Anda di halaman 1dari 33

TUGAS MAKALAH

KIMIA FARMA 5 CIKINI

MIGRAIN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Nyeri kepala merupakan salah satu keluhan yang paling sering dijumpai
dalam kehidupan manusia. Nyeri kepala mempengaruhi lebih dari 90% populasi
pada beberapa waktu dalam hidupnya dan banyak diantaranya yang menderita
nyeri kepala berulang. Nyeri kepala merupakan kasus yang paling sering menjadi
penyebab kunjungan ke poliklinik saraf. Migrain merupakan nyeri kepala yang
paling sering dialami masyarakat sesudah nyeri kepala tipe tegang (tension-type
headache). Prevalensi migrain pada wanita 15-18 % dan pada pria 6-9% (rasio
3:1). Migrain lebih banyak menyerang wanita kemungkinan disebabkan faktor
hormonal. Tipe migrain yang paling sering dialami ada dua yaitu classic migrain
dan common mograin. Serangan kedua tipe migrain tersebut mungkin terllibat
dalam proses yang menyebabkan gangguan fungsi otak.
Migrain lebih sering menyerang usia dewasa muda yaitu pada usia 25-55
tahun, dengan puncak insiden antara 25-34 tahun. Rentang usia tersebut
merupakan rentang usia produktif sehingga migain dapat menyebabkan
berkurangnya pendapatan akibat hal tersebut. Oleh karena itu sangat penting bagi
apoteker sebagai ahli obat-obatan untuk dapat memberikan informasi obat dan
konseling mengenai obat-obat migrain agar pengobatan penderita migrain berjalan
dengan baik.
1.2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah mengenai kajian resep-resep migrain ini adalah
agar mahasiswa menjadi lebih paham mengenai nyeri kepala migrain beserta obatobatnya, serta dapat memberikan informasi obat dan konseling yang dibutuhkan
pasien.

Migrain

Page 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Migrain
Migrain adalah sakit kepala kambuhan dengan intensitas sedang sampai
berat yang berkaitan dengan sindrom anatomis, neurologis, dan saluran cerna.
Menurut International Headache Society (IHS), migren merupakan suatu kondisi
kronis yang ditandai dengan sakit kepala episodik dengan intensitas sedang-berat
yang berakhir dalam waktu 4-72 jam.

2.2. Patofisiologi Migrain


Saat ini dipercaya bahwa saraf yang tidak berfungsi merupakan penyebab
dasar dari patofisiologi migrain. Gejala yang berhubungan dengan aura
diperkirakan merupakan akibat dari saraf yang tidak berfungsi dan ditandai
dengan berkurangnya gelombang aktivitas elektrik yang disampaikan ke korteks
serebral. Aura juga berkaitan dengan menurunnya aliran darah ke otak. Nyeri
migrain dianggap sebagai hasil dari aktivitas di dalam sistem trigeminovaskular
yang

menyebabkan

pelepasan

neuropeptida

vasoaktif

sehingga

terjadi

vasodilatasi, ekstravasasi plasma dural, dan peradangan perivaskular.


Patogenesis migrain disebabkan oleh ketidakseimbangan aktivitas sel saraf
yang mengandung serotonis dan/atau jalur noradrenergik di inti batang otak yang
mengatur pembuluh darah otak dan persepsi nyeri. Ketidakseimbangan ini dapat
menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah intrakarnial serta aktivasi sistem
trigeminovaskular. Serotonin (5-hidroksitriptamin

atau 5-HT) merupakan

mediator migrain yang peting. Obat anti migrain akut seperti alkaloid ergot dan
turunan triptan merupakn agonis dari subtipe reseptor 5-HT1 vasokonstriksi dan
hambatan pelepan neuropeptida vasoaktif dan transmisi sinyal nyeri. Obat
profilaaksis migrain menstabilkan neurotransmisi serotonin dan meningkatkan
ambang batas nyeri dengan cara antagonisme atau mengurangi kerja reseptor 5HT2, atau dengan cara mengatur pembuangan serotonin neuronal.
2.3. Faktor Penyebab Migrain

Migrain

Page 2

Mudah tidaknya seseorang terkena penyakit migrain ditentukan oleh adanya


defek biologi herediter pada sistem saraf pusat. Berbagai faktor dapat memicu
serangan migrain pada orang yang berbakat tersebut antara lain:
a. Hormonal
Fluktuasi hormon merupakan faktor pemicu pada 60% wanita, 14% wanita
hanya mendapat serangan selama haid. Nyeri kepala migrain dipicu oleh
turunnya kadar 17-b estradol plasma saat akan haid. Serangan migrain
berkurang selama kehamilan karena kadar estrogen yang relatif tinggi dan
konstan, sebaiknya minggu pertama postpartum, 40% pasien mengalami
serangan yang hebat karena turunnya kadar estradol. Pemakai pil kontraseptif
juga meningkatkan frekuensi serangan migrain.
b. Menopause
Umumnya, nyeri kepala migrain akan meningkat frekuensi dan berat
ringannya pada saat menjelang menopause. Tetapi, beberapa kasus membaik
setelah menopause. Tetapi hormonal dengan estrogen dosis rendah dapat
diberikan untuk mengatasi serangan migrain pascamenopause.
c. Makanan
Berbagai makanan/zat dapat memicu timbulnya serangan migrain. Pemicu
migrain tersering adalah alkohol berdasarkan efek vasodilatasinya dimana
anggur merah dan biru merupakan pemicu terkuat. Makanan yang
mengandung tiramin, yang berasal dari asam amino tirosin, seperti keju,
makanan lain yang diawetkan atau diragi, hati, anggur merah, yogurt, dan
lain-lain. Makanan lain yang pernah dilaporkan dapat mencetuskan migrain
adalah coklat (karena mengandung feniletilamin), telur, kacang, bawan, piza,
alpokat, pemanis buatan, buah jeruk, pisang, daging babi, eh, kopi, dan coca
cola yang berlebihan.
d. Monosodium Glutamat adalah pemicu migrain sering dan penyebab dari
sindrom restoran cina yaitu nyeri kepala yang disertai kecemasan, pusing,
parestesia leher dan tangan, serta nyeri perut dan nyeri dada.
e. Obat-obatan seperti nitrogliserin, nifedipin sublingual, isosorbid-dinitrat,
tetrasiklin, vitamin A dosis tinggi, fluoksetin, dan lain-lain.
f. Aspartam merupakan komponen utama pemanis buatan dapat menimbulkan
nyei kepala pada orang tertentu.

Migrain

Page 3

g. Kafein yang berlebihan (>350 mg/hari) atau penghentian mendadak minum


kafein.
h. Lingkungan
Perubahan lingkungan dalam tubuh yang meliputi fluktuasi hormon pada
sikls haid dan perubahan irama bangun-tidur dapat menimbulkan serangan
akut migrain. Perubahan lingkungan eksternal meliputi cuaca, musim,
tekanan udara, ketinggian dari permukaan laut, dan terlambat makan.
i. Rangsangan sensorik
Cahaya berkedap-kedip, cahaya silau, cahaya matahari yang terang, atau bau
parfum, zat kimia pembersih, rokok, suara bising dan suhu yang ekstrim.
j. Stres fisik dan mental dapat memperberat serangan migrain.
k. Faktor pemicu lain aktivitas seksual, terutama kepala, kurang atau kelebihan
tidur.
2.4. Manifestasi Klinik
2.4.1 Gejala
Hampir 70% memiliki riwayat migrain dalam keluarga, sebagaian besar
wanita. Serangan pertama migrain biasanya dimulai saat remaja dan dewasa
muda, kemuadian cenderung berkurang pada usia dekade ke 5 dan 6. Biasanya
terdapat faktor pemicu. Umumnya pasien memiliki kepribadian yang perfeksionis,
kaku dan impulsif.
Gambaran klinis migrain biasanya berupa nyeri kepala berdenyut yang
bersifat unilateral tetapi dapat bilateral atau ganti sisi. Serangan migrain umumnya
2-8 kali per bulan, lamanya sekali serangan antara 4-24 jam atau bisa lebih lama,
intensitas nyeri sedang-berat, gejala penyerta antara lain: mual, mntah, fotofobia
dan/atau fonofobia, wajah pucat, vertigo, tinitus, iritabel. Pada migrain dengan
aura, gejala prodromalnya adalah skotomata, teikopsia (spektra fortifikasi),
fotopsia (ikatan cahaya), parestesia serta halusinasi visual dan audiotorik.
Sedangkan pada migrain tanpa aura, gejal prodromalnya adalah rasa kehabisan
tenaga, rasa lelah, sangat lapar dan rasa gugup/gelisah.
Pada pemeriksaan tentang sakit kepala, harus dikenali tentang tanda bahaya
saat diagnosis. Hal ini meliputi: serangan akut sakit kepala yang pertama kali
atau terburuk, pola perkembangan keparahan sakit kepala setelah serangan
subakut, sakit kepala yang pertama kali terjadi pada usia diatas 50 tahun, sakit
kepala akibat penyakit sistemik, sakit kepala dengan gejala neurologik fokal atau
Migrain

Page 4

papilledema, serta sakit kepala yang baru pertama muncul pada pasien kanker atau
infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
2.4.2. Fase Serangan Migrain
Serangan migrain dapat dibagi menjadi beberapa fase. Namun, tidak seluruh
penderita akan mengalam fase-fase tersebut. Dengan mengetahui bagaimana pola
migrain yang dialami, penderita akan terbantu untuk mendeteksi terjadinya
serangan migrain. Fase serangan migrain terdiri dari:
Tabel 2.1. Fase Serangan Migrain
Fase

Jangka Waktu

Prodrome

Jam hingga hari sebelum sakit


kepala

Aura

Mendahului sakit kepala


Muncul bertahap selama 5-20
menit
Dapat bertahan hingga 60 menit

Sakit
Kepala

4-72 jam

Postdrome

Setelah serangan yang berat

Gejala
Perubahan mood, cemas,
depresi, euforia, mengantuk,
lemah, letih, lesu
Gangguan visual yang
mendahului serangan sakit
kepala
Umumnya satu sisi,
berdenyut-denyut, disertai
mual dan muntah, sensitif
terhadap cahaya dan suara
Tanda-tanda lain migrain
seperti nafsu makan
berkurang, konsentrasi
berkurang, kelelahan

2.5. Jenis Migrain


Secara umum migrain dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Migrain Umum (Migrain Tanpa Aura)
Nyeri kepala berulang dengan manifestasi serangan selama 4-72 jam.
Karakteristik nyeri kepala unilateral, berdenyt, intensitas sedang atau berat,
bertambah berat dengan aktivitas fisik yang rutin dan diikuti fotofobia dan
fonofobia. Pada kasus ini tidak terdapat aura, tetapi pasien mungkin mengalami
gejala prodroma yang tidak jelas. Nyeri kepala dapat terjadi saat bangun tidur dan
gejala yang lain sama dengan migrain klasik.
b. Migrain Klasik (Migrain dengan Aura)
Migrain

Page 5

Suatu serangan nyeri kepala berulang dimana didahului gejala neurologi


fokal yang reversible secara bertahap 5-20 menit dan berlangsung kurang dari 60
menit. Gambaran nyeri kepala yang menyerupai migrain tanpa aura biasanya
timbul sesudah gejala aura. Pasien mengalami gejala prodromal yang tidak jelas
beberapa jam sebelum serangan, seperti mengantuk, perubahan mood, rasa lapar,
atau anoreksia. Serangan klasik dimulai dari aura. Gejala visual meliputi
pandangan gelap (skotoma meluas) yang berupa kilasan gelap yang cepat
(terikopsia). Juga dapat terjadi pola pandangan gelap seperti bulan sabit atau
berkunang-kunang (spektra fortifikasi). Dapat terjadi kebutaan total.
Gejala sensorik lebih jarang terjadi akan tetapi dapat terjadi rasa unilateral
dan parestesia pada wajah, lengan atau kaki. Disfasia dan kelemahan anggota
gerak jarang terjadi. Aura umumnya membaik setelah 15-20 menit (dapat juga
berlangsung selama satu jam), di mana setelah itu timbul nyeri kepala, walaupun
kadang-kadang nyeri kepala dan gejala neurologis terjadi bersamaan. Nyeri kepala
terasa seperti ditusuk-tusuk dan terjadi beberapa jam (umumnya 4-72 jam). Gejala
yang menyertai yaitu fotofobia, mual, pucat dan diuresis.
2.6. Diagnosis
Tidak ada tes laboratorium yang spesifik untuk mendiagnosis migrain.
Biasanya diagnosis ditegakkan berdasarkan pola sakit kepalanya yang khas. Pada
saat kunjungan pertama ke dokter, dokte akan memberikan serangkaian uji fisik
dan neurologis. Uji ini meliputi uji terhadap fungsi mental dengan memeriksa
penglihatan, koordinasi tubuh, refleks tuubuh, dan sensasi yang dirasakan oleh
tubuh. Seluruh uji ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada kondisi lain
yang menyebabkan timbulnya gejala.
Untuk migren tanpa aura, kriteria diagnosisnya meliputi :
a. Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria 2-4.
b. Serangan nyeri berlangsung selama 4-72 jam (tidak diobati atau tidak berhasil
diobati).
c. Nyeri kepala mempunyai sedikitnya dua karakteristik berikut :
1. Lokasi unilateral.
2. Kualitas berdenyut.
3. Intensitas nyeri sedang atau berat.
4. Keadaan tambahan berat oleh aktifitas fisik atau penderita menghindari
aktivitas fisik rutin (seperti berjalan atau naik tangga).
Migrain

Page 6

d. Selama nyeri kepala disertai salah satu dibawah ini :


1. Nausea dan/atau muntah.
2. Fotofobia dan fonofobia.
e. Tidak berkaitan dengan kelainan yang lain.
Sedangkan untuk migrain dengan aura, kriteria diagnosisnya meliputi :
a. Pasien mengalami migrain dengan sedikitnya 3 dari 4 karakteristik :
1. Pasien mengalami gejala aura yang reversible (meliputi: gangguan visual,
sensasi abnormal pada kulit, sulit bcara, dan kelemahan otot).
2. Pasien mengalami aura yang berkembang secara bertahap leih dari 4 menit
atau 2 gejala aura berturut-turut.
3. Gejala aura berakhir tidak lebih dari 60 menit.
4. Aura terjadi tidak lebih dari 60 menit sebelum terjadinya sebelum
terjadinya sakit kepala.
b. Selain itu, perlu ada pemeriksaan terhadap riwayat pengobatan, kondisi fisik,
dan uji neurologis (CT Scan).
2.7. Penatalaksanaan
Jika tidak diobati, serangan migrain bisa berlangsung selama beberapa jam
atau hari. Pada beberapa penderita, sakit kepala yang ringan dapat dihilangkan
dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas. Tetapi migrain seringkali hebat dan
membuat penderita menjadi tidak berdaya, terutama jika disertai dengan mual,
muntah dan silau mata (fotofobia). Pada kasus seperti ini, biasanya selain obat
pereda nyeri, penderita juga membutuhkan istirahat dan tidur untuk mengurangi
sakit kepalanya.
Terapi bertujuan menghilangkan gejala/nyeri pada saat serangan (terapi
abortif) atau mencegah serangan (terapi profilaksis). Terapi akut seharusnya
memberikan hasil berupa pengurangan gejala secara cepat dan konsisten dengan
efek samping dan kekambuhan yang minimal. Idealnya, pasien dapat mengatasi
sakit kepalanya secara efektif tanpa harus mengunjungi dokter atau bagian gawat
darurat rumah sakit. Klinisi dan pasien migrain hendaknya bekerja sama untuk
menciptakan rencana pengelolaan jangka panjang untuk mengurangi frekuensi
dan keparahan serangan, meminimalkan gangguan terhadap emosi dan aktivitas
pasien serta meningkatkan mutu kehidupannya.
2.7.1. Terapi Non Farmakologi

Migrain

Page 7

Terapi untuk mengatasi serangan migrain dapat dilakukan baik secara non
farmakologi maupun melalui terapi farmakologi. Terapi non farmakologi yang
dapat dilakukan di antaranya adalah:
a. Menempelkan es di kepala dan beristirahat atau tidur sejenak, biasanya di
ruangan yang agak gelap dan tenang, dapat bermanfaat bagi pasien migrain.
b. Penatalaksanaan pencegahan sebaiknya dimulai dengan mengidentifikasi dan
menghindari faktor yang dapat menyebabkan serangan migrain.
c. Perubahan perilaku (terapi relaksasi, biofeedback, terapi kognitif) merupakan
tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien yang cenderung
memilih terapi tanpa obat atau jika terapi dengan obat tidak efektif atau tidak
dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien.
2.7.2. Terapi Farmakologi
2.7.2.1.Terapi Migrain Akut
Terapi migrain akut (Tabel 2.2) paling efektif jika diberikan pada saat awal
serangan migrain. Tetapi migrain akut harus dibatasi hanya 2 hari/minggu untuk
mencegah penyalah gunaan obat atau efek rebound (sakit kepala justru muncul
kembali). Sedangkan terapi sebelum serangan dengan antiementik (misal
proklorperazin, metoklopramid) 15-30 menit sebelum memberikan terapi abortif,
atau pengobatan non-oral (suppositoria rektal, obat semprot hidung, injeksi)
dianjurkan jika mual atau muntah parah. Selain sebagai aniementik, bahan
prokinetik metoklopramid juga dapat meningkatkan absorpsi obat oral.
Tabel 2.2. Terapi Migren Akut
Obat
Analgesik
Asetaminofen

Asetaminofen 250 mg/aspitin


Aspirin atau asetaminofen dan
butalbital, kafein
Isometepten 65 mg/
Diklofenak fenazole 100 mg/
Asetaminofen 325 mg
(Midrin)
Anti Inflamasi Non Steroid
Migrain

Dosis

Keterangan

1000 mg saat awal serangan,


ulangi setiap 4-6 jam jika
perlu
2 tab saat awal dan setiap 6
jam 1-2 tablet setiap 4-6 jam

Dosis maks 4 g/hr

2 kapsul saat awal, ulangi


kapsul tiap jam jika perlu

Maks 6 kapsul/hr dan 20


kapsul/bulan

Page 8

250 mg/kafein 65 mg
Batasi dosis hanya 4 tab/hr
Dan penggunaan 2 hr/mng

Aspirin
Ibuprofen

500-1000 mg tiap 4-6 jam


200-800 mg tiap 6 jam

Dosis maks 4 g/hr


Hindari dosis > 2,4 g/hr

Naproksen natrium

550-825 mg saat awal, dapat


diulang 220 mg dalam 3-4
jam
50-100 mg saat awal, dapat
diulangi 50 mg dalam 8 jam

Hindari dosis > 1,375 g/hr

Ergotamin Tartrat
Tablet oral (1 mg) dengan
kafein 100 mg

2 mg saat awal, lalu 1-2 mg


tiap 30 menit jika perlu

Tablet sublingual (2 mg)


Supositoria rektal (2 mg)
Dengan kafein 100 mg

Masukkan 1/2 - 1 auppositoria


saat awal, ulangi setelah 1
jam

Dosis maks 6 mg/hr atau


10 mg/mng,
pertimbangkan pre
treatment dengan anti
emetik
Dosis maks 4 mg/hr atau
10 mg/1 jam jika perlu,

Diklofenak kalium

Dihidroergotamin
Injeksi 1 mg/ml

Semprot hidung

0,25-1 mg im/sc saat awal,


ulangi tiap jam jika perlu

Satu semprot (0,5 mg) pada


tiap lubang hidung saat awal,
ulangi berturut-turut tiap 15
menit (dosis total 2 mg atau
4 kali semprotan)

Hondari dosis > 150 mg/hr

Dosis maks 3 mg/hr atau


20 mg/mng
Dosis maks 3 mg/hr,
buang 4 kali semprot
sebelum dipakai, jangan
tarik kepala kebelakang
atau menghirup nafas
melalui hidung saat
menyemprot, buang ampul
yang sudah terbuka setelah
8 jam.

Agonis Serotonin (Triptan)


Suma triptan
Injeksi

Tablet oral

Semprot hidung
Migrain

6 mg sc saat awal, dapat


diulang setelah 1 jam jika
perlu

Dosis maks 12 mg/hr

25, 50 atau 100 mg saat


awal, dapat diulang setelah
2 jam jika perlu

Dosis optimal 50-100


mg,
Dosis maksimal 200 mg
hr

5, 10 atau 20 mg saat awal,


dapat diulang setelah 2 jam

Dosis optimal 20 mg, dan


maks 40 mg/hr. Sediaan

Page 9

jika perlu

Zolmitriptan

Naratriptan

Rizatriptan

2,5 atau 5 mg saat awal


sebagai tablet biasa atau
orally disintegrating tablet
(ODT) dapat diulangi tiap 2
jam jika diperlukan

dosis tunggal berisi 5 mg


atau 20 mg, semprotkan
satu kali untuktiap lubang
hidung
Dosis optimal 3,3 mg
Dosis maks 10 mg/hr
jangan memotong
sediaan ODT

1 atau 2,5 mg saat awal,


dapat diulangi setelah 4 jam
jika perlu

Dosis optimal 2,5 mg,


dosis maks 5 mg/hr.

5 atau 10 mg saat awal


sebagai tablet biasa atau
orally disintegrating tablet
(ODT), dapat diulang
setelah 2 jam jika perlu

Dosis optimal 10 mg,


dosis maks 30 mg/hr,
onset efek antara tablet
biasa atau ODT adalah
sama, gunakan dosis 5
mg (maks 15 mg/hr) pada
pasien yang mendapat
propanolol

6,25 atau 12,5 mg saat


awal, dapat diulang setelah
2 jam jika perlu

Dosis optimal 1,25 mg,


dosis maks 25 mg/hr

Amotriptan

2,5 atau 5 mg saat awal,


dapat diulang dalam 2 jam
jika perlu

Dosis optimal 2,5-5 mg,


dosis maks 7,5 mg/hr (3
tablet)

Frovatriptan

20 atau 40 mg saat awal,


dapat diulang setelah 2 jam
jika perlu

Dosis tunggal maks 40


mg, dosis maks 80 mg/hr

Eleptriptan
Lain-lain
Butorfanol semprot hidung

Migrain

1 semprot pada 1 lubang

Page 10

Batasi 4 kali semprot/hr,

hidung (1 mg) saat awal,


ulangi dalam 1 jam jika perlu

pertimbangkan dipakai
hanya jika terapi
nonopioid tidak efektif
atau tidak ditoleransi
Metoklopramid
10 mg iv saat awal serangan Berguna untuk kondisi
akut di klinik atau UGD
Proklorperazin
10 mg iv saat awal serangan Berguna untuk kondisi
akut di klinik atau UGD
batasi penggunaan obat simpatomimetik hanya dalam 2 hari jika
memungkinkan untuk menghindari salah penggunaan obat sakit kepala
a. Analgesik dan Anti Inflamasi Nonsteroid (AINS)
1. Analgesik dan AINS merupakan obat yang efektif untuk mengobati
serangan migrain ringan sampai sedang. Aspirin, ibuprofen, naproksen
sodium, asam tolfenamik, dan kombinasi asam asetaminofen plus aspirin
dan kafein menunjukkan bukti manfaat yang paling konsisten.
2. Penghambat COX-2 dan naprolsen baru-baru ini diketahui menimbulkan
gangguan jantung dan stroke. Penghambat COX-2 sebaik sebaiknya tidak
dipilih untuk indikasi ini. The Food and Drug Administration (FDA)
menekankan bahwa dosis anjuran seperti tertera di label obat harus diikuti
secara cermat jika digunakan untuk indikasi apapun.
3. AINS tampaknya mencegah inflamasi yang diperantai oleh saraf
(neurogenically) di sistem trigeminovaskular dengan cara menghambat
sintesa prostaglandin.
4. Secara umum, lebih dipilih AINS dengan waktu (half-life) panjang yang
tidak memerlukan pemakaian terlalu sering. Ketrolak supositoria dan
intramuskular merupakan pilihan untuk pasien dengan mual dan muntah
yang parah.
5. Kombinasi asetaminofen, aspirin, dan kafein yang dapat dibeli tanpa resep
Amerika disetujui untuk mengurangi nyeri migrain dan gejala yang terkait.
6. Aspirin dan asetaminofen juga dapat dikombinasikan dengan barbiturat
jangka kerja pendek (butalbital) atau dengan opioid (misal, kodein) dan
harus diberikan dengan resep dokter. Tidak ada penelitian plasebo
terkontrol dan bersifat acak yang mendukung manfaat sediaan yang
mengandung butalbital yang digunakan sebagai obat.

Migrain

Page 11

7. Midrin merupakan merek sediaan dengan kombinasi tetap terdiri dari


asetaminofen,

isomeptan

mukat

(amin

simpatomimetik)

dan

dikloralfenazon (derivat kloral hidrat) yang paling sering menunjukkan


bukti manfaat di beberapa penelitian plasebo-terkontrol. Obat ini dapat
dijadikan alternatif untuk pasien yang mendapat serangan migrain ringan
sampai sedang.
b. Alkaloid Ergot dan turunannya
1. Alkaloid ergot merupakan 5-HT yang bersifat non selektif, yaitu agonis
reseptor yang menyebabkan pembuluh darah intrakarnial berkontriksi serta
menghambat timbulnya peradangan/inflamasi neurogenik di sistem
trigeminovaskuler. Alkaloid ergot juga mempunyai aktivitas pada reseptor
-adrenergik, -adrenergik dan dopaminergik.
2. Ergotamin tartrat tersedia untuk pemberian per oral, sublingual dan retal.
Sediaan oral dan rektal mengandung kafein untuk meningkatkan absorbsi
dan meningkatkan analgesik. Ergotamine oral mengalami metabolisme
lintas pertama pada hepar dalam umlah cukup besar, maka lebih dianjurkan
pemberian per rektal. Dosisnya harus dititrasi (dinaikkan bertahap) agar
tetap berkhasiat tetapi tidak menyababkan mual.
3. Dihidroergotamin (DHE) tersedia untuk peberian secara intranasal dan
parenteral (intramuskular [IM], intravena [IV], subkutan [SC]). Pasien
dapat dilatih untuk dapat menyuntikkan DHE secara IM atau SC untuk
dirinya sendiri. Khasiat DHE intranasal telah terbukti secara konsisten.
4. Mual dan muntah merupakan efek samping yang biasa ditemui pada derivat
egotamine. Ergotamin 12 kali lebih menyebabkan mual (emeogenik)
dibandingkan dengan DHE. Percobaan pertama dengan antiemetik harus
diberikan jika pasien menerima terapi ergotamine dan DHE secara IV. Efek
samping lain meliputi nyeri otot, diare dan dada sesak.gejala iskemia
peripheral (ergotism) berat meliputi rasa dingin, mati rasa, nyeri pada
tangan dan kaki, paresthesia berkelanjutan, nadi perifer melemah, serta
klaudikasi. Gangren pada anggota gerak (ekstremitas), infark miokard,
nekrosis hepar, serta iskemia otak dan usus pernah dilaporkan (jarang)
terjadi pada pemakainan ergotamine. Derivat ergotamine tidak boleh

Migrain

Page 12

diberikan bersamaan dalam 24 jam penggunaan golongan triptan demikian


juga sebaliknya.
5. Kontraindikasi meliputi gagal ginjal atau hepar, penyakit pada pembuluh
darah koroner, serebral, atau perifer, hipertensi yang tidak terkontrol,
sepsis, dan wanita hamil atau menyusui.
6. DHE tampaknya tidak menyebabkan rebound headache (sakit kepala justru
timbul kembali setelah pemakaian obat), tetapi pembatasan dosis untuk
ergotamine harus dipantau sangat ketat untuk mencegah komplikasi
tersebut.
c. Agonis Reseptor Serotonin (Golongan Triptan)
1. Sumatriptan, zolmitriptan, naratriptan, rizatriptan, almotriptan, frovatriptan,
dan eletiptan merupakann terai lini pertama untukpasien dengan migrain
sedang sampai berat atau sebagai terapi darurat jika obat lain yang tak
spesifik tidak berhasil.
2. Obat-obat ini adalah agonis selektif dari reseptor 5-HTIB dan 5-HTID.
penyembuhan sakit kepala migrain adaah hasil dari :
Vasokonstriksi dari pembuluh darah intrakarnial melalui stimulasi pada
reseptor 5-HTIB vaskular.
Inhibisi pelepasan neuropeptida yang bersifat vasoaktif dari saraf
trigeminalperivaskular melalui stimulasi reseptor 5-HTID
Hambatan penghantaran sinyal nyeri di dalam batang otak melalui
stimulasi reseptor 5-HTID. Obat-obat tersebutjuga menunjukkan berbagai
kekuatan afinitas untuk reseptor 5-HTIA, 5-HTIE, dan 5-HTIF.
3. Sumatriptan tersedia untuk pemberian secara oral, intranasal, dan SC.
Injeksi SC dikemas dalam bentuk alat autoinjector untuk digunakan sendri
oleh pasien. Khasiat antara dosis 50 mg dengan 100 mg adalah sebanding.
Jika dibandingkan dengan sediaan oral, pemberian secara SC menunjukkan
peningkatan khasiat obat dan mula kerja yang lebih cepat (10 dibanding 30
menir). Sumatriptan intranasal juga mempunyai mula kerja yang lebih
cepat (15 menit) dari pada sediaan oral dan menghasilkan efek obat dengan
laju yang serupa. Sekitar 30%-40% pasien yang cocok dengan sumatriptan
mengalami sakit kepala kambuhan dalam 24 jam. Dosis kedua yang
diberikan pada saat terjadi kekambuhan biasanya efektif. Namun,

Migrain

Page 13

pemberian dosis oral atau SC kedua secara rutin tidak akan meningkatkan
laju efek awal obat atau mencegah kekambuhan sakit kepala.
4. Obat generasi kedua mempunyai bioavaibilitas oral yang lebih besar dan
waktu paruh (half life) yang lebih lama dibandingkan dengan Sumatriptan
oral, yang secara teoritis dapat memperbaiki kondisi asalkan pengobatan
secara teratur dan dapat mengurangi kekambuhan sakit kepala. Namin,
diperlukan penelitian perbandingan secara klinis untuk menentukan khasiat
relatifnya.
5. Karakteristik farmakokinetik triptan ditunjukkan pada Tabel 2.3.
6. Respon klinis terhadap golongan triptan bervariasi diantara orang per orang
pasien, dan tidak adana respon terhadap salah satu bahan obat bukan berarti
terapi dengan obat lain yang segolongan juga tidak efektif.
7. Efek samping golongan triptan meliputi paresthesias (kesemutan), fatigue
(kelelahan), dizziness (pusing), flushing (wajah memerah), warm
sensations (rasa hangat), somnolence (mengantuk). Reaksi ringan pada
tempat suntikan pernah dilaporkan pada pemakaian secara SC, dan
perubahan pada indra pengecap serta gangguan nasal (bagian hidung) dapat
terjadi pada pengguna secara intranasal. Sampai dengan 15% pasien
melaporkan dada sesak, tekanan, terasa berat atau nyeri pada dada, leher
atau tenggorokan. Walaupun mekanisme gejala-gejala tersebut belum
diketahui, tampaknya bukan karena gangguan jantung pada kebanyakan
pasien tersebut. Tetapi pernah dilaporkan secara terpisah adanya kasus
infark miokard dan spasme pembuhul darah koroner disertai iskemia.
8. Kontra indikasi meliputi penyakit jantung iskemik, tekanan darah tinggi
tidak terkontrol, gangguan serebrovaskular, serta migrain disertai hemiplegi
(lumpuh sebelah anggota badan) dan migrain. Golongan triptan jangan
diberikan dalam 24 jam bersamaan dalam 2 minggu terapi dengan
penghambat monoamine oksidase.

Tabel 2.3. Karakteristik Farmakokinetik Golongan Triptan


No.

Migrain

Nama Obat

Waktu
Paruh

Waktu
Mencapai
Page 14

Bioavaibilitas

Eliinasi

(Jam)
1

Almotriptan

3-4

Kadar
Maks(tmaks)
1, 4-3, 8 jam

2
3
4

Eletriptan
Frovatriptan
Naratriptan

5
25
5-6

1, 4-2, 8 jam
2-4 jam
2-3 jam

Rizatriptan
Tablet Oral
Disintegrating
Sumatriptan
Injeksi SC
Tablet Oral
Semprot Hidung
Zolmatriptan
Oral
Disintegrating
Nasal

2-3

d. Golongan Opiod
1. Opiod dan turunannya

70

50
24-30
63-74

40-45

MAO-A,
CPY4503A4
dan 2D6
CYP 3A4
CYP1A2
CYP450
(berbagai
isoenzim)
MAO-A

1-1,5 jam
1,6-2,5 jam
2

MAO-A
12-15 menit
2-5 jam
1-2,5 jam

97
14
17
40

CYP 1A2,
MAO-A

1,5 jam
3 jam
4 jam
(misal:

meperidin,

butorfano,

oksikodon,

hidromorfon) memberikan efek menyembuhkan migrain jenis intractable


(tidak sembuh dengan obat lain) tetapi hanya boleh diberikan kepada pasien
yang jarang mengalami sakit kepala sedang sampai berat, dimana terapi
konvensional dikontraindikasikan atau sebagai pertolongan darurat setelah
gagal merespon obat konvensional.
2. Butorphanol intranasal merupakan alternatif bagi pasien yang sering harus
dirujuk ke dokter atau IGD untuk terapi igrain dengan injeksi. Mula kerja
analgesik terjadi dalam waktu 15 menit setelah pemberian obat. Efek
samping obat meliputi dizziness (pusing), nausea (mual), vomiting
(muntah), drowsiness (mengantuk), dan gagal indra pengecapan. Golongan
opiod juga merupakan obat yang harus di awasi dan dilaporkan dengan
ketat karena potensi menimbulkan ketergantungan dan ketagihan.
e. Golongan Glukokortikoid
1. Pemberian golongan glukokortikoid oral atau parenteral jangka pendek
(misal prednisolon, deksametason, hidrokortison) tampak berguna bagi
Migrain

Page 15

sakit kepala membandel (refractory headache) yang telah berlangsung


selama beberapa hari.
2. Golongan kortikoid mungkin terapi darurat yang efektif untuk terapi status
migrainosus, yaitu migrain berat yang dapat berlansung sampai 1 minggu.
2.7.2.2. Terapi Profilaksis Migrain
Terapi profilaksis (tabel 2.4) adalah pemberian obat setiap hari untuk
mengurangi frekuensi, keparahan, dan lamanya serangan untuk meningkatkan
respon terhadap terapi akut yang bersifat simpatomimetik. Profilaksis harus
diberikan pada migrain kambuhan yang menyebabkan keterbatasan aktivitas
pasien, sering mengalami serangan sehingga memerlukan pengobatan simptomatis
lebih dari 2 kali seminggu, jika terapi simptomatis tidak efektif, kontraindikasi
atau mempunyai efek samping serius, migrain variants yang tidak lazim terjadi
yang menyebabkan gangguan bermakna dan/atau resiko gangguan neurologik, dan
pasien yang cenderung tidak tahan terhadap serangan migrain.
Terapi pencegahan juga dapat diberikan secara berselang jika sakit kepala
terjadi dengan pola yang dapat diperkirakan (misal, migrain yang dipicu oleh
olaraga atau menstruasi) . karena khasiat berbagai obat tampaknya serupa, maka
pemilihan obat didasarkan kepada efek saming dan penyakit penyerta pada pasien.
Respon individual terhadap bahan obat tertentu tidak dapat diramalkan, dan
diperlukan terapi pengobatan selama 2 sampai 3 bulan agar dapat menilai khasiat
masing-masing obat. Hanya propanolol, timolol dan asam valproat yang diberikan
ijin FDA untuk indikasi tersebut.
Profilaksis harus dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan perlahan
sampai efek terapi atau efek sampingnya tidak dapat ditoleransi lagi. Profilaksis
biasanya dilanjutkan sampai sekurang-kurangnya 3-6 bulan setelah frekuensi dan
kearahan sakit kepala berkurang dan kemudian secara bertahap dikurangi dan
dihentikan, jika memungkinkan.
Tabel 2.4 Terapi Profilaksis Migrain
No
Nama Obat
1 Antagonis -adrenergik
Atenolo
Metoprolol a
Nadolol
Propanolol a,b
Timolol b
Migrain

Dosis
25-100 mg/hr
50-300 mghr dalam dosis terbagi
80-240 mg/hr
80-240 mg/hr dalam dosis terbagi
20-60 mg/hr dalam dosis terbagi
Page 16

3
4
5

Antidepresan
Amitriptilin
Doksepin
Imipramin
Nortriptilin
Protriptilin
Fluokserin
Fenelzin c
Asam Valproat/sodium
Divalproat b
Verapamil a
Metisergide b,c

25-150 mg pada saa akan tidur malam


10-200 mg pada saa akan tidur malam
10-200 mg pada saa akan tidur malam
10-150 mg pada saa akan tidur malam
5-130 mg pada saa akan tidur malam
10-80 mg/hr
15-60 mghr dalam dosis terbagi
500-1500 mg/hr dalam dosis terbagi
240-360 mg/hr dalam dosis terbagi
2-8 mg/hr dalam dosis terbagi, diminum
bersama makanan

Antiinflamasi Non Steroid c


Asprin
1300 mg/hr dalam dosis terbagi
Ketoprofen a
150 mg/hr dalam dosis terbagi
a
Naproksen Sodium
550-1100 mg/hr dalam dosis terbagi
7
Vitamin B2
400 mg/hr
a
Tersedia bentuk sediaan sustaines-release
b
FDA member ijin/lisensi untuk pencegahan migrain
c
Pemakaian setiap hari atau jangka lama tidak dianjurkan karena potensi
a. Antagonis Adrenerdik
1. Golongan -Bloker (propanolol, nadolol, timol, atenolol, dan
6

metoprolol) merupakan obat yang paling banyak untuk mencegah


migrain. Golongan -Bloker dengan aktivitas simpatomimetik intrinsik
kurang efektif.
2. Efek samping meliputi mengantuk, kelelahan, gangguan pola tidur,
mimpi buruk, gangguan ingatan (memori), depresi, intoleransi saluraan
cerna, dsfungsi seksual, bradikardia, dan hipotensi.
3. Golongan -Bloker harus digunakan dengan hati-hatipada pasien
dengan gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer, gangguan
konduksi atriovebtrikular, asma, depresi, dan diabetes.
b. Golongan Antidepresan
1. Aitriptilin merupakan obat terpilih dari golongan antidepresan trisiklik
(TCA), tetapi imipramin, doksepin, nortriptilin, dan protriptilin juga
digunakan.
2. Efek menguntungkn bagi terapi profilaksis migrain tersebut tidak terkait
efektivitas antidepresan dan mungkin berkaitan dengan regulasi pada 5HTZ sentral dan erseptor adrenergik.

Migrain

Page 17

3. Biasanya TCA dapat ditoleransi pada profilaksis migrain dengan dosis


rendah, tetapi efek antikolinergik menyebabkan penggunaannya
menjadi terbatas, terutama pada pasien dengan benign prostatic
hyperplapsia (pembesaran prostat jinak) atau glukoma. Dosis yang
diminum pada malam hari lebih dianjurkan untuk menghindari sedasi.
4. Penghambatan selektif ambilan serotonin (selective seerotonin reuptake
inhibitor SSRIs) sebagai profilaksis migrain belum diteliti secara luas.
Belum ada data yang konsisten untuk fluokserin, dan tidak ada data
prospektif yang mengevaluasi sertalin, paroksetin, fluvoksamin, dan
citalopram.
5. Golongan SSRI dianggap kurang selektif dibandingkan dengan
golongan TCA untuk profilaksis migrain, dan tidak boleh dijaikan terapi
pilihan pertama atau kedua. Namun, SSRI dapat bermanfaat jika depresi
merupakan pemicu sakit kepala.
c. Antikonvulsan
1. Asam valproat dan sodium divalproat (1: 1 ,olar kombinasi dari sodium
valproat dan asam valproat) dapat mengurangi keparahan, frekuensi
timbulnya an lamanya sakit kepa antara 50% sampai 65% penderita
migrain.
2. Khasiat asam valproat sebagian disebabkan oleh penghaambatan neuron
serotonergik, dari nukleus dorsal raphe.
3. Efek samping meliputi mual jarang terjadi untuk sodium divalproat dan
pada titrasi dosis secara beratahap), tremor, mengantuk, berat badan
bertambah, kerontokan rambut, dan hepatotoksisitas (jarang sekali).
4. Topiraat sedang dalam kajian FDA sebagai profilaksis migrain.
Gabapentin dan antikonvulsan lain mungkin juga bermanfaat, tetapi
diperlukan penelitian lebih lanjut ntuk memastikan dapat digunakan.
d. Metilsergid
1. Metisergid merupakan ergot alkaloid semisintetk yaitu suatu antagonis
reseptor 5-HTZ yang poten. Bekerja dengan cara menstabilkan
neurotransmisi

serotonergik

disistem

trigeminovaskular

untuk

menghambat timbulnya inflamasi neurogenik.


2. Penggunaan terbatas karena adanya komplikasi yang serius dan
potensial membahayakan berupa retroperotoneal, endokardial, fibrosis

Migrain

Page 18

pulmoner apabila digunakan dalam jangka waktu lama dan tidak


terputus. Pemakaiannya hanya untuk pasien dengan sakit kepala
membandel, yang tidak dapat diatasi dengan profilaksis yang lain.
3. Konsekuensinya, dianjurkan diberi jeda 4 minggu tanpa obat setiap telah
diterapi selama 6 bulan. Dosis harus diturunkan perlahan dalam jangka
wakti 1 minggu untuk mencegah penyakit yang timbul kembali.
4. Pemantauan terhadap komplikasi fibrotik harus meliputi auskultasi
kardia secara periodik, X-ray dada, ekokardiografi, dan pencitraan
ringga perut. Pasien sebaiknya melaporkan adanya nyeri menjalar ke sisi
kiri tubuh (flank pain), sulit kencing (dysuria), nyeri dada (chest pain)
dan sesak nafas (shortness of breath)
5. Metisergid dapat ditoleransi jika diminum bersama makanan. Efek
samping selain pada saluran cerna meliputi perubahan pola tidur
(insomnia), vivid dreams, halusinasi claudications, dan kram otot. Pada
label harus dicantumkan peringatan tentang efek samping tambahan dan
kontraindikasinya.
e. Penghambat kanal kalsium
Verapamil hanya memberikan manfaat sedang untuk mengurangi
timbulnya serangan. Pada dua penelitian terkontrol dengan placebo
(placebo controlled studies). Obat ini hanya sedikit berguna untuk serangan
migrain berat. Biasanya dianggap sebagai obat pencegahan lini kedua atau
ketiga.
f. Obat Anti-inflamasi Nonsteroidal (AINS)
1. Golongan AINS mempunyai khasiat sedang dalam menurunkan tingkat
keparahan, frekuensi dan lamanya serangan, tetapi potensi efek samping
pada saluran cerna dan toksisitas pada ginjal membatasi pemakaian
jangka panjangnya.
2. AINS digunakan secara berselang untuk pencegahan sakit kepala yang
kambuh dengan pola yang dapat diduga (misal, migrain karena
menstruasi). Pengobatan harus dimulai 1-2 hari sbelum sakit kepala
menyerang dan harus dilanjutkan sampai saat serangan terparah telah
dilampaui.

Migrain

Page 19

BAB III
KAJIAN RESEP MIGRAIN
Pengkajian Resep

R/ Sanmol

500 mg

Diazepam 2 mg
Mf da in caps

dtd

No.XV

2dd1 prn
R/ Antasida Doen

3 dd1 ac

3.1 Kelengkapan Administrasi


Komponen Resep

Lengkap ()

Nama dokter

SIP dokter

Keterangan
dr. Eddy Mulyadi
1.1.01.3172.0523/35002/11.16.2

Alamat dokter

Jl. Danau Tondang No.1,


Pejompongan, Jakarta Pusat

Tanggal penulisan resep

Jakarta, 9 Maret 2016

Tanda tangan/ Paraf dokter

Terdapat paraf dokter

Nama pasien

Ny. Dessy

Alamat pasien

Pejompongan Baru I

Umur pasien

Sapaan Ny. Menunjukkan usia

Migrain

Page 20

dewasa
Jenis Kelamin

Perempuan

Berat badan

Tidak ada

Nomor telepon Pasien

Perlu konfirmasi kepada pasien

3.2 Kelengkapan resep


Nama Obat

Potensi
Obat

Dosis Obat

Jumlah Obat
yang diminta

Sanmol

500 mg

Dua kali sehari bila perlu

15 kapsul

Diazepam

2 mg

Dua kali sehari bila perlu

15 kapsul

Antasida Doen

Tidak ada

Tiga kali sehari satu tablet


sebelum makan

10 tablet

Enzyplex

Tidak ada

Dua kali sehari, satu tablet

12 Tablet

Nalgestan

Tidak ada

Satu kali sehari, satu tablet

12 Tablet

3.3 Kesesuaian Farmasetika


a) Sanmol
1. Bentuk sediaan: Tablet
2. Komposisi
: Tiap tablet mengandung parasetamol 500 mg
3. Dosis
: 0,5 1 gram setiap 4-6 jam, DM: 4 gram per hari
4. Stabilitas
: Stabil
5. Inkompatibilitas: b) Diazepam
1. Bentuk sediaan : Tablet
2. Komposisi
: Tiap tablet mengandung diazepam 2 mg
3. Dosis
:
Ansietas: 2 mg, 3 kali per hari dinaikkan bila perlu. DM: 15-30 mg per hari
dalam dosis terbagi
4. Stabilitas
: stabil
5. Inkompatibilitas: c) Antasida Doen
1. Bentuk sediaan : Tablet kunyah dan suspensi
2. Komposisi
: AlOH 200 mg dan MgOH 200 mg
3. Dosis
: 3-4 x 1-2 tablet
Migrain

Page 21

4. Stabilitas
: Stabil
5. Inkompatibilitas: Obat yang diabsorpsi di lambung, contoh : antibiotik
Tetrasiklin dan simetidin
d) Enzyplex
1. Bentuk sediaan : Tablet
2. Komposisi
:
Amylase 10000 u, Protease 9000 u, Lipase 240 u, Asam Desoksikolik 30
mg, Dimetilpolisiloksan 25 mg, Vitamin B1 10 mg, Vitamin B2 5 mg,
Vitamin B6 5 mg, Vitamin B12 5g, Niasinamida 10 mg, Kalsium
pantotenat 5 mg.
3. Dosis
: 1-2 tablet sehari
4. Stabilitas
: Stabil
5. Inkompatibilitas: e) Nalgestan
1. Bentuk sediaan : Tablet
2. Komposisi
: fenilpropanolamin 15mg dan klorfeniramin maleat 2mg.
3. Dosis
: 3-4 kali sehari 1-2 tablet
4. Stabilitas
: Stabil
5. Inkompatibilitas: 3.4 Pertimbangan Klinis
a) Sanmol
Golongan Obat

Obat Bebas (B)

Indikasi

Nyeri ringan sampai sedang, nyeri sesudah operasi


cabut gigi, pireksia

Dosis

Oral: 0,5-1 gram setiap 4-6 jam, DM: 4 gram per hari
Pada resep dicantumkan kekuatan dosis dari sanmol
yang dikombinasikan dengan diazepam.
Dosis pada resep
: 500 mg
Cara penggunaan : sehari 2x1 tablet
Dosis 1x minum
: 500 mg
Dosis 1 hari
: 1 gram
Dosis maksimal/hari : 4 gram
Kesimpulan : dosis sanmol memenuhi aturan

Cara Penggunaan

Diminum 2 kali sehari, bila perlu.

Kontra Indikasi

Migrain

Hipersensitif

Page 22

Gangguan hati berat

Efek Samping
Jarang terjadi efek samping, tetapi dilaporkan terjadi
reaksi hipersensitivitas, ruam kulit, kelainan darah.
Interaksi Obat

Perhatian

Penggunaan jangka panjang dan dosis berlebih dapat


menyebabkan kerusakan hati, lihat pengobatan dalam
keadaan darurat pada keracunan.

b) Diazepam
Golongan Obat

Obat keras (K)

Indikasi

Pemakaian jangka pendek pada ansietas atau


insomnia, tambahan pada putus alkohol akut, status
epileptikus, kejang demam, spasme otot.

Dosis

Ansietas: 2 mg, 3 kali per hari dinaikkan bila perlu.


DM: 15-30 mg per hari dalam dosis terbagi. Pada
resep dicantumkan kekuatan dosis dari diazepam yang
dikombinasikan dengan sanmol.
Dosis pada resep
: 2 mg
Cara penggunaan : sehari 2x1 tablet
Dosis 1x minum
: 2 mg
Dosis 1 hari
: 4 mg
Dosis maksimal/hari : 15-30 mg
Kesimpulan : dosis memenuhi aturan

Cara Penggunaan

Diminum 2 kali sehari, bila perlu.

Kontra Indikasi
Hipersensitif terhadap golongan benzodiazepin.
Efek Samping

Merasa mengantuk atau pusing, merasa lemas,


gangguan fungsi koordinasi atau keseimbangan, sakit
kepala, mudah lupa dan merasa bingung, bersikap
agresif.

Interaksi Obat

<moderat> diazepam dengan Klorfeniramin Maleat


Penggunaan kedua obat ini secara bersamaan dapat

Migrain

Page 23

meningkatkan efek sistem saraf pusat dan atau efek


depresi respiratori secara adiktif maaupun sinergis.
<moderat> diazepam dengan Antasida Doen
Antasida dapat menurunkan absorpsi gastrointestinal
dan menurunkan konsentrasi maksimal dari beberapa
gol.benzodiaazepin, salah satunya diazepam.
<moderat> diazepam dengan makanan
Penggunaan bersama dengan alkohol berpotensi untuk
mengalami depresi SSP.
Peringatan

Bagi wanita hamil, merencanakan kehamilan,


atau sedang menyusui, dilarang mengonsumsi
obat ini. Obat ini bisa memengaruhi janin dalam
kandungan.

Jangan mengonsumsi obat ini dalam jangka


panjang
untuk
menghindari
ketagihan,
kecanduan, dan juga efek kebal terhadap obat ini.

Jangan mengonsumsi minuman keras ketika


minum obat ini. Obat ini ditambah dengan
alkohol dapat membuat Anda sangat mengantuk.

Obat ini mengakibatkan rasa kantuk, pusing, dan


penglihatan kabur. Jangan mengemudi atau
mengoperasikan alat berat saat mengonsumsi obat
ini.

Harap berhati-hati bagi pecandu narkoba dan


alkohol, penderita gangguan pernapasan,
gangguan ginjal, gangguan hati, gangguan
mental, kelainan pada darah, dan myasthenia
gravis.

Temui dokter jika mengalami perubahan pola


pikir atau perilaku. Obat ini bisa menyebabkan
kebingungan, halusinasi, dan bahkan pikiran
untuk bunuh diri.

Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera


temui dokter.

c) Antasida Doen
Golongan Obat
Migrain

Obat bebas (B)


Page 24

Indikasi

Pengobatan simtomatik gejala hiperasiditas yang


disebabkan gastritis, tukak lambung, refluks esotagitis
dan hernia hiatus diafragma

Dosis

Pada resep tidak diberitahu dosis yang digunakan,


maka digunakan kompisisi yang biasa digunakan
yaitu :
- Allumunium hidroksida (Al2OH) 200 mg
- Magnesium hidroksida (Mg2OH) 200 mg
Cara penggunaan : obat diminum sehari 3 tablet.
Dosis 1x minum : Allumunium hidroksida 200 mg
Magnesium hidroksida 200 mg
Dosis 1 hari :
Allumunium hidroksida 200 mg x 3 = 600 mg
Magnesium hidroksida 200 mg x 3 = 600 mg

Cara Penggunaan

Tablet peroral dikonsumsi dengan cara dikunyah


terlebih dahulu sebelum ditelan. Suspensi dikonsumsi
melalu peroral. Kemasan dikocok terlebih dahulu
sebelum digunakan.

Penyebab
Penyakit

Tukak lambung merujuk kepada penyakit di saluran


pencernaan bagian atas yang disebabkan oleh asam
dan pepsin. Keadaan penyakit tukak lambung luas
meliputi kerusakan mukosa, eritema,erosi mukosa dan
ulkus

Kontra Indikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap aluminium atau
magnesium.
Efek Samping
Efek samping yang paling sering timbul adalah diare
dan konstipasi. Pada pasien dengan insufisiensi ginjal,
dapat terjadi efek samping sistemik oleh aluminium
dan magnesium. Magnesium dapat menimbulkan
hipermagnesemia pada pasien dingan gagal ginjal.
Karena antasida yang mengandung iluminium-dapat
memperlambat pengosongan lambung, maka tidak
boieh digunakan untuk mencegah pneumonitis
aspirasi.

Migrain

Page 25

Interaksi Obat

Antasida dapat mengurangi absorbsi berbagai obat


misalnya INH, penisillin, tetrasiklin, nitroftrantoinl
asam nalidiksat, sulfonamid, fenilbutazon, digoksin
dan klorpromazin.
<mayor> AlOH dengan makanan.
Pengaruh makanan dapat meningkatkan konsentrasi
serum Al secara signifikan sehingga menyebabkan
toksisitas.

Mekanisme

Antasida adalah golongan obat yang digunakan untuk


menetralkan asam di lambung. Secara alami lambung
memproduksi suatu asam, yaitu asam klorida (HCl)
yang berfungsi untuk membantu proses pencernaan
protein. Antasida bekerja dengan cara menetralkan
lambung yang terlalu asam. Selain menetralkan asam
lambung, antasida juga meningkatkan pertahanan
mukosa lambung dengan memicu produksi
prostaglAchmadn pada mukosa lambung.

Perhatian

Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak. Jangan


minum lebih dari 24 sendsk,takar/teMablet dalam
24 jam atau menggunakan dosis maksimurn lebih
dari 2 minggu, kecuali atas petunjuk dokter.
Jangan diberikan pada penderita penyakit ginjal.
Penggunaan antasida yang mengandung aluminium
jangka panjang pada pasien dengan gagal ginjal
dapat
menyebabkan
atau
memperburuk
osteomalasia dialisis. Peningkatan aluminium
jaringan menyebabkan ensefalopatia dan sindroma
osteomalasia.

d) Enzyplex
Golongan Obat

Obat bebas (B)

Indikasi

Gangguan pencernaan yang termanifestasi (ditandai)


oleh kembung & rasa tidak enak pada perut.

Dosis

Migrain

Dosis : 2 kali Sehari 1 tablet

Page 26

Cara Penggunaan

Diberikan bersama dengan makanan atau sesudah


makan.

Efek Samping

Obat ini merupakan obat yang aman, tidak ada efek


samping yang pernah dilaporkan.

e) Nalgestan
Golongan Obat

Obat bebas terbatas (T)

Indikasi

Vasokonstriktor & antihistamin pada hidung


tersumbat, selesma, bersin-bersin, masuk angin,
sinusitus, rinitis alergi, rinitis vasomotor.

Dosis

Oral: 1 tablet 3-4 kali per hari


Pada resep dicantumkan kekuatan dosis dari nalgestan
Dosis pada resep
: 1 tablet
Cara penggunaan : sehari 1x1 tablet
Kesimpulan : dosis nalgestan tidak memenuhi aturan

Cara Penggunaan

Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan.

Kontra Indikasi

Hipertiroidisme, hipertensi,
penyakit jantung,
feokromositoma, glaukoma sudut tertutup; mendapat
terapi dengan MAOI; penyakit saluran nafas bwh;
bayi baru lahir atau prematur; laktasi.

Efek Samping

Gangguan GI, susah kencing, kelemahan otot, tremor,


hipotensi, penglihatan kabur, tinitus, mulut kerig,
dada terasa sesak; berkeringat, haus, anoreksia.

Interaksi Obat

<moderat> diazepam dengan CTM


Penggunaan kedua obat ini secara bersamaan dapat
meningkatkan efek sistem saraf pusat dan atau efek
depresi respiratori secara adiktif maaupun sinergis.
<moderat> Nalgestan dengan makanan
Penggunaan bersama dengan alkohol berpotensi untuk
mengalami depresi SSP dan efek kardiovaskular.

Migrain

Page 27

Perhatian

Jangan mengendarai kendaraan bermotor atau


mengoperasikan mesin. Penderita hipertensi, penyakit
jantung, tirotoksikosis, atau DM.

Analisa DRP
DRP
Masalah
Indikasi tanpa
obat
Obat tanpa
indikasi
Obat tidak tepat Dosis
Ketidakpatuhan pasien
Efek samping
Interaksi Obat
1. Diazepam >< CTM
<moderat>
2. Diazepam >< antasida doen
<minor>
3. diazepam >< makanan
<moderat>
4. Aluminium hidroksida ><
makanan <mayor>

Plan
Interaksi moderat antara
diazepam dengan CTM
pada nalgestan dan makanan
masih
dapat
diberikan
melalui monitoring kepada
pasien. Interaksi mayor,
AlOH dengan makanan
ditanggulangi
dengan
memberikan antasida doen
sebelum makan.

BAB IV
PEMBAHASAN
Migrain adalah nyeri kepala berulang yang idiopatik, dengan serangan
nyeri yang berlangsung 4-27 jam, sifatnya berdenyut, intensitas nyeri sedangberat, diperhebat oleh aktivitas fisik rutin, dapat disertai nausea, fotofobia dan
Migrain

Page 28

fenofobia. Faktor usia dan jenis kelamin merupakan salah satu faktor pemicu
serangan migrain. Prevalensi migrain pada wanita lebih besar daripada pria (rasio
3:1), kemungkinan disebabkan faktor hormonal. Nyeri kepala migrain pada
wanita dapat dipicu oleh turunnya kadar 17- estradiol plasma saat akan haid.
Berdasarkan resep yang diterima oleh pasien dan berdasarkan konsultasi
yang kita lakukan dengan dokter, pasien menderita penyakit migrain. Dari resep
tersebut diketahui bahwa pasien yang menderita migrain adalah pasien dewasa.
Obat yang digunakan pada resep tersebut adalah Sanmol (Paracetamol),
Diazepam, Antasida Doen (Al(OH)2 dan Mg(OH)2), Enzyplex dan Nalgestan
(fenilpropanolamin dan klorfeniramin maleat). Sanmol digunakan sebagai
analgesik untuk mengatasi sakit kepala yang dialami pasien. Diazepam digunakan
sebagai ansietas. Antasida doen sebagai antiemetik untuk mengurangi mual
muntah. Nalgestan diberikan untuk mengurangi flu yang juga diderita oleh pasien.
Sedangkan enzyplex sebagai suplemen tambahan untuk memperbaiki sistem
pertahanan tubuh pasien dan kemungkinan adanya gangguan pencernaan yang
mungkin dialami pasien karena migrain. Mekanisme penghambatan migrain
adalah melalui penghambatan vasospasme yang diinduksi oleh mediator seperti
serotonin dan prostaglandin, penghambatan hipoksia sel, serta memperbaiki
viskositas darah dan pembentukan eritrosit.
Penilaian kerasionalan resep berdasarkan kondisi pasien sulit dilakukan
karena usia pasien tidak diketahui. Padahal usia pasien mempengaruhi dosis yang
seharusnya diberikan. Karena keterbatasan data diasumsikan bahwa peresepan
oleh dokter telah memperhitungkan usia pasien sehingga obat yang diberikan
sudah sesuai. Akan tetapi pada peresepan obat nalgestan yang seharusnya
digunakan 3 kali sehari, hanya diresepkan untuk digunakan 1 kali sehari 1 tablet.
Kondisi fisiologi pasien tersebut juga tidak diketahui apakah sedang hamil,
menyusui atau tidak. Kondisi ini berpengaruh terhadap penggunaan obat, dimana
obat diazepam tidak dianjurkan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil
ataupun menyusui.
Pada resep tersebut terdapat DRP yaitu interaksi obat antara antasida doen
dan diazepam. Jika digunakan secara bersamaan, antasida dapat mengurangi
Migrain

Page 29

konsentrasi plasma obat diazepam sehingga akan menurunkan efek terapi dari
diazepam. Untuk mengatasi hal tersebut maka solusi yang bisa dilakukan yaitu
dengan memberikan jarak minum obat. Diinformasikan kepada pasien agar
antasida diminum 2 jam sebelum makan. Setelah itu, baru minum obat diazepam
agar efek terapi dari diazepam dapat maksimal.
Adapun dalam kasus ini, perlu diinformasikan kepada pasien bahwa obat
diazepam dan nalgestan (mengandung CTM) yang dapat menyebabkan kantuk,
sehingga pasien dianjurkan untuk tidak menjalankan mesin atau berkendara
selama mengonsumsi obat tersebut. Selain itu, penggunaan Sanmol-Diazepam
hanya pada saat diperlukan, yakni bila kepala terasa nyeri.
Informasi obat dan aspek konseling bagi pasien migrain meliputi indikasi,
cara penggunaan, waktu penggunaan, efek samping, terapi nonfarmakologinya
yang dapat membantu menghilangkan gejala, serta hal-hal lain yang dibutuhkan
pasien. Peran apoteker sebagai ahli obat-obatan dalam memberikan informasiinformasi mengenai obat-obatan antimigrain sangan penting dalam membantu
keberhasilan pengobatan pasien.

Migrain

Page 30

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
a. Pasien yang diberikan resep, sesuai dengan yang ada pada makalah ini
yakni mengalami serangan migrain.
b. Obat-obatan yang dituliskan pada resep tersebut sudah sesuai dengan
tujuan pengobatannya, yaitu untuk mengatasi serangan migrain, serta
memenuhi kriteria tepat indikasi, tepat dosis, tepat pemilihan obat, dan
tepat

penilaian

kondisi

pasien.

Namun

dalam

resep

belum

mencamtumkan cara penggunaan yang tepat, yaitu hanya digunakan jika


mengalami serangan migrain.
5.2. Saran
a. Saat pemberiaan obat harus disertai dengan pemberian informasi
mengenai:
1. Nama obat, khasiat, dan aturan pakainya.
2. Efek samping yang mungkin timbul.
3. Saran agar pasien mengkonsumsi obat sesuai aturan.
4. Saran agar pasien merubah gaya hidup, seperti manajemen stres dan
istirahat yang cukup, dan menghindari faktor-faktor yang dapat
mencetuskan serangan migrain, sehingga serangan migrain bisa
berkurang frekuensinya atau bahkan tidak muncul lagi.
b. Klinisi dan pasien migrain hendaknya bekerja sama untuk menciptakan
rencana pengelolaan jangka panajng untuk mengurangi frekuensi dan
keparahan serangan, meminimalkan gangguan terhadap emosi dan
aktivitas pasien serta meningkatkan mutu kehidupannya.

Migrain

Page 31

DAFTAR PUSTAKA
Boadrean G, & Leroux E. (2006). The complications of migrains classified under
the International Clarification of Headache Disorders: a review Headache
Care
Vol.3
No.2.
16
Maret
2016.
http://librapharm.com/headeradmin/upload/0150web3.pdf
http://www.drugs.com/interactions-check.php?drug_list=127-0,144-0,276-0,16073549
Ikatan Apoteker Indonesia. 2010. ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia,
Volume 46 2011 s/d 2012. Jakarta : PT ISFI.
Iqbal. KM. Rambe AS, & Sjahrir H (2005). Perbandingan Nilai Visual Analog
Scale dengan Skala Verbal Derajat Nyeri Kepala pada Penderita Nyeri
Kepala Primer di RSUP H. Adam Malik Medan. Majalah Kedokteran
Nusantara Volume 38 No.4 Desember 2005. 16 Maret 2016.
http://usupress.usu.ac.id/files/MKN%20Vol_%2038%20No_
%204%20Des_%202005.pdf
Migren. Tanpa Tahun. 17 Maret 20016.
http://usupress.usu.ac.id/files/NYeri%20_layout_normal_bab%202.pdf
Nasution IK, Rambe AS, Sjahrir H. (2007). Gangguan Memori pada penderita
Nyeri Kepala Primer Kronik. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40
No.4 Desember 2007. 15 Maret 2016.
http://usupress.usu.ac.id/files/MKN%20Vol%2040%20No
%204%20Desember%202007.pdf
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Menteri Kesehatan Republik
Indonesia
Sukandar, E. Yulinah, dkk. (2008). ISO Farmakoterapi. Hal 564-577. Jakarta: PT.
ISFI Penerbitan.

Migrain

Page 32