Anda di halaman 1dari 23

BAB I

AKHLAK DAN MUAMALAH


A.

Pengertian Akhlak
Secara etimologis, kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluq

yang dalam kamus al-Munjid diartikan dengan harga diri, kebiasaan, perangai,
dan tabiat (Ma`luf, 1984: 194), dan dalam al-Mu`jam al-Asasi diartikan dengan
sekumpulan sifat jiwa dan amal perbuatan manusia yang dianggap baik atau buruk
(Tim, 1988: 419), sedangkan dalam Dairah al-Ma`arif diartikan dengan sifat-sifat
manusia yang berbau moral (Yunus,t.t.: 436). Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata akhlak diartikan dengan budi pekerti, kelakuan (Tim, 1993: 15).
Dalam bahasa Arab kata khuluq memiliki akar kata yang sama dengan kata
khalq (ciptaan,makhluk,perangai) yang keduanya sama-sama digunakan. Misalnya
dikatakan:

artinya: Si Fulan baik perangai batin dan lahirnya. Khuluq merupakan perangai
batin, sementara khalq merupakan perangai lahir (Al-Ghazali, 1989: 58).
Sedangkan akhlak secara terminologis adalah sebagai berikut:
1.

Menurut Ibnu Maskawaih (wafat 421 H/1030 M) dalam bukunya Tahdzib


al-Akhlaq, bahwa yang dimaksud dengan akhlak adalah:

2.

Artinya: Satu kondisi (sifat) yang ada dalam jiwa yang mendorong untuk
melakukan sesuatu tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan
(Maskawaih, )
Menurut al-Ghazali (wafat 505 H/1111 M) dalam bukunya Ihya`
Ulumuddin, bahwa akhlak adalah:



Artinya:Kondisi (sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya
amal perbuatan lahir dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan
pertimbangan (Al-Ghazali,1989: 57)

Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan:


Pertama, bahwa akhlak merupakan sifat batiniah yang sudah menginternal dan
mendarah daging dalam diri seseorang dan sudah menjadi watak dan tabiatnya. Ia
merupakan sifat yang murni dalam diri seseorang yang melahirkan perbuatan
tanpa ada unsur lain yang mempengaruhinya. Orang yang memiliki akhlak
dermawan misalnya, maka kedermawanan itu memang sudah merupakan watak
dan tabiatnya. Apabila ia berbuat derma, maka perbuatan itu dilakukannya tanpa
ada unsur lain yang mempengaruhinya selain sifat kedermawanan yang sudah
menjadi akhlaknya tersebut.
Kedua, perbuatan akhlak muncul dari diri seseorang secara mudah dan spontan
tanpa pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu. Maksudnya bahwa perbuatan
tersebut dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan, atau susah payah, atau karena
pengaruh faktor di luar dirinya. Oleh karena itu apabila orang melakukan
kejujuran karena terpaksa, atau agar dilihat sebagai orang yang baik, atau karena
pertimbangan faktor politik, ekonomi, atau yang lain misalnya, maka perbuatan
tersebut tidaklah dapat disebut sebagai perbuatan akhlak kejujuran dan orang yang
melakukannaya tidak dapat dikatakan memiliki akhlak kejujuran.
Dengan demikian akhlak terkait dengan sesuatu yang ada dalam diri
manusia yang sifatnya sudah mendarah-daging dan menginternal serta merupakan
motivator berbuat secara suka rela. Akhlak bukanlah gambaran tentang perbuatan,
sebab kadangkala ada orang yang akhlaknya dermawan akan tetapi tidak dapat
memberi karena tidak punya uang atau karena halangan. Begitu pula ada orang
yang akhlaknya bakhil akan tetapi ia memberi karena ada faktor luar yang
mendorongnya atau karena riya` (Al-Jurjani, 1993: 136).

B. Perbedaan Akhlak, Etika dan Moral


Biasanya kata akhlak disamakan dengan kata etika dan moral. Meskipun ada
titik kesamaan antara ketiga kata tersebut akan tetapi ada pula titik perbedaannya.
Secara etimologis kata etika berasal dari bahasaYunanai ethos yang berarti
adat kebiasaan (Bertens, 1997:4). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia etika
diartikan dengan:
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan
kewajiban moral (akhlak)
2. Kumpulan asas atau nilai yang berhubungan dengan akhlak
3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau
masyarakat (Tim, 1993: 237)
Sedangkan secara terminologis ada beberapa pengertian yang disampaikan
oleh para pakar, di antaranya:
1. Menurut Ahmad Amin dalam bukunya Etika (Ilmu Akhlak) bahwa Etika
adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang
seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju
oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk
melakukan apa yang seharusnya diperbuat (Amin, 1983: 3)
2.

Menurut Lewis Mulford Adams dalam New Masters Pictorial


Encyclopaedia sebagaimana dikutip oleh Asmaran As, bahwa Etika adalah
ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilai-nilai,
tidak mengenai sifat tindakan manusia, tetapi tentang idenya (Asmaran
1992: 6)

3.

Menurut Hamzah Yaqub dalam buku Etika Islam bahwa Etika adalah ilmu
yang menyelidiki mana yang bak dan mana yang buruk dengan
memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh
akal pikiran (Yaqub, 1983: 13)

Dari definisi di atas dapatlah disimpulkan:


Pertama, etika merupakan disiplin ilmu pengetahuan yang objek kajiannya adalah
tingkah laku manusia untuk menentukan baik dan buruknya

Kedua, dalam etika ukuran untuk menentukan baik-buruk tingkah laku manusia
tersebut adalah akal pikiran
Ketiga, etika bersifat teoritis dan memandang tingkah laku manusia secara
universal.
Sedangkan moral secara etimologis berasal dari bahasa Latin mores yaitu
jamak dari mos yang berarti adal kebiasaan (Asmaran As, 1992: 8). Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia moral diartikan dengan ajaran tentang baik-buruk yang
diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb.

Secara terminologis kata moral didefinisikan sebagai berikut:


1.

Menurut Carter V Good dalam Dictionary of Education sebagaimana


dikutip oleh Asmaran As: Moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau
perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, buruk (Loc
cit)

2.

Menurut Soegarda Poerbakatja dalam Ensiklopde Pendidikan: Moral


adalah nilai dasar dalam masyarakat untuk memilih antara nilai hidup
(moral). Juga adat istiadat yang menjadi dasar untuk menentukan baik dan
buruk (Poerbakatja, 1976: 186).

Dari pengertian di atas dapatlah disimpulkan:


Pertama, dari sisi objek kajiannya, moral sama dengan etika yang membicarakan
tingkah laku manusia dari sisi baik dan buruknya.
Kedua, tolok ukur moral untuk menentukan baik dan buruk dari perbuatan
manusia adalah adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
Ketiga, moral memandang tingkah laku manusia secara lokal (terbatas) dan lebih
bersifat praktis.
Dari pengertian dan definisi di atas dapat diketahui bahwa titik persamaan
antara akhlak, etika, dan moral adalah ketiganya sama-sama membicarakan
persoalan baik dan buruk dari perbuatan manusia. Sedangkan titik perbedaannya
adalah dari sisi tolok ukur untuk menentukan baik dan buruk dari perbuatan
manusia. Dalam akhlak, tolok ukurnya adalah wahyu (al-Quran dan al-Sunnah),
4

dan dalam etika tolok ukurnya adalah akal pikiran manusia, sementara dalam
moral tolok ukurnya adalah adat istiadat masyarakat sekitar.
Dengan demikian, akhlak sifatnya mutlak, absolut dan tidak dapat diubah.
Sementara etika dan moral sifatnya terbatas dan dapat diubah (Nata, 1997: 95).
Apa yang ditentukan sebagai akhlak yang baik, dimana saja dan kapan saja akan
tetap merupakan akhlak yang baik. Akan tetapi apa yang disebut dengan etika atau
moral yang baik tidak selamanya merupakan etika atau moral yang baik untuk
segala tempat dan masa.
C. Sasaran Akhlak
Akhlak dalam Islam mencakup banyak dimensi kehidupan manusia. Ia
memiliki ruang lingkup yang luas seluas dimensi perilaku manusia itu sendiri.
Akhlak dalam Islam tidak sama dengan etika yang ruang lingkupnya hanya
terbatas pada sopan santun antar manusia dan hanya berkaitan dengan tingkah
laku lahiriah manusia saja. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Quran
membagi sasaran akhlak menjadi tiga:
1. Akhlak terhadap Allah
2. Akhlak terhadap sesama manusia
3. Akhlak terhadap lingkungan (Lihat Shihab, 2003:261-273)
Berikut ini penjelasan sekilas tentang ketiga sasaran akhlak Islamiyah
tersebut:
1. Akhlak terhadap Allah
Akhlak ini mencakup persoalan tata hubungan manusia dengan Allah
(hablumminallah), yakni bagaimana seharusnya manusia berperilaku dan bersikap
terhadap Allah. Titik tolak Akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran
bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Sempurna dalam sifat, nama, dan
perbuatan-Nya. Pengakuan dan kesadaran semacam ini membawa konsekuensi
agar dalam melakukan hubungan dengan Allah manusia selalu menyadari bahwa
dirinya adalah makhluk yang lemah, terbatas, dan tidak sempurna, serta selalu
membutuhkan pertolongan Allah, sementara Allah adalah Tuhan Yang Maha
Sempurna dan Absolut, semua yang diperbuat oleh Allah terhadap manusia selalu
mengandung hikmah dan kebaikan sehingga harus diterima dengan sepenuh hati

dan penuh keikhlasan meskipun kadangkala manusia tidak dapat mengetahui


hikmah tersebut. Dengan pengakuan dan kesadaran tersebut kita temukan dalam
ajaran Islam ada perintah kepada manusia untuk memuji Allah dan selalu
mengingat Nya, bersyukur kepada Nya atas segala nikmat dan pemberian Nya
yang tak terhitung, menyerahkan dan mengembalikan persoalan kepada Allah
yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu, bertawakkal (menyerahkan diri
sepenuhnya) kepada Nya, berprasangka baik terhadap Nya, dan beberapa perintah
yang lain. Selain itu dalam ajaran Islam kita temukan pula sikap-sikap yang tidak
diperkenankan untuk dilakukan oleh manusia terhadap Allah, misalnya syirik
(menyekutukan Allah), kufur (tidak menyukuri) terhadap nikmat Allah,
berprasangka buruk terhadap Allah, dll. Allah berfirman:


Artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya
telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang
atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka
adalah orang-orang yang fasik ( Q.S Al Hadiid [57] : 16)

Artinya:Dan sembahlah Allah dan jangan menyekutukan Nya dengan sesuatu

Artinya:Apabila kamu telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah
Apabila manusia telah mampu menanamkan sikap yang benar terhadap
Allah, ia akan selalu mengingat Allah, memuji Nya, mencintainya, mentaati
perintah Nya, menjauhi larangan Nya secara ikhlas, dan selalu bergantung kepada
Nya. Ia akan menyadari betul bahwa kehidupan yang ada ini tidak bisa dilepaskan
dari peran besar Allah sebagai Penciptanya sehingga jalan menuju
kebahagiaanpun hanya akan diperoleh dengan mengikuti aturan dan ajaran agama
yang diridlai Nya.
2. Akhlak kepada sesama manusia

Akhlak ini mencakup banyak segi dalam hubungan sosial manusia dengan
sesamanya (hablumminannaas) baik dalam persoalan keluarga, bertetangga,
bergaul dan berinteraksi dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya,
hukum ( bermuamalah). Akhlak ini tidak hanya menyangkut sikap-sikap yang
berkaitan dengan fisik orang lain, akan tetapi juga termasuk hal-hal yang
berkaitan dengan hati dan perasaan orang lain, dan tidak pula hanya mencakup
hubungan sesama muslim, akan tetapi hubungan dengan sesama manusia apapun
agama dan keyakinannya.
Ajaran mendasar tentang akhlak terhadap sesama manusia adalah
kesadaran tentang harkat dan martabat manusia yang merupakan makhluk yang
dimulyakan oleh Allah yang harus dihargai, dan kesadaran bahwa setiap manusia
memiliki kelebihan dan kekurangan, kebaikan dan keburukan yang harus
dimaklumi. Oleh sebab itu Islam mengajarkan agar memandang sesama manusia
sebagai makhluk Allah yang sama posisinya yang kadangkala benar dan
kadangkala salah. Dengan titik pandang seperti ini maka manusia akan terhindar
dari sifat-sifat sombong, riya, menghina orang lain; dan akan menumbuhkan sifat
toleran, pemaaf, dan menghargai orang lain. Selain itu Islam juga mengajarkan
agar menempatkan manusia secara wajar sesuai dengan derajat dan keistimewaan
yang dimilikinya. Orang yang lebih muda menghargai orang yang lebih tua, orang
yang lebih tua mengasihi orang yang lebih muda, orang yang tidak berilmu
menghormati orang yang berilmu, anak menghormati orang tuanya, murid
menghormati gurunya, dst. Di sini Islam mengakui adanya perbedaan derajat antar
manusia. Perbedaan tersebut dapat berupa usia, ilmu, dan kualitas iman. Allah
menyatakan:
(8 )
Artinya:Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang
tuanya (Q.S. Al-Ankabut [29]: 8)


Artinya: . maka Allah mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang
yang berilmu di antara kamu dengan beberapa derajat (Q.S.Dzariyat : 11) )


Artinya:Katakan, apakah sama antara orang yang berilmu dengan yang tidak
berilmu (Q.S Az-Zumar (39) : 9 )


Artinya:Sesungguhnya yang paling mulya diantara kamu di sisi Allah adalah
yang paling bertakwa. Q.S ( Al Hujuraat (49) :13)
Dan dalam hadis Rasulullah Saw. Menyatakan:


Artinya:Tidaklah termasuk umatku orang yang tidak menunjukkan kasih sayang
kepada yang lebih muda dan tidak menghormati kepada yang lebih tua (H.R.
Ahmad dan al-Hakim)
Dalam akhlak Islam juga ada ajaran agar manusia menjaga privacy dan
perasaan orang lain sehingga ada larangan untuk memasuki rumah tanpa izin tuan
rumahnya, ada larangan mengungkap aib orang lain, menggunjing, mencemooh,
memfitnah, berkhianat, menipu dan sebangsanya. Islam melarang perilaku untuk
mencapai kemenangan atau kebahagiaan namun membuat orang lain menderita,
atau dengan kata lain mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di atas penderitaan
orang lain. Akhlak Islam mengajarkan untuk lebih mengutamakan orang lain dari
pada diri sendiri. Kalau di negara Barat sering dikatakan Anda boleh melakukan
perbuatan apapun selama tidak bertentangan atau mengganggu hak orang lain,
maka Islam mengajarkan Mereka (orang-orang yang beriman) mengutamakan
orang lain dari pada diri mereka sendiri, walaupun mereka amat membutuhkan
(Q.S. al-Hasyr [59]: 9).
Dalam pembahasan tentang pengertian akhlak menurut Al-Ghazali di atas
disebutkan bahwa dari akhlak akan lahir perbuatan manusia secara mudah tanpa
pemikiran dan pertimbangan. Selanjutnya Al-Ghazali mengatakan: Apabila yang
keluar dari akhlak manusia itu perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji
menurut akal dan agama maka disebut dengan akhlak yang baik (akhlaq
hasanah),akan tetapi apabila yang keluar dari akhlak itu perbuatan-perbuatan
yang buruk maka disebut dengan akhlak yang buruk (akhlaq sayyi`ah) (AlGhazali, 1989: 57).

Akhlaq Hasanah (akhlak yang baik) atau akhlaq karimah (akhlak yang
mulia), yaitu akhlak yang dari padanya lahir perbuatan-perbuatan yang baik dan
terpuji yang sesuai dengan akal dan agama. Akhlaq Sayyi`ah (akhlak yang buruk)
atau akhlaq madzmumah (akhlak yang tercela),yaitu akhlak yang dari padanya
lahir perbuatan-perbuatan buruk dan tercela yang bertentangan dengan akal dan
agama.
Contoh-contoh akhlak yang mulia dan akhlak yang tercela dapat dilihat
dalam paparan singkat berikut ini. Di antara akhlak mulia yang ditekankan oleh
Islam adalah:
a. Malu
Sifat malu merupakan salah satu karakteristik orang Islam yang
ditekankan oleh Rasulullah Saw. Dan diteladankan dalam kehidupan beliau. Abu
Said al-Khudri meriwayatkan: Rasulullah Saw. Lebih malu daripada seorang
gadis pingitan. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai, kami hanya
bisa menyimpulkan dari ekspresi wajahnya (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Sebagaimana didefinisikan oleh para ulama, Malu merupakan sikap mulia
yang senantiasa mendorong seseorang untuk menghindari perbuatan buruk dan
mencegahnya dari kegagalan melaksanakan kewajibannya terhadap orang-orang
yang menjadi tanggungjawabnya (Al-Hasyimi, 1999:260). Sifat malu merupakan
salah satu cabang iman dan akan selalu membawa kebaikan. Rasulullah Saw.
Bersabda:
Malu tidak membawa apa-apa selain kebaikan (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Iman memiliki lebih 70 cabang. Cabang yang tertinggi adalah mengucapkan
lailahaillallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya
dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman (H.R. al-Bukhari dan
Muslim).
Orang yang memiliki sifat malu selalu peka terhadap dirinya dan diri
orang lain. Ia akan selalu memikirkan dan mengontrol apa yang akan ia perbuat
dan mengukurnya dengan nilai-nilai Islam. Jika yang akan diperbuat melanggar
nilai-nilai agama ia enggan untuk melakukan karena malu terhadap Allah dan
merasa takut akan bercampurnya keimanan dengan kesalahan. Ia merasa malu

untuk melakukan penghianatan terhadap nikmat yang diberikan oleh Allah.


Apabila ia diberikan keindahan tubuh, ia tidak menggunakannya untuk hal-hal
yang akan membawa fitnah bagi orang lain, ia tidak mempertontonkan keindahan
tubuhnya di hadapan orang lain atau untuk dinikmati oleh orang lain. Apabila ia
diberi kekayaan, ia tidak akan menggunakannya untuk hal-hal yang akan
menjauhkan dirinya dari Allah, ia tidak menggunakannya untuk berhura-hura
demi kepuasan nafsunya. Apabila ia dikarunia ilmu pengetahuan, iapun tidak akan
menggunakannya untuk hal-hal yang tidak membawa kebaikan, ia tidak akan
memanfaatkan ilmu pengetahuannya untuk sekedar mencari popularitas atau uang
namun melanggar aturan-aturan Allah. Dengan demikian, sifat malu selalu
melindunginya dari segala kesalahan dan membimbingnya menuju kebenaran.
Dalam masyarakat modern saat ini, sifat malu sudah mulai pudar. Banyak
orang tidak lagi merasa malu melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilainilai agama. Mereka tidak merasa risih apalagi merasa berdosa dengan
pelanggaran-pelanggaran yang mereka lakukan secara sembunyi maupun terangterangan, dilihat orang maupun tidak dilihat orang. Mata mereka sudah mulai
buta, telinga mereka sudah mulai tuli untuk melihat dan mendengar kebenaran,
sementara hati mereka -karena seringkali melakukan dosa- mulai sakit sehingga
sulit menerima kebenaran. Nikmat yang diberikan oleh Allah tidak lagi
dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan tetapi dimanfaatkan
untuk komoditi dan kepuasaan nafsunya. Mereka kehilangan kesadaran bahwa
Allah selalu mengontrol dan akan meminta pertanggungjawaban dari semua
nikmat yang mereka terima. Hilangnya kesadaran yang demikian akan mendorong
mereka melakukan segala hal semau mereka. Rasulullah Saw. Menyatakan:
Apabila kamu tidak lagi merasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu
b. Sabar dan Pemaaf
Sifat sabar merupakan salah satu sifat yang ditekankan dalam al-Quran.
Sifat ini merupakan salah satu karakteristik orang Islam. Dengan sifat ini orang
akan mampu mengendalikan emosi dan amarahnya dan selalu mengontrolnya
untuk tetap berada pada keseimbangan diri dalam menjalankan periuntah-perintah

10

Allah dan menjauhi larangan-larangannya. Orang yang sabar akan dicintai oleh
Allah dan bersama-sama dengan Nya sebagaimana disebutkan dalam firmannya:
Artinya:(yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Q.S. Ali
Imran [3]:134)

Artinya: Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar . (Q.S. Al Baqarah
{2} : 153)

Orang yang memiliki sifat sabar ini menyadari bahwa ukuran kejantanan
seseorang bukan terletak pada kemampuannya mengalahkan orang secara fisik,
akan tetapi adalah kemampuannya dalam menjaga keseimbangan, kesabaran, dan
kontrol diri. Rasulullah Saw. mengatakan:
Artinya:Orang kuat itu bukanlah orang yang bisa menjatuhkan seseorang ke
tanah, akan tetapi orang yang bisa mengendalikan diri ketika sedang marah (H.R.
al-Bukhari dan Muslim).
Kemampuan untuk mengendalikan diri ini akan muncul manakala orang
menyadari bahwa setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan, dan tidak
merasa bahwa apa yang menjadi konsepnya, apa yang sedang dilakukan adalah
yang paling baik di antara yang lain. Orang yang sabar akan melihat orang secara
porposional dan objektif. Apabila ia marah, kemarahan itu bukan demi
kepentingan dirinya, akan tetapi demi Allah ketika sebagian hukum-hukum Allah
dilanggar atau dikesampingkan atau salah satu ritusnya dihina. Hal seperti ini
biasa ditunjukkan oleh Rasulullah Saw.. Beliau pernah marah ketika ada seorang
yang melaporkan bahwa ia enggan mengikuti shalat berjamaah karena yang
menjadi imam selalu memanjangkan bacaan shalatnya, beliau bersabda:Wahai
manusia, ada beberapa orang yang mencegah orang lain dari berbuat kebaikan.
Jika seseorang mengimami shalat, hendaknya memendekkan shalatnya karena di
belakangnya ada orang yang sudah tua, anak kecil, dan orang yang terdesak
kebutuhan (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

11

Beliau juga marah ketika Usamah bin Zaid salah satu sahabat yang dicintai oleh
Rasulullah meminta kebebasan perempuan dari hukum potong tangan akibat
mencuri. Ketika itu beliau langsung bangkit dan berceramah:Orang-orang
sebelum kalian rusak ketika orang yang terhormat melakukan pencurian, mereka
tidak menghukumnya, namun ketika orang lemah yang mencuri, mereka
menerapkan hukumannya. Demi Allah seandainya Fatimah putri Muhammad
mencuri, pasti akan aku potong tangannya Inilah alasan kemarahan yang
dibenarkan oleh Islam. Kemarahan hanya boleh dilakukan karena Allah bukan
karena manusia (Ibid, 288)
Dalam kehidupan saat ini, seringkali kita menemukan banyak orang tidak
mampu lagi mengendalikan dirinya. Mereka tidak sabar menghadapi kesalahan
orang lain terhadap dirinya atau kelompoknya atau masyarakatnya. Akibatnya,
yang dikedepankan adalah kesalahan, kebencian dan dendam yang dari padanya
muncul konflik, pertikaian, permusuhan yang banyak merugikan. Dalam
masyarakat Islam, hubungan antar individu tidak didasarkan atas kesalahan,
kebencian, dan dendam, akan tetapi didasarkan atas toleransi, mengabaikan
kesalahan, memaafkan dan kesabaran. Allah berfirman:

Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf,
dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (Q.S. al-Araf [7]:199)
........
Artinya:Balaslah (kejahatan) dengan sesuatu yang lebih baik (Q.S. Fussilat
[41]: 34)
Demikianlah dua contoh akhlak yang mulia (al-Akhlaq al-Karimah).
Adapun contoh akhlak yang tercela (al-Akhlaq al-Madzmumah) adalah:
a. Sombong
Sifat sombong adalah sifat memandang rendah orang lain dan merasa
dirinya lebih baik dari orang lain. Sifat seperti ini sangat dicela oleh Allah dan
tidak disukai Nya. Dalam al-Quran dan al-Hadis dinyatakan bahwa orang yang
melakukan kesombongan tidak disukai oleh Allah dan akan mendapat kerugian di
akherat. Allah berfirman:

12


Artinya:Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena
sombong) dan janganlah kamu berjalan di atas bumi dengan angkuh.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi
membanggakan diri (Q.S. Luqman [31]:18)
........
Artinya:Negeri akherat Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi (Q.S. al-Qashash [28]: 83).
Dan Rasulullah Saw. bersabda:
Artinya:Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya terdapat
kesombongan meski hanya seberat atom (H.R. Muslim)
Artinya:Maukah kamu saya beritahukan mengenai penghuni neraka? (Yakni)
setiap orang yang kasar, membanggakan diri, penuh kehinaan dan sombong
(H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Dalam kehidupan bermasyarakat orang yang sombong juga tidak disukai
oleh masyarakat, sebab orang yang sombong sealu merasa dirinya lebih baik dari
yang lain, konsep dan idenya lebih hebat dari yang lain, kekayaannya lebih
banyak dari yang lain, marganya lebih tinggi dari yang lain, nasab (keturunan) nya
lebih terhormat dari yang lain. Dari sikap semacam itu akan lahir perilakuperilaku yang meremehkan pendapat, kedudukan, dan sikap orang lain. Orang
yang sombong tidak sadar bahwa dibalik kelebihan yang dia miliki apapun
bentuknya apakah itu harta, ilmu, kedudukan, atau yang lainnya ada kelemahankelemahan. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya
milik Allah. Oleh sebab itu dalam menjalani kehidupan ini tidak ada manusia
yang paling hebat dan paling baik dalam segala hal. Disinilah diperlukan adanya
kerjasama dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.
Dalam ajaran Islam orang-orang yang sombong berarti melampaui batas
wilayah Tuhan sebab hanya Allahlah yang pantas melakukan kesombongan karena
Dia Maha Sempurna dalam segala hal. Oleh sebab itu Rasulullah Saw. banyak
mengingatkan agar orang yang beriman tidak tergoda oleh sifat sombong karena

13

manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah dan tidak sempurna, dan
kesombongan akan membawa kerugian baik dalam kehidupan di dunia maupun
kehidupan di akherat.
b. Iri Hati (hasad)
Iri Hati (hasad) adalah sifat tidak senang terhadap pemberian Allah
kepada orang lain dan menginginkan agar nikmat tersebut hilang darinya (AlGhazali,t.t.: 76-77). Sifat ini termasuk akhlak yang sangat tercela bahkan AlGhazali menyebutnya sebagai salah satu dari tiga sifat yang menjadi induk
penyakit hati bersama dengan riya dan ujub (merasa dirinya paling hebat). Islam
melarang manusia memiliki sifat ini sebab ia akan memberikan bahaya dalam
kehidupannya di dunia maupun kehidupannya di akherat. Orang dilanda sifat iri
hati pada hakekatnya akan selalu menderita di dunia sebab manakala ia melihat
orang lain memperoleh nimat dari Allah hatinya selalu merasa tidak senang,
sementara di dunia ini tidak pernah terputus Allah memberikan nikmat kepada
orang lain apakah berupa harta kekayaan, keturunan, ilmu pengetahuan, dicintai
orang lain, pangkat, atau yang lain. Sedangkan di akherat iapun akan memperoleh
kerugian karena kebaikan yang dilakukan hilang begitu saja karena sifat iri
hatinya itu. Rasulullah bersabda:


Artinya:Jauhilah sifat iri hati sebab iri hati itu memakan (menghilangkan)
kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (H.R.)
Dalam Islam sifat yang dikembangkan adalah sikap saling mencintai satu
sama lain. Karena itu apabila ada orang Islam menerima nikmat dari Allah,
hendaknya orang Islam yang lain turut merasa senang dan bersyukur atas nikmat
tersebut meskipun ia sendiri belum memperoleh nikmat itu sebab hal demikian ini
merupakan karakteristik iman seseorang. Dikatakan dalam hadis bahwa orang itu
belum dapat mencapai derajat iman ketika belum mampu mencintai orang lain
sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Orang yang selalu iri hati kehilangan sifat
ini karena ia selalu benci jika ada orang lain memperoleh nikmat dan mendoakan
agar nikmat itu hilang darinya. Hatinya selalu tidak senang kalau ada orang lain

14

mendapatkan kesenangan apalagi jika yang didapat itu belum ia peroleh atau
mengungguli yang ia peroleh.
Dalam fenomena sehari-hari kita dapatkan orang yang terkena sifat tidak
terpuji ini tidak sekedar merasa tidak senang terhadap karunia Allah yang
diberikan kepada orang lain, akan tetapi kadangkala menggunakan cara-cara yang
tidak benar agar supaya nikmat atau karunia Allah itu terlepas darinya, misalnya
dengan cara menyebarkan fitnah, isu-isu negatif, menutup atau memperkecil
peluangnya, dan cara-cara lain yang tidak benar. Agar kita terhindar dari kejahatan
orang yang iri hati ini, Allah mengajarkan kepada kita agar kita selalu berlindung
kepada Nya sebagaimana disebutkan dalam surat al-Nas:


Artinya:(dan aku berlindung) dari kejahatan orang yang iri hati ketika ia iri
hatinya
Inilah dua contoh akhlak yang tercela yang harus dihindari oleh manusia.
Dengan memperhatikan akhlak manusia, ada akhlak yang berkaitan
dengan kehidupan individu seseorang ( ahlak individual), dan ada pula akhlak
terhadap sesama manusia ( akhlak social). Akhlak Individual adalah akhlak yang
lebih banyak berkaitan dengan pembentukan sifat dan sikap individu secara
pribadi. Akhlak ini lebih berkaitan dengan hubungan manusia secara vertikal.
Pembinaan akhlak mulia secara individual ini akan melahirkan kesalehan
individual. Contoh akhlak individual adalah syukur, tawakkal, ikhlas, ridla,
tawadhu, dsb. Akhlak Sosial adalah akhlak yang lebih banyak berkaitan dengan
pembentukan sifat dan sikap sosial. Akhlak ini lebih banyak berhubungan dengan
interaksi manusia dengan yang lain. Pembentukan akhlak mulia dalam hal ini
akan melahirkan kesalehan sosial. Contoh akhlak sosial adalah amanah,
dermawan, syaja`ah (berani) membela kebenaran, tidak sombong, tidak iri hati,
dsb.
Kedua macam akhlak ini harus sama-sama menjadi fokus perhatian
manusia agar ada keseimbangan hidup secara invidual maupun secara sosial.
Islam menginginkan agar orang tidak menjadi shaleh untuk dirinya sendiri akan

15

tetapi juga mengharapkan agar orang membangun kehidupan yang shaleh secara
sosial.
Dengan demikian, maka dalam persoalan akhlak terhadap sesama, Islam
menginginkan agar manusia menjadi orang yang shaleh (baik secara individual)
sekaligus orang yang mushlih atau muhsin (baik secara sosial).
3. Akhlak terhadap lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah segala yang ada di
sekitar manusia baik benda-benda yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa.
Ajaran tentang akhlak terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia
sebagai khalifah yang mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, dan
pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya. Dalam Islam
diajarkan agar manusia menghargai proses yang sedang terjadi pada alam
sehingga orang dilarang mengambil buah sebelum matang, memetik bunga
sebelum mekar, dan memisahkan anak binatang dari induknya. Kesadaran
terhadap ajaran seperti ini akan mengantarkan manusia bertanggung jawab
terhadap pelestarian alam sehingga tidak melakukan perusakan alam sebab
perusakan apapun yang dilakukan terhadap alam sebenarnya adalah perusakan
terhadap diri manusia sendiri. Tumbuhan, binatang, dan benda-benda tak
bernyawa adalah ciptaan Allah dan menjadi milik Nya. Dari sisi ini ciptaan Allah
tersebut tidak berbeda dengan manusia. Oleh karena itu manusia harus
memperlakukannya dengan baik dan sewajarnya serta tidak boleh merusak,
menyakiti, atau menganiayanya. Perlakuan yang baik terhadap binatang misalnya
telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sebelum Eropa mendirikan organisasi
pecinta binatang, Rasulullah Saw. telah mengajarkan:


Artinya: Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang.
Kendarailah dan berilah makan dengan baik
Dalam akhlak Islam juga diajarkan bahwa apa yang ada dalam genggaman
manusia berupa binatang, tumbuhan, dan benda-benda lain sebenarnya adalah

16

amanat yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Rasulullah dalam


menafsirkan ayat 8 surat al-Takatsur Kamu sekalian pasti akan diminta untuk
mempertanggungjawabkan nikmat (yang kamu peroleh) mengatakan: Setiap
jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap angin sepoi yang berhembus di
udara, dan setiap tetes hujan yang tercurah dari langit akan dimintakan
pertanggungjawaban manusia menyangkut pemeliharaan dan pemanfaatannya.
Dari sini dapat difahami bahwa meskipun manusia diciptakan sebagai
makhluk yang paling utama dan diberi kekuasaan di bumi, akan tetapi ia tidak
diperkenankan untuk berbuat semena-mena terhadap makhluk lain. Manusia harus
bersahabat dengan makhluk lain sebab manifestasi fungsi kekhilafahan manusia
menuntut adanya interaksi dengan makhluk lain. Dalam melakukan interaksi
tersebut bukanlah mencari kemenangan terhadap makhluk lain (alam) yang
menjadi tujuan akan tetapi membuat keselarasan dengan alam. Manusia dan alam
adalah sama-sama makhluk Allah yang tunduk dan mengabdi kepada Nya.
D. Pengertian Muamalah
Muamalah dalam Islam dapat dilihat dari dua segi, pertama dari segi bahasa
dan kedua dari segi istilah. Menurut segi bahasa, muamalah berasal dari kata
Aamala yang artinya bertindak, saling berbuat, dan saling mengamalkan.
Menurut istilah dalam arti sempit, pengertian muamalah adalah aturan-aturan
Allah yang wajib ditaati yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam
urusan duniawi dengan cara memperoleh dan mengembangkan harta benda.
Sedangkan menurut Muhammadiyah, muamalah duniawiyah adalah pengolahan
dunia dan pembinaan masyarakat dengan berdasarkan ajaran agama serta menjadi
semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah (ibadah umum).
Gambaran umum tentang muamalah duniawiyah, misalnya : sang pedagang
dengan lapaknya, sang karyawan dengan berkasnya, mahasiswa dengan
makalahnya,

pengangguran

dengan

harapannya,

tukang

rumput

dengan

guntingnya, nelayan dengan lautnya, petani dengan musim tanamnya, polantas


dengan peluitnya, pengacara dengan kasusnya, dan lain-lain.

17

Interaksi manusia dengan segala tujuannya untuk memenuhi kebutuhan


keduniaan diatur Islam dalam Fiqh Muamalat/muamalah duniawiyah. Berbeda
halnya

dengan

Fiqh

Ibadah

/ibadah

mahdhah/ibadah

khusus,

Fiqh

Muamalat/ibadah umum bersifat lebih fleksibel dan eksploratif. Hukum semua


aktifitas itu pada awalnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang melarangnya,
inilah kaidah ushul fiqhnya. Fiqh Muamalat pada awalnya mencakup semua aspek
permasalahan yang melibatkan interaksi manusia, seperti pendapat Wahbah
Zuhaili, hukum muamalah itu terdiri dari hukum keluarga, hukum kebendaan,
hukum acara, perundang-undangan, hukum internasional, hukum ekonomi dan
keuangan. Tapi, sekarang Fiqh Muamalat dikenal secara khusus atau lebih sempit
mengerucut hanya pada hukum yang terkait dengan harta benda.
Ruang Lingkup Muamalah dalam Islam
Muamalah dalam Islam (dalam arti sempit) mempunyai beberapa
pembagian, menurut Ibn Abidin, fiqh muamalah terbagi menjadi lima bagian,
yaitu:
1. Muawadlah Maliyah (Hukum Kebendaan)
2. Munakahat (Hukum Perkawinan)
3. Muhasanat (Hukum Acara)
4. Amanat dan Aryah (Pinjaman)
5. Tirkah (Harta peninggalan)
Ibn Abidin adalah seorang yang mendefinisikan muamalah secara luas sehingga
munakahat termasuk salah satu bagian dari fiqh muamalah, padahal munakahat
diatur dalam disiplin ilmu tersendiri, yaitu fiqh munakahat. Dan begitu pula
dengan tirkah yang sudah ada dalam fiqh mawaris.
Al-Fikri dalam kitabnya, Al-Muamalah Al-Madiyah wa Al-Adabiyah,
menyatakan bahwa muamalah dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut:
1.

Al-Muamalah al-madiyah adalah muamalah yang mengkaji objeknya


sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa muamalah al-madiyah adalah
muamalah yang bersifat kebendaan karena objek fiqh mauamalah adalah

18

benda halal, haram dan syubhat untuk diperjualbelikan, benda-benda yang


mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, serta masalah jual beli (albaial-tijarah), gadai (al-rahn), jaminan dan tanggungan (kafalan dan
dlaman), pemindahan utang (hiwalah), sewa-menyewa (al-ijarah) dan lain
sebagainya.
2. Al-Muamalah al-adabiyah adalah muamalah yang ditinjau dari segi cara
tukar-menukar benda yang bersumber dari panca indera manusia, yang
unsur penegaknya adalah hak -hak dan kewajiban-kewajiban, ijab dan
kabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak.
Pembagian diatas dilakukan atas dasar kepentingan teoritis semata-mata
sebab dalam praktiknya, kedua bagian muamalah tersebut tidak dapat dipisahpisahkan.
Begitu pentingnya mengetahui Fiqh ini karena setiap muslim tidak pernah
terlepas dari kegiatan kebendaan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhannya.
Maka dikenallah objek yang dikaji dalam fiqh muamalah, walau para fuqaha (ahli
fiqih) klasik maupun kontemporer berbeda-beda, namun secara umum fiqh
muamalah membahas hal berikut : (1) teori hak-kewajiban, konsep harta, konsep
kepemilikan, (2) teori akad, bentuk-bentuk akad yang terdiri dari jual-beli, sewamenyewa, sayembara, akad kerjasama perdagangan, kerjasama bidang pertanian,
pemberian, titipan, pinjam-meminjam, perwakilan, hutang-piutang, garansi,
pengalihan hutang-piutang, jaminan, perdamaian, akad-akad yang terkait dengan
kepemilikan: menggarap tanah tak bertuan, ghasab (meminjam barang tanpa izin
edt), merusak, barang temuan, dan syufah (memindahkan hak kepada rekan
sekongsi dengan mendapat ganti yang jelas).
Setelah mengenal secara umum apa saja yang dibahas dalam fiqh
muamalah, ada prinsip dasar yang harus dipahami dalam berinteraksi. Ada 5 hal
yang perlu diingat sebagai landasan tiap kali seorang muslim akan berinteraksi.
Kelima hal ini menjadi batasan secara umum bahwa transaksi yang dilakukan sah
atau tidak, lebih dikenal dengan singkatan MAGHRIB, yaitu Maisir, Gharar,
Haram, Riba, dan Bathil.

19

1. Maisir
Menurut bahasa maisir berarti gampang/mudah. Menurut istilah maisir
berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisir sering dikenal
dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh
keuntungan dengan cara mudah. Dalam perjudian, seseorang dalam kondisi bisa
untung atau bisa rugi. Padahal islam mengajarkan tentang usaha dan kerja keras.
Larangan terhadap maisir / judi sendiri sudah jelas ada dalam AlQuran Surat AlBaqarah (2): 219 dan Surat An-Nisa (5): 90.
2. Gharar
Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Terdapat juga mereka yang
menyatakan bahawa gharar bermaksud syak atau keraguan. Setiap transaksi yang
masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar
jangkauan termasuk jual beli gharar. Boleh dikatakan bahwa konsep gharar
berkisar kepada makna ketidaktentuan dan ketidakjelasan sesuatu transaksi yang
dilaksanakan, secara umum dapat dipahami sebagai berikut :
- Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu wujud atau tidak;
- Sesuatu barangan yang ditransaksikan itu mampu diserahkan atau tidak;
- Transaksi itu dilaksanakan secara yang tidak jelas atau akad dan kontraknya
tidak jelas, baik dari waktu bayarnya, cara bayarnya, dan lain-lain.
Misalnya , membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang
masih dalam kandungan induknya termasuk dalam transaksi yang bersifat gharar.
Atau kegiatan para spekulan jual beli valas.
3. Haram
Ketika objek yang diperjualbelikan ini adalah haram, maka transaksi nya menjadi
tidak sah. Misalnya jual beli khamr, dan lain-lain.
4. Riba
Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al Quran. Ayat-ayat
mengenai pelarangan riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya
ayat dimulai dari peringatan secara halus hingga peringatan secara keras.
Tahapan turunnya ayat mengenai riba dijelaskan sebagai berikut :

20

Pertama, menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi
harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Seperti yang dijelaskan
dalam QS. Ar Rum : 39 .
Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang
kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan
Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan
(pahalanya)
Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras
kepada orang Yahudi yang memakan riba. Allah berfiman dalam QS. An Nisa :
160-161 .
Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka
(memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka,
dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan
disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang
daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa
yang pedih.
Ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat
ganda. Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba
seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imran : 130.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat
ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan.
Keempat, merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah
mengharamkan riba. QS. Al Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep
final tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa
riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika
kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah
dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan
riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula)
dianiaya.
5. Bathil
Dalam melakukan transaksi, prinsip yang harus dijunjung adalah tidak ada
kedzhaliman yang dirasa pihak-pihak yang terlibat. Semuanya harus sama-sama

21

rela dan adil sesuai takarannya. Maka, dari sisi ini transaksi yang terjadi akan
merekatkan ukhuwah pihak-pihak yang terlibat dan diharap agar bisa tercipta
hubungan yang selalu baik. Kecurangan, ketidakjujuran, menutupi cacat barang,
mengurangi timbangan tidak dibenarkan. Atau hal-hal kecil seperti menggunakan
barang tanpa izin, meminjam dan tidak bertanggungjawab atas kerusakan harus
sangat diperhatikan dalam bermuamalat.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad, al-Akhlaq, Dar al-Kutub al-Mishriyah, Kairo, t.t.
Asmaran As., Pengantar Studi Akhlak, cet. I, Rajawali Pers, Jakarta, 1992
Bertens,K., Etika, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997
Al- Ghazali, Abu Ahmad, Ihya` Ulumuddin, juz III, cet. II, Dar al-Fikr, Bairut,
1989
----------------------, Bidayah al-Hidayah, Maktabah Ahmad bin Said bin Nabhan,
Surabaya, t.t.
Al-Hasyimi, Muhammad Ali, Menjadi Muslim Ideal,(terj.), Mitra Pustaka,
Yogyakarta, 1999
Ibnu Maskawaih, Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-Araq, al-Maktabah alMishriyah, Kairo, 1934
Al-Jurjani, Ali bin Mahmud bin Ali, al-Tarifat, Dar al-Bayan li al-Turats, Kairo,
1993
Makluf, Lois, al-Munjid,al-Maktabah al-katulikiyah, Bairut, 1984
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, cet. III, Rajawali Pers, Jakarta, 1997
Poerbakawatja, Ensiklopedi Pendidikan, Gunung Agung, Jakarta, 1976
Al-Qardlawi. Yusuf, Madkhal li Marifah al-Islam, Maktabah Wahbah, Kairo,
1996
Shihab, M.Quraisy, Wawasan al-Quran, cet. VIII, Mizan, Bandung, 1998
Syaltut, Mahmud, al-Islam Aqidah wa Syariah, Dar al-Qalam, Kairo, 1966

22

Al-Syarqawi, Muhammad Abdullah, al-Fikr al-Akhlaqi, Dar al-jail, Bairut, 1990


Al-Taftanzani, Abu al-Wafa, Muhadharah fi al-tasawwuf al-Islami, Mahad alDirasat al-Islamiyah, Kairo, 1991
Tim, al-Mujam al-Arabi al-Asasi, al-Munadhdhamah al-Arabiyah li al-tarbiyah
wa al-tsaqafah wa al-Ulum, Tunis, 1988
Tim, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1993
Yakub, Hamzah, Etika Islam, CV. Diponegoro, Bandung, 1983
Yunus, Abdul hamid, Dairah al-Maarif, cet. II, al-Syab, Kairo, t.t.
Azharudin Lathif, Fiqh Muamalat, (ciputat : UIN jakarta Press, 2005), cet.1, h. 5
http://khairilmuslim.wordpress.com/2011/04/04/208
http://mahir-al-hujjah.blogspot.com/2009/08/gharar-riba-dan-maisir-di-dalam.html

23