Anda di halaman 1dari 14

Referat

CHILD ABUSE
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Syiah Kuala
Rumah Sakit Jiwa Banda Aceh

Oleh:
Musyawarah
1407101030325
Pembimbing :
dr. Juwita Saragih, Sp.KJ

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI ACEH
2016
1. Definisi Child Abuse

Abuse

adalah

kata

yang

biasa

diterjemahkan

menjadi

kekerasan,

penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan yang salah, perilaku tidak layak yang
mengakibatkan kerugian atau bahaya secara fisik, psikologis, atau finansial, baik
dialami individu atau kelompok.1
Child abuse (CA) adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan
kekerasan terhadap anak, kadang-kadang disebut juga sebagai child maltreatment.
Dalam Encyclopedia Article from Encarta, CA didefinisikan sebagai perbuatan
disengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadapanak-anak secara fisik
atupun emosional. Istilah CA meliputi berbagai macam tingkah laku, dari tindakan
ancaman fisik secara langsung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai pada
penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak. CA didefinisikan juga sebagai
tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak
melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tidak terkendali, degradasi, dan
cemoohan permanen atau kekerasan seksual serta penelantaran/lalai sehingga anak
kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi-potensi uniknya sebagai
manusia secara optimal. CA dalam bidang kedokteran pertama kali dilaporkan pada
tahun 1860 di Perancis oleh Ambriose Tardieu. Istilah CA dijelaskan pertama kali
oleh seorang ahli radiologi USA pada tahun 1946, tetapi baru pada tahun 1962 istilah
ini digunakan yaitu oleh C.H Kempe dalam artikel JAMA yang berjudul The Battered
Baby Syndrome . CA terjadi tidak terbatas pada golongan atau kelas sosial tertentu.
Pada masyarakat kelas bawah hingga menengah CA terjadi disebabkan oleh
kemiskinan, sedangkan pada masyarakat kelas menengah ke atas disebabkan oleh
ambisi orang tua untuk membentuk anak mereka menurut kehendak mereka
berdasarkan pemahaman bahwa kehendak orang tua adalah yang terbaik utnuk anakanak mereka.2

2. Epidemiologi Child Abuse


CA dapat terjadi pada segala usia, mulai 0-18 tahun dan angka kejadian
tertinggi pada usia kurang dari dua tahun, yaitu 50 %. Kejadian CA dalam masyarakat

bervariasi antara 15-42 kasus per 1000 anak per tahun. Resiko anak laki-laki dan
perempuan, 55% : 45% . Di Indonesia angka kejadian CA belum diketahui dengan
pasti. Data statistik tidak dapat menunjukkan insidensi kejadian CA. Kasus tersebut
menunjukkan fenomena gunung es (iceberg Phenomenon). Kasus yang nampak
sesungguhnya hanya puncak dari masalah yang lebih besar, yang justru tidak terlihat.
Berdasarkan data yang didapat dari Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia melalui
Centre of Tourism Research and Development Universitas Gadjah Mada, mengenai
berita tentang kekerasan anak yang terjadi dari tahun 1992-2002 di tujuh kota besar,
yaitu, Medan, Palembang, Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Kupang,
ditemukan bahwa terdapat 3969 kasus. Setiap negara mempunyai aturan tersendiri
yang menjelaskan tanggung jawab legal untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan
penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan anak harus dilaporkan ke lembaga
layanan perlindungan setempat. Pelapor yang diberi mandat untuk melapor adalah
perawat, dokter, dokter gigi,dokter anak, psikolog dan psikiater.3,4
3. Tipe Child Abuse
Terdapat empat tipe utama yang terdapat dalam CA, yaitu physical abuse
(kekerasan fisik), sexual abuse (kekerasan seksual), emotional abuse (kekerasan
emosional), dan neglect (kelalaian). Eksploitasi anak atau mempekerjakan anak di
bawah umur untuk tujuan komersil dengan mengesampingkan perkembangan fisik,
mental dan sosial anak merupakan tipe lain dari CA.3,5
3.1 Physical Abuse
Physical Abuse merupakan kekerasan yang dilakukan terhadap anak sehingga
anak mengalami luka fisik yang bukan disebabkan oleh kecelakaan. Luka fisik yang
bukan karena kecelakaan antara lain adalah pukulan, luka bakar, gigitan, cekikan, dan
pemanasan yang mengakibatkan memar, bilur, patah tulang, luka parut dan luka
dalam yang serius. Beberapa tipe spesifik dari physical abuse, yaitu kekerasan oleh
saudara kandung atau tiri, goncangan bayi (shaken baby syndrome), pemberian obat
yang salah (Syddro muchausen) dan penggunaan obat-obatan serta alkohol selama

masa kehamilan dan menyusui. Physical abuse berbeda dengan physical punishment
(hukuman fisik), tetapi hukuman fisik dapat dengan mudah menjadi tidak terkendali
menjadi kekerasan fisik ).3,5 Beberapa indikator fisik yang dapat digunakan untuk
melihat suatu tindakan sebagai physical abuse, yaitu: 3,5
1) Tanda gigitan
2) Memar yang tidak biasa karena pukulan, tamparan
3) Laserasi
4) Luka bakar karena rokok, air panas, atau benda-benda panas lainnya
5) Insidensi kecelakaan atau frekuensi luka yang tinggi
6) Luka, bengkak pada muka dan ekstremitas
7) Pewarnaan pada kulit
Tanda-tanda eksternal physical abuse tersebut lebih dari 90% terdapat pada
anak yang mengalami CA. Anggota keluarga dekat adalah pelaku pada 55% kasus
penyiksaan. Ayah adalah pelaku yang paling sering (21%), ibu (21%), teman kencan
ibu (9%), pengasuh bayi (8%) dan ayah tiri (25%). Usia rata-rata pelaku adalah 25
tahun.6 Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mrlihat keluarga atau orang
tua yang beresiko melakukan physical abuse diantaranya adalah : 6
1) Masalah pribadi perkawinan,
2) Tekanan ekonomi,
3) Orang tua yang mengalami kekerasan di masa kecil,
4) Nilai moral yang terlalu tinggi,
5) Riwayat penggunaan obat-obatan dan alkohol,
6) Terisolasi secara sosial,
7) Memandang anak sebagai penjahat,
8) Bermusuhan, curiga dan takut pada orang lain,
9) Toleransi frustasi yang rendah,
10) Sedikit atau sama sekali tidak tertarik pada perkembangan anak,
11) Tidak merespon kesakitan anak,
12) Tidak konsisten dalam memberi penjelasan mengenai luka-luka anak,
13) Memikulkan kesalahan anak,

14) Membawa anak ke dokter atau Rumah Sakit yang berbeda untuk setiap luka.
3.2 Sexual Abuse
Sexual abuse adalah setiap aktivitas seksual antara orang dewasa dan anak.
Sexual abuse termasuk oral-genital, genital-genital, genital-rektal, tangan-genital,
tangan-rektal atau kontak tangan-payudara, pemaparan anatomi seksual, melihat
dengan paksa anatomi seksual, dan menunjukkan pornografi. Tindakan disebut
sebagai sexsual abuse jika tindakan tersebut dilakukan oleh anggota keluarga, ayah,
ibu, pengasuh, guru atau orang lain yang berada di lingkungan rumah anak. Jika
tindakan dilakukan oleh orang asing maka disebut penyerangan seksual (sexual
assault). Tindakan sexual abuse dapat dibagiatas tiga kategori yaitu perkosaan yang
biasa terjadi dengan didahului oleh ancaman pelaku dengan memperlihatkan
kekuatannya pada anak, insesct didefenisikan sebagai hubungan seksual antara
individu yang mempunyai hubungan dekat, dan eksploitasi meliputi prostitusi dan
pornografi. Incest sexsual abuse antara anggota keluarga (termasuk saudara kandung,
angkat dan tiri) merupakan kasus sexual abuse yang paling banyak dilaporkan.3,5
Sexual abuse harus dipertimbangkan sebagai akibat gejala-gejala atau perilaku fisik
yang menyertai. Gejala-gejala akibat sexual abuse adalah:3.5
1) Nyeri vagina, penis dan rektum, perdarahan;
2) Disuria kronik, eneuresis, konstipasi atau gerakan usus yang tidak disengaja;
3) Pubertas prematur pada wanita.
3.3 Emotional Abuse
Emotional abuse didefenisikan sebagai setiap tindakan atau tingkah laku yang
mengganggu perkembangan mental dan sosial anak. Emotional abuse sering juga
disebut verbal abuse (kekerasan verbal), mental abuse (kekerasan mental) atau
physiological maltreatment. Emotional abuse hampir selalu terjadi bersamaan dengan
bentuk kekerasan yang lain. Emotional abuse meliputi penghardikan, penyampaian
kata-kata kasar dan kotor, memarahi, mengomel, membentak dan memaki anak
dengan cara berlebihan serta merendahkan martabat anak, memperlihatkan buku,

gambar atau film pornografi pada anak.3,5 Hart dan Brassard membagi emotional
abuse menjadi enam bentuk sebagai berikut :3,5
1) Penolakan;
2) Menakuti;
3) Mengisolasi;
4) Mengeksploitasi;
5) Mengingkari respon emosi anak;
6) Penelantaran pendidikan, kesehatan, dan mental anak.
4. Tanda-tanda Child Abuse
CA dicurigai bila luka tidak terjelaskan, tidak dapat dijelaskan, atau tidak
masuk akal. Jika luka tidak cocok dengan riwayat yang diberikan atau perkembangan
anak, pelaku harus dilaporkan. Beberapa tanda atau manifestasi yang dapat digunakan
untuk menentukan CA, yaitu : 4
1) Cedera kulit merupakan tanda CA yang paling umum dan mudah ditemukan.
Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekas gigi, tanda
hisapan, atau tanda dorongan lidah. Memar multipel atau memar pada tempattempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak mengalami penganiayaan.
2) Memar kecelakaan akibat trauma paling mungkin ditemukan pada permukaan
utama yang melapisi tepi permukaan tulang, seperti tulang betis, lengan bawah,
pinggul dan kening. Memar pada pantat, genitalia, punggung dan punggung tangan
kemungkinannya kecil karena kecelakaan. Selain dipukul atau dilempar, anak juga
dapat secara sengaja dibakar, dilukai atau ditusuk. Bentuk jejas dapat memberi
kesan objek yang digunakan memar berubah warna menurut waktu, warna memar
dapat digunakan untuk memperkirakan waktu terjadinya luka tersebut.
3) Fraktur dan dislokasi yang tidak dapat dijelaskan dapat merupakan tanda CA.
Fraktur paling sering diakibatkan karena luka renggutan atau tarikan yang
mencederai metafisis. Fraktur yang mengakibatkan sudut metafisis tulang panjang
terpecah sampai epifisis dan periosteum merupakan tanda klasik CA. Fraktur iga
posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spinal, atau dislokasi karena

terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadi
secara kebetulan.
4) Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai
untuk menyeret, atau menyentak anak. Akibatnya dapat memecahkan pembuluh
darah di ba
wah kulit kulit kepala. Adanya akumulasi darah membantu membedakan antara
kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non penganiayaan.
5) Cedera termal disengaja atau diketahui sebabnya. Luka bakar pencelupan
menimbulkan luka bakar terbatas tegas dan sirkular. Luka bakar rokok
menghasilkan lesi sirkuler, menonjolkemerahan. Luka bakar sirkuler kecil-kecil
dan banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar
daerah popok, luka bakar tali memberikan kesan adanya tindakan kejahatan yang
disengaja.
6) Cedera eksternal pada kepala, muka dan mulut. Luka, perdarahan, kemerahan
atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecah-pecah. Gigi goyang atau
patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpa trauma pada hidung,
semuanya mengindikasikan adanya penganiayaan.
7) Sindroma bayi terguncang. Guncangan pada bayi menyebabkan cidera ekslersi
deselerasi pada otak, menyebabkan regangan dan pecahnya pembuluh darah,
hemoragi retina, trauma intrakranial (hemoragi subdural), dan edema serebral.
8) Jatuh. Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa, namun yang
tampak adalah cidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan
trauma yang dialami tersebut menimbulkan kecurigaan terjadinya CA.
5. Etiologi Child Abuse
Pencetus CA terjadi akibat stres dalam keluarga, yang berasal dari beberapa
permasalahan. Pertama, berasal dari faktor anak, yakni anak dengan mental retardasi,
anak hiperaktif, anak dengan gangguan perilaku, penampilan fisik anak, anak cacat,
kelahiran yang tidak diinginkan, anak adopsi, dan sebagainya. Kedua adalah faktor
orang tua sebagai pencetus, misalnya pencandu alkohol, narkotika, kelainan

kepribadian, depresi, kelainan jiwa seperti skizofrenia, gangguan mental emosional


lainnya, orang tua yang pernah mempunyai pengalaman penganiayaan di masa kecil,
orang tua tunggal, orang tua tiri, faktor pola asuh dan mendidik anak, nilai-nilai hidup
yang dianut orang tua, serta rendahnya pengetahuan mengenai perkembangan anak.
Ketiga, faktor situasi keluarga, yakni hubungan kurang harmonis, orang tua tidak
bekerja, keluarga banyak anak, anak yang tidak diinginkan orang tua, anak diasuh
baby sitter atau pembantuyang kasar dan pemarah, keterasingan dari masyarakat,
kemiskinan, kepadatan hunian, tekanan hidup akibat masalah sosial ekonomi, seperti
pengangguran, mutasi, bisnis merugi, selingkuh, perceraian, perpecahan dalam
keluarga, masalah interaksi antara lingkungan ibu dan anak, serta anak terpisah dari
orang tua pada perkembangan fase kehidupannya. Terakhir adalah faktor budaya,
yaitu adanya kepercayaan/adat mengenai pola asuh anak, hak orang tua terhadap
anak, dan pengaruh pergeseran budaya. Secara garis besar tercakup dalam lima faktor
penyebab terjadinya CA, yaitu degradasi moral, rendahnya pendidikan, pola
perawatan yang salah, rendahnya tingkat ekonomi dan media massa.7
6. Diagnosis Child Abuse
Diagnosis child abuse biasanya didasarkan pada riwayat dan penemuan fisik.
Tingkah laku penderita biasanya mempunyai ciri khas. Kontak mata anak kurang
(lack of eye contact), takut sentuhan, bahasa tidak teratur, gelisah berlebihan, pakaian
tidak teratur, dan perubahan suasana hati yang drastis. Anamnesis yang teliti, cermat,
hati-hati dan rinci mutlak dilakukan. Selain itu pula dilakukan pemeriksaan fisik,
radiologis dan laboratorium. Pemeriksaan fisik terhadap anak yang mengalami CA
harus dilakukan dengan tidak tergesa-gesa, dengan upaya untuk membuat anak
merasa nyaman. Sebelum dilakukan pemeriksaan, anak harus dilindungi dari
percakapan (termasuk medical history) mengenai luka-luka yang dialaminya.
Ruangan yang dipakai untuk pemeriksaan harus mempunyai pencahayaan yang cukup
untuk membantu menentukan warna dan tekstur kulit. Palpasi pada daerah kepala
dilakukan untuk mengetahui hematoma subkutaneus. Pemeriksaan pada daerah dada,
perut dan genital dilakukan dengan menaggalkan pakaian anak seluruhnya. Palpasi

dilakukan dengan lembut, pemeriksaan abdominal dengan ultrasound serta konsultasi


dengan bagian bedah dilakukan bila dicurigai adanya luka interabdominal. Anak yang
mengalami sexual abuse dilakukan pemeriksaan fisik secara lengkap yaitu
pemeriksaan genital dan anal. Pemeriksaan genital dilakukan dengan pencahayaan
yang memadai, memperhatikan posisi pemeriksaan (posisi siku dan dada), anatomi
normal genital dan variasi anatomi genital (dalam hal ini keadaan hymen). Pada anak
laki-laki dilakukan pemeriksaan terhadap penis, uretra meatus, skrotum, dan kulit
disekitarnya. Pemeriksaan anal meliputi normal dan variasi anatomi anal serta lukaluka yang ada pada daerah anal. Pemeriksaan radiologi, seperti foto skeletal,
dilakukan bila ada petunjuk diagnosis yang jelas dari anamnesis atau pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila dicurigai terjadi sexual abuse.
Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah tes serologi untuk sifilis dan HIV,
pemeriksaan urin, tes kehamilan dan untuk anak simptomatik dilakukan tes untuk
penyakit infeksi kelamin lain seperti trichomonas, herpes, condyloma acuminate,
Gardrenella vaginalis, dan kandida.2
7. Dampak Child Abuse terhadap Kejiwaan Anak
Dampak CA terhadap kejiwaan atau psikologis anak bisa seumur hidup.
Kecerdasan anak dapat mengalami gangguan, suatu penelitian melaporkan terdapat
terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca, menulis,
dan kesulitan belajar secara menyeluruh. Harga diri yang rendah, ketidakmampuan
berhubungan dengan teman sebaya, masa perhatian tereduksi merupakan efek
psikologis yang lain. Pada beberapa kasus, CA dapat menyebabkan gangguangangguan kejiwaan (psychiatric disorders) seperti depresi,kecemasan berlebihan, atau
gangguan disosiatif dan bertambahnya resiko bunuh diri (suicide). Masalah tingkah
laku sering muncul setelah tindakan abuse, termasuk kekerasan (violence) dan
tindakan kriminal. Moore mengatakan bahwa CA mempunyai dampak luas dan secara
umum dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Beberapa anak menjadi
negatif dan agresif serta mudah frustasi, pasif dan apatis, tidak mempunyai
kepribadian sendiri (semua perbuatan dilakukan hanya untuk memenuhi keinginan

orang tuanya (parentral extension), mereka tidak mampu menghargai diri sendiri
(chronically low self-esteem), sulit menjalinrelasi dengan individu lain, dan yang
paling parah adalah timbul rasa benci luar biasa terhadap diri sendiri (self-hate)
karena merasa hanya dirinya yang bersalah sehingga menyebabkan penyiksaan
terhadap dirinya. Rasa benci terhadap diri sendiri ini menimbulkan tindakan untuk
menyakiti diri sendiri.4,7
Pemukulan yang bersifat fisik dapat menyebabkan kerusakan emosional anak.
Hoffeler dan La Rossa menjelaskan bahwa anak-anak yang masih kecil sering susah
tidur dan bangun di tengah malam menjerit ketakutan. Beberapa anak menderita
psikosomatik, misalnya asmadan perasaan sangat sedih, sehingga sering muntah
setelah makan dan berat badan turun drastis. Anak laki-laki cenderung menjadi sangat
agresif dan bermusuhan dengan orang lain, sementara anak perempuan sering
mengalami kemunduran dan menarik diri ke dalam dunia fantasi sendiri. Anak yang
mengalami sexual abuse sering menunjukkan sikap ketertarikan yang tidak biasa
dalam hal seks. Mereka sering memperlihatkan tingkah laku yang abnormal seperti
public masturbation atau memperlihatkan alat genital mereka. Dampak jangka
panjang adalah depresi, rendah diri dan masalah seksual seperti menghindari kontak
seksual, kebingungan mengenai seks, serta terjerumus pada prostitusi. 4,7
8. Penanganan Child Abuse
8.1 Perlindungan Anak
Pencegahan dan penanggulangan anak korban CA merupakan tanggung jawab
semua pihak. Pencegahan dapat dilakukan dengan identifikasi orang tua yang
mempunyai faktor resiko yang tinggi untuk melakukan kekerasan terhadap anaknya.
Beberapa faktor yang disebut sebagai resiko tinggi, antara lain befrasal dari keluarga
yang penuh kekerasan, depresi, ketergantungan obat, masalah kesulitan ekonom,
pasangan usia muda dan orang tua tunggal. Penanggulangan anak korban CA
dilakukan dengan memberikan berbagai perlindungan hukum, pelayanan sosial dan
penanganan medis. Penanganan anak korban CA melibatkan banyak pihak, yaitu

pekerja sosial, psikoterapi, pekerja medis (dokter,dokter anak, dokter gigi), keluarga
anak, sustitute care, battered womens service serta aparat hukum.2
8.2 Perlindungan Hukum
Manifestasi kekerasan terhadap anak memang tampak begitu tidak jelas, tetapi
dampaknya bagi anak dapat dirasakan seumur hidup. Mengingat ketidakmatangan
fisik dan mental, dibutuhkan perlindungan dan perawatan khusus, termasuk
perlindungan hukum yang layak terhadap anak. Pasal 3 UU No.23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak menyebutkan perlindungan anak bertujuan untuk menjamin
terpenuhinya hak-hak anak agar dapt hidup, tumbuh dan berkembang, dan berpartis
ipasi secara optimal, sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang
berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera. Kehadiran undang-undang tersebut
diharapkan dapat memberikan perlindungan secara menyeluruh bagi seluruh anak
Indonesia. Masalah anak-anak yang membutuhkan perlindungan khusus menandai
perkembangan masalah anak. Direktorat Bina Pelayanan Sosial Anak Departemen
Sosial RI telah menyusun acuan strategi dan manjemen perlindungan anak, memuat
program-program untuk anak yang membutuhkan perlindungan khusus, mencakup :8
1) Penarikan (removal) anak-anak dalam situasi sulit. Penarikan dilakukan dengan
pendekatan manusiawi atau dengan tindakan hukum oleh lembaga yang
berwenang.
2) Perlindungan sementara bagi anak-anak yang membutuhkan karena situasi
darurat atau setelah dilepaskan dari situasi tereksploitasi. Pelayanan yang
diberikan berupa penyediaan pangan, sandang, perumahan, pelayanan kesehatan,
psikososial dan pendidikan.
3) Penyembuhan dan pemulihan (rehabilitasi) mencakup kegiatan pelayanan
penyembuhan dan pemulihan fisik, mental dan sosial.
4) Pembelaan pada anak yang mengalami eksploitasi atau konflik dengan hukum.
5) Penyatuan kembali (reintegrasi/reunifikasi) anak dengan keluarga, baik keluarga
asli atau keluarga pengganti bila keluarga asli tidak ada.

6) Tindak lanjut yaitu pelayanan lanjutan untuk memperkuat atau mempertahankan


kondisi yang telah dicapai anak dalam kondisi barunya melalui pemantauan rutin.
Program tidak langsung :
1) Penyediaan perangkat-perangkat hukum seperti peraturan pemerintah (PP) atau
Keppres.
2) Penegakan hukum oleh aparat penegak hukum.
3) Advokasi mengenai perubahan-perubahan kebijakan dan program bagi upaya
pencegahan dan penanganan CA.
4) Pengembangan sistem informasi yang menyediakan berbagai data dan informai
perlindungan anak yang terus menerus diperbaharui dan berbagai laporan kasus
pelanggaran hak anak.
5) Pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi para penyedia pelayanan
perlindungan anak.
6) Penyadaran masyarakat agar mempunyai daya tanggap dan tindakan dalam
upaya mencegah dan melindungi anak.
7) Pendidikan orang tua melalui penyuluhan, bimbingan, maupun pelatihan
8) Pengembagan jaringan kerja dengan berbagai lembaga pemerintah, LSM,
maupun perguruan tinggi.
8.3 Penanganan psikososial
Penanganan masalah psikososial dilakukan secara menyeluruh terhadap
korban dan keluarga, serta pelakunya. Anak yang mengalami abuse untuk sementara
dapat diasuh orang lain atau lembaga perlindungan anak. Pemberitaan CA diikuti oleh
artikel-artikel pencegahan dan penanganannya. Dampak pada anak baik jangka
pendek atau panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan.
Kedekatan anak dan orang tua sejak lahir dapat diwujudkan sejak dari ruang bersalin
dengan cara menyusui bayi dari awal sesaat setelah bayi lahir. Rawat gabung
(Rooming-in) juga membantu kedekatan psikologis antara bayi dengan ibunya sejak
awal. Bayi-bayi prematur harus lebih mendapatkan kontak fisik dengan ibunya, juga
diajarkan cara-cara yang tepat untuk mendiamkan bayi yang menangis.5

8.4 Penanganan Medis


Pada kasus CA penanganan medis diutamakan terhadap keadaan yang
mengancam jiwa, kalau perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yang lengkap seperti
tes laboratorium, radiografi, HIV. Bone X-Ray dilakukan pada setiap kasus yang
dicurigai sebagai physical abuse meliputi semua tulang termasuk tulang tengkorak,
X-ray dilakukan untuk melihat fraktur yang tersembunyi, sudah lama atau dalam
tahap penyembuhan. MRI atau CT scan pada kepala atau perut dilakukan apabila ada
fraktur tengkorak, perdarahan pada mata, muntah tidak jelas, memar pada wajah,
kepala atau perut, atau simptom neurogical yang tidak jelas, sakit kepala, atau hilang
kesadaran.2

DAFTAR PUSTAKA

1. John Wiley Cynthia Crosson. 2002. Child abuse and neglect 9th edition. United
States of America: Mc Graw Hill.
2. Mc, Donald. 2004. Dentistry for the Child and Adolescent 8th Ed. Missouri:
St.Louis Press.
3. Hickman, L J; Jaycox, H L and Aronoff, J. 2004. Effectiveness Dating Violence
among Adolescents: Prevalence, Gender Distribution, and Prevention Program.
Trauma Violence Abuse 5; 123.
4. Huraerah, A. 2007. Child Abuse (new edition). Bandung: Nuansa Percetakan.
5. Suyanto, B and Sri, S H, 2002. Crisis and Child abuse 2nd edition. Surabaya:
Airlangga University Press.
6. Heyman, R E and Slep, A. Do child abuse and intraparental marriage and violence
lead to adulthood family violence?. Journal of Marriage and Family. 2002,4:864870.
7. Abu H. 2006. Kekerasan Terhadap Anak. Jakarta: Penerbit Nuansa.

8. Seketaris Negara Republik Indonesia. 2002. Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Jakarta: Lembaga Negara
Republik Indonesia.