum protein.

Uji fungsi ginjal terdiri dari:


1.

Uji protein (albumin). Bila ada kerusakan pada glomerulus atau tubulus, maka protein dapat bocor dan
masuk ke urine.

2.

Uji konsentrasi ureum darah. Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureum darah naik di atas
kadar normal 20-40 mg%.

3.

Uji konsentrasi. Pada uji ini dilarang makan dan minum selama 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi
berat jenis naiknya.

Struktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu
tua. Lapisan luar terdiri dari lapisan korteks (subtansia kortekalis), dan lapisan sebelah dalam bagian medulla
(subtansia medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal piramid. Puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang
terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis. Masing-masing piramid dilapisi oleh kolumna renalis, jumlah
renalis 15-16 buah.

Garis-garis yang terlihat di piramid disebut tubulus nefron yang merupakan bagian terkecil dari ginjal yang terdiri dari
glomerulus, tubulus proksimal (tubulus kontorti satu), ansa henle, tubulus distal (tubulus kontorti dua) dan tubulus
urinarius (papilla vateri).
Pada setiap ginjal diperkirakan ada 1.000.000 nefron, selama 24 jam dapat menyaring darah 170 liter. Arteri
renalis membawa darah murni dari aorta ke ginjal, lubang-lubang yang terdapat pada piramid renal masing-masing

membentuk simpul dari kapiler satu badan malfigi yang disebut glomerulus. Pembuluh aferen yang bercabang
membentuk kapiler menjadi vena renalis yang membawa darah dari ginjal ke vena kava inferior.
Fisiologi ginjal
Ginjal berfungsi:
1.

Mengatur volume air (cairan dalam tubuh). Kelebihan air dalam tubuh akan diekskresikan oleh ginjal sebagai
urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang
diekskresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat
dipertahankan relatif normal.

2.

Mengatur keseimbangan osmitik dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma
(keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam
yang berlebihan/penyakit perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan ekskresi ion-ion yang penting
(mis. Na, K, Cl, Ca dan posfat).

3.

Mengatur keseimbangan asam-basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan, campuran makanan
menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolism protein.
Apabila banyak makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi antara 4,8-8,2. Ginjal
menyekresi urine sesuai dengan perubahan pH darah.

4.

Ekskresi sisa hasil metabolism (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat toksik, obat-obatan, hasil metabolism
hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).

5.

Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon renin yang mempunyai peranan penting
mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin aldesteron) membentuk eritripoiesis mempunyai peranan
penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis).

Di samping itu ginjal juga membentuk hormone dihidroksi kolekalsiferol (vitamin D aktif) yang diperlukan untuk
absorsi ion kalsium di usus.
Filtrasi glomerulus
Kapiler glomerulus secara relatif bersifat impermeabel terhadap protein plasma yang lebih besar dan permeabel
terhadap air dan larutan yang lebih kecil sepeti elektrolit, asam amino, glukosa dan sisa nitrogen. Glomerulus
mengalami kenaikan tekanan darah 90 mmHg. Kenaikan ini terjadi karena anteriole aferen yang mengarah ke
glomerulus mempunyai diameter yang lebih besar dan memberikan sedikit tahanan dari kapiler yang lain. Darah
didorong ke dalam ruangan yang lebih kecil, sehingga darah mending air dan partikel yang terlarutdalam plasma
masuk ke dalam kapsula bowman. Tekanan darah terhadap dinding pembuluh ini disebut tekanan hidrostatik (TH).
Gerakan masuknya ke dalam kapsula bowman disebut sebagai filtrasi glomerulus.

Tiga faktor pada proses filtrasi dalam kapsula bowman menggambarkan integrasi ketiga faktor tersebut yaitu:
1.

Tekanan osmitik (TO). Tekanan yang dikeluarkan oleh air (sebagai pelarut) pada membrane
semipermeabel sebagai usaha untuk menembus membrane semipermeabel ke dalam area yang mengandung
lebih banyak molekul yang dapat melewati membrane semipermeabel. Pori-pori dalam kapiler glomerulus
membuat membrane semipermeabel memungkinkan untuk melewati yang lebih kecil dari air tetapi mencegah
molekul yang lebih besar misalnya protein dan plasma.

2.

Tekanan hidroststik (TH). Sekitar 15 mmHg dihasilkan oleh adanya filtrasi dalam kapsula dan berlawanan
dengan tekanan hidrostatik darah. Filtrasi juga mengeluarkan tekanan osmitik 1-3 mmHg yang berlawanan
dengan osmitik darah.

3.

Perbedaan tekanan osmitik plasma dengan cairan dalam kapsula bowman mencerminkan perbedaan
kosentrasi protein, perbedaan ini menimbulkan pori-pori kapiler mencegah protein plasma untuk difiltrasi.

Tekanan hidrostatik plasma dan tekanan osmitik filtrat kapsula bowman bekerja sama untuk meningkatkan gerakan
air dan molekul permeabel, molekul permeabel kecil dari plasma masuk ke dalam kapsula bowman.
Proses pembentukan urine
Glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai bowman, berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari
glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa
cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter.
Urine berasal dari darah yang di bawa arteri renalis masuk kedalam ginjal, darah ini terdiri dari bagian yang
padat yaitu sel darah dan bagian plasma darah.
Ada tiga tahap pembentukan urine:
1)

Proses filtrasi

Terjadi di glomerulus, proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari permukaan eferen maka terjadi
penyerapan darah. Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang
tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, natrium, klorida, sulfat, bikarbonat dan lainlain, yang diteruskan ke tubulus ginjal.
2)

Proses reabsorpsi

Proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar glukosa, natrium, klorida, fosfat, dan ion bikarbonat. Prosesnya
terjadi secara pasif yang dikenal oblogator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal
bagian bawah terjadi kembali penyerapan natrium dan ion bikarbonat. Bila diperlukan akan diserap kembali ke dalam
tublus bagian bawah. Penyerapannya terjadi secara aktif dikenal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan
pada papilla renalis.
3)

Proses sekresi

Sisanya penyerapan urine kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke
ureter masuk ke vesika urinaria.
Peredaran darah ginjal
ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabanganarteri arteri renalis. Arteri ini
berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri arkuata.
Arteri interloburalis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan-gumpalan yang
disebut glomerulus. Glomerulus ini dikelilingi oleh alat yang disebut simpai bowman. Di sini terjadi penyaringan
pertama dan kapiler darah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava
inferior.
Persarafan ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari pleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang
masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembu;uh darah yang masuk ginjal. Di atas ginjal
terdapat kelenjar suprarenalis, kelenjar ini merupakan kelenjar buntu yang menghasilkan dua macam hormon yaitu
hormon adrenalin dan hormon kortison. Adrenal dihasilkan oleh medulla.
Reabsorpsi dan sekresi tubulus
Sewaktu filtrat glomerulus memasuki tubulus ginjal, filtrat ini mengalir melalui bagian-bagian tubulus. Sebelum
diekskresikan sebagai urine beberapa zat diabsorpsi kembali secara selektif dari tbulus dan kembali ke dalam darah,
sedangkan yang lain de sekresikandari darah ke dalam lumen tubulus. Pada akhirnya urine terbentuk dan semua zat
dalam urine akan menggambarkan penjumlahan dari tiga proses dasar ginjal (filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus
dan sekresi tubulus).
Ekskresi urine Filtrasi glomerulus Reabsorpsi tubulus + Sekresi tubulus
a.

Reabsorpsi tubulus

Ginjal menangani beberapa zat yang yang difiltrasi secara bebas dalam ginjaldan diabsorpsi dengan kecepatan yang
berbeda. Kecepatan masing-masing zat dapat dihitung sebagi berikut.
Filtrasi Kecepatan filtrasi glomerulus x Kecepatan plasma
Penghitungan ini menganggap bahwa zat-zat difiltrasi secara bebas dan tidak terikat pada protein plasma.
Kebanyakan zat proses filtrasi golmerulus dan reabsorpsi tubulus secara kuntitatif relatif sangat besar
terhadap sekresi urine. Sedikit saja perubahan pada filtrasi glomerulus atau reabsorpsi secara potensial dapat
menyebabkan perubahan yang relatif besar. Beberapa produk buangan seperti ureum dan kreatinin sulit diabsorpsi
dari tubulus dan diekskresi dalam jumlah yang relatif besar.
Mekanisme pasif. Zat yang akan diabsorpsi harus ditranspor melintasi membran epitel tubulus ke dalam cairan
interstisial ginjal, melalui kapiler peri tubulus kembali ke dalam darah. Reabsorpsi melalui epitel tubulus ke dalam
darah, misalnya air dan zat terlarut dapat ditranpor melalui membran selnya sendiri (jalur transeluler) atau melalui
ruang sambungan antar-sel (jalur para seluler). Setelah diabsorpsi melalui sel epitel tubulus ke dalam cairan
interstisial air dan zat terlarut ditranpor melalui dinding kapiler ke dalam darah dengan cara ultrafiltrasi yang
diperantarai oleh tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik koloid.
Traspor aktif mendorong suatu zat terlarut melawan gradien elektrokimia dan membutuhkan energi yang berasal dari
metabolisme. Transpor yang berhubungan langsung dengan suatu sumber energi seperti hidrolisis adenosin trifosfat
(ATF) disebut transfor aktif primer. Transpor yang tidak berhubungan secara langsung dengan suatu sumber energi
seperti yang diakibatkan oleh gradien ion, disebut transpor aktif sekunder.
b.

Reabsorpsi tubulus proksimal

Secara normal sekitar 65% dari muatan natrium dan air yang difiltrasi dan nilai persentase terendah dari klorida akan
diabsorpsi oleh tubulus proksimal sebelum filtrat mencapai ansa henle. Persentase ini dapat meningkat atau
menurun dalam berbagai kondisi fisiologis.
Sel tubuh proksimal mempunyai banyak sekali brush boerder. Permukaan membran brush boerder dimuati
molekul protein yang mentranspor ion natrium melewati membran lumen yang bertalian dengan mekanisme transpor
nutrien organik (asam amino dan glukosa). Tubulus proksimal merupakan tempat penting untuk sekresi asam dan
basa, organik seperti garam garam empedu, oksalat, urat, dan katekolamin.
Regulasi reabsorpsi tubulus penting untuk mempertahankan suatu keseimbangan yang tepat antara
reabsorpsi tubulus dan filtrasi glomerulus. Adanya mekanisme saraf, faktor hormonal, dan kontrol setempat yang
meregulasi reabsorpsi tubulus untuk mengatur filtrasi glomerulus maka reabsorpsi beberapa zat terlarut dapat diatur
secara bebas terpisah dari yang lain terutama melalui mekanisme pengontrolan hormonal.
Abnormalitas kongenital
Kelainan kongenital ginjal dapat terjadi, termasuk:
1.

Tidak terdaptnya ginjal.

2.

Ginjal berbentuk seperti sepatu kuda.

3.

Kista ginjal, dimana ginjal mempunyai kista dalam jumlah yang besar sebagai akibat dari kesalahan
perkembangan dalam perkembangan tubulus.

Penyakit ginjal
Penyakit pada ginjal dapat mengganggu fungsi nefron, dan apabila sejumlah besar nefron mengalami kerusakan
maka akan terjadi kerusakan fungsi ginjal: sekresi urina hilang, albumin atau darah dapat terlihat pada urine, produk
metabolisme (misalnya urea) yang seharusnya di ekskresi tidak diekskresi dan terjadi penumpukan dalam darah,
serta keseimbangan asam basa tubuh menjadi terganggu.
Pada glomerulus nefritis akut ginjal mengalami perbesaran, glomerulus merupakan bagian khusus yang
terkena. Pada sindroma nefrotik terdapatnya protein dalam urine menyebabkan terjadinya retensi cairan dalam
jaringan. Pada glikosuria renalis glukosa bocor ke dalam urine sebagai akibat kelainan kongenital pada anatomi dan
fungsi nefron.
Gagal ginjal akut dapat timbul sebagai akibat:
1.

Gangguan sirkulasi renalis (misalnya pada syok, penurunan curah jantung ditujukan pada otak dan jantung
menyebabkan kerusakan pada ginjal).

2.

Glomerulo nefritis berat

3.

Penyumbatan traktus urinarius oleh batu ginjal.

Bila gagal ginjal terjadi pada beberapa jam, tubulus ginjal akan mengalami kerusakan permanen. Pada urine yang
disekresi terhenti sama sekali (terjadi urinarius) atau berkurang dalam jumlah yang sangat kecil (oligura), terdapat
perubahan keseimbangan asam basa yang berat dan produk akhir metabolisme tubuh tidak diekskresi. Gagal ginjal
kronik merupakan akibat dari kerusakan nefron yang permanen ole penyakit ginjal apa saja yang berat, adanya bukti
terjadi gagal ginjal terlihat apa bila sekitar 75% dari nefron sudah tidak berfungsi.
Pada diabetik insipidus antidiuretik hormon tidak dibentuk oleh kompleks hipotalamuspituitari dan sebagai
konsekuensinya air tidak direabsorpsi dalam duktus kolektikus, dan pasien mengeluarkan jumlah urine banyak yang
pekat.
Abnormalitas kandungan urine:
1.

Glukose

2.

Benda-benda keton

3.

Garam empedu

4.

Pigmen empedu

5.

Protein

6.

Darah

7.

Beberapa obat-obatan

2.3. Ureter

Terdiri dari 2 saluran pipa, masingmasing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria), panjangnya
25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak
dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding abdomen terdiri dari:
1.

Dinding luar jaringan ikat (jarinagn fibrosa)

2.

Lapisan tengah lapisan otot polos

3.

Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan didnding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih
masuk ke dalam kandung kamih (vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urine melalui ureter yang
diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam
kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh peritoneum.
Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh
limfe berasal dari pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
Pars abdominalis ureter dalam kavum abdomen ureter terletak di belakang peritoneum sebelah media anterior
m. psoas mayor dan ditutupi oleh fasia subserosa. Vasa spermatika/ovarika interna menyilang ureter secara oblique,
selanjutnya ureter akan mencapai kavum pelvis dan menyilang arteri iliaka eksterna.
Ureter kanan terletak pada parscdesendens duodenum. Sewaktu turun ke bawah terdapat di kanan bawah
dan disilang oleh kolon dekstra dan vosa iliaka iliokolika, dekat apertura pelvis akan dilewati oleh bagian bawah
mesenterium dan bagian akhir ilium. Ureter kiri disilang oleh vasa koplika sinistra dekat apertura pelvis superior dan
berjalan di belakang kolon sigmoid dan mesenterium.
Pars pelvis ureter berjalan pada bagian dinding lateral pada kavum pelvis sepanjang tepi anterior dari insura
iskhiadikamayor dan tertutup olehperitoneum. Ureter dapt ditemukan di depan arteri

hipogastrikabagian dalam

nervus obturatoris arteri vasialia anterior dan arteri hemoroidalis media. Pada bagian bawah insura iskhiadika mayor,
ureter agak miring ke bagian medial untuk mencapai sudut lateral dari vesika urinaria.
Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi
oleh pleksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinaria pada
sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urinaria, dinding atas dan dinding bawah ureter akan
tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine
dari vesika urinaria.
Ureter pada wanita terdapat di belakang fossa ovarika urinaria dan berjalan ke bagian medial dan ke depan
bagian lateralis serviks uteri bagian atas, vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter
didampingi oleh arteri uterina sepanjang 2,5 cm dan selanjutnya arteri ini menyilang ureter dan menuju ke atas di
antara lapisan ligamentum. Ureter mempunyai 2 cm dari sisi serviks uteri. Ada tiga tempat yang penting dari ureter
yang mudah terjadi penyumbatan yaitu pada sambungan ureter pelvis diameter 2 mm, penyilangan vosa iliaka
diameter 4 mm dan pada saat masuk ke vesika urinaria yang berdiameter 1-5 cm.

Pembuluh darah ureter


1.

Arteri renalis

2.

Arteri spermatika interna

3.

Arteri hipogastrika

4.

Arteri vesika inferior

Persarafan ureter
Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus inferior, pleksus spermatikus, dan pleksu pelvis;
seperti dari nervus; rantai eferens dan nervus vagusrantai eferen dari nervus torakalis ke-11 dan ke-12, nervus
lumbalis ke-1, dan nervus vagus mempunyai rantai aferen untuk ureter.
2.4. Vesika urinaria
Vesika urinaria (kandung kemih) dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang
simfisis pubis di dalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat,
berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.

Bagian vesika urinaria terdiri dari:


1.

Fundus yaitu, bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh
spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferen, vesika seminalis dan prostat.

2.

Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.

3.

Verteks, bagian yang mancung ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.

Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), tunika muskularis (lapisan otot), tunika
submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Pembuluh limfe vesika urinaria mengalirkan cairan limfe ke
dalam nadi limfatik iliaka interna dan eksterna.
Lapisan otot vesika urinaria

Lapisan otot vesika urinaria terdiri dari otot polos yang tersusun dan saling berkaitan dan disebut m. detrusor vesikae.
Peredaran darah vesika urinaria berasal dari arteri vesikalis superior dan inferior yang merupakan cabang dari arteri
iliaka interna. Venanya membentuk pleksus venosus vesikalis yang berhubungan dengan pleksus prostatikus yang
mengalirkan darah ke vena iliaka interna.
Persarafan vesika urinaria
Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus hipogastrika inferior. Serabut ganglion simpatikus berasal dari
ganglion lumbalis ke-1 dan ke-2 yang berjalan turun ke vesika urinaria melalui pleksus hipogastrikus. Serabut
preganglion parasimpatis yang keluar dari nervus splenikus pelvis yang berasal dari nervus sakralis 2, 3 dan 4
berjalan melalui hipogastrikus inferior mencapai dinding vesika urinaria/
Sebagian besar serabut aferen sensoris yan g keluar dari vesika urinaria menuju sistem susunan saraf pusat
melalui nervus splanikus pelvikus berjalan bersama saraf simpatis melalui pleksus hipogastrikus masuk kedalam
segmen lumbal ke-1 dan ke-2 medula spinalis.
2.5. Uretra
Uretara merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih
keluar.

Uretra pria
Pad laki-laki uretra berjalan berkelok kelok melalaui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang
menembus tulang fubis ke bagian penis panjangnya 20 cm. uretra pada laki-laki terdiri dari:
1.

Uretra prostatia

2.

Uretra membranosa

3.

Uretra kevernosa

Lapisan uretra laki-lakin terdiri lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria sampai orifisium eksterna. Pada penis panjangnya
17,5-20 cm yang terdiri dari bagian-bagian berikut:
Uretra prostatika merupakan saluran terlebar panjangnya 3 cm, berjalan hampir vertikulum melalui glandula prostat ,
mulai dari basis sampai ke apaks dan lebih dekat ke permukaan anterior.
Uretra pars membranasea ini merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal, berjalan mengarah ke
bawah dan ke depan di antara apaks glandula prostata dan bulbus uretra. Pars membranesea menembus
diagfragma urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm, di belakang simfisis pubis diliputi oleh jaringan sfingter uretra
membranasea. Di depan saluran ini terdapat vena dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara ligamentum
transversal pelvis dan ligamentum arquarta pubis.
Uretra pars kavernosus merupakan saluran terpanjang dari uretra dan terdapat di dalam korpus kavernosus uretra,
panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari pars membranasea sampai ke orifisium dari diafragma urogenitalis. Pars
kavernosus uretra berjalan ke depan dan ke atas menuju bagian depan simfisis pubis. Pada keadaan penis
berkontraksi, pars kavernosus akan membelok ke bawah dan ke depan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan
korpus penis 6 mm dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam glans penis yang akan
membentuk fossa navikularis uretra.
Oriifisium uretra eksterna merupakan bagian erektor yang paling berkontraksi berupa sebuah celah vertikal ditutupi
oleh kedua sisi bibir kecil dan panjangnya 6 mm. glandula uretralis yang akan bermuara ke dalam uretra dibagi dalam
dua bagian, yaitu glandula dan lakuna. Glandula terdapat di bawah tunika mukosa di dalam korpus kavernosus uretra
(glandula pars uretralis). Lakuna bagian dalam epitelium. Lakuna yang lebih besar dipermukaan atas di sebut lakuna
magma orifisium dan lakuna ini menyebar ke depan sehingga dengan mudah menghalangi ujung kateter yang dilalui
sepanjang saluran.
Uretra wanita
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit ke arah atas, panjangnya 3-4 cm.
lapisan uretra wanita terdiri dari tunika muskularis (sebelah luar), lapiosan spongeosa merupakan pleksus dari venavena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara
klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai salura ekskresi. Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm.
uretra ini menembus fasia diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagina, 2,5
cm di belakang glans klitoris. Glandula uretra bermuara ke uretra, yang terbesar diantaranya adalah glandula pars
uretralis (skene) yang bermuara kedalam orifisium uretra yang hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi.
Diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagian dan 2,5 cm di belakang
glans klitoris. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada pria dan terdiri lapisan otot polos yang diperkuat oleh sfingter
otot rangka pada muaranya penonjolan berupa kelenjar dan jaringan ikat fibrosa longggar yang ditandai dengan
banyak sinus venosus merip jaringan kavernosus.

Mikturisi
Mikturisis adalah peristiwa pembentukan urine. Karena dibuat di dalam, urine mengalir melalaui ureter ke kandung
kencing. Keinginan membuang air kecil disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung kencing, dan tekanan ini
di sebabkan isi urone di dalamnya. Hal ini terjadi bila tertimbun 170 sampai 230 ml. mikturisi adalah gerak reflek
yang dapat dikendalikan dan ditahan oleh pusat-pusat persarafan yang lebih tinggi pada manusia. Gerakannya
ditimbulkan kontraksi otot abdominal yang menambah tekanan di dalam rongga abdomen, dan berbagai organ yang
menekan kandung kencing membantu mengkosongkannya. Kandung kencing dikendalikan saraf pelvis dan serabut
saraf simpatis dari pleksus hipogastrik.
Ciri-ciri urine yang normal
Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi beda-beda sesaui jumlah cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah
pula bila terlampau banyak protain dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang diperlukan untuk melarutkan
ureanya.
Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya jenjot lendir tipis tanpak terapung di

dalamnya.

Baunya tajam.

Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.

Berat jenis berkisat dari 1010 sampai 1025.


Komposisi urine normal
Urine terutama terdiri atas air, urea, dan natrium klorida. Pada seseorang yang menggunakan diet yang rata-rata
berisi 80 sampai 100 gram protein dalam 24 jam, jumlah persen air dan benda padat dalam urine adalah seperti
berikut:

Air

Benda padat

96%
4% (terdiri atas urei 2% dan produk metabolik lain 2%)

Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati
dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 30 mg
setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam
pembentukan ureum.
Asam urat. Kadar normal asam urat di dalam darah adalah 2 sampai 3 mg setiap 100 cm, sedangkan 1,5 sampai 2
mg setiap hari diekskresikan ke dalam urine.
Kretin adalah hasil buangan kreatin dalam otot. Produk metabolisme lain mencangkup benda-benda purin, oksalat,
fosfat, sulfat, dan urat.
Elektrolit atau garam, seperti natrium kalsium dan kalium klorida, diekskresikan untuk mengimbangijumlah yang
masuk melalui mulu

SISTEM PERKEMIHAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Transplantasi organ manusia yang pertama kali berhasil di lakukan adalah transplantasi
ginjal pada tahun 1953. Karena donor darah dan penerima darh adalah kembar identik, tidak
terjadi reaksi penolakan. Sejak itu telah ribuan transplantasi ginjal di lakukan, dan perkembangan
pengobatan imunosupresif telah memungkinkan sebagian besar orang dapt hidup normal dengan
ginjal donor. Walaupun biasanya seseorang memiliki dua ginjal, namun telah terbukti satu ginjal
mampu menjalankan kerja yang kompleks, yang di perlukan untuk mempertahankan cairan
tubuh(Valerie c.scanlon, 2007).
System perkemihan terdiri atas dua ginjal, dua ureter, vesika urinaria dan uretra.
Pembentukan urine merupakan fungsi ginja, sedanhakan bagian lain system perkemihan
berfungsi dalam pembuangan urine, sel-sel tubuh memproduksi zat-zat sisa seperti, urea,
kreatinin, dan ammonia, yang harus di buang dari darah sebelum zat-zat tersebut berakumulasi
dan mencapai kadar toksik. Selain membentuk urine untuk mengekskresi produk sisa tersebut,
ginjal juga mempunyai beberapa fungsi (Tarwoto, 2009) :
1. Pengaturan volume darah melalui pembuangan air
2. Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis racun.
3. Mempertahankan susasana keseimbangan cairan.
4. Memepertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
5. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatimin, dan amoniak.
Proses pembentukam urine membantu mempertahankan komposisi, volume, dan ph darah
dan cairan jaringan dengan membuang zat-zat yang dapat mengacaukan kekonstanan normal dan
keseimbangan cairan dan ekstraseluler tersebut.
Sistim perkemihan merupakan organ vital dalam melakukan ekskresi dan melakukan eliminasi
sisa sisa hasil metabolisme tubuh. Aktivitas sistim perkemihan dilakukan secara hati hati untuk
menjaga komposisi darah dalam batas yang bisa diterima. Setiap adanya gangguan pada sistim tersebut
akan memberikan dampak yang merugikan. Beberapa jenis gangguan pada saluran kemih yang saling
mempengaruhi dan sering kali terjadi pada klien dengan lama perawatan baik di pelayanan kesehatan
maupun di rumah adalah inkontinensia urin, retensi urin atau pengosongan kandung kemih yang tidak
sempurna dan infeksi saluran kemih. Kondisi ini banyak ditemukan pada unit perawatan jangka panjang
pada pelayanan kesehatan, dan pada beberapa kasus dapat mengancap jiwa. Perawat mungkin tidak
menyadari penyebab mendasar dari disfungsi kandung kemih dan dalam banyak kasus terutama
dipengaruhi oleh faktor degeneratif. (Kelly, CE, 2004).

Di seluruh dunia, masalah pada sistim perkemihan mencapai 45,15/100.000, dimana insiden
tertinggi pada wanita. Walaupun dapat terjadi pada semua usia, gangguan pada sistim perkemihan
umumnya terjadi pada populasi lanjut usia. Mortalitas sebelum usia 30 tahun relatif rendah, setelah
usia 30 tahun meningkat tajam. Rasio kelamin mortalitas adalah 2,59. (Strayer, Darlene A & Tanja
Schub, 2006).
Di Indonesia, masalah penyakit sistem perkemihan yang terbanyak adalah disfungsi kandung
kemih dengan masalah klinis inkontinensia urin (UI), retensi urin (UR) dan ISK yang masuk dalam posisi
40 peringkat utama penyebab kematian, rawat inap dan rawat jalan pada pusat layanan kesehatan
selama tahun 2004. Jumlah klien yang keluar rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan diagnosis
disfungsi kandung kemih pada tahun 2006 sebanyak 22.165 klien, sedangkan kasus baru pada rawat
jalan sebanyak 14.053 kasus. (Ditjen Bina Yanmedik, 2008).

B. TUJUAN PENULISAN MAKALAH


1. Tujuan Umum
Setelah pertemuan ini mahasiswa mampu memahami tentang sistem perkemihan
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memahami pengertian sistem perkemihan
b. Mahasiswa mampu memahami tentang ginjal dan fungsinya
c. Mahasiswa mampu memahami organ-organ ginjal
d. Mahasiswa mampu memahami pembuluh darah ginjal
e. Mahasiswa mampu memahami karakteristik dan eliminasi urine
f. Mahasiswa mampu proses pembentukan urine
C. MANFAAT PENULISAN MAKALAH

1. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tentang sistem perkemihan.
2. Bagi Institusi pendidikan
Sebagai masukan atau penambahan perpustakaaan yang dapat di jadikan bahan bacaan untuk
semua mahasiswa STIKES HI.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SISTEM PERKEMIHAN
Sistem perkemihan adalah suatu sistem yang didalamnya terjadi penyaringan darah
sehingga darah bebas dari zat yang digunakan oleh tubuh. Zat ini akan larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urine. Zat yang dibutuhkan tubuh akan beredar kembali dalam tubuh melalui
pembuluh darah kapiler ginjal, masuk dalam pembuluh darah dan beredar keseluruh tubuh.
(Syaifuddin, 2011).
Fungsi utama sistem perkemihan adalah untuk keseimbangan cairan dan elektrolit.
Elektrolit terdiri dari ion-ion yang kemudian larut dalam air dan keseimbangan terjadi ketika
elektrolit yang masuk dalam tubuh sama dengan yang dilepaskan. Hidrogen merupakan salah
satu ion yang mempengaruhi konsentrasi larutan dan keseimbangan asam basa atau pH. Fungsi

utama yang lain adalah pengeluaran toksik hasil metabolisme, seperti komponen-komponen
nitrogen khususnya urea dan kreatinin (Tarwoto, 2009). sistem perkemihan merupakan sistem
rangkaian organ yang terdiri atas ginjal, ureter, vesika urinaria dan uretra.
B. GINJAL
Kedua ginjal terletak di antara di kavitalis abdominis bagian atas, di kanan dan kiri
kolumna vertebralis di belakang peritoneum (retroperitoneal). Bagian atas ginjal menempal pada
permukaan bawah diafragma dan di lindungi oleh rangka iga. Ginjal tertanam pada jaringan
lemak yang berfungsi sebagai bantalan dan di selimuti oleh membrane jaringan ikat fibrosa yang
di sebut fascia renalis, yang membantu menahan ginjal pada tempatnya (Valerie c. Scanlon,
2007)
Setiap ginjal memilki lekukan yang di sebut hilus di sisi medialnya. Pada hilus, arteri
renalis memasuki ginjal, sedangkan vena renalis dan ureter keluar. Arteri renalis adalah salah
satu cabang aorta abdominalis , vena renalis mengirim darah ke vena kava inferior. Ureter
membawa urine dari ginjal ke vesika urinaria.
C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

FUNGSI GINJAL
Mempertahankan keseimbangan kadar asam atau basah dari cairan tubuh.
Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis racun.
Mempertahankan susasana keseimbangan cairan.
Memepertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatimin, dan amoniak.
Sekresi rennin: bila tekanan darah turun, sel-sel jukstaglomerulus di dinding atriol efferent
menyekresi enzim
7. Sekresi eritropoietin: hormone ini di sekresi bila kadar oksigen drah rendah.
8. Aktivasi vitamin D: vitamin D terdapat dalam berbagai bentuk yang nantinya akan di ubah
menjadi kaliseferol oleh ginjal.
D. STRUKTUR BAGIAN DALAM GINJAL
Pada korona atau bagian depan ginjal, dapat dibedakan menjadi tiga area daerah terluar di
sebut korteks renalis yang di susun oleh korpuskulum renalis dan tubulus kontortus. Daerah
tengah adalah medulla renalis yang di susun oleh lengkung henle dan tubulus kolektivus (bagian
dari nefron), medulla renalis terdiri atas potongan-potongan berbentuk baji yang di sebut
piramides renalis. Ujung masing-masing pyramid adalah apeks atau papilla. Daerah ketiga
adalah pelvis renalis, daerah ini tidak berbentuk selapis jaringan, tetapi merupakan sebuah
rongga yang di bentuk oleh perluasan ureter dalam ginjal pada hilus. Perluasan pelvis ginjal
berbentuk corong, yang di sebut kaliks, menyelubungi papilla piramides renales. Urine mengalir
dari piramides renales ke dalam kaliks, kemudian ke pelvis renalis dan keluar ke ureter.
E. NEFRON
Nefron adalah unit structural dan fungsional ginjal. Setiap ginjal terdiri atas kira-kira 1
juta nefron. Di dalam nefron, dengan pembuluh darah yang berkaitan denganya, urine terbentuk.
Setiap nefron terdiri atas 2 bagian besar yaitu :
1. Korpulus Renalis

Sebuah korpulus renalis terdiri atas sebuah glomerulus yang di kelilingi oleh kapsul bowman.
Glomerulus adalah suatu jaringan kapiler yang di bentuk dari sebuah arteriol aferen dan sebuah
arteriol eferen. Diameter arteriola eferen lebih kecil daripada arteriola aferen, yang membantu
mempertahankan tekanan darah yang tinggi di dalam glomerulus.
Kapsul bowman (kapsula glomerulus) adalah ujung perluasan tubulus renalis yang menutupi
glomerulus. Lapisan dalam kapsul bowman memiliki pori dan sangat permeable. Celah antara
lapisan dalam dan lapisan luar kapsula bowman berisi filtrasi ginjal, cairan yang berasal dari
darah dalam glomerulus, dan kemudian di ubah menjadi urine.
2. Tubulus Renalis
Tubulus renalis adalah lanjutan kapsula bowman yang terdiri atas bagian-bagian
berikut:tubulus kontortus proksimal(dalam korteks renalis),lengkung Henle (atau lengkung
nefron,dalam medulla renalis),dan tubulus kontortus distal (dalam korteks renalis).Tubulus
kontortus distal dari beberap nefron bergabung menjadi sebuah tubulus kolektifu. Beberapa
tubulus kolektivus kemudian bergabung untuk membentuk sebuah duktus papilaris,yang akan
mengalirkan urine ke dalam kaliks di pelvis renalis.
Seluruh bagian tubulus renalis dikelilingi oleh kapiler peritubular,yang tersusun atas arteriola
effren.Kapiler pertibuler akan menerima zat-zat yang direabsorpsioleh tubulus ginjal;hal ini kan
dijelaskan pada bagian pembentukan urine.
F. PEMBULUH DARAH GINJAL
Aliran darah ke ginjal merupakan bagian yang penting pada proses pembentukan
urine.Darah aorta abdominalis masuk ke arteri renalis,yang kemudian bercabang-cabang menjadi
arteri-arteri yang lebih kecil.Arteri-arteri terkecil akan menjadi arteriol aferen dalam korteks
ginjal.Dari arteriol aferen,darah mengalir masuk ke gromeruli(kapiler-kapilernya),ke arteriola
eferen ke vena-vena dalam ginjal,ke vena renalis,dan akhirna masuk ke vena kava inferior.Dalam
jalur ini terdapat dua susuna kapiler,dan perlu diingat lagi bahwa dalam kapiler-kapilerini
pertukaran antara darah dan jaringan,di sekitarnya terjadi.Oleh karena itu,didalam ginjal terdapat
dua sisi pertukaran.Pertukaran yang terjadi di kapiler ginjal akan membentuk urine dari plasma
darah.
G. PEMBENTUKAN URINE
Pembentukan urine melibatkan tiga proses utama,proses pertama adalah filtrasi glomerulus,yang
berlangsung dikorpuskulum renalis.proses kedua dan ketiga adalah reabsorpsi dan sekresi
tubular,yang berlangsung ditubulus renalis.
1. Filtrasi Glomerulus
Ingat kembali bahwa filtrasi adalah proses tekanan darah mendorong plasmasehingga zatzatterlarut keluar dari kapiler.Dalam filtrasi glomerulus tekanan darah mendorong plasma,zat-zat
terlarut serta protein berukuran kecil keluar dari glomeruli dan masuk kekapsul Bowman.Cairan
ini tidak lagi seperti plasma,dan disebut filtrate ginjal. Tekanan darah didalam glomerulirelatif
lebih tinggi dibandingkan tekanan darah di dalam kapiler lainnya,yaitu sekitar 60mmHg.Tekanan
didalam kapsula Bowman sangat rendah, dan lapisan di dalamnya sangat permeable,sehimgga
kira-kira20% sampai 25% darah yang masuk ke gromeluli menjadi filtrate ginjal di kapsula
Bowman.Sel-sel darah dan protein berukuran besar terlalu besar untuk dikeluarkan dari
glomeruli,sehingga tetap berada didalam darah.Zat-zat sisa larut dalam plasma darah,sehingga

2.

a.
1.

2.
3.
4.
b.
1.
2.
3.
4.

dapat lolos masuk ke filtrat ginjal.Zat-zat yang berguna,seperti nutrien dan mineral,juga larut
dalam plasmadan juga terdapat dalam filtrat ginjal.Oleh karena itu,filtrat ginjal sangat
miripdengan plasma darah,tetapi filtrat ginjal mempunyai protein yang lebih sedikit,dan tidak
ada sel-sel darah didalalamnya.
Laju Filtrasi Ginjal(Glomerular Filtration Rate,GFR)adalah jumlah filtrat ginjal yang
terbentuk oleh ginjal dalam satu menit;rata-rata 100 sampai 125 ml per menit. GFR dapat
berubah jika laju aliran darah melalui ginjal berubah.Jika aliran darah meningkat,GFR akan
meningkat dan akan lebih banyak filtrat dibentuk.Jika aliran darah turun(seperti yang terjadi
setelah perdarahan hebat),GFR akan turun, sehingga filtrat yang dibentuk sedikit haluaran urine
turun.
Reabsorpsi Tubulus
Reabsorpsi tubulus berlangsung dari tubulus renalis ke kapiler pertibuler.Dalam waktu 24
jam,ginjal membentuk 150 sampai 180 liter filtrate,dan haluaran urine normal selama waktu itu
adalah satu sampai dua liter.Karena itu tampak bahwa sebagian besar filtrate ginjal tidak menjadi
urine.Sekitar 99% filtrat direabsorpsi kembali ke dalam darah kapiler pertibuler.Hanya sekitar
1% filtarat akan masuk ke pelvis ginjal sebagai urine. Sebagian besar reabsorpsi dan sekresi
(sekitar 65%) terjadi di tubulus kontortus proksimal,yang sel-selnya mempunyai mikrofil yang
berfungsi memperluas permukaannya. Tubulus kontortus distal dan tubulus kolektivus juga
mempunyai fungsi penting dalam reabsorpsi air.
Mekanisme Reabsorpsi
Transpor Aktif sel-sel tubulus ginjal menggunakan ATP untuk mentranspor sebagian besar zat
yang beramanfaat dari filtrat ke dalam darah.Zat-zat tersebut antara lain,glukosa,asam
amino,vitamin,dan ion-ion positif.Tubulus ginjal memiliki nilai ambang reabsorpsi bagi beberapa
di antara zat tersebut.Hal ini berarti bahwa ada batasan tentang seberapa banyak tubulus ginjal
dapat memindahkannya dari filtrat.Sebagai contoh,jika kadar glukosa dalam filtrat normal
(menggambar kadar glukosa darah normal),tubulus akan mereabsorpsi seleluruh
glukosa,sehingga glukosa tidak akan ditemukan dalam urine.Namun,jika kadar glukosa darah
diatas normal ,jumlah glukosa dalam filtrat juga diatas normal dan akan melewati nilai ambang
reabsorpsi.Oleh karena itu,dalam keadaan ini sejumlah glukosa akan terdapat dalam urine.
Transpor Pasif: sejumlah ion negative di kembalikan ke dalam darah di reabsorpsi, setelah di
reabsorpsi ion-ion positif karena terjadi tarik menarik antara muatan yang berbeda.
Osmosis: reabsorpsi air mengikuti reabsorpsi mineral, terutama ion natrium.
Pinositosis: protein berukuran kecil terlalu besar untuk di reabsorpsi dengan transfor aktif.
Hormon Yang Mempengaruhi Reabsorpsi Air
Hormon antidiuretik (ADH) berfungsi meningkatkan reabsorpsi air dan filtrate ke dalam darah
Hormone paratiroid (PTH) berfungsi meningkatkan reabsorpsi ion ca dari filtrate ke dalam darah
dan ekskresi ion-ion fosfat ke dalam filtrate
Aldosteron berfungsi meningkatkan reabsorpsi air na dan filtrate ke dalam darah dan ekskresi
ion k ke dalam filtrate
Atrial natiuretik hormone (ANH) berfungsi menurunkan reabsorpsi ion na yang masih terdapat
dalam filtrate, sehingga lebih banyak natrium dan air di buang ke dalam urine.

3. Sekresi Tubular

Mekanisme ini juga mengubah komposisi urine. Dalam sekresi tubular, zat-zat secara aktif di
sekresikan dari darah di kapiler peritubuluar ke dalam filtrate di tubulus renalis. Zat-zat sisa,
seperti ammonia dan sejumlah kreatinin, serta produk metabolic obat di sekresikan ke dalam
filtrate untuk di keluarkan ke dalam urin. Ion-ion hydrogen (H) di sekresikan oleh sel-sel tubulus
untuk mempertahankan ph darah agar tetap normal.
H. ELIMINASI URINE
Eliminasi urine terbagi menjadi tiga yaitu ureter, vesika urnaria dan uretra yang tidak
mengubah komposisi maupun jumlah urine, tetapi bertanggung jawab terhadap pembuangan
urine secara periodic.
1. Ureter
Ureter merupakan saluran yang berbentuk tabung dari ginjal ke bladder, pajangnya 25-30 cm
dengan diameter 6 mm. Berjalan mulai dari pelvis renal setinggi lumbal ke-2. Posisi ureter
miring dan menyempit di 3 titik yaitu, di titik asal ureter pada pelpis ginjal, titik saat melewati
pinggiran pelpis dan titik pertemuan dengan kandung kemih. Ada 3 lapisan jaringan pada ureter
yaitu epitelmukosa, bagian tengah lapisan otot polos dan bagian luarnya lapisan fibrosa.
a. Lokasi ureter
1. Pars abdominalis ureter : dalam kavum abdomen ureter terletak dibelakang peritoneum sebelah
media anterior muskulos psoas mayor dan ditutupi oleh fasia subserosa.
2. Pars pelvis ureter : pars pelvis ureter berjalan pada bagian dinding lateral dari kavum pelvis
sepanjang tepi anterior dari insisura iskiadika mayor dan tertutup oleh peritoneum.
3. Ureter pada pria : uretra pada pria terdapat dalam fisura seminalis, bagian atasnya disilang oleh
duktus deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis. selanjutnya ureter berjalan obligue
sepanjang 2 cm didalam dinding kandung kemih pada sudut lateradari trigonum vesika.
4. Ureter pada wanita : uretra pada wanita terdapat dibelkang fosa ovarika berjalan ke bagian
medial dan kedepan bagian lateralis serviks uterus, bagian atas vagina untukmencapai fundus
vesika urinaria.
5. Pembuluh darah ureter
1. Arteri renalis
2. Arteri spermatika interna
3. Arteri hipogastrika
4. Arteri vesikalis inferior
6. Persarafan ureter : merupakan cabang dari pleksus menstrikus inferior, pleksus pelvis. Sepertiga
bawah dari ureter terisi oleh sel-sel saraf yang bersatu dengan rantai eferens dan nervous fagus.
Rantai eferens dan nervous torakalis XI dan XII, nervous lumbalis I dan nervous fagus
mempunyai trantai eferens untuk uretra.
2. Vesika Urinaria (kandung kemih)
Kandung kemih merupakan organ berongga dan berotot yang berfungsi menampung. Urin
sebelum dikeluarkan melalui uretra. Terletak pada rongga pelvis, pada laki-laki kandung kemih
berada dibelakang simfisis pubis dan didepan rektum. Pada wanita kandung kemih berada
dibawah uterus dan didepan vagina. Dinding kandung kemih memiliki 4 lapisan jaringan yaitu :
lapisan paling dalam disebut mukosa yang menhasilkan mucus, lapisan submukosa, lapisan otot
polos yang satu sama lain membentuk sudut atau disebut otot detrusor dan lapisan paling luar
disebut serosa (Tarwoto, 2009).

3. Uretra
Uretra merupakan alur sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi
menyalurkan urine ke luar. Adanya spinter uretra interna yang dikontrol secara
involunter memungkinkan urine dapat keluar serta spinter uretra eksterna memungkinkan
pengeluaran urine dapat dikontrol ( Syaifuddin, 2011).
a. Uretra pria
Pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah-tengah prostat kemudian
menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagian penis panjangnya kurang lebih
20cm. Uretra laki-laki terdiri dari:
1. Uretra prostatia
2. Uretra nembranosa
3. Uretra kevernosa
Lapisan uretra laki-laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam) dan lapisan
submukosa. Uretra pria mulai dari orifisium uretra interna didalam vesika urinaria sampai
orifisium uretra eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20cm.
b. Uretra wanita
Pada wanita, terletak dibelakang simfisis pubis bejalan miring sedikit kearah atas,
panjangnya kurang lebih 3-4 cm. Mulai dari orifisium uretra internal sampai orifisium uretra
eksterna. Pada dinding anterior vagina menjurus obligue kebawah dan menghadap kedepan.
Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm. Uretra ini menembus vasia diafragma urogenitalis
dan orifisium eksternal langsung didepan permukasan vagina. Jaraknya kurang lebih 2,5 cm
dibelakang gland klitoris, glandula uretra bermuara ke uretra yang terbesar diantaranya adalah
glandula parauretralis (skene) yang bermuara kedalam orifisium uretra yang hanya berfungsi
sebagai saluran ekskresi.
Diafragma urogenetalis dan orifisium eksternal berada di permukaan vagina dan 2,5 cm
dibelakang gland klitoris. Uretra wanita jauh lebih pendek pada uretra pria dan terdiri atas
lapisan otot polos yang diperkuat oleh sfingter otot rangka. Pada muaranya ditandai dengan
banyak sinus venosus mirip jaringan kavernosa. Lapisan uretra wanita terdiri atas:
1.
Tunika muskularis
2.
Lapisan spongeosa berjalan pleksus dari vena-vena
3.
Lapisan mukosa sebelah dalam.
I.

KARAKTERISTIK URINE
Karakteristik urine baik fisik maupun kimia sering di evaluasi sebagai bahan urinalisis.
Beberapa di antaranya di jelaskan sbb:
a. Jumlah urine
Urine yang keluar secara normal selama 24 jam sekitar 1-2 liter. Ada banyak faktor yang
dapat merubah jumlah haluaran urine secara signifikan, keringat berlebihan atau kehilangan
cairan secara berlebihan saat diare dapat menurunkan haluaran urine guna menghemat cairan
tubuh.
b. Warna
Warna kuning khas urine sering di samakan dengan warna jerami atau gading. Urine yang
pekat berwarna lebih kuning tua di banding urine yang encer.

c.

d.

e.

f.

A.
1.

2.

3.

4.
5.
6.

Berat jenis
Berat jenis urine sekitar 1,010-1,025, berat jenis di jadikan ukuran sebagai jumlah zat yang
terlarut dalam urine.
Ph
Ph urine berkisar antara 4,6-8,0 dengan nilai rata-rata 6,0. Diet mempunyai pengaruh terbesar
terhadap urine, karena diet dapat menyebabkan urine basa.
Unsure
Urine terdiri 95% air, yang melarutkan zat-zat sisa garam. Garam tidak termasuk sebagai zat sisa
sebenarnya, sebab garam masih bisa di gunakan saat di butuhkan tetapi bila berlebuhan garam
akan di sekresikan ke dalam urine.
Limbah nitrogen (urea, kreatinin dan asam urat).
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sistem perkemihan adalah suatu sistem yang didalamnya terjadi penyaringan darah sehingga
darah bebas dari zat yang digunakan oleh tubuh. Fungsi utama sistem perkemihan adalah untuk
keseimbangan cairan dan elektrolit. Elektrolit terdiri dari ion-ion yang kemudian larut dalam air
dan keseimbangan terjadi ketika elektrolit yang masuk dalam tubuh sama dengan yang
dilepaskan. Fungsi utama yang lain adalah pengeluaran toksik hasil metabolisme, seperti
komponen-komponen nitrogen khususnya urea dan kreatinin.
Kedua ginjal terletak di antara di kavitalis abdominis bagian atas, di kanan dan kiri kolumna
vertebralis di belakang peritoneum (retroperitoneal). Bagian atas ginjal menempal pada
permukaan bawah diafragma dan di lindungi oleh rangka iga.
Fungsi ginjal Mempertahankan keseimbangan kadar asam atau basah dari cairan
tubuh,Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis racun, Mempertahankan
susasana keseimbangan cairan,Memepertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain
dalam tubuh dan Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum, kreatimin,
dan amoniak.
Pembentukan urine melalui proses filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus dan sekresi tubular
Eliminasi urine meliputi ureter, vesika urinaria dan uretra
Karakteristik urine terdiri dari : jumlah, ph, warna, berat jenis unsure dan limbah nitrogen.

B. SARAN
1. Bagi Mahasiswa
Setelah mempelajari secara lebih dalam tentang sistem perkemihan diharapkan mahasiswa
mampu memahami dan mengetahui apa yang telah dipelajari dan diperoleh nya, serta
memberikan manfaat bagi siapa saja yang membutuhkannya.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Semoga dapat menambah bahan bacaan perpustakaan dan dapat memberikan masukan bagi
mahasiswa tentang sistem perkemihan.
DAFTAR PUSTAKA
Pearce, C. Evelyn (2010). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Syaifuddin (2011). Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Syaifuddin (2006). Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : EGC


Tarwoto, dkk (2009) Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media
Scanlon c. Valerie (2007). Anatomi Dan Fisiologi. Jakarta: EGC