Anda di halaman 1dari 42

PENEMUAN & PENGOBATAN

PENDERITA MALARIA

Subdit Malaria
2005

DEFINISI
Malaria adalah suatu penyakit yang
akut maupun kronis yang
disebabkan parasit plasmodium
yang ditandai dengan gejala demam
berkala, menggigil dan sakit kepala
yang sering disertai dengan anemia
dan limpha yang membesar

GEJALA MALARIA TANPA KOMPLIKASI


Gambaran klinis pada anak
a.

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Demam
Sakit kepala
Muntah dan/ diare
Anoreksia
Nafas cepat
Batuk
Kejang demam
Anemia

Gambaran klinis pada dewasa


a. Demam
b. Dingin/menggigil
c. Berkeringat
Dapat disertai dengan gejala
Tambahan seperti :
d. Lemas
e. Sakit kepala
f. Mual atau muntah
g. Diare
h. Myalgia (nyeri otot / pegal-pegal)
i. Sakit perut.

Mengapa penderita malaria


perlu ditemukan?

Orang sakit
Orang sehat

Pengertian Penemuan
penderita
Suatu upaya untuk menemukan
penderita malaria secara dini
agar dapat segera diobati
secara tepat.
(Sumber: Modul Penemuan Penderita,
Ditjen PPM-PL, 2003 dan 2004)

Penemuan penderita
Dasarnya:
Gejala klinis
Laboratorium: SD malaria dan
/ dipstik

Jenis penemuan penderita


ACD (Aktive Case Detection)
PCD (Passive Case Detection)

1. PCD ( Passive Case Detection)

Pengertian :
Adalah penemuan penderita malaria oleh petugas kesehatan di
Unit Pelayanan Kesehatan dengan menunggu kunjungan penderita

Sasaran :
Semua penderita malaria klinis, baik akut maupun kronis dan
penderita gagal pengobatan yang datang ke Unit Pelayanan
Kesehatan (UPK)

Metoda :
Pengambilan SD tebal dan tipis terhadap semua penderita malaria
klinis dan penderita gagal pengobatan yang datang ke UPK

Waktu :
Setiap hari kerja UPK

2. ACD (Active Case Detection)

Pengertian :
Adalah penemuan penderita tersangka malaria secara aktif oleh
Juru Malaria Desa (JMD) melalui kunjungan dari rumah ke rumah

Tujuan :
* Menemukan penderita secara dini
* Memberikan pengobatan setepat mungkin
* Memantau fluktuasi malaria
* Kewaspadaan dini untuk terjadinya KLB

Sasaran :
Semua penderita klinis

Metoda :
Pengambilan SD tebal dan tipis pada semua penderita malaria klinis yang
ditemukan pada kunjungan JMD dari rumah ke rumah penduduk

Siklus Kunjungan Rumah :


* HCI : 2 minggu sekali kunjungan rumah
* MCI : 1 bulan sekali kunjungan rumah
* LCI : 1 bulan sekali kunjungan dukuh/kampung

3. Mass Fever Survey (MFS)

Pengertian :
Adalah penemuan penderita malaria melalui survei yang ditujukan pada seluruh
penduduk daerah fokus dengan gejala demam, yang diikuti dengan pemberian
pengobatan klinis

Tujuan :
- Memastikan bahwa desa yang kasusnya nol atau rendah, memang benar-benar
telah mempunyai tingkat transmisi yang rendah

- Mengintensifkan pencarian dan pengobatan penderita agar reservoir parasit di


lapangan dapat dikurangi

Sasaran :
Semua penderita demam yang ditemukan di dukuh yang melaporkan peningkatan
penderita malaria klinis dan diikuti dengan pengobatan penderita secara massal
(MFT)

Metoda :
Pengambilan SD terhadap semua penderita demam, diikuti pemberian pengobatan
klinis dan pengobatan radikal terhadap penderita positif.

Waktu :
- Sebelum puncak fluktuasi malaria (cegah KLB)
- Pada puncak fluktuasi malaria (kegiatan khusus)
- Konfirmasi KLB, saat terjadi KLB

Tujuan MFS
MFS konfirmasi:
Memastikan adanya peningkatan
kasus/KLB
Untuk konfirmasi di daerah2 yang semula
tinggi kasusnya tapi sekarang rendah
MFS Khusus: untuk menemukan dan
mengobati penderita positif malaria
dengan cepat di daerah yang sedang
terjadi peningkatan kasus.

4. Malariometrik Survey :
a. Malariometrik Survey Dasar (MSD)
Pengertian :
Adalah kegiatan pemeriksaan SD jari pada 100 anak kelompok usia 0
9 th & limpa pada kelompok usia 2 9 th

Tujuan :
Untuk mengukur tingkat endemisitas & prevalensi malaria pada
daerah yang belum tercakup kegiatan pemberantasan vektor

b. Malariometrik Survey Evaluasi (MSE)


Pengertian :
Adalah kegiatan pemeriksaan SD jari pada 100 anak usia 0 9 th

Tujuan :
Untuk mengukur dampak kegiatan pemberantasan vektor, didaerah
yang tidak dilakukan pemantauan parasit secara rutin

5.
Surveilans
Migrasi
Sasaran :
Orang-orang yang menunjukkan gejala klinis malaria yang baru
datang dari daerah endemis, kegiatan ini dilakukan terutama di
desa yang reseptif dan diketahui penduduknya banyak
melakukan migrasi ke daerah endemis malaria

Metoda :
Pengambilan SD terhadap penduduk dengan gejala malaria klinis,
bila positif diberikan pengobatan radikal

Waktu :
Sesuai dengan jadwal Juru Malaria Desa atau setiap hari kerja
UPK dengan memperhatikan pola musim migrasi penduduk

6. Survei Kontak

6. Survei Kontak

Pengertian :

Merupakan bagian dari kegiatan penyelidikan epidemiologi atas


penderita malaria yang ditemukan positif dan diberi pengobatan
radikal pada ACD

Tujuan :
Untuk mengetahui apakah kasus positif yang ditemukan telah
menularkan penyakitnya pada orang yang tinggal serumah atau
tinggal berdekatan dengan rumah penderita

Metode :
Melakukan pengambilan SD dari penghuni 5 rumah di sekitar
rumah penderita (+ 25 orang)

Pengertian :
Adalah upaya pencarian & penemuan penderita malaria melalui survei
di daerah endemis malaria tinggi yang penduduknya tidak lagi
menunjukkan gejala spesifik malaria

Tujuan :
- Pencarian penderita malaria di daerah endemisitas tinggi yang

sudah tidak bisa menunjukkan adanya gejala klinis yang spesifik


pada masyarakat
- Menurunkan sumber penularan dengan melakukan pengobatan
radikal terhadap semua penderita positif malaria

Sasaran :
Seluruh penduduk di wilayah tertentu dg endemisitas tinggi

Cara pelaksanaan :
Seluruh penduduk sasaran diambil SD nya & diperiksa langsung di
tempat, penderita positif diberi pengobatan radikal

Waktu :
Pada saat puncak kasus

8. Penemuan Penderita oleh


Masyarakat melalui POSMALDES

Tujuan :
- Terbentuknya POSMALDES di daerah endemis malaria yang jauh
dari jangkauan pelayanan kesehatan
- Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan serta pemenuhan
sarana prasarana kader malaria
- Meningkatkan cakupan penemuan dan pengobatan penderita
malaria

Tempat :
Disesuaikan dengan kondisi setempat

Sasaran :
Semua penderita malaria klinis, khususnya diwilayah yang tidak
terjangkau pelayanan kesehatan

Kegiatan :
- Penemuan penderita
- Pengobatan
- Rujukan kasus
- Penyuluhan
- Pemetaan

Pengobatan malaria

Kebijakan pemakaian ACT


Dasar :
Kebutuhan pengobatan yang
mendesak untuk memakai obat
antimalaria yang lebih poten karena
adanya fakta telah terjadi penurunan
efikasi terhadap antimalaria yang
digunakan
Rekomendasi Komisi Ahli Diagnosis
dan pengobatan Malaria (=Komli)

Tahap pertama pemakaian


Daerah KLB
4 Provinsi KTI

Mengapa ACT ?
Karakteristik ARTESUNAT + AMODIAKUIN

Sesuai anjuran WHO: kombinasi antimalaria


yang bekerja sinergis, aman dipakai.
Lebih cepat menurunkan gejala malaria
dibandingkan pemberian monoterapi.
Lebih cepat membasmi parasit malaria
dibandingkan pemberian monoterapi.
Ditoleransi baik dan tinggi efikasinya.
Rata-rata penyembuhan lebih dari 90% dalam
14 hari atau kurang.

Mengapa ACT lini 1?

Memusnahkan strain-strain Plasmodium


resisten yang terdapat di lapangan.
SP lini 1?
Kina lini 1?
ACT lini 4?
Belajar dari pengalaman negara-negara
lain yang berhasil meredam malaria
setelah penggantian dengan derivat
artemisinin.

OAM untuk malaria tanpa


komplikasi
Malaria klinis
Lini I : Klorokuin 4-4-2
+ Primakuin
Lini II : kina 3 x 2 (7 hari)
+ Primakuin

OAM untuk malaria tanpa


komplikasi
Malaria falsiparum
Lini I : Artesunat 4 mg/kgBB dosis tunggal
/hari oral (3 hari)
+ Amodiakuin 10-10-5 + Primakuin
Lini II : Kina 3 x 2 (7 hari) +
Doksisiklin/Tetrasiklin + Primakuin

OAM untuk malaria tanpa


komplikasi
Malaria vivax/ovale
Lini I : Klorokuin 4-4-2 + Primakuin 14 hari
Vivax/ovale resisten klorokuin:
Kina (7 hari) + Primakuin 14 hari
Vivax/ovale yang kambuh:
Klorokuin (8-12 mgg) + Primakuin (8-12 mgg)

Malaria Vivaks/ovale :

Pengobatan Pvivax/ovale Resisten Klorokuin


JUmlah tablet per hari menurut kelompok umur
Hari

Jenis obat

01
bl

2 11
bl

1 4 th 5 9 th

10 14
th

> 15 th

H1-7

Kina

*)

*)

3x

3x1

3x1

3x2

H114

Primakuin

*) Dosis berdasarkan berat badan : - Kina 30 mg/KgBB/hari (dibagi 3 dosis)


- Primakuin 0,75 mg/KgBB, dosis tunggal

Kriteria pemberian :
Penderita sudah menyelesaikan pengobatan
klorokuin 3 hari
Pada waktu periksa ulang hari 4 atau 7 hari
sampai 14 penderita belum sembuh
Penderita dikatakan belum sembuh bila dalam
kurun 14 hari :
- Penderita tetap demam atau gejala klinis tidak
membaik yang disertai parasitemia aseksual
- Penderita tidak demam atau tanpa gejala klinis
lainnya, tetapi ditemukan parasitemia aseksual

Pengobatan Pvivax/ovale Relaps

Ming
Jenis obat
gu

Klorokuin

8
12*) Primakuin*
*)

JUmlah tablet per minggu menurut kelompok umur


01
bl

2 11
bl

*)

*)

10 14
th

> 15 th

3-4

1 4 th 5 9 th

*) Pemberian klorokuin & primakuin 1 x setiap minggu, lama pengobatan


minimal selama 8 minggu
**) Dosis primakuin 0,75 mg/KgBB

Kriteria pemberian :
Penderita sudah menyelesaikan pengobatan
klorokuin dan primakuin
Pada waktu periksa ulang hari 14 sampai 28
penderita kambuh
Penderita dikatakan kambuh bila dalam kurun
waktu 14 28 hari :
- Penderita tetap demam atau gejala klinis tidak
membaik yang disertai parasitemia aseksual
- Penderita tidak demam atau tanpa gejala klinis
lainnya, tetapi ditemukan parasitemia aseksual

OAM untuk malaria berat


Lini I : derivat artemisinin parenteral
Artesunat injeksi atau
artemeter injeksi
Lini II : kina parenteral

Artesunat injeksi
Ampul berisi serbuk kering asam artesunik, dilarutkan dalam 0,6 ml
natrium bikarbonat 5%, diencerkan dalam 3 5 cc D5%. Diberikan
bolus intravena dalam 2 menit
Loading dose : 2,4 mg/kgBB IV diikuti
1,2 mg/kgBB IV pada jam ke 12 jam dan 24,
selanjutnya 1,2 mg/kgBB IV setiap hari
sampai hari ke 7. Bila penderita sudah dapat minum obat, ganti dengan
artesunat oral

Artesunat injeksi
Sediaan : 1 ampul berisi 60 mg asam
artesunat
Larut dalam air
Pemakaian IV/IM/Rektal

Artemether injeksi
Sediaan Artemether injeksi:
Tiap Ampul mengandung 80 mg Artemether.
Dosis inisial 3,2 mg/kgBB IM. diikuti 1,6 mg/kgBB
selama 4 hari.
Untuk dewasa: dosis inisial 160 mg (2 ampul) IM
pada hari ke 1, diikuti 80 mg (1 ampul) IM pada
hari ke 2 s/d ke 5.

Bila terjadi kegagalan pengobatan dengan


artesunat/artemether, maka diberikan kina
parenteral dengan cara:

Kina HCl 25 % dosis 10 mg/kgbb atau 1 ampul


dilarutkan dalam 500 ml dextrose 5 % atau
dextrose in saline, diberikan per-infus selama
8 jam. Pemberian ini diulang dengan
dosis/cairan yang sama setiap 8 jam terusmenerus sampai penderita sadar atau dapat
minum obat.

Malaria pada Bumil


IBU HAMIL KUNJUNGAN
PERTAMA
PEMERIKSAAN ANC, KONSELING & SKRINING: ANEMIA, KEK, dan
MALARIA (PEMR.DARAH dgn RDT)

POSITIF (P.FALC)

TRIMESTER 1
KINA 3X2
(7 HARI)

NEGATIF

TRIMESTER 23
ARTESUNAT
+
AMODIAKUI
N

TANPA GEJALA

DENGAN GEJALA

PERIKSA SD
TEBAL
POSITIF
P.FALC

KLOROKUIN 4-4-2 (3 HARI)


NEGATIF

P.VIVAX

LANJUTKAN
ANC
ITN
ZAT
BESI/FOLAT
NUTRISI

KLOROKUIN 4-4-2 (3 HARI)

LANJUTKAN ANC
ITN
ZAT BESI/FOLAT
NUTRISI

MEMBAIK

TAK ADA
PERBAIKAN

RUJUK
SEGERA

SAMPAI KETEMU LAGI...