Anda di halaman 1dari 42

BAB I

DASAR TEORI

1.1

Definisi Gagging Refleks

Dari semua permasalahan yang mungkin terjadi di bagian intraoral


radiography, gagging merupakan salah satu masalah terbanyak. Gagging yang
juga sering disebut gag reflex adalah suatu mekanisme pertahanan diri.
Gagging merupakan suatu kontraksi dari otot konstriktor di faring karena
adanya stimulasi dari reseptor sensori di soft palate oleh rasangan fisik atau
obat sistemik. Gag Reflex atau sering juga disebut pharyngeal reflex merupakan
suatu peristiwa kontak antara benda asing dengan membrane mukus fauces yang
menyebabkan terjadinya gagging. Gag Reflex mencegah benda asing melintasi
tenggorokan

diluar

cara

menelan

normal

dan

membantu

mencegah

tersangkutnya
benda asing tersebut di tenggorokan.
Gag Reflex merupakan sensasi subjektif yang berawal dari tingkat cortical.
Lebih tepatnya, gag reflex merupakan suatu reflex bawaan yang bertujuan untuk
melindungi sistem pernafasan dan sistem pencernaan dari benda asing yang dapat
merusaknya. Walaupun bisa juga reflex yang didapat yang dikondisikan oleh
berbagai rangsangan seperti: visual, olfaktori, akustik, fisik, kimia atau racun
yang disebarkan lewat aliran darah atau cairan serebrospinal.
Menurut Bradley (1981) Gagging adalah suatu refleks yang diawali oleh
rangsangan mekanis dari facial pillars, dasar lidah, palatum dan dinding faring
bagian posterior. Refleks yang terjadi merupakan mekanisme pertahanan alami
dan dapat terjadi melalui beberapa jalur afferen.
Gagging refleks normal dapat berubah menurut keadaan, mekanisme vital
bagi pertahanan kontrol primer oleh persarafan parasimpatetik dari sistem saraf

otonom.
1.2 Reseptor-reseptor Gag Reflex
Film intra oral yang diletakkan di dalam mulut berhubungan erat dengan
awal terjadinya refleks ini. Bagian posterior merupakan daerah tersulit bagi
pasien dengan gagging untuk menolerir di foto rontgen intra oral.

Gambar 1. Bagian-bagian lidah

Reseptor yang berperan pada gag reflex yang terjadi pada foto rontgen intra
oral adalah orofacial receptor. Di dalam mulut, area penutup palatine dari faring
posterior dan batang tonsil kaya dengan reseptor nosiseptif. Reseptor ini,
ditemukan di papila lidah yang membawa taste buds (gambar 1), dapat memicu
terjadinya gag reflex. Mereka menciptakan suatu bidang refleks yang dapat
tersebar luas atau sempit, tergantung pada setiap individu. Reseptor ini berasosiasi
dengan reseptor labirin yang memicu gagging tergantung pada pergantian posisi.
Pada saat yang bersamaa, gag reflex juga dapat dipicu oleh rangsangan visual,
olfaktori atau reseptor sensori suara.
Muntah biasanya terjadi pada proyeksi molar maksila maupun
mandibula. Reseptor-reseptor gag reflek berada pada palatum lunak, bagian 1/3
lateral posterior lidah dan pada bagian retromolar mylohyoid.

Gambar 2. Bagian-bagian pemicu muntah di dalam rongga mulut


Area yang sangat sensitif untuk merasakan stimulus yang menghasilkan
refleks muntah adalah palatum, dasar lidah,uvula, palatum lunak, palatum keras,
dinding belakang dari faring, dan daerah palatofaringeal mulut seperti yang
terlihat pada gambar 2. Sensor rangsang yang mampu memulai gag reflex,
ditemukan pada tiga tipe reseptor yang terletak di orofacial, pencernaan dan aliran

darah.

1.2.1 Reseptor orofacial


Somesthetic affrence yang berasal dari labirin (cabang cohlear dari
vestibulocochlear nerve- VIII), daerah Ramsay Hunt (cabang auricular dari
vagus nerve- X), rongga mulut (cabang trigeminal V2, V3. Wrisberg.s VII bis
intermediate nerve), lidah (glossopharyngeal nerve- IX), sistem pencernaan
(vagus nerve-X), sistem okular (optic nerve II), semua bertemu, baik secara
langsung atau tidak langsung, melalui pusat tinggi bertanggung jawab terhadap
terjadinya gag reflex.
1.2.2 Reseptor Pencernaan
Reseptor-reseptor ini, bersama dengan reseptor olfaktori termasuk dalam
kelompok kemoreseptor. Afferen berasal dari saluran pencernaan, melalui nervus
vagus, mencapai solitary nucleus, menuju ke afferen dari nervus Wrisberg.s
intermediate (VII bis) dan juga bertemu dari nervus glosofaringea.
1.2.3 Reseptor Aliran Darah
Dalam memicu gag reflex, aliran darah dan limfa membawa mediator
kimia yang bertanggung jawab terhadap perubahan humoral di area kemoreseptor
dalam area postrema, dinding ventrikel keempat, kaya dengan reseptor
dopaminergik. Perubahan cairan patologis, seperti uremia atau keracunan obat
dapat bereaksi terhadap pusat muntah.

1.3 Nervus yang Berperan dalam Mengontrol Terjadinya Gag Reflex


Nervus Kranial yang terlibat dalam refleks ini adalah Nervus IX dan
Nervus X. Nervus Glosofaringeal dan Nervus Vagus secara berturut-turut.
Serabut saraf muncul dari medulla dan meninggalkan tengkorak melalui foramen
jugular ke tenggorokan. Nervus IX atau nervus glosofaringeal bertugas
menentukan tingkat sensitifitas dari reseptor-reseptor gag refleks diatas dan juga
mengontrol pergerakan reflek pada saat mengunyah, batuk dan muntah.
Lokasi nervus tersebut dapat dilihat pada gambar 3
.

Gambar 3. Lokasi dari Nervus Glosofaringeal (IX) dan Nervus Vagus (X)

1.4 Mekanisme Terjadinya Gag Reflex


Menurut Langland, Langlais R.P & Preece, Gag reflex dikontrol secara
menyeluruh dari batang otak. Mekanisme terjadinya gag reflek dimulai pada saat
timbulnya iritasi atau sentuhan pada palatum lunak atau bagain 1/3 posterior
belakang lidah dan kemudian diteruskan oleh serabut-serabut saraf afferent ke
pusat pengaturan muntah di medulla oblongata (porsi bagian bawah otak).
Dari medula oblongata, stimulus dilanjutkan keluar oleh serabut saraf efferent
keluar dari serabut-serabut saraf otak ke otot-otot yang berperan dalam terjadinya
muntah. ambigus. Kontraksi otot faringeal ipsilateral terhadap rangsang diseput
Respon Langsung (Direct Response), sedangkan kontraksi otot-otot kontralateral
terhadap rangsang

disebut

Respon

Konsensual

(Consensual

Respons).

Stimulasi sensori dari palatum lunak dan faring dapat mencapai nukleus spinal V
(melalui SSP IX dan X; ganglia superior) dan TTT (Trigeminothalamic Tract),
keduanya nukleus ambigus.
Sentuhan pada bagian dinding faringeal bagian posteriol, daerah tonsil
atau dasar lidah dapat menyebabkan respon palatal (palatal reflex), terdiri dari
pergerakan keatas palatum lunak dengan penyimpangan ipsilateral dari uvula, dan
gag reflex yang terdiri dari kontraksi visibel dari dinding faringeal. Respon yang
terjadi termasuk perpindahan medial, peregangan, gerakan dinding faringeal, mata
berair, batuk dan muntah. Terdapat variabilitas respon refleks pada setiap
individu.

1.5 Reaksi-reaksi Tubuh yang Timbul Akibat Gag Reflex


Peristiwa gag reflek berlangsung dalam suatu rangkaain reaksi. Reaksi
7

pertama kali adalah terhalangnya repirasi (jalan nafas) yang lalu diikuti oleh
kontraksi otot-otot orofaringeal dan thoracicoabdominal. Terkadang peristiwa
tersebut dapat menyebabkan keluarnya makanan menuju laring, orofaring dan
mulut. Batuk dan muntah yang dihasilkan gag reflex bertujuan untuk
mengeluarkan semua benda asing dari tenggorokan dan menghindari obstruksi
saluran nafas. Pada sebagian orang, terjadi peningkatan produksi keringat dan
saliva serta sekresi air mata ketika gag refleks terjadi. Sebagai tambahan
gejala ini, sebagian orang dalam persentase kecil juga mengalami nausea,
muntah, pingsan dan serangan panik setelah terjadi rangsangan gag refleks.
1.6

Komponen dalam Proses Makan

Terdapat beberapa fungsi penting tubuh yang terlibat dalam proses makan
antara lain pengunyahan, gerakan lidah, perasa, penelanan, dan salvias. Selain
bagian tubuh yang berperan langsung pada proses makan, secara fisiologis
beberapa organ juga ikut berperan dalam menimbulkan keinginan dan selera
makan yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, dan keterlibatan susunan
saraf pusat.
Fungsi-fungsi dalam proses makan diatur oleh Nervus kranialis :
a Saraf Kranial VII (Nervus Facialis)
Merupakan saraf sensoris dan motoris. Berasal dari Pons (sudut
serebelopontin) di atas olive. Inti di nukleus facialis , nukleus solitarius, nukleus
salivarius superior. Nervus facialis mempersarafi otot-otot ekspresi wajah, belly
posterior otot-otot digastrik, dan otot stapedius. Saraf sensoris menerima rangsang
rasa dari 2/3 anterior lidah, dan mempersarafi kelenjar liur (kecuali kelenjar
parotis) dan kelenjar lakrimalis; terletak di kanalis akustikus internal, memanjang
ke kanalis facialis dan keluar di foramen stilomastoideus.
b Saraf Kranial IX (Nervus Glossofaringeus)
Merupakan saraf motorik dan sensoris. Berasal dari medulla. Inti ambiguus,
inti salivarius inferior, inti solitarius. Nervus glossofaringeus menerima rangsang
rasa dari 1/3 belakang lidah, mempersarafi kelenjar parotis, dan mempersarafi
gerakan stilofaringeus. Beberapa sensasi juga di relay ke otak dari tonsila palatina.

Sensasi di relay ke talamus sisi yang berlawanan dan beberapa inti hipotalamik.
terletak di foramen jugularis.
c Saraf Kranial X (Nervus Vagus)
Merupakan saraf sensoris dan motoris. Keluar dari sulkus posterolateral
medulla. Inti ambiguus, inti vagal motor dorsal, inti solitarius. Nervus vagus
mempersarafi gerakan brakhiomotorik untuk hampir semua otot-otot faringeal dan
laringeral

(kecuali

otot

stafilofaringeus,

yang

dipersarafi

oleh

nervus

glossofaringeus); nervus vagus juga sebagai serat parasimpatik untuk hampir


semua organ-organ viscera dada dan perut turun ke fleksura splenikus; dan nervus
vagus juga menerima sensasi rasa khusus dari epiglotis. Fungsi utama :
mengontrol otot-otot suara dan resonansi. Gejala kerusakan : disfagia (masalah
menelan), insufisiensi velofaringeal. Terletak di foramen jugularis.
d Saraf Kranial XII (Nervus Hipoglosus)

Merupakan saraf motorik. Berasal dari medulla. inti hipoglosal.


mempersarafi otot-otot pergerakan lidah (kecuali otot palatoglossus yang
dipersarafi nervus vagus) dan otot-otot glossal lainnya. Penting untuk menelan
(formasi bolus) dan artikulasi bahasa. terletak di kanal hipoglosal.

1.7 Mekanisme Mastikasi


Pergerakan yg terkontrol dari mandibula dipergunakan dalam mengigit,
mengunyah, dan menelan makanan dan cairan, serta dalam berbicara. Aktivitas
yang terintegrasi dari otot rahang dalam merespon aktivitas dari neuron eferen
pada saraf motorik di pergerakan mandibular yang mengontrol hubungan antara
gigi rahang atas dan bawah. Pergerakan rahang adalah suatu pergerakan yang
terintegrasi dari lidah dan otot lain yang mengontrol area perioral, faring, dan
laring
9

Pergerakan otot rahang, terhubung pada midline. Pengontrolan otot rahang


bukan secara resiprokal seperti pergerakan limb, tapi terorganisir secara bilateral.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembukaan dan penutupan rahang selama
penguyahan yang secara relatif merupakan pergerakan sederhana dengan
pengaturan pada limb sebagai penggerak. Bagaimanapun, pergerakan dalam
mastikasi adalah suatu yang kompleks dan tidak hanya berupa mekanisme
pergerakan menggerinda simple yang mana merupakan pengurangan ukuran
makanan. Selama mastikasi, makanan dikurangi ukurannya dan dicampur dengan
saliva sebagai tahap awal dari proses digesti.
1.7.1

Pergerakan Pengunyahan

Pemahaman mengenai pola pergerakan rahang telah menjadi topic yang


menarik dalam hal klinis di kedokteran gigi, terutama dalam bidang orthodonti
dan prostodonti. Salah satu tujuan memugar bentuk oklusal adalah untuk
memastikan kontak gigi terintegrasi dengan pola pergerakan rahang. Oleh karena
itu, beberapa penelitian dimaksudkan untuk menjelaskan bagian mandibula
selama pengunyahan dan untuk mengidentifikasikan posisi mandibula setelahnya.
Dokter gigi mencari posisi stabil mandibula untuk menfasilitasi penelitian tentang
rahang pada alat yang bernama simulator atau artikulator.
Seluruh otot rahang bekerja bersamaan menutup mulut dengan kekuatan di
gigi incidor sebesar 55 pounds dan gigi molar sebesar 200 pounds. Gigi dirancang
untuk mengunyah, gigi anterior (incisors) berperan untuk memotong dan gigi
posterior ( molar) berperan untuk menggiling makanan.
Sebagian besar otot mastikasi diinervasi oleh cabang nerevus cranial ke lima
dan proses pengunyahan dikontrol saraf di batang otak. Stimulasi dari area
spesifik retikular di batang otak pusat rasa akan menyebabkan pergerakan
pengunyahan secara ritmik, juga stimulasi area di hipotalamus, amyglada dan di
korteks cerebral dekat dengan area dengan area sensori untuk pengecapan dan
penciuman dapat menyebabkan pengunyahan.

10

Kebanyakan proses mengunyah dikarenakan oleh refleks mengunyah, yang


dapat dijelaskan sebagai berikut :
1 kehadiran bolus dari makanan di mulut pertama kali menginsiasi refleks
penghambat dari otot mastikasi yang membuat rahang bawah turun.
2 penurunan rahang ini selanjutnya menginisiasi reflaks melonggarkan otot
rahang memimpin untuk mengembalikan kontraksi.
3 secara otomatis mengangkat rahang untuk menutup gigi, tetapi juga
menekan bolus lagi, melawan lining mulut, yang menghambat otot rahang sekali
lagi, membuat rahang turun dan mengganjal (rebound) di lain waktu. Hal ini
berulang terus menerus.
4 pengunyahan merupakan hal yang penting untuk mencerna semua
makanan, khususnya untuk kebanyakan buah dan sayuran berserat karena mereka
memiliki membrane selulosa yang tidak tercerna di sekeliling porsi nutrisi mereka
yang harus dihancurkan sebelum makanan dapat dicerna.
Pengunyahan juga membantu proses pencernaan makanan dengan alasan
sebagai berikut:
-

enzim pencernaan bekerja hanya di permukaan partikel makanan,

sehingga tingkat pencernaan bergantung pada area permukaan keseluruhan yang


dibongkar oleh sekresi pencernaan.
-

Penghalusan makanan dalam konsistensi yang baik mencegah penolakan

dari gastrointestinal tract dan meningkatkan kemudahan untuk mengosongkan


makanan dari lambung ke usus kecil, kemudian berturut-turut ke dalam semua
segmen usus.
A

Pergerakan

Selama pengunyahan rahang akan bergerak berirama, membuka dan


menutup. Tingkat dan pola pergerakan rahang dan aktivitas otot rahang telah
diteliti pada hewan dan juga manusia. Pola pergerakan rahang pada beberapa
hewan berbeda tergantung jenisnya. Pengulangan pergerakan pengunyahan
berisikan jumlah kunyahan dan penelanan. Selama mastikasi karakteristik
pengunyahan seseorang sangat bergantung pada tingkatan penghancuran

11

makanan. Urutan kunyah dapat dibagi menjadi tiga periode. Pada tahap awal,
makanan ditransportasikan ke bagian posterior gigi dimana ini merupakan
penghancuran dalam periode reduksi. Selanjutnya bolus akan dibentuk selama
final periode yaitu sebelum penelanan. Pergerakan rahang pada ketiga periode ini
dapat berbeda tergantung pada bentuk makanan dan spesiesnya. Selama periode
reduksi terdapat fase opening, fast-opening dan slow-opening. Pada periode
sebelum penelanan terdapat tiga fase selama rahang membuka dan dua fase
selama rahang menutup.
Selama penelanan lidah memainkan peran yang penting di dalam
mengontrol pergerakan makanan dan pembentukan menjadi bolus. Untuk
makanan yang dihancurkan, diposisikan oleh lidah pada konjugasi dengan otot
buccinators pada pipi diantara oklusal permukaan gigi. Makanan yang padat dan
cair ditransportasikan di dalam rongga mulut oleh lidah. Selama fase slowopening pada pengunyahan, lidah bergerak ke depan dan memperluas permukaan
makanan. Tulang hyoid dan badan lidah kembali tertarik selama fase fast-opening
dan fase-closing, membuat gelombang yang dapat memindahkan makanan ke
bagian posterior pada rongga mulut. Ketika makanan sudah mencapai bagian
posterior rongga mulut, akan berpindah ke belakang di bawah soft palate oleh aksi
menekan dari lidah. Lidah amat penting dalam pengumpulan dan penyortiran
makanan yang bias ditelan, sementara mengembalikan lagi makanan yang masih
dalam potongan besar ke bagian oklusal untuk pereduksian lebih lanjut. Sedikit
yang mengetahui mengenai mekanisme mendasar mengenai pengontrolan lidah
selama terjadinya aktivitas ini.
B

Aktivitas Otot

Kontraksi otot yang mengontrol rahang selama proses mastikasi terdiri


dari aktivitas pola asynchronous dengan variabilitas yang luas pada waktu
permulaan, waktu puncak, tingkat dimana mencapai puncak, dan tingkat
penurunan aktivitas. Pola aktivitas ditentukan oleh factor-faktor seperti spesies,
tipe makanan, tingkat penghancuran makanan, dan faktor individu. Otot
penutupan biasanya tidak aktif selama rahang terbuka, ketika otot pembuka

12

rahang sangat aktif. Aktivitas pada penutupan rahang dimulai pada awal rahang
menutup. Aktivitas dari otot penutup rahang meningkat secara lambat seiring
dengan bertemunya makanan di antara gigi. Otot penutupan pada sebelah sisi
dimana makanan akan dihancurkan, lebih aktif daripada otot penutupan rahang
kontralateral.
1.8

Struktur batang otak dalam control mastikasi

Pergerakan-pergerakan yang terlibat dalam mastikasi membutuhkan


gabungan aktivitas beberapa otot, yaitu trigeminal, hypoglossal, fasial, dan nuclei
motorik lain yang memungkinkan dari batang otak. Struktur batang otak lain
seperti formasi reticular juga terlibat.
1.8.1 Nukleus Trigeminal Sensorik
Nukleus trigeminal sensorik merupakan kolom neuron yang berada di
sepanjang batas lateral batang otak, dari pons sampai spinal cord. Porsi rostral
paling banyak dari nucleus ini disebut nucleus sensorik principal (kadang lebih
sering sering disebut nucleus sensorik utama) dan sisanya adalah nucleus spinal
trigeminal. Nukleus spinal dibagi lagi dari rostral ke kaudal menjadi subnukleus
oralis, interpolaris, dan kaudalis.
Inervasi perifer dari kolom sel ini muncul dari nervus trigeminus. Cabang
utama akan bercabang menjadi limb ascending dan descending, atau secara
sederhana turun memasuki batang otak untuk membentuk traktus trigeminal
menutupi sekeliling aspek lateral dari nucleus sensori utama, sementara secara
kaudal limb descending membentuk traktus spinal trigeminal di sepanjang aspek
lateral nucleus spinal. Cabang akson kolateral meninggalkan traktus trigeminal
dan memasuki nucleus sensori untuk membentuk sumbu terminal pada beberapa
nucleus dengan tingkat yang berbeda. Akson yang menginervasi rostral mulut dan
wajah berakhir di medial dan akson yang menyuplai wajah kaudal berakhir lebih
lateral.

13

Nukleus terdiri dari kelas-kelas neuron yang berbeda. Sirkuit neuron local
mempunyai akson yang dibatasi area batang otak; proyeksi neuron akan
mengirimkan akson ke rostral nuclei batang otak yang lain; dan interneuron
termasuk ke interkoneksi dalam nucleus sensorik. Berdasarkan pada perbedaan
morfologi neuron dan pola proyeksi, subnukleus oralis terdiri dari 3 subdivisi
utama: ventrolateral, dorsomedial, dan garis batas. Divisi ventrolateral terdiri dari
interneuron dan 2 populasi neuron proyeksi (satu yang memproyeksi spinal cord,
dan satu lagi yang mengirimkan akson ke tanduk dorsal medular). Di dalam
subdivisi dorsomedial, terdapat seri neuron proyeksi korteks cerebral. Sedangkan
grup neuron pada garis batas memproyeksi cerebellum dan tanduk dorsal
medullar.
Nukleus sensori utama berada pada tingkat nucleus trigeminal motorik, dan
dikelilingi oleh akar trigeminal motorik di medial, serta oleh akar trigeminal
sensorik di lateral. Nukleus sensori utama dapat dibedakan dengan nukleus spinal
dari kepadatan neuronnya yang lebih rendah, dan rendahnya populasi neuron
besar dengan dendrit primer yang tebal, panjang, dan lurus. Perbedaan lain antara
nucleus spinal dan nucleus utama adalah adanya sejumlah gelondong akson
bermyelin pada nucleus spinal. Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya dan
electron menunjukkan adanya neuron berbentuk fusiform, triangular, dan
multipolar pada nucleus sensori utama. Pada cabang dendritnya pun relative
sederhana. Dendrit primer berasal dari sedikit perpanjangan badan sel atau secara
langsung dari badan sel. Dendrit sekunder lebih panjang, tapi terlihat tidak
melebihi batas nucleus.
1.8.2 Nukleus Trigeminal Mesencefalic
Badan sel dari serabut aferen yang menginervasi gelondong otot penutup
rahang dan badan sel dari ligament periodontal, gingival, dan mekanoreseptor
palatal berlokasi di dalam nucleus mesencefalic. Penyusunannya unik di dalam
sistem saraf pusat. Nukleus neuron mesencefalic berupa unipolar; akson tunggal
yang bercabang 2 menjadi cabang perifer dan sentral. Cabang sentral

14

mengeluarkan sejumlah cabang kolateral yang berakhir di nucleus motorik, spinal


cord, dan area lain dari batang otak. Badan sel neuron yang menginervasi
gelondong otot, ditemukan di sepanjang nucleus, dan badan sel yang berasal dari
reseptor ligament periodontal dibatasi setengah kaudalnya.
1.8.3 Nukleus Tigeminal Motorik
Motoneuron yang mengatur otot-otot mastikasi terdapat pada nucleus
trigeminal motorik. Analisis distribusi ukuran soma motoneuron menandakan
bahwa nucleus trigeminal motorik terdiri dari motoneuron gamma dan alfa.
Sejumlah studi pembuktian neural mendemostrasikan bahwa motoneuron gamma
yang menginervasi otot-otot mastikasi dipisahkan secara anatomi di dalam
nucleus; Motoneuron penutup rahang berlokasi di dorsolateral, sedangkan
motoneuron pembuka rahang berlokasi di divisi ventromedial nucleus.
Pengamatan intraselular dan ekstraselular terhadap motoneuron mastikasi
menunjukkan bahwa input sinaps untuk motoneuron pembuka dan penutup rahang
berbeda. Contohnya adalah aktivitas yang memulai gelondong otot untuk menutup
rahang tidak mempengaruhi motoneuron pembuka rahang, tapi aktivitas neural
yang memulai mekanoreseptor pada regio oral dan fasial akan menghambat otot
penutup rahang dan meningkatkan aktivitas otot pembuka rahang.
Dendrit dari motoneuron trigeminal ekstensif dan kompleks. Dendrit dari
semua grup motoneuron yang berbeda, memperpanjang di luar batas nucleus
motorik, tapi di sini terdapat sedikit tumpang tindih antara dendrite motoneuron di
region dorsolateral dan ventromedial nucleus motorik. Teknik ini menghasilkan
gambaran yang lebih rinci dari struktur mikro nucleus trigeminal motorik, dan
penting untuk memahami mekanisme reflek mastikasi.
1.8.4 Nukleus Hipoglosal Motorik
Nukleus hipoglosal motorik yang mengatur otot lidah lebih homogen
daripada nucleus trigeminal motorik. Ia terbentuk dari motoneuron yang besar dan
multipolar dan sebuah populasi dari interneuron-interneuron kecil. Dendrit-dendrit

15

motoneuron besar melintasi garis tengah ke nucleus hipoglosal kontralateral atau


berseberangan dalam formasi reticular. Interneuron-interneuron kecil memiliki
hanya satu atau dua dendrite yang terdiri oleh nucleus secara total.
1.8.5 Nukleus Fasial Motorik
Nukleus fasial motorik terdiri atas tiga kolom longitudinal motoneuron.
Kolom-kolom medial dan lateral yang lebih besar terpisah oleh kolom intermediet
yang lebih kecil. Studi pembuktan neural menunjukkan bahwa otot fasial
direpresentasikan secara topografi di dalam nucleus. Otot yang mengontrol bibir
atas dan nares mempunyai motoneuron sendiri pada bagian ventral dan dorsal
kolom sel lateral. Otot bibir bawah disuplai oleh motoneuron pada kolom sel
intermediet. Otot-otot yang berhubungan dengan telinga dikontrol oleh
motoneuron pada kolom sel medial. Terdapat perbedaan utama pada pola dendrit
antara motoneuron di 3 kolom sel. Dendrit pada motoneuron fasial secara luas
berada di subdivisi yang sama yang mengandung soma, tapi terkadang meluas di
luar batas nucleus fasial motorik.
1.8.6 Kontrol Mastikasi
Nuclei sensori dan motorik yang terdapat pada brain stem memiliki peranan
yang yang sangat penting dalam proses pengontrolan mastikasi.

Pola dasar

oscillatory pergerakan mastikasi berawal dari generator neural yang terdapat di


brain stem. Input sensori afferent yang terjadi pada nuclei ini juga merupakan
faktor yang tak kalah pentingnya dalam pembentukan proses mastikasi. Dan
faktor yang berpengaruh besar lagi adalah pusat otak akan mempengaruhi system
koordinasi brain stem mastikatori. Setelah sekian banyak penelitian dilakukan,
tiga hal inilah yang merupakan faktor utama yang berpengaruh besar terhadap
pengontrolan proses mastikasi.
1.9 Aktivitas brain stem selama mastikasi
Gerakan dasar mastikasi dapat terjadi tanpa adanya input sensori dalam
kavitas oral, fakta menunjukkan bahwa gerakan mandibula ke atas dan bawah

16

berasal dari dalam brain stem. Hasil percobaan juga membuktikan bahwa faktorfaktor pemicu gerakan mastikasi adalah adanya hubungan dari sirkuit neural yang
membentuk jaringan neural oscillatory yang mampu merangsang terjadinya pola
gerakan mastikasi. Neural oscillator ini disebut sebagai generator pola mastikasi
atau pusat mastikasi. Selain mastikasi, brain stem juga bertanggung jawab dalam
proses respiratori dan proses penelanan. Selain adanya neural generator, mastikasi
juga terjadi karena aktivitas gerak reflex otot yang diinisiasi oleh stimulasi dari
strukur orofacial.
Gerak refleks yang timbul dari area orofacial bermacam-macam, termasuk
juga gerak lidah, facial, dan berbagai gerak rahang. Dalam gerak refleks orofacial
ini terdapat sekurang-kurangnya satu motor nucleus dan beberapa sinaps, dan
prosesnya termasuk sederhana bila dibandingkan dengan refleks-refleks lain yang
lebih kompleks (sebagai contohnya proses penelanan).
Gerak refleks orofacial yang paling sering diteliti adalah gerak refleks pada
jaw-closing dan refleks jaw-jerk, yang dapat terjadi dengan mengetuk ujung dagu.
Saat mengetuk ujung dagu ini, muscle spindle pada otot-otot jaw-closing tertarik
dan menhasilkan input sensori yang akan menginisiasi gerak refleks. Setelah
waktu yang singkat (sekitar 6 detik) electromyography (EMG) menunjukkan
adanya aktivitas yang terjadi pada otot masseter dan temporalis. EMG juga
menunjukkan output berupa gerak motorik pada otot yang akan menutup rahang.
Karena waktu terjadinya yang sangat singkat, gerak refleks ini sama dengan gerak
knee-jerk refleks dimana hanya satu sinaps yang bekerja (refleks monosynaptic).
Input refleks jaw-closing selain muscle spindle

adalah stimulasi ligament

periodontal, TMJ, dll dapat menimbulkan refleks jaw-closing dalam waktu


singkat. Hal ini dibuktikan dengan percobaan anestesi yang diaplikasikan pada
gigi dan rahang bawah menurunkan input tapi tidak menghentikan refleks.
Proses jaw-opening diinisiasi oleh stimuli mekanik dari ligament
periodontal dan mekanoreseptor pada mukosa. Stimuli ini menghasilkan eksitasi

17

otot jaw-opening dan inhibisi pada otot jaw-closing. Proses ini tidak termasuk
refleks monosynaptic dan sekurang-kurangnya satu interneuron bekerja.
Proses mastikasi diinisiasi oleh stimuli elektrik dari cortex yang menyokong
otot jaw-closing dan jaw-opening. Begitu kompleks proses terjadinya gerak
mastikasi, pada intinya ritme mastikasi dihasilkan dari generator pada brain stem
yang diaktivasi oleh pusat dibantu dengan input peripheral yang pada akhirnya
menghasilkan output ritmikal dengan frekuensi yang sesuai dengan input yang
terjadi.
Aktivitas

motoneuron

trigeminal

saat

proses

pengunyahan

diteliti

menggunakan aktivitas itrasel dari motoneuron yang mengontrol otot masseter


(jaw-closing) dan digastrics (jaw-opening). Motoneuron masseter depolarisasi saat
fase closing dan hiperpolarisasi (inhibisi) saat fase opening. Motoneuron
digastrics depolarisasi saat opening, akan tetapi tidak hiperpolarisasi saat closing.
A. Penelanan
Menurut kamus deglutasi atau deglutition diterjemahkan sebagai proses
memasukkan makanan kedalam tubuh melalui mulut the process of taking food
into the body through the mouth.
Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan
setiap

organ

yang

berperan

harus

bekerja

secara

terintegrasi

dan

berkesinambungan. Dalam proses menelan ini diperlukan kerjasama yang baik


dari 6 syaraf cranial, 4 syaraf servikal dan lebih dari 30 pasang otot menelan.
Pada proses menelan terjadi pemindahan bolus makanan dari rongga mulut
ke dalam lambung. Secara klinis terjadinya gangguan pada deglutasi disebut
disfagia yaitu terjadi kegagalan memindahkan bolus makanan dari rongga mulut
sampai ke lambung.

18

Gambar 1

Neurofisiologi menelan
Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal
dan fase esophageal.
1.9.1 Fase oral
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk
menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk
ditelan. Proses ini berlangsung secara disadari. Proses ini bertahan kira-kira 0.5
detik

Peranan saraf kranial pada pembentukan bolus fase oral.


ORGAN

AFFEREN (sensorik)

EFFEREN (motorik)

19

Mandibul

n. V.2 (maksilaris)

N.V : m. Temporalis, m.
maseter, m. pterigoid

n. V.2 (maksilaris)
Bibir

n. VII : m.orbikularis oris, m.


zigomatikum, m.levator labius oris,
m.depresor labius oris, m. levator
anguli oris, m. depressor anguli
oris

n.VII:

m.

mentalis,

m.

risorius, m.businator
n.V.2 (maksilaris)
Mulut &

n.XII : m. hioglosus, m.

pipi

mioglosus
n.V.3 (lingualis)
Lidah

Pada fase oral ini perpindahan bolus dari rongga mulut ke faring segera
terjadi, setelah otot-otot bibir dan pipi berkontraksi meletekkan bolus diatas lidah.
Otot intrinsik lidah berkontraksi menyebabkan lidah terangkat mulai dari bagian
anterior ke posterior. Bagian anterior lidah menekan palatum durum sehingga
bolus terdorong ke faring.
Bolus menyentuh bagian arkus faring anterior, uvula dan dinding posterior
faring sehingga menimbulkan refleks faring. Arkus faring terangkat ke atas akibat
kontraksi m. palato faringeus (n. IX, n.X dan n.XII)
20

Peranan saraf kranial fase oral


ORGAN

AFFEREN (sensorik)

EFFEREN (motorik)

Bibir

n.

n.

V.2

(mandibularis),

n.V.3 (lingualis)

VII

m.orbikularis

oris,

m.levator labius oris, m. depressor


labius, m.mentalis

Mulut

&

n. V.2 (mandibularis)

pipi

n.VII:

m.zigomatikus,levator

anguli oris, m.depressor anguli oris,


m.risorius. m.businator

n.IX,X,XI : m.palatoglosus
n.V.3 (lingualis)
n.IX,X,XI

Lidah
n.V.2 (mandibularis)

m.uvulae,m.palatofaring

Uvula

Jadi pada fase oral ini secara garis besar bekerja saraf karanial n.V2 dan
nV.3 sebagai serabut afferen (sensorik) dan n.V, nVII, n.IX, n.X, n.XI, n.XII
sebagai serabut efferen (motorik).
1.4.2 Fase Faringeal
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior
(arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Pada fase faringeal ini
terjadi :
21

1 m. Tensor veli palatini (n.V) dan m. Levator veli palatini (n.IX, n.X dan
n.XI) berkontraksi menyebabkan palatum mole terangkat, kemudian uvula tertarik
keatas dan ke posterior sehingga menutup daerah nasofaring.
2 m.genioglosus

(n.XII,

servikal

1),

ariepiglotika

(n.IX,nX)

m.krikoaritenoid lateralis (n.IX,n.X) berkontraksi menyebabkan aduksi pita suara


sehingga laring tertutup.
3 Laring dan tulang hioid terangkat keatas ke arah dasar lidah karena
kontraksi m.stilohioid, (n.VII), m. Geniohioid, m.tirohioid (n.XII dan n.servikal
I).
4 Kontraksi m.konstriktor faring superior (n.IX, n.X, n.XI), m. Konstriktor
faring inermedius (n.IX, n.X, n.XI) dan m.konstriktor faring inferior (n.X, n.XI)
menyebabkan faring tertekan kebawah yang diikuti oleh relaksasi m. Kriko faring
(n.X)
5 Pergerakan laring ke atas dan ke depan, relaksasi dari introitus esofagus
dan dorongan otot-otot faring ke inferior menyebabkan bolus makanan turun ke
bawah dan masuk ke dalam servikal esofagus. Proses ini hanya berlangsung
sekitar satu detik untuk menelan cairan dan lebih lama bila menelan makanan
padat.

22

Gambar 2. Fase Pharingeal


Peranan saraf kranial pada fase faringeal
Organ

Afferen

Efferen

Lidah

n.V.3

n.V :m.milohyoid, m.digastrikus


n.VII : m.stilohyoid
n.XII,nC1 :m.geniohyoid, m.tirohyoid
n.XII :m.stiloglosus

Palatum

n.IX, n.X, n.XI :m.levator veli palatini

n.V.2, n.V.3

n.V :m.tensor veli palatini

Hyoid

n.V : m.milohyoid, m. Digastrikus

n.Laringeus
superior

cab

internus (n.X)

n.VII : m. Stilohioid
n.XII, n.C.1 :m.geniohioid, m.tirohioid

Nasofaring

n.X
n.IX, n.X, n.XI : n.salfingofaringeus

Faring
n.X

n.IX, n.X, n.XI : m. Palatofaring,


m.konstriktor

faring

sup,

m.konstriktor

ffaring med.

23

n.X,n.XI : m.konstriktor faring inf.


Laring
n.rekuren

n.IX :m.stilofaring

(n.X)
Esofagus
n.X

n.X : m.krikofaring

Pada fase faringeal ini saraf yang bekerja saraf karanial n.V.2, n.V.3 dan n.X
sebagai serabut afferen dan n.V, n.VII, n.IX, n.X, n.XI dan n.XII sebagai serabut
efferen.
Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal,
meningkatkan

waktu

gelombang

peristaltik

dan

memperpanjang

waktu

pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Bertambahnya volume bolus


menyebabkan lebih cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah, pergerakan palatum
mole dan pergerakan laring serta pembukaan sfingter esofagus bagian atas. Waktu
Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur.
Kecepatan gelombang peristaltik faring rata-rata 12 cm/detik. Mc.Connel
dalam penelitiannya melihat adanya 2 sistem pompa yang bekerja yaitu :
1 Oropharyngeal propulsion pomp (OOP) adalah tekanan yang ditimbulkan
tenaga lidah 2/3 depan yang mendorong bolus ke orofaring yang disertai tenaga
kontraksi dari m.konstriktor faring.
2 Hypopharyngeal suction pomp (HSP) adalah merupakan tekanan negatif
akibat terangkatnya laring ke atas menjauhi dinding posterior faring, sehingga
bolus terisap ke arah sfingter esofagus bagian atas. Sfingter esofagus bagian atas

24

dibentuk oleh m.konstriktor faring inferior, m.krikofaring dan serabut otot


longitudinal esofagus bagian superior.
1.9.3 Fase Esofageal
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus
makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1.

Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang

peristaltik primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler
dinding esofagus bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan
diikuti oleh gelombang peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan
dinding esofagus.
2.

Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf

pleksus mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler
dinding esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke
distal esofagus.

Cairan biasanya turun akibat gaya berat dan makanan padat turun karena
gerak peristaltik dan berlangsung selama 8-20 detik. Esophagal transit time
bertambah pada lansia akibat dari berkurangnya tonus otot-otot rongga mulut
untuk merangsang gelombang peristaltik primer.

1.4.5 Peranan sistem saraf dalam proses menelan


Proses menelan diatur oleh sistem saraf yang dibagi dalam 3 tahap :
1 Tahap afferen/sensoris dimana begitu ada makanan masuk ke dalam
orofaring langsung akan berespons dan menyampaikan perintah.

25

2 Perintah diterima oleh pusat penelanan di Medula oblongata/batang otak


(kedua sisi) pada trunkus solitarius di bag. Dorsal (berfungsi utuk mengatur fungsi
motorik proses menelan) dan nukleus ambigius yg berfungsi mengatur distribusi
impuls motorik ke motor neuron otot yg berhubungan dgn proses menelan.
3 Tahap efferen/motorik yang menjalankan perintah
Gangguan deglutasi/ menelan
Secara medis gangguan pada peristiwa deglutasi disebut disfagia
atau sulit menelan, yang merupakan masalah yang sering dikeluhkan baik oleh
pasien dewasa, lansia ataupun anak-anak.
Menurut catatan rata-rata manusia dalam sehari menelan sebanyak
kurang lebih 2000 kali, sehingga masalah disfagia merupakan masalah yang
sangat menggangu kualitas hidup seseorang.
Disfagia merupakan gejala kegagalan memindahkan bolus makanan
dari rongga mulut sampai ke lambung.
Kegagalan dapat terjedi pada kelainan neuromuskular, sumbatan mekanik
sepanjang saluran mulai dari rongga mulut sampai lambung serta gangguan
emosi. Disfagia dapat disertai dengan rasa nyeri yang disebut odinofagia.
Berdasarkan difinisi menurut para pakar (Mettew, Scott Brown dan Boeis)
disfagia dibagi berdasarkan letak kelainannya yaitu di rongga mulut, orofaring,
esofagus atau berdasarkan mekanismenya yaitu dapat menelan tetapi enggan,
memang dapat menelan atau tidak dapat menelan sama sekali, atau baru dapat
menelan jika minum segelas air, atau kelainannya hanya dilihat dari gangguan di
esofagusnya.

26

BAB II
HASIL PENGAMATAN
2.1 Tabel Hasil Pengamatan
2.1.1 Pengunyahan
2.1.1.1 Kekuatan Gigit Maksimal
Jenis kelamin
orang coba

Gigi

Kedalaman gigit
Kanan(mm)

Kiri(mm)

Insisiv pertama

Kaninus

5,5

Molar pertama

4,5

Insisiv pertama

Kaninus

5
27

Molar pertama

2.1.1.2 Efisiensi Kunyah


Perhitungan efisiensi kunyah
Pengunyahan 20 kali
Berat sisa makanan : 37 gr 11 gr = 26 gr
Efisiensi kunyah

:=

NA
berat nasi sebelum dikunyah

x 100%

= 26/20 x 100% = 130%

Pengunyahan 15 kali
Berat sisa makanan : 38 gr 11 gr = 27 gr
Efisiensi kunyah

:=

NA
berat nasi sebelum dikunyah

x 100%

= 27/20 x 100% = 135%


Pengunyahan 10 kali
Berat sisa makanan : 37 gr 11 gr = 26 gr
Efisiensi kunyah

:=

NA
berat nasi sebelum dikunyah

x 100%

= 26/20 x 100% = 130%


Efisiensi kunyah

Jenis kelamin
orang coba

20 kali

15 kali

10 kali

28

130 %

2.1.1.3

135 %

130 %

Kelelahan pada Otot Wajah

Jenis kelamin orang coba

Waktu kunyah (awal kunyah lelah)

1,5 menit 150 kali pengunyahan

2.1.1.4

Gerakkan Lidah Pada Saat Pengunyahan

Jenis
kelamin

Bentuk

Relaksasi

Membulat

Normal

Anterior

Runcing

Normal

Lateral

Runcing

Normal

Posterior

Membulat

Normal

Mengunyah Membulat

normal

orang coba

Ukuran

Posisi lidah

(normal/tdk)

Warna

Merah
Jambu
Merah
Jambu
Merah
Jambu
Merah
Jambu
Merah
Jambu

Tekstur

Halus

Kasar

Halus

Kasar

Halus

2.1.2 Pemeriksaan Proses Menelan


2.1.2.1 Pemeriksaan Palpasi pada Saat Menelan
Jenis kelamin orang coba

Pola gerakan

Gerakan normal, tak ada hambatan;

29

terjadi gerakan naik turun pada leher atas

2.1.2.2 Pengaruh Peningkatan Sekresi Saliva terhadap Penelanan


Perlakuan

Respon orang coba

Dengan pemijatan

Terasa lebih mudah

Tanpa pemijatan

Terasa lebih susah

Kemudahan menelan : Perlakuan dengan pemijatan selama 15 kali pengunyahan,


bolus makanan terasa lebih lunak sehingga lebih mudah ditelan

2.1.2.3 Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Penelanan


Kemudahan menelan dan respon oran coba

Jenis kelamin
orang coba

1 : 0,5

1:1
Sangat sulit
ditelan(+++)

1:2
Makanan cukup
mudah ditelan
(++)

1:3
Sangat mudah
menelan (+)

2.1.3 Prosedur Percobaan Refleks (Gagging Reflexs)


2.1.3.1 Pengaruh Sentuhan Terhadap Refleks Muntah

Lokasi

Sentuhan

Ujung lidah

Dorsal lidah

Lateral kiri

30

Lateral kanan

Anterior

Posterior

Posterior palatum

++

Uvula

+++

Tonsil

Faring atas (jika


bisa)
Yang paling sensitif
adalah:

uvula

2.1.3.2 Pengaruh Suhu dan Sentuhan Terhadap Refleks Muntah


Lokasi

Respon terhadap suhu


Dingin

Panas

Ujung lidah

Dorsal lidah

Lateral kiri

Lateral kanan

Anterior

Posterior

Posterior palatum

Uvula

++

+++

Tonsil

++

Faring atas (jika bisa)

31

Yang paling sensitif adalah:

uvula

uvula

Ket :
-

: tidak terjadi refleks muntah

: Ada keinginan refleks muntah

++

: sangat terangsang untuk muntah

+++

: Sudah akan muntah

2.1.3.2 Pengaruh Rasa Pahit Terhadap Refleks Muntah


Jenis Kelamin

Daerah
yang

Reaksi orang coba

ditetesi
Perempuan

Posterior
lidah

Sangat ingin muntah, terasa pahit

2.2 PERTANYAAN DAN JAWABAN


1 Apakah ada perbedaan permukaan rongga mulut antara laki laki dan

perempuan ? Jelaskan mengapa ?


Ada, perbedaan permukaan rongga mulut antara laki-laki dan
perempuan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan lengkung rahang
dimana bentuk rahang laki-laki lebih besar dari pada perempuan
lengkung rahang dipengaruhi oleh faktor lokal baik oleh gigi geligi yang
menyusun lengkung gigi itu sendiri, hubungan antar gigi, maupun
dengan gigi antagonisnya. Lengkung rahang merefleksikan gabungan
antara ukuran gigi, lidah, bibir, dan fungsi dinding otot pipi.
Apakah ada perbedaan kekuatan gigit maksimal laki-laki dan perempuan
? Jelaskan mengapa ?
Ada, meskipun tipis. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan,
kekuatan laki-laki dan perempuan hampir sama namun laki-laki sedikit
32

lebih kuat dari pada perempuan. Hal ini terjadi karena otot pengunyahan
pada laki-laki lebih kuat dan besar dari pada perempuan, selain itu faktor
kebiasaan mengunyah atau makan makanan dengan tekstur keras juga
mempengaruhi kekuatan gigitan seseorang.
Mengapa makanan ada yang mudah ditelan dan ada yang sukar ?
Jelaskan mengapa?
Karena cairan rongga mulut, otot-otot pengunyahan, gigi dan organorgan yang terlibat dalam proses pengunyahan hingga penelanan
menyesuaikan kerjanya dengan struktur makanan (bolus). Makanan
yang dimakan banyak yang berbeda baik bentuk dan kandungan air
dalam makanan tersebut. Makanan yang bentuknya kasar dan
mengandung sedikit kandungan air akan sukar ditelan. Sedangkan
makanan yang bentuknya halus dan mengandung banyak air akan lebih
mudah ditelan. Hal ini dikarenakan dalam rongga mulut terdapat saliva
yang berperan sebagai pelumas dan membantu proses penelanan,
dimana saliva sendiri terdiri dari 99% air.
Mengapa rasa pahit dapat merangsang refleks muntah ?
Karena rasa pahit merupakan salah satu perangsang rasa muntah dimana
rasa pahit ini merangsang impuls saraf sensorik yang diteruskan ke otak
melalui N. Glossofaringeus, setelah mencapai otak rangsangan
motoriknya akan dibawa kembali oleh N.vagus untuk memberi refleks
muntah, dimana di dalam rongga mulut terdapat saraf motorik maupun
sensorik yang keduanya saling bekerja sama. Selain itu rasa pahit
merupakan tanda bagi tubuh ketika terdapat zat asing yang akan masuk
ke dalam tubuh sehingga tubuh berusaha menolak dengan gagging
refleks. Hal inilah yang memberi refleks muntah pada seseorang yang
merasakan rasa pahit di dalam rongga mulut.

BAB III

33

PEMBAHASAN
3.1 Pengunyahan
3.1.1 Kekuatan Gigit Maksimal
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan orang coba dan balok
dari malam merah. Kemudian meletakkan balok malam pada gigi orang coba
wanita yang akan diuji. Meminta kepada orang coba untuk menggigit dengan
maksimal balok merah. Dan mengukur kedalaman gigit dengan menggunakan
jangka baik pada bagian atas maupun bagian bawah. Kemudian melakukan
dengan menggunakan prosedur yang sama namun pada gigi molar pertama, gigi
caninus, dan gigi incisive pertama sebelah kanan.
Kemudian melakukan pada gigi sebelah kiri, dan pada orang coba laki-laki.
Kemudian melakukan pencatatan dari data yang didapatkan.
Pada percobaan kali ini didapatkan hasil pengamatan, kekuatan gigit
maksimal baik di bagian kiri maupun kanan pada orang coba laki-laki memiliki
kedalaman gigit maksimal yang lebih besar dibandingkan dengan orang coba
perempuan. Hal ini diakibatkan oleh kekuatan otot mastikasi pada laki-laki lebih
kuat dibandingkan dengan perempuan.
3.1.2 Efisiensi kunyah
Hal pertama yang dilakukan adalah menjelaskan kepada orang coba
mengenai apa yang akan dilakukan. Kemudian menimbang nasi putih dengan
rasio satu banding satu dengan ukuran satu sendok makan. Lalu menimbang
saringan dan mengunyah nasi putih dengan kecepatan satu kali kunyah per detik
sebanyak

dua

puluh

kali

pengunyahan.

Kemudian

berkumur

dengan

menggunakan aqua, dan mengeluarkannya diatas saringan. Menyiram saringan


dengan air mengalir sebanyak satu gelas. Setelah itu menghitung efisiensi kunyah
dengan cara membagi berat sisa makanan dengan berat nasi kali 100%. Kemudian
mengulangi prosedur diatas dengan pengunyahan sebanyak 10 dan 15 kali.
Setelah itu melakukan pencatatan dari data yang didapatkan.
34

Pada percobaan kali ini didapatkan hasil pengamatan semakin besar jumlah
pengunyahan maka akan semakin besar efisiensi kunyahnya. Akan tetapi pada
pengunyahan sebanyak 10 kali dihasilkan efisiensi yang sama ketika pengunyahan
20 kali. Kesalahan ini dapat terjadi kemungkinan karna pada saat penimbangan
sissa makanan yang kurang teliti atau masih adanya sisa makanan pada rongga
mulut sehingga tidak semua dikeluarkan. Secara keseluruhan, hasil percobaan
sesuai dengan dasar teori yang ada yaitu semakin besar frekuensi kunyah maka
akan semakin besar efisiensi kunyahnya.
3.1.3 Kelelahan pada Otot Wajah
Pada praktikum kali ini, langkah pertama yang dilakukan adalah
menginstruksikan kepada orang coba untuk mengunyah permen karet dengan
kecepatan x/detik hingga otot mulut terasa benar-benar letih. Kemudian
menghitung dan mencatat waktu serta jumlah kunyah yang diperlukan sejak
kunyahan awal hingga terasa benar-benar letih.
Pada percobaan kali ini didapatkan hasil pengamatan waktu dan frekuensi
pengunyahan hingga terjadinya kelelahan pada otot pengunyahan adalah sebesar
1,5 menit menghasilkan 150 kali pengunyahan.
2.1.4 Gerakan Lidah pada saat Pengunyahan
Pada praktikum kali ini tahapan pertama yang dilakukan adalah mengamati
lidah orang coba pada posisi relaksasi di dasar ronga mulut, baik bentuk, ukuran,
warna dan tekstur lidah. Kemudian orang coba diinstriuksikan untuk
menggerakkan lidah ke anterior, lateral dan ujung lidah ke bagian paling posterior
dari palatine. Stelah itu mengamati koordinasi gerakan lidah. Lalu mencatat
apakah orang coba dapat melakukan dengan baik seluruh gerakan sesuai dengan
instruksi operator.
Orang coba diinstruksikan untuk mengunyah permen karet dengan perlahan.
Memeriksa gerakan lidah saat dilkukan pengunyahan. Lalu mencatat secara rinci
gerakan yang timbul.

35

Pada percobaan kali ini didapatkan hasil, Terdapat keadaan normal pada
tekstur, bentuk, serta ukuran pada saat orang coba melakukan pergerakan yang
sesuai dengan instruksi operator.
3.2 Pemeriksaan proses menelan
3.2.1 Pemeriksaan Palpasi pada saat Menelan
Langkah pertama yang dilakukan adalah meminta orang coba untuk berdiri
tegak. Kemudian menginstruksikan orang coba untuk minum. Lalu melakukan
inspeksi dan palpasi pada leher bagian atas, apa yang telah dirasakan ketika orang
coba melakukan penelanan dan bagaimana pola gerakannya. Dari percobaan dapat
disimpulkan pola pergerakan yaitu normal tak ada hambatan, dengan adanya
gerakan naik turun di area esofagus.
2.2.2 Pengaruh Penigkatan Sekresi Saliva terhadap Penelanan
Pada praktikum kali ini tahapan pertama yang dilakukan adalah orang coba
diinstruksikan untuk mengunyah nasi dengan perbandingan 1:1 . Kemudian
memijat bagian pipi (disekitar kelenjar parotis) sambil terus mengunyah. Jika
sudah 15 kali pengunyahan, instruksikan kepada orang coba untuk menelan.
Kemudian mencatat respon orang coba terhadap kemudahan menelan yang
dirasakan. Setelah itu mengulangi percobaan tersebut tanpa melakukan pemijatan
terlebih dahulu. Lalu membandingkan kemudahan menelan antara menelan
dengan pemijatan dan tanpa pemijatan yang dirasakan oleh orang coba.
Pada praktikum ini, didapatkan hasil pengamatan yaitu terdapat kemudahan
penelanan dengan ditambahkannya perlakuan pemijatan dibandingkan dengan
tanpa adanya perlakuan pemijatan. Pada saat dilakukan pemijatan, terasa tekstur
makanan yang dikunyah lebih lembut.
Hal ini dapat terjadi karna dengan adanya perlakuan pemijatan dapat
merangsang sekresi saliva oleh kelanjar parotis. Sehingga dalam proses
pengunyahan makanan terasa tekstur makanan yang dihasilkan lebih lembut dan

36

dapat ditelan dengan mudah. Saliva berperan dalam proses pengunyahan maupun
penelanan dan berfungsi sebagai pelumas dalam rongga mulut.
2.3.3 Pengaruh Jenis Makanan Terhadap Penelanan
Orang

coba

diinstruksikan

untuk

mengunyah

nasi

putih

dengan

perbandingan nol koma banding satu. Kemudian meminta orang coba untuk
menelannya. Setelah itu mencatat apa yang dirasakan. Mengulangi percobaan
tersebut untuk jenis nasi putih (1:1, 1:2, 1:3). Membedakan kemudahan menelan
pada beberapa jenis nasi putih tersebut.
Pada praktikum kali ini didapatkan hasil pengamatan, pada proses
penelanan yang terasa paling mudah adalah ketika menelan nasi dengan
perbandingan satu dibanding tiga. Dan proses penelanan paling sukar dijumpai
saat melakukan proses penelanan nasi dengan perbandingan satu dibanding satu.
Hal ini dapat terjadi karna semakin banyak perbandingan kadar air yang
terkandung didalam nasi yang ditelan, maka akan semakin mudah dalam proses
penelanan. Maka pada praktikum kali ini hasil pengamatan telah sesuai dengan
teori yang telah ada, yakni dengan adanya data hasil pengamatan yang
menunjukkan bahwa penelanan nasi dengan rasio kadar air tertingi terasa paling
mudah untuk ditelan, dan pada kadar air terendah paling sukar untuk ditelan.
Hal ini dikarenakan saliva yang terdiri dari 99% air mudah menyatu dengan
makanan terutama yang memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga
memudahkan proses penelanan ketika mencerna makanan.

2.4 Prosedur Percobaan Reflex Muntah


2.4.1 Pengaruh Sentuhan Terhadap Reflex Muntah
Pada percobaan kali ini hal pertama yang dilakukan adalah meminta orang
coba untuk duduk tenang dan membuka mulut. Kemudian melakukan sentuhan
37

ringan dengan spatel lidah dari kayu, pada beberapa bagian lidah : ujung lidah,
dorsal lidah, lateral kanan dan kiri, bagian anterior dan posterior lidah, posterior
palatum, uvula, tonsil, faring bagian atas dapat dijangkau. Kemudian mengamati
bagian rongga mulut manakah yang paling senstif terhadap terjadinya gagging
reflex.
Pada percobaan kali ini didapatkan bagian yang paling sensitive adalah
bagian uvula dan tonsil. Hal ini tampak ketika memnerikan sentuhan ringan
didaerah tersebut, orang coba langsung merasakan mual dan terasa ingin muntah.
Hal ini dapat terjadi karena daerah tonsil dan uvula merupakan daerah pemicu
kemoreseptor atau yang disebut dengan Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ) yang
cukup sensitive. Selain itu, di area tersebut terdapat saraf saraf yang sangat
sensitif terhadap sentuhan sehingga mudah merangsang terjadinya gagging
refleks.
2.4.2 Pengaruh Suhu dan Sentuhan Terhadap Reflex Muntah
Pada percobaan kali ini hal pertama yang dilakukan adalah meminta orang
coba untuk berkumur dengan menggunakan air es. Kemudian melakukan sentuhan
ringan dengan spatel lidah dari kayu, pada beberapa bagian lidah : ujung lidah,
dorsal lidah, lateral kanan dan kiri, bagian anterior dan posterior lidah, posterior
palatum, uvula, tonsil, faring bagian atas dapat dijangkau. Kemudian mengamati
bagian rongga mulut manakah yang paling senstif terhadap terjadinya gagging
reflex. Setelah itu orang coba diminta beristirahat selama sepuluh menit dan
diinstruksikan untuk berkumur dengan air hangat dan kemudian melakukan
sentuhan ringan kembali pada daerah-daerah pada prosedur diatas.
Pada percobaan kali ini didapatkan bagian yang paling sensitive adalah
bagian uvula dan tonsil. Hal ini tampak ketika memberikan sentuhan ringan
didaerah tersebut, orang coba langsung merasakan mual dan terasa ingin muntah.
Hal ini dapat terjadi karena daerah tonsil dan uvula merupakan daerah pemicu
kemoreseptor atau yang disebut dengan Chemoreseptor Trigger Zone (CTZ) yang
cukup sensitive.

38

Pada hasil pengamatan dengan perlakukan berkumur dengan menggunakan


air es, tampak adanya pengurangan daya reflex muntah yang terjadi. Hal ini
disebabkan oleh suhu dingin dapat menghambat terjadinya impuls saraf sensoris
yang nantinya dapat memicu terjadinya gagging reflex. Hal ini berkebalikan
dengan hasil pengamatan dnegan perlakuan diberi air hangat. Hal ini dapat terjadi
karna perlakuan air panas dapat mempercepat terjadinya impuls saraf di daerah
CTZ untuk menghasilkan respon berupa gagging reflex.
2.4.3 Pengaruh Rasa Pahit Terhadap Reflex Muntah
Pada percobaan kali ini, oranag coba diminta untuk duduk dengan tenang.
Kemudian memasukkan obat yang rasanya pahit ke dalam siring. Kemudian
meneteskannya pada daerah yang paling sensitive berdasarkan percobaan
sebelumnya. Lalu mencatat reaksi yang terjadi pada orang coba.
Pada percobaan kali ini didapatkan hasil, ketika diteteskan pada uvula orang
coba merasa sangat ingin muntah karena terasa pahit, dan terjadi salivasi.
Kemudian pada daerah tonsil dan uvula orang coba lebih merasa ingin muntah.
Hal ini terjadi karena, ketika terdapat zat asing yang dianggap berbahaya masuk
ke dalam tubuh maka akan direfleksikan dengan rasa pahit sebagai respon tubuh.
Selanjutnya ketika impuls diteruskan ke otak akan diinstruksikan dalam bentuk
refleks muntah.

BAB IV
KESIMPULAN

39

Dalam mencerna makanan banyak komponen yang terlibat yang memiliki


beberapa fungsi penting seperti pengunyahan, gerakan lidah, perasa, penelanan,
dan salivasi. Pengunyahan merupakan hasil kerja sama dari peredaran darah, otot
mastikasi, saraf, tulang rahang, sendi temporo-mandibular, jaringan lunak rongga
mulut, dan gigi-gigi. Dalam proses makan, terdapat mekanisme fisiologik tubuh
untuk melindungi tubuh terhadap benda asing atau bahan-bahan yang berbahaya
bagi tubuh yang disebut dengan reflek muntah. Kekuatan gigit maksimal pada laki
- laki lebih besar dan kuat daripada perempuan karena dipengaruhi oleh otot
mastikasi yang terlibat. Semakin besar frekuensi kunyah maka semakin besar pula
efisiensi kunyahan. Daerah pada rongga mulut yang sensitif terhadap refleks
muntah yaitu posterior lidah dan palatum, uvula dan tonsil. Oleh karena itu
adapun hal hal yang dapat memicu gagging refleks yaitu area dalam rongga
mulut, sentuhan, suhu, tekstur makanan dll.

DAFTAR PUSTAKA
Guyton & Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

40

Guyton.1995. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.


Sloane, Ethel. 2002.Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC.

41

42