Anda di halaman 1dari 59

KEPERAWATAN PERKEMIHAN 1

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN RETENSI URIN

Fasilitator : Sriyono, M.Kep., Ns.Sp.Kep.MB


Oleh Kelompok II :
Dini Dwi Lestari

131211131018

Nurullia Hanum Hilfida

131211131024

Eva Riantika Ratna Palupi

131211131026

Lisa Efiana Malik

131211131094

Toni Subarkah

131211131098

Ersy Rosantri Faah

131211131106

Mirna Lidyana

131211132009

Sevina Ramahwati

131211132054

KELAS A2 ANGKATAN 2012


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok makalah Small Group
Discussion (SGD) yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Retensi
Urin, sebagai tugas mata ajar Keperawatan Perkemihan I dengan baik.
Kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Purwaningsih, S.Kp., M.Kes., selaku Dekan yang senantiasa memacu, dan
memotivasi mahasiswa untuk selalu bersemangat dalam belajar;
2. Sriyono, M.Kep., Ns.Sp.Kep.MB selaku fasilitator yang memberikan bimbingan
dan arahan dalam penyelesaian makalah ini; dan
3. Teman-teman yang telah bekerjasama dalam penyelesaian tugas ini.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun berharap adanya kritik dan saran yang dapat
membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya menjadi lebih baik lagi.
Penyusun juga berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kami secara pribadi dan
bagi yang membutuhkannya.

Surabaya, 16 April 2015

(Penyusun)

DAFTAR ISI
2

Kata Pengantar .................................................................................................... ii


Daftar Isi.............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 3
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Retensi Urin ................................................................................ 4
2.2 Etiologi Retensi Urin ................................................................................ 4
2.4 Patofisiologi Retensi Urin......................................................................... 6
2.5 Manifestasi Klinis Retensi Urin................................................................ 10
2.6 Web Of Caution......................................................................................... 12
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Retensi Urin....................................................... 14
2.8 Penatalaksanaan Retensi Urin .................................................................. 17
2.9 Komplikasi Retensi Urin........................................................................... 23
2.10 Prognosis Retensi Urin ........................................................................... 24
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ................................................................................................ 25
3.2 Diagnosa Keperawatan.............................................................................. 28
3.3 Intervensi Keperawatan............................................................................. 28
3.4 Askep Kasus Retensi Urin......................................................................... 39
BAB IV KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan................................................................................................ 52
4.2 Saran.......................................................................................................... 53
DAFTAR PUSTAKA

54

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Retensi urin adalah akumulasi urin yang nyata dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan pengosongan kandung kemih, sehingga timbul perasaan tegang,
tidak nyaman, nyeri tekan pada simpisis, gelisah, dan terjadi diaphoresis
(berkeringat). Tanda-tanda utama retensi urin akut adalah tidak adanya haluaran
urin selama beberapa jam dan terdapat distensi kandung kemih. Klien yang
berada di bawah pengaruh anestesi atau analgetik mungkin hanya merasakan
adanya tekanan, tetapi klien yang sadar akan merasakan nyeri hebat karena
distensi kandung kemih melampaui kapasitas normalnya. Pada retensi urin,
kandung kemih dapat menahan 2000 3000 ml urin. Retensi urin dapat terjadi
akibat obstruksi uretra, trauma bedah, perubahan stimulasi saraf sensorik dan
motorik kandung kemih, efek samping obat dan ansietas (Perry & Potter, 2006).
Penelitian yang dilakukan di Amerika pada pria dengan usia
antara 40 sampai 83 tahun memiliki resiko yang cukup tinggi
antara 4,5 6,8 per 1000 pria pertahun untuk mengalami retensi
urin, dan semakin meningkatnya usia maka seorang pria akan
lebih rentan untuk mengidap retensi urin. Hasil penelitian Warner
(2009) mengatakan bahwa retensi urin umum terjadi setelah anastesi dan
pembedahan, dengan laporan kejadiannya antara 50% - 70%. Kemudian
Olsfaruger

(1999) mengatakan

bahwa anastesi

spinal

lebih

signifikan

menyebabkan retensi urin dibandingkan dengan anastesi umum. 44% dari pasien
pasca pembedahan dengan anastesi spinal memiliki volume kandung kemih lebih
500ml (retensi urin) dan 54% tidak memiliki gejala distensi kandung kemih
(Lamonerie, 2004). Dalam 10 tahun terakhir terdapat 333 kasus tentang retensi
urin. 19 dari 167 orang (11%) memiliki retensi urin. Risiko retensi urin terbesar
adalah pasien yang lebih tua, atau yang mengonsumsi obat antikolinergik, atau

yang memiliki riwayat diabetes dan fecal impaction (Borrie, Michael j, Karen C,
Zora A.A., Judy Bray, Pauline Hart, Terri Labate, Paul Hesch, 2001).
Pada
buli

retensi

urine, penderita

tidak

dapat

miksi,

buli-

penuh disertai rasa sakit yang hebat di daerah suprapubik

dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai mengejan. Retensio


urine dapat terjadi menurut lokasi, factor obat dan factor lainnya
seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain
sebagainya. Akibat lanjut retensi urin, buli-buli akan mengembang melebihi
kapasitas maksimal sehingga tekanan di dalam lumennya dan tegangan dari
dindingnya akan meningkat. Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang
meningkat di dalam lumen akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter
sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun terjadi gagal
ginjal. Retensi urin juga menjadi penyebab terjadinya infeksi saluran kemih (ISK)
dan bila ini terjadi dapat menimbulkan gawat yang serius seperti pielonefritis dan
urosepsis (Gardjito, 2009).
Penatalaksanaan

yang

dapat

diberikan

kepada

pasien

dengan retensi urin sangat penting untuk dilakukan tatalaksana


yang baik dan efisien. Maka dari itu hendaknya kita sebagai calon perawat
sangat penting untuk mempelajari retensi urin, sehingga dapat memberikan
informasi kepada klien atau keluarga mengenai intervensi baik dalam mencegah
maupun mengatasi kasus retensi urin dengan baik dan sesuai kode etik
keperawatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah definisi dari Retensi Urin?


Apa sajakah etiologi dari Retensi Urin?
Apakah manifestasi klinis dari Retensi Urin?
Bagaimana patofisiologi dari Retensi Urin?
Bagaimana WOC dari Retensi Urin?
Bagaimana pemeriksaan diagnostik pada Retensi Urin?
Apa saja penatalaksanaan dari Retensi Urin?
Bagaimana komplikasi dari Retensi Urin?
2

9. Apa saja prognosis dari Retensi Urin?


10. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Retensi Urin?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada klien dengan
Retensi Urin
1.3.2

Tujuan Khusus
1. Mengetahui dan memahami definisi Retensi Urin
2. Mengetahui dan memahami etiologi Retensi Urin
3. Mengetahui dan memahami patofisiologi Retensi Urin
4. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari Retensi Urin
5. Mengetahui dan memahami web of caution Retensi Urin
6. Mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik dari Retensi Urin
7. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari Retensi Urin
8. Mengetahui dan memahami komplikasi Retensi Urin
9. Mengetahui dan memahami prognosis Retensi Urin
10. Mengetahui dan menyusun proses asuhan keperawatan dari Retensi Urin

1.4 Manfaat Penulisan


Melalui pembelajaran ini, kita dapat mengetahui berbagai macam penyakit
yang berhubungan dengan retensi urin, serta memahami teori dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan retensi urin.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Retensi Urin


Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal ini
menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan
distensi, vesika urinaria dapat menampung urine sebanyak 3000-4000 ml urine
(Hidayat & Uliyah, 2008).
Menurut Black (2009), bahwa retensi urin adalah ketidakmampuan kandung
kemih

untuk

mengosongkan

sebagian

atau

keseluruhan

selama

poses

pengosongan.
Purnomo (2011), mengatakan bahwa retensi urine adalah ketidakmampuan
seseorang untuk mengeluarkan urine yang terkumpul di dalam buli-buli hingga
kapasitas maksimal buli-buli terlampaui.
Lewis et all (2011), retensi urine merupakan ketidakmampuan untuk
mengososngkan kandung kemih meskipun ada rangsangan miksi atau akumulasi
urine di kandung kemih karena ketidakmampuan untuk berkemih.
Retensi Urin didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih. Retensi Urin
akut adalah ketidakmampuan berkemih tiba-tiba pada keadaan kandung kemih
yang nyeri. Retensi Urin kronis adalah keadaan kandung kemih yang membesar,
penuh, tidak nyeri dengan atau tanpa kesulitan berkemih.

2.2 Etiologi Retensi Urin


Retensi urin adalah kesulitan berkemih atau miksi karena kegagalan
mengeluarkan urin dari kandung kemih atau akibat ketidak-mampuan kandung
kemih untuk mengosongkan kandung kemih sehingga menyebabkan distensi
kandung kemih atau keadaan ketika seseorang mengalami pengosongan kandung

kemih yang tidak lengkap. Dimana dari beberapa literatur lama waktu dari
ketidak-mampuan berkemih spontan serta volume residu urin berbeda-beda.
Retensi urin dapat dibagi berdasarkan penyebab lokasi kerusakan saraf, yaitu
(Kozier, 2009) :
1. Supravesikal, berupa kerusakan pada pusat miksi di medulla spinalis sakralis
S24 dan Th1- L1. Kerusakan terjadi pada saraf simpatis dan parasimpatis
baik sebagian atau seluruhnya, misalnya : retensi urin karena gangguan
persarafan, operasi miles, mesenterasi pelvis, dan kelainan medula spinalis
(meningokel, tabes dorsalis, atau spasmus sfingter)
2. Vesikal, berupa kelemahan otot destrusor karena lama teregang, berhubungan
dengan - masa kehamilan dan proses persalinan, misalnya : retensi urin akibat
iatrogenik, cedera/inflamasi, psikis, atoni pada pasien DM, dan divertikel
yang besar
3. Intravesikal, berupa kekakuan leher vesika, striktur oleh batu kecil atau tumor
pada leher vesika urinaria, misalnya : retensi urin akibat obstruksi adanya
tumor, batu kecil atau fimosis
4. Faktor lain-lain. Kelainan patologi urethra, trauma, BPH, striktur uretra,
karsinoma prostat dan obat-obatan golongan antikolinergik, anti spasmodik,
antidepresant, antihistamin dapat beresiko menyebabkan gangguan eliminasi
urin apabila dikonsumsi secara terus menerus dan dalam jangka waktu yang
lama dapat menyebabkan hambatan dari eliminasi urin.
Menurut lama terjadinya, retensi urin dibedakan menjadi dua (Pierce &
Borley 2006) :
1. Retensi akut
Ditandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh, dan distensi
kandung kemih ringan. Penyebab tersering dari retensi akut pada :
a. anak adalah obat-obatan,
b. usia muda adalah pasca operasi, obat-obatan, ISK akut, trauma, hematuria
c. usia lanjut disebabkan karena BPH, tumor dan pasca operasi

2. Retensi kronis
Ditandai dengan gejala-gejal iritasi kandung kemih (frekuensi, disuri,
urgensi) atau tanpa nyeri yang disebabkan oleh peningkatan volume residu
urin yang bertahap, distensi yang nyata, inkontinensia urin (seringkali
berhubungan dengan ISK sekunder). Penyebab tersering pada :
a. Anak adalah kelainan kongenital
b. Usia muda disebabkan trauma dan pasca operasi
c. Usia lanjut disebabkan karena BPH, striktur, karsinoma prostat
Retensi urin kronik adalah retensi urin tanpa rasa nyeri yang dapat
disebabkan karena pembesaran prostat, pembesaran sedikit demi sedikit
mengobstruksi dari saluran kemih, dan ditandai dengan adanya perembesan
urin karena tekanan lebih tinggi daripada tekanan sfingternya. Kondisi yang
terkait adalah masih dapat berkemih, namun tidak lancar, sulit memulai
berkemih (hesitancy), tidak dapat mengosongkan kandung kemih dengan
sempurna. Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa, namun dapat
menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian hari.

2.3 Patofisiologi Retensi Urin


Menurut Selius Brian (2008) secara garis besar penyebab retensi dapat
dapat diklasifikasi menjadi 5 jenis yaitu akibat obstruksi, infeksi, farmakologi,
neurologi, dan faktor trauma. Obstruksi pada saluran kemih bawah dapat terjadi
akibat faktor intrinsik, atau faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik berasal dari sistem
saluran kemih dan bagian yang mengelilinginya seperti pembesaran prostat jinak,
tumor buli-buli, striktur uretra, phimosis, paraphimosis, dan lainnya. Sedangkan
faktor ekstrinsik, sumbatan berasal dari sistem organ lain, contohnya jika
terdapat massa di saluran cerna yang menekan leher buli-buli, sehingga membuat
retensi urine. Dari semua penyebab, yang terbanyak adalah akibat pembesaran
prostat jinak.
Pada retensi urin, penderita tidak dapat miksi, buli-buli penuh disertai rasa
sakit yang hebat didaerah suprapubik dan hasrat ingin miksi yang hebat disertai
6

mengejan. Retensio urin dapat terjadi menurut lokasi, faktor obat dan faktor
lainnya seperti ansietas, kelainan patologi urethra, trauma dan lain sebagainya
yang menyebabkan kerusakan simpatis dan parasimpatis sebagian atau
seluruhnya sehingga tidak terjadi koneksi dengan otot detrusor yang
mengakibatkan tidak adanya atau menurunnya relaksasi otot spinkter internal,
vesikal berupa kelemahan otot detrusor karena lama teregang,intravesikal berupa
hipertrofi prostate, tumor atau kekakuan leher vesika, striktur, batu kecil
menyebabkan obstruksi urethra sehingga urin sisa meningkat dan terjadi dilatasi
bladder kemudian distensi abdomen. Faktor obat dapat mempengaruhi proses
BAK, menurunkan tekanan darah, menurunkan filtrasi glumerolus sehingga
menyebabkan produksi urin menurun. Faktor lain berupa kecemasan, kelainan
patologi urethra, trauma dan lain sebagainya dapat meningkatkan tensi otot perut,
perianal, spinkter anal eksterna tidak dapat relaksasi dengan baik (Purnomo,
2011).

Gambar 1. Patologi Retensi Urine


(Grace dan Borley, 2007)

1. Neurologi
Proses berkemih melibatkan dua proses yang berbeda yaitu pengisian
dan penyimpanan urine serta pengosongan kandung kemih. Hal ini saling
berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung
kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem
saraf otonom dan somatik. Secara neurologi retensi urine dapat terjadi
karena adanya lesi pada saraf perifer, otak, atau sumsum tulang belakang.
Lesi ini bisa menyebabkan kelemahan otot detrusor dan inkoordinasi otot
detrusor dengan sfingter pada uretra.
Pada pasien yang mendapatkan anastesi spinal dapat menyebabkan
retensi urin. Hal ini karena anastesi spinal memblokade sakral yang
menyebabkan atonia vesika urinaria sehingga volume urin di vesika
urinaria jadi lebih banyak. Sedangkan pada pasien yang mendapatkan
anastesi umum dapat menyebabkan paralisis muskulus yang bekerja di
banyak area tubuh. Pada beberapa pasien juga terjadi paralisis otot kandung
kemih,

sehingga

menyebabkan

pasien

tidak

dapat

berkemih.

Ketidakmampuan BAK ini dapat terjadi dalam 24 jam, tetapi selama waktu
itu kandung kemih akan terus terisi dan penuh, sehingga dibutuhkan
kateter. (Heisler, 2011).
2. Obstruksi dan Infeksi (Corwin, 2001)
Batu bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu menyumbat
aliran kemih, bakteri akan terperangkap di dalam air kemih yang terkumpul
diatas penyumbatan, sehingga terjadilah infeksi. Jika penyumbatan ini
berlangsung lama, akan terjadi penimbunan cairan urine sehingga dapat
terjadi retensi urine. Penimbunan cairan juga dapat menimbulkan
hidronefron yang pada akhirnya juga bisa menimbulkan kerusakan ginjal.
Selain itu batu pada saluran kemih juga bisa menyebabkan respon nyeri
yang diakibatkan oleh pembesaran dari saluran kemih

tersebut.

Pembesaran saluran kemih akan memicu pelepasan mediator kimia yang


dapat menyebabkan respon nyeri.
8

3. Obat (Purnomo, 2011)


Medikasi yang menggunakan bahan anti kolinergik, seperti trisiklik
antidepresan, dapat membuat retensi urine dengan cara menurunkan
kontraksi otot detrusor pada buli-buli. Obat-obat simpatomimetik, seperti
dekongestan oral, juga dapat menyebabkan retensi urine dengan
meningkatkan tonus alpha-adrenergik pada prostat dan leher buli-buli.
Dalam studi terbaru obat anti radang non steroid ternyata berperan dalam
pengurangan kontraksi otot detrusor lewat inhibisi mediator prostaglandin.
Banyak obat lain yang dapat menyebabkan retensi urine.
4. Trauma (Finucane, 2007)
Retensi urin akut dapat disebebkan karena tindakan pembedahan.
Pembedahan dapat memberikan etiologi luka trauma pada saraf pelvis atau
kandung kemih, distensi kandung kemih, edema pada sekitar leher kandung
kemih serta relaksasi otot sphincter eksterna. Retensi urin sementara sering
terjadi pascabedah dengan durasi rata-rata 7-8 jam dan sering terjadi pada
laki-laki. Penyebab akibat trauma atau komplikasi pasca bedah. Trauma
langsung yang paling sering adalah straddle injury, yaitu cedera dengan
kaki mengangkang, biasanya pada anak-anak yang naik sepeda dan kakinya
terpeleset dari pedalnya, sehingga jatuh dengan uretra pada bingkai sepeda.
Selain itu, tidak jarang juga terjadi cedera pasca bedah akibat kateterisasi
atau instrumentasi.
Retensi dapat terjadi pada setiap pasien pascaoperatif, khususnya
pasien yang menjalani operasi di daerah perineum atau anal sehingga
timbul spasme-reflek sphicnter (Smeltzer, 2001).
Dari semua faktor di atas menyebabkan urin mengalir lambat kemudian terjadi
poliuria karena pengosongan kandung kemih tidak efisien. Selanjutnya terjadi
distensi bladder dan distensi abdomen sehingga memerlukan tindakan, salah
satunya berupa kateterisasi urethra.

2.4 Manifestasi Retensi Urin


Tanda klinis retensi urin secara umum (Hidayat & Uliyah, 2008):
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Ketidaknyamanan daerah pubis


Distensi vesika urinaria
Ketidaksanggupan untuk berkemih
Sering berkemih saat vesika urinaria berisi sedikit urin (25-50 ml)
Ketidakseimbangan jumlah urin yang dikeluarkan dengan asupannya
Meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
Adanya urin sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih
Manifestasi rentensi urin :

1. Retensi akut
ditandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh dan distensi
kandung kemih ringan (Grace dan Borley, 2007). Penderita akan merasa nyeri
yang hebat di daerah suprapubik, bila penderita tidak terlalu gemuk, akan
terlihat/teraba benjolan di daerah suprapubik.
Menurut WHO (2007) tanda dan gejala pada retensi urin akut :
a. Ketidakmampuan untuk buang air kecil meskipun merasa dorongan untuk
melakukannya
b. Nyeri, biasanya pada perut bagian bawah
c. Pembesaran kandung kemih yang satu palpasi dapat dirasakan sebagai
massa berbentuk kubah di perut bagian bawah
Menurut Jurnal European Assosiation of Urology (M.J. Speakman, 2009):
Acut Urinary Retention (AUR) pasien secara umum mengeluhkan nyeri perut
bagian bawah dan bengkak, ketidakmampuan untuk buang air kecil atau
buang air kecil dengan jumlah yang sedikit, teraba massa didaerah pelvis serta
hasil perkusi adalah dullness.
2. Retensi kronis
ditandai dengan gejala-gejala iritasi kandung kemih (frekuensi, disuria,
volume sedikit) atau tanpa nyeri, distensi yang nyata, inkontinensia urin
(sering berhubungan dengan infeksi tractur urinary sekunder) (Grace dan
Borley, 2007). Penderita sama sekali tidak bisa miksi, gelisah, mengedan bila
ingin miksi, dan terjadi inkontinensia.
Menurut Jurnal European Assosiation of Urology (M.J. Speakman, 2009):
Cronic Urinary Retention (CUR) ketika ditemukannya residu urine sebesar
300cc sampai 500cc pada kandung kemih, dapat pula disertai BAK sangat
10

sedikit, frekuensi BAK yang sering, kesulitan untuk memulai berkemih


sampai pada tanda dan gejala adanya gagal ginjal. Pada CUR biasanya sering
diikuti oleh infeksi pada tractus urinary akibat adanya penumpukan residu
urin.
Pada anamnesa, pasien akan mengeluh sulit buang air kecil. Pada inspeksi,
palpasi dan perkusi, akan didapatkan buli-buli yang mengembang. Pada perkusi
akan terdengar pekak, yang menentukan adanya buli-buli yang penuh pada
penderita yang gemuk (Purnomo, 2003).

11

Etiologi retensi urine berasarkan lokasi kerusakan saraf

Faktor lain

2.5 WOC Retensi Urin

Trauma
Pembedahan Ansietas
FARMAKOLOGI
SUPRAVESIKAL
VESIKAL
INTRAVESIKAL
antikolinergik
antispasmodik,
antidepressant, antihistamin, si
rena
sat miksi
lamadi
teregang,
medulla persalinan,
spinalis sakralis
kekakuan
cedera/inflamasi,
S2-S4
leher
setinggi
VU,atoni
striktur
T12-L1
pada
batu
pasien
kecil,DM
tumor
ataupada
penyakit
leherneurologis,
VU, fimosisdivertikel yang besar
Kelainan
patologi
urethra,
BPH,
Ca.prostat
kerusakan saraf Trauma
simpatissaraf
& parasim-patis
sebagian
/ seluruhnya
pelvis/ kandung
kemih,
distensi
kandung
kemih
Retensi Urin Akut
GFR MK : Retensi Urin
Perubahan sekunder bladder
Retensi Urin Kronis

bladder
terasa penuhsebagian / seluruhnya
araf simpatis
& parasimpatis

protein terganggu
dalam jangka
waktu
lama
Tekanan intravesika SekresiDikonsumsi
Gangguan
filtrasi
di ginjal
obstruksi
urethra
adanya sisa urin dalam bladder
distensi urin
Kompensasi muskulo detrusor menebal
tidak ada haluaran urin
Hambatan
eliminasi
Me
filtrasi
urin
Me
glomerolus
kontraksi
detrusor
Sindrom
uremia
Cairan
kembaliotot
ke vaskuler
kelemahan otot destrusor
pengosongan kandung kemih tidak efisien
glome
terjadi supersaturasi
me distensi otot abdominal
distensi kandung kemih berlebihan
Relaksasi otot sfingter internalSulit
me
berkemih
Gangguan keseimbangan asam basa
oordinasi otot detrusor dgn sfingter urethra
7
Edema
Pembedahan
menekan reseptor
nyeri
kristal dan
benda asing dalam urin mengendap
Produksi
urin
me
Produksi asam
Pe tekanan
Otot buli-buli
melemahdalam lumen & tekanan dinding VU
MK : Kelebihan volume cairan
MK : Resiko Infeksi
merangsang saraf aferen
Mual muntah
RETENSI URIN
impuls sampai ke korteks serebri
batu saluran kemih
urin memancar berulang-ulang dalam jumlah sedikit
Nafsu makan
Hambatan aliran urin
thalamus

Pembesaran saluran kemih

Intake nutrisi tidak adekuat

nyeri di suprapubik Pelepasan mediator kimia


MK : Nyeri Akut

MK : Ansietas
Inkontinensia Overflow

urin dalam bladder refluks

MK :
Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
urin menetes keluar dalam jumlah sedikit (merembes)

ke ureter
m pernah menderita penyakit ini sebelumnya ke ginjal
klie
PK : Hidronefrosis PK : Hidroureter

area perineum lembab dan gatal

Kurang informasi
MK : Kurang Pengetahuan

PK: Gagal Ginjal


MK : Gangguan Integritas Kulit

12

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


a. Foto polos abdomen
Sangat
diperlukan

sebelum

melakukan

pemeriksaan

penunjang saluran kemih. Film polos dapat menunjukan: batu


ginjal pada sistem pelvicalyces, klasifikasi parenkim ginjal,
batu uretere, klasifikasi dan batu kandung kemih, klasifikasi
prostat, atau deposit tulang sklerotik (Patel 2006).
b. Ureum dan elektrolit
Digunakan
untuk
menentukan
indeks
fungsi

ginjal

(Rubenstein [et al] 2005)


c. Kultur dan sensitivitas MSU
Berhubungan dengan infeksi, termasuk sitologi jika dicurigai
terdapat tumor (Grace and Borley 2006).
d. Sistografi
Untuk memeriksa katup uretra, striktur. Sistografi adalah
pemeriksaan radiografik kandun kemih, setelah kandung
kemih diisi oleg suatu medium kontras (Brooker 2008).
e. IVU (Inravenous Urography)
Indikasi untuk pemeriksaan batu ginjal/kandung kemih. Pasen
dengan retensi urin dan infeksi saluran kemih dianjurkan
untuk melakukan ultrasonografi dibandingkan IVU. Setelah
didapatkan film abdomen sebagai kontrol awal, sebanyak 50100

ml

media

kontras

dengan

osmolar

rendah

yang

teriodinisasi disuntikan ke pasien. Kontras dengan cepat


mencapai

ginjal

dan

akan

dikeluarkan

melalui

filtrasi

glomelurus. Film yang diambil sesaat setelah penyuntikan


kotras

akan

menggambarkan

fase

nefrogram

yang

memperlihatkan parenkim ginjal dan batas-batasnya. Filmfilm yang diambil 5, 10, dan 15 menit setelah penyuntikan
akan

memperlihatkan

kandung

kemih;

sistem

urutan

ini

pelvicalyces,
bervariasi

ureter,

tergantung

dan
pada
13

masing-masing pasien. Adanya obstruksi ginjal mungkin


membutuhkan pemerikasaan yang lebih lama sampai 24 jam
untuk menggambarkan sistem pelvicalyses (Patel 2005).
f. Urodinamik
Merupakan suatu studi atau penelitian fungsi kandung kemih.
Urodinamik ini memberikan penjelasan keterkaitan untuk
pengeluaran

dan

penyimpanan

di

bladder

dan

uretra.

Penjelasan terhadap gejala-gejala dan masalah pada setiap


individu lebih jelas. Urodinamik memberikan identifikasi dan
penilaian masalah neurologis, penilaian BPH (Abrams 2006).
g. Sistoskopi
Adalah pemeriksaan langsung pada kandung kemih dengan
menggunakan instrumen yang disebut sistokop (Baradero
2008).
h. Urin analisis
Adanya darah dalam urine bisa disebabkan karena kelainan di
bagian mana pun dari saluran kemih. Jumlah darah yang
sedikit saja bisa secara signifikan mengubah warna urin
menjadi

merah mudah atau merah. Adanya

mikroskopik

(nampak

pada

pemeriksaan

pemeriksaan mikroskopik) atau makroskopik


menerus

harus

diperiksa

lebih

lanjut

hematuria

dipstik

dan

yang terus

karena

mungkin

merupakan gambaran awal dari suatu karcinoma pada ginjal


atau kelainan ginjal lain yang serius (Davey, 2006).
a. Berat jenis urine : nilai normalnya adalah 1,010-1,026.
Prosedur ini dapat mengukur kemampuan ginjal untuk
mengonsentrasi urine. Prosedur dimulai dengan mengambil
urine yang pertama waktu bangun pagi hari. Pasien tidak
memerlukan persiapan khusus (Baradero et al, 2009).
b. Osmolalitas urine : nilai normalnya adalah 500-800 mOsm.
Uji ini merupakan yang terbaik untuk mengetahui fungsi

14

ginjal. Osmolalitas adalah konsentrasi total partikel dalam


larutan (Baradero et al, 2009).
c. Klirens kreatinin: nilai normal pria 90-140 ml/menit wanita
85-125 ml/menit. Prosedur ini menilai kecepatan ginjal
untuk mengambil kreatinin dari plasma
i. Uroflometri
Uroflowmetri adalah pencatatan tentang

pancaran

urin

selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini


ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih
bagian bawah yang tidak invasif. Dari uroflometri dapat
diperoleh

informasi

mengenai

volume

miksi

pancaran

maksimum, pancaran rata-rata, waktu yang dibutuhkan untuk


mencapai pancaran maksimum dan lamanya pancaran.
j. Uretrografi
Uretrografi adalah pencitraan uretra dengan memakai bahan
kontras. Bahan kontras dimasukkan langsung melalui klem
Broadny yang dijepitkan pada glans penis. Gambaran yang
mungkin terjadi adalah :
a) Jika terdapat striktura

uretra

akan

tampak

adanya

penyempitan atau hambatan kontras pada uretra.


b) Trauma uretra tampak sebagai ekstravasasi kontras keluar
dinding uretra.
c) Tumor uretra atau batu non opak pada uretra tampak
sebagai filling defect pada uretra.
k. Uretrosistoskopi.
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan
uretra prostatika dan buli-buli. Terlihat adanya pembesaran,
obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli, selule dan
divertikel buli-buli. Uretrosistoskopi dikerjakan pada saat akan
dilakukan tindakan pembedahan untuk menentukan perlunya
dilakukan TUIP, TURP, atau prostatektomi terbuka. Disamping
itu pada kasus yang disertai dengan hematuria atau dugaan

15

adanya karsinoma buli-buli sistoskopi sangat membantudalam


mencari lesi pada buli-buli.
l. Ultrasonografi.
Prinsip

pemeriksaan

ultrasonografi

adalah

menangkap

gelombang bunyi ultra yang dipantulkan oleh organ-organ


(jaringan) yang berbeda kepadatannya. Pemeriksaan ini tidak
invasif dan tidak menimbulkan efek radiasi. USG dapat
membedakan antara massa padat (hiperekoik) dengan massa
kistus (hipoekoik). Pada kelenjar prostat, melalui pendekatan
transrektal

(TRUS)

dipakai

untuk

mencari

nodul

pada

keganasan prostat dan menentukan volume / besarnya


prostat. Jika didapatkan adanya dugaan keganasan prostat,
TRUS dapat dipakai sebagai penuntun dalam melakukan
biopsy kelenjar prostat.

Gambar 2. Tabel Tes Diagnostik untuk Pasien dengan Retensi Urin


(Selius, 2008)
16

2.7

Penatalaksanaan Retensi Urin


Penatalaksanaan yang dapat dilakaukan pada retensi urine

dibagi menjadi dua yaitu :


1. Mengeluarakan urine yang tertahan.
A. Kateterisasi
Pada retensi urin akut, pengobatannya dimulai dengan
memasukkan

kateter

melewati

uretra

untuk

mengosongkan kandung kemih. Pengobatan awal ini untuk


mengurangi kesakitan dari kandung kemih yang penuh
dan mencegah kerusakan kandung kemih yang permanen.
Namun pemasangan kateter harus steril untuk mencegah
terjadinya infeksi. Pengobatan jangka panjang untuk
retensi

urin

akut

tergantung

dari

penyebabnya

(lewis,2011).

B. Sistostomi Suprapubik
Sistostomi adalah suatu tindakan pembedahan untuk
mengalirkan kencing melalui lubang yang dibuat di supra
pubik

untuk

mangatasi

mengeluarkan urine

retensi

urine

dan

dari

buli-buli

menghindari

serta

komplikasi

(schwartz,2002).
1. Sistostomi Trokar
Tindakan ini dikerjakan dengan anestasi lokal dan
menggunakan alat trokar. Indikasi sistostomi trocar
adalah untuk kateterisasi gagal : Striktur, batu uretra
yang menancap (impacted) katerisasi tidak dibenarkan :
adanya robekan uretra karena trauma.

17

Gambar 3. Memasukkan alat trokar (Basuki, 2003)


2. Sistostomi terbuka
Sistostomi terbuka dikerjakan bila terdapat kontra
indikasi pada tindakan sistostomi trokar atau tidak
terdapat

alat

trokor.dianjurkan

untuk

melakukan

sistostomi terbuka jika terdapt sikatriks/ bekas operasi


pada daerah suprasimfisis ,sehabis mengalami trauma
didaerah panggul yang mencederai buli-buli dan adanya
bekuan

darah

pada

buli-buli

yang

tidak

mungkin

dilakukan tindakan per uretram.


Gambar 4. preparat sistostomi

18

(Basuki, 2003)
C. Pungsi buli-buli
Merupakan tindakan darurat sementara bila katerisasi
tidak berhasil dan fasilitas atau sarana untuk sistostomi
baik trokar maupun terbuka tidak tersedia. Pada tindakan
pungsi buli digunakan jarum pungsi dan penderita segera

dirujuk ke pusat pelayanan dimana dapat dilakukan


sistostomi.
19

Gambar 5. Posisi Tindakan aspirasi Suprapubik & Mencari


Lokasi untuk Aspirasi Suprapubik
D. Uretrolitotomy
Ureterolitotomi
bertujuan

adalah

untuk

suatu

mengambil

tindakan
batu

operasi

ureter

baik

yang
ureter

proksimal (atas) ataupun distal (bawah). Operasi ini


dengan menggunakan sayatan di kulit. Letak irisan sangat
bergantung letak batu. Untuk batu di ureter atas, irisan
berada di pinggang berbentuk garis lurus yang oblik. Untuk
batu di ureter bawah maka irisan di perut bawah garis
lurus yang sejajar tubuh (Mary, 2008). Tindakan ini jika
retensi urine disebabkan oleh batu yang terdapat pada
ureter.
2. Berdasarkan penyebab retensi urine
A. Pengobatan retensi urin karena karsinoma prostat
Saat ini penentuan pengobatan untuk karsinoma prostat
didasarkan atas derajat dan fase daripada tumor, harapan
hidup pasien dan kemampuan tiap terapi untuk menjamin
kelangsungan hidup dengan bebas penyakit. Beberapa
pilihan terapi untuk karsinoma prostat ialah :
1) Tanpa terapi / watchfull waiting
Walaupun kemajuan kanker lokal dapat terjadi, dengan
menunggu dan berjaga-jaga pada fase awal kanker
prostat, tingkat kematian setelah 10 tahun sangat
rendah antara 4 15 %. Akan tetapi pada penelitian
lebih lanjut antara 15 20 tahun, peningkatan signifikan
pada resiko lokal atau perkembangan sistemik dan
kematian dari kanker prostat dapat terjadi. Peningkatan
resiko tersebut sangat berhubungan dengan derajat
kanker.
2) Prostatektomi radikal.
20

Pasien yang berada dalam stadium T1-2 N0 M0 adalah


cocok untuk dilakukan prostatektomi radikal, yaitu
berupa pengangkatan kelenjar prostat bersama dengan
vesika

seminalis.

Hanya

saja

operasi

ini

dapat

menimbulkan penyulit, antara lain perdarahan, disfungsi


ereksi, dan inkontinensia. Tetapi dengan teknik nerve
sparring yang baik terjadinya kerusakan pembuluh
darah dan saraf yang memelihara penis dapat dihindari
sehingga timbulnya penyulit berupa disfungsi ereksi
dapat diperkecil.
3) Radioterapi.
Ditujukan untuk pasien tua atau pasien dengan tumor
loko-invasif

dan

tumor

metastasis.

Pemberian

yang

telah

radiasi

mengadakan

eksterna

biasanya

didahului dengan limfadenektomi. Diseksi kelenjar limfe


saat ini dapat dikerjakan melalui bedah laparoskopi
disamping operasi terbuka.
B. Pengobatan

retensi

urin

karena

Beningn

Prostat

Hiperplasia
Tujuan

terapi

mengembalikan

pada
kualitas

pasien
hidup

BPH
pasien.

adalah
Terapi

untuk
yang

diberikan tergantung pada derajat keluhan, keadaan


pasien maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang
diakibatkan oleh penyakitnya. Pilihannya adalah mulai dari
:
1) Tanpa terapi / watchfull waiting
Watchfull waiting artinya pasien tidak mendapatkan
terapi

apapun

tetapi

perkembangan

penyakit

dan

keadaannya tetap diawasi oleh dokter. Pilihan tanpa


terapi ini ditujukan kepada pasien dengan IPSS skor
21

dibawah

7,

yaitu

keluhan

ringan

yang

tidak

mengganggu aktivitas sehari-hari. Setiap enam bulan


sekali pasien diminta untuk kontrol kembali.
2) Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk
mengurangi

resistensi

otot

polos

prostat

sebagai

komponen dinamik atau mengurangi volume prostat


C.

sebagai komponen statik.


Pengobatan retensi urin karena striktura uretra. (David,
1994)
Jika

pasien datang karena retensi urin secepatnya

dilakukan sistostomi suprapubik untuk mengeluarkan


urin. Jika dijumpai abses periuretra dilakukan insisi dan
pemberian antibiotik. Tindakan khusus yang dilakukan
terhadap striktura uretra adalah :
1) Businasi (dilatasi) dengan cara memasukkan pipa
dengan busi logam kedalam uretra dan dilakukan
secara hati-hati. Metode alternative lain ialah dengan
memasukkan balon kecil diujung kateter didalam
uretra.
2) Uretrotomi internal yaitu memotong jaringan sikatriks
uretra dengan pisau Otis atau dengan pisau Sachse.
Otis dikerjakan jika belum terjadi striktura total,
sedangkan

pada

striktura

yang

lebih

berat,

pemotongan striktura dikerjakan secara visual dengan


pisau sachse.
3) Uretrotomi eksterna adalah tindakan operasi terbuka
berupa

pemotongan

jaringan

fibrosis,

kemudian

dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang


masih sehat.

22

D. Pengobatan retensi urin karena batu uretra


Tindakan untuk mengeluarkan batu tergantung dari posisi,
ukuran, dan bentuk batu. Seringkali batu yang ukurannya
tidak terlalu besar dapat keluar spontan asalkan tidak ada
kelainan atau penyempitan uretra. Batu pada meatus
uretra eksternum atau fossa navikularis dapat diambil
dengan forcep setelah terlebih dahulu dilakukan pelebaran
meatus uretra (meatotomi), sedangkan batu kecil di uretra
anterior dapat dicoba dikeluarkan dengan melakukan
lubrikasi terlebih dahulu dengan memasukkan campuran
jelli dan lidokain 2% intrauterine dengan harapan batu
dapat keluar spontan. Batu yang cukup besar dan berada
di uretra posterior didorong terlebih dahulu ke buli-buli
kemudian dilakukan litotripsi. Untuk batu yang besar dan
menempel di uretra sehingga sulit berpindah tempat
meskipun

telah

dilubrikasi,

mungkin

perlu

dilakukan

uretrolitotomi atau dihancurkan dengan pemecah batu


transuretra.
E. Pengobatan retensi urin karena fimosis
Infeksi awal dapat dirawat dengan obat antimicrobial
spektrum luas.kulit depan bagian dorsal dapat dipotong
jika drainase dibutuhkan. Sirkumsisi jika terdapat indikasi
dapat dilakukan setelah infeksi tersebut dapat dikontrol.
F. Pengobatan retensi urin karena parafimosis
Parafimosis biasanya dapat diobati dengan

memijit

dengan kuat glans selama lima menit untuk mengurangi


edema jaringan dan mengurangi ukuran dari glans. Kulit
tersebut dapat ditarik kedepan melewati glans. Kadangkadang lingkaran konstriksinya memerlukan insisi dengan

23

local anastesi. Antibiotik dapat diaplikasikan dan sirkumsisi


dapat dilakukan setelah inflamasi reda.
G. Pengobatan retensi urin karena sistokel dan rektokel
Wanita

memerlukan

pembedahan

untuk

mengangkat

jatuhnya kandung kemih atau rectum. Prosedur yang


paling umum untuk cystocele dan rectocele adalah
membuat suatu insisi di dinding liang vagina untuk
menemukan

kelainan

atau

lubang

pada

membran.

kemudian menjahit fascia untuk menutup kelainan atau


lubang tersebut, kemudian menutup insisi di dinding
vagina dengan jahitan yang lebih. Langkah ini mempererat
lapisan jaringan yang memisahkan organ, menciptakan
penahan yang lebih kuat untuk organ panggul.
2.8 Komplikasi
a) Infeksi Saluran Kemih
Urin yang tertampung di buli-buli harus segera dikeluarkan karena urin
yang tertampung akan berisiko menjadi media untuk bakteri berkembang dan
akan menyebabkan Infeksi saluran kemih. Karena adanya sisa urin setiap kali
miksi, maka lama kelamaan akan terbentuk batu endapan di dalam kansung
kemih, yang kemudian akan menyebabkan bertambahnya keluhan iritasi dan
menimbulkan keluhan hematuria pada pasien. Selain itu batu akan
menyebabkan timbulnya penyakit sistitis dan bila terjadi refluks dapat
menyebabkan terjadinya pielonefritis (Purnomo 2003).
b) Hidronefrosis
Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga
tekanan di dalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan meningkat.
Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, tekanan yang meningkat didalam lumen
akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi
hidroureter dan bila sampai ke ginjal akan menyebabkan hidronefrosis dan

24

bila terjadi infeksi sehingga mempercepat terjadinya kerusakan ginjal dan


menyebabkan gagal ginjal.
c) Kerusakan bladder
Jika kandung kemih menjadi membentang terlalu jauh
atau untuk waktu yang lama, otot-otot mungkin rusak secara
permanen dan kehilangan kemampuan untuk berkontraksi.
2.9 Prognosis
Hal ini sangat bervariasi tergantung pada penyebab yang
mendasari.

Dalam

Benign

Prostatic

Hyperplasia

(BPH),

kecenderungan umum adalah gejala memburuk dari waktu ke


waktu. Namun, ada variabilitas yang cukup besar dan beberapa
pasien mengalami perbaikan permanen atau sementara. Hanya
sekitar 14% dari pria dengan gejala sedang sampai berat telah
secara klinis terlihat memburuknya gejala mereka selama lima
tahun masa tindak lanjut. Dalam satu percobaan besar laki-laki
dengan BPH dan moderat sampai berat gejala awal, hanya 6%
dari laki-laki pada plasebo mengalami retensi urin akut atau
operasi

BPH

diperlukan

setelah

lima

tahun

dan

tidak

dikembangkan insufisiensi ginjal (McConnell JD, Roehrborn CG,


Bautista OM, et al, 2003)

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
25

Pengkajian
A Anamnesa
1 Data Demografi Klien
Menanyakan Identitas klien seperti : nama, usia, jeniskelamin, suku /
bangsa, alamat, agama, tanggal MRS, jam MRS, diagnosa. Retensi urine
biasa terjadi pada usia lanjut dan jenis kelamin pria karena akibat
2

hiperplasia prostat jinak/kelainan prostat.


Keluhan Utama
Keluahan utama pasien dengan kasus ini biasanya dapat berupa keluhan

nyeri suprapubis berat dan ketidakmampuan untuk miksi.


Riwayat Penyakit Sekarang
Merupakan gangguan yang berhubungan dengan gangguan yang
dirasakan saat ini. Bagaimana pola berkemih pasien, meliputi frekuensi,

waktu, dan banyaknya urin. Apakah klien merasa nyeri.


Riwayat Penyakit Dahulu
Tanyakan pada klien apakah klien pernah mengalami penyakit serupa
sebelumnya.
a Riwayat penyakit yang pernah diderita klien, kondisi neurologis
( mis., cedera medula spinalis pada S2, S3 dan S4), infeksi saluran
kemih, BPH, kanker prostat, batu saluran kemih, riwayat striktur
b

uretra, dan trauma urologi.


Obat-obatan: beberapa obat menyebabkan retensi urine yang
mencakup preparat antikolinergik-anti spasmodik seperti, atropin;
preparat anti depresan-anti psikotik seperti, fenotiazin; preparat
antihistamin, seperti pseudoefedrin hidroklrorida (Sudafed); preparat
B-adrenergic, seperti propranolol; dan preparat antihipertensi

seperti, hidralazin.
Riwayat operasi dan tindakan: Retensi dapat terjadi pada pasien
pascaoperatif, khususnya pasien yang menjalani operasi di daerah
perineum atau anal sehingga timbul spasme refluk sfinger. Anestesi
umum akan mengurangi inervasi otot kandung kemih, dan dengan

26

demikian dorongan untuk membuang air kecil tertekan. Riwayat


5

penggunaan alkohol.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit
serupa dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau

keturunan berhubungan dengan masalah pada ginjal atau urologi


B Pemeriksaan Fisik
1 Keadaan umum
Keadaan compos mentis namun tampak lemas
2 Tanda-tanda vital
Tekanan darah biasanya meningkat karena klien
merasakan nyeri, suhu meningkat jika ditemukan adanya
infeksi, nadi biasanya meningkat karena klien merasakan
nyeri
3

dan

RR

biasanya

meningkat

karena

klien

merasakan nyeri
Sistem tubuh
a B1 (Breathing)
Perawat melakukan pengkajian adanya gangguan pada pola nafas
klien, biasanya klien esak akibat rasa nyeri yang dialami dan
b

peningkatan respiratory rate.


B2 (Blood)
Apakah terjadi peningkatan tekanan darah, biasanya pasien bingung
dan gelisah. Pada retensi urin muncul adanya keringat dingin
(Diaforesis) akibat nyeri pada distensi kandung kemih.

B3 (Brain)
Klien ditemukan dalam kesadaran biasanya sadar penuh. Namun
tetap diperhatikan adanya tanda-tanda pasca trauma atau cedera

pada SSP.
B4 (Bladder)
Disuria, ingin berkemih tetapi tidak ada urine yang keluar, dan urine
keluar sedikit-sedikit karena ada overflow, urine yang keluar
menetes, produksi urin sedikit/anuria apabila ureter terjadi obstruksi
bilateral.
27

Inspeksi
1

Daerah perineal: Kemerahan, lecet namun tidak ditemukan

2
3

adanya pembengkakan.
Tidak ditemukannya adanya benjolan atau tumor spinal cord.
Ditemukan adanya tanda obesitas dan sempitnya ruang gerak

pada klien
Periksa warna, bau, banyaknya urine biasanya bau menyengat
karena adanya aktivitas mikroorganisme (bakteri) dalam

kandung kemih serta disertai keluarnya darah.


Apabila ada lesi pada bladder, pembesaran daerah supra pubik
lesi pada meatus uretra, banyak kencing dan nyeri saat berkemih

menandakan disuria akibat dari infeksi


Palpasi
A Ditemukan adanya distensi kandung kemih dan nyeri tekan.
B Tidak teraba benjolan tumor daerah spinal cord
Perkusi
Terdengar suara redup pada daerah kandung kemih.
Auskultasi : ditemukan peristaltik (+) , bruit (+)jika terjadi obstruksi
steanosis arteri renalis.

B5 (Bowel)
Pemeriksaan auskultasi bising usus klien adakah peningkatan atau
penurunan, serta palpasi abdomen klien adanya nyeri tekan
abdomen atau tidak ataupun ketidaknormalan ginjal. Pada perkusi

abdomen ditemukan ketidaknormalan atau tidak.


B6 (Bone)
Pemeriksaan kekuatan otot dan membandingkannya dengan
ekstremitas yang lain, adakah nyeri pada persendian. Retensi urine
dapat terjadi pada pasien yang harus tirah baring total. Perawat
mengkaji kondisi kulit klien.

Diagnosa Keperawatan
1 Retensi urine berhubungan dengan obstruksi, ketidakmampuan kandung
2

kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.


Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih berlebih
28

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelembapan pada area

4
5

perineal
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan filtrasi ginjal
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan anoreksia: mual muntah


Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif/alat (contoh kateter

7
8

urine)
Ansietas berhubungan dengan kondisi fisik dan adaptasi penyakit
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Intervensi Keperawatan
No.
DX
1.

Diagnosa

Tujuan dan kriteria

Intervensi

Keperawatan
hasil
Retensi
urine NOC :

NIC :

berhubungan

1. Urinary Retention

Tujuan :

dengan obstruksi, Setelah


ketidakmampuan
kandung

dilakukan

tindakan keperawatan

kemih 3x24 jam retensi urin

untuk

klien dapat teratasi.

Care
a) Monitor intake
dan output
b) Monitor
penggunaan

berkontraksi
dengan adekuat.

Kriteria Hasil:
aKandung kemih
kosong secara
penuh
b

antikolinergik
c) Monitor derajat
distensi bladder
d) Instruksikan

Tidak ada residu

pada klien dan

urin >100-200 cc

keluarga untuk

cIntake cairan dalam


rentang normal
d

obat

Bebas dari ISK

eTidak ada spasme


bladder
f Balance cairan

mencatat output
urine
e) Sediakan
privasi untuk
eliminasi
f) Stimulasi
refleks bladder
29

seimbang

dengan

Eliminasi urin

kompres dingin

optimal

pada abdomen.
g) Kateterisaai
jika perlu
h) Monitor tanda
dan gejala ISK
(panas,
hematuria,
perubahan bau
dan konsistensi
urine)
2. Monitoring kadar
albumin, protein total.
3. Lakukan perawatan
perineal dan
perawatan selang
kateter.
4. Ajarkan serta
demonstrasikan
kepada klien dan
anggota keluarga
tentang teknik
berkemih yang akan
digunakan di rumah.
Sehingga klien dan
keluarga mampu
melakukannya
dengan mandiri.
5. Kolaborasikan obat

30

2.

Nyeri

akut NOC :

berhubungan
dengan

a. Pain level

distensi b. Pain control,

kandung

kemih c. Comfort level

berlebihan

diuretik.
NIC :
Pain Management
1. Lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif

Tujuan :

termasuk lokasi,

Setelah dilakukan

karakteristik, durasi,

tindakan keperawatan

frekuensi, kualitas

selama 3 x 7 jam,

dan faktor presipitasi

klien melaporkan

2. Observasi reaksi

nyeri berkurang atau

nonverbal dari

hilang.

ketidaknyamanan
3. Evaluasi pengalaman

Kriteria hasil:
1. Mampu

nyeri masa lampau


4. Kontrol lingkungan

mengontrol nyeri

yang dapat

(mampu

mempengaruhi nyeri

menggunakan

seperti suhu ruangan,

tehnik

pencahayaan dan

nonfarmakologi

kebisingan

untuk mengurangi
nyeri)

5. Kurangi faktor
presipitasi nyeri

2. Melaporkan bahwa 6. Kaji tipe dan sumber


nyeri berkurang

nyeri untuk

dengan

menentukan

menggunakan

intervensi

manajemen nyeri
nafas dalam
3. Menyatakan rasa

7. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi: napas
31

nyaman setelah

dalam, relaksasi,

nyeri berkurang

distraksi, kompres

4. Tanda vital dalam

hangat/dingin

rentang normal

8. Kolaborasi dengan

5. Tidak mengalami
gangguan tidur

tim dokter dalam


pemberian obat
analgesik untuk
mengurangi nyeri
9. Tingkatkan istirahat
klien ( 7 jam)
10. Monitor

vital

sign

sebelum dan sesudah


3.

Gangguan

pemberian analgesik.
NIC :

NOC :

eliminasi

urin a. Urinary continence 1. Memantau eliminasi


b. Symptom severity
berhubungan
urin termasuk frekuensi,
c. Self care toileting
dengan
konsistensi, bau, volume,
Tujuan :
inkontinesia
dan warna yang sesuai
Setelah dilakukan
overflow
1. Pantau adanya tanda
tindakan keperawatan
dan gejala retensi urin
selama 3 x 24 jam,
2. Mengidentifikasi
klien melaporkan
faktor-faktor yang
pola eliminasi urin
berkontribusi
normal
terhadap episode
inkontinensia

Kriteria hasil :
1. Menunjukkan pola
eliminasi,

bau,

konsistensi

dan

jumlah urin dalam


batas normal

3. Ajarkan tanda-tanda
dan gejala infeksi
saluran kemih pasien
4. Catat waktu eliminasi
urin terakhir, yang
32

2.

Frekuensi
dalam

urin

rentang 5. Anjurkan pasien /

normal

keluarga untuk

3. Intake dan output


cairan adekuat
4.

Tidak

sesuai

merekam output urin,


yang sesuai

terdapat 6. Masukkan supositoria

darah dalam urin

uretra, yang sesuai

5. Adanya pengakuan 7. Mendapatkan


dari klien dalam

spesimen urin

berkemih

pertengahan, yang
sesuai
8. Rujuk ke dokter jika
tanda-tanda dan
gejala infeksi saluran
kemih terjadi
9. Ajarkan pasien untuk
mendapatkan
spesimen urin
pertengahan pada
tanda pertama dari
kembalinya tanda dan
gejala infeksi
10. Anjurkan untuk
segera merespon
dorongan untuk
membatalkan, yang
sesuai
11. Ajarkan pasien untuk
minum 8 ons cairan
dengan makanan, di
33

antara waktu makan,


dan sore hari
12. Membantu pasien
dengan
perkembangan toilet
rutin, sesuai
13. Anjurkan pasien
untuk mengosongkan
kandung kemih
sebelum prosedur
yang relevan
14. Catat saat berkemih
pertama setelah
prosedur
15. Batasi cairan, sesuai
kebutuhan
16. Anjurkan pasien
untuk memantau
tanda-tanda dan
gejala infeksi saluran
4.

Gangguan
integritas

NOC :
Tujuan :
kulit
Setelah

berhubungan
dengan
kelembapan pada
area perineal

kemih
NIC :
dilakukan

tindakan keperawatan
selama 3 x 24 jam,
klien tidak ada tandatanda

gangguan

integritas kulit

1. Memodifikasi pakaian
dan lingkungan untuk
menyediakan akses
mudah ke toilet
2. Membantu untuk
memilih garmen / pad
sesuai inkontinensia

Kriteria hasil :
1. Suhu tubuh dalam

untuk pengelolaan
34

batas normal
2. Tidak

jangka pendek
sementara pengobatan

menunjukkan

yang lebih definitif

adanya lesi pada


kulit
3. Elastisitas

dan

tekstur pada kulit

direncanakan
3. Menyediakan pakaian
pelindung , sesuai
kebutuhan

normal
4. Pertumbuhan

4. Membersihkan daerah

rambut pada kulit


tampak normal
5. Tidak ada tandatanda eritema dan
nekrosis pada kulit

kulit genital secara


berkala
5. Memberikan umpan
balik positif untuk
setiap penurunan
episode inkontinensia

5.

Kelebihan

Tujuan :

NIC :
1. Pantau masukan dan

volume cairan

Setelah dilakukan

berhubungan

tindakan keperawatan

dengan gangguan selama 3 X 24 jam


filtrasi ginjal

diharapkan kelebihan
cairan dapat teratasi.

haluaran cairan dan


tanda tanda kelebihan
cairan setiap 1 2
jam.
2. Pantau elektrolit atau
osmolalitas

Kriteri hasil :

resiko

1. Volume cairan dan


elektrolit

dapat

kembali

dalam

batas normal.
2.

Pasien

dapat

serum
gangguan

signifikan bila serum


Na kurang dari 125
mEq/L.
3. Berikan terapi cairan
tergantung pada status

mempertahankan

volume

sesuai

berat

intruksi

(pilihan

badan

dan

35

volume urin 800

cairan yang pertama

2000 ml/hari.

adalah normal salin

3. Input sama dengan


output.
4.

Tekanan

darah

sonotik).
4.
Batasi

masukan

cairan.
5. Monitor TTV

dalam batas normal


6.

Ketidakseimbang

5. Tidak ada odema.


Tujuan:

an nutrisi kurang

setelah dilakukan

dari kebutuhan

asuhan keperawatan

tubuh

selama 2x24 jam

berhubungan

nutrisi klien adekuat

NOC :
1.
Awasi

konsumsi

makanan/cairan

hitung masukan kalori


per hari
2. Dorong pasien untuk

dengan

berpartisipasi

anoreksia: mual

Kriteria hasil:

muntah

1.

Nafsu

dalam

perencanaan menu
makan

3. Berikan makan sedikit

meningkat

dan frekuensi sering.

2. Porsi makan habis


3.

dan

Menunjukkan
peningkatan

berat

badan/ berat badan

4.

Berikan

perawatan

mulut sering
5. Kolaborasi pemberian
antimietik

yang stabil.
4. Tidak ada tanda7.

Risiko

tanda malnutrisi
infeksi NOC :

berhubungan

Tujuan:

dengan prosedur Setelah


invasif/alat
(contoh
urine)

1. Monitoring tanda dan


dilakukan

tindakan keperawatan

kateter selama
infeksi

NIC :

1x24
pada

dapat terkontrol

gejala infeksi sistemik


dan local

jam 2. Inspeksi kulit dan


klien

membran mukosa
terhadap kemerahan,

36

panas, drainase.
Kriteria hasil:
aKlien

3. Pertahankan teknik

bebas

dari

aseptik

tanda dan gejala 4. Cuci tangan setiap


infeksi

(tumor,

dolor, rubor, kalor,


b

fungsio laesa)
Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah

tindakan keperawatan
5. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kemih

timbulnya infeksi
c

sebelum dan sesudah

Jum
lah
leu
kosi
t
dala
m
bata

6. Tingkatkan intake
nutrisi
7. Batasi pengunjung
bila perlu
8. Ajarkan klien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
9. Laporkan kecurigaan
infeksi

s
nor
mal
(40
00
10.
000
/m
m3)
d Stat
us
37

imu
nita
s
bai
k
8.

Ansietas

Tujuan :

NOC :

berhubungan

Ansietas berkurang

1. Lakukan pengkajian

dengan kondisi

dibuktikan dengan

untuk mengetahui

fisik dan adaptasi

kontrol ansietas.

penyakit
Kriteria Hasil:
1. Klien tidak ada
manifestasi
kecemasan secara
fisik.
perilaku akibat
kecemasan tidak
ada.
3. Klien dapat

Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan
kurangnya

vital (keadekuatan
nadi, tekanan darah)
3. Beri dorongan klien
untuk
mengungkapkan
pikiran dan perasaan

2. Manifestasi

9.

tingkat ansietas klien.


2. Observasi tanda-tanda

untuk
mengeksternalisasika
n ansietasnya.
4. Kolaborasikan dengan
dokter

pengobatan

menjalankan

untuk

mengurangi

aktivitas sehari

ansietas klien sesuai

harinya.

kebutuhan klien

NOC :
Tujuan :
Setelah

NIC :
dilakukan

tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam,
klien

mengetahui

1. Menilai tingkat
pengetahuan pasien
yang berhubungan
dengan proses

38

informasi tentang

berbagai

informasi

penyakitnya

tentang penyakitnya
Kriteria hasil :
1. Klien mengetahui
karakteristik

penyakitnya
2. Memberi penjelasan
patofisiologi dari
penyakit dan

dan

bagaimana hal itu

efek fisiologis dari

berkaitan dengan

penyakitnya
2. Klien mengetahui
penyebab

dan

faktor risiko dari


penyakitnya
3. Mengetahui
strategi

yang sesuai
3. Ulasan pengetahuan
tentang kondisi pasien
4. Menjelaskan tanda-

untuk

meminimalkan
perkembangan

tanda umum dan


gejala penyakit yang
sesuai
5. Meninjau dengan

penyakit
4. Mengetahui

pasien apa yang telah

potensi komplikasi
penyakit
5. Mengetahui tanda
dan

anatomi dan fisiologi

gejala

komplikasi

dilakukan untuk
mengelola gejala
6. Menjelaskan proses
penyakit , yang sesuai
7. Mengidentifikasi

penyakit
6. Memahami sumber
yang

memiliki

reputasi

penyakit

informasi spesifik

kemungkinan
etiologi, sesuai
8. Memberikan
informasi kepada
pasien tentang kondisi
, yang sesuai
9. Mengidentifikasi
perubahan kondisi
fisik pasien
39

10. Diskusikan perubahan


gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi masa
depan dan mengontrol
proses penyakit
3.1 Askep Kasus Retensi Urin
Study Case
Tn. M 59 tahun dibawa ke RSUA pukul 20.00 WIB oleh
istrinya dengan keluhan tidak dapat berkemih dengan puas
tetapi ada keinginan untuk berkemih. Tn. M mengeluh nyeri
pada area Suprapubis, ada rembesan kencing yang tidak
terkendali. Pada pemeriksaan fisik Tn. M diperoleh TTV : TD:
140/70mmHg, Suhu : 36.8 oC, N: 96x/menit, RR: 22x/menit. Saat
pemeriksaan fisik ditemukan adanya distensi kandung kemih,
dan klien merasa nyeri skala 7 pada area abdomen bagian
bawah. Klien mengatakan gatal dan risih pada area perineal
karena rembesan urin. Klien mengaku memiliki riwayat operasi
BPH (Benigna Prostate Hyperplasia).

3.5.1

Pengkajian

A Identitas
Nama Pasien
Umur

: Tn. M
:

59

tahun

Suku/ Bangsa : Jawa / Indonesia


Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
40

Pekerjaan
: Wiraswasta
Alamat
: Kertajaya, Surabaya
Tanggal MRS : 17 April 2015 / 20.00 WIB
DiagnosaMedis : Retensi Urin
B Keluhan utama
Klien tidak dapat berkemih dengan puas tetapi ada keinginan untuk
berkemih , nyeri perut bagian bawah, dan gatal pada daerah perineal
nya
P = sakitnya akibat adanya distensi kandung kemih
yang berlebihan
Q = klien merasa nyeri
R = nyeri terdapat pada bagian suprapubis non-spesific
S = nyeri yang dirasakan dari skal 1-10 disebutkan 7
T = Pada kasus ini nyeri lebih sering dirasakan pada
saat pagi hari.
C Riwayat kesehatan klien
1 Riwayat kesehatan masa lalu.
Klien

memiliki

riwayat

penyakit

BPH

(Benigna

Prostate Hyperplasia)
2 Riwayat penyakit sekarang
Klien dibawa ke RSUA karena mengeluhkan tidak
dapat kencing dengan puas tetapi ada keinginan
untuk berkemih, perutnya bagian bawah nyeri, gatal
pada daaerah perinealnya.
3 Riwayat kesehatan keluarga
Tidak ada keluarga klien yang menderita penyakit
seperti yang dikeluhkan klien.
4 Riwayat obat-obatan : tidak ada terapi obat-obatan
khusus.
5 Riwayat penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol.
Klien biasanya mengkonsumsi obat anti nyeri yang di
beli di warung.
6 Riwayat merokok : Klien tidak pernah merokok
7 Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Klien tidak pernah menahan kemih.
41

8 Riwayat Psikososial
a Persepsi terhadap kondisi klien
Klien merasa tubuhnya saat ini tidak berasa ingin
berkemih, sehingga klien merasa cemas.
b Mekanisme koping dan sistem pendukung
Klien berusaha untuk tidak beraktifitas banyak dan
berat karena menghindari nyeri nya yang makin
berat.
c Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga
Klien tidak mengetahui tentang kondisi
penyakitnya.
d Nilai kepercayaan
Klien menyadari bahwa penyakit adalah cobaan
dari Tuhan
D Pemeriksaan Fisik
1 Keadaan Umum : Kompos mentis
2 Tanda-tanda vital:
TD : 140/70 mm/Hg, S : 36,8oC, N : 96 x/menit, RR :
22 x/menit
3 Pemeriksaan fisik (head to toe):
Pada wajah / muka : tampak pucat, konjungtiva
anemis
Pada kulit
Pada perut

: akral hangat
: ada distensi abdomen (area

kandung kemih)
Pada alat genitalia : lembab karena rembesan urin
yang tidak terkontrol dan gatal.
4 Sistem tubuh:
1 Pernafasan (B1:Breathing)
Tidak ada kelainan pada pola pernapasan dan
bentuk dada simetris.
2 Kardiovaskuler (B2:Bleeding)
a) Tidak ada nyeri dada
b) Suara jantung normal, regular S1/S2 tunggal
c) CRT : < 2 detik
3 Persyarafan (B3:Brain)
42

a)
b)
c)
d)

Kesadaran: (kompos mentis)


GCS: E=4, V=5 , M=6. Total nilai:15
Wajah tampak merenggut
Mata

Sklera
: normal (tidak icterus)
Konjungtiva
: normal (tidak anemis)
Pupil
: isokor (4mm)
e) Persepsi sensori : Tidak terjadi kelainan atau
gangguan pada semua indra klien
f) Nyeri pada area suprapubis
4 Perkemihan (B4:Bladder)
a) Area genetelia lembab dan gatal
b) Area meatus bersih
c) Klien tidak ada keinginan berkemih sejak kemarin
pagi dan ada rembesan urin tanpa dikontrol
d) Produksi urine 100 cc/jam, kondisi urine pekat
e) Ada distensi kandung kemih,
5 Pencernaan (B5: Bowel) : tidak ada keluhan
6 Kekuatan otot (B6 :Bone) : tidak ada keluhan
5 IPPA
a) Inspeksi : ada benjolan suprapubis, sikatrik (-), area
perineal tampak lembab dan kemerahan.
b) Auskultasi : peristaltik (+) , bruit (-)
c) Perkusi : nyeri ketok CVA (-)
d) Palpasi : nyeri tekan daerah pinggang (-), hepar-lien
tidak teraba, massa ginjal (-) , teraba benjolan di
area suprapubis (+)
E Pemeriksaan Diagnostik
A. Pemeriksaan laboratorium
a Hb klien 7,4 g/dl. Klien mengalami anemia.
Nilai normalnya 13,0 16,0 g/dl
b BUN klien: 14,2 mg/dl dan kreatinin klien: 76,3 U/L.

43

Konsentrasi BUN normal besarnya antara 5-25


mg/dl, sedangkan konsentrasi kreatinin plasma
besarnya 70 160 U/L.
c Albumin dalam darah pasien didapat 3 mg/dl.
Nilai normalnya: 3-5 mg/dl
d Kadar Na klien: 138 mmol/L..
Nilai normalnya 135 145 mmol/L
e Kadar K klien: 4.0 mmol/L
Nilai normalnya 3,5 5,0 mmol/L.
B. Pemeriksaan Radiologi
Pada

pemeriksaan

Uroflowmetri

didapatkan

hasil

residu urin sebesar 350mL. normalnya 200mL. Klien


mengalami retensi urin

3.5.2

Analisa Data
5

N
1 DS:
Pasien
.
tidak

Data

Etiologi

Riwayat penyakit

Penyempitan saluran
bisa
BAK
kemih
dengan puas

Aliran urin macet


DO:

- Distensi
kandung
Urin tertahan di bladder
kemih

- Frekuensi
berkemih
Retensi urin
berkurang
(hanya

Masalah
Keperawatan
Retensi urin

menyatakan

44

distensi
terus
menerus
melebihi
urin
memancar
berulangMK : Perubahan
Pola
Eliminasi
pengosongan
kandung
kemih
tidak
kemih
melebihi
Inkontinensia
ulang dalam
jumlah
sedikit
Retensi
Urin
Kronis
tekanankandung
dalam
lumen
&
tekanan
Urin
efisien
kapasitas
maksimal

ada rembesan)
- Volume urin sekali
keluar kurang dari
normal (<300cc) /
volume rembesan

2 DS:
Pasien menyatakan
nyeri tekan di daerah
suprapubik
DO:
- Ekspresi pasien
tampak meringis
menahan rasa
-

Retensi Urin

Tidak ada haluaran urin

Distensi kandung kemih


berlebihan

Nyeri di suprapububis

Nyeri Akut

Nyeri akut

sakitnya
Pengkajian nyeri
P: Ketika aktivitas
berlebih
Q: Terjadi terusmenerus
R: Suprapubik
S: Skala 7
T: Sakit setiap saat

45

3 DS:
Klien mengeluh gatal
pada sekitar perineal
DO:
- Kulit

disekitar

perineal
kemerahan

terlihat
dan

lembab
- Terdapat

bekas

Retensi Urin

Haluaran Urin tidak


efisien

Urin merembes sedikit

Area perineal lembab


dan gatal

Ganguan Integritas
Kulit

Gangguan
Integritas Kulit

garukan di sekitar
perineal
4 DS :
Klien
tidak

mengatakan
tahu

tentang

penyakitnya

Kurang

informasi dari teman,

pengetahuan

keluarga, atau media


terkait penyakitnya

Kekurangan informasi

DO :
- Klien

Tidak ada akses

tidak

dapat

menjawab

Kurang pengetahuan

pertanyaan sterkait
penyakitnya
- Klien tidak tahu apa
yang
dilakukan

harus
terkait

penyakitnya
3.5.3

Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan sesuai kasus di atas, kami mengambil beberapa diagnosa
keperawatan, diantaranya :
46

1. Retensi urin berhubungan dengan obstruksi traktus urinarius


2. Nyeri akut berhubungan dengan distensi kandung kemih
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelembapan pada area
perineal
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya
3.5.4
No.
DX
1.

Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Tujuan dan

Intervensi

Keperawatan
kriteria hasil
Retensi
urin NOC :

NIC :

berhubungan

Tujuan :

1. Manajemen dan monitoring

dengan

Setelah

dilakukan

obstruksi traktus tindakan

cairan
a. Monitor tanda dan gejala

urinarius

keperawatan, klien

(00023)

menunjukkan tidak
ada gejala retensi
urin.

retensi urin
b. Berikan

cairan

sesuai

kebutuhan
c. Pertahankan
keseimbangan intake dan

Kriteria hasil:
-

Klien

output

dapat

mempertahanka
n
-

pola

a. Ajarkan

klien

dan

keluarga tentang tujuan,

Pengosongan

metode dan rasional dari

kandung kemih

pemasangan kateter
b. Pertahankan

teknik

Dapat merespon

aseptic

keinginan untuk

pemasangan kateter

berkemih.
-

2. Kateterisasi urin

berkemih.

dapat maksimal.
-

d. Periksa turgor klien

Volume

ketika

c. Perhatikan hand hygiene


setiap

sebelum, selama, dan


47

berkemih

setelah

>150cc

kateter

pemasangan

d. Posisikan klien dengan


tepat
e. Bersihkan area sekitar
pemasangan kateter
f. Gunakan kateter ukuran
paling kecil
g. Pastikan kateter telah
cukup terfiksasi untuk
menghindari

trauma

jaringan uretra
h. Pastikan

penggantian

ureter sesegera mungkin


sesuai kondisi klien
i. Ajarkan

klien

keluarga

dan
dalam

perawatan kateter
3. Manajemen eliminasi urin
a. Pantau

eliminasi

termasuk

urin

frekuensi,

konsistensi, bau, volume


dan warna
b. Monitor tanda dan gejala
retensi urin
c. Ajarkan klien tanda dan
gejala

infeksi

dari

pemasangan kateter
d. Intruksikan

klien

dan

keluarga untuk mencatat


48

1.

output urin
e. Ajarkan

klien

untuk

minum 8 Ons cairan


dengan makanan
f. Instruksikan klien untuk
mengosongkan kandung
kemih secara maksimal
2.

Nyeri

akut NOC :

berhubungan

NIC :

Tujuan :

dengan distensi Setelah

1. Relaxation therapy
dilakukan

a. Berikan terapi musik,

kandung kemih tindakan

meditasi,

(00132)

breathing.

keperawatan, klien
menunjukkan nyeri
akut berkurang.

rhythmic

b. Ciptakan

lingkungan

yang tenang
2. Urinary retention care

Kriteria hasil:
-

Nyeri

a. Stimulasi

dapat

kandung kemih dengan

terkontrol

memberikan air dingin

Episode

ke abdomen

terjadinya nyeri
-

reflex

b. Sediakan waktu cukup

dapat berkurang

untuk

Klien

bladder (10 menit)

tidak

pengosongan

menunjukkan

c. Gunakan kateter urin

tanda-tanda

d. Instruksikan

nyeri

(agitasi,

iritabilitas,
menangis,

menghindari konstipasi
atau

dan

ekspresi nyeri)

untuk

impaksi

fekal

(monitor intake output,


monitor derajat distensi
bladder dengan palpasi,
kateterisasi untuk residu
49

urin).
e. Memantau

eliminasi

urin termasuk frekuensi,


konsistensi,

bau,

volume, dan warna yang


sesuai
f. Pantau adanya tanda dan
gejala retensi urin
g. Mengidentifikasi faktorfaktor

yang

berkontribusi

terhadap

episode inkontinensia
h. Ajarkan tanda-tanda dan
gejala

infeksi

saluran

kemih pasien
i. Catat waktu eliminasi
urin

terakhir,

yang

sesuai
j. Anjurkan

pasien

keluarga untuk merekam


output urin, yang sesuai
3.

Gangguan
integritas

NOC :

NIC :

kulit Tujuan :

1. Memodifikasi pakaian dan

berhubungan

Setelah

dengan

tindakan

menyediakan akses mudah

kelembapan

keperawatan,

ke toilet

pada

dilakukan

lingkungan

untuk

area gangguan integritas 2. Membantu untuk memilih

perineal (00046) kulit dapat diatasi.

garmen

inkontinensia
Kriteria hasil :
- Klien

pad

sesuai
untuk

pengelolaan jangka pendek


50

menunjukkan

sementara pengobatan yang

integritas

lebih definitif direncanakan

pada

kulit
daerah 3.

perineal

yang

baik
Tidak

keluhan gatal
Area perineal

Menyediakan
pelindung,

sesuai

kebutuhan
ada

kering / tidak

4. Membersihkan daerah kulit


genital secara berkala
5. Memberikan umpan balik
positif

basah

untuk

penurunan
4.

Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi
tentang
penyakitnya
(00126)

pakaian

setiap
episode

inkontinensia
NIC :

NOC :
Tujuan :
1. Menilai tingkat pengetahuan
Setelah dilakukan
pasien yang berhubungan
tindakan
dengan proses penyakitnya
keperawatan, klien
2.
Memberi
penjelasan
memahami proses
patofisiologi dari penyakit
penyakit
dan bagaimana hal itu
berkaitan dengan anatomi

Kriteria hasil :
- Klien

dan fisiologi yang sesuai

mengetahui

3. Ulasan pengetahuan tentang

karakteristik

kondisi pasien

dan

efek 4.

fisiologis

dari

penyakitnya
Klien

faktor
dari

tanda-tanda

umum dan gejala penyakit


yang sesuai
5. Meninjau

mengetahui
penyebab

Menjelaskan

dengan pasien

apa yang telah dilakukan


dan

risiko

untuk mengelola gejala


5.

Menjelaskan

proses

penyakit, yang sesuai


51

penyakitnya
Mengetahui
strategi

perkembangan
penyakit
Mengetahui

sesuai
7.

Memberikan
kepada

informasi

pasien

tentang

kondisi , yang sesuai


kondisi fisik pasien

komplikasi

etiologi,

11. Mengidentifikasi perubahan

potensi

Mengidentifikasi
kemungkinan

untuk

meminimalkan

6.

penyakit
Mengetahui

12. Diskusikan perubahan gaya


hidup

yang

mungkin

tanda dan gejala

diperlukan untuk mencegah

komplikasi

komplikasi masa depan dan

penyakit
Memahami

mengontrol proses penyakit

sumber

yang

memiliki
reputasi
penyakit
informasi
spesifik

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Retensi urin adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
sebagian atau keseluruhan selama poses pengosongan (Black, 2009). Retensi
52

urine

merupakan

penumpukan

urine

dalam

kandung

kemih

akibat

ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal ini


menyebabkan distensi vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan
distensi, vesika urinaria dapat menampung urine sebanyaj 3000-4000 ml urine
(Hidayat & Uliyah, 2008 ).
Etiologi dari retensi urin adalah Supravesikal, Vesikel, Intravesikel
dan faktor-faktor lain. Adapun tanda klinis retensi urin secara umum
(Hidayat & Uliyah, 2008) yaitu adanya ketidaknyamanan daerah pubis, distensi
vesika urinaria, ketidaksanggupan untuk berkemih, sering berkemih saat vesika
urinaria berisi sedikit urin (25-50 ml), ketidakseimbangan jumlah urin yang
dikeluarkan dengan asupannya, meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
dan adanya urin sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
Dengan adanya tanda klinis diatas, perawat diharapkan dapat memberikan
asuhan keperawatan yang holistik dan profesional, untuk memberikan pelayanaan
kesehatan yang efisien dan komprehensif dengan mengetahui pemeriksaan
diagnostik dan penatalaksanaan pada retensi urin. Diharapkan dengan
mengetahui, hal tersebut Perawat dapat mendiagnosa keperawatan dan
memberikan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kode etik keperawatan
dan dapat melakukan tindakan kolaboratif terhadap tenaga medis dalam satu visi
dan misi kesehatan yaitu mensejahterakan masyarakat Indonesia yang sehat dan
menjadi lebih baik.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat yang memiliki basic keilmuan diharapkan setiap
melaksanakan asuhan keperawatan senantiasa berpegang pada konsep yang
sudah diberikan pada perkuliahan sehingga penatalaksanaan klien dengan retensi
urin dapat terlaksana dengan tepat dan benar.

53

DAFTAR PUSTAKA
Baradero, Marry et al. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan
Ginjal. Jakarta: EGC;16-21.
Basuki B Purnomo. 2003. Dasar-dasar Urology. Edisi 2. Jakarta :
Sagung Seto.
Black, JM & Hawks, JH. 2009. Medical Surgical Nursing : Clinical
Management for Positive Outcomes. 7th Edition. St. Louis
Missouri : Saunders Elsevier Inc.
54

Blackwell, Wiley. 2014. Nursing Diagnoses, Tenth edition. Garsington


Road : Pondicherry
Borrie, Michael j, Karen C, Zora A.A., Judy Bray, Pauline Hart, Terri Labate, Paul
Hesch. 2001. Urinary Retention in Patients in a Geriatric Rehabilitation
Unit : Prevalence, Risk Factors, and Validity of Bladder Scan Evaluation.
Volume 26, number 5. Rehabilitation Nursing. Wiley Online Library.
Bulechek, Gloria M. Butcher, Howard K. Dochterman, McCloskey,
Joanne. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC), Sixth
edition. St.louis, Missouri : Elsevier mosby
Corwin, Elizabeth J. (2001). Hands Book of Pathophysiologi. Jakarta :
EGC
Finucane, Brendan T. (2007). Complication of Regional Anesthesia
2nd Edition. Springer Science Business Media, USA : 153
Grace, Pierce A dan Borley, Neil R. (2007). Surgery at a Glance 3
Edition. Jakarta : Penerbit Erlangga; 60-61
Heisler, J. (2011). Understandingt the Risks of Anesthesia. Diunduh
dari
http://surgery.about.com/od/proceduresaz/ss/AnesthesiaRisks.
htm
Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. (2008). Keterampilan
Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan 2 Edition. Jakarta:
Salemba Medika; 66.
Kozier & Erb, (2009). Buku Ajar Praktek Keperawatan Klinis Edisi
Kedua. Jakarta: EGC.
Lewis, SL, Dirksen, SR, Heitkemper, MM, Bucher, L & Camera, IM.
2011. Medical Surgical Nursing, Assessment and Management
of Clinical Problem. 8th Edition. St. Louis-Missouri : Saunders
Elsevier Inc.
M.J. Speakman, Odunayo Kalejaiye.(2009). European Association of
Urology: Management of Acut and Chronic Retention in Men.
UK: Elsevier; 523-529
McConnell JD, Roehrborn CG, Bautista OM, et al; The Long-Term Effect of
Doxazosin, Finasteride, and Combination Therapy on The Clinical
Progression of Benign Prostatic Hyperplasia. N Engl J Med. 2003 Dec
18;349(25):2387-98.
Moorhead, Sue. dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC),
Fifth edition. St.louis, Missouri : Elsevier mosby
Pierce & Borley, (2006). At a Glance Ilmu Bedah Edisi ketiga.
Jakarta: EMS.
Purnomo B. Basuki.(2011). Dasar-dasar Urologi, Edisi ketiga.
Jakarta : CV Sagung Seto
Selius Brian, Subedi Rajesh. Urinary Retention in Adults: Diagnosis
and Initial Management. American Family Physician. 2008; 77.
P. 643-650.
55

Smeltzer, S. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner


& Suddarth. (Ed.8). (Vol.2). Jakarta: EGC

56

Anda mungkin juga menyukai