Anda di halaman 1dari 18

BELUM OPTIMALNYA FUNGSI

KELEMBAGAAN DIINDINESIA

DITULIS OLEH:
EDRI RAMADHANA

DOSEN PEMBIMBING:
Dra. Hj. Prihati, M.Si

FAKULTAS TEKNIK
ARSITEKTURE
PEKANBARU
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang

Pada zaman yang sekarang sangat banyak lembaga


hukum
yang
memperlihatkan
ketidakoptimalan
fungsi
kelembaga diindonesia. Khususnya pada lembaga hukum
diindonesia. Oleh karena itu saya mengulas tentang belum
optimalnya fungsi kelembagaan diindonesia.

1.2 Ruang lingkup pembahasan

Pembahasan ini mencangkup optimalisasi fungsi


kelembagaan
diindonesia.
Dan
memperlihatkan
cara
penyelesaian
dari
masalah
belum
optimalnya
fungsi
kelembagaan diindonesia.

1.3 Tujuan dan manfaat


Tujuan dari Pembahasan ini adalah:

1. Membantu mahasiswa memahami apa yang terjadi


pada lembaga hukum yang ada diindonesia
2. Dan mengungkap cara penyelsaiannya.
Manfaat
1. menciptakan penegakan hukum yang berkualitas
dan berkeadilan
2. meningkatkan kesadaran hukum di segala bidang.

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

BAB II
ISI

A. ULASAN

Kualitas lembagap penegakan Hukum.


Pembangunan di bidang penegakan hukum masih
menghadapi kendala dalam pencapaian targetnya. Hal ini
tergambar dari berbagai hasil evaluasi dan survei, yang
menunjukkan bahwa kondisi penegakan hukum di Indonesia
masih lemah. Hasil survei yang dikeluarkan oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kompas menunjukkan bahwa
masih tingginya ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja
penegak hukum.

Presentase Opini Publik Tentang Citra Positif Lembaga Penegak


Hukum (2009-2013)

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

Persepsi sebagian besar masyarakat Indonesia masih melihat


kondisi penegakan hukum yang korup merupakan cerminan
realitas dari para aparat penegak hukum yang menjadi mafia
peradilan atau disebut sebagai korupsi yudisial (judicial
corruption). Dampak korupsi yudisial sangat merusak
kedaulatan hukum karena menghambat bekerjanya prinsipprinsip esensial kedaulatan hukum, yaitu (1) prinsip supremasi
hukum, (2) persamaan di depan hukum, (3) akuntabilitas
hukum, (4) keadilan dalam penerapan hukum, (5) transparansi
dalam proses peradilan, dan (6) kepastian hukum. Korupsi
yudisial juga akan meruntuhkan kepercayaan masyarakat
terhadap integritas fungsi peradilan, menghambat administrasi
peradilan, dan di atas itu semua akan merampas hak-hak
warga negara dalam memperoleh keadilan berdasarkan hukum.
Oleh sebab itu, hal ini perlu diatasi segera.
Permasalahan dan kendala yang menghambat capaian
pembangunan dalam penegakan hukum, terutama disebabkan
oleh lemahnya dasar hukum yang melandasi penegakan
hukum. Lemahnya substansi hukum dalam sistem legislasi
tercermin dari masih banyaknya undang-undang yang
dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, dimana hingga saat ini
telah mencapai 640(enam ratus empat puluh) undang-undang.
Kondisi ini dilatarbelakangi oleh inkapabilitas pembuat undangundang maupun substansi sistem hukum nasional yang
sebagian besar masih dipengaruhi oleh sistem hukum yang
bercirikan civil law, sehingga substansi hukum yang dituangkan
masih berorientasi kolonial. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu
dilakukan pembangunan politik legislasi yang kuat di segala
sektor penegakan hukum, utamanya dalam pemberantasan
korupsi, penegakan HAM, perlindungan lingkungan hidup dan
reformasi penegakan hukum. Belum optimalnya keterpaduan
pemahaman antar aparatur penegak hukum dalam rangka
penanganan suatu perkara hukum menjadi salah satu
penyebab lambannya proses penegakan hukum, serta
timbulnya potensi konflik antar aparat penegak hukum dalam
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

melaksanakan tugasnya hingga berpengaruh terhadap kualitas


penegakan hukum.

Permasalahan lainnya adalah koordinasi antar instansi,


khususnya dalam sistem peradilan pidana, sebagaimana
tercermin dari banyaknya peraturan perundang-undangan yang
mengatur mengenai sistem peradilan pidana disamping KUHAP,
sehingga
menyebabkan
ketidaksinergisan
dan
ketidakharmonisan antar lembaga penegak hukum. Oleh
karena itu, diperlukan sinkronisasi kelembagaan antar lembaga
penegak hukum melalui koordinasi. Pada pelaksanaannya,
upaya koordinasi sudah dilaksanakan antar aparat penegak
hukum namun belum optimal.
Belum optimalnya keterpaduan pemahaman aparatur penegak
hukum dalam rangka penanganan suatu perkara hukum
menjadi salah satu penyebab lambannya proses penegakan
hukum, serta timbulnya potensi konflik antar aparat penegak
hukum dalam melaksanakan tugasnya, sehingga juga
berpengaruh terhadap kualitas penegakan hukum.
Belum optimalnya dukungan sarana prasarana yang diperlukan
untuk proses penegakan hukum masih menjadi kendala utama
saat ini. Antara lain ditunjukkan dengan kondisi overcapacity di
Rumah Tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan serta belum
optimalnya biaya operasional penegakan hukum sehingga turut
mengakibatkan rendahnya kualitas penegakan hukum. Di
samping itu, masalah pengawasan aparat penegak hukum yang
sangat lemah juga perlu menjadi prioritas untuk pembenahan
dalam mewujudkan sistem peradilan berkualitas di Indonesia.
Apabila Pemerintah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi
permasalahan penegakan hukum di atas, baik mencakup
legislasi, sarana prasarana, mekanisme koordinasi, maupun
kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), diharapkan penegakan
hukum pidana akan semakin baik. Dalam hal ini penegakan
hukum pidana tersebut mencakup penegakan atas seluruh
tindak pidana, termasuk tindak pidana penebangan liar,
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

eksploitasi perikanan secara liar, dan penambangan liar yang


sangat merugikan kekayaan negara.
Upaya-upaya perbaikan di atas dapat berdampak terhadap
upaya mengatasi kejahatan perbankan dan tindak pidana
pencucian uang (TPPU) yang mengancam stabilitas sistem
perekonomian Indonesia. Meskipun dasar hukum kejahatan
perbankan dan TPPU di Indonesia telah diatur, namun dasar
hukum tersebut sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan
menimbulkan permasalahan koordinasi antar instansi penegak
hukum pada implementasinya.
Sebagai bagian dari upaya penegakan hukum yang berkualitas,
pelaksanaan UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana
Anak yang mengedepankan prinsip diversi dan restorative
justice dalam penanganan perkara pidana anak, masih
membutuhkan banyak dukungan terkait peraturan pelaksana,
infrastruktur, SDM, hingga mekanisme pelaksanaan.
Di samping pelaksanaan hukum pidana, penegakan hukum
perdata juga menjadi salah satu hal yang perlu untuk dibenahi.
Penyelesaian perkara perdata yang relatif sederhana dan cepat
masih jauh dari yang diharapkan. Dengan mendorong
optimalisasi proses mediasi di pengadilan dan penyederhanaan
prosedur perkara perdata untuk gugatan sederhana maka
diharapkan akan dapat mendorong efisiensi penyelesaian
perkara perdata. Hal ini juga akan dapat memberikan kontribusi
positif terhadap peningkatan daya saing perekonomian
nasional. Namun demikian, beberapa aspek lain yang juga
perlu untuk dibenahi antara lain adalah penyesuaian peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan hukum kontrak.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi penyelesaian
sengketa perdata yang berlarut-larut agar biaya perkara lebih
murah dan kedua belah pihak tidak mengalami kerugian lebih
besar. Hasil penelitian mengenai kemudahan berbisnis di
Indonesia menunjukkan bahwa, beberapa faktor hambatan
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

penyelesaian sengketa terkait kontrak bisnis antara lain


sulitnya proses eksekusi putusan, panjangnya proses
penyelesaian perkara dengan nilai gugatan tertentu, dan
tahapan penyelesaian sengketa pada pengadilan tingkat
pertama yang berbiaya tinggi. Proses penyelesaian perkara
yang panjang, memakan waktu dan biaya tinggi yang berakibat
kepercayaan masyarakat pada lembaga pengadilan melemah,
ditandai dengan minimnya jumlah perkara perdata (termasuk
di dalamnya sengketa kontrak bisnis) yang diajukan ke
pengadilan kurang lebih 20.000(dua puluh ribu) perkara per
tahunnya.
Peran hukum juga tidak hanya meliputi penegakan hukum,
melainkan juga pelayanan hukum. Sayangnya, kondisi
pelayanan hukum saat ini belum optimal dalam memberikan
pelayanan yang baik dan berkualitas kepada masyarakat. Masih
banyak masyarakat yang mengalami kesulitan dalam
mengakses layanan hukum yang baik dan berkualitas, baik di
pendaftaran atau pengurusan dokumen terkait keimigrasian,
maupun hak atas kekayaan intelektual (HKI) seperti
pendaftaran hak cipta dan paten.
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Permasalahan
pokok yang dihadapi pemerintah dalam pencapaian sasaran
utama upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi hingga
tahun 2014 adalah masih rendahnya komitmen aparatur
negara di tingkat pusat dan daerah mengenai upaya
pencegahan dan pemberantasan korupsi, serta rendahnya
tingkat permisifitas masyarakat Indonesia terhadap korupsi.
Walaupun Indonesia belum memiliki ukuran yang tepat dalam
mengukur korupsi di Indonesia, hasil evaluasi survei nasional
dan internasional yang ada menunjukkan bahwa korupsi secara
umum menghambat daya saing suatu bangsa, termasuk
Indonesia. Pasca reformasi digulirkan dan otonomi daerah

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

diberlakukan, korupsi tetap menjadi masalah utama yang


menghambat tujuan pembangunan nasional.
Permasalahan utama diawali pada substansi peraturan
perundang-undangan terkait pemberantasan tindak pidana
korupsi. Dari total 32,(tiga puluh dua) rekomendasi
hasil review United
Nations
Convention
Against
Corruption (UNCAC), tercatat 25 (dua puluh lima) rekomendasi
terkait peraturan perundang-undangan dan 7 (tujuh)
rekomendasi terkait kajian dan kegiatan lainnya. Rekomendasi
yang terkait dengan substansi RUU Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, RUU Bantuan Hukum Timbal Balik (MLA), dan
RUU Perampasan Aset belum dapat terlaksana karena RUU-RUU
tersebut hingga kini belum disampaikan kepada DPR. Untuk
rekomendasi yang terkait dengan RUU Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi, RUU KUHP dan RUU KUHAP masih perlu
dilakukan harmonisasi sehingga tidak ada tumpang tindih
pengaturan. Capaian dalam mengimplementasikan substansi
hasil rekomendasi UNCAC ke dalam peraturan perundan di
Indonesia masih terkendala karena belum diikuti oleh
pemahaman yang sama dari para aparat penegak hukum
tentang implementasi UNCAC.

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

Penanganan Perkara Korupsi Oleh Kejaksaan RI (2010-2013)

Proses penanganan perkara tindak pidana korupsi juga


berperan
secara
signifikan
terhadap
keberhasilan
pembangunan, termasuk pemulihan keuangan negara. Oleh
karena itu, sangat penting untuk memperhatikan aspek
pemulihan keuangan negara dari hasil tindak pidana korupsi,
sebab dampaknya akan sangat besar bagi pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan pembangunan di
bidang-bidang lainnya. Namun sejauh ini, untuk pengembalian
aset-aset yang berada di luar negeri paling sulit untuk
dilakukan, terutama karena terbatasnya jangkauan sistem
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

hukum Indonesia dengan negara lain. Oleh karena itu,


dibutuhkan kerjasama dengan negara lain, teruatama dalam
konteks mutual legal assistance in criminal matters atau
bantuan hukum timbal balik dalam masalah pidana.
Pada dasarnya, Pemerintah Indonesia telah merumuskan
Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
(Stranas PPK) melalui Perpres No. 55/2012 tentang Stranas PPK
Jangka Panjang (Periode Tahun 2012-2025) dan Jangka
Menengah (Periode Tahun 2012-2014). Strategi yang terdapat
dalam Stranas PPK telah mulai diimplementasikan melalui
berbagai Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Aksi
PPK) oleh Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah. Dari
tahun 2011 sampai dengan tahun 2013, jumlah Aksi PPK dan
jumlah Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah yang

melaksanakan aksi, semakin meningkat. Adapun titik berat


strategi pencegahan dan pemberantasan korupsi yang
berbeda-beda dalam Aksi PPK setiap tahunnya.
Perbandingan Titik Berat Strategi dalam Aksi PPK (2012-2013)

Dari segi kelembaaan, upaya pencegahan dan pemberantasan


korupsi tentunya sangat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga
penegak hukum, khususnya KPK. Lahirnya KPK dimaksudkan
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

untuk mendorong agar upaya pemberantasan korupsi dapat


dilaksanakan dengan lebih optimal. Untuk itu, dibutuhkan
peraturan perundang- undangan yang menjamin kualitas
penanganan kasus korupsi oleh KPK. Selain itu, peran KPK
dalam melakukan fungsi koordinasi dan supervisi terhadap
instansi penegak hukum lain, juga akan mendorong
peningkatan kualitas maupun kuantitas penegakan hukum
tindak pidana korupsi di Indonesia.
Penghormatan,
Perlindungan,
dan
Pemenuhan
HAM. Permasalahan utama di bidang HAM terletak pada masih
belum harmonisnya peraturan perundang-undangan baik di
tingkat nasional maupun daerah berdasarkan Konstitusi dan
konvensi HAM internasional. Hal ini ditandai dengan masih
banyaknya peraturan maupun kebijakan yang masih
diskriminatif dan bias gender. Adapun kebijakan diskriminatif
tersebut tersebar di lebih 100 (seratus) kabupaten di 28 (dua
puluh delapan) provinsi seluruh Indonesia.
Klasifikasi Jenis Pengaduan HAM (2008-2012)

Pada tataran penegakan, kinerja penegakan HAM juga belum


cukup membaik. Hal ini dapat dilihat dari tren pengaduan
pelanggaran HAM yang masuk ke Komnas HAM yang masih
tetap tinggi dari tahun ke tahun. Dimana pengaduan
pelanggaran HAM paling banyak diadukan terutama yang
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

terkait dengan hak atas keadilan. Sedangkan pihak yang


diadukan dalam kasus pelanggaran HAM terdiri dari berbagai
kalangan, baik dari pihak negara (state actor) maupun yang
berasal dari non-negara (non-state actor). Hal ini menunjukkan
bahwa pelanggaran HAM tidak hanya terjadi di ranah negara
(publik), namun juga terjadi di ranah swasta (privat).
Penanganan kasus pelanggaran HAM memerlukan perlakuan
khusus dimana penanganan kasus pelanggaran HAM tidak
hanya berfokus pada kasus yang akan terjadi di masa depan,
namun juga terhadap kasus pelanggaran HAM berat yang
terjadi di masa lalu. Hal ini dilatabelakangi oleh asas universal
yang berlaku terhadap kasus pelanggaran HAM berat, yakni
asas retroaktif dan tidak mengenal batasan waktu (kadaluarsa).
Dengan demikian, upaya penghormatan negara terhadap HAM
dan tanggung jawab perlindungan negara untuk memproses
kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu, membutuhkan
konsensus nasional dari semua pemangku kepentingan.
Pada tataran pencegahan, Pemerintah telah mencanangkan
kebijakan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM)
mulai dari periode 1998-2003, 2004-2009, hingga 2011-2014.
Namun, pelaksanaan RANHAM sampai saat ini masih belum
optimal disebabkan antara lain karena dokumen RANHAM
belum dapat mengkonsolidasikan berbagai upaya yang perlu
dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah
maupun pemangku kepentingan lainnya yang terkait. Di
samping itu, masalah koordinasi juga masih menjadi kendala
utama dalam pelaksanaan RANHAM secara nasional.
Aspek lainnya adalah tentang bantuan hukum. Kebijakan
bantuan hukum bagi masyarakat miskin semakin dikukuhkan
melalui pemberlakuan UU No.16/2011 tentang Bantuan Hukum.
Namun, pelaksanaan pemberian bant`uan hukum belum dapat
berjalan optimal antara lain karena belum optimalnya
kerjasama antara Kementerian Hukum dan HAM dengan
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

Mahkamah Agung terkait informasi atau database bantuan


hukum melalui Pos Bantuan Hukum (Posbakum). Dalam upaya
mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan peradilan
telah dilaksanakan berbagai kebijakan di antaranya adalah
sidang keliling. Namun, masih adanya permasalahan terkait
yurisdiksi wilayah yang luas dengan kondisi geografis yang
sulit, maka perlu dilakukan upaya-upaya menyeluruh agar
dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan sidang keliling.
Secara spesifik, permasalahan HAM terkait hak perempuan juga
sangat memprihatinkan, yang ditunjukkan dengan peningkatan
jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke
tahun, baik di ranah privat, publik, dan yang dilakukan oleh
negara. Kasus kekerasan terhadap perempuan yang paling
banyak dilaporkan adalah kekerasan seksual. Diperkirakan
bahwa setidaknya, setiap dua jam sedikitnya ada tiga
perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. Secara
statistik, terjadi peningkatan kekerasan seksual di ranah privat
maupun publik, terutama kasus perkosaan dan pencabulan.
Selain terhadap perempuan, anak juga merupakan kelompok
yang rentan mengalami kekerasan. Dengan semakin maraknya
kasus kekerasan terhadap anak, utamanya kasus kekerasan
seksual yang dilaksanakan oleh orang terdekat maupun orang
lain, telah mendorong lahirnya Instruksi Presiden Nomor 5
Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual
terhadap Anak. Hal ini mencerminkan bahwa saat ini Indonesia
berada pada titik kritis dalam hal perlindungan anak. Oleh
karena itu, perlindungan anak dan perempuan sangat urgen
dilaksanakan, sebagai wujud komitmen Pemerintah mengenai
perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak, yang
tertuang dalam Konstitusi maupun berbagai konvensi
internasional yang diratifikasi oleh Indonesia.
Statistik Jumlah Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (20042012)
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

Maraknya kasus pelanggaran HAM antara lain disebabkan oleh


belum memadainya pemahaman HAM yang dimiliki oleh
sebagian besar aparat penegak hukum dan penyelenggara
negara. Hal ini dapat dilihat pada cukup tingginya jumlah
pengaduan terkait pihak Kepolisian, Peradilan, dan Kejaksaan
maupun pihak Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
sebagai pihak pelanggar HAM. Salah satu upaya untuk
mengatasi tingginya pelanggaran HAM oleh penyelenggara
negara (cq. aparat penegak hukum dan pemerintah), adalah
melalui pendidikan dan pelatihan HAM bagi aparat penegak
hukum dan penyelenggara negara.

B. PENYELESAIAN DAN SOLUSI

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

1. Peningkatan Kualitas Penegakan Hukum


Upaya untuk menciptakan kualitas penegakan
dilaksanakan melalui:

hukum

Peningkatan keterpaduan dalam Sistem Peradilan


Pidana, melalui keterpaduan substansi KUHAP maupun
peraturan
perundang-undangan
lainnya;
sinkronisasi
kelembagaan
melalui
penyempurnaan
mekanisme
koordinasi dan forum komunikasi; pendidikan aparat
penegak hukum; pembangunan sarana dan prasarana
sistem informasi perkara pidana beserta kapasitas Lembaga
Pemasyarakatan dan Rumah Penyimpanan Barang Sitaan;
serta optimalisasi sistem pengawasan internal dan eksternal
guna mewujudkan lembaga penegak hukum yang
transparan dan akuntabel.

Pelaksanaan Sistem Peradilan Pidana Anak, sebagai


bentuk jaminan dan perlindungan atas hak anak yang
berhadapan dengan hukum berlandaskan prinsip restorative
justice,
dibutuhkan
peningkatan
koordinasi
antar
Kementerian/Lembaga; peningkatan kemampuan aparat
penegak hukum dan stakeholders; penyusunan peraturan
pelaksanaan; penyediaan sarana dan prasarana; serta
pengembangan restorative justice.

Reformasi Sistem Hukum Perdata yang Mudah dan


Cepat, diarahkan untuk mengatur permasalahan yang
berkaitan dengan ekonomi, terutama dunia usaha dan
industri; serta menciptakan kepastian investasi, terutama
penegakan dan perlindungan hukum. Oleh karena itu,
diperlukan strategi berupa revisi peraturan perundangundangan di bidang hukum perdata secara umum maupun
khusus
terkait
hukum
kontrak,
perlindungan
HKI,
pembentukan penyelesaian sengketa acara cepat (small
claim court), dan peningkatan utilisasi lembaga mediasi.

Pengembangan
SDM
Aparat
Penegak
Hukum, merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

dan kapasitas aparat penegak hukum melalui strategi


peningkatan kesejahteraan aparat penegak hukum,
penyempurnaan mekanisme promosi dan mutasi, serta
rekrutmen aparat penegak hukum.

Pelayanan Hukum, dalam hal peningkatan kualitas


pelayanan hukum kepada masyarakat melalui strategi pilot
project pelayanan mobil terpadu di bidang imigrasi, hak
cipta, dan paten.
2.
Peningkatan
Efektivitas
Pencegahan
dan
Pemberantasan Korupsi
Upaya untuk meningkatkan efektivitas pencegahan dan
pemberantasan korupsi dilaksanakan melalui:

Harmonisasi peraturan perundang-undangan di


bidang korupsi, melalui strategi harmonisasi peraturan
perundang-undangan di bidang tindak pidana korupsi
dengan mengacu pada ketentuan UNCAC yang telah
diratifikasi oleh Indonesia, baik melalui revisi maupun
pembentukan peraturan perundang-undangan di bidang
tindak pidana korupsi.

Efektivitas
implementasi
kebijakan
antikorupsi, melalui optimalisasi penanganan kasus tindak
pidana korupsi, pelaksanaan kerjasama luar negeri (mutual
legal assistance) dalam pengembalian aset hasil tindak
pidana korupsi, serta penguatan mekanisme koordinasi dan
monitoring evaluasi Strategi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi.

Pencegahan korupsi, melalui strategi pendidikan anti


korupsi mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi
maupun pendidikan anti korupsi bagi aparat penegak hukum
dan penyelenggara negara.
3. Penghormatan, Perlindungan, dan Pemenuhan HAM
Upaya untuk meningkatkan penghormatan, perlindungan, dan
pemenuhan HAM dilaksanakan melalui:
EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

Harmonisasi dan Evaluasi Peraturan Terkait HAM,


melalui strategi harmonisasi peraturan nasional dan daerah
berdasarkan prinsip HAM dan kesetaraan gender.
Penegakan
HAM, melalui
strategi
pelaksanaan,
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan HAM; optimalisasi
penanganan
pengaduan
pelanggaran
HAM
serta
pembentukan komisi ad hoc untuk memfasilitasi proses
pengungkapan pelanggaran HAM di masa lalu dan
pemulihan hak korban.
Optimalisasi Bantuan Hukum dan Layanan Peradilan
bagi Masyarakat, melalui strategi sosialisasi, penguatan
institusi penyelenggara bantuan hukum, penguatan pemberi
bantuan hukum, dan pelibatan Pemerintah Daerah dalam
pelaksanaan bantuan hukum, optimalisasi pelaksanaan
sidang keliling, pemanfaatan dana prodeo bagi masyarakat
miskin, serta peningkatan pelayanan informasi di Pengadilan
dan Kejaksaan.
Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan
Anak, melalui strategi penguatan mekanisme koordinasi
aparat penegak hukum
dalam penanganan kasus
kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk kasus
kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak; serta
penguatan mekanisme tindak lanjut penanganan kasus
kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk dalam
mengurangi pra dan pasca traum
Pendidikan HAM, melalui strategi pendidikan HAM
aparat penegak hukum dan penyelenggara Negara serta
sinkronisasi dan sinergi fungsi penelitian, pengkajian dan
kerjasama HAM pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat
sipil dan swas

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN

DAFTAR PUSTAKA

http://www.jokowidodo.id/2015/07/30/penegakan-hukum-yangberkualitas/
www.bappenas.go.id/index.php/download_file/view/9560/1781/

EDRI RAMADHANA| KURANGNYA FUNGSI KELEMBAGAAN