Anda di halaman 1dari 18

KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN

DI SMK BINA PUTRA KECAMATAN SUNGAI RAYA,


KABUPATEN KUBU RAYA
WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI RAYA DALAM
A; Latar Belakang
1. Karakteristik Komunitas
SMK Bina Putra merupakan salah satu sekolah yang ada di desa Parit Baru, kecamatan
sungai raya, kabupaten kubu raya dan termasuk wilayah kerja puskesmas sungai raya
dalam. SMK Bina Putra yang akan diberikan pendidikan kesehatan yaitu siswa/siswi kelas
X yang merupakan siswa baru yang masih mencari jati diri dan masih beradaptasi terhadap
lingkungan. Tanpa disadari tindakan kekerasan kerap kali srering terjadi dilingkungan
sekolah. Banyak orang menganggap tindakan kekerasan hanya lewat fisik padahal tindakan
kekerasan bisa melalui verbal contohnya mengejek. Mungkin sebagian orang beranggapan
itu hal biasa, tetapi ada beberapa orang yang tidak menerima dan berakibat pada
psikologisnya. Korban perilaku kekerasan dapat berakibat pada harga diri seseorang.
Sesorang akan merasa dikucilkan, tidak beharga, tidak memiliki kemampuan sehingga
perilaku kekerasan harus diberantas agar masing individu memiliki pribadi yang baik dan
kepercayaan dirinya.
2. Data Yang Dikaji Lebih Lanjut
Sebagian besar siswa/siswa mengatakan mereka tidak mengetahui tentang bullying
dan Harga Diri Rendah.
3. Diagnosa Keperawatan Komunitas
Kurang pengetahuan tentang perilaku kekerasan dan harga diri rendah berhubungan
dengan kurang terpapar informasi.
B; Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tetang materi kesehatan yang telah
disampaikan diharapakan siswa/siswi mengerti tentang perilaku kekerasan dan harga diri
rendah

2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan diharapkan siswa/siswi dapat memahami
materi tentang:
b; Pengertian Bullying dan harga diri rendah
c; Bentuk bullying
d; Dampak perilaku bullying dan harga diri rendah

C; Strategi Pelaksanaan
1; Topik:
Perilaku kekerasan dan harga diri rendah
2; Sasaran:
Siswa Siswi kelas X SMK Bina Putra, Desa Parit Baru
3; Metode:
a; Ceramah
b; Tanya jawab
c; Focus Group Discussion (FGD)
4; Media:
a; Leaflet
b; Power Point Slide Show
c; Pengeras suara/speaker
5; Waktu dan Tempat:
a; Hari

: Rabu , 13 April 2016

b; Jam

: 10.30 s/d selesai

c; Tempat

: SMK Bina Putra di desa parit baru

6; Pengorganisasian Kelompok
a; Penanggung Jawab : Achmad Ruslan
b; MC

: Rahadatul Aisyu Shalda

c; Operator

: Erma Mailaini

d; Pengisi materi

: Herlia Ofmi dersi

e; Notulen

: Nursiah

f; Fasilitator

: Fatri Ummy Kalsum, Riska

g; Perlengkapan

: Tri Wibowo, Marsono, bambang Alfiansyah

h; Dokumentasi

: Achmad Ruslan

D. Setting Tempat
A

B
C

C
D

Keterangan :
A

: Penyaji

: Pembawa Acara / Moderator

: Peserta

: Fasilitator

E. Susunan Acara
NO.
1
2
3
4
6

ACARA
Pembukaan
Perkenalan mahasiswa
Penyampaian Materi Pendidikan Kesehatan
Sesi Tanya Jawab
Penutup

WAKTU
5 Menit
5 Menit
10 Menit
5 Menit
5 Menit

F. Kriteria Evaluasi
1; Evaluasi Persiapan
a; Tempat di SMK Bina Putra
b; Waktu pelaksanaan telah ditentukan.
c; Media dan alat telah disiapkan oleh mahasiswa.
d; Siswa/siswi telah tersosialisasikan tentang pertemuan tersebut dengan cara informasi
lisan yang disampaikan oleh guru.
2; Evaluasi Proses
a; Mahasiswa hadir dan siap 30 menit sebelum acara dimulai.
b; 95% dari seluruh siswa/siswi telah hadir.
c; Semua peserta berperan aktif dalam diskusi dan diskusi tanya jawab.
d; Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat pada saat pertemuan berjalan.
e; Waktu pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
3; Evaluasi Hasil
a; Mahasiswa dapat memfasilitasi penyuluan kesehatan dengan baik.
b; Kegiatan penyuluhan kesehatan berjalan sesuai rencana

c; Para peserta penyuluhan kesehatan terlihat antusias dengan materi yang disajikan
d; Tingkat pengetahuan para peserta pendidikan kesehatan tentang perilaku kekerasan dan
harga diri rendah menjadi bertambah

LAMPIRAN MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN

BULLYING

A; Pengertian Bullying

Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya
ancaman yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau
rendah dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut
bully boy atau bully girl) berupa stress (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau
psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi,
cemas, dan lainnya).
Menurut Rigby, 2005; dalam Anesty, 2009 merumuskan bahwa bullying merupakan
sebuah hasrat untuk menyakiti, yang diperlihatkan dalam aksi sehingga menyebabkan
seseorang menderita. Aksi tersebut dilakukan secara langsung oleh seseorang atau
sekelompok orang yang lebih kuat dan tidak bertanggung jawab. Tindakan bullying
dilakukan secara berulang-ulang dan dengan perasaan senang (Retno Astuti, 2008: 3).
B; Tipe Bullying

Ada beberapa tipe bullying, yakni:


1; Physical bullying (Kontak fisik langsung): memukul, mendorong, mencubit, mencakar,
juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimliki orang lain.
2; Verbal bullying (kontak verbal langsung): mengancam, mempermalukan, merendahkan,
mengganggu, memberi panggilan nama (namecalling), sarkasme, merendahkan (putdown), mencela/mengejek, mengintimidsi, mengejek, menyebarkan gosip).
3; Non Verbal bullying (Perlaku non-verbal langsung): melihat dengan sinis, menjulurkan
lidah menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam,
biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal).
4; Indirect non verbal (Perilaku non verbal tidak langsung): mendiamkan seseorang,
memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau
mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.
5; Social Alienation (Alienasi sosial): mengecualikan seseorang dari kelompok, seperti
dengan menyebarkan rumor, dan mengolok-olok
6; Cyber bullying (Bullying elektronik): merupakan bentuk perilaku bullying yang
dilakukan pelakunya dengan menggunakan sarana elektronik seperti komputer,
handphone, internet, website, chatting room, e-mail, SMS dan sebagainya. Tujuannya,
meneror korban dengan menggunakan tulisan, animasi, gambar dan rekaman video atau
film yang sifatnya mengintimidasi, menyakiti atau menyudutkan. Bullying jenis ini

biasanya dilakukan oleh kelompok remaja yang telah memiliki pemahaman cukup baik
terhadap sarana teknologi informasi dan media elektronik lainnya.
C; Komponen Bullying

Ada beberapa komponen bullying, yakni:


1; The Bully
Stephenson dan Smith (dalam Trevi, 2010) mengindentifikasi ada tiga tipe dari pelaku
bullying, antara lain :
a; Pelaku yang percaya diri dimana pelaku mempunyai fisik yang kuat, menyukai agresi
atau kekerasan, selalu merasa aman dan mempunyai popularitas.
b; Pelaku yang cemas dimana pelaku merasa lemah dalam nilai akademiknya,
konsentrasi yang rendah, kurang terkenal dan juga kurang aman (ada 18% dari pelaku
dan sebagian besar adalah laki-laki).
c; Pelaku yang mengincar korban dalam situasi tertentu dan pelaku juga pernah di
bullied juga oleh orang lain.
Agus Sampurno menjelaskan, ada beberapa tandatanda pelaku dan karakteristik
di sekolah terjadi Bullying (dalam Trevi, 2010), yakni sebagai berikut:
1; Sikapnya agresif dan perilaku mendominasi terhadap orang lain, menjengkelkan.
2; Bersifat rahasia dan sulit untuk dilakukan pendekatan.
3; Secara teratur memiliki perhiasan, pakaian atau uang yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan,
4; Ada laporan dari anak-anak lain tentang perkelahian atau tindak kekerasan anak
tertentu sengaja menyakiti anak lain.
5; Memiliki bukti bahwa milik seorang anak telah dirusak atau merusak milik
seseorang.
6; Menggunakan orang lain untuk mendapatkan apa yang ia suka.
7; Terus-menerus menceritakan kebohongan tentang perilakunya.
8; Ketika ditanya, anak memperlihatkan perilaku yang tidak pantas dan sering
bermuka masam.
9; Menolak untuk mengakui melakukan sesuatu yang salah atau menerima kesalahan,
tetapi ketika mengakui kesalahan, tidak ada penyesalan nyata atau rasa empati.
10;Tampak menikmati menyakiti orang lain dan melihat mereka menderita, melihat
teman yang lebih lemah sebagai mangsa.
11; Menceritakan cerita atau membuat komentar menghasut (menyalahkan, mengkritik,
dan tuduhan palsu) tentang orang lain yang tidak benar untuk menempatkan mereka
ke dalam kesulitan.

12;Anak-anak lain yang diintimidasi menjadi gugup atau diam dalam kehadiran anak

tertentu.
13;Anak-anak lainnya berbohong untuk melindungi anak tertentu.
14;Tidak punya gambaran ke depan untuk mempertimbangkan konsekuensi atas
perilakunya.
15;Menolak untuk mengambil tanggung jawab atas tindakan-tindakan yang sudah
dilakukannya.
2; The Victim
Stephenson dan Smith (dalam Trevi, 2010) menjelaskan, ada tiga ciri korban, antara lain:
a; korban yang pasif mempunyai sifat cemas serta self esteem dan kepercayaan diri yang
rendah, mereka selalu merasa dirinya lemah dan tidak berdaya serta tidak dapat
berbuat apa-apa untuk menjaga diri mereka.
b; Korban yang proaktif mempunyai sifat yang lebih kuat secara fisik dan lebih aktif
dibandingkan korban yang pasif. (Olweus dalam Djuwita, Rohani & Fatmawati, 2006)
menjelaskan mereka mempunyai masalah terhadap daya konsentrasinya, mereka
cenderung menciptakan suasana yang tidak nyaman serta memprofokasi teman-teman
lainnya untuk melakukan bullying juga terhadap orang yang lebih lemah. (Olweus
dalam Trevi, 2010) menyatakan bahwa 1 dari 5 korban adalah yang bersifat
provokatif. Korban yang diprovokasi cenderung melakukan tindakan bullying juga.
Perry (dalam Trevi, 2010) menemukan bahwa hal yang paling ekstrim dari korban
adalah ketika mereka melakukan tindakan agresif, di bullied oleh anak yang lebih
kuat, lalu menjadi pelaku Bullying terhadap anak yang lebih lemah.
Menurut Agus Sampurno, ada beberapa tanda-tanda perilaku korban Bullying
(dalam Trevi, 2010), yakni sebagai berikut :
1; Tidak bahagia di sekolah dan malas bangun di pagi hari.
2; Merasa cemas meninggalkan sekolah dan mengambil rute pulang ke rumah yang
tidak biasa.
3; Mengeluh tentang perasaan sakit di pagi hari tanpa tanda-tanda fisik, produktifitas
semakin memburuk disertai dengan berkurangnya minat di sekolah.
4; Menjadi marah atau emosional untuk alasan sepele, Luka atau memar di tubuh di
mana penjelasan tidak benar-benar bisa dipercaya.
5; Buru-buru ke kamar mandi ketika pulang ke rumah dan enggan untuk pergi keluar
dan bermain.
6; Membuat pernyataan yang komentar dan menurunkan kemampuan diri (saya ini
tidak pantas punya teman, atau saya ini bodoh).

7; Menderita sakit perut, sakit kepala, serangan panik, atau luka yang tidak dapat

dijelaskan.
8; Tidak punya keterampilan sosial-emosional, tidak punya teman, Bermasalah dengan
kepemilikan buku sekolah, pakaian, mainan (hilang).
9; Mengembangkan minat yang tiba-tiba pada kegiatan pembelaan diri dan bergabung
dengan klub bela diri,
10;Menjadi gelisah ketika teman-teman di sekolah disebutkan.
11; Tidak tampil seperti biasa dan merasa tak berdaya diri, kelihatan atau merasa sedih,
kesal, marah atau takut setelah mendapat panggilan telepon atau email.
12;Memiliki konsep diri yang rendah dan tampak tidak bahagia.
3; The Bystander
Sullivan (2000, dalam Trevi, 2010) menyatakan bahwa bullying sangat
bergantung pada orang-orang disekeliling yang terlibat di dalamnya yang sering kali
disebut sebagai observer atau watcher yang tidak melakukan apa-apa untuk
menghentikan Bullying atau menjadi aktif terlibat dalam mendukung bullying.
Coloroso (dalam Trevi, 2010) menjelaskan, ada empat faktor yang sering menjadi
alasan bystander tidak bertindak apa pun, di antaranya:
a; Bystander merasa takut akan melukai dirinya sendiri.
b; Bystander merasa takut akan menjadi target baru oleh pelaku.
c; Bystander takut apabila ia melakukan sesuatu, maka akan memperburuk situasi yang
ada.
d; Bystander tidak tahu apa yang harus dilakukan.

D; Faktor Penyebab Bullying

Juwita dan Mellor (dalam Trevi, 2010) juga mengatakan bahwa Bullying dapat terjadi
akibat faktor lingkungan, keluarga, sekolah, media, dan per groupnya. Astuti (2008, dalam
Trevi, 2010) mengatakan, bullying disebabkan oleh lingkungan sekolah yang kurang baik,
senioritas yang tidak pernah diselesaikan, guru memberikan contoh yang kurang baik pada
siswa, kehidupan yang kurang harmonis di rumah, dan karakter anak itu sendiri.
1; Kompleksifitas masalah keluarga, seperti misalnya ketidakhadiran ayah, ibu menderita
depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian atau
ketidakharmonisan orang tua, dan ketidakmampuan sosial ekonomi, merupakan faktor
penyebab tindakan agresi yang signifikan (Wolf dalam pearce, Elliot, ed., 1997, dalam
Trevi, 2010).

2; Situasi keluarga yang penuh dengan permasalahan, membuat anak merasa tertekan.

3;
4;

5;

6;

7;
8;
9;
10;

Malah, dalam situasi seperti itu orang tua tak jarang memberikan hukuman fisik kepada
anak-anaknya.
Media massa juga bisa menjadi faktor penyebab terjadinya bullying.
Karakter anak sebagai pelaku umumnya adalah anak yang selalu berprilaku agresif, baik
secara fisikal maupun verbal, anak yang ingin populer, anak yang tiba-tiba sering
membuat onar atau selalu mencari kesalahan orang lain dengan memusuhi umumnya
termasuk dalam kategorti ini.
Merasa tertekan, terancam, terhina, dendam dan sebagainya. Keadaan lingkungan
keluarga yang tidak harmonis, dapat membentuk kepribaian seseorang menjadi agresif
dan kurang mampu mengendalikan emosi, sehingga memicu munculnya aksi bullying.
Faktor lain adalah, kondisi kehidupan sosial (terutama di kota-kota besar) yang mengidap
penyakit frustasi sosial, menyebabkan terjadinya adult oriental di masyarakat, sehingga
dapat mendorong terjadinya bullying.
Masalah gender sebagai laki-laki dengan kecenderungan untuk berkelahi.
Faktor psikologis dari orang tua, dimana orang tua yang memiliki kesehatan mental dan
jiwa yang kurang baik berpotensi besar memiliki anak yang melakukan tindakan bullying.
Faktor ingin mendapat pujian dari orang lain.
Korban siklus bullying

E; Dampak Bullying

Aksi bullying di sekolah dapat berdampak yang cukup serius, terutama kepada anak
yang menjadi korban aksi bullying. Efek bullying di antaranya:
1; Anak depresi
2; Depresi
3; Rendahnya kepercayaan diri / minder
4; Pemalu dan penyendiri
5; Prestasi akademik merosot.
6; Merasa terisolasi dalam pergaulan
7; Ingin mencoba untuk bunuh diri
Anak yang menjadi korban bullying dapat dideteksi dengan di antara beberapa ciri
berikut ini:
1; Enggan berangkat sekolah
2; Sering sakit secara tiba-tiba
3; Prestasi akademiknya turun.
4; Barang yang dimiliki hilang atau rusak

5; Mimpi buruk atau kesulitan tidur lela


6; Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat
7; Kesulitan berteman dengan kawan baru
8; Memiliki tanda fisik, seperti memar atau luka

F; Cara mengatasi dan pencegahan

Pencegahan buat anak yang menjadi korban bullying:


1; Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak
ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan
diri anak dalam segala situasi mengancam atau berbahaya, tidak saja dalam kasus
bullying. Pertahanan diri ini dapat berbentuk fisik dan psikis.
Pertahanan diri Fisik : bela diri, berenang, kemampuan motorik yang baik (bersepeda,
berlari), kesehatan yang prima.
Pertahanan diri Psikis : rasa percaya diri, berani, berakal sehat, kemampuan analisa
sederhana, kemampuan melihat situasi (sederhana), kemampuan menyelesaikan masalah.
2; Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak menyenangkan yang
mungkin ia alami dalam kehidupannya. Untuk itu, selain kemampuan mempertahankan
diri secara psikis, maka yang diperlukan adalah kemampuan anak untuk bertoleransi
terhadap beragam kejadian. Sesekali membiarkan (namun tetap mendampingi) anak
merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya.
3; Walau anak sudah diajarkan untuk mempertahankan diri dan dibekali kemampuan agar
tidak menjadi korban tindak kekerasan, tetap beritahukan anak kemana ia dapat
melaporkan atau meminta pertolongan atas tindakan kekerasan yang ia alami (bukan saja
bullying). Terutama tindakan yang tidak dapat ia tangani atau tindakan yang terus
berlangsung walau sudah diupayakan untuk tidak terulang.
4; Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan sebaya atau dengan
orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman, diharapkan anak tidak terpilih menjadi
korban bullying karena :

a; Kemungkinan ia sendiri berteman dengan pelaku, tanpa sadar bahwa temannya pelaku

bullying pada teman lainnya.


b; Kemungkinan pelaku enggan memilih anak sebagai korban karena si anak memiliki

banyak teman yang mungkin sekali akan membela si anak.


c; Sosialisasi yang baik dengan orang yang lebih tua, guru atau pengasuh atau lainnya,

akan memudahkan anak ketika ia mengadukan tindakan kekerasan yang ia alami.


Penanganan buat anak yang menjadi pelaku Bullying:
1; Segera ajak anak bicara mengenai apa yang ia lakukan. Jelaskan bahwa tindakannya
merugikan diri dan orang lain. Upayakan bantuan dari tenaga ahlinya agar masalah
tertangani dengan baik dan selesai dengan tuntas.
2; Cari penyebab anak melakukan hal tersebut. Penyebab menjadi penentu penanganan.
Anak yang menjadi pelaku karena rasa rendah diri tentu akan ditangani secara berbeda
dengan pelaku yang disebabkan oleh dendam karena pernah menjadi korban.Demikian
juga bila pelaku disebabkan oleh agresifitasnya yang berbeda.
3; Posisikan diri untuk menolong anak dan bukan menghakimi anak.
Cara paling ideal untuk mencegah terjadinya bullying :
1; Mengajarkan kemampuan asertif, yaitu kemampuan untuk menyampaikan pendapat atau

opini pada orang lain dengan cara yang tepat. Hal ini termasuk kemampuan untuk
mengatakan TIDAK atas tekanan-tekanan yang didapatkan dari teman/pelaku bullying.
2; Sekolah meningkatkan kesadaran akan adanya perilaku bullying (tidak semua anak

paham apakah sebenarnya bullying itu) dan bahwa sekolah memiliki dan menjalankan
kebijakan anti bullying. Murid harus bisa percaya bahwa jika ia menjadi korban, ia akan
mendapatkan pertolongan. Sebaliknya, jika ia menjadi pelaku, sekolah juga akan
bekerjasama

dengan

orangtua

agar

bisa

bersama-sama

membantu

mengatasi

permasalahannya.
3; Memutus lingkaran konflik dan mendukung sikap bekerjasama antar anggota komunitas

sekolah, tidak hanya interaksi antar murid dalam level yang sama tapi juga dari level
yang berbeda.

Pencegahan Bullying Secara Preventif :


1; Sosialisasi antibullying kepada siswa, guru, orang tua siswa, dan segenap civitas
akademika di sekolah.
2; Penerapan aturan di sekolah yang mengakomodasi aspek antibullying.
3; Membuat aturan antibullying yang disepakati oleh siswa, guru, institusi sekolah dan
semua civitas akademika institusi pendidikan/ sekolah.
4; Penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan
sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi.
5; Membangun komunikasi dan interaksi antarcivitas akademika.
6; Meminta Depdiknas memasukkan muatan kurikulum pendidikan nasional yang sesuai
dengan tahapan perkembangan kognitif anak/siswa agar tidak terjadi learning difficulties.
7; Pendidikan parenting agar orang tua memiliki pola asuh yang benar.
8; Mendesak Depdiknas memasukkan muatan kurikulum institusi pendidikan guru yang
mengakomodasi antibullying.
9; Muatan media cetak, elektronik, film, dan internet tidak memuat bullying dan mendesak
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengawasi siaran yang memasukkan unsur bullying.
10; Perlunya kemudahan akses orang tua atau publik, lembaga terkait, ke institusi
pendidikan/sekolah sebagai bentuk pengawasan untuk pencegahan dan penyelesaian
bullying atau dibentuknya pos pengaduan bullying.
Solusi Ketika Telah Terjadi Bullying:
1; Pendekatan persuasive, personal, melalui teman (peer coaching).
2; Penegakan aturan/sanksi/disiplin sesuai kesepakatan institusi sekolah dan siswa, guru dan
sekolah, serta orang tua dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur pemberian sanksi, lebih

ditekankan pada penegakan sanksi humanis dan pengabdian kepada masyarakat (student
service).
3; Dilakukan komunikasi dan interaksi antar pihak pelaku dan korban, serta orangtua.
4; Ekspose media yang memberikan penekanan munculnya efek negatif terhadap perbuatan
bullying sehingga menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak melakukan
perbuatan serupa.

LAMPIRAN MATERI PENDIDIKAN KESEHATAN


HARGA DIRI RENDAH
A; Pengertian Harga Diri Rendah
1; Remaja

Remaja di definisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa.


Batasan usia menurut WHO (2007) adalah 12 sampai 24 tahun. Remaja merupakan
tahapan seseorang dimana ia berada fase anak dewasa yang ditandai dengan perubahan
fisik, perilaku , kognitif, biologis, dan emosi (Effendi, 2009).
2; Harga diri rendah

Harga diri rendah adalah evaluasi / perasaan negative tentang diri sendiri atau
kecakapan diri sendiri yang berlangsung lama (NANDA.2011 hal. 227).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti, dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi yang negative terhadap diri sendiri atau kemampuan diri.
Adanya perasaan hilang kepercayaan diri, merasa gagal karena tidak mampu mencapai
keinginan sesuai ideal diri (keliat, 1998 dalam yosep.2010 hal 255).
B; PenyebabHargaDiriRendah

Menurut Kelliat (2009) , gangguan harga diri yang disebut harga diri rendah dapat terjadi
secara :
1; Situasional

Yaitu terjadi trauma yang tibatiba , misalnya baru operasi kecelakaan, dicerai suami,
putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban
perkosaan, dituduh KKN, di penjara tiba-tiba ).
Pada klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah karena :
a; Privasi yang kurang diperhatikan, misalnya : Pemeriksaan fisik yang sembarangan,

pemasangan

alat

yang

kateter,pemeriksaan perineal )

tidak

sopan

(pencukuran

pubis,

pemasangan

b; Harapan akan struktur ,bentuk dan fungsi yang tidak tercapai dirawat/sakit atau

penyakit.
c; Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai,Misalnya pemeriksaan dilakukan

tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.


2; Maturasional

Ada beberapa factor yang berhubungan dengan maturasi adalah :


a; Bayi / Usia bermain / Prasekolah

Berhubungan dengan kurang stimulasi atau kedekatan ,perpisahan dengan orang


tua, evaluasi negative dari orang tua, tidak adekuat dukungan orang tua , ketidak
mampuan mempercayai orang terdekat
b; Usiasekolah

Berhubungan dengan kegagalan mencapai tingakat atau peringkat objektif,


kehilangan kelompok sebaya, umpan balik negative berulang
c; Remaja

Pada usia remaja penyebab harga diri rendah , jenis kelamin, gangguan hubungan
teman sebagai perubahan dalam penampilan,masalah-masalah pelajaran kehilangan
orang terdekat.
d; Usiasebaya

Berhubungan dengan perubahan yang berkaitan dengan penuaan.


e; Lansia

Berhubungan dengan kehilangan ( orang, financial, pensiun )


3; Kronik

Yaitu perasaan negative terhadap diri yang berlangsung lama yaitu sebelum sakit atau
dirawat. Klien mempunyai cara berfikir yang negative. Kejadian dirumah sakit akan
menambah persepsi negative terhadap dirinya.
C; Tanda dan GejalaHargaDiriRendah

Menurut Stuart and Sundeen (1998) Perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah
adalah :

1; Mengkritik diri sendiri dan orang lain karena merasa diri kurang sempurna sehingga akan

timbul penurunan produktivitas sebab asumsi diri yang tidak berguna maka timbul
penurunan destruktif yang di arahkan ke orang lain, orang lain merasa lebih dari dirinya
yang mengakibatkan gangguan dalam berhubungan, perasaan tidak mampu dan selalu
merasa bersalah.
2; Mudah tersinggung atau marah yang berlebihan dan selalu mempunyai perasaan negative

terhadap dirinya, terjadi ketegangan peran, pandangan hidup yang pesimis sampai pada
keluhan fisik.
3; Pandangan hidup yang bertentangan menjadikan penolakan terhadap kemampuan

personal dan destruktif yang mengarah pada diri sendiri, pengurangan diri, menarik diri
secara social, penyalahgunaan obat yang dilakukan mengakibatkan kecemasan.
D; DampakdariHargaDiriRendah

Dampak dari harga diri rendah yang terjadi pada remaja dapat menimbulkan emosi dan
perilaku yang negatif. Remaja dengan harga diri rendah berfokus kepada penilaian negative
tentang diri sendiri dan menghindari resiko sebagai upaya untuk memelihara kondisi.
E;

Cara MeningkatkanHargaDiripadaRemaja
1; Catat hal-hal positif yang dimiliki
2; Melatih kegiatan positif yang dimiliki untuk meningkatkan rasa percaya diri
3; Hindari perilaku negatif.

KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN


DI SMK BINA PUTRA KECAMATAN SUNGAI RAYA,
KABUPATEN KUBU RAYA
WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI RAYA DALAM
A; Uraian Pelaksanaan Kegiatan
1; Persiapan

Sebelum dilaksanakannya kegiatan pendidikan kesehatan, kelompok kami membuat


surat pemeritahuan yang diberikan kepada pihak SMA BINA PUTRA Sungai Raya
sehingga kami melakukan kontrak waktu serta ditentukan hari Rabu, 13 April 2016.
2; Pelaksanaan
Mahasiswa sudah menyiapkan perlengkapan untuk melakukan pendidikan kesehatan
sebelum dimulai. Setelah para peserta berkumpul, para mahasiswa melakukan pendidikan
kesehatan selama 30 menit. Pada saat mahasiswa memberikan pendidikan kesehatan, para
peserta tampak antusias dengan materi yang diberikan.
B; Kriteria Evaluasi
1; Evaluasi Struktur
a; Menghubungi Kepala Sekolah SMA BINA PUTRA Sungai Raya
b; Kontrak waktu dengan pihak sekolah SMA BINA PUTRA Sungai Raya selaku tuan

Rumah
c; Pelaksanaan akan diadakan hari Rabu, 13 April 2016
2; Evaluasi Proses
a; Mahasiswa hadir dan siap 30 menit sebelum acara dimulai.
b; 90 % dari seluruh siswa/siswi telah hadir.
c; Semua siswa/siswi berperan aktif dalam diskusi dan diskusi tanya jawab.
d; Tidak ada siswa/siswi yang meninggalkan tempat pada saat pertemuan berjalan.
e; Waktu pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

3; Evaluasi Hasil

a; Mahasiswa dapat memfasilitasi pendidikan kesehatan dengan baik.


b; Peserta sangat kooperatif dan antusias dengan pengadaan pendidikan kesehatan yang
diadakan oleh Mahasiswa.
c; Peserta dapat memahami materi yang disampaikan Mahasiswa.

C; Analisis Situasi (Factor Pendukung dan Penghambat)


1; Faktor Pendukung
a; Peserta yang kooperatif
b; Kepala sekolah beserta staf guru SMA BINA PUTRA Sungai Raya yang bersedia

menyediakan tempat untuk berkumpulnya siswa/siswi.


2; Faktor Penghambat
Siswi/siswi ada yang ribut saat pemateri menyampaikan pendidikan kesehatan
D; Rekomendasi
Dari hasil pendidikan kesehatan yang telah dilakukan peserta mengerti dengan materi yang
telah disampaikan. Mahasiswa berharap peserta yang hadir dapat menerapkan ilmu yang
sudah diberikan, serta dapat menyampaikan ilmu tersebut dengan keluarga dan teman
temannya yang lain sehingga ilmu dari pendididkan kesehatan dapat berguna bagi diri sendiri
dan orang lain.