Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Semakin pesatnya perkembangan suatu teknologi dan perubahan zaman membuat

persaingan antar perusahaan sejenis menjadi semakin ketat, perlu adanya strategi yang
mampu meningkatkan produktivitas agar perusahaan mampu mengelola sistem produksi
dengan baik, meningkatkan efisiensi sumber daya yang digunakan, meningkatkan kualitas
produk dan memenuhi target permintaan konsumen.
Kendala perusahaan dalam meningkatkan produktivitas di lantai produksi umumnya
dipengaruhi oleh faktor penggunaan sumber daya yang tidak tepat selama kegiatan produksi
berlangsung. Diperlukan upaya pengukuran produktivitas yang tepat untuk meningkatkan
produktivitas di lantai produksi.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat produktivitas di
lantai produksi yaitu metode Objective Matrik (OMAX). Pengukuran metode OMAX
memberikan gambaran mengenai keadaan produktivitas perusahaan. Hasil akhir dari
pengukuran metode OMAX menunjukkan tingkat tinggi rendahnya produktivitas di sebuah
perusahaan.

1.2

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelakan apa itu Metode Objective Matriks (OMAX)
2. Menjelaskan Metode OMAX
3. Contoh studi kasus dalam penerapan Metode OMAX untuk mengukur produktivitas
perusahaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Metode Objective Matriks (OMAX)


Pengukuran pada model OMAX (Objective Matrix) dikembangkan oleh James L.

Riggs di Oregon State University. OMAX menggabungkan kriteria-kriteria produktivitas ke


dalam suatu bentuk yang terpadu dan berhubungan satu dengan yang lainnya.
Metode Objective Matrix (OMAX) merupakan salah satu metode pengukuran
produktivitas yang sederhana prosesnya dimana pengoperasiannya relatif sederhana, cepat
dan tidak membutuhkan latar belakang keahlian khusus bagi penggunanya, datanya mudah
diperoleh, mudah dipahami oleh pihak perusahaan, mudah beradaptasi terhadap lingkungan
(perusahaan) tempat dimana metode ini diterapkan sehingga mudah diterapkan di perusahaan
yang belum pernah melakukan pengukuran produktivitas.

2.2

Rancangan Matriks Objective Matriks (OMAX)


Dalam penyusunan matriks OMAX, ada tiga langkah utama yang harus dilakukan,

antara lain (Joniarto Parung, 1999) :


1. Defining
Langkah ini dilakukan pendefinisian dari kriteria produktivitas yang ingin diteliti.
Kriteria ini sebaiknya independen dan mudah diukur. Ukuran/dimensi, yang berkaitan
dengan volume dan waktu, harus ditetapkan dengan baik. Cara pengukuran dan
pengambilan data juga harus ditetapkan.
a. Kriteria Produktivitas, adalah kriteria yang menjadi ukuran produktivitas pada
bagian atau departemen yang akan diukur produktivitasnya, dan kriteria
produktivitas sebaiknya lebih dari satu.
b. Performansi Sekarang adalah nilai tiap produktivitas yang sebenarnya berdasarkan
pengukuran selama periode yang ditetapkan. Beberapa contoh dari kriteria dan
rasio pengukuran produktivitas yang digunakan adalah :
- Dalam kuantitas = output / jam kerja
- Dalam kualitas = jumlah cacat / jumlah produksi
- Dalam waktu
= total waktu tunggu/total waktu tersedia
- Dalam utilisasi = tenaga kerja aktual/tenaga kerja standar

2. Quantifying adalah badan dari matriks yang berisi tentang tingkat pencapaian dari
kriteria produktivitas. Matriks-matriks ini memiliki beberapa skala penilaian, antara
lain:
a. Level 10, berisi tingkat pencapaian realistis optimal yang mungkin dicapai.
b. Level 3, berisi tingkat performansi pada waktu awal pengukuran.
c. Level 0, berisi tingkat pencapaian terburuk yang mungkin terjadi.
Diantara level 0 sampai level 10 terdapat level 1-9, yang berisi kisaran pencapaian dari
nilai terjelek sampai nilai optimal. Level 1 dan 2 diperoleh dari interpolasi nilai level 0 dan 3,
dan level 4-9 diperoleh dari interpolasi nilai level 3 dan 10. Anggota dari grup kerja yang
dibentuk seharusnya berpartisipasi dalam penetuan level-level tersebut.
3. Monitoring pada

dasarnya

matriks

adalah

perhitungan

dari performance

indicator (indikasi unjuk kerja), hasil dari perhitungan ini terletak dibagian paling
bawah dari matriks. Pengamatan terdiri dari :
a. Score (Skor)
Nilai level dimana nilai pengukuran produktivitas berada. Misalnya, jika output /
jam sama dengan 100 terletak pada level 5, maka skor untuk pengukuran itu
adalah 5. Jika terdapat pengukuran yang tidak tepat sesuai dengan angka pada
matriks, maka harus dilakukan pembulatan kebawah.
b. Weight (Bobot)
Besarnya bobot dari setiap kriteria mempunyai pengaruh yang berbeda-beda
terhadap tingkat produktivitas yang diukur, maka dari itu perlu dicatat prosentase
kepentingan total produktivitas. Bobot ini yang nantinya akan diukur
menggunakan metode AHP.
c. Value (Nilai)
Nilai yang dihasilkan dari perkalian skor pada kriteria tertentu dengan bobot
kriteria tersebut.
d. Performance Indicators
Pada bagian ini terdapat tiga bagian, yaitu :
Current

= jumlah nilai semua kriteria pengukuran

Previous

= jumlah pengukuran sebelumnya

Indeks Produktivitas (IP)

= perbandingan antara periode yang diukur dengan

periode sebelumnya (untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan atau penurunan


produktivitas)
Rumus :

IP =

curent - previous
100%
Previous
3

Dimana :
IP

= Indeks Produktivitas (Productivity Index)

Current

= nilai kriteria saat pengukuran

Previous

= nilai kriteria periode sebelumnya

Sedangkan analisis deskriptif digunakan untuk menjawab tujuan kedua, yaitu


menjelaskan hasil pengukuran dan hasil evaluasi serta perencanaan peningkatan produktivitas.
2.3.

Studi Kasus Metode Objective Matriks (OMAX)


Pada kesempatan ini kami menetapkan satu buah kasus dalam penyeselesaian metode

OMAX dalam sebuah jurnal Teknik Industri.


Pada tahun 2010 PT. X kesulitan mencapai target produksi jika dibandingkan dengan
tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menyebabkan produktivitas perusahaan secara
keseluruhan mengalami penurunan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengevaluasi penurunan produktivitas yaitu dengan mengukur nilai produktivitas yang
didasarkan pada 3 kriteria yaitu kriteria effektifitas produksi, kriteria yield, kriteria jam kerja
efektif. Yang selanjutnya digunakan sebagai bahan perbaikan produktifitas dimasa yang akan
datang. Metode yang digunakan adalah Objective Matrix (OMAX), dengan langkah-langkah:
kriteria, perhitungan rasio, perhitungan interpolasi nilai matriks, penetapan sasaran, penetapan
bobot rasio dengan metode AHP, dan pembentukan matriks. Nilai produktivitas pada tahun
produksi 2010 tertinggi terjadi pada periode 7 dengan nilai

6,472 sedangkan nilai

produktivitas terendah terjadi pada periode 11 dengan nilai 1,236. Kriteria yang kurang
memberikan kontribusi terhadap produktivitas dan perlu diperbaiki adalah krite effektifitas
produksi karena nilai kriteria ini menunjukkan kinerja dibawah standar. Sedangkan kriteria
yield, kriteria jam kerja efektif menunjukkan nilai yang cenderung baik.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kriteria effektifitas produksi
4

Kriteria ini merupakan pengukuran produktivitas jumlah hasil produksi dengan total jam kerja
orang, kriteria ini dipilih untuk mengetahui perbandingan antara jumlah hasil produksi yang
telah dihasilkan dengan total jam kerja orang yang tersedia. Rasio-rasio yang menyusun
kriteria effektifitas produksi :

1. Kriteria yield
Kriteria ini merupakan pengukuran produktivitas jumlah hasil produksi dengan jumlah bahan
baku yang digunakan, kriteria ini dipilih untuk mengetahui perbandingan antara jumlah hasil
produksi dengan jumlah bahan baku yang digunakan. Rasio-rasio yang menyusun kriteria
yield:

2. Kriteria jam kerja efektif


Kriteria ini merupakan pengukuran produktivitas jam kerja yang tersedia dengan jam mesin
idle, kriteria ini dipilih untuk mengetahui perbandingan antara jam kerja yang tersedia dengan
dengan jumlah jam mesin idle. Rasio - rasio yang menyusun kriteria jam kerja efektif :

Nilai masing-masing kriteria produktifitas ditunjukkan pada Tabel 1.

Perhitungan nilai bobot


Penentuan nilai bobot ditekankan pada penentuan nilai prioritas kriteria yaitu membandingkan
mana yang lebih penting antara kriteria yang satu dengan yang lain. Untuk lebih
mempermudah penentuan prioritas maka perlu dibuat tabel konversi dari pernyataan prioritas
ke dalam angka-angka. Contoh skala nilai prioritas kriteria seperti pada Tabel 2.

Selanjutnya adalah membuat table perbandingan prioritas setiap kriteria dengan


membandingkan masing-masing kriteria yang ditunjukkan pada Tabel 3.

Kemudian menentukan bobot pada tiap kriteria, nilai bobot ini berkisar antara 0 1. dan total
bobot untuk setiap kolom adalah 1. Cara menghitung bobot adalah angka pada setiap kotak
dibagi dengan penjumlahan semua angka dalam kolom yang sama. Contoh bobot dari (kriteria
1, kriteria 1) = 1/ (1+1/2+1/5) = 0.589, (kriteria 2, kriteria 1) = 2 / (1+2+1/3) = 0.601.
Dengan perhitungan yang sama bobot prioritas tabel kriteria di atas ditampilkan dalam Tabel 4.

Selanjutnya adalah mencari nilai bobot untuk masing-masing kriteria. caranya adalah dengan
melakukan penjumlahan setiap nilai bobot prioritas pada setiap baris tabel dibagi dengan
jumlah kriteria sehingga diperoleh bobot masing-masing kriteria adalah: kriteria 1 = (0.589+0.
601+0.556)/3=0.582 (58.2%); kriteria 2 = (0.294+0.300+0.333)/ 3 = 0.309 (30.9%); kriteria 2
6

=(0.117+0.099+0.111)/ 3 = 0.109 (10.9%). Sehingga jumlah total bobot semua kriteria = 1


(100%) sesuai kaidah dimana jumlah total harus bernilai 100.
Pengukuran produktivitas
Dalam pengukuran produktivitas dengan model Objective Matrix (omax) terdapat badan
matrix yang dibagi dalam sepuluh tingkatan yang mempunyai tingkatan nilai. Sedangkan
performance indikator terdiri dari: current (jumlah nilai saat pengukuran), previous (jumlah
pengukuran priode sebelumnya), dan indeks produktivitas (IP). Perbandingan antara periode
yang diukur dengan periode sebelumnya adalah untuk mengetahui apakah terjadi kenaikan
atau penurunan produktivitas. Setelah dilakukan perhitungan maka didapatkan hasil
pengukuran kinerja dalam Tabel 5 (contoh pada periode 13). Dari hasil pengukuran
didapatkan hasil sebagai berikut: kriteria 1 terletak pada level ke-2; kriteria 2 terletak pada
level ke-7; kriteria 3 terletak pada level ke-9.

Pada periode 13 ( dibandingkan dengan periode 12 ) terjadi kenaikan produktivitas, hal itu
dapat terlihat karena nilai IP ( indeks produktivitas ) yang bernilai positif ( + ) yaitu sebesar
1,322 dan terjadi kenaikan dinilai perhitungan pada saat pengukuran (current) dari 1,855
menjadi 4,308. Peningkatan ini disebabkan karena terjadinya peningkatan nilai dari seluruh
kriteria.

Diagram tingkat produktivitas


Dari hasil perhitungan dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) maka dapat
dilihat perubahan produktivitas yang terjadi selama produksi tahun 2010 yang ditunjukkan
pada Gambar 2.

Analisa pengukuran produktifitas OMAX

Analisa pengukuran produkifitas berdasarkan kriteria dilakukan untuk mengetahui kriteria


yang berpengaruh dan harus ditingkatkan. Dari Tabel 6 diperoleh score dari masing-masing
kriteria produktifitas.

Dari hasil score masing-masing kriteria produktifitas menunjukkan bahwa pada score kriteria
pertama sangat perlu ditingkatkan karena nilai score yang dihasilkan didominasi produktivitas
buruk cukup banyak. Pada kriteria kedua juga perlu ditingkatkan meskipun sudah cukup baik
agar produktivitas perusahaan semakin meningkat. Sedangkan untuk kriteria ketiga
menunjukkan score yang cenderung baik bahkan ada yang berada pada tingkat baik sekali.

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Pengukuran pada model OMAX (Objective Matrix) dikembangkan oleh James L.

Riggs di Oregon State University. OMAX menggabungkan kriteria-kriteria produktivitas ke


dalam suatu bentuk yang terpadu dan berhubungan satu dengan yang lainnya.
Dari hasil perhitungan dan analisa data dapat disimpulkan bahwa: berdasarkan hasil
pengukuran produktivitas kerja dengan metode OMAX pada periode produksi tahun 2010,
terjadi penurunan dan peningkatan tiap periode. Peningkatan produktivitas terjadi pada
periode 3,6,7,8,12 dan 13. Sedangkan penurunan produktivitas terjadi pada periode
4,5,9,10,11 dan 14. Peningkatan produktivitas tertinggi terjadi pada periode 13 yaitu sebesar
1,322. Dan penurunan terendah terjadi pada periode 11 yaitu sebesar -0,5.

DAFTAR PUSTAKA

Purwaningsih, dkk.2015. UPAYA PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DENGAN METODE


OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PADA BAGIAN PRODUKSI DI PT. INDONESIA STEEL
TUBE WORKS. http://eprints.undip.ac.id/2940/ (diakses pada tanggal 6 April 2016)

Nurul Hazmi Hamidah.dkk. 2015. ANALISIS PRODUKTIVITAS MENGGUNAKAN


METODE OBJECTIVE MATRIX (OMAX) jurnal Teknik Industri Universitas Brawijaya.

Dea Avianda. Dkk. Strategi Peningkatan Produktivitas di Lantai Produksi Menggunakan


Metode Objective Matrix (OMAX). Jurnal Online Institut Teknologi Nasional. Penerbit : Reka
Integra. 2012.

10