Anda di halaman 1dari 14

III.

1 Cara Diagnosis Ortodonsia sesuai Kartu Status


Prosedur diagnosis ortodonsia diperlukan untuk mendapatkan/ memperoleh diagnosis
yang tepat dari suatu maloklusi gigi serta menentukan rencana perawatan. Beberapa analisa
yang diperlukan meliputi analisa umum, analisa lokal, analisa fungsional, dan analisa model.
A. Analisis umum
Biasanya pada bagian status awal suatu pasien tercantum nama, jenis kelamin, umur,
dan alamat pasien. Jenis kelamin dan umur pasien selain sebagai identitas pasien juga sebagai
data yang berkaitan dengan pertumbuhkembangan dentomaksilofasial pasien, misalnya
perubahan fase geligi dari fase geligi sulung ke geligi pergantian akhirnya ke fase geligi
permanen. Juga adanya perbedaan pertumbuhkembangan muka pria dan wanita, demikian
juga adanya perbedaan pertumbuhkembangan pada umur tertentu pada jenis kelamin yang
sama.
Keluhan utama pasien biasanya tentang keadaan susunan giginya, yang dirasakan
kurang baik sehingga mengganggu estetik dentofasial dan mempengaruhi status sosial serta
fungsi pengunyahannya. Pada tahap ini sebaiknya dokter gigi mendengarkan apa yang
menjadi keluhan seorang pasien dan tidak mengambil kesimpulan secara sepihak tentang apa
yang menjadi keluhan pasien.
1. Keadaan Sosial
Keadaan ini kadang-kadang sukar diperoleh disebabkan orang tua pasien
kadang-kadang enggan menjawab kondisi emosional anaknya sehingga bisa diganti
dengan menanyakan prestasi anak di sekolah.
2. Riwayat kesehatan pasien dan keluarga
Perlu diketahui riwayat kesehatan pasien sejak lahir sampai pasien datang untuk
perawatan. Hal-hal yang perlu ditanyakan pada orang tua pasien / pasien misalnya
apakah pasien dilahirkan secara normal atau tidak. Beberapa tindakan persalinan dapat
mengakibatkan trauma pada kondili mandibula sehingga menyebabkan maloklusi
dikemudian hari.
3. Berat dan tinggi pasien
Dengan menimbang berat dan mengukur tinggi pasien diharapkan dapat
diketahui apakah pertumbuhkembangan pasien normal sesuai dengan umur dan jenis
kelaminnya.
4. Ras
Pengertian ras dalam lingkup ini adalah ras dalam pengertian fisik, bukan dalam
pengertian budaya. Penetapan ras pasien dimaksudkan untuk mengetahui ciri fisik
pasien karena setiap ras mempunyai ciri fisik tertentu.
5. Bentuk skelet

Sheldon (1940), seorang antropologis, menggolongkan bentuk skelet berdasar


jaringan yang dominan yang mempengaruhi bentuk skelet. Seseorang yang langsing
dengan sedikit jaringan otot atau lemak digolongkan sebagai ektomorfik. Pada individu
seperti ini yang dominan adalah kulit dan saraf yang berasal dari ektoderm. Seseorang
yang berotot digolongkan sebagai mesomorfik dan orang yang pendek dengan otot
yang kurang berkembang akan tetapi mempunyai lapisan lemak yang tebal disebut
endomorfik. Bentuk skelet ini mempunyai hubungan dengan pertumbuhkembangan.
Anak dengan bentuk skelet ektomorfik mencapai kematangan lebih lambat daripada
anank dengan tipe endomorfik maupun mesomorfik.

Keterangan : bentuk skelet A. endomorfik, B. mesomorfik, C. ektomorfik


6. Ciri keluarga
Ciri keluarga adalah adanya pola-pola tertentu yang selalu ada pada keluarga
tersebut. Contoh klasik dibidang ortodontik adalah adanya kelainan skelet yang berupa
prognati mandibula pada dinasti Habsburg di Eropa.
7. Penyakit anak
Meskipun biasanya anak dapat pernah menderita berbagai penyakit akan tetapi
dalam hal ini yang perlu diketahui adalah penyakit anak yang dapat mengganggu
pertumbuhkembangan normal seorang anak. Menurut Moyers (1988), penyakit dengan
panas

badan

yang

tinggi

dapat

menyebabkan

gangguan

jadwal

waktu

pertumbuhkembangan gigi pada masa bayi dan anak-anak. Penyakit sistemik lebih
berpengaruh pada kualitas gigi daripada kuantitas pertumbuhkembangan gigi. Suatu
maloklusi merupakan akibat sekunder kelainan otot dan beberapa kelainan neuropati
atau merupakan sekuel dari perawatan skoliosis yang berlangsung lama untuk
imobilisasi tulang belakang.
8. Alergi
Alergi terhadap bahan perlu diketahui oleh operator dengan menanyakan pada
pasien atau orang tua pasien. Pada pemeriksaan pasien perlu ditanyakan apakah ada
alergi terhadap obat-obatan, produk kesehatan, atau lingkungan.
9. Kelainan endokrin
Kelainan endokrin yang terjadi pralahir dapat mewujud pada hipoplasia gigi.
Kelainan endokrin pascalahir dapat menyebabkan percepatan atau hambatan

pertumbuhan muka, mempengaruhi derajat pematangan tulang, penutupan sutura,


resorpsi akar sulung dan erupsi gigi permanen.
10. Tonsil
Bila tonsil dalam keadaan radang, dorsum lidah dapat menekan tonsil tersebut.
Untuk menghindari keadaan ini mandibula secara reflex diturunkan, gigi tidak kontak
sehingga terdapat ruangan yang lebih luas untuk lidah dan biasanya terjadi perdorongan
lidah ke depan saat menelan. Tonsil yang besar apalagi bengkak dapat mempengaruhi
posisi lidah. Kadang-kadang lidah terletak ke anterior sehingga mengganggu fungsi
menelan.
11. Kebiasaan bernafas
Seseorang disebut sebagai penapas mulut apabila dalam keadaan istirahat
maupun pada saat melakukan kegiatan selalu bernafas melalui mulut. Seorang penapas
hidung kadang-kadang bernafas lewat mulut juga pada keadaan tertentu misalnya pada
keadaan saluran pernafasan terganggu oleh karena pilek.
Pasien yang biasa bernafas melalui mulut akan mengalami kesukaran pada saat
dilakukan pencetakan untuk membuat model studi maupun model kerja.
B. Analisis local
1. Pemeriksaan ekstraoral
a.a Bentuk kepala
Bentuk kepala perlu dipelajari karena bentuk kepala ada hubungannya dengan
bentuk muka, palatum, maupun bentuk lengkung gigi. Bentuk kepala ada 3, yaitu :
a. Dolikosefalik (panjang dan sempit)
Bentuk kepala ini akan membentuk muka yang sempit, panjang, dan
protrusive. Muka seperti ini disebut leptoprosop / sempit. Fossa krania anterior
yang panjang dan sempit akan menghasilkan lengkung maksila dan palatum
yang sempit, panjang dan dalam.
b. Mesosefalik (bentuk rata-rata)
c. Brakisefalik (lebar dan pendek)
Bentuk kepala ini akan membentuk muka yang lebih besar, kurang
protrusive dan disebut euriprosop / lebar. Fossa krania anterior yang lebar dan
pendek akan menghasilkan lengkung maksila dan palatum yang lebar, pendek,
dan lebih dangkal.
Untuk menentukan tipe kepala sebaiknya tidak hanya mengandalkan
pengamatan tetapi melakukan pengukuran untuk menetapkan indeks sefalik, yang bisa
dihitung dengan rumus :
Indeks sefalik : Lebar kepala x 100
Panjang kepala

Indeks untuk Dolikosefalik adalah < 0,75, sedangkan Brakisefalik > 0,80, dan
Mesosefalik antara 0,76 0,79.

Kepala yang brakisefalik

Kepala yang dolikosefalik


a.b Tipe profil
Tipe profil dibagi dalam 3 bentuk, yaitu : cekung, lurus, dan cembung. Profil
yang cembung mengarah ke maloklusi kelas II yang dapat disebabkan rahang atas yang
lebih anterior atau mandibula yang lebih posterior. Muka yang cekung mengarah ke
maloklusi kelas III yang dapat disebabkan rahang atas lebih posterior atau rahang
bawah lebih anterior.

Tipe profil A. cekung, B. lurus, C. cembung


Tujuan utama dari pemeriksaan profil muka secara seksama, adalah :

2.

- Menentukan posisi rahang dalam jurusan sagital


- Evaluasi bibir dan letak insisiv
- Evaluasi proporsi wajah dalam arah vertical dan sudut mandibula
Pemeriksaan intraoral
Pemeriksaan intraoral terdiri dari jaringan mukosa mulut, lidah, palatum,

kebersihan rongga mulut, frekuensi karies, dan fase geligi.


a. Pemeriksaan Lidah
Berlebihnya ukuran lidah diindikasikan karena adanya gigi pada margin
lateral. Memberikan gambaran scallop pada lidah.
b. Pemeriksaan Palatum
Palatum harus diperiksaan untuk menemukan hal-hal berikut :
-

Variasi kedalaman paltum terjadi pada hubungan dengan variasi bentuk

facial. Kebanyakan pasien dolicofacial memiliki palatum yang dalam.


Adanya swelling ( lekukan ) pada palatum dapat mengindikasi suatu

keadaan gigi impaksi, adanya kista atau patologis tulang lainnya.


Ulcerasi mukosa dan indentation adalah suatu gambaran dari deep bite

traumatic.
Adanya celah palatum diasosiasikan dengan diskontinuitas palatum.
The third rugae biasanya pada garis dengan caninus. Hal ini berguna

dalam perkiraan proklinasi anterior maksilla.


c. Pemeriksaan Gingiva
Gingival diperiksa untuk inflamasi, resesi

dan

lesi

mucogingival

lainnya.Biasanya temuan gingivitis marginal pada region anterior disebabkan oleh


postur open lip. Adanya oklusi traumatic diindikasikan dengan resesi gingival
terlokalisir.
d. Pemeriksaan Perlekatan Frenulum
Perlekatan frenulum abnormal didiagnosis dengan suatu tes pemutihan dimana
bibir atas upward dan outward beberapa lama.Adanya pemutihan pada region papilla
unter-dental mendiagnosis suatu frenulum abnormal.
e. Taksiran Pertumbuhan Gigi
Hal-hal yang perlu dicatat:
-

Gigi geligi yang terdapat / yang ada di dalam rongga mulut.


Gigi-gigi yang belum erupsi.
Gigi-gigi hilang.
Status gigi ( gigi yang erupsi dan tidak erupsi).

Adanya karies, restorasi, malformasi, hipoplasia, atrisi dan diskolorasi.


Menentukan relasi molar
Overjet dan overbite, variasi seperti peningkatan overjet, deep bite, open

bite dan cross bite


Malrelasi transfersal seperti crossbite dan pergeseran pada midline atas dan

bawah.
Ketidakteraturan gigi individual seperti rotasi, displacement, intruksi dan

ekstruksi
Lengkung atas dan bawah harus diperiksa secara individual untuk
mempelajari bentuk lengkungnya dan kesemetrisannya. Bentuk lengkung

bisa normal, sempit ( V shaped ) atau square.


C. Analisis fungsional
1. Path of closure
Adalah arah gerakan mandibula dari posisi istirahat ke oklusi sentrik. Idealnya
path of closure dari posisi istirahat ke posisi oklusi maksimum berupa gerakan engsel
sederhana melewati freeway space yang besarnya 2-3 mm, arahnya ke atas dan ke
depan.
Ada 2 macam perkecualian path of closure yang bisa dilihat adalah deviasi
mandibula dan displacement mandibula, yaitu:
- Path of closure yang berawal dari posisi kebiasaan mandibula akan tetapi
gigi mencapai oklusi maksimum mandibula dalam posisi relasi sentrik. Ini
-

disebut deviasi mandibula.


Path of closure yang berawal dari posisi istirahat, akan tetapi oleh karena

2.

adanya halangan oklusal maka didapatkan displacement mandibula.


Freeway space (interocclusal clearance)
Adalah jarak antara oklusal pada saat mandibula dalam posisi istirahat. Nilai

normal freeway space menurut Houston (1989) adalah 2-3 mm.


3. Temporo mandibular (TMJ)
Adalah gerakan mandibula saat membuka dan menutup mulut. Lebar
pembukaan maksimal pada keadaan normal dari TMJ antara 35-40 mm, 7 mm gerakan
ke lateral, dan 6 mm ke depan. Tanda-tanda adanya masalah pada TMJ adalah adanya
rasa sakit pada sendi, suara, dan keterbatasan pembukaan.
Pola Atrisi
Pola atrisi dikatakan tidak normal apabila terjadi pengikisan dataran oklusal

4.

gigi permanen pada usia fase geligi pergantian.


D. Analisis model
1. Jumlah lebar 4 insisiv rahang atas
Cara pengukurannya adalah diukur masing-masing lebar mesio-distal pada
lengkung terbesar dari ke- 4 insisiv rahang atas kemudian dijumlahkan. Apabila

jumlahnya: 28-36 mm, berarti normal, kurang dari 28 mm disebut mikrodonti dan bila
lebih dari 36 mm disebut makrodonti.
2. Diskrepansi model
Adalah selisih antara tempat yang tersedia dengan tempat yang dibutuhkan.
Tujuan pengukuran ini adalah untuk menentukan adanya kekurangan atau kelebihan
tempat dari gigi geligi berdasarkan model studi yang akhirnya untuk menentukan
macam perawatan yang dilakukan pada maloklusi yang ada.
Kurve of spee
Adalah kurva dengan pusat pada titik di tulang lakrimal dengan radius pada

3.

orang dewasa 65-70 mm. kurva ini berkontak di 4 lokasi, yaitu permukaan anterior
kondili, daerah kontak distoklusal molar ketiga, daerah kontak mesioklusal molar
pertama, dan tepi insisal. Lengkung yang menghubungkan insisal insisiv dengan bidang
oklusal molar terakhir pada rahang bawah. Pada keadaan normal kedalamannya tidak
melebihi 1,5 mm. Pada kurve spee yang positif (bentuk kurvanya jelas dan dalam)
biasanya didapatkan gigi insisiv yang supra posisi atau gigi posterior yang infra posisi
atau mungkin gabungan kedua keadaan tadi.

Kurva Spee
4.

Diastema
Ruang antara dua gigi yang berdekatan, gingiva diantara gigi-gigi kelihatan.
Adanya diastema pada fase geligi pergantian masih merupakan keadaan normal, tetapi
adanya diastema pada fase geligi permanen perlu diperiksa lebih lanjut untuk
mengetahui apakah keaadaan tersebut suatu keadaan yang tidak normal.

Diastema Multiple
5.

Pergeseran gigi-gigi

Cara pemeriksaanya adalah dengan menggunakan simetroskop yang diletakkan


ditengah garis median gigi pada model studi, kemudian dibandingkan antara gigi
senama kiri dan kanan.
Gigi-gigi yang terletak salah
Menurut Angle (1907) dengan diketahuinya kelainan letak gigi secara individu

6.

dapat direncanakan perawatan untuk meletakkan gigi-gigi tersebut pada letaknya yang
benar. Penyebutan letak gigi yang digunakan diantaranya adalah sbb :
a. Versi : mahkota gigi miring ke arah tertentu tetapi akar gigi tidak
(misalnya mesioversi, distoversi, labioversi, linguoversi).
b. Infra oklusi : gigi yang tidak mencapai garis oklusal dibandingkan dengan
gigi lain dalam lengkung geligi.
c. Supra oklusi : gigi yang melebihi garis oklusal dibandingkan dengan gigi
lain dalam lengkung geligi.
d. Rotasi : gigi berputar pada sumbu panjang gigi, bias sentries atau
eksentris.
e. Transposisi : dua gigi yang bertukar tempat, misalnya kaninus menempati
tempat insisiv lateral dan insisiv lateral menempati tempat kaninus.
f. Eksostema : gigi yang terletak di luar lengkung geligi (misalnya kaninus
atas).
Cara penyebutan lain seperti yang dianjurkan Lischer untuk gigi secara
individual adalah sbb :
a. Mesioversi : mesial terhadap posisi normal gigi.
b. Distoversi : distal terhadap posisi normal gigi.
c. Linguoversi : lingual terhadap posisi normal gigi.
d. Labioversi : labial terhadap posisi normal gigi.
e. Infraversi : inferior terhadap garis oklusi.
f. Supraversi : superior terhadap garis oklusi.
g. Aksiversi : inklinasi aksial yang salah (tipped).
h. Torsiversi : berputar menurut sumbu panjang gigi.
i. Transversi : perubahan urutan posisi gigi.
Kelainan letak gigi dapat juga merupakan kelainan sekelompok gigi :
a. Protrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya
terhadap garis maksila > 110 untuk rahang bawah sudutnya > 90
terhadap garis mandibula.
b. Retrusi : kelainan kelompok gigi anterior atas yang sudut inklinasinya
terhadap garis maksila < 110 untuk rahang bawah sudutnya < 90
terhadap garis mandibula.
c. Berdesakan : gigi yang tumpang tindih.
d. Diastema : terdapat ruangan diantara dua gigi yang berdekatan.

A. gigi berdesakan, B. protrusi, C. retrusi


7.

Pergeseran garis median


Pada palatum terdapat beberapa struktur anatomi yang penting untuk
menentukan garis median di palatum. Di anterior terdapat papilla insisiva, di posterior
terdapat rugae yang jumlahnya 3 pasang tiap sisi dan rafe palatine di tengah palatum
dalam arah anteroposterior. Titik pertemuan rugae palatina kiri dan kanan dianggap
paling stabil untuk dipakai acuan din anterior sedangkan posterior yang dipakai adalah
titik pada rafe palatine. Bila dua titik ini dihubungkan didapat garis median rahang atas.
Pada keadaan normal garis ini melewati titik kontak insisivi sentral atas. Penentuan
garis median rahang bawah lebih sukar. Cara menentukan adalah dengan membuat titik
pada perlekatan frenulum labial dan lingual. Titik ini biasanya melewati titik kontak
insisivi sentral bawah. Pada keadaan normal garis median muka / rahang dan garis
median lengkung geligi terletak pada satu garis (berimpit). Pada keadaan tidak normal
karena sesuatu sebab maka garis median muka dipakai sebagai acuan.
Untuk menilai apakah terdapat pergeseran garis median lengkung geligi
terhadap median muka dilihat letak insisivi sentral kiri dan kanan. Bila titik kontak
insisivi sentral terletak di sebelah kiri garis median muka maka keadaan ini disebut
terjadi pergeseran ke kiri, demikian pula sebaliknya.
Cara melihat pergeseran garis median adalah dengan melihat apakah garis
median muka melewati titik kontak insisivi sentral masing-masing rahang. Bila titik
kontak terletak pada garis median berarti tidak terdapat pergeseran akan tetapi bila titik
kontak terletak di sebelah kiri atau kanan garis median muka maka terdapat pergeseran
ke kiri atau ke kanan.

Pergeseran garis median rahang bawah ke kiri


Relasi gigi posterior
Relasi gigi adalah hubungan gigi atas dan bawah dalam keadaan oklusi. Gigi

8.

yang diperiksa adalah molar pertama permanen, dan kaninus pertama permanen.
Pemeriksaan dalam jurusan sagital, transversal, dan vertical.
a. Relasi jurusan sagital
Kemungkinan relasi molar yang dapat terjadi adalah :
- Neutroklusi : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas terletak
-

pada lekukan bukal molar pertama permanen bawah.


Distoklusi : tonjol distobukal molar pertama permanen atas terletak pada

lekukan bukal molar pertama permanen bawah.


Mesioklusi : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas terletak pada

tonjol distal molar pertama permanen bawah.


Gigitan tonjol : tonjol mesiobukal molar pertama permanen atas beroklusi

dengan tonjol mesiobukal molar pertama permanen bawah.


Tidak ada relasi : bila salah satu molar pertama permanen tidak ada
misalnya oleh karena telah dicabut, atau bila kaninus permanen belum
erupsi.

Relasi molar pertama permanen jurusan sagital, A. neutroklusi, B. distoklusi, C.


mesioklusi, D. gigitan tonjol

Relasi molar pertama permanen A. neutroklusi, B. distoklusi, C. mesioklusi, D.


gigitan tonjol, E. tidak ada relasi, karena molar bawah fraktur

b. Relasi jurusan transversal


Pada keadaan normal relasi transversal gigi posterior adalah gigitan fisura luar
rahang atas, oleh karena rahang atas lebih lebar daripada rahang bawah. Apabila rahang
atas terlalu sempit atau terlalu lebar dapat menyebabkan terjadinya perubahan relasi gigi
posterior dalam jurusan transversal. Perubahan yang dapat terjadi adalah : gigitan
tonjol, gigitan fisura dalam atas, dan gigitan fisura luar atas.

A. gigitan fisura luar rahang atas, B. gigitan silang total luar rahang atas, C. gigitan
fisura dalam rahang atas, D. gigitan silang total dalam rahang atas
c. Relasi dalam jurusan vertical
Kelainan dalan jurusan vertical dapat berupa gigitan terbuka yang berarti tidak
ada kontak antara gigi atas dan bawah pada saat oklusi.
d. Relasi gigi anterior rahang atas dan rahang bawah
Relasi gigi anterior diperiksa dalam jurusan sagital dan vertical. Relasi yang
normal dalam jurusan sagital adalah adanya jarak jarak gigit / overjet. Pada keadaan
normal gigi insisivi akan berkontak, insisivi atas di depan insisivi bawah dengan jarak
selebar ketebalan tepi insisal insisivi atas, kurang lebih 2-3 mm dianggap normal. Bila
insisivi bawah lebih anterior daripada atas disebut jarak gigit terbalik atau gigitan silang
anterior atau gigitan terbalik.

Jarak gigit dan tumpang gigit normal


Untuk mendapatkan pengukuran yang sama maka di klinik digunakan
pengertian jarak gigit adalah jarak horizontal antara insisal atas dengan bidang labial
insisivi bawah. Jarak gigit pada gigitan silang anterior diberi tanda negative, misalnya
-3 mm. Pada relasi gigitan edge to edge jarak gigitnya 0 mm.
A. Gigitan terbalik
B. Edge to edge

Pada jurusan vertical dikenal adanya tumpang gigit / over bite yang
merupakan vertical overlap of the incisors. Di klinik tumpang gigit diukur dari jarak
vertical insisal insisivi atas dengan insisal insisivi bawah, yang normal ukurannya 2
mm. Tumpang gigit yang bertambah menunjukkan adanya gigitan dalam. Pada gigitan
terbuka tidak ada overlap dalam jurusan vertical, tumpang gigit ditulis dengan tanda
negative, misalnya -5 mm. Pada relasi edge to edge tumpang gigitnya 0 mm.
A. Gigitan dalam
B. Edge to edge
C. Gigitan terbuka

e. Klasifikasi maloklusi
Klasifikasi Angle:
1. Kelas I : terdapat relasi lengkung anteroposterior yang normal dilihat dari relasi
molar pertama permanen (neutroklusi). Kelainan yang menyertai dapat berupa,
misalnya, gigi berdesakan, gigitan terbuka, protrusi, dll.
2. Kelas II : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke distal
daripada lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama permanen (distoklusi).
- Kelas II divisi 1 : insisivi atas protrusi sehingga didapatkan jarak gigit
-

besar, tumpang gigit besar, dan kurva spee positif.


Kelas II divisi 2 : insisivi sentral atas retroklinasi, insisivi lateral atas
proklinasi, tumpang gigit besar (gigitan dalam). Jarak gigit bias normal

atau sedikit bertambah.


Kelas III : lengkung rahang bawah paling tidak setengah tonjol lebih ke
mesial terhadap lengkung atas dilihat dari relasi molar pertama permanen
(mesioklusi) dan terdapat gigitan silang anterior.

Maloklusi kelas I Angle disertai A. Gigitan terbuka, B. Berdesakan dan pergeseran garis
median, C. Protrusi, D. Gigitan dalam, E. Berdesakan dan edge to edge.

Maloklusi kelas II divisi 1

Maloklusi kelas II divisi 2 Angle

Maloklusi kelas III disertai berdesakan


Ardhana, Wayan. 2010. Ortodonsia II: Diagnosis Ortodontik. Bagian Ortodonsia
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gajah Mada: Yogyakarta