Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Panca indra adalah organ-organ akhir yang dikhususkan untuk menerima
jenis rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat
perantara yang membawa kesan rasa dari organ indra menuju ke otak tempat
perasaan ini ditafsirkan. Beberapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan,
pengecapan, penglihatan, penciuman dan suara. Mata adalah organ
penglihatan. Suatu struktur yang sangat kompleks, menerima dan mengirimkan
data ke korteks serebral. Seluruh lobus otak, lobus oksipital, ditujukan khusus
untuk menterjemahkan citra visual. Selain itu, ada tujuh saraf kranial yang
memilki hubungan dengan mata dan hubungan batang otak memungkinkan
koordinasi gerakan mata. Salah satu penyakit yang dapat menyerang indra
penglihatan yaitu konjungtivitis. Sebelumnya, pengertian dari konjungtiva itu
sendiri adalah membrana mukosa yang melapisi bagian dalam kelopak mata
(palpebra) dan berlanjut ke batas korneosklera permukaan anterior bola mata.
Sedangkan pengertian konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva yang
ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata nampak
merah, sehingga sering disebut mata merah.
Menurut sumber lainnya, Konjungtivitis atau mata memerah adalah salah
satu penyakit mata yang bisa mengganggu penderitanya sekaligus membuat
orang lain merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan si penderita.
Semua orang dapat tertular konjungtivis, bahkan bayi yang baru lahir
sekalipun. Yang bisa ditularkan adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh
1

bakteri dan virus. Penularan terjadi ketika seorang yang sehat bersentuhan
dengan seorang penderita atau dengan benda yang baru disentuh oleh penderita
tersebut. Oleh karena itu, maka kita harus memahami tentang penyakit
konjungtivitis

agar

dapat

memutus

mata

rantai

dari

penularannya.

Conjunctivitis ( konjungtivitis, pink eye ) merupakan peradangan pada


konjungtiva ( lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata ) yang
disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi,
iritasi dari bahan-bahan kimia seperti terkena serpihan kaca yang debunya
beterbangan sehingga mengenai mata kita dan menyebabkan iritasi.. Boleh
dikata masyarakat kita sudah sangat mengenalnya. Penyakit ini dapat
menyerang semua umur. Konjungtivitis yang disebabkan oleh mikro-organisme
(terutama virus dan kuman atau campuran keduanya) ditularkan melalui kontak
dan udara.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar Mahasiswa mengetahui, mengerti, dan mampu melaksanakan
asuhan keperawatan pada gangguan sistem peneglihatan dengan
konjungtivitis.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa mampu:
a. Memahami dan mengerti konsep penyakit pada pasien dengan
konjungtivitis
b. Melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada pasien dengan
diagnose medis konjungtivitis
c. Menegakkan dan merumuskan diagnosa keperawatan
d. Menyusun rencana tindakan keperawatan yang telah disusun

C. Manfaat

1. Bagi Mahasiswa
Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam konsep asuhan
keperawatan pada pasien dengan konjungtivitis
2. Bagi Institusi Pendidikan
Bisa dipelajari atau dipahami dan sebagai acuan refrensi untuk
membuat konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan konjungtivitis
3. Bagi Penulis
Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang konsep
asuhan keperawatan pada pasien dengan konjungtivitis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga
sering disebut mata merah. (Suzzane, 2001:1991)
Konjungtivitis adalah peradangan pada konjungtiva atau mata merah atau
pink eye. (Elizabeth, Corwin: 2001)
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar
mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme
(virus, bakteri, jamur), alergi, dan iritasi bahan-bahan kimia. (Mansjoer, Arif
dkk: 2001)

B. Etiologi
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat
infeksius seperti :
-

Bakteri
Klamidia
Virus
Jamur
Parasit (oleh bahan iritatif seperti kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi
(pada reaksi alergi).
Kebanyakan konjungtivitis bersifat bilateral. Bila hanya unilateral,

penyebabnya adalah toksik atau kimia. Organism penyebab tersering adalah


stafilokokus, streptokokus, pneumokokus, dan hemofilius. Adanya infeksi atau
virus. Juga dapat disebabkan oleh butir-butir debu dan serbuk sari, kontak
langsung dengan kosmetika yang mengandung klorin, atau benda asing yang
masuk kedalam mata.
C. Anatomi dan Fisiologi
Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi
permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus
permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata
(kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat
terjadi inflamasi.

Gambar. Anatomi mata pada konjungtiva


Konjungtiva terdiri dari tiga bagian:
1. Konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra).
2. Konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata).
3. Forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian
posterior palpebra dan bola mata).
Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis.
Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke
belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di
bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi
musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang
memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.
Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan epitel
silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat
limbus, di atas karunkula dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi
kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial

mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus. Mukus
mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air
mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih
pekat daripada sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung
pigmen.
Produksi musin oleh sel-sel goblet konjungtiva sangat penting untuk
membuat air mata melekat pada epitel kornea. Kegagalan produksi sekret
kelenjar lakrimalis atau produksi sel-sel goblet akan mengakibatkan mata
kering, kalau parah keadaan ini meyebabkan rasa nyeri dan merupakan
predisposisi terjadinya ulserasi serta kekeruhan kornea.
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan
banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk
jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe
konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan
bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk pleksus
limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan
(oftalmik) pertama nervus V. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat
nyeri.
D. Klasifikasi
1. Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi adalah salah satu dari penyakit mata eksternal yang
paling sering terjadi. Bentuk konjungtivitis ini mungkin musiman atau
musim-musim tertentu saja dan biasanya ada hubungannya dengan

kesensitifan dengan serbuk sari, protein hewani, bulu-bulu, debu, bahan


makanan tertentu, gigitan serangga, obat-obatan. Konjungtivitis alergi
mungkin juga dapat terjadi setelah kontak dengan bahan kimia beracun
seperti hair spray, make up, asap, atau asap rokok. Asthma, gatal-gatal
karena alergi tanaman dan eksim, juga berhubungan dengan alergi
konjungtivitis.
2. Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakteri disebut juga Pink Eye. Bentuk ini adalah
konjungtivitis yang mudah ditularkan, yang biasanya disebabkan oleh
staphylococcus aureus. Mungkin juga terjadi setelah sembuh dari
haemophylus influenza atau neiseria gonorhe.
3. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri
hiperakut yang berat dan mengancam penglihatan.
4. Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus (yang
paling sering adalah keratokonjungtivitis epidermika) atau dari penyakit
virus sistemik seperti mumps dan mononukleus. Biasanya disertai dengan
pembentukan folikel sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata
yang lain biasanya tertular dalam 24-48 jam.
5. Konjungtivitis Blenore
Konjungtivitis purulen (bernanah pada bayi dan konjungtivitis gonore).
Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada bayi
yang baru lahir.
E. Tanda dan Gejala
Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada
benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya

hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda


asing didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora
(keluar air mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan
menutup), tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi
fibrin. Adapun smanifestasi sesuai klasifikasinya adalah sebagai berikut:
1. Konjungtivitis Alergi
- Edea berat sampai ringan pada konjungtivitas
- Rasa seperti terbakar
- Injekstion vaskuler pada konjungtivitas
- Air mata sering keluar sendiri
- Gatal-gatal adalah bentuk konjungtivitas yang paling berat
2. Konjungtivitis Bakteri
- Pelebaran pembuluh darah
- Edema konjungtiva sedang
- Air mata keluar terus
- Adanya secret atau kotoran pada mata
- Kerusakan kecil pada epitel kornea mungkin ditemukan
3. Konjungtivitis Viral
- Fotofobia
- Rasa seperti ada benda asing didalam mata
- Keluar air mata banyak
- Nyeri prorbital
- Apabila kornea terinfeksi bisa timbul kekeruhan pada kornea
- Kemerahan konjungtiva
- Ditemukan sedikit eksudat
4. Konjungtivitis Bakteri hiperakut
- Infeksi mata menunjukkan secret purulen yang massif
- Mata merah
- Iritasi
- Nyeri palpasi
- Biasanya terdapat kemosis
- Mata bengkak dan adenopati preaurikuler yang nyeri
5. Konjungtivitis Blenore
Tanda-tanda blenore adalah sebagai berikut:
- Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO
- Menyebabkan penyebab utama oftalmia neinatorm
- Memberikan secret purulen padat secret yang kental
- Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari
- Perdarahan subkonjungtita dan kemotik

F. Patofisiologi
8

Konjungtiva selalu berhubungan dengan dunia luar sehingga kemungkinan


terinfeksi dengan mikroorganisme sangat besar. Apabila ada mikroorganisme
yang dapat menembus pertahanan konjungtiva berupa tear film yang juga
berfungsi untuk mmelarutkan kotoran-kotoran dan bahan-bahan toksik melalui
meatus nasi inferior maka dapat terjadi konjungtivitas.
Konjungtivitis merupakan penyakit mata eksternal yang diderita oleh
masyarakat, ada yang bersifat akut atau kronis. Gejala yang muncul tergantung
dari factor penyebab konjungtivitis dan factor berat ringannya penyakit yang
diderita oleh pasien. Pada konjungtivitis yang akut dan ringan akan sembuh
sendiri dalam waktu 2 minggu tanpa pengobatan. Namun ada juga yang
berlanjut menjadi kronis, dan bila tidak mendapat penanganan yang adekuat
akan menimbulkan kerusakan pada kornea mata atau komplikasi lain yang
sifatnya local atau sistem.
Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan
factor lingkungan lain yang mengganggu. Beberapa mekanisme melindungi
permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsure berairnya
mengencerkan materi infeksi, mucus menangkap debris dan kerja memompa
dari pelpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air
mata mengandung substansi antimikroba termasul lisozim. Adanya agen
perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema
epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin
pula terdapat edema pada stroma konjungtiva (kemosis) dan hipertrofi lapis
limfoid stroma (pembentukan folikel). Sel-sel radang bermigrasi dari stroma
konjungtiva melalui epitel kepermukaan. Sel-sel kemudian bergabung dengan

fibrin dan mucus dari sel goblet, embentuk eksudat konjungtiva yang
menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidak.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluhpembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hoperemi yang tampak paling
nyata pada forniks dan mengurang kearah limbus. Pada hiperemi konjungtiva
ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papilla yang sering
disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal. Sensai ini
merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh
darah yang hyperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien mengeluh
sakit pada iris atau badan siliare berarti kornea terkena.
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Mata
- Pemeriksaan tajam penglihatan
- Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter
(sebagai alat pemeriksaan pandangan).
- Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya
efek epitel kornea).
- Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak
adanya kebocoran kornea).
- Pemeriksaan oftalmoskop
- Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat
benda menjadi lebih besar disbanding ukuran normalnya).
2. Therapy Medik
Antibiotic topical, obat tetes steroid untuk alergi (kontra indikasi pada
herpes simplek virus).
3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan
tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pegecatan gram atau giemsa
dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang
disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel
eosinofil.
H. Penatalaksanaan Medis
10

Secara umum pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan


sulfonamide (sulfacetamide 15%) atau antibiotic (gentamycin 0,3%),
chloramphenicol 0,5%. Konjungtivitis akibat alergi dapat diobati dengan
antihistamin (antazoline 0,5%, naphazoline 0,05%) atau dengan kortikosteroid
(dexamentosone 0,1%). Umumnya konjungtivitis dapat sembuhmtanpa
pengobatan dalam waktu 10-14 hari, dan dengan pengobatan, sembuh dalam
waktu 1-3 hari.
Adapun penatalaksanaan konjungtivitis sesuai dengan klasifikasinya
adalah sebagai berikut:
1. Konjungtivitis Bakteri
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan
antibiotic tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, folimiksin selama 35 hari. kemudian bila tidak memberikan hasil yang baik, dihentikan dan
menunggu hasil pemeriksaan. Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan
langsung, diberikan tetes mata disertai antibiotic spectrum obat salep luas
tiap jam mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari.
2. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
- Pasien biasanya memerlukan perawatan di rumah sakit untuk terapi
topical dan sistemik. Secret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi
-

air bersih atau dengan garam fisiologik setiap jam.


Kemudian diberi salep penisilin setiap jam.
Pengobatan biasanya dengan perawatan di rumah sakit dan terisolasi,
medika menstosa :
Penisilin tetes mata dapat diberikan dalam bentuk larutan

penisilin G 10.000-20.000/ml setiap 1 menit sampai 30 menit.


Kemudian salep diberikan setiap 5 menit selama 30 menit.
Disusul pemberiansalep penisilin setiap 1 jam selama 3 hari.

11

Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan

gonokokus.
Pengobatan diberhentikan bila pada pemeriksaan mikroskopik
yang dibuat setiap hari menghasilkan 3 kali berturut-turut

negative.
3. Konjungtivitis Alergi
Penatalaksanaan

keperawatan

berupa

kompres

dingin

dan

menghindarkan penyebab pencetus penyakit. Dokter biasanya memberikan


obat antihistamin atau bahan vasokonstkiktor dan pemberian astringen,
sodium kromolin, steroid topical dosis rendah. Rasa sakit dapat dikurangi
dengan membuang kerak-kerak dikelopak mata dengan mengusap pelanpelan dengan salin (gram fisiologi). Pemakaian pelindung seluloid pada
mata yang sakit tidak dianjurkan karena akan memberikan lingkungan
yang baik bagi mikroorganisme.
4. Konjungtivitis Viral
Beberapa pasien mengalami perbaikan gejala setelah pemberian
antihistamin/dekongestan topical. Kompres hangat atau dingin dapat
membantu memperbaiki gejala.
5. Penatalaksanaan pada konjungtivitis blenore berupa pemberian penisilin
topical mata dibersihkan dari secret.
Pencegahan merupakan cara yang lebih aman yaitu dengan
membersihkan mata bayi segera setelah lahir dengan memberikan salep
kloramfenikol. Pengobatan dokter biasnay disesuaikan dengan diagnosis.
Pengobatan konjungtivitis blenore :
- Penisilin topical tetes atau salep sesering mungkin. Tetes ini dapat
diberikan setiap setengah jam pada 6 jam pertama disusul dengan
setiap jam sampai terlihat tanda-tanda perbaikan.

12

Suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/KgBB selama 7 hari, karena

bila tidak maka pemberian obat tidak akan efektif.


Kadang-kadang perlu diberikan bersama-sama dengan tetrasiklin
infeksi chlamdya yang banyak terjadi.

Untuk penatalaksanaan keperawatan pada konjungtivitis meliputi


-

Kojungtivitis bakteri biasanya diobati dengan tetes mata atau krim


antibiotik, tetapi sering sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2 minggu
tanpa pengobatan. Karena sangat menular diantara anggota keluarga
lain dan teman sekolah, maka diperlukan tehnik mencuci tangan yang
baik dan pemisahan handuk bagi orang yang terjangkit. Anggota

keluarga jangan bertukar bantal atau seprei.


Kompres hangat pada mata dapat mengangkat rabas.
Konjungtivitis akibat virus biasanya diobati dengan kompres hangat.
Untuk mencegah penularan, diperlukan tehnik mencuci tangan yang

benar
Konjungivitis alergi diobati dengan menghindari alergen apabila
mungkin, dan pemberian tetes mata yang mengandung anti histamin
atau steroid untuk mengurangi gatal dan peradangan.
( Sumber: Mansjoer, Arif dkk., 2001)

I. Komplikasi
Penyakit

radang

mata

yang

tidak

segera

ditangani/diobati

bisa

menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan


komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani
diantaranya:
- Glaucoma
- Katarak
- Ablasi retina

13

- Komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit


dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis .
- Komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea.
- Komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea
adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea
yang dapat mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi
buta.
- Komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu penglihatan.
J. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Klien Konjungtivitis
1. Pengkajian
a) Identitas Klien
Meliputi Nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan,
pekerjaan, status perkawinan, alamat, tanggal wawancara, tanggal
MRS, No. RMK.
b) Identitas penanggung jawab
Meliputi nama, umur jenis kelamin, hubungan dengan klien, status
perkawinan, agama, suku bangsa, alamat.
c) Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama : nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata),
gatal, panas dan kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret,
banyak keluar terutama pada konjungtiva, purulen / Gonoblenorroe.
d) Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien pernah menderita penyakit yang sama, trauma mata, alergi obat,
riwayat operasi mata.
e) Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (konjungtivitis)
f) Pemeriksaan Fisik
- Kesadaran Umum
- Pemeriksaan fisik Khusus

14

Pemeriksaan

fisik

(inspeksi)

untuk

mencari

karakter/tanda

konjungtivitis yang meliputi:


Hiperemi konjungtiva yang tampak paling nyata pada fornix dan

megurang ke arah limbus.


Kemungkinan adanya sekret:
Edema konjungtiva
Blefarospasme
Lakrimasi
Konjungtiva palpebra (merah, kasar seperti beludru karena ada

edema dan infiltrasi).


Konjungtiva bulbi, injeksi konjungtiva banyak, kemosis, dapat
ditemukan pseudo membrane pada infeksi pneumokok. Kadang
kadang disertai perdarahan subkonjungtiva kecil kecil baik di
konjungtiva palpebra maupun bulbi yang biasanya disebabkan
pneumokok atau virus.
Pemeriksaan visus, kaji visus klien dan catat derajat pandangan
perifer klien karena jika terdapat sekret yang menempel pada
kornea dapat menimbulkan kemunduran visus/melihat halo.
2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Nyeri Akut berhubungan dengan pembengkakan pada konjungtiva.
b. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakitnya
c. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penglihatan yang
terganggu
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi yang kurang
didapat.

15

16

3. Intervensi Keperawatan
No
Diagnosa Keperawatan
1
Nyeri Akut berhubungan NOC :

NOC

NIC
NIC :

dengan pembengkakan pada

Pain Level,

Pain Management

konjungtiva.

Pain control,

1. Lakukan

komprehensif

Comfort level
Mampu mengontrol nyeri (tahu
nyeri,

mampu

menggunakan

tehnik

nonfarmakologi

untuk

mengurangi

nyeri,

mencari

termasuk

secara
lokasi,

dan faktor presipitasi


2. Observasi

reaksi

nonverbal

dari

ketidaknyamanan
3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien

bantuan)
Melaporkan

nyeri

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas

Kriteria Hasil :
penyebab

pengkajian

bahwa

nyeri

berkurang dengan menggunakan

4. Kaji kultur yang mempengaruhi respon


nyeri
5. Kontrol

manajemen nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda

17

lingkungan

mempengaruhi

nyeri

yang

dapat

seperti

suhu

ruangan, pencahayaan dan kebisingan


6. Kurangi faktor presipitasi nyeri

nyeri)

7. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk

Menyatakan

rasa

nyaman

8. Ajarkan

setelah nyeri berkurang


Tanda

vital

dalam

menentukan intervensi
tentang

teknik

non

farmakologi

rentang

9. Berikan analgetik untuk mengurangi

normal

nyeri
10. Tingkatkan istirahat
11. Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
12. Kolaborasi dalam pemberian terapi
farmakologi
2

Hipertermia berhubungan

NOC : Thermoregulation

NIC :

dengan proses penyakitnya

Kriteria Hasil :

Fever treatment

Suhu tubuh dalam rentang normal


Nadi dan RR dalam rentang
normal
Tidak ada perubahan warna kulit
dan tidak ada pusing, merasa

18

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Monitor suhu sesering mungkin


Monitor IWL
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tekanan darah, nadi dan RR
Monitor penurunan tingkat kesadaran
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan untuk mengatasi

nyaman

penyebab demam
9. Selimuti pasien
10. Berikan
cairan

intravena

jika

diperlukan
11. Kompres hangat pasien pada lipat paha

dan aksila
12. Tingkatkan sirkulasi udara
13. Berikan pengobatan untuk mencegah
terjadinya menggigil
Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2. Rencanakan monitoring suhu secara
kontinyu
3. Monitor TD, nadi, dan RR
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti

pasien

untuk

mencegah

hilangnya kehangatan tubuh


8. Ajarkan pada pasien cara mencegah

19

keletihan akibat panas


3

9. Berikan anti piretik jika perlu


1. Kurangi kebisingan atau cahaya yang

Gangguan persepsi sensori Kriteria Hasil :


berhubungan

dengan Mengenal gangguan sensori dan

penglihatan yang terganggu

berkompensasi

terhadap

perubahan.
Mengidentifikasi/memperbaiki
potensial bahaya dalam lingkungan

berlebihan
2. Tentukan ketajaman penglihatan, kemudian

catat apakah satu atau dua mata terlibat.


3. Observasi tanda-tanda disorientasi.
4. Orientasikan klien tehadap lingkungan.
5. Perhatikan tentang suram atau penglihatan
kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi
bila menggunakan tetes mata.
6. Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi
bel pemanggil dalam jangkauan/posisi yang

Kurang
berhubungan
informasi
didapat.

tidak dioperasi.
NIC :

pengetahuan NOC :
yang

dengan Kowlwdge : disease process

Teaching : disease Process

kurang Kowledge : health Behavior

1.

Berikan

penilaian

tentang

tingkat

pasien

tentang

proses

Kriteria Hasil :

pengetahuan

Pasien dan keluarga menyatakan

penyakit yang spesifik

pemahaman tentang penyakit,


kondisi, prognosis dan program

20

2.

Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan


bagaimana hal ini berhubungan dengan

pengobatan

anatomi dan fisiologi, dengan cara yang

Pasien dan keluarga mampu


melaksanakan prosedur yang

tepat.
3.

muncul pada penyakit, dengan cara yang

dijelaskan secara benar

tepat

Pasien dan keluarga mampu


menjelaskan kembali apa yang

4.

Gambarkan proses penyakit, dengan


cara yang tepat

dijelaskan perawat/tim kesehatan


5.

lainnya

Gambarkan tanda dan gejala yang biasa

Identifikasi kemungkinan penyebab,


dengna cara yang tepat

6.

Sediakan informasi pada pasien tentang


kondisi, dengan cara yang tepat

7.

Diskusikan

pilihan

terapi

atau

penanganan
8.

Instruksikan pasien mengenai tanda


dan

gejala

untuk

melaporkan

pada

pemberi perawatan kesehatan, dengan cara


yang tepat

21

BAB III
PEMBAHASAN JURNAL
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata
dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikroorganisme (virus,
bakteri, jamur), alergi, dan iritasi bahan-bahan kimia. (Mansjoer, Arif dkk: 2001).
Tanaman telah menunjukkan aktivitas yang cukup terhadap berbagai
mikroba [07/04]. Hal ini dianggap bahwa tanaman merupakan sumber dari
Berbagai

macam

pengembangan

obat

molekul
baru

bioaktif
dengan

yang
spektrum

dapat
yang

digunakan
lebih

luas

untuk
dari

kegiatan dan dengan efek samping kurang dari yang dihasilkan oleh
obat yang sedang digunakan obat rakyat Bulgaria mengobati konjungtivitis oleh
beberapa tanaman.
Salah satu penelitian berjudul Anti-conjunctivitis Effect of fresh juice of
xGraptoveria (Crassulaceae): A phytochemical and ethnobotanical study oleh
Nadezhda V. Markova, Daniela I. Batovska, Ekaterina K. Kozuharova, Venelin G.
Enchev. Penelitian tersebut bertujuan untuk menguji sifat anti-konjungtivitis
dari x Graptoveria (Crassulaceae) dan untuk mengidentifikasi konstituen bioaktif
nya.

Pemberian Jus segar diperoleh langsung dengan menekan keluar x

Graptoveria daun segera itu diteteskan di mata yang teriritasi tanpa pengenceran.
Pengobatan ini sebaiknya dilakukan di mata bersih sebagai berikut: 1. Tetes tiap
mata, 2. kali sehari (pagi dan pada malam hari).

22

Gambar. Tanaman xGraptoveria


Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut pada
komposisi kimia dan efek anti-konjungtivitis daun x Graptoveria jus segar. ini
hipotesis

bahwa

efek

ini

disebabkan

oleh

aksi

sinergis

dari

konstituen bioaktif terutama alkylamines, hidroksikarboksilat, alifatik dan asam


karboksilat aromatik. Sehingga terapi komplementer tersebut dapat disarankan
dan dilakukan sebagai intervensi keperawatan untuk mengurangi iritasi atau nyeri
pada konjungtivitis.

23

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah,
sehingga sering disebut mata merah. (Suzzane, 2001:1991)
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat
infeksius seperti:
- Bakteri
- Klamidia
- Virus
- Jamur
- Parasit (oleh bahan iritatif => kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi
(pada reaksi alergi).
Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada
benda asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya
hipertrofi papilaris, dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda
asing didalam mata. Gejala objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora
(keluar air mata berlebihan), pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan
menutup), tampak semacam membrane atau pseudomembran akibat koagulasi
fibrin.
B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam
konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pengelihatan
dengan konjungtivitis
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan bisa dipelajari atau dipahami dan sebagai acuan refrensi
untuk membuat konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem
sistem pengelihatan dengan konjuntivitis.
3. Bagi Penulis

24

Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang konsep


asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pengelihatan dengan
konjuntivitis.

DAFTAR PUSTAKA
Capernito-Moyet, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta:
EGC .
http://pary08.wordpress.com/2011/01/03/askep-kojungtivitis/
Ilyas, Sidarta dkk. 2002. Ilmu Penyakit Mata Perhimpunan Dokter Spesialis Mata
Indonesia. Jakarta : CV. Sagung Seto
25

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III. Jakarta: Media
Aeuscualpius.
Marrilyn, Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC
Tamsuri, Anas. 2010. Buku Ajar Klien Gangguan Mata dan Penglihatan. Jakarta :
EGC

26