Anda di halaman 1dari 21

Unsusr Dasar Proposisi

Proposisi kategorik adalah suatu pernyataan yang terdiri atas hubungan 2


term sebagai subjek dan predikat serta dapat dinilai benar atau salah.
Hubungan ini berbentuk pengiyaan atau pengingkaran. Proposisi kategorik
terdiri atas empat unsur, dua di antaranya merupakan materi pokok
proposisi, sedang 2 yang lain sebagai hal yang menyertainya. Empat unsur
yang dimaksudkan adalah term sebagai subjek, term sebagai predikat,
kopula, dan kuantor.
Term sebagai subjek adalah hal yang diterangkan dalam proposisi, term
sebagai predikat adalah hal yang menerangkan dalam proposisi. Kedua
unsur sebagai subjek dan predikat inilah yang merupakan materi pokok
proposisi kategorik. Kopula merupakan hal yang mengungkapkan adanya
hubungan antara subjek dan predikat, dan kuantor merupakan pembilang
yang menunjukkan lingkungan yang dimaksudkan oleh subjek.
Proposisi dalam logika dapat benar dapat juga salah, tidak dapat dinilai
kedua-duanya. Dalam arti tidak dapat setengah benar atau setengah salah.
Jika benar ya benar jika salah ya salah sehingga tegas perbedaan antara
keduanya.
Benar

salahnya

suatu

proposisi

dihubungkan

dengan

hal

yang

dibicarakannya. Jika yang dibicarakan tentang benda-benda alamiah maka


kebenarannya adalah harus sesuai dengan kenyataannya (mengikut teori
korespondens), dan jika yang dibicarakan hal atas dasar persetujuan
bersama maka kebenarannya harus sesuai dengan hasil persetujuan tersebut
(mengikuti teori koherensi). Jadi, benar salahnya suatu proposisi itu
dihubungkan dengan isinya.
Term sebagai subjek berhubungan dengan kuantitas proposisi. Subjek
dibedakan

antara

subjek

universal

dan

subjek

partikular.

Subjek

universal adalah mencakup semua yang dimaksud oleh subjek, subjek


partikular

adalah

hanya

mencakup

sebagian

dari

keseluruhan

yang

disebutkan oleh subjek. Subjek universal dalam pernyataan simbolik


disertai

dengan

kuantor

universal,

dan

subjek

partikular

dalam

pernyataan simbolik disertai dengan kuantor eksistensial.


Term sebagai predikat selalu berhubungan dengan isinya, dan merupakan
kualitas

proposisi,

yang

dibedakan

antara

predikat

afirmatif

dan

predikat negatif. Predikat afirmatif adalah sifat mengiyakan adanya


hubungan

predikat

dengan

subjek,

predikat

negatif

adalah

sifat

mengingkari adanya hubungan predikat dengan subjek atau sifat meniadakan


hubungan subjek dengan predikat.

Empat Macam Proposisi


Proposisi kategorik merupakan pernyataan yang terdiri atas hubungan dua
term sebagai subjek dan predikat, dan secara sederhana dibedakan atas
empat macam, yaitu: proposisi universal afirmatif, proposisi universal
negatif,

proposisi

partikular

afirmatif,

dan

proposisi

partikular

negatif. Dari empat macam proposisi kategorik berdasarkan denotasi atau


luas

term

yang

dihubungkan,

dapat

dibedakan

menjadi

tujuh

macam

proposisi kategorik.
Proposisi

universal afirmatif ialah pernyataan

bersifat umum

yang

mengiyakan adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan berikut


ini. Semua S adalah P. Proposisi universal afirmatif, berdasarkan
perbandingan luas term, dapat dibedakan atas dua macam: universal
afirmatif ekuivalen dan universal afirmatif implikasi.
Proposisi

universal afirmatif ekuivalen

ialah pernyataan

umum

mengiyakan yang antara subjek dan predikat merupakan suatu persamaan,


yakni semua anggota subjek adalah anggota predikat dan semua anggota
predikat adalah anggota subjek, misal: Semua manusia berbudaya.
Proposisi universal afirmatif implikasi ialah pernyataan umum mengiyakan
yang semua subjek merupakan bagian dari predikat, yakni semua anggota
subjek menjadi himpunan bagian dari predikat, misal: Setiap warga negara

Indonesia ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.


Proposisi

universal

negatif

ialah

pernyataan

bersifat

umum

yang

mengingkari adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan: semua


S bukan P. Proposisi universal negatif berdasarkan perbandingan luas
term,

hanya

ada

satu

bentuk,

yaitu

berbentuk

eksklusif

sehingga

lengkapnya disebut universal negatif eksklusif, yaitu pernyataan umum


mengingkari yang berarti antara subjek dan predikat tidak ada hubungan,
misalnya semua rakyat Indonesia tidak mengikuti ajaran komunis.
Proposisi partikular afirmatif ialah pernyataan bersifat khusus yang
mengiyakan

adanya

hubungan

subjek

dengan

predikat,

dirumuskan:

sebagian S adalah P. Proposisi partikular afirmatif berdasarkan


perbandingan luas term, dapat dibedakan atas dua macam: partikular
afirmatif inklusif dan partikular afirmatif implikasi.
Proposisi

partikular

afirmatif

inklusif

ialah

pernyataan

khusus

mengiyakan yang sebagian subjek merupakan bagian dari predikat, yakni


ada anggota subjek yang menjadi bagian predikat dan ada anggota predikat
yang menjadi bagian subjek, misal: Sebagian rakyat Indonesia adalah
keturunan asing.
Proposisi

partikular

afirmatif

implikasi

ialah

pernyataan

khusus

mengiyakan yang sebagian dari subjek merupakan suatu predikat, yakni ada
sebagian anggota subjek yang menjadi himpunan predikat, misal: Sebagian
rakyat Indonesia adalah warga Partai Demokrasi Indonesia.
Proposisi partikular negatif ialah pernyataan bersifat khusus yang
mengingkari
sebagian

adanya
S

bukan

hubungan
P.

subjek

Proposisi

dengan

predikat,

partikular

negatif

dirumuskan:
berdasarkan

perbandingan luas term terdapat dibedakan atas dua macam: partikular


negatif inklusif dan partikular negatif implikasi.
Proposisi

partikular

negatif

inklusif

ialah

pernyataan

khusus

mengingkari yang sebagian subjek tidak merupakan bagian dari predikat,


yakni ada sebagian subjek yang tidak termasuk predikat dan ada sebagian

predikat yang tidak termasuk subjek, misalnya Sebagian Sarjana Hukum


bukan ahli politik.
Proposisi

partikular

negatif

implikasi

ialah

pernyataan

khusus

mengingkari yang sebagian dari subjek tidak merupakan suatu predikat,


yakni ada sebagian subjek yang bukan anggota predikat dan semua anggota
predikat merupakan bagian dari subjek, misalnya Sebagian manusia bukan
bangsa Indonesia.

Proposisi Kategorik dan Tunggal


Proposisi tunggal dalam penalaran kategogik erat hubungannya dengan
proposisi kategorik, didefinisikan pernyataan yang terdiri atas satu
term sebagai predikat sesuatu yang dapat dinilai benar atau salah.
Berdasarkan definisi ini maka subjek dari proposisi tersebut bukanlah
suatu term atau konsep karena tidak merupakan suatu himpunan. Dan
perbedaan pokok dengan proposisi kategorik adalah, dalam proposisi
tunggal subjeknya bukan suatu term karena dianggap sudah jelas, sedang
proposisi kategorik subjeknya adalah suatu term yang cirinya dapat
diungkapkan dalam bentuk himpunan sebagai denotasinya.
Proposisi tunggal dapat bermula dari proposisi kategorik yang sudah
jelas subjeknya, kemudian hanya dinyatakan predikatnya saja. Dan dapat
juga proposisi tunggal dari bentuk proposisi kategorik yang kedua term
sebagai subjek dan predikatnya dijadikan satu kesatuan sebagai predikat.
Proposisi tunggal berdasarkan kuantitas dan kualitasnya dapat dibedakan
atas 4 macam sebagai berikut.
Proposisi universal afirrnatif, dirumuskan: x.Px, semua adalah P.
Proposisi universal negatif, dirumuskan: x.-Px, semua bukan P.
Proposisi partikular afirmatif, dirumuskan: x.Px, ada yang P.
Proposisi partikular negatif, dirumuskan: x.-Px, ada yang bukan P.

Penalaran

kategorik

pada

dasarnya

dibedakan

atas

macam,

yaitu

penalaran dalam bentuk pertentangan, penalaran dalam bentuk persamaan,


dan

penalaran

dalam

bentuk penyimpulan.

Dalam

3 bentuk penalaran

tersebut proposisi yang sebagai pangkal-pikir tidak sama tergantung dari


bentuk

penalarannya.

Proposisi

tunggal

untuk

penalaran

oposisi

sederhana, proposisi kategorik dengan dasar kuantor yang dibedakan empat


macam untuk penalaran oposisi kompleks dan juga digunakan dalam bentuk
penalaran negasi kontradiksi, dan proposisi kategorik berhimpunan yang
dibedakan atas tujuh macam menjadi pangkal-pikir untuk edukasi dan juga
silogisme kategorik.
Oposisi sederhana adalah perlawanan dua pernyataan tunggal yang berbeda
kuantitas atau kualitasnya atau berbeda kedua-duanya. Oposisi kompleks
merupakan perlawanan 2 pernyataan kategorik yang berbeda kuantitas atau
kualitasnya atau berbeda kedua-duanya. Negasi kontradiksi merupakan
kaidah pengingkaran salah satu dari 2 pernyataan yang berbeda kuantitas
dan kualitasnya. Eduksi merupakan penyimpulan langsung dari suatu
proposisi ke proposisi lain dengan pengolahan term yang sama. Silogisme
kategorik adalah bentuk penyimpulan tidak langsung atas dasar hubungan
dua pernyataan di dalamnya terkandung adanya term pembanding yang
mewujudkan proposisi lain sebagai kesimpulannya.
PENYIMPULAN LANGSUNG

Penalaran Oposisi
Oposisi merupakan pertentangan antara 2 pernyataan atas dasar pengolahan
term yang sama. Oposisi dalam logika dibedakan atas dua macam, yaitu
oposisi satu term atau oposisi sederhana atau juga disebut dengan
oposisi simpel, dan oposisi dua term atau oposisi kompleks.
Oposisi simpel merupakan hubungan logik dua pernyataan tunggal atas
dasar term yang sama, tetapi berbeda kualitas atau kuantitas atau
berbeda kedua-duanya. Oposisi simpel dibedakan atas empat macam, yaitu
oposisi kontrarik, oposisi subkontrarik, oposisi kontradiktorik, dan
oposisi subalternasi.

Oposisi kontrarik ialah pertentangan dua pernyataan universal atas


dasar satu term yang sama, tetapi berbeda kualitasnya.
Oposisi subkontrarik ialah pertentangan dua pernyataan partikular atas
dasar satu term yang sama, tetapi berbeda kualitasnya.
Oposisi kontradiktorik ialah pertentangan antara dua pernyataan atas
dasar term yang sama, tetapi berbeda dalam kuantitas dan kualitasnya.
Oposisi subalternasi ialah pertentangan antara dua pernyataan atas
dasar satu term yang sama dan berkualitas sama, tetapi berbeda dalam
kuantitasnya.

Subalternasi

ada

dua

macam:

subimplikasi

dan

superimplikasi.
Subimplikasi

ialah hubungan logik pernyataan

partikular terhadap

pernyataan universal atas dasar term yang sama serta kualitas sama.
Superimplikasi

ialah

hubungan

logik

pernyataan

universal

terhadap

pernyataan partikular atas dasar term yang sama serta kualitas sama.
Oposisi kompleks merupakan hubungan logik 2 pernyataan atas dasar 2 term
yang sama sebagai subjek dan predikat, yang secara singkat dirumuskan:
perlawanan dua proposisi kategorik atas dasar term yang sama yang
berbeda kuantitas atau kualitasnya atau berbeda kedua-duanya. Oposisi
komplek

sdibedakan

atas

macam,

yakni

oposisi

paralel,

oposisi

kontradiktorik, dan oposisi eksklusif. Dinyatakan oposisi paralel karena


proposisi yang satu sejajar dan mengandaikan adanya proposisi yang lain,
sedang dinamakan oposisi kontradiktorik karena antara proposisi satu
dengan yang lainnya saling bertentangan penuh, dan dinamakan oposisi
eksklusif karena antara 2 proposisi yang bertentangan itu saling
menyisihkan.
Oposisi paralel merupakan hubungan dua pernyataan partikular dengan dua
term yang sama tetapi berbeda dalam kualitasnya.
Oposisi kontradiktorik merupakan pertentangan dua pernyataan dengan

dasar term yang sama namun berbeda kuantitas maupun kualitasnya, yang
sering disebut juga kontradiksi.
Oposisi

eksklusif

merupakan

pertentangan

dua

pernyataan

universal

kategorik yang berbeda kualitas atau pertentangan dua pernyataan yang


berkualitas sama, tetapi berbeda kuantitasnya dengan term-term yang
sama.
Berdasarkan oposisi kompleks ada 2a penyimpulan yang dapat dirumuskan,
yaitu penyimpulan bentuk negasi kontradiksi dan penyimpulan implikasi:
Negasi kontradiksi, yaitu 2 pernyataan yang kontradiksi jika salah satu
diingkari akan mewujudkan suatu persamaan arti, hal ini menjadi suatu
kaidah.
Penyimpulan implikasi jika suatu keseluruhan mempunyai sifat tertentu
maka bagian dari keseluruhan itu juga mempunyai sifat tersebut, dan jika
mengingkari maka bagiann
ya pun mengingkari.

Penalaran Edukasi
Eduksi merupakan penyimpulan langsung dari suatu proposisi ke proposisi
lain dengan pengolahan term yang sama. Pengolahan term dalam eduksi
dapat juga berbentuk penukaran kedudukan term atau berbentuk menegasikan
term atau juga gabungan keduanya. Penalaran eduksi ini secara sederhana
ada 3 macam, yaitu konversi, inversi, dan kontraposisi. Proposisi yang
sebagai pangkal-pikirnya adalah tujuh macam proposisi berhimpunan yang
merupakan

penjabaran

dari

empat

macam

proposisi

kategorik,

yakni

universal afirmatif ekuivalen, universal afirmatif implikasi, universal


negatif eksklusif, partikular afirmatif inklusif, partikular afirmatif
implikasi,
implikasi.

partikular

negatif

inklusif,

dan

partikular

negatif

Kenakalan
remaja dalam studi
masalah sosial dapat
dikategorikan ke dalam
perilaku menyimpang.
Dalam
perspektif
perilaku menyimpang
masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan
sosial ataupun dari nilai dan norma social yang berlaku. Perilaku menyimpang dapat
dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial.
Penggunaan konsep perilaku menyimpang secara tersirat mengandung makna bahwa ada
jalur baku yang harus ditempuh. Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah
menyimpang.

Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang perlu membedakan


adanya perilaku menyimpang yang tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya
karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Sedangkan perilaku yang
menyimpang yang disengaja, bukan karena si pelaku tidak mengetahui aturan. Hal yang
relevan untuk memahami bentuk perilaku tersebut, adalah mengapa seseorang melakukan
penyimpangan, sedangkan ia tahu apa yang dilakukan melanggar aturan. Becker (dalam
Soerjono Soekanto,1988,26), mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mengasumsikan
hanya mereka yang menyimpang mempunyai dorongan untuk berbuat demikian. Hal ini
disebabkan karena pada dasarnya setiap manusia pasti mengalami dorongan untuk
melanggar pada situasi tertentu, tetapi mengapa pada kebanyakan orang tidak menjadi
kenyataan yang berwujud penyimpangan, sebab orang dianggap normal biasanya dapat
menahan diri dari dorongan-dorongan untuk menyimpang.

Masalah sosial perilaku menyimpang dalam tulisan tentang Kenakalan Remaja


bisa melalui pendekatan individual dan pendekatan sistem. Dalam pendekatan individual
melalui pandangan sosialisasi. Berdasarkan pandangan sosialisasi, perilaku akan
diidentifikasi sebagai masalah sosial apabila ia tidak berhasil dalam melewati belajar
sosial (sosialisasi). Tentang perilaku disorder di kalangan anak dan remaja (Kauffman ,
1989 : 6) mengemukakan bahwa perilaku menyimpang juga dapat dilihat sebagai
perwujudan dari konteks sosial. Perilaku disorder tidak dapat dilihat secara sederhana
sebagai tindakan yang tidak layak, melainkan lebih dari itu harus dilihat sebagai hasil

interaksi dari transaksi yang tidak benar antara seseorang dengan lingkungan sosialnya.
Ketidak berhasilan belajar sosial atau kesalahan dalam berinteraksi dari transaksi sosial
tersebut dapat termanifestasikan dalam beberapa hal.

Proses sosialisasi terjadi dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial


dengan menggunakan media atau lingkungan sosial tertentu. Oleh sebab itu, kondisi
kehidupan lingkungan tersebut akan sangat mewarnai dan mempengaruhi input dan
pengetahuan yang diserap. Salah satu variasi dari teori yang menjelaskan kriminalitas di
daerah perkotaan, bahwa beberapa tempat di kota mempunyai sifat yang kondusif bagi
tindakan kriminal oleh karena lokasi tersebut mempunyai karakteristik tertentu, misalnya
(Eitzen, 1986 : 400), mengatakan tingkat kriminalitas yang tinggi dalam masyarakat kota
pada umumnya berada pada bagian wilayah kota yang miskin, dampak kondisi
perumahan di bawah standar, overcrowding, derajat kesehatan rendah dari kondisi serta
komposisi penduduk yang tidak stabil. Penelitian inipun dilakukan di daerah pinggiran
kota yaitu di Pondok Pinang Jakarta Selatan tampak ciri-ciri seperti disebutkan Eitzen
diatas. Sutherland dalam (Eitzen,1986) beranggapan bahwa seorang belajar untuk
menjadi kriminal melalui interaksi. Apabila lingkungan interaksi cenderung devian, maka
seseorang akan mempunyai kemungkinan besar untuk belajar tentang teknik dan nilainilai devian yang pada gilirannya akan memungkinkan untuk menumbuhkan tindakan
kriminal.

Mengenai pendekatan sistem, yaitu perilaku individu sebagai masalah sosial yang
bersumber dari sistem sosial terutama dalam pandangan disorganisasi sosial sebagai
sumber masalah. Dikatakan oleh (Eitzen, 1986:10) bahwa seorang dapat menjadi
buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi
sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian
kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk
penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang
terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial,
tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial
kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.

TUJUAN PENELITIAN

1 Mengidentifkasi dan memberikan gambaran bentuk-bentuk kenakalan yang


dilakukan remaja di pinggiran kota metropolitan Jakarta, yaitu di kelurahan Pondok
Pinang.
2 Untuk mengetahui hubungaanan aaantara kenakalan remaja dengan keberfungsian
sosial keluarga
3 Penelitian ini ingin memberikan sumbangan bagi pemecahan masalah kenakalan
remaja dengan memanfaatkan keluarga sebagai basis dalam pemecahan masalah

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pemilihan metode
ini karena penelitian yang dilakukan ingin mempelajari masalah-masalah dalam suatu
masyarakat, juga hubungan antar fenomena, dan membuat gambaran mengenai situasi
atau kejadian yang ada. Cara pemilihan sampel yang dilakukan pertama memilih wilayah
yang mempunyai kategori miskin, dengan cara melihat kondisi mereka yang
perumahannya di bawah standar, dengan kondisi penduduk yang sangat padat,
lingkungan yang tidak teratur dan perkiraan tingkat kesehatan masyarakatnya yang buruk.
Setelah itu konsultasi dengan ketua RW dan ketua-ketua RT untuk mencari informasi
tentang warganya yang dianggap telah melakukan kenakalan, dengan perspektif labeling.
Dari informasi tersebut data pada tiga RT. Berdasarkan data tersebut kita jadikan populasi
dengan jumlah 40 remaja dan keluarga yang akan dijadikan unit dalam analisis. Dari
jumlah tersebut dibuat listing dan tiap RT diambil 10 sampel (remaja dan keluarga)
sehingga mendapat 30 responden. Pengambilan sample ini dengan cara random.Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dipandu dengan daftar pertanyaan.

Responden remaja dalam penelitian ini ditentukan bagi mereka yang berusia 13 tahun-21
tahun. Mengingat pengertian anak dalam Undang-undang no 4 tahun 1979 anak adalah
mereka yang berumur sampai 21 tahun. Dengan pertimbangan pada usia tersebut,
terdapat berbagai masalah dan krisis diantaranya; krisis identitas, kecanduan narkotik,
kenakalan, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan terlibat
kejahatan (lihat transaksi individu-individu dan keluarga-keluarga dengan sistem
kesejahteraan sosial).

KERANGKA KONSEP

Konsep Kenakalan Remaja

Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak
sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam masyarakatnya. Kartini Kartono (1988 :
93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka
menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat,
sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut
kenakalan. Dalam Bakolak inpres no: 6 / 1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa
kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku / tindakan remaja yang bersifat anti sosial,
melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Singgih D. Gumarso (1988 : 19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja
digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1)
kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undang-undang
sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum ; (2) kenakalan
yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan
hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang
dewasa. Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam
tiga tingkatan ; (1) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos
sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan
kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin
(3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah,
pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam
penelitian.

Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah


dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim (dalam Soerjono Soekanto, 1985 : 73).
Bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap
sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya Rules of Sociological Method dalam
batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara
tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak
menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas
tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari
perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja
meninggalkan keresahan pada masyarakat.

Keberfungsian social

Istilah keberfungsian sosial mengacu pada cara-cara yang dipakai oleh individu akan
kolektivitas seperti keluarga dalam bertingkah laku agar dapat melaksanakan tugas-tugas
kehidupannya serta dapat memenuhi kebutuhannya. Juga dapat diartikan sebagai
kegiatan-kegiatan yang dianggap penting dan pokok bagi penampilan beberapa peranan
sosial tertentu yang harus dilaksanakan oleh setiap individu sebagai konsekuensi dari
keanggotaannya dalam masyarakat. Penampilan dianggap efektif diantarannya jika suatu
keluarga mampu melaksanakan tugas-tugasnya, menurut (Achlis, 1992) keberfungsian
sosial adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas dan peranannya selama
berinteraksi dalam situasi social tertentu berupa adanya rintangan dan hambatan dalam
mewujudkan nilai dirinnya mencapai kebutuhan hidupnya.

Keberfungsian sosial kelurga mengandung pengertian pertukaran dan kesinambungan,


serta adaptasi resprokal antara keluarga dengan anggotannya, dengan lingkungannya, dan
dengan tetangganya dll. Kemampuan berfungsi social secara positif dan adaptif bagi
sebuah keluarga salah satunnya jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan,
peranan dan fungsinya terutama dalam sosialisasi terhadap anggota keluarganya.

HASIL PENELITAN
Bentuk Kenakalan Yang Dilakukan Responden

Berdasarkan data di lapangan dapat disajikan hasil penelitian tentang kenakalan remaja
sebagai salah satu perilaku menyimpang hubungannya dengan keberfungsian sosial
keluarga di Pondok Pinang pinggiran kota metropolitan Jakarta. Adapun ukuran yang
digunakan untuk mengetahui kenakalan seperti yang disebutkan dalam kerangka konsep
yaitu (1) kenakalan biasa (2) Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan
dan (3) Kenakalan Khusus. Responden dalam penelitian ini berjumlah 30 responden,
dengan jenis kelamin laki-laki 27 responden, dan perempuan 3 responden. Mereka
berumur antara 13 tahun-21 tahun. Terbanyak mereka yang berumur antara 18 tahun-21
tahun.

Bentuk Kenakalan Remaja Yang Dilakukan Responden (n=30)

Bentuk Kenakalan
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Berbohong
Pergi keluar rumah tanpa pamit
Keluyuran
Begadang
membolos sekolah
Berkelahi dengan teman
Berkelahi antar sekolah
Buang sampah sembarangan
membaca buku porno
melihat gambar porno
menontin film porno
Mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM
Kebut-kebutan/mengebut
Minum-minuman keras
Kumpul kebo
Hubungan sex diluar nikah
Mencuri
Mencopet
Menodong
Menggugurkan Kandungan
Memperkosa
Berjudi
Menyalahgunakan narkotika
Membunuh

F
30
30
28
26
17
2
10
5
7
5
21
19
25
5
12
14
8
3
2
1
10
5
22
1

%
100
100
93,3
98,7
23,3
56,7
6,7
33,3
16,7
23,3
16,7
70,0
63,3
83,3
16,7
40,0
46,7
26,7
10,0
6,7
3,3
33,3
73,3
3,3

Bahwa seluruh responden pernah melakukan kenakalan, terutama pada tingkat kenakalan
biasa seperti berbohong, pergi ke luar rumah tanpa pamit pada orang tuanya, keluyuran,
berkelahi dengan teman, membuang sampah sembarangan dan jenis kenakalan biasa
lainnya. Pada tingkat kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti
mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebut-kebutan, mencuri,minum-minuman keras, juga
cukup banyak dilakukan oleh responden. Bahkan pada kenakalan khususpun banyak
dilakukan oleh responden seperti hubungan seks di luar nikah, menyalahgunakan
narkotika, kasus pembunuhan, pemerkosaan, serta menggugurkan kandungan walaupun
kecil persentasenya. Terdapat cukup banyak dari mereka yangkumpul kebo. Keadaan
yang demikian cukup memprihatinkan. Kalau hal ini tidak segera ditanggulangi akan
membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun masyarakat. Karena dapat
menimbulkan masalah sosial di kemudian hari yang semakin kompleks.

Hubungan Antara Variabel Independen dan Dependen


Hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat kenakalan

Salah satu hubungan variabel yang disajikan disini adalah hubungan antara jenis kelamin
dengan tingkat kenakalan. Hal ini untuk mengetahui apakah anak laki-laki lebih nakal
dari anak perempuan atau probalitasnya sama. Berdasarkan tabel hubungan diperoleh
data sebagai berikut; Anak laki-laki yang melakukan kenakalan biasa 3 responden (10%),
kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden, dan kenakalan
khusus 22 responden (73,3%). Sedangkan anak perempuan yang melakukan kenakalan
biasa 2 responden (2,7%) dan kenakalan khusus 1 responden (3,3%).

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar yang melakukan kenakalan


khusus adalah anak laki-laki (73,3%), namun terdapat juga anak perempuannya. Kalau
dibandingkan diantara 27 responden anak laki-laki 22 responden (81,5%) diantaranya
melakukan kenakalan khusus, sedangkan dari 3 responden perempuan 1 responden
(33,3%) yang melakukan kenakalan khusus, berarti probababilitas anak laki-laki lebih
besar kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Demikian juga yang
melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, anak perempuan

tidak ada yang melakukannya. Dengan demikian maka anak laki-laki kecenderungannya
akan melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan lebih
dibandingkan dengan anak perempuan.

Hubungan antara pekerjaan responden dengan tingkat kenakalan yang dilakukan

Berdasarkan data yang ada, pekerjaan responden adalah sebagai pelajar dan tidak bekerja
(menganggur) masing-masing 13 responden (43,3%), sebagai buruh dan berdagang
masing-masing 2 responden (6,7%). Dari tabel korelasi persebaran datanya sebagai
berikut; Pelajar yang melakukan kenakalan biasa 5 responden (16,7%), kenakalan yang
menjurus pada pelanggaran dan kejahatan 2 responden (6,7%), dan kenakalan khusus 6
responden (20%) . Sedangkan mereka yang tidak bekerja (menganggur) semuanya 13
responden melakukan kenakalan khusus, juga mereka yang bekerja sebagai pedagang dan
buruh semuanya melakukan kenakalan khusus. Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa kecenderungan untuk melakukan kenakalan khusus ataupun jenis kenakalan
lainnya adalah mereka yang tidak sibuk, atau banyak waktu luang yang tidak
dimanfaatkan untuk kegiatan positif.

Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan

Seharusnya semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin rendah melakukan


kenakalan. Sebab dengan pendidikan yang semakin tinggi, nalarnya semakin baik.
Artinya mereka tahu aturan-aturan ataupun norma sosial mana yang seharusnya tidak
boleh dilanggar. Atau mereka tahu rambu-rambu mana yang harus dihindari dan mana
yang harus dikerjakan. Tetapi dalam kenyataannya tidak demikian. Mereka yang tamat
SLTA justru yang paling banyak melakukan tindak kenakalan 17 responden (56,7%) yang
berarti separoh lebih, dengan terbanyak 12 responden (40%) melakukan kenakalan
khusus, 2 responden (6,7%) melakukan kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan
kejahatan, dan 4 responden (13,3%) melakukan kenakalan biasa. Demikian juga mereka
yang pendidikan terakhirnya SLTP, dari 12 responden, 11 responden (36,7%) melakukan
kenakalan khusus. Sedang mereka yang hanya tamat SD 1 responden juga melakukan
kenakalan khusus. Dengan demikian maka tidak ada hubungan antara tingkatan
pendidikan dengan kenakalan yang dilakukan, artinya semakin tinggi pendidikannya
tidak bisa dijamin untuk tidak melakukan kenakalan. Artinya di lokasi penelitian

kenakalan remaja yang dilakukan bukan karena rendahnya tingkat pendidikan mereka,
karena disemua tingkat pendidikan dari SD sampai dengan SLTA proporsi untuk
melakukan kenakalan sama kesempatannya. Dengan demikian faktor yang kuat adalah
seperti yang disebutkan di atas, yaitu adanya waktu luang yang tidak dimanfaatkan untuk
kegiatan positif, dan adanya pengaruh buruk dalam sosialisasi dengan teman bermainnya
atau faktor lingkungan sosial yang besar pengaruhnya.

Hubungan Antara Kenakalan Remaja Dengan Keberfungsian Sosial Keluarga

Dalam kerangka konsep telah diuraikan tentang keberfungsian sosial keluarga,


diantaranya adalah kemampuan berfungsi sosial secara positif dan adaptif bagi keluarga
yaitu jika berhasil dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan, peranan, dan fungsinya
serta mampu memenuhi kebutuhannya.

Hubungan antara pekerjaan orang tuanya dengan tingkat kenakalan

Untuk mengetahui apakah kenakalan juga ada hubungannya dengan pekerjaan


orangtuanya, artinya tingkat pemenuhan kebutuhan hidup. Karena pekerjaan orangtua
dapat dijadikan ukuran kemampuan ekonomi, guna memenuhi kebutuhan keluarganya.
Hal ini perlu diketahui karena dalam keberfungsian sosial, salah satunya adalah mampu
memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan data yang ada mereka yang pekerjaan oangtuanya
sebagai pegawai negeri 5 responden (16,7%), berdagang 4 responden (13,3%), buruh 5
responden (16,6%), tukang kayu 2 responden (6,7%), montir/sopir 6 responden (20%),
wiraswasta 5 responden (16,6%), dan pensiunan 1 responden (3,3%).

Dari tabel korelasi diketahui bahwa kecenderungan anak pegawai negeri walaupun
melakukan kenakalan, namun pada tingkat kenakalan biasa. Lain halnya bagi mereka
yang orang tuanya mempunyai pekerjaan dagang, buruh, montir/sopir, dan wiraswasta
yang kecendrungannya melakukan kenakalan khusus. Hal ini berarti pekerjaan orang tua
berhubungan dengan tingkat kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Keadan yang
demikian karena mungkin bagi pegawai negeri lebih memperhatikan anaknya untuk
mencapai masa depan yang lebih baik, ataupun kedisiplinan yang diterapkan serta nilai-

nilai yang disosisalisasikan lebih efektif. Sedang bagi mereka yang bukan pegawai negeri
hanya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga kurang
ada perhatian pada sosialisasai penanaman nilai dan norma-norma sosial kepada anakanaknya. Akibat dari semua itu maka anak-anaknya lebih tersosisalisasi oleh
kelompoknya yang kurang mengarahkan pada kehidupan yang normative.

Hubungan antara keutuhan keluarga dengan tingkat kenakalan

Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap kenakalan remaja. Artinya
banyak terdapat anak-anak remaja yang nakal datang dari keluarga yang tidak utuh, baik
dilihat dari struktur keluarga maupun dalam interaksinya di keluarga

Dilihat dari keutuhan struktur keluarga, 21 responden (70%) dari keluarga utuh, dan 9
responden dari keluarga tidak utuh. Berdasarkan data pada tabel korelasi ternyata struktur
keluarga ketidak utuhan struktur keluarga bukan jaminan bagi anaknya untuk melakukan
kenakalan, terutama kenakalan khusus. Karena ternyata mereka yang berasal dari
keluarga utuh justru lebih banyak yang melakukan kenakalan khusus.

Namun jika dilihat dari keutuhan dalam interaksi, terlihat jelas bahwa mereka yang
melakukan kenakalan khusus berasal dari keluarga yang interaksinya kurang dan tidak
serasi sebesar 76,6%. Perlu diketahui bahwa keluarga yang interaksinya serasi berjumlah
3 responden (10%), sedangkan yang interaksinya kurang serasi 14 responden (46,7%),
dan yang tidak serasi 13 responden (43,3%). Jadi ketidak berfungsian keluarga untuk
menciptakan keserasian dalaam interaksi mempunyai kecenderungan anak remajanya
melakukan kenakalan. Artinya semakin tidak serasi hubungan atau interaksi dalam
keluarga tersebut tingkat kenakalan yang dilakukan semakin berat, yaitu pada kenakalan
khusus.

Hubungan antara kehidupan beragama keluarganya dengan tingkat kenakalan

Kehidupan beragama kelurga juga dijadikan salah satu ukuran untuk melihat
keberfungsian sosial keluarga. Sebab dalam konsep keberfungsian juga dilihat dari segi
rokhani. Sebab keluarga yang menjalankan kewajiban agama secara baik, berarti mereka
akan menanamkan nilai-nilai dan norma yang baik. Artinya secara teoritis bagi keluarga
yang menjalankan kewajiban agamanya secara baik, maka anak-anaknyapun akan
melakukan hal-hal yang baik sesuai dengan norma agama. Berdasarkan data yang ada
mereka yang keluarganya taat beragama 6 responden (20%), kurang taat beragama 15
responden (50%), dan tidak taat beragama 9 responden (30%). Dari tabel korelasi
diketahui 70% dari responden yang keluarganya kurang dan tidak taat beragama
melakukan kenakalan khusus. Dengan demikian ketaatan dan tidaknya beragama bagi
keluarga sangat berhubungan dengan kenakalan yang dilakukan oleh anak-anaknya. Hal
ini berarti bahwa bagi keluarga yang taat menjalankan kewajiban agamanya kecil
kemungkinan anaknya melakukan kenakalan, baik kenakalan yang menjurus pada
pelanggaran dan kejahatan maupun kenakalan khusus, demikian juga sebaliknya.

Hubungan antara sikap orang tua dalam pendidikan anaknya dengan tingkat kenakalan

Salah satu sebab kenakalan yang disebutkan pada kerangka konsep di atas adalah sikap
orang tua dalam mendidik anaknya. Mereka yang orang tuanya otoriter sebanyak 5
responden (16,6%), overprotection 3 responden (10%), kurang memperhatikan 12
responden (40%), dan tidak memperhatikan sama sekali 10 responden (33,4%). Dari tabel
korelasi diperoleh data seluruh responden yang orang tuanya tidak memperhatikan sama
sekali melakukan kenakalan khusus dan yang kurang memperhatikan 11 dari 12
responden melakukan kenakalan khusus. Dari kenyataan tersebut ternyata peranan
keluarga dalam pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anak.

Hubungan antara interaksi keluarga dengan lingkungannya dengan tingkat kenakalan

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, oleh karena itu mau tidak mau harus
berhubungan dengan lengkungan sosialnya. Adapun yang diharapkan dari hubungan
tersebut adalah serasi, karena keserasian akan menciptakan kenyamanan dan
ketenteraman. Apabila hal itu dapat diciptakan, hal itu meruapakan proses sosialisasi
yang baik bagi anak-anaknya. Mereka yang berhubungan serasi dengan lingkungan
sosialnya berjumlah 8 responden (26,6%), kurang serasi 12 responden (40%), dan tidak

serasi 10 responden (33,4%). Dari data yang ada terlihat bagi keluarga yang kurang dan
tidak serasi hubungannya dengan tetangga atau lingkungan sosialnya mempunyai
kecenderungan anaknya melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat yaitu
kenakalan khusus. Keadaan tersebut dapat dilihat dari 23 responden yang melakukan
kenakalan khusus 19 responden dari dari keluarga yang interaksinya dengan tetangga
kurang atau tidak serasi.

Pernah tidaknya responden ditahan dan dihukum hubungannya dengan keutuhan struktur
dan interaksi keluarga, serta ketaatan keluarga dalam menjalankan kewajiban beragama

Data tentang responden yang pernah ditahan berjumlah 15 responden, dari jumlah
tersebut 3 responden (20%) karena kasus perkelaian, masing-masing 1 responden (6,7%)
karena kasus penegeroyokan dan pembunuhan, 5 responden (33,3%) karena kasus obat
terlarang (narkotika) dan 8 responden (53,3%) karena kasus pencurian.

Sedangkan responden yang pernah dihukum penjara berjumlah 10 responden dengan


rincian 7 responden karena kasus pencurian, masing-masing 1 responden karena ksus
pengeroyokan, pembunuhan, dan narkotika. Adapun lamanya mereka dihukum antara 1
bulan-3 tahun, dengan rincian sebagai berikut 4 responden (40%) dihukum penjara
selama 1 bulan, 3 responden (30%) dihukum 3 bulan, masing-masing 1 responden (10%)
dihukum 7 bulan, 2 tahun, dan 3 tahun .

Dari responden yang pernah ditahan dan di hukum semuanya dari keluarga yang struktur
keluarganya utuh, tetapi interaksinya kurang dan tidak serasi. Hal ini menunjukkan
bahwa masalah interaksi dalam keluarga merupakan sebab utama seorang remaja sampai
ditahan dan dihukum penjara. Sedangkan dari sudut ketaatan dalam menjalankan
kewajiban agam bagi keluarganya masih terdapat 1 responden yang pernah ditahan dan
dihukum karena kasus pencurian. Artinya bahwa ketaatan beragama dari keluarganya
belum menjamin anaknya bebas dari kenakalan dan ditahan serta dihukum.

Analisis Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja

Setelah dianalisis secara bivariat antara beberapa variabel, maka untuk melengkapinya
dianalisis secara statistik dengan rumus product moment guna melihat keeratan hubungan
tersebut. Berdasarkan tabel distribusi koefisiensi korelasi product moment diperoleh data
sebagai berikut; nilai x = 510 y = 322 x2 = 9.010 y2 = 3.752 xy = 5.283 hasil perhitungan
yang diperoleh = - 0,6022. Sedang nilai r yang diperoleh dalam tabel dengan taraf
significansi 5%, dengan sampel 30 adalah 0,361 Berdasarkan data tersebut karena nilai r
yang diperoleh dari hasil penelitian jauh dari batas significansi nilai r yang diperolehnya
berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja
yang dilakukan. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin
rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian
sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya.

Dari uraian di atas bisa dilihat bahwa secara jenis kelamin terlihat remja pria lebih
cenderung melakukan kenakalan pada tinglat khusus, walaupun demilikan juga remaja
perempuan yang melakukan kenakalan khusus. Dari sudut pekerjaan atau kegiatan seharihari remaja ternyata yang menganggur mempunyai kecenderungan tinggi melakukan
kenakalan khusus demikian juga mereka yang berdagang dan menjadi buruh juga tinggi
kecenderungannya untuk melakukan kenakalan khusus. Pemenuhan kebutuhan keluarga
juga berpengaruh pada tingkat kenakalan remajanya, artinya bagi keluarga yang tiap hari
hanya berpikir untuk memenuhi kebutuhan keluarganya seperti yang orang tuanya
bekerja sebagai buruh, tukang, supir dan sejenisnya ternyata anaknya kebanyakan
melakukan kenakalan khusus. Demilian juga bagi keluarga yang interaksi sosialnya
kurang dan tidak serasi anak-anaknya melakukan kenakalan khusus. Kehidupan
beragama keluarga juga berpengaruh kepada tingkat kenakalan remajanya, artinya dari
keluarga yang taat menjalankan agama anak-anaknya hanya melakukan kenakalan biasa,
tetapi bagi keluarga yang kurang dan tidak taat menjalankan ibadahnya anak-anak mereka
pada umumnya melakukan kenakalan khusus.Hal lain yang dapat dilihat bahwa sikap
orang orang tua dalam sosialisasi terhadap anaknya juga sangat berpengaruh terhadap
tingkat kenakalan yang dilakukan, dari data yang diperoleh bagi keluarga yang kurang
dan masa bodoh dalam pendidikan (baca sosialisasi) terhadap anaknya maka umumnya
anak mereka melakukan kenakalan khusus. Dan akhirnya keserasian hubungan antara
keluarga dengan lingkungan sosialnya juga berpengaruh pada kenakalan anak-anak
mereka. Mereka yang hubungan sosialnya dengan lingkungan serasi anak-anaknya
walaupun melakukan kenakalan tetapi pada tingkat kenakalan biasa, tetapi mereka yang
kurang dan tidak serasi hubungan sosialnya dengan lingkungan anak-anaknya melakukan
kenakalan khusus.

Kesimpulan

Berdasarkan analisis di atas, ditemukan bahwa remaja yang memiliki waktu luang banyak
seperti mereka yang tidak bekerja atau menganggur dan masih pelajar kemungkinannya
lebih besar untuk melakukan kenakalan atau perilaku menyimpang. Demikian juga dari
keluarga yang tingkat keberfungsian sosialnya rendah maka kemungkinan besar anaknya
akan melakukan kenakalan pada tingkat yang lebih berat.Sebaliknya bagi keluarga yang
tingkat keberfungsian sosialnya tinggi maka kemungkinan anak-anaknya melakukan
kenakalan sangat kecil, apalagi kenakalan khusus. Dari analisis statistik (kuantitatif)
maupun kualitatif dapat ditarik kesimpulan umum bahwa ada hubungan negatif antara
keberfungsian sosial keluarga dengan kenakalan remaja, artinya bahwa semakin tinggi
keberfungsian social keluarga akan semakin rendah kenakalan yang dilakukan oleh
remaja. Sebaliknya semakin ketidak berfungsian sosial suatu keluarga maka semakin
tinggi tingkat kenakalan remajanya (perilaku menyimpang yang dilakukanoleh remaja.
Berdasarkan kenyataan di atas, maka untuk memperkecil tingkat kenakalan remaja ada
dua hal yang perlu diperhatikan yaitu meningkatkan keberfungsian sosial keluarga
melalui program-program kesejahteraan sosial yang berorientasi pada keluarga dan
pembangunan social yang programnya sangat berguna bagi pengembangan masyarakat
secara keseluuruhan Di samping itu untuk memperkecil perilaku menyimpang remaja
dengan memberikan program-program untuk mengisi waktu luang, dengan meningkatkan
program di tiap karang taruna. Program ini terutama diarahkan pada peningkatan sumber
daya manusianya yaitu program pelatihan yang mampu bersaing dalam pekerjaan yang
sesuai dengan kebutuhan.