Anda di halaman 1dari 22

A.

PENDAHULUAN
Setiap makhluk hidup di dunia ini memiliki alat komunikasi
yang bisa digunakan untuk berkomunikasi atau berinteraksi
sesamanya. Alat komunikasi manusia yaitu bahasa. Karena
bahasa merupakan sesuatu yang ada, maka bahasa juga menjadi
salah satu objek kajian filsafat, bahkan bahasa juga menjadi alat
untuk berfilsafat.
Bahasa

dan filsafat

adalah dua

hal

yang

senantiasa

berkaitan dan sulit untuk dipisahkan. Pengkajian bahasa telah


berlaku sepanjang sejarah filsafat, bahkan bahasa menjadi tema
yang menarik dan memainkan peran yang penting dalam kajian
ilmu filsafat semenjak abad ke-20 hingga sekarang.
Hubungan bahasa dengan filsafat sangat dekat dan sangat
erat

karena

para

filsus

berpikir

dan

menuangkan

hasil

pemikirannya mengenai segala sesuatu dalam bentuk ungkapanungkapan dan satuan-satuan bahasa. Apapun yang mereka
pikirkan, hasilnya tentu disampaikan kepada orang lain dalam
bentuk bahasa. Perhatian filsuf terhadap bahasa semakin besar.
Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya, banyak persoalan
filsafat, konsep filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan
analisis bahasa.

Penulis dalam makalah ini ingin memaparkan tentang


pengertian filsafat, filsafat bahasa, serta hubungan fungsional
filsafat dan bahasa sebagai kontribusi untuk mengembangkan
ilmu pengetahuan, di samping kajian yang dimaksud sebagai
tugas mata kuliah filsafat bahasa dengan harapan mahasiswa
mampu memahami dan mengetahui tentang filsafat bahasa.
B. KAJIAN FILSAFAT BAHASA
1. Pengertian Filsafat
Istilah filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padan kata
falsafah (Arab), philosophy (Inggris), philosophia (Latin) dan
philosophie (Jerman, Belanda, dan Perancis).1 Semua istilah itu
secara historis-sosiologis berasal dari bahasa Yunani yaitu
philosopia, yang merupakan gabungan dua kata: Philo dan
Shopia. Philo berarti cinta, dan sophia berarti kebijaksanaan yang
mencakup

pengetahuan,

keterampilan,

pengalaman,

intelegensi). Jadi pengertian filsafat secara etimologi berarti


mencintai kebijaksanaan (the love and pursuit of wisdom).2
Menurut
philosophia
pencarian

tradisi
digunakan

akan

filsafat

kuno,

Phytagoras

kebijaksanaan

dan

konon
untuk

istilah

Yunani

menyebut

kebenaran

yang

gerak
bisa

dilakukan manusia. Kebijaksanaan dalam bentuk utuh dan


1_______________ Muzairi, Filsafat Umum, (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm. 5
2_______________ Zaprulkhan, Filsafat Umum: Sebuah Pendekatan Tematik,
(Jakarta: Rajawali, 2013), hlm. 3

sempurna hanya ada pada yang Ilahi, sementara manusia yang


terbatas sudah merasa puas dengan menegaskan diri sebagai
pencinta bukan pemilik kebijaksanaan dan kebenaran mutlak.
Dengan akal budinya, manusia hanya mampu mendekatkan diri
kepada kebenaran mutlak, ia tidak akan pernah meraihnya
secara lengkap dan sempurna.3
Manusia bukanlah sophos (sang pemilik kebijaksanaan dan
kebenaran mutlak) melainkan hanya philosophos (sang pencinta
kebijaksanaan

dan

pencari

kebenaran).

Dengan

kata

lain

philosophos adalah orang yang mencintai kebijaksanaan dan


pencari

kebenaran,

bukan

orang

yang

sudah

memiliki

kebijaksanaan dan kebenaran secara lengkap. Filsafat adalah


sebuah dambaan yang hanya mungkin hadir jika masih ada
sesuatu yang belum selesai; masih ada sesuatu yang belum
tuntas; masih ada sesuatu yang dicari; dan masih ada sesuatu
kekurangan.4
Sedangkan

pengertian

filasafat

secara

istilah

terdapat

beberapa pendapat para filsuf sebagai berikut:5


a. Menurut Socrates (469-339 SM) filsafat sebagai suatu
peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan
3_______________ Zaprulkhan, Filsafat Umum,..., hlm. 4
4_______________ Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, (Yogyakarta:
Kanisius, 2007), hlm. 13
5_______________ Zaprulkhan, Filsafat Umum,..., hlm.15-19

terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia


(principles of the just and happy life). Dari makna filsafat
yang dikemukakan oleh Socrates maka tidak berlebihan jika
ia mengeluarkan statement: The unexamined life is not
worth living (kehidupan yang tidak teruji dan tidak pernah
dipertanyakan, merupakan kehidupan yang tidak berharga).
b. Plato (427-347 SM) memandang filsafat sebagai visi yaitu
visi tentang kebenaran (the vision of truth). Visi dalam
perspektif Plato di sini tidak semata-mata bersifat intelektual
dan juga bukan sekedar kebijaksanaan, melainkan cinta
terhadap kebijaksanaan (it is not merely wisdom, but love of
wisdom).
c. Friedrich Hegel (1170-1831) mendefinisikan filsafat sebagai
Die

denkende

betrachtung

der

gegenstande,

the

investigation of things by thought and contemplation


(penyelidikan hal-hal dengan pemikiran dan perenungan).
d. Bertrand Russell (1872-1970) menganggap filsafat sebagai
suatu

kritik

terhadap

pengetahuan,

karena

filsafat

memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai ilmu dan


dalam

kehidupan

sehari-hari,

dan

mencari

sesuatu

ketakselarasan yang dapat terkandung dalam asas-asas itu.


Selain

itu,

Russell

juga

menyatakan

bahwa

filsafat

merupakan sebuah upaya untuk menjawab pertanyaan

puncak secara kritis (the attempt to answer ultimate


question critically).
e. Theodore Brameld merumuskan filsafat sebagai usaha yang
gigih dari orang-orang biasa maupun orang-orang cerdik
pandai untuk membuat kehidupan sedapat mungkin dapat
dipahami dan bermakna (the persistent effort of both
ordinary and sophisticated people to make life as intelligible
and meaningful as possible).
f. Harold H. Titus merumuskan filsafat sebagai suatu proses
perenungan dan pengkritisan terhadap keyakinan-keyakinan
kita yang dianut paling dalam (a process of reflecting upon
and criticizing our most deeply held beliefs).
g. Menurut Louis O. Kattsoff filsafat merupakan suatu analisis
secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran mengenai
suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta
sistematis atas suatu sudut pandangan yang menjadi dasar
suatu tindakan. Dan hendaknya diingat bahwa kegiatan
yang kita namakan kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya
merupakan perenungan atau pemikiran.
h. Menurut Al-farabi, filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang
alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang
sebenarnya.6

6_______________ Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum: Dari


Pendekatan Historis, Pemetaan Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan
Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-Filsufis,
(Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm. 99

i. Ibnu Rushd (1126-1198) mengemukakan filsafat adalah


hikmah yang merupakan pengetahuan otonom yang perlu
ditimba oleh manusia sebab dikarunia oleh Allah dengan
akal. Filsafat diwajibkan pula oleh Al-Quran agar manusia
dapat mengagumi karya Tuhan dalam persada dunia.7
Berdasarkan gagasan di atas, dapat filsafat adalah cinta
terhadap

pengetahuan

atau

cinta

terhadap

kebijaksanaan.

Filsafat berkaitan dengan aktifitas, kegiatan, atau upaya sadar


dalam rangka mencari kebenaran dan memikirkan sesuatu
secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga
mencapai hakikat segala sesuatu tersebut.
2. Hubungan Fungsional Filsafat dan Bahasa
Manusia pada umumnya mengangap bahasa biasa-biasa
saja. Coba bayangkan bila bahasa tiba-tiba menghilang dari
kehidupan manusia! Dengan bahasa seorang bayi menangis
untuk mengekspresikan dahaga atau perlu ganti diaper. Dengan
bahasa, seorang filsuf menemukan ekspresi atau nama untuk
merujuk sebuah konsep.
Bahasa tidak sekedar urutan bunyi yang dapat dicerna
secara empiris, tetapi juga kaya dengan makna yang sifatnya
non-empiris. Dengan demikian bahasa adalah sarana vital dalam

7_______________ Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum,..., hlm. 100

berfilsafat, yakni sebagai alat untuk mewujudkan pikiran tentang


fakta dan realitas yang direpresentasi lewat simbol bunyi. Tanpa
bahasa para filusuf tidak akan pernah berfilsafat.8
Bahasa

tidak

saja

sebagai

alat

komunikasi

untuk

mengantarkan proses hubungan antarmanusia, tetapi, bahasa


pun mampu mengubah seluruh kehidupan manusia. Artinya,
bahwa bahasa merupakan aspek terpenting dari kehidupan
manusia. Kearifan Melayu mengatakan : Bahasa adalah cermin
budaya bangsa, hilang budaya maka hilang bangsa. Jadi bahasa
adalah sine qua non, suatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan
masyarakat manusia.
Bagaimanapun alat paling utama dari filsafat adalah bahasa.
Tanpa bahasa, seorang filsuf (ahli filsafat) tidak mungkin bisa
mengungkapkan perenungan kefilsafatannya kepada orang lain.
Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak akan mengerti tentang
buah pikiran kefilsafatan.
Louis O. Katsooff berpendapat bahwa suatu sistem filsafat
sebenarnya dalam arti tertentu dapat dipandang sebagai suatu
bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai
suatu upaya penyusunan bahasa tersebut. Karena itu filsafat dan
bahasa senantiasa akan beriringan, tidak dapat dipisahkan satu

8_______________ A. Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan,...,


hlm. 14.

sama lain. Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan


sistem simbol-simbol. Sedangkan tugas filsafat yang utama
adalah mencari jawaban dan makna dari seluruh simbol yang
menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat
untuk membongkar seluruh rahasia simbol-simbol tersebut.9
Menurut para filsuf, tugas filsafat adalah membangun dan
dan mengembangkan bahasa yang dapat mengatasi kelemahan
dalam bahasa sehari-hari. Dengan kerangka bahasa tersebut,
mereka dapat memahami hakikat, fakta atau kenyataan dasar
tentang struktur metafisis dan realitas kenyataan dunia yang
menjadi perhatian. Hal yang terpenting adalah usaha untuk
membangun dan memperbaharui bahasa yang membuktikan
bahwa perhatian filsafat memang berkenan dengan konsepsi
umum

tentang

bahasa

serta

makna

yang

terkandung

di

dalamnya.
Sebagai bidang filsafat khusus, filsafat bahasa mempunyai
kekhususan, yaitu masalah yang dibahas berkenan dengan
bahasa, sehingga peranan filsafat bahasa jelas sangat penting
dalam mengembangkan ilmu bahasa, karena filsafat bahasa
membahas tentang bagaimana suatu ungkapan bahasa itu
mempunyai arti, sehingga analisis filsafat tidak lagi dimengerti

9_______________ Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap Hakikat


Bahasa, Makna dan Tanda(Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009 ), hlm. 31

atau dianggap harus didasarkan pada logika teknis, baik logika


formal maupun matematik, tetapi didasarkan pada penggunaan
bahasa biasa. Oleh karena itu, mempelajari bahasa menjadi
syarat mutlak apabila ingin membicarakan masalah-masalah
filsafat karena bahasa merupakan alat dasar dan utama untuk
berfilsafat.10
Para filsuf memakai metode analisis untuk menjelaskan arti
suatu istilah dan pemakaian bahasa. Mereka mengatakan bahwa
analisis tentang arti bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan
tugas analisis konsep sebagai suatu fungsi filsafat. Para filsuf
analitik, seperti G.E. Moore, B. Russel, L. Wittgenstein, G. Ryle,
J.L.

Austin

berpendapat

bahwa

tujuan

filsafat

adalah

menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan


arti istilah atau ungkapan yang dipakai dalam ilmu pengetahuan
dan

dipakai

dalam

kehidupan

sehari-hari.

Maka

mereka

berpendirian bahwa bahasa merupakan laboratorium para filsuf,


yaitu tempat menyemai dan mengembangkan ide-ide.11
Menganalisis berarti menetapkan arti secara tepat dan
memahami saling berhubungan di antara pengertian-pengertian
tersebut. Misalnya kata ada apabila dianalisis ternyata dapat
mengandung berbagai ragam pengertian. Apakah adanya Tuhan
10_______________ Muhammad Khoyin, Filsafat Bahasa,..., (Bandung: Pustaka
setia, 2013), hlm. 31.
11_______________ Muzairi, Filsafat Umum,..., hlm. 8.

sama dengan adanya manusia?, seandainya dikatakan meja itu


ada, apakah sama dengan adanya manusia?. Dengan demikian,
kata ada dapat berarti ada dalam ruang waktu, ada secara
transenden dan ada dalam pikiran.
Para ahli sudah menyepakati bahwa bahasa berfungsi sebagai
alat untuk mengekspresikan persaan dan pikiran. Terlihat adanya
hubungan erat antara bahasa dan filsafat. Ahmad Abdurrahman
Hamad dalam bukunya Al-Alaqah bayn al-lughah wa al-Fikr,
menggambarkan hubungan tersebut bagaikan satu mata uang
yang mempunyai dua sisi. Ketika bahasa berfungsi sebagai alat
berpikir ilmiah, mucul problem yang serius, ini bisa diselesaikan
dengan bantuan filsafat. Begitu juga ketika filsafat sampai pada
rumusan konsep yang rumit, bahasa juga mengalami persoalan,
yaitu bahasa sering kurang mampu menggambarkan isi konsep
itu. Bahasa dalam hal ini harus mencari kata dan susunan baru
untuk menggambarkan isi konsep tersebut.
Di antara permasalahan yang dihadapi bahasa ialah dalam
pemeliharaannya. Bahasa sering tidak mampu membebaskan diri
dari

gangguan

pemakainya.

Orang

awam

sering

merusak

bahasa, mereka menggunakan bahasa tanpa mengikuti kaidah


yang benar. Kerusakan bahasa tersebut biasanya disebabkan
oleh tidak digunakannya kaidah filsafat. Kekeliruan dalam
berbahasa melahirkan kekeliruan dalam berpikir.

10

Filsuf

adalah

orang

bijaksana

yang

tentu

harus

menggunakan bahasa yang benar. Bahasa yang benar itu akan


mampu mewakili konsep logis yang dibawakannya, karena itu
pada logika ditemukannya kaitan erat antara bahasa dan filsafat.
Dan pada logika pula ditemukan manfaaf konkret bahasa. Peran
logika dalam bahasa ialah memperbaiki bahasa, logika juga
dapat mengetahui kesalahan bahasa. 12
Kerja filsafat dimulai dari suatu pernyataan kritis tentang
sesuatu realitas yang tidak hanya mempertanyakan tentang
dunia yang konkret, tetapi juga sebagian realitas yang oleh
sebagian orang dianggap tabu untuk dipertanyakan. Bagi filsafat
seluruh realitas adalah layak untuk dipertanyakan. Bagi filsafat
pertanyaan itu bukanlah sekedar bertanya, tapi diharapkan
berupa pertanyaan yang kritis tentang apa saja.
Menurut

Franz

Maganis-Suseno,

yang

membedakan

jawaban-jawaban filsafat dengan dan jawaban spontan adalah


bahwa jawaban filsafat harus dipertanggungjawabkan secara
rasional, artinya setiap jawaban harus terbuka terhadap setiap
kritik dan bantahan orang-orang yang tidak sependapat. Itulah
sebenarnya roh dan inti dari kerja filsafat. Jika jawaban-jawaban
filsafat tidak terbuka maka filsafat sampai saat ini sudah mati
ditelan zaman.
12_______________Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu,..., hlm. 101.

11

Berikut

ini

akan

dikemukakan

beberapa

masalah

kebahasaan yang memerlukan analisis atau kerja filsafat dalam


memahami dan memecahkannnya, antara lain :
1. Masalah bahasa pertama dan mendasar adalah apa
hakikat bahasa itu ? mengapa bahasa itu harus ada pada
manusia dan merupakan cirri utama manusia. Apa pula
hakikat manusia itu, dan bagaimana hubungan antara
bahasa dan manusia itu.
2. Apakah perbedaan utama antara bahasa manusia dan
bahasa di luar manusia, seperti bahasa binatang dan atau
bahasa makhluk lain. Apa persamaannya dan apa pula
perbedaannya.
3. Apa hubungan antara bahasa dan akal, dan juga apa
hubungannya antara bahasa dengan hati, intuisi dan
fenomena batin manusia lainnya.
Problem-problem tersebut, merupakan sebagian dari contohcontoh problematika kebahasaan, yang dalam pemecahannya
memerlukan usaha-usaha pemikiran yang dalam dan sistematis
atau analisis filsafat.
Agar ada sedikit gambaran, berikut ini akan diuraikan secara
singkat mengenai hubungan fungsional antara bahasa dan
filsafat. Diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Filsafat, dalam arti analisis merupakan salah satu metode
yang digunakan oleh para filosof dan ahli filsafat dalam

12

memecahkan , seperti mengenai apakah hakikat bahasa


itu,

atau

pernyataan

dan

ungkapan

bahasa

yang

bagaimana yang dapat dikategorikan ungkapan bahasa


bermakna dan tidak bermakna.
2. Filsafat, dalam arti pandangan
terhadap

suatu

realitas,

atau

misalnya

aliran

filsafat

tertentu
idealism,

rasionalisme, realism, filsafat analitif, Neo-Posotovisme,


strukturalisme, posmodernisme, dan sebagainya, akan
mewarnai

pula

pandangan

para

ahli

bahasa

dalam

mengembangkan teori-teorinya. Aliran filsafat tertentu


akan mempengaruhi dan memberikan bentuk serta corak
tertentu

terhadap

teori-teori

kebahasaan

yang

telah

dikembangkan para ahli ilmu bahasa atas dasar aliran


filsafat tersebut. Sebut saja Sausurian, adalah suatu
aliran linguistic dan ilmu sastra yang dikembangkan di atas
bangunan filsafat strukturalisme Ferdinand de Saussure.
3. Filsafat, juga berfungsi member arah agar teorai
kebahasaan yang telah dikembangkan para ahli ilmu
bahasa, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan
aliran filsafat tertentu, memiliki relevansi dan realitas
kehidupan ummat manusia.
4. Filsafat, termasuk juga filsafat bahasa, juga mempunyai
fungsi

untuk

memberikan

petunjuk

dan

arah

dalam

pengembangan teori-teori kebahasan menjadi ilmu bahasa

13

(linguistic) atau ilmu sastra. Suatu teori kebahasaan yang


dikembangkan oleh suatu aliran filsafat tertentu, akan
menghasilkan forma aliran ilmu bahasa tertentu pula. Hal
ini akan sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu
kebahasaan secara berkelanjutan.13
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa bahasa dan filsafat
memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat, dan sekaligus
merupakan hukum kausalitas (sebab musabbab dan akibat) yang
tidak dapat ditolak kehadirannya. Sebab itulah seorang filsuf (ahli
filsafat), baik secara langsung maupun tidak, akan senantiasa
menjadikan bahasa sebagai sahabat akrabnya yang tidak akan
terpisahkan oleh siapa pun dan dalam kondisi bagaimanapun.
Bahasa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek
penelitian

filsafat,

ia

juga

memiliki

kelemahan-kelemahan

tertentu sehubungan dengan fungsi dan perannya yang begitu


luas dan kompleks. Salah satu kelemahannya yaitu tidak
mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sebagaimana
mata tidak dapat melihat dirinya sendiri.
Realitas semacam itulah, barangkali yang mendorong para
filsuf dari tradisi realisme di Inggris mengalihkan orientasi kajian
kefilsafatannya pada analisis bahasa seperti yang telah dilakukan
oleh George More (1873-1958), Bertrand Russel (1872-1970),
13_______________ Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap
Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda,...., hlm. 38.

14

Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Alfref Ayer (1910- ), dan yang


lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok ini sering
dikelompokkan sebagai aliran baru dalam filsafat, yaitu aliran
filsafat analisis bahasa atau filsafat analitis.

3. Pengertian Filsafat Bahasa


Secara umum, orang akan berasumsi bahwa filsafat bahasa
memuat pengertian penggabungan dua kata filsafat dan
bahasa. Asumsi tersebut mengacu pada filsafat tentang
bahasa atau berfilsafat melalui bahasa. Asumsi tersebut tidak
dapat dipersalahkan meskipun esensinya tidak sesempurna
hakikat filsafat bahasa. Filsafat bahasa yang juga dikenal dengan
filsafat analitik tumbuh dan berkembang di Eropa, terutama di
Inggris pada abad ke-20.14
Berdasarkan realitas tersebut, sebelum kita menyetujui
salah satu definisi atau pengertian, sebaiknya terlebih dahulu
dilihat beberapa pandangan para ahli mengenai filsafat bahasa.

14_______________ Muhammad Khoyin, Filsafat Bahasa: Philosophy of


Languange, (Bandung: Pustaka setia, 2013), hlm. 31

15

Verhaar telah menunjukkan dua jalan yang terkandung


dalam istilah filsafat bahasa, yaitu, pertama, filsafat mengenai
bahasa;

dan

kedua,

filsafat

berdasarkan

bahasa,

dalam

hubungannya dengan pengertian pertama, seorang filsuf sudah


tentu

mempunyai

sebuah

sistem

yang

dipakainya

untu

mendekati bahasa sebagai objek khusus, seperti ia dapat


mendekati objek-objek lain dengan berpangkal pada sistem yang
sama. Objek dari pengertian filsafat bahasa sebagai filsafat
mengenai bahasa, Verhaar memberikan contoh ilmu bahasa, dan
psikologi bahasa sebagai objek kajiannya,
Sedangkan filasafat bahasa yang diartikan sebagai filasafat
berdasarkan bahasa mengandung pengertian bahwa seorang
filsuf itu ingin berfilsafat dan mencari sebuah sumber yang dapat
dijadikan

titik pangkal yang menyediakan bahan-bahan yang

diperlukan. Verhar memberikan dua pengertian bahasa yang


dijadikan titik pangkal untuk berfilsafat, yaitu bahasa yang
diartikan eksklusif dan bahasa yang diartikan inklusif. Bahasa
dalam pengertian eksklusif ialah bahasa yang didefinisikan
sebagai alat komunikasi sehari-hari, sehingga bahasa tersebut
mencerminkan semacam visi kodrati spontan yang dapat dipakai
sebagai sumber berharga dalam filsafat. Sedangkan yang
dimaksud dengan bahasa dalam pengertian inklusif ialah bahasa
yang tidak digunakan dalam arti sehari-hari dalam komunikasi,

16

seperti bahasa tari, bahasa musik, bahasa cinta, bahkan bahasa


alam semesta.15
Sebagai salah satu cabang filsafat, filsafat bahasa adalah
pemecahan masalah-masalah dan konsep-konsep filsafat melalui
analisis bahasa karena bahasa merupakan sarana yang vital
dalam

filsafat,

pertanyaan

misalnya

filosofis,

melalui
seperti

melalui

berbagai

kebenaran,

macam

keadilan,

kewajiban, kebaikan, dan pernyataan fundamental filosofis


lainnya dapat diuraikan dan dianalisis melalui bahasa atau
analisis penggunaan bahasa. Tradisi inilah menurut para ahli
filsafat disebut dengan filsafat analitik atau filsafat analitik
bahasa.16
Menurut Rizal Mustansyir, sebagaimana dikutip oleh Asep
Ahmad Hidayat bahwa filsafat bahasa adalah suatu penyelidikan
secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam
filsafat, sehingga dapat dibedakan pernyataan filsafat yang
mengandung makna (meaningfull) dan yang tidak bermakna
(meaningless).17

15_______________ Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap


Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda,..., hlm. 13.
16_______________ Kaelan, Pembahasan Filsafat Bahasa, (Yogyakarta:
Paradigma, 2013), hlm. 6.
17_______________ Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap
Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda(Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009 ), hlm.
13

17

Asep Ahmad Hidayat mengemukakan bahwa pengertian


filsafat perlu adanya pendekatan dari dua pandangan, yaitu
filsafat sebagai sebuah ilmu dan filsafat sebagai sebuah metode.
Oleh karena itu, pengertian filsafat bahasa juga didekati dari dua
pandangan tersebut. Jika pengertian filsafat bahasa dilihat
sebagai sebuah ilmu, maka filsafat bahasa ialah kumpulan hasil
pemikiran para filsuf mengenai hakikat bahasa yang disusun
secara sistematis untuk dipelajari dengan menggunakan metode
tertentu. Namun, jika filsafat bahasa diartikan sebagai metode
berfikir, maka ia bisa diartikan sebagai metode berfikir secara
mendalam (radikal), logis, dan universal mengenai hakikat
bahasa.18
A. Joko Wicoyo mendefinisikan filsafat bahasa sebagai
bidang filsafat khusus yaitu masalah bahasa dengan bahasa.
Penyataan ini dapat disederhanakan bahwa filsafat bahasa
merupakan penyederhanaan konsep filsafat melalui alat bantu
bahasa. Dengan kata lain, penjabaran nuansa filsafat melalui
medium bahasa.19
A. Chaedar Alwasilah dalam bukunya yang berjudul Filsafat
Bahasa dan Pendidikan mengatakan bahwa filsafat bahasa dapat
18_______________ Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap
Hakikat Bahasa, Makna dan Tanda,..., hlm. 13
19_______________ Muhammad Khoyin, Filsafat Bahasa,..., (Bandung: Pustaka
setia, 2013), hlm. 31.

18

dikelompokkan kedalam dua kategori besar, pertama, perhatian


para filsuf terhadap bahasa dalam menjelaskan berbagai objek
filsafat, baik dari segi objek material maupun objek formal. Objek
material filsafat bahasa adalah bahasa itu sendiri, sedangkan
objek formalnya adalah sudut pandang falsafi terhadap bahasa
tersebut karena tanpa alat bantu bahasa mereka tidak mungkin
dapat menganalisis objek-objek tersebut.
Kedua adalah perhatian terhadap bahasa sebagai objek
materi dari kajian filsafat seperti halnya filsafat hukum, filsafat
seni, filsafat manusia, filsafat agama, dan sejenisnya. Filsafat
bahasa atau filsafat bentuk-bentuk simbolis (philosophy of
symbolic

forms)

berkaitan

dengan

pertanyaan-pertanyaan

seperti hakikat dan fungsi bahasa, hubungan bahasa dan


realitas,

jenis-jenis

mengevaluasi

sistem

sistem

simbol,

bahasa.

Dari

dan

dasar-dasar

filsafat

bahasa

untuk
dalam

pengertian kedua inilah berkembang teori-teori linguistik selama


ini. 20
Sejauh ini paling tidak ada dua hal yang terkandung dalam
filsafat bahasa, yaitu: pertama, filsafat mengenai bahasa, artinya
seorang filsuf sudah tentu mempunyai sebuah sistem yang
dipakainya untuk dapat mendekati bahasa sebagai suatu objek
20_______________ A. Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan,
(Bandung: Remaja Rosadakarya, 2008), hlm. 14

19

khusus, dan kedua, filsafat berdasarkan bahasa, dalam hal ini


sang filsuf ingin berfilsafat dan menjadikan bahasa sebagai titik
pangkal untuk berfilsafat. Bahasa dalam hal ini dianggap dapat
mengungkapkan gerak-gerik hati manusia terutama bagaimana
dia berpikir, bagaimana pandangannya mengenai dunia dan
manusia itu sendiri, tanpa terlebih dahulu menyusun sebuah
sistemnya.21
Berdasarkan gagasan di atas dapat disimpulkan bahwa
filsafat bahasa merupakan sebuah ilmu yang menyangkut
berbagai hasil pikiran para filsuf mengenai hakikat bahasa yang
disusun secara sistematis sekaligus sebagai metode berpikir
secara mendalam dan universal mengenai hakikat bahasa
sehingga mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan final,
melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat
diperoleh

kejelasan

dan

kebenaran

hakikat

suatu

ilmu

pengetahuan atau pengetahuan konseptual.


C. SIMPULAN
Filsafat adalah cinta terhadap pengetahuan atau cinta
terhadap kebijaksanaan. Filsafat berkaitan dengan aktifitas,
kegiatan, atau upaya sadar dalam rangka mencari kebenaran
dan

memikirkan

sesuatu

secara

mendalam

dan

sungguh-

21_______________ Abdul, Chaer, Filsafat Bahasa, (Jakarta: Rineka Cipta,


2015), hlm. 9.

20

sungguh,

serta

radikal

sehingga

mencapai

hakikat

segala

sesuatu tersebut.
Bahasa dan filsafat memiliki hubungan atau relasi yang
sangat erat, dan sekaligus merupakan hukum kausalitas (sebab
musabbab dan akibat) yang tidak dapat ditolak kehadirannya.
Sebab itulah seorang filsuf (ahli filsafat), baik secara langsung
maupun tidak, akan senantiasa menjadikan bahasa sebagai
sahabat akrabnya yang tidak akan terpisahkan oleh siapa pun
dan dalam kondisi bagaimanapun
Filsafat bahasa merupakan sebuah ilmu yang menyangkut
berbagai hasil pikiran para filsuf mengenai hakikat bahasa yang
disusun secara sistematis sekaligus sebagai metode berpikir
secara mendalam dan universal mengenai hakikat bahasa
sehingga mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan final,
melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat
diperoleh

kejelasan

dan

kebenaran

hakikat

suatu

ilmu

pengetahuan atau pengetahuan konseptual.

DAFTAR PUSTAKA
A. Chaedar Alwasilah, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosadakarya, 2008.
Abdul, Chaer, Filsafat Bahasa, Jakarta: Rineka Cipta, 2015.

21

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Mengungkap Hakikat Bahasa, Makna dan
Tanda, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009.
Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Kaelan, Pembahasan Filsafat Bahasa, Yogyakarta: Paradigma, 2013.
Muhammad Khoyin, Filsafat Bahasa: Philosophy of Languange, Bandung:
Pustaka setia, 2013.
Muzairi, Filsafat Umum, Yogyakarta: Teras, 2009.
Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum: Dari Pendekatan Historis,
Pemetaan Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami
Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-Filsufis, Yogyakarta: ArRuzz Media, 2011.
Zaprulkhan, Filsafat Umum: Sebuah Pendekatan Tematik, Jakarta: Rajawali,
2013.

22