Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Mata merupakan salah satu indra dari pancaindra yang sangat penting
untuk kehidupan manusia. Terlebih-lebih dengan majunya teknologi, indra
penglihatan yang baik merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Mata
merupakan bagian yang sangat peka. Walaupun mata mempunyai sistem
pelindung yang cukup baik seperti rongga orbita, kelopak, dan jaringan lemak
retrobulbar selain terdapatnya refleks memejam atau mengedip, mata masih
sering mendapat trauma dari dunia luar. Trauma dapat mengakibatkan kerusakan
pada bola mata dan kelopak, saraf mata dan rongga orbita. Kerusakan mata akan
dapat mengakibatkan atau memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi
penglihatan. Trauma pada mata memerlukan perawatan yang tepat untuk
mencegah terjadinya penyulit yang lebih berat yang akan mengakibatkan
kebutaan.
Kemajuan mekanisasi dan teknik terlebih-lebih dengan bertambah
banyaknya kawasan industri, kecelakaan akibat pekerjaan bertambah banyak
pula, juga dengan bertambah ramainya lalu lintas, kecelakaan di jalan raya
bertambah pula, belum terhitung kecelakaan akibat perkelahian, yang juga dapat
mengenai mata. Pada anak-anak kecelakaan mata biasanya terjadi akibat

kecelakaan terhadap alat dari permainan yang biasa dimainkan seperti panahan,
ketapel, senapan angin, tusukan dari gagang mainan dan sebagainya.
Trauma okular adalah penyebab kebutaan yang cukup signifikan,
terutama pada golongan sosioekonomi rendah dan di negara-negara berkembang.
Kejadian trauma okular dialami oleh pria 3 sampai 5 kali lebih banyak daripada
wanita. Trauma pada mata dapat mengenai jaringan di bawah ini secara terpisah
atau menjadi gabungan trauma jaringan mata. Trauma dapat mengenai jaringan
mata: palpebrae, konjungtiva, cornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik, dan
orbita. Trauma mata merupakan keadaan gawat darurat pada mata. Dari data
WHO tahun 1998 trauma okular berakibat kebutaan unilateral sebanyak 19 juta
orang, 2,3 juta mengalami penurunan visus bilateral, dan 1,6 juta mengalami
kebutaan bilateral akibat cedera mata. Menurut United States Eye Injury Registry
(USEIR), frekuensi di Amerika Serikat mencapai 16 % dan meningkat di lokasi
kerja dibandingkan dengan di rumah. Lebih banyak pada laki-laki (93 %) dengan
umur rata-rata 31 tahun.
Bentuk kelainan pada mata yang terkena trauma (trauma oculi) bisa hanya
berupa kelainan ringan saja sampai kebutaan. Trauma oculi dapat dibedakan atas
trauma tumpul, trauma akibat benda tajam/trauma tembus, ataukah trauma fisis.
Kelainan yang diakibatkan oleh trauma mata sesuai dengan berat ringannya serta
jenis trauma itu sendiri yang dapat menyerang semua organ struktural mata
sehingga menyebabkan gangguan fisiologis yang reversibel ataupun nonireversibel. Trauma oculi dapat menyebabkan perdarahan, adanya laserasi,

perforasi, masuknya benda asing ke dalam bola mata, kelumpuhan saraf, ataukah
atrofi dari struktur jaringan bola mata.
Anamnesis dan pemeriksaan fisis oftamologi yang dilakukan secara teliti
untuk mengetahui penyebab, jenis trauma yang terjadi, serta kelainan yang
disebabkan yang akan menuntun kita ke arah diagnosis dan penentuan langkah
selanjutnya. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti: slit
lamp, oftalmoskopi direk maun indirek, tes fluoresensi, tonometri, USG, maupun
CT-scan. Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya
trauma ataupun jenis trauma itu sendiri.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka kelompok merumuskan masalah
Apa pengertian, etiologi, manifestasi klinis, pathway / patofisiologi,
pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan pada klien
dengan trauma mata.
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan trauma mata secara
komprehensif.
2. Tujuan khusus
Mahasiswa dapat mengetahui :
a. Pengertian dan tanda gejala trauma mata
b. Etiologi trauma mata
c. Manifestaasi klinis trauma mata
d. Pathway/patofisiologi trauma mata
e. Pemeriksaan penunjang trauma mata

f. Penatalaksanaan dan komplikasinya serta


g. Bagaimana managemen keperawatan klien trauma mata.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi Trauma mata
Berbagai studi penelitian menemukan tingginya prevalensi trauma mata
pada usia usia produktif, terutama pada kelompok kelompok penduduk yang
perekonomiannya kurang sehingga akses ke rumah sakit sulit.
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan
perlukaan mata. Trauma mata merupakan kasus gawat darurat mata. Perlukaan
yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan
kehilangan mata. Alat rumah tangga sering menimbulkan perlukaan atau trauma
mata.
Tajam penglihatan akhir pada kasus trauma mata dipengaruhi oleh
multifaktor, antara lain : penyebab trauma, akibat langsung pada jaringan ikat
bola mata yang terkena, ada atau tidaknya benda asing yang tertahan di dalam
bola mata dan ada atau tidaknya infeksi. Tindakan perbaikan anatomi bola mata
yang segera pada kasus trauma, dapat mencegah terjadinya post traumatic
endopthalmitis. Oleh karena itu, managemen trauma mata membutuhkan
pendekatan multidisiplin dengan rancangan penanganan yang prioritas. Evaluasi
pada pasien trauma mata meliputi:

a. Evaluasi menyeluruh pada bola mata dan adnexa mata


Tujuan utama pada evaluasi ini untuk mencari informasi apakah pasien
mengalami keadaan sistemik darurat yang membutuhkan penanganan segera
atau keadaan darurat mata yang juga menentukan tindakan yang akan
dilakukan pada matanya. (Universitas sumatera Utara)
b. Evaluasi sistemik
Pemeriksa mengevaluasi pada pasien apakah ada tanda tanda cedera
kepala seperti: kesadaran menurun, muntah dan nyeri kepala hebat.
Anamnesis yang lengkap mengenai penyakit penyerta seperti diabetes melitus,
hipertensi, asma bronkial dapat mempengaruhi penanganan trauma mata.
Riwayat alergi obat sebelumnya, keterangan sudah mendapat penanganan di
tempat lain sebelumnya (pemberian anti tetanus), waktu terakhir makan dan
minum alkohol juga perlu ditanyakan kepada pasien.
Berikut contoh gambar trauma tajam dam trauma kimia :

B. Etiologi
Gejala yang ditimbulkan tergantung jenis trauma serta berat dan ringannya
trauma :
1) Trauma tajam (perforasi trauma)
Diakibatkan oleh benda tajam atau benda asing lainnya yang mengakibatkan
terjadinya robekan jaringan-jaringan mata secara beruntun, misalnya mulai
dari palbebra, kornea, uvea sampai mengenai lensa.
2) Trauma tumpul (contusio oculi)
Trauma pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda tidak keras
dengan ujung tumpul, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan
kencang atau lambat sehingga terjadi kerusakan pada jaringan bola mata atau
daerah sekitarnya.
3) Trauma Khemis/ Kimia (trauma asam dan trauma basa)
Trauma kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di laboratorium,
industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia. Trauma kimia pada mata
memerlukan tindakan yang segera, irigasi pada daerah mata yang terkena
bahan kimia harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya penyulit
yang berat. Pembilasan dapat dilakukan dengan memakai garam fisiologik
atau air bersih lainnya selama 15-30 menit.
4) Trauma Fisika

Trauma radiasi sinar inframerah

Trauma radiasi sinar ultraviolet

Trauma radiasi sinar X dan sinar terionisasi

Trauma pada mata dapat mengenai jaringan seperti kelopak mata,


konjungtiva, kornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik dan orbita secaara
terpisah atau menjadi gabungan trauma jaringan mata.
C. Tanda dan Gejala
Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut :
a.

Trauma Tumpul
Rongga Orbita : suatu rongga yang terdiri dari bola mata dan 7 ruas
tulang yang membentuk dinding orbita (lakrimal, ethmoid, sfenoid,
frontal, maksila, platinum dan zigomatikus. Jika pada trauma mengenai
rongga orbita maka akan terjadi fraktur orbita, kebutaan (jika mengenai
saraf), perdarahan didalam rongga orbita, gangguan gerakan bola mata.
Palpebra : Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola
mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air
mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang
berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan
pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada
bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus
yang

disebut

konjungtiva

tarsal.

Gangguan

penutupan

kelopak

(lagoftalmos) akan mengakibatkan keringnya permukaan mata sehingga


terjadi keratitis. Jika pada palpebra terjadi trauma tumpul maka akan

terjadi hematom, edema palpebra yang dapat menyebabkan kelopak mata


tidak dapat membuka dengan sempurna (ptosis), kelumpuhan kelopak
mata (lagoftalmos/tidak dapat menutup secara sempurna).
Konjungtiva : Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera
dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin
yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola mata
terutama kornea. Edema, robekan pembuluh darah konjungtiva
(perdarahan subkonjungtiva) adalah tanda dan gejala yang dapat terjadi
jika konjungtiva terkena trauma.
Kornea : Kornea (Latin cornum = seperti tanduk) adalah selaput bening
mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan
yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari beberapa lapisan.
Dipersarafi oleh banyak saraf. Edema kornea, penglihatan kabur,
kornea keruh, erosi/abrasi, laserasi kornea tanpa disertai tembusnya
kornea dengan keluhan nyeri yang sangat, mata berair, fotofobi adalah
tanda dan gejala yang dapat muncul akibat trauma pada kornea.
Iris atau badan silier : merupakan bagian dari uvea. Pendarahan uvea
dibedakan antara bagian anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar
posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal
dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri siliar anterior, yang
terdapat 2 pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus

10

lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satu
membentuk arteri sirkularis mayor pada badan siliar. Uvea posterior
mendapat perdarahan dari 15 - 20 buah arteri siliar posterior brevis yang
menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik. Hifema
(perdarahan bilik mata depan), iridodialisis (iris terlepas dari insersinya)
merupakan tanda patologik jika trauma mengenai iris.

(gambar : hifema)
Lensa : Lensa merupakan badan yang bening. Secara fisiologik lensa
mempunyai sifat tertentu, yaitu : Kenyal atau lentur karena memegang
peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung, jernih atau
transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, terletak di
tempatnya. Secara patologik jika lensa terkena trauma akan terjadi
subluksasi lensa mata (perpindahan tempat).
Korpus vitreus : perdarahan korpus vitreus.
Retina : Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas
penyebaran daripada serabut-serabut saraf optik. Letaknya antara badan
kacadan koroid. Letaknya antara badan kaca dan koroid.1,2 Bagian anterior

11

berakhir pada ora serata. Dibagian retina yang letaknya sesuai dengan
sumbu penglihatan terdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira berdiameter 1 - 2 mm yang berperan penting untuk tajam penglihatan.
Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakan reflek
fovea. Secara patologik jika retina terkena trauma akan terjadi edema
makula retina, ablasio retina, fotopsia, lapang pandang terganggu dan
penurunan tekanan bola mata.
Nervus optikus : N.II terlepas atau putus (avulsio) sehingga menimbulkan
kebutaan.
b.

Trauma Tajam
Orbita : kebutaan, proptosis (akibat perdarahan intraorbital), perubahan
posisi bola mata.
Palpebra : ptosis yang permanen (jika mengenai levator apoeurosis)
Saluran lakrimal : gangguan sistem eksresi air mata.
Konjungtiva : robekan konjungtiva, perdarahan subkonjungtiva.
Sklera : pada luka yang agak besar akan terlihat jaringan uvea (iris, badan
silier dan koroid yang berwarna gelap).
Kornea, iris, badan silier, lensa, korpus vitreus : laserasi kornea yan g
disertai penetrasi kornea, prolaps jaringan iris, penurunan TIO, adanya
luka pada kornea, edema.
Koroid dan kornea : luka perforasi cukup luas pada sklera, perdarahan

12

korpus vitreus dan ablasi retina.


c.

Trauma Kimia
Asam (kekeruhan pada kornea akibat terjadi koagulasi protein epitel
kornea)
Basa/Alkali (kebutaan, penggumpalan sel kornea atau keratosis, edema
kornea, ulkus kornea, tekanan intra ocular akan meninggi, hipotoni akan
terjadi bila terjadi kerusakan pada badan siliar, membentuk jaringan parut
pada kelopak, mata menjadi kering karena terjadinya pembentukan
jaringan parut pada kelenjar asesoris air mata, pergerakan mata menjadi
terbatas akibat terjadi simblefaron pada konjungtiva bulbi yang akan
menarik bola mata, lensa keruh diakibatkan kerusakan kapsul lensa).

D. Pathway

13

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Fisik : dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman
penglihatan.
2. Slit lamp : untuk melihat kedalaman cedera di segmen anterior bola mata.
3. Tes fluoresin : digunakan untuk mewarnai kornea, sehingga cedera kelihatan
jelas.
4. Tonometri : untuk mengetahui tekakan bola mata.
5. Pemeriksaan fundus yang di dilatasikan dengan oftalmoskop indirek : untuk
mengetahui adanya benda asing intraokuler.
6. Tes Seidel : untuk mengetahui adanya cairan yang keluar dari mata. Tes ini
dilakukan dengan cara memberi anastesi pada mata yaang akan diperiksa,
kemudian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji menggunakan slit lamp
dengan filter kobalt biru, sehingga akan terlihat perubahan warna strip akibat
perubahan pH bila ada pengeluaran cairan mata.
7. Pemeriksaan ct-scan dan USG B-scan : digunakan untuk mengetahui posisi
benda asing.
8. Electroretinography (ERG) : untuk mengetahui ada tidaknya degenerasi pada
retina.
9. Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin
mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan
pada sistem suplai untuk retina.

14

10. Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan
bola mata (normal 12-25 mmHg).
11. Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal
dari okuler, papiledema, retina hemoragi.
12. Pemeriksaan Radiologi : pemeriksaan radiologi pada trauma mata sangat
membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing.
13. Kertas Lakmus : pada pemeriksaan ini sangat membantu dalam menegakkan
diagnosa trauma asam atau basa.
F. Penatalaksanaan
1. Trauma tumpul

Tirah baring sempurna dalam posisi fowler untuk menimbulkan gravitasi


guna membantu keluarnya hifema dari mata.

Berikan kompres es.

Pemantauan tajam penglihatan.

Batasi pergerakan mata selama 3-5 hari untuk menurunkan kemungkinan


perdarahan ulang.

Batasi membaca dan melihat TV.

Pantau ketaatan pembatasan aktivitas, imobilisasi sempurna.

Berikan stimulasi sensori bentuk lain seperti musik, perbincangan.

Berikan diet lunak dan semua keperluan klien dibantu.

15

Tetes mata siklopegik seperti atropin untuk mengistirahatkan mata.

Mata dilindungi dengan kasa jika terdapat luka.

Laporkan peningkatan nyeri mata secara mendadak, ini mungkin indikasi


perdarahan ulang.

Persiapan parasentesis (pengeluaran hifema).


Indikasi Parasentesis :
Hifema penuh (sampai pupil) dan berwarna hitam
Hifema yang tidak bisa sembuh/berkurang dengan perawatan
konvensional selama 5 hari
Hifema dengan peningkatan TIO (glaukoma sekunder) yang tidak
dapat diatasi/diturunkan dengan obat-obatan glaucoma
Terlihat tanda-tanda imbibisi kornea.

2. Trauma tajam
Penatalaksanaan sebelum tiba di RS :

Mata tidak boleh dibebat dan diberikan perlindungan tanpa kontak.

Tidak boleh dilakukan manipulasi yang berlebihan dan penekanan bola


mata.

Benda asing tidak boleh dikeluarkan tanpa pemeriksaan lanjutan.

Sebaiknya pasien dipuasakan untuk mengantisipasi tindakan operasi.

Penatalaksanaan setelah tiba di RS

16

Pemberian antibiotik spektrum luas.

Pemberian obat sedasi, antimimetik dan analgetik sesuai indikasi.

Pemberian toksoid tetanus sesuai indikasi.

Pengangkatan benda asing di kornea, konjungtiva atau intraokuler (bila


mata intak).

Tindakan pembedahan/penjahitan sesuai dengan kausa dan jenis cedera.

3. Trauma kimia

Irigasi (30 menit) dan periksa pH dengan kertas lakmus.

Diberi pembilas : idealnya dengan larutan steril dengn osmolaritas tinggi


seperti larutan amphoter (Diphoterine) atau larutan buffer (BSS atau
Ringer Laktat). Larutan garam isotonis.

Irigasi sampai 30 menit atau pH normal. Bila bahan mengandung CaOH


berikan EDTA.

Pemeriksaan oftalmologi menyeluruh.

Cedera ringan : Pasien dapat dipulangkan dengan diberikan antibiotik


tetes mata, analgesic oral dan perban mata.

Luka sedang diberi siklopegi.

Steroid topikal untuk mencegah infiltrasi sel radang.

Vitamin C oral : untuk membentuk jaringan kolagen.

Catatan :

17

6 tahapan penatalaksanaan trauma mata :

Irigasi

Repitalisasi kornea

Mengendalikan proses peradangan

Mencegah terjadinya infeksi

Mengendalikan TIO

Menurunkan nyeri : sikloplegik

G. Komplikasi

Jangka pendek : Glaucoma, Corneal blood stain, Synechia dan SymphateticOphthalmia.

Jangka panjang : Atropi iris (darah menekan lama), Optik atropi (TIO),
Heterocronitis uveitis, hemophthalmitis)

H. Discharge planning
Trauma mata dapat dicegah dengan menghindarkan terjadinya trauma seperti :
1.

Diperlukan perlindungan pekerja untuk menghindarkan terjadinya trauma


tajam akibat alat pekerjaannya

2.

Setiap pekerja yang bekerja di tempat bahan kimia sebaiknya mengerti


bahan kimia apa yang dipakainya, asam atau basa.

3.

Pada pekerja las sebaiknya melindungi matanya dari sinar dan percikan las

4.

Awasi anak yang sedang bermain yang mungkin berbahaya untuk matanya

18

5.

Pada olahragawan seperti tinju ataupun beladiri lainnya, harus melindungi


bagian matanya dan daerah sekitarnya dengan alat pelindung.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Identitas Klien : Inisial nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, pendidikan
terakhir, pekerjaan, diagnosa medis, dll.
2. Riwayat Keperawatan
Keluhan Utama : Klien dapat mengeluh adanya penurunan penglihatan,

nyeri pada mata, keterbatasan gerak mata.


Riwayat kesehatan dahulu : Riwayat penyakit yang mungkin diderita
klien seperti DM dapat menyebabkan infeksi yang terjadi pada mata sulit

sembuh, riwayat hipertensi.


Riwayat penyakit sekarang : yang perlu dikaji adalah trauma disebabkan
karena truma tumpul,tajam,atau mekanik, tindakan apa yang sudah

dilakukan pada saat trauma terjadi.


Riwayat psikososial : pada umumnya klien mengalami berbagai derajat
ansietas, gangguan konsep diri dan ketakutan akan terjadinya kecacatan
mata, gangguan penglihatan yang menetap atau mungkin kebutaan. Klien
juga dapat mengalami gangguan interaksi sosial.

B. Pemeriksaan fisik
1. B1(Breath), Pada sistem ini tidak didapatkan kelainan (tdk ada gangguan pada

19

20

sistem pernafasan).
2. B2 (Blood), Tidak ada gangguan perfusi, adanya peningkatan nadi/tekanan
darah dikarenakan pasien takut dan cemas.
3. B3 (Brain), Pasien merasa pusing atau nyeri karena adanya peningkatan TIO.
4. B4 (Bladder), Kebutuhan eliminasi dalam batas normal.
5. B5 (Bowel), Tidak ditemukan perubahan dalam sistem gastrointestinal.
6. B6 (Bone), Ekstremitas atas dan bawah tidak ditemukan adanya kelainan.
7. Pemeriksaan khusus pada mata :
a) visus (menurun atau tidak ada)
b) gerakan bola mata (terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian pergerakan
bolam mata), konjungtiva bulbi (adanya hiperemi atau adanya nekrosis)
c) kornea (adanya erosi,keratitis sampai dengan nekrosis pada kornea)
C. Diagnosis Keperawatan
a.

Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada kornea atau peningkatan TIO

b.

Resiko infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder


terhadap interupsi permukaan tubuh atau proses pembedahan

c.

Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori/ status


organ indera

d.

Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi

e.

Ansietas b.d tindakan yang akan dilakukan/ kejadian yang dialami

f.

Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan b/d gangguan status organ

21

indera.
D. Intervensi keperawatan berdasarkan aplikasi Nanda NIC-NOC
1. Nyeri akut
Nyeri akut
Definisi

sensori

dan

NOC

NIC
Pain Management

Pengalaman Pain level

Lakukan pengkajian nyeri

emosional Pain control


yang tidak menyenangkan
Comfort level
yang
muncul
akibat

secara

komperhensif

termasuk

lokasi,
durasi,

kerusakan jaringan yang

Kriteria hasil :

karakteristik,

aktual atau potensial atau

Mampu

frekuensi,

digambarkan

dalam

hal

mengontrol

nyeri (tahu penyebab

kerusakan sedemikian rupa

nyeri,

(Internatiol Association for

menggunakan

the study of pain) : awitan

nonfarmakologi untuk

yang tiba-tiba atau lamabat

mengurangi

dari

mencari bantuan)

intensitas

ringan

hingga berat dengan akhir


yang
atau

dapat

diantisipasi

diprediksi

dan

berlangsung <6 bulan.


Batasan karakteristik :
Perubahan
selera
makan
Perubahan TD
Perubahan
frekuensi
jantung
Perubahan
pernafasan

frekuensi

mampu
tehnik
nyeri,

Melaporkan

bahwa

Observasi reaksi nonverbal


dari ketidaknyamanan
Gunakan tehnik komunikasi
terapeutik

untuk

nyeri pasien
Kaji

kultur

mengenali
(skala,

dapat mempengarugi nyeri


seperti

suhu

intensitas,frekuensi dan

pencahayaan

tanda nyeri)

kebisingan .
rasa

nyaman setelah nyeri


berkurang

yang

Kontrol lingkungan yang

manajement nyeri

Menyatakan

pengalaman

mempengaruhi respon nyeri

menggunakan

nyeri

dan

faktor presipitasi

mengetahui

nyeri berkurang dengan

Mampu

kualitas

Ajarkan

ruangan,

tentang

dan
tehnik

nonfarmakologi
Berikan

analgetik

untuk

22

mengurangi nyeri.
2. Resiko infeksi
Resiko infeksi
NOC
NIC
Definisi : mengalami
Infection control
Immune statuse
peningkatan
resiko
Bersihkan lingkungan setelah
Knowledge
:
terserang
organisme
dipakai pasien lain
Infection control
patogenik
Pertahankan teknik isolasi
Risk control
Batasi pengunjung bila perlu
Faktor-faktor resiko :
Penyakit kronis : DM,
Mencuci
tangan
saat
Kriteria hasil :
Obesitas
berkunjung
Pengetahuan
yang Klien bebas dari
tanda dan gejala Cuci tangan sebelum dan
tida
cukup
untu
sesudah melakukan tindakan
infeksi
menghindari
keperawatan
Mendeskripsikan
pemajanan patogen
Vaksinasi
tidak
proses
penularan Gunakan baju, sarung tangan
adekuat
Prosedur invasif
Malnutrisi
Ketidakadekuatan
pertahanan sekunder

penyakit,

factor

yang mempengaruhi
penularan

serta

penatalaksanaannya
Jumlah

leukosit

dalam batas normal


Menunjukkan
perilaku hidup sehat

sebagai alat pelindung diri


Monitor

tanda

dan

gejala

infeksi
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas dan drainase
Inspeksi kondisi luka/ insisi
bedah
Ajarkan

cara

menghindari

infeksi
Laporkan kecurigaan infeksi
Lakukan kultur positif

23

3. Resiko jatuh
Resiko jatuh
Definisi :
Peningkatan

NOC

NIC
Fall prevention
Mengidentifikasi defisit

kerentanan Trauma risk for


untuk jatuh yang dapat Injury risk for
menyebabkan bahaya fisik.
Faktor resiko
Dewasa :
Usia 65 tahun/ lebih
Riwayat jatuh
Tinggal sendiri
Pengguna alat bantu
Anak :
Usia dua tahun atau
kurang
Tempat

tidur

kognitif atau fisik pasien

Kriteria hasil :

yang

Pengetahuan : keamanan

meningkatkan

pribadi

dapat
potensi

jatuh dalam lingkungan

Tingkat agitasi
Keparahan cidera fisik
Zat penarikan keparahan
Pengendalian resiko

yang Perilaku kepatuhan fisik

tertentu
Mengidentifikasi
perilaku dan faktor yang
mempengaruhi
jatuh
Sarankan

resiko
perubahan

terletak didekat jendela Gerakan terkoordinasi :


dalam gaya berjalan
Kurangnya
penahan/
kepada pasien
kemampuan otot untuk
pengekang
kerata
Menyediakan pegangan
bekerja sama secara
dorong
tangan
volunter
untuk
Kurang
pengawasan
Sarankan alas kaki yang
melakukan
gerakan
yang
Orang tua
aman
Kognitif :
bertujuan
Menyediakan lajur anti
Penurunan status mental
Perilaku
pencegahan
tergelincir, permukaan
Lingkungan
Medikasi
jatuh : tindakan individu
lantai nontrip/ tidak
atau

pemberi

untuk

asuhan

meminimalkan

faktor resiko yang dapat


memicu

jatuh

dilingkungan individu

tersandung.

24

BAB IV
PEMBAHASAN JURNAL
Berdasarkan jurnal terkait tentang Hubungan Antara Faktor Trauma Tumpul
Pada Mata Dengan Katarak Pada Petani menunjukkan bahwa responden yang
pernah mengalami trauma pada bola mata (salah satu atau kedua mata) dan diikuti
oleh penurunan penglihatan secara menetap sebanyak 16,8%, dan persentase
responden dengan jenis trauma mata terbanyak adalah trauma akibat tergores benda,
diikuti oleh trauma akibat kemasukan serpihan benda, trauma tumpul akibat
terpukul/terbentur, kontak dengan bahan kimia, dan kontak dengan panas/api.
Dari penyebab trauma mata akibat tergores benda diperoleh benda tersebut
merupakan benda yang berada di sekitar lingkungan kerjanya. Hal ini sesuai dengan
kepustakaan yang melaporkan bahwa benda-benda yang ada di lingkungan pertanian
dapat mengakibatkan trauma mata yang tidak diharapkan pada orang yang sedang
bekerja atau sedang berada di lingkungan tersebut. Penyebab trauma mata dapat
berasal dari partikel atau obyek yang menggores atau mencolok mata.
Pada penelitian ini, trauma mata yang dialami responden kemungkinan
terjadi pada saat responden melakukan pekerjaannya di tempat kerja. Responden
melakukan pekerjaan bertani secara tradisionil, yaitu lebih banyak menggunakan
tenaga manusia dan dibantu dengan peralatan tradisional antara lain peralatan pacul
dan garuk. Pada saat melakukan pekerjaan responden 69,8% menggunakan topi yang
lebih bertujuan untuk melindungi dirinya terhadap panas matahari dan 0,5%
menggunakan kacamata.
25

26

Trauma tumpul pada mata akibat terbentur/ terpukul benda dan kemasukan
serpihan benda dapat berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh responden
pada saat mempersiapkan sawah yaitu memacul tanah, dimana pada saat memacul
kemungkinan ada tanah atau batu dapat melayang ke udara dan mengenai mata
responden. Pada saat melakukan pekerjaan mengolah tanah tersebut, responden hanya
menggunakan topi dan tidak menggunakan alat pelindung lainnya sehingga benda
yang melayang dapat mengenai mata tanpa pelindung.
Apabila ditinjau secara khusus pada trauma akibat terpukul/terbentur pada
mata, didapatkan lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan
perempuan. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan jenis pekerjaan yang kebanyakan
dilakukan oleh petani laki-laki, yaitu mengolah tanah seperti memacul.

BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan
Trauma mata merukakan kasus kegawatdaruratan pada mata dimana
trauma okular adalah penyebab kebutaan yang cukup signifikan, terutama pada
golongan sosioekonomi rendah dan di negara-negara berkembang. Kejadian
trauma okular dialami oleh pria 3 sampai 5 kali lebih banyak daripada wanita.
Trauma oculi dapat dibedakan atas trauma tumpul, trauma akibat benda
tajam/trauma tembus, ataukah trauma fisis. Kelainan yang diakibatkan oleh
trauma mata sesuai dengan berat ringannya serta jenis trauma itu sendiri yang
dapat menyerang semua organ struktural mata sehingga menyebabkan gangguan
fisiologis yang reversibel ataupun non-ireversibel.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan kepada pembaca khususnya penderita trauma
mata adalah dengan mengurangi aktivitas yang terlalu berat/ membahayakkan
untuk mengurangi resiko terjadinya trauma mata atau komplikasi lainnya dan
untuk pekerja yang berbahaya sebaiknya memakai alat pelindung diri saat
bekerja.

27

DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer . 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius


Arief Mansoer dkk. 1999. Kapita selekta kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
fakultas kedokteran universitas Indonesia
Evelyn. 2013. Anatomi dan fisiologis untuk para medis. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Kusuma, hardi & Nuratif, Amin huda, 2015. Aplikasi NANDA NIC-NOC.
Yogyakarta : MediAction.
Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih
Bahasa Adji Dharma, Edisi II.

28